Anda di halaman 1dari 3

PETUNJUK PENGERJAAN

1. Tugas :
a. Mencari/menentukan metode epidemiologi
yang tepat untuk setiap soal.
b. Jelaskan rancangannya
c. Jelaskan pula alasan pemilihannya

2. Tugas untuk perorangan

3. Jawaban dikirim ke email Isyeutnt@gmail.com


dengan subjek nama mahasiswa dan NIM
(INGAT JANGAN SAMPAI SALAH !)
4. Pengiriman paling telat tanggal 28 Januari
2019
SOAL UAS MATA KULIAH METODE EPIDEMIOLOG
1. Kremer dkdk (1987) melakukan suatu penlitian untuk menentukan efektivitas
pemberian minyak ikan untuk mengobati arthritis rheumatoid. Mereka tertarik pada
efek minyak ikan pada pencegahan kenaikan kadar leukosit neutrofil. Penelitianini
melibatkan 40 pasien rematoid arthritis kelas I, II, atau III. Setiap pasien diberikan
kapsul minyak ikan atau placebo selama 14 minggu, tanpa melakukan
randomisasi. Kemudian minggu ke-14 sampai 18, setiap pasien kapsul placebo
selama 4 minggu. Kemudian mereka diberikan lagi kapsul yang berbeda (plasebo
atau minyak ikan) sejak minggu ke-1 sampai ke -14 kemudian.

2. Suatu penelitian yang melibatkan 252 orang ( petugas kesehatan dan anak-anak)
pada 6 poliklinik anak, dilakukan oleh Murphy dkk (1991) untuk melihat risiko
pekerjaan terhadap kejadian infeksi cytomeogalovirus. Virus ini termasuk kedalam
kelompok human herspesvirus dan merupakan penyebab utama infeksi virus. Virus
ditemukan pada 80 % anak-anak disejumlah poliklinik anak dan para penliti ini ingin
mengetahui kemungkinan infeksinya pada pettugas kesehatan. Semua poliklinik ini
menerima pemeriksaan anak-anak antara umur 2-5 tahun. Setiap poliklinik memiliki
ppasian anak-anak antara 60-231 orang pada saat studi dilakukan. Setelah
dilakukan follow-up selama 2,5 – 4,5 tahun, para peneliti melaporkan adanya
seroconversi (perubahan serologi dari negative menjadi positif) sebesar 8 %
setahun diantaranya pada petugas kesehatan. Mereka berkesimpulan bahwa
conversion rate berhubungan dengan derajat ek=skresi cytomegalovirus dari anak-
anak di poliklinik tersebut.

3. O’Malley dan Fletcher 91987) melakukan suatu penelitian yang betujuan melihat
efektivitas pemeriksaan payudara sendiri (BSE = breast self examination) sebagai
cara deteksi dini kangker payu dara. Mereka menemukan bahwa sensitifitas
(presentase penderita kangker payu dara dengan BSE positif) BSE lebih rendah
daripada sensitifitas cara pemeriksaan klinis maupun mamografi. Walaupun dengan
melakukan pelatihan yang baik dapat meningkatkan pemakaian dan sensitifitas
BSE, namun angkan positif palsu (presentasi wanita normal dengan BSE positif)
juga meningkat. Mereka kemudian menganjurkan dilakukan penelitian terkontrol
pada BSE sebelum menganjurkan cara ini sebagai cara mendeteksi kangker payu
dara.

4. Coldiz dkk (1987) melaporkan sutu penelitian yang mengamati hubungan antara
manopouse dengan risiko kejadian penyakit jantung koroner. Subejek penelitian
dipilih dari sekolah perawat kesehatan yang melibatkan 120.000 perawt yang
sudah menikah, berumur 30-35 tahun. Mereka memilih hanya 116.000 perawat saja
yang premenopouse dan tidak menderita penyakit jantung koroner, pada penelitian

2
ini ingin melihat apakah setelah menopause maka risiko untuk memperoleh
penyakit jantung koroner akan berubah atau tidak dan bagaimana pengaruhnya
pada pemberian pil estrogen. Variable yang diamati adalah umur, riwayat miokard
infark dalam keluarga, angina pectoris, diabetes, hipetensi, dan kadar kolesterol.
Pengamatan dilakukan pada tahun 1978, 1980, dan 1982. Hasil penelitian ini telah
95,4 % selesai.

5. Bartel dkk (1986) melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara


penggunaan obat antiimflamsi nonsteroid dan kejadian perdarahan nonvaries pada
GIT bagian atas. Informasi tentang hubungan antara pemakaian asam asetil
salisilat dan pendarahan GIT bagian atas telah diketahui dengan baik namun
dampak penggunaan obat obatan nonasetil salisailat non steraid masih belum
diketahui. Penelusuran medik dilakukan terhadap 57 penderita pendarahaan GIT
bagian atas dibandngkan dengan kontrol normal tanpa pendarahan (mached umur
dan jenis kelamin). Para peneliti ini menemukan bahwa kebanyakan dari penderita
pendarahan tersebut menggunakan obat-obatan antiimflasmsi nonsteroid
dibandingkan dengan kontrol.