Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN FLAVONOIDA

(Ekstrak Psidium guajava)

Nama : Junaidi Hidayat


NIM : 201410410311258

KELOMPOK IV / FARMASI A

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
1. Tujuan
Diharapkan setelah melakukan praktikum ini mahasiswa mampu nelakukan identifikasi
senyawa flavonoid pada tanaman yang digunakan dalam sistem pengobatan
2. Dasar teori
a. Flavonoid Secara Umum
Senyawa-senyawa flavonoid adalah senyawa-senyawa polifenol yang
mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari dua cincin benzena yang dihubungkan
menjadi satu oleh rantai linier yang terdiri dari tiga atom karbon. Senyawa-senyawa
flavonoid adalah senyawa 1,3 diaril propana, senyawa isoflavonoid adalah senyawa
1,2 diaril propana, sedangkan senyawa-senyawa neoflavonoid adalah 1,1 diaril
propana. Istilah flavonoid diberikan pada suatu golongan besar senyawa yang berasal
dari kelompok senyawa yang paling umum, yaitu senyawa flavon; suatu jembatan
oksigen terdapat diantara cincin A dalam kedudukan orto, dan atom karbon benzil yang
terletak disebelah cincin B. Senyawa heterosoklik ini, pada tingkat oksidasi yang
berbeda terdapat dalam kebanyakan tumbuhan. Flavon adalah bentuk yang mempunyai
cincin C dengan tingkat oksidasi paling rendah dan dianggap sebagai struktur induk
dalam nomenklatur kelompok senyawa-senyawa ini. (Manitto, 1981)

Senyawa flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan


termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Kebanyakan
flavonoid ini berada di dalam tumbuh-tumbuhan, kecuali alga. Namun ada juga
flavonoid yng terdapat pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang dan
sekresi lebah. Dalam sayap kupu - kupu dengan anggapan bahwa flavonoid berasal
dari tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut dan tidak dibiosintesis
di dalam tubuh mereka. Penyebaran jenis flavonoid pada golongan tumbuhan yang
tersebar yaitu angiospermae, klorofita, fungi, briofita. (Markham, 1988)

b. Struktur dasar senyawa flavonoid


Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mengandung C15 terdiri atas dua inti
fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan karbon. Struktur dasar flavonoid dapat
digambarkan sebagai berikut :

Cincin A adalah karakteristik phloroglusinol atau bentuk resorsinol tersubstitusi.


Namun sering terhidroksilasi lebih lanjut :

Cincin B adalah karakteristik 4-, 3,4-, 3,4,5- terhidroksilasi

R=R’=H, R’=OH R=H, R’=R”=OH R=R’=R”=OH (juga


R=R’=R”=H) (Sostrohamidjojo,1996)

c. Klasifikasi Senyawa Flavonoid


Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi sehingga
menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum sinar ultraviolet dan spektrum
sinar tampak, umumnya dalam tumbuhan terikat pada gula yang disebut dengan
glikosida(Harborne, 1996).Pada flavonoida O-glikosida, satu gugus hidroksil
flavonoid (atau lebih) terikat pada satu gula (lebih) dengan ikatan yang tahan asam.
Glukosa merupakan gula yang paling umum terlibat dan gula lain yang sering juga
terdapat adalah galaktosa, ramnosa, silosa, arabinosa, dan rutinosa. Waktu yang
diperlukan untuk memutuskan suatu gula dari suatu flavonoid O-glukosida dengan
hidrolisis asam ditentukan oleh sifat gula tersebut.

Pada flavonoid C-glikosida, gula terikat pada atom karbon flavonoid dan
dalam hal ini gula tersebut terikat langsung pada inti benzena dengan suatu ikatan
karbon-karbon yang tahan asam. Gula yang terikat pada atom C hanya ditemukan
pada atom C nomor 6 dan 8 dalam inti flavonoid, misalnya pada orientin. (Markham,
1988).
Menurut Robinson (1995), flavonoid dapat dikelompokkan berdasarkan
keragaman pada rantai C3 yaitu :

1) Flavonol
Flavonol paling sering terdapat sebagai glikosida, biasanya 3-glikosida,
dan aglikon flavonol yang umum yaitu kamferol, kuersetin, dan mirisetin yang
berkhasiat sebagai antioksidan dan antiimflamasi. Flavonol lain yang terdapat di
alam bebas kebanyakan merupakan variasi struktur sederhana dari flavonol.
Larutan flavonol dalam suasana basa dioksidasi oleh udara tetapi tidak begitu
cepat sehingga penggunaan basa pada pengerjaannya masih dapat dilakukan.

2) Flavon
Flavon berbeda dengan flavonol dimana pada flavon tidak terdapat
gugusan 3-hidroksi. Hal ini mempunyai serapan UV-nya, gerakan kromatografi,
serta reaksi warnanya. Flavon terdapat juga sebagai glikosidanya lebih sedikit
daripada jenis glikosida pada flavonol. Flavon yang paling umum dijumpai adalah
apigenin dan luteolin. Luteolin merupakan zat warna yang pertama kali dipakai di
Eropa. Jenis yang paling umum adalah 7-glukosida dan terdapat juga flavon yang
terikat pada gula melalui ikatan karbon-karbon. Contohnya luteolin 8-C-glikosida.
Flavon dianggap sebagai induk dalam nomenklatur kelompok senyawa flavonoid.

3) Isoflavon
Isoflavon merupakan isomer flavon, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan
sebagai fitoaleksin yaitu senyawa pelindung yang terbentuk dalam tumbuhan
sebagai pertahanan terhadap serangan penyakit. Isoflavon sukar dicirikan karena
reaksinya tidak khas dengan pereaksi warna manapun. Beberapa isoflavon
(misalnya daidzein) memberikan warna biru muda cemerlang dengan sinar UV
bila diuapi amonia, tetapi kebanyakan yang lain tampak sebagai bercak
lembayung yang pudar dengan amonia berubah menjadi coklat.

4) Flavanon
Flavanon terdistribusi luas di alam. Flavanon terdapat di dalam kayu, daun
dan bunga. Flavanon glikosida merupakan konstituen utama dari tanaman genus
prenus dan buah jeruk; dua glikosida yang paling lazim adalah neringenin dan
hesperitin, terdapat dalam buah anggur dan jeruk.

5) Flavanonol
Senyawa ini berkhasiat sebagai antioksidan dan hanya terdapat sedikit
sekali jika dibandingkan dengan flavonoid lain. Sebagian besar senyawa ini
diabaikan karena konsentrasinya rendah dan tidak berwarna.

6) Katekin
Katekin terdapat pada seluruh dunia tumbuhan, terutama pada tumbuhan
berkayu. Senyawa ini mudah diperoleh dalam jumlah besar dari ekstrak kental
Uncaria gambirdan daun teh kering yang mengandung kira-kira 30% senyawa ini.
Katekin berkhasiat sebagai antioksidan.
7) Leukoantosianidin
Leukoantosianidin merupakan senyawa tan warna, terutama terdapat pada
tumbuhan berkayu. Senyawa ini jarang terdapat sebagai glikosida, contohnya
melaksidin, apiferol.

8) Antosianin
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar
luas dalam tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini adalah
penyebab hampir semua warna merah jambu, merah marak , ungu, dan biru
dalam daun, bunga, dan buah pada tumbuhan tinggi. Secara kimia semua
antosianin merupakan turunan suatu struktur aromatik tunggal yaitu sianidin, dan
semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau
pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilasi.

9) Khalkon
Khalkon adalah pigmen fenol kuning yang berwarna coklat kuat dengan
sinar UV bila dikromatografi kertas. Aglikon flavon dapat dibedakan dari
glikosidanya, karena hanya pigmen dalam bentuk glikosida yang dapat bergerak
pada kromatografi kertas dalam pengembang air. (Harborne, 1996)
10) Auron
Auron berupa pigmen kuning emas yang terdapat dalam bunga tertentu
dan briofita. Dalam larutan basa senyawa ini berwarna merah ros dan tampak pada
kromatografi kertas berupa bercak kuning, dengan sinar ultraviolet warna kuning
kuat berubah menjadi merah jingga bila diberi uap amonia. (Robinson, 1995)

Menurut Harborne (1996), dikenal sekitar sepuluh kelas flavonoid dimana


semua flavonoid, menurut strukturnya, merupakan turunan senyawa induk flavon dan
semuanya mempunyai sejumlah sifat yang sama yakni:
d. Flavonoid pada Tanaman Psidium guajava
Tanaman jambu biji (Psidium guajava) dalam sistematika dunia tumbuhan
diklasifikasikan menjadi seperti di bawah ini:

Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Familia : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spessies : Psidium guajava, L. ( Cronquist, 1981).
Menurut Taiz dan Zeiger (2002) metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan
merupakan bagian dari sistem pertahanan diri. Senyawa tersebut berperan sebagai
pelindung dari serangan infeksi mikroba patogen dan mencegah pemakanan oleh
herbivora. Metabolit sekunder dibedakan menjadi tiga kelompok besar yaitu terpen,
fenolik, dan senyawa mengandung nitrogen terutama alkaloid.
Tanin pada tanaman jambu biji dapat ditemukan pada bagian buah, daun dan
kulit batang, sedangkan pada bunganya tidak banyak mengandung tanin. Daun
tanaman jambu biji selain mengandung tanin, juga mengandung zat lainseperti asam
ursolat, asam lat, asam guajaverin, minyak atsiri dan vitamin (Thomas, 1989). Daun-
daun jambu biji memiliki kandungan zat-zat penyamak (psiditanin) sekitar 9%,
minyak atsiri berwarna kehijauan yang mengandung eganol sekitar 0,4%, damar 3%,
minyak lemak 6%, dan garam-garam mineral (Kartasapoetra, 2004).
Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya,
karena daunnya diketahui mengandung senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri,
minyak lemak dan asam malat (Depkes, 1989). Daun jambu biji mempunyai khasiat
sebagai antidiare, astringen, sariawan dan menghentikan pendarahan. Sebagai
obat anti diare telah dipasarkan dalam bentuk jamu modern atau pil, bahkan
industri farmasi seperti “Kimia Farma” telah memformulasikan menjadi obat
fitofarmaka yang sudah banyak beredar dipasaran dengan nama “Fitodiar”,
produk lainnya dari pabrik „Soho” yaitu Diapet. Selain daunnya, buah jambu batu
terutama dari jenis berwarna merah sering digunakan untuk mengobati penyakit
demam berdarah. Sedangkan senyawa kimia yang terkandung didalam buah
jambu adalah benzaldehid, D-ribosa, Larabinosa, D-ramnosa, D-glukosa,
Dgalaktosa, D-fruktosa dan sukrosa Quersetin adalah senyawa golongan
flavonoid jenis flavonol dan flavon, senyawa ini banyak terdapat pada tanaman
famili myrtaceae dan solanacea. Telah dikenal sejumlah glikosida flavonol yaitu
turunan dari quersetin , diantaranya adalah quersetin –3-L-rhamonoside atau
quersitrin yang digunakan untuk pewarna tekstil, quersetin–3-rutinoside yang
biasa disebut rutin dan quersetin 3 glukoside atau isoquersitrin yang berkhasiat
diantaranya untuk mengobati kerapuhan pembuluh kapiler pada manusia.
Senyawa rutin terdapat dalam tanaman tembakau dari famili Solanaceae dan
Eucalyptus macrorynh dari familia Myrtaceae (Harborne, 1987).

e. Kromatografi
Kromatografi merupakan suatu cara pemisahan fisik dengan unsur-unsur yang
akan dipisahkan terdistribusikan antara dua fasa, satu dari fasa-fasa ini membentuk
lapisan stasioner denagn luas permukaan yang besar dan yang lainnya merupakan
cairan yang merembes lewat.Fasa stasioner mungkin suatu zat padat atau suatu cairan
dan fasa yang bergerak mungkin suatu cairan atau suatu gas. (Underwood, 1981).
Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat – sifat dari fasa diam,
yang dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa diam berupa zat padat disebut
kromatografi serapan, jika berupa zat cair disebut kromatografi partisi. Karena fasa
gerak dapat berupa zat cair atau gas maka ada empat macam sistem kromatografi
yaitu:

1. Fasa gerak cair–fasa diam padat (kromatografi serapan):


a. kromatografi lapis tipis
b. kromatografi penukar ion
2. Fasa gerak gas–fasa diam padat, yakni kromatografi gas padat
3. Fasa gerak cair–fasa diam cair (kromatografi partisi), yakni kromatografi kertas.
4. Fasa gerak gas–fasa diam zat cair, yakni :
a. kromatografi gas–cair
b. kromatografi kolom kapiler
Semua pemisahan dengan kromatografi tergantung pada kenyataan bahwa senyawa –
senyawa yang dipisahkan terdistribusi diantara fasa gerak dan fasa diam dalam perbandingan
yang sangat berbeda – beda dari satu senyawa terhadap senyawa yang lain (Sastrohamidjojo,
1991).

f. Kromatografi lapis tipis


Kromatografi Lapis Tipis pada plat berlapis yang berukuran lebih besar,
biasanya 5x20 cm, 10x20 cm, atau 20x20 cm. Biasanya memerlukan waktu
pengembangan 30 menit sampai satu jam. Pada hakikatnya KLT melibatkan dua fase
yaitu fase diam atau sifat lapisan, dan fase gerak atau campuran pelarut pengembang.
Fase diam dapat berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai permukaan penyerap
atau penyangga untuk lapisan zat cair. Fase gerak dapat berupa hampir segala macam
pelarut atau campuran pelarut. (Sudjadi, 1986).

Pemisahan senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis seperti senyawa organik


alam dan senyawa organik sintetik dapat dilakukan dalam beberapa menit dengan alat
yang harganya tidak terlalu mahal. Jumlah cuplikan beberapa mikrogram atau
sebanyak 5 g dapat ditangani. Kelebihan KLT yang lain ialah pemakaian jumlah
pelarut dan jumlah cuplikan yang sedikit. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan
salah satu metode pemisahan yang cukup sederhana yaitu dengan menggunakan plat
kaca yang dilapisi silika gel dengan menggunakan pelarut tertentu. (Gritter,1991).
Nilai utama Kromatografi Lapis Tipis pada penelitian senyawa flavonoid ialah
sebagai cara analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit.

Menurut Markham, Kromatografi Lapis Tipis terutama berguna untuk tujuan


berikut:
1. Mencari pelarut untuk kromatografi kolom
2. Analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom
3. Identifikasi flavonoid secara ko-kromatografi.
4. Isolasi flavonoid murni skala kecil
5. Penyerap dan pengembang yang digunakan umumnya sama dengan penyerap
dan pengembang pada kromatografi kolom dan kromatografi kertas (Markham, 1988).
Jarak pengembangan senyawa pada kromatogram besarnya dinyatakan dengan
angka Rf atau hRf.

Angka Rf berjangka antara nol koma nol dan hanya ditentukan dua desimal.
hRf adalah angka Rf dikalikan factor 100 (h),menghasilkan nilai berjangka nol
sampai 100, tetapi karena angka Rf mempunyai fungsi sejumlah faktor, angka ini
dianggap sebagai petunjuk saja, harga hRf lah yang dicantumkan untuk menunjukan
letak suatu senyawa pada kromatogram (Stahl, 1985)

3. Skema Kerja

0.3 gram ekstrak 3 ml n-Heksan


Dikocok sampai n-Heksan tidak berwarna

Residu dilarutkan dalam 20 ml etanol

IIIA IIIB IIIC IIID

0.5 ml HCl pekat 0.5 ml HCl pekat dan 4 Ditotolka pada plat KLT
potong magnesium
amati

dipanaskan amati
dieluasi
Diencerkan dengan
2 ml air suling

1 ml butanol

blanko amati amati


4. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

A.N.S., Thomas, 1989,Tanaman Obat Tradisional, . Kelompok Gramedia, Jakarta.


Cronquist, A. (1981). An Integrated System of Classification of Flowering Plants. New York :
Columbia University Press.

Depkes RI. (1989). Materia Medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat Dan Makanan.
El Sohafy, S.M., Metwalli, A.M., Harraz, F.M., and Omar, A.A., 2009, Quantification of
flavonoids of Psidium guajava L. preparations by planar chromatography (HPTLC),
Phcog Mag., 4(17), 61-66

Fajar, Mohammad. 2011. Pengaruh Perbedaan Metode Ekstraksi terhadap Aktifitas


Antioksidan Ekstrak etanol Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Berdaging Buah
Putih. Universitas Islam Bandung : Bandung

Gritter, R. J. 1991. Pengantar Kromatografi Terbitan ke - 2.Terjemahan Kosasih


Padmawinata. ITB. Bandung.
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern MenganalisaTumbuhan,
Terjemahan K. Padmawinata. Edisi II. Bandung: ITB Press

Hasanah,formulation lazonge of guava leaves (psidium guaval.)containing flavonoids with a


combination of excipients mannitol – sucrose; 2013;jogjakarta;ugm press.

Manitto, P. (1981). Biosintesis Produk Alami. Terjemahan Koesmardiyah. Cetakan Pertama.


Penerbit IKIP. Semarang. 381-382.

Markham, K.R. (1988). Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Terjemahan K.Padmawinata. ITB


Press. Bandung . 23-24, 42-43.

Robinson, T. (1995).Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi keenam. Terjemahan K.


Padmawinata. ITB. Bandung.191-192, 195-197.

Sastrohamidjojo, H. 1991.Kromatografi Edisi ke-1. Penerbit Liberty. Yogyakarta.


Stahl, E., 1985, Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi, diterjemahkan oleh
Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro, Penerbit ITB, Bandung.
Sudarmadji, S. 1989.Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberti.

Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi, 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian.
Penerbit Liberty: Yogyakarta.

Sudjadi. 1986. Metode Pemisahan. Kanisius. Yogyakarta.