Anda di halaman 1dari 30

1

MAKALAH

IMIGRAN ILEGAL DI INDONESIA

Diajukan Memenuhi dan Melengkapi


Syarat-syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

RAYHAN ADIPUTRA
NPM: 010116098

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR
2017
2

DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR ....................................................................................................

DAFTAR ISI .................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................................

1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 5

1.3 Tujuan Dan Manfaat ................................................................................ 5

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Imigran ilegal ......................................................................... 7

2.2 Penyebab Terjadinya Imgran Ilegal ....................................................................... 9

2.3 Akibat Imgran Ilegal ......................................................................................... 10

2.4 Siapa imgran ilegal ...........................................................................................11

2.5 kemana imigran ilegal biasanya berimigran ..................................................... 15

.2.6 Kenapa Orang Berimigrasi ............................................................................... 16

2.7 Dasar Hukum Yang Terkait Imgran Ilegal ........................................................ 22

2.8 Negara Yang Mempunyai Hak Veto .................................................................. 32

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan. Dan Saran . ................................................................. 35

DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 36
3

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.

Bogor,1 Desember 2017

Penulis: Rayhan adiputra


4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di


dunia serta wilayah negara yang berbentuk kepulauan, dengan wilayah yang
sebagian besar terdiri dari lautan, tentu juga memiliki beraneka macam budaya
serta kekayaan alam. Jika di negara lain mengenal 4 musim, maka di Indonesia
hanya mengenal dua musim saja, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
Keadaan inilah yang berpengaruh terhadap kesuburan alamnya, sehingga dapat
memikat orang asing untuk datang ke Indonesia, untuk menumpang hidup,
mencari nafkah, bahkan tidak sedikit yang menetap, hal itu tidak terlepas dari
faktor perjuangan hidup.

Disamping faktor struggle for life ini, masih ada faktor-faktor lain yang
menyebabkan orang-orang asing berimigrasi ke Indonesia, yaitu karena adanya
pertentangan politik di negaranya dan hasrat menyebarkan agama. Berdasarkan
teritorialnya Indonesia berbatasan langsung dengan negara-negara di sekitarnya
seperti Malaysia, tidak mengherankan bila keluar masuknya orang di wilayah
perbatasan ini sangat mudah, karena lolos dari pantauan para aparat negara.
Seiring perkembangan zaman, dimana sarana transportasi yang ada sekarang ini
semakin canggih sehingga bisa lebih memudahkan seseorang untuk berkunjung
dari satu negara ke negara lain menyebabkan banyaknya orang yang melakukan
perjalanan dari satu negara ke negara lain pula. Indonesia sebagai salah satu
negara tujuan wisata dunia juga tidak terlepas dari pengaruh tersebut.

Era globalisasi yang ada saat ini membuka peluang untuk terbukanya pasar
bebas lintas antar negara. Masing-masing negara memiliki peluang besar untuk
saling mengisi kebutuhan di dalam negeri, baik dari segi infrastruktur maupun
suprastruktur. Globalisasi dibarengi dengan kemajuan teknologi. Perkembangan
teknologi informasi dan transportasi kian meningkat sehingga membuat
batas-batas antar negara semakin semu. Jalur lalu lintas pun semakin mudah untuk
diakses.

Migrasi bukanlah fenomena yang baru. Selama berabad-abad, manusia


telah melakukan perjalanan untuk berpindah mencari kehidupan yang lebih baik di
tempat yang lain. Dalam beberapa dekade terakhir ini, proses globalisasi telah
meningkatkan faktor yang mendorong para imigran untuk mencari peruntungan di
luar negeri. Hal ini kemudian menyebabkan meningkatnya jumlah aktivitas
migrasi dari negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Selatan dan
5

Eropa Timur ke Eropa Barat, Australia dan Amerika Utara. Berangkat dari
fenomena ini lah kemudian muncul praktek penyimpangan, yaitu melakukan aksi
untuk memindahkan manusia ke negara-negara tujuan secara ilegal karena batasan
dan ketidakmampuan dari para imigran dalam memenuhi syarat sebagai imigran
resmi.

Indonesia sebagai salah satu negara di dunia juga memiliki potensi yang
kuat untuk terjadinya praktek kejahatan transnasional. Kejahatan transnasional
bukan hanya didorong oleh faktor perdagangan bebas yang terbuka lebar atau
lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Akan tetapi juga didukung oleh wilayah
geografis Indonesia itu sendiri. Indonesia yang bentuk negaranya adalah kepuluan
secara geografis memiliki banyak pintu masuk: bandara, pelabuhan, batas darat
dan perairan. Selain itu, Indonesia yang juga memiliki garais pantai yang sangat
panjang, dan merupakan wilayah yang terletak pada posisi silang jalur lalu lintas
dagang dunia, juga menjadi faktor utama yang menyebabkannya berpotensi kuat
untuk terjadinya kejahatan transnasional. Kejahatan transnasional di negeri ini juga
dapat terjadi karena jumlah penduduk Indonesia yang terbilang besar. Hal ini
menyebabkan Indonesia menjadi negara yang memiliki sumber tenaga kerja yang
besar dan sebagai target untuk perkembangan pasar internasional. Berbagai
kendala dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi persoalan kejahatan
transnasional, seperti kurang sumber daya manusia yang kompeten, kendala dalam
bidang teknologi, dan lemah secara yuridik dan diplomatik.

Besarnya potensi terjadinya kejahatan transnasional di Indonesia ini


merupakan suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Dengan demikian perlu
diadakan suatu kajian terhadap masalah-masalah yang terkait dengan kejahatan
lintas negara yang melanda Indonesia.

1.2 Rumusan Permasalahan

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan pokok
permasalahan yang menjadi perhatian dalam paper ini, yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan penegakan hukum terhadap imigran gelap yang


keluar-masuk ke Indonesia?

2. Hambatan-hambatan apa yang dihadapi dalam rangka pelaksanaan penegakan


hukum terhadap imigran gelap yang keluar-masuk Indonesia?

3 Apa yang dimaksud dengan imgran ilegal?


6

1.3 Tujuan Dan Manfaat

Berdasarkan pada rumusan di atas, maka tujuan dan manfaat dari penyusunan
paper ini adalah:

1. Untuk mengetahui pelaksanaan penegakan hukum terhadap imigran gelap yang


keluar-masuk wilayah indnesia?

2. Untuk mengetahui beberapa hambatan yang dihadapi oleh petugas imigrasi dalam
pelaksanaan penegakan hukum terhadap imigran gelap yang keluar-masuk wilayah
Indonesia.

3 Untuk mengetahui akibat dari imgran ilegal dampak imgran ilegal kenapa orang
berimgran siapa itu imgran

4 untuk mengetahui 5 negara yang mempunyai hak veto

5 untuk mengetahui contoh kasus imgran ilegal

6 undang undang yang mengaturnya


7

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Imigran ilegal

Ilegal migration diartikan sebagai suatu usaha untuk memasuki suatu wilayah
tanpa izin. Imigran gelap dapat pula berarti bahwa menetap di suatu wilayah melebihi
batas waktu berlakunya izin tinggal yang sah atau melanggar atau tidak memenuhi
persyaratan untuk masuk ke suatu wilayah secara sah (Gordon H. Hanson). Terdapat
tiga bentuk dasar dari imigran gelap yakni sebagai berikut;

1. Melintasi perbatasan secara ilegal (tidak resmi).

2. Melintasi perbatasan dengan cara, yang secara sepintas adalah resmi (dengan
cara yang resmi), tetapi sesungguhnya menggunakan dokumen yang dipalsukan atau
menggunakan dokumen resmi milik seseorang yang bukan haknya, atau dengan
menggunakan dokumen remsi dengan tujuan yang ilegal.

3. Tetap tinggal setelah habis masa berlakunya status resmi sebagai imigran resmi
(Friedrich Heckmann).

Philip Martin dan Mark Miller menyatakan bahwa smuggling merupakan suatu
istilah yang biasanya diperuntukkan bagi individu atau keompok , demi keuntungan,
memindahkan orang-orang secara tidak remsi (melanggar ketentuan Undang-Undang)
untuk melewati perbatasan suatu negara. Sedangkan PBB dalam sebuah Konvensi
tentang Kejahatan Transnasional Terorganisasi memberikan definisi dari smuggling
of migrants sebagai sebuah usaha pengadaan secara sengaja untuk sebuah keuntungan
bagi masuknya seseorang secara ilegal ke dalam suatu negara dan/atau tempat tinggal
yang ilegal dalam suatu negara, dimana orang tersebut bukan merupakan warga
negara atau penduduk tetap dari negara yang dimasuki (Philip, op cit).

Sedangkan pengertian people smuggling adalah sebuah istilah yang merujuk


kepada gerakan ilegal yang terorganisasi dari sebuah kelompok atau individu yang
melintasi perbatasan internasional, biasanya dengan melakukan pembayaran
berdasarkan jasa. Penyelundupan migrant merupakan suatu tindakan, baik langsung
maupun tidak langsung, guna memperoleh suatu keuntungan finansial atau material
lainnya dengan cara memasukkan seseorang yang bukan warga negara atau penduduk
tetap suatu negara tertentu secara ilegal ke negara tersebut.
8

I
https://brainly.co.id/tugas/1255597
9

2.2 Penyebab Terjadinya Imgran Ilegal

Berikut ini adalah beberapa penyebab yang menyebabkan manusia/orang


perlakuan aktifitas migrasi:50 1) Alasan Politik / Politis, kondisi perpolitikan suatu
daerah yang panas atau bergejolak akan membuat penduduk menjadi tidak betah atau
tidak kerasan tinggal di wilayah tersebut.

2) Alasan sosial kemasyarakatan, adat istiadat yang menjadi pedoman kebiasaan suatu
daerah dapat menyebabkan seseorang harus berimigrasi ke tempat lain baik dengan
paksaan maupun tidak. Seseorang yang dikucilkan dari suatu pemukiman akan
dengan terpaksa melakukan kegiatan migrasi. 3) Alasan agama atau kepercayaan,
adanya tekanan atau paksaan dari suatu ajaran agama untuk berpindah tempat dapat
menyebabkan sesorang melakukan migrasi. 4) Alasan Ekonomi, biasanya orang
miskin atau golongan bawah yang mencoba mencari peruntungan dengan melakukan
migrasi ke kota. Atau bisa juga kebalikan dimana orang yang kaya pergi ke daerah
untuk membangun atau berekspansi bisnis. 5) Alasan lain, contohnya seperti alasan
pendidikan, alasan tuntutan pekerjaan, alasan keluarga, alasan cinta, dan lain
sebagainya.

I
http://organisasi.org/penyebab_atau_alasan_terjadinya_migrasi
10

2.3 Akibat Imgran Ilegal

Imgran Ilegal menjadi salah satu isu global yang banyak dibicarakan oleh
masyarakat internasional.Permasalahan imgran ilegal menjadi perhatian khusus dari
dunia internasional karena jumlahnya terus meningkat dan telah menjadi isu yang
membutuhkan perhatian khusus dari masyarakat internasional. Timbulnya seseorang
berimgran secara ilegal disebabkan oleh keadaan yang memburuk dalam ranah politik,
ekonomi, dan sosial suatu negara tersebut sehingga memaksa masyarakatnya untuk
pergi meninggalkan negara tersebut dan mencari tempat berlindung yang lebih aman
di negara lain,dengan alasan ingin mencari perlindungan serta menyelamatkan diri
mereka dari bahaya yang mengancam fisik.Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia,
pengungsi diartikan sebagai orang yang mencari tempat yang aman ketika daerahnya
ada bahaya yang mengancam. Tingginya angka imgran yang pergi meninggalkan
negaranya dan masuk ke negara lain secara ilegal secara langsung banyak
menimbulkan kerugian bagi keamanan dan pertahan suatu negara tujuan para imigran
tersebut. Pada dasarnya, setiap pengungsi yang mencari suaka ke negara lain berhak
untuk mendapatkan perlindungan hukum serta keselamatan dan keamanan dari
bahaya yang mengancam yang dijamin oleh negara tujuan. Suaka adalah
penanugerahan perlindungan dalam wilayah suatu negara kepada orang-orang dari
negara lain yang datang ke negara bersangkutan karena menghindari pengejaran atau
bahaya besar.2 Indonesia merupakan salah satu negara yang sering menjadi tempat
transit bagi para imigran yang ingin mencari suaka di negara lain. Para imigran yang
transit ke Indonesia biasanya adalah imigran yang pergi ke Australia sebagai tempat
tujuannya.Seringnya Indonesia menjadi tempat transit bagi para imigran tidak
terlepas dari letak Indonesia yang strategis yang diapit dua benua dan dua
samudera.Selain itu juga, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang
sehingga memungkinkan terbentuknya pelabuhan ilegal yang tidak terdeteksi oleh
pemerintah Indonesia. Disisi lain, posisi geografis Indonesia berpotensi sebagai jalur
perdangangan ilegal dan menjadi lokasi transit bagi para pengungsi atau pencari
suaka yang ingin menuju Australia. Kedatangan secara ilegal ini tentu sangat
merugikan Indonesia, hal ini dikarenakan kedatangan imgran yang ilegal ini
dianggapakan mengancam ketahanan dan keamanan nasional.Menurut ketentuan
hukum Indonesia, setiap orang yang masuk atau

keluar Indonesia harus memiliki surat perjalananI

I
Ajat Sudrajat Havid, pengungsi dalam Rangka Kebijakan Keimigrasian Indonesia Kini dan yang Akan Datang, Protecting
11

2.4 Siapa imgran ilegal

Imigran ilegal merupakan sekelompok orang yang masuk atau tinggal di sebuah

negara secara ilegal. Ilegal yang dimaksud adalah tidak mengikuti undang-undang
imigrasi, contohnya memasuki negara tujuan tanpa izin dan bukan dengan melalui
pintu masuk utama

I https://id.wikipedia.org/wiki/Imigran_ilegal
12

2.5 kemana imigran ilegal biasanya berimigran

Maraknya aksi penyelundupan imigran ilegal asal Timur Tengah yang masuk dari
Malaysia atau Singapura ke Riau rupanya tidak terlepas dari banyaknya pelabuhan
rakyat yang terdapat di Selat Malaka.

Tercatat, setidaknya tidak kurang dari 1.200 pelabuhan rakyat yang terdapat di
sepanjang jalur garis pantai Provinsi Riau. "Selain garis pantai yang panjang, juga ada
sekitar 1.200 pelabuhan rakyat yang ada di Riau. Mereka (imigran) masuk dari sana,"
kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Daniel Silitonga, Jumat
(11/10/2013).

Daniel mengatakan, jalur laut merupakan jalur favorit yang biasa digunakan para
imigran untuk masuk ke wilayah Riau. Selain karena panjang pantai Riau yang
mencapai 1.600 km, wilayah tersebut juga cenderung minim penjagaan sehingga
relatif mudah untuk dilalui dan dimana jalur tersebut masih kurang pengawasan jadi
mudahnya para imigran ilegal yang masih melewati jalur di sepanjang pantai riau.

I http://regional.kompas.com/read/2013/10/11/2321196/1.200.Pelabuhan.Rakyat.Jadi.Pintu.Masuk.Imigran.Ilegal
13

2.6 Kenapa Orang Berimigrasi

DikarenakanTiap individu mempunyai beberapa kebutuhan berupa kebutuhan


ekonomi,sosial,budaya dan psikologis. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak
dapat terpenuhi di daerah tempat tinggalnya,dapat menimbulkan tekanan yang
mendorong timbulnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di tempat lain.
Besar kecilnya tekanan yang dialami berbanding terbalik dengan pemenuhan
kebutuhan. Teori kebutuhan dan tekanan (need and stress) ini merupakan salah satu
teori yang mengungkapkan mengapa seseorang melakukan mobilitas. Seseorang yang
mengalami stress di luar batas tolerensi akan pindah dari tempat yang mempunyai
nilai kefaedahan lebih tinggi (Mantra,1999). Dengan demikian dapat pula dikatakan
pindahnya seseorang, atau bias kita sebut dengan istilah migrasi, karena adanya faktor
pendorong di daerah asalnya dan faktor penarik di daerah tujuan.

Dan Migrasi sebagai komponen kunci dalam dinamika penduduk telah


mengakibatkan berbagai perubahan dalam masyarakat, misalnya perubahan
komposisi penduduk, dan perubahan tingkat pertumbuhan penduduk. Dalam era
globalisasi yang sedang terjadi saat ini dapat dicirikan dengan adanya peningkatan
arus mobilitas penduduk dan mobilitas tenaga kerja lintas negara.

Kemiskinan dan ketidakmampuan untuk mendapatkan nafkah atau menghasilkan


produk yang cukup untuk mendukung seseorang atau keluarganya, merupakan alasan
utama di balik perpindahan pencari kerja dari satu negara ke negara lain. Hal ini tidak
hanya merupakan suatu karakteristik migrasi dari negara miskin ke negara kaya.
Kemiskinan juga merupakan penyebab perpindahan dari satu negara berkembang ke
negara berkembang lainnya yang punya prospek pekerjaan lebih baik.

Hampir 200 juta orang kini hidup diluar negara asal mereka, meningkat 25
persen sejak tahun 1990, menurut laporan PBB tentang migrasi dunia. Kebanyakan
migran pergi ke negara-negara kaya, dan satu dari lima migran pergi ke Amerika
Serikat. Di beberapa negara, uang yang dikirim dari luar negeri menyumbang
proporsi besar bagi pendapatan nasional. Migrasi sekarang merupakan bagian yang
penting dari kehidupan internasional.
Migrasi internasional, yang didukung oleh kebijakan yang benar, bisa sangat
menguntungkan bagi pembangunan, baik bagi negara asal maupun bagi negara
tempat migran bekerja. Namun keuntungan ini "bergantung pada upaya
penghormatan dan penegakan hak-hak migran,". Diperkirakan sekitar 60 persen
orang berpendidikan tinggi dari Guyana, Haiti dan Jamaika kini hidup di luar negeri.
Eropa menjadi tuan rumah bagi 34 persen migran tahun 2005, Amerika Utara sebesar
23 persen, Asia 28 persen, Afrika 9 persen, dan 3 persen masing-masing di Amerika
14

Di Latin dan Oceania.

Bahwa dalam Secara garis besar sebagian besar migran melakukan migrasi lintas
negara karena dipicu factor ekonomi. Begitu pula yang diungkapkan oleh Stalker
mengenai penyebab orang melakukan migrasi terutama migrasi internasional. Yang
pertama orang melakukan migrasi karena adanya perbedaan upah (wage gaps ).
Orang melakukan migrasi ke negara yang lebih makmur baik sementara atau menetap
untuk mendapatkan keuntungan dan kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut terjadi
karena terdapat perbedaan pendapatan antara negara berkembang dan negara industri
(maju) dan upah dinegara maju kebih besar dari pada di negara berkembang.
Sedangkan penyebab yang kedua menurut Stalker karena adanya kebutuhan akan
pekerja itu sendiri atau the need for workers. Hal tersebut didorong oleh adanya
kondisi bahwa banyak tersedia pekerjaan di negara-negara maju untuk pekerja
imigran. Pekerja hampir selalu dibutuhkan walaupun keadaan ekonomi suatu negara
sedang lesu. Namun walaupun pekerja sangat dibutuhkan, anyak pekerja imigran
yang menganggur dan hanya melakukan pekerjaan tidak tetap karena adanya
diskriminasi ( dampak dari dual labour market ). Dengan adanya dual labour market
ini maka akan merugikan pekerja migrant karena mereka hanya bekerja pada jenis
pekerjaan 3Ds atau dirty, dangerous, and difficult. Dengan demikian para pekerja
migrant hanya akan mengisi formasi pekerjaan dengan jenis pekerjaan yang tidak
menyenangkan, pekerjaan berat, jangka waktu tidak tetap ( temporer ).
Sebaliknya para pekerja local akan mendapatkan pekerjaan yang berupah tinggi,
dikerjakan oleh tenaga kerja berpendidikan tinggi, dan ada jaminan keamanan dalam
bekerja. Kemudian penyebab yang terakhir menurut Stalker karena adanya gangguan
pembangunan ( development disruption ) di daerah asal para migrant. Factor yang
mempengaruhi emigrasi adalah adanya gangguan yang disebabkan oleh
pembangunan social dan ekonomi. Adanya pembangunan besar-besaran
menyebabkan orang-orang yang tergusur oleh pembangunan tersebut meninggalkan
daerah asalnya dan menuju ke negara dunia ketiga dan di kota-kota lainnya. Karena
tidak semua kota tidak bisa menyediakan pekerjaan bagi imigran maka orang-orang
tersebut terpaksa bermigrasi ke tempat atau negara lain yang lebih jauh.
Sedangkan menurut Committee on South-North Migration - Union of Social
Scientists in Population (IUSSP), terdapat di antara berbagai mencoba model untuk
menjelaskan penyebab terjadinya migrasi internasional ada lima pendekatan yang
utama dapat dibedakan menjadi :
Pertama, Ekonomi neoklasik ( macro theory ) mengatakan bahwa migrasi terjadi
sebagai akibat perbedaan-perbedaan antar wilayah dalam hal penawaran dan
permintaan tenaga kerja khususnya antara daerah asal dan daerah tujuan.
Ketidakseimbangan pasar kerja menyebabkan peningkatan pengangguran di negara
asal dan meningkatkan permintaan akan pekerjaan, setidaknya untuk beberapa jenis
pekerjaan. Sementara itu, permintaan tenaga kerja dari negara tetangga, yang elatif
tidak terimbas krisis ekonomi merupakan peluang bagi para pekerja. Hal ini
merupakan faktor utama yang menjadi pendorong individu untuk melakukan migrasi.
Pemerintah intervensi kebijakan mempengaruhi migrasi dengan mengatur atau
mempengaruhi pasar tenaga kerja dan negara-negara tujuan.
Kedua, Ekonomi neoklasik ( micro theory ) menjelaskan pola kalkulasi untung
rugi dalam perspektif individu pelaku migrasi. dalam konteks ini, perbedaan upah
menjadi sangat signifikan mempengaruhi keputusan migrasi seseorang. Dalam teori
ini dikatakan bahwa yang mempengaruhi keputusan untuk bermigrasi adalah adanya
perhitungan mengenai biaya dan keuntungan yang akan dikeluarkan dan diperoleh
15

dari perpindahan tersebut. Human capital yang dipengaruhi oleh keadaan politik,
social,ekonomi, dan teknologi juga akan memepengaruhi keputusan untuk bermigrasi.
Adanya perbedaan upah, jumlah pekerja di negara tujuan serta kebijalan pemerintah
juga akan mempengaruhi migrasi.
Ketiga Ekonomi yang baru tentang migrasi memandang migrasi sebagai strategi
keluarga untuk menambah pemasukan pendapatan, memperkecil resiko bagi rumah
tangga, dan overcome barriers to credit and capital.
Keempat, Dual labor market theory menetapkan permintaan untuk pekerja rendahan
di dalam ekonomi yang maju adalah faktor yang kritis membentuk migrasi
internasional. Untuk menghindari inflasi yang struktural yang akan diakibatkan oleh
peningkatan biaya gaji para pekerja dan untuk memelihara tenaga kerja sebagai
variabel faktor-faktor produksi, pemberi kerja mencari pekerja dengan gaji rendah. Di
model ini, migrasi internasional adalah permintaan dan diaktifkan oleh kebijakan
penarikan tenaga kerja dari pemberi kerja atau pemerintah di daerah tujuan.
Kelima, Focus World systems theory tidak pada pasar kerja di ekonomi nasional, tapi
pada struktur pasar kerja dunia. Migrasi internasional dihasilkan berupa land, raw
materials, and labor di dalam suatu daerah yang ditarik ke dalam ekonomi pasar dunia
dan sistem tradisional diganggu. Migrasi internasional juga didukung oleh adanya
transport, communications, cultural and ideological. Migrasi tidak terlalu dipengaruhi
oleh adanya perbedaan upah tapi oleh adanya kebijakan ke arah investasi yang luar
negeri dan ke arah internasional tentang capital and goods.
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa terjadinya migrasi internasional sangatlah
dipengaruhi oleh factor ekonomi. Mobilitas penduduk atau khususnya migrasi
internasional merupakan salah satu upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya dengan mencari dan menemukan sesuatu yang baru (innovative
migration),atau mempertahankan apa yang telah dimilikinya (conservative migration).
Tetapi yang pasti,baik innovative migration maupun conservative migration maupun
conservative migration keduanya mempunyai target untuk mendapatkan pekerjaan di
tempat tujuan atau memperoleh akses untuk menikmati hidup yang lebih baik
(Pryor,1975).
Rendahnya penyerapan tenaga kerja di dalam negeri telah mendorong pekerja
untuk mencari dan memanfaatkan kesempatan kerja di luar negeri, karena tingkat
upah yang ditawarkan biasanya relatif lebih baik dibandingkan dengan upah
pekerjaan sejenis didalam negeri. Selain itu, tekanan untuk mencari kerja di luar
negeri makin diperkuat dengan kenyataan bahwa surplus tenaga kerja unskilled kian
banyak.
16

Seperti yang terjadi di Indonesia, banyak sebagian besar orang yang bermigrasi
merupakan para tenaga kerja baik lak-laki maupun perempuan. Pekerjaan sebagai
pekerja rumah tangga (PRT) merupakan sumber mata pencaharian yang penting bagi
jutaan pekerja terutama perempuan. Banyak dari mereka yang untuk mendapatkan
pekerjaan harus bermigrasi di dalam negeri maupun melintasi perbatasan negara
( Annemarie Reerink, International Labour Organization ). Bagi para PRT yang
bekerja di luar negeri secara musiman, status mereka sebagai pekerja migran tanpa
dokumen lengkap menambah kerentanan dan diskriminasi yang mereka alami sebagai
pekerja migran perempuan di sektor informal. Sebagai pekerja migran musiman
mereka seringkali mendapat, jika ada, perlindungan hukum yang kurang memadai,
demikian juga dengan upah maupun fasilitas lainnya.
Pada saat ini sulit untuk menemukan angka pasti jumlah pekerja migran
Indonesia yang bekerja diluar negeri, terlebih besarnya jumlah pekerja ilegal. Namun
demikian, tidak terbantahkan bahwa jumlah pekerja migran Indonesia yang bekerja
diluar negeri meningkat dengan pesat. Pada periode 1998-1999 terdapat
peningkatan yang cukup signifikan jumlah pekerja Indonesia diluar negeri. Data
terbaru menunjukkan bahwa dua tahun terakhir (1999-2001), jumlah TKI sebanyak
968.260, dengan rata-rata penempatan 387.304 pekerja dalam setiap tahun. Dari total,
47,52 persen pekerja bekerja di negara ASEAN, 34,5 persen di Timur Tengah, 17,52
persen di Asia Pasifik, 0,7 persen di Eropa dan AS dan 0,06 persen di negara lainnya.
Krisis ekonomi telah mendorong orang untuk mencari pekerjaan diluar negeri
(Romdiati, Handayani and Rahayu, 1998). Apabila dilihat dalam perspektif
demografis, terdapat perubahan yang cukup signifikan pola migrasi sebelum dan
sesudah krisis ekonomi (1995-2000). Berdasarkan sex rasio, secara umum migrasi
tenaga kerja didominasi oleh perempuan. Hal ini ditunjukkan oleh sex rasio migrasi
kurang dari 100.

Satu alasan mengapa kecenderungan pekerjaan migran demikian adalah rendahnya


tingkat pendidikan migran. Beberapa karakteristik migran lainnya adalah pendidikan
17

rendah, keterbatsan ketrampilan dan pengetahuan, dan usia antara 15-40 tahun. Hal
ini merupakan penyebab utama mengapa pekerja Indonesia hanya terserap pada
sektor dan jenis pekerjaan yang tidak memerlukan ketrampilan seperti di perkebunan
dan pabrik sebagai buruh untuk laki-laki dan sebagai pembantu rumahtangga untuk
perempuan .Tirtosudarmo (2002) menunjukkan bahwa sebagian besar migran (56,45
persen) bekerja pada sektor formal dan 43,55 persen pada sektor informal.

Selain didorong oleh factor ekonomi, migrasi juga didorong oleh factor politik yang
ada. Dunia usai perang dingin tidak lagi semata-mata dihadapkan pada persoalan
stabilitas keamanan. Meski dimensi keamanan tetap dominan, persoalan bukan
keamanan atau biasa disebut keamanan non-konvensional semakin banyak muncul.
Isu lingkungan hidup, perang dagang, peredaran obat terlarang lintas negara, dan
imigran merupakan contoh persoalan kontemporer dalam hubungan internasional.
(Inayah Hidayati, Peneliti pada bidang Kependudukan PPK LIPI

I http://kependudukan.lipi.go.id/id/kajian-kependudukan/dinamika-kependudukan/50-kenapa-orang-bermigrasi
18

2.7 Dasar Hukum Yang Terkait Imgran Ilegal

Keimigrasian sebagaimana yang ditentukan di dalam Bab 1 Pasal 1


(1)Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 Lembaran Negara Tahun 1992, Nomor 33
Tentang Keimigrasian adalah hal ihwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar
wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di Indonesia.
Hukum Keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku diIndonesia,
bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara[1]. Fungsi
keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau
penyelenggaraan administrasi pemerintahan, oleh karena itu sebagai bagian dari
penyelenggaraan kekuasaan eksekutif, yaitu fungsi administrasi negara dan
pemerintahan, maka hukum keimigrasian dapat dikatakan bagian dari bidang hukum
administrasi negara[2]. Untuk menjamin kemanfaatan dan melindungi berbagai
kepentingan nasional, maka Pemerintah Indonesia telah menetapkan prinsip, tata
pelayanan, tata pengawasan atas masuk dan keluar orang ke dan dari wilayah
Indonesia sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992
tentang Keimigrasian. Imigrasi termasuk salah satu instansi pemerintah, yang salah
satu kegiatannya memberikan pelayanan terhadap masyarakat.

Pelayanan dalam hal memberikan segala perizinan keimigrasian berupa Visa, Izin
masuk, pendaftaran orang asing, izin masuk kembali, izin keluar tidak kembali, Surat
Perjalanan RI, tanda bertolak, tanda masuk, surat keterangan keimigrasian dan
perubahan keimigrasian.Tempat-tempat pelayanan keimigrasian, meliputi bidang atau
sub bidang imigrasi pada Perwakilan RI di luar negeri, di perjalanan dalam pesawat
udara, maupun kapal laut, tempat pemeriksaana imigrasi, Kantor Imigrasi, Bidang
Imigrasi pada Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan HAM, serta Direktorat
Jenderal Imigrasi. Terhadap orang asing, pelayanan dan pengawasan di bidang
keimigrasian dilaksanakan berdasarkan prinsip selektif (selective policy).
Berdasarkan prinsip ini, maka orang asing yang dapat diberikan ijin masuk ke
Indonesia ialah :

a.Orang asing yang bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan


NegaraRepublik Indonesia.

b. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, serta

c. Tidak bermusuhan dengan rakyat maupun Pemerintah Negara Republik


Indonesia.

Untuk mewujudkan prinsip selektif, diperlukan kegiatan pengawasan terhadap


orang asing, pengawasan ini tidak hanya pada saat orang asing masuk ke wilayah
Indonesia, tetapi juga selama orang asing berada di wilayah Indonesia termasuk
kegiatan-kegiatannya sebab terdapat orang asing yang keberadaannya di
Indonesiamerugikan kepentingan bangsa seperti kasus-kasus penyalahgunaan ijin
tinggal

keimigrasian, overstay, imigran gelap dan lain sebagainya adalah suatu bentuk
pelanggaran keimigrasian yang bersifat transnasional. Pengawasan Orang Asing di
wilayah Indonesia, berupa pengawasan terhadap orang asing yang masuk, keberadaan,
19

kegiatan dan keluar dari wilayah Indonesia, antara lain dapat menimbulkan 2 (dua)
kemungkinan yakni : pertama Orang asing mantaati peraturan yang berlaku dan tidak
melakukan kegiatan yang berbahaya bagikeamanan dan ketertiban umum, hal ini
tidak menimbulkan masalah Keimigrasian maupun Kenegaraan. kedua Orang asing
tidak mentaati peraturan perundang undangan yang berlaku di Indonesia, hal ini
menimbulkan masalah dan dapat dikenakan tindakan hukum berupa :[3]

a. Tindakan Hukum Pidana berupa penyidikan Keimigrasian yang

merupakan bagian daripada rangkaian Integrated Criminal Justice sistem,


sistem peradilan pidana ( penyidikan, penuntutan, peradilan ) dan atau ;

b.Tindakan hukum administratif negara berupa tindakan


keimigrasianadalah tindakan administratif dalam bidang keimigrasian di
luar proses peradilan. Termasuk bagian daripada tindakan keimigrasian ini
adalahdiantaranya deportasi terhadap orang asing untuk keluar dari
wilayahyurisdiksi negara kesatuan Republik Indonesia.

Penegakan hukum pidana keimigrasian adalah penegakan hukum melalui proses


penyidikan berdasarkan ketentuan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992
Tentang Keimigrasian yang dilaksanakan sesuai asas dan kaedah hukum acara pidana.
Pasal 50 Undang-Undang nomor 9 Tahun 1992 mengatakan bahwa orang asing yang
sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud
pemberian ijin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana

dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak
Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) Pasal 42 (1) Undang-Undang Nomor 9
Tahun 1992 mengatur tentang Tindakan Keimigrasian yang menyatakan bahwa
tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah
Indonesia yang :

a. Melakukan kegiatan berbahaya atau patut diduga akan berbahaya bagi


keamanan dan ketertiban umum, atau

b. Tidak menghormati atau mentaati peraturana perundang-undangan yang


berlaku.

Maksud dari Tindakan Keimigrasian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 (1)


Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian adalah
TindakanAdministratif dalam bidang keimigrasian diluar proses peradilan. Dengan
demikian maka orang asing yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 50 dapat dikenakan tindakan administratif diluar proses peradilan.
Tindakan administratif yang dimaksud sesuai dengan ketentuan Pasal 42 ayat (2)
dapat berupa :

a. Pembatasan, perubahan atau pembatalan izin keimigrasian.

b. Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah


Indonesia.

c. Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah


Indonesia.

d.Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke


wilayah Indonesia.
20

Pengertian tersebut mengandung arti bahwa segala bentuk tindakanadministratif


dibidang keimigrasian diluar tindakan hukum pidana atau penyidikan masuk
kategori Tindakan Keimigrasian. Selain menurut ketentuan hukum positif tersebut
diatas, juga menurut hukum internasional bahwa tindakan keimigrasian berupa
deportasi bukan tindakan hukum pidana dan ini berlaku secara universal pada
negara-negara lain di dunia.

Semua tahapan-tahapan tindakan keimigrasian, tentu diperlukan adanya suatu


landasan yuridis maupun administrasi, sebagai dasar operasional dalam menangani
suatu kasus pelanggaran keimigrasian. Oleh karena pada hakekatnya tindakan
keimigrasian adalah suatu tindakan pengekangan atau pembatasan terhadap
kebebasan, dan hak asasi manusia tersebut dijamin serta dilindungi peraturan
perundang-undangan yang berlaku di negara Indonesia.

Setiap kegiatan atau tahapan tindakan keimigrasian, selain diperlukan adanya


landasan yuridis juga diperlukan administrasi tindakan keimigrasian yang berupa
format, laporan kejadian, surat perintah dan keputusan tindakan berupa pemanggilan,
tugas, berita acara, register, kode penomoran surat untuk masing-masing tindakan
keimigrasian, sehingga pelaksanaan kegiatan penindakan tersebut, selain dapat
dipertanggung jawabkan secara hukum sekaligus mencerminkan adanya kelengkapan
atau tertib administrasi untuk setiap tindakan yang telah dilakukan. Permasalahannya
adalah timbulnya dua tindakan Keimigrasian yang mempunyai prosedur berbeda,yang
pertama secara administratif dengan dasar Pasal 42 Undang-Undang Nomor 9 Tahun
1992, yang kedua menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Rumusan
norma sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 42 Undang- UndangNomor 9 Tahun
1992 tersebut tidak ada penjelasan lebih lanjut dalam Pasal-Pasal lainnya maupun
dalam Penjelasan Undang-Undang, sehingga dalam pelaksanaannya dapat
menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda.

Bertitik tolak dari ketidak jelasan undang-undang tersebut muncul berbagai


kasus keimigrasian yang membuat aparat keimigrasian dalam posisi dilematis apabila
mengambil tindakan misalnya yang terjadi pada kasus penangkapan warga negara
RRC atas nama Chen Long Chin di PT. Tjipta Rimba Djaja Jl. KL. Yos Sudarso Km.
7,5 Medan pada tanggal 10 Maret 2010, warga Negara RRC tersebut ditangkap
karena diduga melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan ijin keimigrasian yang
diberikan kepada mereka, kemudian atas perbuatan tersebut, Kepala Kantor Imigrasi
Belawan mengadakan pemeriksaan yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan
yang kemudian disusul dengan dikeluarkannya surat keputusan tentang tindakan
Keimigrasian an. Chen Long Chin dengan menetapakan bahwa memerintahkan Chen
Long Chin untuk segera meninggalkan wilayah Indonesia pada kesempatan Pertama

yang disertai surat perintah pengawalan.

Menurut ringkasan dari Berita Acara Pemeriksaan yang dilakukan olehPejabat


Imigrasi di

Kantor Imigrasi Belawan bahwa Chen Long Chin tiba di Indonesia hari Kamis
tanggal 04 Maret 2010 melalui Bandara Polonia Medan menggunakan pesawat udara
Malaysia Air Lines dan datang ke Indonesia atas undangan PT. Tjipta Rimba Djaja di
Jalan KL. Yos Sudarso Km. 7,5 Medan, dengan Short Visit Pass atau Bebas Visa
Kunjungan Singkat serta menurut pengakuaannya :
21

Bahwa yang bersangkutan telah diperintahkan pihak pabrik CHEN-E Taiwan untuk
melakukan pekerjaan berupa memprogram dan mengontrol kinerja mesin pemotong
kayu dan mesin penyambung kayu pada PT. Tjipta Rimba Djaja yang telah terpasang
dan dibeli sekitar 6 (enam) bulan yang lalu dan apabila ada yang perlu diperbaiki
tentang kinerja mesin tersebut maka yang bersangkutan yang memperbaikinya, yang
bersangkutan juga mengaku sudah sering melakukan perjalanan ke Indonesia dan
melakukan perbaikan kinerja mesin selama kuarang lebih 6 (enam) tahun terakhir ini.

Berdasarkan hal tersebut diatas Pejabat Imigrasi Kantor Imigrasi Belawan


berpendapat bahwa yang bersangkutan diduga kuat telah melanggar Pasal 50
Undang-undang No. 9 Tahun 1992 dan dapat dikenakan Tindakan Keimigrasian
berupa pengusiran atau deportasi.

Namun kasus serupa berbeda penanganannya dengan kasus yang terjadi pada PT.
WRP di Medan karena penanganan secara Administratif tidak bisa diterima oleh
pegawai dan buruh di lingkungan PT.WRP sehingga penyelesaian kasus PT. WRP.
diselesaikan secara Pro Justisia dengan memberlakukan Pasal 50 Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 1992 dan Hukum Acara Pidana sebagai dasar tindakannya hal ini
akan menimbulkan masalah baru jika dikemudian hari terjadi gugatan mengenai

kedua tindakan Keimigrasian yang berbeda dan Tindakan Hukum Administratif


Keimigrasian yang dikenakan pada Chen Long Chin tidak diterima, karena
bertentangan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),
penangkapan dan penahanan yang dilakukan oleh pihak Keimigrasian sangat
bertentangan dengan Pasal 19 KUHAP yang menerangkan bahwa penahanan dapat
dilakukan paling lama 1 (satu) hari atau 24 jam melebihi jangka waktu tersebut
tersangka harus dilepaskan apalagi pihak Keimigrasian melanggar Pasal 21 ayat (2)
dan (3) KUHAP tentang tembusan surat perintah penangkapan, penahanan ataupun
pengkarantinaan terhadap sanak keluarga atau sponsor pemohon praperadilan.

Tindakan Pihak keimigrasian sangat sewenang-wenang karena melakuan


penangkapan, penahanan atau pengkarantinaan, tidak didasarkan pada bukti
permulaan yang kuat. Namun demikian pihak Keimigrasian berpendapat bahwa
tindakan penangkapan dan penahanan yang dilakukan merupakan tindakan
administrative keimigrasian yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
1992 tentang Keimigrasian, khususnya Pasal 1 ayat (14) yang menyatakan bahwa
“tindakan keimigrasian adalah tindakan administratif dalam bidang keimigrasian di
luar proses peradilan”. Tindakan Keimigrasian adalah keputusan Pejabat Tata Usaha
Negara yang bersifat administratif diluar proses peradilan, tindakan keimigrasian ini
dapat dilakukan terhadap orang asing yang melakukan kegiatan yang berbahaya, tidak
menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Macamnya tindakan keimigrasian dapat berupa pembatalan ijin tinggal


keimigrasian, larangan berada dalam wilayah tertentu di Indonesia dan pengusiran
(deportasi) sebagai upaya paksa. Karena ini merupakan tindakan administratif maka,
apabila masyarakat dirugikan akibat dari tindakan keimigrasian tersebut dapat
mengajukan gugatan pada Peradilan Tata Usaha Negara dengan demikian Pengadilan
Negeri Medan tidak berwenang untuk memeriksa perkara pra peradilan tersebut.

Persoalan lain yang mendasar adalah masalah pengkarantinaan, ketentuan Pasal


44 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian, tidak mengatur
pengkarantinaan sebagai suatu tindakan pengekangan atau membatasi kebebasan hak
asasi manusia, melainkan hanya mengatur penempatan orang asing yang telah
22

melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan, di tempat karantina imigrasi


atau tempat lain. Pengkarantinaan orang asing dilakukan dengan penempatan pada
Lembaga Permasyarakatan atau rumah tahanan negara, belum ada dasar hukum yang
jelas menangani administrasi dan teknis dan biaya pelaksanaannya.

Dari sudut pandang Keimigraian berpendapat bahwa pengkarantinaan yang


dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 mempunyai arti yang berbeda
dengan penahanan yang dimaksudkan dalam KUHAP, pengkarantinaan merupakan
tindakan keimigrasian terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran
keimigrasian yang diisolasi sementara untuk dipulangkan ke negara asalnya
(Deportasi), apabila orang asing berkeberatan atas tempat pengkarantinaan tersebut
dapat mengajukan keberatan kepada Dirjen Imigrasi, hal ini berbeda dengan
penahanan yang dimaksudkan dalam KUHAP.

Untuk menjamin penyelesaian yang seadil-adilnya terhadap benturan antara


kepentingan yang berbeda itu, saluran hukum merupakan salah satu jalan yang
terbaik dan sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam falsafah negara kita,
Pancasila dimana hak dan kewajiban asasi warga masyarakat harus diletakkan dalam
keserasian, keseimbangan, dan keselarasan antara kepentingan perseorangan dengan
kepentingan masyarakat. Pemeliharaan kepercayaan masyarakat terhadap integritas
sistem pemerintahan diupayakan, oleh karena kepercayaan masyarakat merupakan
faktor yang sangat krusial dalam pemerintahan[4].Oleh karena itu tujuan peradilan
Tata Usaha Negara merupakan peradilan umum sebenarnya tidak semata-mata
memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan, tetapi sekaligus juga
melindungi hak-hak masyarakat.

Dari gambaran kasus Chen Long Chin di atas, persoalannya sekarang bahwa
ketentuan tentang tindakan keimigrasian dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun
1992 ada beberapa materi yang dapat menimbulkan perbedaan penafsiran yang antara
lain adalah :

1.Perumusan Pasal 42 ayat (1) yang menerangkan “Tindakan Keimigrasian


dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang
melakukan kegiatan yang berbahaya atau patut diduga akan membahayakan
keamanan negara dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau
menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku”[5]. Sedangkan Pasal
50 menerangkan bahwa “ orang asing yang dengan sengaja
menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan
pemberian ijin Keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan
pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp.
25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah)[6].

2. Perumusan Pasal 50 diatas menggariskan bahwa tindakan bagi orang asing


yangmenyalahgunakan ijin keimigrasian adalah dengan tindakan pidana
dimanasebagai dasar atau pedoman dalam melakukan tindakan adalah Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana sedangkan dalam Pasal 42 ayat (1)
dapat dikenakan tindakan keimigrasian karena tidak mentaati peraturan
perundang-undangan yangberlaku, ayat (2) menerangkan ada 7 macam
tindakan keimigrasian, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada satu
sisi meliputi segala tindakan administratif sedangkan pada sisi yang lain
terdapat tindakan Pidana.

3. Sistimatika penempatan Pasal-Pasal tindakan keimigrasian tidak berurutan


23

dan tidak diletakkan atau disusun dalam suatu bab tersendiri, tetapi dalam
hal ini perlu adanya suatu kesepakatan pendapat terlebih dahulu, tentang
pengertian dan klasifikasi penindakan apa saja yang termasuk atau dapat
disebutkan sebagai tindakan keimigrasian.

Bertitik tolak dari permasalahan sebagaimana diuraikan di atas maka terlihat


jelas bahwa dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 terutama Pasal 42 dan
Pasal 50, nampak jelas bahwa dalam UU ini terdapat norma yang tidak jelas atau
kabur, sehingga konsekuensinya melahirkan berbagai penafsiran dalam hal
melakukan tindakan keimigrasian.

Dalam landasan ini akan dideskripsikan teori maupun azas-azas hukum yang
relevan dengan kewenangan, keputusan dan penindakan kasus keimigrasian. Azas
hukum yang dimaksudkan adalah unsur penting atau pokok, atau dasar-dasar umum
yang terkandung dalam peraturan hukum dan yang mengandung nilai-nilai etis[7].
Pada landasan ini pula dilengkapi dengan pandangan-pandangan sarjana yang
berpengaruh. Pandangan-pandangan teoritik dimaksud untuk menjustifikasi
ketentuan-ketentuan konstitusional, peraturan perundang-undangan, dan
instrumeninstrumen hukum pemerintah, khususnya menyangkut kewenangan,
keputusan dan penindakan kasus keimigrasian.

Dalam melaksanakan fungsi pemerintahan, pemerintah selaku publik service


mempunyai kewenangan yang sangat besar dalam melaksanakan pembangunan,
kewenang-wenangan itu harus dipergunakan dalam kerangka negara hukum, sehingga
tidak menimbulkan kerugian bagi orang atau badan hukum perdata. Philipus M.
Hadjon mengemukakan bahwa istilah wewenang atau kewenangan disejajarkan
dengan bevoeghieid, tetapi mempunyai perbedaan karakter. Bevoegheid digunakan
dalam hukum publik dan hukum privat. Sedangkan wewenang selalu digunakan
dalam hukum publik. Dengan demikian, wewenang sejajar dengan beuoeghed dalam
hukum publik[8]. Dalam hukum perdata jika seseorang atau suatu badan telah
memenuhi kualifikasi tertentu yang ditentukan di dalam peraturan
perundang-undangan, maka berwenang mengadakan perjanjian menurut hukum
perdata. Hal itu dalam hukum perdata disebut dengan istilah mampu untuk berbuat
(handelingsbekwaam). Hubungan-hubungan dalam hukum perdata dapat dilakukan
sejauh tunduk pada hukum positif[9].

Dalam teori hukum publik, wewenang merupakan inti dari hukum tata negara
dan hukum administrasi negara. Dalam hukum tata negara, wewenang dideskripsikan
sebagai kekuasaan hukum. Jadi wewenang berkaitan dengan kekuasaan. Wewenang
terdiri atas minimal tiga unsur yaitu pengaruh, dasar hukum dan konformitas hukum.
Wewenang dapat pula dilukiskan sebagai suatu kemampuan yang diberikan oleh
peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menimbulkan akibat-akibat
hukum yang sah.

Dengan adanya unsur kekuasaan, maka wewenang merupakan legitimitasi


bagi dikeluarkannya keputusan-keputusan sepihak yang bersifat mengikat terhadap
orang lain. Pelaksanaan wewenang itu dapat melahirkan norma-norma hukum
material maupun hukum formal.

Philipus M. Hadjon mengemukakan ada dua sumber untuk memperoleh


wewenang yaitu atribusi dan delegasi. Namun dikatakan pula bahwa kadangkala,
mandat digunakan sebagai cara tersendiri dalam memperoleh wewenang. Tetapi,
dalam kaitannya dengan wewenang pemerintah untuk membuat keputusan, Philipus,
24

M.Hadjon secara tegas mengatakan bahwa hanya ada dua cara untuk memperoleh
kewenangan membuat keputusan yaitu atribusi dan delegasi[10].

Sementara itu, Suwoto Mulyosudarmo dengan menggunakan istilah

kekuasaan mengemukakan bahwa, ada dua macam pemberian kekuasaan yaitu


perolehan kekuasaan yang sifatnya atribut dan perolehan kekuasaan yang sifatnya
derivatif. Perolehan kekuasaan secara derivatif dibedakan atas delegasi dan
mandat[11]. Atribusi adalah pembentukan dan pemberian wewenang tertentu kepada
organ tertentu. Yang dapat membentuk wewenang adalah organ yang berwenang
berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pembentukan dan distribusi wewenang

terutama ditetapkan di dalam konstitusi atau UUD. Pembentukan wewenang


pemerintahan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Di sini terjadi
pemberian wewenang baru oleh suatu ketentuan peraturan perundang-undangan
sehingga dilahirkan suatua wewenang baru. Dengan demikian, pembentukan
wewenang yang berdasarkan pada atribusi nampak dari ciri-ciri sebagai berikut :

a. Melahirkan wewenang baru;

b. Dilakukan oleh suatu badan yang pembentukannya berdasarkan pada


peraturan perundang-undangan. Legislator yang berkompeten untuk
memberikan atribusi wewenang pemerintahan dibedakan atas original
legislator, seperti MPRmenetapkan UUD, dan Presiden bersama DPR
membuat Undang-Undang dan delegated legislator, seperti : Presiden
menetapkan PP yang menciptakan wewenang pemerintahan kepada organ
tertentu[12].

Delegasi adalah penyerahan wewenang untuk membuat suatu putusan oleh


pejabat pemerintahan (delegans) kepada pihak lain (delegetaris) dan wewenang itu
menjadi tanggung jawab dari delegetaris. Syarat-syarat delegasi adalah :

a.Harus difinitif, artinya bahwa delegans tidak dapat lagi menggunakan


sendiri wewenang yang telah diserahkan.

b. Harus berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangana, artinya


bahwa delegasi hanya dimungkinkan jika ada ketentuan untuk itu dalam
peraturan perundang-undangan;

c. Tidak kepada bawahan, artinya bahwa dalam hubungan hirarki


kepegawaian tidak diperkenankan ada delegasi;

d. Kewajiban memberikan keterangan (penjelasan), artinya bahwa delegans


berwenang meminta penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut;

e. Merupakan peraturan kebijakan (beleids-regel), artinya bahwa delegans


memberikan instruksi tentang penguraian wewenang tersebut.

Dengan demikian, pada delegasi selalu didahului oleh adanya atribusi


wewenang. Triepel membedakan delegasi atas primare dan secundare delegation.
Pembedaan itu dilakukan berdasarkan pada aspek kuantitas dan kualitas (sifat).
Primare delegation berkaitan dengan jumlah atau keluasan kewenangan yang
didelegasikan, yang dapat bertambah atau berkurang. Sedangkan
secundaredelegation berkaitan dengan sifat kewenangan yaitu adakalanya bersifat
zefstanding atau zakelijk. Mandat merupakan suatu pelimpahan wewenang kepada
25

bawahan (mandataris) untuk membuat suatu keputusan atas nama yang memberikan
mandate (mandans). Di sini tidak perlu ada peraturan perundang-undangan yang
melandasi, karena mandat merupakan hal rutin dalam hubungan interen. Dengan
demikian, di sini tidak terjadi pemberian wewenang baru maupun pelimpahan
wewenang dari organ atau pejabat TUN yang satu kepada pejabat TUN yang lain.
Jadi, wewenang pemerintahan yang dilakuan oleh mandataris atas nama dan
tanggungjawab mandat. Ada perbedaan yang mendasar antara kewenangan atribusi
dan delegasia. Pada kewenangan “atribusi” kewenangan itu sudah siap ditransfer,
akan tetapi tidak demikian dengan kewenangan “Delegasi”. Dalam kaitana dengan
azas legalitas kewenangan tidak dapat didelegasikan secara besar-besaran, akan tetapi
hanya mungkin dibawah kondisi bahwa peraturan hukum menentukan mengenai
kemungkinan delegas[13].

Berdasarkan pada paparan teori ini dalam hubungannya dengan permasalahan


akan mengkaji kewenangan pejabat keimigrasian dalam melakukan tindakan
keimigrasian.

Pandangan para sarjana mengenai keputusan yang merupakan tindakan


hukum tata usaha Negara, yang dijadikan sebagai titik tolak pembahasan adalah
pandangan WF Prins, Syahran Basah dan pandangan-pandangan sarjana lain yang
menunjang sebagai bahan pembanding seperti Van Der Pot serta pengertian
keputusan menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986. Istilah-keputusan
merupakan terjemahan dari istilah Beschikking yang berasal dari bahasa Belanda
sedangkan dalam bahasa Perancis disebut dengan istilah acte administratif dan dalam
bahasa Jerman disebut verwaltungsakt. Istilahbeschikking di Belanda pertama sekali
diintroduksi oleh Van der Pot dan Van Vollenhown, kemudian masuk ke Indonesia
melalui E.Utrecht dan WF.Prins[14].

Istilah beschikking di Indonesia ada yang menterjemahkannya dengan


ketetapan, seperti E.Utrecht, dan Sjachran Basah[15]. Bahkan menurut Sjachran
Basah, beschikking lebih tepat digunakan untuk istilah ketetapan dan besluit untuk
istilah keputusan.

Beberapa sarjana hukum administrasiaa memberikan rumusan pengertian

beschikking sebagai berikut :

Menurut E. Utrecht, Beschikking (ketetapan) ialah suatu perbuatan hukum

publik yang bersegi satu yang dilakukan oleh alat-alat pemerintah berdasarkan suatu
kekuasaan istimewa.

W.F.Prins [16]merumuskan Beschikking sebagai suatu tindakan hukum sepihak dalam


lapangan pemerintahan yang dilakukan oleh alat pemerintahan berdasarkan
wewenang yang ada pada alat atau organ itu.

Salah satu prinsip atau asas negara hukum adalah asas legalitas. Asas ini

menentukan bahwa setiap tindakan pemerintah harus berdasarkan atas hukum.


Hukum harus menjadi sumber kekuasaan atau wewenang bagi setiap tindakan
pemerintah. Kekuasaan atau wewenang itu diperoleh pemerintah melalui attribusi.
Dengan attribusi pemerintah diberi kekuasaan atau wewenang untuk melakukan
sesuatu tindakan, dimana semuala kekuasaan atau wewenang untuk melakukan
tindakan itu tidak dimiiki pemerintah. Pemberian wewenang kepada pemerintah itu
harus dinyatakan secara tegas dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
26

Konsekuensi dari itu pemerintah akan dinyatakan tidak memiliki kekuasaan atau
wewenang untuk melakukan suatu tindakan, apabila hukum atau Undang-undang
tidak memberikan attribusi kekuasaan atau wewenang kepada pemerintah untuk
melakukan suatu tindakan. asas demikian menempatkan hukum sebagai sumber
kekuasaan atau wewenang bagi setiap pemerintah.
27

2.8 Negara Yang Mempunyai Hak Veto

Dengan kata lain, sepuluh negera tersebut merupakan penderita saja. sebagai
misal sebuah negara sedang melakukan peperangan dengan salah satu negara dan 14
DK PBB tersebut menyetujui untuk melerai dengan jalan perdamaian, akan tetapi
satu negara tidak setuju, maka kesepakatan 14 negara DK PBB tersebut tidak akan
terlaksana atau gagal.

Tujuan awal pembentukan Dewan Keamanan PBB sebenarnya sangat baik sekali,
akan tetapi DK PBB justru menjadi sebuah permainan oleh negara-negara yang
memiliki hak veto atau wewenang lebih. Misi awal dari pembentukan DK PBB
adalah untuk menciptakan sebuah perdamaian dunia yang diperkasai oleh beberapa
negara adikuasa atau negara raksasa yang memiliki hak veto, namun seakan hak veto
tersebut digunakan tidak seharusnya. Siapa saja negara yang memiliki hak veto di
dunia ini? untuk menjawab rasa penasaran tersebut, maka silahkan simak ulasan
berikut ini.

Daftar Negara di Dunia yang Memiliki Hak Veto

1. Amerika Serikat (AS)

Amerika Serikat merupakan negara yang dikepalai oleh seorang presiden bernama
Barack Obama. Negara ini mendapatkan hak veto dari DK PBB sebenarnya sudah
sangat lama, bahkan sejak terbentuknya DK PBB.

2. Rusia

Negara selanjutnya yang mendapatkan hak veto adalah Rusia. Negara yang sangat
besar dan terkuat di dunia ini mendapatkan hak istimewa setelah menunjukan
kontribusinya secara lebih terhadap perdamaian dunia di hadapan DK PBB.

3. China

Negara China bisa dikatakan merupakan negara yang memiliki populasi penduduk
menyebar terbanyak di dunia, bahkan penduduk asli China bisa mencapai
pelosok-pelosok negara. Akibat hal inilah China mendapatkan hak veto dari DK PBB.

4. Inggris

Berbicara mengenai negara adikuasa terkuat di dunia, tentunya tidak akan lepas
dengan Inggris, pasalnya Inggris merupakan salah satu pendiri dari Dewan Keamanan
PBB, maka tak heran negara tersebut mendapatkan hak veto

5. Perancis

Tidak hanya Inggris dan Amerika Serikat saja yang bertanggung jawab atas
berdirinya DK PBB, akan tetapi Perancis juga mengambil banyak bagian terhadap
berdirinya Organisasi Perdamaian Dunia tersebut. hal inilah yang menyebabkan
negara Perancis mendapatkan hak vetoi untuk beberapa kawasan di dunia ini.
28

I https://aengaeng.com/2015/03/daftar-negara-di-dunia-yang-memiliki-hak-veto/
29

BAB lll

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

 Imigran ilegal adalah sebuah masalah yang sangat serius dan merupakan
ancaman bagi negara Indonesia. Semakin meningkatnya keberadaan orang
asing secara ilegal di Indonesia memberikan kerugian bagi Indonesia, baik
secara financial dan material.

 Pelaksanaan penegakan hukum terhadap imigran gelap dan ilegal belum


diatur secara khusus dalam sistem hukum Indonesia tetapi masih hanya
mengacu pada UU.NO.6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian.

 Karena Indonesia yang dikenal ramah dan baik dalam menangani para
imigran kemudian malah menjadi negara tujuan dan target untuk mencari
suaka bagi para imigran, agen-agen penyelundup pun memang sengaja
menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan penyelundupan manusia.

3.2 Saran

 Perlu dibuat Undang-Undang atau kebijakan khusus yang secara tegas dan
jelas membahas imigran gelap, termasuk ketentuan-ketentuan yang mengatur
tentang kegiatan tersebut sebagai suatu tindak pidana, guna memperkuat
posisi Pemerintah Indonesia dalam usaha menghadapi masalah
penyelundupan manusia, dan institusi penegak hukum dapat menindak secara
tegas para imigran gelap sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi para
pelakuny
30

DAFTAR PUSTAKA

. https://brainly.co.id/tugas/1255597

. http://organisasi.org/penyebab_atau_alasan_terjadinya_migrasi

.Ajat Sudrajat Havid, pengungsi dalam Rangka Kebijakan Keimigrasian Indonesia Kini dan
yang Akan Datang, Protecting Refugee, A Field Guide for NGO’s, tanpa tahun,

. https://id.wikipedia.org/wiki/Imigran_ilegal

.http://regional.kompas.com/read/2013/10/11/2321196/1.200.Pelabuhan.Rakyat.Jadi.Pintu.M
asuk.Imigran.Ilegal

.https://aengaeng.com/2015/03/daftar-negara-di-dunia-yang-memiliki-hak-veto/

.http://hukumimigrasi.blogspot.co.id/2013/01/hukum-keimigrasian.html

.http://kependudukan.lipi.go.id/id/kajian-kependudukan/dinamika-kependudukan/50-
kenapa-orang-bermigrasi

.http://kependudukan.lipi.go.id/id/kajian-kependudukan/dinamika-kependudukan/50-kenapa-orang-bermigrasi