Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Apotek adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan, kesehatan adalah hak asasi
manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan. “Di dalam badan yang sehat
terdapat jiwa yang sehat”, pepatah ini mengingatkan bahwa kesehatan merupakan suatu hal yang
penting dan menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupan setiap manusia. Berbagai upaya
kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat
yang optimal antara lain meliputi pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan dengan cara
promosi tentang kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit
(kuratif) dan pemulihan kesehatan baik secara mental ataupun fisik (rehabilitatif) yang
dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pembangunan di bidang
kesehatan salah satunya adalah menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 Tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian
di apotek yang menyatakan bahwa penyelenggaraan standar pelayanan kefarmasian di apotek
harus didukung oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian yang berorientasi kepada
keselamatan pasien. Salah satu aspek pelayanan kesehatan yang paling penting adanya pelayanan
kefarmasian dan salah satu sarana pelayanan kefarmasian yang paling dekat dengan masyarakat
adalah apotek. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 Tahun 2014 pasal 1 apotek
adalah sarana pelayanan2 kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker.
Ada beberapa macam terminologi yang biasa digunakan dalam literatur untuk
mendeskripsikan kepatuhan pasien diantaranya compliance, adherence, dan persistence.
Compliance adalah secara pasif mengikuti saran dan perintah dokter untuk melakukan terapi
yang sedang dilakukan (Osterberg & Blaschke dalam Nurina, 2012). Adherence adalah sejauh
mana pengambilan obat yang diresepkan oleh penyedia layanan kesehatan. Tingkat kepatuhan
(adherence) untuk pasien biasanya dilaporkan sebagai persentase dari dosis resep obat yang
benar-benar diambil oleh pasien selama periode yang ditentukan (Osterberg & Blaschke dalam
Nurina,2012)
Di dalam konteks psikologi kesehatan, kepatuhan mengacu kepada situasi ketika perilaku
seorang individu sepadan dengan tindakan yang dianjurkan atau nasehat yang diusulkan oleh
seorang praktisi kesehatan atau informasi yang diperoleh dari suatu sumber informasi lainnya
seperti nasehat yang diberikan dalam suatu brosur promosi kesehatan melalui suatu kampanye
media massa (Ian & Marcus, 2011).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku kepatuhan terhadap
pengobatan adalah sejauh mana upaya dan perilaku seorang individu menunjukkan kesesuaian
dengan peraturan atau anjuran yang diberikan oleh professional kesehatan untuk menunjang
kesembuhannya Menurut Kozier (2010), faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah sebagai
berikut: Motivasi klien untuk sembuh, tingkat perubahan hidup yang dibutuhkan,persepsi
keparahan kesehatan,nilai upaya mengurangi penyakit, kesulitan memahami dan melakukan
perilaku khusus, tingkat gangguan penyakit atau rangkaian terapi, keyakinan bahwa terapi yang
di programkan akan membantu atau tidak membantu, kerumitan dan efek samping yang diajukan
Medication therapy management (MTM) adalah penatalaksanaan terapi medikamentosa
yang komprehensif melibatkan multi profesi untuk meningkatkan kepatuhan dan outcome
pengobatan. (MTM) sendiri suatu program yang di buat oleh BPJS Dan tujuan dari (MTM)
adalah : meningkatkan kerjasama antara apoteker,dokter & professional kesehatan lainya,
meningkatkan komunikasi antara pasien dan tim kesehatan, optimalisasi penggunaan obat untuk
meningkatkan ketercapaian pengobatan pasien, (MTM) mempunyai 5 elemen berikut ini :

a. Medication therapy record (MTR) : anamnesis dan pendataan pasien, review


pengobatan, penilaian dan identifikasi permasalahan pengobatan,menentukan tindak
lanjut
b. Personal medication record (PMR) : Rekam pengobatan, pencatatan intervensi,
pencatatan kepatuhan
c. Medication related action plan (MAP) : Rencana tindakan, upaya mencapai tujuan
terapi
d. Intervensi atau rujuk : Rujuk ke profesi kesehatan lain,intervensi ke pasien, kolaborasi
antarprofesi
e. Tindak lanjut : tindak lanjut pemantauan