Anda di halaman 1dari 26

MODEL PENGEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF NUSANTARA BESERTA TOKOH-TOKOH NYA

A. KEHIDUPAN SPIRITUAL DI INDONESIA SEBELUM DATANGNYA ISLAM Sebagian besar penduduk asli Indonesia sebelum mendapatkan pengaruh dari agama-agama pendatang seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam, yaitu melakukan pemujaan terhadap pandangan yang berdasarkan tentang fenomena alam. Para pengikut agama yang dianut disebut Animisme, mempercayai adanya ruh Tuhan yang mengalir dalam setiap makhluk. Kekuatan tubuh diyakini sebanding dengan kapasitas ruh Tuhan yang mengalir didalamnya. Sehingga diantara mereka ada yang memuja dan leluhur atas dasar keyakinan bahwa ruh leluhur lebih kuat daripada ruh masyarakat sendiri.selain itu, adanya kepercayaan Dinamisme, yaitu menyembah binatang buas, disamping karena rasa takut, juga atas kepercayaan bahwa rasa takut ini merupakan indikasi adanya ruh Tuhan yang membuat tubuh binatang-binatang tersebut menakutkan. Agama yang pertama yang dianut oleh orang-orang Indonesia-Melayu. Agama yang selanjutnya dianut penduduk Indonesia adalah Hindu- Budha yang dibawa oleh para pedagang India. Hal ini, ditandai dengan berdirinya kerajaan Budha terbesar di Asia Tenggara, yaitu kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan yang wilayah kekuasaanya meliputi; Jawa, Sumatra, dan Melayu, tempat terdapatnya Universitas Nalanda, yang memiliki reputasi dunia dalam Budhissme. 1 Sejak saat itu agama Hindu-Budha mengalami perkembangan pesat pada abad pertama dan kedua Hijrah, yang ditandai dengan kemunculan kerajaan-kerajaan yang memiliki keterkaitan dengan kedua agama tersebut. Misalnya kerajaan Majapahit yang berdiri atas inspirasi menggabungkan agama Hindu dan Budha (Sinkretis). Kedatangan orang-orang India yang

membawa agama Hindu-Budha memperkenalkan aksara Sansekerta yang kemuduan menjadi aksara Jawa kuno. Dalam sejarahnya, agama asli Indonesia mengalami pasang surut. Berbagai tantangan yang dihadapi menambah sulit baginya untuk bertahan hidup, seperti persaingan terhadap agama-agama pendatang. Kelemahan menghadapi agama-agama pendatang yang lebih unggul dalam hal kesempurnaan ajaran-ajaran, baik dari segi teologi, tata aturan sosial, maupun ideologi politiknya hampir saja membuatnya punah, terutama pada masa dominasi Islam (kesultanan Demak) awal abad ke-16. Meskipun, pada masa-masa tertentu, tatkala kesultanan Islam mengalami kemunduran dan hadirnya penjajahan Belanda, yang kembali mendapatkan perlindungan dari pemerintahan lokal. 2

B. MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA Sebelum Islam masuk ke Indonesia, hubungan dagang antara Sumatra, Cina, India, Persia, serta negeri Arab sudah terjalin dengan pesat. Hal ini dapat diketahui dengan adanya bandar-bandar laut yang terkenal, misalnya Sanfosti di Tiongkok, Bandar Muara Sabak di Sriwijaya (Jambi). Kontak perdangangan tersebut secara tidak langsung membawa unsur-unsur kebudayaan masing-masing pihak. Agama islam yang masuk ke Indonesia didasarkan atas dua pendapat menurut Alwi Shihab , yaitu pandangan islam yang masuk ke Indonesia pada abad ke tujuh Hijrah, ditandai dengan dakwah islam pada saat Dinasti Abbasiyah, yang dibawa oleh Abdullah ibn Muhammbad ibn ‘Abd Qahir Al- ‘Abbasi wafat 799 H/1407M. ke nusantara. Selanjutnya, pandangan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah, didasarkan oleh argumentasi catatan-catatan resmi Cina periode Dinasti Tang 618 M menegaskan bahwa islam sudah masuk

wilayah Timur jauh, yaitu Cina dan sekitarnya, termasuk kepulauan Indonesia. Jurnal Cina mengisyaratkan adanya pemukiman Arab di Cina yang penduduknya diizinkan oleh kaisar untuk menikmati kebebasan beragama. Pengenalan dini kaum Arab terhadap kepulauan Indonesia setaraf dengan data yang mereka ketahui mengenai Cina bahkan lebih luas. Pedagang- pedagang Muslim memasuki Cina karena kedatangan orang-orang Arab membawa islam ke Cina melalui jalur laut. Cina sendiri mempertimbangkan hubungan perdagangan dengan Indonesia dikarenakan letak geografis Indonesia sebagai perdagangan laut internasional. 3 Menurut Hamka dan beberapa tokoh lainnya, mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia langsung dari tanah Arab dengan membawa Mazhab Ahli Sunnah Wal-Jama’ah khususnya Mazhab Syafi’iyah. Hal ini didasarkan atas perlawatan Ibnu Bathuthah yang menemukan masyarakat Islam di Aceh adalah beraliran Syafi’iyah, pada abad ke delapan Hijrah. 4 Salah satu peninggalan sejarah yang menjadi simbol kesinambungan pengaruh agama asli, yaitu Candi Borobudur, mengindikasikan bahwa penentuan letak bangunannya didasarkan pada kewajiban dalam sistem kepercayaaan animisme untuk membangun tempat ibadah di dataran tinggi. Sedangkan pengaruhnya seni arsitekturnya dalam kehidupan spiritual Islam, misalnya bentuk bangunan masjid lama pada masjid Agung Demak, Cirebon, Banten, dibangun berdasarkan model tradisional Indonesia.

C. TASAWUF DI INDONESIA DAN TOKOH-TOKOHNYA Penyebaran Islam yang berkembang secara signifikan di negara-negara Asia Tenggara berkat peranan dan kontribusi tokoh-tokoh tasawuf. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat kaum sufi yang lebih kompromis dan penuh kasih sayang. Islam pada hakekatnya merupakan agama yang terbuka dan tidak mempersoalkan perbedaaan etnis, ras, dan bahasa. Tasawuf islam telah

3 Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia (Jakarta: MMU, 2009), hlm, 10. 4 Usman Said, dkk, Pengantar Ilmu Tasawuf (Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama, 1982), hlm. 180-181.

membuka wawasan lebih luas bagi keterbukaan yang meliputi agama-agama lain.

Tasawuf islam memasuki Indonesia sekitar abad kedua Hijrah sampai abad ke delapan Hjirah yang mana tasawuf ini berkembang secara menyeluruh di Indonesia. Beberapa alasan yang melatarbelakangi perkembangan tersebut diantarnaya:

1. Hasan al-Basri (w. 110 H), Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185 H), Sufyan Tsauri (w. 121 H) ketiganya dari Basrah. Ibrahim bin Adham (w. 161 H) dan

Syaqiq al-Balakhi (w. 194H) keduanya berasal dari Persia. Mereka inilah yang dianggap tokoh-tokoh tasawuf pada akhir abad pertama sampai abad kedua Hijrah. Sedangkan pengaruh tasawuf di Persia lebih dahulu datang ke Indonesia oleh Al-Ghazali (w. 505 H). Terdapat pula, Syekh al-Yafi’i ahli tasawuf di Mekkah, merupakan murid dari Syekh Mas’ud bid Abdullah al-Jawy (bangsa Jawa), yang mana Syeh A-Jawi hidup pada zaman kejayaaan Kerajaan Samudra Pasai. 5

2. Paham tasawuf sebagai bentuk baru dari hidup zahid, yaitu menjauhkan diri dari kemegahan hidup duniawi, yang dibawa oleh saudagar-saudagar muslim yang kemudian menetap di Indonesia.

3. Paham-paham thariqat, yang juga berkembang di Indonesia seperti paham Qadariyah oleh Abdul Qadir al-Jailani (w. 1415 H), Naqsabandiyah oleh Bahauddin (w. 1388 M), dan Syattariyah oleh Abdullah Syattar (w. 1415 M), mereka ini berada pada abad ke lima sampai ke tujuh Hijrah.

Pada perkembangannya tasawuf di Indonesia juga mendapat pengaruh dari para tokoh yang menyebarkan ajaran tasawuf dari masa ke masa, terdapat dua gologna tasawuf yang berkembang yaitu tasawuf Sunni (salafi) dan tasawuf Falsafi, metode pendekatan pada tasawuf sunni dan salafi lebih

5 Hamka, Tasawuf Pekembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1980), hlm. 218.

menonjol kepada segi praktis (يلمعلا ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (يرطنلا ).

D. PENGEMBANGAN TASAWUF DI NUSANTARA

Perkembangan-perkembangan tasawuf di Indonesia erat kaitanya dengan budaya-budaya bangsa Indonesia yang bersifat mistik , tasawuf dapat berkembang secara cepat dalam persebarannya. Tasawuf merupakan bagian dari metode penyebaran ajaran Islam sangat mempunyai kemiripan dalam metode pendekatan-pendekatan agama Hindu-Budha yang merupakan sistem keagamaan masyarakat Indonesia sebelum Islam. Kemiripan dalam metode pendekatan dengan latihan kerohanian, inilah yang kemudian mempermudah berkembangnya tasawuf di Indonesia. Tasawuf merupakan alat dari salah satu persebaran islam di Indonesia. tasawuf yang dahulu berkembang di Gujarat, merupakan sinkronisasi keagamaan di Indonesia, yaitu negeri Hindustan yang hal ini tidak jauh berbeda dengan sosiologi agama Hindu di Indonesia.

Upaya Pengembangan Tasawuf Mengingat adanya tuntutan-tuntutan pengembangan, tasawuf sebagai suatu bangunan ilmu seharusnya mengalami perubahan, dinamika maupun pengembangan-pengembangan. Para pemikir Islam khususnya ahli tasawuf Indonesia telah berupaya merespon desakan tersebut dengan menghadirkan tasawuf yang khas. Dari hasil penelusuran, penulis menemukan delapan macam tawaran konsep tasawuf, yaitu tasawuf sosial, tasawuf positif, tasawuf perkotaan, tasawuf falsafi, tasawuf irfani, tasawuf kontekstual, tasawuf Jawa dan tasawuf Muhammadiyah.

1) Tasawuf Sosial Tasawuf merupakan kehidupan yang selalu berusaha mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui peningkatan dan penyempurnaan ibadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Kehidupan ini melahirkan kesalehan individual, tetapi kurang bersikap

sosial. Akibatnya tasawuf dipandang sebagai suatu kehidupan yang memiliki kepedulian kepada Allah, tetapi kurang memiliki kepedulian kepada sesama manusia. Zuhud sebagai contoh yang selama ini selalu dianggap sebagai sikap meninggalkan dunia padahal seorang zahid (pelaku zuhud) juga memiliki keluarga yang membutuhkan dunia (sandang, pangan, papan dan pembiayaan pendidikan). Apalagi ketika seseorang sufi telah mencapai tingkatan fana’ (lenyap) pada tingkatan fana’‘an alnafs (lenyap dari dirinya sendiri) maka tidak ada yang menjadi perhatian termasuk dirinya sendiri, kecuali hanya Allah semata. Model penampilan tasawuf di masa sekarang ini tidak harus menjauhi kekuasaan, tetapi justru masuk di tengah-tengah pergulatan politik dan kekuasaan. Sebab menjauhi kekuasaan menunjukkan ketidakberdayaan dan kelemahan. 6 Dengan demikian, tasawuf sosial bukan tasawuf yang isolatif, tetapi aktif di tengah pembangunan masyarakat, bangsa dan negara sebagai tuntutan tanggungjawab sosial tasawuf pada awal abad XXI ini. Tasawuf tidak lagi uzlah dari keramaian, sebaliknya, harus aktif mengarungi kehidupan secara total, baik dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Karena itu, peran para sufi seharusnya lebih empirik, pragmatis dan fungsional dalam menyikapi dan memandang kehidupan ini secara nyata. 7 Karena itu, sufi mesti bergumul dengan masyarakat, bahkan dengan masyarakat yang memiliki berbagai latar belakang agama, budaya, suku, bahasa dan sebagainya, sebagai suatu kondisi yang tidak terhindarkan dalam kehidupan modern sekarang ini. Mengenai tuntutan sikap pluralis ini, tasawuf memandang bahwa keanekaragaman agama di dunia ini hanya sekadar bentuknya, sedangkan hakekatnya sama, karena semua agama mempunyai sumber yang sama dan bertujuan untuk menyembah kepada Sumber segala sesuatu, Tuhan Pencipta alam

6 M. Amin Syukur, Tasawuf Sosial, Umar Natuna (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 24

7 Ibid., h. 28.

semesta. 8 Memang rata-rata hubungan antarumat beragama di kalangan sufi itu jauh lebih cair dan elegan daripada faqih. Tokoh-tokoh sufi seperti al-Hallaj, Rumi maupun Ibnu Arabi memiliki hubungan yang sangat akrab dengan pemeluk agama lainnya. Murid-murid Rumi berasal dari berbagai pemeluk agama. Ketiga sufi memiliki konsep kesatuan agama (wadat al- adyan). Adapun materi pembahasannya meliputi pendahuluan, tasawuf dan tantangan keindonesiaan, tasawuf dan pembangunan kesadaran hidup sosial yang islami, resistensi Islam dalam masyarakat modern, serta alQur’an dan pembinaan sumber insani. 9

2) Positif Tasawuf Selama ini, penilaian yang bernada mendiskreditkan tasawuf masih berlangsung. Dawami melaporkan bahwa tasawuf mendapat kesan “negatif ” bagi kalangan tertentu dari umat Islam. 10 Sebagaimana dipaparkan di depan, tasawuf menghadapi berbagai tantangan, khususnya tantangan-tantangan internal dari kalangan tokoh Islam modernis maupun reformis. Mereka memvonis tasawuf sebagai perilaku yang pasif, fatalis, mengabaikan dunia, bahkan biang kerok kemunduran umat Islam di dunia ini dalam waktu yang relatif lama hingga sekarang belum terhentikan. Dari segi struktur, tasawuf yang ditawarkan Hamka berbeda dengan tasawuf tradisional. Tasawuf yang ditawarkan Hamka (‘tasawuf modern’ atau ‘tasawuf positif ’) berdasarkan pada prinsip tauhid, bukan pencarian pengalaman mukasyafah. 11 Prinsip tauhid ini yang dapat dijadikan benteng bagi pengkaji tasawuf agar tidak terjebak dalam tindakan-tindakan yang bertentangan dengan akidah. Prinsip tauhid itu membekali pengkaji tasawuf dalam menghadapi pengalaman

8 Ibid., h. 40

9 Ibid., h. 184

10 Mohammad Dawami, Tasawuf Positif dalam Pemikiran Hamka (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2000), h. 7

11 Ibid., h. 243

maupun pengakuan sufi yang aneh-aneh yang dikhawatirkan menyesatkan, termasuk ucapan-ucapan sathahat (ucapan ganjil di saat sufi menjelang kejadian ittihad maupun hulul). Pembahasan tentang bangunan pemikiran Hamka tentang tasawuf ini dirinci menjadi lima sub bab, yaitu hakikat tasawuf, fungsi tasawuf, struktur tasawuf, konsepkonsep dasar sufistik, serta tasawuf dan perkembangan agama dalam zaman modern. Adapun sub bab struktur tasawuf meliputi pembahasan konsep tentang Tuhan dan manusia serta hubungan antarkeduanya, jalan tasawuf, penghayatan tasawuf dan refleksi pekerti tasawuf. Selanjutnya, konsep-konsep dasar sufistik dipertajam lagi melalui pembahasan proses sufistik tradisional, dan proses sufistik tasawuf modern. 12 3) Tasawuf Perkotaan Adanya kecenderungan sebagian warga beberapa kota besar untuk terlibat secara intens dunia spiritual, merupakan fenomena baru yang menarik untuk dilakukan penelitian. Sebab umumnya masyarakat kota terkesan terbiasa hidup glamour dalam menghadapi hinggar-bingarnya kota yang dihiasi berbagai macam gedung megah, tempat perbelanjaan, tempat hiburan, tempat wisata dan sebagainya. Suatu studi yang dilakukan dengan mengambil tema besar tentang dunia sufi di tengah masyarakat perkotaan. Adanya kecenderungan sebagian warga beberapa kota besar untuk terlibat secara intens dunia spiritual, merupakan fenomena baru yang menarik untuk dilakukan penelitian. Sebab umumnya masyarakat kota terkesan terbiasa hidup glamour dalam menghadapi hinggar-bingarnya kota yang dihiasi berbagai macam gedung megah, tempat perbelanjaan, tempat hiburan, tempat wisata dan sebagainya.

12 Ibid., h. 157-239.

Fenomena sufisme di tengah masyarakat yang terus beradaptasi dengan nilai-nilai baru, seolah merupakan gerakan yang melawan arus transformasi. Mereka masih bertahan dengan kepercayaan- kepercayaan tradisional dan sangat kokoh mendambakan kekuatan batin. 13 Komunitas sufi perkotaan itu telah tumbuh dalam dua dasawarsa belakangan dan kini tetap bertahan. Memang sufisme telah menarik perhatian sebagian masyarakat kelas menengah terdidik untuk menggali khazanah intelektual dan filosofis tokoh-tokoh sufi terkenal dalam sejarah peradaban Islam. Kursus-kursus yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan sosial seperti LSAF dan Paramadina telah menarik minat yang cukup tinggi di kalangan kaum terdidik kelas menengah perkotaan. 14 Gejala-gejala dan bahkan kehidupan tasawuf di perkotaan yang tumbuh semakin subur ini mematahkan teori-teori dari beberapa pakar bahwa dunia semakin modern maka akan menggilas kehidupan tasawuf sehingga tasawuf akan mati dengan sendirinya. Teori itu kalaulah mendapatkan bukti pendukung secara empirik, hanyalah terjadi di Barat. Sebab teori itu dirumuskan oleh ilmuwan-ilmuwan Barat berdasarkan budaya dan pengalaman Barat. Namun Islam memiliki kecenderungan yang berbeda. Sejarah Islam mencatat bahwa ketika kehidupan masyarakat makin materialistik dan hedonistik maka reaksi dalam bentuk kehidupan tasawuf justru semakin kuat. Maka tasawuf tetap hidup bahkan semakin berkembang meskipun menghadapi kehidupan modern maupun supermodern sekalipun. Selanjutnya perlu diungkapkan hasil-hasil pengamatan para peneliti dalam buku tersebut mengenai fenomena tasawuf perkotaan,

13 Ibid., h. xi.

14 Ibid., h. 38

sebagai berikut: ternyata banyak orang Islam baik dari kalangan bawah, menengah maupun elit seperti mahasiswa, dosen dan pejabat pemerintah, yang sangat berminat mengikuti ajaran tasawuf di surau Nurul Amin Surabaya. Padahal Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang kehidupan modernitasnya cukup tinggi. 15 Ajaran tasawuf mempunyai peranan yang sangat besar bagi kaum elite di perkotaan karena dapat mengakses sesuatu untuk menyampaikan kepada atasan atau bawahannya.38 Belakangan ini orang-orang kota menoleh model keberagamaan sufi. Ini merupakan gejala baru mengawali abad ke-2. 16 ketika produk teknologi tidak memberikan kepuasan batin dan ketika materi tidak mampu membahagiakannya. Sementara itu keberagamaan model fikih dirasakan terlalu verbal. Maka mereka menempuh pendekatan diri kepada Allah melalui tasawuf. 17 “Orang kota memilih tasawuf agar mendapatkan ketenteraman hati, dengan berusaha agar tidak ada lagi hijab dalam mencintai Allah.” 18 Tasawuf kota tidak hanya dilaksanakan di masjid- masjid dan zawiyah-zawiyah, tetapi justru di hotel-hotel berbintang, kawasan-kawasan bisnis dan tempat-tempat wisata seperti kawasan.

4) Tasawuf Falsafi Di sini perlu dipaparkan contoh tasawuf falsafi melalui konsep ke-fana’-an yang tertinggi yakni apabila kesadaran tentang fana’ itu sendiri juga hilang (fana’ al-fana’) yang diungkapkan Hamzah Fansuri dan dikutip al-Attas kemudian dikutip Anshori, sebagai berikut:

Adapun fana’ itu, pada ibarat (ialah): melenyapkan segala ghayr Allah. Jika orang fana’ lagi tahu akan fana’-nya, belum ia fana’ karena fana’ itu, pada ibarat (hapus daripada) ghayr Allah. Apabila belum hapus

15 Ibid., h. 41

16 Ibid., h. 44

17 M. Afif Anshori, Tasawuf Falsafi Syaikh Hamzah Fansuri (Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2004), h. vi.

18 Ibid., h. 45

daripada ghayr Allah, belum fana’ hukumnya; apabila hapus daripada

ghayr Allah niscaya yang menyembah pun lenyapyang disembah pun

lenyap daripada rasanyayakni menjadi esa, (yaitu) tiada; lenyap sekali-

kali. 19

Pernyataan inilah yang menimbulkan reaksi keras sebab

menimbulkan kesan bahwa hamba dan Tuhan telah menyatu sehingga

tidak bisa dibedakan lagi mana yang hamba dan mana yang Tuhan. Ini

merupakan pernyataan yang sensitif sekali bagi kebanyakan ulama

termasuk Nuruddin al-Raniri sehingga banyak orang yang menghujat.

Apalagi Hamzah Fansuri menulis syairnya:

Qala Allahu Ta’ala di dalam kitab Fa’tabiru ya uli al-bab Barang siapa fana’ dari sekalian hisab Ialah washil dengan hijab Kata Ba Yazid terlalu ‘ali Pada subhani ma a’zhama sya’ni Itulah ‘asyiq sempurna fani Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi. 20

Jadi syair Hamzah Fansuri ini menimbulkan tuduhan yang makin kuat bahwa ia mengaku menyatu dengan Tuhan. Ketika ia mencapai puncak fana’ (fana’ al-fana’), ia mengucapkan subhani ma a’zhama sya’ni (Mahasuci Aku, Maha Besar Aku). Ketika ucapan Fansuri ini dipahami secara tekstual oleh mayoritas umat Islam maka menimbulkan kesimpulan sebagai ajaran sesat. Bagi orang yang mendalami tasawuf, ia memiliki metode khusus dalam memahami pernyataan itu, yaitu bahwa yang mengucapkan subhani ma a’zhama sya’ni itu adalah Allah sendiri melalui lidah Hamzah Fansuri sehingga mampu memahaminya secara positif, tidak sampai menuduhnya tersesat.

5) Tasawuf Irfani

Tasawuf dalam perkembangannya dapat dikategorikan menjadi tiga

bagian, yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf irfani dan tasawuf falsafi. 21 Tasawuf

19 Ibid., h. 186.

20 Ibid., h. 186-187

21 Dahlan Tamrin, Tasawuf Irfani Tutup Nasut Buka Lahut (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. v.

irfani ditulis lebih awal daripada tasawuf lainnya, dalam rangka memberikan wawasan dasar untuk al-salik (orang yang menempuh perjalanan spiritual menuju Allah) yang berusaha menghampiri Al-Haqq sebagai Dzat Yang Maha Suci, dapat terbimbing dengan baik seperti ketika menghampirinya melalui salat, puasa dan haji. Al-Haqq sebagai Dzat Yang Maha Suci tidak bisa dihampiri melainkan oleh orang-orang yang suci badan, tempat, kondisi, batin dan lain sebagainya. Maka dengan kehadiran buku ini, al-salik sedikit terbantu agar penghampirannya benar dan cepat. 22

al-salik ketika

akan menjalankan aktivitas-aktivitasnya. Adapun materi pembahasan buku ini meliputi: tasawuf sebagai salah satu ajaran Islam, maqamat dan ahwal, tazkiyah, dan tutup nasut singkap lahut. 23

Karena buku ini bisa dijadikan sebagai panduan bagi

Bab tasawuf sebagai salah satu ajaran Islam mengetengahkan enam macam sub bab seputar pengenalan tasawuf pada tingkat dasar (permukaan); bab maqamat meliputi al-syari’at, al-thariqat, al-haqiqat, dan al-ma’rifat. Dari keempat sub bab ini masih dirinci lagi secara lebih detail; adapun bab tutup nasut singkap lahut dijabarkan lagi ke dalam salat, puasa dan haji.

Tamrin mengutip Ronggowarsito yang dimuat dalam karya Simuh, tentang tuntunan proses wushul kepada al-Haqq (Tuhan) yang terdapat pada kandungan makna suara (simbol) dalam seni gendingan Jawa yakni: nang, ning, nung, jur, lan gung, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

a. Nang (tenang), maksudnya situasi dan kondisi di waktu salat haruslah tenang, tidak gaduh, rasa, cipta dan karsa. Al-salik juga harus tenang dengan berusaha menghilangkan semua kesibukan dan masalah yang mengganggu konsentrasinya. Bagi al-salik, yang ada di hadapannya hanyalah Allah.

22 Ibid.

23 Ibid., h. 3-124.

b. Ning (hening), maksudnya ketika salat hendaknya hening yang prosesnya diawali dengan: (1) al-hudlur, maksudnya ketika menghadap kepada al-Haqq hendaknya menghadirkan semua potensi diri, fisik dan psikis (raga, rasa, cipta dan karsa); (2) al-hudlu’, maksudnya ketika menghadap kepada al-Haqq hendaknya merendahkan raga, rasa, cipta dan karsa dengan beradab (bertata krama), tawadlu’ (andap asor) sebagaimana pegawai istana di hadapan raja; dan (3) al-khusyu’, maksudnya ketika menghadap kepada al- Haqq hendaknya memfokuskan potensi diri sampai merasakan bahwa yang ada di depannya hanyalah al-Haqq dan bila tidak bisa merasakan itu maka ia harus yakin bahwa al-Haqq senantiasa memperhatikannya. Sementara khusyu’ dalam pandangan sufi ada tiga tingkatan: (a) khusyu’ karena khauf (takut) dan kehinaan diri. Khusyu’ ini untuk para hamba-Nya dan para zahid; (b) khusyu’ karena pengagungan, kehebatan dan kemuliaan al -Haqq. Khusyu’ ini untuk para murid dan para al-salik; dan (c) khusyu’ karena kegembiraaan, kebahagiaan dan penghampiran. Khusyu’ ini untuk orang yang sampai pada tingkat makrifat dan bertemu dengan al-Haqq (al-wasil min al-‘arifin). Maqam ini untuk salat qurratu a’yun.

c. Nung (dunung, dumunung, sambung). Maksudnya, al-salik telah masuk pada tahap sampai dan bertemu (al-wushul) dengan al-Haqq. d. Jur (ajur). Maksudnya, al-salik sampai pada tahap merasa hancur bertemu dengan al-Haqq, tenggelam dalam kekuasaan-Nya Yang Maha Dahsyat (al- fana’ billah). e. Gung (agung). Maksudnya, al-salik ketika sampai pada tahap tenggelam dalam kekuasaan-Nya, ia tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya mengucapkan kalimat Gusti Pangeran Kang Moho Agung (Allah Yang Maha Agung). 24

Ini kreasi yang mencoba memaknai suara gamelan dari perspektif tasawuf guna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah hingga mencapai al-wushul (bertemu dengan Allah). Bunyi gamelan itu adalah nang,

24 Ibid., h. 101-102.

ning, nung, jur, dan gung. Nang (tenang) dan ning (hening) ini masih berkaitan dengan cara salat yang khusyu’. Dari cara salat yang khusyu’ akhirnya bisa menghasilkan nung (dumunung, bersambung atau al-wushul dengan Allah), jur (merasa hancur ketika bertemu dengan Allah), dan gung (akhirnya hanya mengucapkan Allah Yang Maha Agung.

Beberapa

tokoh

penting

yang

berkontribusi

mengajarkan

jalan

(thariqah) dalam suasana tasawuf di Indonesia.

1. Perkembangan taswuf di Pulau Sumatera

a. Hamzah Fansuri yang berfaham Wahdatul Wujud (Falsafi). Riwayat hidup Hamzah Fansuri tidak banyak yang diuraikan secara terperinci. Beliau berasal dari daerah Barus dan kemunculannya

dikenal pada masa kekuasaan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah pada penghujung abad ke-16. Beliau adalah ahli tasawuf asli Melayu yang suka mengembara, menjelajahi Timur Tengah, Siam, Malaya, dan beberapa pulau di Nusantara. Hamzah Fansuri (w. 1604 M) terkenal dengan tulisannya, misalnya; Syair Perahu, Syair Burung Pingai, sehingga membuat ajaran Tasawuf banyak dikenal oleh banyak orang. Adapun ajaran yang dikembangkannya adalah:

1) Wujud. Menurutnya, bahwa wujud itu hanyalah satu. Wujud yang satu itu berkulit dan berisi, atau ada yang lahir dan ada yang batin. Semua benda-benda yang ada, merupakan pernyataan saja dari wujud yang hakiki, dan wujud yang hakiki itu adalah Al-Haq yaitu Allah SWT. Wujud itu mempunyai tujuh martabat (hakikatnya satu), yaitu

a) Ahadiyah; hakikat sejati dari Allah,

b) Wahda; hakikat dari Muhammad SAW,

c) Wahdiyah; hakikat dari Adam,

d) Alam arwah; hakikat dari nyawa,

e) Alam mitsal; hakikat dari segala bentuk,

f) Alam ajsam; hakikat tubuh,

g) Alam insan; hakikat manusia.

2) Allah. Menurutnya Allah adalah Dzat yang mutlak dan qadim, first causal (sebab pertama) dan pencipta alam semesta. Tuhan itu ada dalam diri manusia, tetapi Tuhan itu tidak identik dengan alam. 3) Penciptaan. Menurutnya bahwa wujud Tuhan itu sebagai suatu lautan yang dalam yang tak bergerak dan alam semesta ini merupakan gelombang dari lautan itu. Eksistensi dunia ini bukanlah wujud yang hakiki. 4) Manusia. Menurutnya manusia adalah dunia kecil atau mikrokosmos yang di dalamnya terkandung segala sesuatu (makrokosmos). Untuk dapat mengenal Allah dan bisa bertemu dengan-Nya, seseorang harus dapat menembus hijab yang membatasi dirinya dengan Tuhan. Hijab itu adalah kejamakan di alam dunia ini. 5) Kelepasan. Menurutnya manusia harus mengalami kelepasan dengan dunia yang harus ditempuh melalui Syari’at, Tharekat, Hakikat, dan Ma’rifat, yang secara berturut-turut terdiri dari alam nasut (alam manusia), alam malakut (malaikat), alam jabarut (puasa) dan fana. 25 b. Kemudian muridnya Syekh Samsudin bin Abdillah As-Sumatrani (Syamsuddin Pasai), hidup antara tahun 1575-1630 M) yang bermukim di Aceh. Buku-buku yang pernah beliau tulis, diantaranya; Jauhar al-Haqoid, Risalatul Bayyin Mulahazat al- Muwahidin ‘ala al-Muhlidi fi dzikrullah. Pokok-pokok ajarannya mengenai 1). Allah itu Esa adanya, Qadim dan Baqa. 2). Penciptaan

25 Usman Said, dkk, Pengantar Ilmu Tasawuf (Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama, 1982)hlm.187-195.

dari Dzat yang Mutlak melalui tahap tingkatan, yaitu ahadiya, wahda, wahidiya, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam, dan alam insan. 3). tentang manusia, manusia ini semacam obyek dimana Allah menzhahirkan sifatnya.

c. Syekh Abdul Ra’uf Singkel (Syekh Abdul Ra’uf bin Ali Al-Fansuri al-Jawi). Lahir di Fansur tahun 1620 M. yang menyebarkan Tarekat Syattariyah dan kemudian diikuti oleh murid-muridnya di daerah Aceh dan Pariaman (1620-1693 M). Beberapa pandangannya mengenai hati manusia yang menjadi unsur penting dalam tubuh, dzikir yaitu mengingat Allah seraya menyebut namanya dengan ucapan (jahar) atau dengan hati (sirri).

d. Syekh Burhanuddin (1646-1693 M), beliau merupakan penduduk asli Minangkabau, lahir pada tahun 1056 H/1646 M dan meninggal pada bulan Syafar 1111 H/1693 M. Murid dari Syekh Abdul Ra’uf Singkel yang berpaham Syafi’i. Beliau mendirikan madrasah dan mengajar di ulakan, diantara murid-murid yang pernah belajar dengan beliau adalah; Tuanku Mansingan Nan Tuo, Tuanku Imam Bonjol.

e. Nuruddin ar-Raniri 1) Riwayat Hidupnya Nama lengkapnya ialah nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid Ar-Raniry. Ia berasal dari Ranir ( Rander ) Gujarat. Waktu mudanya pernah belajar di Hadramaut kepada seorang guru yang bernama Abu Hafs Umar bin Abdullah Basyaiban. Ia datang ke Aceh pada tanggal 6 Muharram 1075 H/1637 M. Dan diduga ia tinggal di Aceh sampai tahun 1644 M. Kemasyhurannya tersiar jauh keluar daerah Aceh. Walaupun ia berasal dari India, tapi karangan-karangannya ada yang ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu.

2) Ajarannya Dapat diketahui bahwa paham Ar-raniry sebenarnya hampir sama dengan Hamzah Fansuri, terutama dalam masalah hubungan antara wujud Tuhan dengan alam. Alam ini digambarkan sebagai wujud yang majaz. Hal ini dapat dimaklumi, oleh karena sebagaimana sufi lainnya, Ar-Raniry pun berusaha memberi paham betapa Esa nya Tuhan itu secara Haqiqi.

f. Ulama sufi yang lainnya adalah Syekh Abdu samad al-Palimbani. Salah satu hasil dari pandangannya tentang keutamaan berzikir, meliputi tatacara saat berzikir dan tatacara setelah seorang murid melakukan zikir.

2. Perkembangan tasawuf di Pulau Jawa Penyebaran dan penyiaran agama islam di tanah Jawa pada zaman dahulu adalah dipelopori para mubaligh islam yang dikenal dengan sebutan wali. Dari segi bahasa, makna wali yang ditulis dengan aksara arab “berarti orang yang mencintai dan dicintai”. Waliyullah artinya orang yang mencintai dan dicintai Allah SWT. Wali songo artinya sembilan orang wali. Di samping sebagai muballigh islam, mereka ini juga adalah orang-orang yang mempunyai peranan penting dalam pemerintahan. Mereka mempunyai fungsi rangkap, yaitu sebagai muballigh atau guru dan juga sebagai pemimpin masyarakat pendamping raja. Para wali sango tersebut adalah; Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. a. Maulana Malik Ibrahim 1.) Riwayat Hidupnya Maulana malik Ibrahim adalah putra dari maulana Muhammad Jumaidil Kubra bin Sayid Zainul Husein, bin sayid zainul Kubra bin Sayid Zainal Abidin, bin Husein, bin Fatimah, binti Muhammad SAW.

Disepakati oleh para ahli sejarah, bahwa Maulana Malik Ibrahim bukanlah putra asli Indonesia, ia datang ke pulau Jawa pada tahun 1399 M. Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama islam di tanah Jawa ialah di daerah Jawa Timur. 2.) Beberapa ajarannya Dalam seluruh usaha dakwahnya, nampaknya ia lebih banyak mengutamakan masalah tauhid dan akhlaq, masalah Tuahan dan ke Esaan Nya dan masalah perilaku manusia. Mengenai filsafat ketuhanan antara lain ia mengatakan bahwa “ yang dinamakan Allah itu ialah sesungguhnya yang diperlukan adanya”.

b. Sunan Ampel ( 1401-1452) 1) Riwayat Hidupnya Nama kecilnya ialah Raden Rahmat, seperti diuraikan di muka,

ia adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim. Ia dilahirkan tahun 1401 M, dan dibesarkan di luar Jawa, diperkirakan mulai menetap di Jawa pada tahun 1431 M. 2) Beberapa ajarannya Sebagai penyambung ayahandanya Maulana Malik Ibrahim, maka ajarannya lebih banyak diutamakan kepada masalah yang berkenaan dengan pemurnian tauhid dan pembinaan akhlaq.

c. Sunan Bonang

1 ). Riwayat Hidupnya Lahir pada tahun 1449 M. Merupakan salah seorang putra dari Sunan Ampel. beliau adalah seseorang yang terhormat di kalangan agamawan maupun bangsawan dan masyarakat. Jiwa seni adalah merupakan satu keistemewaan yang dimilikinya dan dimanfaatkannya dalam usaha dakwahnya.

2 ). Pokok-Pokok Ajarannya Primbon Sunan Bonang memuat wejangan yang didahului dengan basmallah, hamdallah, dan salawat. Isinya penjelasan

yang sistematis tentang usul suluk ( tauhid dan tasawwuf ) dan berpangkal kepada kalimat syahadat.

d. Sunan Giri 1) Riwayat Hidupnya

Disebut juga dengan raden paku, sunan Giri merupakan orang penting dan terhormat baik di kalangan kerajaan maupun di tengah-tengah ulama’. Beliau dijadikan anak angkat oleh Nyi Gede Maloka (Nyai Ageng Tandes), disekolahkannya ke Ampel dan berguru kepada Sunan Ampel.

2) Pokok-Pokok Ajarannya

Sebagai seorang pendidik, Sunan Giri banyak menyampaikan ajaran-ajarannya dalam bentuk permainan anak-anak dan berbagai macam lagu yang berjiwa agama. Selain itu, sunan giri juga mengajarkan syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

e. Sunan Drajat 1). Riwayat Hidupnya Nama kecilnya Syarifuddin dan juga sering disebut dengan nama Raden Qasim. Beliau adalah salah seorang putra darri Ssuyang banyak memperhatikan soal-soal kesejahteraan dan sosial. 2 ). Beberapa ajarannya Dalam setiap kesempatan dakwahnya yang menjadi pembahasannya adalah masalah sosial yang terkait dengan ajaran- ajaran islam.

f. Sunan Kaljaga

Nama Raden Mas Syahid, putra Adipati Wilwatikta, menantu Maulana Malik Ibrahim. Mengalami zaman Majapahit, Demak, dan Pajang., makamnya di Kadilangu, Demak. Mengaji dengan Sunan Ampel. Beliau adalah seorang pujangga, seniman besar. Ajarannya,

berupa kesederhanaan atau zuhud.Dalam dunia pemerintahan,beliau mempersatukan agama dan umara yang disimpulkannya dalam suatu selogan “Sabdho Pandito Ratu”, yang artinya satunya ucapan raja dan ulama.

g. Sunan Kudus Nama Ja’far Sodiq, Raden Amir Haji, putra dari Sunan Ngudung, menantu Sunan Bonang.eliau terkenal dengan keahliannya dalam ilmu agama,seperti ilmu tauhid,ushul,hadist,terutama dalam bidang ilmu fiqh (hukum). Merupakan pujangga dan sastrawan, mengarang Maskumambang dan Mijil. Ajarannya berupa akhlak dan zuhud.

h. Sunan Muria Nama Raden Prawoto, Raden Umar Said, Putra Sunan Kalijaga. Dengan Dewi Sujinah (putri Sunan Ngudung) melahirkan Raden Santri atau Sunan Ngadilangu. Beliau mempertahankan gamelan sebagai media dakwah Islam, mengarang Sinom dan Kinanti. Ajarannya bersifat sangat sufistik, dan zuhud.Beliau adalah salah seorang yang berusaha mempertahankan berlangsungnya gamelan sebagai kesenian Jawa untuk digunakan sebagai media dakwah Islam ditengah masyarakat.

i. Sunan Gunung Jati Nama Raden Abdul Kadir, Syarif Hidayatullah, Faletehan, Syekh Nuruddin Ibrahim bin Israil, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah. Putra Maulana Ishak. Makam di Cirebon, wafat tahun 1570 M. Beliau mengatakan bahwa amal paling utama adalah menjaga budi pekerti yang luhur denga akhlak yang mulia. 26

3. Perkembangan tasawuf di Kalaimantan

26 Usman Said, dkk. Pengantar Ilmu Tasawuf, 1983, Jakarta: Penerbit, hlm. 186-252.

Sama halnya perkembangan di pulau-pulau lain di nusantara salah seorang sufi yang terkemuka di Kalimantan ialah Syekh Khatib As-Sambasi, ketika belajar di Mekkah beliau lebih dikenal dengan nama Ahmad Khatib bin Abdul Ghafar As-sambasi Al-Jawi. Beliau dipandang oleh gurunya sebagai ahli Fiqih, Ilmu Hadits, Ilmu Tasawuf dan penghapa Qur’an. Sementara di Kalimantan Selatan Sufi di kembangkan oleh Syekh Muhammad Nafi Idris bin Husaei Al-banjiri yang diberi gelar oleh pengikutnya dengan nama maulana Al-Alamah Al-Mursad Ila Tarikis Salamah yang hidup semasa dengan Syekh Muhammad Ar-Sad bin Abdillah Al-Banjiri, tetapi mereka berbeda keahliannya dalam hal agama, dimana Syekh Muhammad Nafis sangat mendalami Ilmu Tasawuf sadangkan Syekh Muhammad Ar-Sad lebih mendalami kepada Syari’at. Tarikat yang lebih mencolok pada Syekh Muhammad Nafis ialah diliha dari segi teologi yakni Asyariyah dan dari segi mahjab Fiqih lebih kepada Mahjab Syafi’i.

4. Perkembangan tasawuf Pulau Sulawesi Hampir semua perkembangan Tasawuf di kepulauan Nusantara satu sama lain tidak jauh berbeda. Yakni untuk mengIslamkan penduduk sekitar yang membedakan satu sama lainnya adalah tarekat yang kemudian berkembangnya saja, di Sulawesi tasawuf yang berkembang bercorak Sunni dan Falsafi, meskipun pada tarekat Falsafi banyak mencampur adukan ajaran Tasawuf dengan Ilmu Hitam, sehingga hal ini semakin membingungkan masyarakat kalangan awam. Hal seperti inilah yang kemudian membuat ciri Tasawuf dimata masyrakat semakin direndahkan dan kurang diminati orang. Ulama Tasawuf dari Sulawesi adalah SyekhYusuf Tajul Khalawati Al- Makasari, beliau lahir 3 Juli 1629 M, beliau beraliran Tasawuf sunni yang bermukim di Goa Sulawesi Selatan. Dalam salah satu karangannya beliau menulis diujung namanya dengan bahasa arab ”al-Mankasti” yaitu mungkin yang beliau maksudkan adalah ”Makassar” yaitu nama kota di Sulawesi Selatan dimasa pertengahan dan nama kota itu sekarang

diganti pula dengan ”Ujung Pandang” yaitu mengambil nama yang lebih tua dari pada nama Makasar.

E. PENGARUH DAN PENGAMALAN TAWASUF DI INDONESIA. Ajaran tasawuf pada kemudiaannya adalah berhubungan erat dengan tarikat. Di Indonesia tarikat-tarikat yang telah berkembang dan punya pengaruh seperti; tarikat Naqsyabandiyah, Qadariyah, Syattariyah, Saziliyah, Khalawathiyah, dan sebagainya. Melalui murid- muridnya, secara turun temurun, para pendiri tarikat ini telah mendapat kehormatan yang cukup tinggi dalam kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Hal ini sampai sekarang dalam beberapa aktivitas keagamaan, seperti dalam memulai suatu pengajian, nama Abdul Qadir Jailani selalu ikut serta. Selain itu, pengaruh tasawuf dalam pengembangan kesusasteraaan Jawa yang telah diadopsi yaitu kitab-kitab kuno yang diubah kedalam bahasa dan syair Jawa baru, dengan memasukkan unsur-unsur keislaman didalamnya. Karangan-karangan dalam kesusasteraaan baru, misalnya Serat Cintini yang ditulis pujangga Yosodipuro II, dkk. Serat Wirid Hidayat Jati oleh Ronggowarsito, dan kitab Wulangreh karya Paku Buana IV. F. KESIMPULAN

Kehidupan spiritual di indonesia sebelum datangnya islam masyarakatnya menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Agama yang selanjutnya dianut penduduk Indonesia adalah Hindu-Budha yang dibawa oleh para pedagang India. Hal ini, ditandai dengan berdirinya kerajaan Budha terbesar di Asia Tenggara, yaitu kerajaan Sriwijaya. Agama islam yang masuk ke Indonesia didasarkan atas dua pendapat menurut Alwi Shihab, yaitu pandangan islam yang masuk ke Indonesia pada abad ke tujuh

Hijrah.Selanjutnya, pandangan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah.

Tasawuf islam memasuki Indonesia sekitar abad kedua Hijrah sampai abad ke delapan Hjirah. Perkembangan tasawuf di Pulau Sumatera tokoh- tokohnya adalah Hamzah Fansuri Syekh Samsudin bin Abdillah As- Sumatrani (Syamsuddin Pasai), Syekh Abdul Ra’uf Singkel , Syekh Burhanuddin , Nuruddin ar-Raniri, Syekh Abdu samad al-Palimbani. Perkembangan tasawuf di Pulau Jawa tokoh-tokohnya adalah Maulana Malik Ibrahim , Sunan Ampel , Sunan Bonang , Sunan Giri , Sunan Drajat , Sunan Kaljaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati. Perkembangan tasawuf di Kalaimantan tokoh-tokohnya adalah Syekh Khatib As-Sambasi dan Syekh Muhammad Nafi Idris bin Husaei Al-banjiri. Perkembangan tasawuf Pulau Sulawesi tokohnya adalah SyekhYusuf Tajul Khalawati Al-Makasari.

bahwa para pemikir Islam Indonesia (khususnya para ahli tasawuf) telah berhasil merespons berbagai tantangan yang dihadapkan kepada tasawuf selama ini secara kreatif. Mereka mencoba menghadirkan berbagai alternatif model tasawuf yang semuanya lantaran bersinggungan dengan tantangantantangan yang dihadapi tersebut. Oleh karena itu, mereka mengemas bentuk tasawuf yang sangat bervariasi, mulai dari tasawuf sosial, tasawuf positif, tasawuf perkotaan, tasawuf falsafi, tasawuf irfani, tasawuf kontekstual, tasawuf Jawa, hingga tasawuf Muhammadiyah.

Pengaruh dan pengamalan tawasuf di Indonesia memunculkan ajaran tasawuf pada kemudiaannya adalah berhubungan erat dengan tarikat. Di Indonesia tarikat-tarikat yang telah berkembang dan punya pengaruh seperti; tarikat Naqsyabandiyah, Qadariyah, Syattariyah, Saziliyah, Khalawathiyah, dan sebagainya.Selain itu berpengaruh juga terhadap perkembangan kesusastraan Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Shihab,Alwi.2009. Akar Tasawuf di Indonesia.Jakarta: MMU

Said, Usman ,dkk.1982.Pengantar Ilmu Tasawuf .Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama

Hamka.1980. Tasawuf Pekembangan dan Pemurniannya.Jakarta: Yayasan Nurul Islam

Anshori, M. Afif, Tasawuf Falsafi Syaikh Hamzah Fansuri, Yogyakarta:

Gelombang Pasang, 2004. Azra,

Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Melacak

Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1994. Chusnan, Masyitoh,

Tasawuf Muhammadiyah Menyelami Spiritual Leadership AR. Fakhruddin, Jakarta: Kubah ilmu, 2012.

Dawami, Mohammad, Tasawuf Positif dalam Pemikiran Hamka, Yogyakarta:

Fajar Pustaka Baru, 2000.

Fealy, Greg dan Greg Barton (eds.), Nahdlatul Ulama Traditional Islam and Modernity in Indonesia,

Clayton: Monash Asia Institute Monash University, 1996. Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan

Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, Jakarta:

Yayasan Wakaf Paramadina, 1992. Al-Naisaburiy, Abi al-Qasim ‘Abd al- Karim Hawazin al-Qusyairiy,

Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, t.t.p: Dar al-Khair, t.t. Sila, Muh. Adlin (et.al.), Sufi

Nasution, Harun, Pembaruan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975. Purwadi, Tasawuf Jawa, Yogyakarta: Narasi, 2003. Simuh, Mistik Islam Kejawen R. Ng.

Ranggawarsita: Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati, Jakarta: UI Press, 1988. Syukur, M.

Amin, Tasawuf Kontekstual Solusi Problem Manusia Modern, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar,

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

, Tasawuf Sosial, Umar Natuna (peny.),

, Zuhud di Abad Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Tamrin, Dahlan, Tasawuf Irfani Tutup Nasut Buka Lahut, Malang: UIN