Anda di halaman 1dari 16

E DAFTAR ISI……………………………………………………………………………

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………………
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………
C. Tujuan Pembahasan………………………………………………………….
D. Sasaran Pembahasan……………………………………………………….
E. Lingkup Pembahasan………………………………………………………..

BAB II. KAJIAN TEORI


A. Defenisi Judul……………………………………………………………….
1. Pengertian Perencanaan Tapak……………………………………………….
2. Pengertian Objek Analisa……………………………………………………
3. Fungsi Objek Analisa………………………………………………………..
4. Metode Pembangunan Objek Analisa………………………………………….
5. Elemen – elemen Fisik Perancangan Objek Analisa…………………………

BAB III . STUDI DISKRIPSI KASUS


A. Objek Rancangan Tapak
1. Diskripsi Objek……………………………………………………………….
2. Kondisi Tapak………………………………………………………………..
3. Analisa Zoning Penempatan Objek……………………………………………

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Kesimpulan………………………………………………………………….
B. Saran………………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kota Cirebon merupakan daerah dataran rendah dengan garis pantai memanjang dari utara
hingga selatan sekitar 7 km. Perkembangan wilayahnya yang semakin pesat membuat rutinitas
sehari-hari masyarakatnya semakin padat. Peningkatan kesibukan dan kejenuhan masyarakat
terhadap rutinitasnya, mendorong keinginan untuk melakukan aktivitas diluar kebiasaan
semakin meningkat. Salah satu aktivitas yang mampu mengurangi tingkat kejenuhan ialah
dengan melakukan rekreasi. Menurut Avenzora (2008) rekreasi adalah suatu kegiatan yang
dilakukan di waktu luang dengan tujuan kembali kreatif.
Kota Cirebon memiliki garis pantai yang cukup panjang sehingga memiliki beberapa
lokasi yang sering dijadikan sebagai tempat untuk berwisata maupun berekreasi di tepi
pantainya. Diantaranya adalah Pantai Pelabuhan Pelelangan Ikan Kejawanan dan TAISN.
Potensi pesisir yang dimiliki Cirebon belum begitu dikembangkan terutama untuk kegiatan
pariwisata. Terlebih lagi potensi yang ada di TAISN. Taman ini awalnya merupakan tempat
hiburan dan rekreasi yang menyediakan fasilitas bermain untuk anak-anak, wisata pantai dan
sarana pendukung lainnya. Selain berfungsi sebagai sarana rekreasi, taman ini pun berfungsi
sebagai ruang terbuka hijau di Kota Cirebon.
Luas TAISN adalah sekitar 2.7 hektar dan terletak berdekatan dengan pelabuhan II Kota
Cirebon dan untuk proses perencanaan kawasan rekreasi luas yang digunakan adalah kurang
lebih 7 hektar dengan penambahan lahan milik pemerintah kota yang berada disamping tapak,
hal ini juga sesuai dengan rencana dari pemerintah Kota Cirebon.Oleh karena itu harus
dilakukannya perancangan tapak yang bertujuan agar tempat rekreasi tersebut bisa menarik
pengunjung.
Desain Tapak merupakan pembagian ruang pengelolaan pariwisata alam di zona
pemanfaatan dan zona perlindungan bahari yang diperuntukkan bagi pembagian ruang publik
dan ruang usaha. Penyusunan desain tapak pengelolaan pariwisata alam dapat dilakukan pada
lanskap kawasan yang memiliki penetapan zonasi, merupakan keterpaduan zona perlindungan
bahari dan zona pemanfaatan.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.48/Menhut-II/2010 pasal 3 Jo
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.04/Menhut-II/2011 tentang Pengusahaan Pariwisata
Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam,
usaha pariwisata alam direncanakan sesuai dengan desain tapak pengelolaan pariwisata alam
yang disusun oleh tim kerja yang dibentuk oleh Kepala UPT dan disahkan oleh Direktur
Teknis di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Penyusunan Desain
Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan
Raya dan Taman Wisata Alam berpedoman pada Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan
Hutan dan Konservasi Alam Nomor:P.3/IV-SET/2011 Tentang Pedoman Penyusunan Desain
Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan
Raya dan Taman Wisata Alam.
Desain tapak yang dihasilkan harus tetap memperhatikan kaidah, prinsip dan fungsi
konservasi alam di kawasan taman nasional.

Memperhatikan kondisi fisik, kondisi oseanografi (fisika dan kimia), kondisi biologi
(hayati dan non hayati), peninggalan sejarah, kondisi sosial ekonomi dan budaya, infrastruktur,
aksesibilitas, serta tata guna lahan disekitar tapak.
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara dalam proses perancangan tapak ?


2. Apa saja hal – hal yang harus diperhatikan dalam menganalisa tapak ?
3. Apa saja faktor pendukug potensi pada tapak ?
4. Bagaimana pembagian letak orientasi bangunan pada tapak ?

C. Tujuan Pembahasan
Tujuan yang diharapkan dalam proses pembelajaran perancangan tapak ini yaitu :
1. Menciptakan orientasi bangunan yang tepat pada tapak agar tapak dapat digunakan
semaksimal mungkin sebagai fungsinya yaitu tempat rekreasi.
2. Mengetahui cara menganalisa tapak pada TAMAN TAMAN ADE IRMA
SURYANI NASUTION
3. Mengetahui keadaan sekitar tapak yang dapat dijadikan potensi keramaian
4. Dapat menyesuaikan fungsi bangunan terhadap tapak

D. Sasaran Pembahasan
Guna mencapai tujuan dari perancangan tapak yang dilakukan pada sebuah
tempat wahana bvermain ( tempat rekreasi ) maka sasaran yang dicapai adalah
sebagai berikut:
1. Pemilihan lokasi yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan dan
perancangan “TAMAN TAMAN ADE IRMA SURYANI NASUTION.
2. Menentukan program-program ruang bangunan dan penataan kawasan yang
menunjang wisata pada tapak.
3. Mewujudkan konsep pendekatan arsitektur berkelanjutan dalam beberapa
desain bangunan terkait “TAMAN TAMAN ADE IRMA SURYANI
NASUTION” merupakan sebuah taman tempat rekreasi yang akan ramai
dikunjungi setiap saat.

E. LINGKUP PEMBAHASAN
Pembahasan masalah perencanaan dan perancangan tapak dilakukan
dengan memperhatikan gagasan tentang perencanaan, analisa dan konsep yang
akan diterapkan. Konsep tersebut meliputi konsep kawasan, konsep ruang
bangunan penunjang, arsitektural, utilitas dan lain sebagainya. Secara makro
pembahasan yang dilakukan berkaitan dengan penataan beberapa massa
bangunan pada tapak atau lokasi perencanaan kawasan wisata rekreasi
“TAMAN TAMAN ADE IRMA SURYANI NASUTION”.
BAB 2
KAJIAN TEORI

A. DEFINISI JUDUL

1. Pengertian perencanaan tapak

Perencanaan tapak ( site planning ) adalah seni menata lingkungan buatan manusia
dan lingkungan alam guna menunjang kegiatan – kegiatan manusia.
( Snyder dan Catanese,1984 : hal 181 )

Perencanaan tapak ( Site plan ) adalah seni menata lingkungan buatan manusia dan
lingkungan alamiah, guna menunjang kegiatan manusia. Pengkajian perencanaan tapak sering
tersusun dalam dua komponen yang berhubungan, yaitu factor lingkungan alam dan factor
lingkungan buatan manusia.
( Felicity Brogden, 1985 )

2. Pengertian objek analisa

 Objek Wisata
Menurut UU RI No 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, dinyatakan bahwa obyek dan
daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata baik itu pembangunan
obyek dan daya tarik wisata, yang dilakukan dengan cara mengusahakan, mengelola dan
membuat obyek-obyek baru sebagai obyek dan daya tarik wisata.
Menurut SK Menparpostel No. KM 98 PW. 102 MPPT –87 yaitu : “Objek wista adalah
suatu tempat atau keadaan alam yang memiliki sumber daya alam yang dibangun dan
dikembangkan sehingga mempunyai daya tarik yang diusahakan sebagai tempat yang
dikunjungi wisatawan”.

 Wahana
Wahana memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga wahana dapat
menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.(
Menurut KBBI)

 Bermain
Bermain adalah berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati (dengan alat tertentu atau
tidak). ( Menurut KBBI )
Diana Mutia (2010:151) mengatakan melalui bermain, dapat mengontrol motorik kasar.
Pada saat bermain itulah, mereka dapat mempraktikan semua gerakan motorik kasar seperti
berlari, melompat, meloncat dan gerakan yang lainnya dengan tujuan gerak-gerik mereka itu
meskipun tidak beraturan secara sistematis tetapi bermakna atau yang diinginkan tercapai
yaitu memfungsikan gerakan motorik kasarnya

 Objek Wisata Wahana Bermain


Objek wisata atau tempat yang menarik yang dijadikan tempat beraktifitas dengan
dilengkapi fasilitas pendukung guna menimbulkan sebuah hiburan pada setiap orang.
3. Fungsi objek Analisa
Fungsi objek adalah untuk tempat melakukan rekreasi baik secara individu
maupun sosial. Kegiatan rekreasi merupakan kegiatan yang bersifat sementara dan
dilakukan dengan senang hati oleh pelakunya diluar rutinitasnya yang bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan dan tidak untuk mencari nafkah. Kegiatan rekreasi bisa dilakukan
di dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Kegiatan rekreasi yang
termasuk rekreasi outdoor salah satunya adalah rekreasi perairan atau rekreasi tirta yang
bisa dilakukan di laut, sungai, danau, rawa, dan waduk (UU No 9 Tahun 1990 Tentang
Kepariwisataan).

4. Metode pembangunan objek analisa


Metode pembangunan diacukan pada tahapan perencanaan menurut Gold (1980) yaitu
mulai dari tahap persiapan, inventarisasi, analisis, sintesis, konsep dan perencanaan
lanskap.

 Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan ini adalah pengumpulan informasi
awal tapak untuk menetapkan tujuan, dan metode yang akan digunakan serta
pengurusan surat perijinan penelitian pada instansi pemerintah dan pihak-pihak terkait.

 Inventarisasi
Tahap inventarisasi merupakan tahap pengumpulan data dan informasi yang
berhubungan dengan keadaan tapak. Data yang dikumpulan pada tahap ini berupa data
primer yang didapat dari hasil wawancara dan pengamatan langsung pada tapak serta
data sekunder yang didapat dari studi pustaka dan data yang didapat dari instansi
terkait. Data yang diambil pada tahap ini adalah data dari aspek biofisik, dan aspek
wisata pada tapak serta aspek sosial yang didapat dari persepsi pengunjung dan
pengelola. Data-data tersebut didapat dari survei langsung ke tapak, wawancara dan
pengambilan dokumentasi. Untuk melengkapi data yang didapat, dilakukan pula studi
pustaka dari buku acuan, peta dan dokumen dari instansi terkait .

 Analisis
Analisis data dilakukan guna menentukan potensi dan kendala yang ada pada tapak,
mengetahui karakter tapak untuk pengembangan tapak sebagai kawasan rekreasi.
Metode yang digunakan ialah berupa analisis deskriptif dan spasial .Analisis spasial
dilakukan terhadap data fisik dan biofisik seperti kemiringan lahan, penutupan lahan,
peta aktivitas pengunjung. Analisis ini dilakukan dengan metode overlay. Hasil
overlay tersebut digunakan untuk membuat peta perencanaan. Dalam analisis
dilakukan skoring, untuk nilai skoring berkisar antara 1 sampai 3. Berdasarkan nilai
tersebut maka penentuan untuk kesesuaian lahan pada tapak terbagi menjadi 3 yaitu,
lahan dengan kelas yang sesuai nilainya 3, lahan dengan kelas yang cukup sesuai
nilainya 2 dan untuk lahan yang kelasnya tidak sesuai nilainya 1. Analisis secara
kuantitatif juga dilakukan untuk mengetahui daya dukung tapak yang akan
dikembangkan sebagai kawasan rekreasi.
5. Elemen – elemen fisik perancangan objek
Dalam perencanaan karakter sebuah kawasan baik itu dengan skala kota atau
kawasan, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas suasana kawasan tersebut,
bernilai jual dan khas, terdapat 5 elemen dalam pengembangan kawasan yang relevan
untuk diterapkan. Lima elemen tersebut adalah nodes, edges, paths, districts,
dan landmarks (Kevin Lynch, 1960).

Node adalah simpul dari path (jalur sirkulasi) yang diberikan sebuah penekanan untuk
meningkatkan pengenalan dan orientasi pada jalur sirkulasi tersebut. Terkadang
dalam tujuan tertentu node tersebut diberikan sentuhan elemen arsitektur yang
disebut sebagai landmark, yaitu sebuah bentuk fisik yang khas (mungkin
monumental) dan dapat menjadi acuan bagi pengguna kawasan
sehinggamemudahkan dalam orientasi serta turut membantu menciptakan
karakter sebuah kawasan, hal ini akan semakin tercapai jika elemen fisik
(arsitektur) tersebut mencerminkan nilai budayalokal kawasan tersebut, elemen
fisik ini dalam berupa bangunan atau ruang terbuka/lanskap (Salim, 1993; Lynch,
1960; Moughtinet, dkk, 1999).
Edge adalah sebuah batas maya yang membedakan kawasan satu dengan kawasan
lainnya, sebagai mana landmark, biasanya edge juga dibentuk dari arsitektur
bangunan dan atau lanskap, terutama jika jalur sirkulasinya tidak begitu jelas
dalam membentuk blok kawasan. Pada akhirnya berbagai elemen tersebut akan
ditentukan di dalam sebuah distrik atau kawasan tertentu yang menjadi objek
perencanaan dan perancangan
Path adalah jalur sirkulasi atau akses pergerakan pengguna kawasan dalam
melakukankegiatan, bentuk‐bentuk jalur ini dapat berupa jalan, trotoar, gang, atau
apapun yang sesuaidengan fungsi tersebut, keberadaan elemen‐elemen fisik
disepanjang jalur sirkulasi inimenciptakan ruang gerak yang berkarakter dan
khas.

Wilayah publik menjadi hal yang sangat tepat untuk diterapkan berbagai
konsep arsitektur dengan berbagai tujuannya. Secara umum, intervensi yang akan
dilakukan untuk meningkatkan kualitas ruang kawasan destinasi
adalahpada path (jalur sirkulasi/aksesibilitas) node dan landmark(bangunan dan atau
ruang terbuka publik dengan sejumlah program ruang), sedangkan untuk
meningkatkan kualitas danmengembangkan daya tarik, diterapkan beberapa
pengaturan terhadap bangunan atau area daya tarik wisata dan pembangunan
infrastruktur penunjang baru.
BAB 3
STUDI KASUS

A. OBJEK RANCANGAN TAPAK

1. Deskripsi objek
Objek analisa yang diambil adalah sebuah taman rekreasi tempat bermain yang berada
di kota Cirebon.Taman tersebut bernama TAMAN ADE IRMA SURYANI NASUTION.
 Kondisi Tapak Sejarah TAISN Kota Cirebon
Taman rekreasi yang ada di Kota Cirebon ini awalnya bernama Taman Traffic
Garden Cirebon, kemudian pada tahun 1966 berubah menjadi TAISN. Taman ini
merupakan satu-satunya taman rekreasi dan taman bermain di Kota Cirebon. Taman
Ade Irma Suryani berbatasan dengan pelabuhan Kota Cirebon. Pengelola TAISN saat
ini adalah Pemerintah Kota Cirebon. Sebelumnya pengelola TAISN sempat berganti
beberapa kali. TAISN sempat dikelola oleh pihak Bhayangkara dari kepolisian dan juga
pernah dikelola oleh pihak ketiga yaitu PT Citra Indah Loka. Setelah kontrak antara
pihak pemerintah kota dan pengelola pihak ketiga habis, pengelolaan TAISN beralih
kembali pada Pemerintah Kota Cirebon. Setelah pengelolaan dikembalikan pada
Pemerintah Kota Cirebon, keadaan TAISN semakin menjadi buruk. Kondisi tapak yang
tidak terurus dan bahkan sekarang hanya merupakan lahan terbengkalai yang didominasi
oleh semak belukar dan kadang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk memancing
maupun menikmati pemandangan.
 Deskripsi Umum Taman Ade Irma Suryani Nasution Kota Cirebon

TAISN Kota Cirebon memiliki luas sekitar 2.7 hektar dan untuk perencanaan area
rekreasi TAISN mengalami penambahan dari tanah Pemkot Cirebon menjadi sekitar 7
hektar. Batasan tapak yaitu:
- Sebelah Utara : Pelabuhan Cirebon
- Sebelah Selatan : Pemukiman nelayan
- Sebelah Barat : Bank Indonesia
- Sebelah Timur : Laut jawa
Berdasarkan perda Kota Cirebon No 8 Tahun 2012, Kecamatan Lemahwungkuk
merupakan kecamatan yang akan dikembangkan sebagai daerah pariwisata. Saat ini
TAISN hanya berupa lahan kosong tak terawat dengan pohon dan semak belukar.
Sebelumnya TAISN merupakan taman rekreasi tematik Kota Cirebon yang
memanfaatkan view ke arah laut lepas sebagai daya tariknya. Lokasinya yang di tepi laut
bisa dimanfaatkan tidak hanya sebagai area rekreasi namun juga sebagai area
konservasi. Pantai di TAISN merupakan pantai pasir berlumpur yang cocok untuk
ditanami dengan tanaman mangrove. TAISN merupakan area yang memiliki potensi
view yang cukup tinggi bisa diakses dengan mudah dari pusat Kota Cirebon. Lokasi ini
dapat ditempuh dengan mudah, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun
kendaraan umum.
1 2 3

10 9 8

Kondisi eksisting tapak


LEGENDA

1. Pintu masuk
2. Pohon sengon
3. Pohon mangrove
4. Pohon beringin
5. Kolam
6. Semak belukar
7. Pohon peneduh

Peta eksisting tapak

2. Kondisi Tapak

Aspek Fisik dan Biofisik

 Tata Guna Lahan


Berdasarkan Peta Tata Guna Lahan Eksisting RTRW Kota Cirebon tahun 2011-2013
,sebagian besar wilayah Kecamatan Lemahwungkuk digunakan untuk permukiman,
tambak dan pelabuhan. Penggunaan lahan di sekitar TAISN sendiri sebagian besar adalah
pemukiman nelayan serta perdagangan dan jasa.

LEGENDA

Peta Tata guna lahan sekitar tapak


 Topografi
Sebagian besar Kota Cirebon memiliki bentukan topografi yang landai yaitu
berkisar antara 0-200 mdpl, begitu pula dengan TAISN. Untuk mengetahui kesesuaian
tapak guna pengembangan kawasan rekreasi, dilakukan analisis topografi. Kesesuaian
kondisi kemiringan lahan pun perlu dianalisis untuk pengembangan ruang yang
mempengaruhi kegiatan rekreasi. Keadaan topografi yang relatif datar membuat TAISN
cocok untuk dijadikan sebagai ruang rekreasi yang memungkinkan adanya aktivitas
dalam pembangunan sarana dan prasarana untuk mengakomodasi kebutuhan
pengunjung dalam berekreasi. Keadaan topografi yang datar juga menjadikan kawasan
sesuai untuk ruang aktivitas rekreasi yang nyaman serta memungkinkan untuk
pembangunan sarana dan prasarana penunjang rekreasi yang dibutuhkan oleh
pengunjung.

Titik terendah pada tapak adalah 4.4 mdpl dan yang tertinggi adalah 6.4 mdpl.
Berdasarkan analisis kemiringan lahan, TAISN masuk dalam kelas datar dengan
persentase 0-8% sehingga TAISN bisa dikembangkan lebih lanjut untuk dijadikan sebagai
kawasan rekreasi. Kesesuaian lahan untuk rekreasi tepi pantai TAISN terbagi menjadi 3,
yaitu yang sesuai, cukup sesuai dan tidak sesuai untuk dikembangkan sebagai area
rekreasi. Kesesuaian ini didapatkan dengan mengacu pada kriteria kesesuaian wisata
pantai kategori rekreasi pesisir .

Peta Topografi TAISIN Kota Cirebon


Peta analisis kemiringan lereng

LEGENDA

Kesesuaian lahan untuk rekreasi tepi pantai


 Hidrologi
Kebutuhan air bersih di sekitar tapak adalah berasal dari PDAM Kota Cirebon. Di
dalam tapak terdapat tiga kolam yang airnya berasal dari air hujan. Keberadaan kolam
pada tapak sering dimanfaatkan oleh pengunjung untuk memancing.

Outlet dari ketiga kolam tersebut merupakan aliran terbuka yang langsung
menuju ke laut. Hal ini sedikit mengganggu aktivitas karena jaringan air yang ada kurang
bersih dan kurang terpelihara sehingga dapat menyebabkan bau tidak sedap. Oleh
karena itu, perlu adanya drainase yang baik, dan kesadaran serta kepedulian pengunjung
untuk menjaga kualitas air agar menjadi lebih baik.

Kedalaman air di pantai Kota Cirebon, sepanjang 7 km dari garis pantai adalah
berkisar antara 0-7 meter (DKP3 Kota Cirebon). Arus air di pantai Kota Cirebon pun hanya
berkisar antara 0-0.25 m/detik dan lebih dari 0.25 m/detik.

Berdasarkan kriteraia kesesuaian untuk rekreasi pesisir (Tabel 3) arus air antara 00.25
m/detik masuk ke dalam kategori sesuai dan cukup sesuai untuk kegiatan rekreasi,
karena arus air yang sesuai untuk rekreasi adalah antara 0-0.17 m/detik dan cukup sesuai
adalah antara 0.18-0.34 m/detik. Air pasang rata-rata di perairan Kota Cirebon adalah
0.89 meter dan air surut rata-rata adalah 0.06 meter.

Sebagian besar pantai Cirebon merupakan pelabuhan dan pantai dengan tipe
pasir berlumpur, hal ini masuk dalam kategori sesuai untuk rekreasi pantai (Tabel 3) yang
ditetapkan oleh DKP3 Kota Cirebon. Tipe pantai yang ada disekitar tapak bisa dibagi
menjadi tiga bagian yaitu bagian yang tertutupi oleh vegetasi, batuan dan karang serta
pasir berlumpur. Bagian tapak yang tertutup oleh vegetasi dan batuan serta karang
kurang sesuai untuk dikembangkan sebagai area rekreasi, namun hal tersebut tidak
menutup untuk menjadikan area tersebut sesuai untuk rekreasi karena pada area
tersebut bisa dikembangkan menjadi area rekreasi dengan aktivitas pasif. Sedangkan
untuk bagian tapak yang bertipe lumpur berpasir bisa dikembangkan sebagai area
rekreasi baik aktif maupun pasif.

Kolam yang ada di tapak


Aliran air yang langsung menuju laut

 Iklim
Iklim merupakan elemen fisik yang cukup penting dalam perencanaan lanskap yang
terdiriu dari suhu udara, kelembapan udara dan curah hujan. Data iklim BPS Kota Cirebon
menunjukkan bahwa suhu rata-rata di Kota Cirebon adalah 31.97oC pertahun. Suhu tertinggi
adalah 35.1oC dan suhu terendah adalah 29.8oC dengan kelembapan sekitar 79.25 % (Lampiran
6).

36
35 35,1
34,6
34
33,6
33 33,2
32 32,1
31 31,3 31,15 31,3
30,7 30,7
30 30,2
29,8
29
28
27
jan feb mar apr mei jun jul ags sep okt nop des

Sumber: BPS Kota Cirebon 2013


Grafik suhu rata-rata Kecamatan Lemahwungkuk

Kondisi tapak yang berada di tepi laut membuatnya memiliki intensitas kecepatan angin lebih
besar dibandingkan dengan kawasan lainnya yang jauh dari laut. Kondisi iklim pada tapak
sangat mempengaruhi kenyamanan dari pengguna. Suhu rata-rata untuk tingkat kenyamanan
manusia adalah berkisar antara 27-28oC dengan kelembapan berkisar antara 40-75 % (Laurie
1975). Tingkat kenyamanan pengguna pada tapak bisa dihitung dengan menggunakan THI
(thermal humanity index). Dari perhitungan tersebut didapatkan THI di tapak adalah sebesar
30.5.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa kondisi tapak kurang nyaman untuk pengunjung
karena nilai THI yang didapat melebihi nilai kenyamanan THI. Untuk mengatasi hal
tersebut, terutama pada saat suhu tinggi (siang hari) perlu adanya modifikasi iklim mikro
pada tapak. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menambahkan vegetasi, tenda kanopi.

Sumber: google.com

Kanopi untuk memodifikasi iklim mikro

Sumber: Brooks 1988

Pengaruh vegetasi terhadap perubahan suhu

Selain kanopi, angin juga dapat dimanfaatkan untuk merubah kelembaban dan suhu
tapak, yaitu dengan menggunakan vegetasi yang disusun mengikuti atau tidak
memotong arah angin (Brooks 1988). Hal ini disebabkan oleh adanya evaporasi dan
penutupan dari kanopi vegetasi. Suhu dibawah kanopi pohon ketika siang hari akan lebih
sejuk sebaliknya jika malam hari akan lebih terasa hangat.

 Vegetasi
Vegetasi dan satwa merupakan elemen pada suatu lanskap, terutama pada
lanskap alami. Keduanya merupakan elemen yang dinamis karena tumbuh dan
berkembang sejalan dengan waktu. Vegetasi yang ada pada tapak umumnya adalah
vegetasi yang mampu hidup di daerah pantai seperti pohon waru, mangrove dan lainnya.
Sedangkan untuk satwa, umumnya yang sering terlihat adalah burung yang terbang
disekitar kumpulan ekosistem mangrove.
 Visual
Secara umum, view pada tapak yang merupakan dataran rendah sebagian besar adalah
berupa pantai. Analisis visual pada tapak dilakukan untuk mendapatkan good view dan bad
view yang menjadi acuan untuk menentukan view terbaik dari tapak.

View terbaik tapak adalah view ke arah laut sedangkan bad view pada tapak terlihat pada
kolam melingkar yang dipenuhi oleh semak belukar, tumpukan sampah yang berada diantara
pohon mangrove. Di bagian luar TAISN, banyak berdiri bangunan peninggalan jaman Belanda
yang ikut menjadi view yang menarik untuk mendukung elemen pembentuk lanskap di luar
tapak .

LEGENDA

Peta analisis visual

LEGENDA
Peta penutupan lahan

3. Analisa Zoning

 Aksesibilitas
Aksesibilitas menuju tapak cukup mudah, dapat dilakukan dari 2 jalur utama yaitu
dari Kabupaten Cirebon dan dari dalam Kota Cirebon itu sendiri, baik itu menggunakan
kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Kondisi jalan untuk menuju ke TAISN Kota
Cirebon sangat baik dengan topografi yang datar dan sudah teraspal dengan baik.
(Gambar 20). Lokasi tapak mudah dijangkau oleh kendaraan baik dengan menggunakan
kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Akses menuju tapak memerlukan waktu
10-11 menit jika ditempuh dari:
- Terminal Kota Cirebon : ± 5.9 km atau sekitar 11 menit
- Stasiun Kejaksan Kota Cirebon : ± 4.7 km atau sekitar 10 menit
- Grage/Pusat Kota : ± 4.5 km atau sekitar 10 menit

LEGENDA

Aksesbilitas menuju tapak