Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH KKN

ANGKA KEMATIAN IBU(AKI)


DAN ANGKA KEMATAN BAYI(AKB)

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4:

1. Angga Yudandi
2. Amreza Maula
3. Rindi Annelia
4. Gita Guspita Sari
5. Nada Salsabila
6. Syaza
7. Siti Rahma Bakri
8. Senorita Bonita
9. Adelia Putri
10. Nabila Umi Kalsum
11. Prima Sinar Ainur Rofiq
12. Monica Holi Sakila
13. Novianna Uly Sitinjak

POLTEKKES TANJUNG KARANG


DIV KEPERAWATAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmatnya-lah
kami berhasil menyelesaikan menyusun makalah ini. Makalah ini kami harapkan bisa
menjadi refrensi bagi mahasiswa lain untuk belajar tentang kebijakan kesehatan nasional
untuk mengetahui angka kematian ibu dan angka kematian bayi.

Semoga makalah ini dapat dipergunakan dan membantu mahasiswa dalam


memperluas wawasan dan memperdalam pengetahuannya.kami menyadari bahwa walaupun
kami telah berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan segala tenaga dan pikiran dan
kemampuan yang kami miliki.Tapi tetap saja makalh ini masih terdapat banyak kekurangan
dan kelemahan baik dari segi bahasa, pengolahan, maupun dalam penyusunannya.Oleh
karena itu kami sangat mengharapkan kritik yang sifatnya membangun demi tercapai suatu
kesempurnaan dalam makalah kami.

Atas bantuan pembaca yang telah memberikan kritik dan saran, kami mengucapkan
terima kasih banyak.

Bandar Lampung, 11 Februari 2019

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. ii

DAFTAR ISI................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ........................................................................................................ 2
C. Tujuan .......................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN

A. KESEHATAN IBU
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ......................................................................... 3
2. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid Difteri bagi Wanita Usia
Subur dan Ibu Hamil .......................................................................................... 15
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin ..................................................................... 17
4. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas .......................................................................... 20
5. Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil dan Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) ............................ 24
6. Pelayanan Kontrasepsi ..................................................................................... 25
B. KESEHATAN ANAK
1. Pelayanan Kesehatan Neonatal .......................................................................... 28
2. Imunisasi .......................................................................................................... 30

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................................... 33

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 34

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 tentang


Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan
Sistem Informasi Keluarga, menyebutkan bahwa pembangunan keluarga dilakukan dalam
upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat.
Selain lingkungan yang sehat, masih menurut peraturan pemerintah tersebut, kondisi
kesehatan dari tiap anggota keluarga sendiri juga merupakan salah satu syarat dari
keluarga yang berkualitas.

Sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari masyarakat, keluarga memiliki peran
signifikan dalam status kesehatan. Keluarga berperan terhadap optimalisasi pertumbuhan,
perkembangan, dan produktivitas seluruh anggotanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi
dan menjamin kesehatan anggota keluarga. Di dalam komponen keluarga, ibu dan anak
merupakan kelompok rentan. Hal ini terkait dengan fase kehamilan, persalinan dan nifas
pada ibu dan fase tumbuh kembang pada anak. Hal ini yang menjadi alasan pentingnya
upaya kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan di
Indonesia.

Ibu dan anak merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan, karena ibu dan anak merupakan kelompok rentan
terhadap keadaan keluarga dan sekitarnya secara umum. Sehingga penilaian terhadap
status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan.

Sekitar 25-50% kematian wanita usia subur di negara miskin disebabkan oleh
masalah kehamilan dan persalinan, dan nifas. Pada tahun 2015, WHO memperkirakan di
seluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000 ibu hamil meninggal saat hamil atau
bersalin (Kemenkes RI a, 2015). Angka kematian ibu di ASEAN tergolong paling tinggi di
dunia. WHO memperkirakan sementara total AKI dan AKB di ASEAN sekitar 170 ribu
dan 1,3 juta per tahun. Sebanyak 98% dari seluruh AKI dan AKB di kawasan ini terjadi di
Indonesia, Bangladesh, Nepal, dan Myanmar.

1
Solo Raya merupakan wilayah di Jawa Tengah yang meliputi 1 kota (Surakarta)
sebagai pusat dan enam kabupaten (Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Sragen,
dan Wonogiri) dengan kematian maternal yang cukup tinggi. Dalam kurun waktu lima
tahun terakhir, angka kematian ibu di Solo Raya terbanyak terjadi pada tahun 2012 yakni
kasus tertinggi terdapat pada Kabupaten Sragen dan Klaten masing-masing 19 orang.
Sedangkan kematian yang lainnya 17 orang di Karanganyar, 15 orang di Boyolali, 13
orang di Wonogiri, 9 orang di Sukoharjo, dan 6 orang di Surakarta (DKK Provinsi Jawa
Tengah 2013). Pada tahun 2014, ditemukan kematian maternal terbanyak terjadi di
Surakarta sebanyak 7 orang. Sedangkan kematian maternal lainnya 4 4 orang ditemukan di
Karanganyar, 3 orang di Sukoharjo, 5 orang di Boyolali, 1 orang di Klaten, 1 orang di
Sragen, dan 2 orang di Wonogiri (Data Rekam Medik RSUD Dr. Moewardi, 2013-2015).
Fatbinan (2014) juga memaparkan bahwa umur ibu dan paritas berhubungan dengan
kematian ibu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kebijakan pemerintah dalam megatasi Angka kematian Ibu selama beberapa
tahun terakhir?
2. Apa saja kebijakan pemerintah dalam megatasi Angka kematian Bayi beberapa tahun
terakhir ?
3. Bagaimana perkembangan kebijakan pemerintah yang sudah dilaksanakan beberapa
tahun terakhir ?

C. Tujuan Penulisan
Agar mahasiswa dapat mengetahui kebijakan pemerintah untuk mengurangi angka
kematian ibu dan bayi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. KESEHATAN IBU
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator Angka
Kematian Ibu (AKI). AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa kehamilan,
persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau
pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di
setiap 100.000 kelahiran hidup.
Indikator ini tidak hanya mampu menilai program kesehatan ibu, tetapi juga mampu
menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan
pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas. Secara umum terjadi
penuruan kematian ibu selama periode 1991-2015. Terjadi penurunan AKI di Indonesia
dari 390 pada tahun 1991 menjadi 305 pada tahun 2015. Gambaran AKI di Indonesia dari
tahun 1991 hingga tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 5.1 berikut ini.

Dalam rangka upaya percepatan penurunan AKI maka pada tahun 2012
Kementerian Kesehatan meluncurkan program Expanding Maternal and Neonatal
Survival (EMAS) yang diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan neonatal
sebesar 25%. Program ini dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah
kematian ibu dan neonatal yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Dasar pemilihan provinsi tersebut disebabkan
52,6% dari jumlah total kejadian kematian ibu di Indonesia berasal dari enam provinsi
tersebut. Sehingga dengan menurunkan angka kematian ibu di enam provinsi tersebut
diharapkan akan dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia secara signifikan.

3
Program EMAS berupaya menurunkan angka kematian Ibu dan angka kematian neonatal
melalui :

a. meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di
150 Rumah Sakit PONEK dan 300 Puskesmas/Balkesmas PONED)
b. memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar puskesmas dan rumah
sakit.
Upaya percepatan penurunan AKI dapat dilakukan dengan menjamin agar setiap
ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan
kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas
pelayanan kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus
dan rujukan jika terjadi komplikasi, kemudahan mendapatkan cuti hamil dan melahirkan,
dan pelayanan keluarga berencana.

a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil


Pelayanan kesehatan ibu hamil diberikan kepada ibu hamil yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Proses ini dilakukan selama
rentang usia kehamilan ibu yang dikelompokkan sesuai usia kehamilan menjadi
trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu
hamil yang diberikan harus memenuhi elemen pelayanan sebagai berikut:
1) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
2) Pengukuran tekanan darah.
3) Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA).
4) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri).
5) Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid
sesuai status imunisasi.
6) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.
7) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
8) Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling,
termasuk keluarga berencana).
9) Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb),
pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah
dilakukan sebelumnya).
10) Tatalaksana kasus

4
Selain elemen tindakan yang harus dipenuhi, pelayanan kesehatan ibu hamil juga
harus memenuhi frekuensi minimal di tiap trimester, yaitu minimal satu kali pada
trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal satu kali pada trimester
kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal dua kali pada trimester ketiga
(usia kehamilan 24 minggu sampai persalinan). Standar waktu pelayanan tersebut
dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin berupa
deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi kehamilan.

Penilaian terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan


dengan melihat cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah
memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan dibandingkan
jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun.
Sedangkan cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan
antenatal sesuai dengan standar paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang
dianjurkan di tiap trimester dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah
kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses
pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam
memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.

Selama tahun 2006 sampai tahun 2017 cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil
K4 cenderung meningkat. Jika dibandingkan dengan target Rencana Strategis
(Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2017 yang sebesar 76%, capaian tahun 2017
telah mencapai target tahun tersebut walaupun masih terdapat 11 provinsi yang
belum mencapai target.

5
Gambaran capaian kunjungan ibu hamil K4 pada tahun 2017 menurut provinsi
disajikan pada gambar berikut ini.

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil tidak
hanya dari sisi akses. Kualitas pelayanan yang diberikan juga harus ditingkatkan, di
antaranya pemenuhan semua komponen pelayanan kesehatan ibu hamil harus
diberikan saat kunjungan. Dalam hal ketersediaan sarana kesehatan, hingga bulan
Desember 2017, terdapat 9.825 puskesmas. Keberadaan puskesmas secara ideal
harus didukung dengan aksesibilitas yang baik. Hal ini tentu saja sangat berkaitan
dengan aspek geografis dan kemudahan sarana dan prasarana transportasi. Dalam
mendukung penjangkauan terhadap masyarakat di wilayah kerjanya, puskesmas juga
sudah menerapkan konsep satelit dengan menyediakan puskesmas pembantu.

6
b. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid Difteri bagi Wanita Usia Subur dan Ibu
Hamil
Salah satu penyebab kematian ibu dan kematian bayi yaitu infeksi tetanus yang
disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani sebagai akibat dari proses persalinan yang
tidak aman/steril atau berasal dari luka yang diperoleh ibu hamil sebelum
melahirkan. Clostridium Tetani masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan racun
yang menyerang sistem syaraf pusat.
Sebagai upaya mengendalikan infeksi tetanus yang merupakan salah satu faktor
risiko kematian ibu dan kematian bayi, maka dilaksanakan program imunisasi
Tetanus Toksoid Difetri (Td) bagi Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan
Imunisasi mengamanatkan bahwa wanita usia subur dan ibu hamil merupakan salah
satu kelompok populasi yang menjadi sasaran imunisasi lanjutan. Imunisasi lanjutan
merupakan ulangan imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan
untuk memperpanjang usia perlindungan.
Wanita usia subur yang menjadi sasaran imunisasi Td berada pada kelompok
usia 15-39 tahun yang terdiri dari WUS hamil (ibu hamil) dan tidak hamil. Imunisasi
lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu melakukan pelayanan
antenatal. Imunisasi Td pada WUS diberikan sebanyak 5 dosis dengan interval
tertentu, berdasarkan hasil screening mulai saat imunisasi dasar bayi, lanjutan
baduta, lanjutan BIAS serta calon pengantin atau pemberian vaksin mengandung “T”
pada kegiatan imunisasi lainnya. Pemberian dapat dimulai sebelum dan atau saat
hamil yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Interval pemberian imunisasi Td
dan lama masa perlindungan yang diberikan sebagai berikut.
a. Td2 memiliki interval minimal 4 minggu setelah Td1 dengan masa perlindungan
3 tahun.
b. Td3 memiliki interval minimal 6 bulan setelah Td2 dengan masa perlindungan 5
tahun.
c. Td4 memiliki interval minimal 1 tahun setelah Td3 dengan masa perlindungan
10 tahun.
d. Td5 memiliki interval minimal 1 tahun setelah Td4 dengan masa perlindungan
25 tahun.

7
Screening status imunisasi Td harus dilakukan sebelum pemberian vaksin.
Pemberian imunisasi Td tidak perlu dilakukan bila hasil screening menunjukkan
wanita usia subur telah mendapatkan imunisasi Td5 yang harus dibuktikan dengan
buku KIA, rekam medis, dan atau kohort. Kelompok ibu hamil yang sudah
mendapatkan Td2 sampai dengan Td5 dikatakan mendapatkan imunisasi Td2+.
Gambar berikut menampilkan cakupan imunisasi Td5 pada wanita usia subur dan
cakupan imunisasi Td2+ pada ibu hamil.

Pada gambar di atas diketahui cakupan imunisasi Td5 pada wanita usia subur
masih sangat rendah yaitu sebesar 2,40%. Cakupan tertinggi di Provinsi Jawa Timur,
Bali, dan Jawa Tengah dengan capaian sebesar 7,24%, 4,4%, dan 3,29%. Sedangkan
provinsi dengan capaian terendah yaitu Sumatera Utara, Sulawesi Utara, dan
Gorontalo.

8
Cakupan imunisasi Td2+ pada ibu hamil sebesar 65,3%, relatif lebih rendah
jika dibandingkan dengan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 yang sebesar
87,30%, sementara Td2+ merupakan kriteria pelayanan kesehatan ibu hamil K4.
Provinsi Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta memiliki capaian
imunisasi Td2+ pada ibu hamil tertinggi di Indonesia. Sedangkan provinsi dengan
capaian terendah yaitu Sumatera Utara (10,52%), Papua Barat (12,51%), dan Papua
(16,05%).

9
c. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin

Upaya lain yang dilakukan untuk menurunkan kematian ibu dan kematian bayi yaitu
dengan mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu
dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, serta
diupayakan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Keberhasilan program ini
diukur melalui indikator persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan
(cakupan PF).

Sejak tahun 2015, penekanan persalinan yang aman adalah persalinan yang
ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu,
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menetapkan persalinan di
fasilitas pelayanan kesehatan sebagai salah satu indikator upaya kesehatan ibu,
menggantikan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.

Berikut ini disajikan gambaran cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan


di 34 provinsi di Indonesia tahun 2017.

10
Gambar 5.6 menunjukkan bahwa terdapat 83,67% ibu hamil yang menjalani
persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan difasilitas pelayanan
kesehatan di Indonesia. Secara nasional, indikator tersebut telah memenuhi target
Renstra yang sebesar 79%. Namun demikian masih terdapat 17 provinsi (50%) yang
belum memenuhi target tersebut. Terdapat kesenjangan yang cukup jauh antara
provinsi tertinggi dan terendah yaitu 114,42% (DKI Jakarta) – 30,65% (Maluku)
Dengan standar deviasi sebesar 16%.

Analisis kematian ibu yang dilakukan Direktorat Bina Kesehatan Ibu pada tahun
2010 membuktikan bahwa kematian ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan
tempat/fasilitas persalinan. Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti
berkontribusi terhadap turunnya risiko kematian ibu. Demikian pula dengan
tempat/fasilitas, jika persalinan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, juga akan
semakin menekan risiko kematian ibu.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan tetap konsisten dalam menerapkan


kebijakan bahwa seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dan
didorong untuk dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Kebijakan Dana Alokasi
Khusus (DAK) Bidang Kesehatan menggariskan bahwa pembangunan puskesmas
harus satu paket dengan rumah dinas tenaga kesehatan. Demikian pula dengan
pembangunan poskesdes yang harus bisa sekaligus menjadi rumah tinggal bagi bidan
di desa. Dengan disediakan rumah tinggal, tenaga kesehatan termasuk bidan akan
siaga di tempat tugasnya dan dapat memberikan pertolongan persalinan setiap saat.

Untuk daerah dengan akses sulit, kebijakan Kementerian Kesehatan yaitu


mengembangkan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu
Kelahiran. Para dukun diupayakan bermitra dengan bidan dengan hak dan kewajiban
yang jelas. Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan tidak lagi dikerjakan
oleh dukun, namun dirujuk ke bidan..Bagi ibu hamil yang di daerah tempat tinggalnya
tidak ada bidan atau jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan, maka menjelang hari
taksiran persalinan diupayakan sudah berada di dekat fasilitas pelayanan kesehatan,
yaitu di Rumah Tunggu Kelahiran. Rumah Tunggu Kelahiran Rumah Tunggu
Kelahiran adalah suatu tempat atau ruangan yang berada dekat fasilitas kesehatan
(RS, Puskesmas), yang dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara ibu hamil
dan pendampingnya (suami/kader/dukun atau keluarga) selama beberapa hari, saat
menunggu persalinan tiba dan beberapa hari setelah bersalin.
11
d. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibu nifas sesuai
standar, yang dilakukan sekurang-kurangnya tiga kali sesuai jadwal yang dianjurkan,
yaitu pada enam jam sampai dengan tiga hari pasca persalinan, pada hari ke empat
sampai dengan hari ke-28 pasca persalinan, dan pada hari ke-29 sampai dengan hari
ke-42 pasca persalinan. Masa nifas dimulai dari enam jam sampai dengan 42 hari
pasca persalinan. Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan terdiri dari :
1) pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu);
2) pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri);
3) pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;
4) pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;
5) pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu nifas dan bayi
baru lahir, termasuk keluarga berencana;
6) pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.

Gambar berikut menyajikan cakupan kunjungan nifas di Indonesia sejak tahun 2008
sampai dengan tahun 2017.

Cakupan kunjungan nifas (KF3) di Indonesia menunjukkan kecenderungan


peningkatan dari tahun 2008 sebesar 17,9% menjadi 87,36% pada tahun 2017.

Capaian kunjungan nifas menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Gambar 5.8
berikut ini.

12
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa Provinsi DKI Jakarta
memiliki capaian tertinggi yang diikuti oleh Kalimantan Utara dan Jambi. Sedangkan
provinsi dengan cakupan kunjungan nifas terendah yaitu Papua, Papua Barat, dan
Nusa Tenggara Timur. Dari 34 provinsi yang melaporkan data kunjungan nifas,
hampir 60% provinsi di Indonesia telah mencapai KF3 80%

13
e. Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil dan Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)

Sebagai upaya menurunkan kematian ibu dan kematian anak, Kementerian


Kesehatan menetapkan indikator persentase puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil
dan persentase puskesmas melaksanakan orientasi Program Perencanaan Persalinan
dan Pencegahan Komplikasi (P4K).
Kelas ibu hamil ini merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi
ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan,
persalinan, nifas, KB pasca persalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru
lahir dan aktivitas fisik atau senam ibu hamil.
Kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan jumlah peserta
maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu-ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar
pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak (KIA) secara menyeluruh dan sistematis
serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan berkesinambungan. Kelas ibu hamil
difasilitasi oleh bidan/tenaga kesehatan dengan menggunakan paket Kelas Ibu Hamil
yaitu Buku KIA, Flip Chart (lembar balik), Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil,
dan Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil.
Cakupan ini didapatkan dengan menghitung puskesmas yang telah melaksanakan
dibandingkan dengan seluruh puskesmas di wilayah kabupaten/kota. Puskesmas
dikatakan telah melaksanakan apabila telah melakukan kelas ibu hamil sebanyak 4
kali.

14
Sebanyak 93,76% puskesmas di Indonesia telah melaksanakan kelas ibu hamil
yang berarti telah mencapai renstra Kementerian Kesehatan tahun 2017 yang sebesar
84%. Hampir seluruh provinsi telah mencapai target renstra tersebut kecuali Maluku,
Papua Barat, dan Papua.

Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) merupakan


suatu program yang dijalankan untuk mencapai target penurunan AKI yaitu menekan
angka kematian ibu melahirkan. Program ini menitiberatkan fokus totalitas
monitoring terhadap ibu hamil dan bersalin.

Dalam pelaksanaan P4K, bidan diharapkan berperan sebagai fasiitator dan dapat
membangun komunikasi persuasif dan setara di wilayah kerjanya agar dapat terwujud
kerjasama dengan ibu, keluarga dan masyarakat sehingga pada akhirnya dapat
meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesehatan ibu dan
bayi baru lahir.

15
Indikator Puskesmas melaksanakan orientasi P4K menghitung Persentase
Puskesmas yang melaksanakan Orientasi P4K. Adapun yang dimaksud orientasi
tersebut adalah Pertemuan yang diselenggarakan oleh Puskesmas dengan
mengundang kader dan/atau bidan desa dari seluruh desa yang ada di wilayahnya
dalam rangka pembekalan untuk meningkatkan peran aktif suami, keluarga, ibu hamil
serta masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan
menghadapi komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas.

Pada tahun 2017 sebanyak 91,94% puskesmas teregistrasi telah melaksanakan


P4K yang berarti telah mencapai renstra Kementerian Kesehatan tahun 2017 yang
sebesar 88%. Menurut provinsi, sebanyak 25 provinsi (73,5%) telah mencapai target
tersebut, bahkan 14 di antaranya sudah mencapai 100% puskesmas.

Terdapat empat provinsi dengan capaian dibawah 55% yaitu Maluku Utara, Papua
Barat, Papua, dan Kalimantan Barat.

16
f. Pelayanan Kontrasepsi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan
Sistem Informasi Keluarga menyebutkan bahwa program keluarga berencana (KB)
adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur
kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi
untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Dalam pelaksanaannya, sasaran pelaksanaan program KB yaitu Pasangan Usia
Subur (PUS). Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami-istri yang terikat
dalam perkawinan yang sah, yang istrinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun.
KB merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu
dengan kondisi 4T yaitu Terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun), Terlalu
sering melahirkan, Terlalu dekat jarak melahirkan, dan Terlalu tua melahirkan (di atas
usia 35 tahun). Selain itu, program KB juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas
keluarga agar dapat timbul rasa aman, tentram, dan harapan masa depan yang lebih
baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
KB juga merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan
ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan.
Pelayanan KB meliputi penyediaan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi
keluarga untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah
anak, berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak.

KB aktif di antara PUS tahun 2017 sebesar 63,22%, sedangkan yang tidak pernah
ber-KB sebesar 18,63%. KB aktif tertinggi terdapat di Bengkulu yaitu sebesar 71,98%
dan yang terendah di Papua sebesar 25,73%.

17
Terdapat lima provinsi dengan cakupan KB aktif kurang dari 50% yaitu Papua,
Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Kepulauan Riau seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 5.12.

Berdasarkan pola dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi seperti yang disajikan
pada Gambar 5.13, sebagian besar peserta KB Aktif memilih suntikan dan pil sebagai
alat kontrasepsi bahkan sangat dominan (lebih dari 80%) dibanding metode lainnya;
suntikan (62,77%) dan pil (17,24%). Padahal suntikan dan pil termasuk dalam metode
kontrasepsi jangka pendek sehingga tingkat efektifitas suntikan dan pil dalam
pengendalian kehamilan lebih rendah dibandingkan jenis kontrasepsi lainnya.

18
Dari Gambar 5.13 juga dapat diketahui bahwa partisipasi laki-laki dalam ber-KB
masih sangat rendah, yaitu pada MOP sebanyak 0,53% dan Kondom sebanyak 1,22%

Penggunaan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) masih sangat rendah


dikarenakan pengetahuan masyarakat yang masih rendah tentang kelebihan metode
MKJP dan keterbatasan jumlah tenaga terlatih serta sarana yang ada. Dari keseluruhan
jumlah peserta KB aktif, hanya 17,45% diantaranya yang menggunakan KB MKJP.
Sedangkan 81,23% lainnya pengguna KB non MKJP dan 1,32% menggunakan
metode KB tradisional.

19
Berdasarkan metode KB, provinsi tertinggi dengan peserta KB MKJP tertinggi
terdapat di Bali (39,14%), D.I Yogyakarta (36,03%), dan Nusa Tenggara Timur
(30,49). Sedangkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan walaupun secara
keseluruhan metode merupakan provinsi dengan cakupan KB aktif yang tinggi,
namun pengguna MKJP yang sangat rendah.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan, pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana
pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat,
termasuk keluarga berencana. Pelayanan kesehatan dalam keluarga berencana
dimaksudkan untuk pengaturan kehamilan bagi pasangan usia subur untuk
membentuk generasi penerus yang sehat dan cerdas. Pasangan Usia Subur bisa
mendapatkan pelayanan kontrasepsi di tempat-tempat yang melayani program KB.

20
Gambaran mengenai tempat pelayanan KB di Indonesia dapat dilihat pada Gambar
5.15 berikut ini.

Tempat pelayanan KB digolongkan menjadi lima jenis yaitu FKRTL, FKTP,


Jejaring, Pelayanan Bergerak, dan jenis tempat pelayanan KB Lainnya. Berdasarkan
tempat pelayanan tersebut PUS paling banyak dilayani oleh Jejaring yaitu sebesar
55,19%. Jejaring tersebut terdiri atas Pustu/Pusling/Bidan Desa, Poskesdes/Polindes
dan Praktek Bidan. Praktek Bidan memberikan pelayanan paling banyak yaitu sebesar
60,42% dari jumlah PUS yang dilayani oleh Jejaring.

Menurut provinsi dan tempat pelayanan KB, provinsi dengan pengguna FKTP
(puskesmas, klinik pratama, dan praktek dokter) tertinggi sebagai tempat pelayanan
KB yaitu Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Hal itu disebabkan
terbatasnya pilihan fasilitas pelayanan KB di provinsiprovinsi tersebut.

21
B. KESEHATAN ANAK
Upaya pemeliharaan kesehatan anak ditujukan untuk mempersiapkan generasi akan
datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian anak.
Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam kandungan,
dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18 tahun.
Dengan upaya kesehatan anak antara lain diharapkan mampu menurunkan angka
kematian anak. Indikator angka kematian yang berhubungan dengan anak yakni Angka
Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita
(AKABA).
Angka kematian anak dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan. Hasil Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menunjukkan AKN sebesar 15
per 1.000 kelahiran hidup, AKB 24 per 1.000 kelahiran hidup, dan AKABA 32 per 1.000
kelahiran hidup. Tren angka kematian anak tahun 1991-2017 dari hasil SDKI sebagai
berikut

Data dan informasi yang akan disajikan berikut ini menerangkan berbagai indikator
kesehatan anak yang meliputi: pelayanan kesehatan neonatal, imunisasi rutin pada anak,
pelayanan kesehatan pada anak sekolah, dan pelayanan kesehatan peduli remaja.

22
1. Pelayanan Kesehatan Neonatal
Neonatus adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari. Pada masa tersebut
terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim dan terjadi
pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan
merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi
dan berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Sehingga tanpa penanganan yang tepat,
bisa berakibat fatal. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko
pada kelompok ini di antaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya
pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru lahir.
Cakupan Kunjungan Neonatal Pertama atau KN1 merupakan indikator yang
menggambarkan upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko kematian
pada periode neonatal yaitu 6-48 jam setelah lahir yang meliputi antara lain
kunjungan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM)
termasuk konseling perawatan bayi baru lahir, ASI eksklusif, pemberian vitamin K1
injeksi dan Hepatitis B0 injeksi bila belum diberikan.
Capaian KN1 Indonesia pada tahun 2017 sebesar 92,62% lebih tinggi dari tahun
2016 yaitu sebesar 91,14%. Capaian ini sudah memenuhi target Renstra tahun 2017
yang sebesar 81%. Sejumlah 23 provinsi (67,6%) yang telah memenuhi target
tersebut. Cakupan indikator kunjungan neonatal pertama menurut provinsi dapat
dilihat pada Gambar 5.20.
Hasil capaian nasional per provinsi masih terdapat disparitas Cakupan KN1 antar
provinsi yang berkisar antara 48,89 di Papua dan 118,38% di DKI Jakarta. Beberapa
provinsi mendapatkan cakupan lebih dari 100% dikarenakan data sasaran yang
ditetapkan lebih rendah dibandingkan dengan data sasaran riil yang didapatkan.

23
2. Imunisasi
Dalam Undang - Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dinyatakan bahwa
setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan untuk
mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi dan pemerintah
wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak. Penyelenggaraan
imunisasi tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 yang
diundangkan tanggal 11 April 2017 menggantikan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 42 Tahun 2013.
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit tertentu, sehingga bila suatu saat
terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.
Beberapa penyakit menular yang termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah
dengan Imunisasi (PD3I) antara lain TBC, difteri, tetanus, hepatitis B, pertusis,
campak, rubella, polio, radang selaput otak, dan radang paru-paru. Anak yang telah
diberi imunisasi akan terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya tersebut, yang
dapat menimbulkan kecacatan atau kematian. Imunisasi merupakan salah satu
intervensi kesehatan yang terbukti paling cost-effective (murah), karena dapat
mencegah dan mengurangi kejadian kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat PD3I
yang diperkirakan 2 hingga 3 juta kematian tiap tahunnya.

24
Berdasarkan jenis penyelenggaraannya, imunisasi dikelompokkan menjadi
imunisasi program dan imunisasi pilihan. Imunisasi program adalah imunisasi yang
diwajibkan kepada seseorang sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka
melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Sedangkan imunisasi pilihan adalah imunisasi yang dapat
diberikan kepada seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi
yang bersangkutan dari penyakit tertentu.

Imunisasi Program terdiri atas imunisasi rutin, imunisasi tambahan, dan imunisasi
khusus. Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Imunisasi
dasar diberikan pada bayi sebelum berusia satu tahun, sedangkan imunisasi lanjutan
diberikan pada anak usia bawah dua tahun (Baduta), anak usia sekolah dasar dan
wanita usia subur (WUS). Imunisasi tambahan merupakan jenis Imunisasi tertentu
yang diberikan pada kelompok umur tertentu yang paling berisiko terkena penyakit
sesuai dengan kajian epidemiologis pada periode waktu tertentu. Imunisasi khusus
dilaksanakan untuk melindungi seseorang dan masyarakat terhadap penyakit tertentu
pada situasi tertentu seperti persiapan keberangkatan calon jemaah haji/umroh,
persiapan perjalanan menuju atau dari negara endemis penyakit tertentu, dan kondisi
kejadian luar biasa/wabah penyakit tertentu.

a. Imunisasi Dasar pada Bayi


Penentuan jenis imunisasi didasarkan atas kajian ahli dan analisis epidemiologi
atas penyakitpenyakit yang timbul. Di Indonesia, setiap bayi (usia 0-11 bulan)
diwajibkan mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari 1 dosis
Hepatitis B, 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-HiB, 4 dosis polio tetes, dan 1 dosis
campak/MR.
Cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia dalam lima tahun terakhir
selalu di atas 85%, namun masih belum mencapai target Renstra Kementerian
Kesehatan yang ditentukan. Pada tahun 2017 imunisasi dasar lengkap di Indonesia
sebesar 91,12%. Angka ini sedikit di bawah target Renstra tahun 2017 sebesar
92%. Sedangkan menurut provinsi, terdapat 15 provinsi yang mencapai target
Renstra tahun 2017.

25
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa seluruh bayi di Provinsi Sumatera
Selatan, Lampung, Jambi dan Nusa Tenggara Barat telah mendapatkan imunisasi
dasar lengkap. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah yaitu Kalimantan Utara
(66,2%), Papua (68,6%), dan Aceh (70,0%). Data dan informasi terkait imunisasi
dasar pada bayi yang dirinci menurut provinsi tahun 2017 terdapat pada Lampiran
5.13

26
Dari imunisasi dasar yang diwajibkan tersebut, campak/MR menjadi salah satu
jenis imunisasi yang mendapat perhatian lebih, hal ini sesuai dengan komitmen
Indonesia pada global untuk turut serta dalam eliminasi campak dan pengendalian
rubela pada tahun 2020 dengan mencapai cakupan campak minimal 95% di semua
wilayah secara merata. Hal ini terkait dengan realita bahwa campak menjadi salah
satu penyebab utama kematian pada balita dan infeksi rubela menyebabkan cacat
bawaan pada bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi rubela. Dengan
demikian pencegahan campak dan rubela memiliki peran signifikan dalam penurunan
angka kecacatan dan kematian pada balita. Tren cakupan imunisasi campak di
Indonesia cenderung menurun meskipun tetap berusaha mencapai target sebesar 95%
seperti yang disajikan pada Gambar 5.23 berikut.

Indonesia memiliki cakupan imunisasi campak program di atas 90% sejak tahun
2008. Tahun 2017 sedikit menurun dari tahun 2016, yaitu sebesar 91,8%. Menurut
provinsi, terdapat sebelas provinsi yang telah berhasil mencapai target 95%. Pada
gambar di bawah dapat diketahui bahwa seluruh bayi di Provinsi Jambi, Nusa
Tenggara Barat, Lampung, DKI Jakarta dan Sumatera Selatan telah mendapatkan
imunisasi campak. Sedangkan provinsi dengan cakupan terendah yaitu Aceh sebesar
70,8%, Papua 73,6% dan Kalimantan Utara 74,2%.

27
b. Angka Drop Out Cakupan Imunisasi DPT/HB1-Campak
Imunisasi dasar pada bayi seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan
umurnya sebelum anak berusia satu tahun. Pada kondisi ini, diharapkan sistem
kekebalan tubuh dapat bekerja secara optimal. Namun demikian, pada kondisi
tertentu beberapa bayi tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap.
Kelompok inilah yang disebut dengan drop out (DO) imunisasi. Bayi yang
mendapatkan imunisasi DPT/HB1 pada awal pemberian imunisasi, namun tidak
mendapatkan imunisasi campak, disebut angka drop out imunisasi DPT/HB1-
Campak. Indikator ini diperoleh dengan menghitung selisih penurunan cakupan
imunisasi Campak terhadap cakupan imunisasi DPT/HB1.
DO rate DPT/HB1-Campak diharapkan tidak melebihi 5%. Batas maksimal
tersebut telah berhasil dipenuhi sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2017.
Angka drop out imunisasi DPT/HB1- Campak menunjukkan kecenderungan
penurunan sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2016 yang asumsinya semakin
banyak bayi yang mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Angka drop out
imunisasi DPT/HB1-Campak pada tahun 2017 meningkat menjadi 4,1%
dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 2,4% meskipun masih mencapai target di
bawah 5%.

28
Peningkatan ini terjadi karena semakin banyaknya kelompok anti vaksin yang
menolak mengimunisasikan anaknya sehingga cakupan imunisasi menurun
hampir di semua antigen. Tren dalam 10 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar
berikut.

Data dan informasi lebih rinci mengenai angka drop out cakupan imunisasi
DPT/HB1-Campak dan DPT/HB(1)-DPT/HB(3) pada tahun 2015-2017 terdapat
pada Lampiran 5.14

c. Desa/Kelurahan UCI (Universal Child Immunization)


Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan adalah gambaran suatu
desa/kelurahan dimana ≥80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di
desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Cakupan
desa/kelurahan UCI menurut provinsi terdapat pada Gambar 5.26.
Pada tahun 2017 cakupan desa UCI di Indonesia sebesar 80,34%. Tiga provinsi
dengan capaian tertinggi yaitu DI Yogyakarta (100%), DKI Jakarta (100%) dan
Jawa Tengah sebesar 99,95%. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah yaitu
Papua (21,43%), Kalimantan Utara (51,98%) dan Maluku (59,95%). Informasi
terkait Cakupan Desa UCI pada tahun 2015-2017 menurut provinsi terdapat pada
Lampiran 5.15

29
d. Persentase Kabupaten/Kota yang Mencapai 80% Imunisasi Dasar Lengkap
pada Bayi Persentase kabupaten/kota yang mencapai 80% imunisasi dasar
lengkap pada bayi merupakan salah satu indikator pemerataan dan mutu
pelayanan kesehatan dalam sasaran pembangunan kesehatan pada RPJMN 2015-
2019, dengan target 95% pada tahun 2019. Persentase kabupaten/kota yang
mencapai 80 persen imunisasi dasar lengkap pada bayi cenderung meningkat, dan
pada tahun 2017 mencapai 85,41% kabupaten/kota seperti tergambar pada gambar
berikut.

30
Terdapat 20 provinsi yang 100% kabupaten/kotanya telah mencapai 80%
imunisasi dasar lengkap pada bayi, sedangkan tiga provinsi terendah adalah Papua
(24,14%), Aceh (52,17%) dan Nusa Tenggara Timur (54,55%) seperti pada
gambar berikut, sedangkan rincian menurut provinsi pada tiga tahun terakhir dapat
dilihat pada Lampiran 5.16

e. Imunisasi Lanjutan pada Anak Baduta


Dalam upaya mempertahankan tingkat kekebalan agar tetap tinggi sehingga
dapat memberikan perlindungan dengan optimal, maka pemberian imunisasi pada
seorang anak perlu ditambah dengan dosis lanjutan (booster) untuk meningkatkan
kekebalannya yang diberikan pada usia 18 bulan. Perlindungan optimal dari
pemberian imunisasi lanjutan ini hanya didapat apabila anak tersebut telah
mendapat imunisasi dasar secara lengkap. Karena itu, sejak tahun 2014, secara
nasional program imunisasi lanjutan masuk ke dalam program imunisasi rutin
dengan memberikan 1 dosis DPT-HB-HiB(4) dan campak/MR(2) kepada anak
usia 18-24 bulan.

31
Persentase anak usia 12-24 bulan yang mendapatkan imunisasi DPT-HB-Hib
(4) pada tahun 2017 sebesar 63,5%. Cakupan ini telah mencapai target Renstra
2015-2019 yang menargetkan cakupan tahun 2017 sebesar 45% dan telah
mendekati target tahun 2019 yang sebesar 70%.
Hanya 5 provinsi yang belum mencapai target 45%, yaitu Aceh (26,7%),
Papua (27,3%), Nusa Tenggara Timur (36,7%), Riau (38,7%), dan Papua Barat
(40,7%) seperti tersaji pada gambar berikut .

Risiko kesehatan terbanyak yang didapat dari penjaringan kesehatan kelas 1


antara lain karies gigi, serumen telinga, masalah gizi (kurus atau gemuk) dan
anemia. Hasil dari penjaringan kesehatan diinformasikan oleh Puskesmas kepada
sekolah/madrasah untuk ditindaklanjuti. Selanjutnya sekolah/madrasah
berkewajiban untuk menginformasikan hasil penjaringan kesehatan tersebut kepada
orang tua/wali untuk ditindaklanjuti (membawa anak ke Puskesmas untuk
pemeriksaan lanjutan dan/atau pengobatan).

32
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Ibu dan anak merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan, karena ibu dan anak merupakan kelompok rentan
terhadap keadaan keluarga dan sekitarnya secara umum. . Hal ini terkait dengan fase
kehamilan, persalinan dan nifas pada ibu dan fase tumbuh kembang pada anak. Hal ini
yang menjadi alasan pentingnya upaya kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu
prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia. Sehingga penilaian terhadap status
kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan.

Pemerintah telah membuat berbagai kebijakan guna mengurangi Angka Kematian


Ibu(AKI) dan Angka Kematian Bayi(AKB). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga, Keluarga Berencana, dan Sistem Informasi Keluarga, menyebutkan bahwa
pembangunan keluarga dilakukan dalam upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas
yang hidup dalam lingkungan yang sehat. Selain lingkungan yang sehat, masih menurut
peraturan pemerintah tersebut, kondisi kesehatan dari tiap anggota keluarga sendiri juga
merupakan salah satu syarat dari keluarga yang berkualitas.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan RI. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


33/MENKES/PER/2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
2. Kesehatan RI. 2015. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015
tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 – 2019. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
3. Republik Indonesia. 2009. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009, Nomor 144. Jakarta: Sekretariat
Negara.
4. Kementerian Kesehatan RI. 2017. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 422 Tahun 2017
tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 – 2019: Revisi I Tahun 2017.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
5. Republik Indonesia. 2009. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009, Nomor 144. Jakarta: Sekretariat
Negara.
6. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2018. Profil Keluarga
Indonesia Tahun 2017. Jakarta: BKKBN.
7. Badan Pusat Statistik. 2015. Profil Penduduk Indonesia Hasil Supas 2015. Jakarta: Badan
Pusat Statistik.
8. Badan Pusat Statistik, BKKBN, Kementerian Kesehatan. 2013. Survei Demografi
Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Jakarta.
9. Badan Pusat Statistik. 2017. Survei Sosial Ekonomi Nasional KOR 2017. Jakarta: Badan
Pusat Statistik
10. Kementerian Kesehatan RI. 2017. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
HK.01.07/MENKES/422/2017 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun
2015 – 2019. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
11. Kementerian Kesehatan RI. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 Tahun
2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
12. Republik Indonesia. 2009. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009, Nomor 144. Jakarta: Sekretariat
Negara.

34