Anda di halaman 1dari 6

POTENSI PERKEMBANGAN E- COMMERCE DALAM MENUNJANG BISNIS DI INDONESIA

Brian Adnan Guntoro

Program Studi Pembangunan Wilayah Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada

email: guntorobrian@yahoo.co.id

Abstract

This research aims to clarify that the development of e-commerce in Indonesia has a high potential market. Starting from local business pioneered by entrepreneurs who know the ins and outs of information technology and would like to promote the results of its products to social media, no escape from the perception of the internet as a medium of information fast and spreaders. The development of a more advanced technology and high innovation by entrepreneurs making the rate of e- commerce business more quickly and widely known by the public. So that has resulted in a greater advantage when compared with other corporate ventures that don't rely on e-commerce. The achievement of success is not as easy as imagined because of the support of stakeholders such as the Association of e-commerce and the Government in overcoming the problems that exist and continue doing this until the fix. Prediction of growth of startup/ online based business in Indonesia will continue to increase from year to year due to the dynamics of the understanding of the people towards information technology-based online.

Key words: development; e-commerce; entrepreneurs; technology; social media; business; advantage; stakeholders; startup

Intisari

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa perkembangan e- commerce di Indonesia memiliki pasar potensial yang tinggi. Berawal dari bisnis lokal yang dipelopori oleh pengusaha- pengusaha yang mengetahui seluk beluk teknologi informasi dan ingin mempromosikan hasil produknya ke media sosial, tidak lepas dari persepsi internet sebagai media penyebar informasi yang cepat dan luas. Perkembangan teknologi yang semakin maju dan tingginya inovasi oleh para pengusaha membuat laju bisnis e-commerce semakin cepat dan dikenal luas oleh masyarakat. Sehingga telah menghasilkan keuntungan yang lebih besar apabila dibandingkan dengan usaha korporasi lainnya yang tidak mengandalkan e- commerce. Pencapaian keberhasilan tersebut tidak semudah yang dibayangkan karena tidak lepas dari dukungan stakeholder seperti asosiasi e-commerce dan pemerintah dalam mengatasi masalah- masalah yang ada dan terus melakukan memperbaiki sampai saat ini. Prediksi pertumbuhan startup/ bisnis berbasis online di

Indonesia akan terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan dinamika pemahaman masyarakat terhadap teknologi informasi berbasis online.

I. Pendahuluan Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar dunia, yaitu mencapai 240 juta jiwa pada tahun 2014. Banyaknya jumlah penduduk tersebut membuat mobilitas perekonomian semakin meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya perekonomian suatu wiilayah tentu salah satunya harus didorong dengan infrastruktur yang baik agar terwujud kemudahan aksesibilitas antar wilayah. Tantangan terhadap penambahan maupun perbaikan infrastruktur wilayah tidaklah mudah karena faktor geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Hal ini membuat para pengusaha pelaku bisnis membuat inovasi baru dengan memanfaatkan internet untuk kegiatan e-commerce. E-commerce merupakan forum jual- beli maupun jasa tertentu melalui internet yang mulai berkembang di Indonesia pada awal abad ke- 20. Terdapat empat jenis model yang berkembang di Indonesia diantaranya adalah: B2B (Bussines to Bussines), B2C(Bussines to Consumer), C2B (Consumer to Bussines), C2C (Consumer to Consumer). Contoh startup yang sudah terkenal di Indonesia adalah Zalora, Blibli, Bhinneka, Kaskus, Lazada, Tokopedia, dan beberapa startup lainnya. Masyarakat sebagian besar mulai menyadari bahwa besarnya manfaat yang diperoleh dari transaksi startup dikarenakan oleh beberapa faktor pada umumnya, yaitu transaksi dapat dilakukan secara mudah dimanapun pengguna berada, terdapat variasi maupun pilihan produk dan jenis- jenis pengiriman yang tersedia, dan tidak memerlukan banyak pengeluaran karena harga yang diperoleh lebih kompetitif dan murah apabila dibandingkan dengan toko offline. Tidak hanya itu, masih ada sebagian masyarakat yang sudah mengetahui akan bisnis e-commerce akan tetapi enggan untuk mengakses kembali karena beberapa alasan diantaranya: rawan penipuan, barang tidak sesuai dengan pemesanan yang diinginkan, dan sering terjadinya keterlambatan waktu. Adanya kelemahan tersebut menuntut inovasi dan kreativitas para pelaku usaha bisnis e-commerce untuk dapat memperbaiki dan mengatasi kendala yang ada agar kepercayaan masyarakat terhadap bisnis tersebut bisa bertambah lebih banyak.

II. Isi dan pembahasan Kota merupakan tempat berkumpulnya pusat- pusat kegiatan jual beli barang dan jasa, dengan pengeluaran biaya atau ongkos relatif murah dan memperoleh informasi cepat, maka hal tersebut tidak lepas dari dukungan infrastruktur yang baik(Reksohadiprojo, Sukanto. 2001). Salah satu infrastruktur penting adalah sarana dan prasarana komunikasi, karena mempunyai peran penting dalam menjalankan bisnis usaha terutama berbasis online. Awal tahun 2012, baru terdapat belasan startup bisnis yang masuk di Indonesia. Karena perkembangan bisnis tersebut memiliki nilai potensi yang besar, maka pada tahun 2014 telah terdaftar sedikitnya 51 startup yang dikenal oleh masyarakat. Bisnis berbasis online ini juga mulai dilirik

oleh investor baik lokal maupun mancanegara atau Venture Capital(VC), seperti:

Cyber Agent, Rocket Internet, Ideo Source, dan East Ventures yang turut membantu dalam pemasangan platform perusahaan nasional. Melihat dari data jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2014 yang telah mencapai angka 82 juta orang atau sekitar 30% dari total jumlah penduduk. Penggunaan internet untuk keperluan transaksi bisnis telah mencapai 130 T (7%), dimana nilai tersebut masih cukup jauh apabila dibandingkan dengan negara Tiongkok dimana nilai transaksinya mencapai 30%. Hal tersebut tidak lepas dari berbagai faktor diantaramya yaitu: 1)Layanan debit dan kredit, 2)Layanan ISP(Internet Service Provider), 3)Teknologi smartphone, dan 4)kepercayaan konsumen terhadap transaksi bisnis online. Indonesia menempati urutan kelima dalam penjualan bisnis e-commerce se-Asia setelah Tiongkok, Jepang, Korea, dan India. Prediksi yang dilakukan oleh salah satu perusahaan layanan debet dan kredit ternama dunia (Master Card) telah memprediksi bahwa tahun 2013 potensi pasar e- commerce mencapai 383,9 USD dan hingga tahun 2017 diperkirakan akan tumbuh sebesar 1052,9 USD. Prediksi tersebut merupakan sebuah gambaran yang menjanjikan dalam pemanfaatan bisnis online. Adanya bisnis tersebut membuat para pencari kerja(job seeker) ikut berpartisipasi untuk bergabung startup penyedia jasa bisnis online, mereka tertarik karena beberapa alasan seperti gaji yang lebih besar, jenjang karir yang baik, dan budaya perusahaan yang berbeda dari korporasi lainnya. Sehingga tidak heran apabila rekrutmen tenaga kerja di bidang ini cukup kompetitif dan menghasilkan output sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Sebuah perusahaan yang berada di Jakarta pernah melakukan penelitian mengenai transaksi bisnis online pada tahun 2012, dimana awal tahun telah mencatat bahwa transaksi mencapai presentase sebesar 41% dan enam bulan kemudian mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 22% dari total transaksi yang dilakukan. Perusahaan tersebut telah menganalisis bahwa sebagian besar transaksi tersebar merata ke berbagai penjuru di luar wilayah Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi distribusi bisnis e-commerce yang merata yang mulai diminati oleh masyarakat luas. Perilaku gaya hidup masyarakat dari golongan atas mulai mempengarhi gaya hidup kelas menengah dimana terdapat 74 juta orang konsumen kelas menengah pada tahun 2013 dan diproyeksikan akan bertambah dua kali lipat sebesar 141 juta pada tahun 2020. Hal tersebut merupakan sebuah potensi pasar yang sangat menarik perhatian para pengusaha- pengusaha untuk memasarkan produknya. Konsumen yang ada di Indonesia rata- rata menggunakan internet banking dan Cost of Delivery (COD) dalam bisnis online selama ini. Data terakhir pada tahun 2013 terjadi peningkatan yang signifikan sebesar 3.642 triliun dibandigkan dengan tahun sebelumnya sebesar 3.476 triliun. Peningkatann tersebut didorong oleh tingkat penggunaan internet oleh masyarakat. Masyarakat tercatat telah menggunakan layanan I-Banking sebesar 5,7 juta jiwa atau sekitar 9% dari total jumlah penduduk yang ada di Indonesia.

Melihat adanya potensi bisnis e-commerce yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, tahun 2016 di era pemerintahan Jokowi menyambut positif dengan

membuka dukungan bisnis tersebut dengan harapan dapat mendorong perekonomian masyarakat di Indonesia. Pemerintah memiliki inisiasi terhadap bisnis tersebut untuk menjadi sebuah industri sebagai landasan pembangunan, dengan melibatkan stakeholder yaitu asosiasi e-commerce dan pemerintah seperti Kementrian Perdagangan(Kemendag), Kementrian Komunikasi dan Informasi(Kemkominfo), dan Badan ekonomi kreatif(Bekraf). Bentuk dukungan pemerintah adalah membangun posisi strategis melalui tujuh aspek diantaranya adalah: logistik, finansial, pajak, pengembangan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur komunikasi, perlindungan konsumen, dan keamanan internet. Ketujuh aspek tersebut akan memudahkan para pelaku usaha e-commerce dalam mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Pemerintah memberikan suntikan dana finansial melalui berbagai jenis pendanaan, diantaranya adalah: hibah, subsidi, kredit usaha rakyat, seed capital,dan ventura. Tidak hanya aspek finansial, pemerintah membuat suatu teknologi khusus untuk mengumpulkan data transaksi ke dalam sebuah basis data digital yang bertujuan untuk mempermudah verifikasi data pengguna bisnis online. Pemerintah juga melakukan pembukaan bursa saham teknologi dengan maksud menarik investor untuk menanamkan modal terknologi yang bisa diterapkan dan dikembangkan di Indonesia. Selain itu peningkatan usaha- usaha pendidikan termasuk dalam usaha pengembangan sumberdaya manusia (Human Resource Development) yang bertujuan untuk melatih calon tenaga kerja yang terdidik dan terlatih, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan output yang dihasilkan(Sitohang, Paul. 1975). Satu hal yang penting adalah masalah keamanan bagi penyedia platform online, dimana basis data harus terlindung dari pihak yang tidak bertanggungjawab dan dibentuk sebuah aturan atau regulasi dengan nama “Safe Harbor Policy”.

III. Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi bisnis e-commerce di Indonesia adalah sangat besar, melihat jumlah pengguna internet yang cukup banyak dan perkembangan transaksi online yang besar telah menjadikan kesempatan emas bagi para pengusaha bisnis tersebut untuk menawarkan produknya, dengan berbagai cara yang inovatif dan kreatif. Pandangan pemerintah terkait dengan berkembangnya bisnis tersebut disambut dengan implementasi kerjasama antara stakeholder terkait untuk membuka akses strategis dengan para pengusaha bisnis e-commerce agar dapat menimbulkan dampak multipilier effect, yaitu berkembangnya perekonomian antar wilayah, membuka lapangan kerja baru, meningkatnya kualitas sumberdaya manusia, dan berkembangnya infrastruktur khususnya di bidang telekomunikasi.

IV. Daftar Pustaka Reksohadiprojo, Sukanto. 2001. Ekonomi Perkotaan, Edisi Keempat. BPFE. Yogyakarta Sitohang, Paul. 1975. Dasar- Dasar Ilmu Ekonomi Regional. FEUI. Jakarta

WSJ. Event Veritrans: Rise of E-commerce. Majalah Marketing. Edisi

08/XIV/Agustus/2014.

www.startupbisnis.com. “Pertumbuhan internet banking dan ecommerce di Indonesia atm dan cod mendominasi” diakses oleh Brian Adnan Guntoro tanggal 13 September 2016, pukul 20.45 WIB www.startupbisnis.com. “Data Statistik Mengenai Pertumbuhan Pangsa Pasar E-Commerce di Indonesia Saat Ini” diakses oleh Brian Adnan Guntoro tanggal 15 September 2016, pukul 13.45 WIB www.startupbisnis.com. “Industri E-Commerce Sambut Babak Baru Perekonomian Digital Indonesia” diakses oleh Brian Adnan Guntoro tanggal 15 September 2016, pukul 14.00 WIB www.startupbisnis.com. “BukaLapak, Tokopedia, Blibli & Go-Jek: Lebih Enak Kerja di Mana?” diakses oleh Brian Adnan Guntoro tanggal 18 September 2016, pukul 20.22 WIB

Komponen Penilaian

Nama: Brian Adnan. G

NIM :14/368670/GE/07917

No

Komponen

Keterangan

Nilai

Maksimal

1

Penyajian essay:

   

kerapian dan presentasi

2

Kelengkapan

   

struktur essay:

pendahuluan,

batang tubuh/isi,

3

Bahasan essay:

   

i)bagaimanakah Saudara menjawab pertanyaan essay (paper), ii)dukungan teori dan konsep ataupun pengalaman empiris dari berbagai sumber, iii)bagaimanakah merefer, mengkutip, memparafrasekan berbagai sumber-sumber: teori, konsep dan penelitian empiris sebelumnya guna mendukung essay Saudara, dan iv) argumentasi/pendapat yang Saudara berikan dalam menjawab

4

Tata tulis: i) gaya bahasa: EYD, ii) ada tidaknya salah ketik ataupun tanda baca sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran terhadap tulisan/ide/gagasan Saudara, iii) tata cara penulisan referensi,

   

5

Daftar Pustaka