Anda di halaman 1dari 8

ESTIMATING Apis dorsata HONEY BEE LARVAE WEIGHT FROM LENGTH AND

WIDTH

Nur Rochman1, M. Junus2 dan Gatot Ciptadi2


1
Student of Animal Husbandry Faculty, Barwijaya University, Malang
2
Lecture at Animal Husbandry Faculty, Barwijaya University, Malang
Contact Person: yunusbrawijaya@ub.ac.id

ABSTRACT

This research was carried out at the PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (Hutan
Harapan), Bungku Village, District Bajubang, Batanghari Regency, Jambi Province. The aim
of this research was to predict Apis dorsata honey bee larvae weight (mg) from their lenghts
(mm) and widths and their relationship to larvae lengths as well as the accuracy of the
prediction formula. The subject were 20 live Apis dorsata worker bee larvae taken from new
Apis dorsata hives/honey combs in in which the wax was still white. The 20 sample larvae
were selected randomly from those at the bottom of comb cells, the larvae taken from the
edges of the combs were found to be youngest. The sample larvae were taken using grafting
tools, then measured for length and width. The data collected was then analysed by regression
and correlation. The result show that a regression equation could be used as a formula for
predicting larvae weight because larvae length had a very significant affect on larvae weight.
Furthermore, larvae width also had a very significant influence on larvae weight with
regression equation as the formula for prediction. In conclusion, regression equation can be
employed to calculate/predict larvae weights based on their lengths or widths as both have a
close relationship to weight.

Key word: Apis dorsata, estimates, weight of larvae, larvae length and width.

ESTIMASI BOBOT LARVA MELALUI PANJANG DAN LEBAR LARVA


LEBAH HUTAN (Apis dorsata)
Nur Rochman1, M. Junus2 dan Gatot Ciptadi2
1
Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang
2
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang
Contact Person: yunusbrawijaya@ub.ac.id

ABSTRAK

Tujuan dari pada penelitian yaitu untuk memprediksi bobot larva (mg) berdasarkan
panjang (mm) dan lebar (mm) larva lebah, mengetahui besarnya hubungan panjang dan lebar
larva terhadap bobot larva lebah madu Apis dorsata, mengetahui akurasi formula dari prediksi
bobot larva yang telah diduga sebelumnya. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah 20
larva lebah pekerja Apis dorsata yang masih segar tanpa diawetkan terlebih dahulu. Sampel
larva Apis dorsata berasal dari satu sisiran sarang yang masih muda atau baru terbentuk
beberapa hari dengan ciri warna lilin atau sisiran yang masih putih. Sampel larva lebah madu
dengan ciri-ciri posisi rebah pada dasar sel sarang diambil secara acak. Sampel yang paling
tepi merupakan larva dengan umur yang paling muda setelah telur menetas dan seterusnya
hingga batas akhir sisiran larva dan pupa. Sampel yang telah diambil dengan grafting tools
untuk kemudian dilakukan penimbangan dalam satuan miligram dan pengukuran panjang dan
lebar dalam satuan milimeter. Variabel yang diukur adalah: bobot larva lebah, panjang dan
lebar larva lebah. Data dianalisis dengan sidik regresi serta analisis korelasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa persamaan regresi dapat digunakan sebagai formula penduga bobot larva
karena terdapat pengaruh panjang larva yang sangat nyata terhadap bobot larva lebah. Lebar
larva juga berpengaruh sangat nyata terhadap bobot larva dengan persamaan regresi sebagai
formula penduga bobot larva berdasarkan lebar larva lebah madu. Hubungan antara bobot
larva dengan panjang larva sangat erat. Keeratan hubungan antara bobot larva dengan lebar
larva sangat erat. Disimpulkan bahwa persamaan regresi bisa dijadikan sebagai formula
penduga atau estimasi bobot larva lebah berdasarkan panjang atau lebar larva lebah madu
Apis dorsata karena panjang dan lebar larva memiliki hubungan yang erat untuk menerangkan
estimasi bobot larva lebah madu.

Kata kunci: Apis dorsata, estimasi, bobot larva, panjang dan lebar larva.

PENDAHULUAN bahan pakan dan sarang tidak bisa


Koloni Apis dorsata dari genus berkembang untuk pupa yang sudah
Apis merupakan serangga penghasil madu dewasa. Ketersediaan sumber pakan pada
yang berguna bagi kehidupan manusia. masing-masing sub-populasi berpengaruh
Produk lain dari Apis dorsata yang populer terhadap performa ukuran bagian-bagian
untuk dikonsumsi atau dimanfaatkan oleh tubuh lebah Apis dorsata. Kondisi
manusia selain madu ada juga lilin, ketergantungan Apis dorsata terhadap alam
propolis, pollen, dan juga royal jelly. Lilin yang begitu tinggi dapat menjadi kontrol
lebah atau bee wax merupakan hasil dalam melihat perubahan kondisi alam dari
terbanyak dari sisiran sarang Apis dorsata. tahun ketahun, melalui hasil produksi
Hasil lilin tersebut erat hubungannya madu di masing-masing wilayah (Bertoni,
dengan ukuran sarang Apis dorsata yang 2013).
mempunyai panjang hingga dua meter dan Berdasarkan uraian di atas maka
lebar satu meter bahkan bisa lebih besar diperlukan metode alternatif untuk melihat
lagi. Hasil madu Apis dorsata mencapai perkembangan Apis dorsata dalam rangka
angka 10-20 kg per koloni per tahunnya memprediksi penampilan koloninya.
(Hadisoesilo, 2001). Apis dorsata Pertumbuhan Apis dorsata dari telur
bermanfaat juga sebagai pollinator alami manjadi imago atau lebah dewasa dapat
di lingkungan tempat bersarangnya seperti dilihat langsung dalam sisiran sarang.
hutan lindung dan hutan industri. Lebah pekerja sebagai penghuni yang
Pelestarian lingkungan sangat paling banyak dari ketiga kasta tersebut
penting dalam mendukung kehidupan Apis lebih mudah untuk dilakukan pengamatan
dorsata yang bergantung dari alam. penampilan koloni sehingga berdasarkan
Sumber pakan yang melimpah menjadi bobot larva lebah pekerja tersebut akan
daya tarik Apis dorsata untuk tetap dapat diprediksikan bahwa koloni
bertahan di lingkungan tersebut. Apis berkembang dengan baik atau tidak.
dorsata akan bermigrasi ke tempat lain
apabila sumber pakan berkurang dan METODE PENELITIAN
lingkungan tidak nyaman sehingga Penelitian dilaksanakan pada bulan
perkembangan koloni terhambat, produksi September 2012 di PT. Restorasi
madu berkurang, larva tidak bisa tumbuh Ekosistem Indonesia atau Hutan Harapan,
dengan baik, lebah pekerja sulit mencari
Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, ∑ ∑ ∑ ∑
Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. n ∑ ∑
Materi yang digunakan dalam n( )
penelitian adalah 20 larva lebah pekerja b
n ∑
Apis dorsata yang masih segar tanpa
Untuk mengetahui dapat atau
diawetkan terlebih dahulu. Sampel larva
tid kny pers m n regresi Ŷ + b
Apis dorsata berasal dari satu sisiran
sebagai penduga bobot larva maka
sarang yang masih muda. Sampel larva
dilakukan perhitungan sidik regresi
lebah madu dengan ciri-ciri posisi rebah
sehingga didapatkan nilai F hitung.
membentuk huruf “C” pada dasar sel
Apabila nilai dari F hitung > F tabel maka
sarang diambil secara acak. Peralatan yang
persamaan regresi dinyatakan baik dan bisa
digunakan dalam penelitian adalah: alat
digunakan sebagai prediksi bobot larva.
tulis, grafting tools, jangka sorong, kamera
Analisis selanjutnya untuk mengetahui
digital, kantong plastik, nampan, plastik,
besarnya hubungan panjang dan lebar larva
spidol parmenen, timbangan analitik, dan
dengan bobot larva menggunakan rumus
tisu.
sebagai berukut:
Metode yang digunakan dalam
n
penelitian adalah field study atau studi ry
lapang. Jumlah atau sampel larva yang √n √ n∑ (∑ )
digunakan untuk penelitian sebanyak 20
larva dikumpulkan secara acak (Hair dkk,
HASIL DAN PEMBAHASAN
2006).
Bobot, Panjang dan Lebar Larva Apis
Variabel penelitian meliputi:
dorsata
panjang larva (mm), lebar larva (mm), dan
Hasil pengamatan bobot, panjang
bobot larva Apis dorsata (mg). Data hasil
serta lebar larva lebah madu Apis dorsata
penimbangan bobot larva, pengukuran
didapatkan rata-rata seperti tertera pada
panjang dan lebar larva digunakan untuk
Tabel 1.
memprediksi bobot larva. Data dianalisis
Tabel 1. Rata-rata bobot, panjang dan lebar
dengan menggunakan regresi linier larva
sederhana untuk mengetahui bentuk dan Variabel Rata-rata
hubungan antara dua variabel. Adapun Bobot (mg) 60,92 ± 39,16
rumus matematis untuk memprediksi bobot Panjang (mm) 10,55 ± 2,74
larva dapat diformulasikan sebagai berikut: Lebar (mm) 4,30 ± 1,45
Ŷ = a + bX Berdasarkan Tabel 1 dapat
Di mana: diketahui bahwa rata-rata bobot badan
Ŷ = bobot larva larva lebah madu Apis dorsata sebesar
a = intersep (titik potong kurva terhadap 60,92 ± 39,16 mg lebih berat dibandingkan
sumbu Y) dengan bobot larva Apis mellifera pada
b = slope kurva linear umur 6 hari serta lebih ringan
X = panjang atau lebar larva dibandingkan dengan larva yang berumur 7
Adapaun nilai a dan b perlu hari, sehingga dapat disimpulkan bahwa
dihitung dengan rumus: larva yang digunakan sebagai sampel
berumur antara 6 – 7 hari setelah telur
keluar dari tubuh lebah ratu. Pertambahan
bobot larva dari hari pertama hingga mempunyai bobot antara 3,4-134,5 mg.
mendekati fase pupa sekitar 1400% dari Thrasyvoulou dan Benton (1982)
bobot semula. Kaftanoglu et al., (2011) menambahkan bahwa bobot larva pekerja
larva lebah ratu menerima royal jelly segar pertama kali menetas sekitar 0,08 mg dan
yang melimpah selama hidupnya dan tumbuh sangat cepat dalam waktu 6 hari.
tumbuh 1500-1700 kali lebih besar dari Bobot dan panjang larva lebah
bobot telur semula 0,12-0,20 mg menjadi madu Apis dorsata dari bagian tepi hingga
250-346 mg. Stone (2006) menyebutkan tengah sisiran sarang tampak seperti pada
bahwa larva yang berumur 5 – 8 hari Gambar 1.
Bobot dan Panjang
Panjang (mm) Bobot (mg)
140,00
120,00
100,00
80,00
60,00
40,00
20,00
0,00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Pengamatan Larva Ke-

Gambar 1. Grafik persebaran data bobot dan panjang larva

Gambar 1 menunjukkan bahwa Perkembangan hidup lebah madu pada fase


panjang larva memiliki ukuran yang larva bisa mencapai 14 kali lebih cepat dari
hampir sama pada setiap sampelnya. Bobot bobot awal ketika persediaan makanan di
dan panjang larva semakin bertambah pada dalam sarang tercukupi sepenuhnya
pengambilan larva yang semakin ke tengah (Winston, 1987).
sisiran sarang. Panjang larva pertama kali Data penimbangan dan pengukuran
menetas menurut Thrasyvoulou dan lebar setiap sampel larva seperti pada
Benton (1982) sekitar 1,6 mm. Gambar 2.
Bobot dan Lebar
Lebar (mm) Bobot (mg)

140,00
120,00
100,00
80,00
60,00
40,00
20,00
0,00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Pengamatan Larva Ke-

Gambar 2. Grafik persebaran data bobot dan lebar larva


Gambar 2 menunjukkan bahwa Morse and Hooper (1985) dalam Junus
larva lebah madu Apis dorsata yang (2012) menyebutkan bahwa hal tersebut
memiliki bobot dan lebar paling rendah disebabkan oleh fluktuasi dari populasi dan
terletak pada bagian paling tepi sisiran anakan lebah tergantung pada persediaan
sarang. Bobot dan lebar larva lebah pakan yang terdapat di alam.
semakin tinggi seiring dengan
pengambilan sampel yang semakin ke arah Estimasi Bobot Larva Berdasarkan
tengah sisiran sarang. Diameter larva Apis Panjang Larva
mellifera pertama kali menetas 0,4 mm dan Hasil pengamatan terhadap bobot
bobotnya kurang lebih 0,08 mg sehingga larva dan panjang larva lebah madu Apis
dapat diindikasikan bahwa larva yang dorsata menunjukkan bahwa bobot larva
digunakan sebagai sampel telah berumur besarnya tergantung pada panjang larva.
lebih dari satu hari. Lebah pekerja sebagai Adapun modelnya adalah linier seperti
penghuni yang paling banyak dari ketiga pers m n Ŷ -86,93 + 14,01X yang
kasta lebah madu lebih mudah untuk menggambarkan bentuk hubungan antara
dilakukan pengamatan penampilan koloni. bobot larva dan panjang larva lebah ke
Berdasarkan bobot larva lebah madu dapat dalam suatu garis lurus seperti terlihat pada
diprediksikan bahwa koloni berkembang Gambar 3.
dengan baik atau tidak (Sihombing, 2005).
Bobot dan panjang
140
120 Ŷ = -86,93+14,01X
100 r = 0,98
R² = 0,96
Bobot (mg)

80
60
40
20
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
-20
Panjang (mm)

Gambar 3. Grafik persamaan garis regresi antara bobot larva dengan panjang larva

Berd s rk n pers m n Ŷ -86,93 ditentukan oleh besarnya sudut yang


+ 14,01X untuk estimasi bobot larva dibentuk oleh bobot larva dan panjang
menunjukkan bahwa setiap perubahan satu larva lebah madu Apis dorsata.
mm panjang larva lebah madu Apis Hasil perhitungan sidik regresi
dorsata akan menyebabkan terjadinya menunjukkan bahwa F hitung > F (tabel
perubahan bobot larva lebah 14,01 mg. 0,01) yang berarti bahwa terdapat
Gambar 3 menunjukkan bahwa semakin pengaruh panjang larva yang sangat nyata
panjang larva akan diikuti pertambahan (p<0,01) terhadap bobot larva lebah
bobot larva lebah madu Apis dorsata. sehingga panjang larva dapat digunakan
Kemiringan grafik dam bentuk garis
sebagai penduga bobot larva lebah madu semakin meningkat. Winston (1987),
Apis dorsata. menyatakan bahwa bobot badan lebah
Berdasarkan hasil analisis korelasi pekerja Apis mellifera yang baru keluar
menunjukkan bahwa sampel yang diambil dari sel adalah berkisar antara 81–151
secara acak memiliki hubungan yang mg/ekor. Bila bobot badannya rendah atau
sangat erat dengan nilai r hitung > r tabel berada di bawah kisaran, maka bobot
1%. Hal tersebut menunujukkan bahwa badan lebah pekerja tersebut tidak dapat
terdapat hubungan atau korelasi yang mengangkut nektar dan polen dengan baik.
sangat erat antara panjang larva dengan Bertambah atau berkurangnya bobot larva
bobot larva lebah madu Apis dorsata. dipengaruhi oleh besar kecilnya konsumsi
Berdasarkan perhitungan data total larva lebah madu Apis dorsata.
panjang dan lebar larva lebah didapatkan Banyak atau sedikitnya pakan yang
koefisien determinasi atau R2 sebesar dikonsumsi larva dipengaruhi oleh kualitas
0,9625 yang dapat diartikan bahwa 96,25% nutrisi dari pakan itu (Slansky, 1993).
variasi keragaman total bobot atau variasi
bobot dapat diterangkan oleh variasi Estimasi Bobot Larva Berdasarkan
panjang larva lebah, atau dapat diartikan Lebar Larva
bahwa 96,25% dari bobot larva lebah Hasil pengamatan bobot larva dan
dipengaruhi oleh panjang larva. Sisanya lebar larva lebah madu Apis dorsata
3,75% dari variasi total bobot larva lebah menunjukkan bahwa bobot larva
dipengaruhi oleh faktor lain diluar panjang tergantung pada lebar larva. Adapun
larva atau variabel selain panjang larva modelnya adalah linier seperti persamaan
lebah madu Apis dorsata. Ŷ -47,57 + 25,22X yang
Perkembangan hidup larva dari menggambarkan bentuk hubungan antara
yang paling muda yaitu yang memiliki bobot larva dan lebar larva lebah ke dalam
bobot terendah ditandai dengan kenaikan suatu garis lurus seperti yang terlihat pada
panjang larva serta bobot larva yang Gambar 4.
Bobot dan Lebar
140
120 Ŷ = -47,57+25,22X
100 r = 0,98
R² = 0,88
80
Bobot (mg)

60
40
20
0
-20 0 1 2 3 4 5 6 7
-40
Lebar (mm)

Gambar 4. Grafik persamaan garis regresi antara bobot larva dengan panjang larva

Berd s rk n pers m n Ŷ -47,57 mealui lebar larva menunjukkan bahwa


+ 25,22X untuk estimasi bobot larva setiap perubahan satu mm lebar larva lebah
madu Apis dorsata akan menyebabkan pekerja, semua nitrogen diperoleh dari
terjadinya perubahan bobot larva lebah protein tepungsari, sehingga lebah muda
25,22 mg. Gambar 4 menunjukkan bahwa harus mengkonsumsi tepungsari dalam
semakin tinggi nilai lebar larva akan jumlah yang tinggi selama 2 (dua) minggu
diikuti pertambahan nilai bobot larva lebah pertama. Apabila tepungsari di dalam
madu Apis dorsata. Kemiringan grafik sarang tidak mencukupi kebutuhan lebah,
dam bentuk garis ditentukan oleh besarnya maka pembentukan anakan akan ikut
sudut yang dibentuk oleh bobot larva dan terganggu.
lebar larva lebah madu Apis dorsata. Perkembangan lebah ditentukan
Hasil sidik regresi menunjukkan oleh faktor nutrisi yang berasal dari
bahwa F hitung > F (tabel 0,01) atau dapat makanan lebah madu, baik jumlah maupun
dikatakan bahwa hipotesis nol ditolak yang komposisinya. Menurut Winston (1987),
berarti bahwa terdapat pengaruh lebar larva larva yang mendapat royal jelly lebih
yang sangat nyata (p<0,01) terhadap bobot banyak dengan kandungan utama berasal
larva lebah. Berdasrkan sidik regresi dari sekresi kelenjar mandibula akan
menunjukkan bahwa lebar larva dapat berkembang menjadi individu dengan
digunakan sebagai penduga bobot larva karakteristik lebah ratu. Sebaliknya, larva
lebah madu Apis dorsata. yang mendapat royal jelly dalam jumlah
Berdasarkan analisis korelasi sedikit dengan kandungan utama lebih
menunjukkan bahwa nilai r hitung> r tabel banyak berasal dari kelenjar hipofaring
1%. Hal tersebut menunjukkan bahwa akan berkembang menjadi individu yang
terdapat hubungan atau korelasi yang memiliki karakteristik lebah pekerja.
sangat erat antara lebar larva dengan bobot Jumlah dan komposisi royal jelly yang
larva lebah madu Apis dorsata. diberikan oleh lebah pekerja bergantung
Berdasarkan perhitungan data pada bentuk dan ukuran sel tempat larva
didapatkan koefisien determinasi atau R2 berkembang.
sebesar 0,9596 yang dapat diartikan bahwa
95,96% variasi keragaman total bobot atau Kesimpulan
variasi bobot dapat diterangkan oleh Kesimpulan dari penelitian adalah
variasi lebar larva lebah, atau dapat bahwa panjang maupun lebar larva lebah
diartikan bahwa 95,96% dari bobot larva madu Apis dorsata dapat digunakan
lebah dipengaruhi oleh lebar larva. Sisanya sebagai formula untuk estimasi atau
4,05% dari variasi total bobot larva lebah memprakirakan bobot larva. Panjang dan
dipengaruhi oleh faktor lain diluar lebar lebar larva memiliki hubungan positif yang
larva atau variabel selain lebar larva lebah sangat erat dengan bobot larva lebah madu
madu Apis dorsata. Apis dorsata sehingga akan mempermudah
Prediksi bobot larva lebah madu dalam proses penilaian penampilan koloni.
berdasarkan lebar larva dimaksudkan
untuk mengetahui penampilan koloni. Saran
Salah satu penilaian penampilan koloni Perlu dilakukan penelitian lebih
menurut Standifer (1986) dan Herber lanjut mengenai penggunaan regresi linier
(1993) adalah melalui bobot larva. sebagai alat penduga atau estimasi bobot
Gojmerac (1983) menyatakan bahwa larva.
selama masa awal kehidupan lebah
Daftar Pustaka Sihombing, D. T. H. 2005. Ilmu Ternak
Bertoni, R. 2013. Perbandingan Ukuran- Lebah Madu. Gajah Mada
Ukuran Bagian Tubuh Lebah University Press. Yogyakarta.
Pekerja Apis dorsata (Lebah Hutan) Dalam Budiman, A. 2007. Analisis
Pada Empat Lokasi. Departemen Strategi Pengembangan Usaha PT
Ilmu Produksi dan Teknologi Madu Pramuka, Jakarta. Program
Peternakan Fakultas Peternakan Studi Manajemen Agribisnis
Institut Pertanian Bogor. Bogor. Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Hadisoesilo, S. 2001. Keanekaragaman
Spesies Lebah Madu Asli Slansky, F. Jr. 1993. Nutritional Ecology:
Indonesia. Pusat Penelitian dan The Fundamental Quest For
Pengembangan Hutan dan Nutrient. Pages 29-73. In: N.E.
Konservasi Alam, Bogor. Stamp & T.M. Casey, eds.
Biodiversitas 2 : 123-128 Catterpilars, Ecology, &
Evolutionary Constrain on
Hair, J. F., W. C. Black, B. J. Babin, R. E. Foraging. Chapman & Hall, New
anderson, and R. L. Tatham. 2006. York.
Multivariate Data Analysis, 6 Ed.
New Jersey : Prentice Hall Standifer, LN. 1986. Honey Bee Nutrition
and Supplement Feeding.
Gojmerac, W, L., 1983. Bee, Beekeping http://maarec.cas.psu.edu/bkCD/H
Honey And Pollonation. Avi BBiology/nutrition_supplemens.htm
Publishing Company. Inc Westport Diakses tanggal 20 april 2014.
Connecticut.
Stone, D. M. 2006. Overview of Bee
Kaftanoglu O, Linksvayer TA, and Page Biology. http:/ / www. uni. uiuc.
RE. 2011. Rearing honey bees, edu/ ~stone2/ bee_overview. Html.
Apis mellifera, in vitro 1: Effects University of Illinois Laboratory
Of Sugar Concentrations On Highschool. Diakses tanggal 20
Survival and Development. Journal april 2014.
of Insect Science 11: 96 available
online: insectscience.org/11.96 Tan, N. Q. 2006. Studies Of The Asian
Giant Honey Bee, Apis dorsata
Junus, M. 2012. Pengaruh Umur Lebah fabricius (Apidae) In The
Ratu, Jumlah Sisiran Eram, dan Submerged Melaleuca Forest Of
Penyekat Ratu Terhadap Vietnam: Biology, Behaviour,
Pertambahan Bobot Anggota Ecology And Apiculture.
Koloni Lebah Apis mellifera. Department of Zoology, University
Department of Animal Production, of Oxford.
Faculty of Animal Husbandry. J
Ilmu-ilmu Peternakan 21 (3): 1 – Thrasyvoulou, A. T. and Benton, A.W.
10. 1982. Rates Of Growth Of Honey
Bee Larvae. Journal of Apicultural
Morse, R. E. 1978. Honey Bee Pests, Research 21: 189-192.
Predators, and Diseases. Comstock
Publishing Associates a division of Winston, M. L. 1987. The Biology of
Cornell University Press, Ithaca Honey Bee. Harvard University
and London. Press, London.