Anda di halaman 1dari 18

91

BAB VI
KEKUATAN GESER TANAH

6.1 Pendahuluan

Kekuatan geser tanah merupakan perlawanan internal tanah


tersebut persatuan luas terhadap keruntuhan atau pergeseran
sepanjang bidang geser dalam tanah yang dimaksud (Braja
M.Das,1985). Dalam buku yang lain disebutkan bahwa kekuatan geser
tanah adalah kekuatan tanah untuk memikul beban-beban ataugaya
yang dapat menyebabkan kelongsoran,keruntuhan, gelincir dan
pergeseran tanah.

Problem dianalisa dengan mengasumsikan pada kondisi


keseimbangan batas, dengan tanah berada dalam keadaan longsor
sepanjang permukaan lingkaran longsor, berarti kekuatan geser
bekerja sepenuhnya. Bila keadaan ini dapat didekati, deformasi akan
menjadi tak terhingga besarnya sehingga deformasi dijaga pada suatu
nilai yang dapat diterima dengan mencantumkan nilai faktor keamanan
pada kondisi longsor. Berdasarkan pengalaman diketahui berapa
faktor keamanan yang sesuai dengan permasalahan perencanaan
tanah yang umum. Sebagai contoh, dalam stabilitas lereng, deformasi
umumnya tidak kritis dan dapat digunakan faktor keamanan yang
rendah (yakni FS = 1,5). Untuk fondasi, deformasi lebih kritis
sehingga umumnya digunakan FS = 3. Penggunaan analisa-batas
(limit analysis) yang sederhana, memakai nilai faktor kuat geser
tanah, mendominasi perencanaan dan merupakan alasan mengapa
teori kuat geser dan pengukuran parameter kuat geser menjadi
dominan dalam mekanika tanah dan pengujian tanah.

Pengetahuan tentang kekuatan geser diperlukan untuk


menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan
stabilitas massa tanah. Bila suatu titik pada sembarang bidang dari
suatu massa tanah memiliki tegangan geser yang sama dengan
kekuatan gesemya, maka keruntuhan akan terjadi pada titik tersebut.
Kekuatan geser tanah (Tr) di suatu titik pada suatu bidang tertentu
dikemukakan oleh Coulomb sebagai suatu fungsi linier terhadap
92

tegangan normal ( f ) pada bidang tersebut pada titik yang sama,


sebagai berikut:

Dimana c dan ᶲ adalah parameter-parameter geser,, yang berturut-


turut didefinisikan sebagai kohesi (cohesion intercept atau apparent
cohesion) dan sudut tahanan geser (angle of shearing resistance)

Berdasarkan konsep Terzaghi, tegangan geser pada suatu


tanah hanya dapat ditahan oleh tegangan partikel-partikel padatnya.
Kekuatan geser tanah dapat juga dinyatakan sebagai fungsi dari
tegangan efektif sebagai berikut :

Dimana c' dan ᶲ' adalah parameter-paramter kekuatan geser


pada tcgangan efektif Dengan demikian keruntuhan akan tejadi
pada titik yang mengalami keadaan kritis yang disebabkan oleh
kombinasi antara tegangan geser dan tegangan normal efektif

Faktor yang mempengaruhi kuat geser tanah (pengaruh


lapangan ):

 Keadaan tanah: angka pori, ukuran dan bentuk butiran


 Jenis tanah : pasir, berpasir, lempung dsb
 Kadar air (terutama lempung)
 Jenis beban dan tingkatnya
 Kondisi Anisotropis

Kuat geser merupakan hal yang sangat penting dalam analisis


lereng. Umumnya, keruntuhan lereng yang terjadi selama ini adalah
akibat kekuatan gesernya yang terlampaui. Dengan demikian, studi
mengenai kekuatan geser tanah adalah hal yang sangat penting
dilakukan sebelum analisis stabilitas lereng yang dilaksanakan. Kuat
geser adalah gaya perlawanan yang dilakukan. Kuatan geser ini terdiri
93

dari dua hal penting, yaitu:

1. Gesekan dalam, sebanding dengan tegangan efektif yang bekerja


pada bidang geser.
2. Kohesi yang tergantung pada jenis tanah.

Faktor yang mempengaruhi kuat geser tanah (pada saat pengujian di


laboraturium):

- Metode pengujian
- Gangguan terhadap contoh tanah
- Kadar air
- Tingkat regangan

Keruntuhan geser (Shear failure) tanah terjadi bukan


disebabkan karena hancurnya butir-butir tanah tersebut tetapi karena
andanya gerak relative antara butir-butir tanah tersebut. Pada
peristiwa kelongsoran suatu lereng berarti telah terjadi pergeseran
dalam butir-butir tanah tersebut. Kekuatan geser yang dimiliki suatu
tanah disebabkan oleh :

1. Pada tanah berbutir halus (kohesif) misalnya lempung kekuatan


geser yang dimiliki tanah disebabkan karena adanya kohesi atau
lekatan antara butir-butir tanah (c soil).
2. Pada tanah berbutir kasar (non kohesif), kekuatan geser
disebabkan karena adanya gesekan antara butir-butir tanah
sehingga sering disebut sudut gesek dalam (φ soil )
3. Pada tanah yang merupakan campuran antara tanah halus dan
tanah kasar (c dan Ø soil), kekuatan geser disebabkan karena
adanya lekatan (karena kohesi) dan gesekan antara butir-butir
tanah (karena Ø)

6,2 Pengujian Kekuatan Geser

Parameter-parameter kekuatan geser untuk suatu tanah


tertentu dapat ditentukan dari hasil-hasil pengujian laboratorium
pada contoh-contoh tanah lapangan (in-situ soil) yang mewakili.
Diperlukan ketelitian dan perhatian yang besar terhadap proses
pengambilan contoh, penyimpanan contoh, dan perawatan contoh
94

sebelum pengujian, terutama untuk contoh tidak terganggu


(undisturbed), dimana struktut tanah di lapangan dan kadar airnya
harus dipertahankan. Untuk tanah lempung, benda uji didapatkan dari
tabung-tabung contoh atau kotak-kotak contoh.

Dalam laboratorium kuat geser dapat diperoleh dari tes:

- Tes Geser langsung


- Tes Kuat tekan-bebas (Unconfined Compression Tes)
- Tes Triaksial

Untuk menentukan tipe tes yang digunakan, dapat dipertimbangkan


hal-hal berikut:

a. Pasir Bersih dan Kerikil

Contoh tak-terganggu tak mungkin diperoleh, untuk kebanyakan


masalah pondasi sudut geser dalam dapat didekati dari korelasinya
dengan tahanan penetrasi, kepadatan relatif dan dari klasifikasi tanah.

Hasil yang lebih akurat dapat diperoleh dari Tes Geser langsung,
rentang nilai dapat diperoleh dari Tes geser langsung dari contoh
dalam keadaan paling lepas dan paling padat.

b. Lempung

Untuk kebanyakan masalah pondasi, Tes Kuat Tekan Bebas


pada contoh tak-terganggu merupakan cara praktis untuk menentukan
kuat geser lempung. Nilai kohesi (c) dapat diambil 1/2 dari kuat tekan
beban (qu), dan-sudut geser dalam dapat dianggap nol. Korelasi qu
dengan tahanan penetrasi dapat digunakan.

Tes Kipas Geser (Vane) dapat dilakukan terhadap tanah lempung


sangat lunak dan sulit diambil contoh tak terganggu.

c. Lanau dan Tanah Campuran

Untuk tanah jenis ini sukar untuk menformulasikan jenis tes


yang dipakai, pendekatan yang konservatif dapat diperoleh dari Tes
95

Kuat Tekan Bebas. .Jika kohesi dominan sekali maka sudut geser
dalam dapat diabaikan. Jika kuat tekan bebas kecil sekali, tanah dapat
diperlakukan sebagai tanah granular (non kohesif dan sudut geser
dapat diperoleh dari Tes geser langsung.

Jika sulit untuk menentukan faktor mana yang dominan antara c dan
dapat digunakan tes Triaksial untuk Jika sulit untuk menentukan faktor
mana yang dominan antara c dan dapat digunakan tes Triaksial

6.3 Uji Triaksial

Pengujian ini merupakan pengujian kekuatan geser yang


sering digunakan dan cocok untuk semua jenis tanah. Keuntungannya
adalah bahwa kondisi pengaliran dapat dikontrol, tekanan air pori
dapat diukur dan, bila diperlukan, tanah jenuh dengan permeabilitas
rendah dapat dibuat terkonsolidasi. Dalam pengujian ini digunakan
sebuah contoh berbentuk silinder dengan perbandingan panjang
terhadap diameter sebanyak 2. Contoh tersebut dibebani secara
simetri aksial seperti diperlihatkan pada gambar 11.1. Uji ini
menggunakan sebuah perangkat alat uji seperti diperlihatkan pada
gambar 11.2, dengan beberapa bagian terpenting. Dasar alat yang
berbentuk lingkaran memiliki sebuah alas untuk meletakkan contoh
tanah. Alas tersebut memiliki sebuali lubang masuk yang digunakan
untuk pengaliran air atau untuk pengukuran tekanan air pori. Ada juga
alas yang memiliki dua buah lubang masuk, sebuah untuk pengaliran
air dan sebuah lainnya untuk pengukuran tekanan air pori.
96

Gambar 6.1 Sistem Tegangan pada Uji Triaksial

Contoh ditempatkan di piringan atau piringan logam di atas alat


percobaan. Kemudian di atas contoh tersebut dibungkus dengan
sebuah selubung karet. Setelah itu digunakan cincin O yang diberi
suatu gaya tarik untuk menutup selubung karet tersebut pada sisi alas
dan sisi atasnya. Bila contoh yang digunakan adalah pasir maka
contoh tanah tersebut harus dibungkus dengan selubung karet dan
ditempatkan dalam sebuah tabung yang dirapatkan disekeliling alas.
Sebelum tekanan sel (all-round pressure diberikan sewaktu tabung
tersebut akan dipasang, digunakan sebuah tekanan negatif kecil untuk
mempertahankan stabilitas contoh). Sebuah saluran pengaliran juga
harus dibuat dari penutup beban sampai permukaan atas contoh,
sebuah tabung plastik yang fleksibel ditembuskan dari penutup beban
dan bagian akhir batang beban memiliki kedudukan yang kuat, beban
dialirkan melalui sebuah bola baja. Contoh tanah diberi tekanan cairan
menyeluruh pada intinya, sehingga bila mungkin diperbolehkan
adanya konsolidasi. Kemudian secara perlahan-lahan terjadi kenaikan
tegangan aksial dengan menggunakan beban tekan melalui batang
sampai terjadi keruntuhan pada contoh, biasanya pada bidang
diagonal. Sistem yang menggunakan tekanan menyeluruh tersebut
harus dapat mengatasi perubahan tekanan akibat kebocoran inti atau
perubahan volume contoh.
97

Tekanan sel disebut tegangan utama kecil, sedangkan jumlah


tekanan sel dan tegangan aksial yang digunakan disebut tegangan
utama besar, berdasarkan bahwa tidak ada tegangan geser pada
permukaan contoh. Sehingga tegangan aksial yang (digunakan
tersebut dinamakan selisih tegangan utama. Tegangan utama
menengah (intermediate principal stress) diambil sama besar dengan
tegangan utama kecil. Kondisi-kondisi tegangan tersebut dapat
disajikan dalam bentuk lingkaran Mohr atau titik tegangan pada setiap
pengujian dan khususnya pada keadaan runtuh. Bila beberapa contoh
diuji, masingmasing dengan harga tekanan sel yang berbeda-beda,
maka akan dapat digambarkan sebuah garis selubung keruntuhan dan
parameter-parameter kekuatan geser tanah tersebut dapat ditentukan.

Pengukuran tekanan air pori. Tekanan air pori dari contoh


tanah pada uji triaksial dapat diukur, dengan demikian memungkinkan
hasil-hasil pengujian tersebut disajikan dalam tegangan efektif
Tekanan air pori harus dihitung dalam keadaan tanpa pengaliran (no
flow), baik pengaliran ke luar maupun ke dalam contoh. Jika tidak,
baru dilakukan koreksi terhadap harga tekanan tersebut. Ujung contoh
pada saat pengaliran terjadi pada ujung lainnya. Keadaan tanpa
pengaliran dipertahankan dengan menggunakan alat yang disebut
indikator botol, yang pada dasamya terdiri dari tabung - U yang
sebagian diisi merkuri.

Kasus yang khusus pada uji triaksial ini adalah uji tekan tak terkekang
(Unconfined Compreession Test) yang menggunakan tegangan aksial
untuk contoh dengan tekanan sel nol (tekanan atmosfer). Pada
pengujian ini tidak diperlukan adanya selubung karet. Meskipun
demikian, pengujian ini hanya digunakan untuk lempung jenuh
sempurna yang utuh.
98

Gambar 6.2 Alat Triaksial

6.4 Jenis-jenis pengujian

Terdapat berbagai macam kemungkinan prosedur pengujian


dengan alat triaksial, tetapi hanya ada tiga jenis pengujian yang pokok,
yaitu :

1. Tak terkonsolidasi - tak terdrainasi (Unconsolidated-undrained).


Contoh tanah mengalami tekanan se tertentu, kemudian digunakan
selisih tegangan utama secara tiba-tiba tanpa pengaliran pada
setiap taliap pengujian. (Prosedur untuk uji triaksial tak
terkonsolidasi-tak terdrainasi tersebut telah distandarisasikan pada
BS [13771. Rincian prosedur untuk uji tekanan tak-terkekang yang
menggunakan sebuah peralatan portabel juga diberikan pada BS
[1377].
2. Terkonsolidasi-tak terdrainasi (Consolidated-Undrained).
Pengaliran pada contoh tanah diperbolehkan di bawah tekanan
sel tertentu sampai konsolidasi selesai. Kemudian digunakan
selisih tegangan utama tanpa pengaliran. Pengukuran tekanan air
pori dilakukan selama keadaan tanpa pengaliran.
99

3. Terdrainasi (Drained).

Pengaliran pada contoh tanah diperbolehkan di bawah tekanan


tertentu sampai konsolidasi selesai. Kemudian, dengan pengaliran
yang masih diperbolehkan, digunakan selisih tegangan utama
dengan kecepatan sedang untuk membuat kelebiban tekanan air
pori tetap nol.

Parameter-parameter kekuatan geser ditentukan oleh hasil dari


pengujian di atas yang hanya relevan bila kondisi pengaliran di
lapangan sesuai dengan kondisi pada pengujian. Kekuatan geser
tanah pada keadaan tak terdrainasi (tanpa pengaliran) berbeda
dengan pada keadaan dengan pengaliran. Di bawah kondisi tertentu,
kekuatan geser dalam keadaan tanpa pengaliran dinyatakan dalam
tegangan total, dengan parameter-parameter kekuatan gesemya
dinotasikan sebagai cu dan ᵠu Kekuatan geser dalam keadaan
terdrainasi (dengan pengaliran) dinyatakan dalam parameter-
parameter tegangan efektif c' dan ᵠ’

Pertimbangan terpenting dalam praktek adalah tentang


kecepatan perubahan tegangan total (akibat adanya pckerjaan
konstruksi) yang digunakan yang berhubungan dengan hilangnya
kelebihan air pori, dimana hal ini berkaitan dengan permeabilitas tanah
tersebut. Keadaan tak-terdrainasi digunakan bila tidak ada kehilangan
yang berarti selama saat perubahan tegangan total. Hal ini biasanya
terjadi pada tanah yang permeabilitasnya rendah seperti lempung, dan
tedadi segera sesudah konstruksi selesai dibangun. Keadaan
terdrainasi digunakan pada saat kelebihan tekanan air pori nol; hal ini
terjadi pada tanah dengan permeabilitas rendah setelah terkonsolidasi
selesai dan akan mewakili situasi dalam jangka panjang, yang dapat
bertahun-tahun sesudali konstruksi selesai. Keadaan terdrainasi -juga
relevan bila kecepatan kehilangan dibuat sama dengan kecepatan
perubahan tegangan total; hal ini terjadi pada tanah dengan
permeabilitas tinggi seperti pasir. Oleh karena itu, keadaan terdrainasi
juga relevan untuk pasir, baik pada saat segera sesudah konstruksi
selesai maupun untuk jangka panjang. Bila terjadi perubahan
tegangan total secara tiba-tiba (misalnya bila terjadi ledakan atau
gempa), maka keadaan yang relevan untuk pasir adalah keadaan
terdrainasi.
100

Dalam beberapa situasi, keadaan terdrainasi sebagian


digunakan pada akhir konstruksi, kemungkinan disebabkan lamanya
masa konstruksi atau tanah yang diuji memiliki permeabilitas sedang.
Dalam hal ini, kelebihan tekanan air pori harus diperkirakan lebih
dahulu, kemudian kekuatan geser tanah dihitung dalam tegangan
efektif, dengan menggunakan parameter-parameter c' dan ’.

6.5 Teori yang dipakai dalam Kuat Geser Tanah

Mohr ( 1910 ) menyuguhkan sebuah teori tentang keruntuhan


pada material yang menyatakan bahwa keruntuhan terjadi pada suatu
material akibat kombinasi kritis tegangan normal dan geser, dan bukan
hanya akibat tegangan normal maksimum atau tegangan geser
maksimum saja. Garis keruntuhan (failure envenlope) yang dinyatakan
oleh persamaan di atas sebenarnya adalah sebuah garis lengkung
pada sebuah grafik yang menyatakan hubungan antara tegangan
normal dan tegangan geser,namun untuk sebagian besar masalah –
masalah mekanika tanah, garis tersebut cukup didekati dengan
sebuah garis lurus yang menunjukkan hubungan linier antara
tegangan normal dan tegangan geser (Couloumb,1776), secara
matematis dinyatakan dengan persamaan :

τ = c + σ tan Ø
Dimana,
τ = Kekuatan geser tanah
c = Kohesi (daya tarik antar partikel)
Ø = Sudut geser dalam
σ = Tegangan normal pada bidang kritis

Hubungan di atas disebut juga sebagai kriteria keruntuhan menurut


Mohr-Couloumb. Kemiringan bidang keruntuhan akibat geser.
Keruntuhan geser (keruntuhan akibat geser ) terjadi pada suatu bidang
telah mencapai syarat batas sebagai mana yang telah dirumuskan
oleh Couloumb.

Kuat geser tanah yaitu : kemampuan tanah melawan tegangan


geser yang timbul dalam tanah. Dalam hal ini tanah dipandang sebagai
bahan konstruksi di gunakan misalnya :
101

- Analisis stabilitas lereng


- Menentukan daya dukung tanah
- Menghitung tekanan tanah aktif dan pasif

Misal pada longsoran tanah:

Tanah ABC di pandang akan longsor, berat W diuraikan menjadi Gaya


normal N dan gaya geser T

Gambar 6.3 Gaya yang bekerja pada tebing tanah

Komponen T adalah gaya yang mendorong longsoran. Didalam


tanah timbul gaya geser yang melawan yaitu F. Gaya F maksimum sama
dengan kuat geser tanah. Jika gaya T melampaui F maka tanah akan
longsor.

Perlawanan geser tanah terdiri atas:

1. Gesekan Inter tanah butir kasar.


2. Lekatan (kohesi) lempung
3. Kombinasi Gesekan Lekatan

6.5.1 Percobaan Kotak Geser

Pada benda kasar yang terletak pada lantai kasar, bekerja gaya normal
sebesar N, bila benda tersebut ditarik dengan gaya T maka akan timbul
102

gaya perlawanan yang berupa gaya gesekan atau friktion (F).

F=T=Nf=N tg Ø

Dimana:

f = koefisien gesek antara lantai dengan benda.

Ø= Sudut geser antara lantai dengan benda.

Jika di tinjau persatuan bidang geser

Gambar 6.4 Benda Uji dengan Gaya Tekan Vertikal dan


Horisontal

Tegangan geser dipengaruhi secara linear oleh tegangan normal dan


koefisien gesekan Benda halus terletak dilantai licin yang diberi
perekat basah.Jika benda ditarik dengan gaya geser T akan dilawan
dengan gaya lekatan yang besamya :
103

F=AC

Dimana:

A = Luas bidang geser (m2)

c = Daya lekat perekat / mute perekat (KN/M2)

Pada kondisi ultimat F = T T= A c

Jadi T dipengaruhi secara linear oleh lugs bidang dan daya lekat lem.
Jika dipandang persatuan luas τ = c.

6.5.2 Hukum Coulomb

Gabungan benda kasar, lantai kasar diberi perekat tegangan geser


ultimitnya

Τ = c + a tan Ø rumus coulomb

Hubungan antara τ,σ, c, dan Ø dapat digambarkan sebagai grafik


104

Gambar 6.5 Hubungan antara τ,σ, c, dan Ø

Jika terjadi pergeseran didalam tanah misalnya longsoran


lereng berarti terjadi pergeseran antara tanah dengan tanah. Yang
melawan adalah kuat geser tanah, yang terdiri atas:

1. Gesekan intern; Gesekan antara tanah dengan tanah, sudut


geseknya adalah sudut gesek intern = O. Terjadi pada tanah butir
kasar
2. Kohesi (c); Lekatan antara tanah dengan tanah terjadi pada tanah
butir halus. Untuk tanah campuran antara tanah butir kasar dan
butir halus, kuat geser tanah berupa kombinasi kohesi dan gesekan
dan berlaku hukum coulomb.

Tanah butir kasar sering disebut tanah non kohesif. Tanah butir
halus sering disebut tanah kohesif (khususnya lempung) F dan c
disebut parameter kuat geser tanah. Menentukan nilai F dan c
dilaboratorium Ada beberapa caza antara lain

1. Cara geser langsung (Direct Shear Test)


2. Cara Tekan Bebas (Uniconfixed Compression Test)
3. Cara Triaksial (Triaxial test)
105

a) Cara geser langsung (Direct Shear Test)

Benda uji berupa contoh tanah bertampang lingkaran/ bujur


sangkar. (sebanyak 3 buah atau lebih). Satu persatu benda uji ditaruh
dalam 2 buah cincin (tersusun atas dan bawah), kemudian di atas
diberi beban normal N yang tetap besarnya. Digeser dengan gaya T
yang besarnya berangsur dinaikkan. Sehingga pada suatu saat tanah
pecah tergeser, dan dicatat besarnya T yang memecahkannya.

Tegangan normal:

Tegangan geser:

Diulangi lagi benda uji ke 2, 3 dan seterusnya setiap kali


menggunakan gaya N2, N3, dan seterusnya yang tidak sama,
Dihitung τ1, σ1, τ2, σ2 dan seterusnya.

Nilai f dan c dicari secara grads secara gratis (dari data basil penguian
) berdasarkan rumus coulomb.

catatan :

yang dicari dua variabel c dan Ø

Sebenarnya cukup dengan 2 benda uji untuk mendapat 2 persamaan

dan
106

Tetapi tanah selalu tidak homogen maka diperlukan lebih banyak


sampel

Contoh:

Sampel diuji dengan 3 tegangan yang berbeda masing masing digeser


sampai pecah, dicatat tegangan geser sebagai berikut

Tabel 6.1 Sampel Uji Tegangan Geser

Tegangan Normal Tegangan Geser


No. Percobaan (N/cm²) (N/cm²)
1 5 10,6

2 10 13,5

3 15 19,7

Plotkan 3 kombinasi data pada grafik 3 titik tarik garis lurus kemudian
nilai c diukur pada ordinat dan sudut f diukur kemiringannya terhadap
garis datar dan didapat c = 7,5 N/cm² dan Ø=311

2. Pengujian Tekan Bebas

Pengujian ini hanya untuk tanah kohesif terutama lempung kenyang air
yang dianggap tidak punya f (dianggap f = 0). Percobaan ini hanya
untuk menentukan qu = kuat tekan bebas (N/cm² dan c = kohesi = ½
qu. Cara pengujian :

Benda uji berbentuk silinder h > 2 x diameter (2 - 3D)

Dibebani Q berangsur-angsur diperbesar sampai tanah pecah.

Kuat tekan bebas qu = QIA yang memecahkan tanah.

c=1/2qu
107

Gambar 6.6 Benda Uji Silender

Kekerasan lempung kenyang air dapat dinyatakan atau diukur dari


nilai qu.

Tabel 6.2 Kekerasan lempung kenyang air

Kekerasan qu

sangat Iunak 0.00 - 25.00

lunak / soft 25.00 - 50.00

sedang / medium kenyal 50.00 - 100.00

stif 100.00 - 200.00

kaku sangat kenyal 200.00 - 400.0

keras / hard > 400.00

Catatan:

1. Jika tanah sangat lunak sehingga dalam pengujian tidak pecah,


tapi hanya mengembung, maka qu adalah yang menyebabkan
Pemendekan 20%
108

2. Tanah non kohesi bersih tidak punya kohesi c (c = 0) tanah ini


hanya mempunyai Ø, misalnya pasir Ø pasir = 28.5° s/d 46°
(min) (max)
sangat tidak padat padat
poorly graded wellgraded
butir bulat butir tajam
antara 30° - 35° adalah umum
sering kali disebut f = sudut lereng alam. Jika pasir bersih, kering
dituang akan membentuk kerucut dengan sudut Ø

6.6. Cara Sederhana Membedakan Jenis Tanah

1. Kerikil dan pasir mudah dibedakan secara visual dari ukuran butir.
2. Berdasarkan kecepatan mengendap.
Hancurkan tanah dan aduk rata dalam air dan gelas.
Pasir mengendap dalam : 30 - 60 detik
Lanau dapat sampai 15 - 60 menit
Lempung beberapa jam -hari. (colloid)
Larutan koloid (<0.001 mm) selain butir-butimya sangat halus bersifat
sebagai elektrolit (bermuatan listrik). Butir-butir mengalami gerak
brown (tolak menolak karena muatanmya sama). Maka sangat
sukar mengendap. Untuk menjernihkan larutan koloid diberi larutan
tawas (menetralkan muatan).
3. Lanau dan lempung sama-sama mempunyai butir sangat halus,
sehingga sukar dibedakan secara visual. Dapat dibedakan
berdasarkan berdasarkan sifat-sifatnya.
a. Cara pengendapannya. (cara 2).
b. Kekerasan pada keadaan kering. Gumpalan lanau kering
mudah dihancurkan dengan jari.
c. Sifat melekatnya. Kotoran tanah basah mudah dibersihkan jika
berasal dari lanau
d. Sifat permeabilitas. Taruh segumpal tanah basah ditelapak
tangan. Tanah lanau bersifat permebel sehingga air dalam pori
dapat dengan mudah mengalir keluar permukaan. Jika telapak
tangan ditekuk atau diketuk-ketuk, permukaan jadi mengkilat,
jika direnggangkan akan suram sebab air masuk. Keadaan ini
tidak tampak pada lempung.