Anda di halaman 1dari 4

Nama : Raymondo Velando S

NIM : 03031381720001
Shift : Kamis, 13.00–16.00 WIB
Kelompok : 1

PERBANDINGAN PEMBUATAN BIODIESEL DENGAN


MENGGUNAKAN KATALIS HOMOGEN DAN HETEROGEN

Pembuatan biodiesel biasanya memerlukan alkohol untuk memecah rantai


trigliserida yang terdapat dalam minyak nabati. Alkohol yang biasa digunakan
adalah metanol dan etanol. Metanol merupakan jenis alkohol yang paling disukai
karena lebih reaktif karena ikatan rantai karbon dengan satu unsur karbon yang
lebih cepat untuk memutuskan ikatan rantai trigliserida untuk mendapatkan untuk
mendapatkan hasil fatty acid methyl ester dengan lebih cepat (Aziz, 2007).
Kerugian dari metanol adalah sifatnya yang beracun, berbahaya bagi kulit,
mata dan paru-paru. Selain itu juga kelemahan dengan menggunakan alkohol jenis
etanol, pada proses pemisahan hasil samping dari reaksi pembuatan fatty methyl
ester yaitu gliserin dengan menggunakan etanol akan jauh lebih sulit jauh lebih sulit
karena kelarutan etanol dengan gliserin cukup tinggi dan jika proses pemisahan
tidak dilakukan dengan baik maka akan berakhir dengan terbentuknya emulsi
seperti koloid yang akan sulit untuk dipisahkan (Freedman dan Pryde, 1986).
Minyak nabati (trigliserida) adalah sejenis minyak yang terbuat dari
tumbuhan lebih tepatnya pada biji-bijian dari tumbuhan yang biasa digunakan
sebagai bahan baku untuk pembuatan fatty acid methyl ester. Pada umumnya
minyak nabati mengandung 90–98% trigliserida, yaitu tiga molekul asam lemak
yaitu monogliserida, digliserida, dan trigliserida yang terikat gliserol. Kebanyakan
trigliserida minyak dan lemak yang terdapat di alam adalah trigliserida campuran
yang artinya, asam lemak tidaklah memiliki komponen yang sama (Ketaren, 1986).
Trigliserida adalah bentuk triester dari gliserol dengan asam–asam lemak
dengan panjang rantai karbon anatara 6–30. Trigliserida adalah senyawa terbanyak
yang dikandung dalam minyak atau lemak yang merupakan komponen terbesar
penyusun minyak nabati. Selain trigliserida, juga terdapat beberapa komponen
lainnya yaitu monogliserida dan digliserida sekitar 5–10%-wt (Ketaren, 1986).
Pembuatan proses pembuatan biodiesel ada 2 tahap yaitu proses
esterifikasi dan transesterifikasi. Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak
bebas menjadi metil ester. Esterifikasi mereaksikan minyak asam lemak bebas
dengan alkohol (metanol), proses esterifikasi dilakukan jika bahan baku trigliserida
memiliki kadar asam lemak bebas yang lebih besar dari 5% wt. Transesterifikasi
adalah proses konversi trigliserida menjadi fatty acid methyl ester. Perbedaan antara
proses esterifikasi dan transesterifikasi adalah penggunaan katalis, pada esterifikasi
menggunakan katalis asam kuat dan pada transesterifikasi menggunakan basa kuat.
Transesterifikasi yang biasa juga disebut alkoholisis ialah tahap proses
konversi dari trigliserida (minyak nabati) menjadi alkil ester melalui reaksi dengan
alcohol sehingga terjadi perpindahan gugus alkil pada alkohol untuk membentuk
metil ester dan gliserol yang menjadi produk samping dan alkohol unreacted.
Pengaruh suhu, kecepatan pengaduk, dan rasio mol reaktan juga akan membuat
hasil konversi dan kualitas dari fatty acid methyl ester yang dihasilkan.
Katalis sangat memiliki peran yang penting dalam mempercepat laju
reaksi proses esterifikasi dan transesterifikasi, pembuatan biodiesel selama ini lebih
banyak menggunakan katalis homogen, seperti asam dan basa. Penggunaan katalis
homogen ini menimbulkan permasalahan pada produk yang dihasilkan karena
masih mengandung katalis pada produk yang cukup sulit untuk dipisahkan dan
terkadang juga sering membentuk suatu emulsi berbentuk koloid pada biodiesel
sehingga proses separasinya menjadi tidak efisien (Buchori dan Widayat, 2009).
Proses pembuatan biodiesel dengan menggunakan katalis homogen yaitu
proses esterifikasi untuk mengurangi asam lemak bebas pada minyak goreng bekas
yang memiliki kadar FFA >5% dan transesterifikasi untuk pembentukan FAME
mendapatkan hail penurunan FFA dari 2,5% menjadi 1,1%, sedangkan untuk proses
transesterifikasi dengan katalis homogen didapatkan yield sebesar 88%. Pada
kondisi operasi suhu 60ºC dan tekanan 1 atm (Isalmi dkk, 2011).
Jika dipersentasikan pada proses esterifikasi dengan menggunakan katalis
homogen dengan jumlah asam lemak bebas yang berhasil terkonversi yaitu 44%.
Sedangkan pada esterifikasi yang dilakukan lagi oleh Isalmi dkk, 2012 dengan
menggunakan katalis heterogen yaitu zeolit yang di aktivasi dengan menggunakan
HCl 6N sebanyak 125 ml lalu dilakukan proses pencucian yang berfungsi untuk
menghilangkan ioc Cl- menjadi H-zeolite sebagai katalis mendapatkan nilai
konversi terbaik pada waktu reaksi selama 5 jam dengan menggunakan variabel
konsentrasi katalis sebanyak 1% mendapatkan hasil konversi 12% FFA.
Proses esterifikasi yang dilakukan oleh keduanya menunjukan perbedaan
yaitu pada proses yang menggunakan katalis padat H-zeolit berhasil mendapatkan
hasil konversi 12% pada jam ke 5 sedangkan dengan menggunakan katalis cair
mendapatkan hasil konversi 44% hanya dalam waktu 2,5 jam. Sehingga didapatkan
kesimpulan bahwa dengan menggunakan katalis homogen bisa didapatkan nilai
konversi yang lebih tinggi dan waktu reaksi yang lebih kecil dari katalis heterogen.
Pengaruh waktu reaksi yang berbeda dari kedua jenis katalis disebabkan
karena zeolit yang merupakan katalis heterogen tidak membentuk satu fasa dengan
reaktan sehingga membutuhkan banyak waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi,
sedangkan pada penggunaan katalis homogen dapat terkonversi menjadi 44% pada
waktu reaksi 2,5 jam, penyebab reaksi dengan menggunakan katalis homogen lebih
cepat dan lebih tinggi konversi yaitu kebalikkan dari heterogen yaitu fasa katalis
yang berada pada satu fasa dengan reaktan pada kondisi 60ºC sehingga katalis dan
reaktan berada pada kondisi yang lebih mudah mempercepat laju reaksi.
Fatty acid methyl ester juga tidak bisa digunakan jika tidak memenuhi
kriteria dari segi kualitas yang dihasilkan, sehingga tidak bisa dilihat hanya dari
segi kuantitas yang dihasilkan. Pada fatty acid methyl ester yang dihasilkan dari
reaksi menggunakan katalis homogen telah memenuhi kriteria sebagai biodiesel
dengan menggunakan pengujian berdasarkan standar nasional Indonesia.

Tabel 1. Sifat fisik dan kimia biodiesel dari sintesis dengan katalis homogen

Biodiesel hasil
Sifat fisik dan kimia SNI Biodiesel
penelitian
Densitas (40ºC), kg/L 850 850-890
Viskositas kinematik (40ºC), cSt 3,2 2,3-6
Bilangan asam, mgKOH/g 0,5 Maks. 0,8
Kadar air, % vol 0,02 Mak. 0,05
Titik nyala ºC 176 Min. 100
Titik tuang ºC 9 Mak. 18
Titik kabut ºC 14,6 Maks. 20
Indeks cetan 51 Min. 51
DAFTAR PUSTAKA

Aziz. 2007. Kinetika Reaksi Transesterifikasi Minyak Goreng Bekas. Jurnal Kimia
Valensi. Volume 1, No.1.
Buchori dan widayat. 2009. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas
dengan Proses Catalytic Cracking. Prosiding Seminar Nasional Teknik
Kimia Indonesia. Bandung.
Freedman. Dkk. 1986. Transesterification of Kinetic of Soybean Oil. J. Am.Oil
Chem.Soc. Vol 63, Hal. 1375-1380.
Isalmi. dkk. 2012. Penggunaan Zeolit sebagai Katalis dalam Pembuatan Biodiesel.
Jurnal Kimia Valensi. Volume 2, No.1, Hal. 511-515.
Isalmi. dkk. 2011. Pembuatan Produk Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas dengan
Cara Esterifikasi dan Transesterifikasi. Jurnal Kimia Valensi. Volume 2,
No.3, Hal. 443-448.
Ketaren. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. UI Press Media. Jakarta.