Anda di halaman 1dari 8

10.2.

2 Kebaktian Kepada Leluhur (Pitrapuja)

Dalam ajaran suci Veda di samping mengamanatkan untuk memuja Tuhan , para
dewata , juga diamanatkan untuk memuja leluhur, karena pada hakekatnya leluhur adalah
perwujudan dewata. Roh suci leluhur yang telah mencapai moksa, bersatu dengan Brahman.
Ada dua jenis leluhur, yaitu yang karena karma yang baik memperoleh surga atau moksa,
sedangkan yang karena karmanya yang buruk akan memperoleh neraka. Selanjutnya kepada
mereka yang mendapat tempat yang baik atau surga dimohon karunia-nya sedangkan mereka
yang berada dalam neraka, keturunannya patut mendoakan dan berbuat baik untuk
membebaskan mereka dari lembah kesengsaraan. Bila keturunannya berbuat baik luhur yang
telah mencapai surga akan memperoleh kebebasan atau moksa dan yang di lembah neraka
terangkat bebas, sebaliknya jika kita berbuat jahat leluhur kita yang di surga sangat kecewa dan
menderita, demikian pula leluhur yang berada di lembah neraka semakin menderita pula di
sana.
Di bawah ini terdapat 12 sloka yang membahas tentang leluhur :
Sloka yang membahas tentang kebaktian kepada leluhur terdapat dalam kitab Regweda X.15.1
- Regweda X.15.15, kecuali Regweda X.15.8-10.
1. Leluhur penuh keramahan, mengetahui kebenaran, dan hidup dalam keabadian
.(Regweda X.15.1)
2. Para leluhur tinggal di angkasa raya atau tempat tinggal yang terang
benderang.(Regweda X.15.2)
3. Para leluhur dimohon turun ke dunia dengan kegembiraan. (Regweda X.15.3)
4. Para leluhur turun ke dunia menganugerahkan kesehatan, pertolongan yang bermanfaat
,rahmat serta bebas dari keperihan. (Regweda X.15.4)
5. Para leluhur dimohonkan perhatiannya, untuk mendengarkan seta dimohon untuk
diajak bercakap-cakap. (Regweda X.15.5)
6. Para leluhur tinggal diarah selatan, yang maha pemurah, tidak melukai keturunannya.
(Regweda X.15.6)
7. Para leluhur menganugrahkan kekayaan dan kekuatan. (Regweda X.15.8)
8. Para leluhur pembimbing kehidupan, menganugrahkan kekayaan dan anak-anak yang
kuat. (Regweda X.15.11)
9. Agni sebagai pengantar persembahan kepada para leluhur. (Regweda X.15.12)
10. Hyang Agni diyakini mengetahui semua roh para leluhur. (Regweda X.15.13)
11. Para leluhur sebagai pembimbing spiritual . (Regweda X.15.14)
12. Doa untuk orang yang meninggal (berfungsi sebagai pang-entas/membebaskan roh
yang terbelenggu oleh badannya atau diucapkan sebagai doa belasungkawa) .
(Regweda X.15.15)
Dari sloka diatas dikatakan bahwa kita harus senantiasa memuja leluhur karena tanpa
adanya leluhur kita tidak akan ada. Leluhur akan senantiasa memberi jalan kepada kita
ketika kita mengalami kesulitan maka dari itu kita harus melakukan perbuatan yang baik
agar senantiasa di awasi oleh leluhur kita dengan senantiasa melakukan persembahan suci
maka leluhur akan selalu memberkati kita. Jadi berbhakti (pemujaan) kepada leluhur
bukanlah disamakan dengan menduakan Tuhan akan tetapi sebaliknya, yaitu bertujuan
untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Maka harus diingat bhakti kepada Tuhanlah
bhakti yang tertinggi.

Untuk lebih memantapkan keyakinan kita, bahwa memuja leluhur sangat penting, berikut
ini beberapa bunyi sloka dan artinya yang berkaitan dengan hal tersebut.

”Ud iratam avara ut parasa un madhyamah pitarah somyasah

asum ya iyur avrka rtajnas te no 'vantu pitaro havesu”

(Rg Weda X.15.1)

artinya

Semogalah yang di bawah, paling di tengah, para leluhur pencinta Soma bangkit,
semogalah para leluhur itu, yang sangat ramah (penuh persahabatan), yang mengetahui
kebanaran, yang hidup dalam keabadian, menganugrahi kami sesuai dengan doa
persembahan kami

“Idam pitrbhyo namo astv adya ye purvaso ya uparasa iyuh

ye parthive rajasy a nisatta ye va nunam suvrjanasu viksu “

(Rg Weda X.15.2)

artinya:
Semogalah dengan kebaktian yang dilaksanakan hari ini, para leluhur yang telah lama pergi
dan mereka yang barn saj a meninggal, yang telah duduk di angkasa raya atau yang
sekarang bertempat tinggal di tempat yang terang benderang

“Aham pitrn suvidatram avitsi napatam ca vikramanam ca visnoh

barhisado ye svadhaya sutasya bhajanta pitvas ta ihagamisthah”

(Rg Weda X.15.3)

artinya

Kami memperoleh berlimpah anugrah dari para leluhur, kakek, dan Sang Hyang Wisnu,
mereka yang duduk bertebaran, akan ikut serta dalam acara pemerasan minuman dengan
persembahan kepada yang telah meninggal, datanglah kemari dengan penuh kegembiraan

”Barhisadah pitara uty arvag ima vo havya cakrma jusadhvam

ta a gatavasa samtamenatha nah sam yor arapo dadhata

(Rg WedaX.15.4)

artinya:

Wahai para leluhur yang duduk bertebaran, datanglah kemari dengan (membawa)
pertolongan, upacara persembahan ini kami persembahkan untuk anda, semoga anda
berbahagia. Datanglah dengan pertolongan bermanfaat, karuniailah kami kesehatan,
rahmat dan bebaskan dari keperihan

”Upahutah pitarah somyaso barhisyesu nidhisu priyesu

ta a gamantu ta iha sruvantv adhi bruvantu te 'vantv asman”

(Rg Weda X.15.5)

artinya
Dimohon kehadiannya para leluhur pecinta Soma untuk tempat yang tersimpan dan amat
disayangi, tempat yang bertebaran, semogalah mereka (para leluhur) datang kemari,
semogalah mereka mendengarkan dan berkenan untuk bercakap-cakap dan memberikan
pertolongan kepada kita.

“Acya janu daksinato nisadyema yajnam abhi grnita visve

ma himsista pitarah kena cin no yad va agah purusata karama”

(Rg Weda X.15.6)

artinya:

Duduk bersila dengan kaki terlipat di arah selatan, menganugrahkan karunia yang
berlimpah terhadap upacara, tidak melukai kita, wahai para leluhur, berdasarkan alasan ini,
perbuatan dosa apapun yang telah kami lakukan kepada anda, wahai para leluhur, itu adalah
karena kelemahan kami (sebagai umat manusia)

“Asinaso aruninam upasthe rayim dhatta dasuse martyaya

putrebhyah pitaras tasya vasvah pra yachata ta ihorjam dadhata”

(Rg Weda X.15.7)

artinya:

Duduk di haribaan fajar merah, memberikan kekayaan kepada penyembahnya yang fana.
Untuk putra (keturunan) anda, wahai para leluhur, anugrahkanlah kekayaan itu, demikian
pula anda menganugrahkan kekuatan (kepada kami)

“Agnisvattah pitara eha gachata sadah-sadah sadata supranitayah

atta havimsi prayatani barhisy atha rayim sarvaviram dadhatana”

(Rg Weda X.15.11)

artinya:
Wahai pan leluhur (badan anda) telah dilalap api, datanglah kemari, silakan duduk pada
tempat duduk yang telah disiapkan masingsmasing, anda adalah pembimbing (kehidupan),
yang menikmati persembahan yang ditaburkan bertebaran, kemudian anda
menganugrahkan kekayaan diikuti oleh seluruh putra-putra yang kuat

10.2.3 Sembahyang (Puja/Prarthana)

Sembahyang berbeda dengan berdoa. Berdoa bisa kapan saja dan dimana saja.
Sedangkan sembahyang lebih bersifat formal, sembahyang harus dilakukan tepat waktu dan
tekun. Dalam sembahyang kita memuja Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur dapat
dilakukan secara individu atau berkelompok. Sembahyang pada umat pada umumnya akan
memohon berbagai hal kepad-Nya, sedangkan bagi seseorang yang sudah memiliki pemikiran
yang lebih baju dan memiliki spiritual yang tinggi akan menyerahkan sepenuhnya kepada Sang
Hyang Widhi tanpa memohon apa-apa.ini merupakan penyerahan diri secara total.

Terdapat 17 Sloka yang membahas tentang Sembahyang yaitu :

1. Selalulah menyembah Tuhan Yang Maha Esa. (Regweda VIII.69.8)


2. Keberhasilan dengan ketaatan yang teguh (Regweda I.10.2)
3. Tuhan Yang Maha Esa meluhurkan hidup kami (Regweda 1.36.14)
4. Tuhan Yang Maha Esa hanyalah satu (Esa). (Regweda.I.164.46)
5. Tuhan Yang Maha Esa mengejawantahkan dalam berbagai bentuk. (Regweda X.114.5)
6. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta (Regweda X.81.3)
7. Tuhan Yang Maha Esa adalah pemandu yang teragung. (Regweda VI.21.12)
8. Hendaknya kami menyembah Tuhan Yang Maha Esa. (Yajurweda III.22)
9. Tuhan Yang Maha Esa direalisasikan melalui Samadhi. (Regweda VIII.44.19)
10. Tuhan Yang Maha Esa bersenthana di dalam hati (Regweda V.11.6)
11. Tuhan Yang Maha Esa selalu waspada dan pelindung. (Regweda VI.15.8)
12. Tuhan Yang Maha Esa harus disembah untuk kesejahteraan. (Regweda VIII.89.10)
13. Tubuh manusia Terdiri dari Tuhan Yang Maha Esa dana jiwa perseorangan. (Regweda
VIII.71.11)
14. Tuhan Yang Maha Esa yang kekal berdiam di dalam diri manusia. (Regweda VII.4.4)
15. Para bijak membayangkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai Yang Maha Agung.
(Regweda I.22.20)
16. Alam semesta memuliakan Tuhan Yang Maha Esa .(Regweda VIII.15.8)
17. Buatlah Tuhan Yang Maha Esa menjadi sahabatmu. (Regweda VIII.4.7)
Dari sloka diatas kita dapat mengartikan bahwa. Kita harus senantiasa melakukan
sembahyang, karena dengan senantiasa menyembah Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang
Widhi Wasa maka kita akan selalu mendapatkan perlindungannya dengan sembahyang
Tuhan akan selalu memberikan kesejahteraan. Seperti yang dituliskan dalam Kitab
Regweda VIII.69.8 di bawah ini :

“Areata prarcata, pnyamedhaso areata. Arcatu putraka uta puram na


dhrsnvarcata”

Artinya :

(Sembahlah, sembahlah Dia dengan sepenuh hati. Ya, anda para pencinta pengetahuan,
Sembahlah Dia. Suruhlah anak-anak juga menyembah Dia sebagai suatu tempat
perlindungan yang tidak terkalahkan/ tidak goyah)

Dengan menyembah Tuhan Yang Maha Esa maka kita kan mendapatkan kehidupan
yang luhur dan membebaskan kita dari hal-hal buruk, kita akan mencapai keberhasilan jika
dengan taat melakukan sembahyang memuja Tuhan Yang Maha Esa seperti halnya yang
tertulis dalam kitab Regweda 1.10.2 di bawah ini :

“Yat sanoh sanum aruhad bhury aspasta kartvam. Tadindro artharh cetati
yuthena vrsnir ejati”

Artinya :

(Sang Hyang Indra penjaga para bhakta atau penyembah yang taat yang mendaki
sebuah puncak yang satu ke puncak yang satu ke sebuah puncak yang lainnya dan
menyelesaikan kegiatan-kegiatan yang bermacam ragam. Sang Hyang Indra datang
dengan seluruh kekuatannya pada saat yang tepat).

Tuhan Yang Maha Esa merupakan pencipta alam semesta. Tuhan maha Agung dan
meresap di setiap makhluk hidup. Tuham selalu ada di dalam diri maka dari itu kemanapun
kita pergi maka akan selalu ada Tuhan bersama kita maka dari itu kita harus selalu
senantiasa di jalan kebaikan. Dikatakan pula bahwa Tuhan Itu satu dan para Rsi/ orang
bijaksanalah menyebutnya dengan berbeda-beda. Karena para Rsi melukiskan-Nya
dengan beraneka cara karena aspek-aspeknya yang berbeda-beda.

Tuhan Yang Maha Esa merupakan penuntun bagi kita dan akan membimbing kita ke
jalan yang baik dan menjauhkannya dari hal-hal buruk serta kegelapan. Maka dari itu kita
harus rajin Sembahyang agar selalu dijalan Tuhan dengan segala keagungan yang
dimilikinya.

10.4 Jalan Mistik (Raja Marga)

Bila Jnana Marga merupakan jalan ilmu pengetahuan kerohanian, tidak hanya terbatas
pada pengertian pemahaman, tetapi juga dalam arti pengalaman, maka Raja Marga merupakan
jalan penghayatan spiritual. Mencakup realisasi spritual baik yang transendent maupun yang
imanent. Tuhan Yang Maha Esa itu satu,tunggal, merupakan jiwa yang tidak terwujud namun
ada dimana-mana. Karena kemuliaan-Nya maka setiap titik kehidupan nampak bersinar
gemerlapan, tak terwujud dan terkatakan. Mantra suci weda mengungkapkan kebenaran mutlak
ini melalui mistik ,Raja Marga.

10.5 Jalan Kemegahan (Vibhuti Marga)

Pada jalan kemegahan atau vibhuti marga ini, para maha rsi yang menerima sabda suci
serta membayangkan-Nya sebagai sesuatu yang indah, meriah dan megah. Pemuja
mengagungkan-Nya sebagai menggetarkan sikap spiritual puitik dari sabda yang merupakan
kenyataan yang sangat luhur. Kebesaran-Nya sesungguhnya di luar jangkauan akal pikir umat
manusia. Dewata sesuai akar katanya berarti yang bersinar maka para maharsi menangkap sinar
kesuciannya yang dilukiskan dalam mantan-mantan weda yang indah suci penuh pesona batik

10.6 Jalan Perbuatan (Karma Marga)

Berbuat baik benar giat jujur dan tidak malas diamanatkan dalam sabda suci tuhan yang
maha esa. Jalan perbuatan ini disebut karma marga. Seperti telah disebutkan sebelumnya
bahwa antara jalan karma dan bhakti demikian pula karma dan jnana jnana dan raja marga
termasuk pula jalan beauty marga sesungguhnya memiliki nilai yang sama, namun demikian
pemahaman dan kemampuan umat manusia mengikuti jalan-jalan itu berbeda-beda. Dalam
perbuatan menekankan pada kerja keras kejujuran dan meyakini setiap pekerjaan bila
dikerjakan dengan baik sesuai dengan ajarannya maka seseorang juga akan sampai kepada-
Nya.