Anda di halaman 1dari 269

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut World Health Organization (WHO), indikator kesejahteraan

suatu bangsa salah satunya diukur dari besarnya angka kematian saat

persalinan. Makin tinggi angka itu, makin rendah kesejahteraan suatu bangsa.

Angka Kematian Ibu (AKI) dinegara berkembang karena

kehamilan, persalinan dan nifas merupakan masalah yang komplek dan

berkepanjangan. Bahkan sampai saat ini masalah tersebut belum teratasi.

Menurut WHO tahun 2008 di dunia setiap menit seorang perempuan

meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan.

Dengan kata lain, 1400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari

500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan.

WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu per tahunnya meninggal saat

hamil atau bersalin. Di dunia dari 100.000 kelahiran, tingkat kematian ibu

mencapai 400 jiwa.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization

(WHO) menjelaskan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka

KematianBayi (AKB) di indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara

ASEAN. AKI di Indonesia pada tahun 2005 adalah 262/100.000 kelahiran

hidup, sementara AKB adalah 35/1000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun

2007, AKI adalah 248/100.000 kelahiran hidup dan AKB adalah 27/1.000

1
kelahiran hidup. Dilihat dari data tersebut AKI dan AKB di Indonesia

mengalami penurunan dari tahun 2005 sampai 2007 (Depkes RI,

2008).Bandingkan dengan AKI di Negara berkembang Amerika misalnya

yang hanya 7 per 100.000 kelahiran hidup dan Singapore sebesar 150 per

100.000 kelahiran hidup. Resiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia

adalah 1 dari 65 ibu yang melahirkan, jika dibandingkan dengan Negara maju

seperti Australia yaitu 1 dari 1.100 ibu yang melahirkan (SDKI, 2007)

Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,

angka kematian maternal di Indonesia mencapai 248/100.000 kelahiran hidup,

itu berarti setiap 100.000 kelahiran hidup masih ada sekitar 248 ibu yang

meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan.

Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007

menunjukan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 228 per 100.000

kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 34 per 1000 kelahiran

hidup (Depkes, 2009). Angka kejadian kematian ibu saat bersalin (50,09%),

nifas (30,58%) dan saat hamil (19,33%). Penyebab kematian ibu antara lain

perdarahan (60-70%), preeklampsia/eklampsia (25%) dan infeksi (20%).

Di Indonesia, berdasarkan perhitungan oleh BPS diperoleh AKI tahun

2007 sebesar 248/100.000 KH. Jika dibandingkan dengan AKI tahun 2002

sebesar 307/100.000 KH, AKI tersebut sudah jauh menurun, namun masih

jauh dari target pada tahun 2015 (102/100.000 KH) sehingga masih

memerlukan kerja keras dari semua komponen untuk mencapai target tersebut.

Tetapi, apabila kita melihat AKI berdasarkan data yang dikirimkan oleh

2
Puskesmas seluruh Indonesia maka target tersebut sedikit lagi akan tercapai.

Berdasarkan laporan dari Puskesmas pada tahun 2005 diperoleh AKI sebesar

151, pada tahun 2006 sebesar 127 dan pada tahun 2007 sebesar 119/100.000

KH. Kalau kita lihat data AKI dari lapangan menunjukkan adanya penurunan

yang sangat bermakna (SDKI, 2007).

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan DKI, diwilayah Jakarta angka

kematian bayi yang semula 15,2 per 1000 kelahiran pada tahun 2007 turun

menjadi 13,7 per 1000 kelahiran pada tahun 2008. Begitu juga dengan angka

kematian ibu melahirkan, yakni dari 41 per 100.000 kelahiran pada tahun 2007

menjadi 39 per 100.000 kelahiran pada tahun 2008 (Lenny, 2009).

Penyebab utama kematian maternal masih disebabkan oleh trias kematian

ibu yaitu 28% perdarahan, 11% infeksi, 24% eklampsi. Sementara penyebab

utama kematian perinatal yaitu disebabkan oleh asfiksia neonatorum27%,

infeksi 5%, prematuritas, BBLR 29%, dan tetanus neonatorum. (DepkesRI,

2007).

Sementara untuk AKB, berdasarkan perhitungan dari BPS, pada tahun

2007 diperoleh AKB sebesar 26,9/1000 KH (2007). Angka ini sudah jauh

menurun dibandingkan tahun 2002-2003 sebesar 35/1000 KH dan upayanya

akan lebih ringan bila dibandingkan dengan upaya pencapaian target untuk

penurunan AKI. Adapun target AKB pada tahun 2015 sebesar 15/1000 KH.

Apabila kita melihat data tahun 2007 dari laporan Puskesmas, diperoleh AKB

sebesar 9,1/1000 KH.

3
Persalinan di rumah dan ditolong oleh dukun, merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi masih tingginya AKI di Indonesia. Data Riskesdas 2010,

memperlihatkan bahwa persalinan di fasilitas kesehatan 55,4% dan masih ada

persalinan yang dilakukan di rumah (43,2%). Pada kelompok ibu yang

melahirkan di rumah ternyata baru 51,9% persalinan ditolong oleh bidan,

sedangkan yang ditolong oleh dukun masih 40,2%. Kondisi tersebut masih

diperberat dengan adanya faktor risiko 3 Terlambat yaitu terlambat mengambil

keputusan di tingkat keluarga, terlambat merujuk/ transportasi dan terlambat

menangani dan 4 Terlalu yaitu melahirkan terlalu muda (dibawah 20 tahun),

terlalu tua (diatas 35 tahun), terlalu dekat (jarak melahirkan kurang dari 2

tahun) dan terlalu banyak (lebih dari 4 kali).

Pemerintah menargetkan angka kematian ibu menjadi 117 per 100.000

kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 24 per 1.000 kelahiran

hidup pada 2014. Upaya - upayanya yakni meningkatkan intensitas kampanye

program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dan

penyediaan buku panduan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam rangka upaya

mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) sesuai

dengan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015.(Rahardja,

2010).Sementara target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015

adalah32/1.000 KH untuk Angka Kematian Balita dan 23 per 1.000 KH untuk

angka kematian bayi, kata Menkes.

Data diatas menunjukkan bahwa untuk mencegah dan mengatasi penyebab

utama AKI dan AKB adalah pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan

4
persalinan normal, dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga

profesional.Untuk mewujudkan upaya tersebut bidan sebagai pelayanan

kesehatan dasar ibu dan anak, harus mampu mendeteksi resiko tinggi kepada

setiap ibu hamil di wilayah kerjanya serta mampu melakukan pengawasan,

perawatan dan penatalaksanaan yang komprehensif kepada ibu hamil, ibu

bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir.

Oleh karena itu mengingat pentingnya peran dan fungsi bidan, hal ini yang

melatar belakangi penulis untuk melakukan studi kasus dengan pendekatan

manajemen asuhan kebidanan secara komprehensif untuk memberikan

pelayanan pada kehamilan, persalinan, nifas, dan BBL di RSB Kartini.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mampu melakukan dan menerapkan manajemen asuhan kebidanan pada

ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk

mengevaluasi keadaan klien secara lengkap.

b. Mampu menetapkan diagnosis atau masalah berdasarkan penafsiran

data yang telah dikumpulkan.

c. Mampu mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial berdasarkan

diagnosa yang telah ditetapkan.

5
d. Mampu menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk

melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain jika

ditemukan masalah potensial.

e. Mampu menyusun rencana asuhan secara menyeluruh secara tepat

berdasarkan diagnosa dan kebutuhan klien.

f. Mampu melaksanakan secara langsung asuhan yang efisien dan aman

berdasarkan perencanaan yang telah dibuat.

g. Mampu mengevaluasi hasil tindakan yang telah diberikan.

C. Ruang Lingkup

Makalah ini membahas tentang asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin,

nifas dan bayi baru lahir. Tujuh langkah varney pada Ny.P Dimulai sejak 14

Februari –17 Maret 2012 di RSB Kartini.

D. Sistematika Penulisan

BAB 1 : Pendahuluan, Berisi : latar belakang, tujuan penulisan, ruang

lingkup dansistematikalaporan.

BAB 2 : Tinjauan pustaka

a. Tinjauan teori klinis : berisi Konsep Kehamilan, persalinan,

nifas,Bayi baru lahir.

b. Tinjauan teori : berisi manajemen askeb pada

kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru

lahir.

6
BAB 3 : Tinjauan kasus, berisi :pengkajian, analisa masalah/interpertasi

data,masalahpotensial, tindakan segera, perencanaan tindakan,

pelaksanaan danevaluasi pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi

baru lahir

BAB 4 : Pembahasan, berisi : Manajemen kebidanan yang dilakukan

selamakehamilan, bersalin, nifas dan bayi baru lahir.

BAB 5 : Penutup, Berisi : kesimpulan dan saran.

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Klinis

1. Kehamilan

a. Pengertian Kehamilan

Proses kehamilan merupakan matarantai yang bersinambung dan

terdiri dari : ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan

pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan

plasenta, dan tumbuh-kembang hasil konsepsi sampai aterm.

(Manuaba, 2010 hal: 75)

Untuk terjadi kehamilan harus ada spermatozoa, ovum, pembuahan

ovum (konsepsi), dan nidasi (implantasi) hasil konsepsi.

(Prawiroharjo, 2008 hal: 139)

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin,

lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)

di hitung dari hari pertama haid terakhir. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk,

2009:2)

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.

Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7

hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam

3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3

8
bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan

ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. (Saifuddin, 2009 hal: 89)

Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu

berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-

13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28

hingga ke-40). (Prawirohardjo, 2008 hal: 213)

Ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan antenatalcare.

Antenatalcare merupakan pengawasan sebelum persalinan terutama

ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim

(Ilmu kebidanan penyakit kandungan dan KB, Manuaba Ida bagus,

2010 hal: 110 ).

Keuntungan antenatalcare sangat besar karena dapat mengetahui

berbagai resiko dan komplikasi hamil sehingga ibu hamil dapat

diarahkan untuk melakukan rujukan ke rumah sakit.

b. Pembagian kehamilan menurut trimesternya

Kehamilan dibagi dalam 3 trimester yaitu:

1) Trimester I, dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan atau 0

sampai 12 minggu

2) Trimester kedua, dari bulan keempat sampai 6 bulan atau 13

sampai 28 minggu

3) Trimester ketiga, dari tujuh bulan sampai 9 bulan atau 29 sampai

42 minggu

9
(Ilmu kebidanan penyakit kandungan dan KB, Manuaba Ida bagus,

2010 hal: 107).

c. Fisiologi Kehamilan

1) Proses Kehamilan

Kehamilan merupakan suatu proses alami bagi seorang wanita,

yang mana saat ini terjadi perubahan fisik maupun emosional dari

ibu serta perubahan sosial di dalam keluarga. Pada umumnya

kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilakan

kelahiran bayi sehat, cukup bulan, melalui jalan lahir namun

terkadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dimana bisa

terjadi kemungkinan timbulnya resiko yang bisa menyebakan

kematian ibu dan bayi (Buku Acuan Nasional Pelayanan

Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2009)

Proses kehamilan merupakan matarantai yang bersinambung

dan terdiri dari : ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi

dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus,

pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai

aterm. (Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB, Manuaba,

2010 hal : 75).

a) Ovulasi

Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi

oleh system hormonal yang kompleks.

10
Selama masa subur berlangsung 20 sampai 35 tahun, hanya

420 buah ovum yang dapat mengikuti proses pematangan dan

terjadi ovulasi. Proses pertumbuhan ovum (oogenesis) asalnya

epitel germinal → oogonium → folikel primer → proses

pematangan pertama. Dengan pengaruh FSH, folikel primer

mengalami perubahan menjadi folikel de Graaf yang menuju ke

permukaan ovarium disertai pembentukan cairan folikel.

Desakan folikel de Graaf ke permukaan ovarium menyebabkan

penipisan dan disertai devaskularisasi. Selama pertumbuhan

menjadi folikel de Graaf, ovarium mengeluarkan hormone

estrogen yang dapat mempengaruhi gerak dari tuba yang makin

mendekati ovarium, gerak sel rambut lumen tuba makin tinggi,

peristaltic tuba makin aktif.

Ketiga factor ini menyebabkan aliran cairan dalam tuba

makin deras menuju uterus. Dengan pengaruh LH yang

semakin besar dan fluktuasi yang mendadak, terjadi proses

pelepasan ovum yang disebut ovulasi. Dengan gerak aktif tuba

yang mempunyai umbai (fimbriae) maka ovum yang telah

dilepaskan segera ditangkap oleh fimbriae tuba. Proses

penangkapan ini disebut ovum pick up mechanism. Ovum yang

tertangkap terus berjalan mengikuti tuba menuju uterus, dalam

bentuk pematangan pertama, artinya telah siap untuk

dibuahi.(Manuaba, 2010 : Hal 75)

11
b) Spermatozoa

Proses pembentukan spermatozoa merupakan proses yang

kompleks. Spermatogonium berasal dari sel primitive tubulus,

menjadi spermatosit pertama, menjadi spermatosit kedua,

menjadi spermatid, akhirnya spermatozoa.

Pertumbuhan spermatozoa dipengaruhi matarantai

hormonal yang kompleks dari pancaindera, hipotalamus,

hipofisis, dan sel interstitial Leydig sehingga spermatogonium

dapat mengalami proses mitosis. Pada setiap hubungan seksual

dikeluarkan sekitar 3 cc sperma yang mengandung 40 sampai

60 juta spermatozoa setiap cc. bentuk spermatozoa seperti

cebong, yang terdiri atas kepala (lonjong sedikit gepeng yang

mengandung inti), leher (penghubung antara kepala dan ekor),

ekor (panjang sekitar 10 kali kepala, mengandung energy

sehingga dapat bergerak).

Sebagian besar spermatozoa mengalami kematian dan

hanya beberapa ratus yang dapat mencapai tuba falopii.

Spermatozoa yang masuk ke dalam alat genitalia wanita dapat

hidup selama tiga hari, sehingga cukup waktu untuk

mengadakan konsepsi.(Manuaba, 2010 : Hal 76-77)

c) Konsepsi

Pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa disebut

konsepsi atau fertilisasi dan membentuk zigot. Proses konsepsi

12
dapat berlangsung seperti uraian di bawah ini. Keseluruhan

proses tersebut merupakan matarantai fertilisasi atau konsepsi.

(1) Ovum yang dilepaskan dalam proses ovulasi, diliputi oleh

korona radiate, yang mengandung persediaan nutrisi.

(2) Pada ovum, dijumpai inti dalam bentuk metaphase di

tengah sitoplasma yang disebut vitelus.

(3) Dalam perjalanan, korona radiate makin berkurang pada

zona pelusida. Nutrisi dialirkan ke dalam vitelus, melalui

saluran pada zona pelusida.

(4) Konsepsi terjadi pada pars ampularis tuba, tempat yang

paling luas yang dindingnya penuh jonjot dan tertutup sel

yang mempunyai silia. Ovum mempunyai waktu hidup

terlama di dalam ampula tuba.

(5) Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selama 48

jam. Spermatozoa menyebar, masuk melalui kanalis

servikalis dengan kekuatan sendiri. Pada kavum uteri,

teradi proses kapasitasi, yaitu pelepasan lipoprotein dari

sperma sehingga mampu mengadakan fertilisasi.

Spermatozoa hidup selama tiga hari di dalam genitalia

interna. Spermatozoa akan mengelilingi ovum yang telah

siap dibuahi serta mengikis korona radiate dan zona

pelusida dengan proses enzimatik : hialuronidase. Melalui

“stomata” spermatozoa memasuki ovum. Setelah kepala

13
spermatozoa masuk ke dalam ovum, ekornya lepas dan

tertinggal di luar. Kedua inti ovum dan inti spermatozoa

bertemu dengan membentuk zigot. (Manuaba, 2010 : Hal

77-79)

2) Proses nidasi atau imlantasi

Dengan masuknya ini spermatozoa ke dalam sitoplasma,

“vitelus” membangkitkan kembali pembelahan dalam inti ovum

yang dalam keadaan “metaphase”. Proses pemecahan dan

pematangan mengikuti bentuk anaphase dan “telofase” sehingga

pronukleusnya menjadi “haploid”. Pronukleus spermatozoa dalam

keadaan haploid saling mendekati dengan inti ovum yangkini

haploid dan bertemu dalam pasangan pembawa tanda dari pihak

pria maupun wanita.

Pada manusia, terdapat 46 kromosom dengan rincian 44 dalam

bentuk “autosom” sedangkan 2 kromosom sisanya sebagai

pembawa tanda seks. Wanita selalu resesif dengan kromosom X.

Laki—laki memiliki dua bentuk kromosom seks yaitu kromosom

X dan Y. Bila spermatozoa kromosom X bertemu sel ovum, terjadi

jenis kelamin wanita sedangkan bila kromosom seks Y bertemu sel

ovum, terjadi jenis kelamin laki-laki. Oleh karena itu, pihak wanita

tidak dapat disalahkan dengan jenis kelamin bayinya yang lahir

karena yang menentukan jenis kelamin adalah pihak suami.

14
Setelah pertemuan kedua inti ovum dan spermatozoa, terbentuk

zigot yang dalam beberapa jam telah mampu membelah dirinya

menjadi dua dan seterusnya. Berbarengan dengan pembelahan inti,

hasil konsepsi terus berjalan menuju uterus. Hasil pembelahan sel

memenuhi seluruh ruangan dalam ovum yang besarnya 100MU

atau 0,1 mm dan disebut stadium morula. Selama pembelahan sel

di bagian dalam, terjadi pembentukan sel di bagian luar morula

yang kemungkinan berasal dari korona radiate yang menjadi sel

trofoblas. Sel trofoblas dalam pertumbuhannya, mampu

mengeluarkan hormone korionik gonadotropin, yang

mempertahankan korpus luteum gravidarum.

Pembelahan berjalan terus dan di dalam morula terbentuk

ruangan yang mengandung cairan yang disebut blastula.

Perkembangan dan pertumbuhan berlangsung, blastula dengan vili

korealisnya yang dilapisi sel trofoblas telah siap untuk mengadakan

nidasi. Sementara itu, pada fase sekresi, endometrium telah makin

tebal dan makin banyak mengandung glikogen yang disebut

desidua. Sel trofoblas yang meliputi “primer vili korealis”

melakukan destruksi enzimatik-proteolitik, sehingga dapat

menanamkan diri di dalam endometrium. Proses penanaman

blastula yang disebut nidasi atau implantasi terjadi pada hari ke-6

sampai 7 setelah konsepsi. Pada saat tertanamnya blastula ke dalam

15
endometrium, mungkin terjadi perdarahan yang disebut tanda

Hartman.(Manuaba, 2010: Hal 79-82)

3) Pembentukan plasenta

Nidasi atau implantasi terjadi pada bagian fundus uteri

didinding depan atau belakang. Pada blastula, penyebaran sel

trofoblas yang tumbuh tidak rata, sehingga bagian blastula dengan

inner cell mass akan tertanam ke dalam endometrium. Sel trofoblas

menghancurkan endometrium sampai terjadi pembentukan plasenta

yang berasal dari primer vili korealis.

Terjadinya nidasi (implantasi) mendorong sel blastula

mengadakan diferensiasi. Sel yang dekat dengan ruangan

eksoselom membentuk “entoderm” dan yolk sac (kantong kuning

telur) sedangkan sel lain membentuk “ektoderm” dan ruangan

amnion. Plat embrio (embryonal plate) terbentuk di antara dua

ruang yaitu ruang amnion dan kantong yolk sac. Plat embrio terdiri

dari unsur ektoderm, entoderm, dan mesoderm. Ruangan amnion

dengan cepat mendekati korion sehingga jaringan yang terdapat di

antara amnion dan embrio padat dan berkembang menjadi tali

pusat.

Awalnya yolk sac berfungsi sebagai pembentuk darah bersama

dengan hati, limfa, dan sumsum tulang. Pada minggu kedua sampai

ketiga, terbentuk bakal jantung dengan pembuluh darahnya yang

menuju body stalk (bakal tali pusat). Jantung bayi mulai dapat

16
dideteksi pada minggu ke-6 sampai 8 dengan menggunakan

ultrasonografi atau system Doppler.

Pembuluh darah pada body stalk terdiri dari arteri umbilikalis

dan vena umbilikalis. Cabang arteri dan vena umbilikalis masuk ke

vili korealis sehingga dapat melakukan pertukaran nutrisi dan

sekaligus membuang hasil metabolisme yang tidak diperlukan.

Dengan berbagai bentuk implantasi (nidasi) dimana posisi plat

embrio berada, akan dijumpai berbagai variasi dari insersio tali

pusat, yaitu insersio sentralis, para sentralis, marginalis atau

insersio vilamentosa.

Vili korealis menghancurkan desidua sampai pembuluh darah,

mulai dengan pembuluh darah vena pada hari ke-10 sampai 11

setelah konsepsi, sehingga sejak saat itu embrio mendapat

tambahan nutrisi dari darah ibu secara langsung. Selanjutnya vili

korealis mengahancurkan pembuluh darah arteri sehingga

terjadilah alian darah pertama retroplasenter pada hari ke-14

sampai 15 setelah konsepsi. Bagian desidua yang tidak

dihancurkan membagi plasenta menjadi sekitar 15 sampai 20

kotiledon maternal. Pada janin plasenta akan dibagi menjadi sekitar

200 kotiledon fetus. Setiap kotiledon fetus terus bercabang dan

mengambang di tengah aliran darah untuk menunaikan fungsinya

memberikan nutrisi, pertumbuhan, dan perkembangan janin dalam

rahim ibu. Darah ibu dan darah janin tidak berhubungan langsung

17
dan dipisahkan oleh lapisan trofoblas, dinding pembuluh darah

janin. Fungsinya dilakukan berdasarkan system osmosis dan

enzimatik serta pinositosis. Situasi plasenta demikian disebutkan

system plasenta-hemokorial.

Sebagian dari vili korealis tetap berhubungan langsung dengan

pars basalis desidua, tetapi tidak sampai menembusnya. Hubungan

vili korealis dengan desidua tersebut dibatasi oleh jaringan fibrotic

yang disebut lapisan Nitabusch. Melalui lapisan Nitabusch plasenta

dilepaskan pada saat persalinan kala ketiga (kala uri).

Dengan terjadinya nidasi maka desidua terbagi menjadi desidua

basalis yang berhadapan dengan korion frondusum yang

berkembang menjadi plasenta; desidua kapsularis yang menutupi

hasi konsepsi; desidua yang berlawanan dengan desidua kapsularis

disebut desidua parietalis; kelanjutan antara desidua kapsularis dan

desisua parietalis disebut desidua reflexa. Vili korealis yang

tumbuhnya tidak subur disebut korion leaf. (Ilmu Kebidanan

Penyakit Kandungan dan KB, Manuaba, 2010 hal:75-85)

d. Tanda dan Gejala Kehamilan

1) Tanda Kehamilan Pasti

Pada ibu yang diyakini sedang dalam kondisi hamil maka

dalam pemeriksaan melalui USG (ultrasonografi) terlihat adanya

gambaran janin.

18
Ultrasonografi memungkinkan untuk mendeteksi jantung

kehamilan (gestasional sac) pada minggu ke-5 sampai ke-7,

pergerakan jantung biasanya terlihat pada 42 hari setelah konsepsi

yang normal atau sekitar minggu ke-8, melalui pemeriksaan USG,

dapat diketahui juga panjang, kepala dan bokong (trown-sump

length/ TRI) janin dan merupakan metode yang akurat dalam

menentukan usia kehamilan.

Pemeriksa merasakan gerakan janin dalam rahim pada usia 20

minggu, terlihat adanya gambaran kerangka janin dengan

pemeriksaan radiology, terdengar adanya denyut jantung janin,

melalui pemeriksaan dengan ultrasoografi Doppler dapat dideteksi

dengan denyut jantung janin pada minggu ke-8 sampai minggu ke-

12 setelah menstruasi terakhir dengan stetoskop leanec denyut

jantung terdeteksi pada minggu ke-18 sampai minggu ke-20

(Asuhan kebidanan I, Yeyeh Ai Rukiyah, 2010 hal: 77).

2) Tanda dugaan kehamilan

Berikut ini adalah tanda-tanda dugaan adanya kehamilan menurut

Manuaba, 2010 hal: 107

a) Amenorea (Terlambat datang bulan). Konsepsi dan Nidasinya

menyebabkan tidak terjadi pembentukan Folikel de Graff dan

Ovulasi. Dengan mengetahui tanggal Haid terakhir dengan

perhitungan rumus Neagle, dapat ditentukan perkiraan

persalinan.

19
b) Mual dan muntah (emesis). Pengaruh estrogen dan progesteron

terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebihan . Mual dan

muntah terutama pagi hari yang biasa disebut dengan morning

sickness. Dalam batas yang fisiologis keadaan ini dapat diatasi.

Akibat mual dan muntah biasanya nafsu makan akan

berkurang.

c) Ngidam. Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu,

keinginan yang demikian disebut ngidam.

d) Sinkope atau pingsan. Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah

kepala ( sentral ) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat

dan menimbulkan sinkope atau pingsan. Keadaan ini akan

menghilang setelah umur kehamilan 16 minggu.

e) Payudara tegang. Pengaruh estrogen-progesteron dan

somatomamotropin menimbulkan deposit lemak, air dan

garam pada payudara. Payudara membesar dan tegang. Ujung

saraf tertekan sehingga menyebabkan rasa sakit terutama pada

hamil pertama.

f) Sering miksi. Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung

kemih cepat terasa penuh dan sering miksi. Pada triwulan

kedua, gejala ini sudah menghilang.

g) Konstipasi atau obstipasi. Pengaruh progesteron dapat

menghambat peristaltik usus, menyebabkan kesulitan untuk

buang air besar.

20
h) Pigmentasi kulit. Keluarnya melanophore stimulating hormon

hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit disekitar pipi

(kloasma gravidarum), pada dinding perut (striae lividae, striae

nigra, linea alba makin hitam), dan sekitar payudara

(hiperpigmentasi areola mamae, putting susu makin menonjol,

kelenjar montgomery menonjol, pembuluh darah manifes

sekitar payudara), di sekitar pipi (kloasma gravidarum).

i) Epulis. Hipertrofi gusi yang disebut epulis, dapat terjadi bila

hamil.

Varises atau penampakan pembuluh darah vena. Karena

pengaruh dari estrogen dan progesteronterjadi penampakan

pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang mempunyai

bakat. Penampakan pembuluh darah itu terjadi disekitar

genetalia eksterna, kaki, dan betis dan payudara. Penampakan

pembuluh darah ini dapat menghilang setelah persalinan.

(manuaba, 2010: hal 107-108)

3) Tanda tidak pasti Kehamilan

Tanda tidak pasti kehamilan dapat ditentukan oleh :

a) Rahim membesar, sesuai dengan tuanya kehamilan

b) Pada pemeriksaan dalam, dijumpai tanda Hegar, tanda

Chadwicks, tanda Piscaseck, kontraksi Braxton Hicks, dan

teraba ballottement. (Manuaba, 2010 hal: 108)

21
Tanda Hegar : perubahan pada isthimus uteri ( rahim )

menyebabkan isthimus menjadi lebih panjang dan lunak

sehingga pada pemeriksaan dalam seolah – olah kedua jari

dapat saling sentuh.

Tanda Chadwicks : vagina dan vulva mengalami peningkatan

pembuluh darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak

makin berwarna merah kebiru- biruan.

Tanda Piscaseck : pertumbuhan rahim ternyata tidak sama

kesemua arah, tetapi terjadi pertumbuhan yang cepat didaerah

implantasi plasenta, sehingga rahim bentuknya tidak sama.

Kontraksi Braxton Hicks : perubahan konsentrasi hormonal

yang mempengaruhi rahim, yaitu estrogen dan progesteron

menyebabkan progesteron mengalami penurunan dan

menimbulkan kontraksi rahim.

c) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif, tetapi sebagian

kemungkinan positif palsu. (Manuaba, 2010 hal: 108 )

e. Perubahan Fisiologis pada Kehamilan

Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genitalia wanita

mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang

perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Placenta dalam

perkembangannya mengeluarkan hormon somatomamotropin,

estrogen, dan progesteron yang menyebabkan perubahan pada bagian-

bagian tubuh dibawah ini. (Manuaba, 2010: Hal 85)

22
1) Uterus

Rahim atau uterus yang semula besarnya sejempol atau

beratnya 30 gram akan mengalami hipertrofi dan hiperplasia,

sehingga menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot

rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar,

lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan

janin.

Perubahan pada isthmus uteri ( rahim ) menyebabkan isthmus

menjadi lebih panjang dan lunak sehingga pada pemeriksaan dalam

seolah-olah kedua jari saling sentuh. Perlunakan isthmus tanda

hegar. Hubungan antara besarnyarahim dan usia kehamilan penting

untuk diketahui karena kemungkinan penyimpangan kehamilan

seperti hamil kembar, hamil molahidatidosa, hamil dengan

hidramnion yang akan teraba lebih besar.

Sebagai gambaran dapat dikemukakan sebagai berikut:

a) Pada usia kehamilan 16 minggu, kavum uetri seluruhnya diisi

oleh amnion, dimana desidua kapsularis dan desidua

bparietalis telah menjadi satu. Tinggi rahim adalah setengah

dari jarak simfisis dan pusat. Plasenta telah tebentuk

seluruhnya.

b) Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus rahim terletak dua jari

dibawah pusat sedangkan pada usi 24 minggu tepat ditepi atas

pusat.

23
c) Pada usia kehamilan 28 minggu, tinggi fundus uteri sekitar 3

jari diatas pusat atau sepertiga jarak antara pusat dan prosesus

xifoideus.

d) Pada usia kehamilan 32 minggu, tinggi fundus uteri adalah

setengah jarak prosesus xifoideus dan pusat.

e) Pada usia kehamilan 36 minggu tinggi fundus uteri sekitar satu

jari dibawah prosesus xifoideus, dan kepala bayi belum masuk

pintu atas panggul.

f) Pada usia kehamilan 40 minggu fundus uteri turun sehingga

tiga jari dibawah prosesus xifoideus , oleh karena saat ini

kepala janin telah masuk pintu atas panggul.

Panjang fundus uteri pada usia kehamilan 28 minggu adalah 25

cm, pada usia kehamilan 32 minggu panjangnya 27 cm, dan umur

kehamilan 36 minggu panjangnya 30 cm. Regangan dinding rahim

karena besarnya pertumbuhan dan perkembangan janin

menyebabkan isthmus uteri makin tertarik keatas dan

menipisdisegmen bawah rahim(SBR).

Pertumbuhan rahim ternyata tidak sama kesemua arah, tetapi

terjadi pertumbuhan yang cepat didaerah implantasi plasenta,

sehingga rahim bentuknya tidak sama. Bentuk rahim yang tidak

sama disebut tanda piskaseck.

Perubahan konsentrasi hormonal yang memepengaruhi rahim,

yaitu estrogen dan progesteron menyebabkan progesteron

24
mengalami penurunan dan menimbulkan kontraksi rahim yang

disebut braxton hicks. Terjadinya kontraksi braxton hicks, tidak

dirasakan nyeri dan terjadi bersamaan diseluruh rahim. Kontraksi

braxton hicks akan berlanjut menjadi kontraksi untuk persalinan.

Bersamaan dengan pertumbuha dan perkembangan janin dalam

rahim, diikuti oleh makin besarnya aliran darah menuju rahim dari

arteri uterina dan arteri ovarika. Otot rahim mempunyai susunan

istimewa yaitu longitudinal, sirkuler dan oblika sehingga

keseluruhannya membuat anyaman yang dapat menutup pembuluh

darah dengan sempurna. Meningkatnya pembuluh darah menuju

rahim mempengaruhi serviks yang akan mengalami perlunakan.

Serviks hanya memilki sekitar 10% jaringan otot.

Pada saat persalinan, terjadi pembukaan serviks secara pasif,

karena kuatnya kontraksi otot rahim. Segera setelah persalinan,

serviks yang sedikit mempunyai otot, akan melipat dan terjadi

mengecilan dengan pasif. Serviks yang sedikit mempunyai otot,

tetap terbuka, tanpa mekanisme sfingter, sehingga memberikan

kesempatan untuk mengeluarkan lokia.pada pemeriksaan

postpartum, serviks multipara mempunyai dua bibir, bibir atas dan

bibir bawah.(Manuaba, 2010: Hal 85-91)

Tafsiran berat janin menurut rumus Johnson – Tausak :

BB : (MD – 12) x 155  10 %

25
Keterangan :

BB = Berat Badan

MD = Jarak simfisis – fundus uteri (dalam cm)

2) Vagina

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah

karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin berwarna merah

dan kebiru-biruan ( tanda chadwicks).

(Manuaba, 2010: Hal 92)

3) Ovarium

Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung

korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai

terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu.

Kejadian ini tidak dapat lepasdari kemampuan vili korealis yang

mengeluarkan hormon korionik gonadotropin yang mirip dengan

hormon luteotropik hipofisis anterior. (Manuaba, 2010: Hal 92)

4) Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai

persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan

payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat

kehamilan, yaitu estrogen, progesteron dan Somatomamotrofin.

Fungsi hormon mempersiapkan payudara untuk pemberian

ASI dijabarkan sebagai berikut:

a) Estrogen berfungsi:

26
(1) Menimbulkan hipertrofi sistem saluran payudara.

(2) Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta dan garam

sehingga payudara tampak makin membesar.

(3) Tekanan serat sarf akibat penimbunan lemak, air, dan

garam menyebabkan rasa sakit pada payudara.

b) Progesteron berfungsi:

(1) Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi

(2) Meningkatkan jumlah sel asinus

c) Somatomamotrofin berfungsi

(1) Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein,

laktalbumin, dan laktoglobulin.

(2) Penimbunan lemak disekitar alveolus payudara.

(3) Merangsang pengeluaran kolostrum pada kehamilan.

Penampilan payudara pada ibu hamil :

(a) Payudara menjadi lebih besar.

(b) Areola payudara makin hiperpigmentasi(hitam).

(c) Glandula Montgomery makin tampak

(d) Puting susu makin menonjol.

(e) Pengeluaran ASI belum berlangsung karena prolaktin

belum berfungsi, karena hambatan dan fungsi dari PIH

(prolaktin inhibiting hormone) untuk mengeluarkan ASI.

27
(f) Setelah persalinan, hambatan prolaktin tidak da sehingga

pembuatan ASI dapat berlangsung.(Manuaba, 2010: Hal

92)

5) Sirkulasi darah Ibu

Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:

(a) Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat

memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin

dalam rahim.

(b) Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada

sirkulasi retro plasenter.

(c) Pengaruh hormon estrogen dan progesteron makin meningkat.

Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan

peredaran darah. Volume darah. Volume darah semakin meningkat

dan jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah,

sehingga terjadi pengenceran darah (hemodilusi), dengan

puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu. Serum darah (volume

darah) bertambah sebesar 25 sampai 30% sedangkan sel darah

bertambah sekitar 20%. Curah jantung akan bertambah sekitar

30%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak sekitar usia

kehamilan 16 minggu, sehingga penderita penyakit jantung harus

berhati-hati untuk hamil beberapa kali. Kehamilan selalu

memberatkan kerja jantung sehingga wanita hamil dengan sakit

28
jantung dapat jatuh dalam dekompensasikordis. Pada postpartum,

terjadi hemokonsentrasi dengan puncak hari ketiga sampai kelima.

Sel darah. Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk

dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi

pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume

darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis.

Jumlah sel darah putih meningkat hingga mencapai 10000/ml.

Dengan hemodilusi dan anemia fisiologis maka laju endap darah

semakin tinggi dan dapat mencapai empat kali dari angka normal.

Protein darah dalam bentuk albumin dan gamaglobulin dapat

menurun pada triwulan pertama, sedangkan fibrinogen meningkat.

Pada poostpartum dengan terjadinya hemokonsentrasi dapat terjadi

tromboflebitis.

Sistem respirasi. Pada kehamilan, terjadi juga perubahan

respirasi untuk dapat memenuhi kebutuhan oksigen. Disamping itu,

terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar

pada usia kehamilan 32 minggu. Sebagai kompensasi terjadi

desakan rahim dan kebutuhan oksigen yang meningkat, ibu hamil

akan bernapas lebih dalam sekitar 20 sampai 25% dari pada

biasanya.

Sistem pencernaan.oleh karena pengaruh estrogen,

pengeluaran asam lambung meningkat dan dapat menyebabkan:

(a) Pengeluaran air liur berlebihan(hipersalivasi).

29
(b) Daerah lambung terasa panas.

(c) Terjadi mual dan sakit/pusing kepala terutama pada pagi hari,

yang disebut morning sickness.

(d) Muntah, yang terjadi disebut emesis gravidarum.

(e) Muntah berlebihan sehingga mengganggu kehidupan sehari-

hari disebut hiperemesisgravidarum

(f) Progesteron menimbulkan gerak usus makin berkurang dan

dapat menyebabkan obstipasi.

Traktus urinarius.karena pengaruh desakan hamil muda dan

turunnya kepala janin pada hamil tua, terjadi ganguan miksi dalam

bentuk sering berkemih. Desakan tersebut menyebabkan kandung

kemih cepat terasa penuh. Hemodilusi menyebabkan metebolisme

makin lancar sehingga pembentukkan urin akan bertambah. Filtrasi

pada glomerulus bertambah sekitar 69 sampai 70%. Pada

kehamilan, ureter membesar untuk dapat menampung banyaknya

pembentukan urin, terutama pada ureter kanan karena peristaltik

ureter terhambat karena pengaruh progesteron, tekanan rahim yang

membesar dan terjadi perputaran kekanan, dan terdapat kolon

sigmoit disebelah kiri yang menyebabkan perputaran rahim

kekanan. Tekanan rahim pada ureter kanan dapat menyebabkan

infeksi pielonefritis ginjal kanan.

Perubahan pada kulit. Pada kulit terjadi perubahan dekosit

pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh melanophore

30
stimulating hormone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar

suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum

livide/alba, areola mammae, papilla mammae, linea nigra,

pipi(khloasma gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi

akan hilang.

Metabolisme. Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme

tubuh mengalami perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan

nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan

memberikan ASI.

Memperhatikan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa ibu

hamil memerlukan makanan yang mempunyai nilai gizi yang

tinggi. Oleh karena itu, perlu diperhatikan susunan makanan “

empat sehat” dan “lima sempurna”. Saat ini, di Indonesia sudah

banyak menawarkan tambahan gizi ibu hamil dengan susu yang

berkualitas. Kombinasi vitamin dan mineral yang diperlukan

banyak ditawarkan untuk ibu hamil seperti obimin A.F, Vicanatas,

Natalice, Obiron, Ultravita, dan Grevital dengan susunan sesuai

dengan kebutuhan.

(Manuaba, 2010: Hal 92-94)

6) Plasenta dan Air ketuban

Plasenta berbentuk bundar dengan ukuran 15 cm x 20 cm

dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan berat plasenta 500 gram. Tali

pusat yang menghubungkan plasenta panjangnya 25 sampai 60 cm.

31
Tali pusat terpendek yang pernah dilaporkan adalah 2,5 cm dan

terpanjang sekitar 200 cm. Plasenta terbentuk sempurna pada

minggu ke 16 dimana desidua parietalis dan desidua kapsularis

telah menjadi menjadi satu. Sebelum plasenta terbentuk sempurna

dan sanggup untuk memelihara janin, fungsinya dilakukan oleh

korpus luteum gravidarum. Saat vili korialis mengeluarkan hormon

korionik gonadotropin sehingga korpus luteum dapat bertahan.

Implantasi plasenta terjadi pada fundus uteri depan atau

belakang. Fungsi plasenta dapat dilaksanakan melalui sirkulasi

retroplasenter dengan terbentuknya arteri spiralis dan vena didasar

desidua basalis. Di bagian tepi plasenta, terdapat ruangan agak

lebar sebagai penampung sementara darah sebelum masuk menuju

sirkulasi darah ibu. Sirkulasi retroplasenter terjadi karena aliran

darah arteri spiralis dengan tekanan 70 mmHg sampai 80 mmHg

sedangkan tekanan darah pada vena didasar desidua basalis 20

mmHg sampai 30 mmHg. Aliran darah Arteri seolah-olah tegak

lurus untuk mencapai plat korionik dibagian plasenta fetalis dalam

ruangan intervili. Dengan pperbedaan tekanan tersebut terjadi

aliran darah yang memberikan kesempatan lua bagi vili korialis

untuk melakukan pertukaran nutrisi. Disamping itu, vili korialis

bergerak-gerak karena aliran darah ibu dan terjadinya kontraksi

ringan memberikan peluang untuk makin sempurnanya pertukaran

nutrisi.

32
Sebagai gambaran, pertukaran nutrisi dapat dijelaskan: luas

vili korialis sebesar 11 meter persegi, volume intervili sebesar 150

sampai 250 ml, peredaran darah 300 cc setiap menit pada usia

kehamilan 40 minggu.

a) Plasenta

Plasenta merupakan akar janin untuk mengisap nutrisi dari

ibu dalam bentuk O2, asam amino, vitamin, mineral, dan zat

lain kejanin dan membuang sisa metabolisme janin dan CO2.

Beberapa hormon yang dihasilkan plasenta:

(1) Korionik Gonadotropin :Merangsang korpus luteum

menjadi korpus luteum gravidarum sehingga tetap

mengeluarkan estrogen dan progesteron , dan korpus

luteum berfungsi sampai plasenta sempurna. Bersifat khas

kehamilan sehingga dapat dipakai sebagai hormon tes

kehamilan.Puncaknya tercapai pada hari ke 60. Setelah

persalinan, dalam urine tidak dijumpai.

(2) Korionik Somatomamotofin:Hormon untuk metabolisme

protein. Bersifat laktogenik, menimbulkan pertumbuhan

janin, mengatur metabolisme karbohidrat dan lemak.

(3) Estrogen Plasenta. Estrogen plasenta dalam bentuk

estradiol, estriol, dan estron. Estrogen plasenta mempunyai

fungsi:Pertumbuhan dan perkembangan otot rahim, retensi

33
air garam, perkembangan tubulus payudara sebagai

persiapan ASI, melaksanakan sintesis protein.

(4) Progeteron. Awal kehamilan diproduksi oleh korpus luteum

dan plasenta.Berfungsi untuk:Penenang otot rahim selama

kehamilan, bersama estrogen mengaktifkan tubulus dan

alveolus payudara, menghambat proses pematangan folikel

De Graaf sehingga tidak terjadi ovulasi, menghambat

pengeluaran LH

Fungsi Plasenta

(1) Sebagai alat nutrisi untuk mendapatkan bahan yang

diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.

Penyaluran bahan nutrisi dari ibu ke janin dengan jalan:

Difusi dialami oleh air dan bahan yang larut dalam air ,

ggaram kalium, dan natrium. Semakiin besar berat jenis

bahan, semakin lambat terjadi difusi. Sistem enzimatik,

prinsipnya bahan tersebut dipecah dan selanjutnya

disintesis ke bentuk aslinya didalam vili koriolis. Bahan

yang mengalami proses enzimatik: (Protein dipecah

menjadi asam amino, Lemak diubah menjadi asam lemak,

Hidrat arang dipecah menjadi glukosa, Glikogen dipecah

menjadi fruktosa, Vitamin dipecah menjadi bentuk yang

lebih kecil, Obat-obatan). Pinositosis. Caranya seperti

34
aktivitas ameba. Bahan tersebut adalah imunoglobulin G

dan Albumin.

(2) Sebagai alat pembuangan sisa metabolisme. Ginjal, hati,

usus janin belum berfungsi dengan baik sebagai alat

pembuangan. Sisa metabolisme akan dibuang melalui

plasenta, yang dapat menghubungkan janin dengan dunia

luar secara tidak langsung.

(3) Sebagai alat pernapasan dimana janin mengambil O2 dan

membuang CO2 dalam sirkulasi janin terdapat fetal

hemoglobin (F) yang mempunyai afinitas tinggi terhadap

O2 dan sebaliknya mudah melepaskan CO2 melalui sistem

difusi dalam plasenta. Dengan adanya perbedaan afinitas

tersebut, plasenta dapat menjalankan fungsinya sebagai

alat pernapasan. Makin tua kehamilan semakin tinggi

konsentrasi adult hemoglobin (A) sebagai persiapan

bernapas melalui paru-paru pada saat persalinan.

(4) Menghasilkkan hormon pertumbuhhan dan persiapan

pemberian ASI. Hormon yang dikeluarkan oleh plasenta

adalah: korionik gonadotropin, korionik

somatomamotrofin (plasenta laktogen), estrogen dan

progesteron, eorionik tiratropin, relaksin.

(5) Sebagai alat penyalur antibodi ketubuh janin. Janin

mempunyai kekebalan pasif sampai usia 4 bulan dan

35
seterusnya kekebalan tersebut berkurang. Antibodi yang

dibentuk ibu melalui plasenta menyebabkan bayi kebal

dari infeksi. Antibodi disalurkan melalui ASI sehingga

kolostrum harus diberikan.

(6) Sebagai barier atau filter. Sel trofoblascukup kuat untuk

bertindaksebagai barier terhadap beberapa virus atau

bakteri. Demikian juga obat yang dapat membahayakan

pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim,

dihalangi masuk melalui plasenta. Beberapa obat yang

bberpengaruh terhadap janin perlu dihindari seperte

tetrasiklin (perubahan gigi, gangguan pertumbuhan tulang

panjang), streptomisin(gangguan keseimbangan, gangguan

pendengaran), preparat sulfa 9gangguan metabolisme

bilirubin, menimbulkan kernikterus), dan obat-obatan

narkosis(mempengaruhijantung dan pernapasan).

b) Likuor Amnii (Air Ketuban)

Jumlah likuor amnii (air ketuban) sekitar 1000 ml sampai

1500 ml pada kehamilan aterm. Berat jenisnya antara 1,007

sampai 1,008. Likuor amnii terdiri dari 2.3% bahan organik

(protein, vernik kaseosa, rambut lanugo, zat lemak, lesitin, dan

spingomielin) dan 97% sampai 98% bahan anorganik (air,

garam yang larut dalam air). Peredaran cairan ketuban sekitar

500cc/jam atau sekitar 1% yang ditelan bayi dan dikeluarkan

36
sebagi urine. Bila akan terjadi gangguan peredaran air ketuban

akan menimbulakan hidramnion yaitu jumlah cairan ketuban

melebihi 1.500 ml. Hidramnion dijumpai pada kasus

anensefalus, spinabifida, agenesis ginjal, korioangeoma

plasenta.

Air ketuban dapat dipergunakan sebagai bahan penelitian

untuk:

(1) Menentukan jenis kelamin

(2) Kematangan paru-paru janin

(3) Golongan darah

(4) Faktor rhesus

(5) Kelainan kongenital lainnya

Fungsi air ketuban

(1) Saat kehamilan berlangsung:Memberikan kesempatan

berkembangnya janin dengan bebas kesegala arah,

menyabarkan tekanan bila terjadi trauma langsung,

sebagai penyangga terhadap panas dan dingin,

menghindari trauma langsung terhadap janin

(2) Saat in partu: Menyebarkan kekuatan HIS sehingga

serviks dapat membuka, membersihkan jalan lahir karena

mempunyai kemampuan sebagai desinfektan, sebagai

pelicin saat persalinan

(Manuaba, 2010: Hal 94-98)

37
f. Perubahan psikologis

1) Trimester I

Karena adanya peningkatan dari kadar hormon estrogen dan

progesteron dalam tubuh, menimbulkan rasa mual atau muntah

pada pagi hari sehingga ibu sering kali merasa dirinya tidak sehat.

Ibu merasa ingin tidak hamil dan perasaannya bercampur aduk.

Pada hasrat sex wanita hamil berbeda, ada yang libidonya

meningkat ada yang tidak namun pada umumnya menurun.

Karena dipengaruhi oleh rasa lelah, mual, pembesaran

payudara, dan kekhawatiran yang semuanya merupakan hal yang

normal dalam proses kehamilan trimester I.

2) Trimester II

Pada masa ini, ibu mulai merasa dirinya sehat karena tubuh ibu

sudah terbiasa dengan peningkatan hormon sehingga rasa tidak

nyaman pada kehamilannya sudah berkurang. Ibu sudah dapat

menerima kehamilannya. Ibu merasa senang, karena mulai

merasakan gerakan janin dalam perutnya.

3) Trimester III

Merupakan periode menunggu dan waspada, sebab ibu merasa

tidak sabar menantikan kelahiran bayinya. Ibu sering kali merasa

khawatir kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal. Ibu

mulai merasa takut akan rasa sakit yang akan dialaminya pada

waktu melahirkan. Ibu merasa tidak nyaman akibat kehamilannya

38
yang sudah besar, merasa dirinya menjadi jelek dan aneh. Ibu

merasa khawatir akan persiapannya menjadi orang tua, sehingga

ibu memerlukan ketenangan dan banyak dukungan dari suami dan

keluarganya.

g. Tanda bahaya dalam kehamilan

1) Perdarahan pervaginam

Pada awal kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah

merah, perdarahan banyak, atau perdarahan dengan nyeri (berarti

abortus, KET, mola hidatidosa).

Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal adalah

merah, banyak/ sedikit, nyeri (berarti plasenta previa dan solusio

plasenta).

2) Sakit kepala yang hebat

Sakit kepala yang menunjukan sutu masalah yang serius adalah

sakit kepal yng hebat, yang menetap dan tidak hilang dengan

beristirahat. Kadang-kadang-kadang dengan sakit kepala yang

hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya

menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat daam

kehamilan adalah gejala dari preeklampsia.

3) Perubahan visual secara tiba-tiba (pandangan kabur, rabun senja)

39
Masaah visual yang mengindikasikan keadaan yang

mengancam jiwa adalah perubahan visual mendadak, misalnya

pandangan kabur atau berbayang.

4) Nyeri abdomen yang hebat

Nyeri yang hebat, menetap, dan tidak hilang setelah

beristirahat. Hal ini bisa berarti appendicitis, kehamilan ektopik,

aborsi, penyakit radang panggul, persalinan preterm, gastritis,

penyakit kantong empedu, abrupsi plasenta, infeksi saluran kemih,

atau infeksi lain.

5) Bengkak pada muka dan tangan

Bengkak bias menunjukkan adanya masalah serius jika muncul

pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat, dan

disertai dengan keluhan fisik yang lain. Hal ini dapat merupakan

pertanda anemia, gagal jantung, atau preeklampsia.

6) Bayi kurang gerak seperti biasa

Ibu mulai merasakan gerakan bayinya pada bulan ke-5 atau ke-

6, bebrapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal jika

bayi tidur gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling

sedikit 3 kali dalam periode 3 jam. Gerakan bayi akan lebih mudah

terasa jika ibu berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan

minum dengan baik.

(Rukiyah, dkk, 2009 hal:126-127 )

40
h. Penatalaksanaan dalam Kehamilan

1) Pengertian

Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan

kesehatan obstetrik optimalisasi luaran maternal dan neonatal

melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.

(Prawirohardjo, 2008:278)

2) Tujuan

a) Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas

kesehatan.

b) Mengupayakan terwujudnya kondisis terbaik ibu dan bayi yang

dikandungnya.

c) Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan

kehamilannya.

d) Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan resiko tinggi.

e) Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam

menjaga kualitas kehamilan dan merawat bayi.

f) Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang

akan membahayakan keselamatan ibu hamil dan bayi yang

dikandungnya. (Prawirohardjo, 2008: 278)

3) Lingkup Asuhan Kehamilan

Menurut Pantika Wati, 2010:9-10, Pemeriksaan kehamilan

dilaksanakan sesuai standar 14 T:

a) Timbang berat badan (T1)

41
Ukur berat badan dalam kilo gram tiap kali kunjungan.

Kenaikan berat badan normal pada waktu hamil 0,5 kg per

minggu mulai trimester kedua.

b) Ukur tekanan darah (T2)

Tekanan darah yang normal 110/80 – 140/90 mmHg, bila

melebihi dari 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya

preeklamsi.

c) Ukur tinggi fundus uteri (T3)

Mengukur tinggi fundus uteri dapat dilakukan dengan

metodemenurut Spiegelberg dengan cara mengukur fundus

uteri dari simfisis, atau menurut Mac.Donald yaitu modifikasi

dari metode spiegelberg yaitu jarak fundus dalam cm dibagi 3,5

merupakan kehamilan dalam bulan.

Tabel 2.1 Menentukan usia Kehamilan Menurut Spiegelberg

( Asuhan Kebidanan I, 2009 : 33)

Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri (cm)

22-28 Minggu 24-25 cm diatas simfisis

28 Minggu 26,7 cm diatas simfisis

30 Minggu 29,5-30 cm diatas simfisis

32 Minggu 29,5-30 cm diatas simfisis

34 Minggu 31 cm diatas simfisis

42
36 Minggu 32 cm diatas simfisis

38 Minggu 33 cm diatas simfisis

40 Minggu 37,7 cm diatas simfisis

d) Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)

Pemberian tablet besi pada ibu hamil adalah untuk

mencegah defisiensi zat besi. Wanita hamil perlu menyerap zat

besi rata-rat 60mg/hr, kebutuhannya meningkat pada trimester

ke II karena absorpsi usus yang tinggi. Tablet Fe diberikan satu

tablet sehari setelah rasa mual hilang, minimal mendapatkan 90

tablet besi selama kehamilannya. Tablet Fe sebaiknya tidak

diminum bersamaan dengan teh atau kopi karena akan

mengganggu penyerapan (Rukiyah, dkk,2009: 7)

e) Pemberian imunisasi TT (T5)

Pemberian imunisasi Tetanus toxoid pada kehamilan

umumnya diberikan 2 kali, imunisasi pertama diberikan pada

usia kehamilan 16 minggu dan yang kedua diberikan 4 minggu

kemudian. Manfaat skrining imunisasi TT pada ibu hamilyaitu,

Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum.

Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada

neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh

clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin

43
(racun) dan menyerang sistim saraf pusat.Melindungi ibu

terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Rukiyah,

dkk,2009:7)

Imunisasi TT

Interval
Lama %
Antigen (Selang waktu
Perlindungan perlindungan
minimal)

Pada kunjungan
TT1 ____ ____
antenatal pertama

4 minggu setelah
TT2 3 tahun 80
TT1

TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95

TT4 1 Tahun setelah TT3 10 tahun 99

25 tahun/seumur
TT5 1 tahun setelah TT4 99
hidup

Tabel 2.2 Jadwal Pemberian Imunisasi TT

(Saifuddin, Abdul Bari; dkk, 2009:91)

f) Pemeriksaan Hb (T6)

Pemeriksaan hemoglobin adalah pengambilan darah

melalui jaringan perifer, untuk mengetahui kadar hemoglobin

dalam darah.

44
(Rukiyah, 2009:149)

Umumnya ibu hamil dianggap anemik jika kadar hemoglobin

dibawah 11g/ dl. (Prawirohardjo, 2008:775)

g) Pemeriksaan VDRL (T7)

h) Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara

(T8)

i) Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil (T9)

j) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10)

k) Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)

l) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)

m) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok

(T13)

n) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria

(T14)

4) Jadwal Kunjungan Asuhan Antenatal

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali

selama kehamilan

a) Satu kali pada triwulan pertama

b) Satukali pada triwulan kedua

c) Dua kali pada triwulan ketiga

(Rukiyah, 2009)

Bila kehamilan termasuk resiko tinggi perhatian dan jadwal

harus lebih ketat. Namun, bila kehamilan normal jadwal asuhan

45
cukup empat kali. Dalam bahasa program kesehatan ibu dan anak,

kunjungan antenatal ini diberi kode angka K yang merupakan

singkatan dari kunjungan. Pemeriksaan antenatal yang lengkap

adalah K1, K2, K3 dan K4. Hal ini berarti, minimal dilakukan

sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu,

sekali kunjungan antenatal selama usia kehamilan 28-36 minggu

dan sebanyak dua kali kunjungan antenatal pada usia kehamilan

diatas 36 minggu.

Selama melakukan kunjungan untuk asuhan antenatal, para ibu

hamil akan mendapatkan serangkaian pelayanan yang terkait

dengan upaya memastikan ada tidaknya kehamilan dan

penelusuran berbagai kemungkinan ada penyulit atau gangguan

kesehatan selama kehamilan yang dapat mengganggu kualitas dan

luaran kehamialn. Identifikasi kehamilan diperoleh melalui

pengenalan perubahan anatomikdan fisiologik kehamilan yang

telah diuraiakan sebelumnya. Bila diperlukan, dapat dilakukan uji

hormonal kehamilan dengan menggunakan berbagai metode yang

tersedia. (Prawirohardjo, 2008:279)

5) Identifikasi dan Riwayat Kesehatan

a) Data Umum Pribadi

(1) Nama

(2) Usia

(3) Alamat

46
(4) Pekerjaan Ibu/Suami

(5) Lamanya menikah

(6) Kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan

b) Keluhan Saat Ini

(a) Jenis dan sifat gangguan yang dirasakan ibu

(b) Lamanya mengalami gangguan tersebut

c) Riwayat Haid

(1) Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) untuk menentukan usia

kehamilan dapat menggunakan:

(a) Rumus neagle. Rumus neagle menggunakan usia

kehamilan yang berlangsung selama 288 hari. Perkiraan

kelahiran dihitung dengan menggunakan hari pertama

haid terakhir yang kemudian ditambah 288 hari. Rumus

naegle dapat dihitung dengan menambahkan hari

pertama haid terakhir dengan tujuh dan bulannya

ditambahkan sembilan(Manuaba, 2010: hal 100).

(b) Gerakan pertama janin. Dengan memperkirakan

terjadinya gerakan pertama janin pada usia kehamilan

16 minggu, maka perkiraan usia kehamilan dapat

ditetapkan. Perkiraan tidak akurat.

(c) Perkiraan tinggi fundus uteri. Mempergunakan tinggi

fundus uteriuntuk memperkirakan usia kehamilan

47
terutama tepat pada hamil pertama. Pada kehamilan

kedua dan seterusnyaperkiraan ini kurang tepat.

(d) Penentuan usia kehamilan dengan ultrasonografi. Bila

ragu-ragu, dapat berkonsultasi untuk menetapkan

perkiraan persalinan. Dengan menentukan usia

kehamilan melalui ultrasonografi, dapat diketahui

diameter kantong gestasi, jarak kepala bokong, jarak

tulang biparietal, lingkaran perut, panjang tulang femur.

(Manuaba, 2010: hal 100)

6) Usia kehamilan dan taksiran persalinan

Persalinan berdasarkan umur kehamilan

Abortus: pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22

minggu atau bayi dengan berat badan badan kurang dari 500 gram.

a) Partus immaturus: pengeluaran buah kehamilan antara 22

minggu dan 28 minggu atau bayi dengan berat badan antara

500 gram dan 999 gram.

b) Partus Prematurus: pengeluaran buah kehamilan antara 28

minggu dan 37 minggu atau bayi dengan berat badan antara

1000 gram.

c) Partus maturs atau aterm: pengeluaran buah kehamilan

antara 37 minggu dan 42 minggu dengan berat badan bayi

diatas 2500 gram.

48
d) Partus postmaturus (serotinus): pengeluaran buah kehamilan

setelah 2 minggu atau lebih dari waktu persalinan yang

ditaksirkan. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk, 2009: 3)

7) Riwayat Kehamilan dan Persalinan

a) Asuhan antenatal, persalinan dan nifas kehamilan sebelumnya

b) Cara persalinan

c) Jumlah dan jenis kelamin anak hidup

d) Berat badan lahir

e) Cara pemberian asupan bagi bayi yang dilahirkan

f) Informasi dan saat persalina atau keguguran

8) Riwayat kehamilan Saat Ini

a) Identifikasi kehamilan

b) Identifikasi penyulit (preeklamsia atau hipertensi dalam

kehamilan)

c) Penyakit lain yang diderita

d) Gerakan bayi dalam kandungan

9) Riwayat Penyakit dalam keluarga

a) Diabetes Mellitus, hipertensi atau hamil kembar

b) Kelainan bawaan

10) Riwayat Penyakit Ibu

a) Penyakit yang pernah diderita

b) DM, HDK, infeksi saluran kemih

c) Penyakit jantung

49
d) Infeksi virus berbahaya

e) Alergi obat atau makanan tertentu

f) Pernah mendapat transfusi darah dan indikasi tindakan

pembedahan

g) Paparan sinar-X/rontgen

11) Riwayat penyakit yang membutuhkan Tindakan Pembedahan

a) Dilatasi dan kuretase

b) Reparasi vagina

c) Seksio sesaria

d) Serviks inkompeten

e) Operasi non-ginekologi

12) Riwayat Mengikuti Program keluarga Berencana

13) Riwayat Imunisasi

14) Riwayat menyusui (Prawirohardjo, 2008:279-280)

15) Pemeriksaan

a) Keadaan umum

(1) Tanda vital

(2) Pemeriksaan jantung dan paru

(3) Pemeriksaan payudara

(4) Kelainan otot dan rangka serta neurologik

b) Pemeriksaan Abdomen

50
(1) Inspeksi (bentuk dan ukuran abdomen, parut bekas luka

operasi, tanda-tanda kehamilan,gerakan janin, varises atau

pelebaran vena, hernia, dan edema)

(2) Palpasi

Manuver palpasi menurut leopold :

Pemeriksa menghadap kearah muka ibu hamil,

menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalam

fundus, konsistensi Uterus

Variasi Menurut Knebel:

Mentukan letak kepala atau bokong dengan satu tangan di

fundus dan tangan lain diatas simpisis(Leopold II),

menentukan batas samping rahim kanan-kiri, menetukan

letak punggung janin, pada letak lintang, tentukan dimana

kepala janin.

Variasi Menurut Budin:

Menetukan letak punggung dengan satu tangan menekan

difundus (Leopold III), menetukan bagian terbawah janin,

apakah bagian terbawah janin tersebut sudah masuk atau

masih goyang.

Variasi Menurut Ahlfeid:

Menentukan letak punggung dengan pinggir tangan kiri

diletakan tegak di tengah perut (Leopold IV), pemeriksaan

menghadap ke arah kaki ibu hamil, bisa juga menentukan

51
bagian terbawah janin apa dan berapa jauh sudah masuk

pintu atas panggul, perkusi, tidak begitu banyak artinya

kecuali bila ada sesuatu indikasi, auskultasi : bising usus,

DJJ (Denyut jantung janin), gerak janin intra uterin, hal

lain yang terdengar, pemeriksaan dalam : portio,

pembukaan, perlunakan serviks, ketuban, presentasi,

penurunan bagian terendah, pelvimetri panggul.

(3) Auskultasi

(4) Inspekulo vagiana untuk identifikasi vaginitis pada

trimester I/II bila ada indikasi

c) Laboratorium

(1) Pemeriksaan

(a) Analisis urin rutin

(b) Hb

(c) Golongan darah

(d) Gula darah

(e) Antigen Hepatitis B Virus

(2) Ultrasonografi rutin pada kehamilan 18-22 minggu untuk

identifikasi kelainan janin.(Prawirohardjo, 2008:279-281)

16) Edukasi Kesehatan Bagi Ibu Hamil

Tidak semua ibu hamil dan keluarganya mendapatkan

pendidikan dan konseling kesehatan yang memadai tentang

52
kesehatan reproduksi, terutama tentang kehamilan dan uapaya

untuk menjaga agar kehamilan tetap sehat dan berkualitas.

Kunjungan antenatal memberi kesempatan bagi petugas kesehatan

untuk memberikan informasi kesehatan esensial bagi ibu hamil dan

keluarganya termasuk rencana persalinan (dimana, penolong, dana,

pendamping, dan sebagainya) dan cara merawat bayi. Beberapa

informasi penting tersebut adalah sebagai berikut:

a) Nutrisi yang adekuat

(1) Kalori

Jumlah kalori yang diperlukan bagi ibu hamil untuk setiap

harinya adalah 2.500 kalori. Pengetahuan tentang berbagai

jenis makanan yang dapat memberikan kecukupan kalori

tersebut sebaiknya dapat dijelaskan secara rinci dan bahasa

yang dimengerti oleh para ibu hamil dan keluarganya.

Jumlah kalori yang berlebih dapat menyebabkan obesitas

dan hal ini merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya

preeklamsia. Jumlah pertambahan berat badan sebaiknya

tidak melebihi 10-12 kg selama hamil.

(2) Protein

Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85

gram per hari. Sumber protein tersebut dapat diperoleh dari

tumbuh-tumbuhan (kacang-kacangan) atau hewani ( ikan,

53
ayam, keju, susu, telur). Defisiensi protein dapat

menyebabkan kelahiran prematur, anemia, dan edema.

(3) Kalsium

Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1,5 gram per hari.

Kalsium dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, terutama

bagi pengembangan otot dan rangka. Sumber kalsium yang

mudah diperoleh adalah susu, keju, yogurt, dan kalsium

karbonat. Defisiensi kalsium dapat menyababkan riketsia

pada bayi atau osteomalasia pada ibu.

(4) Zat besi

Metabolisme yang tinggi pada ibu hamil memerlukan

kecukupan oksigenasi jaringan yang diperoleh dari

pengikatan dan pengantaran oksigen melalui hemoglobin

didalam sel-sel darah merah. Untuk menjaga konsentrasi

hemoglobin yang normal, diperlukan asupan zat besi bagi

ibu hamil dengan jumlah 30 mg/hari terutama setelah

trimester kkedua. Bila tidak ditemukan anemia pemberian

besi per minggu cukup adekuat. Zat besi yang diberikan

dapat berupa ferrous gluconate, ferrous fumate, atau ferrous

sulphate. Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat

menyebabkan anemia difisiensi zat besi.

(5) Asam folat

54
Selain zat besi, sel-sel darah merah juga memerlukan

asam folat bagi pematangan sel. Jumlah asam folat yang

dibutuhkan oleh ibu hamil adalah 400 mikrogram per hari.

Kekurangan asam folat dapat menyebabkan anemia

megaloblastik pada ibu hamil.

Nilai gizi dapat ditentukan dengan bertambahnya berat

badan sekitar 6,5 sampai 15 kilogram selama hamil. Berat

badan yang bertambah terlau besar atau kurang perlu

mendapat perhatuan khusus karena kemungkinan terjadi

penyulit kehamilan. Kenaikan berat badan tidak boleh lebih

dari 0,5kg/minggu. (Manuaba, 2010: 117)

b) Perawatan Payudara

Payudara perlu dipersiapkan sejak sebelum lahir sehingga

dapat segera berfungsi dengan baik pada saat diperlukan.

Pengurutan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan membuka

duktus dan sinus laktiferus, sebaiknya dilakukan secara hati-hati

dan benar karena pengurutan yang salah dapat menimbulkan

kontraksi pada rahim sehingga terjadi kondisi seperti pada uji

kesejahteraan janin menggunakan uterotonika. Basuhan lembut

setiap hari pada areola dan puting susu akan dapat mengurangi

retak dan lecet pada area tersebut. Untuk sekresi yang

mengering pada puting susu, lakukan bersihan dengan kapas dan

baby oil. Karena payudara menegang, sensitif, dan menjadi

55
lebih berat, maka sebaiknya gunakan penopang payudara yang

sesuai (brassiere).

c) Perawatan gigi

Paling tidak dibutuhkan dua kali pemeriksaan gigi selama

kehamilan, yaitu pada trimester pertama dan ketiga.

Penjadwalan untuk trimester pertama terkait dengan hiperemesis

dan ptialisme (Produksi liur yang berlebihan) sehingga

kebersihan rongga mulut harus selalu terjaga. Sementara itu,

pada trimester ketiga, terkait dengan adanya kebutuhan kalsium

untuk pertumbuhan janin sehingga perlu diketahui apakah

terdapat pengaruh yang merugukan pada gigi ibu hamil.

Dianjurkan untuk selalu menyikat gigi setelah makan karena ibu

hamil sangat rentan terhadap terjadinya carries dan ginggivitis.

d) Kebersihan tubuh dan pakaian

Kebersiahan tubuh harus terjaga selama kehamilan.

Perubahan anatomik pada perut, area genitalia/lipat paha, dan

payudara menyebabkan lipatan lipatan kulit menjadi lebih

lembab dan mudah terinfeksi oleh mikroorganisme. Sebaiknya

gunakan pancuran atau gayung pada saat mandi, tidak

dianjurkan berendam dalam bakdan melakukan douche.

Gunakan pakaian yang longgar, bersih dan nyaman dan

hindarkan sepatu bertongkat tinggi ( high heels) dan alas kaki

yang keras( tidak elastis) serta korset penahan perut. Lakukan

56
gerak tubuh ringan, misalnya berjalan kaki, terutama pada pagi

hari. Jangan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat dan

hindarkan kerja fisisk yang dapat menimbulkan kelelahan yang

berlebihan. Beristirahat cukup, minimal 8 jam pada malam hari

dan 2 jam pada siang hari. Ibu tidak dianjurka melakukan

kebiasaan merokok selama hamil karena dapat menimbulkan

vasoospasme yang berakibat anoksia janin, berat badan lahir

rendah (BBLR), prematuritas, kelainan kongenital, dan solusio

plasenta.

(Prawirohardjo, 2008:285-287)

i. Ketidaknyamanan dan Cara Mengatasi

a) Morning sickness (mual dan muntah)

Biasanya dirasakan pada kehamilan dini. Disebabkan oleh

respons terhadap hormon dan merupakan pengaruh fisiologi. Untuk

penatalaksanaan khusus bisa dengan diet, namun jika vomitus

uterus terjadi maka obat-obat antimetik dapat diberikan. Untuk

asuhannya berikan nasehat tentang gizi, makan sedikit-sedikit tapi

sering, makan-makanan padat sebelum bangkit dari berbaring,

segera melaporkannya jika gejala vomitus menetapa atau

bertambah parah, serta mengingatkan pasien bahwa obat

antivomitus dapat membuat mengantuk. (Rukiyah, Ai Yeyeh;

dkk:2009:116)

57
b) Mengidam

Terjadi setiap saat, disebabkan karena respns papilla pengecap

pada hormon sedangkan pada sebagian pada sebagian wanita,

mungkin untuk mendapatkan perhatian. Untuk penatalaksanaan

khusus yaitu dengan nasehat dan menentramkan perasaan pasien.

Berikan asuuhan dengan meyakinkan (tanpa khotbah) bahwa diet

yang baik tidak akan terpengaruh oleh makanan yang salah.

(Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:117)

2) Nyeri Ulu Hati

Dirasakan pada bulan-bulan terakhir, disebabkan karena adanya

progesteron serta tekanan dari uterus. Untuk penatalaksanaan

khusus biasanya dengan diet dan kadang-kadang pemberian

antacid. Asuhan yang dapat dilakukan dengan memberikan nasehat

tentang gizi, makan sedikit-sedikit, minum susu, hindari makanan

yang pedas, gorengan atau berminyak, tinggikan bagian kepala

tempat tidur. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:117)

3) Konstipasi

Terjadi pada bulan-bulan terakhir, dan disebabkan karena

progesteron dan usus yang terdesak oleh rahim yang membesar,

atau bisa juga karena efek dari terapi tablet zat besi.

Penatalaksanaan khusus yaitu dengan diet atau kkadang-kadang

dapat diberikan pencahar ringan(resep dokter). Asuhan yang

diberikan yaitu dengan nasehat makanan tinggi serat, buah dan

58
sayuran, ekstra cairan, hindari makanan berminyak dan anjurkan

olahraga tanpa dipaksa. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:117)

4) Hemorhoid

Dirasakan pada bulan-bulan terakhir, dan disebabkan karena

progesteron serta adanya hambatan arus balik vena.

Penatalaksanaan khusus dengan diet, pemberian krim atau

supositoria hemorrhoid, reposisi digital, kadang operasi jika

terdapat trombosis (kolaborasi dengan dokter). Asuhan yang dapat

diberikan dengan nasehat untuk mencegah konstipasi. (Rukiyah, Ai

Yeyeh; dkk:2009:117-118)

5) Vena Varikosa

Terasa pada bulan-bulan pertengahan hingga terakhir.

Disebabkan karena pengaruh progesteron dan venous return yang

terhalang, atau peningkatan volume darah dan alirannya selama

kehamilan serta adanya perubahan elastisitas pembuluh darah yang

menyebabkan dinding vena menonjol. Atau juga diakhir kehamilan

dikarenakan tekanan pada kepala janin pada vena darah panggul.

Penatalaksanaan khusus dengan menggunakan stocking elastis.

Adapun asuhannya dengan memeberikan nasehat untuk

menghindari berdiri atau duduk terlalu lama, meninggikan tungkai

jika sedang beristirahat atau berbaring., menganjurkan

menggunakan stocking elastis tapi hindari penggunaan pakaian

terlalu ketat setinggi lutut yang akan menurunkan sirkulasi darah

59
kekaki, olahraga secara rutin(berjalan atau berenang). Dan pada

saat duduk jangan menyilangkan kaki karena akan menurunkan

sirkulasi darah ke kaki. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk: 2009:118)

6) Vena varikosa pada Vulva

Dirasakan pada bulan-bulan terakhir dan disebabkan oleh

progesteron dan hambatan arus balik vena. Jika sangat nyeri dapat

disuntik, kalau tidak bisa dengan berikan tekanan pada daerah

tersebut. Adapun kelahiran harus dilakukan dengan hati-hati (

hindari episiotomi didekat vena varikosa). Nasehat untuk

memasang tampon/bantalan yang menekan kuat perineum,

gunakan celana stretching. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:118)

7) Gejala Pingsan

Umum dirasakan pada kehamilan dini dan lanjut. Disebabkan

karena vasodilatasi hipotensi atau hemodilusi. Yang harus

dilakukan adalah dengan menentramkan perasaan pasien, kadang

dapat diberikan suplemen zat besi, berbaring jika terasa pening dan

singkirkan sebab-sebab yang serius, seperti kelainan jantung pre-

eklamsi, hipoglikemi, anemia. Asuhan yang dapat diberiakn

dengan nasehat untuk menhindari situasi yang diberikan dengan

nasehat untuk menghindari situasi yang membuat keadaan ini

bertambah parah (misalnya panas), menjelaskan penyebabbnya,

menghindari interval waktu makan yang terlalu lama, menghindari

60
pemakaian pakaian yang terlalu ketat. (Rukiyah, Ai Yeyeh;

dkk:2009:119)

8) Insomnia

Dirasakan pada kehamilan dini dan lanjut. Karena tekanan pada

kandung kemih, pruritis, kekhawatiran, gerakan janin yang sering

menendang, kram, heartburn. Yang harus dilakukan adalah

penyelidikan dan penangan penyebab, kadang-kadang diperlukan

preparat sedativ, dan minum susu sebelum tidur dapat membantu.

Mengingatkan kembali nasehat yang diberikan dokter, memastikan

bahwa cara-cara sederhana untuk mengulangi insomnia seperti

mengubah suhu dan suasana kamar tidur menjadi lebih sejuk

dengan mengurangi sinar yang masuk atau ke kanan dan beri

ganjalan pada kaki, serta mandilah dengan air hangat sebelum tidur

yang akan menjadikan ibu lebih santai dan mengantuk, dan

merujukkan pasienn kepada petugas psikolog jika diperlukan.

(Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:119)

9) Kram otot betis

Umum dirasakn saat kehamilan lanjt. Untuk penyebab tidak

jelas, bisa dikerenakan iskemia transient setempat, kebutuhan akan

kalsium (kadar rendah dalam tubuh) atau perubahan sirkulasi

darah, tekanan syaraf pada kaki, kalsium dan vitamin kadang-

kadand diperlukan, khasiat kedua preparat ini masih belum dapat

dipastikan. Nasehat untuk jangan menggunakan sembarang obat

61
tanpa seijin dokter, perbanyak makan-makan yang mengandung

kalsium, menaikkan kaki keatas, pengobatan simtomatik denagn

kompres hangat, masase, menarik jari kaki keatas. (Rukiyah, Ai

Yeyeh; dkk:2009:119-120)

10) Buang air kecil yang sering

Keluhan dirasakan pada kehamilan dini dan kehamilan lanjut.

Disebabkan karena progesteron dan tekanan pada kandung kemih

karena pembesaran rahim atau kepala janin yang turun kerongga

panggul. Yang harus dilakukan adalah dengan menyingkirkan

kemungkianan infeksi. Berikan nasehat untuk mengurangi minum

setelah makan malam atau minimal minum 2 jam sebelum tidur,

menghindari minum yang mengandung kafein, jangn mengurangi

kebutuhan air minum ( minimal 8 jam gelas per hari) perbanyak

disiang hari, dan lakukan senam kegel. (Rukiyah, Ai Yeyeh;

dkk:2009: 120)

11) Stress inkontinensia

Terasa pada bulan-bulan terakhir dan disebabkan progesteron

dan adanya tekanan. Bisa diatasi dengan fisioterapi seperti

peninjauan kembali setelah melahirkan. Berikan nasehat untuk

melakukan latihan dasar panggul, perhatian juga hygiene dan

penggunaan tampon pelindung serta perawatan kulit jika

diperlukan. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009: 120)

12) Sekret dari vagina

62
Bisa dirasakan setiap saat. Merupakan hal yang fisiologis

(karena pengaruh estrogen), atau karena kandidiasis (sering),

glikosuria, antibiotik, enfeksi,, trikomonas, gonore. Mencoba

menentramkan perasaan pasien dan menyingkirkan kemungkinan

infeksi (atau mengobatinya)yaitu kandidiasis-obat antifungus, krim

atau supositoria; preparat oral antifungus untuk mencegah reinfeksi

dari usus; penggunaan jeli vagina yang asam, yoghurt, gentian

violet juga dapat dilakukan. Beri nasehat dengan menjelaskan

bahwa peningkatan secret vagina merupakan kejadian fisiologis,

anjurkan untuk memeperhatikan hygiene dengan menggunakan

celana yang terbuat dari bahan katun tipis atau menghindari

menggunakan jeans yang ketat dan pakaian ketat dan pakaian

dalam sintetik yang akan meningkatkan kelembaban serta iritasi

kulit, jangan menggunakan sabun dan basuh dari arah depan

kebelakang serta keringkan dengan handuk atau tisu yang bersih

serta penanganan pruritus. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009: 120-

121)

13) Nyeri punggung

Umum dirasakan kehamilan lanjut. Disebabkan oleh

progesteron dan relaksin (yang melunakkan jaringan ikat) dan

postur tubuh yang berubah serta meningkatnya beban berat yang

dibawa oleh rahim. Yang harus dilakukan adalah dengan

menyingkirkan kemungkinan penyebab yang serius, fisioterapi,

63
pemanasan bagian yang sakit, analgesia, dan istirahat. Berikan

nasehat untuk memperhatikan postur tubuh (jangan terlalu sering

membungkuk dan berdiri serta berjalan denagn punggung dan bahu

yang tegak, menggunakan sepatu tumit rendah, hindari

mengengkat benda yang berat, memeberitahu cara-cara untuk

mengistirahatkan otot punggung, menjelaskan keuntungan

mengenakan korset khususbagi ibu hamil, tidur pada kasur tipis

yang dibawahnya ditaruh papan jika diperlukan (atau yang

nyaman). (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:122)

14) Bengkak pada kaki

Dikarenakan adanya perubahan hormonal yang menyebabkan

retensi cairan. Yang harus dilakukan adalah segera berkonsultasi

dengan dokter jika bengkak yang dialami dikelopak mata, wajah,

dan jari yang disertai tekanan darah tinggi, sakit kepala, pandangan

kabur (tanda preeklamsi). Kurangi asupan yang mengandung

garam, hindari duduk dengan kaki bersilang, gunakan bangku kecil

untuk menopang kaki ketika duduk, memutar pergelangan kaki

juga perlu dilakukan. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:122)

15) Sesak nafas

Terasa pada usia kehamilan lanjut (33-36 minggu). Disebabkan

oleh pembesaran rahim yang menekan daerah dada. Dapat diatasi

dengan senam hamil, pegang kedua tangan kepala yang akan

64
memeberi ruang bernafas yang lebih luas. (Rukiyah, Ai Yeyeh;

dkk:2009:122)

16) Mudah lelah

Umum dirasakan setiap saat karena perubahan emosional

maupun fisik. Yang harus dilakukan adalah dengan mencari waktu

beristirahat, jika merasa lelah pada siang hari maka segera tidurlah,

hindari tugas rumah tangga yang terlalu berat, cukup menkonsumsi

kalori, zat besi dan asam folat. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk:2009:122-

123)

2. Persalinan

a. Pengertian Persalinan

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin

yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir

spontan dengan persentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18

jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. ( Saifuddin,

2006 hal: 100 )

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri)

yang telah cukup bulan bilamana atau dapat hidup diluar kandungan

melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa

bantuan (kekuatan sendiri). (Manuaba Ida Bagus, 2008 hal:164 )

65
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan

pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul

dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.

(Erawati ambar dwi, 2011 hal: 3 )

Persalinan normal adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput

ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dimulai sejak uterus

berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada servik dan berakhir

dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika

kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan servik.

(Pelatihan klinik Asuhan Persalinan Normal : 2008 )

b. Bentuk persalinan berdasarkan definisi adalah sebagai berikut :

1) Persalinan spontan : bila persalinan seluruhnya dengan kekuatan

ibu sendiri

2) Persalinan buatan : bila proses persalinan dengan bantuan tenaga

dari luar

3) Persalinan anjuran: bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan

ditimbulkan dari luar dengan jalan rangsangan.

Beberapa istilah yang berkaitan dengan usia kehamilan dan berat

janin yang dilahirkan adalah sebagai berikut :

1) Abortus : terhentinya dan dikelurkannya hasil konsepsi sebelum

mampu hidup diluar kandungan, usia kehamilan sebelum 28 minggu

dan berat janin kurang dari 1000 gram

66
2) Persalinan prematuritas : persalinan sebelum usia kehamilan 28

minggu sampai 36 minggu, berat janin kurang dari 2499 gram

3) Persalinan aterm : persalinan antara usia kehamilan 37 minggu

sampai 42 minggu dan berat janin diatas 2500 gram

4) Persalinan serotinus : persalinan yang melampui 42 minggu pada

janin terdapat tanda postmaturitas

5) Persalinan presipitatus : persalianan berlangsung cepat kurang dari

3 jam

(Manuaba Ida Bagus, 2008 hal:164 - 166)

c. Fisiologi persalinan

Menurut Manuaba 2010 hal: 167-169 , terjadinya persalinan belum

diketahui dengan pasti sehingga dapat menimbulkan beberapa teori

yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his. Dengan

penurunan hormon progesterone menjelang persalinan dapat terjadi

kontraksi. Kontraksi otot rahim menyebabkan :

1) Turunnya kepala, masuk pintu atas panggul, terutama pada

primigravida minggu ke-36 dapat menimbulkan sesak bagian

bawah, di atas simfisis pubis dan sering ingin berkemih atau sulit

kencing karena kandung kemih tertekan kepala.

2) Perut lebih melebar karena fundus uteri turun.

3) Muncul saat nyeri di daerah pinggang karena kontraksi ringan otot

rahim dan tertekannya pleksus Frankenhauser yang terletak sekitar

serviks (tanda persalinan palsu).

67
4) Terjadinya perunakan serviks karena terdapat kontraksi otot

Rahim.

5) Terjadinya pengeluaran lendir, lendir penutup serviks dilepaskan.

Faktor-faktor penting dalam persalinan adalah power (his/

kontraksi otot rahim, kontraksi otot dinding perut, kontraksi diafragma

pelvis atau kekuatan mengejan, keregangan dan kontraksi ligamentum

rotundum), pasanger (janin dan plasenta), passage (jalan lahir lunak

dan jalan lahir tulang). Teori kemungkinan terjadinya proses

persalinan:

Teori peregangan

Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam

batastertentu.Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi

sehingga persalinan dapat dimulai. Contohnya, pada hamil ganda

sering terjadi kontraksi setelah peregangan tertentu, sehingga

menimbulkan proses persalinan.

Teori penurunan progesterone

Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu,

dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami

penyempitan dan buntu.Produksi progesterone mengalami penurunan,

sehingga otot rahim lebih sensitive terhadap oksitosin. Akibatnya otot

rahim mulai berkontraksi setelah tecapai tingkat penurunan

progesterone tertentu.

Teori oksitosin internal

68
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis posterior.Perubahan

keseimbangan estrogen dan progesterone dapat mengubah sensitivitas

otot rahim, sehingga terjadi kontraksi Braxton Hicks. Menurunnya

konsentrasi progesterone akibat tuanya kehamilan maka oksitosin

dapat meningkatkan aktifitas, sehingga persalinan dapat dimulai.

Teori Prostaglandin

Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15

minggu, yang dikeluarkan oleh desidua basalis.Pemberian

prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi rahim sehingga

hasil konsepsi dikeluarkan. Prostaglandin dianggap dapat merupakan

pemicu terjadinyapersalinan.

Teori hipotalamus-pituari dan glandula suprarenalis

Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus sering

terjadi kelambatan persalinan Karena tidak terbentuk hipotalamus.

Teori ini ditemukan oleh linggin 1973.Malpar pada tahun 1933

mengangkat otak kelinci untuk percobaan, hasilnya kehamilan kelinci

berlangsung lebih lama.

Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan maturitas

janin, induksi (mulainya) persalinan.Dari percobaan terebut dapat

disimpulkan ada hubungan dengan hipotalamus-pituari dengan

mulainya persalinan.Glandula suprarenalis merupakan pemicu

terjadinya persalinan.

d. Tahapan persalinan

69
1) Kala Satu Persalinan

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus

yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga

serviks membuka lengkap (10 cm). Kala satu persalinan terdiri

atas dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif.

a) Fase laten pada kala satu persalinan :

(1) Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan

penipisan dan pembukaan serviks sacara bertahap.

(2) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.

(3) Pada umumnya, fase laten berlangsung hamper atau

hingga 8 jam.

b) Fase aktif pada kala satu persalinan

(1) Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat

secara bertahap ( kontraksi dianggap adekuat / memadai

jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan

berlangsung selama 40 detik atau lebih )

(2) Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan

lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata –

rata 1 cm per jam ( primigravida ) atau lebih dari 1 cm

hingga 2 cm ( multipara )

(3) Terjadi penurunan bagian terbawah janin

Berlangsung selama 6 jam dan dibagi dalam 3 subfase :

70
(a) Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan

menjadi 4 cm.

(b) Pembukiaan dilatasi maksimal (steady) : selama 2jam

pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.

(c) Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu

2 jam pembukaan menjadi 10 cm atsu lengkap.

(4) Anamnesis dan Pemeriksaan fisik Ibu Bersalin

Anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama

merupakan dari asuhan saying ibu yang baik dan aman

selama persalinan. Pertama, sapa ibu dan beritahu apa

yang akan anda lakukan. Jelaskan pada ibu tujuan

anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jawab dengan baik

setiap pertanyaan yang diajukan oleh ibu. Sambil

anamnesis dan pemeriksaan fisik, perhatikan adanya

tanda-tanda penyulit atau kondisi gawatdarurat dan segera

lakukan tindakan yang sesuai apabila diperlukan untuk

memastikan proses persalinan akan berlangsung secara

aman.

Catatkan semua temuan hasil anamnesis dan

pemeriksaan fisik secara seksama dan lengkap.jelaskan

makna temuan dan kesimpulan kepada ibu dan keluarga.

(a) Pemeriksaan Abdomen

- Menentukan Tinggi Fundus

71
Pastikan pengukuran dilakukan pada saat uterus

tidak sedang berkontraksi menggunakan pita

pengukur. Ibu dengan posisi setengah duduk dan

tempelkan ujung pita (posisi melebar) mulai dari

tepi atas simpisis pubis, kemudian rentangkan pita

mengikuti aksis/linea mediana dinding depan

abdomen hingga ke puncak fundus. Jarak antara

tepi atas simpisis pubis dan puncak fundus uteri

adalah tinggi fundus.

- Memantau Kontraksi Uterus

Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding

atau jam tangan untuk memantau kontraksi uterus.

Secara hati-hati, letakkan tangan penolong diatas

uterus dan palpasi jumlah kontraksi yang terjadi

dalam kurun waktu 10 menit. Tentukan durasi

atau lama setiap kontraksi yang terjadi. Pada fase

aktif, minimal terjadi dua kontraksi dalam 10

menit dan lama kontraksi adalah 40 detik atau

lebih. Di antara dua kontraksi akan terjadi

relaksasi dinding uterus.

- Memantau Denyut Jantung Janin

Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi

uterus. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik,

72
dengarkan sampai sedikitnya 30 detik setelah

kontraksi berakhir. Normalnya DJJ yaitu antara

120 sampai 160 kali permenit.

(b) Menentukan Presentasi

- Berdiri disamping dan menghadap kearah kepala

ibu ( minta ibu mengangkat tungkai atas dan

menekukkan lutut ).

- Untuk menentukan apakah presentasinya adalah

kepala atau bokong maka perhatikan dan

pertimbangkan bentuk, ukuran dan kepadatan

bagian tersebut. Bagian berbentuk bulat, teraba

keras, berbatas tegas dan mudah digerakkan ( bila

belum masuk panggul ) biasanya adalah kepala.

Jika bentuknya kurang tegas, teraba kenyal, relatif

lebih besar dan sulit terpegang secara mantap

maka bagian tersebut biasanya adalah bokong.

- Dengan ibu jari dan jari tengah dari satu tangan (

hati – hati dan mantap ), pegang bagian terbawah

janin yang mengisi bagian bawah abdomen ( di

atas simpisis pubis ) ibu, bagian yang berada

diantara ibu jari dan jari tengah penolong adalah

penunjuk persentasi bayi.

73
- Jika bagian terbawah janin belum masuk ke

rongga panggul maka bagian tersebut masih dapat

digerakkan. Jika telah memasuki rongga panggul

maka bagian terbawah janin sulit atau tidak dapat

digerakkan lagi.

(c) Menentukan Penurunan Bagian Terbawah Janin

Penurunan bagian terbawah dengan metode lima jari

(perlimaan) adalah :

- 5/5 jika bagian terbawah janin seluruhnya teraba

di atas simpisis Pubis

- 4/5 jika sebagian (1/5) bagian terbawah janin telah

memasuki pintu atas panggul

- 3/5 jika sebagian (2/5) bagian terbawah janin telah

memasuki pintu atas panggul

- 2/5 jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin

masih berada di atas simpisis dan (3/5) bagian

telah turun melewati bidang tengah rongga

panggul (tidak dapat digerakkan)

- 1/5 jika hanya 1 dari 5 jari masih dapat meraba

bagian terbawah janin yang berada di atas simpisis

dan 4/5 bagian telah masuk ke dalam rongga

panggul

74
- 0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat

diraba dari pemeriksaan luar dan seluruh bagian

terbawah janin sudah masuk ke dalam rongga

panggul

(d) Periksa Dalam

Pemeriksaan dalam dapat di nilai dari :

- Periksa genitalia eksterna, perhatikan apakah ada

luka atau masa (benjolan) termasuk kandiloma,

varikositas vulva atau rektum, atau luka parut di

perineum.

- Nilai cairan vagina dan tentukan apakah ada

bercak darah, perarahan pervaginam atau

mekonium , Jika mekonium encer dan DJJ

normal, teruskan memantau DJJ dengan seksama

menurut petunjuk pada partograf, Jika mekonium

kental, nilai DJJ dan rujuk segera, Jika tercium

bau busuk, mungkin terjadi infeksi

- Nilai vagina. Luka parut pada vagina

mengindikasikan adanya riwayat robekan

perineum atau tindakan episiotomi sebelumnya.

- Nilai pembukaan dan penipisan serviks

75
- Pastikan tali pusat atau bagian – bagian kecil (

tangan dan kaki ) tidak teraba pada saat

melakukan periksa dalam.

- Nilai penurunan bagian terbawah janin dan

tentukan apakah bagian terbawah telah masuk ke

dalam rongga panggul.

- Jika bagian terbawah kepala, pastikan

penunjuknya ( ubun – ubun kecil atau ubun –

ubun besar ) dan celah ( sutura ) sagitalis untuk

menilai derajat penyusupan atau tumpang tindih

tulang kepala dana apakah ukuran kepala janin

sesuai dengan ukuran jalan lahir.

c) Partograf

Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala

satu persalinan dan informasi untuk membuat keputusan

klinik.

(1) Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:

(a) Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan

dengan menilai pembukaan serviks melalui periksa

dalam

(b) Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara

normal. Dengan demikian juga dapat mendeteksi

secara dini kemungkinana terjadinya partus lama.

76
(c) Data pelengkapyang terkait dengan pemantauan

kondisi ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan proses

persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan,

pemeriksaan laboratorium, membuat keputusan klinik

dan asuhan atau tindakan yang diberikan dimana

semua itu dicatatkan secara rinci pada status atau

rekam medik ibu bersalin dan bayi baru lahir.

Jika digunakan dengan tepat dan konsisiten, partograf

akan membantu penolong persalinan untuk :

(a) Mencatat kemajuan persalinan

(b) Mencatat kondisi ibu dan janin

(c) Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan

dan kelahiran

(d) Menggunakan informasi yang tercatat untuk

identifikasi dini penyulit persalinan

(e) Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat

keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu

(2) Mencatat temuan pada partograf

(a) Informasi tentang ibu

Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti

pada saat memulai asuhan persalinan. Waktu

kedatangan (tertulis sebagai: "jam" pada partograf)

dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase

77
laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah

ketuban.

(b) Kondisi janin

Bagan atas grafik pada partograf adalah untuk

pencatatan denyut jantung janin (DJJ), air ketuban dan

penyusupan (kepala janin).

(c) Denyut jantung janin

Nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30

menit (lebih sering jika ada tanda-tanda gawat janin).

Setiap kotak pada bagian ini, menunjukkan waktu 30

menit. Skala angka di sebelah kolom paling kiri

menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi tanda

titik pada garis yang sesuai dengan angka yang

menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang

satu dengan titik lainnya dengan garis tidak

terputus.Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di

antara garis tebal angka 180 dan 100. Tetapi, penolong

harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di

atas 160.

(d) Warna dan adanya air ketuban

Nilai air ketuban setiap kali melakukan

pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban jika

selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam

78
kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ. Gunakan

lambang-lambang berikut ini:

U : Selaput ketuban utuh (belum pecah)

J : Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban

jernih

M : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban

bercampur mekoni

D : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban

bercampur darah

K : selaput ketuban sudah pecah tapi air ketuban

tidak mengalir lagi ("kering").

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu

menunjukkan adanya gawat janin. Jika terdapat

mekonium, pantau DJJ secara seksama untuk

mengenali tanda-tanda gawat janin selama proses

persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut

jantung janin < 100 atau >180 kali per menit), ibu

segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai.

Tetapi jika terdapat mekonium kental, segera rujuk

ibu ketempat yang memiliki kemampuan

penatalaksanaan gawatdarurat obstetri dan bayi baru

lahir.

79
(a) Molase (penyusupan kepala janin)

Penyusupan adalah Indikator tentang seberapa jauh

kepala bayi dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras

panggul ibu. Semakin besar derajat penyusupan atau

tumpang tindih antar tulang kepala semakin

menunjukkan risiko disproporsi kepala panggul (CPD).

Ketidakmampuan untuk berakomodasi atau

disporporsi ditunjukkan melalui derajat penyusupan atau

tumpang tindih ( molase ) yang berat sehingga tulang

kepala yang saling menyusup, sulit dipisahkan. Apabila

ada dugaan disporporsi kepala panggul maka penting

untuk tetap memantau kondisi janin serta kemajuan

persalinan.

Lakukan tindakan pertolongan awal yang sesuai dan

rujuk ibu dengan duggan porporsi kepala panggul (CPD)

ke fasilitas kesehatan rujukan.

Setiap kali melakukan periksa adalam, nilai

penyusupan antar tulang (molase) kepala janin. Catat

temuan yang ada dikotak yang sesuai, dibawah laju air

ketuban. Gunakan lambang – lambang berikut ini.

0: Tulang-tulang kepala janin terpisah, suturadengan

mudah dapat dipalpasi

1 : Tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

80
2 : Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih,

tetapi masih dapat dipisahkan

3:Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih dan

tidakdapat dipisahkan.

3) Kemajuan persalinan

Kolom dan lajur kedua pada pertograf adalah untuk

pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0 – 10 yang tertera

dikolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks. Nilai

setiap angka sesuai dengan besarnya dilatasi serviks dalam

satuan cm dan menempati lajur dan kotak tersendiri.

Setiap kotak segi empat atau kubus yang menunjukkan

waktu 30 menit untuk pencatatan waktu pemeriksaan, denyut

jantung janin , kontraksi uterus dan frekuensi nadi ibu.

a. Pembukaan serviks

Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam.

Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada

partograf hasil temuan dari setiap pemeriksaan. Tanda

"X" harus ditulis di garis waktu yang sesuai dengan lajur

besarnya pembukaan serviks. Hubungkan tanda "X" dari

setiap pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus).

b.Penurunan bagian terbawah janin

Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan

serviks selalu diikuti dengan turunnya bagian terbawah

81
atau presentasi janin. Tapi ada kalanya, turunnya bagian

terbawah janin baru terjadi setelah pembukaan serviks

sebesar 7 cm.

Tulisan "Turunnya kepala" dan garis tidak terputus

dari 0-5, tertera di sisi yang sama dengan angka

pembukaan serviks. Berikan tanda "Ο" pada garis waktu

yang sesuai. Sebagai contoh, jika kepala bisa dipalpasi

4/5, tuliskan tanda "Ο" di nomor 4. Hubungkan tanda

"Ο" dari setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus.

c. Garis waspada dan garis bertindak

Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4

cm dan berakhir pada titik di mana pembukaan lengkap

diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1 cm per jam.

Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai di

garis waspada.

Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan

garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam),

maka harus dipertimbangkan adanya penyulit (misalnya

fase aktif yang memanjang, macet, dll.). Pertimbangkan

pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan,

misalnya persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan

rujukan yang mampu menangani penyulit dan kegawat

daruratan obstetri.

82
Garis bertindak tertera sejajar dan disebelah kanan (

berjarak 4 jam ) garis waspada, Jika pembukaan serviks

melampui dan berada disebelah kanan garis bertindak

maka hal ini menunjukkan perlu dilakukan tindakan

untuk menyelesaikan persalinan. Sebaiknya Ibu harus

berada di tempat rujukan sebelum garis bertindak ter-

lampaui.

1) Jam dan waktu

a. Waktu mulainya fase aktif persalinan

Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan

penurunan) tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-12.

Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya

fase aktif persalinan.

b. Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan

Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif,

tertera kotak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat

pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam

penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh

menit yang berhubungan dengan lajur pembukaan serviks,

DJJ dibagian atas dan lajur kontraksi dan nadi ibu

dibagian bawah.

83
Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, cantumkan

pembukaan serviks digaris waspada. Kemudian catatkan

waktu aktual pemeriksaan ini dikotak waktu yang sesuai.

Sebagai contoh, jika hasil periksa dalam menunjukkan

pembukaan serviks adalah 6 cm pada pukul 15.00,

cantumkan tanda ‘X’ digaris waspada yang sesuai dengan

lajur angka 6 yang tertera disisi luar kolom paling kiri dan

catat waktu aktual dikotak pada lajur pembukaan ( kotak

ketiga dari kiri ).

5) Kontraksi uterus

Di bawah lajur waktu partograf, terdapat lima kotak

dengan tulisan "kontraksi per 10 menit" di sebelah luar kolom

paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30

menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan

lamanya kontraksi dalam satuan detik.

Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu

10 menit dengan cara mengisi kotak kontraksi yang tersedia

dan disesuaikan dengan angka yang mencerminkan temuan

dari hasil pemeriksaan kontraksi.

Nyatakan lamanya kontraksi dengan :

Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk

menyatakan kontraksi yang lamanya kurang dari

20 detik.

84
Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk

menyatakan kontraksi yang lamanya 20-40 detik.

Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan

kontraksi yang lamanya lebih dari 40 detik.

6) Obat-obatan dan cairan yang diberikan

Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera

lajur kotak untuk mencatat oksitosin, obat-obat lainnya dan

cairan IV

c. Oksitosin

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai,

dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin

yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan

tetesan per menit.

b. Obat-obatan lain dan cairan IV

Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau

cairan IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom

waktunya.

7) Kondisi ibu

Bagian terbawah lajur dan kolom pada halaman depan

partograf, terdapat kotak atau ruang untuk mencatat kondisi

kesehatan dan kenyaman ibu selama persalinan.

a. Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh

85
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan

dengan nadi dan tekanan darah ibu.

1) Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase

aktif persalinan. (lebih sering jika dicurigai adanya

penyulit). Beri tanda titik () pada kolom waktu yang

sesuai.

2) Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama

fase aktif persalinan (lebih sering jika dianggap akan

adanya penyulit). Beri tanda panah (↕) pada partograf

pada kolom waktu yang sesuai.

3) Nilai dan catat suhu tubuh ibu (lebih sering jika

meningkat, atau dianggap adanya infeksi) setiap 2 jam

dan catat temperatur tubuh dalam kotak yang sesuai.

b. Volume urin, protein atau aseton

Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya

setiap 2 jam (setiap kali ibu berkemih). Jika

memungkinkan, setiap kali ibu berkemih, lakukan

pemeriksaan aseton atau protein dalam urin.

8) Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya

Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan

keputusan klinik di sisi luar kolom partograf, atau buat

catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan

86
juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.

Asuhan, pengamatan/keputusan klinik mencakup:

a) Jumlah cairan per oral yang diberikan.

b) Keluhan sakit kepala atau pengelihatan (pandangan)kabur.

c) Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya

d) Persiapan sebelum melakukan rujukan.

e) Upaya Rujukan.

9) Pencatatan pada Lembar Belakang partograf

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk

mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan dan

kelahiran bayi, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak

persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir).

Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai catatan persalinan.

Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam

masa nifas terutama selama persalinan kala empat untuk

memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya

penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai.

Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan

klinik,( misalnya, pencegahan perdarahan pada kala IV

persalinan ) . Selain itu, catatan persalinan (yang sudah diisi

dengan lengkap dan tepat) dapat digunakan untuk

menilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan

asuhan persalinan yang dan bersih aman.

87
catatan persalinan adalah terdiri dari unsur – unsur

berikut :

a. Data atau informasi umum

b. Kala I

c. Kala II

d. Kala III

e. Bayi Baru Lahir

f. Kala IV

( Asuhan persalinan normal, 2008 : 54 – 64 )

a. Kala Dua Persalinan

Persalinan kala dua dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap

(10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi.Kala dua juga disebut

sebagai kala pengeluaran bayi.

1.1. Gejala dan Tanda Kala Dua Persalinan, yaitu :

1. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadi kontraksi

2. Ibu merasa adanya peningkatan tekanan pada rectum dan atau

vaginanya

3. Perineum menonjol

4. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka

5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam (informasi

obyektif) yang hasilnya adalah :

1. Pembukaan serviks telah lengkap, atau

88
2. Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina

1.2. Mekanisme persalinan

a. Engagement ( Posisi )

b. Penurunan ( Descent )

Asynclitismus posterior yaitu sutura sagitalis mendekati

promontorium sehingga biparietal belakang lebih tinggi dari

biparietal depan.

c. Fleksi

Asynclitismus anterior yaitu sutura sagitalis mendekati

symphisis sehingga biparietal belakang lebih rendah dari

biparietal depan.

d. Fleksi maksimal

Synclitismus yaitu sutura sagitalis berada di pertengahan

antara symphisis dan promontorium

e. Putaran Paksi Dalam

Dimana suboksiput menjadi hipomoglion

f. Ekstensi

g. Ekspulsi

h. Putaran paksi Luar

( Manuaba, 2010 : 185 )

b. Kala Tiga Persalian

Persalinan kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhirnya

dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.

89
1) Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua

hal-hal di bawah ini :

1. Perubahan bentuk dan tinggi fundus

Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai

berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus

biasanya dibawah pusat.Setelah uterus berkontraksi dan

plasenta terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga atau

seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada diatas pusat

(seringkali mengarah ke sisi kanan).

2. Tali pusat memanjang

Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda

Ahfeld)

3. Semburan darah mendadak dan singkat

4. Darah yang berkumpul dibelakang plasenta akan membantu

mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila

kumpulan darah (retroplacenta pooling) dalam ruang diantara

dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi

kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi

plasenta yang terlepas.

2) Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala tiga :

1. Persalinan kala tiga yang lebih singkat

2. Mengurangi jumlah kehilangan darah

3. Mengurangi kejadian retensio plasenta

90
3) Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama :

1. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah

bayi lahir

2. Melakukan penegangan tali pusat terkendali

3. Masase fundus uteri

a. Cara pengeluaran plasenta

1. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit setelah bayi baru

lahir.

2. Pastikan tidak ada bayi lain.

3. Pindahkan klem sekitar 5-10 cm dari vulva. Letakkan tangan

lain pada abdomen ibu tepat diatas simpisis pubis. Setelah

terjadi kontraksi yang kuat tegangankan tali pusat dengan satu

tangan dan tangan yang lain menekan uterus kearah lumbal

dan kepala ibu (dorso kranial) agar tidak terjadi inversio uteri.

4. Saat mulai kontraksi tegangkan tali pusat ke arah bawah,

lakukan tekanan dorso kranial hingga tali pusat makin

menjulur dan korpus uteri bergerak ke atas yang menandakan

plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan.

5. Setelah plasenta terpisah, anjurkan ibu untuk meneran agar

plasenta terdorong keluar melalui introitus vagina.

6. Saat plasenta terlihat pada introitus vagina, lahirkan plasenta

dengan mengangkat tali pusat keatas dan menopang plasenta

91
dengan tangan lainnya untuk diletakan dalam wadah

penampung (pegang dengan kedua tangan secara lembut)

7. Jika selaput ketuban robek dan tertinggal dijalan lahir saat

melahirkan plasenta, dengan hati-hati periksa vagina dan

serviks dengan seksama.

d. Kala Empat Persalinan

Persalinan kala empat dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir

dua jam setelah itu.

Setelah plasenta lahir melakukan observasi,yaitu :

1. Lakukan rangsangan taktil (masase) uterus untuk merangsang

uterus berkontraksi baik dan kuat.

2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan anda secara

melintang dengan pusat sebagai patokan. Umumnya, fundus uteri

setinggi atau beberapa jari dibawah pusat.

3. Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.

4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau

episiotomy) perineum.

5. Evaluasi keadaan umum ibu, TTV, TFU, kandung kemih dan

perdarahan.

( Pelatihan klinik Asuhan Persalinan Normal : 2008 )

e. Laserasi ( Robekan Perineum )

1) Pengertian Laserasi

Robekan yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan

92
2) Klasifikasi Laserasi berdasarkan Luasnya robekan

Derajat 1 : Mukosa vagina, Komisura posterior, Kulit perineum

Derajat 2 : Mukosa vagina, Komisura posterior, Kulit perineum,

Otot perineum

Derajat 3 : Mukosa vagina, Komisura posterior, Kulit perineum,

Otot perineum, Otot Sfingter ani

Derajat 4 : Mukosa vagina, Komisura posterior, Kulit perineum,

Otot perineum, Otot sfingter ani, Dinding depan

rektum

( Asuhan Persalinan Normal, 2008: 111 )

3) Tujuan menjahit Laserasi

Untuk menyatukan kembali jaringan tubuh ( mendekatkan )

dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu ( memastikan

hemostasis ). Pada saat menjahit laserasi gunakan benang yang

cukup panjang dan gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk

mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis.

( Asuhan Persalinan Normal, 2008 : 177 )

4) Keuntungan – keuntungan teknik penjahitan jelujur

a) Mudah dipelajari ( hanya perlu belajar satu jenis penjahitan

dan satu atau dua jenis simpul )

b) Tidak terlalu nyeri karena lebih sedikit benang yang digunakan

c) Menggunakan lebih sedikit jahitan

(2)Tanda – tanda Persalinan

93
Menurut Manuaba 2010 hal: 172-173, tanda-tanda persalinan

dikemukakan sebagai berikut :

1) Tanda persalinan sudah dekat

a) Terjadi lightening

Menjelang minggu ke-36, pada primigravida terjadi penurunan

fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul yang

disebabkan oleh kontraksi Braxton Hicks, ketegangan dinding perut,

ketegangan ligamentum rotundum, gaya beerat janin di mana kepala

ke arah bawah. Masuknya kepala bayi ke pintu atas panggul dirasakan

ibu hamil sebagai terasa ringan di bagian atas, rasa sesaknya

berkurang, di bagian bawah terasa sesak, terjadi kesulitan saat

berjalan, dan sering berkemih.

Gambaran lightening pada primigravida menunjukkan hubungan

normal antara ketiga P yaitu, power (kekuatan his), passage (jalan

lahir normal), passanger (janin dan plasenta). Pada multipara

gambarannya tidak jelas, karena kepala janin baru masuk pintu atas

panggul menjelang persalinan.

b) Terjadi His permulaan

Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton Hicks.

Kontraksi ini dapat dikemukakan sebagai keluhan, karena dirasakan

sakit dan mengganggu. Kontraksi Braxton Hicks terjadi karena

perubahan keseimbangan estrogen, progesteron, dan memberikan

kesempatan rangsangan oksitosin. Dengan makin tua usia kehamilan,

94
pengeluaran estrogen dan progesteron makin berkurang, sehingga

oksitosin dapat menimbulkan kontraksi yang lebih sering, sebagai his

palsu.

Sifat His permulaan (palsu) adalah rasa nyeri ringan di bagian

bawah datangnya tidak teratur, tidak ada perubahan pada serviks atau

pembawa tanda, durasinya pendek, dan tidak bertambah bila

beraktivitas.

2) Tanda persalinan

a) Terjadinya His persalinan

His persalinan mempunyai ciri khas pinggang tersa nyeri yang

menjalar ke depan, sifatnya teratur, interval makin pendek, dan

kekuatannya makin besar, mmepunyai pengaruh terhadap perubahan

serviks, makin beraktivitas (jalan) kekuatannya makin bertambah.

b) Pengeluaran lendir dan darah (pembawa tanda)

Dengan His persalinan terjadi perubahan pada serviks yang

menimbulkan pendataran dan pembukaan. Pembukaan menyebabkan

lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas. Terjadi perdarahan

karena kapiler pembuluh darah pecah.

c) Pengeluaran cairan

Pada beberapa ksus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan

pengeluaran cairan. Sebagian besar ketuban baru pecah menjelang

pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban dihrapkan persalinan

berlangsung dalam waktu 24 jampecah (Manuaba, 2010: 173),

95
(3)Faktor – faktor yang mempengaruhi

1. Tenaga (POWER)

His/kontraksi uterus adalah kontraksi otot-otot uterus dalam

persalinan. Kontraksi merupakan suatu sifat pokok otot polos dan tentu

saja hal ini terjadi pada otot polos uterus yaitu miometrium. Pada

minggu-minggu terakhir kehamilan uterus semakin bertambah.

Peregangan ini menyebabkan makin rentan terhadap perubahan

hormonal yang terjadi pada akhir kehamilan terutama perubahan

hormonal.

Perubahan hormon progesteron yang bersifat menenangkan otot-

otot uterus akan mudah direspon oleh uterus yang teregang sehingga

mudah timbul kontraksi. Akibatnya kontraksi Broxton hicks akan

meningkat. Peningkatan kontraksi broxton hicks pada akhir kehamilan

disebut dengan his pendahuluan/his palsu. Jika his pendahuluan

semakin sering dan semakin kuat maka akan menyebabkan perubahan

pada servik, inilah yang disebut dengan his persalinan.

Didalam persalinan his harus selalu dipantau. Beberapa istilah

yang perlu diperhatikan di dalam menilai/memantau his antara lain

yaitu: Frekuensi adalah jumlah his dalam waktu tertentu biasanya

dihitung per 10 menit, Durasi adalah lamanya setiap his berlangsung

diukur dengan detik, interval adalah masa relaksasi, Amplitudo adalah

kekuatan his diukur dalam satuan mmHg. Dalam praktek kekuatan his

96
hanya dapat diraba secara palpasi apakah sudah kuat atau masih lemah,

aktivitas his, adalah frekuansi x amplitudo.

Peningkatan frekuensi dan kekuatan kontraksi uterus tampaknya

merupakan mekanisme yang berjalan dengan sendirinya. Sebagai akibat

kontraksi uterus, terjadi sedikit perubahan dalam milieu biokimia serta

eksibilitas serabut otot uterus, yang mempengaruhi bentuknya.

Perubahan ini mempredisposisi serabut otot terhadap perubahan yang

lebih mencolok setelah setiap kontraksi berikutnya. Ciri penting

kontraksi uterus adalah retraksi yang pada akhir kontraksi, serabut otot

mempertahankan sebagian pemendekan ototyang telah dicapainya.

Gelombang kontraksi berawal dari satu korni uteri dan menyebar

kebawah keseluruh organ suatu proses yang dikenal sebagai dominasi

fundus.

Masa jaringan yang membentuk segmen atas uterus terdiri dari

serabut otot polos, sementara pada segmen bawah uterus dan servik,

otot polos hanya menyusun 10% masa. Kontraksi uterus yang

berkesinambungan dimulai pada fundus uteri. Dengan terjadinya

retraksi otot, terjadi penipisan progesif segmen bawah uterus dan

pendataran serviks. Dengan berlanjutnya kala I, segmen atas uterus

menjadi semakin tebal dengan masa otot yang lebih besar. Suatu

tekanan yang semakin membesar perlahan-lahan memuncak pada

segmen atas uterus ke segmen bawah serta serviks, yang serabut

97
polosnya menipis serta progesif. Batas antara segmen atas dengan

segmen bawah uterus disebutsebagai cincin retraksi fisiologis.

Proses yang menyusun kala satu persalinan ini sudah dimulai

dalam beberapa minggu terakhir kehamilan, yaitu dengan timbulnya

kontraksi broxton hick, tetapi lebih menjadi nyata pada awal persalinan.

Kontraksi ini akhirnya mengubah bentuk serviks yang semula

merupakan organ silinder dengan lumen sempit menjadisebuah jalan

yang memungkinkan lewatnya kepala janin kedalam rongga panggul.

Pada akhir kala satu, serviks hampir lengkap menyatu dengan segmen

bawah uterus keadaan dilatasi tengkap serviks.

(a) Sifat His dalam Persalinan

Ada sifat-sifat anatomic yang unik pada otot miometrium (dan

otot polos lainnya) dibandingkan dengan otot rangka. Miometrium

pada segmen atas uterus tidak berelaksasi menjadi panjang aslinya

setelah berkontraksi, namun menjadi relatif terpaku pada ukuran

yang lebih pendek, tetapi teganganya tetap sama seperti sebelum

kontraksi. Karena semakin memendeknya serat-serat otot setiap

kontraksi segmen atas uterus (segmen aktif ) menjadi semakin

menebal pada kala satu dan kala dua persalinan dan menjadi sangat

tebal segera setelah kelahiran bayi.

Kontraksi uterus tidak sama kuat, yang terkuat difundus dan

terlemah disegmen bawah rahim atau disebut fundus dominant,

uniknya, meskipun fisiologis kontraksi otot-otot uterus terasa sakit.

98
Penyebab rasa nyeri tersebut tidak diketahui secara pasti, tetapi

beberapa hipotensi tentang penyebab rasa nyeridikemukakan

sebagai berikut:

(1) Hipoxia miometrium yang berkontraksi menimbulakan anoxia

sel-sel otot dalam korpus uteri tempat terdapat banyak saraf.

(2) Kompresi ganglia saraf diserviks dan uterus bawah oleh

berkas-berkas otot yang saling mengunci.

(3) Peregangan servikspada waktu dilatasi.

(4) Peregangan peritoneum yang membungkus uterus.

Namun perasaan sakit pada waktu his amat subjektif, tidak

hanya tergantung pada intensitas his, tetapi tergantung pula pada

keadaan mental orangnya. Jika ia tahu apa yang akan terjadi

padanya, tidak ada perasaan takut dan ia dapat menerima segala

sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi. Ketenangan ini

membuat perasaan sakit hanya sedikit atau sama sekali tidak terasa.

Kontraksi uterus pada saat persalinan sebagian besar bersifat

otonom, namun kadang-kadang dapat dipengaruhi dari luar secara

fisik, kimia, psikis.

Terdapat pace maker, yaitu pusat koordinasi his yang berbeda

pada uterus disudut btuba atau cornu uteri dimana gelombang ini

berasal. Dari sini gelomabang bergerak kedalam dan kebawah

dengan kecepatan 2cm tiap detik mencakup seluruh otot-otot

99
uterus, sehingga kontraksi ini bersifat terkoordinasi, simetri,

intermiten.

Durasi / lamanya his dalam persalinan berkisar antara 45 – 75

detik, intensitas bervariasi dari 20 – 60 mmHg, rata – rata sekitar

40 mmHg. Interval teratur, secara bertahap semakin memendek.

Frekuensi minimal 3 x dalam 10 menit.

His persalinan menurut faal :

1. His Pembukaan, adalah his yang menimbulkan pembukaan dan

serviks. His ini terjadi sampai pembukaan serviks lengkap 10

cm, his ini mulai kuat, teratur, dan sakit.

2. His Pengeluaran (His mengedan/His Kala II), His sangat kuat,

teratur, simetris, terkoordinasi dan lama. His pengeluaran

berfungsi untuk mengeluarkan janin. Terjadi koordinasi bersama

antara his kontraksi otot perut, kontraksi difragma dan ligament.

3. His Pelepasan Uri (Kala III), kontraksi mulai turun, berfungsi

untuk melepaskan dan mengeluarkan plasenta.

4. His Pengiring (Kala IV), kontraksi bersifat lemah, masih sedikit

nyeri, menyebabkan pengecilan Rahim.

(b) Perubahan – perubahan akibat HIS

(1) Perubahan pada uterus dan serviks, uterus teraba keras/padat

karena kontraksi. Tekanan hidrostatis air ketuban dan tekanan

intrauterine naik serta menyebabkan serviks menjadi mendatar

(effacement) dan dilatasi.

100
(2) Perubahan pada ibu, rasa nyeri karena anoxia sel – sel otot

rahim akibat kontraksi juga ada kemajuan nadi dan tekanan

darah.

(3) Perubahan pada janin, pertukaran oksigen pada sirkulasi utero-

plasenter berkurang, maka timbul hipoksia janin. Denyut

jantung janin melambat dan kurang jelas didengar karena

adanya iskemia fisiologis. Jika benar – benar terjadi hipoksia

yang agak lama misalnya pada kontraksi tetanik maka akan

terjadi gawat janin.

(c) Periode istirahat antara kontraksi

Periode istirahat diantara dua kontraksi mempunyai fungsi utama

antara lain :

(1) Memberikan kesempatan kepada otot – otot uterus untuk

beristirahat. Sebab kontraksi terus menerus dapat

menyebabkan rupture uteri.

(2) Memberikan kesempatan ibu untuk istirahat. Ibu tidak dapat

beristirahat dengan menahan kontraksi uterus yang terus

menerus dengan durasi yang lama.

(3) Mempertahankan kesejahteraan janin. Pada saat kontaksi

terjadi, pembuluh darah uterus terjepit, kontraksi uterus yang

terus menerus dapat menyebabkan hipoksia janin, anoksia dan

kematian janin dalam uterus.

(d) Kekuatan mengedan ibu

101
Setelah serviks terbuka lengkap kekuatan yang sangat penting

pada ekspulsi janin adalah yang dihasilkan oleh peningkatan

tekanan intra-abdomen yang diciptakan oleh kontraksi otot – otot

abdomen. Dalam bahasa obstetric biasanya ini disebut mengejan.

Sifat kekuatan yang dihasilkan mirip seperti yang terjadi pada saat

buang air besar, tetapi biasanya intensitasnya jauh lebih besar.

Pada saat kepalam sampai pada dasar panggul, timbul suatu

reflek yang mengakibatkan pasien menutup glotisnya,

mengkontraksikan otot-otot perutnya dan menekan diafragmanya

ke bawah.

Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil, kala I pembukaan

sudah lengkap dan paling efektif sewaktu kontraksi rahim/uterus.

Disamping itu, kekuatan-kekuatan tahanan mungkin ditimbulkan

oleh otot-otot dasar panggul dan aksi ligament.

2. Janin dan plasenta (PASSANGER)

Bagian yang paling besar dank eras dari janin adalah kepala janin.

Posisis dan besar kepala janin dapat mempengaruhi jalannya persalinan

sehingga dapat menyatakan hidup dan kehidupan janinkelak; hidup

sempurna, cacat atau akhirnya meninggal. Biasanya apabila kepala

janin sudah lahir, maka bagian-bagian lain dengan mudah menyusul

kemudian.

Untuk menyesuaikan diri dengan stress dan tegangan mekanis

persalinan, tengkorak janin aterm telah dilengkapi dengan struktur yang

102
amat lentur berupa sutura dan fontanela yang belum berfungsi. Derajat

pergeseran pada garis-garis ini, sekalipun terbatas, dapat cukup

mengurangi diameter kepala. Diameter kepala janin terkecil adalah

suboksipitobregmatika (rerata 9,5), yang dengannya verteks muncul

pada posisi oksipitoanterior. Pada posisi oksipitoposterior, diameter

presentasi adalah oksipitoprontal atau suboksipitoprontal (masing-

masing dengan renat 11,75 cm dan 11 cm). Namun, pada presentasi

dahi, diameter presentasi dalah oksipitomental (rerata 13 cm), yang

biasanya menghasilkan persalinan macet.

Sikap fleksi menyeluruh pada janin, dan terutama fleksi pada

kepala, bersama kontraksi uterus yang efisien akan menghasilkan

hubungan mekanis yang lebih baik dengan panggul. Kontraksi yang

efisien dengan susunan diafragma menyerupai selokan dapat mengatasi

sebagian besar malposisi kapala janin yang terjadi akibat buruknya

sikap fleksi, kesempatan, atau bentuk pintu atas panggul, seperti pada

posisi oksipitoposterior.

Saat persalinan, rongga panggul secara perlahan akan diisi oleh

kepala janin yang mendistensi vagina; rektum tertekan, sebagaimana

pula kandung kemih yang berada dibawahtekanan tambahan segmen

bawah Rahim yang teregang, tempat kandung kemih melekat.

(a) Tulang Tengkorak (Cranium)

Untuk menyesuaikan diri dengan stress dan tegangan

mekanis persalinan, tengkorak janin aterm telah dilengkapi dengan

103
struktur yang amat lentur berupa sutura dan fontanela yang belumm

berfusi. Derajat pergeseran pada garis-garis ini, sekalipun terbatas,

dapat cukup mengurangi diameter kepala. Diameter kapala janin

terkecil adalah diameter suboksipitobregnmatika (rerata 9,5 cm),

yang dengannya verteks muncul pada posisi oksipitoanterior. Pada

posisi oksipitoposterior, diameter presentasi adalah oksipitofrontal

atau suboksipitofrontal (masing-masing denagan rerata 11,75 cm

dan 11 cm). Namun pada presentasi dahi, diameter presentasi

adalah oksipitomental (rerata 13 cm), yang biasanya menghasilkan

persalinan macet.

Saat persalinan, rongga panggul secara perlahan akan diisi

oleh kepala janin yang mendistensi vagina; rectum tertekan,

sebagaimana pula kandung kemih yang berada dibawah tekanan

tambahan segmen bawah rahim yang teregang, tempat kandung

kemih melekat.

Fontanel/Ubun-ubun ( ruang antara sudu-sudut tulang yang

ditutup dengan membrane): Fontanel mayor/fontanel anterior/ubun-

ubun besar, merupakan pertemuan antara sutura sagitalis superior,

sutura frontalis dan sutura koronaria, berbentuk segi empat

panjang; fontanel minor/fontanela posterior/ubun-ubun kecil,

berbentuk segi tiga, merupakan pertemuan antara sutura sagitalis

dan superior dengan 2 sutura lamboidea.

(b) Ukuran-ukuran kepala

104
Diameter occipito frontalis. Jarak antara tulang oksiput dan

frontal, dengan ukuran ± 12 cm; Diameter Mento Occipitalis

dengan ukuran ± 13,5 cm; Diameter Sub Occipito Bregmatika

dengan ukuran ±9,5 cm; Diameter Biparietalis dengan ukuran ±

9,25 cm; Diameter Bitemporalis denagn ukuran ±8 cm.

Ukuran Circumferensia (keliling): Cirkumferensial fronto

occipitalis ±34 cm, Cirkumferensia mento occipitalis ±35 cm;

Cirkumferensia sub occipito bregmatika ±32 cm.

(c) Ukuran badan lain

Bahu merupakan Jaraknya ±12 cm (jarak antara kedua

acromion), lingkaran bahu ±34 cm; Bokong, lebar bokong

(diameter intertrokanterika), ±12 cm, Lingkaran bokong ±27 cm.

(d) Postur janin dalam Rahim

Sikap (Habitus), menunjukkan hubungan antara bagian-

bagian janin dengan sumbu janin, biasanya denagan tulang

punggungnya, janin umumnya dalam sikap fleksi dimana kepala,

tulang punggung dan kaki dalam keadaan fleksi, serta lengan

bersilang di dada. Sikap janin bervariasi, tergamntung pada

presentasinya.

Letak janin, adalah hubungan antara sumbu panjang janin

dengan sumbu panjang ibu. Ada kemungkinan pada letak janin

yaitu letak memanjang, letak membujur dan letak miring/oblique.

105
Ada 3 kemungkinan pada presentasi janin yaitu presentasi kepala

bokong dan bahu.

Bagian terbawah janin: sama dengan presentasi hanya

diperjelas istilahnya, posisi merupakan indikator untuk menetapkan

arah jalannya persalinan; Tulang tengkorak janin tersusun antara

lain dari bagian muka dan tulang dasar tengkorak, tulanh-tulang

tengkorak, sutura dan ubun-ubun; Ukuran kepala yang sering

digunakan untuk menilai janin diantara lain yaitu diameter kepala

dan circumferensia; Ukuran badan lain yang sering digunakan yaitu

diameter dan lingkaran bahu, serta lebar dan lingkaran bokong.

Sikap fleksi menyeluruh pada janin, dan terutama fleksi pada

kepala, bersama kontraksi uterus yang efisien akan menghasilkan

hubungan mekanis yang lebih baik dengan panggul. Kontraksi

uterus yang efisien dengan susunan diafragma menyerupai selokan

dapat mengatasi sebagian besar malposisi kepala janin yang terjadi

akibat buruknya sikap fleksi, kesempatan, atau bentuk pintu atas

panggul, seperti pada posisi oksipitoposterior.

3. Jalan lahir (PASSAGE)

Tulang panggul dibentuk oleh dua tulang koksa (terbentuk dari

fusi tiga tulang: os pubis, os iskium, dan os ilium) yang masing-masing

membatasi bagian samping ronnga panggul. Tulang koksa

berkonvergensi ke anterior untuk menyatukan kedua sisi simfisis pubis,

dan di posterior disatukan oleh sacrum melalui sendi sakroiliaka.

106
Bentuk rongga panggul pada dasarnya menyerupai tabling, tetapi jalan

lahir sedikit melengkung ke depan pada ujung kaudalnya, membentuk

sudut sekitar 90º sehingga digambarkan sebagai “ saluran berbentuk J”

atau L” bila dipandang dari bidang sagittal. Garis arkuata dan

promontorium sakralis membagi panggul menjadi panggul “semu” di

sebelah superior dan panggul “sejati” di sebelah inferior.

Bentuk ikat pinggang inti kritis bagi proses kecakapan bagian

terendah janin ke dalam panggul sejati, karena merupakan penentu

pertama jalan lahir bayi. Bentuk dan dimensi tulang panggul ditentukan

oleh sejumlah faktor lingkungan, hormone, dan genetik. Ada empat tipe

utama yang dikenali: ginekoid, android, antropoid, dan platipelloid.

Panggul ginekoid panggul tipikal wanita ditemukan pada sekitar

40% wanita dan memperlihatkan tampilan ronnga yang secara

keseluruhan berbentuk bulat dengan sangkar tulang melengkung

sempurna serta tonjolan-tonjolan tulang yang tidak sejelas tonjolan

tulang pada varian panggul wanita yang lain yang dibahas di bawah ini.

Bidang pintu atas panggul hampir bundar dengan hanya sebuah identasi

kecil yang terbentuk dari penonjolan promontorium tulang sacrum

kearah depan. Korpus sacrum yang di bentuk oleh fusi kelima vertebra

sakralis membentuk lengkungan ke bawah dengan bagian cekung yang

menghadap ke anterior.

Lengkunag dinding lateral panggul dibentuk dari deapn ke

belakang oleh komponen pubis, iskium, dan ilium (koksa); tersusun

107
sedemikian rupa sehingga lengkungan sakrum menyambung dengan

bagian samping rongga panggul. Pada dinding lateral panggul juga

terdapat foramen iskiadika mayor yang lebar dan dangakal pada

panggul tipikal wanita. Bentuk ini mempermudah kecakapan kepala

bayi pada jalan lahir yang melengkung kedepan. Bidang pintu bawah

panggul memiliki bentuk rhomboid, atau sepertengah pada salah satu

sisinya. Batas-batas pintu bawah panggul adalah kedua ligamentum

sakrotubelare dan arkus yang terbentuk oleh ramus pibikus. Arkus

pubis pada panggul tipikal membentuk sudut 90º, berbeda dari panggul

android yang biasanya mempunyai sudut lancip.

Pada panggul android yang dijumpai pada 30-35% waniat, bidang

pintu atas panggul memiliki identitas yang sangat dalam akibat

promontorium dan sisi-sisi sampingnya membentuk sudut yang lebih

tajam dibagian depan panggul sehingga bentuk pintu atas panggul

menjadi bidang berbentuk hati. Kondisi ini cenderung menyebabkan

kepala bayi memasuki pintu atas panggul dengan sutura sagitalis pada

diameter oblik dan ubun-ubun kecil di posterior. Sakrum berbentuk

lebih lurus, dan bersama spina iskiadika yang menonjol, cenderung

menghalangi rotasi kepala janin ke posisi oksipitoanterior.

Pada panggul anthropoid yang ditemukan pada sekitar 15-20%

wanita, diameter anteroposterior pintu atas panggul lebih besar daripada

diameter transversanya, menghasilkan suatu bentuk yang lonjong.

Sakrum dibentuk dengan enam vertebra dan panggul umumnya lebih

108
dalam dibandingkan tipe panggul yang lain. Arkus pubis relatif sempit

dengan spina iskiadika yang menonjol, tetapi insisura iskiadika mayor

cukup lebar. Panggul jenis ini jarang bayi lahir dengan wajah

menghadap pubis.

Panggul platipelloid dengan diameter anteriorpostior yang jelas

lebih pendek dari pada diameter transvernya pada pintu atas panggul

dengan arkus pubis yang luas.

Bentuk san struktur dasar panggul memiliki peran penting dalam

mengarahkan kepala janin yang sedang menuruni bagian bawah rongga

panggul yang melengkung kedepan.

Pada kedua sisi rongga panggul, muskulus levator ani, suatu otot

yang berbentuk kipas, muncul dari spina isiadika, garis putih (yang

menutupi dan berhubungan erat dengan fasia obturatorius internus), dan

korpus os pubis.

Masing – masing tersusun atas muskulus pubo-koksigeus,

iliokoksigeus, dan iskiokoksigeus posterior (atau koksigeus). Muskulus

levator ani dari kedua sisi bertemu di medial, ke belakang dank e

bawah, dan masuk kedalam rafe os koksigeus dan anokoksigeus (dari

ujung os koksigeus ke taut anorektal). Otot – otot ini membentuk

diafragma panggul yang menggantung di sekitar garis tengah efluen

badan.

Muskulus koksigeus membentuk batas dasar panggul bersama

dengan sebagian muskulus piriformis.

109
Muskulus pubokoksigeus berasal dari separuh anterior garis putih

dan dari belakang korpus os pubis; otot ini menyebar ke belakang dan

medial dan di atas aspek-panggul muskulus iliokoksigeus untuk

berinsersi ke dalam rafe anokoksigeus.

Muskulus puborektalis, bagian tengah muskulus pubokoksigeus,

terdiri atas serabut otot yang muncul di sebelah anterior poriosteum

korpus os pubis, berjalan ke belakang dan pada ketinggian yang lebih

rendah dari pada pubokoksigeus membentuk sebuah ayunan berbentuk

U dengan otot dari sisi yang lain, di belakang taut anorektal untuk

membelokannya kedepan. Serabut yang terletak lebih medial

membentuk ayunan berbentuk U disekitar vagina dan berinsersi

kedalam korpus perinealis, membentuk sfingter vagina. Dinding lateral

sepertiga bawah vagina melekat pada serabut medial ini.

Sfingter vagina jangan dikacaukan dengan sfingter introitus yang

dibentuk oleh muskulus bulbospongiosus. Pada saat istirahat, muskulus

puborektalis menekan rectum, vagina, dan uretra hingga tertutup,

dengan menekankan organ – organ ini pada os pubis. Korpus perineale

merupakan titik pertemuan semua otot perinei superfisiales dan

profundae dengan levator ani, yang selanjutnya membentuk arsitektur

diafragma panggul.

Konvergensi diafragma panggul ini, seiring perluasannya dari

dinding lateral rongga panggul kebawah ke rafe otot di garis tengah,

mengubah bentuk dasar panggul dari suatu selimut otot sederhana

110
menjadi suatu selokan yang ikut membentuk lengkung bagian bawah

jalan lahir yang dijelaskan di atas.

Peran obstetrik utama dasar panggul yang berbentuk selokan ini

padapelahiran adalah untuk menyegariskan sutura sagitalis kepala yang

sedang turun dengan diameter anteroposterior pintu bawah panggul.

Bagian terendah kepala janin menyentuh dasar panggul dan bergeser ke

depan. Bagian ini adalah oksiput pada posisi fleksi yang benar, atau

sinsiput pada kepala dalam keadaan defleksi dengan posisi

oksipitoposterior.

a. Psikis ibu bersalin

Psikis ibu bersalin sangat berpengaruh dari dukungan suami

dan anggota keluargayang lain untuk mendampingi ibu selama

bersalin dan kelahiran anjurkan mereka berperan aktif dalam

mendukung dan mendampingi langkah – langkah yang mungkin

akan sangat membantu kenyamanan ibu, hargai keinginan ibu

untuk didampingi, dapat membantu kenyamanan ibu.

b. Penolong

Penolong persalinan adalah petugas kesehatan yang

mempunyai legalitas dalam menolong persalinan antara lain dokter,

bidan serta mempunyai kopetensi dalam menolong persalinan,

mengangani kegawatdaruratan serta melakukan rujukan jika

diperlukan. Penolong persalinan selalu menerapkan upaya

pencegahan infeksi yang dianjurkan termasuk diantaranya cuci

111
tangan, memakai sarung tangan dan perlengkapan pelindung

pribadi serta pendokumentasian alat bekas pakai.

(Rukiyah, Yeyeh; dkk, 2009:13-26)

(4)Perubahan dalam proses persalinan

1. Perubahan Fisik

a. Perubahan sistem Reproduksi

Kontraksi uterus pada persalianan bersifat unik mengingat

kontraksi ini merupakan kontraksi otot fisiologis yang menimbulkan

nyeri pada tubuh. Selama kehamilan terjadi keseimbangan antara

kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir

kehamilan kadar estrogen dan progesteron menurun kira – kira 1-2

minggu sebelum partus dimulai sehingga menimbulkan kontraksi

uterus. Kontraksi uterus mula – mula jarang dan tidak teratur dengan

intensitasnya ringan, kemudian menjadi lebih sering, lebih lama,

dan intensitasnya semakin kuat seiring kemajuan persalinan.

b. Perubahan Tekanan Darah

Tekanan darah akan meningkat selama kontraksi disertai

peningkatan sistolik rata – rata 10-20 mmHg dan diastolik rata – rata

5-10 mmHg. Pada waktu – waktu diantara kontraksi tekanan darah

kembali ketingkat sebelum persalinan. Dengan mengubah posisi

tubuh dari telentang ke posisi miring, perubahan tekanan darah

selama kontraksi dapat dihindari. Nyeri, rasa takut dan kekhawatiran

dapat semakin meningkat tekanan darah.

112
c. Perubahan Metabolisme

Selama persalinan, metabolisme karbohidrat meningkat

dengan kecepatan tetap. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh

aktifitas otot, peningkatan aktivitas metabolik terlihat dari

peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, pernafasan, denyut jantung,

dan cairan yang hilang.

d. Perubahan Suhu

Perubahan suhu sedikit meningkat selama persalinan dan

tertinggi selama dan segera setelah melahirkan. Perubahan suhu

dianggap normal bila peningkatan suhu yang tidak lebih dari 0,5-1
0
C yang mencerminkan peningkatan metabolisme selam persalinan.

e. Perubahan Denyut Nadi

Perubahan yang mencolok selama kontraksi disertai

peningkatan selama fase peningkatan, penurunan selama titik puncak

sampai frekuensi yang lebih rendah dari pada frekuensi diantara

kontraksi dan peningkatan selama fase penurunan hingga mencapai

frekuensi lazim diantara kontraksi. Penurunan yang mencolok

selama puncak kontraksi uterus tidak terjadi jika wanita berada pada

posisi miring bukan telentang. Frekuensi denyut nadi diantara

kontraksi sedikit lebih meningkat dibanding selama periode

menjelang persalinan. Hal ini mencerminkan peningkatan

metabolisme yang terjadi selama persalinan.

f. Perubahan Pernafasan

113
Peningkatan frekuensi pernafasan normal selama persalinan

dan mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi.

Hiperventilasi yang memanjang adalah temuan abnormal dan dapat

menyebabkan alkalosis (rasa kesemutan pada ekstremitas dan

perasaan pusing).

g. Perubahan Pada Ginjal

Poliuria sering terjdai selama persalinan. Kondisi ini dapat di

akibatkan peningkatan lebih lanjut curah jantung selama pesalinan

dan kemungkinan peningkatan laju filtrasi glomerulus dan aliran

plasma ginjal. Poliuria menjadi kurang jelas pada posisi terlentang

karena posisi ini membuat aliran urin berkurang selama persalinan.

h. Perubahan pada Saluran Cerna

Absorbsi lambung terhadap makanan padat jauh lebih

berkurang. Apabila kondisi ini diperburuk oleh penurunan lebih

lanjut sekresi asam lambung selama persalinan, maka saluran cerna

bekerja dengan lambat sehingga waktu pengosongan lambung

menjadi lebih lama. Cairan ini tidak dipengaruhi dan waktu yang

dibutuhkan untuk pencernaan dilambung tetap seperti biasa.

Lambung yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan

dan penderitaan umum selama masa transisi. Oleh karena itu, wanita

harus dianjurkan untuk tidak makan dalam porsi besar atau minum

berlebihan, tetapi makan dan minum ketika keinginan timbul guna

114
mempertahankan energi dan hidrasi. Mual dan muntah umum terjadi

selama fase transisi yang menandai akhir fase pertama persalinan.

i. Perubahan Hematologi

Hb meningkat rata – rata 1,2 gr/100 ml selama persalinan dan

kembali kekadar sebelum persalinan pada hari pertama pasca partum

jika tidak ada kehilangan darah yang abnormal. Waktu koagulasi

darah berkurang dan terdapat peningkatan fibrinogen plasma lebih

lanjut selama persalinan.

2. Perubahan Psikologis pada ibu bersalin

Psikis ibu bersalin sangat berpengaruh dari dukungan suami

dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama

bersalin dan kelahiran anjurkan keluarga berperan aktif dalam

mendukung dan mendampingi langkah – langkah yang mungkin

sangat membantu kenyaman ibu, hargai keinginan ibu untuk

didampingi, dapat membantu kenyamanan ibu, hargai keinginan ibu

untuk didampingi.

a. Aspek Psikologi dalam obstetri

Sekarang disadari bahwa penyakit dan komplikasi obstetrik

tidak semata – mata disebabkan oleh gangguan organik. Beberapa

diantaranya ditimbulkan atau diperberat oleh gangguan psikologik.

Timbulnya penyakit dan komplikasi dapat dijumpai dalam berbagai

tingkat ketidakmatangan dalam perkembangan emosional dan

psikoseksual dalam rangka kesanggupan seseorang dalam

115
menyesuaikan diri dengan situasi tertentu yang sedang dihadapi,

dalam hal ini khususnya kehamilan, persalinan, dan nifas.

Fenomena psikologis yang menyertai proses persalinan

bermacam – macam. Apa yang terjadi saat persalinan secara

langsung mempengaruhi psikologis dalam kelahiran. Perasaan dan

sikap seorang wanita dalam melahirkan sangat bervariasi dan

dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya perbedaan struktur

sosial, budaya dan agama serta kesiapan ibu dalam menghadapi

persalinan, pengalaman masa lalu, support sistem dan lingkungan.

Perubahan psikologis seorang wanita dalam mengalami

persalinan sangat bervariasi, tergantung pada persiapan dan

bimbingan antisipasi yang diterima selama menghadapi persalinan,

dukungan yang diterima dari pasangannya, orang terdekat lain,

keluarga dan pemberi perawatan, lingkungan tempat wanita

tersebut berada dan apakah bayi yang dikandungnya merupakan

bayi yang diinginkan atau tidak. Dukungan yang diterima atau

tidak diterima oleh seorang wanita dilingkungan tempatnya

melahirkan, termasuk dari mereka yang mendampinginya, sangat

mempengaruhi aspek psikologisnya pada saat kondisinya sangat

rentan setiap kali kontraksi timbul juga pada saat nyerinya timbul

secara berkelanjutan.

( Rukiyah, Ai yeyeh dkk, 2009 : 29 – 31 )

b. Perubahan – perubahan psikologis yang terjadi

116
Seorang wanita dalam proses kelahiran bayinya merasa

tidak sadar mengikuti irama naluriah, dan mau mengatur sendiri,

biasanya mereka menolak nasehat – nasehat dari luar. Sikap – sikap

yang berlebihan ini pada hakekatnya merupakan ekspresi dari

mekanisme melawan ketakutan. Selanjutnya, jika proses kesakitan

pertama – tama menjelang kelahiran ini desrtai banyak ketegangan

batin dan rasa cemas atau ketakutan yang berlebihan, atau disertai

kecenderungan – kecenderungan yang sangat kuat untuk lebih aktif

dan mau mengatur sendiri proses kelahiran bayi bisa menyimpang

dan yang normal dan spontan, prosesnya akan sangat terganggu dan

merupakan kelahiran yang abnormal.

Pada multigravida sering kuatir atau cemas terhadap anak –

anaknya yang tinggal dirumah, dalam hal ini bidan bisa berbuat

banyak untuk menghilangkan kecemasan ini. Suami atau pasangan

dapat memberikan perhatian dan tempat untuk berbagi. Banyak hal

yang mempengaruhi pasangan dalam memberikan perhatian

diantaranya status sosial atau gender, beberapa wanita bisa menjadi

kuat dan mampu untuk melalui proses persalinan dengan support

dari pasangan. Perhatian pasangan merupakan tingkatan yang

paling dasar menjadi kebutuhan seorang wanita dalam proses

persalinan. Pendekatan dan motivasi pada pasangan bisa dilakukan

oleh bidan sejak ANC, dilakukan untuk membangun kekuatan

untuk mengungkapkan perhatian yang merupakan kebutuhan dari

117
seorang wanita dalam menghadapi persalinan. Ini sangat

berpengaruh terhadap apa yang mereka lakukan yang terbaik bagi

bayi mereka.

( Rukiyah, Ai yeyeh dkk, 2009 : 31 – 35 )

(5)Penatalaksanaan dalam proses persalinan

1.1. Amniotomi

a. Pengertian amniotomi

Amniotomi adalah pemecahan selaput ketuban bila ketuban

belum pecah dan pembukaan sudah lengkap, setelah dilakukan

pemecahan selaput ketuban maka lakukan pemeriksaan air ketuban

antara lain : warna air ketuban yang keluar saat dilakukan amniotomi,

jika terjadi pewarnaan mekonium pada air ketuban maka lakukan

persiapan pertolongan bayi setelah lahir karena hal tersebut

menunjukkan adanya hipoksia janin dalam rahim atau selama proses

persalinan. ( Rukiyah, Ai yeyeh, 2009 : 115 )

Amniotomi adalah tindakan untuk membuka selaput amnion

dengan jalan membuat robekan kecil yang kemudian akan melebar

secara spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan didalam

rongga amnion. ( Saiffudin, 2009 : 453 )

b. Keuntungan tindakan Amiotomi

a. Untuk melakukan pengamatan ada tidaknya mekonium

b. Menentukan punctum maksimum DJJ akan lebih jelas

c. Mempermudah perekaman pada saat memantau janin

118
d. Mempercepat proses persalinan karena mempercepat proses

persalinan

c. Kerugian tindakan Amniotomi

a. Dapat menimbulkan trauma pada kepala janin yang menyebabkan

kecacatan pada tulang kepala akibat dari tekanan deferensial

meningkat

b. Dapat menambah kompresi tali pusat akibat jumlah cairan amnion

berkurang

d. Indikasi Amniotomi

a. Pembukaan lengkap

b. Persalinan Kala II

c. Akselerasi persalinan

d. Persalinan pervaginam dengna menggunakan instrumen

( Saiffudin, 2009 : 453 )

e. Cara melakukan Amniotomi

a. Persiapan alat :

1) Bengkok

2) Setengah kocher

3) Sarung tangan satu pasang

4) Kasa steril

b. Persiapan pasien

c. Persiapan pelaksanaan

1) Memberitahu tindakan

119
2) Mendekatkan alat

3) Memeriksa DJJ dan mencatat partograf

4) Cuci tangan dan keringkan

5) Memakai sarung tangan pada kedua tangan

6) Melakukan periksa dalam secara hati-hati diantara kontraksi.

Meraba dengan hati-hati selaput ketuban untuk memastikan

apakah kepala sudah masuk ke dalam panggul dan memeriksa

tali pusat atau bagian-bagian tubuh kecil janin tidak di palpasi.

Bila selaput ketuban tidak teraba diantara kontraksi, tunggu

sampai ada kontraksi berikutnya sehingga selaput ketuban

terdorong kedepan sehingga mudah di palpasi

7) Tangan kiri mengambil klem ½ kocher yang telah dipersiapkan

sedemikian rupa sehingga dalam mengambilnya mudah

8) Dengan menggunakan tangan kiri tempatkan klem ½ kocher

disinfeksi tingkat tinggi atau steril dimasukkan kedalam vagina

menelursuri jari tangan kanan yang berada di dalam vagina

sampai mencapai selaput ketuban

9) Pegang ujung klem ½ kocher diantara ujung jari tangan kanan

pemeriksa kemudian menggerakan jari dengan lembut dan

memecah selaput ketuban dengan cara menggosokan klem ½

kocher secara lembut pada selaput ketuban

10) Kadang-kadang hal ini lebih mudah dikerjakan diantara

kontraksi pada saat selaput ketuban tidak tegang. Tujuannya

120
adalah ketika selaput ketuban dipecah air ketuban tidak

menyemprot

11) Biarkan air ketuban membasahi jari pemeriksa

12) Ambil klem ½ kocher dengan menggunakan tangan kiri dan

masukan ke dalam larutan klorin 0,5 % untuk dekontaminasi

13) Jari tangan kanan pemeriksa tetap berasa di dalam vagina

melakukan pemeriksaan adakah tali pusat atau bagian kecil janin

yang teraba dan memeriksa penurunan kepala janin

14) Bila hasil pemeriksaan tidak didapatkan adanya tali pusat atau

bagian-bagian tubuh janin yang kecil dan hasil pemeriksaan

penurunan kepala sudah didapatkan, maka keluarkan tangan

pemeriksa secara lembut dari dalam vagina

15) Lakukan pemeriksaan warna cairan ketuban adakah mekonium,

darah, apakah jernih

16) Lakukan langkah-langkah gawat darurat apabila terdapat

mekonium atau darahh

17) Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan

kedalam larutan klorin 0,5 % kemudian lepaskan sarung tangan

dalam keadaan terbalik dan biarkan terendam selama 10 menit

18) Cuci tangan

19) Periksa DJJ

20) Lakukan dokumentasi pada partograf tentang warna ketuban,

kapan pecahnya ketuban, dan DJJ

121
(Sumarah dkk, 2009).

1) 1.2. Lima benang merah dalam asuhan persalinan dan kelahiran

bayi

Ada lima aspek dasar atau Lima Benang Merah, yang penting

dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman.

Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik

normal maupun patologi. Lima Benang Merah tersebut adalah :

(a) Membuat Keputusan Klinik

(b) Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi

(c) Pencegahan Infeksi

(d) Pencatatan (Rekam Medik) Asuhan Persalinan

(e) Rujukan

Lima Benang Merahini akan selalu berlaku dalam

penatalaksanaan persalinan, mulai dari kala satu hingga kala empat,

termasuk penatalaksanaan bayi baru lahir. (JNPK-KR, 2008: 7)

1.3. Langkah – langkah dalam Asuhan Persalinan Normal58 Langkah

APN (Asuhan Persalinan Normal)

I. Mengenali Tanda dan Gejala Kala II

1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala II :

a. Ibu mempunyai keinginan untuk meneran

b. Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum

dan / vaginanya

c. Perineum tampak menonjol

122
d. Vulva vagina dan sfingter ani membuka

II. Menyiapkan Pertolongan Persalinan

2. Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap

digunakan. Untuk asfiksia → tempat datar dan keras, 2 kain dan

1 handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60

cm dari tubuh bayi.

a. Menggelar kain di atas perut ibu dan tempat resusitasi serta

ganjal bahu bayi.

b. Menyiapkan oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik

steril sekali pakai di dalam partus set.

3. Menggunakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.

4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku.

Mencuci kedua tangan dengan sabun cair dan air bersih yang

mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai

atau pribadi yang bersih.

5. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk

semua pemeriksaan dalam.

6. Memasukkan oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (dengan

memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan

meletakkannya kembali di partus set atau wadah disinfeksi tingkat

tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik.

III. Memastikan Pembukaan Lengkap dan Keadaan Janin Baik

123
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyeka dengan hati-hati

dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa

yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi.

a. Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh

kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara

menyeka dari depan ke belakang.

b. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah

yang tersedia.

c. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (meletakkan

kedua sarung tangan terebut dengan benar didalam larutan

dekontaminasi, langkah # 9).

8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan

dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah

lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan

pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.

9. Mendekontaminasikan sarung tangan dengan cara mencelupkan

Tanganyang masih memakai sarung tangan kotor ke dalam

larutan klorin 0,5%dan kemudian melepaskannya dalam keadaan

terbalik sertamerendamnya di dalam larutan klorin 0,5% selama

10 menit. Mencucikedua tangan (seperti di atas).

10. Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir

untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-160

kali/menit).

124
a. Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal

b. Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan

semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf

IV. Menyiapkan Ibu dan Keluaraga untuk Membantu Proses

Bimbingan Meneran

11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin

baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai

keinginannya.

a. Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran.

Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta

janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan

mendokumentasikan temuan-temuan.

b. Menjelaskan kepada anggota keluarga untuk bagaimana

mereka dapat mendukung dan memberi semanagat kepada ibu

untuk meneran secara benar.

12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk

meneran. (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah

duduk dan pastikan ia merasa nyaman).

13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai keinginan

untuk meneran :

a. Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai

keinginan untuk meneran

125
b. Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk

meneran

c. Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai

pilihannya (tidak meminta ibu berbaring terlentang)

d. Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi

e. Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi

semangat pada ibu

f. Menganjurkan asupan cairan per oral

g. Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai

h. Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi

segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu

primigravida atau 60 menit (1 jam) untuk ibu multigravida,

merujuk segera jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk

meneran

14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil

posisi yang nyaman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60

menit, menganjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak

kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di anatara

kontraksi.

V. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi

15. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,

meletakkan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan

bayi.

126
16. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah

bokong ibu.

17. Membuka partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat

dan bahan.

18. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan

VI. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi

Lahirnya Kepala

19. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,

lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi,

letakkan tangan yang lain dikepala bayi dan lakukan tekanan

yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,

membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu

untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat dan dangkal.

20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang

sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera

proses kelahiran bayi:

a. Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan

lewat bagian atas kepala bayi.

b. Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya

di dua tempat, dan memotongnya.

21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi secara

spontan.

Lahirnya Bahu

127
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara

biparietal. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi

berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan

kearah luar hingga bahu anterior muncul dibawah arkus pubis

dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan kearah

luar untuk melahirkan bahu posterior.

Lahirnya Badan dan Tungkai

23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai

kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum

tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan

tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat

melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk

menyangga tubuh bayi saat di lahirkan. Menggunakan tangan

anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan

anterior bayi saat keduanya lahir.

24. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada

di atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk

menyangga saat punggung dan kaki lahir. Memegang kedua

mata kaki bayi dan dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

VII. Penanganan Bayi Baru Lahir

25. Lakukan penilaian (selintas) :

a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa

kesulitan?

128
b. Apakah bayi bergerak dengan aktif?

Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas atau megap-megap

lakukan langkah resusitasi (lanjut ke langkah resusitasi pada

asfiksia bayi baru lahir)

26. Keringkan tubuh bayi

a. Keringkan bayi mukai dari muka, kepala dan bagian tubuh

lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks.

b. Ganti handuk yang basah dengan handuk atau kain yang

kering.

c. Biarkan bayi di atas perut ibu.

27. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi

dalam uterus (hamil tunggal).

28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus

berkontraksi baik.

29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10

unit IM (intramuskular) di 1/3 paha atas bagian distal leteral

(lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin).

30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem

kira-kira 3 cm dari perut bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah

distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari

klem pertama.

31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat

129
a. Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit

(lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat

di antara 2 klem tersebut.

b. Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi

kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan

mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.

c. Lepaskan klem dan masukkan pada wadah yang telah

disediakan.

32. Letakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi

Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi

seingga bayi menempel di dada/perut ibu. Usahakan kepala

bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah

dari puting payudara ibu.

33. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di

kepala bayi.

VIII. Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III

34. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari

vulva.

35. Letakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas

simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali

pusat.

36. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan pusat ke arah bawah

sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang–

130
atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio

uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan

penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi

berikutnya dan ulangi prosedur di atas. Jika uterus tidak segera

berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk

melakukan stimulasi puting susu.

Mengeluarkan plasenta

37. Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga

plasenta terlepas, minta ibu untuk meneran sambil menarik tali

pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti

kurve jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial)

a. Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hinggan

berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.

b. Jika plasenta tidak melepas setelah melakukan penegangan

tali pusat selama 15 menit :

1) Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM

2) Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung

kemih dengan manggunakan teknik aseptik jika perlu

3) Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan

4) Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit

berikutnya

5) Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30

menit sejak kelahiran bayi

131
6) Bila terjadi perdarahan, segera lakukan plasenta

manual.

38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina melanjutkan kelahiran

plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar

plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut dan

perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut. Jika selaput

ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi

atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian

gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk

mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.

Rangsangan Taktil (Masase) Uterus

39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan

masase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan

melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut

hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras). Lakukan

tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi selama

15 detik masase.

IX. Menilai Perdarahan

40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu

maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa

selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta ke

dalam kantung plastik atau wadah tempat khusus.

132
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan

segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.

X. Melakukan Prosedur Pasca Persalinan

42. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan

baik. Mengevaluasi perdarahan pervaginam.

43. Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu

paling sedikit 1 jam.

a. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi

menyusui dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama

biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup

menyusu dari satu payudara.

b. Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun

bayi sudah berhasil menyusu.

44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri

tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg IM di

paha kiri antero lateral.

45. Setelah 1 jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi

Hepatitis B di paha kanan anterolateral.

a. Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu

bisa disusukan.

b. Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum

berhasil menyusu di dalam 1 jam pertama dan biarkan

sampai bayi berhasil menyusu.

133
Evaluasi

46. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan

pervaginam:

a. 2-3 kali 15 menit pertama pasca persalinan

b. Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan

c. Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan

d. Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melaksanakan

perawatan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.

47. Mengajarkan pada ibu / keluarga bagaimana melakukan masase

uterus dan memeriksa kontraksi uterus.

48. Mengevaluasi kehilangan darah.

49. Memeriksa tekanan darah, nadi, kandung kemih setiap 15

menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30

menit selama 2 jam kedua pasca persalinan.

a. Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2

jam pertama pasca persalinan.

b. Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak

normal.

50. Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas

dengan baik (40-60 x/menit) serta suhu tubuh normal

(36,5-37,5oC).

Kebersihan dan Keamanan

134
51. Menempatkan semua peralatan di dalam klorin 0,5% untuk

mendekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas

peralatan setelah di dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan

membilas peralatan setelah didekontaminasi.

52. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat

sampah yang sesuai.

53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat

tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah.

Membantu memakai pakaian yang bersih dan kering.

54. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberiakan

ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman

dan makanan yang diinginkan.

55. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan

dengan larutan klorin 0,5% dan membilasnya dengan air bersih.

56. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin

0,5%, membalikkan bagian dalam keluar dan merendamnya

dalam larutan klorin 0.5% selama 10 menit.

57. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

Dokumentasi

58. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa

tanda vital dan asuhan Kala IV.

( Asuhan Persalinan Normal, 2008 )

135
3. Nifas

a. Pengertian Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah

kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti

keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6

minggu (Saifudin, 2009: 122).

Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran sampai 6 minggu.

Selama masa ini, saluran reproduktif anatominya kembali ke keadaan tidak

hamil yang normal. (Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk, 2011:2)

Masa nifas, disebut juga masa postpartum atau puerperium adalah

masa sesudah persalinan, masa perubahan, pemulihan, penyembuhan, dan

pengembalian alat-alat kandungan/reproduksi, seperti sebelum hamil yang

lamanya 6 minggu atau 40 hari pascapersalinan (Jannah Nurul, 2011: 13).

b. Fisiologis Nifas

(Rukiyah, Ai Yeyeh; dkk, 2011:5)

1) Immediate postpartum atau postpartum dini

Dihitung 24 jam setelah plasenta lahir, dimana ibu memiliki

kepulihan kembali dan dibolehkan berdiri atau jalan – jalan.

2) Early postpartum atau puerpurium intermedial

Hari ke – 7 setelah partus sampai pulihnya kembali alat – alat

genitalia seluruhnya yang lamanya 6 – 8 minggu.

3) Late postpartum atau remote puerpurium

136
Minggu ke – 2 sampai ke – 6 setelah partus. Remote puerperium

adalah waktu yang dibutuhkan untuk pulih dan sehat sempurna bila ibu

selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu

untuk sehat sempurna bisa berminggu – minggu, bulanan atau tahunan.

4) Fase adaptasi psikologis masa nifas :

(a) Fase Taking In

Terjadi pada hari ke 1 – 2 postpartum merupakan masa

ketergantungan ketika ibu mengharapkan segala kebutuhannya

(b) Fase Taking Hold

Terjadi antara 3 – 10 hari setelah postpartum, secara bergantian

timbul kebutuhan ibu untuk mendapatkan perawatan dan

penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan

segala sesuatu secara mandiri.

(c) Fase Letting Go

Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran

barunya yang berlangsung setelah 10 hari postpartum

c. Perubahan Pada Masa Nifas

1) Perubahan sistem reproduksi (Uterus, Vagina, dan Perineum) (Jannah,

2011: 65-71)

(a) Uterus

Definisi involusi uteri adalah proses kembalinya uterus ke

ukuran semula sebelum hamil, sekitar kurang lebih 60 gram. Proses

137
ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot – otot

polos uterus.

(b) Proses Involusi Uteri

Pada akhir kala III persalinan, uterus berada di garis tengah,

kira – kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus

bersandar pada promontorium sakrali. Pada saat ini, besar uterus

kira – kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16

minggu dengan berat 1000 gram.

Peningkatan kadar estrogen dan progesteron bertanggung

jawab untuk pertumbuhan masif uterus selama masa hamil.

Pertumbuhan uterus pada masa prenatal tergantung pada

hyperplasia, peningkatan jumlah sel – sel otot, dan hipertropi yaitu

pembesaran sel – sel yang sudah ada. Pada masa post partum

penurunan kadar hormon – hormon ini menyebabkan terjadinya

autolysis.

Proses involusi uterus adalah sebagai berikut.

(1) Autolysis

Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di

dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan

otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang

sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang

terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan

hormon estrogen dan progesteron.

138
(2) Atrofi jaringan

Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam

jumlah besar kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap

penghentian produksi hormon esterogen saat pelepasan plasenta.

Selain perubahan atrofi pada otot – otot uterus, lapisan desidua

akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan

basal yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang baru.

(3) Efek Oksitosin ( Kontraksi )

Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi

otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang

mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini

membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi

plasenta serta mengurangi perdarahan. Luka bekas pelekatan

plasenta memerlukan waktu 8 minggu untuk sembuh total.

(c) Proses Involusi pada Bekas Implantasi Plasenta

(1) bekas implantasi plasenta segera setelah plasenta lahir seluas 12

x 5 cm, permukaan kasar, tempat pembuluh darah besar

bermuara.

(2) pada pembuluh darah terjadi pembentukan trombosis, disamping

pembuluh darah tertutup karena kontraksi otot rahim.

(3) bekas luka implantasi dengan cepat mengecil, pada minggu ke–

2 sebesar 6 – 8 cm pada akhir masa nifas sebesar 2 cm.

139
(4) lapisan endometrium dilepaskan dalam bentuk jaringan nekrosis

bersama dengan lochea

(5) luka bekas implantasi plasenta akan sembuh karena

pertumbuhan endometrium yang berasal dari tepi luka dan

lapisan basalis endometrium.

(6) luka sembuh sempurna pada 6 – 8 minggu postpartum.

InvolusiUteri Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus Diameter Uterus

Plasenta lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm

7 hari (minggu Pertengahan pusat dan 500 gram 7,5 cm

1) simpisis

14 hari Tidak teraba 350 gram 5 cm

(minggu 2)

6 minggu Normal 60 gram 2,5 cm

Tabel 2.1 Perubahan-perubahan Normal pada Uterus Selama Postparum

(d) Lochea

Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea

mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari

dalam uterus. Lochea mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat

membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam

yang ada pada vagina normal. Lochea mempunyai bau amis/anyir

140
seperti darah menstruasi meskipun tidak terlalu menyengat dan

volumenya berbeda – beda pada setiap wanita. Lochea yang berbau

tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lochea mempunyai

perubahan karena proses involusi.

(e) Proses keluarnya darah nifas atau lochea terdiri atas empat

tahapan, yaitu :

(1) Lochea rubra. Lochea rubra ini muncul pada hari 1 sampai hari

ke – 4 masa postpartum. Terdiri dari sebagian besar darah

segar, jaringan sisa – sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi,

lanugo ( rambut bayi ) dan mekonium.

(2) Lochea sanguinolenta cairan yang keluar berwarna merah

kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke – 4 sampai

hari ke – 7 postpartum.

(3) Lochea serosa. Lochea serosa berwarna kuning kecoklatan

karena mengandung banyak serum, leukosit, dan

robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari ke – 7 sampai hari

ke – 14 postpartum.

(4) Lochea alba. Lochea alba mengandung leukosit, sel desidua,

sel epitel, selaput len dir serviks, dan serabut jaringan yang

mati. Lochea alba bisa berlangsung selama 2 sampai 6 minggu

postpartum.

(f) Serviks

141
Serviks mengalami involusi bersama – sama dengan uterus.

Warna serviks asalah merah kehitam – hitaman karena penuh

pembuluh darah. Konsistensi’a lunak kadang – kadang terdapat

laserasi/perlukaan kecil. Karena robekan kecil yang terjadi selama

dilatasi, serviks tidak pernah kembali pada keadaan sebelum hami.

Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor,

terkulai dan berbentuk seperti corong.

Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan

serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan

serviks uteri berbentuk cincin. Segera setelah bayi dilahirkan,

tangan pemeriksa masih dapat masuk rongga rahim, setelah 2 jam

dapat di masuki 2–3 jari, pada minggu ke – 6 postpartum serviks

menutup.

Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks

dapat sembuh. Namun demikian, selesai involusi, ostium

eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Pada umumnya

ostium eksternum lebih besar, tetap ada retak-retak dan robekan-

robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya.

(g) Vulva dan Vagina dan

Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami

penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses

persalinan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini

142
kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada

minggu keempat.

(h) Perineum

Setelah persalinan, perineum menjadi kendur karena teregang

oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pulihnya tonus otot

perineum terjadi sekitar 5 – 6 minggu postpartum. Luka episiotomi

akan sembuh dalam 7 hari postpartum. Bila terjadi infeksi, luka

episiotami akan terasa nyeri, panas, merah, dan bengkak.

2) Perubahan Sistem Pencernaan

(Jannah, 2011: 72)

(a) Nafsu Makan

Pasca Melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga

diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu

makan diperbolehkan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali

normal.

(b) Motilitas

Secara khas penurunan tonus otot dan motalitas otot traktus

cerna menetap selama waktu singkat setelah bayi lahir. Kelebihan

analgetik dan anastesi bisa memperlambat pengembalian tonus dan

motalitas ke keadaan semula (Yanti; Sundawati, 2011:59).

(c) Defakasi

(1) Buang air besar spontan bisa tertunda selama 2 sampai 3 hari

setelah ibu melahirkan.

143
(2) Buang air besar tidah lancar disebabkan tonus otot usus

menurun selama proses persalinan dan awal masa pasca –

persalinan, diare sebelum persalinan, kurang makan, atau

dalam keadaan dehidrasi.

(3) Kebiasaan buang air besar teratur perlu di capai setelah tonus

usus kembali pada keadaan normal.

3) Perubahan Sistem Urinarius

(Jannah, 2011: 72 - 73)

Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi

yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu juga pada pasca

melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan fungsi ginjal.

Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah

melahirkan.

(a) Komponen urin

(1) Laktosuria (+) pada ibu menyusui

(2) BUN (Blood Urea Nitrogen) meningkat selama postpartum

merupakan autolysis involusi uterus

(3) Pemecahan kelebihan protein dalam sel otot uteus di sebabkan

protein uria (+) selama 1 sampai 2 hari postpartum.

(4) Aseton urea bisa terjadi pada wanita postpartum yang tidak

mengalami komplikasi persalinan.

(b) Diuresis Postpartum

144
(1) Dalam 12 jam postpartum, ibu mulai membuang kelebihan

cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil.

(2) Dieresis postpartum menyebabkan menurunnya kadar

estrogen, hilang akibat meningkatnya tekanan vena pada

tungkai bawah, dan hilangnya peningktan volume darah akibat

kehamilan.

(3) Kehilanagn cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah

urine menyebabkan penurunan berat badan ± 2,5 kg selama

postpartum.

(c) Uretra dan Kandung Kemih

(1) Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih selama

postpartum

(2) Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemesis dan

edema.

(3) Trauma kandung kemih bisa disebabkan pemasangan kateter.

(4) Efek anastesi dapat menyebabkan keinginan berkemih menurun

(5) Bisa terjadi distensi kandung kemih yang menyebabkan

dieresis postpartum serta penurunan berkemih.

(6) Distensi menyebabkan hambatan uterus berkontraksi dengan

baik.

(7) Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus

kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam waktu 5 – 7

hari setelah bayi lahir.

145
4) Perubahan Sistem Endokrin

(a) Hormon Plasenta

Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormon yang

diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat

pasca persalinan. Penurunan hormon plasenta (human placental

lactogen) menyebabkan kadar gula darah menurun pada masa nifas.

Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan

menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum

dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 post partum.

(b) Homon pituitary

Hormon prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita

tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Hormon prolaktin

berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi

susu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada

minggu ke-3 dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

(c) Hipotalamikpituitaryovarium

Lamanaya seorang wanita mendapatkan menstruasi juga di

pengaruhi oleh faktor menyusui. Menstruasi pertama ini sering

bersifat anovulasi karena rendahnya kadar estrogen dan

progesteron.

(d) Kadar Estrogen

146
Terjadi penurunan kadar estrogen yang bermakna setelah

persalinan sehingga aktivitas prolaktin juga sedang meningkat

dapat mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.

5) Perubahan Sistem Musculoskletal

(Jannah, 2011: 75)

Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah persalinan.

Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot – otot

uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah

plasenta dilahirkan.

Ligamen-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang

pada waktu persalinan secara berangsur-angsur menjadi ciut dsn pulih

kembali sehingga tak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi

retrofleksi karena ligementum rotundum menjadi kendor. Stabilisasi

secara sempurna terjadi pada 6 -8 minggu setelah persalinan.

Untuk pemulihan kembali jaringan-jaringan penunjang alat

genitalia, serta otot – otot dinding perut dan dasar panggul, di

anjurkan untuk melakukan latihan – latihan tertentu.

6) Perubahan Tanda – Tanda Vital

(a) Suhu badan

Dalam 24 jam postpartum suhu badan meningkat sedikit (37,5-

38˚C) sebagai akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan,

kehilangan cairan maupun kelelahan. Biasanya pada hari ke-3,

suhu badan akan meningkat lagi karena adanya pembentukan

147
ASI, payudara akan menjadi bengkak dan berwarna merah karena

banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan infeksi.

(b) Denyut nadi

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit.

Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi lebih cepat. Denyut

nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada

kemungkinan infeksi atau perdarahan post partum.

(c) Tekanan darah

Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan akan lebih

rendah setelah melahirkan karena ada pendarahan atau yang

lainnya. Tekanan darah akan tinggi bila terjadi pre – eklamsi

postpartum

(d) Pernapasan

Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut

nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal, pernapasan juga akan

mengikutinya kecuali bila ada gangguan khusus pada saluran

cerna.

7) Perubahan Sistem Kardiovaskuler

(a) Denyut jantung, volume secukupnya, dan curah jantung

meningkatselama hamil

(b) Segera setelah melahirkan, keadaan tersebut akan meningkat lebih

tinggi lagi selama 30 – 60 menit karena darah yang biasanya

148
melintas sirkulasi utero/plasenta tiba – tiba kembali ke sirkulasi

umum.

(c) Nilai curah jantung mencapai puncak selama awal puerperium 2 –

3 minggu setelah melahirkan curah jantung berada pada tingkat

sebelum hamil.

8) Perubahan Sistem Hematologi

(a) Lekosit normal selama kehamilan rata – rata ±

12.000/mm³.Selama 10 – 12 hari pertama setelah byi lahir, nilai

lekosit antara 15.000 – 20.000/ mm³ merupakan hal umum.

(b) Kadar hemoglobin dan hematokrit dan eritrosit sangat bervariasi

pada saat awal postpartum sebagai akibat volume darah, plasenta,

dan tingkat volume darah yang berubah – ubah.

(c) Perubahan komponen darah terjadi saat masa nifa, misalnya

jumlah sel darah putih akan bertambah banya. Jumlah sel darah

merah berfluktuasi, namun dalam 1 minggu pasca persalinan,

biasanya semua akan kembali ke keadaan semula.

d. Penatalaksanaan pada Masa Nifas

1) Tujuan Asuhan Masa Nifas

(Yanti; Sundawati, 2011: 01)

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas, untuk :

(a) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis

149
(b) Melaksanakan skreening secara komprehensif, deteksi dini,

mengobati atau merujuk bila terjadi komploikasi pada ibu maupun

bayi.

(c) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan keseshatan

diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi,

serta perawatan bayi sehati-hari

(d) Memberikan pelayanan keluarga berencana

(e) Mendapatkan kesehatan emosi

2) Kebijakan program nasional masa Nifas

(Yanti; Sundawati, 2011: 03)

Kebijakan program nasional pada masa nifas, yaitu paling sedikit empat

kali melkaukan kunjungan masa nifas, dengan tujuan untuk :

(a) Menilai kondisi ksehatan ibu dan bayi

(b) Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan

adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya

(c) Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada

masa nifas

(d) Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu

kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

3) Kunjungan pertama 6-8 jam post partum

Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri, mendeteksi dan

perawatan penyebab lainnya perdarahan serta melakukan rujukan bila

perdarahan berlanjut, memberikan konseling pada ibu atau keluarga

150
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri,

pemberian ASI awal, Mengajarkan cara mempererat hubungan antara

ibu dan bayi abru lahir, Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan

hipotermi,.

4) Kunjungan II (6 hari setelah persalinan)

Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, Uterus

berkontraki dengan baik, Tinggi fundu uteri di bawah umbilikus, tidak

ada perdarahan abnormal, menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi

dan perdrahan, memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup,

memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan,

memastikan ibu menyusui dengan bayi dan benar serta tidak ada

tanda-tanda kesulitan menyusui memberikan konseling pada ibu

mengenai asuhan pada bayi baru lahir.

5) Kunjungan III (2 minggu setelah persalinan)

Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, Uterus

berkontraki dengan baik, Tinggi fundu uteri di bawah umbilikus, tidak

ada perdarahan abnormal, menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi

dan perdrahan, memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup,

memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan,

memastikan ibu menyusui dengan bayi dan benar serta tidak ada

tanda-tanda kesulitan menyusui memberikan konseling pada ibu

mengenai asuhan pada bayi baru lahir.

6) Kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan)

151
Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami atau

bayinya dan memberikan konseling untuk KB secara dini.

e. Penatalaksanaan Masa Nifas

(Rukiyah; Yulianti; Liana, 2011:76-84)

1) Nutrisi dan Cairan, pada seorang ibu menyusui

Mengkonsumsi tambahan kalori 500 kalori tiap hari; makan

dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan

vitamin yang cukup; minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan

ibu untuk minum setiap kali menyusui); pil zat besi harus diminum

untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca persalinan;

minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin

A kepada bayinya melalui ASInya.

2) Ambulasi

Ibu yang melahirkan mungkin enggan bergerak karena merasa

letih dan sakit. Namun ibu harus dibantu turun dari tempat tidur dalam

24 jam pertama setelah kelahiran pervaginam. Ambulasi dini sangat

penting dalam mencegah trombosis vena. Tujuan dari ambulasi dini

adalah untuk membantu menguatkan otot-otot perut dan dengan

demikian menghasilkan bentuk tubuh yang baik, mengencangkan otot

dasr panggul sehingga mencegah atau memperbaiki sirkulasi darah ke

seluruh tubuh.

Banyaknya keuntungan dari ambulasi dini dikonfimasikan oleh

sejumlah penelitian yang terkontrol baik. Para wanita menyatakan

152
bahwa mereka merasa lebih baik dan lebih kuat setelah ambulasi awal.

Komplikasi kandung kencing dan konstipasi kurang sering terjadi.

Yang penting, ambulasi dini juga menurunkan banyak frekuensi

trombosis dan emboli paru pada masa nifas.

3) Eliminasi: BAK/BAB

Diuresis yang nyata yang akan terjadi pada satu atau dua hari

pertama stelah melahirkan, dan kadang-kadang ibu mengalami

kesulitan untuk mengosongkan kandung kemihnya karena rasa sakit,

memar atau gangguan pada tonus otot. Ia dapat dibantu untuk duduk

diatas kursi berlubang temppat buang air kecil jika masih belum

diperbolehkan berjalan sendiri dan mengalamai kesulitan untuk buang

air kecil dengan pispot diatas tempat tidur. Meskipun sedapat mungkin

dihindari, kateterisasi lebih baik dilakukan dari pada terjadi infeksi

saluran kemih akibat urine yang tertahan.

Penatalaksanaan defekasi diperlukan sehubungan kerja usus

cenderung melambat dan ibu yang baru melahirkan mudah mengalami

konstipasi, pemberian obat-obat untuk pengaturan kerja usus kerap

bermanfaat.

Faktor-faktor diet memegang peranan pentingdalam memulihkan

faal usus. Ibu mungkin memerlukan bantuan untuk memilih jenis-jenis

makanan yang tepat dari menunya. Ia mungkin pula harus diingatkan

mengenai manfaat ambulasi dini dan meminum cairan tambahan

untuk menghindari konstipasi.

153
4) Kebersihan Diri/Perineum

Pada ibu masa nifas sebaiknya anjurkan kebersihan seluruh tubuh.

Mengajarkan pada ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin

dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk

membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke

belakang anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali

selesai buang air kecil dan besar.sarankan ibu untuk mengganti

pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat

digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan

dibawahsinar matahari atau disetrika.sarankan ibu untuk mencuci

tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan

daerah kelaminnya. Jika ibu mempunyai luka episiotomiatau laserasi,

sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.

5) Istirahat

Istirahat pada ibu selama masa nifas beristirahat cukup untuk

mencegah kelelahan yang berlebihan. Sarankan ia untuk kembali ke

kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk

tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.

Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal:

mengurangi jumlah ASI yang diproduksi; memperlambat proses

involusi uterus dan memperbanyak perdarahan; menyebabkan depresi

dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.

154
Istirahat yang memuaskan bagi ibu yang baru merupakan masalah

yang sangat penting sekalipun kadang-kadang tidak mudah dicapai.

Keharusan ibu untuk istirahat sesudah melahirkan memang tidak

diragukan lagi, kehamilan dengan beban kandungan yang berat dan

banyak keadaan yang mengganggu lainnya, plus pekerjaan bersalin,

bukan persiapan yang baik dalam menghadapi kesibukan yang akan

terjadi. Pada hal hari-hari postnatal akan dipenuhi banyak hal, begitu

banyak hal yang harus dipelajari, ASI yang diproduksi dalam

payudara, kegembiraan menyambut tamu, dan juga kekhawatiran serta

keprihatinan yang tidak ada kaitannya dengan situasi ini. Jadi, dengan

tubuh yang letih dan mungkin pikiran yang sangat aktif, ibu sering

perlu diingatkan agar mendapatkan istirahat yang cukup.

6) Seksual

Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu

darah merah berhenti dan ibu dapat memasukan satu atau dua jarinya

kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu

tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan

hubungan suami istri kapan saja ibu siap.

Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan

suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya stetelah 40 hari atau

6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan

yang bersangkutan.

7) Keluarga Berencana

155
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun

sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan

sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang

keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu

merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka

tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur sebelum ia

mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu, metode

amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk

mencegah terjadinya kehamilan baru. Risiko cara ini adalah 2%

kehamilan.

Meskipun beberapa metode KB mengandung

resiko,menggunakan kontrasepsi tetep lebih aman, terutama apabila

ibu sudah haid lagi.

Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya

dijelaskan dahulu kepada ibu: bagaimana metode ini dapat mencegah

kehamilan dan efektifitasnya, kekurangannya, efek samping,

bagaimana menggunakan metode itu, kapan metode itu dapat mulai

digunakan untuk wanita pasca salin yang menyusi.

Jika seorang ibu/pasangan yang telah memilih metode KB

tertentu, ada baiknya untuk bertemu dengannya lagi dalam dua

minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh

156
ibu/pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja

dengan baik.

8) Latihan/Senam nifas

Diskusikan peentingnaya mengembalikan otot-otot perut dan

panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan

menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa

sakit pada punggung; jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit

setiap hari sampai membantu.

Beberapa latihan yang dapat dilakukan ibu dengan mudah

diantara lain: dengan tidur terlentang dengan lengan disamping,

menarik otot perut selagi menarik napas, tahan napas kedalam dan

angkat dagu kedada tahn satu hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10

kali.

Untuk memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel): berdiri

dengan tungkai darapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan panggul

dan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangai latihan sebanyak 5

kali.

Mulai mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap

minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke 6

setelah persalian ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30

kali. Pada masa nifs ibu sangat membutuhkan asuhan sama seperti

pada saat kehamilan bahkan mungkin lebih.

157
4. Bayi Baru Lahir

a. Pengertian Bayi Baru Lahir

Yang dimaksud bayi baru lahir normal adalah : bayi yang lahir dalam

presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia

kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat

badan 2500-4000 gram, nilai apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan. (Rukiyah,

dkk, 2010:2)

Menurut M. Sholeh Kosim, (2007) Bayi baru lahir normal adalah

berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung

menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat.

Bayi baru lahir normal (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari

kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram

sampai dengan 4000 gram. (Wahyuni, 2012 : 1)

Masa neonatal adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28

hari) sesudah kelahiran. Neonatus adalah bayi berumur 0 (baru lahir)

sampai dengan usia 1 bulan sesudah lahir. Neonatus dini adalah bayi

berusia 0-7 hari. (Muslihatun, 2010 : 2)

b. Perubahan Fisiologis bayi baru lahir

1) Sistem Pernafasan

Sistem pernapasan bayi baru lahir menurut Muslihatun, 2010:12,

perkembangan sistem pulmoner terjadi sejak masa embrio, tepatnya

pada umur kehamilan 24 hari. Pada umur kehamilan 24 hari ini bakal

paru-paru terbentuk. Pada umur kehamilan 26-28 hari keduabronchi

158
membesar. Pada umur kehamilan 6 minggu terbentuk segmen bronchus.

Pada umur kehamilan 12 minggu terjadi diferensiasi lobus. (Wahyuni,

2012 :

Pada umur kehamilan 24 minggu terbentuk alveolus. Pada umur

kehamilan 28 minggu terbentuk surfaktan. Pada umur kehamilan 34-36

minggu struktur paru-paru matang, artinya paru-paru sudah bisa

mengembangkan sistem alveoli. Selama dalam uterus,janin mendapat

oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir,

pertukaran gas harus mlalui paru-paru bayi.

Pernfasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 menit

pertama sesudah lahir. Usaha bayi pertama kali untuk mempertahankan

tekanan alveoli, selain adanya surfaktan yang dengan menarik nafas dan

mengeluarkan nafas dengan merintih sehingga udara tertahan di dalam.

Respirasi pada neonatus biasanya pernafasan diafragmatik dan

abdominal,sedangkan frekuensi dan dalamnya belum teratur. Apabila

surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku

sehingga terjadi atelectasis.Dalam keadaan anoksia neonatus masih

dapat mempertahankan hidupnya karena adanya kelanjutan

metabolisme anaerobik.

2) Suhu Tubuh

Menurut Muslihatun, 2010:12-13, terdapat empat mekanisme

kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru lahir ke

lingkungannya.

159
a) Konduksi

Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang

kontak langsung dengan tubuh bayi (Pemindahan panas dari tubuh

bayi ke objek lain melalui kontak langsung). Contoh hilangnya panas

tubuh bayi secara konduksi, ialah menimbang bayi tanpa alas

timbangan, tangan penolong yang dingin memegang bayi baru lahir,

menggunakan stetoskop dingin untuk pemeriksaan bayi baru lahir.

b) Konveksi

Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang

bergerak (jumlah panas yang hilang tergantung kepada kecepatan

dan suhu udara). Contoh hilangnya panas tubuh bayi secara

konveksi, ialah membiarkan atau menempatkan bayi baru lahir di

ruang yang terpasang kipas angina.

c) Radiasi

Panas di pancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya ke

lingkungan yang lebih dingin (Pemindahan panas antara 2 objek

yang mempunyai suhu berbeda).

Contoh bayi mengalami kehilangan panas tubuh secara radiasi,

ialah byi baru lahir dibiarkan dala ruangan dengan air conditioner

(AC) tanpa diberikan pemanas (radiant warmer), bayi baru lahir

dibiarkan dalam keadaan telanjang, bayi baru lahir ditidurkan

berdekatan dengan ruang yang dingin, misalnya dekat tembok.

d) Evaporasi

160
Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada

kecepatan dan kelembaban udara ( perpindahan panas dengan cara

merubah cairan menjadi uap). Evaporasi dipengaruhi oleh jumlah

panas yang dipakai, tingkat kelembaban udara, aliran udara yang

melewati. Apabila bayi baru lahir dibiarkan dalam suhu kama 25 ̊C,

maka bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, dan

evaporasi200 perkilogram berat badan (perkg BB), sedangkan yang

dibentuk hanya satu persepuluhnya.

Untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir, antara

lain mengeringkan bayi secara seksama, menyelimuti bayi dengan

selimut atau kain bersih, kering dan hangat, menutup bagian kepala

bayi, menganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya,

jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir,

menempatkan bayi di lingkungan yang hangat.

3) Metabolisme

Menurut Muslihatun, 2010:14, luas permukaan tubuh neonatus,

relatif lebih luas dari tubuh orang dewasa sehingga metabolisme basal

per kg BB akn lebih besar. Bayi baru lahir harus menyesuaikan diri

dengan lingkungan baru sehingga energy di peroleh dari metabolism

karbohidrat dan lemak.

Pada jam-jam pertama energy didapatkan dari perubahan

karbohidrat. Pada hari ke dua, energy berasal dari pembakaran lemak.

Setelah mendapat susu kurang lebih pada hari keenam , pemenuhn

161
kebutuhn energy bayi 60% didapatkan dari lemak dan 40% dari

karbohidrat.

4) Peredaran Darah

Menurut Muslihatun, 2010:14-18, fetus (Janin) menerima oksigen

dan makanan dari plasenta, maka seluruh darah fetus harus melalui

plasenta. Semua darah tercampur, antara darah yang direoksigenisasi

dari plasenta dan darah yang telah dideoksigenisasi ketika

meninggalkan fetus untuk masuk kembali ke dalam plasenta. Fungsi

paru-paru dijalankan oleh plsenta. fetus tidak mempunyai sirkulasi

pulmoner seperti sirkulasi pada orang dewasa. Pemberian darah secara

terbatas mencapai paru-paru,hanya cukup untuk makan dan

pertumbuhan paru-paru itu sendiri. Saluran pencernaan pada fetus

juga tidak berfungsi, karena plasenta menyediakan makanan dan

menyingkirkan bahan buangan keluar dari fetus.

Setelah bayi baru lahir, paru akan berkembang mengakibatkan

tekanan arteriol dalam paru menurun. Tekanan dalam jantung kanan

turun, sehingga tekanan jantung kiri lebih besar daripada tekanan

jantung kanan yang mengakibatkan menutupnya foramen ovale secara

fungsional. Hal ini terjadi pada jam-jam pertama setelah kelahiran

oleh karena tekanan dalam paru turun dan tekanan dalam aort

desenden naik serta disebabkan oleh rangsangan biokimia (Pa O2

yang naik) dan duktus arteriosus berobliterasi. Kejadian-kejadian ini

terjadi pada hari pertama kehidupan bayi baru lahir.

162
Aliran darah paru pada hari pertama ialah 4-5 liter permenit/m2.

Dan bertambah pada hari kedua dan ketiga (3,54 liter/m2) karena

penutupan duktus arteriosus. Tekanan darah pada waktu lahir

dipengaruhi oleh jumlah darah yang melalui tranfusi plasenta dan

pada jam-jam pertama sedikit menurun, untuk kemudian naik lagi dan

menjadi konstan kira-kira 85/40 mmHg.

5) Keseimbangan Air dan Fungsi Ginjal

Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar

natrium relatif lebih besar dari kalium karena ruangan ekstraseluler

luas. Fungsi ginjal belum sempurna karena jumlah nefron masih

belum sebanyak orang dewasa, ketidakseimbangan luas permukan

glomerulus dan volume tubulus proksimal, serta renal blood flow

relatif kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa.

6) Imunoglobulin

Menurut Muslihatun, 2010:18, pada neonatus tidak terdapat sel

plasma pada sumsum tulang, lamina propia ilium serta apendiks.

Plasenta merupakan sawar sehingga fetus bebas dari antigen dan stres

imunologis. Pada bayi baru lahir hanya terdapat gama globulin G,

sehingga imunologi dari ibu dapat melalui plasenta karena berat

molekulnya kecil. Tetapi bila ada infeksi yang dapat melalui plasenta

(lues, toksoplasma, herpes simpleks dan lain-lain), reaksi imunologis

dapat terjadi dengan pembentukan sel plasma dan antibodi gamma

A,G dan M.

163
7) Hati

Menurut Muslihatun, 2010:19, segera setelah lahir, hati

menunjukkan perubahan kimia dan morfologis, yaitu kenaikan kadar

protein serta penurunan kadar lemak dan glikogen. Sel hemopoetik

juga mulai berkurang, walaupun memakan waktu agak lama. Enzim

hati belum aktif benar pada waktu bayi baru lahir, daya detoksifikasi

hati pada neonatus juga belum sempurna, contohnya pemberian obat

kloramfenikol dengan dosis lebih dari 50 mg/kg BB/hari

dapatmenimbulkan grey baby syndrome.

8) Keseimbangan Asam Basa

Menurut Muslihatun, 2010:19, derajat kesaman (Ph) darah pada

waktu lahir rendah, karena glikolisis anaerobik. Dalam 24 jam

neonatus telah mengkompensasi asidosis ini.

9) Sitem neurologis

Sistem neurologis bayi secara anatomic atau fisiologis belum

berkembang sempurna. Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan

tidak terkoordinasi, pengaturan suhu yang labil. Control otot yang

buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstrimitas. Bayi baru lahir

yang normal memiliki banyak refleks neurologis yang primitif.

Adanya atau tidak adanya refleks tersebut menunjukkan kematangan

dan perkembangan sistem saraf yang baik. (Wahyuni, 2012 : 52)

(a) Reflek Moro

164
Refleks ini ditunjukkan dengan timbulnya pergerakkan tangan

yang simetris apabila kepala tiba-tiba digerakkan atau dikejutkan

dengan cara bertepuk tangan. Fungsi pemeriksaan ini adalah

menguji kondisi umum bayi serta kenormalan sistem saraf

pusatnya. (Wahyuni, 2012 : 54)

(b) Reflek mencari putting (Rooting)

Bayi menoleh kea rah benda yang menyentuh pipi. Dapat dinilai

dengan mengusap pipi bayi dengan lembut, bayi akan

menolehkan keppalanya kea rah jari kita dan membuka

mulutnya.(Wahyuni, 2012 : 53)

(c) Refleks isap (Sucking)

Refleks ini dinilai dengan memberi tekanan pada mulut bayi di

langit bagian dalm gusi atas yang akan menimbulkan isapan yang

kuat dan cepat. Refleks ini juga dapat dilihat pada waktu

menyusu. (Wahyuni, 2012 : 52)

(d) Refleks menelan (Swallowing)

ASI di dalam mulut bayi akan didorong oleh lidah kea rah faring,

sehingga menimbulkan reflek menelan. (JNPK-KR, 2008 : 2010)

(e) Refleks tonik leher (Tonic neck)

Ekstremitas pada satu sisi ketika kepala ditolehkan akan ekstensi,

dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bila kepala bayi

ditolehkan kesatu sisi saat istirahat. (Wahyuni, 2012 : 56)

165
Tidak normal jika respon terjadi setiap kali kepala ditolehkan :

jika menetap, menunjukan adanya kerusakan serebral mayor.

(Hidayat, 2009 : 26)

(f) Refleks menggenggam (Grasp palmar)

Refleks ini dinili dengan meetakkan jari telunjuk pemeriksa pada

telapak tangan bayi, tekanan dengan perlhn, normalnya bayi akan

menggenggam dengan kuat. Jika telapak bayi ditekan : bayi akan

mengepalkan tinjunya. (Wahyuni, 2012 : 53-54)

(g) Reflek merangkak

Bayi akan berusaha untuk merangkak ke depan degan kedua

tangan dan kaki bila diletakkan telungkup di atas permukaan

datar. (Wahyuni, 2012 : 56)

(h) Refleks Galant

Gores punggung bayi sepanjang sisi tulang belakang dari bahu

sampai bokong. Kondisi normalnya punggung bergerak kea rah

samping jika distimulasi, dijumpai pada 4-8 mingggu pertama.

(Hidayat, 2009 : 24)

(i) Refleks Babinski

Pemeriksaan refleks ini dengan memberi goresan telapak kaki,

dimulai dari tumit. Gores sisi lateral telapak kaki ke arah atas

kemudian gerakan jari sepanjang telapak kaki. Bayi akan

menunjukkan respon berupa semua jari kaki hiper ekstensi

dengan ibu jari dorso fleksi. (Wahyuni, 2012 : 54)

166
(j) Reflek melangkah (Walking)

Bayi menggerakkan tungkainya dalam sutu gerakan berjalan atau

melangkah jika kita memegang lengannya sedangkan kakinya

dibiark menyentuh permukaan yang rata dan keras. (Wahyuni,

2012 : 55)

c) Tanda-tanda bayi baru lahir normal

Menurut Rukiyah, 2010:2, bayi baru lahir dikatakan normal jika

mempunyai beberapa tanda antara lain :

1. Appearance color (warna kulit), seluruh tubuh kemerah-merahan.

2. Pulse (heart rate) atau frekuensi jantung >100x /menit.

3. Grimace (reaksi terhadap rangsangan), menangis, batuk/ bersin.

4. Activity (tonus otot), gerakan aktif.

5. Respiration (usaha nafas) bayi menangis kuat.

6. Kehangatan tidak terlalu panas (lebih dari 380C) atau terlalu dingin

(kurang dari 360C).

7. Warna kuning pada kulit (tidak pada konjungtiva), terjadi pada hari ke

2-3 tidak biru, pucat, memar.

8. Pada saat diberi makanan hisapan kuat, tidak mengantuk berlebihan,

tidak muntah.

9. Tidak terlihat tanda-tanda infeksi pada tali pusat seperti : tali pusat

merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah.

10. Dapat berkemih selama 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, tidak

ada lendir atau darah pada tinja.

167
11. Bayi tidak menggigil atau tangisan kuat, tidak mudah tersinggung, tidak

terdapat tanda lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang-kejang halus

tidak bisa tenang, menangis terus-menerus.

d) Tanda-tanda bayi baru lahir tidak normal

Tanda-tanda bayi baru lahir tidak normal menurut Saifuddin, 2009 :

139, semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda-tanda kegawatan/

kelainan yang menunjukan suatu penyakit.

Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau

beberapa tanda antara lain:Sesak nafas frekuensi pernapasan 60 kali/

menit, Gerah retraksi di dada, Malas minum, Panas atau suhu badan bayi

rendah, Kurang aktif , Berat lahir rendah (500-2500 gram) , Kesulitan

minum.

Tanda-tanda bayi sakit berat, apabila terdapat salah satu atau lebih

tanda-tanda berikut :

1) Sulit minum

2) Sianosis sentral (lidah biru)

3) Perut kembung

4) Periode apneu

5) Kejang/ periode kejang-kejang kecil

6) Merintih

7) Perdarahan

8) Sangat kuning

9) Berat badan lahir < 1500 gram.

168
e) Penatalaksanaan bayi baru lahir

1) Prinsip Dasar

Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi

dilahirkan, melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu

hamil.

Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi

terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan.

Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan

menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat

seumur hidup. (Saifuddin, 2009:132)

2) Penilaian klinik

Tujuannya adalah mengetahui derajat vitalitas dan mengukur reaksi

bayi terhadap tindakan resusitasi. Derajat vitalitas bayi adalah

kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan

kompleks untuk berlangsungnya kelangsungan hidup bayi seperti

pernapasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks-refleks primitif

seperti menghisap dan mencari puting susu. Pada saat kelahiran apabila

bayi gagal menunjukkan reaksi vital, maka akan terjadi penurunan

denyut jantung secara cepat, tubuh menjadi biru atau pucat dn refleks-

refleks melemah sampai menghilang. (Saifuddin, 2009 : 133)

3) Penanganan Bayi Baru Lahir

a) Pencegahan infeksi

169
Menurut JNPK-KR, 2008:119, bayi baru lahir sangat rentan

terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi

mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun

beberapa saat setelah lahir. Sebelum menangani bayi baru lahir,

pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan

infeksi berikut :

(1) Cuci tangan dengan seksama kemudian keringkan, sebelum dan

setelah bersentuhan dengan bayi, serta memakai sarung tangan

bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.

(JNPK-KR, 2008:120)

(2) Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama

klem, gunting, alat-alat resusitasi dan benang tali pusat telah di

Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) atau sterilisasi. (JNPK-KR,

2008:120)

(3) Gunakan ruangan yang hangat dan terang, siapkan tempat

resusitasi yang datar, rata, cukup keras, bersih, kering dan

hangat misalnya meja, dipan atau lantai beralas tikar.

(JNPK-KR, 2008:120)

(4) Pencegahan infeksi pada tali pusat. Upaya ini dilakukan dengan

cara merawat tali pusat yang berarti menjaga agar luka tersebut

tetap bersih, tidak terkena kencing, kotoran bayi atau tanah.

Pemakaian popok bayi diletakkan disebelh bawah tali pusat.

Apabila tali pusat kotor, cuci luka tali pusat dengan air bersih

170
yng mengalir dan sabun, segera dikeringkan dengan kai kassa

kering dan dibungkus dengan kassa tipis yang steril dan kering.

Dilarang membubuhkan atau mengoleskan ramuan, abu dapur

dan sebagainya pada luka tali pusat, sebab akan menyebabkan

infeksi dan tetanus yang yang berakhir dengan kematian

neonatal. Tanda-tanda infeksi tali pusat yang harus diwaspadai,

antara lain kulit sekitar tali pusat bewarna kemerahan, ada

pus/nanah dan berbau busuk. Mengawasi dan segera melaporkan

kedokter jika pada tali pusat ditemukan perdarahan,

pembengkakan, keluar cairan, tampak merah, atau berbau busuk.

(Muslihatun, 2010 : 20)

(5) Pencegahan infeksi pada kulit. Beberapa cara yang diketahui

dapat mencegah terjadi infeksi pada kulit bayi baru lahir atau

penyakit infeksi lain adalah meletakkan bai di dada ibu agar

terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi, sehingga

menyebabkan terjadinya kolonisasi mikroorganisme yang ada di

kulit ibu yang cenderung bersifat nonpatogen, sera adanya zat

antibodi bayi yang sudah terbentuk dan terkandung dalam air

susu ibu. (Muslihatun, 2010 : 21)

b) Mempertahankan suhu tubuh bayi

Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu

badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk

membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat.

171
Suhu tubuh bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akn tempat tidur

yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus

dicatat. (Saifuddin, 2010 : 134)

Mencegah kehilangan panas :

1) Keringkan bayi segera setelah bayi lahir untuk mencegah

terjadinya evaporasi dengan menggunakan handuk atau kain

(menyeka tubuh bayi juga termasuk rangsangan taktil untuk

membantu memulai pernapasan).

2) Selimuti tubuh bayi dengan kain bersih dan hangat segera setelah

mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat. Sebeumnya

ganti handuk atau kain yang telah digunakan untuk mengeringkan

tubuh bayi. Kain basah di dekat bayi dapat meyerap panas tubuh

bayi melalui radiasi.

3) Selimuti bagian kepala karena kepala merupakan permukaan

tubuh yang relative luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan

panas jika tidak ditutupi.

4) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya. Sebaiknya

pemberian ASI harus dalam waktu 1 jam pertama setelah

kelahiran.

5) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat,yang paling ideal

adalah bersama ibunya agar menjaga kehangatan tubuh bayi,

mendorong ibu agar segera menyusui bayinya, dan mencegah

paparan infeksi pada bayi.

172
6) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.

Sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi

dengan kain yang kering dan bersih. Bayi sebaiknya dimandikan

6 jam setelah lahir. Sebelum dimandikan periksa bahwa suhu

tubuh bayi stabil (36,50C – 37,50C)

(JNPK-KR, 2008 : 124)

c) Pemberian ASI

(1) Inisiasi menyusu dini (IMD)

Untuk mempererat ikatan batin antara ibu-anak, setelah

dilahirkan sebaiknya bayi langsung diletakkan di dada ibunya

sebelum bayi itu dibersihkan. Sentuhan kulit dengan kulit

mampu menghadirkan efek psikologis yang dalam diantara ibu

dan anak. Penelitian membuktikan bahwa ASI eksklusif selama

6 bulan memang baik bagi bayi. Naluri bayi akan

membimbingnya saat baru lahir. (Rukiyah, dkk, 2010:7)

Langkah Inisiasi Menyusu Dini (IMD) : 1) bayi harus

mendapatkan kontak kulit dengan kulit dengan ibunya seger

setelah lahir selama paling sedikit satu jam; 2) bayi harus

dibiarkan untuk melakukan IMD dan ibu dapat mengenali

bahwa bayinya siap untuk menyusu serta memberi bantuan jika

diperlukan; 3) menunda semua prosedur lainnya yang harus

dilakukan kepada bayi baru lahir hingga inisiasi menyusu selesai

dilakukan. (JNPK-KR, 2008:127)

173
Prinsip menyusu/ ASI adalah dimulai sedini mungkin dan

eksklusif. (JNPK-KR, 2008:127)

(2) Keuntungan kontak kulit ibu dengan kulit bayi untuk bayi

Menstabilkan pernapasan dan detak jantung,

Mengendalikan temperatur tubuh bayi, Memperbaiki atau

membuat pola tidur bayi lebih baik, Mendorong keterampilan

bayi untuk menyusu lebih cepat dan efektif, Meningkatkan

kenaikan berat (bayi lebih cepat kembali ke berat lahirnya),

Meningkatkan hubungan psikologis antara ibu dan bayi,

Mengurangi tangis bayi, Mengurangi infeksi bayi,

Mengeluarkan meconium lebih cepat, sehingga menurunkan

kejadian ikterus bayi baru lahir, Memperbaiki kadar gula dan

parameter biokimia lain selama beberapa jam, Mengoptimalisasi

keadaan hormonal bayi. (JNPK-KR, 2008 : 127)

(3) Keuntungan IMD untuk ibu

Merangsang produksi oksitosin dan prolaktin pada ibu

Pengaruh oksitosin : membantu kontraksi uterus sehingga

menurunkan resiko perdarahan pasca persalinan; merangsang

pengeluaran kolostrum dan meningkatkan produksi ASI;

membantu ibu mengatasi stress sehigga merasa lebih tenang dan

tidak nyeri pada saat plasenta ahir dan prosedur pasac persalinan

lainnya.

174
Pengaruh prolaktin : meningkatkan produksi ASI; menunda

ovulsi.

(JNPK-KR, 2008 : 128)

(4) Keuntungan IMD untuk bayi

(a) Mempercepat keluarnya kolostrum yaitu makanan dengan

kualitas dan kuantitas optimal untuk kebutuhan bayi

(b) Mengurangi infeksi dengan kekebalan pasif (melalui

kolostrum) maupun aktif

(c) Mengurangi 22% kematian bayi berusia 28 hari kebawah

(d) Meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif

(e) Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dengan bayi

(f) Mencegah kehilangan panas.

(JNPK-KR, 2008 : 128)

d) Perawatan tali pusat

a) Jangan membungkus pusat atau perut ataupun mengoleskan

bahan atau ramuan apapun kepuntung tali pusat dan nasehati

keluarga untuk tidak memberikan apapun pada pusar bayi.

b) Pemakaian alcohol ataupun betadin masih diperkenankan

sepanjang tidak menyebabkan tali pusat basah/lembab.

c) Beri nasihat pada ibu atau keluarganya sebelum penolong

meninggalkan bayi : lihat popok dibawah puntung tali pusat,

jika puntung tali pusat kotor, cuci secara lembut dengan air

matang (DTT) dan sabun, jika pusar merah atau mengeluarkan

175
darah atau nanah, konsul ke bidan/tenaga kesehatan lainnya untuk

pemeriksaan, jika berlanjut, segera rujuk kefasilitas yang

memadai.

e) Pencegahan perdarahan

Semua bayi baru lahir harus diberi vitamin K1

(Phytomenadione) injeksi 1 mg intramuskuler setelah IMD dan bayi

selesai menyusu untuk mencegah perdarahan bayi baru lahir akibat

defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru

lahir.

Cara penyuntikan vitamin K1 :

Gunakan semprit sekali pakai steril 1 mL Jika menggunakan

sediaan 10 mg/ mL maka masukkan vitamin K1 ke dalam semprit

sebanyak 0,15 mL. Suntikkan secara intramuscular di paha kiri bayi

bagian anterolateral sepertiga tengah sebanyak 0,1 mL (1 mg dosis

tunggal) Jika menggunakan sediaan 2 mg/ mL maka masukkan

vitamin K1 ke dalam semprit sebanyak 0,75 mL. suntikkan secara

intramuskular di paha kiri bayi bagian anterolateral sepertiga tengah

sebanyak 0,5 mL (1 mg dosis tunggal). (JNPK-KR, 2008 :135)

f) Pencegahan infeksi mata

Salep atau tetes mata untuk pencegahan infeksi mata diberikan

setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu. Pencegahan infeksi

mata tersebut mengandung Tetrasiklin 1% atau antibiotika lain.

176
Upaya pencagahan infeksi mata kurang efektif jika diberikan > 1 jam

setelah kelahiran. (JNPK-KR, 2008 :135)

g) Identifikasi bayi

Menurut Saifuddin, 2009, apabila bayi dilahirkan di tempat

bersalin yang persalinannya mungkin lebih dari satu persalinan,

maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada

setiap bayi baru lahir dan harus tetap di tempatnya sampai waktu

bayi dipulangkan.

Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di

tempat penerimaan pasien, di kamar bersalin, dan di ruang rawat

bayi. Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang

halus tidak mudah melukai, tidak mudah sobek, dan tidak mudah

lepas.

Pada alat/ gelang identifikasi harus tercantum :

(1) Nama (bayi, nyonya)

(2) Tanggal lahir

(3) Nomor bayi

(4) Jenis kelamin

(5) Unit

(6) Nama lengkap ibu

Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan

nama, tanggal lahir, nomor identifikasi.

177
Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu harus dicetak di catatan

yang tidak mudah hilang. Sidik telapak kai bayi harus dibuat oleh

personil yng berpengalaman menerapkan cara ini, dan dibuat dalam

catatan bayi. Bantalan sidik kaki harus disimpan dalam ruangan

bersuhu kamar.

Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala, lingkar perut,

dan catat dalam rekam medik.

h) Pengkajian fisik bayi baru lahir

Menurut Rukiyah, dkk, 2010, pemeriksaan fisik dilakukan

secara sistematis, mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki tidak

boleh ada yang terlewatkan, karena jika ada kelainan atau cacat

bawaan, atau ada luka/ lecet akan segera diketemukan sejak awal.

Sebelum pemeriksaan fisik bagian demi bagian sebaiknya

lakukan pemeriksaan antropometri untuk tiap bagian sesuai daerah

yang dilakukan pemeriksaan, untuk mencegah bayi buka tutup

pakaian berkali-kali karena kan mengakibatkan suhu bayi tidak

stabil, pemeriksaan antara lain :

(1) Penimbangan berat badan

Letakkan kain atau kertas pelindung dan atur skala penimbangan

ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi

berat alas dan pembungkus bayi, berat badan bayi lahir normal

antara 2500 gram-4000 gram, kemudian ganti pembungkus bayi.

(2) Bagian kepala

178
Ukur lingkar kepala, dilakukan dari dahi kemudian melingkari

kepala kembali lagi ke dahi.

Ukuran circumferensia (keliling) :

(a) Circumferensia Fronto occipitalis : ± 34 cm

(b) Circumferensia Mento occipitalis : ± 35 cm

(c) Circumferensia sub occipito bregmatika : ± 32 cm

Setelah dilakukan pengukuran, maka rabalah kepala

sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan

tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar

mengindikasikan bayi preterm, moulding yang buruk atau

hidrosefalus.

Lakukan pemeriksaan terhadap adanya trauma kelahiran,

misalnya ; caput suksedaneum, sefal hematoma, perdarahan

subaponeurotik/ fraktur tulang tengkorak; Perhatikan adanya

kelainan kongenital seperti anensefali, mikrosefali, kraniotabes,

dan sebagainya.

Wajah. Wajah harus tampak simetris, perhatikan kelainan

wajah yang khas seperti sindrom down atau sindrom piere robin,

perhatikan juga kelainan wajah akibat trauma lahir seperti

laserasi, paresi N. facialis.

Mata. Goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya

mata bayi terbuka, lakukan pemeriksaan terhdap : periksa

jumlah, eposisi atau letk mata; eriksa adanya strabismus yaitu

179
koordinasi mata yang belum sempurna; periksa adanya

glaukoma kongenital, mlanya kan tampak sebagai pembesaran

kemudian sebagai kekeruhan pda kornea.

Hidung. Kaji bentuk dan lebr hidung, pada bayi cukup

bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm; bayi harus bernapas

dengan hidung; periksa adanya secret yang mukopurulen yang

terkadang berddarah; periksa adanya pernapassan cuping

hidung.

Mulut. Perhatikan mulut bayi, bibr harus berbentuk dan

simetris; periksa adanya bibir sumbing; adanya gigi atau ranula

(kista lunak dari dasar mulut); periksa keutuhan langit-langit,

terutama pada persambungan antara palatum keras dan lunak;

perhatikan bercak putih pada gusi ataua palatum yang biasanya

terjadi akibat Epistein’s pearl atau gigi; periksa lidah apakah

membesar atau sering bergerak.

Telinga. Diperiksa kanan dan kiri; periksa dan pastikan

jumlah, bentuk dan posisinya, betuk dan posisinya; bayi cukup

bulan, tulang rawan sudah matang; daun telinga harus berbentuk

sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagian atas;

perhatikan letak daun telinga.

(3) Leher dan dada

Pemeriksaan leher, biasanya leher bayi pendek dan harus

diperiksa kesimetrisannya. Pergerakan harus baik. Jika ada

180
terdapat keterbatasan pergerakkan kemungkinan ada kelainan

tulang leher; periksa adanya trauma leher yang dapat

menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis; lakukan

perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan periksa

adanya pembesaran kelenjar thyiroid dan vena jugularis; adanya

lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher

menunjukan adanya kemungkinan trisomy.

Klavikula. Raba seluruh klavikula untuk memastikan

keutuhannya terutma pada bayi yang lahir dengan presentasi

bokong atau distosia bahu. Periksa kemungkinan adanya fraktur.

Tangan. Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan

cara meluruskan kedua lengan ke bawah; kedua elngan harus

bebas bergerak; perhatikan adanya polidaktili, atau sidaktili.

Dada. Ukur lingkar dada, ukur lingkar dada dari daerah

dada ke punggung kembali ke dada (pengukuran dilakukan

melalui kedua putting susu), lingkar dada ± 34 cm. pada bayi

cukup bulan, putting susu sudah terbentuk dengan baik dan

tanpak simetris; payudara dapat tampak membesar tetapi ini

merupakan keadaan yang normal.

(4) Abdomen

Abdomen harus tampak bulat dan bergerak secara

bersamaan dengan gerakan dada saat bernapas. Kaji adanya

pembengkakan; jika perut cekung kemungkinan terdapat hernia

181
diafragmatika; abdomen yang membuncit kemungkinan karena

hepato-spleno-megali atau lainnya; jika perut kemungkinan

adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau ductus

omfaloentriskus persisten.

(5) Genitalia

(a) Pada bayi laki-laki panjang penis 1-1,3 cm. periksa posisi

lubang uretra. Preputusium tidak boleh ditarik karena akan

menyebabkan fimosis; periksa adanya hipospadia dan

epispadia; skrotum harus dipalpasi untuk memastikan

jumlah testis ada dua.

(b) Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi

labia minora; lubang uretra terpisah dengan lubang vagina;

terkadang tampak adanya secret yang berdarah dari vagina,

hal ini disebabkan oleh pengaruh hormone ibu (withdrawl

bledding).

(6) Anus, rectum dan punggung

Anus dan rectum ; periksa adanya kelainan atresia ani, kaji

posisinya; meconium secara umum keluar pada 24 jam pertama,

jika sampai 48 jam belum keluar kemungkinan adanya

meconium plug syndrome, megakolon atau obstruksi saluran

pencernaan.

(7) Tungkai

182
Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. Periksa panjang kedua

kaki dengan meluruskan keduanya dan bandingkan; kedua

tungkaiharus dapat bergerak bebas. Kurangnya gerakan

berkaitan dengan adanya trauma, misalnya fraktur, kerusakan

neurolgis; periksa adanya polidaktili atau sidaktili pada jari kaki.

(8) Spinal

Periksa spinal dengan cara menelungkupkan bayi, cari

adanya tanda-tanda abnormalitas seperti spina bifida,

pembengkakan, lesung atau bercak kecil berambut yang

dapatmenunjukan adanya abnormalitas medulla spinalis atau

kolumna vertebrata. Setelah melakukn pmeriksaan punggung,

lakukan pengukuran panjang badan, dengan cara : letakkan bayi

di tempat datar, dibawah cahaya lamu sorot agar bayi tidak

kedinginan, ukur panjang badan dari kepala sampai tumit

dengan kaki/ badan bayi diluruskan. Alat ukur harus terbuat dari

bahan yang tidak lentur.

Kulit : perhatikan kondisi kulit bayi, antara lain : perisa

adanya ruam dan bercak atau tanda lahir; periksa adanya

pembengkakan; perhatikan adanya verniks kaseosa; perhatikan

adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang

bulan. Terakhir setelah pemeriksaan selesai.

h) Pemberian imunisasi

183
Imunisasi hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi

hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan ibu-bayi.

Hepatitis B pertama diberikan 1 sampai 2 jam setelah pemberian

vitamin K1, pada saat bayi baru berumur 2 jam. Untuk bayi yang

lahir di fasilitas kesehatan dianjurkan ddiberikan BCG dan OPV

pada saat sebelum bayi pulang dari klinik. Lakukan pencatatan dan

anjurkan ibu untuk kembali untk mendapatkan imunisasi berikutnya

sesuai jadwl pemberian imunisasi. (JNPK-KR, 2008:139)

i) Pemantauan bayi baru lahir

Menurut Saifuddin, 2009: Tujuan pemantauan bayi baru lahir

adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan

identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan

perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut

petugas kesehatan.

(1) Dua jam pertama sesudah lahir

Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama

sesudah lahir meliputi : kemampuan menghisap kuat atau lemah,

bayi tampak aktif atau lunglai, bayi kemerahan atau biru.

(2) Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya

Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian

terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan

tindak lanjut, seperti : bayi kecil untuk masa kehamilan atau

184
bayi kurang bulan, gangguan pernafasan, hipotermia, infeksi,

cacat bawaan dan trauma lahir.

A. Tinjauan Teori Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen Varney

1997

Manajemen kebidanan adalah suatu metode atau pendekatan pemecahan

masalah yang digunakan oleh bidan dalam pemberian pelayanan asuhan

kebidanan. Yang dimaksud dengan metode atau pendekatan disini adalah cara

kerja sistematis dan analitik yang memudahkan dan mengarahkan kegiatan-

kegiatan bidan dalam memecahkan masalah kesehatan ibu dan anak yang

dihadapi dalam lingkup tanggung jawabnya secara tepat guna dan berhasil

guna.

Langkah I. Pengumpulan data dasar.

Kumpulan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang

berkaitan dengan kondisi klien. Bila klien mengalami komplikasi yang perlu

dikonsultasikan kepada dokter dalam manajemen kolaborasi bidan akan

melakukan konsultasi.

Langkah II. Interprestasi data dasar

Identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuuhan

klien berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data yang telah

dikumpulakan, sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.

185
Wanita hamil pada trimester ketiga merasa takut pda proses persalinan

dan melahirkan yang sudah tidak dapat ditunda lagi. Perasaan takut tidak

termasuk kedalam katagori ”nomenklatur standar daignosa” tetapi tentu akan

menciptakan suatu masalah yang mebutuhkan pengkajian lebih lanjut dan

memerlukan suatu perencanaan untuk mengurangi rasa takut.

Langkah III. Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial

Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan

rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah di identifikasi. Langkah ini

membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil

mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa masalah

potensial ini benar-benar terjadi.

Langkah IV. Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan

segera

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan

atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota team

kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien.

Langkah V. Merencanakan asuhan yang menyeluruh

Direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah

yang merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang

telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data dasar

yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Kerangka pedoman antisipasi terhadap

wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya apakah

186
dibutuhkan penyuluhan, konseling merujuk klien bila ada masalah-masalah

yang berkaitan dengan sosial ekonomi, kultural atau masalah psikologis.

Langkah VI. Melaksanakan perencanaan

Rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah

kelima dilaksanakan secara efesien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan

seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian oleh

klien atau anggota tim kesehatan lainnya.

Langkah VII. Evaluasi

Dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan

meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah

terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentikasi didalam

masalah dan diagnosa.

1. Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil

Langkah I : Pengkajian

Diperoleh dengan mengumpulkan semua informasi dari klien,

keluarga, tetangga atau orang lain tentang riwayat kehamilan, persalinan,

bayi baru lahir dan nifas saat ini maupun sebelumnya. Bertujuan

mendapatkan data yang akurat sebagai bahan untuk perencanaan

berikutnya. Jika ditemukan kelainan dapat diketahui sedini mungkin dan

dapat dilakukan tindakan yang tepat dan segera. Data yang diperlukan

meliputi :

a. Identitas klien

187
Meliputi; Nama, umur,suku, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat

(suami dan istri).

b. Riwayat kehamilan

Meliputi; HPHT, siklus haid, tanda kehamilan, pergerakan janin

dan keluhan yang dirasakan serta pola makan, pola eliminasi, aktifitas

sehari-hari, imunisasi TT dan nifas yang lalu.

c. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu

Meliputi; jumlah kehamilan, jumlah persalinan cukup bulan,

jumlah kelahiran prematur, jumlah anak hidup dan jumlah keguguran.

d. Riwayat penyakit

Meliputi; riwauat peenyakit yang pernah atau sedang diderita

(jantung, hipertensi, DM, TBC), pernah operasi, perilaku kesehatan

(menggunakan obat-obatan, merokok, minum alkohol, jamu, makan

sirih) dan lain-lain.

e. Riwayat sosial ekonomi

Meliputi; status perkawinan, respon individu dan keluarga

terhadap kehamilan saat ini, jumlah keluarga yang tinggal serumah

dan pembuat keputusan dalam keluarga.

f. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum, TTV, berat badan, tinggi badan, pemeriksaan dari

rambut sampai ujung kaki.

2) Pemeriksaan luar; palpasi dan auskultasi.

3) Pemeriksaan dalam; menilai luasnya panggul.

188
4) Laboratorium; Hb, protein urin, redusi, golongan darah.

Langkah II : Interpretasi Data Dasar

Dengan melakukan interpretasi data dengan tepat maka dapat

menententukan diagnosa dan masalah secara spesifik dan akurat.

Sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam membuat perencanaan

asuhan kebidanan.

Langkah III : Masalah Potensial

Berdasarkan rangkaian permasalahan dan diagnosa yang telah

teridentifikasi membutuhkan antisipasi dan apabila mungkin dapat

dilakukan pencegahan sambil terus memantau keadaan klien.

Langkah IV : Tindakan Segera

Untuk antisipasi kemungkinan komplikasi atau kelainan yang

lebih lanjut. Sehingga jika terjadi kelainan atau komplikasi yang

memerlukan kolaborasi dengan tim kesehatan atau RS dapat ditangani

dengan cepat dan tepat sesuai dengan kondisi klien.

Langkah V : Perencanaan Tindakan

Merencanakan asuhan menyeluruh yang akan diberikan sesuai

langkah sebelumnya.

Langkah VI : Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan pemberian asuhan sesuai dengan yang telah

direncanakan sebelumnya.

Langkah VII : Evaluasi

189
Melakukan evaluasi terhadap langkah/asuhan yang diberikan

untuk mengetahui keefektifan dari pemberian asuhan tersebut. Apakah

kebutuhan tersebut terpenuhi dan sesuai atau tidak.

Pendokumentasian / pencatatan asuhan menggunakan bentuk ”SOAP”

S : Data subyektif

Data ini diperoleh melalui anamnesa dari pasien.

O : Data obyektif

Hasil pemeriksaan fisik klien serta pemeriksaan diagnostik dan

pendukung lain. Data ini termasuk catatan medik pasien yang lalu.

A : Asassement

Berdasarkan data yang terkumpul, dapat dibuat kesimpulan

berdasarkan diagnosa, segala sesuatu dapat teridentifikasi :

a) Diagnosa

b) Antisipasi masalah potensial

c) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/

kolaborasi dan rujukan.

d) (sebagai langkah II, III, dan IV dalam manajemen Varney).

P : Planning

Merupakan gambaran pendokumentasian dari tidakan atau

implementasi dan eveluasi berdasarkan langkah V, VI dan VII dalam

manajemen Varney. Planning termasuk :

a) Asuhan mandiri oleh bidan.

190
b) Kolaborasi/konsultasi dengan/ dokter/tenaga kesehatan lain.

c) Tes diagnostik/laboratorium.konseling atau penyuluhan.

d) Follow up.

2. Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin

Langkah I : tahap pengumpulan data

Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan pengumpulan

data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap.

a. Anamnesa : biodata, data demografi, riwayat kesehatan, termasuk

faktor herediter dan kecelakaan. Riwayat menstruasi, riwayat obstetric

dan ginekologi (nifas dan laktasi), biopsiko sipiritual dan pengetahuan

klien.

b. Pemeriksaan fisik, sesuai kebutuhan dan tanda-tanda vital.

c. Pemeriksaan khusus : inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.

d. Pemeriksaan penunjang : laboratorium dan diagnosa lain : USG,

radiologi.

e. Catatan terbaru dan sebelumnya

f. Data yang terkumpul ini sebagi data dasar untuk interprestasi

kondisi klien untuk menentukan langkah berikutnya.

Langkah II : Interpretasi data

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap masalah atau

diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar-benar atas data-data yang telah

191
dikumpulkan. Dirumuskan diagnosa yang spesifik, masalah psikososial yang

sedang dialami oleh wanita tersebut.

Contoh :

Diagnosa : G2P1A0 hamil 39 minggu inpartu kala I fase aktif

Masalah : wanita tersebut tidak menginginkan kehamilan ini atau wanita

tersebut takut menghadapi persalinan.

Kebutuhan : konseling atau rujukan konseling

Langkah III : mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial

Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa

potensial berdasarkan daignosa atau masalah yang sudah teridentifikasi.

Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila mungkin dilakukan pencegahan.

Bidan diharapkan waspada dan mencegah diagnosa atau masalah potensial

ini agar tidak terjadi kalau dimungkinkan, dan bersiap-siap menghadapinya

bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi. Langkah ini

penting sekali dalam melakukan asuhan yang nyaman.

Langkah IV : Menetapkan kebutuhan segera

Baik oleh bidan maupun dokter untuk melakukan konsultasi,

kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Berdasarkan kondisi klien langkah

ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan.

Manajemen ini berlaku baik asuhan primer periodik dan pada antenatal.

Data baru harus terus-menerus dikumpulkan dan di evaluasi. Beberapa data

mengindikasikan bidan harus segera bertindak untuk keselamatan ibu dan

192
bayi (misalnya perdarahan antepartum, perdarahan postpartum, distosia bahu

atau pada bayi dengan nilai apgar yang rendah)

Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang komprehensif

Langkah ini merupakan kelanjutan dari manajemen terhadap

diagnosa atau masalah yang telah teridentifiksi atau diantisipasi. Pada

langkah ini data atau informasi yang kurang lengkap dapat dilengkapi.

Rencana asuhan yng menyeluruh tidak hanya meliputi yang sudah

teridentifikasi atau setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga kerangka

pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang akan terjadi

selanjutnya, apakah ia membutuhkan penyuluhan, konseling atau rujukan

bila ada masalah yang berkaitan dengan sosiokultural, ekonomi atau

psikologi.

Setiap rencana asuhan harus disetujui kedua belah pihak sehingga

yang diberikan dapat efektif, karena sebagian dari asuhan akan ilaksnakan

oleh pasien. Rencana Asuhan Pada Kala I, yaitu :

1) Bantulah ibu dalam masa persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan

dan kesakitan.

2) Jika ibu tampak sakit, dukungan dan asuhan yang dapat diberikan :

3) Penolong tetap menjaga hak dan privasi ibu dalam persalinan, antara lain

menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa

sepengetahuan dan seijin ibu

4) Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi, serta

prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan.

193
5) Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya

setelah buang air kecil dan besar.

6) Untuk mencegah dehidrasi dan memenuhi kebutuhan energi, berikan

cukup minum.

7) Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin.

8) Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat, atasi dengan

cara :

a) Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar.

b) Menggunakan kipas biasa

c) Menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya.

9) Lakukan pemantauan : TD, suhu, nadi, DJJ, kontraksi, pembukaan

serviks, penurunan sesuai dengan frekuensi yang sudah ditetapkan. (fase

aktif/laten)

Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama kala I pada

persalinan, dan setelah selaput ketuban pecah, dan dokumentasikan hasil

penemuan yang ada pada partograf.

Rencana Asuhan Pada Kala II

1) Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu dengan :

a) Mendampingi ibu agar merasa nyaman.

b) Menawarkan minum, mengipasi dan memijit ibu.

2) Menjaga kebersihan diri :

a) Ibu tetap dijaga kebersihanya agar terhindar dari infeksi

b) Jika ada darah lendir atau ketuban segera dibersihkan

194
3) Memberi dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau

ketakutan ibu. Dengan cara :

a) Menjaga privasi ibu

b) Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan

c) Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan

keterlibatan ibu

4) Mengatur posisi ibu. Dalam membimbing mengedan dapat dipilih

posisi berikut : jongkok, menungging, tidur miring atau setengah

duduk. Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri,

mudah mengedan, kurangnya trauma vagina dan perineum dan

infeksi.

5) Menjaga kandung kemih tetap kosong, ibu dianjurkan berkemih

sesering mungkin.

6) Memberikan cukup minum, memberi cukup tenaga dan mencegah

dehidrasi.

Rencana Asuhan Pada Kala III

1) Melaksanakan manajemen aktif kala III meliputi :

2) Jika menggunakan manajemen aktif kala III dan plasenta belum lahit

dalam waktu 15 menit, berikan oksitosin 10 UI/IM

3) Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum lahir dalam

waktu 30 menit :

195
4) Berikan oksitosin 10 UI (IM) dosis ketiga. Periksa vagina wanita

tersebut secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks atau

perbaiki episiotomi.

Rencana Asuhan Pada Kala IV

1) Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30

menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat, masase uterus

sampai menjadi keras.

2) Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih, dan jumlah perdarahan

setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam

kedua.

3) Anjurkan ibu untuk minum untuk mencegah dehidrasi.tawarkan ibu

makanan dan minuman yang disukai.

4) Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan

kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering.

5) Biarkan ibu beristirahat dan bantu ibu pada posisi nyaman

6) Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu

dengan bayi, sebagai permulaan dengan menyusui bayinya, menyusui

juga membantu kontraksi uterus.

Langkah VI : Pelaksanaan langsung asuhan yang efesien dan aman

Melaksanakan asuhan menyeluruh yang telah direncanakan.

Pelaksanaan ini sebagian dilakukan oleh bidan, sebagian dilakukan oleh

klien sendiri atau oleh petugas kesehatan lainnya. Walau bidan tidak

melakukan keseluruhan asuhan itu sendiri, tetapi ia tetap memiliki

196
tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya memantau

rencana tetap terlaksana)

Bila perlu berkolaborasi dengan dokter misalnya karena ada

komplikasi. Manajemen yang efesien berhubungan dengan waktu, biaya

serta peningkatan mutu asuhan. Kaji ulang apakah semua rencana telah

terlaksana.

Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah ini dievaluasi keefektifan asuhan yang diberikan,

apakah telah memenuhi kebutuhan asuhan yang telah teridentifikasi dalam

daignosa atau masalah. Pelaksanaan asuhan dapat dikatakan efektif

bilamana benar-benar efektif. Ada kemungkinan sebagian rencana tersebut

terlaksana dengan efektif dan mungkin sebagian belum. Karena proses

manajemen asuhan ini merupakan proses yang berkesinambungan maka

perlu evaluasi, kenapa asuhan yang diberikan belum efektif. Dalam hal ini

perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang belum efektif,

melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses

tersebut tidak efektif serta melakukan penyesuaian dan modifikasi jika

memang diperlukan.

3. Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Masa Nifas/Postpartum

Langkah I : Pengkajian

Pengkajian ibu postpartum berfokus pada status fisiologis dan

psikologis ibu tingkat kenyamanannya, kurangnya pengetahuan terkait

197
dengan kesiapan untuk untuk menjadi ibu. Selain ibu, bayi juga perlu

dikaji mengenai penyesuaian psikologis bayi terhadap lingkungan diluar

rahim, kenormalan fisik, serta kemampuan orang tua dalam memenuhi

kebutuhan bayi.

Langkah II : Identifikasi Diagnosis

Setiap ibu dan keluarga mengantisipasi perawatan postpartum

dirumah, karenanya mereka memiliki respons yang unik. Setelah

menganalisis data dangan cermat, bidan dapat menegakan diagnosis

dengan data yang akan jadi pedoman bidan dalam menerapkan tindakan.

Diagnosis yang relevan untuk ibu postpartum yang dirawat dirumah

adalah sebagian berikut.

a. Kurangnya pengetahuan tentang tanda-tanda komplikasi.

b. Pengetahuan yang tidak adekuat mengenai menyusui yang efektif.

c. Keletihan yang berhubungan dengan kurangnya istirahat

d. Kurangnya pengetahuan / keterampilan dan harapan yang tidak

realistis dalam peran menjadi orang tua.

Langkah III : Antisipasi timbulnya diagnosis atau masalah potensial

Merupakan kegiatan antisipasi, pencegahan jika memungkinkan,

menunggu dan waspada, serta persiapan untuk segala sesuatu yang terjadi

pada ibu postpartum yang di rawat di rumah.

Langkah IV : Tindakan Segera atau Kolaborasi

Bidan melakukan perannya sebagai penolong dan pengajar dalam

mempersiapkan ibu dan keluarganya pada masa postpartum di rumah

198
melanjutkan perawatan dalam berbagai bentuk dan cara, misalnya

konseling suportif, pengajaran, dan perujukan yang didasarkan pada

tambahan berkelanjutan kedalam data dasar. Beberapa data dapat

mengindentifikasikan adanya situasi darurat di mana bidan harus segera

bertindak dalam menyelamatkan pasien.

Langkah V : Rencana Asuhan Sesuai Kebutuhan

Suatu rencana asuhan diformulasi secara khusus untuk memenuhi

kebutuhan ibu dan keluarganya. Sedapat mungkin bidan melibatkan

mereka semua dalam rencana dan mengatur prioritas serta pilihan mereka

untuk setiap tindakan yanga dilakukan. Hasil akhir atau tujuan yang ingin

dicapai disusun dengan istilah yang berpusat pada pasien dan

diprioritaskan dengan bekerja sama denga ibu dan keluarga. Tujuan yang

ingin dicapai meliputi hal-hal berikut, yaitu :

a. Ibu postpartum akan mengalami pemulihan fisiologis tanpa

komplikasi.

b. Ibu postpartum dapat menyebutkan pengetahuan dasar yang akurat

mengenai cara menyusui yang efektif.

c. Ibu postpartum mampu mendemonstrasikan parwatan yang tepat untuk

diri dan bayinya.

d. Orang tua akan mendemonstrasikan interaksi yang positif satu sama

lain terhadap bayi dan anggota keluarga yang lain.

LangkahVI : Implementasi Langsung Untuk Memenuhi Kebutuhan

199
Tindakan atau implementasi dapat dikerjakan seluruhnya oleh

bidan atau sebagian dilaksanakan oleh ibu sendiri, keluarga, atau anggota

kesehatan yang lain.

Langkah VII : Evaluasi Keefektifan Asuhan

Untuk bisa efektif, evaluasi didasarkan pada harapan pasien yang di

identifikasikan saat merencanakan asuhan kebidanan. Bidan bisa merasa

cukup yakin bahwa asuhan yang dibicarakan cukup efektif, jika hasil akhir

berikut bisa di capai.

a. Ibu postpartum mengalami pemulihan fisiologi tanpa komplikasi.

b. Ibu postpartum menyebutkan pengetahuan dasar yang akurat mengenai

cara menyusui yang efektif.

c. Ibu postpartum mendemostrasikan perawatan yang tepat untuk diri dan

perawat bayi yang memadai.

d. Orang tua yang mendemonstrasikan interaksi yang positif terhadap

bayi dan anggota keluarga yang lain

e. Jika bidan menentukan bahwa hasil akhir yang diharapkan telah

dicapai, maka implementasi dilanjutkan sasuai rencana.Jika data

evaluasi menunjukan bahwa hasil akhir yang diharapkan belum

dicapai, maka rencana diperbaiki. (Suherni, 2009 : 78)

4. Manajemen Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir

Langkah 1 : Pengkajian Data

200
Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan data yang di

butuhkan untuk mengevaluasi keadaan bayi baru lahir. Pengkajian pada

bayi baru lahir di bagi dalam 2 bagian yaitu pengkajian segera setelah bayi

baru lahir, dan pengkajian keadaan fisik untuk memastikan bayi dalam

keadaan normal atau mengalami komplikasi (Varney 1997)

Pengkajian segera setelah bayi baru lahir bertujuan untuk mengkaji

adaptasi bayi lahir dari kehidupan dalam uterus yaitu penilaian Apgar.

Penilaian sudah di mulai sejak kepala lahir dari vulva. Sedangkan

pengkajian keadaan fisik untuk memastikan bayi dalam keadaan normal

(Varney, 1997)

Pemeriksaan fisik bayi baru lahir, riwayat yang harus di kaji adalah

sebelumnya adalah faktor genetik yaitu seperti gangguan atau kelainan

metabolik pada keluarga dan syndrom genetik. Kemudian faktor maternal

dan perinatal seperti penyakit jantung, diabetes, ginjal, penyakit hati,

hipertensi, penyakit kelamin, riwayat abortus dan lain – lain. Riwayat

antenatal seperti apakah tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan,

pernah mengalami pendarahan, preeklampsia, gestasional diabetes,

polihidramnion atau oligohidramnion dan infeksi. Untuk riwayat perinatal

seperti prematur/postmatur, partus lama, penggunaan obat selama

persalinan, gawat janin, suhu ibu meningkat, posisi janin tidak normal,

ketuban pecah sudah lama, amnion bercampur mekonium, perdarahan

selama persalinan, prolapsus tali pusat, asidosis janin dan jenis persalinan.

Adapun faktor perinatal dengan memeriksa bayi secara sistematis (head to

201
too), identifikasi bayi dari warna dan aktifitas, cacat, miksi dan mekonium,

lakukan pula pemeriksaan antropometri (lingkar kepala, berat badan serta

tinggi badan).

(Varney,2010 :16)

Prosedure pemeriksaan fisik bayi adalah yang pertama

memberitahukan kepada orang tua dan minta persetujuan, cuci tangan dan

gunakan sarung tangan bila perlu, pastikan cukup penerangan dan hangat

(ruangan), pemeriksaan bayi secara head to toe, diskusikan hasil

pemeriksaan dengan orang tua dan catat semua hasil pengkajian sesuai

dengan temuan. (Varney,2010 : 16)

Langkah II : Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan Bayi Baru Lahir

Melakukan identifikasi secara benar terhadap diagnosa, masalah

dan kebutuhan bayi baru lahir berdasarkan data – data yang tela di

kumpulkan. Contoh diagnosa misalnya bayi cukup bulan sesuai masa

kehamilan dengan asfiksia, atau bayi cukup bulan kecil masa kehamilan

dengan hipotermi. Sedangkan masalah misalnya ibu kurang informasi, ibu

tidak PNC, ibu post section sesarea, gangguan maternal lainnya. Untuk

kebutuhan seperti jagalah agar bayi tetap kering dan hangat, usahakan agar

ada kontek kulit antara ibu dan bayi sesegera mungkin. (Varney,, 2010 :

16)

Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa dan Potensi Masalah

Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin

terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah teridentifikasi.

202
Misalnya untuk diagnosa potensial yaitu hipotermi potensial menyebabkan

gangguan pernafasan, hipoksia potensial menyebabkan asidosis atau

hipoglikemia potensial menyebabkan hipotermi. (Varney,2010 : 16)

Langkah IV : Identifikasi Tindakan Segera

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter

atau untuk di konsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim

kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi bayi. Misalnya bila bayi tidak

bernafas dalam waktu 30 detik, segera cari bantuan dan mulailah langkah

– langkah resusitasi pada bayi tersebut. (Varney, 2010 : 17)

Langkah V : Merencanakan Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir

Merencanakan asuhan yang menyeluruh yang rasional dan sesuai

dengan temuan dari langkah sebelumnya. (Varney,2010 : 17)

Langkah VI : Implementasi Asuhan Bayi Baru Lahir

Melaksanakan rencana asuhan pada bayi baru lahir secara efisien

dan aman, yaitu misalnya : mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap

hangat, dengan memastikan bayi tetap hangat dan terjadi kontak antara

kulit bayi dengan kulit ibu, gantilah kain atau handuk yang basah dan

bungkus dengan selimut yang kering dan bersih. Selain itu dengan

memeriksa telapak kaki bayi seriap 15 menit, apabila terasa dingin segera

periksa suhu axilla bayi.

203
Perawatan mata 1 jam pertama setelah lahir dengan obat mata

eritromicin 0,5% atau tetrasiklin 1% untuk mencegah infeksi mata karena

klamidia.

Memberikan identitas pada bayi, dengan memasang alat pengenal

bayi segera setelah lahir dan tidak di lepaskan sebelum bayi pulang dari

perawatan.alat yang di gunakan hendaknya kebal air, dengan tepi halus

dan tidak melukai, serta tidak mudah lepas. Pada alat pengenal (gelang)

tercantum nama bayi atau ibu, tanggal lahir, nomor bayi dan jenis kelamin

serta unit. Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu harus di cetak dalam

catatan yang tidak mudah hilang. Semua hasil pemeriksaan di masukkan

ke dalam rekam medis.

Memberikan suntikan vitamin K untuk mencega perdaraan karena

defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir. Bayi perlu di berikan vitamin K

parenteral dosis dengan dosis 0,5-1 mg I.M.

Memberikan konseling tentang menjaga kehangatan bayi,

pemberian ASI, perawatan tali pusat dan mengawasi tanda – tanda bahaya

dll. (Varney, 2010 : 18)

Langkah VII : Evaluasi

Melakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang di berikan

meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan, apakah benar – benar telah

terpenuhi sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir sebagaimana telah di

identifikasi di dalam diagnosa dan masalah. (Varney, 2010 : 18)

204
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. KEHAMILAN

Kunjungan ANC ke – 1, Tanggal 14 Februari 2012 Pukul : 13.00 WIB

MANAJEMEN KEBIDANAN IBU HAMIL

I. Pengkajian

A. Identitas Pasien

Nama Klien : Ny. P Nama Suami :Tn. N

Umur : 25 Thn Umur : 32Thn

Suku : Sunda Suku : Betawi

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pendidikan : S1

205
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Karyawan

Alamat Rumah : Jl. Boan Silan RT 01/RW 01 No. 47 Kelurahan Sudimara

Jaya, Ciledug Tanggerang

B. Anamnesa pada Tanggal : 14 -2 -2012Pukul: 13.00 WIB

Oleh: Rika Novia Sari

1. Alasan Kunjungan saat ini : Kunjungan Pertama

2. Riwayat Kehamilan

2.1 Riwayat Menstruasi

Hari pertama haid terakhir : 3 Juni 2011, (pasti) Lamanya : 6 hari

Banyaknya : 3x Ganti pembalut Haid sebelumnya : 5 April 2011

Lamanya : 6 hari Banyaknya : 3x Ganti pembalut Konsistensi :

Cair Siklus : 28 hari (teratur) TP : 10 Maret 2012

2.2. Tanda Kehamilan

Hasil test Kehamilan pada tanggal : 2 Agustus 2011 Hasil: Positif

(+)

2.3. Pergerakan fetus dirasakan pertama kali : 16 Minggu

Pergerakan fetus dirasakan pada 24 jam terakhir : ± 20 kali

2.4. Keluhan yang dirasakan

Rasa Lelah : Tidak ada

Mual muntah yang lama : Tidak ada

Nyeri Perut : Tidak ada

Panas, menggigil : Tidak ada

Sakit kepala berat/terus menerus : Tidak ada

206
Penglihatan kabur : Tidak ada

Rasa nyeri/panas waktu BAK : Tidak ada

Rasa gatal pada vulva vagina & sekitarnya : Tidak ada

Pengeluaran cairan pervaginam : Tidak ada

Nyeri, kemerahan, tegang pada tungkai : Tidak ada

Oedema : Tidak ada

2.5. Diet / makan

Makan sehari – hari : 3x sehari dalam porsi sedang, Lauk pauk,

Sayur mayur.

Minum : air putih ± 8 gelas per hari

Perubahan yang dialami : Tidak ada

2.6. Pola Eliminasi

BAK : 7 – 8x sehari, Warna : Kuning jernih, Konsistensi : Cair, Bau

khas

BAB : 1x sehari, Warna : Kuning, Konsistensi : Lunak, Bau khas

2.7. Aktifitas Sehari – hari

Pola istirahat dan tidur : Tidur siang ± 1 jam, Tidur malam 8 jam

Seksualitas : 2x dalam seminggu, Tidak ada gangguan

Pekerjaan : IRT, Tidak ada gangguan

2.8. Status Imunisasi

Imunisasi TT1: 11 Oktober 2011 TT2: 11 November 2011

2.9. Kontrasepsi yang digunakan : Suntik Kb 3 bulan

3. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu

207
Tanggal/ Jenis Anak
Tempat Usia
No Thn Persalinan Penolong BB
Persalinan Kehamilan JK PB Kead
Persalinan

1. 2008 RSB Aterm Spontan Bidan LK 3000 48 Baik

Kartini gr cm

2. Hamil Ini

4. Riwayat Kesehatan

4.1. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita

Jantung : Tidak ada

TD tinggi : Tidak ada

Hepar : Tidak ada

Anemia berat : Tidak ada

Diabetes mellitus : Tidak ada

Penyakit hubungan seksual & HIV/AIDS : Tidak ada

Campak : Tidak ada

Malaria : Tidak ada

TBC : Tidak ada

Gangguan mental : Tidak ada

Opersi : Tidak ada

Gemeli : Tidak ada

4.2. Perilaku Kesehatan

Gangguan alkohol/ Obat-obatan sejenisnya : Tidak pernah

208
Obat-obatan/ jamu yang sering digunakan : Tidak

Merokok, makan sirih : Tidak ada

Irigasi vagina/ ganti pakaian dalam : Tidak ada, 3x sehari

5. Riwayat Sosial

5.1. Apakah kehamilan ini direncanakan atau diinginkan : Ya

5.2. Jenis kelamin : Apa saja

5.3. Status Perkawinan : Sudah menikah

5.4. Susunan keluarga yang tinggal serumah

Jenis Hubungan
No Umur Pendidikan Pekerjaan Keterangan
kelamin keluarga

Laki - 32
1. Suami S1 Karyawan Baik
laki Thn

Laki-
2. 4 Thn Anak PAUD - Baik
laki

5.5. Kepercayaan yang berhubungan dengan Kehamilan, Persalinan,

Nifas : Tidak ada

6. Riwayat Kesehatan keluarga : Tidak ada riwayat penyakit keturunan seperti

asma, Diabetes mellitus, hipertensi

C. Pemeriksaan

1. Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Composmetis

Keadaan emosional : Stabil

2. Tanda – tanda vital

209
Tekanan Darah : 110/70 mmHg Nadi : 82 x/menit

Pernafasan : 20x/menit Suhu : 36,5 ºC

3. Antropometri

Tinggi badan : 157 cm Berat Badan : 54 Kg BB sebelum Hamil : 47 Kg

Kenaikan BB selama hamil : 7 Kg Lila : 25 cm

4. Pemeriksaan fisik

4.1. Muka : Kelopak mata : Tidak Bengkak

Konjungtiva : Tidak pucat

Sklera : Tidak Kuning

4.2. Mulut : Lidah : Bersih

Gusi : Tidak ada pembengkakan, Tidak

Berdarah

Gigi : Tidak berlubang

4.3. Kelenjar Thyroid : Tidak ada pembesaran Kelenjar Thyroid

4.4. Kelenjar Getah Bening : Tidak ada Pembengkakan Kelenjar Getah

Bening

4.5. Dada : Jantung : Normal, tidak terdengar murmur

Paru : Normal, tidak terdengar ronchi

Payudara : Pembesaran : Ada

Putting susu : Menonjol

Simetris : Iya, Kiri – Kanan

Benjolan/tumor : Tidak ada

Pengeluaran : Belum keluar ASI

210
Rasa nyeri : Tidak ada

Lain – lain : Tidak ada

4.6. Punggung dan Pinggang

Posisi Tulang Belakang : Lordosis Fisiologis Gravidarum

Nyeri ketuk pada pinggang : Tidak ada

4.7. Ekstremitas atas dan bawah

Oedema : Tidak ada

Kekakuan sendi : Tidak ada

Kemerahan : Tidak ada

Varises : Tidak ada

Reflek : kiri/ kanan ( + )

4.8. Abdomen

a. Inspeksi

Pembesaran : Ada, sesuai usia kehamilan

Striae gravidarum : Ada

Bentuk : Memanjang

Linea Alba : Tidak ada

Linea Nigra : Ada

Bekas Luka Operasi : Tidak ada

b. Palpasi

Leopold 1 : TFU : 29 cm

Di fundus uteri teraba agak bulat, lunak, tidak

melenting yaitu bokong

211
Leopold II : Bagian kanan ibu teraba panjang, keras seperti papan

dan ada tahanan yaitu punggung janin

Bagian kiri ibu teraba bagian – bagian kecil janin yaitu

ekstremitas

Leopold III:Bagian terendah janin teraba bulat, keras, tidak

melenting yaitu kepala

Leopold IV : Stasi 4/5

c. Auskultasi

Punctum maksimum : terdengar 1 titik di kuadran kanan bawah 2 jari

dibawah pusat

Denyut jantung janin : 138 x/menit

TBJ : ( 29 – 12 ) x 155 = 2635 gram

4.9. Anogenital

4.9.1. Inspeksi

Perineum : Utuh Luka parut : Tidak ada

Luka : Tidak ada Varises : Tidak ada

Konsistensi : Tidak ada Jumlah : Tidak ada

Vulva vagina : Warna : Kemerahan

Luka : tidak ada

Fistula : tidak ada

Varises : tidak ada

212
Pengeluaran pervaginam : Tidak ada konsistensi : tidak ada

Warna : tidak ada Jumlah : tidak ada

Kelenjar bartholini : Pembengkakan : tidak ada

Rasa nyeri : tidaka ada

Anus : haemorroid : tidak ada

4.9.2. Periksa dalam, Serviks dan Vagina : ( jika ada indikasi )

Dinding vagina : Tidak dilakukan

Ukuran serviks : Tidak dilakukan

Konsistensi : Tidak dilakukan

Posisi serviks : Tidak dilakukan

Mobilitas : Tidak dilakukan

Lain – lain : Tidak dilakukan

4.9.3. Pelvimetri klinis

Promontorium : Tidak dilakukan

Linea innominata : Tidak dilakukan

Spina ischiadika : Tidak dilakukan

Ujung sacrum : Tidak dilakukan

Kesan panggul : Tidak dilakukan

Area pubia : Tidak dilakukan

4.9.4. Adnexa

Ukuran : Tidak dilakukan

Posisi : Tidak dilakukan

D. Pemeriksaan Laboratorium : tidak dilakukan

213
II. Analisa Masalah / Interprestasi data dasar

Ibu G2P1A0 Hamil 36 minggu 4 hari

Janin tunggal hidup intrauterine presentasi kepala

Dasar Subjektif : 1. Ibu mengatakan hamil anak Kedua

2. Ibu mengatakan pernah melahirkan satu kali

3. Ibu mengatakan tidak pernah keguguran

4. Ibu mengatakan adanya gerakan janin

5. HPHT : 3 – 6 – 2011

Dasar Objektif :TFU : 29 cm

1. Leopold I : Di fundus uteri teraba agak bulat, lunak, tidak melenting

yaitu bokong

Leopold II : Bagian kanan ibu teraba panjang, keras seperti papan dan

ada tahanan yaitu punggung janin

Bagian kiri ibu teraba bagian – bagian kecil janin yaitu

ekstremitas

Leopold III: Bagian terendah janin teraba bulat, keras, tidak melenting

yaitu kepala

Leopold IV : stasi 4/5

2. Punctum maksimum : terdengar 1 titik di kuadran

kanan bawah 2 jari bawah pusat

3. Denyut jantung janin : 138 x/menit

4. TBJ : ( 29 – 12 ) x 155 = 2635 gram

214
III. Masalah Potensial

Tidak ada

IV. Tindakan segera

Tidak ada

V. Perencanaan Tindakan

1. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan saat ini

2. Anjurkan ibu untuk banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi

3. Beritahu ibu tanda bahaya kehamilan

4. Beritahu ibu tanda-tanda persalinan

5. Beritahu ibu untuk mempersiapkan persiapan persalinan

6. Berikan ibu suplemen Fe dan Kalsium

7. Anjurkan ibu untuk kontrol ulang

8. Dokumentasi

VI. Pelaksanaan Tindakan

1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan saat ini, bahwa ibu dan

janin dalam keadaan baik. Dengan hasil TD : 110/70 mmHg, N : 82x/mnt,

Rr : 20x/mnt, S : 36, 5 C dan usia kehamilan ibu saat ini 36 minggu 4 hari

2. Menganjurkan ibu untuk banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi,

seperti :Protein : pada ikan, telur, daging, kacang-kacangan, Vitamin dan

mineral : pada sayuran dan buah, Kalsium : pada susu ibu hamil 2x sehari

3. Memberitahu ibu tanda bahaya kehamilan seperti perdarahan pervaginam,

sakit kepala yang hebat, bengkak pada muka dan tangan, nyeri ulu hati,

penglihatan kabur dan gerakan janin berkurang

215
4. Memberitahu ibu tanda-tanda persalianan, yaitu : Adanya his / mules

yang sering dan kuat, Keluarnya lendir bercampur darah dari vagina,

keluarnya air-air dari vagina. Bila ibu meraskan tanda-tanda tersebut,

segera mendatangi tempat pelayanan kesehatan terdekat

5. Memberitahu ibu untuk mempersiapkan persiapan persalinan, seperti :

Tempat : Ingin melahirkan dimana, Penolong : Ingin ditolong oleh bidan

atau dokter, Pendamping : Ingin didampingi siapa saat bersalin, Dana,

Transportasi, Calon pendonor darah, Persiapan ibu : Kain, Gurita,

pemabalut, pakaian dalam, pakaian ibu, Persiapan Bayi : Kain bedoong,

popok, baju bayi, topi, dan selimut bayi

6. Memberikan suplemen tambah darah (Fe) dan Kalsium 10 tablet,

diminum Setiap hari sesudah makan dan harus dihabiskan

7. Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang pada tanggal 21-02-2012 atau jika

ada keluhan

8. Melakukan pendokumentasian

VII.Evaluasi

1. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang telah diberikan

2. Ibu bersedia untuk mengkonsumsi makan – makanan bergizi seperti yang

telah dianjurkan

3. Ibu dan keluarga mengerti dengan tanda bahaya pada kehamilan

4. Ibu dan keluarga mengerti mengenai tanda – tanda persalinan

5. Ibu dan keluarga mengerti dan akan menyiapkan persiapan yang telah

di

216
jelaskan

6. Ibu telah mendapatkan Sf dan kalsium, ibu bersedia untuk

meminumnya

7. Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang sesuai tanggal yang telah di

tentukan

8. Seluruh hasil pemeriksaan telah di dokumentasikan

Kunjungan ANC ke – 2, Tanggal : 21 – 2 – 2012 Pukul : 13.00 WIB

S : Ibu mengatakan ini adalah kunjungan ulang untuk memeriksakan

Kehamilan, Ibu mengatakan tidak ada keluhan

O: Keadaan umum : baik, kesadaran : composmetis, keadaan emosional :

stabil.TD : 110/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Suhu : 36,5 ºC, R:

20x/menit.Berat badan saat ini 54 kg, tinggi badan 157 cm, Berat badan

sebelum hamil 47 kg, Lila 25 cm, Kenaikan selama hamil 7 kg. Pada

pemeriksaan fisik didapatkan hasil, kelopak mata tidak bengkak,

konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning. Palpasi : TFU : 29 cm,

Leopold I : dibagian fundus uteri teraba agak bulat, lunak, tidak

melenting yaitu bokong, Leopold II : Bagian kanan ibu teraba panjang,

keras seperti papan yaitu punggung janin, Bagian kiri ibu teraba bagian –

bagian kecil janin yaitu ekstremitas, Leopold III: bagian terendah janin

teraba bulat, keras, tidak melenting yaitu kepala, Leopold IV : stasi

4/5,Taksiran berat janin : ( 29 - 12 ) x 155 = 2635 gram. Auskultasi : DJJ:

217
140 x/menit, teratur, Punctum maksimum : terdengar 1 titik di kuadrant

kanan bawah 2 jari Di bawah pusat.

A: Ibu G2P1A0 hamil 37 minggu 4 hari, Janin tunggal hidup intrauterin

persentasi kepala

P: Asuhan Kebidanan yang diberikan: Menginformasikan hasil pemeriksaan

saat ini bahwa usia kehamilan ibu 37 minggu 4 hari, DJJ 140 x/menit,

ibu dan janin dalam keadaan baik. Ibu dan keluargamerasa senang

dengan penjelasan yang diberikan. Meningatkan kembali kepada ibu

mengenai tanda bahaya kehamilan yaitu perdarahan pervaginam, sakit

kepala yang hebat, bengkak pada muka dan tangan, nyeri ulu hati,

penglihatan kabur dan gerakan janin berkurang. Ibu dan keluarga

mengerti dengan penjelasan yang diberikan. Mengingatkan kembali

kepada ibu tanda – tanda persalinan yaitu mules yang semakin lama

semakin sering, keluar lendir bercampur darah, kadang disertai keluarnya

air – air. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang dijelaskan.

Mengingatkan kembali kepada ibu persiapan persalinan seperti

pendamping persalinan, pendonor darah, tabungan persalinan, pakaian

ibu seperti baju berkancing, celana dalam, bra , kain panjang, dan

pakaian bayi seperti bedongan, baju bayi, popok, topi bayi, sarung tangan

dan kaki. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan.

Memberikan ibu Vitamin + tablet Fe 10 Tab diminum 1x1 sehari dan

kalsium 1x1 sehari setelah makan, ibu telah mendapatkan Vitamin +

tablet Fe dan kalsium. Menganjurkan ibu kunjungan ulang tanggal 28

218
Februari 2012 dan sewaktu- waktu bila ada keluhan ibu segera datang ke

petugas kesehatan. Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang. Seluruh

hasil pemeriksaan telah didokumentasikan

Kunjungan ANC ke – 3, Tanggal : 28 – 2 – 2012 Pukul : 13.00 Wib

S: Ibu mengatakan ini adalah kunjungan ulang untuk memeriksakan

Kehamilan, Ibu mengatakan gerakan bayinya aktif, ibu mengatakan tidak

ada keluhan

O: Keadaan umum : baik, kesadaran : composmetis, keadaan emosional :

stabil.TD : 100/70 mmHg, Nadi : 83 x/menit, Suhu : 36 ºC, R:

20x/menit.Berat badan saat ini 56 kg, tinggi badan 157 cm, Berat badan

sebelum hamil 47 kg, Lila 25 cm, Kenaikan selama hamil 9 kg. Pada

pemeriksaan fisik didapatkan hasil, kelopak mata tidak bengkak,

konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning. Palpasi : TFU : 31 cm,

Leopold I : dibagian fundus uteri teraba agak bulat, lunak, tidak

melenting yaitu bokong, Leopold II : Bagian kanan ibu teraba panjang,

keras seperti papan yaitu punggung janin, Bagian kiri ibu teraba bagian –

bagian kecil janin yaitu ekstremitas, Leopold III: bagian terendah janin

teraba bulat, keras, tidak melenting yaitu kepala, Leopold IV : stasi 4/5,

Taksiran berat janin : ( 31-12 ) x 155 = 2945 gram. Auskultasi : DJJ: 140

x/menit ,teratur, Punctum maksimum : terdengar 1 titik di kuadrant

kanan bawah 2 jari dibawah pusat.

219
A : Ibu G2P1A0 hamil 38 minggu 4 hari, Janin tunggal hidup intrauterin

persentasi kepala

P: Asuhan kebidanan yang diberikan : Menginformasikan hasil pemeriksaan

saat ini bahwa usia kehamilan ibu 38 minggu 4 hari, DJJ: 140 x/menit ,

ibu dan janin dalam keadaan baik. Ibu dan keluargamerasa senang

dengan penjelasan yang diberikan. Meningatkan kembali kepada ibu

mengenai tanda bahaya kehamilan yaitu perdarahan pervaginam, sakit

kepala yang hebat, bengkak pada muka dan tangan, nyeri ulu hati,

penglihatan kabur dan gerakan janin berkurang. Ibu dan keluarga

mengerti dengan penjelasan yang diberikan. Mengingatkan kembali

kepada ibu tanda – tanda persalinan yaitu mules yang semakin lama

semakin sering, keluar lendir bercampur darah, kadang disertai keluarnya

air – air. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang dijelaskan.

Mengingatkan kembali kepada ibu persiapan persalinan seperti

pendamping persalinan, pendonor darah, tabungan persalinan, pakaian

ibu seperti baju berkancing, celana dalam, bra , kain panjang, dan

pakaian bayi seperti bedongan, baju bayi, popok, topi bayi, sarung tangan

dan kaki. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan.

Mengingatkan ibu untuk minum vitamin + tablet fe dan kalk. Ibu

berjanji akan minum obat yang diberikan. Menganjurkan ibu kunjungan

ulang tanggal 7 maret 2012 dan sewaktu- waktu ada keluhan ibu segera

datang ke petugas kesehatan. Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang.

Seluruh hasil pemeriksaan telah didokumentasikan

220
Kunjungan ANC ke -4, Tanggal : 7 – 3 – 2012 Pukul : 21.00 Wib

S: Ibu mengatakan ini adalah kunjungan ulang untuk memeriksakan

Kehamilan, Ibu mengatakan gerakan bayinya aktif dan Ibu mengatakan

sering BAK

O: Keadaan umum : baik, kesadaran : composmetis, keadaan emosional:

stabil. TD : 110/70 mmHg, Nadi : 83 x/menit, Suhu : 36 ºC, R : 20

x/menit. Berat badan saat ini 58 kg, tinggi badan 157 cm, Berat badan

sebelum hamil 47 kg, Lila 26 cm, Kenaikan selama hamil 11 kg. Pada

pemeriksaan fisik didapatkan hasil, kelopak mata tidak bengkak,

konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning.Palpasi : TFU : 31 cm,

Leopold I : dibagian fundus uteri teraba agak bulat, lunak, tidak

melenting yaitu bokong, Leopold II : bagian kanan ibu teraba panjang,

keras seperti papan yaitu punggung janin, Bagian kiri ibu teraba bagian –

bagian kecil janin yaitu ekstremitas, Leopold III: bagian terendah janin

teraba bulat, keras, tidak melenting yaitu kepala, Leopold IV : stasi 3/5

Taksiran berat janin : ( 31-12 ) x 155 = 2945 gram. Auskultasi : DJJ : 134

x/menit , teratur, Punctum maksimum : terdengar 1 titik di kuadrant

kanan bawah, 3 jari Di bawah pusat. Pada hasil Pemeriksaan

Laboratorium yang dilakukan oleh TIM Laboratorium RSB Kartini: HB :

12,4 gr%, Gol. Darah : 0/Rh + , Protein : Negatif, Reduksi : Negatif

A: Ibu G2P1A0 hamil 39 minggu 5 hari, Janin tunggal hidup intrauterin

persentasi kepala

221
P: Asuhan kebidanan yang diberikan : Menginformasikan hasil pemeriksaan

saat ini bahwa usia kehamilan ibu 39 minggu 5 hari, ibu dan janin dalam

keadaan baik. Ibu dan keluarga merasa senang dengan penjelasan yang

diberikan. Memberitahu ibu mengenai keluhannya sering BAK bahwa

adanya tekanan pada kandung kemih karena pembesaran rahim atau

kepala janin yang turun ke rongga panggul. Sebaiknya ibu kurangi

minum setelah makan malam atau minimal minum 2 jam sebelum tidur,

dan jangan mengurangi kebutuhan air minum ( minimal 8 gelas perhari ).

Ibu mengerti dengan penjelasan yang telah diberikan. Meningatkan

kembali kepada ibu mengenai tanda bahaya kehamilan yaitu perdarahan

pervaginam, sakit kepala yang hebat, bengkak pada muka dan tangan,

nyeri ulu hati, penglihatan kabur dan gerakan janin berkurang. Ibu dan

keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan. Mengingatkan

kembali kepada ibu tanda – tanda persalinan yaitu mules yang semakin

lama semakin sering, keluar lendir bercampur darah, kadang disertai

keluarnya air – air. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang

dijelaskan. Mengingatkan kembali kepada ibu persiapan persalinan

seperti pendamping persalinan, pendonor darah, tabungan persalinan,

pakaian ibu seperti baju berkancing, celana dalam, bra , kain panjang,

dan pakaian bayi seperti bedongan, baju bayi, popok, topi bayi, sarung

tangan dan kaki. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang

diberikan. Mengingatkan ibu untuk minum vitamin + tablet fe dan kalk.

Ibu berjanji akan minum obat yang telah diberikan. Menganjurkan ibu

222
kunjungan ulang tanggal 14 maret 2012 dan sewaktu- waktu ada keluhan

ibu segera datang ke petugas kesehatan. Ibu bersedia melakukan

kunjungan ulang. Mendokumentasikan seluruh hasil pemeriksaan.

B. PERSALINAN

Catatan perkembangan Manajemen Kala I Tanggal 11 Maret 2012

Pukul 19.30 WIB

MANAJEMEN KEBIDANAN IBU BERSALIN

I. Pengkajian

A. Identitas Pasien

Nama Klien : Ny. P Nama Suami :Tn. N

Umur : 25 Thn Umur : 32 Thn

Suku :Sunda Suku : Betawi

Agama : Islam Agama : Islam

223
Pendidikan : SMP Pendidikan : S1

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Karyawan

Alamat Rumah : Jl. Boan Silan RT 01/RW 01 No. 47 Kelurahan Sudimara

Jaya, Ciledug Tanggerang

Manajemen Kala I

B. Anamnesa pada tanggal 11 Maret 2012 Pukul 19.30 WIB

Oleh : Rika Novia sari

1. Keluhan Utama pada waktu masuk

Ibu mengatakan mules sejak pukul 17.00 WIB dan sudah keluar lendir

darah

2. Riwayat Menstruasi

2.1. Riwayat Menstruasi

Hari pertama haid terakhir : 3 Juni 2012 ( Pasti ) Lamanya : 6 hari

Banyaknya : 3x Ganti pembalut Haid sebelumnya : 5 April 2011

Lamanya : 6 hari Banyaknya : 3x Ganti pembalut Konsistensi : Cair

Siklus : 28 hari ( Terarur ) TP : 10 Maret 2012

2.2. Pergerakan fetus dirasakan pertama kali : 16 Minggu

Pergerakan fetus dirasakan pada 24 jam terakhir : ± 20 kali

2.3. Keluhan yang dirasakan pada Kehamilan ini

Mual pada trimester pertama dan sering buang air kecil pada

trimester ketiga.

224
2.4. Tanda – tanda persalinan

His : ada sejak : pukul 17.00 Frekuensi: 3 x / 10 menit lamanya :

35 detik kekuatannya : kuat

2.5. Pengeluaran pervaginam

Darah lendir, jumlah : ± 30 cc Warna : merah bau khas

2.6. Riwayat Imunisasi

Imunisasi TT1: 11 Oktober 2011 TT2: 11 November 2011

2.7. Buang air besar dan buang air kecil ( kapan terakhir, ciri khas )

BAB : Tadi pagi, warna : kuning, konsistensi : lunak, bau khas

BAK : Pukul 19.00, warna : kuning, konsistensi : cair, bau khas

3. Riwayat Kehamilan

Tgl/Thn Tempat Usia Jenis Anak


No Penolong
Persalinan Persalinan Kehamilan Persalinan JK BB PB Kead

1. 2008 RSB Aterm Spontan Bidan LK 3000 48 Baik

Kartini gr cm

2. Hamil ini

C. Pemeriksaan

1. Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Kesadaran Emosional : Stabil

225
2. Tanda-tanda Vital

Tekanan Darah : 120/80 mmHg Denyut Nadi : 80x/menit

Suhu Tubuh : 36,5 ºC Pernafasan : 20x/menit

3. Tinggi Badan :157 cm Berat Badan : 58 kg Kenaikan selama hamil : 11

kg

4. Pemeriksaan Fisik

4.1. Muka :Kelopak Mata : Tidak Bengkak

Konjungtiva : Tidak pucat

Sklera : Tidak Kuning

4.2. Mulut :Lidah dan Gusi : Bersih dan tidak bengkak

Gigi : Tidak ada caries

4.3. Kelenjar Thyroid : Tidak ada pembesaran kelenjar

thyroid

4.4. Kelenjar Getah Bening : Tidak ada pembengkakan kelenjar

getah

bening

4.5. Dada

Jantung : Normal, Tidak ada murmur

Paru-paru : Normal, Tidak ada wheezing, tidak terdengar

ronchi

Payudara : Pembesaran : ya,kanan dan kiri

Puting susu : menonjol

Simetris : ya,kanan dan kiri

226
Benjolan : tidak ada

Pengeluaran : ASI,sedikit

Rasa Nyeri : tidak ada

Lain-lain : tidak ada

4.6. Punggung dan Pinggang

Posisi tulang belakang : lordosis fisiologis gravidarum

Pinggang nyeri : tidak ada

4.7. Ekstremitas atas : Oedema : tidak ada

Kekakuan otot dan sendi: tidak ada

Kemerahan : tidak ada

Varises : tidak ada

Refleks patella : +, kanan dan

kiri

4.8. Abdomen

Bekas Luka Operasi : tidak ada

Pembesaran : sesuai usia kehamilan

Konsistensi : tegang

Benjolan : tidak ada

Pembesaran lien /liver : tidak ada

Kandung kemih : kosong

5.Pemeriksaan Kebidanan

5.1. Palpasi (TFU 31 cm Mc. Donald)

Leopold I : Pada bagian fundus teraba bagian bulat,lunak,dan tidak

227
melenting (bokong)

Leopold II:Pada bagian kiri uterus ibu teraba bagian kecil

(ekstremitas)

Pada bagian kanan uterus ibu teraba panjang sperti

papan, keras dan ada tahanan ( punggung)

Leopold III:Pada bagian terendah teraba bulat,keras,tidak melenting

( kepala)

Leopold IV : stasi 3/5

TBJ : (31-12) x 155 = 2945 gram

5.2. Auskultasi

Denyut jantung fetus :140 x/menit

Frekuensi : teratur

Punctum Maksimum : terdengar jelas 1 titik di kuadran kanan

bawah,

3 jari bawah pusat

5.3. Anogenital (Inspeksi)

Perineum : tidak bengkak, tidak ada luka parut.

Vulva vagina : tidak bengkak, tidak varises, tidak

hematom.

Pengeluaran pervaginam : lendir darah

Kelenjar bartholini : tidak ada pembengkakan

Anus :Haemoroid : tidak ada

5.4. Pemeriksaan dalam atas indikasi

228
Pukul: 19.30 Wib oleh: Rika Novia Sari

1. Dinding vagina : tidak bengkak, tidak hematom, tidak ada varises

2. Portio :

a. Pembukaan : 5cm

b. Konsistensi : Tipis lunak

3. Ketuban : (+)

4. Presentasi : kepala

5.Penurunan bagian terendah : H2

D. Pemeriksaan Laboratorium : Dilakukan oleh TIM Laboratorium RSB

Kartini pada tangga 7 Maret 2012

Darah:Hb: 12,4 gr % Gol.Darah: 0/ Rh +

Urine:Protein: (-) Glukosa: (-)

II. ANALISA MASALAH / INTERPRETASI DATA DASAR

G2P1A0 hamil 40 minggu 2 Hari, inpartu kala 1 fase aktif.

Janin tunggal, hidup, intra uterin, presentasi kepala.

Data Subyektif

1. Ibu mengaku hamil anak kedua

2. Ibu mengaku sudah pernah 1 kali melahirkan

3. Ibu mengaku tidak pernah keguguran

4. Ibu merasakan ada gerakan janin

5. Ibu mengatakan HPHT tanggal 3 – 6 - 2012

Data Obyektif

1. Palpasi (TFU= 31 cm).

229
Leopold I : Pada bagian fundus teraba bagian bulat,lunak,dan tidak

melenting (bokong).

Leopold II: Pada bagian kiri uterus ibu teraba bagian kecil (ekstremitas).

Pada bagian kanan uterus ibu teraba panjang sperti papan,

keras dan ada tahanan ( punggung).

Leopold III: Pada bagian terendah teraba bulat,keras,tidak melenting

(kepala)

Leopold IV: stasi 3/5

TBJ : ( 31 -12)x155 = 2945 gram

Kontraksi : 3 x 10 menit lamanya 35 detik

2. Auskultasi

DJJ : 140x/menit teratur

Punctum Maksimum : Terdengar jelas 1titik di kwadrant kanan bawah, 3

jari bawah pusat

3. Periksa dalam

Dinding vagina : tidak bengkak,tidak hematom,tidak ada varises

Portio :

a. Pembukaan : 5 cm

b. Konsistensi : Tipis lunak

Ketuban : positif (+)

Presentasi : kepala

Penurunan bagian terendah : Hodge II

Posisi : Belum jelas

230
III. MASALAH POTENSIAL

Tidak ada.

IV. TINDAKAN SEGERA

Tidak ada.

V. PERENCANAAN TINDAKAN

1. Informasikan hasil pemeriksaan.

2. Lakukan pencegahan infeksi.

3. Anjurkan ibu untuk istirahat senyaman mungkin dan bila ibu mampu

untuk berjalan-jalan di sekitar ruangan.

4. Lakukan informed consent pada pihak keluarga.

5. Persiapkan ruangan, partus set, obat dan perlenggkapan ibu dan bayi

untuk

persalinan.

6. Berikan ibu nutrisi dan hidrasi.

7. Pantau kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf.

8. Ajarkan ibu teknik meneran dan teknik relaksasi yang baik dan benar.

9. Dokumentasikan seluruh hasil asuhan persalinan normal.

VI. PELAKSANAAN TINDAKAN

1. Menginformasikan hasil pemeriksaan saat ini kepada ibu dan keluarga

bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik. Saat ini ibu sudah waktunya

untuk bersalin, pembukaan sudah 5 cm. Ibu boleh meneran nanti pada saat

pembukaan sudah lengkap.

231
2. Melakukan pencegahan infeksi mencuci tangan saat sebelum dan sesudah

memeriksa ibu.

3. Menganjurkan ibu untuk beristirahat senyaman mungkin dengan posisi

miring kiri, agar sirkulasi darah janin tidak terganggu.

4. Melakukan informed consent pada pihak keluarga untuk persetujuan

bahwa ibu akan ditolong persalinannya, dan apabila terjadi sesuatu

bersedia dilakukan tindakan atau dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap

sesuai kebutuhan ibu.

5. Menyiapkan ruangan bersalin yang nyaman dan menjaga privasi klien,

serta menyiapkan alat partus set.

6. Memberikan ibu nutrisi dan hidrasi untuk menambah tenaga ibu dan

mencegah dehidrasi.

7. Memantau kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf, yaitu

mengobservasi his dan DJJ tiap 30 menit, dan mengobservasi TTV dan

periksa dalam tiap 4 jam.

8. Mengajarkan ibu teknik meneran yang baik dan benar, bila tiba waktunya

setiap ada his ibu meneran sekuat tenaga seperti ingin BAB dan

mengajarkan ibu teknik relaksasi pada saat his berkurang, yaitu dengan

menarik nafas panjang melalui hidung dn menghembuskannya perlahan

melalui mulut.

9. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan kemajuan persalinan dengan

SOAP.

VII. EVALUASI

232
1. Ibu dan keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan.

2. Petugas telah melakukan pencegahan infeksi

3. Ibu beristirahat terlebih dahulu sesuai dengan anjuran.

4. Ibu dan keluarga menyetujui tindakan yang akan diberikan dan telah

menandatangani informed consent.

5. Seluruh peralatan telah disiapkan.

6. Kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu telah terpenuhi.

7. Catatan kemajuan persalinan telah dimasukkan ke dalam partograf.

8. Ibu telah mengetahui teknik meneran dan teknik relaksasi yang baik

9. Seluruh asuhan kebidanan telah didokumentasikan ke dalam SOAP.

TABEL 3.1

OBSERVASI HIS DAN DJJ

NO Pukul His DJJ

1. 20.00 WIB 3 x 10’ 35” 138 x /menit

2. 20.30 WIB 4 x 10’ 35” 134 x /menit

3. 21.00 WIB 4 x 10’ 40” 134 x /menit

4. 21.30 WIB 4 x 10’ 40” 132 x /menit

5. 22.00 WIB 4 x 10’ 42” 138 x /menit

6. 22.30 WIB 5 x 10’ 45” 136 x / menit

7. 23.00 WIB 5 x 10’ 45” 134 x / menit

SOAP KALA I

Pukul 22.00 WIB

233
S :Ibu mengatakan mulesnya semakin sering.

O :Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional : stabil

Tekanan darah : 120/ 70 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Suhu : 36, 5 ºC,

Pernafasan : 20 x/menit. His 4 x 10 menit lamanya 42 detik , kekuatannya :

kuat, DJJ (+) frekuensi 136 x /menit. Dilakukan pemeriksaan dalam :

Dinding vagina ; tidak ada varises. Tidak ada pembengkakan, portio Tipis

lunak , Ø 8 cm , ketuban (+), presentasi kepala, penurunan H2(+), posisi :

UUK kadep.

A : G2P1A0 hamil 40 minggu 2 Hari Inpartu Kala I fase aktif, Janin hidup,

tunggal, intra uterine, presentasi kepala.

P : Asuhan kebidanan yang diberikan : Memberitahukan hasil pemeriksaan

pada ibu bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik. Ibu sudah pembukaan

sudah 8 cm. Ibu boleh meneran nanti pada saat pembukaan sudah lengkap.

Ibu mengerti dengan penjelasan yang telah diberikan. Menganjurkan ibu

untuk beristirahat senyaman mungkin dengan posisi miring kiri, agar

sirkulasi darah janin tidak terganggu. Ibu mengerti dan bersedia untuk

posisi miring kiri. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi untuk

menambah tenaga ibu dan mencegah dehidrasi. Nutrisi dan hidrasi ibu

telah terpenuhi. Menganjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemih,

dengan berkemih minimal setiap 2 jam karena akan menghambat turunnya

kepala dan tetap harus menjaga kebersihan alat kelaminnya.Memberikan

dukungan emosional seperti menganjurkan ibu untuk berdoa sesuai

keyakinannya agar ibu tetap tenang dan sabar. Memantau kemajuan

234
persalinan dengan menggunakan partograf, yaitu mengobservasi his dan

DJJ tiap 30 menit, dan mengobservasi TTV dan periksa dalam tiap 4 jam.

Menyiapkan ruangan dan tempat dengan penerangan yang cukup dan

hangat serta menyiapkan alat-alat partus, obat-obatan, persiapan ibu dan

bayi. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan kemajuan persalinan

dengan SOAP.

SOAP KALA II

Pukul 23.00 WIB

S :Ibu mengatakan perutnya makin terasa mulas, Ibu mengatakan ada

dorongan ingin meneran.

O :Ibu tampak gelisah, keadaan umum baik, kesadaran compos mentis,

keadaan emosional : stabil. Tekanan darah : 120 / 80 mmHg, Nadi : 80

x/menit, suhu : 36 ºC, pernafasan : 20 x/menit, His 5 x 10’45” – kuat, DJJ

(+) frekuensi 134 x /menit. Inspeksi : keluar lendir bercampur darah, dan

terdapat tanda gejala kala II yaitu adanya dorongan meneran, tekanan pada

anus, perineum menonjol, vulva membuka. pendarahan ± 70 cc. pada

pemeriksaan dalam : dinding vagina : tidak bengkak, tidak ada varises,

portio tidak teraba, Ø 10 cm (lengkap), ketuban (+), presentasi kepala,

penurunan H III, posisi UUK depan.

A : G2P1A0 hamil 40 minggu 2 Hari partus kala II, Janin hidup, tunggal, intra

uterine, presentasi kepala.

P : Asuhan kebidanan yang diberikan : Memberitahukan hasil pemeriksaan

pada ibu, bahwa ibu sudah saatnya akan bersalin dan ibu boleh meneran

235
karena pembukaan sudah lengkap dan saat adanya His. Ibu mengerti

dengan penjelasan yang diberikan. Menyiapkan diri dengan memakai alat

pelindung diri, dan mendekatkan partus set. Melakukan amniotomi,

amniotomi telah dilakukan warna air ketuban jernih. Memimpin ibu untuk

meneran saat datangnya his, dengan menarik nafas pajang terlebih dahulu

dan meneran dengan sekuat-kuatnya saat his berlangsung. Dan meminta

ibu untuk berelaksasi saat his berkurang. Ibu mengerti dan meneran sesuai

anjuran.Memberikan ibu nutrisi dan hidrasi saat his berkurang. Ibu telah

diberikan minum.Mendengarkan DJJ saat his berkurang. DJJ dalam batas

normal.Mempersiapkan kelahiran bayi yaitu meletakkan handuk diatas

perut ibu, handuk sudah diletakkan diperut. Melahirkan bayi dengan 58

langkah Asuhan Persalinan Normal yaitu memasang underpet, membuka

bak instrument, memakai sarung tangan, melakukan stenen dengan

melindungi perineum agar tidak terjadi rupture yang berlebihan,

kemudian cek lilitan tali pusat setelah kepala lahir, tunggu putaran paksi

luar, lakukan biparetal, lahirkan bahu dan tubuh bayi dengan sanggah

susur, bayi lahir spontan, menangis keras, warna kulit kemerahan dan

gerakan aktif. Meletakkan bayi diatas perut ibu dan segera mengeringkan

bayi dengan handuk bersih yang kering dan hangat, menyelimuti bayi

dengan handuk baru yang bersih dan hangat dengan kepala bayi lebih

rendah dari badan bayi, bayi sudah berada diatas perut ibu.

Mendokumentasikan hasil asuhan kebidanan yang diberikan.

236
Pukul 23.18 WIB bayi lahir spontan, letak belakang kepala, mengangis kuat,

tonus otot aktif, kulit kemerahan, jenis kelamin perempuan, berat badan 3000

gram, panjang badan 49 cm, lingkar kepala 34 cm, lingkar dada 33 cm.

SOAP KALA III

Pukul 23.25 WIB

S : Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas.

O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil.

Palpasi TFU sepusat, kontraksi baik, kandung kemih kosong. Terdapat

tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu semburan darah tiba-tiba, tali pusat

memanjang, uterus berbentuk globuler.

A : P2A0 partus kala III

P : Asuhan kebidanan yang diberikan : Menginformasikan pada hasil

pemeriksaan ibu bahwa bayi telah lahir, dan plasenta akan segera

diahirkan. Melakukan palpasi uterus untuk memastikan apakah ada janin

yang kedua atau tidak, palpasi telah dilakukan dan tidak ada janin

kedua.Melakukan Manajemen Aktif Kala III, yaitu : Menyuntikan 1 ampul

oksitosin 10 IU secara IM, Melakukan peregangan tali pusat terkendali,

Melakukan masase selama 15 detik. MAK III telah dilakukan. Mengecek

plasenta dan robekan. Plasenta lahir dengan kotiledon dan selaput ketuban

lengkap, pengecekan robekan terdapat robekan, grade I.

237
Pukul 23.25 plasenta lahir spontan,kotiledon dan selaput ketuban lengkap,

diameter 20 cm, tebal 2,5 cm, insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat 50

cm, pendarahan ± 150 cc terdapat rupture grade I heacting jelujur.

SOAP KALA IV

Pukul 01.25 WIB

S: Ibu mengatakan masih terasa lelah.Ibu mengatakan perutnya masih terasa

mulas dan ada darah yang keluar dari kemaluan sedikit.

O:Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil.

Tekanan darah :120/80 mmHg, Nadi :80x/menit, Suhu :36,2 ºC, Pernafasan

:20x/menit. TFU 2jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, perdarahan ± 100

cc, mobilisasi(+). Kandung kemih kosong.

A: P2A0Partus Kala IV

P: Asuhan kebidanan yang diberikan : Memberitahu hasil pemeriksaan saat ini

kepada ibu dan keluarga bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik , ibu dan

keluarga mengerti penjelasan yang diberikan.Melakukan hecting laserasi

perineum grade 1 di mukosa vagina sampai kulit perineum, penjahitan

dilakukan secara jelujur. Menempatkan semua peralatan di dalam klorin 0,5%

untuk didekontaminasi selama 10 menit, mencuci dan membilas peralatan

setelah didekontaminasi, membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke

238
dalam tempat sampah yang sesuai, semua peralatan telah dirapikan.

Mengobservasi TTV, TFU, kontraksi uterus, kandung kemih dan lochea setiap

15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.

Mengajarkan ibu untuk personal hygiene dengan cara membersihkan alat

kemaluan saat sesudah BAK atau BAB dari depan kebelakang dan ibu

mengerti.Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin.

Melakukan pendokumentasian.

C. NIFAS

1. Kunjungan Nifas Ke – 1, Tanggal 12 maret 2012 Pukul : 06.00 WIB

MANAJEMEN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

I. PENGKAJIAN

A. Identitas

Nama klien : Ny. P Nama suami : Tn. N

Umur : 25Thn Umur : 32Thn

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pendidikan : S1

Kebangsaan / suku : Sunda Kebangsaan / suku : Betawi

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Karyawan

Alamat rumah : Jl. Boan silan RT 01/01 No. 47 Kelurahan

Sudiramajaya, Ciledug Tanggerang

239
B. Anamnesa pada tanggal12 Maret 2012, pukul06.00 WIB

Oleh : Rika Novia Sari

1. Keluhan : Ibu masih merasa lelah

2. Riwayat persalinan & kelahiran

2.1 Jenis persalinan : Spontan Indikasi : Tidak ada Tanggal :11

Maret 2012 Pukul : 23.18 wib

2.2 Jenis Kelamin anak yang dilahirkan : P BB : 3000 grPB : 49 cm

Keadaan anak : sehat

2.3 Proses Persalinan

Ketuban Pecah : Pukul 23.00 WIB, ( Amniotomi )

Kala I : ± 6 Jam , Plasenta Lahir : Spontan, Pukul : 23.25 Wib

Kala II : 18 Menit , Ukur Tali pusat : ± 50 cm

Kala III: 10 Menit

Kala IV perineum : rupture Grade I,Jahitan : dengan jelujur.

Anastesi yang digunakan : Tidak ada

2.4 Jumlah pendarahan

Kala I : ± 30 cc

Kala II : ± 70 cc

Kala III : ± 150 cc

Kala IV : ± 100 cc

Total : ± 350 cc

2.5 Penyakit dan Komplikasi

Tekanan Darah Tinggi : Tidak ada

240
Kejang : Tidak ada

Infeksi : Tidak ada

Lain – lain : Tidak ada

2.6 Tindakan atau Pengobatan Pada Masa Persalinan

Tidak ada

2.7 Buang air besar : Belum

2.8 Buang air kecil : 2x, Pada Pukul 04.00, warna kuning

kemerahan, Bau : Khas

C. Pemeriksaan

a. Keadaan umum : Baik

b. Keadaan emosional : Stabil

c. Tanda-tanda vital

Tekanan darah : 120/70mmHg Denyut nadi : 80x/menit

Pernafasan : 20x/menit Suhu tubuh : 36°C

d. Payudara : Simetris Pembesaran : ada, kanan/kiri

Pengeluaran : ASI

e. Uterus

Tinggi Fundus Uterus : 2 jari di bawah pusat

Kontraksi Uterus : Baik

f. Pengeluaran Lochea:Rubra 1 – 3 hari

Warna : Merah Jumlah : 2 x ganti pembalut / hari

Bau : Amis Konsistensi : Cair

g. Perineum : Rupture Grade I

241
h. Ekstremitas : Oedema : Tidak ada

Refleks : kanan / Kiri (+) positif

Kemerahan : Tidak ada

D. Pemeriksaan Penunjang

Tidak dilakukan karena tidak ada indikasi

II. INTERPRETASI DATA DASAR

Diagnosa : P2A0 6 jam post partum

Data dasar

Subjektif : - Ibu mengatakan 6 jam yang lalu telah melahirkan anak kedua.

- Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran.

- Ibu mengatakan perutnya terasa mules

Objektif : Keadaan umum : baik , Kesadaran: composmentis, Keadaan

emosional : Stabil. Tekanan darah 120/70 mmHg, Nadi 80

x/menit, Suhu : 36 ºC, pernafasan : 20 x/menit. TFU : 2 jari di

bawah pusat, kontraksi perut baik, Kandung kemih: kosong.

III. MASALAH POTENSIAL

Tidak ada

IV. TINDAKAN SEGERA

Tidak ada

V. PERENCANAAN

1. Informasikan hasil pemeriksaan saat ini

2. Jelaskan tentang keluhan yang dirasakan ibu

242
3. Jelaskan tanda bahaya masa nifas

4. Anjurkan ibu untuk menjaga vulva hygiene

5. Anjurkan ibu membersihkan puting susu

6. Anjurkan ibu menyusui bayinya sesering mungkin

7. Anjurkan ibu untuk mobilisasi

8. Anjurkan ibu makan-makanan bergizi seimbang

9. Berikan tablet FE, vitamin A, vitamin pelancar ASI dan antibiotik

10. Anjurkan ibu untuk memeriksakan diri

11. Dokumentasikan seluruh asuhan persalinan yang telah dilakukan

VI. PELAKSANAAN

1. Menginformasikan hasil pemeriksaan saat ini kepada ibu dan keluarga

bahwa ibu dalam keadaan baik dengan semua hasil pemeriksaan dalam

batas normal, kontraksi uterus ibu baik.

2. Menjelaskan tentang keluhan yang dirasakan ibu bahwa perutnya yang

masih mules itu adalah hal yang normal, mules atau kontraksi pada ibu

post partum itu membantu mengecilkan uterus kedalam keadaan sebelum

hamil jadi ibu tidak perlu khawatir.

3. Menjelaskan tanda bahaya masa nifas yaitu demam tinggi, suhu badan

tinggi atau rendah, perdarahan terus menerus, penglihatan kabur, kepala

sakit berat, lochea berbau, payudara bengkak, jika ibu merasakan tanda

salah satu diatas ibu harus segera periksa kepetugas kesehatan.

243
4. Menganjurkan ibu untuk menjaga vulva hygiene yaitu membersihkan alat

kelamin ibu dengan menggunakkan sabun dan bilas dengan air bersih dari

arah depan kebelakang.

5. Menganjurkan ibu membersihkan puting susu setiap mandi dengan kapas

dan minyak telon sambil memeriksa payudara sendiri.

6. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin bila bayi

menangis dan setiap 2 jam sekali, bila bayi sering tidur bangunkan saja

bila waktunya sudah untuk disusui.

7. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi kekamar mandi untuk BAK/BAB.

8. Menganjurkan ibu makan-makanan bergizi seimbang seperti sayur-sayuran

hijau seperti daun singkong, bayam, kangkung, sawi, kacang panjang, dll,

lauk nabati tempe, tahu, kacang-kacangan, oncom, lauk hewani ikan,

ayam, hati, telur, dll, buah-buahan pepaya, mangga, jeruk, dll.

9. Memberikan tablet FE 1x1 vitamin A tablet vitamin pelancar ASI dan

antibiotik.

10. Menginformasikan tanggal kembali untuk memmeriksakan diri yaitu

tanggal 17 Maret 2012, tetapi bila sewaktu-waktu ada keluhan ibu harus

segera memeriksakan diri.

11. Mendokumentasikan seluruh hasil pemeriksaan.

VII. EVALUASI

1. Ibu dan keluarga mengerti dengan informasi yang telah dijelaskan oleh

bidan

2. Ibu mengerti dengan penjelasan mengenai keluhan yang dirasakan

244
3. Ibu mengerti dengan tanda bahaya masa nifas

4. Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan vulva hygiene

5. Ibu bersedia untuk membersihkan putting susu

6. Ibu bersedia untuk menyusui bayinya sesering mungkin

7. Ibu bersedia untuk melakukan mobilisasi

8. Ibu bersedia untuk makan – makanan bergizi seimbang

9. Ibu telah mendapatkan tablet Fe, Vitamin A, Pelancar ASI, Antibiotik

10. Ibu bersedia untuk memeriksakan diri

11. Pendokumentasian telah dilakukan.

2. Kunjungan Nifas Ke- 2, Tanggal : 17 Maret 2012 Pukul : 16.30 WIB

SOAP

S : Ibu mengatakan tidak ada keluhan

O: Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional stabil.

Tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi : 82 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit,

suhu : 36,6 ºC. Pembesaran payudara simetris dengan puting susu

menonjol kanan/kiri, tidak terdapat benjolan,tidak terdapat rasa nyeri,

terdapat pengeluaran ASI. Tinggi fundus uteri 3 jari atas sympisis,

kontraksi baik, kandung kemih kosong. Tidak bengkak pada wajah dan

245
ekstremitas. Pemeriksaan anogenitalia jahitan perineum masih sedikit

basah, keluar lochea sanguinolenta berwarna merah kecoklatan.

A : P2A0 6 hari post partum.

P : Asuhan kebidanan yang diberikan yaitu menginformasikan kepada ibu

tentang hasil pemeriksaan bahwa saat ini kondisi kesehatan ibu sehat, TD

110/70 mmHg, nadi 82x/menit, RR 20x/menit, suhu 36,6C. ibu sudah

mengerti hasil pemeriksaan yang di jelaskan. Menganjurkan ibu untuk

terus mengkonsumsi gizi seimbang terutamasayuran hijau dan buah–

buahan serta makanan yang tinggi protein, ibu mengerti dan akan

mengkonsumsi makanan yang dianjurkan.Mengingatkan ibu agar tetap

mempertahankan kebersihan daerah kemaluannya,membersihkannya

dengan air besih menggunakan sabun dari arah depan ke belakang,

mengganti pakaian dalam dan pembalut minimal 2 kali sehari, ibu

mengerti dan akan melakukannya. Mengingatkan ibu untuk memberikan

ASI sesering mungkin dan melanjutkan pemberian ASI Ekslusif sampai

bayi berusia 6 bulan tanpa makanan pendamping ASI apapun, ibu

mengerti dan akan melakukannya. Mengingatkan ibu untuk

Memberitahukan ibu jadwal kontrol ulang satu minggu lagi tanggal

23Maret 2012, ibu mengerti dan akan datang satu minggu lagi.

Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi sudah dilakukan.

D. Bayi Baru lahir

1. Kunjungan Neonatus Ke – 1, Tanggal : 11-3-2012 Pukul : 00.18 WIB

246
MANAJEMEN KEBIDANAN PADA NEONATUS

I. PENGKAJIAN

A. Identitas

Nama klien : Ny. P Nama suami : Tn. N

Umur : 25Thn Umur : 32 Thn

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pendidikan : S1

Kebangsaan / suku : Sunda Kebangsaan / suku : Betawi

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Karyawan

Alamat rumah : Jl. Boan Silan RT 01/01 No. 47 Kelurahan

Sudiramajaya, Ciledug Tanggerang

B. Anamnesa pada tanggal : 11 Maret 2012 Pukul : 00.18 WIB

Oleh : Rika Novia Sari

1. Riwayat Kehamilan Sekarang

a. Hamil muda ANC : Teratur 3 kali

Diperiksa oleh : Bidan

Keluhan : Mual dan muntah pada usia kehamilan 4

minggu

b. Hamil tua ANC : Teratur 5 kali

Diperiksa oleh : Bidan dan Rika Novia Sari

Keluhan : Sering BAK

247
c. Umur kehamilan : 40 minggu 2 hari

d. Gol. Darah ibu : O/ +

e. Gol. Darah ayah : A/ +

2. Penyakit pada kehamilan

a. Perdarahan : Tidak ada

b. Pre- eklamsia : Tidak ada

c. Eklamsia : Tidak ada

d. Penyakit kelamin : Tidak ada

e. Lain-lain : Tidak ada

3. Kebiasaan ibu waktu hamil

a. Makanan : 3xsehari, dalam porsi sedang

b. Obat-obat/jamu : Tidak ada

c. Merokok/minum alkohol:Tidak ada

d. Lain-lain : Tidak ada

4. Riwayat persalian dan nifas yang lalu

a. Jenis Persalinan : Spontan

b. Ditolong Oleh : Mahasiswi

c. Lama Persalinan : ± 6 jam 30 menit

d. Keadaan Air Ketuban : Jernih

C. Pemeriksaan fisik neonatus

1. Kesadaran umum : Baik

a. Kesadaran : Compos mentis

248
b. Denyut nadi : 140 x/menit

c. Pernapasan : 42 x/menit

d. Keaktifan : baik, aktif

e. Reflek menghisap : baik, Aktif

2. Pemeriksaan sistematik

a. Kepala : Tidak ada caput succedenum, tidak ada sefal hematom,

tidak ada hidrosefalus dan tidak ada anensefalus

b. Mata : Terdapat 2 bola mata yang simetris, tidak ada pendarahan

mata dan tidak ada tanda-tanda infeksi

c. Telinga : Memiliki 2 daun telinga dan lubang telinga yang simetris

dan tidak ada serumen reflek moro positif

d. Mulut : Memiliki 2 bibir dan 1 mulut tidak ada labio palato

genato shcizis, reflek rooting, sacking dan swalowing

positif

e. Hidung : Memiliki 2 lubang hidung dengan septum ditengah dan

tidak ada sekret

f. Leher :tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening dan tidak

ada pembesaran kelenjar tiroid dan reflek toniknek pofitif

g. Dada : terdapat 2 puting yang simetris, tidak ada retraksi dinding

dada, pernapasan normal tidak ada ronchi dan wheezing,

jantung normal tidak terdengar murmur

h. Perut : tidak ada benjolan, tidak ada omfalokel, tidak ada

pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan

249
i. Tali pusat : Memiliki 1 buah tali pusat dengan 1 vena dan 2 arteri,

tidak ada infeksi tali pusat, tidak ada perdarahan tali pusat

tali pusat masih basah terbungkus kassa kering.

j. Punggung : Tidak ada spina bifida.

k. Ekstremitas: Tidak ada sindaktili/polidaktili serta reflek walking

positif, refleks palmar positif, refleks plantar positif

l. Genetalia : Memiliki 2 labio mayora yang menutupi labio minora,

memiliki 1 klitoris, memiliki 1 lubang uretra, dan 1 anus

m. Kulit : Warna Kulit kemerahan.

3. Antropometri

a. Berat badan : 3000 gram

b. Panjang badan : 49 cm

c. Lingkar kepala : 34 cm

d. Lingkar lengan atas : Tidak dilakukan

e. Lingkar dada : 33 cm

4. Eliminasi

a. BAB : Belum

konsistensi : Belum

warna : Belum

bau : Belum

b. BAK : 1 kali

warna : Jernih

Jumlah : 1 x ganti popok

250
5. Kebutuhan nutrisi

a. Pemberian nutrisi : ASI

Frekuensi : tiap 2 jam

II. ANALISA MASALAH/INTREPRETASI DATA DASAR

1 Jam Neonatus cukup bulan sesuai Usia Kehamilan

Data Dasar :

Bayi lahir spontan pada tanggal 11 Maret 2012 pkl 23.18 Wib, LBK,jenis

kelamin: Perempuan, Menangis kuat, Warna kulit kemerahan, BB 3000 gr,

PB : 47 cm. Ibu mengatakan HPHT tanggal 3 Juni 2011

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL

Tidak ada

IV. TINDAKAN SEGERA

Tidak ada

V. PERENCANAAN TINDAKAN

1. Informasikan hasil pemeriksaan saat ini

2. Lakukan pencegahan infeksi

3. Keringkan dan Hangatkan bayi

4. Lakukan penimbangan dan pengukuran berat badan

5. Berikan salep mata

6. Berikan suntikan Vit K

7. Berikan Identitas

8. Beritahu ibu tanda bahaya bayi baru lahir

9. Dokumentasi

251
VI. PELAKSANAAN TINDAKAN

1. Menginformasikan hasil pemeriksaan saat ini kepada ibu dan keluarga

bahwa ibu dan bayinya dalam keadaan baik dengan seluruh hasil

pemeriksaan dalam batas normal.

2. Melakukan pencegahan infeksi dengan mencuci tangan setiap kali akan

memegang bayi dan menggunakan sarung tangan saat akan melakukan

pemeriksaan fisik .

3. Mengeringkan dan menghangatkan bayi untuk menjaga suhu tubuh bayi

tetap hangat agar tidak terjadi hipotermi.

4. Melakukan penimbangan berat badan dan panjang badan bayi.

5. Memberikan salep mata untuk mencegah infeksi akibat paparan cairan

tubuh ibu kemata bayi

6. Menyutikan vitamin K untuk mencegah perdarahan intrakranial didalam

otak akibat trauma saat persalinan berlangsung.

7. Memberikan identitas berupa penang ke tangan bayi

8. Memberitahu ibu tanda bahaya pada bayi baru lahir yaitu susah napas,

suhu badan tinggi atau rendah, malas minum ASI, kurang aktif, bayi

kuning, tali pusat berbau atau berdarah atau bernanah, bayi tidak BAB atau

BAK, mata bayi berlendir, bila ada tanda salah satu diatas maka ibu harus

secepatnya melapor kepada petugas.

9. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan

VII. Evaluasi

1. Ibu dan keluarga mengerti dengan informasi yang telah dijelaskan

252
2. Telah melakukan pencegahan infeksi

3. Suhu tubuh bayi telah dipertahankan

4. Ibu telah mengetahui panjang dan berat badan bayinya

5. Ibu mengetahui bayinya diberikan salep mata

6. Ibu mengetahui bayinya telah disuntikkan vitamin K

7. Bayi telah diberikan penang

8. Ibu telah mengetahui tanda bahaya bayi baru lahir

9. Seluruh hasil pemeriksaan telah didokumentasikan

2. Kunjungan Neonatus Ke-2, Tanggal : 11 Maret 2012, Pukul : 06.00 WIB

SOAP

S: Ibu mengatakan bayinya sudah mau menyusu

O : Keadaan umum bayi Baik, Suhu 36,5°C, Nadi 140 x/menit, Pernapasan

40 x/menit, Tali pusat masih basah dan tertutup kasa, Warna kulit kemerahan,

gerakan bayi aktif.

A : Neonatus 6 Jam cukup bulan sesuai usia kehamilan

P : Asuhan kebidanan yang diberikan adalah menginformasikan hasil

pemeriksaan saat ini bahwa keadaan bayi ibu dalam keadaan sehat,

pernapasan 40x/menit, 36,5˚C, keadaan bayi baik dan sehat, ibu mengerti

dengan penjelasan yang diberikan.Melakukan pencegahan infeksi yaitu

mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah

memegang bayi untuk mencegah kesakitan, kematian, dan mencegah

253
terjadinya infeksi pada bayi, pencegahan infeksi sudah dilakukan.

Memberitahukan ibu tentang cara merawat tali pusat yang baik dan benar

dengan cara mengganti kassa yang steril setelah memandikan bayi dan tidak

memberikan penambahan apapun pada kassa termasuk betadine atau

alkohol, ibu mengerti dan akan melakukannya. Mengingatkan kembali

mengenai tanda bahaya pada bayi baru lahir,yaitu susah napas, suhu badan

tinggi atau rendah, malas minum ASI, kurang aktif, bayi kuning, tali pusat

berbau atau berdarah atau bernanah, bayi tidak BAB atau BAK, mata bayi

berlendir, bila ada tanda salah satu diatas maka ibu harus secepatnya melapor

kepada petugas. Memberitahukan ibu kontrol tanggal 17 maret 2012, ibu akan

membawa bayinya untuk kontrol ulang. Mendokumentasikan seluruh hasil

pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

254
3. Kunjungan Neonatus ke-3 , Tanggal 17-3-2012, Pukul 16.30 WIB

SOAP

S : Ibu mengatakan tali pusat bayi sudah puput.

O : Keadaan umum bayi Baik, Suhu 36,5 °C, Nadi 142 x/menit, Pernapasan 45

x/menit, Berat badan 3100 gram, panjang badan 49 cm, Tali pusat sudah

puput dan kering, Warna kulit kemerahan, gerakan bayi aktif.

A : Neonatus 6 Hari Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan.

P : Asuhan kebidanan yang diberikan adalah menginformasikan hasil

pemeriksaan

saat ini bahwa keadaan bayi ibu dalam keadaan sehat, Berat badan 3100 gram,

panjang 49 cm, pernapasan 45 x/menit,36,5 ˚C, bayi dalam keadaan sehat dan

akan di imunisasi Hepatitis B 0, ibu mengerti dengan penjelasan yang

diberikan.Melakukan pencegahan infeksi yaitu mencuci tangan dengan sabun

dan air mengalir sebelum dan sesudah memegang bayi untuk mencegah

kesakitan, kematian, dan mencegah terjadinya infeksi pada bayi, pencegahan

infeksi sudah dilakukan. Mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat

yaitu dengan dengan membungkus tubuh bayi seluruhnya dengan selimut

bersih yang hangat dan kering, memberikan suhu ruangan/lingkungan yang

hangat dan memakaikan topi pada bayi, ibu mengerti dan akan melakukannya.

Mendokumentasikan seluruh hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

255
BAB IV

PEMBAHASAN

Tinjauan kasus pada bab ini mengambil kasus Ny P 25 tahun G2P1A0,

suku bangsa Sunda , Indonesia, Agama islam, Pendidikan SMP, pekerjaan Ibu

rumah tangga, bertempat tinggal di Jl. Boan Silan RT 01/01 No.47 Kelurahan

Sudimarajaya, Ciledug – Tanggerang.

A. Kehamilan

Berdasarkan hasil pengkajian riwayat kehamilan Ny. P usia 25 tahun,

G2 P1 A0, telah melakukan 8 kali pemeriksaan kehamilan (ANC) di bidan

secara teratur yaitu 1 kali pada awal kehamilan, 2 kali pada Trimester II, dan

5 kali pada Trimester III. Hal ini sesuai dengan kebijakan program yang

menyatakan bahwa Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal

dan Kebijakan program Asuham pada Kehamilan, Kunjungan antenatal

sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, yaitu 1 kali pada

trimester I, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III (Rukiyah,

dkk,2009:6).

Pada pemerikasaan pertama oleh penulis, dilakukan pengkajian

tanggal 14 Februari 2012 didapatkan hasil, HPHT tanggal 03 Juni 2011dan

diperkirakan tafsiran persalinan tanggal 10 Maret 2012, dihitung dengan

menggunakan Rumus neagle menggunakan usia kehamilan yang berlangsung

selama 288 hari. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa

256
Perkiraan kelahiran dihitung dengan menggunakan hari pertama haid terakhir

yang kemudian ditambah 288 hari. Rumus naegle dapat dihitung dengan

menambahkan hari pertama haid terakhir dengan tujuh dan bulannya

ditambahkan sembilan(Manuaba, 2010: hal 100).

Ny. P merasakan gerakan janin gerakan janin pada usia kehamilan 16

minggu, hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa Gerakan janin

dapat dirasakan oleh ibu pada usia kehamilan 16-20 minggu karena di usia

tersebut, dinding uterus mulai menipis dan gerakan janin menjadi lebih kuat

(Prawirohardjo, 2008:219).

Selama hamil Ny. P melakukan 2 kali suntik Imunisasi TT , hal ini

sesuai dengan teori, Pemberian imunisasi Tetanus toxoid pada kehamilan

umumnya diberikan 2 kali, imunisasi pertama diberikan pada usia kehamilan

16 minggu dan yang kedua diberikan 4 minggu kemudian dengan interval 4

minggu dari TT1 ke TT2(Rukiyah, dkk,2009:7)

Dalam pemeriksaan palpasi didapatkan hasil TFU Ny. P pada usia

kehamilan 36 minggu 4 hari adalah 29 cm (Mc.Donald), 37 minggu 4 hari

adalah29cm (Mc.Donald), 38 minggu 4 hari 31 cm (Mc.donald), 39 minggu 5

hari 31cm (Mc.donald), hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan

bahwa usia kehamilan 38 minggu Tinggi fundus uterinya adalah 33 cm diatas

simfisis ( Asuhan Kebidanan I, 2009 : 33)

Selama kehamilan Ny.P telah mendapatkan Tablet besi yang diberikan

dan ibu diminta untuk meminum tablet besi sesuai yang telah dianjurkan oleh

Mahasiswi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa Pemberian tablet besi pada ibu

257
hamil adalah untuk mencegah defisiensi zat besi. Wanita hamil perlu

menyerap zat besi rata-rat 60mg/hr, Tablet Fe diberikan satu tablet sehari

setelah rasa mual hilang, minimal mendapatkan 90 tablet besi selama

kehamilannya (Rukiyah, dkk,2009: 7)

Pada pemeriksaan kehamilan rutin yang dilaksanakan adalah standar

‘10T’ yaitu Timbang Berat Badan dan ukur tinggi badan, Ukur tekanan

Darah, Ukur tinggi fundus uteri ( TFU ), Pemberian tablet besi minimal 90

tablet selama kehamilan, Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid, Temu wicara

( konseling, termasuk perencanaan persalinan, dan pencegahan komplikasi)

serta KB pasca persalinan, Tes/pemeriksaan Hb, Tes/pemeriksaan urine, Tes

reduksi urine, Perawatan payudara (tekan pijat payudara) Disini terjadi

kesenjangan dengan teori. Sedangkan menurut teori, pelayanan/asuhan

standar minimal adalah ‘14T’ dengan menambahkan Tes terhadap penyakit

menular sexual/VDRL hal ini tidak dilakukan Ny P karena adanya kebijakan

dari RSB Kartini untuk Pemeliharaan tingkat kebugaran (senam hamil) hal ini

tidak dilakukan karena Ny P tidak berkenan dan kurang tertarik dengan

kegiatan senam hamil, Terapi yodium kapsul (khusus daerah endemic

gondok) dan Terapi obat malaria tidak dilakukan karena untuk saat ini Ny P

masih tinggal dikawasan yang tidak rawan dengan daerah gondok dan malaria

( Pantika Wati, 2010:9-10)

B. PERSALINAN

Masa persalinan Ny. P dimulai pada tanggal 11 Maret 2012 pukul

19.30 WIB, dengan usia kehamilan 40 minggu 2 hari.

258
KALA I PERSALINAN

Pukul 19.30 WIB, Ny P datang Ibu mengeluh mules-mules yang sakit

menjalar sampai kepinggang dan keluar lendir bercampur darah sejak pukul

17.00 WIB. hal ini sesuai teori yang mengatakan tanda-tanda persalinan

dimulai dengan kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak

kontraksi yang semakin pendek , pengeluaran lendir darah, dapat disertai

ketuban pecah (Manuaba, 2010: 173),

Kemudian dilakukan pemeriksaan dalam dengan hasil vulva vagina

tidak ada kelainan, portio tipis lunak, dan pembukaan 5 cm (Kala I fase

Aktif), ketuban (+) positif, presentasi kepala, penurunan Hodge II, posisi

belum teraba. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pada pemeriksaan dalam

dijumpai perlunakan dan pendataran serviks serta pembukaan serviks.

Persalinan pada Ny. P berjalan pada kala I ± 6 Jam, hal ini dianggap

normal karena pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 13 jam,

sedangkan pada multigravida berlangsung kira 7 jam, sesuai dengan teori

yang ada.

KALA II PERSALINAN

Pada pukul 23.00 Wib ibu mengalami kontraksi yang semakin sering

dan kuat, Ibu mengatakan ingin meneran rterlihat adanya tanda-tanda kala II

yaitu ada dorongan untuk meneran, anus terbuka, vulva menonjol, dan

pembukaan lengkap (10 cm), DJJ : 134 x/mnt, his: 5x10’45’’. Asuhan yang

diberikan kepada Ny. V adalah:

259
a. Memberikan dukungan kepada ibu. Hal ini sesuia dengan teori Penolong

persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan

anggta keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses

persalinan atau kelahiran bayi kepada merekan (Asuhan Persalinan

Normal, 2008: 79)

b. Mengatur posisi ibu saat meneran. Hal ini sesuai dengan teori yang

menyatakan bahwa Ibu dapat mengubah-ubah posisi secara teratur selama

kala II karena hal ini dapat memantu kemajuan persalinan. Ada Posisi

duduk atau setengah duduk, Jongkok atau berdiri, Merangkak atau

berbaring miring ke kiri (Asuhan Persalinan Normal, 2008: 82-84)

c. Pada pukul 23.00 WIB ibu di pimpin persalinan secara 58 langkah APN.

d. Membimbing ibu meneran. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan

bahwa Bila tanda pasti kala II telah diperoleh, tunggu sampai ibu

merasakan adanya dorongan spontan untuk meneran (Asuhan Persalinan

Normal, 2008:81)

e. Melakukan Amniotomi

Amniotomi telah dilakukan, warna air ketuban jernih. Hal ini sesuai

dengan teori yang menyatakan bahwa Amniotomi adalah pemecahan

selaput ketuban bila ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap,

setelah dilakukan pemecahan selaput ketuban maka lakukan pemeriksaan

air ketuban antara lain : warna air ketuban yang keluar saat dilakukan

amniotomi. ( Rukiyah, Ai yeyeh, 2009 : 115 )

260
Pukul 23.28 wib, bayi lahir spontan letak belakang kepala langsung

menangis kuat, warna kulit kemerahan, tonus otot aktif, jenis kelamin

perempuan

Kemudian setelah bayi lahir diletakkan diatas perut ibu dan

melakukan pemotongan tali pusat dan kemudian mengikatnya. Setelah itu

melakukan IMD dengan meletakkan bayi diatas perut ibu. IMD dilakukan

selama 1 jam ini merupakan suatu kesesuaian dengan teori yang ada yaitu

segera setelah bayi lahir dan tali pusat diikat, letakkan bayi tengkurap di dada

ibu dengan kulit bayi bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit

ke kulit ini berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan sampai bayi

dapat menyusu sendiri.

KALA III

Pada kala III Ny. P berlangsungpukul 23.25 WIB yang berlangsung

selama 7 menit. Hal ini sesuai dengan teori dimana biasanya plasenta lepas

dalam waktu 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2007).

Melakukan manajemen aktif kala III, penolong melakukan suntik Oxcytosin

10 IU secara IM di 1/3 paha kanan atas ibu bagian luar 1 menit setelah bayi

lahir (di suntikan1 menit setelah bayi lahir ini sesuai dengan 58 langkah

persalinan normal). Terjadinya pelepasan plasenta menggunakan manajemen

aktif kala III untuk mencegah perdarahan yaitu pemberian suntikkan oksitosin

10 IU secara IM di 1/3 bagian atas paha bagian luar, melakukan penegangan

tali pusat terkendali dan masase fundus uteri sesuai dengan teori yaitu untuk

261
mencegah perdarahan pascapersalinan dilakukan dengan manajemen aktif

kala III (Asuhan Persalinan Normal, 2008: 97).

KALA IV

Kala IV dilakukan pada pukul 01.25 wib, melakukan pemantauan 2

jam post partum pada Ny. PTekanan darah :120/80 mmHg, Nadi :80x/menit,

Suhu :36,2 ºC, Pernafasan :20x/menit. TFU 2jari dibawah pusat, kontraksi

uterus baik, perdarahan ± 100 cc, mobilisasi(+). Kandung kemih kosong.

Pemeriksaan ini dilakukan 15 menit pada satu jam pertama dan 30

menit pada satu jam kedua. Hal ini sesuai dengan teori dimana selama kala IV

petugas harus memantau TTV, kontraksi uterus, kandung kemih, perdarahan

dan tinggi fundus uteri setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30

menit selama 1 jam kedua setelah persalinan (Asuhan Persalinan Normal,

2008: 112).

C. Nifas

Penulis melakukan kunjungan nifas pada Ny P setelah 6 jam

postpartum sampai 6 hari setelah persalinan, hal ini tidak sesuai dengan

teoriyaitu Program kunjungan pada Masa Nifas adalah Kunjungan 6 – 8 jam

setelah persalinan, Kunjungan 6 hari setelah persalinan, Kunjungan 2 minggu

setelah persalinan, Kunjungan 6 minggu setelah persalinan. (Saifudin, 2009,

123 ). dikarenakan keterbatasan waktu sehingga penulis tidak dapat

melakukan kunjungan hingga 6 minggu post partum.

Pada Ny. P, masa nifas berlangsung dengan baik dan tidak ditemukan

kelainan-kelainan atau komplikasi apapun. Involusi yang terjadi yaitu 6 jam

262
post partum : 2 jari bawah pusat, 7 hari post partum : pertengahan simpisis

dan pusat, 6 minggu post partum : tidak teraba, ini sesuai dengan teori.

Pengeluaran lochia juga terjadi secara normal yaitu lochea rubra

terjadi pada hari pertama sampai hari ketiga berwarna merah setelah post

partum, lochea sanguilenta terjadi pada hari ke 3 – 7 berwarna putih

bercampur merah, pada hari ke 7 -14 hari post partum lochea serosa berwarna

kekuningan, dan setelah 14 hari postpartum lochea alba berwarna keputihan.

Hal ini sesuai dengan teori Yang mengatakan normal sesuai dengan teori

bahwa lochea berwarna putih setelah hari ke-14

Dari data diatas asuhan yang dapat diberikan adalah dapat

menganjurkan ibu untuk beristirahat setiap bayi tidur, untuk mencegah lelah

yang berlebihan, memberikan konseling tentang gizi ibu menyusui, konseling

tentang perawatan payudara dan menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya

secara eksklusif yaitu selama 6 bulan. Memberikan Penkes hubungan seksual

yang aman. Hal ini sesuai dengan teori.

D. BAYI BARU LAHIR

Pada By. Ny. P lahir pada tanggal 11 Maret 2012 Pukul 23.18 wib

dengan jenis kelamin perempuan, berat badan 3000 gr, panjang badan 49 cm,

lingkar kepala 34cm, lingkar dada 33cm, pada pemeriksaan reflek

keseluruhan didapatkan hasil positif , anus (+) positif dan tidak ditemukan

cacat kongenital. Hal Ini sesuai dengan teori yang mengatakan Bayi baru lahir

normal (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu

263
sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000

gram. (Wahyuni, 2012 : 1)

Sesaat setelah 1 jam dilakukan IMD, By. Ny. P di berikan salep mata

tetrasiklin 1 %. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa Salep mata

untuk pencegahan infeksi mata diberikan setelah 1 jam kontak kulit ke kulit

dan bayi selesai menyusu. Pemberian Vit K1 injeksi 1 mg setelah proses

IMD, hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa Semua BBL harus

diberi Vit K1 injeksi 1 mg IM setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu

untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat

dialami oleh sebagian BBL.

Pada perawatan bayi baru lahir khususnya perawatan tali pusat, penulis

tidak menggunakan alkohol atau betadine, hal ini sesuai dengan teori yang

mengatakan bahwa dilarang membubuhkan atau mengoleskan ramuan apapun

pada luka tali pusat sebab akan menyebabkan infeksi dan tetanus yang dapat

berakhir dengan kematian neonatal. (Manuaba, 2010: 20-21).

Pada kasus bayi Ny. P tidak dilakukan pemberian imunisasi

hepatitis B setelah 1 jam pemberian vit K. Hal ini sesuai dengan teori yang

menerangkan bahwa Jika belum diimunisasi hepatitis B, mintalah sebelum

bayi berumur 7 hari ( Departemen kesehatan RI, 2009 ).

Pada kunjungan neonatal 6 jam berdasarkan hasil pemeriksaan

didapatkan data keadaan umum bayi baik, keadaan fisik tidak ada kelainan,

tanda-tanda vital dalam batas normal, berat badan 3000 gram, panjang badan

49 cm, refleks hisap baik. Penatalaksanaan yang dilakukan yaitu

264
mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat dengan cara membungkus

dengan selimut/bedongan, menghangatkan ruangan, dan melakukan

perawatan pada bayi baru lahir dengan cara memandikannya setelah 6 jam

kelahiran, hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa tunggu

minimal enam jam setelah lahir untuk memandikan bayi (lebih lama jika bayi

mengalami asfiksia atau hipotermi). Menjelaskan serta melakukan

pemantauan tentang tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir, seperti Tidak

dapat menyusu, Kejang, Mengantuk atau tidak sadar, Nafas cepat, dan

Merintih.

Pada kunjungan 6 hari Ibu mengatakan bayinya kuat menyusu

didapatkan hasil bayi dalam keadaan kondisi sehat tidak ada kelainan.

Rangkaian asuhan telah dilakukan pada Ny. P oleh penulis mulai dari

kehamilan, persalinan, nifas serta Bayi Baru Lahir telah dilakukan oleh

penulis. Selain itu penulis tidak hanya melakukan asuhan sebatas di RSB

Kartinisaja, tetapi juga melalui kunjungan ke rumah Ny. P. Selama

memberikan asuhan penulis banyak melakukan komunikasi serta memberikan

penyuluhan kesehatan baik pada ibu maupun keluarga. Selama kunjungan

pun sikap ibu dan keluarga sangat peduli dan komunikatif, hal ini

diperlihatkan dari minat ibu untuk mendengarkan serta bertanya tentang

perkembangan dan masalah pada Bayi Baru Lahir juga keluhan masa nifas.

Semua anjuran yang di berikan oleh penulis dijalankan oleh ibu dengan baik,

bagi ibunya sendiri maupun untuk bayinya, sehingga membuahkan hasil

seperti yag diharapkan.Selama memberikan asuhan tidak ditemukan adanya

265
komplikasi pada ibu maupun pada bayi, baik selama kehamilan, persalinan

juga nifas. Hanya saja masih terdapat kesenjangan antara teori dengan praktek

yang dilapangan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kehamilan

Berdasarkan hasil pengkajian riwayat kehamilan pada Ny “P” telah

menjalani 12 kali pemeriksaan kehamilan (ANC) di RSB Kartini secara

teratur. Selama hamil Ny “P” mengalami kenaikan berat badan hingga 11

kg hal ini masih dalam batas normal, Ny”P” mendapatkan imunisasi TT

sebanyak 2 kali dengan lama perlindungan 3 tahun, selama hamil tidak

266
dilakukan pemeriksaan terhadap PMS pada Ny “P” dikarenakan tidak ada

indikasi.

Pada ANC I Ny “ P“ Tidak terdapat keluhan, jadi didapatkan hasil

pada pemeriksaan ANC I dalam batas normal.

Pada ANC II Ny”P” mengatakan tidak ada keluhan, jadi didapatkan

hasil pada pemeriksaan ANC II dalam batas normal.

Pada ANC III Ny “P” mengatakan tidak ada keluhan, jadi didapatkan

hasil pemeriksaan ANC III dalam batas normal.

Pada ANC IV Ny “P” mengeluh sering buang air kecil, hal ini

menunjukkan bahwa Ny”P” mengalami ketidaknyamanan fisiologis

trimester III. Penatalaksanaannya menginformasikan tentang

ketidaknyaman fisiologis trimester III dan memberitahukan ibu bahwa hal

ini dapat diatasi dengan mengurangi minum setelah makan malam atau

minimal minum 2 jam sebelum tidur, menghindari minum yang

mengandung kafein, jangan mengurangi kebutuhan air minum ( minimal 8

jam gelas per hari) perbanyak disiang hari, dan lakukan senam kegel.

2. Persalinan

Masa intranatal Ny”P” berjalan normal dan lancar, serta ditolong

secara Asuhan Persalinan Normal dan dilakukan IMD pada bayi. Kala I

berlangsung ± 6 jam . Kala II berlangsung 18 menit dan terdapat luka

laserasi perineum grade 1,dan telah dilakukan heacting secara jelujur. kala

III berlangsung 10 menit dengan melakukan manajemen aktif kala III, kala

267
IV dilakukan pemantauan selama 2 jam postpartum yaitu TTV, TFU,

kontraksi, kandung kemih, perdarahan.

3. Nifas

Masa nifas Ny”P” berjalan normal, dengan melakukan kunjungan

sebanyak 2 kali. Pada pemeriksaan post parum 6 jam, 6 hari, didapatkan

data involusi uterus berjalan normal, lochea sesuai masanya, tidak ada

kesulitan menyusui, tidak ada tanda-tanda infeksi dan tidak ditemukan

masalah.

4. Bayi baru lahir

Bayi Ny”P” lahir spontan, presentasi belakang kepala dengan usia

kehamilan 40 minggu 2 hari, bayi langsung menangis kuat, warna kulit

kemerahan dan tonus otot aktif, dilakukan IMD dan perawatan bayi baru

lahir. Pada umur 1 jam bayi Ny”P” mendapatkan salep mata tetrasiklin 1%

dan vitamin K 1 mg/IM.

Pada kunjunagn 6 jam, dilakukan pemeriksaan fisik secara sistematis,

tidak ditemukan adanya kelainan, bayi mau menyusu, reflek sacking

positif. Pada kunjungan 6 hari tali pusat sudah lepas dan terjadi

peningkatan berat badan 100 gram dan bayi sudah mendapatkan imunisasi

Hepatitis B.

B. Saran

1. Bagi penulis

Agar lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam

praktik kebidanan sesuai dengan standar kebidanan yang telah disiapkan.

268
2. Bagi Klien

Perlunya kerjasama dan kesabaran klien serta keluarga dalam mentaati

anjuran yang diberikan tenaga kesehatan hal ini demi kebaikan dan

kesehatan klien sendiri.

3. Bagi RSB Kartini /Tenaga Kesehatan

Tetap menjalin hubungan kerjasama yang baik antara petugas

kesehatan dengan klien dan keluarga karena sangat membantu menentukan

diagnosa dan rencana selanjutnya. Perlunya peningkatan kualitas dan

informasi terkini bagi semua bidan dalam menerapkan IMD sesuai

program pemerintah sehingga dapat melayani klien sesuai kebutuhan klien

dan mencapai tujuan yang ingin dicapai.

4. Institusi Pendidikan

Diharapkan agar melengkapi buku-buku diperpustakaan untuk lebih

menunjang kegiatan belajar mengajar.

269