Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENILAIAN PEMBIAYAAN
“Musyarakah”

Kelompok 4 :
Immawan Ahmady Zulfikar : 201710190511045
Ilham Ramadhan : 201710190511065
Nurul Faizatul Jannah : 201710190511067
Azmi : 201710190511075

JURUSAN D3 KEUANGAN DAN PERBANKAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018

i
ii
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nam allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang
,kami panjatkan puja dan puji syukur ataskehadirat-Nya, yang dan inayah-Nya
kepada kami, sehingga kamidapat menyelesaikan makalah musyarakah yang
bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah penilaian pembiayaan.

Makalah penilaian pembiayaan ini telah kami susun dengan maksimal dan
bekerjasama untuk memperlancar pembuatan makalah ini.

Terlepas dari itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tatanan bahasanya.oleh karena itu dengan
tangan terbuka kami menerima kritik dan saran dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat memberi inspirasi dan bermanfaat
bagi pembaca.

iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................... 1
D. Manfaat ............................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3
A. Pengertian al- Musyarakah ................................................................. 3
B. Dasar Hukum (Landasan Syariah) ..................................................... 3
C. Rukun dan Syarat al-Musyarakah ...................................................... 4
D. Jenis –jenis al- Musyarakah ............................................................... 5
E. Bentuk-bentuk musyarakah ................................................................ 6
F. Aplikasi dalam Perbankan .................................................................. 7
G. Ketentuan Umum al-Musyarakah ...................................................... 7
H. Manfaat dan Risiko al-Musyarakah .................................................. 8
BAB III PENUTUP .................................................................................... 9
2.1 Kesimpulan ....................................................................................... 9
3.2 Saran ................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 12

iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sekarang banyak masalah-masalah yang melibatkan anggota masyarakat
dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah muamalah(akad, transaksi) dalam
berbagai bidang . Karena masalah muamalah ini langsung melibatkan manusia
dalam masyarakat. Dari sekian banyak transaksi atau akad yang ada, diantaranya
adalah akad al-musyarakah.
Al- Musyarakah merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih
untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi
dana (atau amal /expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan
ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Musyarakah dalam perbankan
Islam telah dipahami sebagai suatu mekanisme yang dapat menyatukan kerja dan
modal untuk produksi barang dan jasa yang bermanfaat untuk masyarakat.
Musyarakah dapat digunakan dalam setiap kegiatan yang dijalankan untuk tujuan
menghasilkan laba.
Oleh karena itu, di dalam makalah ini akan di bahas tentang akad
musyarakah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian tentang al-Musyarakah?
2. Apa dasar hukum (landasan syariah) al-Musyarakah itu?
3. Apa saja rukun dan syarat al-musyarakah?
4. Apa saja jenis-jenis al-Musyarakah itu?
5. Apa saja bentuk –bentuk al-musyarakah itu?
6. Bagaimana aplikasi musyarakah dalam perbankaan?
7. Bagaimana ketentuan umum dari al-Musyarakah?
8. Apa manfaat dan resiko al-musyarakah itu?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tentang al-Musyarakah?

1
2. Untuk mengetahui dasar hukum (landasan syariah) al-Musyarakah itu?
3. Untukmengetahui saja rukun dan syarat al-musyarakah?
4. Untuk mengetahui saja jenis-jenis al-Musyarakah itu?
5. Untuk mengetahui bentuk –bentuk al-musyarakah itu?
6. Untuk mengetahui aplikasi musyarakah dalam perbankaan?
7. Untuk mengetahui ketentuan umum dari al-Musyarakah?
8. Untuk mengetahui manfaat dan resiko al-musyarakah itu?

D. Manfaat

Manfaat dari makalah ini agar dapat dipergunakan dengan sebaik mungkin
dan menjadi bahan acuan sebagai penambah wawasan pengetahuan dan pembelajaran
untuk memenuhi tugas penilaian pembiayaan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian al- Musyarakah
Musyarakah secara bahasa di ambil dari bahasa arab yang berarti
mencampur. Dalam hal ini mencampur satu modal dengan modal yang lain
sehingga tidak dapat di pisahkan satu sama lain.
Musyarakah merupakan istilah yang sering dipakai dalam konteks skim
pembiayaan Syariah. Istilah lain dari musyarakah adalah syarikah atau syirkah.[1]
Kata Syirkah dalam bahasa arab berasal dari kata syarika (fi’il madhi),
yashruku (fi’il mudhari’) syarikan/syirkatan/syarikatan (masdar/kata
dasar), artinya menjadi sekutu atau syarikat (kamus al Munawar). Menurut arti
asli bahasa Arab, syirkah berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sehingga
tidak boleh dibedakan lagi satu bagian dengan bagian lainnya. [2]
Al –Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana
(atau amal /expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan
ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
B. Dasar Hukum (Landasan Syariah)
a. Al-Qur’an
“Dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.”(Shaad:24)
b. Al-Hadits
‫ش ِريكَي ِن ما َ لَم َيخن آَ َحد هما َ صا َ ِحبَه‬
َّ ‫َعن آبي ه َري َر ة َ َرفَعَه قَا َل اِ َّن للاَ يَقول آَنا َ ث َا ِلث ال‬
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. Bersabda, “ sesungguhnya Allah Azza
wa Jalla berfirman, Aku pihak dari ketiga dari dua orang yang berserikat selama
salah satunya tidak mengkhianati lainnya.” ( HR Abu Dawud No.2936, dalam
kitab al-Buyu, dan Hakim)
c. Ijma’

3
Ibnu Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni, telah berkata,” kaum muslimin
telah berkonsensus terhadap legitimasi musyarakah secara global walaupun
terdapat perbedaan pendapat dari beberapa elemen darinya.
C. Rukun dan Syarat al-Musyarakah
1. Rukun-rukun al-Musyarakah:
a. Pelaku akad, yaitu para mitra usaha
b. Objek akad , yaitu modal (mal), kerja (dharabah), dan keuntungan (ribh),
c. Shighah, yaitu Ijab dan Qabul
2. Syarat-syarat al-musyarakah
Beberapa syarat pokok musyarakah menurut Usmani (1998) antara lain:
a. Syarat akad
Ada empat syarat akad:
1) Syarat berlakunya akad (In’iqod)
2) Syarat sahnya akad (shihah)
3) Syarat terealisasikannya akad (Nafadz)
4) Syarat Lazim
b. Pembagian proporsi keuntungan. Dalam pembagian proporsi keuntungan
harus dipenuhi hal-hal berikut:
1) Proporsi keuntungan yang dibagikan kepada para mitra usaha harus disepakati
di awal kontrak/ akad. Jika proporsi belum ditetapkan , akad tidak sah
menurut syariah.
2) Rasio /nisbah keuntungan untuk masing-masing mitra usaha harus ditetapkan
sesuai dengan keuntungan nyata yang diperoleh dari usaha, dan tidak
ditetapkan berdasarkan modal yang disertakan. Tidak diperbolehkan untuk
menetapkan lumsum untuk mitra tertentu, atau tingkat keuntungan tertentu
yang dikaitkan dengan modal investasinya.
c. Penentuan proporsi keuntungan. Dalam menentukan proporsi keuntungan
terdapat beberapa pendapat dari para ahli hukum Islam sebagai berikut:

4
1) Imam malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa proporsi keuntungan dibagi
di antara mereka menurut kesepakatan yang ditentukan sebelumnya dalam
akad sesuai dengan proporsi modal yang disertakan.
2) Imam Ahmad berpendapat bahwa proporsi keuntungan dapat pula berbeda
dari proporsi modal yang disertakan.
3) Imam Abu Hanifah, yang dapat dikatakan sebagai pendapat tengah-tengah,
berpendapat bahwa proporsi keuntungan dapat berbeda dari proporsi modal
pada kondisi normal..
d. Pembagian kerugian. Para ahli hukum Islam sepakat bahwa setiap mitra
menanggung kerugian sesuai dengan porsi investasinya.
e. Sifat modal. Sebagian besar ahli hukum Islam berpendapat bahwa modal yang
diinvestasikan oleh setiap mitra harus dalam bentuk modal likuid.
f. Manajemen musyarakah. Prinsip normal dari musyarakah bahwa setiap mitra
mempunyai hak untuk ikut serta dalam manajemen dan bekerja untuk usaha
patungan ini. Namun demikian, para mitra dapat pula sepakat bahwa
manajemen perusahaan akan di dilakukan oleh salah satu dari mereka, dan
mitra lain tidak akan menjadi bagian manajemen dari musyarakah.
g. Penghentian musyarakah
1) Setiap mitra memiliki hak untuk mengakhiri musyarakah kapan saja setelah
menyampaikan pemberitahuan kepada mitra lain mengenai hal ini.
2) Jika salah seorang mitra meninggal pada saat musyarakah masih berjalan,
kontrak dengan almarhum tetap berakhir/dihentikan.
3) Jika salah seorang mitra menjadi hilang ingatan atau menjadi tidak mampu
melakukan transaksi komersial, maka kontrak musyarakah berhasil.
h. Penghentian musyarakah tanpa menutup usaha. Jika salah seorang mitra ingin
mengakhiri musyarakah sedangkan mitra lain ingin tetap meneruskan usaha,
maka hal ini dapat dilakukan dengan kesepakatan bersama. [3]
D. Jenis –jenis al- Musyarakah
Al- musyarakah ada dua jenis:
1. Musyarakah pemilikan

5
Musyarakah pemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya
yang mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih .
2. Musyarakah akad (kontrak)
Musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan di mana dua orang atau
lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah.
Musyarakah akad dibagi menjadi lima jenis:
a. Syirkah al- ‘Inan yaitu kontrak antara dua orang atau lebih.
b. Syirkah mufawadhah yaitu kontrak kerja sama antara dua orang atau
lebih.
c. Syirkah A’maal yaitu kontrak kerja sama dua orang seprofesi untuk
menerima pekerjaan secara bersama dan berbagai keuntungan dari
pekerjaan itu.
d. Syirkah Wujuh yaitu kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki
reputasi dan prestise baik serta ahli dalam bisnis.
e. Syirkah al-mudharabah yaitu syirkah yang apabila terjadi keuntungan
maka dibagi hasil sesuai nisbah yang disepakati kedua belah pihak yaitu
pemilik modal serta pelaku usaha. [4]

E. Bentuk-bentuk musyarakah:
1. Musyarakah tetap
Bentuk akad musyarakah yang paling sederhana adalah musyarakah tetap
ketika jumlah porsi modal yang disertakan oleh masing-masing mitra tetap
selama periode kontrak.
2. Musyarakah menurun
Pada kerja sama ini, dua pihak bermitra untuk kepemilikan bersama suatu aset
dalam bentuk properti, peralatan, perusahaan, atau lainnya.
3. Musyarakah mutanaqishah
Suatu penyertaan modal secara terbatas dari mitra usaha kepada perusahaan
lain untuk jangka waktu tertentu.[5]

6
F. Aplikasi dalam Perbankan
1. Pembiayaan Proyek
Al- musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek di
mana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai
proyek tersebut. Setelah proyek tersebut selesai, nasabah mengembalikan dana
tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank.
2. Modal ventura
Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan investasi
dalam kepemilikan perusahaan, al-musyarakah diterapkan dalam skema
modal ventura. [6]
Secara umum, aplikasi perbankan dari al-musyarakah dapat digambarkan
dalam skema berikut:[7]
G. Ketentuan Umum al-Musyarakah
Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan
dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam
menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek. Pemilik
modal dipercaya untuk menjalankan proyek musyarakah tidak boleh melakukan
tindakan, seperti:
1. Mengabungkan dana proyek dengan harta pribadi
2. Menjalankan proyek musyarakah dengan pihak lain tanpa izin pemilik modal
lainnya.
3. Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaannya atau digantikan oleh
pihak lain.
4. Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama apabila, menarik diri
dari perserikatan, meninggal dunia dan menjadi tidak cakap hukum.
5. Biaya yang timbul dari pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek harus
diketahui bersama, keuntungan dibagi sesuai dengan porsi konstribusi modal.
6. Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad. Setelah proyek
selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah
disepakati untuk bank.[8]

7
H. Manfaat dan Risiko al-Musyarakah
1. Manfaat al-Musyarakah:
a. Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu pada saat
keuntungan usaha nasabah meningkat.
b. Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu kepada nasabah
pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan / hasil usaha
bank, sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread.
c. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow/ arus kas
usaha nasabah, sehingga tidak memberatkan nasabah.
d. Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-
benar halal, aman, dan menguntungkan.
e. Prinsip bagi hasil dalam musyarakah ini berbeda dengan prinsip bunga
tetap di mana bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) satu
jumlah bunga tetap berapa pun keuntungan yang dihasilkan nasabah,
bahkan sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.

2. Risiko al-Musyarakah:
a. Side streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang disebut
dalam kontrak.
b. Lalai dan kesalahan yang disengaja
c. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah, bila nasabahnya tidak jujur.[9]

8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengertian al-musyarakah
Al –Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih
untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan
kontribusi dana (atau amal /expertise) dengan kesepakatan bahwa
keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
2. Landasan syariah
a. Al-Qur’an
b. Hadist
c. Ijma’
3. Rukun dan Syarat al-Musyarakah
a. Rukun-rukun al-Musyarakah:
1) Pelaku akad, yaitu para mitra usaha
2) Objek akad , yaitu modal (mal), kerja (dharabah), dan
keuntungan (ribh),
3) Shighah, yaitu Ijab dan Qabul
b. Syarat al-Musyarakah:
1) Syarat akad
2) Pembagian proporsi keuntungan
3) Penentuan proporsi keuntungan
4) Pembagian kerugian
5) Sifat modal
6) Manajemen musyarakah
7) Penghentian musyarakah
8) Penghentian musyarakah tanpa usaha
4. Jenis-jenis al-Musyarakah
a. Musyarakah pemilikan
b. Musyarakah akad

9
5. Bentuk-bentuk al-Musyarakah
a. Musyarakah tetap
b. Musyarakah menurun
c. Musyarakah mutanaqishah
6. Aplikasi dalam Perbankan
a) Pembiayaan Proyek
b) Modal ventura
7. Ketentuan Umum al-musyarakah
a. Mengabungkan dana proyek dengan harta pribadi
b. Menjalankan proyek musyarakah dengan pihak lain tanpa izin
pemilik modal lainnya.
c. Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaannya atau
digantikan oleh pihak lain.
d. Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama apabila,
menarik diri dari perserikatan, meninggal dunia dan menjadi tidak cakap
hukum.
e. Biaya yang timbul dari pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek
harus diketahui bersama, keuntungan dibagi sesuai dengan porsi
konstribusi modal.
f. Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad. Setelah
proyek selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil
yang telah disepakati untuk bank
8. Manfaat dan Risiko al-Musyarakah:
a. Manfaat
1 Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu pada
saat keuntungan usaha nasabah meningkat.
2 Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu
kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan
dengan pendapatan / hasil usaha bank, sehingga bank tidak akan
pernah mengalami negative spread.

10
3 Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash
flow/ arus kas usaha nasabah, sehingga tidak memberatkan
nasabah.
4 Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha
yang benar-benar halal, aman, dan menguntungkan.
5 Prinsip bagi hasil dalam musyarakah ini berbeda dengan prinsip
bunga tetap di mana bank akan menagih penerima pembiayaan
(nasabah) satu jumlah bunga tetap berapa pun keuntungan yang
dihasilkan nasabah, bahkan sekalipun merugi dan terjadi krisis
ekonomi.
b. Risiko al-Musyarakah:
1 Side streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti
yang disebut dalam kontrak.
2 Lalai dan kesalahan yang disengaja
3 Penyembunyian keuntungan oleh nasabah, bila nasabahnya tidak
jujur.
B. Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami paparkan. Mudah-mudahan bisa
bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi pembaca. Dan tidak lupa kritik dan
sarannya sangat kami harapkan untuk memperbaiki pembuatan makalah yang
selanjutnya. Apabila ada kesalahan dalam penulisan maupun penyampaian serta
kurangnya pengetahuan, kami mohon maaf. Dan sesungguhnya kebenaran
semata hanyalah dari Allah SWT. Semoga bermanfat. Amin.

11
DAFTAR PUSTAKA

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2013
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan SYARIAH, Yogyakarta, P3EI, 2004
Muhammad syafi’i Antonio , Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta, Gema
Insani, 2001

12