Anda di halaman 1dari 36

‫ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻟﺮﲪﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ‬

KEPUTUSAN & KETETAPAN


HASIL
MUSYAWARAH NASIONAL III
FRONT PEMBELA ISLAM
TAHUN 2013
Wisma Haji Kota Bekasi – Jawa Barat
15 – 17 Syawwal 1434 H / 22 – 24 Agustus 2013 M
‫ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻟﺮﲪﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ‬
LAMPIRAN KETETAPAN
MUSYAWARAH NASIONAL III FRONT PEMBELA ISLAM ( FPI )
Tentang :

PERUBAHAN DAN PENYEMPURNAAN


ANGGARAN DASAR FRONT PEMBELA ISLAM

MUQADDIMAH

‫ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻟﺮﲪﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ‬


‫ﻗﺎﻝ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ‬
Allah SWT berfirman

‫ﻭ ﻟﺘﻜﻦ ﻣﻨﻜﻢ ﺃﻣﺔ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺇﱃ ﺍﳋﲑﻭ ﻳﺄﻣﺮﻭﻥ ﺑﺎﳌﻌﺮﻭﻑ ﻭ ﻳﻨﻬﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﳌﻨﻜﺮﻭ ﺃﻭﻟـﺌﻚ ﻫﻢ ﺍﳌﻔﻠﺤﻮﻥ‬
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari
yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung Q.S.3.Âli-‘Imrân : 104
‫ﻳﺂ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺀﺍﻣﻨﻮﺍ ﻛﻮﻧﻮﺍ ﺃﻧﺼﺎﺭ ﺍﷲ‬
Hai orang-orang yang beriman jadilah kamu sebagai pembela Allah (Q.S.61.Ash-Shaff : 14)

‫ﺻﺪﻕ ﺍﷲ ﺍﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ‬


‫ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻟﺮﲪﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ‬
‫ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺁﻟﻪ ﻭ ﺻﺤﺒﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ‬

Rasulullah SAW bersabda

‫ﻻ ﺗﺰﺍﻝ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﻣﱵ ﻇﺎﻫﺮﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﳊﻖ ﻻ ﻳﻀﺮﻫﻢ ﻣﻦ ﺧﺬﳍﻢ ﺣﱴ ﻳﺄﰐ ﺃﻣﺮ ﺍﷲ‬
Segolongan dari umatku akan senantiasa memperjuangkan yang Haq secara terang-terangan,
Siapa pun yang memusuhi mereka tidak membuat mereka gentar, Hingga datang putusan Allah.H.R. Al-Bukhari dan Muslim

‫ ﺃﻭ ﻟﻴﻮﺷﻜﻦ ﺍﷲ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺚ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻋﻘﺎﺑﺎ ﻣﻨﻪ ﰒ ﺗﺪﻋﻮﻧﻪ ﻓﻼ‬, ‫ ﻟﺘﺄﻣﺮﻥ ﺑﺎﳌﻌﺮﻭﻑ ﻭ ﻟﺘﻨﻬﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﳌﻨﻜﺮ‬, ‫ﻭ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ‬
‫ﻳﺴﺘﺠﺎﺏ ﻟﻜﻢ‬
Demi Yang jiwaku ada di tangan - Nya, hendaklah engkau sungguh-sungguh menyerukan kema’rufan dan mencegah kemunkaran, atau
niscaya Allah akan benar-benar mengirim atasmu sekalian siksa dari-Nya. Kemudian engkau berdoa kepada-Nya dan Ia tidak
mengabulkannya. (H.R. At-Tirmidzi)

‫ﺻﺪﻕ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺁﻟﻪ ﻭ ﺻﺤﺒﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ‬


BAB I
NAMA, WAKTU, KEDUDUKAN DAN LAMBANG
Pasal 1
NAMA

Organisasi ini bernama Front Pembela Islam yang disingkat FPI

Pasal 2
WAKTU

Organisasi FPI untuk pertama kalinya dicetuskan di Petamburan – Jakarta dan dideklarasikan secara terbuka di
Pondok Pesantren Al-Umm – Ciputat – Tangerang pada tanggal 25 Robi’uts Tsani 1419 Hijriyyah bertepatan
dengan tanggal 17 Agustus 1998 Miladiyyah, untuk jangkawaktu yang tidak ditentukan lamanya.

Pasal 3
KEDUDUKAN

Pusat Organisasi ini berkedudukan di Jakarta

Pasal 4
LAMBANG

Organisasi FPI berlambang Kaligrafi Kalimat ”Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah” berbentuk
Bintang dan di atasnya terdapat Kaligrafi Kalimat ”Bismillaahir Rohmaanir Rohiim” berbentuk Hilal, yang
dikelilingi Segitiga Tasbih berpuncak Kaligrafi Kalimat ”AlhamdulillahiRobbil ‘Aalamiin” berbentuk Qubah
Masjid, yang semuanya berwarna hijau dengan dasar putih. Di dalam Segitiga Tasbih di bawah Bintang ada
tulisan warna hitam ”Al-Jabhah Ad-Difaa’iyyahAl-Islaamiyyah”yang di bawahnya tertera tulisan FRONT
PEMBELA ISLAM dengan warna merah.

BAB II
ASASI ORGANISASI
Pasal 5
ASAS, AQIDAH DAN MADZHAB

1. Organisasi FPI berasaskan Islam.


2. Organisasi FPI beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
3. Organisasi FPI bermadzhab aqidah Asy-ari dan bermadzhab fiqih Asy-Syafi’i.

Pasal 6
VISI DAN MISI

Visi dan Misi organisasi FPI adalah penerapan Syariat Islam secara Kaaffah di bawah naungan Khilaafah
Islamiyyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan Da’wah, penegakan Hisbah dan Pengamalan
Jihad.

Pasal 7
PEDOMAN, SEMBOYAN, MOTTO, FILSAFAT DAN DOKTRIN

1. Pedoman juang organisasi FPI adalah : Allah SWT adalah Tuhan kami dan Tujuan kami. Muhammad
SAW adalah Teladan kami. Al-Qur’an adalah Pedoman kami. Jihad adalah Jalan Hidup kami. Syahid
adalah Cita-Cita kami.
2. Semboyan juang organisasi FPI adalah : Hidup Mulia atau Mati Syahid.
3. Motto juang organisasi FPI adalah : perjuangan Haq harus tersitem, karena perjuangan Haq yang tak
tersistem dikalahkan oleh perjuangan Bathil Tersistem.
4. Filsafat juang organisasi FPI adalah : Bagi Mujahid difitnah adalah biasa, dibunuh adalah Syahid,
dipenjara adalah ‘Uzlah, dan dibuang adalah Tamasya.
5. Doktrin juang organisasi FPI adalah : Ikhlaskan Niat. Mulai dari diri sendiri. Kebenaran harus
ditegakkan. Setiap orang pasti mati. Dan Mujahid di atas para musuhnya.

Pasal 8
HYMNE, MARS DAN MUNAJAT

1. Nasyid Hymne organisasi FPI adalah ”Nahnu Rijaalul Jabhah” dalam Bahasa Arab, dan ”Kami Pejuang
FPI” dalam Bahasa Indonesia.
2. Nasyid Mars organisasi FPI adalah ”Hayya ‘alal Jihaad” dalam Bahasa Arab, dan ”Ayo Kita Jihad”
dalam Bahasa Indonesia.
3. Munajat organisasi FPI adalah ”Munaajaatul Jabhah” yang berisikan aneka wirid dan dzikir bersumber
dari Al-Qur’an dan As-Sunnah mau pun pengamalan Ulama Sholihin..

BAB III
AKTIFITAS ORGANISASI
Pasal 9
Aktifitas Organisasi

Organisasi FPI melakukan berbagai usaha dan kegiatan di semua bidang Ibadat dan Muamalat sesuai dengan
Visi dan Misi organisasi FPI

BAB IV
KEPEMIMPINAN, STRUKTUR,KEKUASAAN, WEWENANG DAN TUGAS
Pasal 10
KEPEMIMPINAN DAN STRUKTUR ORGANISASI

1. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di tingkat Pusat terdiri dari Imam Besar, Majelis Syura dan Dewan Tanfidzi.
2. Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) di Luar Negeri terdiri dari Imam, Majelis Syura dan Dewan
Tanfidzi.
3. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di tingkat Propinsi terdiri dari Imam, Majelis Syura dan Dewan Tanfidzi.
4. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di tingkat Kota / Kodya /Kabupaten adalah Dewan Tanfidzi Wilayah.
5. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di tingkat Kecamatan adalah Dewan Tanfidzi Cabang.
6. Dewan Pimpinan Ranting (DPRa) di tingkat Kelurahan / Desa adalah Dewan Tanfidzi Kelurahan.

7. PENGURUS INTI :
a. Pengurus Inti Majelis Syura Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Daerah adalah :
Seorang Ketua, seorang Sekretaris, lima orang Ketua Majelis Tinggi Front, yaitu : Majelis Syariat,
Majelis Pembina, Majelis Penasihat, Majelis Pengawas dan Majelis Kehormatan, yang beranggotakan
sekurang-kurangnya 33 orang dan sebanyak-banyaknya 99 orang.
b. Pengurus Inti Dewan Tanfidzi di tingkat Pusat ialah :
Sorang Ketua Umum, seorang Wakil Ketua Umum, beberapa orang Ketua, seorang Sekretaris Umum,
beberapa orang Wakil Sekretaris Umum, seorang Bendahara Umum, dan beberapa orang Wakil
Bendahara Umum.
c. Pengurus Inti Dewan Tanfidzi di tingkat selain Pusat ialah :
Sorang Ketua, beberapa orang Wakil Ketua, seorang Sekretaris, seorang Bendahara.
8. Organisasi FPI memiliki lima Badan Khusus, yaitu :
a. Badan Investigasi Front disingkat BIF.
b. Badan Anti Teror disingkat BAT.
c. Badan Pengkaderan Front disingkat BPF.
d. Badan Ahli Front disingkat BAF.
e. Badan Amil Zakat disingkat BAZ
9. Organisasi FPI memiliki lima Lembaga Otonom, yaitu :
a. Lembaga Da’wah Front disingkat LDF.
b. Lembaga Ekonomi Front disingkat LEF.
c. Lembaga Bantuan Hukum Front disingkat BHF.
d. Lembaga Pemantau Ma’siat Front disingkat PMF.
e. Lembaga Kemanusiaan Front bernama Hilal Merah Indonesia dsingkat HILMI
10. Organisasi FPI memiliki empat Anak Organisasi yang Otonom dan Independen serta memiliki AD /
ART, struktur organisasi, garis komando, program kerja dan pertanggung-jawaban sendiri, yaitu :
a. Laskar Pembela Islam disingkat LPI.
b. Mujahidah Pembela Islam disingkat MPI.
c. Front Mahasiswa Islam disingkat FMI.
d. Serikat Pekerja Front disingkat SPF

Pasal 11
KEKUASAAN ORGANISASI

Kekuasaan tertinggi organisasi FPI adalah MUSYAWARAH, sesuai tingkat kepemimpinan organisasi :
1. Musyawarah di tingkat Nasional terdiri dari Musyawarah Nasional (MUNAS), Musyawarah Nasional Luar
Biasa (MUNASLUB), Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) dan Musyawarah Pimpinan Nasional
(MUSPIMNAS).
a. MUNAS diselenggarakan setiap 7 Tahun sekali oleh DPP.
b. MUNAS berwenang Mengubah, Menyempurnakan dan Mengesahkan Anggaran Dasar Organisasi,
Menyusun Garis Besar Program Organisasi, Menyusun Rekomendasi bersifat Nasional dan
Internasional.
c. Kekuasaan MUNAS, MUNASLUB, MUKERNAS dan MUSPIMNAS akan diatur lebih lanjut di
dalam Anggaran Rumah Tangga.
d. Peserta MUNAS dan MUNASLUB adalah IMAM BESAR bersama Seluruh Pengurus Inti Majelis
Syura dan Seluruh Pengurus Dewan Tanfidzi DPP – FPI, para IMAM bersama Pengurus Inti Majelis
Syura DPD, para Ketua dan Sekretaris Dewan Tanfidzi DPD - FPI, para Ketua dan Sekretaris DPW –
FPI, ditambah dengan para Ketua dan Sekretaris DPC – FPI.
e. Peserta MUKERNAS adalah IMAM BESAR bersama seluruh Pengurus Inti Majelis Syura dan
Pengurus Dewan Tanfidzi DPP – FPI, para IMAM bersama para Ketua Majelis Syura dan Ketua
Dewan Tanfidzi tiap-tiap DPD – FPI, serta para Ketua DPW – FPI
f. Peserta MUSPIMNAS adalah IMAM BESAR bersama seluruh Pengurus Inti Majelis Syura dan
Pengurus Inti Dewan Tanfidzi DPP – FPI, dan para IMAM bersama para Ketua Majelis Syura dan
Ketua Dewan Tanfidzi tiap-tiap DPD – FPI.
2. Musyawarah di tingkat Luar Negeri adalah MLN yang pesertanya adalah IMAM dan semua pengurus
Dewan Pimpinan Luar Negeri yang kekuasaannya akan diatur lebih lanjut di dalam Anggaran Rumah
Tangga yang diselenggarakan setiap 5 Tahun Sekali oleh Dewan Pimpinan Luar Negeri.
3. Musyawarah di tingkat Daerah terdiri dari Musyawarah Daerah (MUSDA), Musyawarah Daerah Luar
Biasa (MUSDALUB), Musyawarah Kerja Daerah (MUKERDA) dan Musyawarah Pimpinan Daerah
(MUSPIMDA), yang kekuasaannya akan diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
a. MUSDA diselenggarakan setiap 5 Tahun sekali oleh DPD.
b. Peserta MUSDA dan MUSDALUB adalah IMAM bersama seluruh Pengurus Inti Majelis Syura dan
seluruh Pengurus Dewan Tanfidzi DPD – FPI, para Ketua dan Sekretaris DPW – FPI, serta para
Ketua dan Sekretaris DPC – FPI, ditambah dengan para Ketua DPRa – FPI dan 3 ORANG UTUSAN
DPP - FPI.
c. Peserta MUKERDA adalah IMAM bersama seluruh Pengurus Inti DPD – FPI, dan para Ketua dan
Sekretaris DPW – FPI, serta para Ketua DPC – FPI
d. Peserta MUSPIMDA adalah IMAM bersama seluruh Pengurus Inti MAJELIS SYURA dan
PENGURUS INTI DEWAN TANFIDZI DPD – FPI, dan para Ketua DPW – FPI.
4. Musyawarah di tingkat Wilayah terdiri dari Musyawarah Wilayah (MUSWIL), Musyawarah Wilayah Luar
Biasa (MUSWILUB), Musyawarah Kerja Wilayah (MUKERWIL) dan Musyawarah Pimpinan Wilayah
(MUSPIMWIL), yang kekuasaannya lebih lanjut akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
a. MUSWIL dielenggarakan setiap 5 Tahun sekali Oleh DPW
b. Peserta MUSWIL dan MUSWILUB adalah seluruh Pengurus DPW – FPI, dan Pengurus Inti DPC –
FPI, serta para Ketua dan Sekretaris DPRa – FPI, DITAMBAH 2 ORANG UTUSAN DPD – FPI
SETEMPAT.
c. Peserta MUKERWIL adalah seluruh Pengurus DPW – FPI, dan para Ketua DPC – FPI serta para
Ketua DPRa -FPI.
d. Peserta MUSPIMWIL adalah seluruh PengurusDPW – FPI, ditambah Ketua DPC - FPI.
5. Musyawarah di tingkat Cabang adalah Musyawarah Cabang (MUSCAB), diselenggarakan setiap 4 Tahun
sekali oleh DPC, yang pesertanya adalah seluruh Pengurus DPC – FPI, dan para Ketua dan Sekretaris
Dewan tiap-tiap DPRa – FPI serta 1 Orang UTUSAN DPD FPI setempat, yang kekuasaannya lebih lanjut
akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
6. Musyawarah di tingkat Ranting adalah Musyawarah Ranting (MUSRAN), diselenggarakan setiap 3
Tahun sekali oleg DPRa, yang persertanya adalah seluruh Pengurus DPRa – FPI, dan para Anggota FPI di
Ranting tersebut serta utusan DPW – FPI setempat, yang kekuasaannya lebih lanjut akan diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga.
7. Pimpinan Sidang MUNAS, MLN, MUSDA, MUSWIL, MUSCAB, dan MUSRAN adalah Dewan
Pimpinan periode berjalan di Tiap Tingkatan.

Pasal 12
WEWENANG DAN TUGAS ORGANISASI

1. IMAM BESAR :
a. Pimpinan Tertinggi organisasi FPI di tingkat Nasional adalah IMAM BESAR yang dipilih melalui
Musyawarah Nasional (MUNAS), atau MUNASLUB, atau MUSPIMNAS.
b. IMAM BESAR yang diusulkan melalui MUNAS atau MUNASLUB atau MUSPIMNAS dilakukan
dengan cara MUSYAWARAH UMUM yang melibatkan semua peserta MUNAS, atau MUNASLUB
atau MUSPIMNAS, jika tidak ada kesepakatan maka melalui MUSYAWARAH KHUSUS yang
melibatkan Pimpinan Sidang dan para IMAM, jika tidak ada kesepakatan lagi maka melalui
MUSYAWARAH ISTIMEWA Pimpinan Sidang.
c. IMAM BESAR harus Quraisy yang ‘Alim dan ‘Amil, serta Ahlus Sunnah wal Jama’ah, jika tidak ada
maka boleh selain Quraisy dengan syarat yang sama.
d. IMAM BESAR memiliki wewenang mengangkat dan memberhentikan : Pengurus Inti Majelis Syura
dan Dewan Tanfidzi tingkat Pusat, para IMAM, para Ketua dan Sekretaris Badan Khusus, Lembaga
Otonom dan Anak Organisasi .
e. Jika IMAM BESAR berhalangan tetap dalam masa jabatannya maka Dewan Pimpinan Pusat bersama
para Imam Daerah menggelar Musyawarah Pimpinan Nasional untuk pengangkatan IMAM BESAR
baru yang bertugas sampai akhir masa jabatan.
f. Jika IMAM BESAR melakukan PELANGGARAN BERAT terhadap perjuangan Islam, maka Dewan
Pimpinan Pusat bersama para IMAM berhak menggelar Musyawarah Pimpinan Nasional
pemberhentian IMAM BESAR dan menggantinya dengan IMAM BESAR baru yang bertugas sampai
akhir masa jabatan.

2. KETUA MAJELIS SYURA Pusat berwenang :

a. Mengangkat dan memberhentikan pengurus Majelis Syura yang dipimpinnya selain Pengurus Inti.
b. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Majelis Syura yang dipimpinnya kepada
Imam Besar.
c. Mengesahkan, Mengangkat dan memberhentikan Pengurus Inti Majelis Syura Daerah.
3. KETUA UMUM atau Wakil KETUA UMUM bersama SEKRETARIS UMUM Dewan Tanfidzi di
tingkat Pusat berwenang :
a. Mengangkat dan memberhentikan pengurus Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya selain Pengurus Inti.
b. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Dewan Tanfidzi Pusat kepada Imam Besar.
c. Mengangkat, menetapkan dan Mengesahkan Pengurus Inti Dewan Tanfidzi Daerah dan Dewan
Pimpinan Wilayah dengan persetujuan IMAM BESAR.
d. Mengkoordinasi Badan Khusus, Lembaga Otonom dan Anak Organisasi.

4. IMAM :
a. Pimpinan Tertinggi organisasi FPI di tingkat Daerah adalah IMAM yang diusulkan melalui
Musyawarah Daerah (MUSDA), atau MUSDALUB atau MUSPIMDA dan diangkat serta ditetapkan
oleh IMAM BESAR.
b. IMAM diusulkan dalam MUSDA melalui MUSYAWARAH UMUM yang melibatkan semua peserta
MUSDA, atau MUSDALUB atau MUSPIMDA, jika gagal maka melalui MUSYAWARAH KHUSUS
yang melibatkan Pimpinan Sidang dan para WALI jika gagal lagi maka melalui MUSYAWARAH
ISTIMEWA Pimpinan Sidang.
c. Masa Jabatan IMAM adalah 5 Tahun dan dapat diusulkan kembali kepada IMAM BESAR untuk masa
jabatan periode berikutnya..
d. IMAM harus ‘Alim dan ‘Amil serta Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
e. IMAM memiliki wewenang mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Majelis
Syura Daerah kepada Majelis Syura Pusat dan Pengangkatan serta Pemberhentian Dewan Tanfidzi
tingkat Daerah kepada Dewan Tanfidzi Pusat.
f. Jika IMAM berhalangan tetap dalam masa jabatannya maka Dewan Pimpinan Daerah bersama para
Ketua DPW di Daerahnya menggelar Musyawarah Pimpinan Daerah untuk mengusulkan kepada
IMAM BESAR penetapan IMAM baru yang bertugas sampai akhir masa jabatan.
g. Jika IMAM melakukan PELANGGARAN BERAT terhadap perjuangan Islam, maka Dewan Pimpinan
Daerah bersama para Ketua DPW - FPI Wilayah berhak menggelar Musyawarah Pimpinan Daerah
untuk mengusulkan kepada IMAM BESAR pemberhentian Imam tersebut dan menetapkan serta
mengesahkan IMAM baru yang bertugas sampai akhir masa jabatan.

5. KETUA MAJELIS SYURA Daerah berwenang :


a. Mengangkat dan memberhentikan pengurus Majelis Syura yang dipimpinnya selain Pengurus Inti.
b. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Majelis Syura yang dipimpinnya kepada
Imam untuk diteruskan kepada Pimpinan Majelis Syura Pusat.

6. KETUA Dewan Tanfidzi di tingkat DPD berwenang :


a. Mengangkat dan memberhentikan pengurus Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya selain Pengurus Inti.
b. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya
kepada IMAM untuk diteruskan kepada Ketua UMUM dan Sekretaris Umum DPP.
c. Menetapkan dan Mengesahkan Pengurus Inti Dewan Pimpinan Cabang dengan persetujuan IMAM

7. KETUA Dewan Tanfidzi di tingkat DPW berhak :


a. Mengangkat dan memberhentikan pengurus Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya selain Pengurus Inti.
b. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya
kepada IMAM untuk diteruskan kepada Ketua UMUM dan Sekretaris Umum DPP.
c. Menetapkan dan Mengesahkan Pengurus Inti Dewan Pimpinan Ranting dengan persetujuan IMAM
8. Ketua Dewan Tanfidzi Tingkat Cabang berhak :
a. Mengangkat dan memberhentikan pengurus Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya selain Pengurus Inti.
b. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya
kepada Ketua Dewan Tanfidzi Daerah dan IMAM.

9. Ketua Dewan Tanfidzi Tingkat Ranting berhak :


a. Mengangkat dan memberhentikan pengurus Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya selain Pengurus Inti.
b. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Inti Dewan Tanfidzi yang dipimpinnya
kepada Ketua dan Sekretaris DPW.

10. DEWAN PIMPINAN PUSAT :


a. Periode Kepengurusan DPP selain IMAM BESAR adalah 7 Tahun.
b. WAJIB membentuk Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di seluruh Indonesia.
c. WAJIB menerbitan Sertifikat Organisasi (SO) untuk semua tingkat Dewan Pimpinan organisasi FPI.
d. WAJIB menerbitkan Surat Keputusan (SK) Pengurus Inti organisasi Tingkat Daerah dan Wilayah
e. WAJIB menjalankan keputusan-keputusan yang ditetapkan dalam MUNAS, MUNASLUB,
MUKERNAS dan MUSPIMNAS
f. BERHAK mengambil alih pembentukan dan pendirian atau pembekuan dan pembubaran Dewan
Pimpinan di semua tingkatan di bawahnya seizin Imam Besar dengan tetap koordinasi melalui Dewan
Pimpinan setempat yang ada.
g. BERHAK menerima dan menetapkan atau menolak dan memberhentikan pengurus Dewan Pimpinan
di semua tingkatan di bawahnya seizin Imam Besar dengan tetap koordinasi melalui Dewan Pimpinan
setempat yang ada.
h. BERHAK membentuk Departemen sesuai kebutuhan.

11. DEWAN PIMPINAN DAERAH:


a. Periode Kepengurusan DPD adalah 5 Tahun.
b. WAJIB membentuk Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di seluruh Daerahnya.
c. WAJIB menerbitkan Surat Keputusan (SK) Pengurus Inti organisasi Tingkat Cabang.
d. Pengurus Inti Majelis Syuro dan Dewan Tanfidzi Daerah Diusulkan oleh IMAM kepada Mejelis Syura
Dan Dewan Tanfidzi Pusat.
e. BERHAK mengusulkan pembekuan dan pembubaran Dewan Pimpinan di semua tingkatan di
bawahnya kepada IMAM Besar dan Dewan Pimpinan Pusat.
f. BERHAK mengusulkan pemberhentian pengurus Dewan Pimpinan di semua tingkatan di bawahnya
kepada Dewan Pimpinan Pusat.
g. BERHAK membentuk Bidang-Bidang sesuai kebutuhan.

12. DEWAN PIMPINAN WILAYAH:


a. WAJIB membentuk Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di seluruh Wilayahnya.
b. BERHAK mengusulkan pembekuan dan pembubaran Dewan Pimpinan di semua tingkatan di
bawahnya kepada IMAM dan Dewan Pimpinan Daerah.
c. BERHAK mengusulkan pemberhentian pengurus Dewan Pimpinan di semua tingkatan di bawahnya
kepada Dewan Pimpinan Daerah.
d. BERHAK membentuk Bidang-Bidang sesuai kebutuhan.
e. Pimpinan Tertinggi organisasi FPI di tingkat Wilayah adalah Pengurus Inti Tanfidzi yang diusulkan
melalui Musyawarah Wilayah (MUSWIL) yang dilaksanakan 5 (lima) tahun sekali yang disahkan dan
ditetapkan oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum DPP.
f. Pengurus Inti DPW diusulkan dalam MUSWIL melalui MUSYAWARAH UMUM yang melibatkan
semua peserta MUSWIL, jika gagal maka melalui MUSYAWARAH KHUSUS yang melibatkan
Pimpinan Sidang dan para Ketua DPC, jika gagal lagi maka melalui MUSYAWARAH ISTIMEWA
Pimpinan Sidang.
g. Masa jabatan DPW dalam satu periode adalah 5 (lima) tahun dan selanjutnya dapat dipilih kembali.
h. Jika Salah Satu Pengurus Inti berhalangan tetap maka Dewan Pimpinan Wilayah bersama para Ketua
DPC di Wilayahnya menggelar Musyawarah Pimpinan Wilayah untuk mengusulkan kepada DPP
pemberhentian Pengurus Inti tersebut serta menetapkan dan mengesahkan Pengurus Inti baru yang
bertugas sampai akhir masa jabatan.
i. Jika Salah Satu Pengurus Inti melakukan PELANGGARAN BERAT terhadap perjuangan Islam, maka
Dewan Pimpinan Wilayah bersama para Ketua DPC berhak menggelar Musyawarah Pimpinan
Wilayah untuk mengusulkan kepada DPP pemberhentian Pengurus Inti tersebut untuk menetapkan dan
mengesahkan Pengurus Inti baru yang bertugas sampai akhir masa jabatan.
13. DEWAN PIMPINAN CABANG :
a. WAJIB membentuk Dewan Pimpinan Ranting (DPRa) di seluruh Cabangnya.
b. BERHAK mengusulkan pembekuan dan pembubaran Dewan Pimpinan di semua tingkatan di
bawahnya kepada Dewan Pimpinan Wilayah.
c. BERHAK mengusulkan pemberhentian pengurus Dewan Pimpinan di semua tingkatan di bawahnya
kepada Dewan Pimpinan Wilayah.
d. BERHAK membentuk Bidang-Bidang sesuai kebutuhan.
e. Pimpinan Tertinggi organisasi FPI di tingkat Cabang adalah PENGURUS INTI DPC yang diusulkan
melalui Musyawarah Cabang (MUSCAB)yang dilaksanakan 4 (empat) tahun sekali dan ditetapkan
oleh IMAM.
f. PENGURUS INTI DPC diusulkan dalam MUSCAB melalui MUSYAWARAH UMUM yang
melibatkan semua peserta MUSCAB, jika gagal maka melalui MUSYAWARAH KHUSUS yang
melibatkan Pimpinan Sidang dan para Ketua DPRa, jika gagal lagi maka melalui MUSYAWARAH
ISTIMEWA Pimpinan Sidang.
g. Masa jabatan PENGURUS INTI DPC dalam satu periode adalah 4 (empat) tahun dan selanjutnya
dapat dipilih kembali.
h. Jika SALAH SATU ATAU LEBIH PENGURUS INTI DPC berhalangan tetap maka Pengurus Dewan
Pimpinan Cabang bersama para Ketua Dewan Pimpinan Ranting menggelar Musyawarah Pimpinan
Cabang untuk mengusulkan kepada IMAM penetapan salah satu atau lebih Pengurus Inti baru yang
bertugas sampai akhir masa jabatan.
i. Jika SALAH SATU ATAU LEBIH PENGURUS INTI DPC melakukan PELANGGARAN BERAT
terhadap perjuangan Islam, maka Dewan Pimpinan Cabang bersama para Ketua DPRa berhak
menggelar Musyawarah Pimpinan Cabang untuk mengusulkan kepada IMAM pemberhentian salah
satu atau lebih Pengurus Inti tersebut dan menetapkan Pengurus Inti baru yang bertugas sampai akhir
jabatan.

14. DEWAN PIMPINAN RANTING :


a. WAJIB melakukan rekruitmen anggota di Rantingnya.
b. BERHAK membentuk Bidang-Bidang sesuai kebutuhan.
c. Pimpinan Tertinggi organisasi FPI di tingkat Ranting adalah PENGURUS INTI DPRa yang diusulkan melalui
Musyawarah Ranting (MUSRAN) yang dilaksanakan 5 (lima) tahun sekali dan ditetapkan oleh IMAM.
d. PENGURUS INTI DPRa diusulkan dalam MUSRAN melalui MUSYAWARAH UMUM yang
melibatkan semua peserta MUSRAN, jika gagal maka melalui MUSYAWARAH KHUSUS yang
melibatkan Pimpinan Sidang dan 3 (tiga) orang Formatur yang dipilih oleh Peserta MUSRAN, jika
gagal lagi maka melalui MUSYAWARAH ISTIMEWA Pimpinan Sidang.
e. Masa jabatan PENGURUS INTI DPRa dalam satu periode adalah 3 (Tiga) tahun dan selanjutnya dapat
dipilih kembali.
f. Jika SALAH SATU ATAU LEBIH PENGURUS INTI DPRa berhalangan tetap maka Dewan
Pimpinan Ranting menggelar Musyawarah Pimpinan Ranting untuk mengusulkan kepada IMAM
penangkatan dan penetapan SALAH SATU ATAU LEBIH PENGURUS INTI DPRa baru yang
bertugas sampai akhir masa jabatan.
g. Jika SALAH SATU ATAU LEBIH PENGURUS INTI DPRa melakukan PELANGGARAN BERAT
terhadap perjuangan Islam, maka Dewan Pimpinan Ranting berhak menggelar Musyawarah Pimpinan
Ranting untuk mengusulkan kepada IMAM pemberhentian SALAH SATU ATAU LEBIH
PENGURUS INTI DPRa tersebut dan mengangkat serta menetapkan SALAH SATU ATAU LEBIH
PENGURUS INTI DPRa baru yang bertugas sampai akhir masa jabatan.
15. Organisasi FPI memiliki Sayap Juang Organisasi berupa Badan Khusus dan Lembaga Otonom serta
Anak Organisasiyang dibentuk melalui MUNAS FPI.
16. Segala ketetapan dan peraturan yang dikeluarkan oleh setiap Sayap Juang Organisasi FPI tidak boleh
bertentangan dengan ASASI PERJUANGAN FPI.
17. Pengurus Inti setiap Sayap Juang Organisasi FPI di semua tingkatan harus dengan persetujuan Pimpinan
Tertinggi FPI di tingkatan tersebut.
18. Setiap Sayap Juang Organisasi FPI berhak mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Pengurus
Intinya kepada Pimpinan Tertinggi FPI di tingkatannya.
BAB V
KEUANGAN ORGANISASI
Pasal 13
KEUANGAN ORGANISASI

1. Iuran dan infak dari anggota organisasi.


2. Donatur yang halal dan tidak mengikat.
3. Usaha-usaha lain yang sah dan halal.

BAB VI
KEANGGOTAAN
Pasal 14
KEANGGOTAAN

1. Anggota organisasi FPI harus beragama Islam.


2. Kelompok / Lembaga / Organisasi lain yang ingin berfusi / beraliansi dengan organisasi ini harusmemenuhi
Asasi Organisasi ini.
3. Syarat-syarat keanggotaan lainnya akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga organisasi.

BAB VII
PERUBAHAN DAN PEMBUBARAN
Pasal 15
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Anggaran Dasar organisasi FPI hanya dapat diubah melalui Musyawarah Nasional (MUNAS)

Pasal 16
PEMBUBARAN ORGANISASI

1. Organisasi FPI hanya dapat dibubarkan oleh Musyawarah Mufakat melalui Musyawarah Nasional (MUNAS).
2. Jika organisasi FPI dibubarkan paksa oleh kekuatan zalim, maka IMAM BESAR wajib melakukan penyelamatan
organisasi.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 17
KETENTUAN PENUTUP

1. Anggaran Dasar FPI terdiri dari 8 (delapan) Bab dan 17 (tujuhbelas) Pasal sebagai rekam jejak bahwa
organisasi ini berdiri pada bulan 8 (delapan) dan tanggal 17 (tujuhbelas).
2. Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar FPI ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
dan Peraturan-Peraturan tersendiri lainnya yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar.
3. Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan-Peraturan organisasi lainnya dibuat dan disusun oleh Dewan
Pimpinan Pusat dan disahkan oleh IMAM BESAR.
4. Semua ketentuan organisasi FPI yang bertentangan dengan Anggaran Dasar FPI ini tidak berlaku.
5. Anggaran Dasar FPI ini disahkan oleh Musyawarah Nasional III Front Pembela Islam (MUNAS III
FPI) di Asrama Haji Kota Bekasi – Jawa Barat 15-17 Syawwal 1434 Hijriyyah bertepatan dengan
tanggal 22-24 Agustus 2013 Miladiyyah, dan mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Wisma Haji Kota Bekasi –Jawa Barat
Pada Tgl. : 16 Syawal 1434 H /23 Agustus 2013 M

Pimpinan Sidang Komisi F

KH. Drs. Syech Misbahul Anam Ust. Choirul Ir. Habib Muhsin Al Habsy

Pimpinan Sidang Pleno II


Munas III Front Pembela Islam (FPI)

KH. Drs. Syech MISBAHUL ANAM AT TIJANI HABIB MUHSIN AHMAD ALATTAS, Lc
Ketua Sekretaris

ANGGOTA

KH. SHABRI LUBIS HABIB AHMAD KH. JA’FAR SHODIQ

KH. AWIT MASHURI MUNARMAN


ANGGARAN RUMAH TANGGA FRONT PEMBELA ISLAM (FPI)

BAB I
NAMA, KEDUDUKAN DAN LAMBANG
FILOSOFI NAMA

Pasal 1
FRONT

Menampilkan bahwa organisasi ini selalu berusaha untuk ada di garis terdepan dan memiliki sikap tegas
dalam setiap langkah perjuangan.

Pasal 2
PEMBElA

Mengisyaratkan bahwa Organisasi ini berperan aktif dalam membela dan memperjuangkan hak Islam dan
umat Islam di mana saja berada.

Pasal 3
ISLAM

Mencirikan bahwa perjuangan Organisasi tidak terlepas dari ikatan ajaran syari'at Islam yang lurus, benar,
serta menjadi rahmat untuk semesta alam.

Pasal 4
KEDUDUKAN PIMPINAN

1. Dewan Pimpinan Pusat berkedudukan di Jakarta Ibukota Negara Republik Indonesia.


2. a. Dewan Pimpinan Daerah berkedudukan di tempat yang ditetapkan oleh Pimpinan Daerah.
b. Dewan Pimpinan Daerah berkedudukan setingkat Propinsi atau yang dipersamakan dengan itu.
3. a. Dewan Pimpinan Wilayah berkedudukan di tempat yang ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah.
b. Dewan Pimpinan Wilayah berkedudukan setingkat Kabupaten/Kota atau yang dipersamakan dengan itu.
4. a. Dewan Pimpinan Cabang berkedudukan di tempat yang ditetapkan oleh Pimpinan Cabang.
b. Dewan Pimpinan Cabang berkedudukan setingkat Kecamatan atau yang dipersamakan dengan itu.
5. a. Dewan Pimpinan Ranting berkedudukan di tempat yang ditetapkan oleh Pimpinan Ranting.
b. Dewan Pimpinan Ranting berkedudukan setingkat Kelurahan atau yang dipersamakan dengan itu.

ARTI LAMBANG
Pasal 5
Arti lambang

1. Warna dasar putih melambangkan kesucian.


2. Kaligrafi kalimat ”Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah” berbentuk Bintang
melambangkan Ketinggian Islam dan urgensi peranannya sebagai fondasi gerak langkah perjuangan FPI.
3. Bentuk Bintang Segi Lima menunjukkan Lima Penjuru Arah yang melambangkan Lima RukunIslam dan
Sholat Lima Waktu, sehingga tiap gerak langkah perjuangan FPI berdiri di atas Lima Rukun Islam dengan
penegasan tidak boleh meninggalkan Sholat Lima Waktu.
4. Kaligrafi Basmalah berbentuk Hilal (Bulan Sabit) melambangkan ciri khas Islam dan urgensi peran
Basmalah dalam tiap gerak langka perjuangan FPI.
5. Kaligrafi Hamdalah berbentuk Kubah Masjid di puncak Segitiga Tasbih melambangkan bahwa tiap gerak
langkah perjuangan FPI harus diikat dengan Syukur dan Sabar .
6. Lafazh ''Lillah'' ada di Puncak Kaligrafi Hamdalah menunjukan bahwa Allah SWT adalah tujuan dari
perjuangan FPI.
7. Warna hijau tua pada semua Kaligrafi melambangkan keislaman.
8. Tulisan Front Pembela Islam berbahasa Arab menunjukkan semangat Qur'ani.
9. Wama hitam pada tulisan melambangkan ketajaman pemikiran dan ketegasan sikap.
10. Tulisan Front Pembela Islam berbahasa Indonesia berwarna merah menunjukkan keberanian dan rasa
kebangsaan.
11. Tasbih melambangkan selalu Dzikrullah.
12. Bentuk Tasbih segitiga sama sisi yang diikat melambangkan kekuatan Ukhuwwah Islamiyyah.
13. Sembilan puluh sembilan biji tasbih melambangkan Asmaul Husna.
14. Tiga puluh tiga biji tasbih di setiap sisi melambangkan keadilan dan pemerataan
15. Warna hijau muda pada tasbih melambangkan kesejukan Islam.
16. Tiga biji tasbih pemisah dengan bentuk kubah masjid melambangkan keterikatan anggota dengan masjid.
17. Biji Tasbih Pemisah di Puncak Segitiga Tasbih dengan Kubah lebih besar dan tiang badan lebih panjang
melambangkan Puncak Kepemimpinan FPI yang memiliki tanggung jawab lebih besar dan wewenang
lebih luas, serta wajib dipatuhi oleh anggota.

BAB II
PENGERTIAN VISI DAN MISI
Pasal 6

1. Arti Penerapan Syariat secara Kaffah adalah penerapan syariat Islam diseluruh bidang kehidupan yaitu
Akidah, Ibadah, Munakahat, Muamalat dan Jinayat. / Arti Penerapan Syariat Islam secara Kaffah adalah
Kewajiban menjalankan Syariat Islam secara Individu, dalam kehidupan Masyarakat dan Negara
2. Arti Khilafah Islamiyyah adalah diterapkannya kesatuan sistem ekonomi, politik, pertahanan, Sosial,
pendidikan dan hukum di dunia Islam.

Visi dan Misi organisasi FPI adalah penerapan Syariat Islam secara Kaaffah di bawah naungan Khilaafah
Islamiyyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan Da’wah, penegakan Hisbah dan Pengamalan
Jihad.

FPI harus ikut berperan aktif dalam upaya menegakkan Khilafah Islamiyyah 'Alamiyyah sesuai Syariat Islam,
melalui langkah-langkah logis realistis yang elegan dan bertanggung-jawab, serta sejalan dengan nafas
kemajuan Dunia, antara lain :

a. Mendorong peningkatan Fungsi dan Peran Organisasi Konferensi Islam (OKI).


b. Mendorong pembentukan Parlemen Bersama Dunia Islam.
c. Mendorong pembentukan Pasar Bersama Dunia Islam.
d. Mendorong pembentukan Pakta Pertahanan Bersama Dunia Islam.
e. Mendorong penyatuan Mata Uang Dunia Islam.
f. Mendorong penghapusan Paspor dan Visa antar Dunia Islam.
g. Mendorong kemudahan asimilasi perkawinan antar Dunia Islam.
h. Mendorong penyeragaman kurikulum pendidikan Agama & Umum Dunia Islam.
i. Mendorong pembuatan Satelit Komunikasi Bersama Dunia Islam.
j. Mendorong pendirian Mahkamah Islam Internasional.

BAB III
STRUKTUR KEPIMPINAN, TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 7
DEWAN PIMPINAN PUSAT

Dewan Pimpinan Pusat adalah Badan Pelaksana tertinggi Organisasi FPI

Pasal 8
STRUKTUR DEWAN PIMPINAN PUSAT
1. Dewan Pimpinan Pusat FPI terdiri dari :
a. IMAM BESAR sebagai Pimpinan Tertinggi
b. Majelis Syura yang dipimpin oleh seorang Ketua dibantu seorang Sekretaris dan 5 (lima) orang
Ketua Dewan Tinggi Front, yaitu : Dewan Syari'at, Dewan Kehormatan, Dewan Pembina, Dewan
Penasihat dan Dewan Pengawas yang jumlah keanggotaannya minimal 33 orang dan maksimal 99
orang.
c. Dewan Tanfidzi yang dipimpin oleh seorang Ketua Umum yang dibantu oleh beberapa orang Ketua,
seorang Sekretaris Umum yang dibantu beberapa Wakil Sekretaris Umum, Seorang Bendahara Umum
yang dibantu beberapa Wakil Bendahara Umum, 5 (Lima) Badan Khusus, 5 (Lima) Lembaga
Otonom, dan 4 anak Organisasi.
2. Ketua-Ketua DPP yang membawahi Bidang dapat membentuk beberapa Departemen sesuai kebutuhan.
3. FPI memiliki 5 (lima) Badan Khusus setingkat departemen, yaitu :
a. Badan Investigasi Front (BIF).
b. Badan anti-Teror Front (BAT).
c. Badan Pengkaderan Front (BPF).
d. Badan Ahli Front (BAF).
e. Badan Amil Zakat (BAZ)
4. FPI memiliki 5 (Lima) Lembaga Otonom yang independen, yaitu :
a. Lembaga Pemantau Ma'siat Front (PMF).
b. Lembaga Da'wah Front (LDF).
c. Lembaga Ekonomi Front (LEF).
d. Lembaga Bantuan Hukum Front (BHF).
e. Lembaga Kemanusiaan Front Bernama Hilal Merah Indonesia disingkat HILMI.
5. FPI memiliki 4 (empat) Anak Organisasi yang Otonom dan independen serta memiliki struktur organisasi, garis
komando, program kerja dan pertanggung-jawaban serta AD/ ART sendiri, yaitu
a. Laskar Pembela Islam (LPI ).
b. Mujahidah Pembela Islam (MPI).
c. Serikat Pekerja Front (SPF ).
d. Front Mahasiswa Islam (FMI).

Pasal 9
TUGAS DAN WEWENANG DPP

1. Melaksanakan hasil-hasil Ketetapan dan Keputusan-keputusan Munas.


2. Menyampaikan ketetapan-ketetapan, perubahan-perubahan serta segala hal penting yang berhubungan
dengan Organisasi FPI kepada pengurus FPI secara Nasional.
3. Menyelenggarakan Munas pada akhir periode.
4. Menyiapkan Draf Materi Munas.
5. Memberikan pertanggung-jawaban kepada Munas.
6. Menyelenggarakan Mukernas sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 periode kepengurusan.
7. Menyelenggarakan Rapat Pleno setiap diperlukan.
8. Menyelenggarakan Rapat Pengurus.
9. Menetapkan, Mengesahkan dan melantik Pimpinan Daerah dan Pimpinan Wilayah.
10. Memberikan peringatan Lisan dan/atau Tertulis terhadap anggota dan/atau pengurus yang melanggar
disiplin dan/atau prosedur organisasi.
11. Menjatuhkan skorsing, pemberhentian dan rehabilitasi terhadap anggota dan/atau pengurus yang
melakukan pelanggaran syariat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
12. Mendirikan, menetapkan, mengesahkan dan membekukan badan dan/atau kepengurusan tingkat DPD,
DPLN, DPW, DPC dan DPRa.
13. Melakukan pembinaan rutin mingguan kepada seluruh pengurus DPP.

Pasal 10
TUGAS MAJELIS SYURA

1. Tugas Majelis Syura adalah menjaga membimbing mengarahkan setiap aktifitas FPI
2. Mengawasi Ketua Umum melalui masukan-masukan berupa informasi, saran, kritik, dan nasehat.
3. Ketua Majelis Syura di dalam menjalankan tugasnya dibantu dengan 5 (lima) Wakil Ketua yang
membawahi :
a. Dewan Syariat.
b. Dewan Kehormatan.
c. Dewan Pembina.
d. Dewan Penasehat.
e. Dewan Pengawas.

Pasal 11
FUNGSI DEWAN-DEWAN

1. Dewan Syariat :
a. Menjaga nilai-nilai syariat dalam setiap aktifitas dan Program FPI.
b. Membantu Ketua Umum FPI dalam menegakkan syariat di tubuh organisasi.
c. Memberikan masukan dan laporan pengawas syariat kepada Ketua Umum FPI.
2. Dewan Kehormatan.
a. Menjaga dan memulihkan Citra FPI.
b. Meneruskan dan Meneliti setiap pelanggaran para aktivis FPI.
c. Merekomendasikan seluruh sanksi dan pelanggaran kepada Ketua Umum FPI.
3. Dewan Pembina:
a. Membina dan membimbing FPI dalam merealisasikan tujuan.
b. Membantu melancarkan pembentukan FPI di Daerah dan Wilayah.
c. Merekomendasikan pembentukan / pembekuan FPI di Daerah dan Wilayah kepada Ketua Umum FPI.
4. Dewan Penasihat :
a. Memberikan nasehat yang bermanfaat pada FPI.
b. Menyerap usul, saran dan kritik terhadap FPI.
c. Merekomendasikan setiap inforrmasi, saran, kritik keputusan dan Pertimbangan kepada Ketua Umum
FPI.
5. Dewan Pengawas :
a. Mengawasi dan Mengevaluasi seluruh aktifitas Program FPI.
b. Mengawasi dan mengontrol perilaku para aktivis FPI
c. Merekomendasikan semua catatan pengawasan kepada Ketua Umum FPI.

Pasal 12
TUGAS KETUA UMUM DAN WAKIL KETUA UMUM

1. Memimpin dan mengembangkan FPI secara benar dan baik.


2. Membina seluruh aktifitas FPI menjadi manusia muslim seutuhnya.
3. Memperjuangkan hak dan martabat umat Islam di dunia mana saja.
4. Menjalankan tugas-tugas khusus yang diberikan Imam Besar.
5. Wakil Ketua Umum secara otomatis menggantikan Ketua Umum pada saat berhalangan.

Pasal 13
TUGAS KETUA – KETUA

1. Membantu Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum dalam menjalankan organisasi.
2. Mengkoordinir Departemen-departemen , Badan Khusus, Lembaga Otonom dan Anak Organisasi lainnya.
3. Menggantikan peran Ketua Umum ketika Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum secara bersamaan
berhalangan melaksanakan tugasnya.

Pasal 14
TUGAS SEKRETARIS UMUM

1. Membantu Ketua Umum dan Wakil Ktua Umum dalam pengelolaan Sekretriat, menejerial dan
administrasi organisasi serta berperan sebagai pelaksana harian kesekretariatan organisasi.
2. Berperan sebagai Pengawas 5 (lima) Badan Khusus dan 5 (lima) Lembaga Otonom serta 4 (empat) anak
Organisasi.
3. Bersama para Ketua menggantikan peran Ketua Umum saat Ketua Umum berhalangan menjalankan
tugasnya.

Pasal 15
TUGAS WAKIL SEKRETARIS UMUM

1. Membantu Ketua-Ketua Bidang masing masing.


2. Mengambil peran Sekretaris Umum ketika berhalangan melaksanakan tugasnya.

Pasal 16
TUGAS BENDAHARA UMUM

1. Membantu Ketua Umum dalam pengelolaan administrasi keuangan organisasi.


2. Mengawasi dan menjalankan administrasi keuangan dengan asas jujur dan amanah.
3. Mengatur sistem keuangan FPI secara profesional dengan asas ekonomi Islam.

Pasal 17
TUGAS WAKIL BENDAHARA UMUM

1. Membantu Bendahara Umum.


2. Mengurus iuran / infaq dari anggota organisasi dan donatur-donatur.
3. Mengambil peran Bendahara Umum ketika berhalangan melaksanakan tugasnya.

Pasal 18
TUGAS KEPALA DEPARTEMEN

1. Membantu Ketua Bidang secara maksimal dan penuh loyalitas.


2. Mengoptimalkan fungsi dan peran departemen yang dipimpinnya.
3. Menjalin kejasama yang baik dengan departemen yang lainnya.

Pasal 19
TUGAS BADAN KHUSUS, LEMBAGA OTONOM DAN ANAK ORGANISASI

A. BADAN KHUSUS
1. Badan Investigasi Front (BIF)
BIF ada dua divisi :
1.1. Divisi Intelijen :
a. Mengawasi secara rahasia aktifitas apa pun yang dapat merugikan Islam dan FPI.
b. Menjaga segala kerahasiaan pergerakan Front dengan semangat dan loyalitas yang tinggi.
c. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali tugas BIF kepada Ketua Bidang Hisbah
1.2. Divisi Pencari Fakta :
a. Mencari, mengkaji dan memeriksa keakuratan Fakta pada setiap persoalan yang berdampak
buruk terhadap Islam dan FPI.
b. Membuat data secara lengkap dan Profesional terhadap Fakta-Fakta yang ditentukan.
c. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali tugas BPF kepada Ketua Bidang Hisbah.
2. Badan anti Teror (BAT) :
a. Melawan segala aksi teror dari siapa pun yang dapat merugikan Islam & FPI.
b. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali tugas BAT kepada Imam Besar, Ketua Umum
dan Sekretaris Umum.
3. Badan Pengkaderan Front (BPF) :
a. Membantu lembaga khusus dan sistem Pengkaderan FPI.
b. Memberikan satuan - satuan tugas yang terampil dan terlatih secara Fisik dan mental untuk
mempertahankan Islam dan FPI.
c. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali tugas BPF kepada Ketua Bidang Keorganisasian
dan Keanggotaan.
4. Badan Ahli Front (BAF) :
a. Mengembangkan SDM Anggota khususnya dari umat lslam umumnya.
b. Mencari metode yang tepat bagi perkembangan FPI.
c. Menganalisa setiap kelembagaan IImu Pengetahuan secara aktif.
d. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali tugas BAF kepada IMAM BESAR, Ketua
Umum dan Sekretaris Umum.
5. Badan Amil Zakat Front
a. Melakukan penyuluhan dan penyadaran zakat kepada umat Islam
b. Melakukan Pengumpulan dan pendistribusian zakat sesuai aturan syari’at.
c. Mengadakan rekrutmen keanggotaan wajib zakat secara tetap
d. Membangun sistem informasi dan pengelolaan zakat yang professional dan terintegrasi.

B. LEMBAGA OTONOM
1. Lembaga Pemantau Ma'siat Front (PMF) :
a. Memantau dan menghimpun data kema'siatan di Indonesia.
b. Mencegah secara dini terjadinya kema'siatan.
c. Memberi penyuluhan dan da'wah tentang bahaya ma'siat.
d. Mengembangkan dan membuka cabang di setiap daerah.
2. Lembaga Da'wah Front (LDF) :
.
a. Membuat sistem (metode) da'wah khas FPI.
b. Membentuk Korps Muballigh FPI.
c. Mengirim da'i-da'i ke masjid-masjid, instansi swasta / pernerintah, pabrik dan sekolah-sekolah.
d. Mengembangkan dan membuka cabang di setiap daerah.
3. Lembaga Ekonomi Front (LEF) :
a. Membentuk koperasi FPI.
b. Membentuk Bank Syari'at.
c. Membuat pasar - pasar tradisional di wilayah yang strategis.
d. Mengembangkan dan membuka cabang di setiap daerah.
4. Lembaga Bantuan Hukum Front (BHF) :
a. Berperan sebagai penasehat hukum dan pembela aktivis Islam dan FPI yang teraniaya.
b. Membela dan membantu Mustadh'afin dan Mazhlumin dalam soal hukum.
c. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali tugas BHF kepada Ketua Umum FPI.
d. Mengembangkan dan membuka cabang di setiap daerah.
5. Lembaga Kemanusiaan Front : Hilal Merah Indonesia (HILMI)
a. Mengerahkan relawan untuk tugas-tugas kemanusiaan dalam bencana kemanusiaan dan bencana
alam.
b. Menggalang dana kemanusiaan untuk disalurkan kepada korban bencana alam dan korban
bencana kemanusiaan.
c. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan relawan kemanusiaan.
d. Mengembangkan dan membuka cabang di setiap daerah.
C. ANAK ORGANISASI
1. Laskar Pembela lslam (LPI) :
LPI adalah Anak Organisasi yang Otonom dan Independen serta memiliki struktur organisasi, garis
komando, program kerja dan pertanggung-jawaban serta AD / ART sendiri. LPI adalah Barisan
Pemuda Islam Militan yang mewakafkan dirinya sebagai pelayan ummat dan pembela agama.
2. Mujahidah Pembela Islam (MPI) :
MPI adalah Anak Organisasi yang Otonom dan Independen serta memiliki struktur organisasi, garis
komando, program kerja dan pertanggung-jawaban serta AD / ART sendiri. MPI adalah Barisan
Pejuang Muslimat Militan yang mengusung misi untuk memperjuangkan kaum wanita agar berada
pada posisi yang mulia dan terhormat di dunia mau pun akhirat.
3. Serikat Pekerja Front (SPF) :
SPF adalah Anak Organisasi yang Otonom dan Independen serta memiliki struktur organisasi, garis
komando, program kerja dan pertanggung-jawaban serta AD/ART sendiri. SPF adalah Barisan
Pekerja Islam Militan yang berprofesi sebagai buruh / pegawai / karyawan di berbagai pabrik dan
perusahaan. Misi utamanya mengangkat harkat dan martabat serta kesejahteraan para pekerja
muslim sesuai aturan Syariat Islam.
4. Front Mahasiswa Islam (FMI) :
FMI adalah Anak Organisasi yang Otonom dan Independen serta memiliki struktur organisasi, garis
komando, program kerja dan pertanggung-jawaban serta AD / ART sendiri. FMI adalah Barisan
Mahasiswa Islam Militan yang memperjuangkan Islam melalui jalur akademik dan Intelektual secara
berwibawa dan terhormat sesuai aturan Syariat Islam.

5. Setiap anak organisasi wajib mengembangkan dan membuka struktur organisasi dari pusat sampai
daerah di semua tingkatan.

Pasal 20
PERIODE JABATAN PENGURUS DPP

1. Periode jabatan Majelis Syura dan Dewan Tanfidzi Pusat adalah 7 (Tujuh) tahun terhitung sejak pelantikan.
2. Seseorang Anggota Biasa / Teras dapat menjabat sebagai Pimpinan Pusat untuk beberapa periode
selama ia istiqomah dan dicintai serta dipilih melalui aturan yang telah ditetapkan AD/ART.

Pasal 21
DEWAN PIMPINAN DAERAH

1. Pimpinan daerah adalah Badan pelaksana organisasi ditingkat Propinsi atau yang dipersamakan dengan itu.
2. Apabila dianggap perlu Pimpinan Daerah dapat membentuk koordinator wilayah.
3. Dalam satu Provinsi dapat dibentuk satu atau lebih Pimpinan Daerah / membentuk Koordinator Daerah
(Korda).

A. STRUKTUR DEWAN PIMPINAN DAERAH


1. Pimpinan daerah terdiri dari IMAM, Majelis Syura Daerah dan Dewan Tanfidzi.
2. Majelis Syura Daerah sekurang-kurangnya terdiri dari 1 (satu) orang Ketua dibantu beberapa orang
Wakil Ketua, 1 (satu) orang sekretaris dengan jumlah anggota minimal 33 dan maksimal 99 orang.
3. Dewan Tanfidzi Daerah terdiri dari 1 (satu) orang Ketua, beberapa Wakil Ketua, Seorang Sekretaris
dan seorang Bendahara.

B. TUGAS DAN WEWENANG DPD


1. Melaksanakan Hasil-Hasil Ketetapan Musyawarah Daerah, Instruksi dan ketetapan Pimpinan Pusat.
2. Menyampaikan Ketetapan-Ketetapan, Perubahan-Perubahan serta segala hal penting yang berhubungan
dengan organisasi FPI kepada pengurus FPI yang bersangkutan.
3. Menyelenggarakan Musyawarah Daerah pada akhir periode.
4. Memberikan pertanggung-jawaban kepada Musyawarah Daerah.
5. Menyelenggarakan MUKERDA sekurang-kurangnya sekali dalam satu periode.
6. Menyelenggarakan Rapat Pleno di daerah.
7. Menyelenggarakan Rapat Pengurus Daerah.
8. Menetapkan, Mengesahkan dan melantik Pimpinan Cabang (PC) serta memberikan rekomendasi
susunan Personalia Pimpinan Wilayah ke Pimpinan Pusat.
9. Memberikan peringatan Lisan dan/atau Tertulis terhadap anggota dan/atau pengurus tingkat DPD,
DPW, DPC dan DPRa yang melanggar disiplin dan/atau prosedur organisasi.
10. Menjatuhkan skorsing, pemberhentian dan rehabilitasi terhadap anggota dan/atau pengurus tingkat
DPD, DPW, DPC dan DPRa yang melakukan pelanggaran syariat, sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
11. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali perkembangan situasi dan kondisi daerah secara
tertulis kepada Pimpinan Pusat terhitung sejak pelantikan pengurus daerah bersangkutan
12. Sebagai pelaksana serta penanggung-jawab terhadap aksi / pengerahan massa FPI di tingkat Daerah dan
Wilayah yang ada di bawahnya.
13. Pimpinan Daerah dapat melakukan tindakan Administrasi atau mengambil alih bila ada Pimpinan
Cabang yang vakum atau periodesasinya berakhir.

C. PERIODE JABATAN PENGURUS DPD


1. Masa jabatan Pimpinan Daerah adalah 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan serah-terima
jabatan dan pengurus daerah FPI Demisioner.
2. Seseorang Anggota Biasa / Teras dapat menjabat sebagai Pimpinan Daerah untuk beberapa periode
selama istiqomah dan dicintai serta dipilih melalui aturan yang telah ditetapkan AD/ART

Pasal 22
PERWAKILAN LUAR NEGERI

1. Untuk membantu pelaksanaan program kerja FPI di dunia Internasional dapat dibentuk perwakilan.
2. Perwakilan Luar Negeri adalah badan yang dibentuk oleh Pimpinan Pusat FPI untuk membantu
menegakkan misi dan eksistensi dalam komunikasi dengan dunia Internasional serta merupakan bagian dari
Pimpinan Pusat FPI.
3. Pengurus Perwakilan Luar Negeri ditunjuk dan disahkan oleh Pimpinan Pusat.
4. Pimpinan Pusat dapat mengangkat dan memberhentikan seorang Pengurus Perwakilan sewaktu-waktu.
5. Perwakilan luar negeri bertanggung-jawab kepada Pimpinan Pusat.
6. Pembinaan dan pengawasan perwakilan luar negeri dilakukan oleh Departemen Luar Negeri.
7. Aturan lebih lanjut tentang perwakilan FPI diluar negeri di atur secara khusus dan tersendiri.

Pasal 23
DEWAN PIMPINAN WILAYAH

1. Dewan Pimpinan Wilayah adalah Badan Pelaksana organisasi FPI di tingkat Kabupaten/Kota atau yang
dipersamakan dengan itu.
2. Berkedudukan di ibukota Kabupaten / Kotamadya / Daerah Tingkat II atau sesuai dengan keputusan
Musyawarah Wilayah.

A. PERSONALIA PIMPINAN WILAYAH


1. Dewan Pimpinan Wilayah hanya terdiri dari Dewan Tanfidzi.
2. Personalia Pimpinan Wilayah sekurang-kurangnya terdiri dari 1 (satu) orang Ketua dibantu dengan
beberapa Wakil Ketua, seorang Sekretaris dengan seorang Bendahara.

B. TUGAS, KEWAJIBAN DAN WEWENANG DPW


1. Melaksanakan hasil-hasil Ketetapan Musyawarah Wilayah, Instruksi dan ketetapan-ketetapan
instansi pimpinan di atasnya.
2. Menyampaikan Ketetapan-Ketetapan, Perubahan-Perubahan serta segala hal penting yang berhubungan
dengan organisasi FPI kepada pengurus FPI di wilayah yang bersangkutan.
3. Menyelenggarakan Musyawarah Wilayah pada akhir periode.
4. Memberikan pertanggung-jawaban kepada Musyawarah wilayah.
5. Menyelenggarakan MUKERWIL sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam satu periode.
6. Menetapkan, Mengesahkan dan Melantik Personalia Pimpinan Ranting.
7. Memberikan rekomendasi skorsing / pemecatan terhadap pengurus / anggota, sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
8. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali perkembangan situasi dan kondisi wilayahnya
secara tertulis kepada pusat dengan tembusan kepada Pimpinan daerah setempat terhitung sejak
pelantikan dan serah-terima jabatan.

C. PERIODE JABATAN PENGURUS DPW


1. Masa jabatan Pimpinan Wilayah adalah 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan serah-terima
jabatan dari pengurus wilayah FPI demisioner.
2. Seseorang Anggota Biasa / Teras dapat menjabat sebagai Pimpinan Wilayah untuk beberapa periode
selama istiqomah dan dicintai serta dipilih melalui aturan yang telah ditetapkan AD/ART.

Pasal 24
DEWAN PIMPINAN CABANG

1. Dewan Pimpinan Cabang adalah Badan Pelaksana organisasi FPI di tingkat Kecamatan atau yang
dipersamakan dengan itu.
2. Berkedudukan di kota Kecamatan atau sesuai dengan keputusan Musyawarah Cabang.

A. PERSONALIA DEWAN PIMPINAN CABANG


1. Dewan Pimpinan Cabang hanya terdiri dari Dewan Tanfidzi.
2. Personalia Pimpinan Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari 1 orang Ketua dibantu oleh 1 orang
Wakil Ketua, 1 orang sekretaris, 1 orang bendahara.
3. Susunan Pimpinan Cabang sedapat-dapatnya disesuaikan dengan susunan Pimpinan Wilayah atau
sesuai kebutuhan dan kemampuan.
4. Dalam satu Kecamatan hanya boleh dibentuk satu Pimpinan Cabang.

B. TUGAS, KEWAJIBAN DAN WEWENANG DPC


1. Melaksanakan Hasil-Hasil Ketetapan Musyawarah Cabang, Instruksi dan ketetapan- ketetapan instansi
pimpinan di atasnya.
2. Menyampaikan Ketetapan-Ketetapan, Perubahan-Perubahan serta segala hal penting yang berhubungan
dengan organisasi kepada pengurus FPI di Cabang yang bersangkutan.
3. Menyelenggarakan Musyawarah Cabang pada akhir periode.
4. Memberikan pertanggung-jawaban kepada Musyawarah Cabang.
5. Menyelenggarakan MUKERCAB sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam satu periode.
6. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali perkembangan situasi dan kondisi Cabangnya
secara tertulis kepada Daerah dengan tembusan Pimpinan Wilayah setempat terhitung sejak pelantikan
dan serah-terima jabatan.

C. PERIODE JABATAN PENGURUS DPC


1. Masa jabatan Pimpinan Cabang FPI adalah 4 (empat) tahun terhitung sejak pelantikan dan serah-terima
jabatan dari Pimpinan Cabang FPI demisioner.
2. Seseorang Anggota Biasa I Teras dapat menjabat sebagai Pimpinan Cabang untuk beberapa periode
selama istiqomah dan dicintai serta dipilih melalui aturan yang telah ditetapkan AD/ART.

Pasal 25
DEWAN PIMPINAN RANTING

1. Dewan Pimpinan Ranting Badan Pelaksana organisasi FPI di tingkat Kelurahan atau yang dipersamakan
dengan itu
2. Masa jabatan Pimpinan Ranting FPI adalah 3 (tiga) tahun terhitung sejak pelantikan dan serah-terima
jabatan dari Pimpinan Ranting FPI demisioner.
3. Berkedudukan di Kelurahan atau sesuai dengan keputusan Musyawarah Ranting.
A. PERSONALIA DEWAN PIMPINAN RANTING
1. Dewan Pimpinan Ranting hanya terdiri dari Dewan Tanfidzi.
2. Pimpinan Ranting sekurang-kurangnya terdiri dari 1 orang Ketua dibantu oleh 1 orang Wakil Ketua,
1 orang sekretaris, 1 orang bendahara.
3. Susunan Pimpinan Cabang sedapat-dapatnya disesuaikan dengan susunan Pimpinan Wilayah atau
sesuai kebutuhan dan kemampuan.
4. Dalam satu Kelurahan hanya boleh dibentuk satu Pimpinan Ranting.
B. TUGAS PIMPINAN DP RANTING
1. Mengkoordinir anggota FPI yang ada di Ranting setempat.
2. Mengawasi Prilaku akhlak dan kepribadian anggota FPI di Wilayahnya.
3. Melaporkan secara berkala 4 (empat) bulan sekali tugas Ranting kepada DPC- FPI di wilayahnya.
C. PERIODE JABATAN PENGURUS DEWAN PIMPINAN RANTING
1. Masa jabatan Pimpinan Ranting FPI adalah 3 (tiga) tahun terhitung sejak pelantikan dan serah-terima
jabatan dari Pimpinan Ranting FPI demisioner.
2. Seseorang Anggota Biasa/Teras dapat menjabat sebagai Pimpinan Ranting untuk beberapa periode
selama istiqomah dan dicintai serta dipilih melalui aturan yang telah ditetapkan AD/ART.

BAB IV
TATA CARA PEMBENTUKAN
PASAL 26
DEWAN PIMPINAN DAERAH

1. Dewan Pimpinan Daerah didirikan di daerah Tingkat Propinsi atau yang dipersamakan dengan itu jika
di dalamnya sudah ada sekurang kurangnya 3 (tiga) Dewan Pimpinan Wilayah yang sah yang dibuktikan
dengan SK Kepengurusan.
2. Tiga (3) DPW yang sudah ada melalui ketua –ketua DPW tersebut secara bersama-sama mengusulkan
secara tertulis kepada DPP untuk membentuk DPD.
3. Atas Usulan tiga (3) DPW sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) di atas, DPP menunjuk seorang atau
beberapa orang sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPD Persiapan” dan menyelenggarakan
MUSDA.
4. Pendirian Dewan Pimpinan Daerah yang tidak ada DPW dilakukan atas usul atau rekomendasi secara
tertulis dari tokoh masyarakat, alim ulama, dan/atau Pengurus DPP.
5. Atas Usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) di atas, DPP menunjuk seorang atau beberapa orang
sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPD Persiapan” dan menyelenggarakan MUSDA.
6. Penetapan dan Pengesahan berdirinya Dewan Pimpinan Daerah dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat.
7. Prosedur dan mekanisme pembentukan Pimpinan Daerah diatur dalam ketentuan atau ketetapan
tersendiri.

PASAL 27
DEWAN PIMPINAN WILAYAH

1. Dewan Pimpinan Wilayah didirikan di daerah Tingkat Kabupaten/Kota atau yang dipersamakan dengan
itu jika di dalamnya sudah ada sekurang kurangnya 2 (dua) Dewan Pimpinan Cabang yang sah yang
dibuktikan dengan SK Kepengurusan.
2. Dua (2) DPC yang sudah ada melalui ketua –ketua DPC tersebut secara bersama-sama mengusulkan
secara tertulis kepada DPP melalui Pengurus DPD untuk membentuk DPW.
3. Atas Usulan Dua (2) DPC sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) di atas, DPP menunjuk seorang atau
beberapa orang sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPW Persiapan” dan menyelenggarakan
MUSWIL.
4. Pendirian Dewan Pimpinan Wilayah yang tidak ada DPC dilakukan atas usul atau rekomendasi secara
tertulis dari tokoh masyarakat, alim ulama, pengurus DPD dan/atau Pengurus DPP.
5. Atas Usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) di atas, DPP menunjuk seorang atau beberapa orang
sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPW Persiapan” dan menyelenggarakan MUSWIL.
6. Penetapan dan Pengesahan berdirinya Dewan Pimpinan Wilayah dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat.
8. Prosedur dan mekanisme pembentukan Pimpinan Wilayah diatur dalam ketentuan atau ketetapan tersendiri.

PASAL 28
DEWAN PIMPINAN CABANG

1. Dewan Pimpinan Cabang didirikan di daerah Tingkat Kecamatan atau yang dipersamakan dengan itu
jika di dalamnya sudah ada sekurang-kurangnya dua (2) Dewan Pimpinan Ranting yang sah yang
dibuktikan dengan SK Kepengurusan.
2. Dua (2) DPRa yang sudah ada melalui ketua –ketua DPRa tersebut secara bersama-sama mengusulkan
secara tertulis kepada DPD melalui Pengurus DPW untuk membentuk DPC.
3. Atas Usulan dua (2) DPRa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) di atas, DPD menunjuk seorang
atau beberapa orang sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPC Persiapan” dan
menyelenggarakan MUSCAB.
4. Pendirian Dewan Pimpinan Cabang yang tidak ada DPRa dilakukan atas usul atau rekomendasi
secara tertulis dari tokoh masyarakat, alim ulama, pengurus DPW dan/atau Pengurus DPD.
5. Atas Usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatas, DPD menunjuk seorang atau beberapa orang
sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPC Persiapan” dan menyelenggarakan MUSCAB.
6. Penetapan dan Pengesahan berdirinya Dewan Pimpinan Cabang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Daerah.
7. Prosedur dan mekanisme pembentukan Pimpinan Cabang diatur dalam ketentuan atau ketetapan tersendiri.

PASAL 29
PIMPINAN RANTING

1. Dewan Pimpinan Ranting didirikan di daerah Tingkat Kelurahan atau yang dipersamakan dengan itu jika
di dalamnya sudah ada sekurang-kurangnya enam (6) Orang Anggota FPI di wilayah Kelurahan tersebut.
2. Enam (6) orang Anggota FPI yang sudah ada melalui ketua DPC setempat secara bersama-sama
mengusulkan secara tertulis kepada DPW untuk membentuk DPRa.
3. Atas Usulan enam (6) Orang Anggota FPI sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatas, DPW
menunjuk seorang atau beberapa orang sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPRa
Persiapan” dan menyelenggarakan MUSRAN.
4. Pendirian Dewan Pimpinan Ranting yang tidak ada anggota FPI di Wilayah Kelurahan/Desa setempat
dilakukan atas usul atau rekomendasi secara tertulis dari tokoh masyarakat dan/atau alim ulama setempat.
5. Atas Usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) di atas, DPW menunjuk seorang atau beberapa orang
sebagai mandataris untuk menjalankan organisasi “DPRa Persiapan” dan menyelenggarakan MUSRAN.
6. Penetapan dan Pengesahan berdirinya Dewan Pimpinan Ranting dilakukan oleh Dewan Pimpinan
Wilayah.
7. Prosedur dan mekanisme pembentukan Pimpinan Ranting diatur dalam ketentuan atau ketetapan tersendiri.

BAB V
KEPUTUSAN RESMI ORGANISASI
Pasal 30
KEPUTUSAN RESMI PIMPINAN PUSAT

Setiap Keputusan Resmi Dewan Pimpinan Pusat harus melalui rapat pleno atau setidak-tidaknya harus melalui
rapat pengurus harian.

Pasal 31
KEPUTUSAN RESMI PIMPINAN DAERAH/ WlLAYAH/CABANG/RANTING

Setiap Keputusan Resmi Dewan Pimpinan Daerah / Wilayah harus melalui rapat pleno gabungan atau setidak-
tidaknya harus melalui rapat pengurus harian.

BAB VI
KEKUASAAN ORGANISASI
Pasal 32
MUSYAWARAH NASIONAl (MUNAS)
1. Munas adalah instansi kekuasaan tertinggi organisasi.
2. Munas merupakan forum musyawarah :
a. Pengurus Pimpinan Pusat.
b. Pimpinan Daerah.
c. Pimpinan Wilayah.
d. Pimpinan Cabang.
e. Perwakilan-perwakilan FPI diluar negeri.

Pasal 33
FUNGSI DAN WEWENANG MUSYAWARAH NASIONAL

1. Menetapkan AD, Asasi Perjuangan Front, peraturan-peraturan pokok organisasi, dan program kerja
nasional, menyusun Rekomendasi bersifat nasional dan internasional serta lain-lain yang dianggap perlu.
2. Meminta dan menilai pertanggung-jawaban pimpinan pusat.
3. Menetapkan tempat penyelenggaraan Musyawarah Nasional berikutnya.

Pasal 34
PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH NASIONAL

1. Musyawarah Nasional diselenggarakan 7 (Tujuh) tahun sekali oleh Dewan Pimpinan Pusat.
2. Dewan Pimpinan Pusat adalah penanggung-jawab penyelenggaraan Musyawarah Nasional.
3. Dalam keadaan tertentu yang dianggap perlu dapat diadakan Musyawarah Nasional luar biasa di luar
ketentuan ayat 1.
4. Musyawarah Nasional Luar Biasa dapat diselenggarakan atas usul/inisiatif DPP dan/atau 2/3 Dewan
Pimpinan Daerah yang sah.
5. Musyawarah Nasional Luar Biasa diadakan untuk membicarakan masalah yang mendesak dan yang dianggap
penting yang mengancam eksistensi organisasi dan tidak dapat ditangguhkan sampai Munas berikutnya.
6. Penyelenggaraan dan mekanisme kerja Musyawarah Nasional Luar Biasa akan diatur tersendiri.

Pasal 35
PESERTA MUSYAWARAH NASIONAL

1. Musyawarah Nasional terdiri dari Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan
Wilayah, Dewan Pimpinan Cabang, dan Perwakilan-perwakilan FPI di Luar Negeri.
2. Peserta MUNAS dan MUNASLUB adalah IMAM BESAR bersama Seluruh Pengurus Inti Majelis Syura
dan Seluruh Pengurus Dewan Tanfidzi DPP – FPI, para IMAM bersama Pengurus Inti Majelis Syura DPD,
para Ketua dan Sekretaris Dewan Tanfidzi DPD - FPI, para Ketua dan Sekretaris DPW – FPI, ditambah
dengan para Ketua dan Sekretaris DPC – FPI dan Ketua dan Sekretaris Perwakilan Luar Negeri.
3. Peserta MUNAS adalah Pengurus Definitif yang dibuktikan dengan Surat Keputusan Kepengurusan.

Pasal 36
TATA TERTIB MUSYAWARAH NASIONAL

1. Musyawarah Nasional dianggap sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya setengah lebih satu dari jumlah
pengurus Pimpinan Pusat, Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah, Dewan Pimpinan Cabang dan utusan-
utusan Perwakilan FPI dari luar Negeri.
2. Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang yang berhak hadir dalam Musyawarah Nasional
ialah Daerah, wilayah dan Cabang FPI yang Definitif yang dibuktikan dengan Surat Keputusan Kepengurusan.
3. Apabila ayat 1 tidak terpenuhi maka Musyawarah Nasional ditunda sampai 1 x 6 Jam dan setelah itu
dinyatakan sah.
4. Pimpinan Sidang Musyawarah Nasional adalah IMAM BESAR, Majelis Syura dan Dewan Tanfidzi Pusat
periode berjalan.
5. Peserta Musyawarah Nasional memiliki hak bicara.
Pasal 37
PELANTIKAN DAN SERAH TERIMA JABATAN PIMPINAN PUSAT

1. Penyusunan Personalia Dewan Pimpinan Pusat FPI oleh IMAM BESAR Selambat-lambatnya 30 x 24 Jam
setelah pelaksanaan MUNAS.
2. Penyelesaian susunan personalia dan struktur DPPFPI oleh IMAM BESAR ditandai dengan keluarnya
SK (Surat Keputusan ) dari IMAM BESAR.
3. Selambat-lambatnya 30 hari setelah personalia DPP FPI terbentuk, sudah dilakukan pelantikan dan Serah
Terima Jabatan.
4. Mekanisme penyelenggaraan acara pelantikan dan serah terima jabatan akan diatur dalam ketentuan
tersendiri.

Pasal 38
MUSYAWARAH DAERAH (MUSDA)

1. Musyawarah Daerah adalah pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Propinsi.


2. Musyawarah Daerah merupakan forum musyawarah Pengurus Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah dan
Pimpinan Cabang serta Pimpinan Ranting.

Pasal 39
FUNGSI DAN WEWENANG MUSYAWARAH DAERAH

1. Meminta dan menilai pertanggung-jawaban Pimpinan Daerah.


2. Menetapkan Program Kerja Daerah dan ketetapan-ketetapan lain yang dianggap perlu.
3. Mengusulkan nama- nama 3 (tiga) calon IMAM, kepada IMAM BESAR.
4. Mengusulkan nama-nama kepada DPP untuk menjadi calon Anggota Majelis Syura Pusat.
5. Menetapkan tempat penyelenggaraan Musyawarah Daerah berikutnya.

Pasal 40
PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH DAERAH

1. Musyawarah Daerah diselenggarakan 5 ( lima ) tahun sekali.


2. Pimpinan Daerah adalah penanggung-jawab penyelenggaraan Musyawarah Daerah.
3. Dalam kondisi yang dipandang perlu dapat diadakan Musyawarah Daerah luar biasa, di luar ketentuan ayat 1.
4. Musyawarah Daerah Luar Biasa dapat diselenggarakan atas inisiatif / usul Pimpinan Pusat dan/atau
Pimpinan Daerah dengan persetujuan sekurang-kurangnya 1/2 dari jumlah Pimpinan Wilayah yang ada.
5. Musyawarah Daerah Luar Biasa diadakan untuk membicarakan masalah yang mendesak atau yang
dianggap penting yang mengancam eksistensi organisasi dan tidak dapat ditangguhkan sampai
Musyawarah Daerah berikutnya.
6. Syarat-syarat lain penyelenggaraan dan mekanisme Musyawarah Daerah Luar Biasa akan diatur tersendiri.

Pasal 41
PESERTA MUSYAWARAH DAERAH

1. Musyawarah Daerah terdiri dari Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan
Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang serta Dewan Pimpinan Ranting.
2. Peserta MUSDA dan MUSDALUB adalah IMAM bersama seluruh Pengurus Inti Majelis Syura dan seluruh
Pengurus Dewan Tanfidzi DPD – FPI, para Ketua dan Sekretaris DPW – FPI, serta para Ketua dan
Sekretaris DPC – FPI, ditambah dengan para Ketua DPRa – FPI dan 2 ORANG UTUSAN DPP - FPI.
3. Peserta MUSDA adalah Pengurus Definitif yang dibuktikan dengan Surat Keputusan Kepengurusan.

Pasal 42
TATA TERTIB MUSYAWARAH DAERAH

1. Musyawarah Daerah dianggap sah apabila dihadiri oleh instansi DPP dan sekurang-kurangnya
setengah lebih satu dari jumlah pengurus Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan wilayah, Deewan Pimpinan
Cabang, serta Dewan Pimpinan Ranting.
2. Apabila ayat 1 tidak terpenuhi maka Musyawarah Daerah ditunda selambat-lambatnya 1 x 6 Jam dan
setelah itu dinyatakan sah.
3. Pimpinan sidang Musyawarah Daerah adalah IMAM, instansi DPP, instansi Majelis Syura Dan instansi
Dewan Tanfidzi Daerah yang lama.
4. Peserta Musyawarah Daerah mempunyai hak Bicara.

Pasal 43
PELANTIKAN DAN SERAH TERIMA JABATAN PIMPINAN DAERAH
1. Selambat-lambatnya 30 x 24 Jam, IMAM harus telah selesai menyusun struktur dan personalia Pimpinan
DPD-FPI.
2. Penyelesaian susunan personalia dan struktur DPD FPI oleh IMAM ditandai dengan diterbitkannya SK
( Surat Keputusan ) dari DPP-FPI.
3. Selambat-lambatnya 30 hari setelah SK personalia DPD-FPI terbentuk, sudah dilakukan Pelantikan dan
Serah-Terima Jabatan.
4. Mekanisme Penyelenggaraan acara Pelantikan dan Serah - Terima Jabatan akan diatur dalam ketentuan tersendiri.
5. Jika Ayat (1, 2, dan 3) di atas tidak terselenggara sebagaimana batasan waktu yang diberikan, maka IMAM
BESAR berhak untuk memberikan peringatan dan jika dianggap perlu menunjuk dan menetapkan Pjs. IMAM
atau memberi mandat ke satu orang untuk penyusunan dan pesiapan Pelantikan Pimpinan Daerah.

Pasal 44
MUSYAWARAH WlLAYAH (MUSWlL)
1. Musyawarah Wilayah adalah pemegang kekuasaan tertinggi ditingkat Kabupaten/Kota.
2. Musyawarah Wilayah merupakan Forum Musyawarah Pengurus Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang
dan Pimpinan Ranting.

Pasal 45
FUNGSI DAN WEWENANG MUSYAWARAH WlLAYAH
1. Menilai dan meminta pertanggung-jawaban Pimpinan Wilayah
2. Menetapkan Program Kerja Pimpinan Wilayah dan Ketetapan lain yang dianggap perlu.
3. Mengusulkan nama- nama Calon Pimpinan Wilayah sekurang-kurangnya 3 (tiga) nama, sebanyak-
banyaknya 7 (tujuh) nama Kepada DPP-FPI untuk ditetapkan dan disyahkan sebagai pengurus defenitif.
4. Mengusulkan nama-nama kepada DPD untuk calon anggota Majelis Syura Daerah
5. Menetapkan tempat penyelenggaraan Musyawarah Wilayah berikutnya.

Pasal 46
PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH WILAYAH
1. Musyawarah Wilayah dilaksanakan 5 (lima) tahun sekali.
2. Pimpinan Wilayah adalah Penanggung-jawabPenyelenggara Musyawarah Wilayah.
3. Dalam kondisi yang dipandang perlu dapat diadakan Musyawarah Wilayah Luar Biasa di luar ketentuan ayat 1.
4. Musyawarah Luar Biasa dapat diselenggarakan atas inisiatif / usul Pimpinan Pusat, Pimpinan Daerah dan/atau
Pimpinan Wilayah dengan persetujuan sekurang-kurangnya 1/2 dari jumlah Pimpinan Cabang yang ada.
5. Musyawarah Wilayah Luar Biasa diadakan untuk membicarakan masalah yang mendesak atau
dianggap penting yang mengancam eksistensi organisasi dan tidak dapat ditangguhkan sampai
musyawarah Wilayah berikutnya.
6. Syarat-syarat lain penyelenggaraan dan mekanisme kerja Musyawarah Wilayah Luar Biasa akan diatur tersendiri.

Pasal 47
PESERTA MUSYAWARAH WILAYAH
1. Musyawarah Wilayah terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus Daerah, Pengurus Pimpinan Wilayah,
Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting.
2. Peserta MUSWIL dan MUSWILUB adalah seluruh Pengurus DPW – FPI, dan Pengurus Inti DPC – FPI,
serta para Ketua dan Sekretaris DPRa – FPI, DITAMBAH 2 ORANG UTUSAN DPP dan DPD – FPI
SETEMPAT.
3. Peserta MUSWIL/MUSWILLUB adalah Pengurus Defenitif yang dibuktikan dengan SK Kepengurusan.

Pasal 48
TATA TERTIB MUSYAWARAH WILAYAH
1. Musyawarah Wilayah dianggap sah apabila dihadiri instansi DPD dan sekurang-kurangnya setengah
lebih satu dari jumlah pengurus Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang serta Pimpinan Ranting yang
berhak hadir.
2. Apabila ayat 1 tidak terpenuhi maka musyawarah Wilayah ditunda selambat-lambatnya 1 x 6 Jam dan
setelah itu dinyatakan sah.
3. Pimpinan Sidang Musyawarah Wilayah adalah instansi DPD, instansi DPW dan instansi DPC.
4. Peserta Musyawarah Wilayah mempunyai hak bicara.

Pasal 49
PELANTIKAN DAN SERAH TERIMA JABATAN PIMPINAN WILAYAH
1. Selambat-lambatnya 15 x 24 Jam Ketua Dewan Tanfidzi terpilih harus telah selesai menyusun struktur
dan personalia Pimpinan DPW-FPI.
2. Penyelesaian susunan personalia dan struktur DPW-FPI oleh Ketua Dewan tanfidzi ditandai dengan
keluarnya SK (Surat Keputusan) dari DPP-FPI.
3. Selambat-lambatnya 15 hari setelah personalia DPW-FPI terbentuk sudah dilakukan Pelantikan dan Serah -
Terima Jabatan.
4. Mekanisme Penyelenggaraan acara Pelantikan dan Serah - Terima Jabatan akan diatur dalam ketentuan
tersendiri.
5. Jika ayat (1,2, dan 3 ) di atas tidak terselenggara sebagaimana batasan waktu yang diberikan. Maka Dewan
Pimpinan Pusat setelah meminta pertimbangan dari Pimpinan berhak untuk memberi peringatan dan jika
dianggap perlu menunjuk dan menetapkan Pjs. Ketua Dewan Tanfidzi atau memandati beberapa orang
untuk penyusunan dan persiapan pelantikan Pimpinan wilayah.

Pasal 50
MUSYAWARAH CABANG (MUSCAB)
1. Musyawarah Cabang (MUSCAB) adalah pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Kecamatan.
2. Musyawarah Cabang merupakan Forum Musyawarah Pengurus Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting.

Pasal 51
FUNGSI DAN WEWENANG MUSYAWARAH CABANG
1. Meminta pertanggung-jawaban Pimpinan Cabang.
2. Menetapkan Program Kerja Pimpinan Cabang dan ketetapan-ketetapan lain yang di pandang perlu.
3. Mengusulkan nama-nama calon Pengurus Cabang, sekurang kurangnya 3 (tiga) nama sebanyak banyaknya
7 (tujuh) nama kepada DPD untuk ditetapkan dan disyahkan sebagai pengurus Defenitif.
4. Menetapkan tempat Musyawarah Cabang berikutnya.

Pasal 52
PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH CABANG
1. Musyawarah Cabang diselenggarakan 4 (empat) tahun sekali.
2. Dalam kondisi yang diparidang per1u dapat diadakan Musyawarah Luar Biasa di luar ketentuan ayat 1.
3. Musyawarah Cabang Luar Biasa dapat diselenggarakan atas inisiatif/usul DPD, DPW dan DPC dengan
persetujuan 1/2 Pengurus Ranting.
4. Musyawarah Cabang Luar Biasa diadakan untuk membicarakan masalah yang mendesak atau dianggap
penting yang mengancam eksitensi Organisasi dan tidak dapat ditangguhkan sampai Musyawarah
Cabang berikutnya.
5. Syarat-sarat lain penyelenggaraan dan mekanisme kerja Musyawarah Cabang Luar Biasa akan diatur tersendiri.
Pasal 53
PESERTA MUSYAWARAH CABANG
1. Musyawarah Cabang terdiri dari DPD, DPW, DPC, dan Pengurus DPRa.
2. Peserta MUSCAB adalah seluruh Pengurus DPC – FPI, dan para Ketua dan Sekretaris Dewan tiap-tiap
DPRa – FPI serta 2 Orang UTUSAN DPD dan 2 orang utusan DPW setempat.
3. Peserta Muscab/Muscablub adalah Pengurus Defenitif yang dibuktikan dengan SK kepengurusan

Pasal 54
TATA TERTIB MUSYAWARAH CABANG
1. Musyawarah Cabang dianggap sah apabila dihadiri instansi DPD dan sekurang-kurangnya setengah
lebih satu jumlah pengurus Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting.
2. Apabila pasal 1 tidak terpenuhi maka Musyawarah Cabang ditunda selambat-lambatnya 1 x 6 Jam dan
setelah itu dinyatakan sah
3. Pimpinan Sidang Musyawarah Cabang adalah instansi DPD, DPW, DPC dan DPRa.
4. Peserta Musyawarah Cabang mempunyai hak bicara.

Pasal 55
PELANTIKAN DAN SERAH TERIMA JABATAN PIMPINAN CABANG
1. Selambat-lambatnya 15 x 24 Jam Ketua Tanfidizi terpilih harus telah selesai menyusun struktur dan
personalia Pimpinan DPC - FPI.
2. Penyelesaian susunan personalia dan struktur DPC FPI oleh Ketua Tanfidizi terpilih ditandai dengan
diterbitkannya SK ( Surat Keputusan ) dari DPD-FPI.
3. Selambat-lambatnya 15 hari setelah personalia DPC - FPI terbentuk sudah dilakukan Pelantikan dan
Serah - Terima Jabatan.
4. Mekanisme Penyelenggaraan acara Pelantikan dan Serah – Terima Jabatan akan diatur dalam ketentuan tersendiri.
5. Jika ayat (1, 2, dan 3 ) di atas tidak terselenggara sebagaimana batasan waktu yang diberikan. Maka
Dewan Pimpinan Daerah setelah minta pertimbangan dari Pimpinan berhak untuk memberi peringatan
dan jika dianggap perlu menunjuk dan menetapkan Pjs. Ketua Tanfidzi DPC atau memberi mandat ke
beberapa orang untuk penyusunan dan persiapan pelantikan Pimpinan Cabang.

Pasal 56
MUSYAWARAH RANTING (MUSRAN)
1. Musyawarah Ranting adalah pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Kelurahan/Desa.
2. Musyawarah Ranting merupakan Forum Musyawarah Pengurus Pimpinan Ranting.

Pasal 57
FUNGSI DAN WEWENANG MUSYAWARAH RANTING
1. Meminta pertanggung-jawaban Pimpinan Ranting.
2. Menetapkan Program Kerja Pimpinan Ranting dan ketetapan-ketetapan lain yang di pandang perlu.
3. Mengusulkan nama-nama calon Pengurus Ranting, sekurang kurangnya 3 (tiga) nama sebanyak-
banyaknya 7 (tujuh) nama kepada DPW untuk ditetapkan dan disyahkan sebagai pengurus Defenitif.
4. Menetapkan tempat Musyawarah Ranting berikutnya.

Pasal 58
PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH RANTING
1. Musyawarah Ranting diselenggarakan 3 (tiga) tahun sekali.
2. Dalam kondisi yang dipandang per1u dapat diadakan Musyawarah Luar Biasa di luar ketentuan ayat 1.
3. Musyawarah Ranting Luar Biasa dapat diselenggarakan atas inisiatif/usul DPW dan DPC dengan
persetujuan 1/2 Pengurus Ranting.
4. Musyawarah Ranting Luar Biasa diadakan untuk membicarakan masalah yang mendesak atau
dianggap penting yang mengancam eksitensi Organisasi dan tidak dapat ditangguhkan sampai
Musyawarah Ranting berikutnya.
5. Syarat-sarat lain penyelenggaraan dan mekanisme kerja Musyawarah Ranting Luar Biasa akan diatur
tersendiri.
Pasal 59
PESERTA MUSYAWARAH RANTING
1. Musyawarah Ranting terdiri dari instansi DPW, DPC dan Pengurus DPRa.
2. Peserta MUSRAN adalah seluruh Pengurus DPRa – FPI, dan para Anggota FPI di Ranting tersebut serta
utusan DPW – FPI setempat
3. Peserta Musran adalah Pengurus Defenitif yang dibuktikan dengan SK kepengurusan

Pasal 60
TATA TERTIB MUSYAWARAH RANTING
1. Musyawarah Ranting dianggap sah apabila dihadiri instansi DPW dan sekurang-kurangnya setengah
lebih satu jumlah pengurus Ranting.
2. Apabila pasal 1 tidak terpenuhi maka Musyawarah Ranting ditunda selambat-lambatnya 1 x 6 Jam dan
setelah itu dinyatakan sah
3. Pimpinan Sidang Musyawarah Ranting adalah instansi DPW dan instansi DPRa.
4. Peserta Musyawarah Ranting mempunyai hak bicara.

Pasal 61
PELANTIKAN DAN SERAH TERIMA JABATAN PIMPINAN RANTING

1. Selambat-lambatnya 15 x 24 Jam Ketua Tanfidizi terpilih harus telah selesai menyusun struktur dan
personalia Pimpinan DPRa - FPI.
2. Penyelesaian susunan personalia dan struktur DPRa FPI oleh Ketua Tanfidizi terpilih ditandai dengan
diterbitkannya SK ( Surat Keputusan ) dari DPW-FPI.
3. Selambat-lambatnya 15 hari setelah personalia DPRa - FPI terbentuk sudah dilakukan Pelantikan dan
Serah - Terima Jabatan.
4. Mekanisme Penyelenggaraan acara Pelantikan dan Serah - Terima Jabatan akan diatur dalam ketentuan
tersendiri.
5. Jika ayat (1, 2, dan 3 ) di atas tidak terselenggara sebagaimana batasan waktu yang diberikan. Maka
Dewan Pimpinan Wilayah setelah minta pertimbangan dari Pimpinan, berhak untuk memberi peringatan
dan jika dianggap perlu menunjuk dan menetapkan Pjs. Ketua Tanfidzi DPRa atau memberi mandat ke
beberapa orang untuk penyusunan dan persiapan pelantikan Pimpinan Ranting.

BAB VII
MUSYAWARAH KERJA
Pasal 62
MUSYAWARAH KERJA NASIONAL (MUKERNAS)

1. Musyawarah Kerja Nasional adalah forum kekuasaan tertinggi di bawah Musyawarah Nasional ( Munas )
sebagai forum Musyawarah pimpinan Organisasi di Tingkat Nasional.
2. Musyawarah Kerja Nasional diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat dan dihadiri oleh Pimpinan Daerah
dan Pimpinan Wilayah.
3. Fungsi Musyawarah Kerja Nasional adalah sebagai forum Musyawarah evaluasi kerja DPP FPI serta
membahas dan menetapkan Konsep-konsep organisasi.
4. Musyawarah Kerja Nasional di adakan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 periode kepengurusan.

Pasal 63
MUSYAWARAH KERJA DAERAH (MUKERDA)

1. Musyawarah Kerja Daerah adalah forum kekuasaan tertinggi di bawah Musyawarah Daerah ( MUSDA )
sebagai forum Musyawarah pimpinan Organisasi di Tingkat Daerah.
2. Musyawarah Kerja Daerah di selenggarakan oleh Pimpinan Daerah dan di hadiri oleh Pimpinan Wilayah
dan Pimpinan Cabang.
3. Fungsi Musyawarah Kerja Daerah adalah sebagai forum Musyawarah evaluasi kerja DPD FPI serta
membahas dan menetapkan Program Kerja Tingkat Daerah.
4. Musyawarah Kerja Daerah di adakan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 periode kepengurusan.
Pasal 64
MUSYAWARAH KERJA W1LAYAH (MUKERWlL)

1. Musyawarah Kerja wilayah adalah forum kekuasaan tertinggi di bawah Musyawarah Wilayah ( MUSWIL )
sebagai forum Musyawarah pimpinan Organisasi di Tingkat Wilayah.
2. Musyawarah Kerja Wilayah di selenggarakan oleh Pimpinan Wilayah dan di hadiri oleh Pimpinan Cabang
dan Pimpinan Ranting.
3. Fungsi Musyawarah Wilayah adalah sebagai forum Musyawarah evaluasi kerja DPW FPI serta
membahas dan menetapkan Program Kerja Tingkat Wilayah.
4. Musyawarah Kerja Wilayah di adakan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 periode kepengurusan.

BAB VIII
MUSYAWARAH PIMPINAN DAN RAPAT RAPAT
Pasal 65
MUSPIMNAS

1. MUSPIMNAS adalah Forum kekuasaan tertinggi di bawah Musyawarah Nasional (MUNAS) Sebagai
Forum Musyawarah Pimpinan Organisasi Tingkat Nasional.
2. Peserta MUSPIMNAS adalah IMAM BESAR bersama seluruh Pengurus Inti Majelis Syura dan Pengurus
Inti Dewan Tanfidzi DPP – FPI, dan para IMAM bersama para Ketua Majelis Syura dan Ketua Dewan
Tanfidzi tiap-tiap DPD – FPI
3. Kekuasaan MUSPIMNAS adalah untuk memusyawarahkan masalah-masalah Organisasi mau pun
masalah-masalah internal organisasi dan eksternal yang dipandang penting, mendesak dan mendasar,
seperti, namun tidak terbatas pada penggantian IMAM BESAR yang berhalangan tetap.

Pasal 66
MUSPIMDA

1. MUSPIMDA adalah Forum kekuasaan tertinggi di bawah Musyawarah Daerah (MUSDA) Sebagai Forum
Musyawarah Pimpinan Organisasi Tingkat Daerah.
2. Peserta MUSPIMDA adalah IMAM bersama seluruh Pengurus Inti MAJELIS SYURA dan PENGURUS
INTI DEWAN TANFIDZI DPD – FPI, dan para Ketua DPW – FPI.
3. Kekuasaan MUSPIMDA adalah untuk membicarakan masalah-masalah Organisasi maupun
masalah-masalah eksternal yang dipandang penting, mendesak dan mendasar pada Tingkat Daerah,
seperti, namun tidak terbatas pada penggantian IMAM yang berhalangan tetap.

Pasal 67
MUSPIMWIL

1. MUSPIMWIL adalah Forum kekuasaan tertinggi di bawah Musyawarah Wilayah (MUSWIL) Sebagai
Forum Musyawarah Pimpinan Organisasi Tingkat WILAYAH.
2. Peserta MUSPIMWIL adalah seluruh Pengurus DPW – FPI, ditambah Ketua-Ketua DPC - FPI.
3. Kekuasaan MUSPIMWIL adalah untuk membicarakan masalah-masalah Organisasi mau pun
masalah-masalah eksternal yang dipandang penting, mendesak dan mendasar pada Tingkat Wilayah.

RAPAT RAPAT
Pasal 68
RAPAT PLENO

1. Rapat Pleno DPP adalah Forum Pengambilan Keputusan yang mengikat dibawah MUNAS dan
MUSPIMNAS
2. Rapat Pleno DPP adalah Rapat Gabungan antara Imam Besar, Majelis Syura dan Dewan Tanfidzi
Di Tingkat DPP.
3. Kekuasaan Rapat Pleno DPP adalah untuk mengambil keputusan yang bersifat strategis di tingkat
Nasional
4. Rapat Pleno DPD adalah Forum Pengambilan Keputusan yang mengikat dibawah MUSDA dan
MUSPIMDA
5. Rapat Pleno DPD adalah Rapat Gabungan antara Imam , Majelis Syura dan Dewan Tanfidzi Di
Tingkat DPD.
6. Kekuasaan Rapat Pleno DPD adalah untuk mengambil keputusan yang bersifat strategis di tingkat daerah

Pasal 69
RAPAT MAJELIS SYURA

1. Rapat Majelis Syura diadakan untuk memberikan pertimbangan, nasehat dan bimbingan, kepada
pengurus FPI dalam melaksanakan tugasnya.
2. Peserta rapat majelis Syura terdiri dari seluruh Pengurus Inti Majelis Syura.
3. Rapat Paripurna Majelis Syura adalah rapat yang dihadiri seluruh anggota Majelis Syura.
4. Rapat Paripurna Majelis Syura diadakan sewaktu - waktu apabila dipandang perlu.

Pasal 70
RAPAT DEWAN TANFIDZI

1. Rapat Dewan Tanfidzi diadakan untuk melaksanakan Program kerja serta strategi dan taktik kerja
untuk mencapai hasil yang terbaik.
2. Rapat badan pengurus terbagi 2 (dua) :
a. Umum : yaitu rapat yang melibatkan seluruh Dewan Tanfidzi.
b. Bidang : yaitu rapat yang melibatkan bidang kerja tertentu dalam Kepengurusan.

BAB IX
MUSYAWARAH LUAR BIASA
Pasal 71

1. Musyawarah Luar Biasa adalah musyawarah Khusus yang dapat diselenggarakan oleh setiap struktur
kepemimpinan FPI
2. Peserta Musyawarah Luar Biasa terdiri :
a. Adalah IMAM BESAR bersama Seluruh Pengurus Inti Majelis Syura dan Seluruh Pengurus Dewan
Tanfidzi DPP – FPI, para IMAM bersama Pengurus Inti Majelis Syura DPD, para Ketua dan Sekretaris
Dewan Tanfidzi DPD - FPI, para Ketua dan Sekretaris DPW – FPI, ditambah dengan para Ketua dan
Sekretaris DPC – FPI untuk MUNASLUB.
b. IMAM bersama seluruh Pengurus Inti Majelis Syura dan seluruh Pengurus Dewan Tanfidzi DPD – FPI,
para Ketua dan Sekretaris DPW – FPI, serta para Ketua dan Sekretaris DPC – FPI, ditambah dengan
para Ketua DPRa – FPI dan 3 ORANG UTUSAN DPP – FPI
c. Untuk MUSDALUB seluruh Pengurus DPW – FPI, dan Pengurus Inti DPC – FPI, serta para Ketua dan
Sekretaris DPRa – FPI, DITAMBAH 2 ORANG UTUSAN DPD – FPI SETEMPAT untuk
MUSWILLUB
d. Seluruh Pengurus DPC – FPI, dan para Ketua dan Sekretaris Dewan tiap-tiap DPRa – FPI serta 1 Orang
UTUSAN DPD FPI setempat untuk MUSCABLUB
3. Musyawarah Luar Biasa diadakan sewaktu-waktu apabila dipandang perlu.

BAB X
BAHTSUL MASAIL
Pasal 72
BAHTSUL MASAIL

1. Bahtsul Masail adalah pertemuan yang diadakan untuk membahas permasalahan-permasalahan hukum Islam.
2. Peserta Bahtsul Masail terdiri dari :
a. Imam Besar, para Imam, Majelis Syura dan Ketua Umum FPI
b. Anggota organisasi yang dipandang memenuhi syarat
c. Ulama, Pakar, tokoh masyarakat yang memiliki keahlian dalam permasalahan terkait dan diundang
secara resmi.
3. Bahtsul Masail diadakan sewaktu-waktu apabila dipandang perlu.
BAB XI
KLASIFIKASI ANGGOTA
Pasal 73
KLASIFIKASI ANGGOTA INDIVIDU

1. Anggota biasa.
2. Anggota teras.
3. Anggota kehormatan.

Pasa 74
KLASIFIKASI ANGGOTA KELOMPOK
1. Anggota Fusi.
2. Anggota Aliansi.

BAB XII
PERSYARATAN KEANGGOTAAN
Pasal 75
PERSYARATAN KEANGGOTAAN BIASA

Syarat menjadi Anggota FPI :


1. Beragama lslam.
2. Berahlaqul karimah.
3. Taqwa dan Istiqomah.
4. Memiliki ruhul jihad.
5. Berani dan tegas.
6. Mempunyai wawasan keilmuan (keislaman) yang memadai.
7. Mempunyai loyalitas yang tinggi.
8. Bersedia mematuhi AD/ART serta ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan organisasi.
9. Bersedia melaksanakan Asasi Perjuangan Front dan Garis-garis Besar Haluan Front (GBHF).
10. Mengisi formulir anggota.

Pasa 76
PERSYARATAN KEANGGOTAAN TERAS

Anggota teras adalah anggota biasa yang telah lulus dari jenjang pengkaderan/pelatihan yang dilaksanakan
DPP-FPI.

Pasa 77
PERSYARATAN KEANGGOTAAN KEHORMATAN

1. Anggota kehormatan adalah orang yang berjasa terhadap perjuangan Islam.


2. Anggota kehormatan diangkat dan ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat.

Pasal 78
PERSYARATAN ANGGOTA FUSI

1. Membubarkan eksistensi kelompok/lembaga/organisasinya.


2. Menggabungkan seluruh anggota, perangkat dan asetnya ke tubuh FPI.
3. Tidak menjadi organisasi di dalam organisasi.

Pasal 79
PERSYARATAN ANGGOTA ALIANSI

1. Menyatakan secara tertulis kesediaan beraliansi dengan FPI melalui putusan sah organisasinya.
2. Menyesuaikan AD/ART organisasinya dengan asasi organisasi FPI.
BAB XIII
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA
Pasal 80
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA BIASA

1. HAK ANGGOTA BIASA :


a. Memilih dan dipilih dalam permusyawaratan pada semua jenjang Organisasi jika telah lulus dari
jenjang pengkaderan.
b. Mendapatkan Karti Identitas Front (KIF).
c. Mendapatkan perlindungan dan pembelaan hukum.
d. Mendapatkan informasi perjuangan FPI.
e. Mendapatkan pembinaan dari FPI.
f. Mengeluarkan pendapat berupa usul dan saran untuk kemajuan organisasi.
g. Mendapatkan apresiasi atas prestasi perjuangan.

2. KEWAJIBAN ANGGOTA BIASA :


a. Mengikuti jenjang pengkaderan / pelatihan yang diadakan oleh organisasi.
b. Menghadiri / mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi
c. Membayar iuran yang telah ditetapkan.
d. Menjaga dan menjunjung tinggi nama baik organisasi.
e. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
f. Memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
g. Mentaati dan melaksanakan AD/ART, Asasi Perjuangan Front, Garis-garis Besar Haluan Front
(GBHF) dan Ketetapan-ketetapan / peraturan-peraturan organisasi lainnya.

Pasal 81
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA TERAS
1. HAK ANGGOTA TERAS :
a. Memilih dan dipilih dalam permusyawaratan pada semua jenjang Organisasi.
b. Mendapatkan Karti Identitas Front (KIF).
c. Mendapatkan perlindungan dan pembelaan hukum.
d. Mendapatkan informasi perjuangan FPI.
e. Mendapatkan pembinaan dari FPI.
f. Mengeluarkan pendapat berupa usul dan saran untuk kemajuan organisasi.
g. Mendapatkan apresiasi atas prestasi perjuangan.

2. KEWAJIBAN ANGGOTA TERAS :


a. Mengikuti jenjang pengkaderan / pelatihan yang diadakan oleh organisasi.
b. Menghadiri / mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi
c. Membayar iuran yang telah ditetapkan.
d. Menjaga dan menjunjung tinggi nama baik organisasi.
e. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
f. Memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
g. Mentaati dan melaksanakan AD/ART, Asasi Perjuangan Front, Garis-garis Besar Haluan Front
(GBHF) dan Ketetapan-ketetapan / peraturan-peraturan organisasi lainnya.

Pasal 82
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA KEHORMATAN
1. Mempelajari IImu pengetahuan yang bermanfaat bagi perjuangan organisasi dan umat Islam.
2. Tunduk kepada semua ketentuan organisasi serta memperhatikan dan melaksanakan misi pejuangan
organisasi.
3. Memberikan pertimbangan dan saran-saran kepada organisasi baik lisan mau pun tulisan.
4. Memberikan sumbangan baik moril maupun materil sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan.
BAB XIV
RANGKAP ANGGOTA / JABATAN
Pasal 83
RANGKAP ANGGOTA
Anggota FPI dapat merangkap anggota pada organisasi masyarakat dan organisasi sosial politik dengan syarat
berasas Islam dan beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang visi – misinya penerapan syariat Islam,
kecuali dalam kondisi darurat dengan ijin tertulis DPP.

Pasal 84
RANGKAP JABATAN
1. Imam Besar dan para Imam serta Pengurus Inti FPI di semua tingkatan dilarang merangkap jabatan pada
Organisasi Masyarakat mau pun Organisasi Sosial Politik.
2. Pengurus FPI selain yang disebut pada ayat 1 dapat merangkap jabatan pada Organisasi Masyarakat dan
Organisasi Sosial Politik dengan syarat berasas Islam dan beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang
visi – misinya penerapan syariat Islam, dengan ijin tertulis DPP.

BAB XV
ADMINISTRASI KEANGGOTAAN
Pasal 85
SYARAT ADMINISTRASI
Setiap anggota biasa, teras mau pun kehormatan diwajibkan memenuhi segala persyaratan administrasi antara
lain :
1. Mengisi formulir.
2. Menyerahkan foto copy tanda Identitas diri ( KTP/SIM / Pasport ) yang masih berlaku.
3. Menyerahkan pas poto terakhir sesuai kebutuhan.
4. Menandatangani perjanjian anggota.

Pasal 86
NOMOR ANGGOTA
a. Nomor anggota dibuat secara Nasional untuk seluruh anggota dengan sepuluh digit, dan berlaku seumur hidup:
- 2 (dua) digit pertama Kode Propinsi.
- 2 (dua) digit kedua Kode Kabupaten / Kodya.
- 2 (dua) digit ketiga Kode Kecamatan.
- 4 (empat) digit keempat Nomor urut anggota.

b. Enam digit pertama ditetapkan oleh DPP-FPI sedang 4 (empat) digit terakhir di tetapkan oleh DPC - FPI di
mana anggota tinggal.

Pasal 87
IDENTITAS ANGGOTA

1. Kartu Identitas Front (KIF) sebagai bukti keanggotaan, berlaku selama 5 (lima) tahun dan wajib
diperpanjang.
2. Kartu Identitas Front (KIF) tingkat nasional dibuat dan dikeluarkan oleh DPP-FPI dan ditandatangani
oleh Ketua Umum atas rekomendasi DPW yang disetujui DPD - nya.
3. Kartu Identitas Front (KIF) tingkat lokal dibuat dan dikeluarkan oleh DPC dan ditandatangani oleh Ketua
DPC - FPI

BAB XVI
KEUANGAN DAN KEKAYAAN
Pasal 88
KEUANGAN ORGANISASI

Keuangan organisasi di dapat dari :


1. Iuran dan Infak dari anggota.
2. Donatur yang tidak mengikat.
3. Usaha-usaha lain yang sah dan halal.

Pasal 89
KEKAYAAN ORGANISASI

1. Kekayaan organisasi adalah semua hak milik sah organisasi dari Pusat sampai Daerah.
2. Harta kekayaan organisasi diinventarisir, dikelola dan dipelihara secara syar’i untuk kepentingan
perjuangan.

Pasal 90
PEMBUBARAN ORGANISASI

1. Jika organisasi dibubarkan segala kekayaan organisasi diwaqafkan untuk perjuangan umat Islam.
2. Tata cara pewaqafan kekayaan organisasi setelah dibubarkan diatur oleh sebuah Badan Waqaf yang di
bentuk oleh Munas yang membubarkan organisasi ini.

BAB XVII
SANKSI ORGANISASI
Pasal 91
HILANGNYA KEANGGOTAAN

Seorang anggota FPI dapat kehilangan keanggotaan karena:


a. Atas permintaan sendiri.
b. Diberhentikan atau dipecat.

Pasal 92
HUKUMAN

1. Anggota FPI dapat diberhentikan atau dipecat apabila MELAKUKAN PELANGGARAN BERAT yang
terdiri dari :
a. Melakukan Dosa Besar.
b. Menentang dan/atau melawan AD/ART.

2. Anggota FPI dapat diberikan hukuman DISIPLIN berupa peringatan dan/atau skorsing/pemberhentian
sebagai pengurus apabila Melanggar keputusan-keputusan, ketetapan-ketetapan dan peraturan-
peraturan organisasi lainnya yang telah ditetapkan oleh FPI.
3. Anggota FPI dapat diserahkan kepada mekanisme Hukum PIDANA melalui penempuhan jalur hukum
apabila melakukan perbuatan KRIMINAL.
4. Anggota yang sedang diproses pembuktian dapat melakukan pembelaan dalam Forum yang ditunjuk
untuk itu.

TATA CARA PEMBERHENTIAN ANGGOTA


Pasal 93

1. Pengurus di tingkat DPP/DPD yang melakukan PELANGGARAN BERAT diajukan ke Mahkamah


Front Pusat yang dibentuk oleh DPP.
2. Mahkamah Front Pusat terdiri dari 2 (dua) orang dari Majelis Syura Pusat, dan 1 (satu) orang Dewan
Tanfidzi Pusat dan apabila pelanggaran tersebut oleh pengurus DPD ditambah dengan 2 (dua) orang
Majelis Syura Daerah.
3. Anggota/Pengurus FPI ditingkat DPW/DPC/DPRa yang melakukan PELANGGARAN BERAT diajukan
ke Mahkamah Front Daerah yang dibentuk oleh DPD.
4. Mahkamah Front Daerah terdiri dari 1 (satu) orang dari Majelis Syura Daerah, dan 2 (dua) orang
Dewan Tanfidzi DPD / DPW / DPC / DPRa.
Pasal 94
Tata Cara Pemberhentian Pengurus

1. Pemberhentian sebagai Pengurus DPP karena melakukan perbuatan sebagaimana diatur dalam pasal 92
ayat (2) dilakukan oleh IMAM BESAR.
2. Pemberhentian sebagai Pengurus DPD karena melakukan perbuatan sebagaimana diatur dalam pasal 92
ayat (2) dilakukan oleh Pengurus DPP.
3. Pemberhentian sebagai Pengurus DPW karena melakukan perbuatan sebagaimana diatur dalam pasal
92 ayat (2) dilakukan oleh Pengurus DPD.
4. Pemberhentian sebagai Pengurus DPC karena melakukan perbuatan sebagaimana diatur dalam pasal 92
ayat (2) dilakukan oleh Pengurus DPW.
5. Pemberhentian sebagai Pengurus DPRa karena melakukan perbuatan sebagaimana diatur dalam pasal 92
ayat (2) dilakukan oleh Pengurus DPC.

Pasal 95
Saksi dan Bukti

Pihak yang mendakwa anggota FPI telah melakukan pelanggaran berat WAJIB mengajukan bukti-bukti berupa
saksi-saksi minimal 2 (dua) orang laki-laki atau 1 (satu) orang laki-laki dan 2 (dua) orang perempuan, bukti
tertulis atau bukti lainnya yang berhubungan dengan tuduhan.

BAB XVIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 96

Struktur Kepemimpinan DPD, DPW, DPC yang terbentuk sebelum MUNAS III dan/atau masih belum
menyesuaikan dengan Anggaran Dasar HASIL MUNAS III, selambat-lambatnya dalam waktu paling lama
1(satu) tahun WAJIB melakukan penyesuaian melalui MUSDA/MUSDALUB, MUSWIL/MUSWILUB,
MUSCAB/MUSCABLUB.

BAB XIX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 97
KETENTUAN PENUTUP

1. Hal-hal lain yang belum diatur dalam anggaran rumah tangga FPI ini, akan diatur oleh DPP dalam
peraturan-peraturan khusus atau aturan-aturan lain.
2. Anggaran rumah tangga ini hanya dapat dirubah oleh RAPAT PLENO DPP.
3. Semua ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan yang dibuat tidak sesuai dengan Anggaran Rurnah Tangga
ini dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 98
KETENTUAN LAIN

1. Anggaran Rumah Tangga ini terdiri dari 19 (Sembilan belas) Bab dan 98 (Sembilan puluh delapan)
pasal sebagai isyarat bahwa FPI lahir tahun 1998 (Sembilan belas sembilan puluh delapan).
2. Anggaran Rumah Tangga ini disempurnakan dan disahkan oleh RAPAT PLENO DPP FPI di
MARKAZ SYARIAH, Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat – Indonesia, 20 Robi’uts Tsani 1436 H / 19
Februari 2015 M
3. Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak ditetapkan
Ditetapkan di : MARKAZ SYARIAH, Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat – Indonesia
Pada Tanggal : 20 Robi’uts Tsani 1436 H / 19 Februari 2015 M

Pimpinan RAPAT PLENO


DPP Front Pembela Islam (FPI)

Ketua Sekretaris

H. Hasanuddin H. Munarman, SH

Disetujui,

Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA


Imam Besar

KH. Syeikh Misbahul Anam Attijani Habib Muhsin Bin Ahmad Alattas, Lc
Ketua Majelis Syura Ketua Umum Dewan Tanfidzi

KH. Ahmad Sabri Lubis, S.Pd.I KH. Ja’far Shiddiq, SEI


Wakil Ketua Umum Sekretaris Umum