Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler ( pembuluh darah otak ) yang ditandai dengan
kematian jaringan otak ( infark serebral ) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah
dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya
sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah ( Lionel, 2008 ). Penyakit stroke
dibagi menjadi dua macam yaitu stoke iskemik dan stroke hemoragik. Kejadian stroke
iskemuk sekitar 80-85% sedangkan untuk stroke hemoragik sekitar 20% ( Agustina,
2012 ). Stroke iskemik memiliki angka kejadian sekitar 80%,. Insiden penyakit stroke
hemoragik antara 15%-30%, sedangkan untuk kejadian stroke iskemik sekitar 70%-85%.
Dinegara-negara berkembang seperti Asia kejadian stroke hemoragik sekitar 30% dan
iskemik 70%. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kejadian stroke
iskemik memiliki proposi lebih besar dibandingkan dengan stroke hemoragik ( Nastiti,
2012 ).
Negara Amerika diperkirakan pada setiap tahunnya kejadian stroke masih sekitar
500.000 pasien stroke baru dan 150.000 pasien meninggal dengan stroke. Di negara maju
insiden stroke hemoragik antara 15-30% dan stroke non hemoragik antara 70-85%, tetapi
untuk negara-negara berkembang seperti Asia kejadian stroke hemoragik sekitar 30%
dan stroke non hemoragik 70%. Stroke non hemoragik disebabkan oleh trombosis otak (
penebalan dinding arteri ) 60%, emboli ( sumbatan mendadak ) 5%, dan lain-lain 35% (
juniadi, 2011 ).
Di negara Asia khususnya Indonesia diperkirakan 500ribu orang mengalami
stroke suntuk setiap tahunnya. Dari jumlah kejadian tersebut, didapatkan sekitar 2,5%
meninggal dunia dan sisanya mengalami cacat berat dan ringan. Stroke menetap nomor
satu di seluruh dunia. Di Indonesia masalah stroke semakin penting karena angka
kejadian stroke di Indonesia merupakan terbanyak di negara sia (Yastroki, 2013 .
Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) bahwa
di Indonesia penyebab kematian untuk semua umur adalah stroke terbesar ( 15,4%),
tuberkulosis (7,5%, dan hipertensi (6,8%). Kejadian stroke setiap tahunnya mengalami
peningkatan , sekitar 28,5% pasien yang mengalami stroke di Indonesia meninggal dunia

1
( Kemenkes RI, 2007 ). Kejadian stroke akan meningkat sesuai bertambahnya usia.
Risiko stroke meningkat 2 kali lebih besar dari 55tahun , begitu juga angka kematian
yang disebabkan oleh stroke meninggakt seiring dengan bertambahnya usia penderita.
Stroke paling banyak diderita pada usia lebih dari 65 tahun dan jarang terjadi pada usiadi
bawah 40 tahun (Agustina, 2012 ) . Berbagai fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini,
Stroke masih merupakan masalah utama di bidang neurologi maupun kesehatan pada
umumnya. Untuk mengatasi masalah krusial ini diperlukan strategi penangulangan
Stroke yang mencakup aspek preventif, terapi rehabilitasi, dan promotif.
Keberadaan unit Stroke di rumah sakit tak lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah
menjadi keharusan, terlebih bila melihatangka penderita Stroke yang terus meningkat
dari tahun ke tahun di Indonesia. Karena penanganan Stroke yang cepat, tepat dan akurat
akan meminimalkan kecacatan yang ditimbulkan. Untuk itulah penulis menyusun
makalah mengenai Stroke yang menunjukan masih menjadi salah satu pemicu kematian
tertinggi di Indonesia.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Dapat memperoleh pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan stroke iskemik ( stroke non hemoragik )

b. Tujuan Khusus
1. MenjelaskanDefinisi Stroke iskemik
2. Etiologi Stroke iskemik
3. Faktor resiko stroke iskemik
4. Patofisiologi Stroke iskemik
5. Tanda dan gejala
6. Pemeriksaan Diagnostik
7. PenatalaksanaanStrokeiskemik
8. Pencegahan stroke iskemik

c. Ruang lingkup
Ruang lingkup pada makalah ini hanya di dapat dari buku keperawatan, jurnal,
dan wawancara langsung terhadap klien.

2
d. Metode penulisan
Dalam membuat atau menyusun makalah ini, penyusun menggunakan study
kepustakaan yang ada kaitannya dengan masalah yang akan ditulis.

e. Sistematika penulisan
Sistematika penulisan yang diterapkan untuk menyajikan gambaran singkat
mengenai permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini, sehingga
akan memperoleh pengetahuan yang jelas tentang isi dari penulisan makalah ini
yang terdiri dari empat bab diantaranya :

1. BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode
penulisan dan sistematika penulisan.

2. BAB II TINJAUAN TEORI


Menjelaskan tentang materi atau judul yang telah dipilih, yaitu tinjauan kasus
pada pasien stroke iskemik
.
3. BAB III TINJAUAN KASUS
Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada pasien stroke iskemik yang di
dalamnya terdapat pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan
keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi.

4. BAB IV PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran untuk keperluan perbaikan makalah dan
pengembangan selanjutnya ke arah yang lebih baik lagi.

5. DAFTAR PUSTAKA
Berisikan sumber referensi yang diambil oleh penulis untuk kepentingan sumber
acuan dan kelengkapan dalam penulisan makalah.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah di
otak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan
seseorang menderita kelumpuhan atau kematian. Sedangkan menurut Hudak (1996),
stroke adalah defisit neurologi yang mempunyai serangan mendadak dan berlangsung
24 jam sebagai akibat dari cardiovascular disease (CVD). (Fransisca B Batticaca,
2008)Menurut WHO, stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang
berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya
penyebab lain yang jelas selain vaskular. (Arif Muttaqin, 2008)
Stroke iskemik adalah stroke yang terjadi apabila salah satu cabang dari pembuluh
darah otak mengalami penyumbatan, sehingga bagian otak yang seharusnya mendapat
suplai darah dari cabang pembuluh darah tersebut, akan mati karena tidak
mendapatkan suplai oksigen dan aliran darah sebagaimana seharusnya
B. Etiologi
Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain :
1. Thrombosis Cerebral.
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga
menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapa menimbulkan oedema dan
kongesti di sekitarnya.Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang
sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan
aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan
iskemi serebral.Tanda dan gejala neurologis seringkali memburuk pada 48 jam
setelah thrombosis.
Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak :
a. Atherosklerosis
Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya
kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis

4
atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui
mekanisme berikut :
1) Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran
darah.
2) Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi thrombosis.
3) Tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan kepingan
thrombus (embolus).
4) Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek
dan terjadi perdarahan.
b. Hypercoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental, peningkatan viskositas /hematokrit meningkat
dapat melambatkan aliran darah serebral.
c. Arteritis( radang pada arteri )
2. Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan
darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di
jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut
berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa
keadaan dibawah ini dapat menimbulkan emboli :
a. Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease.(RHD)
b. Myokard infark
c. Fibrilasi
Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan ventrikel
sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong sama
sekali dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.
d. Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya
gumpalan-gumpalan pada endocardium.
3. Haemorrhagi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang
subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi
karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak
menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat
mengakibatkan penekanan, pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang

5
berdekatan ,sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga
terjadi infark otak, oedema, dan mungkin herniasi otak.
Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi :
a. Aneurisma Berry,biasanya defek kongenital.
b. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis.
c. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.
d. Malformasi arteriovenous, terjadi hubungan persambungan pembuluh
darah arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena.
e. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan
dan degenerasi pembuluh darah.
4. Hypoksia Umum
a. Hipertensi yang parah.
b. Cardiac Pulmonary Arrest
c. Cardiac output turun akibat aritmia
5. Hipoksia setempat
a. Spasme arteri serebral , yang disertai perdarahan subarachnoid.
b. Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.
C. Faktor resiko
Faktor – faktor resiko untuk terjadinya stroke dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (
sjahrir, 2003 )
1. Non modifiable risk factors :
a. Usia
b. Jenis kelamin
c. Keturunan / genetik
2. Modifiable risk factors
a. Behavioral risk factors
b. Merokok
c. Unhealthy diet : lemak, garam berlebihan, asam urat, kolesterol.
d. Obat-obatan : narkoba (kokain), antikoagulasi
3. Physiological risk factors
a. Penyakit hipertensi
b. Penyakit jantung
4. Diabetes mellitus
a. Infeksi, arthritis, traumatik, AIDS, lupus

6
b. Gangguan ginjal
c. Kegemukan ( obesitas )
d. Polisitemia, viskositas darah meninggi dan penyakit pendarahan
e. Kelainan anatomi pembuluh darah.

D. Patofisiologi
Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau
embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada
dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area
thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks
iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus
yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri
tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan
neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding
pembuluh darah oleh emboli.

7
Penyakit yang mendasari stroke,gaya
hidup,(alkohol,merokok, stress,depresi,obesitas )

Kepekatan darah meningkat

Aterosklerosis ( elastipitas pembentukan thrombus


pembuluh darah menurun )
Penyumbatan
thrombus di otak

Penurunan suplai darah ke otak

Gg perfusi jaringan serebral

Kerusakan pusat
Iskemik,infark,nekrosis,odem otak Kerusakan pada nervus
gerakan motorik

Gg mobilitas fisik Penurunan kemampuan anggota


gerak/otot,mengunyah,menelan.
Gg reflek
menelan
Tirah baring (intoleran aktivitas )

Keseimbangan
Defisit nutrisi kurang
Resiko kerusakan integritas
perawatan diri dari kebutuhan
kulit
Sumber : price ( 2006 )

8
E. Tanda dan gejala
1. Kehilangan/menurunnya kemampuan motorik.
2. Kehilangan/menurunnya kemampuan komunikasi.
3. Gangguan persepsi.
4. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologi.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. CT Scan
Memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya
jaringan otak yang infark atau iskemia, serta posisinya secara pasti. Hasil
pemeriksaan biasanya didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ke
ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak.

2. MRI
Dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menentukan posisi sertaa
besar/luas terjadinya perdarahan otak. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan
area yang mengalami lesi dan infark dari hemoragik.
3. Angiografi Serebri
Membantu menemukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti
perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari sumber
perdarahan seperti aneurimsa atau malformasi vaskuler.
4. USG Doppler
Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masalah sistem karotis)
5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak
dari jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan
otak.

9
6. Sinar X tengkorak
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pienal daerah yang berlawanan
dari massa yang luas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada trombosis
serebral; kalsifikasi parsial dinding aneurisma pada perdarahan subarakhnoid.
7. Pemeriksaan Laboratorium
a. H2TL
b. GDS
c. Colestrol
d. Elektrolit
e. SGOT/SGPT

G. Penatalaksanaan
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut:
1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan :
a. Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha
memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
b. Posisikan dengan tekhmik elevasi kepala 30 derajat
2. Berusaha menemukan dan memperbaikaritmia jantung.
3. Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.
4. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat
mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan
gerak pasif.

H. Pencegahan Stroke
1. Hindari merokok, kopi, dan alkohol.
2. Usahakan untuk dapat mempertahankan berat badan ideal (cegah kegemukan).
3. Batasi intake garam bagi penderita hipertensi.
4. Batasi makanan berkolesterol dan lemak (daging, durian, alpukat, keju).
5. Pertahankan diet dengan gizi seimbang (banyak makan buah dan sayuran)
6. Olahraga secara teratur.

10
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian keperawatan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses
pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi
status kesehatan klien. (Nursalam, 2011).
Pengkajian pada pasien stroke meliputi identitas klien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan pengkajian
psikososial.
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor
registrasi, dan diagnosa medis.

2. Keluhan utama
Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah
kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat berkomunikasi,
dan penurunan tingkat kesadaran.

3. Penyakit sekarang
Serangan stroke sering kali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang
melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala,mual, muntah bahkan kejang
sampai tidak sadar, selain gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan
fungsi otak yang lain.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke sebelumnya, diabetes mellitus,
penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama,
penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, dan
kegemukan. Pengkajian obat-obatan yang sering digunakan klien, seperti
pemakaian obat antihipertensi, antilipidemia, penghambat beta, dan
lainnya.Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penggunaan obat
kontrasepsi oral.Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat
penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk
memberikan tindakan selanjutnya.

5. Riwayat penyakit keluarga


Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes mellitus, atau
adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.

6. Pengkajian psikososiospiritual
Pengkajian psikologis klien stroke meliputi beberapa dimensi yang
memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status
emosi, kognitif, dan perilaku klien.Dalam pola tata nilai dan kepercayaan, klien

11
biasanya jarang melakukan ibadah spiritual karena tingkah laku yang tidak stabil
dan kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
Perawat juga memasukkan pengkajian tehadap fungsi neurologis dengan
dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu.
Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri atas dua masalah : keterbatasan
yang diakibatkan oleh defisit neurologis dalam hubungannya dengan peran social
klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi pada gangguan
neurologis di dalam system dukungan individu.

7. Pengkajian Aktivitas/ istirahat


Gejala : Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan,
kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia). Merasa mudah lelah, susah untuk
beristirahat (nyeri/ kejang otot).
Tanda : Gangguan tonus otot (flaksid, spastis); paralitik (hemiplegia), dan terjadi
kelemahan umum. Gangguan penglihatan, dan gangguan tingkat kesadaran.

8. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urine, anuria. Distensi
abdomen (distensi kandung kemih berlebihan), bising usus negatif (ileus
paralitik).

9. Makanan/ cairan
Gejala : Nafsu makan hilang. Mual munta selama fase akut (Peningkatan TIK).
Kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi, dan tenggorokkan, disfagia.
Adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.
Tanda : Kesulitan menelan (gangguan pada reflek palatum dan faringeal).
Obesitas (faktor risiko).

10. Neurosensori
Pemeriksaan 12 Saraf kranial
a. Saraf Olfaktorius (N. I)
Fungsi : Saraf sensorik, untuk penciuman.
Cara pemeriksaan : Anjurkan klien menutup mata dan uji satu persatuan
hidung klien kemudian anjurkan klien untuk mengidentifikasi perbedaan bau-
bauan yang diberikan. (seperti teh atau kopi)
b. Saraf Optikus (N. II)
Fungsi : Saraf sensorik, untuk penglihatan.
Cara pemeriksaan : dengan snellen cart pada jarak 5-6 meter dan
pemeriksaan luas pandang dengan cara menjalankan sebuah benda dari
samping ke depan (kanan dan kiri, atas kebawah).
c. Saraf Okulomotorius (N. III)
Fungsi : Saraf motorik, untuk mengangkat kelopak mata dan kontraksi
pupil.

12
Cara pemeriksaan : Anjurkan klien menggerakkan mata dari dalam keluar,
dan dengan menggunakan lampu senter uji reaksi pupil dengan memberikan
rangsangan sinar kedalamnya.
d. Saraf troklearis (N. IV)
Fungsi : Saraf motorik, untuk pergerakan bola mata.
Cara pemeriksaan : Anjurkan klien melihat kebawah dan kesamping kanan-
kiri dengan menggerakkan tangan pemeriksa.
e. Saraf Trigeminalis (N. V)
Fungsi : Saraf motorik, gerakan mengunyah, sensasi wajah, lidah dan gigi,
reflek kornea dan reflek berkedip.
Cara pemeriksaan : Dengan menggunakan kapas halus sentuhan pada kornea
klien perhatikan reflek berkedip klien, dengan kapas sentuhkan pada wajah
klien, uji kepekan lidah dan gigi, anjurkan klien untuk menggerakkan rahang
atau menggigit.
f. Saraf Abdusen (N. VI)
Fungsi : saraf motorik, pergerakan bola mata kesamping melalui otot
lateralis.
Cara pemeriksaan : Anjurkan klien melirik kanan dan kiri.
g. Saraf Fasialis (N. VII)
Fungsi : saraf motorik, untuk ekspresi wajah.
Cara pemeriksaan : Dengan cara menganjurkan klien tersenyum, mengangkat
alis, mengerutkan dahi, uji rasa dengan menganjurkan klien menutup mata
kemudian tempatkan garam/gula pada ujung lidah dan anjurkan
mengidentifikasi rasa tersebut.
h. Saraf Vestibulokoklear (N. VIII)
Fungsi : saraf sensorik, untuk pendengaran dan keseimbangan.
Cara pemeriksaan : tes rine weber dan bisikan, tes keseimbangan dengan klien
berdiri menutup mata.
i. Saraf Glosofaringeus (N. IX)
Fungsi : Saraf sensorik dan motorik, untuk sensasi rasa.
Cara pemeriksaan : dengan cara membedakan rasa manis dan asam, dengan
menggembungkan mulut.
j. Saraf Vagus (N. X)
Fungsi : Saraf sensorik dan motorik, reflek muntah dan menelan.
Cara pemeriksaa : Dengan menyentuh faring posterior, klien menelan saliva
disuruh mengucapkan kata ah.
k. Saraf Asesorius (N. XI)
Fungsi : Saraf motorik, untuk menggerakan bahu.
Cara pemeriksaan : anjurkan klien untuk menggerakan bahu dan lakukan
tahanan sambil klien melawan tahanan tersebut.
l. Saraf Hipoglosus (N. XII)
Fungsi : Saraf motorik, untuk menggerakan lidah.
Cara pemeriksaan : Dengan cara klien disuruh menjulurkan lidah dan
menggerakan dari sisi ke sisi.(Amin & Hardhi, 2012)

13
11. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda (karena arteri karotis
terkena)
Tanda : Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot/ fasia.
12. Pernafasan
Gejala : Merokok (faktor risiko).
Tanda : Ketidakmampuan menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas. Timbulnya
pernafasan sulit dan/ atau tak teratur. Suara nafas terdengar/ ronki (aspirasi
sekresi).
13. Keamanan
Tanda : Motorik/ sensorik : masalah dengan penglihatan. Perubahan persepsi
terhadap orientasi tempat tubuh (stroke kanan). Kesultan untuk melihat objek dari
sisi kiri (pada stroke kanan). Hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang
sakit.
Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah
dikenalnya dengan baik. Gangguan berespon terhadap panas dan dingin/
gangguan regulasi suhu tubuh. Kesulitan dalam menelan, tidak mampu untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri (mandiri). Gangguan dalam memutukan,
perhatian sedikit terhadap keamanan, tidak sabar/ kurang kesadaran diri (stroke
kanan).
14. Interaksi sosial
Tanda : Masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi.
15. Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala : Adanya riwayat hipertensi pada keluarga , stroke (faktor resiko).
Pemakaian kontrasepsi oral, kecanduan alkohol (faktor risiko). (Doengoes, 2000)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan tidak adekuatnya
sirkulasi darah serebral.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskular.
4. Defisit pengetahuan: keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi.
5. Kerusakan komunikasi verbal behubungan dengan kerusakan neuromuskular.
6. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan trauma neurologis.
7. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan psikososial.
8. Resiko tinggi terhadap menelan behubungan dengan kerusakan neuromuskular.

14
C. Intervensi
Rencana keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan:
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan tidak adekuatnya
sirkulasi darah serebral.
a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
perfusi jaringan serebral kembali normal
b. Kriteria hasil : klien akan mengatakan sakit kepala berkurang bahkan hilang
dan merasa nyaman, eksremitas klien dapat kembali digerakkan, tanda-tanda
vital normal, dan tingkat kesadaran compos mentis.
c. Intervensi :
1) Kaji keadaan umum.
Rasional : Untuk mengetahui gangguan pada perfusi jaringan.
2) Pantau TTV
Rasional : Hipertensi dapat menjadi faktor pencetus.
3) Bantu klien dalam meletakan kepala agak ditinggikan dan dalam
posisi anatomis (netral).
Rasional : Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase
dan meningkatkan sirkulasi serebral.
4) Anjurkan klien mempertahankan keadaan tirah baring.
Rasional : Aktivitas yang kontinu dapat menigkatkan TIK.
5) Kolaborasi dalam pemberian O2 sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan
vasodilatasi serebral.
6) Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
Rasional : Meningkatkan aliran darah serebral.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular.
a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
kerusakan mobilitas fisik teratasi.
b. Kriteria hasil : klien dapat beraktivitas sesuai kemampuan, tidak ada
kontraktur otot, tidak terjadi penyusutan otot, ekstremitas sebelah kiri dapat
digerakkan dan skala aktivitas 1.
c. Intervensi :
1) Kaji tingkat aktivitas klien.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat aktivitas klien.
2) Ajarkan untuk mengubah posisi minimal 2 jam sekali.
Rasional : Menurunkan resiko terjadinya iskemia jaringan.
3) Ajarkan klien ROM pasif.
Rasional : Meminimalkan atropi otot dan meningkatkan sirkulasi.
4) Bantu klien tingikan tangan dan kepala 30-40º
Rasional : Meningkatkan aliran balik vena.
5) Kolaborasi dalam pemberian obat relaksasi otot sesuai indikasi.
Rasional : Untuk meningkatkan spasitisitas pada ektremitas yang
terganggu.
6) Kolaborasi dalam pemberian matras bulat.

15
Rasional : Meningkatkan distribusi merata berat badan menurunkan
tekanan tulang-tulang tertentu.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskular.
a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
perawatan diri klien meningkat.
b. Kriteria hasil : klien tampak segar, klien tampak bersih dan rapi, nafas tidak
berbau, kebutuhan terpenuhi dan kuku pendek dan rapi
c. Intervensi :
1) Kaji perawatan diri klien.
Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya.
2) Anjurkan keluarga untuk selalu memerhatikan kebersihan dan kebutuhan
klien.
Rasional : Memenuhi kebutuhan klien.
3) Bantu klien dalam personal hygiene.
Rasional :Menjaga kebersihan klien.
4) Bantu klien memotong kuku.
Rasional : Menjaga kebersihan kuku klien.
5) Bantu klien untuk mengganti laken.
Rasional : Memberikan rasa nyaman kepada klien.
6) Bantu memandikan klien
Rasional : Menjaga kebersihan diri klien.
4. Defisit pengetahuan: keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi
a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
pengetahuan klien dan keluarga bertambah.
b. Kriteria hasil : berpartisipasi dalam penyuluhan kesehatan, memulai
perubahan gaya hidup klien dan keluarga mengetahui penyebab penyakit
stroke
c. Intervensi :
1) Kaji pengetahuan keluarga.
Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya.
2) Diskusikan dengan keluarga mengenai penyakit klien dan kekuatan pada
individu.
Rasional : Membantu dalam membangun harapan dan meningkatkan
pemahaman.
3) Identifikasi faktor-faktor resiko secara individual.
Rasional : Memungkinkan menurunkan risiko kambuh.
4) Berikan penjelasan kepada keluarga mengenai penyakit klien.(Penkes)
Rasional : Menambah pengetahuan keluarga dan klien.
5) Memotivasi klien dan keluarga untuk memperbaiki pola hidup.
Rasional : Meningkatkan kesehatan.
5. Kerusakan komunikasi verbal behubungan dengan kerusakan neuromuskular.
a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
kerusakan komunikasi verbal berkurang.

16
b. Kriteria hasil : mengindikasi pemahaman tetang masalah komunikasi,
membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan.
c. Intervensi :
1) Kaji tipe/ derajat disfungsi.
Rasional : membantu menentukan derajat kerusakan serebral
2) Ajarkar metode komunikasi alteratif.
Rasional : membantu klien dalam berkomunikasi.
3) Bicaralah dengan nada normal dan hindari percakapan cepat.
Rasional : memfokuskan respon klien.
4) Kolaborasi dengan ahli terapi wicara.
Rasional : melatih fungsi wicara.

6. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan trauma neurologis.


a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
perubahan persepsi sensori teratasi.
b. Kriteria hasil : mempertahankan tingkat kesadaran dan mengakui perubahan
dalam kemampuan
c. Intervensi :
1) Kaji kesadaran sensorik.
Rasional : untuk mengetahui kesesuaian dari gerak.
2) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan.
Rasional : membantu melatih kembali sensorik.
3) Ciptakan lingkungan yang sederhana dengan memindahkan perabot
yang membahayakan.
Rasional : menurunkan resiko terjadi kecelakaan.
4) Menghilangkan kebisingan eksternal yang berlebihan sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan ansietas dan respon emosi.
7. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan psikososial.
a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
gangguan harga diri teratasi.
b. Kriteria hasil : mengungkapkan penerimaan dirindalam situasi da
berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi yang terjadi.
c. Intervensi :
1) Kaji luas gangguan persepsi.
Rasional : menentukan faktor-faktor perencanaan selanjutnya.
2) Anjurkan klien untuk mengekpresikan perasaannya.
Rasional : untuk mengenal dan memahami perasaan saat ini.
3) Berikan dukungan terhadap perilaku dan usaha.
Rasional : mengubah dan memahami tentang peran diri.
4) Kolaborasi dengan ahli psikologi.
Rasional : mempermudah adaptasi terhadap perubahan peran.
8. Resiko tinggi terhadap menelan behubungan dengan kerusakan neuromuskular.
a. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
tidak terjadi resiko tinggi menelan.

17
b. Kriteria hasil : mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi
individual dengan aspirasi tercegah dan mempertahankan berat badan.
c. Intervensi :
1) Kaji resiko tinggi terhadap menelan.
Rasional : menentukan intervensi selanjutnya.
2) Bantu klien dalam posisi duduk saat makan.
Rasional : menurunkan resiko aspirasi.
3) Anjurkan klien menggunakan sedotan saat minum.
Rasional : menurunkan resiko tersedak.
4) Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan/ kegiatan.
Rasional : meningkatkan perasaan senang dan meningkatkan nafsu
makan.

18
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Nama : Tn E
Umur : 49 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Status perkawinan : Menikah
Dokter yang merawat : dr. Gabriel Sp.S
Ruangan : Stroke Unit
Tanggal masuk : 17 September 2018
Tanggal pengkajian : 17 September 2018
2. Informasi Medik
a) Diagnosa medik : Stroke Iskemik hemiparese sinistra
b) Riwayat Kesehatan
 Keluhan Utama
Pasien mengatakan lemas dibagian tangan dan kaki kiri bicara pelo
 Riwayat Penyakit Sekarang
Tn.E mengatakan 7 jam bicara pelo, makin lama makin tambah parah dan
terasa lemas di bagian tangan dan kaki kiri di bawa ke RS. Tn. E mengatakan
juga dirinya hanya berbaring ditempat tidur saja.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Tn.E mengatakan tidak mempunyai riwayat tekanan darah tinggi,Dm ataupun
jantung, keluarga pasien juga mengatakn Tn E baru kali ini saja di rawat.Tn.E.
 Riwayat Penyakit Keluarga
Tn.E mengatakan didalam anggota keluarganya tidak ada keluarga yg
mengidap penyakit darah tinggi, stroke Dm atupun jantung.

19
c) Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : baik, Kesadaran compos mentis. Hasil pemeriksaan Glasgow
Coma Scale didapatkan Eyes : 4 (membuka spontan), Verbal : 5 (orientasi
baik dan mampu berbicara), Motorik : 6 (dapat bergerak mengikuti perintah).
 Tanda-tanda vital
TD : 120/90 mmHg R : 20 x/m
N : 85x/m S : 36,5 0 C
 Sistem Neurologi
Tn. E tidak ada kelainan dalam sistem neurologi, pasien tidak ada gangguan
dalam komunikasi waktu, tempat dan orang ketika ditanya, pasien hanya
berbicara kurang jelas ( pelo ).
 Sistem Muskuloskeletal
Pasien mengalami hemiparese sinistra dengan kekuatan otot 5 0
Ket : 5 0
0 = Tidak ada kontraksi otot
1 = Kontraksi otot minimal terasa tanpa menimbulkan gerak
2 = Tidak mampu melawan gaya gravitasi
3 = Hanya mampu melawan gaya gravitasi
4 = Mampu melawan dengan tahanan sedang
5 = Mampu menggerakan sendri dalam lingkup gerak penuh, mampu
melawan dengan tahanan penuh
 Indeks Barthel
No. Item yang Skor Nilai
dinilai
1. Makan 0 = Tidak mampu 1
1 = Butuh bantuan memotong lauk, mengoles mentega dll
2 = Mandiri
2. Mandi 0 = Tergantung orang lain 0
1 = Mandiri
3. Perawatan 0 = Membutuhkan bantuan orang lain 0
diri 1 = Mandiri dalam perawatan muka, rambut,
gigi, dan bercukur
4. Berpakaian 0 = Tergantung orang lain 0
1 = Sebagian dibantu (misal mengancing
baju)
2 = Mandiri
5. Buang air 0 = Inkontinensia atau pakai kateter dan tidak terkontrol 2

20
kecil 1 = Kadang Inkontinensia (maks, 1x24 jam)
2 = Kontinensia (teratur untuk lebih dari 7 hari)
6. Buang air 0 = Inkontinensia (tidak teratur atau perlu enema) 1
besar 1 = Kadang Inkontensia (sekali seminggu)
2 = Kontinensia (teratur)
7. Penggunaan 0 = Tergantung bantuan orang lain 0
toilet 1 = Membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan beberapa hal
sendiri
2 = Mandiri
8. Transfer 0 = Tidak mampu 1
1 = Butuh bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
2 = Bantuan kecil (1 orang)
3 = Mandiri
9. Mobilitas 0 = Immobile (tidak mampu) 0
(berjalan di 1 = Menggunakan kursi roda
permukaan 2 = Berjalan dengan bantuan satu orang
datar) 3 = Mandiri (meskipun menggunakan alat bantu seperti, tongkat)
10. Naik turun 0 = Tidak mampu 1
tangga 1 = Membutuhkan bantuan (alat bantu)
2 = Mandiri
Total 6
20(Mandiri), 12-19(Ketergantungan Ringan), 9-11 (Ketergantungan Sedang), 5-
8(Ketergantungan Berat), 0-5 (Ketergantungan Total)

d) Hasil Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik

Hasil labolaturium

Nama pasien : Tn E No Rm :223718


Tgl lahir/umur : 10/06/1969 No lab
Jenis kelamin : laki-laki :lab11182052
No sampel : 18110022052 Jm hasil :
Asal : stroke unit 17/11/2018 jm
Dokter : Dyan Esikha 19:17
Nama pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan Metode
Hematologi
Hemoglobin 14,3 g/dL 14,0-18,0 photometer
Hematokrit 41 % 42-52 calc
Trombosit 212,000 /uL 140,000- impedan

21
440,000
Lekosit 9,400 /uL 5000-10,000 impedan
Diabetes
Glukosasewaktu 96 mg/dl <100 normal ket POCT
<100 bukan DM
100-199 blm
pasti Dm >200
pasti Dm
AST/SGOT 33 U/I <37 IFCC
ALT/SGPT 17 U/I <47 IFCC
Natrium 146 mmol/L 135-145 ISE
Kalium 3,8 mmol/L 3,5-5,1 ISE
Clorida 108 mmol/L 97-111 ISE
Trigliserda 183 mg/dL 40-150 GPO
Cholestrol total 179 mg/dl <200 CHODPCD
LDL 29 mg/dl <150
HDL 113 mg/dL 30-75
e) Hasil Pemeriksaan Radiologi

CT-SCAN

Nama pasien : Tn E No Rm :223718


Tgl lahir/umur : 10/06/1969 Jaminan :BPJS
Jenis kelamin : laki-laki Jm hasil :
No sampel : 18110022052 22/11/2018
Asal : stroke unit
Dokter : Dyan dr

Kesan : tampak infark ringan subcortex pada regio corona radiata kanan di sertai infark
lakuner kecil dengan batas tak tegas di regio crus posterior capsula interna kanan.

22
FOTO TORAKS
Nama pasien : Tn E No Rm :223718
Tgl lahir/umur : 10/06/1969 Jaminan :BPJS
Jenis kelamin : laki-laki Jm hasil :
No sampel : 18110022052 19/11/2018
Asal : stroke unit
Dokter : Dyan dr

Kesan : cor dan pulmo dalam batas normal


Elongatio aorta
Tak tampak kelainan lain pada X foto thorax

f) Penatalaksanaan dan Therapy


No Nama Obat Dosis Cara Pemberian
1 Aspilet 1x1 tab Oral
2 Anemolat 1x500mg Oral
3 Neulin ps 1x1 tab Oral
4 Gemfibroxil 1x100mg Oral
5 Terpacef inj 1 x 1gr Intravena

6 Ranitidine inj 2x1 amp Intravena

23
B. ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1 Ds : - Os mengatakan lemes Stroke(gaya hidup, Gangguan perfusi
sebelah kiri Stress obesitas) jaringan serebral

Do : - KU sedang kes cm E4 M6 Penyumbatan


V5,terpasang inf NaCL 0.9%/12jm aliran darah di otak
- Tanda-tanda vital :
TD : 120/90 mmHg, Penurunan suplai
N : 86 x/m, R : 20 x/m, darah ke otak
S : 36 C
-kekuatan otot

5 0
5 0

- Hasil CT SCAN Kepala :


Ischemic
2 Ds : Os mengatakan lemas dan Penyebab stroke Intoleran aktivitas
tidak bisa di gerakan di
bagian tangan dan kaki kanan Penurunan suplai
darah ke otak
Do : - Aktifitas pasien di bantu
oleh perawat dan keluarga Iskemik
- indeks barthel skor : 6
- Kekuatan otot Kerusakan
neurovaskuler
5 0
5 0

3 Ds: os mengelukan hanya bisa Penyebab stroke Gangguan


berbaring saja dan bisa integritas kulit
berubah posisi bila dibantu Iskemik (Resiko)
perawat
Kerusakan pusat
Do : - aktfitas dibantu pasien dan pergerakan
keluarga
- Indeks barthel skor : 6 Tirah baring lama
- Hemiparese sinistra
- Kemerahan daerah yang
tertekan
- Kekuatan otot
5 0
5 0

24
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d penyumbatan aliran darah di otak. ( aktual)
2. Gangguan intoleransi aktivitas b.d kerusakan neurovaskuler. (aktual )
3. Gangguan integritas kulit b.d tirah baring lama (resiko)

INTERVENSI

NO Diagnosa Tujuan/kriteria hasil Intervensi


keperawatan
1 Gangguan Setelah dilakukan tindakan keperawatan • Observasi
perfusi selama 3x24 jam perfusi jaringan TTV tiap 1
jaringan adekuat dengan kriteria hasil : jam
serebral b.d • Os mengatakan sudah tidak • Anjurkan
penyumbatan merasakan lemas lagi pasien untuk
aliran darah • Pusing berkurang bedrest
di otak. • TTV dalam batas normal • Elevasi kepala
30 derajat
• Lakukan tes
menelan
• Kolaborasi
dengan dokter
untuk
pemberian
obat
• Kolaborasi
untuk
pemberian
cairan
parenteral.

25
2 Gangguan Setelah dilakukan tindakan • Kaji kekuatan
intoleran keperawatan selama 3 x24 jam otot
aktivitas b.d tidak terjadi gangguan mobilitas • Anjurkan Os
kelemahan fisik dengan kriteria hasil : untuk
tubuh • Os mengatakan lemas berkurang menggerakan
• Kekuatan otot bertambah anggota tubuh
• Sebagian aktifitas bisa yg tidak lemas
dilakukan sendiri. • Ajarkan Os
untuk latihan
ROM pasif
dan aktif pada
hari ke 3
• Anjurkan Os
untuk rileks
• Klaborasi
dalam
fisioteraphy

3 Resiko Setelah dilakukan tindakan • Periksa kulit


Gangguan keperawatan selama 3 x24 jam sekitar apakah
integritas Integritas kulit adekuat adanya iritasi,
kulit b.d tirah kemerahan,
baring lama gatal
• Bantu dan
ajarkan orang
tua pasien
dalam
membersihakn
daerah
perianal
menggunakan
air hangat,
sabun.

26
• Anjurkan
untuk
mengganti
pampers/pakai
an
• Program
mika-miki per
2jam
• lakukan
massage pada
daerah
tertekan

IMPLEMENTASI

Tgl/jm Tindakan keperawatan Evaluasi Paraf


( SOAP )
17/11/18 Menerima pasien dari IGD TN E
Jm 20:30 dengan diagnosa hemiparise S : pasien mengatakn pusing Hotni
Sinistra e.c SNH dan lemas di bagian tangan
S : os mengatakan kaki dan dan kaki kiri
tangan kiri lemas, bicara pelo O : ku sedang kesadaran
O : ku sedang kesadaran composmentis terpasang infus
composmentis E4 M6 V5 NaCl 0,9%/12jm bicara pelo
Terpasang infus NaCl 0,9%/12jm tonus otot 55,00
Tidak terpasang alat bantu TD : 120/90 R : 20x/m
DC/NGT tonus otot 55,00 N : 86x/m S : 36
TD : 120/90 mmHg N :86x/m A : gangguan perfusi jaringan
CT-scan,thorax terlampir,hasil dan intoleran aktivitas belum
labolaturium terlampir.test teratasi.
menelan menggunakan sendok P : Pertahankan posisi elevasi
dan sedotan bagus,tidak ada batuk kepala 30 derajat

27
dan tersedak. -monitoring ttv
A : gangguan perfusi jaringan dan -ciptakan lingkungan yg
intoleran aktivitas belum teratasi. nyaman
P : monitoring ttv,elevasi kepala -bantu ADL
30 derajat,menganjurkan os untuk -periksa lipid profil
bedrest,bantu ADL

17/11/18 Operan sif siang ke sif malam


Jm 21:00 Observasi pasien ku sedang kes S : Os mengatakan Marlano
composmentis terpasang inf NaCl lemas,pusing berkurang
0,9%/12jm tonus otot 55,00 O : ku sedang kes
TD : 110/80 R : 20x/m composmentis E4 M6 V5
N : 55x/m S : 36,2 infus NaCl 0,9%/12jm
- ciptakan lingkungan yg aman -masih pelo
dan nyaman -tonus otot 55,00
-memberikan posisi nyaman -TD : 110/80 R : 20x/m
pasien elevasi kepala N : 55x/m S : 36,2
Melakukan mika miki per 2jam Dekubitus tidak ada
-mengobservasi cariran A : gangguan perfusi jaringan
infus,tetesan lancar,plebitis - , dan intoleran aktivitas belum
bengkak -, demam -, teratasi.
-menganjurkan os untuk rileks P : pertahankan elevasi kepala
istirahat. -monitoring ttv
-Os tampak istirahat tidur -ciptakan lingkungan yg
-mewashlap pasien menggunakan nyaman
sabun dan air hangat -latih rom pasif
-Mengganti pampers -bantu ADL
-melibatkan keluarga untuk -terapi lanjut
pemberian diit makan pasien.
Makan 1 porsi habis.
-memberikan terapi obat oral sesai
dengan Do.
-memberikan posisinyaman

28
pasien kmbali
-menganjurkan os u istirahat
kembali.
18/11/2018 Operan dengan sif malam ke sif
07:00 pagi S : Os mengatakn masih
Observasi pasien ku sedang kes lemas,pusing
composmentis E4 M6 V5 O : ku sedang kes Dian
terpasang infus NacL 0,9%/12jm composmentis terpasang infus
Tetesan lancar,plebitis -, bengkak NacL 0,9%/12jm
-, demam -.keluhan lemas,pusing. TD : 108/70 N : 52x/m
-memberikan posisi nyaman R : 19x/m S : 36,4
pasien elevasi kepala 30 derajat Dekubitus tidak ada
-observasi ttv A : ganguan perfusi jaringan
TD : 108/70 R : 19x/m dan intoleran aktivitas belum
S : 36,4 N : 52x/m teratasi
-ciptakan lingkungan yg aman dan P : monitoring ttv
nyaman -ajarkan ROM pasif
-Melakukan mika miki per 2jam - ciptakan lingkunan yg
-memberikan terapi injek sesuai nyaman
dengan DO - bantu ADL
-mengobservasi cariran -terai lanjut
infus,tetesan lancar,plebitis - ,
bengkak -, demam -,
-Memberikan diit makan sesuai
denganprogram
-memberikan posisinyaman
pasien kmbali
-menganjurkan os u istirahat
kembali.

29
18/11/2018
Jm 14:00 Observasi pasien ku sedang kes S : os mengatakan tangan dan Enik
E4 M6 V5 terpasang infus NacL kaki kiri masih lemas
0,9%/12jm pelo + ADL di O : ku sedang kes
bantu,tonus otot 55,00 composmentis E4 M6 V5 infus
-memberikan posisi nyaman NacL 0,9%/12jm tonus otot
pasien elevasi kepala 30 derajat 55,00, dekubitus tidak ada
-membantu kebutuhan pasien A : gangguan perfusi jaringan
-menciptakan lingkungan yang dan intoleran aktivitas belum
nyaman teratasi
Melakukan mika miki per 2jam P : elevasi kepala
-melibatkan keluarga dalam -monitoring ttv
pemberian diit makan Ajarkan ROM pasif
-memberikan therapi inj sesuai -bantu ADL
dengan Do. -ciptakan lingkungan yg
-Mengganti pampers dengan nyaman
pampers baru

18/11/2018 Mengobservasi ku pasien sedang S : os mengatakan tangan dan marlano


Jm :21:00 kes composmentis E4 M6 V5 kaki kiri masih lemas
infus Nacl o,9%/12jm O : ku sedang kes
Tetesan lancar,bengkak -, composmentis E4 M6 V5
demam - , keluhan lemas di Inf NacL 0,9%/12jm
bagian tangan dan kaki kiri, pelo Tonus otot 33,55, dekubitus
+,pusing +. tidak ada
-memberikan posisi nyaman TD : 110/80 N : 51x/m
pasien elevasi kepala. R : 18x/m S : 36,1
-melakukan mika miki per2jam A : gangguan perfusi jaringan
-mengobservasi ttv dan intoleran aktivitas belum

30
TD : 110/70 mmHg N : 52x/m teratasi
R : 19x/m S : 36,2 P : monitoring ttv
Memberikan terapi injek sesai -elevasi kepala
dengan Do. Terpacef 1x1gr -ajarkn ROM pasif
- mewashlap pasien -bantu ADL
menggunakan air hangat -terapi lanjut
-mengganti pampers
-melibatkan keluarga untuk
pemberian diit makan pasien.
-memberikan th obat oral sesuai
dengan,neulin ps 1x1, anemolat
1x500mg
-memberikan posisi nyaman
pasien
19/11/2018 Operan dinas malam, observasi
Jm : 07:00 pasien ku sedang kes S : Os mengatakan Tri
composmentis E4 M6 V5 lemas,pusing berkurang
terpasang infus NacL0,9%/12 jm O : ku sedang kes
tetesan lancar plebitis - , composmentis E4 M6 V5 infus
bengkak - , demam - ,keluhan NacL 0,9%/12jm tonus otot
lemas +,pusing berkurang. 55,00
-memberikan posisinyaman TD : 109/70 mmHg N :
pasien elevasi kepala 53x/m R : 20x/m S : 36,2
- TD : 109/70 N : 53x/m Dekubitus tidak ada
R : 20x/m S : 36,2 A : gangguan perfusi jaringan
-konsul dr jovil dan intoleran aktivitas belum
-memberikan therapy injek teratasi
sesuai do ranitidine inj 50mg P : monitoring ttv
(iv) -latih ROM pasif
-menganjurkan os untuk istirahat -elevasi kepala
tidur -bantu ADL
-mengobservas cairan -therapi lanjut
infus,tetesn lancar plebitis -,

31
bengkak -,demam -.
-os istirahat tidur
-membantu personal hygiene
pasien.
Melakuakn mika miki per2jam
-memberikan diit makan sesuai
dengan program
-Memberikan terapi oral sesuai
dengan Do
-memberikan posisi nyaman
pasien
19/11/2018 Observasi pasien ku sedang kes S : os mengatakan tangan dan Dian
14:00 E4 M6 V5 terpasang infus NacL kaki kiri masih lemas
0,9%/12jm pelo + ADL di O : ku sedang kes
bantu,tonus otot 55,00 composmentis E4 M6 V5 infus
-memberikan posisi nyaman NacL 0,9%/12jm tonus otot
pasien elevasi kepala 30 derajat 55,00, dekubitus tidak ada
-membantu kebutuhan pasien A : gangguan perfusi jaringan
-menciptakan lingkungan yang dan intoleran aktivitas belum
nyaman teratasi
-melibatkan keluarga dalam P : elevasi kepala
pemberian diit makan -monitoring ttv
-memberikan therapi inj sesuai Ajarkan ROM pasif
dengan Do. -bantu ADL
-mengajarkan kepada pasien -ciptakan lingkungan yg
untuk melakukan ROM pasif nyaman
Melakukan mika miki per2jam
- melakukan massage daerah
yang tertekan

19/11/2018 Mengobservasi ku pasien sedang S : os mengatakan tangan dan Marlano


21:00 kes composmentis E4 M6 V5 kaki kiri masih lemas
infus Nacl o,9%/12jm O : ku sedang kes

32
Tetesan lancar,bengkak -, composmentis E4 M6 V5
demam - , keluhan lemas di Inf NacL 0,9%/12jm
bagian tangan dan kaki kiri, pelo Tonus otot 33,55,dekubitus
+,pusing +. tidak ada
-memberikan posisi nyaman TD : 110/80 N : 51x/m
pasien elevasi kepala. R : 18x/m S : 36,1
-mengobservasi ttv A : gangguan perfusi jaringan
TD : 110/70 mmHg N : 52x/m dan intoleran aktivitas belum
R : 19x/m S : 36,2 teratasi
Memberikan terapi injek sesai P : monitoring ttv
dengan Do. Terpacef 1x1gr -elevasi kepala
- mewashlap pasien -ajarkn ROM pasif
menggunakan air hangat pakai -bantu ADL
sabun -terapi lanjut
Melakukan mika miki per2jam
-melibatkan keluarga untuk
pemberian diit makan pasien.
-memberikan th obat oral sesuai
dengan,neulin ps 1x1, anemolat
1x500mg
-memberikan posisi nyaman
pasien
Mengajarkan kepada pasien
untuk melakukan ROM Pasif

EVALUASI / CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal/jm Diagnosa Catatan paraf


perkembangan
20/11/18 Gangguan perfusi jaringan S : Os megatakan Enik
08:00 serebral b.d penyumbatan aliran lemas masih sedikit
darah di otak terasa, tangan dan
kaki belum bisa

33
digerakkan, tetapi
nyeri kepalanya
sudah mulai hilang.
O : K/u sedang, cm,
TD : 110/70 mmHg,
: 54 x/m, R : 20 x/m,
S : 36.0, tonus otot
55,00
A : gangguan
perfusi jaringan
resiko gangguan
integrtias kulit dan
intoleran aktivitas
belum teratasi
P :
-Monitoring ttv
-Elevasi kepala
-ciptakan lingkungan
yg nyaman

Intoleransi Aktivitas b.d S : Os belum bisa


kerusakan neurovaskuler melakukan aktifitas Enik
sediri, Os masih
memerlukan sedikit
bantuan
O : k.u sedang, kes :
cm
TD : 110/70 mmHg,
: 54 x/m, R : 20 x/m
A : gangguan pefusi
jaringan resiko
gangguan integritas

34
kulit dan intoleran
aktifitas belum
teratasi
P : latih ROM pasif
-bantu ADL
-kolaborasi dengan
fisioterapi

Resiko kerusakan integritas kulit S : Os belum bisa Enik


melakukan aktifitas
sediri, Os masih
memerlukan sedikit
bantuan
O : k.u sedang, kes :
cm tonus otot 55,00
Dekubitus tidak ada
TD : 110/70 mmHg,
: 54 x/m, R : 20 x/m
Tirah baring
A : gangguan pefusi
jaringan resiko
gangguan integritas
kulit dan intoleran
aktifitas belum
teratasi
P : anjurkan untuk
mengganti pampers
-mika miki per2jam
-melakukan masage
daerah yangtertekan

35
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Menurut WHO, stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas
selain vaskular. (Arif Muttaqin, 2008)
Stroke iskemik adalah stroke yang terjadi apabila salah satu cabang dari pembuluh
darah otak mengalami penyumbatan, sehingga bagian otak yang seharusnya mendapat suplai
darah dari cabang pembuluh darah tersebut, akan mati karena tidak mendapatkan suplai
oksigen dan aliran darah sebagaimana seharusnya
B. SARAN
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber –
sumber yang lebih banyak dan dapat dipertanggung jawabkan.

36
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marlynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta : Salemba Medika
Hubungan karakteristik penderita dan hipertensi dengan kejadian stroke iskemik diakses
tanggal 1 november 2017, http://media.neliti.com

37