Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan potensi teripang terbesar dan penghasil
teripang terbesar di dunia. Sampai saat ini Indonesia belum mampu mengolah
teripang menjadi produk yang dapat memberikan nilai tambah dan bernilai ekonomi
tinggi. Teripang hanya dimanfaatkan sebagai makanan sampingan saja. Produksi
teripang Indonesia pada tahun 1994 sekitar 1.318.000 kg. Data terbaru pada budidaya
jaring apung teripang menghasilkan 42 ton selama tahun 2004.1
Teripang emas (Stichopus hermanii) umumnya digunakan dalam bentuk
Gamat atau dalam bentuk bubuk. Gamat biasanya diformulasikan menjadi lotion atau
salep topikal. Teripang kaya akan growth factor sehingga dapat memperbaiki sel-sel
rusak. Kandungan protein teripang mencapai hingga 82%,dari seluruh komponen
teripang dan 80% bagian dari protein tersebut merupakan kolagen. Kandungan lain
teripang adalah asam lemak essensial, berguna memperkuat sel hati untuk
mengeluarkan antibody karena itu juga teripang (gamat) kerap disebut
imunomodulator.1
Pada penelitian yang dilakukan oleh Yulianto dengan menggunakan produk
ekstrak gamat menunjukan adanya peningkatan proliferasi fibroblas, hal ini
dimungkinkan karena ektrak gamat dapat merangsang PDGF (Platelet Derived
Growth Factor) dan TGF (Transforming Growth Factor) untuk berinteraksi dan
merangsang FGF (Fibroblas Growth Factor) untuk merangsang proliferasi fibroblast
sehingga penyembuhan luka terjadi lebih cepat.2 Penelitian menggunakan sulfated
GAGs (glikosaminoglikan) dari ektrak teripang emas menunjukan peningkatan
penyembuhan melalui percepatan kontraksi luka pada kulit tikus.3 Kandungan lain
teripang emas yang diduga mempunyai pengaruh terhadap penyembuhan luka adalah
omega 3 dan saponin.1
Kandungan teripang emas, dapat diperoleh dengan metode ekstraksi pelarut.
Prinsip dari ekstraksi adalah memisahkan komponen yang ada dalam bahan yang

1
diekstraksi dengan menggunakan pelarut tertentu. Ekstraksi dengan pelarut dilakukan
dengan mempertemukan bahan yang akan diekstrak dengan pelarut selama waktu
tertentu, diikuti pemisahan filtrat terhadap residu bahan yang diekstrak. Ekstraksi
dengan menggunakan pelarut seperti etanol, metanol, etil asetat, heksana dan air
mampu memisahkan senyawa-senyawa yang penting dalam suatu bahan. Pemilihan
pelarut yang akan dipakai dalam proses ekstraksi harus memperhatikan sifat
kandungan senyawa yang akan diisolasi.4 Proteoglikan bersifat hidrofilik sehingga
memiliki kemampuan mengikat air.5 Penggunaan pelarut air merupakaan prosedur
yang aman dengan resiko kecil terhadap bahan aktif dari terpang emas.
Penyembuhan luka secara singkat meliputi proses inflamasi, diikuti oleh
proses fibrosis atau fibroplasia, dan remodeling jaringan.6 Mukosa rongga mulut
adalah salah satu bagian yang paling rentan terjadi luka, dapat disebabkan oleh
trauma atau proses imunologi yang disebut dengan ulser.7 Karakteristik dari ulser
yaitu tereksposnya jaringan ikat dapat menyebabkan rasa nyeri dan seringkali
mengakibatkan kesulitan berbicara, makan maupun menelan.8
Proses penyembuhan luka terjadi melalui beberapa tahap biologis yang
kompleks. Penyembuhan ini dapat dilihat secara histologis dengan indicator
angiogenesis, kepadatan serabut kolagen yang dihasilkan oleh fibroblas pada jaringan
ikat baru.6 Beberapa yang mempengaruhi proses angiogenesis dan sintesis kolagen
diantaranya growth factor, nutrisi, komponen inflamasi dan sitokin.9
Salah satu komponen yang memiliki pengaruh terhadap pembentukan
angiogenesis dan kolagen adalah (High Mobility Group Box 1) HMGB1 mediator
inflamasi ini dapat menginduksi ekspresi dari platelet derivided growth factor
(PDGF) dan vascular endothelial growth factor (VEGF) pada berbagai jaringan
sehingga pembuluh darah baru dapat terbentuk.10 HMGB1 mempengaruhi
pembentukan kolagen melalui toll like receptor 4 (TLR 4), dan receptor for advance
glycation end product (RAGE).10,11 HMGB1 disintesis oleh makrofag, kehadiran
makrofag atau sel radang kronis dapat dideteksi pada hari ke 4 setelah perlukaan.12
Level serum HMGB1 mencapai puncak pada hari ke 4 setelah injuri.10

2
Penelitian menggunakan sulfated glikosaminoglikan (sulfated GAGs) dari
ekstrak teripang emas menunjukkan peningkatan penyembuhan melalui percepatan
kontraksi luka full thicknes pada kulit tikus.3 Beberapa GAGs antara lain heparin,
heparin sulfat dan hyaluronan atau hyaluronic acid (HA) yang merupakan kunci dari
proses biologis seperti stabilisator, kofaktor dan atau ko-reseptor untuk growth factor,
sitokin dan kemokin, sebagai regulator aktifitas enzim, molekul signaling terhadap
respon kerusakan seluler seperti luka, infeksi dan tumorgenesis.13
Teripang emas dengan berbagai kandungannya telah terbukti secara empiris
sejak dulu telah digunakan sebagai pengobatan luka. Berdasarkan hal tersebut peneliti
ingin mengetahui efek pemberian ekstrak tripang (Stichopus hermanii) terhadap
penyembuhan mukosa labial pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus).
Actinopyga adalah tubuhnya menjadi memendek bila dipegang dan berubah
jadi keras dan kaku, kadangkadang memberikan kesan seperti bola karet. Actinopyga
lecanora atau bilalo bila dipegang menjadi keras mirip bola karet, warna tubuh abu-
abu kecoklatan dengan bercak-bercak coklat kemerahan tersebar tidak merata pada
bagian dorsalnya, daerah seputar anus berwarna putih. Actinopyga mauritiana juga
mengeras seperti bola karet bila disentuh, tetapi bercak coklatnya berukuran lebih
kecil dan lebih menyebar, tidak ada lingkaran putih seputar anus. Jenis-jenis lain dari
marga ini lebih sulit diidentifikasi dan juga jarang didapatkan, sebaiknya dikoleksi
untuk identifikasi lebih lanjut.14

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas didapatkan rumusan masalah bagaimanakah efek
pemberian ekstrak tripang (Stichopus hermanii) terhadap penyembuhan mukosa
labial pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus).

3
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak tripang (Stichopus hermanii)
terhadap penyembuhan mukosa labial pada tikus putih jantan (Rattus
norvegicus)

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui efek penyembuhan luka paa mukosa ekstrak etanol
teripang bilalo dalam sediaan salep
2. Untuk mengetahui konsntrasi ekstrak etanol teripang bilalo yang eektif
dalam menyembuhkan luka pada mukosa.

1.4 Manfaat Penelitian


Dengan mengetahui efek pemberian ekstrak tripang (Stichopus hermanii)
terhadap penyembuhan mukosa labial pada tikus putih jantan (Rattus
norvegicus) maka ddiharapkan :
1. Hasil penelitian dapat memberi informasi informasi dan sumbangan ilmu
pengetahuan mengenai efek pemberian ekstrak tripang (Stichopus
hermanii) terhadap penyembuhan mukosa labial pada tikus putih jantan
(Rattus norvegicus).
2. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi peneliti, dokter
gigi, dan instansi lainnya mengenai efek pemberian ekstrak tripang.
3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi refrensi bagi peneliti lain.