Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN STASE GADAR

PROGRAM PROFESI NERS STIKES KUNINGAN


TAHUN AKADEMIK 2018/2019

NAMA : SRI INDAH WULANDARI


NIM : JNR0180060
KASUS/SISTEM : ASMA BRONKIAL / SISTEM RESPIRASI

1. DEFINISI
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang
menyebabkan peradangan. Penyempitan ini bersifat sementara (Amin, 2013).
Asma bronkial adalah penyakit obstuksi jalan nafas yang dapat pulih
den intermiten yang ditandai oleh penyempitan jalan napas, sehingga
mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi. Eksaserbasi akut terjadi dari
beberapa menit sampai jam, serta bergantian dengan periode bebas gejala
(mubarak, 2015).
Asma bronkial adalah penyempitan bronkus yang bersifat reversible
yang terjadi karena bronkus yang bersifat hiperaktif mengalami kontaminasi
antigen (Rab, 2010).
2. ETIOLOGI
a. Faktor Predisposisi
Genetik merupakan faktor predisposisi dari asma bronkhial.
b. Faktor Presipitasi
1) Alergen
Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Contohnya:
debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri, dan
polusi.
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut. Contohnya: makanan dan
obat-obatan.
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contohnya:
perhiasan, logam, dan jam tangan.
2) Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma.
3) Stress
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma.
Stress juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
4) Lingkungan kerja
Lingkungan kerja mempunyai hubungan langsung dengan sebab
terjadinya serangan asma.Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.
5) Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat
3. MANIFESTASI KLINIS
Gejala-gejala yang lazim muncul pada asma bronkial adalah batuk
dispnea dan mengi. Selain gejala di atas ada beberaa gejala yang menyertai
diantaranya sebagai berikut (Mubarak 2016:198):
a. Takipnea dan Orthopnea
b. Gelisah
c. Nyeri adomen karena terlibat otot abdomen dalam pernafasan.
d. Kelelahan (Faigue)
e. Tidak toleran terhadap aktivitas seperti makan berjalan bahkan berbicara.
f. Serangan biasanya bermula dengan batuk dan rasa sesak dalam dada
disertai pernafasan lambat.
g. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi.
h. Gerak-gerak retensi karbon dioksida, seperti berkeringat, takinardi dan
pelebaran tekanan nadi.
i. Serangan dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan
dapat hilang secara spontan.
4. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus
yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah
hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara.
Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara
sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk
membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan
antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen
spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang
terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan
bronkhus kecil.
Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut
meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast
dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat,
diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan
leukotrient), factor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari
semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen
bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi dari
pada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi
paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat
sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal
yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi.
Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik
dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan
dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat
meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara
ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.
PATHWAY
5. KOMPLIKASI
a. Pneumothoraks: keadaan abnormalitas dimana terdapatnya udara dalam
rongga thoraks;
b. Pneumomediastinum dan emfisemi subkutis;
c. Atelektasis: ketidakmampuan organ paru untuk mengembang dengan
sempurna;
d. Aspergilosis bronkopulmonar alergik,
e. Gagal napas: keadaan dimana pertukaran oksigen dengan karbondioksida
pada paru-paru tidak dapat mengimbangi laju konsumsi oksigen dan
produksi karbondioksida pada sel tubuh yang mengakibatkan tekanan
oksigen arterial menjadi kurang dari 50 mmHg (hipoksemia) dan tekanan
karbondioksida arterial meningkat menjadi lebih dari 45 mmHg
(hiperkapnea).
f. Bronkhitis: radang pada bronkhus yang biasanya mengenai trakhea dan
laring.

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Pemeriksaan sputum, Pada pemeriksaan sputum ditemukan :
1) Kristal –kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari
kristal eosinofil.
2) Terdapatnya Spiral Curschman, yakni spiral yang merupakan silinder
sel-sel cabang-cabang bronkus
3) Terdapatnya Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus
4) Terdapatnya neutrofil eosinofil
b. Pemeriksaan darah, Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan
eosinofil meninggi, sedangkan leukosit dapat meninggi atau normal,
walaupun terdapat komplikasi asma
1) Gas analisa darah, Terdapat hasil aliran darah yang variabel, akan
tetapi bila terdapat peninggian PaCO2 maupun penurunan pH
menunjukkan prognosis yang buruk
2) Kadang –kadang pada darah terdapat SGOT dan LDH yang meninggi
3) Hiponatremi 15.000/mm3 menandakan terdapat infeksi
4) Pada pemeriksaan faktor alergi terdapat IgE yang meninggi pada
waktu seranggan, dan menurun pada waktu penderita bebas dari
serangan.
5) Pemeriksaan tes kulit untuk mencari faktor alergi dengan berbagai
alergennya dapat menimbulkan reaksi yang positif pada tipe asma
atopik.
c. Foto rontgen, Pada umumnya, pemeriksaan foto rontgen pada asma
normal. Pada serangan asma, gambaran ini menunjukkan hiperinflasi
paru berupa rradiolusen yang bertambah, dan pelebaran rongga interkostal
serta diagfragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi,
kelainan yang terjadi adalah:
1) Bila disertai dengan bronkhitis, bercakan hilus akan bertambah
2) Bila terdapat komplikasi emfisema (COPD) menimbulkan gambaran
yang bertambah.
3) Bila terdapat komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrat
pada paru.
d. Pemeriksaan faal paru
1) Bila FEV1 lebih kecil dari 40%, 2/3 penderita menujukkan penurunan
tekanan sistolenya dan bila lebih rendah dari 20%, seluruh pasien
menunjukkan penurunan tekanan sistolik.
2) Terjadi penambahan volume paru yang meliputi RV hampi terjadi
pada seluruh asma, FRC selalu menurun, sedangan penurunan TRC
sering terjadi pada asma yang berat.
3) Elektrokardiografi, Gambaran elektrokardiografi selama terjadi
serangan asma dapat dibagi atas tiga bagian dan disesuaikan dengan
gambaran emfisema paru, yakni :
4) Perubahan aksis jantung pada umumnya terjadi deviasi aksis ke kanan
dan rotasi searah jarum jam
5) Terdapatnya tanda-tanda hipertrofi jantung, yakni tedapat RBBB
6) Tanda-tanda hipoksemia yakni terdapat sinus takikardi, SVES, dan
VES atau terjadinya relatif ST depresi.

7. PEMERIKSAAN MEDIK
1) Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan
jarak antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang
termasuk obat ini adalah metaproterenol (Alupent, metrapel).
2) Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini
diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang
memuaskan. Pada orang dewasa diberikan 125-200 mg empatkali
sehari.
3) Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik,
harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol
(beclometason dipropinate) dengan dosis 800 empat kali semprot tiap
hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping
maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
4) Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak.
Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
5) Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari.
Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
6) Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan
bersifat bronkodilator.
a. Pengobatan selama serangan status asmatikus
1) Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
2) Pemberian oksigen 4 liter/ menit melalui nasal kanul
3) Aminophilin bolus 5 mg/ kg bb diberikan pelan-pelan selama 20
menit dilanjutkan drip RL atau D5 mentenence (20 tetes/ menit)
dengan dosis 20 mg/ kg BB/ 24 jam.
4) Terbutalin 0,25 mg/ 6 jam secara sub kutan.
5) Dexametason 10-20 mg/ 6 jam secara intra vena.
6) Antibiotik spektrum luas

8. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
1) Airway
a) Kaji dan pertahankan jalan napas
b) Lakukan head tilt, chin lift jika perlu
c) Gunakan bantuan untuk memperbaiki jalan napas jika perlu
d) Pertimbangkan untuk di rujuk ke anesthetist untuk dilakukan
intubasi jika tidak mampu untuk menjaga jalan napas atau pasien
dalam kondisi terancam kehidupannya atau pada asthma akut
berat
e) Jika pasien menunjukan gejala yang mengancam kehidupan,
yakinkan mendapat pertolongan medis secepatnya.

2) Breathing
a) Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter,
dengan tujuan mempertahankan saturasi oksigen >92%
b) Berikan aliran oksigen tinggi melalui non re-breath mask
c) Pertimbangkan untuk menggunakan bag-valve-mask-ventilation
d) Ambil darah untuk pemeriksaan arterial blood gases untuk
menkaji PaO2 dan PaCO2
e) Kaji respiratory rate
f) Jika pasien mampu, rekam Peak Expiratory Flow dan
dokumentasikan
g) Periksa system pernapasan cari adanya sianosis, pergerakan dada,
retraksi dinding dada dan dengarkan adanya wheezing

3) Circulation/Sirkulasi
a) Kaji denyut jantung dan rhytme
b) Catat tekanan darah
c) Lakukan EKG
d) Berikan akses IV dan pertimbangkan pemberian magnesium
sulphat 2 gram dalam 20 menit
e) Kaji intake output
f) Jika potassium rendah makan berikan potassium

4) Disability
1. Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
2. Penurunan tingkat kesadaran merupakan tanda ekstrim pertama
dan pasien membutuhkan pertolongan di ruang Intesnsive

5) Exposure
Pada saat pasien stabil dapat di tanyakan riwayat dan pemeriksaan
lainnya.

b. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
obstruksi jalan nafas
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penyempitan
bronkus
3. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
Keperawatam Kriteria Hasil
Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Bantu Pasien untuk 1. Dengan
bersihan jalan asuhan mengatur posisi memberikan /
nafas keperawatan yang nyaman atau mengatur
berhubungan 3x24 jam semi flower posisi yang
dengan diharapkan 2. Bantu pasien untuk nyaman agar
obstruksi jalan Gangguan jalan batuk efektif dan dapat
nafas nafas efektif tarik nafas panjang. bernafas
dengan kriteria 3. Kolabrasi dengan dengan lega.
hasil : Pasien dokter 2. untuk
mampu 4. Lakukan fisioterapi mengeluarkan
mengeluarkan dada jika perlu dahak dan
sekret dengan melegakan
mudah. pernafasan
Penumpukan 3. untuk
sekret berkurang. melanjutkan
Pasien tidak tindakan
mengeluh sasak keperawatan
nafas jangka 4. untuk
panjang. Pasien mengeluarkan
tidak sesak lagi. sekret
Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Observasi 1. Mengetahui
pola nafas asuhan keadaan kondisi
berhubungan keperawatan umum keseluruhan
dengan selama 3x24 jam, 2. Kaji TTV pasien
penyempitan diharapkan 3. Berikan 2. Deteksi dini
bronkus masalah pola posisi yang terhadap
nafas teratasi nyaman perkembanga
dengan kriteria 4. Ajarkan n kesehatan
hasil: teknik pasien
1. Pasien relaksasi 3. Membantu
menyatakan nafas mengurangi
tidak sesak dalam sesak nafas
2. RR 16-24 5. Kolaborasi dengan 4. Nafas dalam
x/menit tim medis dalam dapat
pemberian terapi menghirup
secara
adekuat
sehingga otot-
otot menjadi
relaksasi
sehingga
dapat
mengurangi
sesak nafas
2. Sebagai
profilaksis
untuk
mengatasi
sesak nafas
DAFTAR PUSTAKA

Bennita. 2013. Keperawatan dasar.Yogyakarta:Rapha publishing


Irianto, Koes. 2014. Anatomi dan Fisiologi. Bandung : Alfabeta
Mubarak, W dkk. 2015. Standar Asuhan Keperawatan dan Prosedur Tetap
Dalam Praktik Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Naga, Sholeh S. 2012. Ilmu Penyakit Dalam. Jogjakarta : Diva Press.
Nana Nic-Noc. 2015
Neuratif, Amin Huda. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda.Yogyakarta: Mediacation
Nurarif, Amin Huda & Hardhi K. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : Mediaction.
Rab. T. 2010. Ilmu Penyakit Paru. TIM. Jakarta