Anda di halaman 1dari 144

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 6
KELAS: D
Sukmawansyah 201410410311016
Sakinah Musaad 201510410311138
Meilya Hayyu Saputri 201510410311166
Dima Atsyari Novianti 201510410311182
Ayudya Rizky P. 201510410311196

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt.
Amaliya Dina Anggraeni, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018/2019
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami tim penulis sehingga dapat menyelesaikan
makalah laporan praktikum fitofarmaka, mengenai “Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia
galanga, Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga, Penetapan Kadar Senyawa
Marker Pada Ekstrak Kaempferia galanga, Pembuatan Kapsul Ekstrak Kencur dan Penetapan
Kadar Senyawa Marker EPMS dalam Kapsul, dan Penetapan Kadar Senyawa Marker EPMS
dalam Sediaan Kapsul”.
Kami menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan
Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan
ini kami menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
anggota yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya
dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik
dan oleh karenanya, kami dengan rendah hati menerima masukan, saran dan usul guna
penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Malang, 17 Desember 2018

Penulis
LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBUATAN EKSTRAK RIMPANG KENCUR (Kaempferia galangal L.)


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 6
KELAS: D

Sukmawansyah 201410410311016
Sakinah Musaad 201510410311138
Meilya Hayyu Saputri 201510410311166
Dima Atsyari Novianti 201510410311182
Ayudya Rizky P. 201510410311196

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt.
Amaliya Dina Anggraeni, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan
khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinis dan uji klinis bahan baku serta produk jadinya
telah di standarisir (Badan POM. RI., 2004 ).

Saat ini meskipun obat tradisional cukup banyak digunakan oleh masyarakat dalam
usaha pengobatan sendiri (self-medication), profesi kesehatan atau dokter umumnya masih
enggan untuk meresepkan ataupun menggunakannya. Alasan utama keengganan profesi
kesehatan untuk meresepkan atau menggunakan obat tradisional karena bukti ilmiah mengenai
khasiat dan keamanan obat tradisional pada manusia masih kurang. Obat tradisional Indonesia
merupakan warisan budaya bangsa sehingga perlu digali, diteliti dan dikembangkan agar dapat
digunakan lebih luas oleh masyarakat. Untuk itulah dikembangkan Obat Tradisional menjadi
fitofarmaka.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui proses ekstraksi dengan metode maserasi ultrasonika pada


tanaman (Kaempferia galanga).

2. untuk mendapatkan ekstrak kering dari simplisia rimpang kencur


(Kaempferia galanga)

1.3 Manfaat

Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang proses ekstrasi dengan metode


maserasi kinetika pada tanaman kaemferia galanga.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kencur (Kaemferia galanga L)

Kencur (Kaempferia galanga L.) termasuk suku tumbuhan zingeberaceae dan


digolongkan sebagai salah satu jenis temu-temuan yang mempunyai daging buah paling lunak
dan tidak berserat. Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah
atau pegunungan yang tanahnya gembur (Armando, 2009). Bagian tanaman yang sering
digunakan adalah rimpangnya yang mempunyai aroma yang sangat khas dan lembut sehingga
mudah membedakannya dengan jenis Zingeberaceae lain.

Kencur banyak digunakan dalam berbagai ramuan obat tradisional, seperti: obat batuk,
disentri, masuk angin, sakit perut, penambah nafsu makan, dan lain- lain. Kandungan kimia
dari rimpangkencur adalah pati, mineral, flavonoid, akaloida, dan minyak atsiri. Minyak atsiri
di dalam rimpang kencur banyak digunakan dalam industri kosmetika dan dimanfaatkan
sebagai anti jamur ataupun anti bakteri (Anonim, 2009).

Kencur merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Indonesia, termasuk


jenis herba berbatang semu pendek, behkan tidak berbatang. Memiliki jumlah daun 2-4 helai
dan letaknya saling berlawanan (Afriastini, 2002). Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh
mendatar diatas permukaan tanah, panjang daun 10-12 cm dengan lebar 8-10 cm berdaging
agak tebal, mudah patah, bentuk elips, melebar dan bundar (Backer, 1986).

Klasifikasi Kaempferia galanga L di dalam dunia botani adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1
Tanaman (Kaempferia galanga)

Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnolyophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Kaempferia

Spesies : Kaempferia galanga

A. Kandungan kimia

Menurut Hargono (1995) bahwa kandungan senyawa Kaemferia galanga L. yaitu:

1. Daun : alkaloid,borneol, dan eucaplitol


2. Rimpang : Tannin,saponin,kalsium oksalat,borneol,kamfen,etilalkohol,minyak atsiri
(2,4%-3,9%) terdiri etil p-metoksisinamat,asamp-metoksisinamat,asam transinamat,p-
metoksi stirena

Kandungan semyawa yang terdapat secara melimpah yaitu asam


popanoat,pentadekana,etil p-metoksisinamat,kandungan lainya yaitu 1,8-
sineol,undekanon,isopropil sinama,alpha gurjunene,etil sikloheksil asetat,2,4-dietil
asetat,borneol.(Umar et al.,2011)

B. Manfaat Kaemferia galanga L.

Zingiberaceae telah ditemukan sebagai sumber yang di perlukan sekali untuk agen
pencegah kanker sejak tumbuhan dari familia zingiberaceae didemontrasikan kemungkinan
efek hambatanya pada pertumbuhan kanker payudara,kanker kolon, kanker paru-paru,kanker
perut,kanker serviks. Dilaporkan juga pda skrining ekstrak atau minyak esensial dari sejumlah
anggota family zingeiberaceae yaitu dapat melawan strain bakter,jamur,dan ragi (Tang et
al,.2014)

2.2 Ekstraksi

Ekstraksi adalah pemisahan zat target dan zat yang tidak berguna dimana teknik
pemisahan berdasarkan perbedaan distribusi zat terlarut antara dua pelarut atau lebih yang
saling bercampur. Pada umumnya, zat terlarut yang diekstrak bersifat tidak larut atau sedikit
larut dalam suatu pelarut tetapi mudah larut dengan pelarut lain (Harbone, 1987). Maserasi
adalah pemisahan zat target dengan zat sisa menggunakan prinsip sifat polaritas dimana akan
ada pelarut yang sifat polaritasnya sesuai dengan zat target.

Keuntungan dari metode ini adalah dapat digunakan secara praktis serta menggunakan
alat dan bahan sederhana serta dapat menghasilkan ekstrak dalam jumlah banyak. Selain itu,
senyawa dalam simplisia relatif terhindar dari perubahan kimia oleh senyawa-senyawa atau
adanya pemanasan (Pratiwi,2009).

Ekstraksi adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh kandungan senyawa
kimia dari jaringan tumbuhan maupun hewan dengan pelarut yang sesuai dalam standar
prosedur ekstraksi (ICS-UNIDO, 2008; Ditjen POM, 2000).

Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa


dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Dalam memilih pelarut yang akan
dipakai harus diperhatikan sifat kandungan kimia (metabolit sekunder) yang akan diekstraksi.
Sifat yang penting adalah sifat kepolaran, dapat dilihat dari gugus polar senyawa tersebut yaitu
gugus OH, COOH. Senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar, dan senyawa non
polar akan lebih mudah larut dalam pelarut non polar. Derajat kepolaran tergantung kepada
ketetapan dielektrik, makin besar tetapan dielektrik makin polar pelarut tersebut (Ditjen POM,
1992).

2.3 Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan


beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara
teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada
keseimbangan (Depkes RI, 2000). Maserasi merupakan metode yang paling sederhana dalam
pemisahan zat, yaitu dengan cara merendam bahan alam yang telah dikeringkan dalam suatu
campuran pelarut. Periode maserasi 24 jam memungkinkan pelarut berdifusi melalui
obat,melarutkan unsur penyusun dan melepaskan bahan terlarut (Handa, et al., 2008).

2.4 Maserasi Kinetika

Salah satu metode maserasi yaitu maserasi kinetik. Penyarian dengan maserasi kinetik
diperlukan pengadukan yang berputar dan kontinu (terus menerus). Hal ini untuk meratakan
konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia, sehingga tetap terjaga derajat perbedaan
konsentrasinya yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel.
Selanjutnya, hasil dari penyarian didiamkan selama waktu tertentu untuk mengendapkan zat
yang tidak diperlukan yang ikut terlarut dalam cairan penyari (Depkes RI, 2000;Indrawati &
Razimin, 2013).

2.5 Maserasi Ultrasonik

Maserasi ultrasonik merupakan prosedur yang melibatkan penggunaan ultrasound


dengan frekuensi berkisar antara 20 kHz sampai 2000 kHz, hal ini untuk meningkatkan
permeabilitas dinding sel dan menghasilkan kavitasi. Aplikasi metode ini dalam skala besar
terbatas karena biaya yang lebih tinggi. Salah satu kelemahan dari prosedur ini adalah efek
energi ultrasound yang lebih dari 20 kHz terhadap unsur penyusun tanaman obat yang aktif
unsur aktif tanaman obat melalui pembentukan radikal bebas akan mengakibatkan perubahan
yang tidak diinginkan pada molekul obat (Handa, et al.,2008).
BAB III

PROSEDUR KERJA

3.1 Skema Kerja

1.1.1 Maserasi Ultrasonik

Serbuk masukkan lakukan +200ml


rimpang dalam ulang etanol 96%
kencur 50g bejana sebanyak 7 ke 8masing-
maserasi kali masing
(erlemeyer erlemeyer
250ml)

Maserasi
ultrasonik Saring dan Masukkan Aduk sampai
kembali tampung dalam bejana serbuk
+200ml filtrat ultrasonik terbasahi
etanol pada dan getarkan
masing2 15 menit
residu

Masukkan Saring dan Maserasi


dalam bejana tampung ultrasonik Masukkan
ultrasonik filtrat kembali dalam bejana
dan getarkan +200ml ultrasonik
15 menit etanol pada dan getarkan
masing- 15 menit
masing residu

Semua filtrat Kalibrasi labu Kumpulkan Saring dan


dipekatkan rotavapor fltrat semua tampung
hingga +/- 400ml menjadi satu filtrat
400ml

Masukkan +5% cab-o- Taburkan Diamkan


dalam loyang, sil dari hingga rata semalaman
ratakan ekstrak 20g (kering)
Beri label Homogenkan
identifikasi dan simpan
pada wadah
tertutup
(botol selai)

Pada praktikum kali ini, menggunakan rimpang kencur (kaemferia galanga) yang akan
diekstraksi dengan pelarut etanol 96%. Serbuk rimpang kencur ditimbang sebanyak 50 g dan
dimasukkan kedalam bejana. Tambahkan etanol 96% sebanyak 200 ml, tutup mulut bejana dan
lakukan pengadukkan pada kecepatan tertentu selama 15 menit. Kemudian saring dan tampung
filtrat, lalu lakukan maserasi ultrasonika kembali dengan menambahakan larutan etalon 96%
sebanyak 200 ml dan lakukan pengadukan selama 15 menit. Saring dan tampung filtrat.
Ditambahkan larutan etanol 96% sebanyak 200 ml dilakukan pengadukkan selama 15 menit.
Saring dan tampung filtrat. Tambahkan larutan etanol sebanyak 200 ml etanol 96 %, kemudian
saring dan tampung filtrat. Lakukan kalibrasi labu rotavapor beri tanda pada volume 400ml.
Fitltrat yang telah dikumpulkan dipekatkan dengan rotavapor dan pindahkan hasilnya kedalam
loyang ratakan. Setelah itu tambahkan cab-o-sil sebanyak 5% sedikit demi sedikit, diamkan
semalaman. homogenkan dan simpan pada wadah tertutup dan berikan label identitas pada
wadah.

3.2 Alat dan Bahan

 Alat
1. Labu Erlenmeyer.
2. Batang pengaduk.
3. Rotavapor.
4. Penyaring.
5. Botol selai.
6. Pipet Panjang.
7. Alumunium Foil.
8. Kertas saring.
9. Kertas label.
 Bahan
1. Serbuk rimpang kencur.
2. Etanol 96 %.
3. Cab – o -sil.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

a. Identitas

Nama ekstrak : Ekstrak Galanga Rizhoma

Nama tanaman : Kaemferia galangal L.

Bagian tanaman : Rimpang

Nama Indonesia : Kencur

b. Organoleptis

Bentuk : Serbuk rimpang

Warna : Kuning pucat

Bau : Khas aromatic

Rasa : Pahit, kelat, pedas

4.2 Perhitungan

Jumlah serbuk yang ditimbang : 400 gram

Jumlah hasil ekstrak : 55,60 gram

Berat Cab-o-sil : 20 gram

Bobot ekstrak : 55,60 gram – 20 gram = 35,6 gram

Perhitungan persen randemen ekstrak kencur

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑛𝑐𝑢𝑟


% Randemen = 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 𝑘𝑒𝑛𝑐𝑢𝑟 × 100%

35,60 𝑔𝑟𝑎𝑚
× 100%=8,9%
400 𝑔𝑟𝑎𝑚
Hasil kelompok lain : Kelompok 1 : 10,59% (perendaman)

Kelompok 2 : 9,86% (kinetik)

Kelompok 3 : 9,67% (perendaman)

Kelompok 4 : 9,63% (kinetik)

Kelompok 5 : 8,88% (perendaman)

Kelompok 6 : 8,90% (ultrasonik)

Kelompok 7 :

Kelompok 8 : 9,49% (ultrasonik)

Kelompok 9 : 11,63% (perendaman)

4.3 Pembahasan

Pada praktikum kali ini kelompok 6 melakukan pembuatan ekstrak rimpang kencur
(Kaemferia galangal L.) dengan metode ultrasonik dengan frekuensi getar 45 kHz selama 15
menit, proses ini dilakukan sebanyak tiga kali agar proses ekstraksi zat aktif dapat berlangsung
lebih optimal. Pelarut yang digunakan adalah etanol 96% karena lebih seektif, kapang dan
kuman sulit tumbuh dalam etanol, dan absorbansinya baik. Tahap selanjutnya adalah evaporasi
dengan menggunakan rotary vacuum tujuan dilakukannya evaporasi adalah untuk memisahkan
zat pelarut dari zat terlarut di dalamnya tanpa pemanasan yang tinggi agar ekstrak menjadi
pekat. Setelah itu ekstrak pekat dituangkan ke dalam Loyang lalu ditaburi dengan cab-o-sil 20
gram untuk membantu mempercepat proses pengeringan, dan didiamkan pada suhu kamar
hingga ekstrak menjadi kering. Didapatkan sebanyak 55,60 gram, kemudian dihitung persen
randemen dan didapatkan hasil 8,90%.

Pada farmakope herbal dituliskan bahwa persen randemen dari ekstrak kencur adalah
tidak kurang dari 8,3% sehingga hal ini menunjukkan bahwa hasil yang kelompok kami
dapatkan cukup baik karena persen randemen kami tidak kurang dari persyaratan dalam
farmakope herbal. Jika dibandingkan dengan kelompok lain kelompok kami persen
randemennya lebih kecil, hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor seperti suhu, waktu,
frekuensi getar, penambahan pelarut, dan penyaringan. Kecilnya persen randemen yang kami
dapatkan kemungkinan karena kurang kuntitatif nya kelompok kami dalam mengukur zat
pelarut sehingga zat pelarut kurang maksimal dalam melarutkan zat terlarut (serbuk rimpang
kencur), tetapi tidak menutup kemungkinan juga kesalah dalam waktu sonikasi, waktu yang
kurang dalam sonikasi dapat menyebabkan kurangnya pengacauan dinding sel sehingga
pembebasan kandungan di dalamnya tidak maksimal.
BAB V
KESIMPULAN

Didapatkan ekstrak rimpang kencur (Kaemferia galangal L.) sebanyak 55,60 gram dan
persen randemen sebanyak 8,90% yang masuk dalam persyaratan dalam farmakope herbal
Indonesia atau tidak kurang dari 8,3%.
DAFTAR PUSTAKA

Afriastini, J.J., 2002. Bertanam Kencur. Edisi Revisi. Penerbit Penebar Swadaya. hal 1-33.

Backer, C. A. R. C. B. Van den Briak, 1986. “Flora of Java”. Vol 2 Walters Noordhoff. N. V.
Groningen. P. 33.

Ditjen POM, 1992, Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia: Jakarta.

Ditjen POM, 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Halaman 10-12.

Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.

Handa, S.S., Sukhdev, S.H., Suman, P.S.K., Gennaro, L., and Dev Dutt, R., 2008. Extraction
Technologies for Medicinal and Aromatic Plants. Trieste:International Centre for Science
and High Technology.

InfoPOM, 2005. Standarisasi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, Salah Satu Tahapan Penting
dalam Pengembangan Obat Asli Indonesia. Badan Pengawas Obat dan MAkanan
Republik Indonesia, Vol 6, No. 4, Juli 2005.

Penyakit. Jakarta: PT Agro Media Pustaka.

Sarker SD, Latif Z, & Gray AI. 2006. Natural products isolation. In: Sarker SD, Latif Z, & Gray
AI, editors. Natural Products Isolation. 2nd ed. Totowa (New Jersey). Humana Press Inc.
hal. 6-10, 18.
LAMPIRAN
LAPORAN PRAKTIKUM

PENENTUAN PARAMETER SPESIFIK DAN NON SPESIFIK EKSTRAK


KENCUR (Kaempferia galangal L.)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 6
KELAS: D

Sukmawansyah 201410410311016
Sakinah Musaad 201510410311138
Meilya Hayyu Saputri 201510410311166
Dima Atsyari Novianti 201510410311182
Ayudya Rizky P. 201510410311196

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt.
Amaliya Dina Anggraeni, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sumber daya alam hayati (SDAH) menjadi semakin menarik ketika mendapat
pengakuan masyarakat dan dunia sebagai bahan baku obat- obatan tradisional (jamu) (Sukara,
2002). Perkembangan yang cukup pesat ini perlu didukung oleh pembuktian secara ilmiah,
terutama mengenai mutu, keamanan, dan kemanfaatan obat tradisional tersebut. Pemakaian
obat tradisional untuk pengobatan telah lama dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hasil dan
manfaatnya telah dirasakan secara langsung, sehingga penggunaan obat tradisional ini ada
kecenderungan semakin meningkat. Hal ini tampak dengan semakin meningkatnya pemakaian
jamu dan industri obat tradisional yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada saat ini,
dorongan kembali ke alam semakin menguasai masyarakat.

Pengobatan secara sintetis dirasakan terlalu mahal dengan efek samping yang cukup
serius. Meningkatnya pemakaian obat tradisional mengakibatkan peningkatan penggunaan
tanaman obat, namun hal ini tidak diimbangi dengan pembudidayaan dan pelestarian plasma
nutfahnya. Sampai saat ini, bahan baku obat tradisional masih berasal dari tumbuhan liar atau
dari petani kecil. Umumnya tanaman obat belum dibudidayakan dengan baik, sehingga kualitas
simplisia yang dihasilkan tidak seragam. Keterbatasan kemampuan para petani dan pengumpul
dalam menangani simplisia juga menyebabkan simplisia yang dihasilkan bermutu rendah.
Kegiatan yang berkaitan dengan upaya pengembangan tanaman obat meliputi: pemetaan
ekonomis flora alami, seleksi dan pembuktian keaslian spesies tanaman, pengumpulan data
etnobotanik, percobaan pemuliaan untuk pengembangan varietas dengan hasil tinggi, budi
daya tanaman skala menengah, penelitian kimia kandungan bahan aktif, penelitian farmakologi
dan toksikologi, pembuatan ekstrak tanaman skala pilot plan, standardisasi ekstrak, formulasi
ekstrak ke bentuk sediaan tablet, penelitian toksisitas terhadap formulasi, penelitian analitis
produk formulasi (Yuliani, 2001).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 55/Menkes/SK/1/ 2000, obat


tradisional yang beredar di Indonesia harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan
kemanfaatannya (anonim, 2000), dan Undang-undang kesehatan mengamanatkan bahwa
pengobatan tradisional yang sudah dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya
perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan, untuk digunakan dalam mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal bagi masyarakat (sukara, 2002). Dalam upaya standarisasi ekstrak,
maka pentingnya dilakukan uji parameter spesifik dan non spesifik agar memenuhi persyaratan
mutu yang diinginkan.

1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui
dan menerapkan parameter mutu spesifik dan non spesifik ekstrak kering rimpang kencur
(Kaempferia galanga) sesuai standar yang telah ditetapkan

1.3 Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas maka manfaat yang diperoleh yaitu mahasiswa dapat
mengetahui parameter-parameter yang menetukan mutu serta prosedur penentuan mutu
ekstrak rimpang kencur ( Kamferia galanga L.)
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Standardisasi ekstrak

Standardisasi ekstrak adalah penentuan parameter kualitatif dan kuantitatif baik


terhadap senyawa aktif maupun senyawa khas lainnya dan sifat kimianya. Mutu ekstrak
dipengaruhi oleh bahan asal/simplisia, karenanya sebelum diproses menjadi ekstrak,
simplisia/bahan awal yang akan diekstraksi harus pula distandarisasi. Dua faktor yang
mempengaruhi mutu simplisia adalah faktor biologi dan kimia.

Faktor biologi meliputi beberapa hal, yaitu:

1. Identitas jenis (spesies), jenis tumbuhan dari sudut keragaman hayati dapat
dikonfirmasikan sampai informasi genetika sebagai faktor internal untuk validasi jenis.
2. Lokasi tumbuhan asal. Lokasi merupakan faktor eksternal, yaitu lingkungan dimana
tumbuhan bereaksi bisa berupa energi (cuaca, temperatur, cahaya) dan materi (air,
senyawa organik dan anorganik)
3. Periode pemanenan hasil tumbuhan. Pemanenan yang dilakukan tidak pada waktunya
bisa mempengaruhi kendungan senyawa.
4. Penyimpanan bahan tumbuhan. Ruang atau wadah yang digunakan untuk menyimpan
bisa mempengaruhi mutu senyawa tanaman.
5. Umur tanaman dan bagian yang digunakan. Hal ini sangat menentukan keberadaan
senyawa kimia seperti klorofil yang terdapat di daun.
Faktor kimia meliputi beberapa hal, yaitu:
Faktor internal seperti jenis, komposisi, kualitatif dan kuantitatif serta kadar total rerata
senyawa aktif dalam bahan. Faktor eksternal seperti metode ekstraksi, perbandinga ukuran alat
ekstraksi, kekerasan dan kekeringan bahan, pelarut yang digunakan dalam ekstraksi,
kandungan logam berat dan kandungan pestisida.
Standarisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran yang
hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma untuk kefarmasian, mutu dalam artian
memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan farmasi). Termasuk jaminan (batas-batas)
stabilitas sebagai produk kefarmasian pada umumnya. Persyaratan mutu ekstrak terdiri dari
berbagai parameter standar umum dan parameter standar spesifik.
Standardisasi secara normatif ditujukan untuk memberikan efikasi yang terukur secara
farmakologis dan menjamin keamanan konsumen. Standardisasi obat herbal meliputi dua
aspek:
1. Aspek parameter spesifik: berfokus pada senyawa atau golongan senyawa yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis. Analisis kimia yang dilibatkan
ditujukan untuk analisa kualitatif dan kuantitatif terhadap senyawa aktif.
2. Aspek parameter non spesifik: berfokus pada aspek kimia, mikrobiologi dan fisis yang
akan mempengaruhi keamanan konsumen dan stabilitas misal kadar logam berat,
aflatoksin, kadar air dan lain- lain
2.2 Standardisasi Obat Herbal
Standardisasi obat herbal merupakan rangkaian proses melibatkan berbagai metode
analisis kimiawi berdasarkan data farmakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi
berdasarkan kriteria umum keamanan (toksikologi) terhadap suatu ekstrak alam atau tumbuhan
obat herbal (Saifudin et al., 2011).
Standardisasi dalam kefarmasian tidak lain adalah serangkaian parameter, prosedur dan
cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur- unsur terkait pradigma mutu kefarmasian,
mutu dalam artian memenuhi syarat standar (kimia, biologi dan farmasi), termasuk jaminan
(batas- batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian umumnya. Dengan kata lain, pengertian
standardisasi juga berarti proses menjamin bahwa produk akhir obat (obat, ekstrak atau produk
ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih dahulu.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dari bahan asal
tumbuhan obat dan faktor kandungan kimia bahan obat tersebut. Standardisasi ekstrak terdiri
dari parameter standar spesifik dan parameter standar non spesifik (Depkes RI, 2000).
a. Parameter-parameter Standar Ekstrak
Parameter - parameter standar ekstrak terdiri dari parameter spesifik dan parameter non
spesifik.
1. Parameter Spesifik Ekstrak
Penentuan parameter spesifik adalah aspek kandungan kimia kualitatif dan aspek
kuantitatif kadar senyawa kimia yang bertanggung jawab langsung terhadap aktivitas
farmakologis tertentu. Parameter spesifik ekstrak meliputi:
a. Identitas
Parameter identitas esktrak meliputi: deskripsi tata nama, nama ekstrak (generik,
dagang, paten), nama lain tumbuhan (sistematika botani), bagian tumbuhan yang digunakan
(rimpang, daun, dsb) dan nama Indonesia tumbuhan.
b. Organoleptis:
Parameter organoleptik ekstrak meliputi penggunaan panca indera mendeskripsikan
bentuk, warna, bau, rasa guna pengenalan awal yang sederhana se- objektif mungkin.
c. Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol/ air) untuk ditentukan jumlah larutan yang
identik dengan jumlah senyawa kandungan secara gravimetrik. Dalam hal tertentu dapat diukur
senyawa terlarut dalam pelarut lain misalnya heksana, diklorometan, metanol. Tujuannya
untuk memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan.
Nilai - Nilai minimal atau rentang yang ditetapkan terlebih dahulu (BPOM, 2000).
a. Sari larut air, tidak kurang dari 14,2 % (FHI, 2008)
b. Sari larut etanol, tidak kurang dari 4,2 % (FHI, 2008)
d. Uji kandungan kimia ekstrak
 Pola kromatogram
Pola kromatogram dilakukan sebagai analisis kromatografi sehingga memberikan pola
kromatogram yang khas. Bertujuan untuk memberikan gambaran awal komposisi
kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram (KLT, KCKT) (Depkes RI, 2000).
Nilai: - Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu (BPOM,
2000).
 Kadar kandungan kimia tertentu
Suatu kandungan kimia yang berupa senyawa identitas atau senyawa kimia utama
ataupun kandungan kimia lainnya, maka secara kromatografi instrumental dapat
dilakukan penetapan kadar kandungan kimia tersebut. Instrumen yang dapat digunakan
adalah densitometri, kromatografi gas, KCKT atau instrumen yang sesuai. Tujuannya
memberikan data kadar kandungan kimia tertentu sebagai senyawa identitas atau
senyawa yang diduga bertanggung jawab pada efek farmakologi (Depkes RI, 2000).
Nilai: - Minimal atau rentang kadar yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
 Kadar Total Golongan Kandungan Kimia
Dengan penerapan metode spektrofotometri, titrimetri, volumetri, gravimetri atau
lainnya dapat ditetapkan kadar golongan kandungan kimia. Metode harus sudah teruji
validitasnya, terutama selektivitas dan batas linieritas. Tujuannya adalah memberikan
informasi kadar golongan kandungan kimia sebagai parameter mutu ekstrak dalam
kaitannya dengan efek farmakologis.
Nilai: - Minimal atau rentang yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
c. Kadar simplisia minyak atsiri: tidak kurang dari 2,40 % v/b
d. Kadar simplisia etil p-metoksisinamat: tidak kurang dari 1,80 % v/b
e. Kadar ektrak minyak atsiri: tidak kurang dari 7,93 % v/b
f.Kadar ekstrak etil p-metoksisinamat: tidak kurang dari 4,30 % v/b (FHI, 2008).
1. Parameter Non Spesifik Ekstrak
Parameter non spesifik ekstrak meliputi (Depkes RI, 2000):
a) Susut Pengeringan
Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105oC selama 30 menit
atau sampai berat konstan yang dinyatakan dalam persen. Tujuannya adalah untuk
memberikan batas maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada
proses pengeringan (BPOM, 2000).
Nilai: - Susut pengeringan simplisia : tidak lebih dari 10 % (FHI, 2008).
b) Bobot jenis
Parameter bobot jenis adalah massa per satuan volume yang diukur pada suhu
kamar tertentu (25C) yang menggunakan alat khusus piknometer atau alat lainnya.
Tujuannya adalah memberikan batasan tentang besarnya massa persatuan volume yang
merupakan parameter khusus ekstrak cair sampai ekstrak pekat (kental) yang masih
dapat dituang, bobot jenis juga terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan kontaminasi.
Nilai: Minimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi.
c) Kadar air
Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada didalam bahan
yang bertujuan untuk memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya
kandungan air dalam bahan (Depkes RI,2000). Persyaratan berdasarkan Farmakope
Herbal adalah kadar air dalam ekstrak tidak lebih dari 10% (FHI, 2008)
Nilai: - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi (BPOM, 2000).
g. Kadar air tidak lebih dari 10 % (FHI, 2008)
d) Kadar abu
Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa
organik dan turunannya terdestruksi dan menguap. Sehingga tinggal unsur mineral dan
anorganik, yang memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang
berasal dari proses awal sampai terbentuknya esktrak. Parameter kadar abu ini terkait
dengan kemurnian dan kontaminasi suatu ekstrak.
Nilai: - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi.
h. Kadar abu total simplisia: tidak lebih dari 8,7 %
i. Kadar abu tidak larut asam simplisia: tidak lebih dari 2,5 %
j. Kadar abu total ekstrak: tidak lebih dari 0,5 %
k. Kadar abu tidak larut asam ekstrak: tidak lebih dari 0,2 %
e) Sisa pelarut
Parameter sisa pelarut adalah penentuan kandungan sisa pelarut tertentu yang
mungkin terdapat dalam ekstrak. Tujuannya adalah memberikan jaminan bahwa selama
proses tidak meninggalkan sisa pelarut yang memang seharusnya tidak boleh ada.
Pengujian sisa pelarut berguna dalam penyimpanan ekstrak dan kelayakan ekstrak untuk
formulasi (Putri et al., 2012).
Nilai: - Maksimal yang diperbolehkan. Namun dalam hal pelarut berbahaya seperti
kloroform nilai harus negatif sesuai deteksi instrumen. Terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi.
f) Cemaran mikroba
Parameter cemaran mikroba adalah penentuan adanya mikroba yang patogen
secara analisis mikrobiologis. Tujuannya adalah memberikan jaminan bahwa ekstrak
tidak boleh mengandung mikroba patogen dan tidak mengandung mikroba non patogen
melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan bahaya
(toksik) bagi kesehatan.
Nilai: - Pemeriksaan kuman boleh positif tetapi harus mempunyai batas serta tidak
boleh mengandung bakteri patogen, misalnya Salmonella sp, Escherichia
coli, Staphylococcus sp, Stretococcus sp, vibrio cholera, Bacillus sp,
Pseudomonas sp, Shigella sp, Priteus sp.
l.
ALT : <106
m.
Angka kapang khamir : <106
n. E. coli : -/9
o. Salmonella : -/9
p. P. Aeruginosa : -/9
q. S. aureus : -/9
g) Cemaran aflatoksin
Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur. Aflatoksin
sangat berbahaya karena dapat menyebabkan toksigenik (menimbulkan keracunan),
mutagenik (mutagi gen), teratogenik (penghambatan dan pertumbuhan janin) dan
karsinogenik (menimbulkan kanker pada jaringan) (Rustian, 1993). Tujuannya adalah
untuk memberikan jaminan bahwa ekstraksi tidak mengandung cemaran jamur melebihi
batas yang telah ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan aflatoksin
berbahaya bagi kesehatan (BPOM, 2008). Jika ekstrak positif mengandung aflatoksin
maka pada media pertumbuhan akan menghasilkan koloni berwarna hijau kekuningan
sangat cerah (Saifudin et al., 2011).
Nilai: - Menjadi persyaratan tapi tidak harus nol
r. AKK: <106
s. Aflatoksin: <20 µg/kg
h) Cemaran logam berat
Parameter cemaran logam berat adalah penentuan kandungan logam berat dalam
suatu ekstrak, sehingga dapat memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung
logam berat tertentu (Hg, Pb, Cd, dll) melebihi batas yang telah ditetapkan karena
berbahaya bagi kesehatan (Depkes RI, 2000).
Nilai: - Pd : ≤ 10 mg/kg atau mg/l atau ppm
t. Cd : ≤ 0,3 mg/kg atau mg/l atau ppm
u. As : ≤ 5 mg/kg atau mg/l atau ppm
v. Hg : ≤ 0,5 mg/kg atau mg/l atau ppm (BPOM, 2014)
2.2 Alat dan Bahan
Bahan: Alat:
 Ektrak kering rimpang kencur  Corong pisah  Desikator

 Aquadest  Corong  Kaki tiga

 Kloroform  Oven  Bunsen

 Etanol 96%  Cawan penguap  Penjepit kayu

 Kertas saring  Krus silikat  Analytical


balance

2.3 Prosedur Kerja

A. Parameter Spesifik

1. Identitas

a. Deskripsi tata nama:

 Nama ekstrak (generik, dagang, paten)


 Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
 Bagian yang digunakan (rimpang, daun, dsb)
 Nama Indonesia tumbuhan
b. Senyawa Identitas, senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik dengan
metode tertentu.
2. Organoleptik
Penggunaan pancaindra mendeskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa:
 Bentuk : padat, serbuk- kering, kental, cair.
 Warna : kuning, coklat, dll.
 Bau : aromatik, tidak berbau, dll.
 Rasa : pahit, manis, kelat, dll.
B. Parameter Non- Spesifik

1. Susut Pengeringan

Cawan penguap di Didinginkan selama 10 Ditimbang cawan


panaskan pada suhu menit dalam desikator
kosong
105C

Dipanaskan dalam oven Dimasukkan ke dalam


dengan suhu 105C Ditimbang ekstrak 1-2
cawan penguap
selama 30 menit gram

Ditimbang cawan+
Didinginkan dalam
ekstrak ad berat konstan
desikator

2. Kadar Air

Wadah tempat ekstrak Penutup ditutup sampai


Tekan ON pada tombol
dibersihkan menunjukkan angka
alat MC
0,00

Ditunggu 5 menit Penutup ditutup


Ekstrak dimasukkan
kembali sampai rentang 2,6- 2,7 g

Catatan: Toluen P adalah toluen yang sudah dijenuhkan dengan


Dicatat hasil MC air suling. Sebanyak 200 ml toluen ditambah 5 ml air suling,
kemudian dikocok beberapa saat, lalu lapisan air dipisahkan.
3. Senyawa Terlarut dalam Pelarut tertentu
a. Kadar senyawa larut air

Dimasukkan kedalam (+) 100 ml air kloroform


Ditimbang 5.0 g ekstrak corong pisah
4. Kadar Abu LP

Dibiarkan selama  20 Dikocok berkali- kali


Disaring
jam selama 4 jam

Ditampung dalam
Diambil filtrat sebanyak Diuapkan ad kering
cawan penguapan yang
20 ml
sudah ditara

Residu dipanaskan pada


suhu 105C ad bobot
konstan

b. Kadar senyawa larut etanol

Dimasukkan kedalam (+) 100 ml etanol 95%


Ditimbang 5.0 g ekstrak corong pisah

disaring Dibiarkan selama ± 2o Dikocok berkali-kali


jam selama 4 jam

Ditampung dalam
Diambil filtrat sebanyak Diuapkan ad kering
cawan penguapan yang
20 ml
sudah ditara

Residu dipanaskan pada


suhu 105C ad bobot
konstan
3. Kadar Abu Total
BAB III

HASIL PENGAMATAN

 Parameter spesifik
 Identitas
 Identitas tata nama
o Nama ekstrak = serbuk kering ekstrak kencur
o Nama latin tumbuhan = Kaemferia galangal. L
o Bagian yang digunakan = rimpang
o Nama indonesia tumbuhan = kencur
o Senyawa identitas = Etil p-metoksisinamat

 Organoleptik
o Bentuk = serbuk kering
o Warna = cokelat muda (cream)
o Bau = khas aromatic
o Rasa = pahit

 Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu


pelarut Cawan kosong (g) Cawan+ekstrak Ekstrak (g) Kadar %

Aquadest+kloroform 68,6366 g 0,5660 g 56,60 %


68,6365 g
68,6365 g

etanol 70,3040 g 0,8109 g 81,09 %


70,3040 g
70,3038 g
Perhitungan kadar %

1. Kadar senyawa larut aquadest + kloroform


( 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛+𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘−𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)𝑥 100 𝑚𝑙
= 𝑥 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑥 20 𝑚𝑙
(68,6365 𝑔−68,0705 𝑔)𝑥 100 𝑚𝑙
= 𝑥 100%
5,000 𝑔 𝑥 20 𝑚𝑙

= 56,60%

2. Kadar senyawa larut etanol


( 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛+𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘−𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)𝑥 100 𝑚𝑙
= 𝑥 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑥 20 𝑚𝑙
(70,3039 𝑔−69,4390 𝑔)𝑥 100 𝑚𝑙
= 𝑥 100%
5,000 𝑔 𝑥 20 𝑚𝑙

= 81,09%

 Parameter non spesifik


o Susut pengeringan
Cawan kosong (g) Cawan + ekstrak (g) Ekstrak (g) Kadar%

65,0043 g 66,7740 g 1, 7696 g 11,52%


66,7739 g
66, 7738 g

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟


% kadar = 𝑥 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙

2,000 𝑔−1,7696 𝑔
= 𝑥 100%
2,000 𝑔

= 11,52%

o Kadar air (MC/moisture consent)


- Menit ke 3’ : 3,40%
- Menit ke 10’ : 5,45%
o Kadar abu total
Kurs kosong (g) Pemijaran (kurs+ekstrak) Berat abu (g) Kadar (%)

40,9833 g 41,6705 g 0,6872 g 22,91%

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢
% kadar = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑥 100%

0,8672 𝑔
= 𝑥 100%
3,000 𝑔

= 22,91%
BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan parameter mutu ekstrak dari Kaemferia
galangal. Parameter yang ditetapkan terdiri dari parameter spesifik dan non spesifik. Parameter
tersebut bertujuan untuk menjamin ekstrak tersebut mempunyai nilai parameter tertentu yang
baik atau konstan.

Pengujian parameter spesifik meliputi identitas ekstrak, organileptis ekstrak dan


senyawa terlarut dalam pelarut tertentu (air dan etanol). Tujuan dilakukan pengyjian identitas
esktrak adalah untuk memberikan objektifitas dari nama dan spesifikasi tanaman, sedangkan
pengamatan organoleptis ekstrak bertujuan untuk pengenalan awal mendeskripsikan bentuk,
warna dan rasa.

Pada pengujian parameter mutu spesifik senyawa yang terlarut dalam pelarut tertentu,
didapatkan parameter hasil senyawa terlarut air yakni 56,60%, yang dimana hasil tersebut
memenuhi persyaratan dari farmakope Herbal yang tidak kurang dari 14,2%. Dan didapatkan
presentasi hasil senyawa terlarut etanol yakni 81,90% dimana hasil tersebut juga memenuhi
persyaratan farmakope Herbal yakni tidak kurang dari 4,2%. Pada hasil pengujian ini terlihat
bahwa ekstrak kencur lebih larut dalam etanol dibandingkan dengan air, dengan kata lain
sebagai perkiraa kasar bahwa kandungan senyawa aktif yang bersifat non-polar dan bersifat
polar.

Tahap pengujian parameter non spesifik meliputi susut pengeringan, kadar air dengan
menggunakan MC analyzer dan kadar abu total. Susut pengeringan merupakan salah satu
parameter non spesifik yang bertujuan untuk memberikan batasan maksimal rentang besarnya
senyawa yang hilang pada proses pengeringan. Hasil yang didapatkan pada kelompok kami
adalah yakni seberat 11,52% dimana hasil ini tidak sesuai dengan standar kadar air yang telah
ditetapkan farmakope Herbal yaitu tidak boleh lebih dari 10%.

Pengujian selanjutnya yakni pengujian kadar air, yang bertujuan untuk menetapkan
residu air setelah proses pengentalan dan pengeringan. Hasil pengujian didapatkan kadar air
pada menit ke 3’ = 3,40% dan menit ke 10’= 5,45%. Pada kelompok kami hanya menghitung
mulai dari menit ke 3’ dan menit ke 10’, dan hasil yang diperoleh sesuai dengan standar kadar
air yang telah ditentukan oleh farmakope Herbal, tidak boleh lebih dari 10%.

Untuk selanjutnya yang terakhir adalah pengujian kadar abu, pada kelompok kami
tidak dapat dihitung kadarnya, dikarenakan terjadi kesalahan dalam praktikum sehingga tidak
dapat terbentuk abu saat proses pemanasan ekstrak di dalam porselin. Ketidaksesuain hasil
yang diperoleh dengan standar yang telah di tetapkan di sebabkan oleh beberapa factor seperti
ketidaktelitian praktikan dalam melakukan serangkaian prosedur pengujian tersebut.

Berikut di bawah ini, data praktikum dari beberapa kelompok


kelompok Senyawa terlarut dalam pelarut Susut Kadar air Kadar abu
Aquadest + kloroform Etanol pengeringan (MC) menit ke 10’
1. 38,09% 39,56% 8,56% 7,68% 63,91%

2. 25,99% 48,05% 15,18% -7,37% 20,7%

3. 50,14% 91,54% 15,61% 6,65% 30,16%

4. 22,52% 49,46% 11,72% 6,75% 56,16%

5. 37,41% 72,02% 15,43% 6,49% 36,58%

6. 56,60% 81,09% 11,52% 5,45% 22,91%

7. 32,65% 60,92% 14,71% 6,68% 35,21%

8. 37,47% 38,76% 14,57% 5,65% 34,77%

9. 28,34% 46,32% 8,86% 7% 25,77%

Dari data kelompok di atas, terlihat bahwa kelompok kami dan kelompok yang lain
tidak mendapatkan hasil yang sama, data masing-masing kelompok diketahui ada yang
memenuhi persayaratan farmakope Herbal da nada juga pada kelompok lain tidak masuk
dalam persyaratan yang telah ditentukan. Perbedaan ini disebabkan karena hasil yang diperoleh
dengan standar yang ditetapkan dalam farmakope Herbal bisa disebabkan oleh banyak factor.
Misalnya ketidaktelitian praktikan dalam melakukan serangkaiam prosedur pengujian baik
pengujian parameter spesifik maupun parameter non spesifik. Factor –farktor lain yang masih
belum diketahui juga menjadi penghambat atau ketidaktepatan hasil pengujian tersebut.
BAB VI

KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini ditetapkan hasil pada uji parameter spesifik dan non spesifik,
sebagai berikut:
 Parameter spesifik.
- Identitas, yaitu nama tanaman dalam bahasan Indonesia yaitu kencur
- Organoleptis, berbentuk serbuk kering, cokelat muda, bau khas, rasa pahit
- Senyawa terlarut aquadest: 56,60%
- Senyawa terlarut etanol: 81,09%

Yang dimana senyawa terlarut etanol dan aquadest ini telah memenuhi persyaratan
farmakoper Herbal yang telah ditetapkan. Yakni senyawa terlarut aquadest tidak kurang
dari 14,2% dan senyawa terlarut etanol tidak kurang dari 4,2%

 Parameter non spesifik.


- Susut pengeringan; 11,52%
- Kadar air pada menit ke 10’: 5,45%
- Kadar abu total: -

Dapat disimpulkan bahwa untuk susut pengeringan tidak memenuhi persayatan yang
telah ditetapkan, yaitu menurut farmakope Herbal tidak boleh lebih dari 10%, untuk kadar air
sudah memenuhi standar kadar air yang ditentukan yakni tidak lebih dari 10% dan kadar abu
total tidak dapat diketahui kadarnya karena tidak terbentuk abu pada saat proses pemanasan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2000. Parameter standar umum ekstrak tumbuhan obat cetakan pertama. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: 2, 13, 17, 21, 35 – 36.

Ditjen POM, Depkes RI , 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-11,16.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2014. Sentra Informasi Keracunan (SIKer)
Nasional. http://ik.pom.go.id/v2014/. Diakses 15 September 2015

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Farmakope Herbal Indonesia, 113-115,


Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Sukara, E. 2002. Sumber daya alam hayati dan pencarian bahan baku obat (bioprospecting).
Prosiding simposium nasional II tumbuhan obat dan aromatik.

Saifudin, A., Rahayu, A., & Teruna, H. Y., 2011,Standarisasi Bahan Obat Alam, Graha ILmu,
Yogyakarta

Yuliani, S. 2001. Prospek pengembangan obat tradisional menjadi obat fitofarmaka. J. Litbang
Pertanian. 20(3): 103-104
LAMPIRAN

Kadar Air

Hasil penimbangan bobot Hasil kadar air di menit Hasil kadar air di menit
ekstrak pada alat Mattle ke 3.30 ke 10.00
Toledo

Kadar Senyawa Larut Air

Penimbangan bobot Penimbangan bobot Penimbangan bobot


cawan kosong cawan kosong+ ekstrak cawan kosong+ ekstrak
ke-1 ke-8
Penimbangan bobot Penimbangan bobot
cawan kosong+ ekstrak cawan kosong+ ekstrak
ke-9 ke-10

Kadar Senyawa Larut Etanol

Penimbangan bobot Penimbangan bobot Penimbangan bobot


cawan kosong cawan kosong+ ekstrak cawan kosong+ ekstrak
ke-1 ke-8

Penimbangan bobot Penimbangan bobot


cawan kosong+ ekstrak cawan kosong+ ekstrak
ke-9 ke-10
Susut Pengeringan

Penimbangan bobot
Penimbangan bobot Penimbangan bobot
cawan kosong+ ekstrak
cawan kosong+ ekstrak cawan kosong+ ekstrak
ke-10
ke-8 ke-9

Kadar Abu

 Bobot krus porselen +


ekstrak saat pemijaran
41,6705g
 Berat abu 0,6872

Penimbangan bobot Pemberian air panas


krus porselen kosong untuk menghilangkan
abu
LAPORAN PRAKTIKUM

PENETAPAN KADAR SENYAWA MARKER PADA EKSTRAK


RIMPANG KENCUR (Kaempferia galangal L.)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 6
KELAS: D

Sukmawansyah 201410410311016
Sakinah Musaad 201510410311138
Meilya Hayyu Saputri 201510410311166
Dima Atsyari Novianti 201510410311182
Ayudya Rizky P. 201510410311196

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt.
Amaliya Dina Anggraeni, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di
berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak digunakan
sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para petani
banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan.
Bagian dari kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang ada di dalam tanah yang
disebut rimpang kencur atau rizoma (Barus, 2009).
Umumnya kencur diproses dengan berbagai macam cara, seperti diambil sarinya,
dibuat tepung, bahkan langsung digunakan untuk berbagai keperluan. Hampir seluruh bagian
tanaman kencur mengandung minyak atsiri. (Afriastini 1990).
Komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam bahan organik seperti yang
terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan oleh keperluan hidup manusia, baik
komponen senyawa tersebut digunakan untuk keperluan industri maupun untuk bahan obat-
obatan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode ekstraksi dimana ekstraksi
merupakan proses pelarutan komponen kimia yang sering digunakan dalam senyawa organik
untuk melarutkan senyawa tersebut dengan menggunakan suatu pelarut.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibagi menjadi dua yaitu
ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair, bahan yang menjadi analit
berbentuk cair dengan pemisahannya menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur
sehingga terjadi distribusi sampel di antara kedua pelarut terebut. Pendistribusian sampel
dalam kedua pelarut tersebut dapat ditentukan dengan perhitungan koefisien distribusi
(Voigt,1995).
Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik sumber bahan
alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi senyawa farmakologik aktif pada
prosuk akhir atau memastikan efikasi produk, marker sangat penting dalam evaluasi jaminan
kualitas produk senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologik. Senyawa marker
dapat digolongkan mnjadi 4 katagori berdasarkan bioaktivitasnya (Harbone, 1987).
1.2 Tujuan
Berdasarkan dari latar belakang, maka didapatkan tujuan sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu melakukan penetapan kadar senyawa marker pada ekstrak
Kaempferia galanga L
1.3 Manfaat
Berdasarkan dari latar belakang dan tujuan, maka didapatkan manfaat sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui melakukan penetapan kadar senyawa marker pada
ekstrak Kaempferia galanga L.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN TANAMAN


2.1.1 TAKSONOMI
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsoda
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Subfamili : Zingiberoideae
Genus : Kaempferia (sumber : wikipedia.com)
Spesies : K. Galanga
2.1.2 Penyebaran dan Etnobotani
Kencur (Kaempferia galanga L.) sudah sejak lama dikenal dan ditanam di Indonesia.
Tanaman ini diperkirakan berasal dari daerah Asia Tropika. Sebagian kalangan menduga
bahwa asal usul kencur adalah dari kawasan Indo-Malaysia. Tetapi literatur lainnya
memastikan bahwa asal tanaman kencur adalah dari India (Rukmana, 2013).
Daerah penyebaran kencur meluas ke kawasan Asia Tenggara dan China. Dalam
perkembangan selanjutnya, diketahui bahwa famili Zingiberaceae ini meliputi 47 genera dan
1400 spesies yang tersebar luas di daerah tropika dan subtropika. Di antara sejumlah genera
dan spesies tersebut, terdapat 13-17 jenis temu-temuan yang dipakai dalam obat tradisional.
Kencur termasuk salah satu tanaman temu-temuan yang banyak digunakan sebagai bahan obat
tradisional (Rukmana, 2013).
2.1.3 Deskripsi Tanaman (Kaempferia galanga L.)
Kencur termasuk ke dalam terna kecil yang siklus hidupnya semusim atau beberapa
musim. Akar kencur merupakan akar tinggal yang bercabang halus dan menempel pada umbi
akar yang disebut rimpang. Rimpang kencur sebagian lagi terletak diatas tanah. Bentuk
rimpang umumnya bulat, bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya coklat-ekuningan dan
berbau harum. Tanaman kencur memiliki batang semu yang sangat pendek, terbentuk dari
pelepah-pelepah daun yang saling menutupi. Daun kencur tumbuh tunggal, melebardan
mendatar hampir rata dengan permukaan tanah. Jumlah daun variasi antara 8-10 helai dan
tumbuh secara berlawanan satu sma lain. Bentuk daun elip melebar sampai bundar, ukuran
panjang daun 7-12 cm dan lebarnya 3-6 cm, serta berdaging agak tebal. Bunga kencur keluar
dalam bentuk buliran setengah duduk dari ujung tanaman di sela-sela daun. Warna bunganya
putih, unguhingga lembayung dan tiap tangkai bunga berjumlah 4-12 kuntum bunga. Buah
kencur termasuk buah kotak beruang 3 dengan bakal buah yang letaknya tenggelam, tetapi
sulit sekali menghasilkan biji (Rukmana, 2013).
2.1.4 Kandungan Kimia dan Manfaat kencur
Menurut Hargono (1995), terdapat beberapa kandungan dari senyawa Kaempferia galanga L.
yaitu:
a. Daun: alkaloid, borneol, eucaliptol
b. Rimpang: tanin, saponin, kalsium oksalat, borneol, kamfen, sineol, etil alkohol, minyak
atsiri (2,4%-3,9%) terdiri dari asam transinamat, n-pentadekana, etil p-metoksisinamat, asam p-
metoksisinamat, p-metoksi stirena, p-asam kumarat.
Kandungan senyawa metabolit sekunder dari rimpang kaempferia galanga L., yaitu
menunjukan adanya senyawa etil trans-sinamat dan etil p-metoksisinamat aktif sebagai
nematisida, etil p-metoksisinamat, etil sinamat dan 3-carene, 2-propionic acid aktif sebagai
penolak nyamuk dan larvisida, etil sinamat sebagai vasorelaksan, etil p-metoksisinamat sebagai
antineoplastik, antimikroba, antiinflamasi, dan luteolin dan apigenin ssebagai antioksidan (Umar
et al.,2011).
Secara empiris Kaempferia galanga L. telah diketahui memiliki efek antiinflamasi.
Kandungan utama kencur adalah etil-P-metoksisinamat (31,77%) yang didalam tubuh mengalami
hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis asam P- metoksisinamat (APMS) senyawa ini bekerja
dengan menghambat enzim siklooknigenase, sehingga konversi asam arakidonat menjadi
prostaglandin terganggu. Penggunaan obat antiinflamasi non steroid (OAINS) seringakali dapat
menyebabkan iritasi saluran cerna salah satu upaya untuk menghindari efek samping tersebut,
dikembangkan penggunaan obat secara topika OAINS topikal yang telah beredar antara lain
natrium diklofenak dosis 1% sementara dosis APMS untuk penggunaan topikal belum diketahui
(Soeratri et al, 2014).
2.2 Sediaan Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan penyari simplisia menurut
cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah
digerus menjadi serbuk (BPOM RI, 2010). Simplisia banyak mengandung senyawa aktif yang
dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut, seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-
lain. Untuk memisahkan senyawa aktif tersebut maka perlu dilakukan proses ekstraksi.
Ekstraksi merupakan kegiatan atau proses pemisahan bahan dari campurannya dengan
menggunakan pelarut (Agoes, 2007).
2.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses penyarian senyawa kimia yang terdapat didalam bahan
alam atau berasal dari dalam sel dengan menggunakan pelarut dan metode yang tepat. Metode
pembuatan ekstrak yang umum digunakan antara lain maserasi, perlokasi, dan sokhletasi.
Adapun metode penyaringan yang digunakan tergantung dari wujud dan kansungan bahan
yang akan disaring selain itu pemilihan metode penyaringan disesuaikan dengan kepentingan
untuk memperoleh kandungan kimia yang diinginkan (Harbone. J. B, 1996). Adapun macam
– macam metode ekstraksi :

a. Ekstraksi Cara Dingin


Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya senyawa yang dimaksud rusak
karena pemanasanan. Jenis ekstraksi dingin adalah maserasi dan perkolasi.
a) Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan
cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
b) Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan jalan melewatkan pelarut
yang sesuai secara lambat pada simplisia dalam suatu percolator
(Hargono,1986).
b. Ekstraksi Cara Panas
Metoda ini pastinya melibatkan panas dalam prosesnya. Dengan adanya panas
secara otomatis akan mempercepat proses penyarian dibandingkan cara dingin.
Metodanya adalah refluks, ekstraksi dengan alat soxhlet dan infusa.
a) Refluks: metode ini digunakan apabila dalam sintesis tersebut
menggunakan pelarut yang volatil. Pada kondisi ini jika dilakukan
pemanasan biasa maka pelarut akan menguap sebelum reaksi berjalan
sampai selesai.
b) Sokletasi: adalah suatu metode atau proses pemisahan suatu komponen
yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang-ulang
dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang
diinginkan akan terisolasi. Sokletasi digunakan pada pelarut organik
tertentu (Hargono,1986).
c. Metode Destilasi Uap Air
Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang mengandung
minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi
pada tekanan udara normal (Hargono,1986).
2.4 Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan pengulangan beberapa kali
pengocokan atau pengadukan pada temperatur (ruang kamar). Maserasi bertujuan untuk
menarik zat zat yang berkhasiat yang tahan terhadap pemanasan (Depkes RI, 2000). Maserasi
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Maserasi
adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yang direndam
menggunakan pelarut bukan air (pelarut non-polar) selama periode waktu tertentu sesuai
dengan aturan dalam buku referensi kefarmasian. Metode ini memiliki keuntungan yaitu
cara pengerjaannya yang lebih mudah, alat-alat yang digunakan sederhana, dan cocok untuk
bahan yang tidak tahan pemanasan (Hargono, 1986).
Menurut Hargono dkk. (1986), ada beberapa variasi metode maserasi, antara lain
digesti, maserasi melalui pengadukan kontinyu, remaserasi, maserasi melingkar, dan maserasi
melingkar bertingkat.
a. Digesti merupakan maserasi menggunakan pemanasan lemah (40-50°C).
b. Maserasi pengadukan kontinyu merupakan maserasi yang dilakukan pengadukan
secara terus-menerus, misalnya menggunakan shaker, sehingga dapat mengurangi
waktu hingga menjadi 6-24 jam.
c. Remaserasi merupakan maserasi yang dilakukan beberapa kali. Maserasi melingkar
merupakan maserasi yang cairan pengekstrak selalu bergerak dan menyebar.
d. Maserasi melingkar bertingkat merupakan maserasi yang bertujuan untuk
mendapatkan pengekstrakan yang sempurna.
Lama maserasi memengaruhi kualitas ekstrak yang akan diteliti. Lama maserasi pada
umumnya adalah 4-10 hari. Menurut Voigt (1995), maserasi akan lebih efektif jika dilakukan
proses pengadukan secara berkala karena keadaan diam selama maserasi menyebabkan
turunnya perpindahan bahan aktif. Melalui usaha ini diperoleh suatu keseimbangan konsentrasi
bahan ekstraktif yang lebih cepat masuk ke dalam cairan pengekstrak. Kelemahan metode
maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyarian kurang sempurna. Secara tekhnologi
termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan.
Maserasi kinetik berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan
penyarigan maserat pertama dan seterusnya (Depkes RI, 2000).
2.5 EPMS (etil para-metoksi sinamat)

Kencur (Kaempferia galangal L.) secara empiris telah diketahui memiliki efek
antiinflamasi. Kandungan utama kencur adalah etil p-metoksisinamat (EPMS) yang
merupakan senyawa ester turunan dari p-metoksisinamat yang di dalam tubuh mengalami
hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis, asam p-metoksisinamat (APMS), senyawa ini
bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase, sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu. Selain itu, EPMS termasuk kelompok fenolik alam dari
golongan fenil propanoid yang bermanfaat sebagai tabir surya, senyawa ini memperlihatkan
aktifitas serapan maksimum 308nm (daerah UV-B) dan bersifat sebagai UV filter sehingga
Etil p-metoksisinamat mempunyai perlindungan yang baik terhadap sinar matahari yang dapat
memantulkan dan menghamburkan radiasi sinar UV terutama UV-B (290-320 nm) (Soeratri
et al, 2014).

2.6 Senyawa Marker

Berdasarkan natural health Produck Directorate (NHPD) Senyawa marker meruakan


konstituent that accurs naturally in the material and that is selected for special attention (e.g
for identification and standarization purposes) by a researcher or manufacture. Marker
mempunyai 2 tujuan utama yaitu sebagai penanda farmakoogis dan analisis.
Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik sumber bahan
alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi senyawa farmakologik aktif pada
prosuk akhir atau memastikan efikasi produk, marker sangat penting dalam evaluasi jaminan
kualitas produk senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologik. Senyawa marker
dapat digolongkan mnjadi 4 katagori berdasarkan bioaktivitasnya (Harbone, 1987).

a. Zat aktif
Merupakan senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang dietahui contohnya: ephedrin
pada epedra sinensis (Harbone, 1987).
b. Marker aktif
Merupakan senyawa kimia yang mempunya efek farmakologi tetapi belum tentu
mempuyai efek klinik (Harbone, 1987).
c. Marker analisis
Merupakan senyawa kimia yang dipilih untuk determinasi, kuantitatif tetapi belum tentu
mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinik (Harbone, 1987).
d. Marker negatif
Merupakan senyawa aktif dengan zat aktif toksik atau allergik. Kencur merupakan
tanaman tropis yang terkandung senyawa etil-p-metoksisinamat sebagai komponen utama
dan terkandung pula senyawa lain seperti etil sinamat dan p-metoksisinamat, kadar etil-p-
metoksisinamat dalam kencur cukup tinggi tergantung spesiesnya dengan bias sampai
10% (Harbone, 1987).

2.7 Uji Kandungan Kimia Ekstrak

Prinsip : ekstrak ditimbang, diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian
dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang khas.

Prosedur :

Laruran uji : ekstrak ditimbang dan diekstraksi berturut turut dengan pelarut hexane,
etilasetat, etanol dan air. Cara ekstraksi dapat dilakukan dengan pengocokan 15 menitatau
dengan getaran ultrasonik atau dengan pemanasan kemudian disaring untuk mendapatkan
larutan uji.
Kromatografi lapis tipis (KLT) : umumnya dibuat kromatogram pada lempeng silika
gela dengan berbagai jenis fase gerak sesuai dengan golongan kandungan kimia sebagai
sasaran analisis. Eavluasi dapat dilakukan dengan dokumentasi foto hasil pewarnaan lempeng
kromatografi dengan pereaksi yang sesuai atau dengan meliah TLC-Scanner. Perekamkan
dapat dilakukan secra absorbsi-refleksi pada panjang gelombang 254 nm, 365 nm, dan 415 nm
atau pada panjangn gelombang lain yang spesifik untuk suatu komponen yang telah diketahui.

2.8 Kadar total golongan kandungan kimia

Prinsip : dengan penerapan metode spektofotometri, tritimetri, volumetri, gravimetri


atau lainnya, dapat ditetapkan kadar golongan kandungan kimia. Metode harus sudah teruji
validitasnya, terutama selektivitas dan batas liniaritas.

Prosedur :

1. Penetapan kadar minya atsiri


Timbang secukupnya sejumlah ekstrak hingga diperkirakan dapat mengahasilkan 1 ml-3
ml minyat atsiri. Masukkan ekstrak yang telah ditimbang kedalam labu. Hubungkan
dengan bagian pendingin dan penampung berskala (rantai kesuluran alat destilasi).
Didihkan isi labu dengan pemanasan yang sesuai untuk menjaga agar pendidihan tidak
terlalu kuat atau minya atsiri terdestilasi sempurna dan tidak bertambah lagi dalam bagian
penampung berskala. Catat volume minyak atsiri yang dihasilkan dan hitung perbandingan
inyak atsiri yang tertampung dengan jumlah ekstrak yang ditimbang.
2. Penetapan kadar steroid
Larutan baku: rimbang seksama 1 mg sitosterol, larutkan dalam etanol P bertingkat
sehingga diperoleh kadar 5, 10, dan 20 mikrogram/mililiter
Larutan uji: timbang seksama 1 g ekstrak, larutkan dalam 20 ml etanol dalam labu takar.
Ulangi sampai 3 kali dengan cara yang sama. Kedlam 2 labu yang masing masing berisi
larutan uji dan larutan baku kedalam labu ketiga berisi 20.0 ml etanol P sebagai blanko.
Tambahkan 2.0 ml larutan yang dibuat dengan melarutkan 50 mg tetrazolium biru P dalam
10 ml metanol P dan campur. Kemudian dalam tiap labu tambhakan 2.0 ml campuran
etanol P dan tetrametil amonium hisroksida LP (9:1) Campur dan biarkan dlam gelap
selama 90 menit. Ukur segera serapan larutan yang diperoleh dari larutan uji dan larutan
baku pada panjang gelombang lebih kurang 525 nm.
3. Penetapan kadar tanin
Lebih kurang 2 g ekstrak yang ditimbang seksama dipanaskan dengan 50 ml air mendidih
diatas penangas air selama 30 menit sambil diaduk. Diamkan selama beberapa menit,
endapkan, saring dapat menggunkan kapas kedalam labu takar 250 ml. Larutkan kembali
residu dengan air mendidih, kemudian saring kembali ke tempat yang sama. Ulangi
penyarian bebrapa kali hingga bila direaksikan dengan besi (III) amonium sulfat tidak
menunjukkan adanya tanin. Dinginkan cairan dan tambahkan air secukupnya hingga 250
ml. Pipet 25 ml larutan kedalam labu 1000 ml, tambhkan 750 ml air dan 25 ml asam indigo
sulfonat LP, titrasi dengan kalium permanganat 0,1 N hingga larutan berwarna kuning
emas. 1 ml kalium permanganat 0.1 N setara dengan 0.004157 g tanin.
Asam indigo sulfonat LP: larutkan 1 g indigo karmin P dalam 25 ml asam sulfat P,
tambahkan 24 ml asam sulfatlagi dan encerkan dengan air secukupnya hingga 1000 ml.
4. Penetapan kadae flavonoid
Hidrolisis : timbang ekstrak yang setara dengan 200 mg simplisia dan masukkan kedalam
labu alas bulat. Tambahkan sistem hidrolisis, yaitu 1.0 ml laruran 0.5% b/v
heksametilentetramina, 20.0 ml aseton dan 2.0 ml larutan 25% HCL dalam air. Lakukan
hidrolisis dengan pemanasan sapai emndidih (gunakan pendingin air/reflux) selama 30
menit. Cmapuran hasil hidrolisis ditambah 20 ml aseton untuk didihkan kembali sebentar,
lakukan 2x dan filtrat dikumpulkan semua kedalam labu ukur. Setelah labu ukur dingin,
maka volume ditetapkan sampai tepat 100.o ml. Kocok ad homogen. 20 ml filtrat hidrolisa
dimasukkan corong pisah dan tambahkan 20 ml H2O, selanjutnya lakukan ekstraksi kocok,
pertama dengan 15 ml eteilasetat. Kemudian 2x dengan 10 ml etilasetat dan kumpulkan
fraksi etilasetat kedlaam labu ukur 50.0 ml akhirnya tambahkan etilasetat sampai tepat 50.0
ml. Untuk replikasi spektofometri lakukan prosedur ini 3-4 kali.
Uji spektofotometri : masukkan 10 ml lakukan fraksi etilasetat (hidrolisa) kedalam labu
ukur 25.0 ml tambahkan 1 ml laruran 2 g AgCl3 dalam 100 ml larutan asam asetat glacial
5 % v/v (dalam metanol) secukupnya sampai tepat 25.5 ml. Hasil eraksi siap diukur pada
spektrofotometer setetlah 30 menit berikutnya pada panjang gelombang
maksimum.perhitungan kadar menggunakan bahan standar glikosida flavonoid
(hiperoksida, rutin, hisperidin), gunakan kurva baku dan nilai kadar terhitung sebagai
bahan standart tersebut. Kalai menggunakan hiperoksida dapat langsung diukur dengan
rumus: kadar total flavonoid = [(Aº x 1.25) berat sampel]
5. Penetapan kadar alkaloid
Timabnga seksama 1 g ekstrak, masukkan dalam corong pisah 125 ml pertama, kemudian
tambhkan 200 ml larutan asam sulfat P (1 dalam 350) dan kosok kuat selama 5 menit.
Tambhka 20 ml eter P, kosok hati- hati, saring lapisan asam kedalam corong pisah kedua.
Kaoco lapisan eter dua kali, tiap klai dengan 10 ml larutan asam sulfat P (1 dalam 350),
saring tiap lapisan asam kedalam corong pisah 125 ml kedua dan buang lapisan eter. Pada
ekstrak tambhakan 10 ml natrium hidroksida LP dan 20 ml eter P, kocok hati-hati,
pindahkan lapisan air kedalam corong pisah 125 ml ketiga berisi 50 ml eter P. Kocok
corong pisah ketiga hati-hat, buang lapisan air, cuci dengan 20 ml air, buang lapisan air.
Ekstraksi kedua lapisan eter maisng masing dnegn 20, 20 dan 5 ml larutan asam sulfat P (1
dalam 70). Lakukan ekstraksi dengan corong pisah ketiga lebih dahulu, stelah itu corong
pisah kedua. Campurkan ekstrak asam dalam labu ukur 50.0 ml encerkan dengan asam
sampai tanda. Kalukan hal yang sama terhadap 25 mg alkaloid pembanding yang tersedia.
Encerkan maisng maisng 5.0 ml larutan uji dan lrutan pembanding dengan larutan asam
sulfat P (1 dalam 70) hingga 100.0 ml dan tetapkan serapan tiap larutan pada panjang
gelombang tertentu menggunakan larutan asam sulfat P (1 dalam 70) sebagai balnko.
6. Penetapan antrakinon
Timbang 0.1 g ekstrak, kocok dengan 10 ml air panas selama 5 menit, saring dalam keadaan
panas, dinginkan filtrak dan ekstraksi dengan 10 ml benzana. Pisahkan lapisan benzena.
Tambahkan pada lapisan air 10 ml larutan ferri klorida 5% dan 5 ml asam klorida. Panaskan
campuran pada penangas air selama 10 menit dalam tabung refluks dinginkan dan ekstraksi
dengan 10 ml benzena. Uapkan cairan hingga habis pada cawan porselen dengan
pemanasan lemah. Larutkan residu dalam 5 ml larutan kalium hidroksida 5 % dalam
metanol. Ukur serapan pada 515 nm. Hitung kadar total antrakinon glikosida berdasarkan
kurva baku antrakinon pembanding.
2.9 Kromatografi Fingerprint

Kromatografi fingerprint merupakan suatu teknik kromatografi yang membandingkan


persamaan dan perbedaan komponen-komponen kimia yang ada dalam ekstrak tanaman dan
produknya. Metode ekstraksi dan persiapan sampel merupakan tahap yang penting ingerprint
obat herbal yang berguna untuk efisiensi evaluasi sebagai kontrol kualitas (Liang et al., 2004)

Metode fingerprint dilakukan dengan melakukan analisis kromatogram dari suatu


spesies tanaman yang aktif secara farmakologis atau hanya melakukan intensitas puncak-
puncak kromatogram dari minimal tiga daerah penghasil spesies tanaman obat tanpa
memperhatikan aspek farmakologis yang ditunjukkan untuk kontrol kualitas saja.

Beberapa metode yang sudah diaplikasikan untuk mengetahui komposisi suatu obat
herbal dengan fingerprint yaitu GC-MS, LC-MS, KLT, CE-MS, dll. Metode-metode tersebut
mempunyai keuntungan yaitu sensitivitas deteksi untuk hampir semua senyawa kimia yang
mudah menguap. Selain itu, selektivitas tinggi kapiler kolom memungkinkan pemisahan
senawa volatile secara stimultan dalam waktu yang relatif singkat. Kekurangannya yaitu
kurang baik untuk analisis sampel senyawa polar dannon-volatile. Sehingga sampel bisa
menguap dan dideteksi dengan GC-MS (Halkes et al., 2004).

Diantara berbagai jenis teknik kromatografi, kromatografi lapis tipis adalah yang
paling cocok untuk analisis obat di laboratorium farmasi karena hanya memerlukan investasi
yang kecil untuk perlengkapan, waktu analisis relatif singkat, jumlah cuplikan yang diperlukan
sedikit, selain itu kebutuhan ruang minimum serta penanganannya sederhana.

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupaka metode pemisahan fitokimia dan teknik
yang paling cocok untuk analisis. Metode ini hanya memerlukan waktu yang sedikit untuk
analisis dan jumlah cuplikan yang sedikit. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan
berbutir-butir yang disebut fase diam, ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam
atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisahkan berupa larutan, ditotolkan pada
bercak atau pita. Selain itu, plat atau laposan diletakkan dalam bejana pengembang yang berisi
larutan pengembang (fase gerak), pemisahan terjadi selama perembatan kapoler
(pengembangan). Selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditempatkan atau didtekesi
dengan pereaksi deteksi. (Stahl, 1985)
Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada lapisan tipis lebih baik
dikerjakan dengan pereaksi lokasi kimia dan reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk identifkasi
menggunakan lampu UV 254nm dan 366nm dan bercak dihitung harga Rf-nya. Angka Rf
berjangka antara 0,00 dan 1,99 dan hanya dapat ditentukan dua desimal. Hrf adalah angka Rf
dikalikan faktor 100 (h), menghasilkan nilai berjangka -0-100 (Stahl, 1985). Sedangkan
pereaksi semprot atau penampak bercak digunakan pada deteksi senyawa tertentu. Misalnya
dalam tanaman yang banyak mengandung flavonoid menggunakan AlC𝑙3 dan minyak atsiri
menggunakan vanillin asam sulfat (Markham, 1988).

Penggunaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yaitu: (Gandjar dan Rohman, 2007)

a. Analisis kualitatif Kromatogarfi Lapis Tipis (KLT) dapat digunakan untuk uji
identifikasi senyawa baku. Paramter pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang
digunakan untuk idetifikasi adalah nilai Rf. Dua senyawa dikatakan identik jika
mempunyai nilai Rf yang sama diukur pada kondisi kromatografi lapis tipis yang sama
dengan 3 sistem eluen yang berbeda (Gandjar dan Rohman, 2007)
b. Analisis kuantitatif ada 2 cara yang digunakan untuk analisis kuantitafif dengan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Pertama, bercak diukur langsung pada lempeng
dengan menggunakan ukuran luas atau dengan teknik densitometri. Cara kedua adalah
dengan mengerok bercak lalu menetapkan kadar senyawa yangterdapat dalam bercak
tersebut dengan metode analisis yang lain. Misalkan dengan metode spektrofotometri.

Analisis kuantitafif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan Kromatografi
lapis Tipis (KLT) biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng KLT atau
secara in situ. Densitometer dapat bekerja secara serapan atau fluoresensi. Kebanyakan
densitometer mempunyai sumber cahaya monokromator untuk memilih panjang gelombang
yang cocok, sisem untuk memfokuskan sinar pada lempeng pengganda foton, dan rekorder
(Gandjar dan Rohman, 2007)

2.10 Penetapan Kadar dengan Densitometri

Densitometri merupakan metode penetapan kadar suatu senyawa pada lepeng


kromatografi menggunakan instrumen TLC-scanner. Pengukuran dilakukan dengan cara
mengukur serapan analit (cahaya yang diukur dapat berupa cahaya yang dipantulkan atau yang
diteruskan), pemadaman fluoresensi untuk lapisan yang mengandung bahan berfluoresensi
analit atau hasl reaksi analit (Gandjar dkk., 2007)

Penetapan kadar dengan menggunakan kombinasi KLT dan Densitometer (KLT


Densitometri) cukup ekonomis karena menggunakan fase gerak yang sedikit, waktu yang
relatif singkat dan dapat dilakukan penetapan kadar beberapa sampel scara stimultan. Apabila
dibandingkan dengan KCKT maka metode KLT tidak ada batasan fase gerak yang harus
digunakan, sampel yag berupa suspensi atau keruh dapat langsung ditetapkan kadarnya, lebih
cepat dan ekonomis serta memungkinkan penetapan kadar secara stimultan (Yuangsoi dkk.,
2008)

2.11 Perhitungan Regresi

Analisis regresi adalah suatu metode analisis data yang menggambarkan hubungan
finansial antara variabel respon dengan satu atau beberapa variabel prediktor. Misalkan X
adalah variabel presdiktor dan Y adalah variabel respon untuk n data pengamatan berpasangan,
maka hubungan antara variabel prediktor dan variabel respon tersebut dapat dinyatakan
sebagai berikut:

𝑦𝑖 = 𝑓(𝑥𝑖 ) + 𝜀𝑖 ; i = 1,2,3,.....,n

Dengan 𝜀𝑖 adalah galat yang diasumsikan independen, menyebar normal, dan variasi
konstan. 𝑓(𝑥𝑖 ) disebut sebagai fungsi regresi atau kurva regresi (Hardle, 1994).

2.12 Standar Deviasi dan Koefisien Variasi

2.12.1 Standar Deviasi

Stamdar deviasi merupakan ukuran sebaran yang paling banyak digunakan. Apabila
penyebaran sangat besar terhadap nilai rata-rata, maka nilai σx akan besar, akan tetapi jika
penyebaran data sangat kecil terhadap nilai rata-rata maka nilai σx akan kecil pula. Deviasi
standar dapat dihitung dengan rumus sebagai berkut (Soewarno, 1995) :

√∑𝑛
𝑖=1(𝑋𝑖 −𝑋
σx = (𝑛−1
2.12.2 Koefisien Variasi

Koefisien variasi (variation coefficient) adalah nilai perbandingan antara standar


deviasi dengan nilai rata-rata dari suatu distribusi. Koefisien variasi dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut (Soewarno, 1995) :

σx
Cv=𝑅𝑟
BAB III

PROSEDUR KERJA

3.1. Alat dan Bahan

1. Alat:
 TLC
 Lempeng KLT ukuran 20cm x 30cm
 Labu ukur 5 ml
 Labu ukur 10 ml
 Pipet mikro
 Cawan timbang
 Vial tertutup (bilas dengan etanol lalu keringkan sebantar dalam oven sebelum
dipakai
 Gelas ukur 100 ml
 Batang pengaduk
2. Bahan:
 Ekstrak kencur dalam etanol 96%
 Standar etil para metoksisinamat (EPMS)

3.2. Pembuatan Eluen (fase gerak)

Eluen yang digunakan : n-Heksana – Etil Asetat – Asam Formiat (90:10:1). Buatlah
eluen sebanyak 101 ml masukkan kedalam chamber. Homogenkan didalam chamber dengan
cara digoyang goyang. Apabila volume eluen terlalu banyak, maka kurangi. Jangan sampai
totolan awal pada pelat KLT tercelup didalam eluen.

Buatlah eluen sebanyak 101 ml dengan perbandingan n-Heksana – Etil


Asetat – Asam Formiat (90:10:1).

Homogenkan dalam chamber dengan cara digoyang goyang


3.3. Pembuatan Larutan Baku

3.3.1. Pembuatan Larutan induk

Ditimbang standar EPMS dengan seksama sebanyak 250,0 mg, ditambah dengan 20
ml etanol 96% diultrasonik selama 5 menit kemudian ditambah etanol 96% sampai tepan 50,0
ml. Diperoleh larutan induk 1 denagan konsentrasi 5000 ppm. (LI 1).

Ditimbang standar EPMS dengan seksama sebanyak 250,0 mg

ditambah dengan 20 ml etanol 96% diultrasonik selama 5 menit

ditambah etanol 96% sampai tepan 50,0 ml. Diperoleh larutan


induk 1 denagan konsentrasi 5000 ppm. (LI 1).

Dipipet 4.0 ml larutan induk I, dimasukkan kedalam labu ukur 10.0 ml ditambah etanol
96% sampai garis tanda, kosok homogen. Dipeoleh larutan induk 2 dengan konsentrasi 2000
ppm (LI 2)

Dipipet 4.0 ml larutan induk I, dimasukkan dalam labu ukur 10.0 ml

ditambah etanol 96% sampai garis tanda, kosok homogen. Dipeoleh


larutan induk 2 dengan konsentrasi 2000 ppm (LI 2)

3.3.2. Pembuatan Baku Kerja

Larutan Konsentrasi Baku induk atau baku Jumah yang digunakan


Baku kerja yang diambil

Baku 1 200 ppm 5.0 ml baku 3 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 2 300 ppm 5.0 ml baku 5 Ditambah etanol ad 10.0 ml


Baku 3 400 ppm 5.0 ml baku 6 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 4 500 ppm 5.0 ml LI 1 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 5 600 ppm 3.0 ml LI 2 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 6 800 ppm 4.0 ml LI 2 Ditambah etanol ad 10.0 ml

3.4 Preparasi Sampel

3.4.1. Sampel untuk penetapan kadar EPMS dalam ekstrak kering

Ditimbang sampel sebanyak 20,0 mg masing masing sebanyak 3 kali, ditambah pelarut
masing masing 2 ml, diultrasonik selama 5 menit, ditambah etanol 96% sampai 5,0 ml,
diultrasonik selama 10 menit. Kemudian disaring dan ditampung filtratnya.

Ditimbang sampel sebanyak 20,0 mg masing masing sebanyak 3 kali

ditambah pelarut masing masing 2 ml

diultrasonik selama 5 menit, ditambah etanol 96% sampai 5,0 ml

diultrasonik selama 10 menit. Kemudian disaring dan ditampung


filtratnya.

3.4.2. Sampel untuk penentuan recorveri

Ditimbang sampel sebanyak 20.0 mg masing masing sebanyak 3 kali, ditambah pelarut
masing masing 2 ml, diultrasonik selama 5 menit, ditambah standar EPMS 500 ppm sebanyak
1,0 ml kemudian ditambah pelarut sampai 5,0 ml diultrasonik selama 10 menit. Kemudian
disaring dan ditampung filtratnya.
Ditimbang sampel sebanyak 20,0 mg masing masing sebanyak 3 kali

ditambah pelarut masing masing 2 ml

diultrasonik selama 5 menit, ditambah standar EPMS 500 ppm


sebanyak 1,0 ml

ditambah pelarut sampai 5,0 ml diultrasonik selama 10 menit.


Kemudian disaring dan ditampung filtratnya.

3.4.3 penotolan sampel dan setandar pada plat KLT

Ditotolkan sampel dan sampel untuk recovery sebanyak 2 mikroliter, sedangkan


standar EPMS sebanyak 2 mikroliter pada KLT

0.5 cm

1.5 cm

3.5 cara kerja analisis dengan Thin Layer Chromatography (TLC) Scaner
3.5.1 penetuan panjang gelombang maksimum
Plat KLT yang sudah di scan pada panjang gelombang 254 dan 365 nm, kemudian discan
panjang gelombag 200-400 nm. Dari sini dapat dikehtaui pada panjang gelombang berapa
EPMS memebrikan absorban maksimum. Panjang gelombang maksimum tersebut yang
akan digunakan untuk pangukuran.

Plat KLT yang sudah di scan pada panjang gelombang 254 dan 365 nm

kemudian discan panjang gelombag 200-400 nm. Dari sini dapat


dikehtaui pada panjang gelombang berapa EPMS memebrikan absorban
maksimum
3.5.2 penetuan linieritas
Linieritas ditentukan dari larutan standar EPMS pada lempeng KLT, kemudian
dianalisis dengan KLT densitometer pada panjang gelombang maksimum. Dihitung berapa
regresi linier antara kadar dan luas area noda.
3.5.3 Penetuan preparasi
Untuk menghitung presisi, ditotolkan sampel masing masing 2 mikroliter dan larutan
standar EPMS masing- masing 2 mikroliter pada plat KLT. Plate ini kemudian dieluasi dengan
fase gerak dan dianalisis menggunakan KLT- densitometer pada panjang gelombang
maksimum. Sehingga dapat dihitung berapa standar deviasi (SD) dan koefesien variasinya
(KV).

ditotolkan sampel masing masing 2 mikroliter

larutan standar EPMS masing- masing 2 mikroliter pada plat KLT.

Plate ini kemudian dieluasi dengan fase gerak dan dianalisis


menggunakan KLT- densitometer pada panjang gelombang
maksimum. Sehingga dapat dihitung berapa standar deviasi (SD) dan
koefesien variasinya (KV).

3.5.4. Penentuan Akurasi


Untuk menentukan persen rekoveri, ditotolkan sampel recovery maisng maisng 2
mikroliter dan larutan tandar EPMS masing masing 2 mikroliter pada pelat KLT. Pelat ini
kemudian dieluasi dengan fase gerak dan dianalisi menggunakan KLT-Dnsitometer pada
panjang gelombang maksimum.
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑐𝑡
% rekoveri = = 𝑥 100%
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑏𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑐𝑝+𝑐𝑠𝑡

Dimana : Ct = kadar EPMS yang diperoleh


Cp = kadar EPMS dalam sampel
Cst = kadar standar EPMS yang ditambahkan
Hasil yang diperoleh kemudian dihitung standar deviasi (SD) dan koefesien variasinya
(KV).
PERHITUNGAN

 Penentuan Standar EPMS


Ditimbang 50,0 mg dalam 100,0 ml ± 10% (0,0450-0,0550)
Kadar Standar EPMS
50,0𝑚𝑔
x 1000 = 500 ppm~500 mg/ml
100𝑚𝑙

𝐸𝑃𝑀𝑆 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 = (9,3622 − 9,3122)


= 0,0550g -50,0 mg
 Pembuatan Larutan Baku
Larutan Baku Induk 1
Rentang penimbangan larutan baku induk 250 mg ± 10% ( 225-275)
Ditimbang 249,8mg dalam 50,0ml
249,8𝑚𝑔
Kadar = 𝑥1000 = 4996𝑝𝑝𝑚
50,0𝑚𝑙

Larutan Baku Induk 2


V1 . N1 = V2 . N2
4,0 ml . 4996 ppm= 10,0 ml . N2
N2 = 1998,4 ppm
Larutan Baku Kerja
BK1 = VI . N1= V2 . N2
5,0ml . 399,7ppm = 10,0ml . N2
N2 = 199,9 ppm
BK2 = VI . N1= V2 . N2
5,0ml . 599,5ppm = 10,0ml . N2
N2 = 299,8 ppm
BK3 = VI . N1= V2 . N2
5,0ml . 799,4ppm = 10,0ml . N2
N2 = 399,7 ppm
BK4 = VI . N1= V2 . N2
5,0ml . 499,6ppm = 10,0ml . N2
N2 = 499,6 ppm
BK5 = VI . N1= V2 . N2
3,0ml . 1998,4ppm = 10,0ml . N2
N2 = 599,5 ppm
BK6 = VI . N1= V2 . N2
4,0ml . 1998,4ppm = 10,0ml . N2
N2 = 799,4 ppm
 Penimbangan sampel untuk penetapan kadar EPMS dalam ekstrak kering
Penimbangan sampel 20,0 mg ± 10% ( 18mg – 23mg)
a. Penimbangan Sampel 1
Botol timbang + isi = 12,7731 g
Botol timbang kosong = 12,7515 g
Berat zat = 0,0216 g (21,6mg)
b. Penimbangan Sampel 2
Botol timbang + isi = 14,4108 g
Botol timbang kosong = 14,4108 g
Berat zat = 0,020 g ( 20,0mg)
c. Penimbangan Sampel 3
Botol timbang + isi = 12,7725 g
Botol timbang kosong = 12,7525 g
Berat zat = 0,0200 g (20,0 mg)

Penimbangan Recovery 20,0 mg ± 10% (18mg – 22mg)

a. Penimbangan Recovery 1
Botol timbang + isi = 14,4099 g
Botol timbang kosong = 14,3896 g
Berat zat = 0,0203 g (20,3mg)
b. Penimbangan Recovery 2
Botol timbang + isi = 14,4095 g
Botol timbang kosong = 14,3892 g
Berat zat = 0,0203 g (20,3mg)
c. Penimbangan Recovery 3
Botol timbang + isi = 12,7722 g
Botol timbang kosong = 12,7513 g
Berat zat = 0,0209 g (20,9mg)

 Luas Area
BK 1 2557,1 AU Sampel 1 7986,1 AU

BK 2 7984,3 AU Sampel 2 7117,7 AU

BK 3 9078,9 AU Sampel 3 7087,3 AU

BK 4 10283,8 AU Recovery 1 8318,2 AU

BK 5 11249,1 AU Recovery 2 8203,3 AU

BK 6 13739,0 AU Recovery 3 8463,4 AU

 Persamaan Regresi Kadar Baku Kerja (x) dan Luas Area (y)
Baku Kerja Konsentrasi (x) Luas Area (y)

1 199,9 ppm 2557,1 AU

2 299,8 ppm 7984,3 AU

3 399,7 ppm 9078,9 AU

4 499,6 ppm 10283,8 AU

5 599,5 ppm 11249,1 AU

6 799,4 ppm 13739,0 AU

Kadar Sampel dan Recovery


Sampel 1 y = bx + a
7986,1 AU = 16,3185x + 1539,11
X = 395,07 ppm
Sampel 2 y = bx + a
7117,7 AU = 16,3185x + 1539,11
X = 341,86 ppm
Sampel 3 y = bx + a
7087,3 AU = 16,3185x + 1539,11
X = 339,99 ppm
Recovery 1 y = bx + a
8318,2 AU = 16,3185x + 1539,11
X = 415,42 ppm
Recovery 2 y = bx + a
8203,3 AU = 16,3185x + 1539,11
X = 408,38 ppm
Recovery 3 y = bx + a
8463,4 AU = 16,3185x + 1539,11
X = 424,32 ppm
 Kadar Sebelum Pengenceran
3𝑚𝑙
S1→ 1𝑚𝑙 𝑥395,07 𝑝𝑝𝑚 = 1185,21 𝑝𝑝𝑚
3𝑚𝑙
S2→ 1𝑚𝑙 𝑥341,86 𝑝𝑝𝑚 = 1025,58 𝑝𝑝𝑚
3𝑚𝑙
S3→ 1𝑚𝑙 𝑥339,99 𝑝𝑝𝑚 = 1019,97 𝑝𝑝𝑚
3𝑚𝑙
R1→ 1𝑚𝑙 𝑥415,42 𝑝𝑝𝑚 = 1246,26 𝑝𝑝𝑚
3𝑚𝑙
R2→ 1𝑚𝑙 𝑥408,38 𝑝𝑝𝑚 = 1225,14 𝑝𝑝𝑚
3𝑚𝑙
R3→ 1𝑚𝑙 𝑥424,32 𝑝𝑝𝑚 = 1272,96 𝑝𝑝𝑚

 Kadar Dalam 5ml


1185,21
S1→ 𝑥5𝑚𝑙 = 5,93 𝑚𝑔
1000
1025,58
S2→ 𝑥5𝑚𝑙 = 5,13 𝑚𝑔
1000
1019,97
S3→ 𝑥5𝑚𝑙 = 5,10 𝑚𝑔
1000
1246,26
R1→ 𝑥5𝑚𝑙 = 6,23 𝑚𝑔
1000
1225,14
R2→ 𝑥5𝑚𝑙 = 6,13 𝑚𝑔
1000
1272,96
R3→ 𝑥5𝑚𝑙 = 6,37 𝑚𝑔
1000

 Kadar EPMS (%)


5,93𝑚𝑔
S1→ 21,7𝑚𝑔 𝑥100 = 27,32%
5,13𝑚𝑔
S2→ 21,7𝑚𝑔 𝑥100 = 24,78%
5,10𝑚𝑔
S3→ 𝑥100 = 24,17%
21,7𝑚𝑔

X = 25,42%
SD = 1,36
𝑠𝑑 1,36
Kv = = 𝑥100 = 5,37
𝑥 25,42%

 Perhitungan % Recovery
6,23𝑚𝑔
R1→ 25,42 𝑥100 = 110,07%
( 𝑥 20,3𝑚𝑔)+0,500
100

6,13𝑚𝑔
R2→ 25,42 𝑥100 = 108,30%
( 𝑥 20,3𝑚𝑔)+0,500
100

6,37𝑚𝑔
R3→ 25,42 𝑥100 = 109,57%
( 𝑥 20,9𝑚𝑔)+0,500
100

X = 109,32%
SD =0,75
𝑠𝑑 𝑜,75
Kv = = 𝑥100 = 0,68
𝑥 109,32%

BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan kadar senyawa marker pada ekstrak
kencur (Kaempferia galanga L) yaitu EPMS dengan metode KLT Densitometri sebagai metode
kuantitatif untuk menetapkan kadar EPMS dalam ekstrak. Densitometri merupakan metode
analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi elektromagnetik dengan analit
yang merupakan bercak pada KLT.

Pada KLT terdapat 12 totolan yaitu larutan baku kerja (BK1, BK2, BK3, BK4, BK5
dan BK6), larutan sampel (S1, S2, S3) serta larutan recovery (R1, R2, R3). Plat KLT kemudian
dieluasi dengan eluen n-heksan : etilasetat : asam format (90 : 10 : 1). Yang mana hasilnya
digunakan untuk menetapkan kadar EPMS pada ekstrak kencur yang kelompok kami buat
sebelumnya. Setelah itu dilakukan pembacaan luas area noda menggunakan densitometer
hasilnya dilakukan perhitungan untuk menentukan kurva baku y= 16,3185x + 15,3911 dengan
koefisien kolerasi r = 0,9309.

Dari persamaan tersebut dilakukan penetapan kadar EPMS dalam sampel maka setiap
sampel diperoleh kadar yaitu S1= 27,32%, S2= 24,78%, S3= 24,17% dengan rata-rata
persentase kadar 25,42%. Kadar EPMS menurut teoritis yang terkandung 25%-35%. Maka
dari itu hasil dari kelompok kami memasuki rentang.

Untuk menentukan presisi diperoleh dari data EPMS dalam sampel dengan nilai standar
devisiasi yakni 1,36, sedangkan standar presisi yakni ≤ 2. Adapun nilai koefisien variasi yang
didapat 5,37% dan standart KV menurut FI V yakni ≤ 5%. Hal ini menunjukkan bahwa data
homogen, sehingga kualitas data memiliki presisi yang baik. Sedangkan KV tidak memenuhi
syarat dapat disebabkan pada saat penimbangan mungkin tidak seragam bobotnya, walaupun
bobot peimbangan masuk rentang tetapi hal tersebut berpengaruh pada data penelitian.

Selanjutnya untuk mengetahui tingkat dari sebuah peralihan dilakukan penetapan


persen recovery. Hasil yang kami dapat R1= 110,07%, R2= 108,30%, R3= 109,57%, dengan
rata-rata 109,32%. Sedangkan persen recovery menurut Frmakope Indonesia 95%-105%,
sedangakn menurut BPOM 98,02%. Hal ini menunjukkan tingkat keakuratan tidak memenuhi
syarat. Hal ini kemungkinan kurangnya keakurasian dalam preparasi larutan.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Goeswin. 2007. Teknologi Bahan Alam. Bandung : Penerbit ITB.
Barus, R. 2009. Amidasi p-metoksisinamat yang diisolasi dari kencur (Kaempferia galanga
L.) [tesis]. Sumatera Utara, program Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara.
Badan POM RI. 2010. Acuan Sediaan Herbal, Volume V, Edisi I, 112-117. Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia: Jakarta.
Cronquist, A. 1981. An Intergrated System of Clasification of Flowering Plants. New York:
Columbia University Press.
Departemen Kesehatan RI, 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat
Harbone, J.B. 1996. Metode fitokimia penuntun cara modern menganalisis tumbuhan.
Bandung: penerbit ITB.
Hargono, Djoko. dkk, 1986, Sediaan Galenik. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM). Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Hargono, Djoko dkk. 1995. Materia Medika Indonesia jilid I, Dirjen POM, Jakarta.
Kemenkes RI, 2009. Farmakope Herbal Indonesia Edisi Pertama. Keputusan Menteri
kesehatan Indonesia : Jakarta.
Muhlisah F. 1999. Temu-temuan dan Empon – empon, Budidaya dan Manfaatnya.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Soeratri , W. dan Tutik, P. 2014. Penambahan asam glikolat terhadap efektifitas sediaan
tabir surya kombinasi anti UV-A dan anti UV-B dalam basis gel. Majalah Farmasi
Airlangga.
Umar, M. I., Mohammad, Z. B. A., Amirin, S., Rabia, A., & Muhammad, A. I. 2011.
Phytochemistry and medicinal properties of Kaempferia Galanga L. (zingiberaceae)
extracts. African Journal of Pharmacy and Pharmacology, 5, 14, 1638-1647.
Voigt, R.. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani N. S..
UGM Press: Yogyakarta.
Gandjar, I. G. & Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, 323-346, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Markham, K.R., 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, diterjemahkan oleh Kosasih
Padmawinata, 15, Penerbit ITB, Bandung.
Stahl, E., 1985, Analisis Obat Secara kromatografi dan Mikroskopi, diterjemahkan oleh
Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro, 3-17, ITB, Bandung.

Yuangsoi, B., Jintasataporn,O., Areechon, N and Tabthipwon, P., 2008, Validated TLC-
densitometric analysis for determination of carotenoids in fancy carp (Cyprinus
carpio) serum and the application for pharmacokinetic parameter assessment,
Songklanakarin J.

Soewarno, 1995,”Hidrologi Aplikasi Metode Statistik Untuk Analisa Data”, Penerbit Nova,
Bandung.
Hardle, W. 1994. Applied Nonparametric Regression. Cambridge University Press, New
York.
LAMPIRAN

PENIMBANGAN SENYAWA SAMPEL DAN RECOVERY

 Sampel 2

 Sampel 3
 Sampel 4

 Sampel 5

 Sampel 6
PREPARASI SAMPEL

Setelah di timbang tambahkan pelarut


2 ml etanol kedalam masing-masing
Diultrasonik selama 5 menit
labu ukur

Disaring dan ditampung


Di ad kan sampai 5 ml filtratnya
dengan etanol

PENGENCERAN SAMPEL

Diambil 1 ml larutan sampel


masukkan ke dalam vial
Ditambahkan masing-masing
etanol sebanyak 2 ml
Tutup vial dengan karet penutup
dan dilapisi lagi dengan Al. foil

PREPARASI RECOVERY

Setelah di timbang tambahkan pelarut


2 ml etanol kedalam masing-masing
Diultrasonik selama 5 menit
labu ukur
Di tambahkan stardart Di ad kan sampai 5 ml Disaring dan ditampung
EPMS 1,0 ml dengan etanol filtratnya

PENGENCERAN RECOVERY

Diambil 1 ml larutan sampel


Ditambahkan masing-masing
masukkan ke dalam vial etanol sebanyak 2 ml

Tutup vial dengan karet penutup


dan dilapisi lagi dengan Al. foil
PENOTOLAN SAMPEL, RECOVERY DAN STANDAR PADA KLT

Ditotolkan larutan standar EPMS, Dieluasi menggunakan perbandingan


larutan sampel dan larutan recovery eluen n-heksana: etil asetat: asam
masing-masing 5 µl format (90:10:1 tetes)
LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBUATAN KAPSUL EKSTRAK KENCUR (Kaempferia galangal L.)


DAN KESERAGAMAN BOBOT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 6
KELAS: D
Sukmawansyah 201410410311016
Sakinah Musaad 201510410311138
Meilya Hayyu Saputri 201510410311166
Dima Atsyari Novianti 201510410311182
Ayudya Rizky P. 201510410311196

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt.
Amaliya Dina Anggraeni, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamaan dan
khasiat secara ilmiah dengan uji praklinis dan uji klinis bahan baku serta produk jadinya telah
di standarisir (BPOM RI., 2005).

Uji klinik fitofarmaka merupakan pengujian pada manusia, untuk mengetahui atau
memastikan adanya efek farmakologi tolerabilitas, keamanan dan manfaat klinik untuk
pencegahan penyakit, pengobatan penyakit atau pengobatan segala penyakit. Prioritas
pemilihan fitofarmaka yaitu berdasar pada bahan bakunya relatif mudah diperoleh, pola
penyakit di Indonesia, perkiraan manfaatnya terhadap penyakit tertentu cukup besar, memiliki
resiko dan kegunaan yang menguntungkan penderita, dan merupakan satu-satunya alternatif
pengobatan (MenKes RI, 1992).

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di
berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak digunakan
sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para petani
banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan.
Bagian dari kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang ada di dalam tanah yang
disebut rimpang kencur atau rizoma (Barus, 2009).

Komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam bahan organik seperti yang


terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan oleh keperluan hidup manusia, baik
komponen senyawa tersebut digunakan untuk keperluan industri maupun untuk bahan obat-
obatan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode ekstraksi dimana ekstraksi
merupakan proses pelarutan komponen kimia yang sering digunakan dalam senyawa organik
untuk melarutkan senyawa tersebut dengan menggunakan suatu pelarut.

Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibagi menjadi dua yaitu
ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair, bahan yang menjadi analit
berbentuk cair dengan pemisahannya menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur
sehingga terjadi distribusi sampel di antara kedua pelarut terebut. Pendistribusian sampel
dalam kedua pelarut tersebut dapat ditentukan dengan perhitungan koefisien distribusi (Voigt,
1995).

Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik sumber bahan
alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi senyawa farmakologikaktif pada
produk akhir atau memastikan efikasi produk, marker sangat penting dalam evaluasi jaminan
kualitas produk senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologik. Senyawa marker
dapat di golongkan menjadi 4 kategori berdasarkan bioaktivitasnya (Harbone, 1987).

Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak
yang dapat larut. Cangkang umumunya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat dari pati
atau bahan lain yang sesuai (Depkes RI, 1995).

1.2 Tujuan

Berdasarkan dari latar belakang, maka tujuan dari praktikum kali ini adalah mahasiswa
mampu membuat kapsul dari ekstrak kencur sesuai bobot yang ditentukan dan menetapkan
kadar senyawa marker dari setiap kapsul.

1.3 Manfaat

Berdasarkan dari latar belakang dan tujuan, maka manfaat dari praktikum kali ini
adalah mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan kapsul dari ekstrak kencur sesuai bobot
yang ditentukan dan menetapkan kadar senyawa marker dari setiap kapsul.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan tentang Fitofarmaka

Menurut Menteri Kesehatan Indonesia Nomor 760/MENKES/PER/IX.1992


fitofarmaka adalah sediaan obat dan obat tradisional yang telah dibuktikan keamanan dan
khasiatnya bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi
persyaratan yang berlaku.

Ada beberapa rancangan tahap-tahap pengembangan dan pengujian fitofarmaka, yaitu:

1. Tahap Seleksi
Tahap seleksi merupakan pemilihan jenis bahan alam yang akan diteliti sesuai
dengan skala prioritas yaitu jenis obat alami yang diharapkan berkhasiat untuk
penyakit-penyakit utama, jenis obat alamai yang memberikan khasiat dan kemanfaatan
berdasarkan pengalaman pemakaian empiris sebelumnya.
2. Tahap Biological Screening
Yaitu untuk menyaring keberadaan efek farmkaologi calon fitofarmaka yang
mengarah kepada khasiat teraupetik (pra klinik in vivo), keberadaan efek keracunan
akut (single dose), spektrum toksisitas jika aa dan sistem orga yang mana yang paling
peka terhadap efek keracunan tersebut (pra klinik in vivo).
3. Tahap Pengujian Toksisitas
Merupakan persyaratan formal keamanan obat untuk pemakaian pada manusia.
Spektrum toksikologi yang peru mendapat perhatian khusus adalah kemungkinan
adanya efek toksik pada sistem organ-organ vital seperti kardiovaskular, susunan saraf
gastroiniestinaple, pernafasan dan lain-lain.
4. Tahap Pengembangan Sediaan (Formulasi)
Untuk mengetahui bentuk-bentuk sediaan yang memenuhi syarat mutu, keamanan
dan estetika untuk pemakaian pada manusia.
5. Tahap Uji Klinik pada Manusia
Terdapat 4 fase pada uji klinik yaitu:
 Fase 1 : dilakukan pada suka relawan sehat
 Fase 2 : dilakukan pada kelompok pasien terbatas
 Fase 3 : dilakukan pada pasien dengan jumlah yang lebih besar dari
fase 2
 Fase 4 : post marketing survailance utnuk melihat kemungkinan
efek samping yang tidak terkendali saat uji pra klinik maupun saat
uji klinik fase 1 sampai 3

Sediaan fitofarmaka dipilih berdasarkan pertimbangan khasiat, keamanan, dan mutu


yang tinggi, juga berdasarkan pertimbangan estetika. Menurut Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 761/Menkes/SK/IX1992 yaitu adanya 2 kelompok bentuk sediaan
fitofarmaka seperti kelompok sediaan oral dan kelompok sediaan topikal. Termasuk dalam
kelompok sediaan oral adalah serbuk, rajangan, kapsul (ekstrak), tablet (ekstrak), pil (ekstrak),
sirup dan sediaan terdispersi.

2.2 Tanaman Kencur


2.2.1 Klasifikasi Tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsoda
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Subfamili : Zingiberoideae
Genus : Kaempferia (sumber : wikipedia.com)
Spesies : K. Galanga
2.2.2 Penyebaran dan Etnobotani
Kencur (Kaempferia galanga L.) sudah sejak lama dikenal dan ditanam di Indonesia.
Tanaman ini diperkirakan berasal dari daerah Asia Tropika. Sebagian kalangan menduga
bahwa asal usul kencur adalah dari kawasan Indo-Malaysia. Tetapi literatur lainnya
memastikan bahwa asal tanaman kencur adalah dari India (Rukmana, 2013).
Daerah penyebaran kencur meluas ke kawasan Asia Tenggara dan China. Dalam
perkembangan selanjutnya, diketahui bahwa famili Zingiberaceae ini meliputi 47 genera dan
1400 spesies yang tersebar luas di daerah tropika dan subtropika. Di antara sejumlah genera
dan spesies tersebut, terdapat 13-17 jenis temu-temuan yang dipakai dalam obat tradisional.
Kencur termasuk salah satu tanaman temu-temuan yang banyak digunakan sebagai bahan obat
tradisional (Rukmana, 2013).
2.2.3 Deskripsi Tanaman (Kaempferia galanga L.)
Kencur termasuk ke dalam terna kecil yang siklus hidupnya semusim atau beberapa
musim. Akar kencur merupakan akar tinggal yang bercabang halus dan menempel pada umbi
akar yang disebut rimpang. Rimpang kencur sebagian lagi terletak diatas tanah. Bentuk
rimpang umumnya bulat, bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya coklat-ekuningan dan
berbau harum. Tanaman kencur memiliki batang semu yang sangat pendek, terbentuk dari
pelepah-pelepah daun yang saling menutupi. Daun kencur tumbuh tunggal, melebardan
mendatar hampir rata dengan permukaan tanah. Jumlah daun variasi antara 8-10 helai dan
tumbuh secara berlawanan satu sma lain. Bentuk daun elip melebar sampai bundar, ukuran
panjang daun 7-12 cm dan lebarnya 3-6 cm, serta berdaging agak tebal. Bunga kencur keluar
dalam bentuk buliran setengah duduk dari ujung tanaman di sela-sela daun. Warna bunganya
putih, unguhingga lembayung dan tiap tangkai bunga berjumlah 4-12 kuntum bunga. Buah
kencur termasuk buah kotak beruang 3 dengan bakal buah yang letaknya tenggelam, tetapi
sulit sekali menghasilkan biji (Rukmana, 2013).
2.2.4 Kandungan Kimia dan Manfaat kencur
Menurut Hargono (1995), terdapat beberapa kandungan dari senyawa Kaempferia
galanga L. yaitu:
c. Daun: alkaloid, borneol, eucaliptol
d. Rimpang: tanin, saponin, kalsium oksalat, borneol, kamfen, sineol, etil alkohol, minyak
atsiri (2,4%-3,9%) terdiri dari asam transinamat, n-pentadekana, etil p-metoksisinamat, asam
p-metoksisinamat, p-metoksi stirena, p-asam kumarat.
Kandungan senyawa metabolit sekunder dari rimpang kaempferia galanga L., yaitu
menunjukan adanya senyawa etil trans-sinamat dan etil p-metoksisinamat aktif sebagai
nematisida, etil p-metoksisinamat, etil sinamat dan 3-carene, 2-propionic acid aktif sebagai
penolak nyamuk dan larvisida, etil sinamat sebagai vasorelaksan, etil p-metoksisinamat
sebagai antineoplastik, antimikroba, antiinflamasi, dan luteolin dan apigenin ssebagai
antioksidan (Umar et al., 2011).
Secara empiris Kaempferia galanga L. telah diketahui memiliki efek antiinflamasi.
Kandungan utama kencur adalah etil-P-metoksisinamat (31,77%) yang didalam tubuh
mengalami hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis asam P- metoksisinamat (APMS)
senyawa ini bekerja dengan menghambat enzim siklooknigenase, sehingga konversi asam
arakidonat menjadi prostaglandin terganggu. Penggunaan obat antiinflamasi non steroid
(OAINS) seringakali dapat menyebabkan iritasi saluran cerna salah satu upaya untuk
menghindari efek samping tersebut, dikembangkan penggunaan obat secara topika OAINS
topikal yang telah beredar antara lain natrium diklofenak dosis 1% sementara dosis APMS
untuk penggunaan topikal belum diketahui (Soeratri et al, 2014).
2.3.1 Sediaan Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan penyari simplisia menurut
cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah
digerus menjadi serbuk (BPOM RI, 2010). Simplisia banyak mengandung senyawa aktif yang
dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut, seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-
lain. Untuk memisahkan senyawa aktif tersebut maka perlu dilakukan proses ekstraksi.
Ekstraksi merupakan kegiatan atau proses pemisahan bahan dari campurannya dengan
menggunakan pelarut (Agoes, 2007).
2.3.2 EPMS (Etil para-metoksi sinamat)

Kencur (Kaempferia galangal L.) secara empiris telah diketahui memiliki efek
antiinflamasi. Kandungan utama kencur adalah etil p-metoksisinamat (EPMS) yang
merupakan senyawa ester turunan dari p-metoksisinamat yang di dalam tubuh mengalami
hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis, asam p-metoksisinamat (APMS), senyawa ini
bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase, sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu. Selain itu, EPMS termasuk kelompok fenolik alam dari
golongan fenil propanoid yang bermanfaat sebagai tabir surya, senyawa ini memperlihatkan
aktifitas serapan maksimum 308nm (daerah UV-B) dan bersifat sebagai UV filter sehingga
Etil p-metoksisinamat mempunyai perlindungan yang baik terhadap sinar matahari yang dapat
memantulkan dan menghamburkan radiasi sinar UV terutama UV-B (290-320 nm) (Soeratri
et al, 2014)..
2.5 Tinjauan tentang Senyawa Marker

Senyawa marker (penanda) adalah suatu senyawa yang terdapat pada dalam bahan alam
dan diseleksi untuk keperluan khusus (contoh untuk tujuan identifikasi atau standarisasi)
melalui penelitian. Syarat senyawa dapat ditetapkan sebagai penanda apabila bersifat khas,
mempunyai struktur kimia yang jelas, dapat diukur kadarnya dengan metode analisis yang
biasa digunakan, bersifat stabil, tersedia dan dapat diisolasi (Purnomo, 2008).

Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik sumber bahan
alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi senyawa farmakologik aktif pada
prosuk akhir atau memastikan efikasi produk, marker sangat penting dalam evaluasi jaminan
kualitas produk senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologik. Senyawa marker
dapat digolongkan mnjadi 4 katagori berdasarkan bioaktivitasnya (Harbone, 1987).

e. Zat aktif
Merupakan senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang dietahui contohnya: ephedrin
pada epedra sinensis (Harbone, 1987).
f. Marker aktif
Merupakan senyawa kimia yang mempunya efek farmakologi tetapi belum tentu
mempuyai efek klinik (Harbone, 1987).
g. Marker analisis
Merupakan senyawa kimia yang dipilih untuk determinasi, kuantitatif tetapi belum tentu
mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinik (Harbone, 1987).
h. Marker negatif
Merupakan senyawa aktif dengan zat aktif toksik atau allergik. Kencur merupakan
tanaman tropis yang terkandung senyawa etil-p-metoksisinamat sebagai komponen utama
dan terkandung pula senyawa lain seperti etil sinamat dan p-metoksisinamat, kadar etil-p-
metoksisinamat dalam kencur cukup tinggi tergantung spesiesnya dengan bias sampai
10% (Harbone, 1987).
Idealnya senyawa penanda merupakan senyawa aktif yang bertanggung jawab
terhadap efek farmakologi yang ditimbulkan oleh penggunaan herbal yang bersangkutan.
Namun demikian, senyawa khas yang bukan senyawa aktif dapat pula ditetapkan sebagai
penanda (Wahyuono dkk, 2006).
Senyawa penanda merupakan konstituen kimia dari herba yang telah ditetapkan
strukturnya yang dugunakan untuk tujuan kontrol kualitas. Senyawa penanda digunakan
konstituen kimia yang bertanggung jawab terhadap efek teraupetik dari tanaman yang
bersangkutan belum diketahui (Anonim, 2007).

2.6 Tinjauan tentang Kapsul

Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak
yang dapat larut. Cangkang umumunya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat dari pati
atau bahan lain yang sesuai (Depkes RI, 1995).

Kapsul dapat didefiniskan sebagai bentuk sediaan padar, dimana satu macam obat atau
lebih dan atau bahan inert lainnya yang dimasukkan kedalam cangkang atau wadah kecil yang
dapat larut dalam air. Pada umumnya cangkang kapsul terbuat dari gelatin. Tergantung pada
formulasinya kapsul dapat berupa kapsul gelatin lunak atau keras (Ansel, 2005).

 Macam-macam kapsul:
1. Hard Capsule (cangkang kapsul keras)
Kapsul cangkang keras teridiri dari atas wadah dan tutup yang dibuat dari campuran
gelatin, gula dan air, jernih tidak berwarna dan pada dasarnya tidak mempunyai rasa.
Biasanya cangkang ini diisi dengan bahan padat atau serbuk, butiran atau granul.
Ukuran kapsul mulai dari yang besar sampai yang kecil yaitu 000, 00, 1, 2, 3, 4, dan 5.
2. Soft Capsule (cangkang kapsul lunak)
Kapsul gelatin lunak dibuat dari gelatin dimana gliserin atau alkohol polivalen dan
sorbitol ditambahkan supaya gelatin bersifat elastis seperti plastik. Kapsul-kapsul ini
mungkin bentuknya membujur seperti elips atau seperti bola dapat digunakan untuk
diisi cairan, suspensi, bahan terbentuk pasta atau serbuk kering (Ansel, 1989).
 Kapsul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Farmakope Indonesia edisi
III 1979):
1. Untuk kelompok kapsul yang berisi bahan padat
 Timbang 20 kapsul sekaligus, kemudian timbang lagi satu per satu dan catat
bobotnya
 Keluarkan semua isi kapsul, timbang seluruh bagian cangkang kapsul
 Hitung bobot isi tiap kapsul dan hitung bobot rata-rata isi tiap kapsul
 Kapsul ini memenuhi syarat menurut Farmakope Indonesia III dalam persen
bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan dalam
kolom A dan untuk setiap 2 kapsul terhadap bobot rata-rata ditetapkan
dalam kolom B. Seperti dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Bobot rata-rata tiap kapsul Perbedaan bobot isi kapsul (%)

A B
≤ 120 mg 10 20
≥ 120 mg 7,5 15

2. Untuk kelompok kapsul yang berisi bahan cair atau setengah padat/pasta/salep
 Timbang 10 kapsul sekaligus, kemudiaan timbang lagi satu per satu
 Keluarkan semua isi kapsul, cuci cangkang kapsul dnegan eter, buang
cairan cucian dan biarkan hingga tidak berbau eter lagi.
 Timbang seluruh bagian cangkang kapsul
 Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata isi tiap kapsul
 Kapsul ini memenuhi syarat Farmakope Indonesia jika perbedaan dalam
persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak
lebih dari 7,5%

2.7 Bahan Tambahan

1. Cab-O-Sil

Cab-O-Sil (Aerosol)
Sinonim Aerosil; cao-os-sil M-%P; colloidal silica
fumed silica; fumed silicon dioxide;
hochdisperses; silicum dioxid
Struktur formula SiO2 (BM= 60.08)
Fungsi Adsorbant; anticacking agent; emulsion
stabilizier; glidant; suspending agent; tablet
disintergrant
Penggunaan Cab-O-Sil - Aerosol= 0,5-2,0%
- Emulsion stabilizier= 1,0-5,0%
- Glidant= 0,1-1,0%
- Suspending dan thickening agent= 2,0-
10,0%

Sifat fisika kimia pH: 3,5-4,0, ukuran partikel: 7-16 nm


Kelarutan Praktis tidak larut dalam pelarut organik, air,
dan larut asam kecuali hydrofluoric acid.
Larut dalam larutan alkali hidroksida panas.
Membentukdispersi koloidal dalam air.
(HPE Ed. 6., 2009. Hal. 185)

2. Avicel
Avicel
Sinonim Avicel pH; cellets; celax; cellulose gel;
hellulosum microcristallium; celphere; ceolus
KG; crystalline cellulose; emcocel; fibrocel;
parmacel; tabulose; vivapur.
Struktur Formula (C6H10O5) (BM=36.000)
Fungsi Adsorbent; suspending agent; tablet dan
capsule diluent; tablet disintegrant
pH 5,0-7,5
Titik Lebur 260-270°C
Distribusi Ukuran 20-200 mikro meter
Kelarutan Mudah larut dalam 5% w/v larutan NaOH,
praktis tidak larut dalam air, asam terlarut, dan
sebagian besar pelarut organik
Kompatibilitas Avicel inkompatible dengan agen oksidator
kuat (HPE Ed. 6., 2009. Hal. 129)
BAB III

PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Timbangan analitik

- Mortir dan stamper

- Sudip

- Cangkang kapsul

3.1.2 Bahan
- EPMS (Ekstrak Kencur)

- Cab-O-Sil

- Avicel
3.2 Prosedur

Dibuat 20 kapsul dari bahan aktif ekstrak kencur dengan komposisi senyawa marker EPMS
sebanyak 15 mg/kapsul. Bahan tambahan yang digunakan yaitu campuran Cab-O-Sil dan Avicel
pada perbandingan 3:1.
 Cara Pembuatan
1. Hitung dan timbang berat ekstrak yang dibutuhkan.
2. Timbang hasil akhir campuran sebelum dimasukkan ke dalam kapsul (hitung berapa %
kesalahan dibandingkan dengan berat teoritis).
3. Timbang masing-masing berat kapsul (hitung berapa % kesalahan dibandingkan
dengan berat kapsul yang direncanakan).
4. Masukkan kembali ke dalam cangkang kapsul simpan dalam wadah tertutp rapat dan
beri etiket.
5. Buat kesimpulan terhadap keseragaman bobot sediaan kapsul ekstrak kencur
(berdasarkan Farmakope Indonesia)
 Bagan Alir

Hitung dan timbang berat ekstrak yang dibutuhkan.

Timbang hasil akhir campuran sebelum dimasukkan ke dalam kapsul (hitung


berapa % kesalahan dibandingkan dengan berat teoritis).

Timbang masing-masing berat kapsul (hitung berapa % kesalahan


dibandingkan dengan berat kapsul yang direncanakan).

Masukkan kembali ke dalam cangkang kapsul simpan dalam wadah tertutp


rapat dan beri etiket.

Buat kesimpulan terhadap keseragaman bobot sediaan kapsul ekstrak kencur


(berdasarkan Farmakope Indonesia)
BAB IV

HASIL

 Perhitungan Pengambilan Bahan


o 100 mg/kapsul  100 mg/kapsul x 100 kapsul = 10.000 mg ~ 10,00 gram
6 mg/kapsul  6 mg/kapsul x 100 kapsul = 600 mg ~ 0,60 gram
o Total Eksipien  10.000 mg – 600 mg = 9.400 mg ~ 9,40 gram
100 %
o Ekstrak  7,39% x 600 mg = 8.119,08 mg ~ 8,12 gram

o Eksipien  10.000 mg – 8.119,08 mg = 1.880,92 mg ~ 1,88 gram


1
o Cab-o-sil  4 x 1.880,92 mg = 470, 23 mg ~ 0,47 gram
3
o Avicel  4 x 1.880,92 mg = 1.410,69 mg ~ 1,41 gram

 Pengambilan Bahan
No. Nama Bahan Bobot Teoritis Bobot Penimbangan

1 Ekstrak Kencur 8,1191 gram 8,12 gram

2 Cab-o-sil 0,4702 gram 0,47 gram

3 Avicel 1,4107 gram 1,41 gram

Jumlah Total 10,0000 gram 10,00 gram

 Keseragaman Bobot
0,093 𝑔−0,098 𝑔
a) Bobot kapsul + isi : 0,219 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,121 g = 5,35%


Isi : 0,098 g
0,093 𝑔−0,093 𝑔
b) Bobot kapsul + isi : 0,218 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,125 g = 0%


Isi : 0,093 g
0,093 𝑔−0,098 𝑔
c) Bobot kapsul + isi : 0,225 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔
Bobot kapsul kosong : 0,125 g = 5,35%
Isi : 0,098 g
0,093 𝑔−0,089 𝑔
d) Bobot kapsul + isi : 0,219 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,130 g = 4,30%


Isi : 0,089 g
0,093 𝑔−0,087 𝑔
e) Bobot kapsul + isi : 0,217 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,130 g = 6,45%


Isi : 0,087 g
0,093 𝑔−0,094 𝑔
f) Bobot kapsul + isi : 0,215 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,121 g = 1,08%


Isi : 0,094 g
0,093 𝑔−0,091 𝑔
g) Bobot kapsul + isi : 0,211 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,120 g = 2,15%


Isi : 0,091 g
0,093 𝑔−0,093 𝑔
h) Bobot kapsul + isi : 0,222 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,129 g = 0%


Isi : 0,093 g
0,093 𝑔−0,089 𝑔
i) Bobot kapsul + isi : 0,216 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,127 g = 4,30%


Isi : 0,089 g
0,093 𝑔−0,093 𝑔
j) Bobot kapsul + isi : 0,217 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,124 g = 0%


Isi : 0,093 g
0,093 𝑔−0,095 𝑔
k) Bobot kapsul + isi : 0,216 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,121 g = 2,15%


Isi : 0,095 g
0,093 𝑔−0,091 𝑔
l) Bobot kapsul + isi : 0,211 g % Penyimpangan  0,093 𝑔
x 100

Bobot kapsul kosong : 0,120 g = 2,15%


Isi : 0,091 g
0,093 𝑔−0,097 𝑔
m) Bobot kapsul + isi : 0,224 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,127 g = 4,30%


Isi : 0,097 g
0,093 𝑔−0,098 𝑔
n) Bobot kapsul + isi : 0,217 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,119 g = 5,35%


Isi : 0,098 g
0,093 𝑔−0,095 𝑔
o) Bobot kapsul + isi : 0,216 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,128 g = 2,15%


Isi : 0,095 g
0,093 𝑔−0,098 𝑔
p) Bobot kapsul + isi : 0,225 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,127 g = 5,35%


Isi : 0,098 g
0,093 𝑔−0,092 𝑔
q) Bobot kapsul + isi : 0,217 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,125 g = 1,08%


Isi : 0,092 g
0,093 𝑔−0,091 𝑔
r) Bobot kapsul + isi : 0,217 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,126 g = 2,15%


Isi : 0,091 g
0,093 𝑔−0,090 𝑔
s) Bobot kapsul + isi : 0,210 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,120 g = 3,20%


Isi : 0,090 g
0,093 𝑔−0,089 𝑔
t) Bobot kapsul + isi : 0,219 g % Penyimpangan  x 100
0,093 𝑔

Bobot kapsul kosong : 0,130 g = 4,30%


Isi : 0,089 g

1,861 𝑔
Rata-rata  = 0,093 g ~ 93 mg
20
 TABEL KESERAGAMAN BOBOT

No. Kapsul + Isi Kapsul Kosong Isi % Penyimpangan

1 0,219 g 0,121 g 0,098 g 5,35%

2 0,218 g 0,125 g 0,093 g 0%

3 0,225 g 0,127 g 0,098 g 5,35%

4 0,219 g 0,130 g 0,089 g 4,30%

5 0,217 g 0,130 g 0,087 g 6,45%

6 0,215 g 0,121 g 0,094 g 1,08%

7 0,211 g 0,120 g 0,091 g 2,15%

8 0,222 g 0,129 g 0,093 g 0%

9 0,216 g 0,127 g 0,089 g 4,30%

10 0,217 g 0,124 g 0,093 g 0%

11 0,216 g 0,121 g 0,095 g 2,15%

12 0,211 g 0,120 g 0,091 g 2,15%

13 0,224 g 0,127 g 0,097 g 4,30%

14 0,217 g 0,119 g 0,098 g 5,35%

15 0,216 g 0,128 g 0,095 g 2,15%

16 0,225 g 0,127 g 0,098 g 5,35%

17 0,217 g 0,125 g 0,092 g 1,08%

18 0,217 g 0,126 g 0,091 g 2,15%


19 0,210 g 0,120 g 0,090 g 3,20%

20 0,219 g 0,130 g 0,089 g 4,30%

Jumlah 1,861 g

Rata-rata 0,093 g
BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan uji keseragaman bobot pada kapsul ekstrak kencur.
Pada pembuatan kapsul ditambahkan eksipien avicel sebanyak 1,41 gram dan cab-o-sil
sebanyak 0,47 gram. Sedangkan ekstrak kencur yang ditimbang sebanyak 8,12 gram. Dalam
setiap kapsul seharusnya dengan kadar EPMS sebesar 15 mg/kapsul, tetapi pada kelompok
kami hanya dibuat 6 mg/kapsul dikarenakan hasil rata-rata kadar EPMS awalnya tidak sesuai
dengan dengan teoritis, hasil yang kami dapatkan sangat kecil yaitu 7,39%. Kapsul akan dibuat
sebanyak 100 kapsul dengan bobot 200 mg/kapsul, tetapi dikarenakan kadar EPMS kelompok
kami sangat kecil maka dari itu dibuat 100 mg/kapsul. Hasil kelompok kami tidak sesuai
dengan yang ditentukan, kemungkinan terjadi kesalahan pada saat prosedur pengerjaan
penetapan kadar EPMS tidak kuantitatif atau pada saat penotolan terjadi kesalahan.

Pada awal pembuatan ditimbang seluruh bahan (ekstrak, avicel, cab-o-sil) kemudian
dicampur ketiganya didalam mortar ad homogen. Dimasukkan avicel terlebih dahulu lalu
ditambahkan ekstrak dan yang terakhir ditambahkan cab-o-sil karena cab-o-sil bersifat
voluminous. Setelah homogen, campuran bahan obat ditimbang keseluruhan untuk
menghitung % kesalahan. % kesalahan yang didapat adalah 0,2%. Secara teoritis % kesalahan
<1% dan <5% artinya bobot keseluruhan bahan memenuhi persyaratan.

Selanjutnya bahan dibagi menjadi dua bagian sama banyak. Dan setiap bagian dibagi
menjadi lima secara visual, kemudian dari lima dibagi menjadi 50 bagian secara visual. Setelah
dibagi dimasukkan kedalam masing-masing kapsul sebanyak 100 kapsul. Untuk 20 kapsul
dilakukan keseragaman bobot yang mana untuk bobot rata-rata 93 mg. Perbedaan bobot isi
kapsul menurut kolom A kurang lebih 10% dan pada kolom B kurang lebih 20% (PerMenKes
No. 12 Tahun 2014).

Hasil yang didapat pada kelompok kami tidak ada satu kapsul pun yang tidak
memenuhi persyaratan, karena tidak ada % penyimpangan/keslahan yang lebih dari 10% pada
kolom A dan 20% pada kolom B. Kemudian untuk rata-rata bobot diperoleh 0,093 gram (93
mg). Hal ini menunjukkan bahwa setiap bobot isi kapsul memenuhi persyaratan dari
PerMenKes No. 12 Tahun 2014 yaitu pada kolom A 10% (0,0837 gram – 0,1023 gram) dan
kolom B 20% (0,0744 gram – 0,1116 gram).
BAB VI

KESIMPULAN

Dari 20 kapsul tidak terdapat kapsul yang tidak memenuhi persyaratan dan dari rata-
rata bobot kapsul diperoleh 93 mg (0,0930 gram) yang menunjukkan bahwa bobot isi kapsul
memenuhi persyaratan dalam PerMenKes No. 12 Tahun 2014 yakni kolom A (0,0837 gram –
0,1027 gram) dan kolom B 20% (0,0744 gram – 0,1116 gram).
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, A. 2010. Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Salemba Medika

Anonim. 2007. Farmakologi dan Terapi. edisi 5, Departemen Farmakologi


Terapeutik, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia

Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta

Ansel, H.C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerjemah Farida Ibrahim.
Penerbit: UI. Jakarta.

Barus, R. 2009. Amidasi p-metoksisinamat yang Diisolaso dari Kencur (Kaempferia


galanga L) [Tesis], Sumatera Utara, Program Pascasarjana USU.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta.
Depkes, RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Depkes RI, Jakarta.
Ditjen POM, Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung

Permenkes RI No. 760/Menkes/Per/IX/1992 tentang Fitofarmaka.

Purnomo, A.D., 2008, Analisis Makroskopik, Mikroskopik, dan Penentuan Senyawa


Identitas dari Simplisia Herba Purwoceng, Skripsi, Fakultas Farmasi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rowe, R.C. et Al. (2009). Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed, The
Pharmaceutical Press, London.

Rukmana,R. 1994. Kencur. Kanikus: Yogyakarta


Soeratri , W. dan Tutik, P. 2014. Penambahan asam glikolat terhadap efektifitas sediaan
tabir surya kombinasi anti UV-A dan anti UV-B dalam basis gel. Majalah Farmasi
Airlangga.
Umar, M. I., Mohammad, Z. B. A., Amirin, S., Rabia, A., & Muhammad, A. I. 2011.
Phytochemistry and medicinal properties of Kaempferia Galanga L. (zingiberaceae)
extracts. African Journal of Pharmacy and Pharmacology, 5, 14, 1638-1647.
Voigt, R.. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani N. S..
UGM Press: Yogyakarta.
Winarto, W.P. 2007. Tanaman Obat Indonesia Untuk Pengobatan Herbal. Jakarta:
Karyasari Herba Media.
LAMPIRAN

A. Pengambilan dan Penimbangan Bahan

Ditimbang ekstrak Ditimbang Avicel Ditimbang cab-o-sil


sebanyak 8,12 gram sebanyak 1,41 gram sebanyak 0,47 gram
di timbangan di timbangan di timbangan
analitik analitik analitik

B. Pencampuran Bahan

Proses homogenasi Bobot seluruh bahan setelah


seluruh bahan ad di campur dan digerus ad
homogen homogen sebesar 9,98 gram
C. Proses Memasukkan Bahan kedalam Kapsul

Setelah ditimbang semua bahan, lalu dibagi dua


Setelah dibagi menjadi 2
bagian dan ditimbang lagi menjadi 4,98 dan 5,00
bagian, setiap 1 bagian
gram
dibagi secara visual menjadi
5 dan dibagi lagi menjadi 10

Proses pemasukkan bahan


obat kedalam kapsul yang
sudah disediakan

D. Keseragaman Bobot

Diambil 20 kapsul secara acak


dari 100 kapsul, lalu ditimbang
kapsul + isi, kapsul kosong,
dan bobot/isinya. Jangan lupa
hitung % kesalahan serta
cocokkan dengan teori
keseragaman bobot kapsul
yang ada di literatur/buku
LAPORAN PRAKTIKUM

PENETAPAN KADAR SENYAWA MARKER EPMS DALAM SEDIAAN


KAPSUL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 6
KELAS: D

Sukmawansyah 201410410311016
Sakinah Musaad 201510410311138
Meilya Hayyu Saputri 201510410311166
Dima Atsyari Novianti 201510410311182
Ayudya Rizky P. 201510410311196

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt.
Amaliya Dina Anggraeni, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN
1. TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu melakukan pembuatan kapsul ekstrak kencur dan penetapan kadar
senyawa marker dalam kapsul
2. PRINSIP TEORI
A. Klasifikasi Tumbuhan (USDA)

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Traecheobionta

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Kaempferia

Spesies : Kaempferia galanga Linn.

B. Deskripsi Tanaman

Kempferia merupakan genus herbal yang memiliki anggota lebih dari 50 spesies asli
dari Asia Timur tropis yang masuk dalam famili Zingiberaceae. Kaempferia merupakan rizoma
herbal yang berukuran kecil yang biasanya berbentuk akar tuberous aromatik yang tebal dan
rizoma yang pendek (Tang et al., 2014).

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu dari lima jenis tumbuhan yang
dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia.kencur merupakan tanaman obat yang
bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak dibudidayakan. Bagian rimpangnya
digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisioanl, bumbu dapur, bahan makanan,
maupun penyengar minuman lainnya (Rostiana et al., 2003).

a. Kandungan Kimia

Menurut Hargono (1995), bahwa kandungan senyawa Kaempferia galanga L. yaitu:

1. Daun: alkaloid, borneol, dan eucaliptol.


2. Rimpang: tanin, saponin, kalsium oksalat, borneol, kamfen, sineol, etil alkohol,
minyak atsiri (2,4%- 3,9%) terdiri etil p-metoksisinamate, asam p-metoksinamat,
asam transinamat, p-metoksi stirena, p-asam kumarat, n-pentadekana.

Kandungan senyawa yang terdapat secara melimpah yaitu asam popanoat,


pentadekana, etil p-metoksisinamat. Kandungan lainnya yaitu 1,8-sineol, undekanon, isopropil
sinama, disikloheksilpropandinitril, dipenten dioksida, 9-hidroksi, 2-nonanon, 2,7-oktadien- 1-
il asetat, etil sikloheksil asetat, cis 11-tetradesenil asetat, 2-heptadekanon, 4-metilnisopulegon,
champidin, trans-trans-okta-2,4-dietil asetat, 10-undesil-1-ol, 7-dimetoksikumarin, delta-
3carene, alfa pinen, champhene, borneol, cymene, alpha gurjunene, germacrenes, cadinenes,
caryophyllenes, luteolin, dan apigenin (Umar et al., 2011).

C. Manfaat Kaempferia galanga L

Zingebraceae telah ditemukan sebagai sumber yang diperlukan sekali untuk agen
pencegah kanker sejak tumbuhan dari famili Zingeberaceae didemonstrasikan kemungkinan
efek hambatnya pada pertumbuhan kanker payudara (MCF-7), kanker kolon (HT- 29 dan
Col2), kanker paru- paru (A549), kanker perut (SNU- 638), dan kanker servic (CaSki).
Dilaporkan juga pada skrining ekstrak atau minyak esensial dari sejumlah anggota famili
Zingiberaceae yaitu dapat melawan strain bakteri, jamur, dan ragi (Tang et al.,2014).

Kebanyakan rizoma ginger banyak yang bisa dimakan yang telah lama digunakan
sebagai bahan untuk pengobatan tradisional selama berabad- abad tetapi ridak sepenuhnya
telah dilakukan indentifikasi terhadap aktivitas bioaktifnya (Tang et al.,2014).

Ekstrak dari Kaempfreia galanga L. memiliki aktivitas antiinflamasi, analgesik,


nematasida, penolak nyamuk, larvisida, vasorelaksan, sedatif, antineoplastik, antimikroba,
antioksidan, antialergidan penyembuh luka (Umar et al., 2011). Etil p- metoksisinamat dan etil
sinamat ditemukan sebagai senyawa vital yang berperan dalam kebanyakan sifat farmakologi.
Efek aktinosiseptik dari ekstrak Kaempferia galanga L. sebanding dengan aspirin, mengingat
efek nematisida Kaempferia galanga L. bahkan lebih poten dari pada Carbofuran dan Nametan
(Umar et al., 2011).

D. EPMS (etil para-metoksi sinamat)

Kencur (Kaempferia galangal L.) secara empiris telah diketahui memiliki efek
antiinflamasi. Kandungan utama kencur adalah etil p-metoksisinamat (EPMS) yang
merupakan senyawa ester turunan dari p-metoksisinamat yang di dalam tubuh mengalami
hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis, asam p-metoksisinamat (APMS), senyawa ini
bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase, sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu. Selain itu, EPMS termasuk kelompok fenolik alam dari
golongan fenil propanoid yang bermanfaat sebagai tabir surya, senyawa ini memperlihatkan
aktifitas serapan maksimum 308nm (daerah UV-B) dan bersifat sebagai UV filter sehingga
Etil p-metoksisinamat mempunyai perlindungan yang baik terhadap sinar matahari yang dapat
memantulkan dan menghamburkan radiasi sinar UV terutama UV-B (290-320 nm) (Soeratri
et al, 2014).

a. Senyawa Marker

Berdasarkan natural health Produck Directorate (NHPD) Senyawa marker meruakan


konstituent that accurs naturally in the material and that is selected for special attention (e.g
for identification and standarization purposes) by a researcher or manufacture. Marker
mempunyai 2 tujuan utama yaitu sebagai penanda farmakoogis dan analisis.

Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik sumber bahan
alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi senyawa farmakologik aktif pada
prosuk akhir atau memastikan efikasi produk, marker sangat penting dalam evaluasi jaminan
kualitas produk senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologik. Senyawa marker
dapat digolongkan mnjadi 4 katagori berdasarkan bioaktivitasnya (Harbone, 1987).

i. Zat aktif
Merupakan senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang dietahui contohnya: ephedrin
pada epedra sinensis (Harbone, 1987).

j. Marker aktif

Merupakan senyawa kimia yang mempunya efek farmakologi tetapi belum tentu
mempuyai efek klinik (Harbone, 1987).

k. Marker analisis

Merupakan senyawa kimia yang dipilih untuk determinasi, kuantitatif tetapi belum
tentu mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinik (Harbone, 1987).

l. Marker negatif

Merupakan senyawa aktif dengan zat aktif toksik atau allergik. Kencur merupakan
tanaman tropis yang terkandung senyawa etil-p-metoksisinamat sebagai komponen utama dan
terkandung pula senyawa lain seperti etil sinamat dan p-metoksisinamat, kadar etil-p-
metoksisinamat dalam kencur cukup tinggi tergantung spesiesnya dengan bias sampai 10%
(Harbone, 1987).

 Klasifikasi Senyawa Marker Menurut Songlin et al.


a) Komponen Teraupetik
Komponen teraupetik diketahui memiliki efek terapi langsung dari obat herbal.
Senyawa tersebut dapat digunakan sebagai senyawa marker untuk pengujian
kualitatif dan kuantitatif (Songlin et al.,2008).
b) Komponen Bioaktif
Komponen bioaktif secara structural kimia berbeda dengan obat herbal. Saat
komponen tunggal tidak mempunyai efek terapi langsung, kombinasi dari
bioaktivitas keduanya memberikan efek terapi (Songlin et al.,2008).
c) Komponen Sinergis
Komponen sinergis tidak berperan pada efek terapi ataupun bioaktivitas secara
langsung. Namun, meraka bekerja secara sinergis untuk menguatakan bioaktivitas
dari komponen lain untuk meningkatkan efek terapi obat herbal (Songlin et
al.,2008).
d) Komponen Identitas
Untuk dapat berperan dalam efek terapi, komponen identitas haruslah bahan yang
spesifik atau unik dari obat herbal (Songlin et al.,2008).
e) Komponen major
Komponen major merupakan senyawa yang memiliki kandungan terbesar dalam
tanaman. Kelompok bukan komponen identitas dan meiliki bioaktivitas yang belum
diketahui pasti. Komponen major digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif
dari obat herbal khususnya untuk evaluasi stabilitas dan diferensiasi (Songlin et
al.,2008).
f) Komponen Korelatif
Komponen korelatif merupakan komponen yang memiliki kedekatan hubungan
dengan yang lainnya. Contohnya saja dapat menjadi precursor produk atau
metabolit dari suatu reaksi kimia atau enzimatis. Komponen korelatif dapat
digunakan sebagai senyawa marker untuk menguji kualitas obat tradisional yang
berasal dari lokasi berbeda dan pada waktu penyimpanan yang berbeda pula
(Songlin et al.,2008).
g) Komponen Toksik
Senyawa yang menunjukkan sifat alergi dan toksik (Songlin et al.,2008).
h) Komponen Umum
Komponen umum merupakan senyawa yang umum terdapat dalam tanaman.
Komponen umum diidentifikasi dengan fingerprint untuk quality control (Songlin
et al.,2008).
b. Analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi Lapis Tipis merupakan teknik pemisahan campuran dengan


menggunakan suatu plat fase diam yang nantinya fase diam tersebut akan secara seragam
tersebar di atas permukaan plat tersebut yang kemudian fase gerak akan bergerak sepanjang
fase diam karena pengaruh gaya kapiler pada pengembangan menaik (ascending) atau karena
gaya gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending) (Gandjar dan Rohman,
2007).
Silika gel merupakan fase diam yang sering digunakan untuk KLT. Zat ini digunakan
sebagai adsorben universal untuk kromatografi senyawa netral, asam, dan basa. Selain fase
diam, terdapat fase gerak yang merupakan salah satu bagian penting dalam analisis pemisahan
senyawa menggunakan KLT karena polaritas dari fase gerak dapat menentukan pemisahan
(Stahl, 1985; Sudjadi, 2007).

Beberapa penjerap fase diam yang digunakan pada KLT (Gandjar dan Rohman,2007)

Mekanisme Mekanisme sorpsi Penggunaan

Silica gel adsorpsi Asam amino, hidrokarbon, vitamin,


alkaloid

Silicayangdimodifikasi Partisi termodifikasi Senyawa-senyawa non polar


dengan hidrokarbon

Serbuk selulosa Asam amino, nukleotida, karbohidrat

Alumina adsorpsi Hidrokarbon, ion logam, pewarna


makanan, alkaloid

Kieselguhr (tanah partisi Gula, asam-asam lemak


diatomae)

Selulosa penukar ion Pertukaran ion Asam nukleat, nukleotida, halide dan
ion-ion logam

Gel sephadex Eksklusi Polimer, protein, kompleks logam

Β-siklodekstrin Interaksiadsorpsi Campuran enansiomer


stereospesifik

Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal hanya dapat diperoleh jika
menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil mungkin dan sesempit mungkin. Untuk
memperoleh reprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan paling sedikit 0,5 µL. Jika
volume sampel yang akan ditotolkan > 2,0 µL maka penotolan harus dilakukan secara bertahap
dengan dilakukan pengeringan antar totolan. Penjenuhan bejana kromatografi dapat dilakukan
dengan cara melapisi dinding bagian dalam bejana dengan kertas saring. Bagian bawah kertas
saring tersebut harus tercelup dalam cairan pengembang. Tepi bagian bawah lempeng lapis
tipis yang telah ditotoli sampel dicelupkan ke dalam fase gerak kurang lebih 0,5-1 cm. Tinggi
fase gerak dalam bejana harus di bawah lempeng yang sudah terisi totolan sampel. Bejana
kromatografi harus tertutup rapat dan sedapat mungkin volume fase gerak sedikit mungkin
(akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng sampai ketinggian lempeng yang telah
ditentukan). Jika fase gerak telah mencapai ujung kertas saring, maka dapat dikatakan fase
gerak telah jenuh. Selama proses elusi, bejana kromatografi harus ditutup rapat, misalkan
dengan alumininum foil (Ditjen BPOM, 2000; Sudjadi, 2007).
E. Kapsul

Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak
yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tapi dapat juga terbuat dari pati atau
bagian lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi, dari nomor paling kecil (5)
sampai nomor paling besar (000) (Anonim, 1995).

Kapsul terbagi atas kapsul cangkang keras (capsulae durae, hard capsule) dan kapsul
cangkang lunak (capsulae molles). Cangkang kapsul dibuat dari Gelatin dengan atau tanpa zat
tambahan lain. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok.
Capsulae Gelatinosae operculatae atau kapsul keras. dibuat dari campuran gelatin, gula, dan
air dan merupakan cangkang kapsul yang bening tak bewarna dan tak berasa. Kapsul lunak
merupakan satu kesatuan berbentuk bulat atau silindris (pearl) atau bulat telur (globula) yang
dibuat dari gelatin (kadang disebut dengan gel lunak) atau bahan lain yang sesuai. Biasanya
lebih tebal dari pada cangkang kapsul keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan
senyawa poliol, seperti sorbitol atau gliserin. (Anief, 2007)

 Macam-macam kapsul:
1) Capsulae Gelatinosae opercultae (kapsul keras).
Kapsul keras terdiri dari wadah dan tutup. Cangkang kapsul keras dibuat
dari campuran Gelatin, gula dan air dan merupakan cangkang kapsul yang bening tak berwarna
dan tak berasa. Ukuran kapsul keras menurut besarnya dapat diberi nomor urut dari besar ke
kecil sebagai berikut : no. 000; 00; 0; 1; 2; 3. Kapsul harus disimpan pada tempat yang tidak
lembab dan sebaiknya disimpan di wadah yang diberi zat pengering. Kapsul dapat diberi warna
macam-macam agar menarik dan dapat dibedakan dengan kapsul yang mengandung obat lain.
Kapsul keras sering digunakan di apotik dalam pelayanan campuran obat yang ditulis dokter
(Anief, 2007).
2) Soft capsule atau kapsul lunak
Merupakan kapsul tertutup dan berisi obat yang pembuatan dan pengisian obatnya
dilakukan dengan alat khusus. Cangkang kapsul lunak dibuat dari Gelatin ditambah Gliserin
atau alkohol polihidris seperti Sorbitol untuk melunakan gelatinnya. Kapsul ini biasanya
mengandung air 6 – 13%, diisi dengan bahan cairan bukan air seperti polietilglikol (PEG)
berbobot molekul rendah, atau juga dapat diisi dengan bahan padat , serbuk atau zat padat
kering. Kapsul cangkang lunak memiliki bermacam-macam bentuk dan biasanya dapat
dipakai untuk rute oral, vaginal, rektal atau topikal. Kapsul lunak dapat pula diberi warna
macam-macam (Anief, 2007)
 Ada tiga cara pengisian kapsul, yaitu dengan:
1) Tangan
Cara ini merupakan cara yang paling sederhana arena menggunakan tangan tanpa
bantuan alat lain. Cara ini sering digunakan di apotek. Bila melakukan pengisian dengan cara
ini, sebaiknya menggunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul
karena tidak tahan terhadap obat tersebut. Untuk memasukkan obat kedalam kapsul, dapat
dilakukan dengan cara membagi serrbuk sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta.
2) Alat bukan mesin
Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Dengan alat
ini, akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan penkerjaannya yang dapat lebih cepat.
3) Alat mesin
Untuk memproduksi kapsul secara besar-besaran dan menjaga keseragaman kapsul,
perlu digunakan alat otomatis mulai dari membuka, mengisi, dan menutup kapsul (Syamsuni,
2006).
 Persyaratan kapsul menurut FI edisi III 1979 yaitu:
a) Untuk kelompok kapsul yang berisi bahan padat

 Timbang 20 kapsul sekaligus, kemudian timbang lagi satu-per satu dan catat
bobotnya.
 Keluarkan semua isi kapsul, tmbang seluruh bagian cangkang kapsul

 Hitung bobot isi tiap kapsul dan hitung bobot rata-rata isi tiap kapsul

 Kapsul ini memnuhi syarat FI jika perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul
terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dai yang ditetapkan
dalam kolom A dan untuk setiap 2 kapsul terhadap bobot rata-rata ditetapkan
dalam kolom B. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel.

Bobot rata-rata tiap kapsul Perbedaan bobot isi kapsul (%)

A B
≤ 120 mg 10 20
≥ 120 mg 7,5 15

b) Untuk kelompok kapsul yang berisi bahan cair atau setengah padat/pasta/salep

 Timbang 1- kapsul sekaligus, kemudian timbang lagi satu per satu

 Keluarkan semua isi kapsul, cuci cangkang kapsul dengan eter, buang cairan cucian
dan biarkan hingga tidak berbau eter lagi

 Timbang seluruh bagian cangkang kapsul

 Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata isi tiap kapsul

 Kapsul ini memenuhi syarat FI jika perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul
terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak lebih dari 7,5%

 Persyaratan kapsul menurut Kepala BPOM Nomor 12 Tahun 2014

Dari 20 Tablet/kaplet/tablet hisap/Pastiles/Tablet Efervesen, tidak lebih dari 2


Tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar
dari pada harga yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak satu tabletpun yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan
dalam kolom B, yang tertera pada daftar berikut:

Tabel 1.2 % Penyimpangan Menurut Kepala BPOM Nomor 12 Tahun 2014


Penyimpangan Terhadap Bobot Rata-Rata

Bobot Rata-Rata A B

25 mg atau kurang 15% 30%

26 mg sampai 150 mg 10% 20%

151 mg sampai 300 mg 7,5% 15%

Lebih dari 300 mg 5% 10%

F. Penetapan Kadar Dengan Metode Densitometer


Densitometri merupakan metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi
radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak pada kromatografi lapis tipis.
Densitometri dimaksudkan untuk analisis kuantitatif analit dengan kadar kecil, yang
sebelumnya dilakukan pemisahan dengan kromatografi lapis tipis (Rohman, 2009).
Thin Layer Chromatography Scanner yang lebih dikenal dengan nama
spektrofotodensitometer semakin banyak dan luas digunakan dalam analisis kualitatif dan
kuantitatif. Instrumen spektrofotodensitometer terdiri dari sumber cahaya dalam rentang
panjang gelombang 200-800 nm yaitu lampu deuterium (rentang spektra 200-400 nm), lampu
tungsten (rentang spektra 400-800 nm), celah (slit), monokromator untuk memilih panjang
gelombang yang sesuai, sistem untuk memfokuskan sinar pada plat, filter fluoresensi,
pengganda foton (photomultiplier) dan recorder (Schmutz, 1980; Deinstrop, 2007; Gandjar
dan Rohman, 2007).
Gambar 6. Skema Instrumen Spektrofotodensitometer (Sherma dan Fried,
1994) Keterangan: L (Light); SL (Slit); MC (Monochromator); PM
(Photomultiplier); FF (Filter Fluorescens); P (Plat); SCS (System for
Circular Scanning)

Prinsip kerja spektrofotodensitometri berdasarkan interaksi antara radiasi


elektromagnetik sinar UV-vis dengan analit yang merupakan noda pada plat. Radiasi
elektomagnetik yang datang pada plat diabsorpsi oleh analit. Radiasi elektromagnetik yang
diabsorpsi oleh analit atau indikator plat dapat diemisikan berupa fluoresensi dan fosforesensi
(Sherma dan Fried, 1994). Spektrofotodensitometer akan mendeteksi masing-masing track
penotolan dan masing-masing track dan ditampilkan dalam bentuk kromatogram. Semakin
tinggi bentuk kromatogram, maka konsentrasi analit dalam sampel semakin banyak.
Kromatogram ini akan menunjukkan nilai Area Under Curve (AUC) dan nilai Rf dari tiap
senyawa yang terkandung dalam noda.
Penentuan kadar menggunakan alat densitometer dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu senyawa standar dielusi bersama dalam satu plat, kemudian AUC sampel dibandingkan
dengan harga AUC senyawa standar. Cara lainnya dapat dilakukan dengan membuat kurva
standar hubungan antara konsentrasi standar dengan AUC. Kurva standar diperoleh dengan
membuat totolan larutan standar pada plat KLT dengan bermacam-macam konsentrasi. Bercak
yang diperoleh dicari nilai AUC- nya dan dari kurva standar akan diperoleh persamaan garis
lurus y = a + bx di mana x adalah kadar zat yang ditotolkan dan y adalah AUC (Supardjan,
1987).
 Menurut Gritter et al. (1991) dalam penggunaan densitometer ada beberapa hal yang
harus dipertimbangkan antara lain:

1. Sinar yang masuk tidak perlu tepat paralel, namun sudut datang sinar harus
dipertahankan konstan.

2. Monokromatoritas dari sinar sangat penting, untuk menjaga keseragaman


absorbsi dari sampel pada panjang gelombang yang digunakan.

3. Celah sinar datang harus kecil, sesuai dengan range daerah absorbsi.
Ketidakseimbangan bentuk noda memiliki efek yang besar bila dilakukan
pengukuran dengan model refleksi bila dibandingkan dengan model
transmisi.
G. Validasi Metode Analisis
Validasi metoda analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu,
berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut
memenuhi persyaratan untuk penggunaannya (Harmita, 2004).
Validasi metode menurut United State Pharmacopeia (USP) dilakukan untuk
menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit
yang akandianalisis (Gandjar dan Rohman,2009).
Suatu metode analisis harus divalidasi untuk melakukan verifikasi bahwa
parameter- parameter kinerjanya cukup mampu untuk mengatasi problem analisi, karenanya
suatu metodeharus divalidasi, ketika:
 Metode baru dikembangkan untuk mengatasi problem analisis tertentu.
 Metode yang sudah baku direvisi untuk menyesuaikan perkembangan atau
karenamunculnya suatu problem yang mengarahkan bahwa metode baku
tersebut harusdirevisi
 Penjaminan mutu yang mengindikasikan bahwa metode baku telah berubah
seiringdengan berjalannya waktu.
 Metode baku digunakan di laboratorium yang berbeda dikerjakan oleh analis
yang berbeda atau dikerjakan dengan alat yang berbeda.
 Untuk mendemonstrasikan kesetaraan antar 2 metode seperti antara metode
barudan metode baku (Gandjar dan Rohman, 2009).
Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode
analisis diuraikan dan didefinisikan sebagaimana cara penentuannya.
1. Akurasi (accuracy)
adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar
analit yang sebenarnya. Akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali
(recovery) analit yang ditambahkan. Akurasi hasil analis sangat tergantung
kepada sebaran galat sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis.
Oleh karena itu untuk mencapai Akurasi yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan
cara mengurangi galat sistematik tersebut seperti menggunakan peralatan yang telah
dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan
pelaksanaannya yang cermat, taat asas sesuai prosedur (Harmita, 2004). Akurasi ditentukan
dengan dua cara yaitu metode simulasi (spiked-placeborecovery) atau metode
penambahan baku (standardadditionmethod). Dalam metode simulasi, sejumlah analit
bahan murni (senyawa pembanding kimia CRM atau SRM) ditambahkan ke dalam
campuran bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran tersebut dianalisis
dan hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan (kadar yang
sebenarnya). Dalam metode penambahan baku, sampel dianalisis lalu sejumlah tertentu
analit yang diperiksa ditambahkan ke dalam sampel dicampur dan dianalisis lagi. Selisih
kedua hasil dibandingkan dengan kadar yang sebenarnya (hasil yang diharapkan). Dalam
kedua metode tersebut, persen peroleh kembali dinyatakan sebagai rasio antara hasil
yang diperoleh dengan hasil yang sebenarnya.
% Perolehan kembali dapat ditentukan dengan cara membuat sampel placebo
(eksepien obat, cairan biologis) kemudian ditambah analit dengan konsentrasitertentu
(biasanya 80% sampai 120% dari kadar analit yang diperkirakan), kemudian dianalisis
dengan metode yang akan divalidasi (Harmita, 2004). Tetapi bila tidak memungkinkan
membuat sampel plasebo karena matriksnya tidak diketahui seperti obat-obatan paten, atau
karena analitnya berupa suatu senyawa endogen misalnya metabolit sekunder pada kultur
kalus, maka dapat dipakai metode adisi (Harmita, 2004). Metode adisi dapat dilakukan
dengan menambahkan sejumlah analit dengan konsentrasi tertentu pada sampel yang
diperiksa, lalu dianalisis dengan metode tersebut. Persen perolehan kembali ditentukan
dengan menentukan berapa persen ditemukan. Kriteria Akurasi sangat tergantung kepada
konsentrasi analit dalam matriks sampel dan pada keseksamaan metode (RSD).
Sedangkan kadar analit dalam metode penambahan baku dapat dihitung sebagai
berikut:
𝑅1
𝐶=𝑠 ( )
𝑅2 − 𝑅1
C = kadar analit dalam sampel
S = kadar analit yang ditambahkan pada sampel
R1 = respon yang diberikan sampel
R2 = respon yang diberikan campuran sampel dengan tambahan analit
(Harmita, 2004).

Perhitungan perolehan kembali dapat juga ditetapkan dengan rumus sebagai berikut:

(Harmita, 2004).
Persen perolehan kembali seharusnya tidak melebihi nilai presisi RSD. Rentang
kesalahan yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks dapat dilihat pada tabel
di bawah ini:

Syarat recovery: 98 – 102 % (Harmita, 2004).


2. Keseksamaan (precision)
Adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur
melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang
pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogeny (Harmita, 2004). Presisi
diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi).
Presisi dapat dinyatakan sebagai keterulangan (repeatability) atau ketertiruan
(reproducibility). Sesuai dengan ICH, presisi harus dilakukan pada 3 tingkatan yang berbeda
yaitu:
a. Keterulangan yaitu ketepatan (precision) pada kondisi percobaan yang sama
(berulang) baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun waktunya.
b. Presisi antara yaitu ketepatan (precision) pada kondisi percobaan yang berbeda,
baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun waktunya.
c. Ketertiruan merujuk pada hasil-hasil dari laboratorium yang lain.
Pengujian presisi pada saat awal validasi metode seringkali hanya menggunakan 2
parameter pertama yaitu keterulangan dan presisi antara. Reprodusibilitas biasanya
dilakukan ketika akan melakukan uji banding antar laboratorium (Gandjar dan rohman, 2009).
Menurut Harmita (2009), keterulangan adalah keseksamaan metode jika dilakukan
berulang kali oleh analis yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang
pendek. Keterulangan dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap terhadap
sampel-sampel identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi memberikan ukuran
keseksamaan pada kondisi yang normal. Sedangkan yang dimaksud dengan ketertiruan adalah
keseksamaan metode jika dikerjakan pada kondisi yang berbeda. Biasanya analisis
dilakukan dalam laboratorium-laboratorium yang berbeda menggunakan peralatan,
pereaksi, pelarut, dan analis yang berbeda pula. Analis dilakukan terhadap sampel-sampel
yang diduga identik yang dicuplik dari batch yang sama. Ketertiruan dapat juga dilakukan
dalam laboratorium yang sama dengan menggunakan peralatan, pereaksi, dan analis yang
berbeda. Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan simpangan baku relatif atau
koefisien variasi 2% atau kurang. Akan tetapi kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada
konsentrasi analit yang diperiksa, jumlah sampel, dan kondisi laboratorium. Dari
penelitian dijumpai bahwa koefisien variasi meningkat dengan menurunnya kadar analit yang
dianalisis.
Ditemukan bahwa koefisien variasi meningkat seiring dengan menurunnya konsentrasi
analit. Pada kadar 1% atau lebih, standar deviasi relatif antara laboratorium adalah sekitar 2,5%
ada pada satu per seribu adalah 5%. Pada kadar satu per sejuta (ppm) RSDnya adalah 16%,
dan pada kadar part per bilion (ppb) adalah 32%. Pada metode yang sangat kritis, secara umum
diterima bahwa RSD harus lebih dari 2% (Harmita, 2004).
 Keseksamaan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
- Hasil Analisis

- Simpangan baku relatif atau koefisien variasi (KV)


𝑺𝑫
𝑲𝑽 = x 𝟏𝟎𝟎
𝒙
Percobaan keseksamaan dilakukan terhadap paling sedikit enam replika sampel yang
diambil dari campuran sampel dengan matriks yang homogen. Sebaiknya keseksamaan
ditentukan terhadap sampel sebenarnya yaitu berupa campuran dengan bahan pembawa
sediaan farmasi (plasebo) untuk melihat pengaruh matriks pembawa terhadap keseksamaan
ini. Demikian juga harus disiapkan sampel untuk menganalisis pengaruh pengotor dan hasil
degradasi terhadap keseksamaan ini (Harmita, 2004).

3. Selektivitas (Spesifisitas)
Adalah kemampuannya yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan
seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel. Selektivitas
seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degreeof bias) metode yang
dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran, hasil
urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel
yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan (Harmita, 2004).
Selektivitas metode ditentukan dengan membandingkan hasil analisis sampel yang
mengandung cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya atau pembawa
plasebo dengan hasil analisis sampel tanpa penambahan bahan-bahan tadi. Penyimpangan
hasil jika ada merupakan selisih dari hasil uji keduanya (Harmita, 2004).
Jika cemaran dan hasil urai tidak dapat diidentifikasi atau tidak dapat diperoleh, maka
selektivitas dapat ditunjukkan dengan cara menganalisis sampel yang mengandung cemaran
atau hasil uji urai dengan metode yang hendak diuji lalu dibandingkan dengan metode lain
untuk pengujian kemurnian seperti kromatografi, analisis kelarutan fase, dan
DifferentialScanningCalorimetry. Derajat kesesuaian kedua hasil analisis tersebut merupakan
ukuran selektivitas. Pada metode analisis yang melibatkan kromatografi, selektivitas
ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs) (Harmita, 2004).
ICH membagi spesifisitas dalam 2 kategori, yakni uji identifikasi dan uji
kemurnian atau pengukuran. Untuk tujuan identifikasi, spesifisitas ditunjukkan dengan
kemampuan suatu metode analisis untuk membedakan antar senyawa yang mempunyai
struktur molekul hamper sama. Untuk tujuan uji kemurnian dan tujuan pengukuran kadar,
spesifisitas ditunjukkan oleh daya pisah 2 senyawa yang berdekatan (sebagaimana dalam
kromatografi). Senyawa-senyawa tersebut biasanya adalah komponen utama atau
komponen aktif dan atau suatu pengotor. Jika dalam suatu uji terdapat suatu pengotor
(impurities) maka metode uji harus tidak terpengaruh dengan adanya pengotor ini (Gandjar
dan Rohman, 2009).
Penentuan spesifisitas metode dapat diperoleh dengan 2 jalan. Yang pertama (dan yang
paling diharapkan), adalah dengan melakukan optimasi sehingga diperoleh senyawa yang
dituju terpisah secara sempurna dari senyawa-senyawa lain (resolusi senyawa yang dituju
≥ 2). Cara kedua untuk memperoleh spesifisitas adalah dengan menggunakan detektor
selektif, terutama untuk senyawa-senyawa yang terelusi secara bersama-sama. Sebagai
contoh, detektor elektrokimia atau detektor fluoresen hanya akan mendeteksi senyawa tertentu,
sementara senyawa lainnya tidak terdeteksi. Penggunaan detektor UV pada panjang
gelombang yang spesifik juga merupakan cara yang efektif untuk melakukan pengukuran
selektifitas (Gandjar dan Rohman, 2009).
4. Linearitas dan Rentang Linearitas
Adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon yang secara langsung
atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik, proporsional terhadap konsentrasi
analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit
yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas
yang dapat diterima (Harmita, 2004).
Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi yang
dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam
sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Perlakuan matematik dalam pengujian linearitas
adalah melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antarahasil analisis
terhadap konsentrasi analit. Dalam beberapa kasus, untuk memperoleh hubungan
proporsional antara hasil pengukuran dengan konsentrasi analit, data yang diperoleh diolah
melalui transformasi matematik dulu sebelum dibuat analisis regresinya (Harmita, 2004).
Dalam praktek, digunakan satu seri larutan yang berbeda konsentrasinya antara 50-
150% kadar analit dalam sampel. Di dalam pustaka, sering ditemukan rentang konsentrasi
yang digunakan antara 0-200%. Jumlah sampel yang dianalisis sekurang-kurangnya delapan
buah sampel blanko. Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien
korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX. Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai
b = 0 dan r = +1 atau –1 bergantung pada arah garis. Sedangkan nilai a menunjukkan
kepekaan analisis terutama instrumen yang digunakan. Parameter lain yang harus dihitung
adalah simpangan baku residual (Sy).

(Harmita, 2004).
5. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi
Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi
yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko. Batas deteksi
merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik
dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi
kriteria cermat dan seksama (Harmita, 2004).
Parameter tersebut perlu dievaluasi agar data yang diperoleh masuk dalam kemampuan
alat tersebut untuk mendeteksi, sehingga hasil yang diperoleh mendekati harga yang
sebenarnya dan apabila diulang akan memberikan hasil yang sama Penentuan batas deteksi
suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis itu menggunakan instrumen
atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen batas tersebut ditentukan dengan
mendeteksi analit dalam sampel pada pengenceran bertingkat. Pada analisis instrumen
batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung
simpangan baku respon blangko dan formula di bawah ini dapat digunakan untuk perhitungan
(Harmita, 2004).

Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi)


k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi
Sb = simpangan baku respon analitik dari blangko
Sl = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap konsentrasi =
slope (b pada persamaan garis y = a+bx) (Harmita, 2004).
Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis regresi linier
dari kurva kalibrasi. Nilai pengukuran akan sama dengan nilai b pada persamaan garis linier y
= a + bx, sedangkan simpangan baku blanko sama dengan simpangan baku residual (Sy/x.)
6. Selektivitas (Spesifisitas)
Selektivitas atau spesifisitas merupakan kemampuan suatu metode yang hanya
mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang
mungkin ada dalam matriks sampel. Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat
penyimpanan metode terhadap sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa
cemaran, produk degradasi, senyawa sejenis, dan senyawa asing lain, kemudiandibandingkan
dengan hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan yang ditambahkan tersebut
(Harmita, 2004).
Selektivitas pada metode kromatografi ditnjukkan melalui nilai resolusi (Harmita,
2004). Dalam teknik pemisahan, daya pisah (resolusi) antara analit yang dituju dengan
pengganggu lainnya harus >1,5 (Swartz and Krull, 1997).
7. Kisaran (Range)
Menurut ICH, kisaran suatu prosedur analisis adalah interval antara konsentrasi
(jumlah) analit pada level atas dan pada level bawah dalam suatu sampel, yang mana dapat
ditunjukkan bahwa prosedur analisis mempunyai level akurasi, presisi, dan liniearitas yang
sesuai.
BAB III
ALAT DAN BAHAN
A. Bahan
1. Kapsul Kaempferia galangan L

2. Standar Etil para metoksi sinamat (EPMS)

B. Alat
1. TLC

2. Lempeng KLT ukuran 20 cm x 10 cm

3. Labu ukur 5 mL

4. Labu ukur 10 mL

5. Pipet mikro (soccorex)

6. Cawan timbang

7. Vial tertutup (bilas dengan etanol lalu keringkan sebentar dalam oven sebelum
dipakai)

8. Gelas ukur 100 ml

9. Batang pengaduk

PROSEDUR KERJA

1) Penetapan Kadar EPMS dalam Kapsul


A. Pembuatan Eluen
Eluen yang digunakan adalah n-heksana: etil asetat: asam formiat (90:10:1). Buatlah eluen
sebanyak 101 mL. Masukkan ke dalam chamber. Homogenkan di dalam chamber dengan
cara digoyang-goyang. Apabila volume eluen terlalu banyak, maka dikurangi. Jangan
sampai totolan awal pada lempeng KLT tercelup di dalam eluen.
B. Pembuatan Larutan Baku Induk
Ditimbang standar EPMS dengan seksama sebanyak 50.0 mg, ditambah dengan 5 mL
etanol 96%, diultrasonik selama 5 menit kemudian ditambah dengan etanol 96% sampai
tepat 10,0 ml. Diperoleh larutan induk 1 dengan konsentrasi 5000 ppm (LI 1).
Dipipet 4.0 ml larutan induk 1, dimasukkan ke dalam labu ukur 10.0 ml. Ditambah etanol
96 % sampai garis tanda, kocok homogen. Diperoleh larutan induk 2 dengan konsentrasi
2000 ppm (LI 2).
C. Pembuatan Larutan Baku Kerja
Larutan Baku induk atau baku
Konsentrasi Jumlah yang digunakan
Baku kerja yang diambil

Baku 1 200 ppm 5.0 mL Baku 3 Ditambah etanol ad 10.0 mL

Baku 2 300 ppm 5.0 mL Baku 5 Ditambah etanol ad 10.0 mL

Baku 3 400 ppm 5.0 mL Baku 6 Ditambah etanol ad 10.0 mL

Baku 4 500 ppm 5.0 mL LI 1 Ditambah etanol ad 50.0 mL

Baku 5 600 ppm 3.0 mL LI 2 Ditambah etanol ad 10.0 mL

Baku 6 800 ppm 4.0 mL LI 2 Ditambah etanol ad 10.0 mL

D. Preparasi Sampel (sediaan kapsul ekstrak kecur)


 Sampel untuk penetapan kadar sampel
1). Diambil secara acak 3 buah kapsul sediaan kapsul ekstrak kencur
2). Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian masing-masing
dimasukkan ke dalam labu ukur ukuran 10,0 mL.
3). Masing-masing ditambah pelarut masing-masing sebanyak 5 ml, diultrasonik
selama 5 menit, ditambah etanol 96% sampai 10,0 ml, diultrasonik selama 10
menit. Kemudian, disaring filtrate ditampung. (beri identitas sampel)
4). Hasil no.3 dipipet sebanyak 1,0 mL, dimasukkan ke dalam vial bersih dan
kering.
5). Hasil no. 4 ditambah etanol 96% sebanyak 2,0 mL, diultrasonik selama 5
menit.
 Sampel untuk Penentuan Recovery
1). Diambil secara acak 3 buah kapsul sediaan kapsul ekstrak kencur
2). Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian masing-masing
dimasukkan ke dalam labu ukur ukuran 10,0 mL.
3). Masing-masing ditambah pelarut masing-masing sebanyak 5 ml, diultrasonik
selama 5 menit
4). Perlakuan no.3 ditambah standard EPMS 500 ppm sebanyak 1,0 mL.
5). Ditambah etanol 96% sampai 10,0 mL, diultrasonik selama 10 menit. Kemudian
disaring, filtrak ditampung. (beri identitas sampel)
6). Hasil no.3 dipipet sebanyak 1,0 mL, dimasukkan ke dalam vial bersih dan
kering.
7). Hasil no. 4 ditambah etanol 96% sebanyak 3,0 mL, diultrasonik selama 5 menit.
 Penotolan sampel dan Standar pada Plat KLT
Ditotolkan sampel dan sampel untuk recovery sebanyak 2 𝜇L, sedangkan standar
EPMS sebanyak 2 𝜇L pada plat KLT

E. Cara Kerja Analisis dengan Thin Layer Chromatography (TLC) Scaner


 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Plat KLT yang sudah discan pada panjang gelombang 254 dan 365 nm,
kemudian discan panjang gelombang 200-400 nm. Dari sini dapat diketahui pada
panjang gelombang berapa EPMS memberikan absorban maksimum. Panjang
gelombang maksimum tersebut yang akan digunakan untuk pengukuran.
 Penentuan Linieritas
Linieritas ditentukan dari larutan standar EPMS pada lempeng KLT,
kemudian dianalisis dengan KLT- densitometer pada panjang gelombang
maksimum. dihitung berapa regresi linier antara kadar dan luas area noda.
 Penentuan Presisi
Untuk menghitung presisi, ditotolkan sampel masing-masing 2 𝜇Ldan
larutan standar EPMS masing-masing 2 𝜇L pada plat KLT. Plat ini kemudian
dieluasi dengan fase gerak dan dianalisis menggunakan KLT densitometer pada
panjang gelombang maksimum. Sehingga dapat dihitung berapa standar deviasi
(SD) dan koevisien variasinya (KV).
 Penentuan Akurasi
Untuk menentukan persen recovery, ditotolkan sampel recovery masing-
masing 2 𝜇L (lihat preparasi sampel untuk recovery) dan larutan standar EPMS
masing-masing 2 𝜇L pada plat KLT. Plat ini kemudian dieluasi dengan fase gerak
dan dianalisis menggunakan KLT-densitometer pada panjang gelombang
maksimum.
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐶𝑡
% 𝑅𝑒𝑐𝑜𝑣𝑒𝑟𝑦 = = × 100%
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝐶𝑝 + 𝐶𝑠𝑡
Dimana :
Ct = Kadar EPMS yang diperoleh

Cp = Kadar EPMS dalam sampel

Cst = Kadar standar EPMS yang ditambahkan

Hasil yang diperoleh kemudian dihitung standar deviasi (SD) dan koevisien
variasinya (KV).
SKEMA KERJA

 Pembuatan larutan baku induk


 Pembuatan larutan baku kerja

 Pembuatan sampel untuk penetapan kadar sampel


 Pembuatan sampel untuk penentuan recovery

 Penotolan sampel dan standart pada plat KLT


PERHITUNGAN

 Perhitungan konsentrasi Baku Induk

250,0 mg
BI I = 𝑥 1000 𝑚𝑙 = 5000 ppm
50 ml

BI 2 = V1 𝑥 NI = V2 𝑥 N2
= 4.0 ml 𝑥 5000 ppm = 10.0 ml 𝑥 N2
N2 = 2000 ppm

 Perhitungan Konsentrasi Naku Kerja


BK 1 = V 1 𝑥 N 1 = V 2 𝑥 N 2
= 5.0 ml 𝑥 400 ppm = 10.0 ml 𝑥 N 2
N 2 = 200 ppm
BK 2 = V 1 𝑥 N 1 = V 2 𝑥 N 2
= 5.0 ml 𝑥 600 ppm = 10.0 ml 𝑥 N 2
N 2 = 300 ppm
BK 3 = V 1 𝑥 N 1 = V 2 𝑥 N 2
= 5.0 ml 𝑥 800 ppm = 10.0 ml 𝑥 N 2
N 2 = 400 ppm
BK 4 = V 1 𝑥 N 1 = V 2 𝑥 N 2
= 5.0 ml 𝑥 5000 ppm = 10.0 ml 𝑥 N 2
N 2 = 500 ppm
BK 5 = V 1 𝑥 N 1 = V 2 𝑥 N 2
= 3.0 ml 𝑥 2000 ppm = 10.0 ml 𝑥 N 2
N 2 = 600 ppm
BK 6 = V 1 𝑥 N 1 = V 2 𝑥 N 2
= 4.0 ml 𝑥 2000 ppm = 10.0 ml 𝑥 N 2
N 2 = 800 ppm
 Penimbangan sampel untuk penetapan kadar EPMS dalam ekstrak kering

Penimbangan Sampel

d. Penimbangan Sampel 1
Botol timbang + isi = 12.8393 g
Botol timbang kosong = 12.7470 g
Berat zat = 0,0923 g (92.3mg)
e. Penimbangan Sampel 2
Botol timbang + isi = 12.8485 g
Botol timbang kosong = 12.7494 g
Berat zat = 0,0991 g (99.1mg)
f. Penimbangan Sampel 3
Botol timbang + isi = 12,8382 g
Botol timbang kosong = 12,7466 g
Berat zat = 0,0916 g (91.6 mg)

Penimbangan Recovery

d. Penimbangan Recovery 1
Botol timbang + isi = 14,4835 g
Botol timbang kosong = 14,3978 g
Berat zat = 0,0957 g (95.7mg)
e. Penimbangan Recovery 2
Botol timbang + isi = 14,4748 g
Botol timbang kosong = 14,3879 g
Berat zat = 0,0908 g (90.8mg)
f. Penimbangan Recovery 3
Botol timbang + isi = 14.4825 g
Botol timbang kosong = 12,3878 g
Berat zat = 0,0947 g (94.7mg)
 Luas Area

BK 1 3196.6 AU Sampel 1 7535.8 AU

BK 2 4828.6 AU Sampel 2 7734.2 AU

BK 3 5884.0 AU Sampel 3 7519.9 AU

BK 4 6705.9 AU Recovery 1 6760.6 AU

BK 5 7628.3 AU Recovery 2 6758.6 AU

BK 6 8710.9 AU Recovery 3 6321.9 AU

 Persamaan Regresi Kadar Baku Kerja (x) dan Luas Area (y)
a. Regresi

Baku Kerja Konsentrasi (x) Luas Area (y)

1 200 ppm 3196.6 AU

2 300 ppm 4828.6 AU

3 400 ppm 5884.0 AU

4 500 ppm 6705.9 AU

5 600 ppm 7628.3 AU

6 800 ppm 8710.9 AU

A = 1969.43
B = 8.9778
r = 0.9798
persamaan regresi
y = bx + a
= 8.9778x + 1969.43

b. Kadar Sampel dan Recovery


Sampel 1 y = bx + a

7535.8 AU = 8.9778x + 1969.43


X = 620.02 ppm
Sampel 2 y = bx + a
7734.2 AU = 8.9778x + 1969.43
X = 642.12 ppm
Sampel 3 y = bx + a
7519.9 AU = 8.9778x + 1969.43
X = 61825 ppm
Recovery 1 y = bx + a
6760.6 AU = 8.9778x + 1969.43
X = 533.67 ppm
Recovery 2 y = bx + a
6758.6 AU = 8.9778x + 1969.43
X = 533.45 ppm
Recovery 3 y = bx + a
6321.9 AU = 8.9778x + 1969.43
X = 484.81 ppm
 Konsentrasi sampel dan recoveri
Larutan Luas area Konsentrasi
(AU) (ppm)

Sampel 1 7535.8 620.02

Sampel 2 7734.2 642.12

Sampel 3 7519.9 618.25

Recovery 1 6760.6 533.67


Recovery 2 6758.6 533.45

Recovery 3 6321.9 484.81

 Perhitungan kadar sebelum pengenceran larutan sampel dan recovery


3ml
Sampel 1 = x 620.02 ppm = 1860.06 ppm
1ml
3ml
Sampel 2 = x 642.12 ppm = 1926.36 ppm
1ml
3ml
Sampel 3 = x 618.25 ppm = 1854.75 ppm
1ml
4ml
Recovery 1 = x 533.67 ppm = 2134.68 ppm
1ml
4ml
Recovery 2 = x 533.45 ppm = 2133.80 ppm
1ml
4ml
Recovery 3 = x 484.81 ppm = 1939.24 ppm
1ml

 Perhitungan kadar EPMS dalam 10 mL


1860.06 ppm
Sampel 1 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 18.6006 mg
1000 ml
1926.36 ppm
Sampel 2 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 19.2636 mg
1000 ml
1854.75 ppm
Sampel 3 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 18.5475 mg
1000 ml
2134.68 ppm
Recovery 1 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 21.3468 mg
1000 ml
2133.80 ppm
Recovery 2 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 21.3380 mg
1000 ml
1939.24 ppm
Recovery 3 = 𝑥 10 𝑚𝑙 = 19.3924 mg
1000 ml

 Perhitungan % kadar EPMS dalam kapsul


 Sampel kapsul 1
18.6006 mg
= 𝑥 100 % = 20.15 %
92.30 mg

 Sampel kapsul 2
19.2636 mg
= 𝑥 100 % = 19.44 %
99.10 mg

 Sampel kapsul 3
18.5475 mg
= 𝑥 100 % = 20.25 %
91.60 mg
20.15 %+19.44 %+20.25%
 Kadar rata-rata EPMS dalam kapsul = = 19.95%
3

 Standar deviasi (SD) = 0.44


SD 0.44
 Koefisien variasi = 𝑥 100 % = 19.95 𝑥 100 % = 2.21 %
X

 Penetapan % recoveri
 Perhitungan % recovery
kadar diperoleh (Ct)
(𝐸𝑃𝑀𝑆 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑘𝑎𝑝𝑠𝑢𝑙 (𝐶𝑝)+ 𝐸𝑃𝑀𝑆 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛(𝐶𝑠𝑡))
𝑥 100%
21.3468 mg
Recovery 1 = (15 mg + 0.496 mg) 𝑥 100% = 137.76 %
16.0035 mg
Recovery 2 = (15 mg + 0.496 mg) 𝑥 100% = 137.67 %
14.5443 mg
Recovery 3 = ( 15 mg + 0.496 mg) 𝑥 100% = 125.14 %

137.76%+137.67%+125.14%
 Kadar rata-rata % recovery = = 132.20 %
3

 SD = 6.44
SD 6.44
 KV = 𝑥 100 % = 132.20 𝑥 100 % = 4.87 %
X

 Perhitungan % kesalahan atau penyimpangan kadar EPMS dalam kapsul


18.6006𝑚𝑔−21.00𝑚𝑔
Sampel 1 = 𝑥 100 = 11.43%
21.00𝑚𝑔
19.2636𝑚𝑔−21.00𝑚𝑔
Sampel 2 = 𝑥 100 = 8.27%
21.00𝑚𝑔
18.5475𝑚𝑔−21.00𝑚𝑔
Sampel 3 = 𝑥 100 = 11.68%
21.00𝑚𝑔
21.3468𝑚𝑔− 21.00𝑚𝑔
Recovery 1 = 𝑥 100 = 1.65%
21.00𝑚𝑔
21.3380𝑚𝑔−21.00𝑚𝑔
Recovery 2 = 𝑥 100 = 1.61%
21.00𝑚𝑔
19.3924𝑚𝑔−21.00𝑚𝑔
Recovery 3 = 𝑥 100 = 7.65%
21.00𝑚𝑔

Rata-rata % penyimpangan kadar sampel = 10.46%


Rata-rata % penyimpangan kadar recovery = 3.64%
Rata-rata total = 7.05%
Kadar awal EPMS = 7.39% 3.44x ~3.5x (6mg X
3.5x = 21mg)
Kadar setelah direvisi EPMS = 25.42%
BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan kadar EPMS dalam kapsul ekstrak
rimpang kamferia galanga L dan dapat mengetahui apakah kapsul yang telah dibuat telah
memenuhi keseragaman bobot dan kadar atau tidak. Penentuan kadar EPMS dalam kapsul ini
menggunakan metode KLT Densitometri yang menggunakan instrumen TLC Scanner.
Pada penentuan kadar kali ini digunakan larutan baku kerja dan sampel serta sampel
recovery yang di totolkan pda plat KLT sesuai dengan urutan pola kemudian dieluasi. Setelah
dieluasi, dilakukan pembacaan luas area noda menggunakan densitometer. Hasil pembacaan
tersebut dilakukan perhitungan untuk menentukan kurva baku sehingga diperoleh persamaan
y=8.9778x+1969.43 dengan koefisien korelasi r=0.9798.
Kadar rata-rata EPMS dalam kapsul yang kami peroleh 19.95 %, menurut teoritis kadar
EPMS 25%-35%. Hasil kelompok kami tidak memenuhi persyaratan hal ini dapat disebabkan
karena pada saat melakukan pengenceran terdapat kesalahan sehingga berpengaruh pada tahap
penentuan kadar EPMS. Untuk menentukan presisi diperoleh dari data EPMS dalam sampel
dengan nilai standart deviasi yakni 0.44, sedangkan standart penentuan presisi dalam teori
yakni ≤2%. Adapun nilai koefisien variasi yang di dapat 2.21%, dan standart koefien variasi
menurut FI yakni ≤5%. Hal ini menunjukkan bahwa data homogen, sehingga kualitas data
memiliki presisi yang baik.
Sedangkan untuk rata-rata % recovery adalah sebesar 132.20 %, sedangan % recovery
menurut FI yakni 95%-105% dan BPOM 98%-102%. Hal ini menunjukkan tingkat keakuratan
tidak memenuhi persyaratan yang mungkin dikarenakan kurangnya keakuratan dalam
preparasi larutan pada saat memipet, melarutkan atau saat pengenceran. Untuk nilai standart
deviasi diperoleh hasil 6.44, sedangkan standart penentuan presisi dalam teori yakni ≤2%.
Adapun nilai koefisien variasi yang di dapat 4.87%, dan standart koefien variasi menurut FI
yakni ≤5%. Hal ini menunjukkan bahwa data tidak homogen, namun kualitas data memiliki
presisi yang baik.
Kapsul yang dibuat masih belum memenuhi persyaratan. hal ini dapat dilihat dari %
penyimpangan yang telah dilakukan dan memiliki nilai 11.43% ; 8.27% ; 11.68%. Hal ini
disebabkan oleh homogenitas ekstark dalam serbuk yang tidak merata sehingga homogenitas
tersebut tidak dapat menunjukkan kadar yg tinggi untuk mencapai kadar EPMS yang telah
direncanakan.
Pembuatan kapsul kali ini merujuk dari segala praktikum sebelumnya terkait sampel
yang telah dibuat sebelumnya. Homogenitas kadar EPMS dalam serbuk sangat rendah yang
dipengaruhi sejak pembuatan ekstrak kering. Bahan pembantu cab- o sil yang seharusnya dapat
membantu mengeringkan dan juga menghomogenkan ekstrak ternyata tidak mampu
menghomogenkan ekstrak secara sempurna dikarenakan penghomogenan/penggerusan kurang
tepat dan dilakukan pada kondisi ekstrak masih lembab sehingga terdapat gumpalan-gumpalan
yang berasal dari kadar ekstrak yang terkandung.Proses perlakuan pada saat pengenceran juga
berpengaruh terhadap homogenitas EPMS karena berpengaruh terhadap kadar yang terlarut
dan terhomogenkan.
BAB VI
KESIMPULAN

6𝑚𝑔
 Kadar tata-rata EPMS dalam kapsul = 19.95 % (100𝑚𝑔 𝑥100 = 6%) , melebihi dari

kadar yang seharusnya.


 Rata-rata % recovery = 132.20 % (persyaratan 98-102%) , akurasi yang kurang bagus.
 Nilai SD dan KV sampel :
- SD = 0.44 (persyaratan ≤2%), masuk dalam persyaratan
- KV = 2.20 % (persyaratan ≤5%), masuk dalam persyaratan
 Nilai SD dan KV recovery :
- SD = 6.44
- KV = 4.87 %
 Rata-rata % penyimpangan kadar sampel = 10.46%
Rata-rata % penyimpangan kadar recovery = 3.64%
Kadar EPMS dalam kapsul BELUM memenuhi persyaratan yang telah ditentukan
syarat 95%-105% = tidak memenuhi syarat
DAFTAR PUSTAKA

Anief, 2000, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, Cetakan ke sembilan, 169, 210-211, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.

Anief M., 2007, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta

Ditjen POM, Depkes RI , 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-11,16.

Gandjar, I. G. & Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, 323-346, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.

Gritter , R.J, Bobbic, J.N., dan Schwarting, A.E., 1991, Pengantar Kromatografi , diterjemahkan
oleh Kosasih Padmawinata, Edisi II, hal 107, ITB Press Bandung.

Harmita. 2004. Petunjuk pelaksanaan validasi metode dan cara perhitungannya. Majalah Ilmu
Kefarmasian 1(3):117-135.

Lisdawati , Sumali, W., Cesilia, S., 2007, Isolasi dan Elusidasi Struktur Senyawa Lignan dan
Asam Lemak dari Ekstrak Daging Buah Phaleria Macrocarp”. Buletin Penelitian
Kesehatan, 35(3): 115 – 124.

Perry, R.H. and Green, D.W., 1984, Perry’s Chemical Engineer’s Handbook, 6 the edition,
McGraw Hill Book Company, Singapore

Permenkes RI No. 760/Menkes/Per/IX/1992 tentang Fitofarmaka.

Purnomo, A.D., 2008, Analisis Makroskopik, Mikroskopik, dan Penentuan Senyawa Identitas dari
Simplisia Herba Purwoceng, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.

Rohman, A., 2009, Kromatografi untuk Analisis Obat, 11-15, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Soeratri W., T. Erawati, D. Rahmatika, N. Rosita. 2014. Penentuan Dosis Asam P -
Metoksisinamat(APMS) Sebagai Antiinflamasi Topikal dan Studi Penetrasi APMS
Melalui Kulit TikusDengan dan Tanpa Stratum Korneum. Jurnal Farmasi dan Ilmu
Kefarmasian Indonesia.Vol. 1. No. 1.
Sudjadi, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 27;220-255;353-362.
Syamsuni, H. A. (2006). Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
LAMPIRAN

Penimbangan Sampel 1 Penimbangan Sampel 2

Penimbangan Sampel 3

Penimbangan Recovery 1 Penimbangan Recovery 2


Penimbangan Recovery 3 Sampel dan recovery
dilakukan ultrasonik

Preparasi sampel dan recovery Sampel dan recovery disaring dan


filtrat ditampung
Hasil pengenceran sampel dan Ditotolkan sesuai urutan pada
recovery plat KLT dan dieluasi

Plat dimasukkan ke Setelah dimasukkan


chamber ke dalam chamber

Hasil data KLT yang telah di


densitometri