Anda di halaman 1dari 12

Manual CSL

SISTEM UROGENITALIA

PEMERIKSAAN FISIK

Diberikan pada Mahasiswa Semester IV

Fakultas Kedokteran UNKHAIR

SISTEM UROGENITALIA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KHAIRUN

2019
CSL 2
PEMERIKSAAN FISIK UROGENITALIA

Pengertian :
Setelah kita melakukan anamnesis, langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah pemeriksaan
fisik. Lewat pemeriksaan fisik kita dapat mengetahui organ urogenitalia yang mengalami gangguan.
Pada modul urogenitalia ini, kita akan fokus pada pemeriksaan fisik organ traktus urogenital.

Tujuan pembelajaran :
Tujuan Instruksional Umum :
Setelah kegiatan ini mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik organ urogenitalia (ginjal,
kandung kemih dan prostat).

Tujuan Instruksional Khusus :


Setelah kegiatan ini mahasiswa mampu:
1. Mempersiapkan pasien dalam rangka pemeriksaan fisik
2. Melakukan tahapan pemeriksaan fisik pada pasien secara lengkap dan sistematis
3. Menentukan diagnosis dan diagnosis banding terkait pemeriksaan fisik (organ yang bermasalah)

Media dan alat bantu pembelajaran :


a. Daftar panduan belajar untuk pemeriksaan fisik
b. Manekin
a. Senter
b. Handscoen
c. Jelly, lap, sabun dan wastafel untuk simulasi mencuci tangan
d. Status penderita, pena.

Metode Pembelajaran :
1. Demonstrasi sesuai dengan daftar panduan belajar
2. Ceramah
3. Diskusi
4. Parsipasi aktif dalam skills lab. (simulasi)
5. Evaluasi melalui check list/daftar tilik dengan sistim skor
DESKRIPSI KEGIATAN
KEGIATAN WAKTU DESKRIPSI
1. Pengantar 5 menit
30 Bermain peran 30 1.
menit 1.Mengatur posisi duduk mahasiswa
Tanya dan jawab 2.Dosen (instruktur) memberikan contoh bagaimana cara
melakukan pemeriksaan fisik secara umum pada manekin.
Mahasiswa menyimak dan mengamati
3.Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
bertanya dan dosen (instruktur) memberikan penjelasan
tentang aspek-aspek yang penting
4.Selanjuntya kegiatan dilanjutkandengan pemeriksaan fisik
pada manekin
5.Mahasiswa dapat memperhatikan dan menanyakan hal-hal
yang belum dimengerti dan dosen (instruktur)
menanggapinya
3. Praktek bermain 1.Mahasiswa
100dibagi
1 menjadi pasang pasangan. Seorang
peran dengan mentor diperlukan
0 untuk mengamati 2 pasangan
umpan balik 2.Setiap pasangan
0 berpraktek, satu orang sebagai dokter
(pemeriksa) dan satu orang sebagai pasien secara serentak
3.Mentor memantau pasangan yang berpraktek sambil
mengevaluasi yang dilakuakan mahasiswa
4.Mentor berkeliling diantara mahasiwa dan melakukan
supervisi menggunakan ceklist
5.Setiap mahasiswa paling sedikit berlatih satu kali
4.Curah 15 menit 1.Curah pendapat/diskusi: apa yang dirasakan mudah? Apa
pendapat/diskusi yang sulit? Menanyakan bagaimana perasaan mahasiswa
yang berperan sebagai pasien. Apa yang dapat dilakukan oleh
dokter agar pasien merasa lebih nyaman?
2.Dosen (instruktur) menyimpulkan dengan menjawab
pertanyaan terakhir dan memperjelas hal-hal yang masih
belum dimengerti?
Total waktu 150 menit
PENUNTUN PEMBELAJARAN

KETERAMPILAN PEMERIKSAAN FISIK UROGENITALIA

NO. LANGKAH / KEGIATAN KASUS

MENJALIN SAMBUNG RASA 1 2 3

INFORMED CONSENT
1. Sapalah pasien atau keluarganya dengan ramah dan persilahkan duduk.
Perkenalkan diri anda, serta tanyakan keadaannya
2. Berikan informasi umum pada klien atau keluarganya tentang pemeriksaan
fisik yang akan dilakukan, tujuan dan manfaatnya untuk pasien
3. Berikan jaminan pada pasien atau keluarganya tentang kerahasian hasil
pemeriksaan fisik yang dilakukan
4. Jelaskan pada klien tentang hak pasien atau keluarganya misalnya tentang hak
untuk menolak pemeriksaan fisik
5. Mintalah persetujuan pasien untuk pemeriksaan fisik
PERSIAPAN ALAT
1. Pasien dipersilakan buang air kecil lalu berbaring di tempat tidur pemeriksaan
2. Periksa dan letakkan semua alat yang diperlukan pada tempatnya
3. Pemeriksaan dilakukan di ruangan yang tenang dan cahaya yang cukup
terang. Perawat sebaiknya mendamping dokter selama pemeriksaan. Pada
anak-anak sebaiknya pemeriksa bersikap informal agar anak tidak merasa
tegang
PERSIAPAN DIRI
1. Lakukan cuci tangan rutin kemudian menggosok kedua tangan untuk
menghangatkan tangan
2. Pakaian pasien sebaiknya dibuka sesuai dengan bagian tubuh yang akan
diperiksa
3. Pasanglah sarung tangan steril (bila diperlukan)
4. Pemeriksa berdiri di samping kanan pasien
PEMERIKSAAN UROLOGIK
A Pemeriksaan Abdomen
1. Pemeriksaan Regio costo vertebralis ; dilakukan dalam keadaan berbaring
terlentang atau duduk
 Inspeksi : Perhatikan tanda radang hebat,trauma (luka lecet/gores),
benjolan di regio costo-vertebralis (RCV)/lateral abdomen yg ikut
gerak nafas(tumor)
 Palpasi : Pemeriksaan posisi baring, 1 tangan di costo-vertebralis dan
satu tangan di depan dinding perut. Pemeriksaan dalam keadaan
inspirasi dan ekspirasi. Ginjal kanan lebih rendah, kadang
teraba"ballotement" pada inspirasi maksimal. Periksa adanya nyeri
saat palpasi dan konsistensi ginjal.
 Perkusi : perkusi regio costo vertebralis posterior kiri dan kanan. Jika
terdapat nyeri ketok kemungkinan terdapat batu ginjal atau radang
ginjal.
 Auskultasi : Gunakan stetoskop, terdengar suara bising (systolic bruit)
bila ada stenosis/aneurisma arteri renalis
 Transluminasi : Gunakan senter pada sisi massa di kamar gelap.
Terutama dilakukan pada anak < 1 tahun dengan massa besar di supra
pubis
Tes transluminasi (+) :kista ginjal atau hidronefrosis dengan cairan
transparant dan hidrokel
2. Regio Suprapubik
 Inspeksi :
1)Normal : kosong atau volume < 150 cc → tidak terlihat
2)Bila tampak penonjolan yg bulat antara sympisis os pubis dan
umbilikus : vesica urinaria penuh
3)Benjolan tidak teratur di supra pubis → tumor buli-buli besar
4)Periksa testis di skrotum → bila kosong/hanya 1 → seminoma testis
intra abdominal
 Palpasi :
1)Nyeri tekan supra pubis → sistitis
2)Tumor buli-buli, uterus, ovarium yg besar dan seminoma teraba di
supra pubis
3)Urin sisa yg banyak → teraba dengan colok dubur bimanual
 Perkusi :
1)Buli-buli kosong → tidak dapat diidentifikasi dgn perkusi
2)Pekak (dullness) di supra pubis → isi buli-buli > 150 cc atau kista
ovarium pada wanita
B Pemeriksaan Genitalia Externa Laki-laki
1. Penis
INSPEKSI
1)Perhatikan dari ujung penis sampai pangkal
2)Apakah sudah disirkumsisi atau belum.
3)Bila belum disirkumsisi perhatikan:
 Preputium : preputium terlalu panjang(hipospadia)→ Redundant
prepuce
 Orificium kecil dan konstriksi ketat hingga preputium tidak dapat
ditarik ke belakang melewati glans penis→ phymosis
 Preputium yg phymosis kalau dipaksa ditarik ke belakang corona
glandis dan tidak segera direposisi kembali → paraphymosis
Bila sudah disirkumsisi, perhatikan :
 Glans penis: periksa apakah ada Herpes progenitalis (Virus Herpes
tipe 2) atau radang glans penis (balanitis)
 Meatus uretra
o i.irritasi khronis pada meatus → Erythro-plasma of Queyrat
o ii.Condyloma acuminata = verruca acuminate
o iii.Urethral discharge. Cairan yang keluar dari meatus urethra:
nanah (urethritis), darah (ruptura urethra, corpus alienum,
batu, tumor urethra)
 Sulcus coronarius: Chancroid ( infeksi basil Ducrey ), scar ( sifilis
primer), tumor (ca. penis), Condylomata acuminate
 Letak meatus uretra: Hipospadia ada 3 tipe : glandular (meatus
uretra pada cornna glandis), penile (meatus pada batang penis
sampai penoskrotalis), perineal (meatus pada perineum hingga
penis terlipat sama sekali membelah skrotum), epispadia (meatus
urethra terletak di dorsum penis), fistel urethra akibat peri
urethritis atau trauma, Hypoplasia of the penis (micro penis)
(penis yang tidak berkembang, tetap kecil), curvatura penis :
hypospadia penis akan bengkok kearah ventral
Palpasi :
Raba seluruh penis mulai dari preputium, glans dan batang penis serta
urethra :
1) Phymosis teraba massa lunak atau keras dibawah preputium pada glans
penis atau sulcus caronarius.
2) Uretra spt tali dan pancaran kencing kurang → striktur uretra
3) Teraba batu pada fossa navicularis glandis dan peno-scrotalis
2. Scrotum dan isinya
Inspeksi :
1) Normal : kanan lebih tinggi dari kiri
2) Cari :abses, fistel, edema, gangren (skrotum tegang, kemerahan nyeri,
panas, mengkilap, hilang rasa, basah → gangren, ca skrotum
3) Pembesaran skrotum:
o Orchitis/epididimitis: nyeri dgn tanda radang, skrotum edema,
merah
o Ca testis: skrotum besar berbenjol, tidak ada tanda radang
dan tidak nyeri
o Hydrocele testicularis: skrotum besar dan rata, tidak
berbenjol
o Hydrocele funicularis : sisi yg hidrocele ada 2 biji, jadi terlihat
3 benjolan dengan testis sebelahnya
o Hernia Inguinalis : usus dapat masuk atau didorong masuk ke
dalam rongga abdomen ketika berbaring
o Varicocele: gambaran kebiruan menonjol dan berkelok-kelok
sepanjang skrotum, menghilang bila berbaring
o Hematocele : perdarahan akibat trauma, skrotum bengkak
kebiruan, ada bekas trauma
o Torsi testis : testis yang terpuntir lebih tinggi dari yg normal(
Deming's sign) dan posisi lebih horisontal dari yang normal
(Angell's sign)
Palpasi :
1) Raba jumlah testis, monorchidism/anorchidism, kriptokismus uni/ bilateral
2) Testis teraba keras sekali, tidak nyeri tekan → seminoma
3) Hydrocele → testis tidak teraba, fluktuasi, tes transluminasi (+)
4) Hernia skrotalis → teraba usus/massa dariskrotum sampai kanalis inguinalis
5) Varicocele → seperti meraba cacing dalam kantung (bag of worm)
6) Torsio testis → teraba horisontal dan nyeri, diangkat ke atas lewat sympisis
os pubis nyeri tetap/bertambah (Prehn's sign)
7) Vas deferens teraba seperti benang besar dan keras dalam skrotum. Tidak
teraba → agenesis vas deferens; TBC → teraba seperti tasbih
C Pemeriksaan Genitalia Externa Perempuan
1.Vulva → labia mayora: mungkin ada bartolinitis atau kista Nucki
2.Muara uretra :
o Urethral discharge → nanah pada uretritis
o Caruncula uretra →proliferasi mukosa urethra posterior dekat
meatus dan menonjol keluar
o Prolapsus urethra → eversi mukosa urethra terutama bagian
anterior
o Vagina (Perhatikan orificium dan vestibulum vaginae) : Ada flour
albus/keputihan/nanah → vaginitis : masih ada himen atau himen
imperforata
Pemeriksaan Colok Dubur

Pengertian :
Pemeriksaan colok dubur adalah suatu pemeriksaan dengan memasukkan jari telunjuk yang sudah
diberi pelicin ke dalam lubang dubur. Pemeriksaan ini membantu klinisi untuk dapat menemukan
penyakit-penyakit pada perineum, anus, rektum, prostat, dan kandung kemih.

Tujuan Pembelajaran
Tujuan Instruksional Umum :
Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan colok dubur untuk prostat secara baik,benar
dan efisien.

Tujuan Instruksional Khusus:


Setelah melakukan latihan keterampilan ini, mahasiswa :
1. Dapat melakukan persiapan penderita dengan benar
2. Dapat melakukan persiapan alat/bahan dengan benar
3. Dapat memberikan penjelasan pada penderita atau keluarganya tentang apa yang akan
dilakukan, alat yang dipakai, bagaimana melakukan, apa manfaatnya, dan apa risiko yang
mungkin terjadi.
4. Dapat menjelaskan kepada penderita atau keluarganya tentang kerahasiaan tindakan dan hak-
hak penderita, misalnya tentang hak penderita untuk menolak tindakan yang akan dilakukan.
5. Dapat melakukan cuci tangan biasa dan asepsis dengan benar
6. Dapat memasang sarung tangan steril dengan benar, dan melepaskannya setelah pekerjaan
selesai.
7. Dapat menempatkan pasien pada posisi yang tepat
8. Dapat melakukan pemeriksaan colok dubur dengan tepat
9. Dapat melakukan pemeriksaan kelenjar prostat dengan tepat

Indikasi :
1. Retentio urine
2. Aliran urine berkurang, nocturia, urine menetes (dribbling)
3. Pemeriksaan untuk menilai traktus gastrointestinalis (Rectal Toucher)

Persiapan alat dan bahan :


1. Sabun cair
2. Air mengalir
3. Larutan antiseptik
4. Lap atau tisu
5. Jelly
6. Sarung tangan steril
7. Kain kasa steril
8. Ember berisi air
9. Handuk kecil atau tissue
10.Baskom berisi klorin 0,5%
11.Tempat sampah non-medis
12.Tempat sampah medis
PENUNTUN PEMBELAJARAN

KETERAMPILAN PEMERIKSAAN COLOK DUBUR

NO. LANGKAH / KEGIATAN KASUS

MENJALIN SAMBUNG RASA 1 2 3

1. Sapalah pasien atau keluarganya dengan ramah dan


persilahkan duduk. Perkenalkan diri anda, serta tanyakan keadaannya.
2. Berikan informasi umum pada pasien atau keluarganya tentang pemeriksaan
colok dubur, tujuan, manfaat dan resiko untuk keadaan klien.
3. Berikan jaminan pada pasien atau keluarganya tentang kerahasiaan yang
tindakan dan hasil pemeriksaan
4. Jelaskan pada klien tentang hak-hak pasien atau keluarganya, misalnya
tentang hak untuk menolak tindakan pemeriksaan colok dubur.
5. Mintalah kesediaan pasien untuk pemeriksaan colok dubur
Persiapan penderita dan alat/bahan
6. Periksa dan aturlah alat yang dibutuhkan
7. Mintalah penderita mengosongkan kandung kencingnya. Bila klien tidak
mampu mengosongkan kandung kencingnya sendiri, lakukan kateterisasi
urine. Kemudian bantu klien dalam posisi lithothomi
PERSIAPAN PEMERIKSA
8. Pemeriksa mencuci kedua tangan pada air yang mengalir dan
mengeringkannya
9. Pemeriksa memakan sarung tangan DDT atau Handscoen steril
PEMERIKSAAN COLOK DUBUR
10. Pasien berada dalam posisi lithothomi
Lakukan inspeksi daerah perineum dan anus, perhatikan apakah ada tanda-
tanda hemorrhoid atau penonjolan/nodul, fistel (fisura ani) atau ada bekas
operasi
11. Oleskan jelly pada jari telunjuk yang menggunakan sarung tangan
12. Masukkan jari telunjuk ke anus, perlahan-lahan sentuhlah spinkter ani dan
mintalah penderita untuk bernapas seperti biasa, sambil menilai tonus
spinkter ani tersebut. Tangan yang satu berada di atas suprapubis dan
tekanlah ke arah vesica urinaria. (Bila vesica urinaria kosong, maka kedua
ujung jari dapat bertemu (terasa)
13. Doronglah jari telunjuk ke arah dalam anus sambil menilai ampulla dan
dinding rectum apakah dalam keadaan kosong/ada massa feses, terdapat
tumor/hemorrhoid, atau adanya batu urethra (pars prostatica).
14. Tempatkanlah jari telunjuk pada jam 12, untuk meraba kelenjar prostat pada
posisi lithothomi. (Kelenjar prostat teraba pada posisi jam 12.)
15. Raba massa tersebut, dan nilai hal-hal berikut:
1) Permukaannya atau keadaan mucosa rektum pada prostate,
2) Pembesarannya : pole atas bisa/tidak teraba dan Penonjolannya kedalam
rectum,
3) Konsistensi : kenyal, keras, atau lembut,
4) Simetris atau tidak,
5) Berbenjol-benjol atau tidak,
6) Terfiksir atau tidak,
7) Nyeri tekan atau tidak,
8) Adanya krepitasi (batu prostat) atau tidak
16. Keluarkan jari tangan dengan sedikit melengkungkan ujung jari, dan
periksalah apakah ada darah, lendir dan feses pada sarung tangan
PENUTUP
17. Buka sarung tangan kotor dan buang ke tempat sampah medis
18. Lakukan cuci tangan dengan air mengalir
19. Mengucapkan terima kasih dan sampaikan hasil pemeriksaan kepada pasien