Anda di halaman 1dari 26

MODEL PENGEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF NUSANTARA BESERTA

TOKOH-TOKOH NYA

A. KEHIDUPAN SPIRITUAL DI INDONESIA SEBELUM DATANGNYA ISLAM


Sebagian besar penduduk asli Indonesia sebelum mendapatkan
pengaruh dari agama-agama pendatang seperti Hindu, Budha, Kristen, dan
Islam, yaitu melakukan pemujaan terhadap pandangan yang berdasarkan
tentang fenomena alam. Para pengikut agama yang dianut disebut Animisme,
mempercayai adanya ruh Tuhan yang mengalir dalam setiap makhluk.
Kekuatan tubuh diyakini sebanding dengan kapasitas ruh Tuhan yang
mengalir didalamnya. Sehingga diantara mereka ada yang memuja dan
leluhur atas dasar keyakinan bahwa ruh leluhur lebih kuat daripada ruh
masyarakat sendiri.selain itu, adanya kepercayaan Dinamisme, yaitu
menyembah binatang buas, disamping karena rasa takut, juga atas
kepercayaan bahwa rasa takut ini merupakan indikasi adanya ruh Tuhan
yang membuat tubuh binatang-binatang tersebut menakutkan. Agama yang
pertama yang dianut oleh orang-orang Indonesia-Melayu.
Agama yang selanjutnya dianut penduduk Indonesia adalah Hindu-
Budha yang dibawa oleh para pedagang India. Hal ini, ditandai dengan
berdirinya kerajaan Budha terbesar di Asia Tenggara, yaitu kerajaan Sriwijaya
di Sumatra Selatan yang wilayah kekuasaanya meliputi; Jawa, Sumatra, dan
Melayu, tempat terdapatnya Universitas Nalanda, yang memiliki reputasi
dunia dalam Budhissme.1
Sejak saat itu agama Hindu-Budha mengalami perkembangan pesat
pada abad pertama dan kedua Hijrah, yang ditandai dengan kemunculan
kerajaan-kerajaan yang memiliki keterkaitan dengan kedua agama tersebut.
Misalnya kerajaan Majapahit yang berdiri atas inspirasi menggabungkan
agama Hindu dan Budha (Sinkretis). Kedatangan orang-orang India yang

1
Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia (Jakarta: MMU, 2009), hlm, 4.
membawa agama Hindu-Budha memperkenalkan aksara Sansekerta yang
kemuduan menjadi aksara Jawa kuno.
Dalam sejarahnya, agama asli Indonesia mengalami pasang surut.
Berbagai tantangan yang dihadapi menambah sulit baginya untuk bertahan
hidup, seperti persaingan terhadap agama-agama pendatang. Kelemahan
menghadapi agama-agama pendatang yang lebih unggul dalam hal
kesempurnaan ajaran-ajaran, baik dari segi teologi, tata aturan sosial,
maupun ideologi politiknya hampir saja membuatnya punah, terutama pada
masa dominasi Islam (kesultanan Demak) awal abad ke-16. Meskipun, pada
masa-masa tertentu, tatkala kesultanan Islam mengalami kemunduran dan
hadirnya penjajahan Belanda, yang kembali mendapatkan perlindungan dari
pemerintahan lokal.2

B. MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA


Sebelum Islam masuk ke Indonesia, hubungan dagang antara Sumatra,
Cina, India, Persia, serta negeri Arab sudah terjalin dengan pesat. Hal ini
dapat diketahui dengan adanya bandar-bandar laut yang terkenal, misalnya
Sanfosti di Tiongkok, Bandar Muara Sabak di Sriwijaya (Jambi). Kontak
perdangangan tersebut secara tidak langsung membawa unsur-unsur
kebudayaan masing-masing pihak.
Agama islam yang masuk ke Indonesia didasarkan atas dua pendapat
menurut Alwi Shihab , yaitu pandangan islam yang masuk ke Indonesia pada
abad ke tujuh Hijrah, ditandai dengan dakwah islam pada saat Dinasti
Abbasiyah, yang dibawa oleh Abdullah ibn Muhammbad ibn ‘Abd Qahir Al-
‘Abbasi wafat 799 H/1407M. ke nusantara.
Selanjutnya, pandangan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada
abad pertama Hijrah, didasarkan oleh argumentasi catatan-catatan resmi
Cina periode Dinasti Tang 618 M menegaskan bahwa islam sudah masuk

2
Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia (Jakarta: MMU, 2009), hlm, 2-3.
wilayah Timur jauh, yaitu Cina dan sekitarnya, termasuk kepulauan
Indonesia. Jurnal Cina mengisyaratkan adanya pemukiman Arab di Cina yang
penduduknya diizinkan oleh kaisar untuk menikmati kebebasan beragama.
Pengenalan dini kaum Arab terhadap kepulauan Indonesia setaraf dengan
data yang mereka ketahui mengenai Cina bahkan lebih luas. Pedagang-
pedagang Muslim memasuki Cina karena kedatangan orang-orang Arab
membawa islam ke Cina melalui jalur laut. Cina sendiri mempertimbangkan
hubungan perdagangan dengan Indonesia dikarenakan letak geografis
Indonesia sebagai perdagangan laut internasional.3
Menurut Hamka dan beberapa tokoh lainnya, mengemukakan bahwa
Islam datang ke Indonesia langsung dari tanah Arab dengan membawa
Mazhab Ahli Sunnah Wal-Jama’ah khususnya Mazhab Syafi’iyah. Hal ini
didasarkan atas perlawatan Ibnu Bathuthah yang menemukan masyarakat
Islam di Aceh adalah beraliran Syafi’iyah, pada abad ke delapan Hijrah.4
Salah satu peninggalan sejarah yang menjadi simbol kesinambungan
pengaruh agama asli, yaitu Candi Borobudur, mengindikasikan bahwa
penentuan letak bangunannya didasarkan pada kewajiban dalam sistem
kepercayaaan animisme untuk membangun tempat ibadah di dataran tinggi.
Sedangkan pengaruhnya seni arsitekturnya dalam kehidupan spiritual Islam,
misalnya bentuk bangunan masjid lama pada masjid Agung Demak, Cirebon,
Banten, dibangun berdasarkan model tradisional Indonesia.

C. TASAWUF DI INDONESIA DAN TOKOH-TOKOHNYA


Penyebaran Islam yang berkembang secara signifikan di negara-negara
Asia Tenggara berkat peranan dan kontribusi tokoh-tokoh tasawuf. Hal ini
disebabkan oleh sifat-sifat kaum sufi yang lebih kompromis dan penuh kasih
sayang. Islam pada hakekatnya merupakan agama yang terbuka dan tidak
mempersoalkan perbedaaan etnis, ras, dan bahasa. Tasawuf islam telah

3
Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia (Jakarta: MMU, 2009), hlm, 10.
4
Usman Said, dkk, Pengantar Ilmu Tasawuf (Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam
Departemen Agama, 1982), hlm. 180-181.
membuka wawasan lebih luas bagi keterbukaan yang meliputi agama-agama
lain.

Tasawuf islam memasuki Indonesia sekitar abad kedua Hijrah sampai


abad ke delapan Hjirah yang mana tasawuf ini berkembang secara
menyeluruh di Indonesia. Beberapa alasan yang melatarbelakangi
perkembangan tersebut diantarnaya:
1. Hasan al-Basri (w. 110 H), Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185 H), Sufyan Tsauri
(w. 121 H) ketiganya dari Basrah. Ibrahim bin Adham (w. 161 H) dan
Syaqiq al-Balakhi (w. 194H) keduanya berasal dari Persia. Mereka inilah
yang dianggap tokoh-tokoh tasawuf pada akhir abad pertama sampai abad
kedua Hijrah. Sedangkan pengaruh tasawuf di Persia lebih dahulu datang
ke Indonesia oleh Al-Ghazali (w. 505 H). Terdapat pula, Syekh al-Yafi’i
ahli tasawuf di Mekkah, merupakan murid dari Syekh Mas’ud bid
Abdullah al-Jawy (bangsa Jawa), yang mana Syeh A-Jawi hidup pada
zaman kejayaaan Kerajaan Samudra Pasai.5
2. Paham tasawuf sebagai bentuk baru dari hidup zahid, yaitu menjauhkan
diri dari kemegahan hidup duniawi, yang dibawa oleh saudagar-saudagar
muslim yang kemudian menetap di Indonesia.
3. Paham-paham thariqat, yang juga berkembang di Indonesia seperti paham
Qadariyah oleh Abdul Qadir al-Jailani (w. 1415 H), Naqsabandiyah oleh
Bahauddin (w. 1388 M), dan Syattariyah oleh Abdullah Syattar (w. 1415
M), mereka ini berada pada abad ke lima sampai ke tujuh Hijrah.

Pada perkembangannya tasawuf di Indonesia juga mendapat pengaruh


dari para tokoh yang menyebarkan ajaran tasawuf dari masa ke masa,
terdapat dua gologna tasawuf yang berkembang yaitu tasawuf Sunni (salafi)
dan tasawuf Falsafi, metode pendekatan pada tasawuf sunni dan salafi lebih

5
Hamka, Tasawuf Pekembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1980), hlm. 218.
menonjol kepada segi praktis (‫) العملي‬, sedangkan tasawuf falsafi menonjol
kepada segi teoritis (‫) النطري‬.

D. PENGEMBANGAN TASAWUF DI NUSANTARA

Perkembangan-perkembangan tasawuf di Indonesia erat kaitanya


dengan budaya-budaya bangsa Indonesia yang bersifat mistik , tasawuf dapat
berkembang secara cepat dalam persebarannya. Tasawuf merupakan bagian
dari metode penyebaran ajaran Islam sangat mempunyai kemiripan dalam
metode pendekatan-pendekatan agama Hindu-Budha yang merupakan
sistem keagamaan masyarakat Indonesia sebelum Islam. Kemiripan dalam
metode pendekatan dengan latihan kerohanian, inilah yang kemudian
mempermudah berkembangnya tasawuf di Indonesia. Tasawuf merupakan
alat dari salah satu persebaran islam di Indonesia. tasawuf yang dahulu
berkembang di Gujarat, merupakan sinkronisasi keagamaan di Indonesia,
yaitu negeri Hindustan yang hal ini tidak jauh berbeda dengan sosiologi
agama Hindu di Indonesia.

Upaya Pengembangan Tasawuf Mengingat adanya tuntutan-tuntutan


pengembangan, tasawuf sebagai suatu bangunan ilmu seharusnya
mengalami perubahan, dinamika maupun pengembangan-pengembangan.
Para pemikir Islam khususnya ahli tasawuf Indonesia telah berupaya
merespon desakan tersebut dengan menghadirkan tasawuf yang khas. Dari
hasil penelusuran, penulis menemukan delapan macam tawaran konsep
tasawuf, yaitu tasawuf sosial, tasawuf positif, tasawuf perkotaan, tasawuf
falsafi, tasawuf irfani, tasawuf kontekstual, tasawuf Jawa dan tasawuf
Muhammadiyah.

1) Tasawuf Sosial
Tasawuf merupakan kehidupan yang selalu berusaha mendekatkan
diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui peningkatan dan
penyempurnaan ibadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah.
Kehidupan ini melahirkan kesalehan individual, tetapi kurang bersikap
sosial. Akibatnya tasawuf dipandang sebagai suatu kehidupan yang
memiliki kepedulian kepada Allah, tetapi kurang memiliki kepedulian
kepada sesama manusia. Zuhud sebagai contoh yang selama ini selalu
dianggap sebagai sikap meninggalkan dunia padahal seorang zahid
(pelaku zuhud) juga memiliki keluarga yang membutuhkan dunia
(sandang, pangan, papan dan pembiayaan pendidikan). Apalagi ketika
seseorang sufi telah mencapai tingkatan fana’ (lenyap) pada tingkatan
fana’‘an alnafs (lenyap dari dirinya sendiri) maka tidak ada yang menjadi
perhatian termasuk dirinya sendiri, kecuali hanya Allah semata.
Model penampilan tasawuf di masa sekarang ini tidak harus
menjauhi kekuasaan, tetapi justru masuk di tengah-tengah pergulatan
politik dan kekuasaan. Sebab menjauhi kekuasaan menunjukkan
ketidakberdayaan dan kelemahan.6 Dengan demikian, tasawuf sosial
bukan tasawuf yang isolatif, tetapi aktif di tengah pembangunan
masyarakat, bangsa dan negara sebagai tuntutan tanggungjawab sosial
tasawuf pada awal abad XXI ini. Tasawuf tidak lagi uzlah dari keramaian,
sebaliknya, harus aktif mengarungi kehidupan secara total, baik dalam
aspek sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Karena itu, peran para sufi
seharusnya lebih empirik, pragmatis dan fungsional dalam menyikapi dan
memandang kehidupan ini secara nyata.7
Karena itu, sufi mesti bergumul dengan masyarakat, bahkan
dengan masyarakat yang memiliki berbagai latar belakang agama, budaya,
suku, bahasa dan sebagainya, sebagai suatu kondisi yang tidak
terhindarkan dalam kehidupan modern sekarang ini. Mengenai tuntutan
sikap pluralis ini, tasawuf memandang bahwa keanekaragaman agama di
dunia ini hanya sekadar bentuknya, sedangkan hakekatnya sama, karena
semua agama mempunyai sumber yang sama dan bertujuan untuk
menyembah kepada Sumber segala sesuatu, Tuhan Pencipta alam

6
M. Amin Syukur, Tasawuf Sosial, Umar Natuna (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 24
7
Ibid., h. 28.
semesta.8 Memang rata-rata hubungan antarumat beragama di kalangan
sufi itu jauh lebih cair dan elegan daripada faqih. Tokoh-tokoh sufi seperti
al-Hallaj, Rumi maupun Ibnu Arabi memiliki hubungan yang sangat akrab
dengan pemeluk agama lainnya. Murid-murid Rumi berasal dari berbagai
pemeluk agama. Ketiga sufi memiliki konsep kesatuan agama (wadat al-
adyan). Adapun materi pembahasannya meliputi pendahuluan, tasawuf
dan tantangan keindonesiaan, tasawuf dan pembangunan kesadaran
hidup sosial yang islami, resistensi Islam dalam masyarakat modern, serta
alQur’an dan pembinaan sumber insani.9

2) Positif Tasawuf
Selama ini, penilaian yang bernada mendiskreditkan tasawuf
masih berlangsung. Dawami melaporkan bahwa tasawuf mendapat
kesan “negatif ” bagi kalangan tertentu dari umat Islam. 10 Sebagaimana
dipaparkan di depan, tasawuf menghadapi berbagai tantangan,
khususnya tantangan-tantangan internal dari kalangan tokoh Islam
modernis maupun reformis. Mereka memvonis tasawuf sebagai perilaku
yang pasif, fatalis, mengabaikan dunia, bahkan biang kerok
kemunduran umat Islam di dunia ini dalam waktu yang relatif lama
hingga sekarang belum terhentikan.
Dari segi struktur, tasawuf yang ditawarkan Hamka berbeda
dengan tasawuf tradisional. Tasawuf yang ditawarkan Hamka (‘tasawuf
modern’ atau ‘tasawuf positif ’) berdasarkan pada prinsip tauhid, bukan
pencarian pengalaman mukasyafah.11Prinsip tauhid ini yang dapat
dijadikan benteng bagi pengkaji tasawuf agar tidak terjebak dalam
tindakan-tindakan yang bertentangan dengan akidah. Prinsip tauhid
itu membekali pengkaji tasawuf dalam menghadapi pengalaman

8
Ibid., h. 40
9
Ibid., h. 184
10
Mohammad Dawami, Tasawuf Positif dalam Pemikiran Hamka (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2000), h. 7
11
Ibid., h. 243
maupun pengakuan sufi yang aneh-aneh yang dikhawatirkan
menyesatkan, termasuk ucapan-ucapan sathahat (ucapan ganjil di saat
sufi menjelang kejadian ittihad maupun hulul).
Pembahasan tentang bangunan pemikiran Hamka tentang
tasawuf ini dirinci menjadi lima sub bab, yaitu hakikat tasawuf, fungsi
tasawuf, struktur tasawuf, konsepkonsep dasar sufistik, serta tasawuf
dan perkembangan agama dalam zaman modern. Adapun sub bab
struktur tasawuf meliputi pembahasan konsep tentang Tuhan dan
manusia serta hubungan antarkeduanya, jalan tasawuf, penghayatan
tasawuf dan refleksi pekerti tasawuf. Selanjutnya, konsep-konsep dasar
sufistik dipertajam lagi melalui pembahasan proses sufistik tradisional,
dan proses sufistik tasawuf modern.12
3) Tasawuf Perkotaan
Adanya kecenderungan sebagian warga beberapa kota besar
untuk terlibat secara intens dunia spiritual, merupakan fenomena baru
yang menarik untuk dilakukan penelitian.
Sebab umumnya masyarakat kota terkesan terbiasa hidup
glamour dalam menghadapi hinggar-bingarnya kota yang dihiasi
berbagai macam gedung megah, tempat perbelanjaan, tempat hiburan,
tempat wisata dan sebagainya.
Suatu studi yang dilakukan dengan mengambil tema besar
tentang dunia sufi di tengah masyarakat perkotaan. Adanya
kecenderungan sebagian warga beberapa kota besar untuk terlibat
secara intens dunia spiritual, merupakan fenomena baru yang menarik
untuk dilakukan penelitian. Sebab umumnya masyarakat kota
terkesan terbiasa hidup glamour dalam menghadapi hinggar-bingarnya
kota yang dihiasi berbagai macam gedung megah, tempat perbelanjaan,
tempat hiburan, tempat wisata dan sebagainya.

12
Ibid., h. 157-239.
Fenomena sufisme di tengah masyarakat yang terus beradaptasi
dengan nilai-nilai baru, seolah merupakan gerakan yang melawan arus
transformasi. Mereka masih bertahan dengan kepercayaan-
kepercayaan tradisional dan sangat kokoh mendambakan kekuatan
batin.13
Komunitas sufi perkotaan itu telah tumbuh dalam dua dasawarsa
belakangan dan kini tetap bertahan. Memang sufisme telah menarik
perhatian sebagian masyarakat kelas menengah terdidik untuk
menggali khazanah intelektual dan filosofis tokoh-tokoh sufi terkenal
dalam sejarah peradaban Islam. Kursus-kursus yang diselenggarakan
oleh lembaga-lembaga pendidikan sosial seperti LSAF dan Paramadina
telah menarik minat yang cukup tinggi di kalangan kaum terdidik kelas
menengah perkotaan.14
Gejala-gejala dan bahkan kehidupan tasawuf di perkotaan yang
tumbuh semakin subur ini mematahkan teori-teori dari beberapa pakar
bahwa dunia semakin modern maka akan menggilas kehidupan
tasawuf sehingga tasawuf akan mati dengan sendirinya. Teori itu
kalaulah mendapatkan bukti pendukung secara empirik, hanyalah
terjadi di Barat.
Sebab teori itu dirumuskan oleh ilmuwan-ilmuwan Barat
berdasarkan budaya dan pengalaman Barat. Namun Islam memiliki
kecenderungan yang berbeda. Sejarah Islam mencatat bahwa ketika
kehidupan masyarakat makin materialistik dan hedonistik maka reaksi
dalam bentuk kehidupan tasawuf justru semakin kuat. Maka tasawuf
tetap hidup bahkan semakin berkembang meskipun menghadapi
kehidupan modern maupun supermodern sekalipun.
Selanjutnya perlu diungkapkan hasil-hasil pengamatan para
peneliti dalam buku tersebut mengenai fenomena tasawuf perkotaan,

13
Ibid., h. xi.
14
Ibid., h. 38
sebagai berikut: ternyata banyak orang Islam baik dari kalangan bawah,
menengah maupun elit seperti mahasiswa, dosen dan pejabat
pemerintah, yang sangat berminat mengikuti ajaran tasawuf di surau
Nurul Amin Surabaya. Padahal Surabaya sebagai salah satu kota besar
di Indonesia yang kehidupan modernitasnya cukup tinggi.15 Ajaran
tasawuf mempunyai peranan yang sangat besar bagi kaum elite di
perkotaan karena dapat mengakses sesuatu untuk menyampaikan
kepada atasan atau bawahannya.38 Belakangan ini orang-orang kota
menoleh model keberagamaan sufi. Ini merupakan gejala baru
mengawali abad ke-2.16 ketika produk teknologi tidak memberikan
kepuasan batin dan ketika materi tidak mampu membahagiakannya.
Sementara itu keberagamaan model fikih dirasakan terlalu verbal.
Maka mereka menempuh pendekatan diri kepada Allah melalui
tasawuf.17 “Orang kota memilih tasawuf agar mendapatkan
ketenteraman hati, dengan berusaha agar tidak ada lagi hijab dalam
mencintai Allah.”18 Tasawuf kota tidak hanya dilaksanakan di masjid-
masjid dan zawiyah-zawiyah, tetapi justru di hotel-hotel berbintang,
kawasan-kawasan bisnis dan tempat-tempat wisata seperti kawasan.

4) Tasawuf Falsafi
Di sini perlu dipaparkan contoh tasawuf falsafi melalui konsep
ke-fana’-an yang tertinggi yakni apabila kesadaran tentang fana’ itu
sendiri juga hilang (fana’ al-fana’) yang diungkapkan Hamzah Fansuri
dan dikutip al-Attas kemudian dikutip Anshori, sebagai berikut:
Adapun fana’ itu, pada ibarat (ialah): melenyapkan segala ghayr Allah.
Jika orang fana’ lagi tahu akan fana’-nya, belum ia fana’ karena fana’
itu, pada ibarat (hapus daripada) ghayr Allah. Apabila belum hapus

15
Ibid., h. 41
16
Ibid., h. 44
17
M. Afif Anshori, Tasawuf Falsafi Syaikh Hamzah Fansuri (Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2004), h. vi.
18
Ibid., h. 45
daripada ghayr Allah, belum fana’ hukumnya; apabila hapus daripada
ghayr Allah niscaya yang menyembah pun lenyap–yang disembah pun
lenyap daripada rasanya–yakni menjadi esa, (yaitu) tiada; lenyap sekali-
kali.19
Pernyataan inilah yang menimbulkan reaksi keras sebab
menimbulkan kesan bahwa hamba dan Tuhan telah menyatu sehingga
tidak bisa dibedakan lagi mana yang hamba dan mana yang Tuhan. Ini
merupakan pernyataan yang sensitif sekali bagi kebanyakan ulama
termasuk Nuruddin al-Raniri sehingga banyak orang yang menghujat.
Apalagi Hamzah Fansuri menulis syairnya:
Qala Allahu Ta’ala di dalam kitab Fa’tabiru ya uli al-bab
Barang siapa fana’ dari sekalian hisab Ialah washil dengan
hijab Kata Ba Yazid terlalu ‘ali Pada subhani ma a’zhama
sya’ni Itulah ‘asyiq sempurna fani Jadi senama dengan
Hayyu al-Baqi.20

Jadi syair Hamzah Fansuri ini menimbulkan tuduhan yang


makin kuat bahwa ia mengaku menyatu dengan Tuhan. Ketika ia
mencapai puncak fana’ (fana’ al-fana’), ia mengucapkan subhani ma
a’zhama sya’ni (Mahasuci Aku, Maha Besar Aku). Ketika ucapan
Fansuri ini dipahami secara tekstual oleh mayoritas umat Islam maka
menimbulkan kesimpulan sebagai ajaran sesat. Bagi orang yang
mendalami tasawuf, ia memiliki metode khusus dalam memahami
pernyataan itu, yaitu bahwa yang mengucapkan subhani ma a’zhama
sya’ni itu adalah Allah sendiri melalui lidah Hamzah Fansuri sehingga
mampu memahaminya secara positif, tidak sampai menuduhnya
tersesat.

5) Tasawuf Irfani

Tasawuf dalam perkembangannya dapat dikategorikan menjadi tiga


bagian, yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf irfani dan tasawuf falsafi.21 Tasawuf

19
Ibid., h. 186.
20
Ibid., h. 186-187
21
Dahlan Tamrin, Tasawuf Irfani Tutup Nasut Buka Lahut (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. v.
irfani ditulis lebih awal daripada tasawuf lainnya, dalam rangka memberikan
wawasan dasar untuk al-salik (orang yang menempuh perjalanan spiritual
menuju Allah) yang berusaha menghampiri Al-Haqq sebagai Dzat Yang Maha
Suci, dapat terbimbing dengan baik seperti ketika menghampirinya melalui
salat, puasa dan haji. Al-Haqq sebagai Dzat Yang Maha Suci tidak bisa
dihampiri melainkan oleh orang-orang yang suci badan, tempat, kondisi,
batin dan lain sebagainya. Maka dengan kehadiran buku ini, al-salik sedikit
terbantu agar penghampirannya benar dan cepat.22

Karena buku ini bisa dijadikan sebagai panduan bagi al-salik ketika
akan menjalankan aktivitas-aktivitasnya. Adapun materi pembahasan buku
ini meliputi: tasawuf sebagai salah satu ajaran Islam, maqamat dan ahwal,
tazkiyah, dan tutup nasut singkap lahut.23

Bab tasawuf sebagai salah satu ajaran Islam mengetengahkan enam


macam sub bab seputar pengenalan tasawuf pada tingkat dasar (permukaan);
bab maqamat meliputi al-syari’at, al-thariqat, al-haqiqat, dan al-ma’rifat. Dari
keempat sub bab ini masih dirinci lagi secara lebih detail; adapun bab tutup
nasut singkap lahut dijabarkan lagi ke dalam salat, puasa dan haji.

Tamrin mengutip Ronggowarsito yang dimuat dalam karya Simuh,


tentang tuntunan proses wushul kepada al-Haqq (Tuhan) yang terdapat pada
kandungan makna suara (simbol) dalam seni gendingan Jawa yakni: nang,
ning, nung, jur, lan gung, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

a. Nang (tenang), maksudnya situasi dan kondisi di waktu salat


haruslah tenang, tidak gaduh, rasa, cipta dan karsa. Al-salik juga harus
tenang dengan berusaha menghilangkan semua kesibukan dan masalah yang
mengganggu konsentrasinya. Bagi al-salik, yang ada di hadapannya hanyalah
Allah.

22
Ibid.
23
Ibid., h. 3-124.
b. Ning (hening), maksudnya ketika salat hendaknya hening yang
prosesnya diawali dengan: (1) al-hudlur, maksudnya ketika menghadap
kepada al-Haqq hendaknya menghadirkan semua potensi diri, fisik dan psikis
(raga, rasa, cipta dan karsa); (2) al-hudlu’, maksudnya ketika menghadap
kepada al-Haqq hendaknya merendahkan raga, rasa, cipta dan karsa dengan
beradab (bertata krama), tawadlu’ (andap asor) sebagaimana pegawai istana
di hadapan raja; dan (3) al-khusyu’, maksudnya ketika menghadap kepada al-
Haqq hendaknya memfokuskan potensi diri sampai merasakan bahwa yang
ada di depannya hanyalah al-Haqq dan bila tidak bisa merasakan itu maka ia
harus yakin bahwa al-Haqq senantiasa memperhatikannya. Sementara
khusyu’ dalam pandangan sufi ada tiga tingkatan: (a) khusyu’ karena khauf
(takut) dan kehinaan diri. Khusyu’ ini untuk para hamba-Nya dan para zahid;
(b) khusyu’ karena pengagungan, kehebatan dan kemuliaan al-Haqq. Khusyu’
ini untuk para murid dan para al-salik; dan (c) khusyu’ karena kegembiraaan,
kebahagiaan dan penghampiran. Khusyu’ ini untuk orang yang sampai pada
tingkat makrifat dan bertemu dengan al-Haqq (al-wasil min al-‘arifin). Maqam
ini untuk salat qurratu a’yun.

c. Nung (dunung, dumunung, sambung). Maksudnya, al-salik telah


masuk pada tahap sampai dan bertemu (al-wushul) dengan al-Haqq. d. Jur
(ajur). Maksudnya, al-salik sampai pada tahap merasa hancur bertemu
dengan al-Haqq, tenggelam dalam kekuasaan-Nya Yang Maha Dahsyat (al-
fana’ billah). e. Gung (agung). Maksudnya, al-salik ketika sampai pada tahap
tenggelam dalam kekuasaan-Nya, ia tidak mampu berbuat apa-apa kecuali
hanya mengucapkan kalimat Gusti Pangeran Kang Moho Agung (Allah Yang
Maha Agung).24

Ini kreasi yang mencoba memaknai suara gamelan dari perspektif


tasawuf guna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah hingga
mencapai al-wushul (bertemu dengan Allah). Bunyi gamelan itu adalah nang,

24
Ibid., h. 101-102.
ning, nung, jur, dan gung. Nang (tenang) dan ning (hening) ini masih berkaitan
dengan cara salat yang khusyu’. Dari cara salat yang khusyu’ akhirnya bisa
menghasilkan nung (dumunung, bersambung atau al-wushul dengan Allah),
jur (merasa hancur ketika bertemu dengan Allah), dan gung (akhirnya hanya
mengucapkan Allah Yang Maha Agung.

Beberapa tokoh penting yang berkontribusi mengajarkan jalan


(thariqah) dalam suasana tasawuf di Indonesia.

1. Perkembangan taswuf di Pulau Sumatera


a. Hamzah Fansuri yang berfaham Wahdatul Wujud (Falsafi). Riwayat
hidup Hamzah Fansuri tidak banyak yang diuraikan secara
terperinci. Beliau berasal dari daerah Barus dan kemunculannya
dikenal pada masa kekuasaan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah pada
penghujung abad ke-16. Beliau adalah ahli tasawuf asli Melayu yang
suka mengembara, menjelajahi Timur Tengah, Siam, Malaya, dan
beberapa pulau di Nusantara. Hamzah Fansuri (w. 1604 M) terkenal
dengan tulisannya, misalnya; Syair Perahu, Syair Burung Pingai,
sehingga membuat ajaran Tasawuf banyak dikenal oleh banyak
orang. Adapun ajaran yang dikembangkannya adalah:
1) Wujud. Menurutnya, bahwa wujud itu hanyalah satu. Wujud
yang satu itu berkulit dan berisi, atau ada yang lahir dan ada
yang batin. Semua benda-benda yang ada, merupakan
pernyataan saja dari wujud yang hakiki, dan wujud yang
hakiki itu adalah Al-Haq yaitu Allah SWT.
Wujud itu mempunyai tujuh martabat (hakikatnya satu), yaitu
a) Ahadiyah; hakikat sejati dari Allah,
b) Wahda; hakikat dari Muhammad SAW,
c) Wahdiyah; hakikat dari Adam,
d) Alam arwah; hakikat dari nyawa,
e) Alam mitsal; hakikat dari segala bentuk,
f) Alam ajsam; hakikat tubuh,
g) Alam insan; hakikat manusia.
2) Allah. Menurutnya Allah adalah Dzat yang mutlak dan qadim,
first causal (sebab pertama) dan pencipta alam semesta. Tuhan
itu ada dalam diri manusia, tetapi Tuhan itu tidak identik
dengan alam.
3) Penciptaan. Menurutnya bahwa wujud Tuhan itu sebagai
suatu lautan yang dalam yang tak bergerak dan alam semesta
ini merupakan gelombang dari lautan itu. Eksistensi dunia ini
bukanlah wujud yang hakiki.
4) Manusia. Menurutnya manusia adalah dunia kecil atau
mikrokosmos yang di dalamnya terkandung segala sesuatu
(makrokosmos). Untuk dapat mengenal Allah dan bisa
bertemu dengan-Nya, seseorang harus dapat menembus hijab
yang membatasi dirinya dengan Tuhan. Hijab itu adalah
kejamakan di alam dunia ini.
5) Kelepasan. Menurutnya manusia harus mengalami kelepasan
dengan dunia yang harus ditempuh melalui Syari’at, Tharekat,
Hakikat, dan Ma’rifat, yang secara berturut-turut terdiri dari
alam nasut (alam manusia), alam malakut (malaikat), alam
jabarut (puasa) dan fana.25
b. Kemudian muridnya Syekh Samsudin bin Abdillah As-Sumatrani
(Syamsuddin Pasai), hidup antara tahun 1575-1630 M) yang
bermukim di Aceh. Buku-buku yang pernah beliau tulis,
diantaranya; Jauhar al-Haqoid, Risalatul Bayyin Mulahazat al-
Muwahidin ‘ala al-Muhlidi fi dzikrullah. Pokok-pokok ajarannya
mengenai 1). Allah itu Esa adanya, Qadim dan Baqa. 2). Penciptaan

Usman Said, dkk, Pengantar Ilmu Tasawuf (Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam
25

Departemen Agama, 1982)hlm.187-195.


dari Dzat yang Mutlak melalui tahap tingkatan, yaitu ahadiya,
wahda, wahidiya, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam, dan alam
insan. 3). tentang manusia, manusia ini semacam obyek dimana
Allah menzhahirkan sifatnya.
c. Syekh Abdul Ra’uf Singkel (Syekh Abdul Ra’uf bin Ali Al-Fansuri
al-Jawi). Lahir di Fansur tahun 1620 M. yang menyebarkan Tarekat
Syattariyah dan kemudian diikuti oleh murid-muridnya di daerah
Aceh dan Pariaman (1620-1693 M). Beberapa pandangannya
mengenai hati manusia yang menjadi unsur penting dalam tubuh,
dzikir yaitu mengingat Allah seraya menyebut namanya dengan
ucapan (jahar) atau dengan hati (sirri).
d. Syekh Burhanuddin (1646-1693 M), beliau merupakan penduduk
asli Minangkabau, lahir pada tahun 1056 H/1646 M dan meninggal
pada bulan Syafar 1111 H/1693 M. Murid dari Syekh Abdul Ra’uf
Singkel yang berpaham Syafi’i. Beliau mendirikan madrasah dan
mengajar di ulakan, diantara murid-murid yang pernah belajar
dengan beliau adalah; Tuanku Mansingan Nan Tuo, Tuanku Imam
Bonjol.

e. Nuruddin ar-Raniri
1) Riwayat Hidupnya
Nama lengkapnya ialah nuruddin bin Ali bin Hasanji bin
Muhammad Hamid Ar-Raniry. Ia berasal dari Ranir ( Rander )
Gujarat. Waktu mudanya pernah belajar di Hadramaut kepada
seorang guru yang bernama Abu Hafs Umar bin Abdullah
Basyaiban. Ia datang ke Aceh pada tanggal 6 Muharram 1075
H/1637 M. Dan diduga ia tinggal di Aceh sampai tahun 1644 M.
Kemasyhurannya tersiar jauh keluar daerah Aceh. Walaupun ia
berasal dari India, tapi karangan-karangannya ada yang ditulis
dalam bahasa Arab dan Melayu.
2) Ajarannya
Dapat diketahui bahwa paham Ar-raniry sebenarnya hampir
sama dengan Hamzah Fansuri, terutama dalam masalah
hubungan antara wujud Tuhan dengan alam. Alam ini
digambarkan sebagai wujud yang majaz. Hal ini dapat dimaklumi,
oleh karena sebagaimana sufi lainnya, Ar-Raniry pun berusaha
memberi paham betapa Esa nya Tuhan itu secara Haqiqi.
f. Ulama sufi yang lainnya adalah Syekh Abdu samad al-Palimbani.
Salah satu hasil dari pandangannya tentang keutamaan berzikir,
meliputi tatacara saat berzikir dan tatacara setelah seorang murid
melakukan zikir.

2. Perkembangan tasawuf di Pulau Jawa


Penyebaran dan penyiaran agama islam di tanah Jawa pada
zaman dahulu adalah dipelopori para mubaligh islam yang dikenal
dengan sebutan wali. Dari segi bahasa, makna wali yang ditulis dengan
aksara arab “berarti orang yang mencintai dan dicintai”. Waliyullah
artinya orang yang mencintai dan dicintai Allah SWT. Wali songo artinya
sembilan orang wali. Di samping sebagai muballigh islam, mereka ini juga
adalah orang-orang yang mempunyai peranan penting dalam
pemerintahan. Mereka mempunyai fungsi rangkap, yaitu sebagai
muballigh atau guru dan juga sebagai pemimpin masyarakat
pendamping raja. Para wali sango tersebut adalah; Maulana Malik
Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan
Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati.
a. Maulana Malik Ibrahim
1.) Riwayat Hidupnya
Maulana malik Ibrahim adalah putra dari maulana
Muhammad Jumaidil Kubra bin Sayid Zainul Husein, bin sayid
zainul Kubra bin Sayid Zainal Abidin, bin Husein, bin Fatimah,
binti Muhammad SAW.
Disepakati oleh para ahli sejarah, bahwa Maulana Malik
Ibrahim bukanlah putra asli Indonesia, ia datang ke pulau Jawa
pada tahun 1399 M. Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan
agama islam di tanah Jawa ialah di daerah Jawa Timur.
2.) Beberapa ajarannya
Dalam seluruh usaha dakwahnya, nampaknya ia lebih banyak
mengutamakan masalah tauhid dan akhlaq, masalah Tuahan
dan ke Esaan Nya dan masalah perilaku manusia. Mengenai
filsafat ketuhanan antara lain ia mengatakan bahwa “ yang
dinamakan Allah itu ialah sesungguhnya yang diperlukan
adanya”.
b. Sunan Ampel ( 1401-1452)
1) Riwayat Hidupnya
Nama kecilnya ialah Raden Rahmat, seperti diuraikan di muka,
ia adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim. Ia dilahirkan tahun
1401 M, dan dibesarkan di luar Jawa, diperkirakan mulai
menetap di Jawa pada tahun 1431 M.
2) Beberapa ajarannya
Sebagai penyambung ayahandanya Maulana Malik Ibrahim,
maka ajarannya lebih banyak diutamakan kepada masalah yang
berkenaan dengan pemurnian tauhid dan pembinaan akhlaq.
c. Sunan Bonang
1 ). Riwayat Hidupnya
Lahir pada tahun 1449 M. Merupakan salah seorang putra dari
Sunan Ampel. beliau adalah seseorang yang terhormat di
kalangan agamawan maupun bangsawan dan masyarakat. Jiwa
seni adalah merupakan satu keistemewaan yang dimilikinya dan
dimanfaatkannya dalam usaha dakwahnya.
2 ). Pokok-Pokok Ajarannya
Primbon Sunan Bonang memuat wejangan yang didahului
dengan basmallah, hamdallah, dan salawat. Isinya penjelasan
yang sistematis tentang usul suluk ( tauhid dan tasawwuf ) dan
berpangkal kepada kalimat syahadat.
d. Sunan Giri
1) Riwayat Hidupnya

Disebut juga dengan raden paku, sunan Giri merupakan orang


penting dan terhormat baik di kalangan kerajaan maupun di
tengah-tengah ulama’. Beliau dijadikan anak angkat oleh Nyi
Gede Maloka (Nyai Ageng Tandes), disekolahkannya ke Ampel dan
berguru kepada Sunan Ampel.

2) Pokok-Pokok Ajarannya

Sebagai seorang pendidik, Sunan Giri banyak menyampaikan


ajaran-ajarannya dalam bentuk permainan anak-anak dan
berbagai macam lagu yang berjiwa agama. Selain itu, sunan giri
juga mengajarkan syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

e. Sunan Drajat
1). Riwayat Hidupnya
Nama kecilnya Syarifuddin dan juga sering disebut dengan nama
Raden Qasim. Beliau adalah salah seorang putra darri Ssuyang
banyak memperhatikan soal-soal kesejahteraan dan sosial.
2 ). Beberapa ajarannya
Dalam setiap kesempatan dakwahnya yang menjadi
pembahasannya adalah masalah sosial yang terkait dengan ajaran-
ajaran islam.
f. Sunan Kaljaga

Nama Raden Mas Syahid, putra Adipati Wilwatikta, menantu


Maulana Malik Ibrahim. Mengalami zaman Majapahit, Demak, dan
Pajang., makamnya di Kadilangu, Demak. Mengaji dengan Sunan
Ampel. Beliau adalah seorang pujangga, seniman besar. Ajarannya,
berupa kesederhanaan atau zuhud.Dalam dunia pemerintahan,beliau
mempersatukan agama dan umara yang disimpulkannya dalam suatu
selogan “Sabdho Pandito Ratu”, yang artinya satunya ucapan raja dan
ulama.

g. Sunan Kudus
Nama Ja’far Sodiq, Raden Amir Haji, putra dari Sunan Ngudung,
menantu Sunan Bonang.eliau terkenal dengan keahliannya
dalam ilmu agama,seperti ilmu tauhid,ushul,hadist,terutama
dalam bidang ilmu fiqh (hukum). Merupakan pujangga dan
sastrawan, mengarang Maskumambang dan Mijil. Ajarannya
berupa akhlak dan zuhud.
h. Sunan Muria
Nama Raden Prawoto, Raden Umar Said, Putra Sunan Kalijaga.
Dengan Dewi Sujinah (putri Sunan Ngudung) melahirkan Raden
Santri atau Sunan Ngadilangu. Beliau mempertahankan gamelan
sebagai media dakwah Islam, mengarang Sinom dan Kinanti.
Ajarannya bersifat sangat sufistik, dan zuhud.Beliau adalah
salah seorang yang berusaha mempertahankan berlangsungnya
gamelan sebagai kesenian Jawa untuk digunakan sebagai media
dakwah Islam ditengah masyarakat.
i. Sunan Gunung Jati
Nama Raden Abdul Kadir, Syarif Hidayatullah, Faletehan, Syekh
Nuruddin Ibrahim bin Israil, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum
Rahmatullah. Putra Maulana Ishak. Makam di Cirebon, wafat
tahun 1570 M. Beliau mengatakan bahwa amal paling utama
adalah menjaga budi pekerti yang luhur denga akhlak yang
mulia.26
3. Perkembangan tasawuf di Kalaimantan

26
Usman Said, dkk. Pengantar Ilmu Tasawuf, 1983, Jakarta: Penerbit, hlm. 186-252.
Sama halnya perkembangan di pulau-pulau lain di nusantara
salah seorang sufi yang terkemuka di Kalimantan ialah Syekh Khatib
As-Sambasi, ketika belajar di Mekkah beliau lebih dikenal dengan nama
Ahmad Khatib bin Abdul Ghafar As-sambasi Al-Jawi. Beliau dipandang
oleh gurunya sebagai ahli Fiqih, Ilmu Hadits, Ilmu Tasawuf dan penghapa
Qur’an. Sementara di Kalimantan Selatan Sufi di kembangkan oleh
Syekh Muhammad Nafi Idris bin Husaei Al-banjiri yang diberi gelar oleh
pengikutnya dengan nama maulana Al-Alamah Al-Mursad Ila Tarikis
Salamah yang hidup semasa dengan Syekh Muhammad Ar-Sad bin
Abdillah Al-Banjiri, tetapi mereka berbeda keahliannya dalam hal agama,
dimana Syekh Muhammad Nafis sangat mendalami Ilmu Tasawuf
sadangkan Syekh Muhammad Ar-Sad lebih mendalami kepada Syari’at.
Tarikat yang lebih mencolok pada Syekh Muhammad Nafis ialah diliha
dari segi teologi yakni Asyariyah dan dari segi mahjab Fiqih lebih kepada
Mahjab Syafi’i.
4. Perkembangan tasawuf Pulau Sulawesi
Hampir semua perkembangan Tasawuf di kepulauan Nusantara
satu sama lain tidak jauh berbeda. Yakni untuk mengIslamkan
penduduk sekitar yang membedakan satu sama lainnya adalah tarekat
yang kemudian berkembangnya saja, di Sulawesi tasawuf yang
berkembang bercorak Sunni dan Falsafi, meskipun pada tarekat Falsafi
banyak mencampur adukan ajaran Tasawuf dengan Ilmu Hitam,
sehingga hal ini semakin membingungkan masyarakat kalangan awam.
Hal seperti inilah yang kemudian membuat ciri Tasawuf dimata
masyrakat semakin direndahkan dan kurang diminati orang. Ulama
Tasawuf dari Sulawesi adalah SyekhYusuf Tajul Khalawati Al-
Makasari, beliau lahir 3 Juli 1629 M, beliau beraliran Tasawuf sunni
yang bermukim di Goa Sulawesi Selatan. Dalam salah satu karangannya
beliau menulis diujung namanya dengan bahasa arab ”al-Mankasti” yaitu
mungkin yang beliau maksudkan adalah ”Makassar” yaitu nama kota di
Sulawesi Selatan dimasa pertengahan dan nama kota itu sekarang
diganti pula dengan ”Ujung Pandang” yaitu mengambil nama yang lebih
tua dari pada nama Makasar.

E. PENGARUH DAN PENGAMALAN TAWASUF DI INDONESIA.


Ajaran tasawuf pada kemudiaannya adalah berhubungan erat
dengan tarikat. Di Indonesia tarikat-tarikat yang telah berkembang dan
punya pengaruh seperti; tarikat Naqsyabandiyah, Qadariyah,
Syattariyah, Saziliyah, Khalawathiyah, dan sebagainya. Melalui murid-
muridnya, secara turun temurun, para pendiri tarikat ini telah
mendapat kehormatan yang cukup tinggi dalam kegiatan keagamaan di
tengah masyarakat. Hal ini sampai sekarang dalam beberapa aktivitas
keagamaan, seperti dalam memulai suatu pengajian, nama Abdul Qadir
Jailani selalu ikut serta.
Selain itu, pengaruh tasawuf dalam pengembangan
kesusasteraaan Jawa yang telah diadopsi yaitu kitab-kitab kuno yang
diubah kedalam bahasa dan syair Jawa baru, dengan memasukkan
unsur-unsur keislaman didalamnya. Karangan-karangan dalam
kesusasteraaan baru, misalnya Serat Cintini yang ditulis pujangga
Yosodipuro II, dkk. Serat Wirid Hidayat Jati oleh Ronggowarsito, dan
kitab Wulangreh karya Paku Buana IV.
F. KESIMPULAN

Kehidupan spiritual di indonesia sebelum datangnya islam


masyarakatnya menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Agama
yang selanjutnya dianut penduduk Indonesia adalah Hindu-Budha yang
dibawa oleh para pedagang India. Hal ini, ditandai dengan berdirinya kerajaan
Budha terbesar di Asia Tenggara, yaitu kerajaan Sriwijaya. Agama islam yang
masuk ke Indonesia didasarkan atas dua pendapat menurut Alwi Shihab,
yaitu pandangan islam yang masuk ke Indonesia pada abad ke tujuh
Hijrah.Selanjutnya, pandangan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada
abad pertama Hijrah.

Tasawuf islam memasuki Indonesia sekitar abad kedua Hijrah sampai


abad ke delapan Hjirah. Perkembangan tasawuf di Pulau Sumatera tokoh-
tokohnya adalah Hamzah Fansuri Syekh Samsudin bin Abdillah As-
Sumatrani (Syamsuddin Pasai), Syekh Abdul Ra’uf Singkel , Syekh
Burhanuddin , Nuruddin ar-Raniri, Syekh Abdu samad al-Palimbani.
Perkembangan tasawuf di Pulau Jawa tokoh-tokohnya adalah Maulana Malik
Ibrahim , Sunan Ampel , Sunan Bonang , Sunan Giri , Sunan Drajat , Sunan
Kaljaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati. Perkembangan
tasawuf di Kalaimantan tokoh-tokohnya adalah Syekh Khatib As-Sambasi dan
Syekh Muhammad Nafi Idris bin Husaei Al-banjiri. Perkembangan tasawuf
Pulau Sulawesi tokohnya adalah SyekhYusuf Tajul Khalawati Al-Makasari.

bahwa para pemikir Islam Indonesia (khususnya para ahli tasawuf)


telah berhasil merespons berbagai tantangan yang dihadapkan kepada
tasawuf selama ini secara kreatif. Mereka mencoba menghadirkan berbagai
alternatif model tasawuf yang semuanya lantaran bersinggungan dengan
tantangantantangan yang dihadapi tersebut. Oleh karena itu, mereka
mengemas bentuk tasawuf yang sangat bervariasi, mulai dari tasawuf sosial,
tasawuf positif, tasawuf perkotaan, tasawuf falsafi, tasawuf irfani, tasawuf
kontekstual, tasawuf Jawa, hingga tasawuf Muhammadiyah.

Pengaruh dan pengamalan tawasuf di Indonesia memunculkan ajaran


tasawuf pada kemudiaannya adalah berhubungan erat dengan tarikat. Di
Indonesia tarikat-tarikat yang telah berkembang dan punya pengaruh seperti;
tarikat Naqsyabandiyah, Qadariyah, Syattariyah, Saziliyah, Khalawathiyah,
dan sebagainya.Selain itu berpengaruh juga terhadap perkembangan
kesusastraan Jawa.
DAFTAR PUSTAKA

Shihab,Alwi.2009. Akar Tasawuf di Indonesia.Jakarta: MMU


Said, Usman ,dkk.1982.Pengantar Ilmu Tasawuf .Jakarta: Direktorat
Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama

Hamka.1980. Tasawuf Pekembangan dan Pemurniannya.Jakarta: Yayasan


Nurul Islam

Anshori, M. Afif, Tasawuf Falsafi Syaikh Hamzah Fansuri, Yogyakarta:


Gelombang Pasang, 2004. Azra,

Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad


XVII dan XVIII, Melacak

Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1994.


Chusnan, Masyitoh,

Tasawuf Muhammadiyah Menyelami Spiritual Leadership AR. Fakhruddin,


Jakarta: Kubah ilmu, 2012.

Dawami, Mohammad, Tasawuf Positif dalam Pemikiran Hamka, Yogyakarta:


Fajar Pustaka Baru, 2000.

Fealy, Greg dan Greg Barton (eds.), Nahdlatul Ulama Traditional Islam and
Modernity in Indonesia,

Clayton: Monash Asia Institute Monash University, 1996. Madjid,


Nurcholish, Islam Doktrin dan

Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan


dan Kemodernan, Jakarta:

Yayasan Wakaf Paramadina, 1992. Al-Naisaburiy, Abi al-Qasim ‘Abd al-


Karim Hawazin al-Qusyairiy,

Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, t.t.p: Dar al-Khair, t.t. Sila,


Muh. Adlin (et.al.), Sufi

Nasution, Harun, Pembaruan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan,


Jakarta: Bulan Bintang, 1975. Purwadi, Tasawuf Jawa, Yogyakarta: Narasi,
2003. Simuh, Mistik Islam Kejawen R. Ng.

Ranggawarsita: Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati, Jakarta: UI


Press, 1988. Syukur, M.
Amin, Tasawuf Kontekstual Solusi Problem Manusia Modern, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003. ______, Tasawuf Sosial, Umar Natuna (peny.),
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

______, Zuhud di Abad Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Tamrin,


Dahlan, Tasawuf Irfani Tutup Nasut Buka Lahut, Malang: UIN