Anda di halaman 1dari 11

Karya Ilmiah

“Limbah Jelantah sebagai Penerang Pengganti Lilin”

Disusun Oleh :
Kelas : XI IPA 1
Kelompok : 5
Nama : 1. Juni Akbar Saeni
2. Fahrunnisha
3. Fitri Handayani
4. Meyke Pracillia Utami Ahmad
5. Nurul Afipah

SMA Negeri 1 Wonomulyo


Tahun Ajaran 2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul
“Limbah Jelantah sebagai Penerang Pengganti Lilin”.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini masih
banyak kekurangan yang disebabkan oleh karena kurangnya pengetahuan penulis.
Namun berkat bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, sehingga karya tulis
ini dapat terselesaikan. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
karya tulis ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan
Yang Maha Esa.
Penulis sadar bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah ini masih belum
sempurna. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
positif supaya dalam pembuatan tugas seperti ini dapat lebih baik kedepannya.
Penulis berharap bahwa karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua
umumnya bagi pembaca.

Wonomulyo,23 April 2017

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar..............................................................................................i

Daftar Isi.......................................................................................................ii

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................1


1.2 Perumusan Masalah....................................................................1
1.3 Tujuan Penelitian........................................................................1

BAB 2 Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Minyak Jelantah........................................................2


2.2 Pengertian Lilin...........................................................................2
2.3 Bahaya Minyak Jelantah.............................................................2
2.4 Pemanfaatan Minyak Jelantah saat Lampu Padam.....................3

BAB 3 Metode Penelitian

BAB 4 Pembahasan

4.1 Bahan.........................................................................................5
4.2 Alat............................................................................................5
4.3 Penggunaan Alat dan Bahan......................................................5
4.3 Prosedur Pembuatan..................................................................5

BAB 5 Penutup

5.1 Kesimpulan................................................................................6
5.2 Saran..........................................................................................6

Daftar Pustaka.............................................................................................7

BAB 1
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Produksi minyak sawit setiap tahun menunjukkan kenaikan yang
sangat cepat. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen minyak
sawit terbesar di dunia. Lebih dari setengah produksi minyak sawit Indonesia
digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang banyak di dominasi
oleh industri minyak goreng.
Kebutuhan minyak goreng ini banyak dipakai baik untuk kebutuhan
industri pangan maupun industri rumah tangga. Seiring dengan besarnya
konsumsi dan pemakaian minyak goreng ini, maka keberadaan minyak goreng
bekas atau minyak jelantah menjadi melimpah.
Bila tidak digunakan kembali, minyak jelantah biasanya dibuang begitu
saja ke saluran pembuangan. Limbah yang terbuang ke pipa pembuangan
dapat menyumbat pipa pembuangan karena pada suhu rendah minyak maupun
lemak akan membeku dan mengganggu jalannya air pada saluran
pembuangan. Minyak ataupun lemak yang mencemari perairan juga dapat
mengganggu ekosistem perairan karena dapat menghalangi masuknya sinar
matahari yang sangat dibutuhkan oleh biota perairan. Oleh karena itu
diperlukan solusi untuk memanfaatkan limbah minyak goreng bekas, salah
satunya dapat dimanfaatkan sebagai pengganti lilin saat mati lampu.

1.2 Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, usaha kreatif sangat diperlukan untuk mengatasi
limbah minyak jelantah dari sisa-sisa industri makanan. Maka dapat
ditentukan rumusan masalahnya,yaitu:

1. Langkah apakah yang dapat ditempuh untuk mengatasi limbah


minyak jelantah?
2. Bagaimanakah cara pemanfaatan limbah minyak jelantah sebagai
pengganti lilin?
3. Apakah manfaat yang di dapat dari pemanfaaatan limbah minyak
jelantah?

1.3 Tujuan Penelitian


Pembuatan karya ilmiah ini bertujuan untuk :
1. Memanfaatkan limbah minyak jelantah dalam kehidupan sehari-hari.
2. Memodifikasi lampu yang bahan bakarnya dari limbah minyak
jelantah.

BAB 2
Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Minyak Jelantah

Minyak jelantah adalah minyak yang dihasilkan dari sisa penggorengan,


baik dari minyak kelapa maupun minyak sawit. Minyak jelantah dapat
menyebabkan minyak berasap atau berbusa pada saat penggorengan,
meninggalkan warna cokelat, serta flavor yang tidak disukai dari makanan yang
digoreng. Dengan meningkatnya produksi dan konsumsi minyak goreng,
ketersediaan minyak jelantah kian hari kian melimpah. Menurut data Departemen
Perindustrian (2005) produksi minyak goreng indonesia pada tahun 2005
meningkat hingga 11,6% atau sekitar 6,43 juta ton, sedangkan konsumsi per
kapita minyak goreng indonesia mencapai 16,5 kg per tahun dengan konsumsi per
kapita khusus untuk minyak goreng sawit sebesar 12,7 kg per tahun.

Sampai saat ini minyak jelantah belum bisa dimanfaatkan dengan baik dan
hanya dibuang sebagai limbah rumah tangga ataupun industri. Meningkatnya
produksi dan konsumsi nasional minyak goreng, akan berkorelasi dengan
ketersediaan minyak jelantah yang semakin meningkat pula. Oleh karena itu,
pemanfaatan minyak goreng bekas sebagai bahan baku biodiesel akan
memberikan nilai tambah bagi minyak jelantah.

2.2 Pengertian Lilin

Lilin adalah sumber penerangan yang terdiri dari sumbu yang diselimuti
oleh bahan bakar padat. Sebelum abad ke-19, bahan bakar yang digunakan
biasanya adalah lemak sapi (yang banyak mengandung asam stearat. Sekarang
yang biasanya digunakan adalah parafin.Dengan menyebarnya penerangan listrik,
saat ini lilin lebih banyak digunakan untuk keperluan lain, misalnya dalam
upacara agama, perayaan ulang tahun, pewangi ruangan, dan sebagainya.

2.3 Bahaya Minyak Jelantah

Umumnya, minyak goreng digunakan untuk menggoreng dengan suhu


minyak mencapai 200-300 °C. Pada suhu ini, ikatan rangkap pada asam lemak
tidak jenuh rusak, sehingga tinggal asam lemak jenuh saja. Risiko terhadap
meningkatnya kolesterol darah tentu menjadi semakin tinggi. Selain itu, vitamin
yang larut di dalamnya, seperti vitamin A, D, E, dan K ikut rusak. Kerusakan
minyak goreng terjadi atau berlangsung selama proses penggorengan, dan itu
mengakibatkan penurunan nilai gizi terhadap makanan yang digoreng. Minyak
goreng yang rusak akan menyebabkan tekstur, penampilan, cita rasa dan bau yang
kurang enak pada makanan. Dengan pemanasan minyak yang tinggi dan berulang-
ulang, juga dapat terbentuk akrolein, di mana akrolein adalah sejenis aldehida
yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan, membuat batuk konsumen
dan yang tak kalah bahaya adalah dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker
dalam hati dan pembengkakan organ, khususnya hati dan ginjal.

Selain itu, minyak jelantah juga disukai jamur aflatoksin sebagai tempat
berkembang biak. Jamur ini menghasilkan racun aflatoksin yang menyebabkan
berbagai penyakit, terutama hati/liver. Minyak Jelantah merupakan limbah dan
bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-
senyawa yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Jadi, jelas bahwa
pemakaian minyak jelantah dapat merusak kesehatan manusia. Menimbulkan
penyakit kanker, dan akibat selanjutnya dapat mengurangi kecerdasan generasi
berikutnya.

Jadi, penggunaan minyak jelantah secara berulang berbahaya bagi


kesehatan. Proses tersebut dapat membentuk radikal bebas dan senyawa toksik
yang bersifat racun. Pada minyak goreng merah, seperti minyak kelapa sawit,
kandungan karoten pada minyak tersebut menurun setelah penggorengan pertama.
Dan hampir semuanya hilang pada penggorengan keempat. Minyak jelantah
sebaiknya tidak digunakan lagi bila warnanya berubah menjadi gelap, sangat
kental, berbau tengik, dan berbusa.

2.4 Pemanfaatan Minyak Jelantah sebagai Pengganti Lilin Saat Lampu Padam

Lampu minyak tentu tidak asing lagi khususnya untuk daerah pedesaan.
Lampu minyak ini adalah lampu tradisional yang sudah digunakan manusia sejak
abad ke 18. Lampu ini adalah alternatif saat terjadi pemadaman listrik (mati
lampu). Di kalangan masyarakat Jawa lampu ini dinamai dengan lampu senthir
dan lampu teplok (ditempel di dinding).

Namun seiring dengan berkembangnya zaman, sebelum abad ke 19, orang


berhasil menciptakan lilin dari lemak sapi (yang banyak mengandung asam
stearat) yang dipadatkan dan diberi sumbu untuk penerangan. Sekarang orang
biasa membuat lilin dengan bahan bakar parafin.

Bagaimana jika listrik padam, sedangkan dirumah tidak ada lilin dan
lampu minyak? Pemanfaatanlimbah minyak jelantah bekas penggorengan bisa
dimanfaatkan sebagai penerangan pengganti lilin. Bagaimana caranya?

Pemanfaatan limbah minyak jelantah ini sangat mudah dan praktis. Cukup
dengan menyiapkan barang bekasnya seperti minyak jelantah, kaleng bekas, kapas
(potongan kain bekas).

BAB 3
Metode Peneltian

Kami melakukan 3 kali penelitian, yang pertama di sekolah, kemudian


penelitian kedua dan ketiga dirumah Juni Akbar Saeni.

Pada penelitian pertama pada tanggal 23 april 2017 di SMA negeri 1


wonomulyo, kami melakukan penelitian namun masih banyak terdapat
kekurangan. Di mulai dari alat dan bahan yang kurang lengkap, karena kami
hanya perlu meneliti dulu, apakah percobaan yang kami ambil berhasil atau tdk.

Pada penelitian kedua pada tanggal 26 april 2017 di rumah Juni Akbar
Saeni, kami mulai merakit penelitian kami dengan sebaik mungkin agar terdapat
juga nilai estetika di dalamnya. Namun saat itu, kami kekurangan kawat, sehingga
penelitian kami tertunda.

Dan akhirnya pada penelitian ketiga pada tanggal 28 april 2017 di rumah
Juni Akbar Saeni, kami mulai merakit kembali dan akhirnya, percobaan kami
telah cukup baik dari sebelumnya, selain dapat digunakan juga setidaknya terdapat
nilai estetika di dalamnya.

BAB 4
Pembahasan

4.1 Bahan

1. Minyak jelantah
2. Kapas
3. Kawat
4. Korek api

4.2 Alat

1. Wadah kecil atau yang serupa dengan mangkok

4.3 Penggunaan Alat dan Bahan

1. Minyak Jelantah : sebagai objek utama yang diteliti,bahan bakar untuk


penerang pengganti lilin.

2. kapas : sebagai sumbu untuk di nyalakan api.

3. kawat : sebagai penyangga sumbu.

4. Wadah : sebagai tempat objek utama.

5. Korek api: sebagai alat untuk menyalakan sumbu.

4.4 Prosedur Pembuatan

1. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.


2. Kemudian bentuk kawat untuk dudukan kapas agar posisi sumbu api
berada di tengah dan tidak membuat wadah yang digunakan menjadi
hitam.
3. Kemudian kapas di taruh pada kawat yang telah dibentuk tadi. Kemudian
kapas tersebut dilumuri minyak jelantah kecuali bagian atas sekitar 2 cm.
4. Masukkan minyak jelantah ke dalam wadah yang sudah disiapkan sekitar
setengah dari wadah.
5. Kemudian masukkan kapas ke dalam wadah yang telah diisi minyak
jelantah.
6. Bakar bagian atas kapas.

Hasil pengamatan
Dari ekperimen yang dilakukan ternyata kapas yang telah diberi minyak jelantang
ketika dibakar dapat menyala dan mampu menyerupai lilin. Bahkan lilin dari
minyak jelanta ini lebih tahan lama dari lilin yang ada pada umumnya. Jika
biasanya lilin menyala sekitar 1,5 jam. Namun, lilin dari minyak jelantah ini
mampu bertahan hingga 3 jam. Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan minyak
jelantah sebagai bahan bakar dua kali lebih lama daripada lilin.

BAB 5
Penutup

5.1 Kesimpulan

Dari penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan


bahwa langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi limbah jelantah adalah
dengan digunakan sebagai bahan bakar nabati untuk pembuatan lampu sederhana
pengganti lilin saat lampu padam.

Pembuatan lampu dari minyak jelantah ini dapat meningkatkan nilai guna
minyak jelantah, yang semula hanya sampah bisa di aplikasikan sebagai lampu
sederhana yang praktis.

Lampu nabati berbahan bakar minyak jelantah ini lebih ekonomis karena
untuk mendapatkan lampu ini tidak perlu mengeluarkan biaya. Pembuatan lampu
nabati ini hanya memanfaatkan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai
lagi. Lampu ini juga dapat menerangi dua kali lebih lama dari lilin, jadi dengan
pemanfaatan limbah jelantah sebagai lampu ini, dapat menghemat pengeluaran
dengan memanfaatkan limbah yang diaplikasikan secara mudah, praktis.

5.2 Saran

 Saran untuk peneliti


Diharapkan di masa yang akan datang dapat digunakan sebagai salah satu
media untuk penelitian selanjutnya.

 Saran untuk pemerintah


Perlunya pendekatan dengan pemerintah

 Saran untuk masyarakat


Sebaiknya masyarakat memanfaatkan pengaplikasian limbah minyak
jelantah ini dalam kehidupan sehari hari, karena banyak manfaat yang di
dapat serta bisa menambah nilai ekonomi limbah apabila lampu dari
minyak jelantah ini di modifikasi dan diperdagangkan.

Daftar Pustaka
Apriyatno, Veri. 2003. Lilin Berjuta Keunikan. Tangerang: PT Kawan Pustaka

Hambali, Erliza. 2007. Teknologi Bioenergi. Jagakarsa: PT AgroMedia Pustaka

Setiowati, Tetty. 2007. Biologi Interaktif. Jakarta: KDT

Sitepoe, Mangku. 2008. Coret-Coret Anak Desa Berprofesi Ganda. Jakarta: KPG