Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hipertiroid di Indonesia masih banyak dijumpai, karena hipertiroid dapat


disebabkan beberapa penyebab antara lain : penyakit Graves (75%) Hipertiroid
dapat terjadi di daerah endemik maupun cukup yodium, sehingga masyarakat
yang mengalami hipertiroid ini memerlukan perawatan dan pengobatan yang baik.
Hipertiroid lebih banyak pada wanita dibandingkan pria dengan rasio 1:5, dan
banyak terjadi di usia pertengahan. Beberapa kepustakaan luar negeri
menyebutkan insidensinya masa anak diperkirakan 1/100.000 anak per tahun.
Mulai 0,1/100.000 anak per tahun untuk anak usia 0-4 tahun meningkat sampai
dengan 3/100.000 anak per tahun pada usia remaja . Hipertiroid menyebabkan
kelainan pada banyak organ salah satunya pada sistem kardiovaskular. Beberapa
studi dan penelitian mengemukakan bahwa terjadi atrial fibrilasi 33 dari 47%
pasien dengan umur lebih dari 60 tahun. Serta kurang dari 1% kasus serangan
baru atrial fibrilasi disebabkan hipertiroid. Dan penelitian yang dilakukan oleh
Nakazawa melaporkan 11.345 pasien dengan hipertiroid 288 kasus disertai atrial
fibrilasi, 6 kasus mengalami emboli sistemik, diantaranya mengalami gagal
jantung, diantaranya berusia > 50 tahun.

Kelainan tiroid merupakan kelainan endokrin tersering kedua yang ditemukan


selama kehamilan. Berbagai perubahan hormonal dan metabolik terjadi selama
kehamilan, menyebabkan perubahan kompleks pada fungsi tiroid maternal.
Hipertiroid adalah kelainan yang terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan
hormon tiroid yang berlebihan dari kebutuhan tubuh

1.2. Tujuan
1. Tujuan Umum
Dari penyusunan makalah ini diharapkan penulis dapat mengerti,
memahami dan memperoleh gambaran tentang penerapan asuhan keperawatan
pada klien hipertiroid.

0
2. Tujuan Khusus
Setelah penulisan makalah ini, penulis mampu :
a) Menjelaskan konsep dasar penyakit hipertiroid dimulai dari pengertian,
penyebab, patofisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik
sampai dengan penatalaksanaan medik pada penderita hipertiroid.
b) Melakukan pengkajian pada klien penderita hipertiroid.
c) Merumuskan diagnosa keperawatan kepada klien penderita hipertiroid
d) Menyusun intervensi keperawatan pada klien penderita hipertiroid
e) Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien penderita hipertiroid
f) Melakukan evaluasi keperawatan pada klien penderita hipertiroid

1
BAB II

PPEMBAHASAN

2.1. Definisi

Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana


didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu
kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan
memberikan hormon tiroid berlebihan.

Hipertiroidisme adalah kadar hormon tiroid yang bersirkulasi berlebihan.


Gangguan ini dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid hipofisis, atau
hipotalamus. (Elizabeth J.Corwin)

Hipertiroidisme dapat didefinisikan sebagai respon jaringan-jaringan


terhadap pengaruh metabolik terhadap hormon tiroid yang berlebihan (Price &
Wilson)

Hipertiroid adalah suatu ketidakseimbangan metabolik yang merupakan


akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan. (Dongoes E, Marilynn)

Hipertiroid atau Hipertiroidisme adalah suatu keadaan atau gambaran


klinis akibat produksi hormon tiroid yang berlebihan oleh kelenjar tiroid yang
terlalu aktif. Karena tiroid memproduksi hormon tiroksin dari lodium, maka
lodium radiaktif dalam dosis kecil dapat digunakan untuk mengobatinya
(mengurangi intensitas fungsinya).

2
2.2. Anatomi Fisiologi

a. Anatomi

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar berwarna merah kecoklatan dan


sangat vascular. Terletak di anterior cartilago thyroidea di bawah laring setinggi
vertebra cervicalis 5 sampai vertebra thorakalis 1. Kelenjar ini terselubungi
lapisan pretracheal dari fascia cervicalis dan terdiri atas 2 lobus, lobus dextra dan
sinistra, yang dihubungkan oleh isthmus. Beratnya kira2 25 gr tetapi bervariasi
pada tiap individu. Kelenjar tiroid sedikit lebih berat pada wanita terutama saat
menstruasi dan hamil. Lobus kelenjar tiroid seperti kerucut. Ujung apikalnya
menyimpang ke lateral ke garis oblique pada lamina cartilago thyroidea dan
basisnya setinggi cartilago trachea 4-5. Setiap lobus berukutan 5x3x2 cm. Isthmus
menghubungkan bagian bawah kedua lobus, walaupun terkadang pada beberapa
orang tidak ada. Panjang dan lebarnya kira2 1,25 cm dan biasanya anterior dari
cartilgo trachea walaupun terkadang lebih tinggi atau rendah karena kedudukan
dan ukurannya berubah.

Kelenjar ini tersusun dari bentukan bentukan bulat dengan ukuran yang
bervariasi yang disebut thyroid follicle. Setiap thyroid follicle terdiri dari sel-sel
selapis kubis pada tepinya yang disebut SEL FOLIKEL dan mengelilingi koloid di
dalamnya. Folikel ini dikelilingi jaringan ikat tipis yang kaya dengan pembuluh

3
darah. Sel folikel yang mengelilingi thyroid folikel ini dapat berubah sesuai
dengan aktivitas kelenjar thyroid tersebut. Ada kelenjar thyroid yang hipoaktif, sel
foikel menjadi kubis rendah, bahkan dapat menjadi pipih. Tetapi bila aktivitas
kelenjar ini tinggi, sel folikel dapat berubah menjadi silindris, dengan warna
koloid yang dapat berbeda pada setiap thyroid folikel dan sering kali terdapat
Vacuola Resorbsi pada koloid tersebut.

b. Fisiologi

Hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid memiliki dua
buah lobus, dihubungkan oleh isthmus, terletak di kartilago krokoidea di leher
pada cincin trakea ke dua dan tiga. Kelenjar tiroid berfungsi untuk pertumbuhan
dan mempercepat metabolisme. Kelenjar tiroid menghasilkan dua hormon yang
penting yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Karakteristik triioditironin
adalah berjumlah lebih sedikit dalam serum karena reseptornya lebih sedikit
dalam protein pengikat plasma di serum tetapi ia lebih kuat karena memiliki
banyak resptor pada jaringan. Tiroksin memiliki banyak reseptor pada protein
pengikat plasma di serum yang mengakibatkan banyaknya jumlah hormon ini di
serum, tetapi ia kurang kuat berikatan pada jaringan karena jumlah reseptornya
sedikit.

Proses pembentukan hormon tiroid adalah:

1. Proses penjeratan ion iodida dengan mekanisme pompa iodida. Pompa ini
dapat memekatkan iodida kira-kira 30 kali konsentrasinya di dalam darah;
2. Proses pembentukan tiroglobulin. Tiroglobulin adalah glikoprotein besar
yang nantinya akan mensekresi hormon tiroid;
3. Proses pengoksidasian ion iodida menjadi iodium. Proses ini dibantu oleh
enzim peroksidase dan hidrogen peroksidase.
4. Proses iodinasi asam amino tirosin. Pada proses ini iodium (I) akan
menggantikan hidrogen (H) pada cincin benzena tirosin. Hal ini dapat
terjadi karena afinitas iodium terhadap oksigen (O) pada cincin benzena
lebih besar daripada hidrogen. Proses ini dibantu oleh enzim iodinase agar
lebih cepat.

4
5. Proses organifikasi tiroid. Pada proses ini tirosin yang sudah teriodinasi
(jika teriodinasi oleh satu unsur I dinamakan monoiodotirosin dan jika dua
unsur I menjadi diiodotirosin)
6. Proses coupling (penggandengan tirosin yang sudah teriodinasi). Jika
monoiodotirosin bergabung dengan diiodotirosin maka akan menjadi
triiodotironin. Jika dua diiodotirosin bergabung akan menjadi
tetraiodotironin atau yang lebih sering disebut tiroksin. Hormon tiroid
tidak larut dalam air jadi untuk diedarkan dalam darah harus dibungkus
oleh senyawa lain, dalam hal ini tiroglobulin. Tiroglobulin ini juga sering
disebut protein pengikat plasma. Ikatan protein pengikat plasma dengan
hormon tiroid terutama tiroksin sangat kuat jadi tiroksin lama keluar dari
protein ini. Sedangkan triiodotironin lebih mudah dilepas karena ikatannya
lebih lemah.

2.3. Etiologi

1. Beberapa penyakit yang menyebabkan Hipertiroid yaitu :

a. Penyakit Graves

Penyakit ini disebabkan oleh kelenjar tiroid yang oberaktif dan merupakan
penyebab hipertiroid yang paling sering dijumpai. Penyakit ini biasanya turunan.
Wanita 5 kali lebih sering daripada pria. Di duga penyebabnya adalah penyakit
autonoium, dimana antibodi yang ditemukan dalam peredaran darah yaitu tyroid
stimulating.

Immunogirobulin (TSI antibodies), Thyroid peroksidase antibodies (TPO)


dan TSH receptor antibodies (TRAB). Pencetus kelainan ini adalah stres,
merokok, radiasi, kelainan mata dan kulit, penglihatan kabur, sensitif terhadap
sinar, terasa seperti ada pasir di mata, mata dapat menonjol keluar hingga double
vision.Penyakit mata ini sering berjalan sendiri dan tidak tergantung pada tinggi
rendahnya hormon tiroid. Gangguan kulit menyebabkan kulit jadi merah,
kehilangan rasa sakit, serta berkeringat banyak.

b. Toxic Nodular Goiter

5
Benjolan leher akibat pembesaran tiroid yang berbentuk biji padat, bisa
satu atau banyak. Kata toxic berarti hipertiroid, sedangkan nodule atau biji itu
tidak terkontrol oleh TSH sehingga memproduksi hormon tiroid yang berlebihan.

c. Minum obat Hormon Tiroid berlebihan

Keadaan demikian tidak jarang terjadi, karena periksa laboratorium dan


kontrol ke dokter yang tidak teratur. Sehingga pasien terus minum obat tiroid, ada
pula orang yang minum hormon tiroid dengan tujuan menurunkan badan hingga
timbul efek samping.

d. Produksi TSH yang Abnormal

Produksi TSH kelenjar hipofisis dapat memproduksi TSH berlebihan,


sehingga merangsang tiroid mengeluarkan T3 dan T4 yang banyak.

e. Tiroiditis (Radang kelenjar Tiroid)

Tiroiditis sering terjadi pada ibu setelah melahirkan, disebut tiroiditis


pasca persalinan, dimana pada fase awal timbul keluhan hipertiorid, 2-3 bulan
kemudian keluar gejala hpotiroid.

f. Konsumsi Yoidum Berlebihan

Bila konsumsi berlebihan bisa menimbulkan hipertiroid, kelainan ini


biasanya timbul apabila sebelumnya si pasien memang sudah ada kelainan
kelenjar tiroid.

3. Penyebab Utama
 Penyakit Grave
 Toxic multinodular goitre
 Solitary toxic adenoma
4. Penyebab Lain
 Penyakit troboblastis
 Ambilan hormone tiroid secara berlebihan
 Pemakaian yodium yang berlebihan
 Kanker pituitari
 Obat-obatan seperti Amiodarone

2.4. Manifestasi Klinis

6
Pada penyakit Graves’ terdapat dua kelompok gambaran utama yaitu
tiroidal dan ekstratiroidal yang keduanya mungkin tidak tampak. Ciri-ciri tiroidal
berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid dan hipertiroidisme akibat sekresi
hormon tiroid yang berlebihan. Gejala-gejala hipertiroidisme berupa manifestasi
hipermetabolisme dan aktifitas simpatis yang berlebihan. 5 Pasien mengeluh lelah,
gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin banyak bila panas, kulit lembab,
berat badan menurun walaupun nafsu makan meningkat, palpitasi, takikardi, diare
dan kelemahan serta atrofi otot.2,3,5 Manifestasi ekstratiroidal berupa oftalmopati
dan infiltrasi kulit lokal yang biasanya terbatas pada tungkai bawah. Oftalmopati
yang ditemukan pada 50% sampai 80% pasien ditandai dengan mata melotot,
fissura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag (keterlambatan kelopak mata
dalam mengikuti gerakan mata) dan kegagalan konvergensi. Gambaran klinik
klasik dari penyakit Graves’ antara lain adalah tri tunggal hipertitoidisme, goiter
difus dan eksoftalmus.2,3 Pada penderita yang berusia lebih muda, manifestasi
klinis yang umum ditemukan antara lain palpitasi, nervous, mudah capek,
hiperkinesia, diare, berkeringat banyak, tidak tahan panas dan lebih senang cuaca
dingin. Pada wanita muda gejala utama penyakit Graves’ dapat berupa amenore
atau infertilitas. Pada anakanak, terjadi peningkatan pertumbuhan dan percepatan
proses pematangan tulang. Sedangkan pada penderita usia tua ( > 60 tahun ),
manifestasi klinis yang lebih mencolok terutama adalah manifestasi
kardiovaskuler dan miopati, ditandai dengan adanya palpitasi, dyspnea d’effort,
tremor, nervous dan penurunan berat badan.

7
2.5. Klasifikasi

Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) di bagi dalam 2 kategori:

1. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme


2. Kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme

Klasifikasi lain :

1. Goiter Toksik Difusa (Graves’ Disease)

Kondisi yang disebabkan, oleh adanya gangguan pada sistem


kekebalan tubuh dimana zat antibodi menyerang kelenjar tiroid, sehingga
menstimulasi kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid terus
menerus.

Graves’ disease lebih banyak ditemukan pada wanita daripada pria,


gejalanya dapat timbul pada berbagai usia, terutama pada usia 20 – 40
tahun. Faktor keturunan juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan
pada sistem kekebalan tubuh, yaitu dimana zat antibodi menyerang sel
dalam tubuh itu sendiri.

8
2. Nodular Thyroid Disease

Pada kondisi ini biasanya ditandai dengan kelenjar tiroid membesar


dan tidak disertai dengan rasa nyeri. Penyebabnya pasti belum diketahui.
Tetapi umumnya timbul seiring dengan bertambahnya usia.

3. Subacute Thyroiditis

Ditandai dengan rasa nyeri, pembesaran kelenjar tiroid dan inflamasi,


dan mengakibatkan produksi hormon tiroid dalam jumlah besar ke dalam
darah. Umumnya gejala menghilang setelah beberapa bulan, tetapi bisa
timbul lagi pada beberapa orang.

4. Postpartum Thyroiditis

Timbul pada 5 – 10% wanita pada 3 – 6 bulan pertama setelah


melahirkan dan terjadi selama 1 -2 bulan. Umumnya kelenjar akan
kembali normal secara perlahan-lahan.

2.6. Patofisiologi

Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika.


Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai
tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-
lipatan sel-sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat
beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Juga, setiap sel
meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 5-15
kali lebih besar daripada normal.

Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu


yang “menyerupai” TSH, Biasanya bahan – bahan ini adalah antibodi
immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang
berikatan dengan reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat
TSH. Bahan – bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil
akhirnya adalah hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi
TSH menurun, sedangkan konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini mempunyai efek

9
perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda
dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon
tiroid yang disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH
oleh kelenjar hipofisis anterior.

Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormon


hingga diluar batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori
kelenjar tiroid membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka
hawa dingin termasuk akibat dari sifat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat
peningkatan laju metabolisme tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat proses
metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme
mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung
tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor
otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita
mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas normal
juga merupakan salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler.
Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai
daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata
terdesak keluar.

10
2.7. Pathway

Tiroiditis Pnykt Graves (antibody Nodul tiroid


reseptor TSH merangsang toksik
aktivitas tiroid)

Sekresi hormon tiroid


yang berlebihan

hipertiroidisme

hipermetabolisme Aktifitas simpatik


Gerakan bola mata
berlebihan
relatif lambat
Ketidakseimbang
an energi dengan Perubahan kondulksi Infiltrasi limfosit, sel
kebutuhan tubuh listrk jantung mast ke jaringan
orbital & otot mata
kelelahan pe↓ BB Beban kerja
jantung ↓ eksoftalmus

Resiko kerusakan
Perubahan Kurangpenge Aritmia, integritas jaringan
nutrisi kurang tahuan takikardi
dari kebutuhan
tubuh

Resiko pe↓
curah jantung

2.8. Komplikasi

Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah


tirotoksik(thyroid storm). Hal ii berkembang secara spontan pada pasien
hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah peepasan HT dalam jumlah
ang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia, dan
apabila tidak diobati menyebabkan kematian.

2.9. Pemeriksaan Penunjang

11
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan diantaranya yaitu (Norman, 2011) :

a. Thyroid-stimulating hormone (TSH) yang dihasilkan oleh hipofisis akan

menurun pada hipertiroidisme. Dengan demikian, diagnosis hipertiroidisme

hampir selalu dikaitkan dengan kadar TSH yang rendah. Jika kadar TSH tidak

rendah, maka tes lain harus dijalankan.


b. Hormon tiroid sendiri (T3, T4) akan meningkat. Bagi pasien dengan

hipertiroidisme, mereka harus memiliki tingkat hormon tiroid yang tinggi.

Terkadang semua hormon tiroid yang berbeda tidak tinggi dan hanya satu

atau dua pengukuran hormon tiroid yang berbeda dan tinggi. Hal ini tidak

terlalu umum, kebanyakan orang dengan hipertiroid akan memiliki semua

pengukuran hormon tiroid tinggi (kecuali TSH).


c. Yodium tiroid scan akan menunjukkan jika penyebabnya adalah nodul

tunggal atau seluruh kelenjar.

2.10. Penatalaksanaan
1. Konservatif

Tata laksana penyakit Graves

a. Obat Anti-Tiroid. Obat ini menghambat produksi hormon tiroid. Jika dosis
berlebih, pasien mengalami gejala hipotiroidisme.Contoh obat adalah
sebagai berikut :
 Thioamide
 Methimazole dosis awal 20 -30 mg/hari
 Propylthiouracil (PTU) dosis awal 300 – 600 mg/hari, dosis maksimal
2.000 mg/hari
 Potassium Iodide
 Sodium Ipodate
 Anion Inhibitor
b. Beta-adrenergic reseptor antagonist. Obat ini adalah untuk mengurangi
gejalagejala hipotiroidisme. Contoh: Propanolol

Indikasi :

12
1) Mendapat remisi yang menetap atau memperpanjang remisi pada pasien
muda dengan struma ringan –sedang dan tiroktosikosis
2) Untuk mengendalikan tiroktosikosis pada fase sebelum pengobatan atau
sesudah pengobatan yodium radioaktif
3) Persiapan tiroidektomi
4) Pasien hamil, usia lanjut
5) Krisis tiroid

Penyekat adinergik ß pada awal terapi diberikan, sementara menunggu


pasien menjadi eutiroid setelah 6-12 minggu pemberian anti tiroid. Propanolol
dosis 40-200 mg dalam 4 dosis pada awal pengobatan, pasien kontrol setelah 4-8
minggu. Setelah eutiroid, pemantauan setiap 3-6 bulan sekali: memantau gejala
dan tanda klinis, serta Lab.FT4/T4/T3 dan TSHs. Setelah tercapai eutiroid, obat
anti tiroid dikurangi dosisnya dan dipertahankan dosis terkecil yang masih
memberikan keadaan eutiroid selama 12-24 bulan. Kemudian pengobatan
dihentikan , dan di nilai apakah tejadi remisi. Dikatakan remisi apabila setelah 1
tahun obat antitiroid di hentikan, pasien masih dalam keadaan eutiroid, walaupun
kemidian hari dapat tetap eutiroid atau terjadi kolaps.

2. Surgical

a. Radioaktif iodine.Tindakan ini adalah untuk memusnahkan kelenjar tiroid


yang hiperaktif
b. Tiroidektomi. Tindakan Pembedahan ini untuk mengangkat kelenjar tiroid
yang membesar

13
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan merupakan asuhan yang diberikan oleh seorang

perawat kepada seorang klien menggunakan proses keperawatan. Menurut

Hidayat (2004), proses keperawatan merupakan cara sistematis yang dilakukan

oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan

dengan melakukan pengkajian, menetukan diagnosis, merencanakan tindakan

yang akan dilakukan, melaksanakan tindakan serta mengevaluasi hasil asuhan

yang telah diberikan.

3.2. Pengkajian

14
Menurut Hidayat (2004), pengkajian merupakan langkah pertama dari

proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari klien

sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada. Tahap pengkajian

terdiri dari pengumpulan data, validasi data dan identifikasi masalah.

Hal-hal yang dikaji pada klien dengan hipertiroid meliputi (Carpenito, 2007) :

1. Aktivitas atau istirahat


Gejala : Imsomnia, sensitivitas meningkat, Otot lemah,gangguan koordinasi,
kelelahan berat
Tanda : Atrofi otot

2. Sirkulasi

Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina)

Tanda : Distritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan


darah dengan tekanan nada yang berat. Takikardia saat istirahat, sirkulasi kolaps,
syok (krisis tirotoksikosis)

3. Eliminasi

Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria, nocturia), rasa nyeri/terbakar,


kesulitan berkemih (infeksi), infeksi saluran kemih berulang, nyeri tekan
abdomen, diare, urine encer, pucat, kuning, poliuria (dapat berkembang menjadi
oliguria atau anuria jika terjadi hipovolemia berat), urine berkabut, bau busuk
(infeksi), bising usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare).

4. Integritas / Ego

Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan
dengan kondisi.

Tanda : Ansietas peka rangsang

5. Makanan / Cairan

15
Gejala : Hilang nafsu makan, mual atau muntah, tidak mengikuti diet, peningkatan

masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari periode

beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (tiazid)

Tanda : Kulit kering atau bersisik, muntah, pembesaran thyroid (peningkatan

kebutuhan metabolisme dengan pengingkatan gula darah), bau halitosis atau

manis, bau buah (napas aseton).

6. Neurosensori

Gejala : Pusing atau pening, sakit kepala kesemutan, kelemahan pada otot

parasetia, gangguan penglihatan.

Tanda : Disorientasi, mengantuk, lethargi, stupor atau koma (tahap lanjut),

gangguan memori baru masa lalu ) kacau mental. Refleks tendon dalam (RTD

menurun;koma), aktivitas kejang ( tahap lanjut dari DKA).

7. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang / berat), wajah meringis dengan
palpitasi, tampak sangat berhati-hati.

8. Pernapasan

Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen


(tergantung adanya infeksi atau tidak)

Tanda : sesak napas, batuk dengan atau tanpa sputum purulen (infeksi), frekuensi
pernapasan meningkat

9. Keamanan

Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit

16
Tanda : Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi atau ulserasi, menurunnya kekuatan
umum/rentang gerak, parastesia atau paralysis otot termasuk otot pernapasan (jika
kadar kalium menurun dengan cukup tajam)

10. Seksualitas

Gejala : Rabas wanita ( cenderung infeksi ), masalah impotent pada pria.

Tanda : Glukosa darah meningkat 100-200 mg/ dl atau lebih, aseton plasma positif
secara mencolok, asam lemak bebas kadar lipid dengan kolosterol meningkat.

3.3. Diagnosa Keperawatan

Menurut Carpenito dan Moyet (2007) diagnosa keperawatan adalah suatu

pernyataan klinik yang menjelaskan tentang respons individu, keluarga, atau

masyarakat terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan baik aktual atau

potensial. Diagnosis keperawatan merupakan dasar pemilihan intervensi dalam

mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perawat yang bertanggung jawab.

Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan

hipertiroid adalah sebagai berikut (Carpenito, 2007):

a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan

hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan

beban kerja jantung.


b. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan

kebutuhan energi.
c. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu

makan/pemasukan dengan penurunan berat badan).


d. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis: status hipermetabolik.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.


3.4. Intervensi

17
Tujuan dan Kriteria
No Diagnosa keperawatan Intervensi
Hasil
1. Penurunan curah jantung NOC : NIC :
 Cardiac PumpCardiac Care
Definisi : Ketidakadekuatan
effectiveness  Evaluasi adanya nyeri
darah yang dipompa oleh  Circulation Status dada(intensitas,lokasi, durasi)
jantung untuk memenuhi  Vital Sign Status  Catat adanya disritmia jantung
Kriteria Hasil :  Catat adanya tanda dan gejala
kebutuhan metabolik tubuh.
 Tanda vital dalam penurunan cardiac putput
Batasan Karakteristik : rentang normal  Monitor status kardiovaskuler
 Dapat mentoleransi  Monitor status pernafasan yang
 Perubahan aktivitas, tidak ada
menandakan gagal jantung
 Monitor abdomen sebagai
frekuensi/irama kelelahan indicator penurunan perfusi
jantung:Aritmia,Brakikar  Tidak ada edema  Monitor balance cairan
di, takikardi, Perubahan paru, perifer, dan  Monitor adanya perubahan
EKG, Palpitasi tidak ada asites tekanan darah
 Perubahan preload  Tidak ada penurunan  Atur periode latihan dan istirahat
- Penurunan tekanan vena kesadaran untuk menghindari kelelahan
central  Monitor toleransi aktivitas
- Penurunan tekanan pasien
 Monitor adanya dyspneu,
arteri paru
- Edema, keletihan fatigue, tekipneu dan ortopneu
- Distensi vena jugular.  Anjurkan untuk menurunkan
- Murmur stress
- Peningkatan berat badan Vital Sign Monitoring
 Perubahan Afterload  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
- Kulit lembab
 Catat adanya fluktuasi tekanan
- Penurunan nadi perifer
- Penurunan resistansi darah
 Monitor TD saat pasien
vascular paru
berbaring, duduk, atau berdiri
- Dispnea
- Oliguria  Auskultasi TD pada kedua
- Perubahan warna kulit lengan dan bandingkan
- Variasi pada pembacaaan  Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
TD. selama, dan setelah aktivitas
 Perubahan Kontraktilitas  Monitor kualitas dari nadi
- Batuk.  Monitor bunyi jantung
- Penurunan indeks jantung  Monitor frekuensi dan irama
- Penurunan fraksi ejeksi pernapasan

18
- Ortopnea  Monitor suara paru
- Dispnea paroksismal  Monitor pola pernapasan
nokturnal abnormal
- Penurunan stroke volume  Monitor suhu, warna, dan
index kelembaban kulit
- Bunyi S3, bunyi S4  Monitor sianosis perifer
 Perilaku/emosi: Ansietas,  Monitor adanya cushing triad
gelisah (tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
Faktor yang berhubungan :  Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
 Perubahan afterload
 Perubahan kontraktilitas
 Perubahan frekuensi
jantung
 Perubahan preload
 Perubahan irama
 Perubahan volume
sekuncup

2 Keletihan NOC : NIC :


 Disruptive effects Energy Management
Definisi : rasa letih luar biasa  Endurance  Observasi adanya pembatasan
dan penurunan kapasitas  Energy conservation klien dalam melakukan aktivitas
kerja fisik dan jiwa pada  Nutritional status :  Dorong pasien untuk
energy mengungkapkan perasaan
tingkat
terhadap keterbatasan
 Kaji adanya factor yang
Kriteria Hasil : menyebabkan kelelahan
yang biasanya secara terus  Memverbalisasikan  Monitor nutrisi dan sumber
menerus peningkatan energi energi yangadekuat
dan merasa lebih baik  Monitor pasien akan adanya
Batasan Karakteristik :  Menjelaskan kelelahan fisik dan emosi secara
penggunaan energi berlebihan
 Gangguan konsentrasi untuk mengatasi  Monitor respon kardivaskuler
 Gangguan libido kelelahan terhadap aktivitas
 Penurunan performa  Monitor pola tidur dan lamanya
 Kurang minat terhadap tidur/istirahat pasien

19
sekitar
 Mengantuk
 Peningkatan keluhan fisik
 Kurang energi
 Lesu
 Persepsi membutuhkan
energi tambahan untuk
menyelesaikan tugas rutin
 Mengatakan kurang
energi yang luar biasa
 Mengatakan perasaan
lelah
 Mengatakan tidak mampu
mempertahankan aktivitas
fisik pada tingkat yang
biasanya

Faktor yang berhubungan :

 Psikologis
- Ansietas, depresi
- Mengatakan gaya hidup
membosankan, stres.
 Fisiologis
- Anemia, status penyakit
- Peningkatan kelemahan
fisik
- Malnutrisi, kondisi fisik
buruk
- Kehamilan, deprivasi
tidur.
 Lingkungan
- Kelembapan, suhu,
cahaya, kebisingan
 Situasional
- Peristiwa hidup negatif
- Pekerjaan

3 Ketidakseimbangan nutrisiNOC : NIC :

20
kurang dari kebutuhan tubuh  Nutritional Status :Nutrition Management
food and Fluid Intake  Kaji adanya alergi makanan
Definisi : asupan nutrisi tidak
Kriteria Hasil :  Kolaborasi dengan ahli gizi
cukup untuk memenuhi Adanya peningkatan untuk menentukan jumlah kalori
kebutuhan metabolik berat badan sesuai dan nutrisi yang dibutuhkan
dengan tujuan pasien.
Batasan karakteristik :  Berat badan ideal  Anjurkan pasien untuk
sesuai dengan tinggi meningkatkan intake Fe
 Kram abdomen badan  Anjurkan pasien untuk
 Nyeri abdomen  Mampu meningkatkan protein dan
 Menghindari makanan
mengidentifikasi vitamin C
 BB 20% / lebih dibawah
kebutuhan nutrisi  Berikan substansi gula
BB ideal  Tidak ada tanda tanda  Yakinkan diet yang dimakan
 Kerapuhan kapiler malnutrisi mengandung tinggi serat untuk
 Diare mencegah konstipasi
 Kehilangan rambut
 Berikan makanan yang terpilih
berlebihan ( sudah dikonsultasikan dengan
 Kurang makanan ahli gizi)
 Bising usus hiperaktif  Ajarkan pasien bagaimana
 Kurang minat pada
membuat catatan makanan
makanan harian.
 Penurunan BB dengan  Monitor jumlah nutrisi dan
asupan makanan adekuat kandungan kalori
 Membran mukosa pucat  Berikan informasi tentang
 Tonus otot menurun kebutuhan nutrisi
 Sariawan ronnga mulut  Kaji kemampuan pasien untuk
 Kelemahan otot mendapatkan nutrisi yang
pengunyah dibutuhkan
 Kelemahan otot untuk Nutrition Monitoring
menelan  BB pasien dalam batas normal
 Monitor adanya penurunan berat
badan
 Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor lingkungan selama
makan
 Jadwalkan pengobatan dan

21
tindakan tidak selama jam makan
 Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
 Monitor mual dan muntah
 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
 Monitor kalori dan intake
nuntrisi
4 Ansietas NOC : NIC :
Definisi : perasaan tidak Anxiety control Anxiety Reduction (penurunan
nyaman atau kekhawatiran Coping kecemasan)
yang samar disertai responsKriteria Hasil :  Gunakan pendekatan yang
autonom  Klien mampu menenangkan
Batasan Karakteristik : mengidentifikasi dan Nyatakan dengan jelas harapan
 Penurunan produktivitas mengungkapkan terhadap perilaku pasien
 Gelisah gejala cemas  Jelaskan semua prosedur dan apa
 Insomnia  Mengidentifikasi, yang dirasakan selama prosedur
 Rasa nyeri yang mengungkapkan dan Temani pasien untuk memberikan
meningkatkan menunjukkan tehnik keamanan dan mengurangi takut
ketidakberdayaan untuk mengontol Berikan informasi faktual
cemas mengenai diagnosis, tindakan
 Vital sign dalam prognosis
batas normal  Identifikasi tingkat kecemasan
 Postur tubuh, Bantu pasien mengenal situasi
ekspresi wajah, yang menimbulkan kecemasan
bahasa tubuh dan Dorong pasien untuk
tingkat aktivitas mengungkapkan perasaan,
menunjukkan ketakutan, persepsi
berkurangnya  Instruksikan pasien
kecemasan menggunakan teknik relaksasi
 Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan

5 Kurang pengetahuan mengenaiNOC : NIC :

22
kondisi, prognosis dan Knowledge : diseaseTeaching : disease Process
kebutuhanpengobatan process  Berikan penilaian tentang tingkat
berhubungan dengan tidak Kowledge : health pengetahuan pasien tentang
mengenal sumber informasi. Behavior proses penyakit yang spesifik
Kriteria Hasil :  Jelaskan patofisiologi dari
 Pasien dan keluarga penyakit dan bagaimana hal ini
menyatakan berhubungan dengan anatomi dan
pemahaman tentang fisiologi, dengan cara yang tepat.
penyakit, kondisi, Gambarkan tanda dan gejala
prognosis dan yang biasa muncul pada penyakit,
program pengobatan dengan cara yang tepat
 Pasien dan keluarga Gambarkan proses penyakit,
mampu dengan cara yang tepat
melaksanakan  Identifikasi kemungkinan
prosedur yang penyebab, dengna cara yang tepat
dijelaskan secara Sediakan informasi pada pasien
benar tentang kondisi, dengan cara
 Pasien dan keluarga yang tepat
mampu menjelaskan Hindari harapan yang kosong
kembali apa yang Sediakan bagi keluarga informasi
dijelaskan tentang kemajuan pasien dengan
perawat/tim cara yang tepat
kesehatan lainnya  Diskusikan perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
 Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
 Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
 Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara yang
tepat
 Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk

23
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat

3.5. Evaluasi
1. Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan
kebutuhan tubuh
2. Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energy
3. Klien akan menunjukkan berat badan stabil
4. Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
5. Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya

3.6. Discharge Planning


1. Olahraga secara teratur
2. Berhenti merokok
3. Jika mengalami penurunan berat badan, berikan tambahan atau ekstra kalori
atau protein kedalam diet untuk meningkatkan kembali berat badan
4. Jaga agar kalsium tetap tercukupi
BAB IV
PENUTUP
2.11. Kesimpulan

Tiroid sendiri diatur oleh kelenjar lain yang berlokasi di otak,


disebutpituitari.Pada gilirannya,pituitari diatur sebagian oleh hormon tiroid yang
beredardalam darah (suatu efek umpan balik dari hormon tiroid pada kelenjar
pituitari) dansebagian oleh kelenjar lain yang disebut hipothalamus,juga suatu
bagian dari otak. Pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon
tiroid yangberlebihan dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau
merusak jaringantiroid (yodium radioaktif,tiroidektomi subtotal).

2.12. Saran

Dari penyakit ini, dapat dihindarkan dengan cara tidak stress, tidak
merokok,tidak mengkonsumsi obat-obatan sembarangan dan tidak mengkonsumsi
yodiumsecara berlebihan karena dapat terjadi radiasi pada leher dan organism-
organismedapat menyebabkan infeksi karena ada virus.

24
Daftar Pustaka

Doenges, Marilyn B, dkk. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta :

EGC.

Gloria, dkk. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) sixth edition. USA :

Elsevier

Herdman & Shigemi. 2013. NANDA International Nursing Diagnoses 2015-2017.

USA: Wiley Blackwell

Hidayat, A. Azis Alimul .2005. Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan.

Jakarta : EGC

Moorhead Sue, dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) fifth edition.

USA: Elsevier

25
Price, S.A & Wilson. L.M. .2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses

Penyakit Edisi 6 vol 2. Jakarta: EGC

Pusat Data dan Informasi Kementrian dan Kesehatan RI 2015

Wiley John. 2012. NANDA International 2012-2014. Jakarta : EGC

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
tiroid.pdfdiakses 23 Maret 2016 pukul 21:43
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39717/4/Chapter%20II.pdf

diakses 23 Maret 2016 pukul 22:04

26