Anda di halaman 1dari 6

Jumat, 25 November 2011

Amtsalil Qur'an
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Amtsalil Qur’an
Menurut bahasa (etimologi) kata amtsal berupa bentuk jamak dari lafal matsal. Sedangkan
kata matsal, mitsil, dan matsil adalah sama dengan kata syabah, syibih, dan syabih, baik dalam lafal
maupun dalam maknanya.
Menurut bahasa, arti lafal amtsal ada tiga macam :
a) Bisa berarti perumpamaan, gambaran, atau perserupaan, atau dalam bahasa arabnya :
b) Bisa diartikan kisah atau cerita, jika keadaannya amat asing dan aneh.
c) Bisa juga berarti sifat, atau keadaan atau tingkah laku yang mengherankan pula.

Imam Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasysyaf juga memberikan arti kata matsal dengan arti
perumpamaan, sifat, dan kisah, tetapi para ulama ahli Ilmu Bayan menambahkan dengan majazi murakkab.
Menurut istilah (terminology), para ulama memberikan beberapa macam definisi Amtsalil Qur’an,
antara lain sebagai berikut :
a. Ulama ahli ilmu adab mendefinisikan al-amtsal, sebagai berikut :

Artinya : “Amtsal (perumpamaan) dalam ilmu adab ialah ucapan yang banyak disebutkan yang telah
biasa dikatakan orang yang dimaksudkan untuk menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan
dengan keadaan sesuatu yang akan dituju.”

Maksudnya, amtsal itu ialah menyamakan hal yang akan diceritakan dengan asal ceritanya (asal
mulanya). Contohnya seperti (banyak penahan yang tidak ada pemanahnya).
Maksudnya, banyak musibah yang terjadi dari orang yang salah langkah. Orang pertama yang menceritakan
ungkapan tadi ialah Al-Hakim bin Yaghust An-Naqary, yang menggambarkan bahwa orang yang salah itu
kadang-kadang menderita musibah. Karena itu dengan asal ungkapan ini sebagai asal ceritanya, yakni
bahwa banyak kejadian / musibah yang terjadi tanpa sengaja.
b. Istilah ulama ahli ilmu bayan mendefinisikan al-amtsal, sebagai berikut :

Artinya : “perumpamaan ialah bentuk majaz murakab yang kaitannya / konteksnya ialah persamaan.”
Maksudnya, amtsal ialah ungkapan majaz / kiasan yang majmuk, dimana kaitan antara yang disamakan
dengan asalnya adalah karena adanya persamaan / keserupaan.
Semua bentuk amtsal ini ialah bentuk isti’arah tamtsiliyah(kiasan yang menyerupakan). Contohnya
seperti ucapan yang ditujukan bagi orang yang ragu-ragu mengerjakan sesuatu perbuatan dengan kata-kata
:

Artinya : “Saya lihat kamu maju mundur saja.”

c. Para ulama yang lain memberikan definisi matsal ialah mengungkapkan suatu makna abstrak yang dapat
dipersonifikasikan dengan bentuk yang elok dan indah.
Maksudnya, matsal itu ialah menyerupakan hal-hal yang abstrak disamakan dengan hal-hal yang
konkret. Contohnya seperti : Ilmu itu seperti cahaya.
Dalam perumpamaan ini, ilmu yang abstrak itu disamakan dengan cahaya yang konkret, yang bisa
diindra oleh mata. Perumpamaan dalam bentuk ini, tidak disyaratkan harus adanya asal cerita.
d. Ulama ahli tafsir mendefinisikan amtsal, sebagai berikut :

Artinya : “matsal ialah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat
dan menarik yang mengena didalam jiwa, baik dengan bentuk tasbih, ataupun majaz mursal (ungkapan
bebas).”
Ta’rif amtsal yang didefinisikan ulama ahli tafsir ini relevan dengan yang terdapat dalam Alquran.
Contohnya matsal dalam bentuk tasbih sharih, ialah seperti dalam ayat 24 surah Yunus :
Artinya : “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi.”

Dalam ayat tersebut, gambaran kehidupan manusia di dunia yang relative singkat itu diserupakan
dengan waktu turunnya air hujan dari langit (yang konkret) yang juga hanya sebentar.

2. Rukun Rukun amtsalil Qur’an dan Sejarahnya


a. Rukun dan Syarat-Syarat Matsal.
Didalam matsal seperti halnya didalam tasbih , haruslah terkumpul empat unsur sebagai berikut :
a) Harus ada yang diserupakan (al-musyabbah), yaitu sesuatu yang akan diceritakan.
b) Harus ada asal cerita (al-musyabbah bih), yaitu sesuatu yang dijadikan tempat menyamakan.
c) Harus ada segi persamaannya (wajhul musyabbah), yaitu arah persamaan antara kedua hal yang
disamakan tersebut.
Jika diperhatikan beberapa Amtsalil Qur’an yang disebutkan para pengarang Ulumul Qur’an, ternyata
mereka merangkum ayat-ayat Alqur’an yang mempersamakan keadaan sesuatu dengan sesuatu yang lain,
baik yang berbentuk isti’arah, tasbih, ataupun yang berbentuk majaz mursal, yang tidak ada kaitannya
dengan asal cerita. Jadi, ceritanya (musyabbah bih)nya, tidak selalu ada asal ceritanya (musyabbah
bih)nya, tidak seperti yang terdapat pada amtsal dari para ahli bahasa, para ahli bayan, dan sebagainya.
Para ahli bahasa Arab mensyaratkan sahnya amtsal harus memenuhi empat syarat, sebagai berikut :
a) Bentuk kalimatnya harus ringkas.
b) Isi maknanya harus mengena dengan tepat.
c) Perumpamaannya harus baik.
d) Kinayahnya harus indah.
b. Sejarah Matsal Al-Qur’an
Orang yang ahli pertama mengarang Ilmu Amtsalil Qur’an ialah Syekh Abdur Rahman Muhammad bin
Husein An-Naisaburi (Wafat 406 H) dan dilanjutkan oleh Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad Al-
Mawardi (Wafat 450 H). kemudian dilanjutkan Imam Syamsyudin Muhammad bin Abi Bashrin Ibnul
Qayyim Al-Jauziyyah (Wafat 754 H).
Imam Jalaluddin As-Suyuthi (Wafat(991 H) dalam bukunya Al=Itqan juga menyeiakan satu bab khusus
yang membicarakan Ilmu Amtsalil Qur’an dengan 5 pasal di dalamnya.

3. Macam – Macam Amtsalil Qur’an


Amtsalil Qur’an itu ada tiga macam, yaitu :
a) Amtsalil Qur’an yang jelas (al-amtsalul musharrahatu), yaitu matsal yang di dalamnya terdapat lafal al-
amtsal (lafal yang menunjukkan kepada persamaan atau perumpamaan). Matsal jenis ini banyak terdapat
di dalam Al-Qur’an.

Artinya : “perumpamaan mereka (kaum munafikin) adalah seperti orang yang menyalakan api, maka
setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan
membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta maka tidaklah
mereka akan kembali (ke jalan yang lurus). Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari
langit yang disertai gelap gulita, mereka menyumbat anak telinga mereka dengan anak jarinya, karena
(mendengar suara) petir sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hamper-
hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka setiap kali kilat itu menyinari mereka, maka mereka
berhentilah. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat tersebut, Allah mengumpakan orang-orang monafik denga dua perumpamaan, yaitu
diserupakan dengan api yang menyala ( ) dan dengan air
( ) yang di dalamnya ada unsure kehidupan. Begitu pula Alquran diturunkan,
pertama untuk menyinari hati dan keduanya untuk menhidupkannya. Allah menyebutkan keadaan orang
nunafik juga didalamnya dua hal, mereka diumpamakan menghidupkan api untuk menyinari dan
memanfaatkannya agar dapat berjalan dengan sinar api tadi. Tetapi sayang mereka tidak bisa
memanfaatkan api itu, karena Allah telah menghilangkan cahayanya, sehingga masih tinggal panasnya saja
yang akan membakar badan mereka, sebagaimana mereka tidak menghiraukan seruan Alquran, dan hanya
pura-pura membacanya saja.
Begitu pula dalam perumpamaan kedua, dimana mereka diserupakan dengan air hujan yang turun dari
langit, disertai dengan kegelapan petir dan kilat sehingga mereka menutup telinga dan memejamkan mata
karena takut mati disambar petir. Hal ini pun relevan dengan keadaan mereka yang mengabaikan Alquran
dan tidak menjalankan perintah-perintah-Nya yang mestinya bisa menyelamatkan, tetapi karena tidak
diindahkan maka justru membahayakan mereka.
b) Al-amtsalul kaminah, yaitu perumpamaan terselubung, yang di dalamnya tidak terdapat lafal tamtsil tetapi
artinya menunjukkan kepada arti perumpamaan yang indah dan singkat padat, sehingga mengena kalau
dinukilkan kepada yang menyerupainya.
Jadi, sebenarnya Alquran sendiri tidak menjelaskan sebagai bentuk perumpamaan terhadap makna
tertentu, hanya saja isi kandungannya menunjukkan salah satu bentuk perumpamaan. Tegasnya macam ini
ialah merupakan matsal ( perumpamaan) maknawi yang tersembunyi, bukan amtsal yang nampak jelas.
Contoh amtsal kaminah ialah seperti bentuk-bentuk berikut :
a. Seorang ulama mengatakan bahwa orang Arab tidak mengucapkan sesuatu perumpamaan, kecuali tentu
ada persamaannya di dalam Alquran.
Ada seorang Arab berkata :
(sebaik-baik urusan adalah yang ditengah/sedang). Lalu ditanyakan, mana persamaannya di dalam
Alquran? Dijawab dengan : Kamu akan mendapatkannya dalam ayat sebagai berikut :
 Ayat 68 surah Al-Baqarah :

Artinya : “Bahwa sapi betina itu yang tida tua dan tidak muda, pertengahan antara itu.”
 Ayat 67 surah Al-Fuqan :

Artinya : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan
tidak kikir, tetapi di tengah-tengah antara yang demikian.”
 Ayat 29 surah Al-Isra :

Artinya : “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya)
janganlah kamu terlalu mengulurkannya agar kamu tida menjadi tercela dan menysal.”
 Ayat 110 surah Al-Isra :

Artinya : “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula
merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara kedua itu.”

b. Kalau ada ucapan : (sebagaimana kamu meminjam, maka sebegitulah kamu akan
ditagih), maka akan didapatkan pula di dalam Alquran perumpamaan yang seperti tersebut di atas, dalam
ayat-ayat sebagai berikut :
 Ayat 123 surah An-Nisa :

Artinya : “Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan
itu.”
 Ayat 63 surah Al-Isra :

Artinya : “Maka sesungguhnya neraka jahannam adalah balasanmu semua sebagai suatu pembalasan
yang penuh.”

 Ayat 41 surah An-Najm :


Artinya : “Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”

c. Ungkapan : (orang mukmin itu tidak boleh terperosok dalam satu


lubang sampai dua kali), juga ada perumpamaannya dalam Alquran, yaitu dalam ayat 64 surah Yusuf :

Artinya : “Ya’qub berkata : ‘Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali
seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu. Maka Allah adalah sebaik-
baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.‘”
c) Al-amtsalul mursalah, yaitu :

Artinya : “Beberapa jumlah kalimat yang bebas tanpa lafal tasybih. Amtsalul itu ialah beberapa ayat
Alquran yang berlaku sebagai perumpamaan.”
Contohnya seperti dalam ayat-ayat :
 Ayat 51 surah Yusuf :

Artinya : “Sekarang jelaslah kebenarannya itu.”


 Ayat 58 surah An-Najm :

Artinya : “Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah.”
 Ayat 41 surah Yusuf :

Artinya : “Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakan kepadaku.”


 Ayat 84 surah Al-Isra :

Artinya : “Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.”


 Ayat 216 surah Al-Baqarah :

Artinya : “Dan boleh jadi (pula) kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik-bagi kamu.”

4. Sighat – Sighat Amtsalil Qur’an


Dari keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa sighat-sighat Amtsalil Qur’an itu ada bentuknya,
sebagai beikut :
a) Sighat tasybih yang jelas (tasybih ash-sharih), yaitu sighat atau bentuk perumpamaan yang jelas, di
dalamnya terungkap kata-kata matsal (perumpamaan).
Contohnya seperti ayat 24 surah Yunus :

Artinya : “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dari langit.”
Dalam ayat tersebut jelas tampak adanya lafal al-matsal yang berarti perumpamaan.
b) Sighat tasybih yang terselubung (tasybih adh-dhimin),yaitu sighat / bentuk perumpamaan yang
terselubung / tersembunyi, di dalam perumpamaan itu diketahui dari segi artinya.
Contohnya seperti dalam ayat 12 surah Al-hujurat :

Artinya : “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di
antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik
kepadanya.”
Dalam ayat tersebut tidak terdapat kata-kata al-matsal(perumpamaan), tetapi arti itu jelas menerangkan
perumpamaan, yaitu mengumpamakan menggunjing orang lain yang disamakan dengan makan daging
bangkai teman sendiri.
c) Sighat majaz mursal, yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan yang bebas tidak terikat dengan asal
ceritanya.
Contohnya seperti dalam ayat 73 surah Al-hajj :

Artinya : “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.
Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun,
walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat-lalat itu merampas sesuatu dari
mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan
amat lemah (pulalah) yang disembah.”
d) Sighat majaz murakkab, yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan ganda yang segi persamaannya
diambil dari dua hal yang berkaitan, di mana kaitannya adalah perserupaan yang telah biasa digunakan
dalam ucapan sehari-hari yang berasal dari isti’arah tamtsiliyah.
Contohnya seperti melihat orang yang ragu-ragu akan pergi atau tidak, maka diucapkan:
Artinya : “saya lihat kamu itu maju mundur saja.”
Dalam bahasa Indonesia juga ada ungkapan yang berupa majaz murakkab seperti ini : “Sedia paying
sebelum hujan.” Sebab, dalam perumpamaan-perumpamaan seperti itu terdapat dua hal yang diserupakan,
yaitu yang satu melangkahkan dengan kaki (maju) dan menarik kaki (mundur) dalam perumpamaan
bahasa Arab. Dan bersiap siagaan dengan keadaan yang mengkhawatirkan / hujan, dalam perumpamaan
bahasa Indonesia.
Dalam Alquran contohnya seperti dalam ayat :
Artinya : “Seperti keledai yang membawa buku tebal-tebal.”
Disini keadaan keledai yang tidak bisa memanfaatkan buku dengan baik, padahal dia yang membawa buku
yang tebal-tebal itu.
e) Sighat isti’arah tamtsiliyah, yaitu dengan bentuk perumpamaan sampiran / lirik (perumpamaan
pinjaman). Bentuk ini hampir sama dengan majaz murakkab, karena memang merupakan asalnya.

Contohnya seperti : (sebelum memanah harus dipenuhi tempat anak


panahnya). Contohnya dalma Alquran seperti dalam Ayat 24 surah Yunus :

Artinya : “Seakan akan-akan belum pernah tumbuh kemarin.”

5. Faedah Amtsalil Qur’an


Adanya berbagai bentuk amtsal di dalam kitab Alquran membawa faedah banyak, antara lain sebagai
berikut :
a) Pengungkapan pengertian abstrak dengan bentuk konkret yang dapat ditangkap indera itu mendorong akal
manusia dapat mengerti ajaran-ajaran Alquran. Sebab, pengertian abstrak tidak mudah diresap sanubari,
kecuali setelah digambarkan dengan hal-hal yang konkret sehingga mudah dicernanya.
Contohnya seperti dalam ayat 264 surah Al-Baqarah yang menggambarkan batalnya pahala sedekah yang
diserupakan dengan hilangnya debu di atas batu akibat disiram air hujan deras.

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak akan beriman kepada Allah dan hari Kemudian.
Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang bertanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa
hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa
yang mereka usahakan dan Allah tidak member pimpinan kepada orang-orang yang kafir.”
b) Matsalil Qur’an dapat menungkapkan kenyataan dan bisa mengkonkretkan hal yang abstrak. Contohnya
seperti dalam ayat 275 surah Al-Baqarah yang mengumpamakan orang-orang makan riba yang ditipu oleh
hawa nafsu, itu diserupakan dengan orang yang sempoyongan karena kesurupan setan.

Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan setan, lantaran (tekanan) penyakit gila.”
c) Matsalil Qur’an dapat mengumpulkan makna indah yang menarik dalam ungkapan yang singkat padat,
seperti halnya dalam amtsalul kaminah, amtsalul mursalah, dan sebagainya. Contohnya seperti dalam ayat
53 surah Al-Mu’minun :

Artinya : “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-
masing).”
d) Mendorong orang giat beramal melakukan hal-hal yang dijadikan perumpamaan yang menarik dalam
Alquran. Contohnya seperti dalam ayat 261 surah Al-Baqarah, yang bisa mendorong orang giat bersedekah
atau member nafkah :
Artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir
seratus biji. Allah melipat-gandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.”
e) Menghindarkan orang dari perbuatan tercela yang dijadikan perumpamaan dalam Alquran, setelah
dipahami kejelekan perbuatan tersebut. Contohnya ayat 12 surah Al-Hujarat, yang bisa menhindarkan
orang dari menggunjing orang lain :
Artinya : “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di
antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik
kepadanya.”