Anda di halaman 1dari 30

40

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian Quasy Eksperimen.

Rancangan penelitian ini menggunakan model Randomized Control Group

Only Design. Dalam merancang penelitian ini sekelompok subyek yang

diambil dari populasi tertentu dikelompokkan secara acak menjadi dua

kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Untuk

kelompok eksperimen dikenai variabel perlakuan tertentu lalu kedua

kelompok itu dikenai pengukuran yang sama. Perbedaan yang timbul

dianggap bersumber pada variabel perlakuan. Bagan rancangan penelitian ini

dapat dilihat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian


Kelas Treatment Posttest
Eksperimen X T
Kontrol Y T
(Sumber : Suryabrata, 2006: 104)

Keterangan :

X : Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen, yaitu pembelajaran


Inkuiri Berbasis Fenomena Alam.
Y : Perlakuan yang diberikan pada kelas kontrol, yaitu pembelajaran
Konvensional.
T : Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

40
41

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Arikunto (2006: 130) mengatakan bahwa Populasi adalah

keseluruhan subjek penelitian. Adapun yang menjadi populasi pada

penelitian ini adalah semua kelas XI MIA di SMA Negeri 1 Padang yang

terdaftar pada tahun 2014/2015 dengan gambaran seperti tabel 3.2.

Table 3.2 Distribusi Jumlah Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 1 Padang
Tahun Ajaran 2014/2015
No Kelas Jumlah Siswa
1 XI MIA1 31 Orang
2 XI MIA2 32 Orang
3 XI MIA3 32 Orang
4 XI MIA4 32 Orang
5 XI MIA5 31 Orang
6 XI MIA6 32 Orang
7 XI MIA7 32 Orang
Jumlah Siswa 222 Orang
(Sumber : Tata Usaha SMA Negeri 1 Padang)

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti untuk

memperoleh data yang dibutuhkan. Sudjana (2005: 6) mengatakan bahwa

"adapun sebagian yang diambil dari populasi disebut sampel". Sampel

yang dipilih dalam penelitian haruslah representatif yang

menggambarkan keseluruhan karakteristik dari suatu populasi tersebut.

Untuk sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas yaitu kelas

eksperimen dan kelas kontrol yang diambil secara cluster random


42

sampling, setelah dilakukan uji normalitas populasi dan homogenitas

populasi.

Dalam pengambilan sampel, peneliti melakukan langkah-

langkah sebagai berikut:

a. Mengumpulkan nilai Ujian Tengah Semester (UTS) genap seluruh

siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Padang tahun ajaran 2014/2015,

kemudian menghitung untuk menentukan nilai rata-rata dan

simpangan bakunya. (Lampiran 1)

b. Menganalisis nilai Ujian Tengah Semester (UTS) genap tersebut

dengan melakukan uji normalitas. Uji normalitas populasi bertujuan

untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal atau tidak. Uji

normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Lilliefors (Sudjana,

2005: 466) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Data X1, X2, X3,…, Xn yang diperoleh dari data yang terkecil

hingga yang terbesar.

2) Data X1, X2, X3,…, Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3,…, Zi

dengan rumus:

Xi  X
Zi =
s .......................................................................... (3.1)

Keterangan : X i = Skor yang diperoleh siswa ke-1

X = Skor rata-rata

s = Simpangan baku
43

3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian

dihitung peluang F(Z ≤ Zi).

4) Dengan menggunakan proporsi Z1, Z2, Z3,…, Zn yang lebih kecil

atau sama dengan Z1, jika proporsi dinyatakan dengan S (Z1)

maka:

BanyaknyaZ , Z 2 , Z 3 ,..., Z n yang  Z t


S Zi   .................... (3.2)
N

5) Menghitung selisih F(Z1)-S(Z1) yang kemudian tentukan harga

mutlaknya.

6) Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih,

disebut L0.

7) Membandingkan nilai L0 dengan nilai Ltabel yang terdapat pada

0,886
α = 0,05. Dimana Ltabel =  Kriteria yaitu hipotesis
n

tersebut normal jika Lo lebih kecil dari Ltabel .

Harga mutlak terbesar dinyatakan dengan L0. Untuk

menolak atau menerima hipotesis nol di bandingkan antara L0

dengan nilai kritis L pada uji Liliefort. Kriteria pengujiaanya:

Jika Lo < Ltabel berarti data sampel berdistribusi normal

Jika Lo > Ltabel berarti data sampel tidak berdistribusi normal.

Dengan, L0 = Nilai mutlak terbesar pada hasil perhitungan F(zi)-

S(zi). (Lampiran 2)
44

c. Menganalisis nilai Ujian Tengah Semester (UTS) genap tersebut

dengan melakukan uji homogenitas. Uji homogenitas variansi ini

bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok data mempunyai

variansi yang homogen atau tidak. Untuk menguji kesamaan variansi

digunakan uji Bartlett. Untuk menguji homogenitas variansi ini

digunakan langkah-langkah seperti yang dikemukakan Sudjana

(2005: 203) sebagai berikut:

1) Menghitung variansi masing-masing sampel dengan rumus:

𝑛∑𝑓𝑖𝑥𝑖 2 −(𝑓𝑖𝑥𝑖)2
𝑠2 = ........................................................ (3.3)
𝑛(𝑛−1)

2) Menghitung variansi gabungan dari semua kelompok sampel

dengan rumus:

∑(𝑛𝑖−1)𝑠 2
𝑆2 = .................................................................. (3.4)
∑(𝑛𝑖−1)

3) Menghitung harga satuan Bartlett

 
B  log s 2 ni  1 ............................................................ (3.5)

4) Menghitung harga Chi-kuadrat (  2 )

 
 2  ln 10 B  ni  1log Si 2 , dengan ln 10  2,303
.......... (3.6)

5) Gunakan tabel  untuk   0,05 dengan taraf nyata = 95 %.


2

Setelah dilakukan pengujian diperoleh  hitung


2
dan  tabel
2
,

apabila  2 hitung   2 tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa

semua populasi mempunyai variansi yang homogen pada taraf

kepercayaan 95%. (Lampiran 3)


45

d. Menganalisis nilai Ujian Tengah Semester (UTS) genap tersebut

dengan melakukan uji kesamaan rata-rata. Uji kesamaan rata-rata

digunakan untuk menentukan apakah seluruh kelas populasi

memiliki kemampuan yang setara atau tidak. Uji ini dilakukan

dengan uji variansi satu arah. Dengan langkah-lagkah sebagai

berikut :

1) Membuat tabel analisis

Sumber Variansi Dk JK KT F
𝑅𝑦
𝑅=
Rata-rata 1 Ry 1

𝐴𝑦
𝐴= 𝐴
Antar kelompok k–1 Ay (𝑘 − 1)
𝐷

𝐷𝑦
Dalam 𝐷=
∑(ni-1) Dy Σ(𝑛𝑖 − 1)
kelompok

Total ∑ni ∑Y2

2) Mencari nilai Ry dengan rumus:

𝐽2
𝑅𝑦 = ............................................................................. (3.7)
Σ𝑛𝑖

3) Mencari nilai Ay dengan rumus:

(𝐽𝑖 2 )
𝐴𝑦 = Σ (𝑛𝑖 )
− 𝑅𝑦 ............................................................ (3.8)

4) Mencari nilai ∑y2 dengan rumus:

∑Y2 = jumlah kuadrat-kuadrat (JK) dari semua nilai pengamat.


46

5) Mencari nilai Dy dengan rumus:

𝐷𝑦 = Σ𝑌 2 − 𝑅𝑦 − 𝐴𝑦 .......................................................... (3.9)

6) Mencari nilai R dengan rumus:

𝑅𝑦
𝑅= .............................................................................. (3.10)
1

7) Mencari nilai A dengan rumus:

𝐴𝑦
𝐴 = (𝑘−1) ......................................................................... (3.11)

8) Mencari nilai D dengan rumus:

𝑅𝑦
𝐷= ..................................................................... (3.12)
Σ(𝑛𝑖 −1)

9) Mencari nilai Fhitung dengan rumus:

𝐴
𝐹= ................................................................................ (3.13)
𝐷

10) Membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel pada taraf nyata α =

0,05, jika Fhitung < Ftabel maka populasi mempunyai rata-rata yang

sama, dan begitu sebaliknya. (lampiran 4)

e. Penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam penelitian ini

dilakukan secara acak atau random dengan menggunakan lotting dari

kelima kelas yang normal dan homogen. Sehingga terpilih satu kelas

sebagai kelas eksperimen (XI MIA 1) dan satu kelas lagi kelas

kontrol (XI MIA 3).


47

C. Variabel dan Data Penelitian

1. Variabel

a. Variabel bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah strategi pembelajaran

Inkuiri Berbasis Fenomena Alam.

b. Variabel terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar Fisika siswa

yang diperoleh dari tes setelah diberi perlakuan.

c. Variabel kontrol

Pada penelitian ini yang menjadi variabel kontrol yaitu guru, mata

pelajaran, materi pembelajaran.

2. Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas:

a. Data primer, yaitu data yang langsung peneliti peroleh berdasarkan

hasil belajar Fisika siswa yang diajar dengan metode Inkuiri Berbasis

Fenomena Alam.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari orang lain. Dalam hal

ini data sekunder adalah nilai Ujian Tengah Semester (UTS) genap

mata pelalajaran Fisika tahun ajaran 2014/2015, yang diperoleh dari

guru bidang studi Fisika.


48

D. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang akan dilakukan dapat dibagi menjadi tiga

tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan akhir (evaluasi).

1. Tahap Persiapan

a. Melakukan observasi ke sekolah yang akan dijadikan tempat

penelitian.

b. Menentukan populasi dan sampel.

c. Menentukan materi pembelajaran.

d. Mempersiapkan rencana pelakasanaan pembejaran (RPP) sebagai

pedoman dalam proses pengajaran. (Lampiran 7)

e. Mempersiapkan soal tes akhir belajar yang akan diberikan kepada

siswa pada akhir pembelajaran. (Lampiran 13)

2. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan pada kedua

kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.

No Kelas Eksperimen Kelas Kontrol


A Kegiatan Pendahuluan (20 Menit)
1. Guru memasuki ruangan kelas 1. Guru memasuki ruangan kelas dan
dan mengucapkan salam mengucapkan salam
2. Guru memeriksa kehadiran dan 2. Guru memeriksa kehadiran dan
kesiapan siswa dalam belajar, kesiapan siswa dalam belajar,
setelah membuka pembelajaran setelah membuka pembelajaran
dengan mengucapkan basmallah dengan mengucapkan basmallah
dan berdo’a bersama. dan berdo’a bersama.
3. Guru memberikan apersepsi, 3. Guru memberikan apersepsi,
motivasi dan menyampaikan motivasi dan menyampaikan tujuan
tujuan pembelajaran. pembelajaran.
4. Guru menjelaskan cara
pembelajaran dengan strategi
inkuiri.
5. Guru membagi siswa kedalam
49

beberapa kelompok kecil.


B Kegiatan Inti (140 menit)
Mengamati (10 Menit) Mengamati (10 Menit)
1. Guru meminta setiap kelompok 1. Guru mendemonstrasikan serta
siswa untuk mengamati sebuah memperagakan materi yang
fenomena alam yang berkaitan dipelajari dan siswa
dengan materi yang dipelajari mengamatinya.
melalui sebuah video/animasi
pembelajaran.
(Orientasi)

Menanya (20 Menit) Menanya (20 Menit)


1. Guru bertanya kepada setiap 1. Guru bertanya kepada setiap siswa
kelompok siswa seputar seputar materi yaang telah
fenomena alam yang telah didemonstrasikan/ diperagakan
diamati sebelumnya. sebelumnya.
(Rumusan Masalah)
2. Masing-masing kelompok siswa
merumuskan jawaban sementara
dari permasalahan yang dikaji.
(Mengajukan Hipotesis)

Mencoba (70 Menit) Mencoba (70 Menit)


1. Kelompok siswa menyiapkan 1. Siswa melakukan percobaan seperti
alat, bahan dan media yang diperagakan oleh guru.
pembelajaran untuk menyelidiki
permasalahan tersebut.
2. Kelompok siswa menyusun
prosedur penyelidikan, pada
tahap ini guru memberikan
kebebasan secara penuh kepada
siswa untuk belajar mandiri.
3. Kelompok siswa melakukan
percobaan dan berdiskusi untuk
menemukan bukti dan
kebenaran hipotesis yang
mereka ajukan sebelumnya.
(Mengumpulkan Data dan
Menguji Hipotesis)

Mengasosiasi (20 Menit) Mengasosiasi (20 Menit)


1. Siswa membuat laporan dari 1. Siswa menganalisis percobaan
hasil penemuan dan diskusinya yang dilakukan dan mengaitkannya
yang berkaitan dengan konsep dengan materi yang dipelajari.
materi yang dipelajari.
50

Mengkomunikasikan (20 Menit) Mengkomunikasikan (10 Menit)


1. Kelompok siswa merumuskan 1. Siswa diminta untuk
kesimpulan berdasarkan menyimpulkan hasil analisisnya.
pengamatan, percobaan dan 2. Kemudian salah satu siswa diminta
diskusi yang mereka lakukan. untuk melaporkan hasil analisisnya
Selanjutnya guru di depan kelas.
mengklarifikasi dan memberi
penegasan.
2. Siswa melaporkan jawaban
dalam bentuk tulisan, lisan atau
karya tulis lain, selanjutnya
disampaikan kepada teman di
depan kelas.
(Merumuskan Kesimpulan).
C Kegiatan Penutup (20 Menit)
1. Guru membimbing siswa 1. Guru membimbing siswa menarik
menarik kesimpulan dari materi kesimpulan dari materi yang telah
yang telah disampaikan. disampaikan
2. Guru memberikan tugas rumah 2. Guru memberikan tugas rumah
kepada siswa. kepada siswa.
3. Guru mengakhiri pembelajaran 3. Guru mengakhiri pembelajaran
dengan mengucapkan dengan mengucapkan hamdalah.
hamdalah.

3. Tahap Akhir

Pada tahap akhir ini guru memberikan test pada kedua kelas

sampel setelah pokok materi selesai diberikan. Tes yang diberikan berupa

tes objektif (pilihan ganda), tes afektif dan psikomotor (observasi).

Setelah peneliti mengumpulkan data dan informasi yang telah dilakukan,

kegiatan selanjutnya yaitu pengolahan dan analisis data atau informasi,

membahas hasil pengolahan dan analisis data, dan yang terakhir adalah

penarikan kesimpulan.
51

E. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diambil untuk penelitian ini adalah hasil belajar

kognitif, afektif dan psikomotor. Data hasil belajar kognitif diambil

dalam bentuk ujian tertulis di akhir pembelajaran dan data hasil afektif

serta psikomotor diambil melalui format penilaian aspek afektif dan

psikomotor selama pembelajaran berlangsung.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian dilakukan untuk melihat dan mengetahui

validitas, indeks kesukaran dan cakupan soal serta tingkat

kepercayaannya hasil belajar pada aspek kognitif. Sedangkan penelitian

hasil belajar aspek afektif dan psikomotor dilakukan menggunakan

lembar observasi yang digunakan untuk mengetahui sikap siswa selama

proses pembelajaran berlangsung.

a. Aspek kognitif

Instrumen penilaian ranah kognitf berupa item soal

berbentuk objektif dengan empat opsi yang dilaksanakan diakhir

penelitian. Untuk mendapatkan tes yang baik, maka dilakukan

langkah-langkah sebagai berikut :

1) Membuat kisi-kisi soal tes

Kisi-kisi tes hasil belajar merupakan rencana konkrit

yang dipersiapkan sebagai petunjuk arah pengembangan tes

sesuai dengan tujuan penelitian. Kisi-kisi soal tes ini dapat


52

memberikan pedoman dalam artian memberikan informasi

tentang pokok-pokok bahasan materi ajar atau tingkat

kemampuan atau keterampilan yang akan diteskan. Sehingga

pilihan contoh butir soal dapat mewakili keseluruhan materi ajar.

(Lampiran 8)

2) Menyusun butir soal

Butir soal disusun dalam bentuk tes akhir yang akan

diujikan. Penyusunan soal tes dilakukan berdasarkan kisi-kisi

yang telah disusun dan disesuaikan dengan indikator. (Lampiran

9)

3) Validitas Tes

Tes dikatakan baik bilamana tes tersebut memiliki ciri

sebagai alat ukur yang baik. Menurut Arikunto (2012: 82)

menjelaskan: Suatu tes dikatakan memiliki validitas jika

hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki

kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Jadi

sebuah tes itu dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa

yang hendak diukur. Jadi jika tes tersebut adalah tes pencapaian

hasil belajar maka hasil tes tersebut apabila diinterpretasikan

secaraintensif, hasil yang dicapai memangvbenar menunjukkan

ranah evaluasi pencapaian hasil belajar. Validitas tes dapat

diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Hal


53

yang pertama akan diperoleh validitas logis dan hal yang kedua

diperoleh validitas empiris.

Surapranata (2009) menjelaskan bahwa validitas

sebuah tes selalu dibedakan menjadi dua macam, yaitu validitas

logis dan validitas empiris. Validitas logis sama dengan analisis

kualitatif terhadap suatu soal berdasarkan kriteria yang telah

ditentukan, yang dalam hal ini adalah kriteria materi, konstruksi

dan bahasa.

Mengetahui kualitas validitasnya dapat dilakukan

dengan 2 cara yaitu :

a) Dari segi penyusunannya telah dipertimbangkan secara

rasional atau logis bahwa tes tersebut dapat mengukur apa

akan diukur.

b) Validitas tes juga dapat dicapai dengan jalan

membandingkan hasil pengukuran dari tes-tes yang lain,

baik yang berasal dari guru lain ataupun dengan tes yang

sudah diketahui valid.

Membuat sebuah tes yang valid, maka rancangan tes

akhir dibuat sesuai dengan garis-garis besar program

pembelajaran fisika dan diperiksa oleh guru fisika.

Selain memperoleh validitas logis, peneliti juga

menguji validitas instrumen yang sudah disusun melalui

pengalaman, sehingga akan diketahui tingkat validitas


54

empirisnya. Validitas empiris sama dengan analisis kuantitatif

terhadap suatu instrumen, dan dapat diperoleh dengan uji coba

instrumen. Apabila data yang didapat dari uji coba ini sesuai

dengan yang seharusnya, maka berarti instrumen sudah valid.

Untuk mengetahui ketepatan data ini diperlukan teknik uji

validitas, yakni teknik korelasi product moment yang

dikemukakan oleh Pearson.

𝑁 ∑(𝑋𝑌)−(∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
𝑟𝑥𝑦 = .......................... (3.14)
√{𝑁 ∑ 𝑋 2 −(∑ 𝑋)2 }{𝑁 ∑ 𝑌 2 −(∑ 𝑌)2 }

Dimana : rxy = koefisien korelasi suatu butir item


N = Jumlah siswa
X = Skor suatu butir/item
Y = Skor total (Arikunto, 2012: 92)

Penafsiran validitas berdasarkan harga koefisien

korelasi ada dua cara, yaitu:

a) Mengklasifikasikan validitasnya sesuai dengan harga r

koefisien korelasi dengan kategori sebagai berikut:

Tabel 3.3 Klasifikasi Validitas Soal


No Angka Korelasi Makna
1. 0,8 – 1,0 Sangat Tinggi
2. 0,6 – 0,8 Tinggi
3. 0,4 – 0,6 Cukup
4. 0,2 – 0,4 Rendah
5. 0,0 – 2,0 Sangat Rendah
(Sumber : Surapranata, 2009 : 59)
55

b) Melihat tabel harga kritik r product moment Pearson. Jika

harga rhitung lebih kecil dari harga rtabel , maka korelasi antara

item soal dan skor total tidak signifikan (dinyatakan tidak

valid), begitu pula sebaliknya. (Lampiran 25)

4) Melaksanakan Uji Coba Tes

Uji coba tes dilakukan agar soal yang disusun itu

memiliki kriteria soal yang baik. Kemudian soal tersebut

dianalisis untuk mendapatkan soal mana yang memenuhi kriteria

soal yang baik. Dalam penelitian ini penulis melakukan uji coba

soal di Kelas XI MIA 1 SMA Negeri 3 Padang, karena kelas

yang diuji cobakan soal tersebut mempunyai kemampuan yang

sama dengan kelas sampel penelitian dan kelas yang diuji

cobakan soal telah mempelajarai materi tentang Teori Kinetik

Gas dan Global Warming. (Lampiran 28)

5) Analisis Item Indeks Kesukaran Soal (P)

Menurut Arikunto (2012: 222), indeks kesukaran

adalah angka yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu

soal. Indeks kesukaran diberi simbol P, singkatan dari ”proporsi”

(Lampiran 10). Untuk mengetahui indeks kesukaran suatu soal

dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

B
P
JS .............................................................................. (3.15)
56

Keterangan:
P = Indeks kesukaran tiap soal
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes

Tabel 3.4 Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal


No Indeks kesukaran klasifikasi
1 0,00 - 0,30 Sukar
2 0,31 - 0,70 Sedang
3 0,71 - 1,00 Mudah
(Sumber : Arikunto, 2008 : 225)

6) Anlisis Item Daya Beda Soal (D)

Daya beda adalah angka yang menunjukkan apakah

suatu soal tes dapat membedakan siswa yang pandai dan yang

kurang pandai (Arikunto, 2012: 226). Indeks kesukaran diberi

simbol D, singkatan dari ”diskriminasi”. Tahapan pertama dalam

menghitung daya beda adalah menentukan kelompok atas, yaitu

kelompok siswa yang berkemampuan tinggi, dan kelompok

bawah, yakni kelompok siswa yang berkemampuan rendah.

Umumnya, para ahli tes membagi kelompok ini menjadi 27%

atau 33,33% kelompok atas dan 27% atau 33,33% kelompok

bawah (Sanupranata, 2009: 24). (Lampiran 10)

Prosedur untuk mencari D sama seperti mencari P

hanya rumus yang dipakai adalah

BA BB
D   PA  PB ...................................................... (3.16)
J A JB
57

Keterangan:
D = Indeks Beda
BA = Jumlah siswa yang termasuk 27% - 33,3% kelompok
atas
BB = Jumlah siswa yang termasuk 27% - 33,3% kelompok
bawah
JA = Banyaknya siswa kelompok atas
JB = Banyaknya siswa kelompok bawah

Tabel 3.5 Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal


No Indeks Daya Beda Klasifikasi
1. Minus Tidak baik
2. 0,00 – 0,20 Jelek
3. 0,21 – 0,40 Cukup
4. 0,41 – 0,70 Baik
5. 0,71 – 1,00 Baik sekali
(Sumber : Arikunto, 2008 : 232)

7) Reliabilitas Tes

Tinggi rendahnya validitas menunjukkan tinggi

rendahnya reliabilitas tes. Arikunto (2013: 100) mengatakan

bahwa: "suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan

yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap".

dengan demikian reliabilitas berhubungan dengan ketetapan

hasil tes (Lampiran 11). Untuk menentukan indeks reliabilitas

tes dipakai rumus kuder-Richardson (K-R 21) yang

dikemukankan oleh Arikunto (2013: 116):


58

 n  M n  M  
r11   1  
 n  1 
2
nS i 

M 
F Xi i

N
N  Fi X i   Fi X i 
2

S  2

N  1N ................................... (3.17)


Keterangan:
r11 = Reliabilitasa secara keseluruhan
n = Jumlah butir soal
M = Rata-rata skor tes
N = Jumlah pengikut tes
S2 = Variansi total

Tabel 3.6 Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal


No Indeks Reliabilitas Klasifikasi
1. 0,00 – 0,20 Sangat rendah
2. 0,21 – 0,40 Rendah
3. 0,41 – 0,60 Sedang
4. 0,61 – 0,80 Tinggi
5. 0,81 – 1,00 Sangat Tinggi
(Sumber: Slameto, 1988 : 215)

b. Aspek afektif

Instrumen atau alat penilaian afektif yang digunakan adalah

lembaran observasi. Adapun penilaian aspek afektif terbagi atas

penilaian sikap spritual (KI.1) dan penilaian sikap sosial (KI.2).

Kompetensi penilaian sikap spiritual (KI.1) tergambar

dalam tabel 3.7 dan 3.8 di bawah ini:


59

Tabel 3.7 Contoh Format Lembar Observasi Kompetensi Sikap Spiritual


No Nama Indikator Sikap Spiritual (Tawakal) Jml Nilai
Mujahadah Berdo’a Bersyukur Sabar Skor
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
2
...
dst

Tabel 3.8 Kriteria Kompetensi Sikap Spritual


Aspek yang diamati Skor Kriteria
Mujahadah 4 Belajar dengan sungguh-sungguh mengharapkan
ridha Allah
3 Belajar dengan sungguh-sungguh untuk menuntut
ilmu dunia
2 Belajar untuk mengharapkan nilai
1 Belajar kurang serius
Berdo’a 4 Selalu berdo’a setiap memulai kegiatan
3 Berdo’a pada awal dan akhir pembelajaran
2 Berdo’a pada awal atau akhir pembelajaran saja
1 Berdo’a tapi tidak serius (tidak khusyu’)
Bersyukur 4 Selalu mensyukuri nikmat Allah yang sudah
diterimanya
3 Selalu berkeinginan untuk mendapatkan nilai lebih
2 Selalu memprotes nilai kepada guru
1 Kurang mensyukuri nilai yang diperoleh
Sabar 4 Selalu bersabar dan tenang dalam menyelesaikan
masalah
3 Bersabar tapi memiliki batas kesabaran
2 Mengeluh dan menyesali masalah yang terjadi
1 Kurang sabar menghadapi masalah
(Sumber : Saputri, 2014)

Dalam penyusunan lembar observasi untuk penilaian sikap

sosial (KI.2) dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menentukan indikator-indikator yang akan diamati selama

pembelajaran berlangsung. Indikator-indikator tesebut meliputi:

a) Mau menerima dengan indikator: mau menghadiri, mau


mendengarkan dan tidak mau mengganggu.
60

b) Mau menanggapi dengan indikator: mau memberikan


pendapat, ikut mengusulkan dan mau menjawab
pertanyaan.
c) Mau menghargai dengan indikator: menunjukkan adanya
perhatian yang mendalam, mempelajari dengan sungguh-
sungguh dan mau bekerja sama
d) Mau melibatkan diri dalam sistem dengan indikator: mau
melibatkan diri secara efektif dalam kelompok, mau
menerima tanggung jawab dan mau mengorbankan waktu,
tenaga, pikiran untuk sesuatu yang diyakini.
2) Merancang lembar observasi yang akan digunakan. Berdasarkan

indikator-indikator diatas maka dapat disusun format lembaran

observasinya seperti terdapat pada Tabel 3.9 berikut.

Tabel 3.9 Contoh Format Lembar Observasi Kompetensi Sikap Sosial


Aspek Yang Dinilai

Jumlah Skor
Nama Mau Mau Mau Melibatkan
No Siswa Menerima Menang Menghar Diri Dalam

Nilai
gapi gai Sistem
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1
2
(Sumber : Depdiknas, 2003: 12)

Untuk memberikan skor afektif siswa, dapat diklasifikasikan

dengan deskriptor yang terlihat, melalui cara menceklis setiap

indikator yang muncul pada masing-masing aspek yang dinilai.

Pemberian skor afektif siswa dapat diklasifikasikan dengan

deskriptor yang tampak, dengan cara menceklis setiap indikator

yang muncul pada masing-masing aspek yang dinilai. Selanjutnya

dihitung skornya sesuai tabel 3.10 berikut ini :


61

Tabel 3.10 Klasifikasi Deskriptor


Deskriptor yang Tampak Skor
Tidak ada deskriptor yang tampak 1
Satu deskriptor yang tampak 2
Dua deskriptor yang tampak 3
Tiga deskriptor yang tampak 4
(Sumber : Arikunto, 2013: 246)

b. Aspek Psikomotor

Penilaian aktivitas siswa dapat diukur melalui pengamatan

langsung. Aktivitas siswa diukur melalui pengamatan langsung

dengan memenggunakan lembar observasi, sesuai dengan langkah-

langkah sebagai berikut :

1) Menentukan komponen-komponen aktivitas yang akan diamati

dalam pembelajaran Fisika yaitu:

a) Siswa mempersiapkan alat dan bahan.


b) Siswa melakukan pengukuran dengan tepat dan teliti.
c) Siswa mengambil data sesuai dengan prosedur kerja.
d) Siswa menyelesaiakan prosedur kerja dengan tepat waktu.
e) Siswa membuat kesimpulan dengan benar.

2) Merancang lembar observasi berdasarkan komponen-komponen

di atas. Maka dapat disusun formatnya sebagai berikut :

Tabel 3.11 Format Penilaian Aspek Psikomotor


Aspek yg di nilai dan Bobot
Jml
No Nama Siswa 1 2 3 4 5 Nilai
Skor
20 20 20 20 20
1
2
Σ
Rata-rata
(Sumber : Arikunto, 2008 : 189)
62

F. Teknik Analisis Data

1. Analisis Data Ranah Kognitif

Analisis terhadap data penelitian dilakukan bertujuan untuk

menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Data

yang didapat dari hasil penelitian dianalisis dengan tujuan untuk

mengetahui apakah hasil belajar fisika siswa dengan penggunaan strategi

pembelajaran Inkuiri Berbasis Fenomena Alam memberikan hasil belajar

IPA Fisika lebih baik dari pada pembelajaran konvensional.

Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

analisis deskriptif dan analisis induktif. Analisis deskriptif dilakukan

untuk menentukan rata-rata dan simpangan baku kedua kelas sampel.

Sedangkan analisis induktif dilakukan untuk melihat apakah terdapat

perbedaan antara kedua kelas sampel, yaitu dilakukan dengan uji t. Uji t

yang dilakukan harus terpenuhi dua syarat, yaitu sampel berasal dari

populasi yang terdistribusi normal dan kedua kelas memiliki dan

mempunyai varians yang homogen. Oleh sebab itu terlebih dahulu

dilakukan uji normalitas dan homogenitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data sampel

berdistribusi normal atau tidak. Jika digambarkan dalam suatu kurva

maka kurvanya berbentuk lonceng. Menurut Walpole (1992: 182)

sifat-sifat kurva normal adalah :


63

1) Modusnya, yaitu titik pada sumbu mendatar yang membuat fungsi

mencapai maksimum, terjadi pada x  

2) Kurvanya setangkup terhadap suatu garis tegak yang melalui nilai

tengah 

3) Kurva ini mendekati sumbu mendatar secara asimtotik dalam

kedua arah bila kita semakin menjauhi nilai tengahnya

4) Luas daerah yang terletak di bawah kurva tetapi di atas sumbu

mendatar sama dengan 1.

Digunakan uji Liliefors dengan menggunakan langkah

sebagai berikut:

1) Data X1, X2, X3, …, Xn yang diperoleh dari data yang terkecil

hingga yang terbesar.

2) Data X1, X2, X3, …, Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3, …, Z

dengan rumus:

Xi  Xr
Zi =
S ........................................................................ (3.18)

Ket : Xi = Skor yang diperoleh siswa ke-1


Xr = Skor rata-rata
S = Simpangan baku

3) Untuk tiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi

normal baku, kemudian dihitung peluang F(Zi ) = P(Z ≤ Zi )

4) Hitung proporsi Z1, Z2,…….Zn yang lebih kecil atau sama dengan

Zi, jika proporsi ini dinyatakan oleh S(Zi), maka

banyaknya Z1 ,Z2,……. Zn yang ≤Zi


S(Zi ) = ............................ (3.19)
n
64

5) Hitung selisih F(Zi)-S(Zi) kemudian tentukan harga mutlak

Keterangan :

F(Zi) = nilai F yang diperoleh melalui daftar distribusi normal


S(Zi) = Nilai S yang diperoleh sesuai rumus diatas

6) Ambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak

selisih tersebut. Sebut harga terbesar ini L0, dengan taraf nyata α.

Maka jika L0< Ltabel, data normal.

b. Uji Homogenitas Variansi

Uji homogenitas variansi ini bertujuan untuk melihat apakah

kedua kelompok data mempunyai variansi yang homogen atau tidak.

Untuk menguji kesamaan variansi digunakan uji F. Langkah-

langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Mencari varians masing-masing data, kemudian dihitung harga

F dengan menggunakan rumus:

Fs 1
2
s 2 .............................................................................. (3.20)

Keterangan :

F = varians kelompok data

S1 = varians terbesar

S2 = varians terkecil

2) Setelah harga Fhitung sudah diperoleh, bandingkan harga Fhitung

tersebut dengan harga Ftabel. Jika Fhitung < Ftabel maka kedua
65

kelompok data mempunyai varians yang homogen dan demikian

sebaliknya (Sudjana, 2005: 249).

c. Uji Hipotesis

Pengujian ini dilakukan untuk menentukan apakah hasil

belajar siswa kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran

Inkuiri Berbasis Fenomena Alam lebih dari pada kelas kontrol yang

menggunakan pembelajaran konvensional. Untuk pengujiannya

dilakukan dengan uji t, langkah-langkah uji t:

1) Jika data terdistribusi normal dan homogen atau σ1 = σ2 = σ dan

σ diketahui, maka digunakan rumus:

̅̅̅−x
x1 ̅̅̅
2
Z= 1 1
..................................................................... (3.21)
σ√ +
n1 n2

Jika; -Z1/2(1-α) < Z1/2(1-α), H0 diterima.

2) Jika data normal dan homogen atau σ1 = σ2 = σ tetapi σ tidak

diketahui, maka menggunakan rumus:

x−x̅
t= 1 1
...................................................................... (3.22)
S√ +
n1 n2

dengan

(n1 −1)S1 2 +(n2 −1)S2 2


S2 = √ .......................................... (3.23)
n1 +n2 −2

Dimana : x̅1 = Nilai rata-rata kelompok eksperimen


x2
̅̅̅ = Nilai rata-rata kelompok kontrol
S12 = Simpangan baku kelas eksperimen
66

S22 = Simpangan baku kelas kontrol


n1 = Banyak siswa kelas eksperimen
n2 = Banyak siswa kelas kontrol

Pengambilan keputusan H0 diterima jika –t1-1/2α < t < t1-

1/2α, dimana t1-1/2α didapat dari daftar distribusi t dengan dk =

(n1+n2-2) dan peluang (1-1/2α).

3) Jika data terdistribusi normal tetapi tidak homogen, atau σ1 ≠ σ2

dan kedua-duanya tidak diketahui, maka menggunakan rumus:

̅̅̅−x
x1 ̅̅̅
t′ = 2
.................................................................. (3.24)
S2 S2
√( 1 )( 2 )
n1 n2

Kriteria pengujian adalah: H0 diterima jika;

w1 t1 +w2 t2 w1 t1 +w2 t2
− < t’ < ......................................... (3.25)
w1 +w2 w1 +w2

Dengan:

S21 S22
w1 = ; w2 = ........................................................ (3.26)
n1 n2

t1 = t (1− 1 ) (, n1 − 1); t 2 = t (1− 1 ) (, n2 − 1) .................. (3.27)


2α 2α

4) Jika data tidak terdistribusi normal dan kedua kelompok data

tidak mempunyai varians yang homogen, maka digunakan uji

Whitney atau uji U :

H0 ; μ1 = μ2

H0 ; μ1 ≠ μ2

n1 (n1  1)
U untuk sampel pertama : U 1  n1  n2    R1
2
67

n2 (n2  1)
U untuk sampel kedua : U1  n1  n2    R2
2

Dari kedua nilai U tersebut yang digunakan ialah nilai U

yang kecil, karena sampel lebih dari 20, maka digunakan

pendekatan kurva normal dengan mean :

n1 .n2
E U   ....................................................................... (3.28)
2

Standar deviasi dalam bentuk :

n1 −n2 (n1 +n2 )+1


σU = √ ...................................................... (3.29)
12

Nilai standar dihitung dengan :

U  E (U )
Z ..................................................................... (3.30)
U

Kriteria pengambilan keputusan adalah :

Za Za
H0 diterima apabila Z , selain itu H0 ditolak
2 2

Dimana :
N1 : Jumlah siswa kelas eksperimen
N2 : Jumlah siswa kelas kontrol
R : Jumlah jenjang
Z : Nilai standar
U : Standar deviasi.

2. Analisis Data Ranah Afektif

Purwanto (2010: 102) mengatakan bahwa penskoran dapat

ditentukan dengan menggunakan rumus:


68

R
NAS = SM x100 .................................................................................. (3.31)

Keterangan :
NAS = nilai afektif siswa
R = skor siswa
SM = skor maksimum ideal

Untuk skor maksimum afektif pada penelitian ini adalah 16,

karena ada 4 aspek yang akan dinilai masing-masing aspek nilai

maksimumnya 4. Lembaran observasi diisi setiap pertemuan oleh peneliti

yang berperan sebagai observer. Dari lembar observasi ini akan terlihat

seberapa jauh peningkatan atau penurunan hasil belajar fisika siswa pada

aspek afektif. Dalam skala penilaian terhadap hasil perbandingan yaitu

nilai A sampai dengan nilai E. Dapat dilihat pada tabel 3.11 berikut :

Tabel 3.12 Klasifikasi Penialaian Ranah Afektif


Bentuk Kualitatif Rentangan Keterangan
Sangat Baik 81 – 100 A
Baik 61 – 80 B
Cukup 41 – 60 C
Kurang 21 – 40 D
Sangat Kurang 0 – 20 E
(Sumber : Sudrajat 2008 :16)

3. Analisis Data Ranah Psikomotor

Data yang diperoleh melalui lembar observasi, akan dihitung

persentase aktivitas belajar siswa dalam setiap kali pertemuan. Data

tersebut dianalisis dengan teknik persentase yang dinyatakan oleh

Sudjana (1992: 130) sebagai berikut:


69

F
P x100% ................................................................................. (3.32)
N

Keterangan :
P = Persentase aktivitas
F = Frekuensi aktivitas
N = Jumlah siswa

Untuk skor maksimum afektif pada penelitian ini adalah 100,

karena ada 5 aspek yang akan dinilai masing-masing aspek nilai

maksimumnya 20. Lembaran observasi diisi oleh peneliti sendiri. Dari

lembar observasi ini akan terlihat seberapa jauh peningkatan atau

penurunan aktivitas siswa dalam belajar Fisika pada aspek

psikomotor.Untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses

pembelajaran Dimyati dan Mudjiono (2006: 125) memberikan kriteria

seperti pada Tabel 3.12 berikut :

Tabel 3.13 Kriteria Tingkat Keberhasilan Aktivitas Belajar Siswa


Kriteria Tingkat Keberhasilan Range Persentase
Sedikit sekali Tidak berhasil 1 - 25
Sedikit Kurang berhasil 26 - 50
Banyak Berhasil 51 - 75
Banyak sekali Sangat berhasil 76 - 100
(Sumber : Dimyati dan Mudjiono, 2006 : 125)