Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Filariasis disebabkan oleh investasi satu atau dua cacing jenis filaria yaitu
Wucheria bancrofti atau Brugia malayi. Cacing filarial ini termasuk famili Filaridae,
yang bentuknya langsing dan ditemukan di dalam sistem perdarahan darah limfe,
otot, jaringan ikat atau rongga serosa pada vertebrata. Cacing bentuk dewasa dapat
ditemukan pada pembuluh dan jaringan limfa pasien.1
Masa inkubasi penyakit ini cukup lama lebih kurang 1 tahun, sedangkan
penularan parasit terjadi melalui vektor nyamuk sebagai hospes perantara, dan
manusia atau hewan kera dan anjing sebagai hospes definitif. Periodisitas beradanya
mikrofilaria di dalam darah tepi bergantung pada spesies. Periodisitas tersebut
menunjukkan adanya filarial di dalam darah tepi sehingga mudah terdeteksi.1
Mikrofilaria W. bancrofti ditemukan umumnya pada malam hari (nokturnal)
terutama di belahan bumi bagian selatan termasuk Indonesia, sedangkan di daerah
pasifik ditemukan siang dan malam (non-periodik). Sedangkan mikrofilaria B. malayi
mempunyai periodisitas nokturnal. Sebab timbulnya periodisitas ini belum diketahui,
mungkin dipengaruhi oleh tekanan zat asam dalam kapiler paru atau lingkaran hidup
cacing filarial.1
Prevalensi mikrofilaria meningkat bersamaan dengan umur pada anak-anak
dan meningkat antara umur 20-30 tahun, pada saat usia pertumbuhan, serta lebih
tinggi pada laki-laki dibanding wanita. Lingkaran hidup filaria meliputi: pengisapan
mikrofilaria dari darah atau jaringan oleh serangga penghisap darah; metamorfosis
mikrofilaria di dalam hospes perantara serangga, di mana mula-mula membentuk
larva rabditiform lalu membentuk larva filariform yang aktif; penularan larva infektif
ke dalam kulit hospes baru, melalui proboscis serangga yang menggigit, dan
kemudian pertumbuhan larva setelah masuk ke dalam luka gigitan sehingga menjadi
cacing dewasa.1

1
Kekebalan alami atau yang didapat pada manusia terhadap infeksi filarial
belum diketahui banyak. Cacing filarial mempunyai antigen yang spesifik untuk
spesies dan spesifik untuk kelompok (group specific); memberi reaksi silang antara
berbagai spesien dan nematoda lainnya.1
Filariasis (Kaki gajah) telah dikenal di Indonesia sejak Haga dan van Eecke
melaporkan adanya suatu kasus scrotal elephantiasis pada tahun 1889. Sampai saat ini
penyakit tersebut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, baik di
daerah perkotaan maupun pedesaan. Filariasis adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh cacing Filaria, nyamuk merupakan vektor dari penyakit Filariasis.
Penyakit Filariasis bersifat kronis (menahun) dan apabila tidak segera diobati dapat
menimbulkan cacat yang menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin
laki-laki maupun perempuan.2
WHO menyatakan bahwa lebih dari sekitar 1 milyar orang di 80 negara bisa
beresiko tertular Filariasis. Berdasarkan data telah lebih dari 120 juta orang terinfeksi
oleh Filariasis dan lebih dari 40 juta orang beresiko untuk terinfeksi. Prevalensinya
terus meningkat di negara-negara seperti Afrika, India, Amerika dan Asia. Salah satu
faktor penyebab meningkatnya resiko Filariasis adalah pertumbuhan penduduk yang
cepat dan perencanaan kota yang tidak baik sehingga banyak kawasan kumuh yang
dapat menjadi tempat untuk berkembang biak bagi nyamuk sebagai vektor penyakit
Filariasis.3
WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global (The Global Goal of
Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020).
Program eliminasi dilaksanakan melaui pengobatan masal dengan DEC dan
Albendazol setahun sekali selama 5 tahun di lokasi yang endemis Filariasis dan
perawatan kasus klinis baik yang akut maupun yang kronis untuk mencegah
kecacatan dan mengurangi rasa sakit. Penyebab penyakit Filariasis ada tiga spesies
yaitu Wucheria Brancofti, Brugia Malayi dan Brugia Timori. Vektor penular di
Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus

2
Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes, dan Armigeres yang dapat berperan sebagai
vector penular penyakit kaki gajah.3

1.2 Tujuan Makalah


Penyusunan makalah ini bertujuan sebagai media penyaluran informasi
terhadap pengetahuan dan penatalaksanaan filariasis yang merupakan masalah
terbesar yang dihadapi kesehatan masyarakat di Indonesia, baik di daerah perkotaan
maupun pedesaan. Penyusunan makalah ini juga sekaligus sebagai salah satu bentuk
pemenuhan persyaratan selama mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior
(KKS) di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.

1.3 Manfaat Makalah


Makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan bagi pembaca
khususnya peserta KKS dan sasaran terkait.