Anda di halaman 1dari 11

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Nutrisi sangat penting bagi manusia karena nutrisi merupakan kebutuhan fital bagi semua
makhluk hidup, mengkonsumsi nutrien (zat gizi) yang buruk bagi tubuh tiga kali sehari selama
puluhan tahun akan menjadi racun yang menyebabkan penyakit dikemudian hari.
Tubuh memerlukan makanan untuk mempertahankan kelangsungan fungsinya. Kebutuhan
nutrisi ini diperlukan sepanjang kehidupan manusia, namun jumlah nutrisi yang diperlukan tiap
orang berbeda sesuai dengan karakteristik, seperti jenis kelamin, usia, aktifitas, dan lain-lain.
Pemenuhan kebutuhan nutrisi bukan hanya sekedar untuk menghilangkan rasa lapar, melainkan
mempunyai banyak fungsi. Adapun fungsi umum dari nutrisi diantaranya adalah sebagai energi,
memelihara jaringan tubuh, dan lain-lain.
Oleh karena itu, dalam memenuhi kebutuhan nutrisi perlu diperhatikan zat gizinya (nutrien).
Nutrien merupakan zat kimia organik maupun anorganik yang ditemukan dalam makanan dan
diperlukan agar tubuh dapat berfungsi sebaik-baiknya. Untuk itu, maka intake nutrisi ke dalam
tubuh harus adekuat. Artinya, nutrisi yang kita makan harus mengandung nutrien esensial
tertentu yang seimbang. Nutrisi esensial tersebut meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin,
mineral, dan air.
Pada umumnya , ketika kebutuhan energi dipenuhi lengkap oleh asupan kalori pada
makanan, maka berat badan tidak berubah. Jika pemasukan kalori melebihi kebutuhan energi,
maka berat badan seseorang akan menambah. Dan ketika pemasukan kalori gagal untuk
memenuhi kebutuhan energi, maka seseorang akan kehilangan berat badan.
Ketika tubuh mengalami kekurangan ataupun kelebihan nutrisi maka saat itu tubuh
mengalami keadaan ketidakseimbangan nutrisi.
Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi (2006 : 396) mengatakan penyakit psikogenik
adalah satu penyakit fungsional yang tidak diketahui basis organiknya, karena itu , mungkin
disebabkan oleh konflik atau tekanan atau stress emosional.
kebutuhan psikogenik berasal dari kebutuhan primer dan ditandai oleh tidak adanya hubungan
dengan proses-proses organis atau kepuasan fisik khusus.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan ketidakseimbangan nutrisi?
1.2.2 Apa gangguan / masalah yang sehubungan dengan nutrisi ?
1.2.3 Apa sajakah penyebab ketidakseimbangan nutrisi?

1
1.2.4 Apa tindakan untuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi ?
1.2.5 Apakah yang dimaksud dengan psikogenik?
1.2.6 Apa sajakah penyakit-penyakit yang tergolong penyakit psikogenik?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi dari ketidakseimbangan nutrisi
1.3.2 Untuk mengetahui apasaja masalah yang sehubungan dengan nutrisi
1.3.3 Untuk mengetahui penyebab ketidakseimbangan nutrisi
1.3.4 Untuk mengetahui tindakan yang dapat mengatasi masalah pemenuhan kebetuhan nutrisi
1.3.5 Untuk mengetahui definisi dari psikogenik
1..3.6 Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang tergolong penyakit psikogenik

1.4 Manfaat
1.4.1 Untuk mahasiswa setidaknya makalah ini dapat menjadi suatu referensi untuk
pembelajaran tentang ketidakseimbangan nutrisi dan psikogenik.
1.4.2 Untuk pembaca (masyarakat) dapat menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat
mengenai ketidakseimbangan nutrisi dan psikogenik

BAB II
Pembahasan

2.1. Definisi Ketidakseimbangan Nutrisi


Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh menurut Carpenito, (2009) yaitu
keadaan ketika individu yang tidak NPO mengalami penurunan berat badan atau beresiko
mengalami penurunan berat badan karena tidak adekuatnya asupan atau metabolisme zat nutrisi
untuk kebutuhan metabolik.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh menurut Hidayat, (2009) yaitu
keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak berpuasa (normal) atau resiko penurunan
berat badan akibat ketidakcukupan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan individu
memiliki penurunan kemampuan mengonsumsi cairan dan/atau makanan padat dari mulut ke
lambung.(Kim, McFarland dan McLane, 1995 dalam Potter dan Perry, Fundamental Keperawatan
Volume 2).

2
Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan dimana
ketika seorang individu mengalami atau berisiko mengalami penambahan berat badan yang
berhubungan dengan asupan nutrisi yang melebihi kebutuhan metabolik.(Carpenito, Lynda Juall,
2007).
2.2 Faktor Penyebab Ketidak Seimbangan Nutrisi
2.2.1 Faktor kelebihan nutrisi
1. Pola makan tidak sehat
Pola makan yang tidak sehat seperti makanan yang berlebihan terutama
karbohidrat dan lemak tanpa variasi sayuran dan buah-buahan akan mengakibatkan
penimbunan kalori yang terlalu banyak tubuh yang tidak berubah menjadi energi
sehingga tubuh mejadi kelebihan nutrisi.
2. Pola hidup yang tidak sehat
Pola hidup yang tidak sehat seperti kurang berolah raga menjadi salah satu
penyebab kelebihan nutrisi, kurangnya beraktivitas dan olah raga membuat kalori
tidak dibuang dalam tubuh melainkan disimpan sebagai cadangan energi dalam
bentuk lemak. Lemak ini yang menyebabkan perut buncit dan kegemukan atau
obesitas. Serta kebiasaan buruk mengemil dimalam hari sangat tidak sehat karena
aktivitas dimalam hari tidak terlalu banyak membutuhkan kalori serta organ
pencernaan tidak bekerja maksimal.
2.2.2 Faktor kekurangan nutrisi
1. Nafsu makan menurun
Pada dasarnya, nafsu makan merupakan suatu sistem pengaturan internal
yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi dan gizi tubuh. Hilangnya nafsu
makan normal akan menjadi masalah jika kondisi tersebut terus berlanjut. Hal itu
bisa jadi gejala dari penyakit yang lebih serius. Jika kodisi ini berlangsung lama,
seseorang beresiko mengalami malnutrisi atau kekurangan nutrisi
2. Penurunan absorbsi nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa
3. Menigkatnya kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori akibat penyakit
infeksi atau kanker

2.3 Masalah yang Sehubungan dengan Nutrisi


2.3.1 Obesitas
Obesitas merupakan peningkatan berat badan yang melebihi 20% batas normal berat
badan seseorang. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi,
sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki
lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria.Perbandingan yang normal antara lemak

3
tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita
dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap
mengalami obesitas.
Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat
badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok :
1. Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%.
2. Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%.
3. Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5%
dari antara orang-orang yang gemuk).
2.3.2 Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan gizi pada tingkat
seluler atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.
2.3.3 Marasmus
Marasmus adalah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan
hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Secara garis besar
sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut :
a. Masukan makanan yang kurang Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit,
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang
tua si anak; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.
b. Infeksi Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enternal
misalnya infantile gastroenteritis, bronchopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital.
c. Kelainan struktur bawaan Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung,
deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pylorus, hiatus hernia,
hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas.
d. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian
ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat.
e. Pemberian ASI Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang
cukup.
f. Ganguan metabolik
Misalnya: renal asidosis, idiophatic hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance.
g. Tumor hypothalamus
Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang kurang akan menimbulkan
marasmus.
h. Penyapihan Penyapihan yang terlalu disini disertai dengan pemberian makanan yang kurang
akan menimbulkan marasmus.
i. Urbanisasi Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya
marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini

4
dan kemudian diikuti pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak
mampu membeli susu; dan bila disertai dengan infeksi berulang terutama gastro enteristis
akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.
Menurut FKUI (1985 : 361), Ngastiyah (2005 : 259) dan Markum (1991 : 166) tanda dan gejala
dari marasmus adalah :
a. Anak cengeng, rewel, dan tidak bergairah.
b. Diare.
c. Mata besar dan dalam.
d. Akral dingin dan tampak sianosis.
e. Wajah seperti orang tua.
f. Pertumbuhan dan perkembangan terganggu.
g. Terjadi pantat begi karena terjadi atrofi otot.
h. Jaringan lemak dibawah kulit akan menghilang, kulit keriput dan turgor kulit jelek.
i. Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas.
j. Nadi lambat dan metabolisme basal menurun.
k. Vena superfisialis tampak lebih jelas.
l. Ubun-ubun besar cekung.
m. Tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol.
n. Sering bangun malam.
2.3.4 Kwashiorkor
Kwasiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake
protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi. Dibedakan dengan
Marasmus yang disebabkan oleh intake dengan kualitas yang normal namun kurang dalam
jumlah. Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlansung
kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersbut diatas antara lain :
1. Pola makan
Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap
terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak
stabil , ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung
turun-turun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor
3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat
pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi
kebutuhan proteinnya
4. Faktor infeksi dan penyakit lain
Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat
apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan
akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi.
Tanda-tanda kwashiorkor:
a. Edema umumnya diseluruh tubuh terutama pada kaki (dorsum pesdis).
b. Wajah membulat dan sembab.

5
c. Otot-otto wajah mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk, anak
berbaring terus menerus.
d. Perubahan status mental, cengeng, rewel, kadang apatis, sering menolak segala jenis makanan
(anoreksia).
e. Pembesaran hati.
f. Sering disertai infeksi, anemia diare/mencret.
g. Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut.
h. Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam terkelupas
(crazy pavement dermatosis).
i. Pandangan mata anak tampak sayu.
2.3.5 Amiloidosis
Amiloidosis adalah suatu penyakit dimana amiloid (suatu protein yang tidak biasa, yang
dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam tubuh), terkumpul dalam berbagai
jaringan.Terdapat beberapa jenis amiloidosis:
a. Amiloidosis primer.
Penyebabnya tidak diketahui.Penyakit ini dihubungkan dengan kelainan sel plasma.
b. Amiloidosis sekunder.
Amiloidosis terjadi sekunder terhadap penyakit lain seperti tuberkulosis, artritis rematoid,
demam Mediterranian familial atau ileitis granulomatosa.
c. Amiloidosis herediter.
Mengenai saraf dan organ tertentu.Terjadi pada orang-orang dari Portugal, Swedia, Jepang dan
banyak negara lainnya.

2.4 Tindakan Untuk Mengatasi Masalah Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


a. Menstimulasi nafsu makan Dapat membantu menstimulasi nafsu makan dengan adaptasi
lingkungan, konsultasi dengan ahli gizi, ketentuan diet khusus dan pilihan makanan, pemberian
obat yang menstimulasi nafsu makan, konseling kepada keluarga.
b. Terapi diet dalam manajemen penyakit Nutrisi yang baik penting bagi kesehatan dan penyakit,
tetapi pola asupan diet yang spesifik yang menghasilkan nutrisi yang baik sering kali harus
dimodifikasi dengan penyakit khusus. Modifikasi diet penting untuk menyesuaikan dengan
kemampuan tubuh untuk metabolisme nutrien tertentu, memeriksa defisiensi nutrisi yang
berhubungan dengan penyakit, dengan mengeliminasi makanan yang memperburuk gejala
penyakit.

c. Pemberian Nutrisi melalui Oral


Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan yang dilakukan untuk yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan nutrisi secara sendiri dengan cara membantu memberikan makanan atau

6
nutrisi melalui oral (mulut), bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan membangkitkan
selera makan.
d.Pemberian Nutrisi melalui Enteral
Pemberian nutrisi melalui enteral adalah pemberian
nutrien melalui saluran gastrointestinal dengan menggunakan selang atau kateter khusus
(feeding tube). Pemberian nutrisi enteral diperlukan pada penderita yang memerlukan asupan
nutrien
e.Pemberian Nutrisi melalui Parenteral
Pemberian nutrisi melalui parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah balik
yang biasa berupa vena perifer atau vena sentral. Nutrisi parenteral diperlukan bagi yang
menghadapi resiko malnutrisi namun tidak mampu atau tidak b ᄃ oleh mendapatkan kecukupan
nutrien lewat saluran cerna. Nutrisi parenteral perlu dibedakan dengan pemberian infus yang
hanya terdiri atas cairan, elektrolit, dan karbohidrat untuk mepertahankan hidrasi, keseimbangan
elektrolit serta memberikan sedikit kalori.
2.5 Definisi Psikogenik
. Psikogenik adalah segala yang berasal dalam pikiran atau dalam konflik mental atau
emosional.
Penyakit psikogenik adalah nama yang diberikan untuk penyakit fisik yang diyakini
berasal dari stres emosional atau mental atau gangguan psikologis atau kejiwaan. Hal ini paling
sering diterapkan penyakit mana kelainan fisik atau penanda lain belum belum dikenali. Dengan
tidak adanya bukti biologis seperti itu dari penyakit yang mendasari proses, sering diasumsikan
bahwa penyakit harus memiliki penyebab psikologis, bahkan jika pasien menunjukkan ada
indikasi berada di bawah stres atau memiliki gangguan psikologis atau kejiwaan. Contoh penyakit
yang diyakini oleh banyak psikogenik termasuk psikogenik kejang,tremor psikogenik dan nyeri
psikogenik.
Ada masalah dengan asumsi bahwa semua penyakit medis dijelaskan harus memiliki alasan
psikologis. Selalu masih mungkin bahwa kelainan genetik, biokimia, electrophysiological atau
lainnya mungkin ada yang kita tidak memiliki teknologi atau latar belakang untuk
mengidentifikasi. Istilah penyakit psikogenik sering digunakan dalam cara yang mirip dengan
penyakit psikosomatik. Namun, istilah psikogenik biasanya berarti bahwa faktor-faktor psikologis
memainkan peran penyebaban penting dalam perkembangan penyakit. Istilah "psikosomatik"
sering digunakan secara lebih luas untuk menggambarkan penyakit dengan diketahui penyebab
medis mana faktor-faktor psikologis tetap mungkin memainkan peran (misalnya, asma dapat
diperburuk oleh kecemasan).
2.6 Penyakit-Penyakit yang Tergolong Penyakit Psikogenik

7
2.6.1 Kejang psikogenik non epilepsi (KPNE)
Kejang psikogenik non epilepsi (KPNE) atau pseudoseizure merupakan episode
paroksismal yang menyerupai dan sering terjadi kesalahan diagnosis sebagai kejang epilepsi tidak
dikaitkan dengan elektroensefalogram abnormal (EEG) kagiatan atau gangguan fisiologis utama
lainnya
Prevalensi kejang non epilepsi psikogenik sekitar 2-33 kasus per 100.000 Populasi sekitar
50-70 % pasien didiagnosis epilepsi tidak memiliki kejang, dan hanya 15% saja yang benar-benar
epilepsi. KPNE terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki , yakni sekitar 70% dari
semua kasus. Kejang psikogenik bisa terjadi pada remaja, anak-anak dan orang tua. Harus
diperhatakan dalam mendiagnosis kejang psikogenik terutama jika terjadi pada awal masa kanak-
kanak atau usia tua.
Seringkali kali terjadi kesalahan diagnosis antara kejang non epilepsi dengan kejang seperti
resisten dengan obat antiepilepsi, sekitar 80% pasien KPNE mendapatkan terapi obat antiepilepsi
sebelum diagnosis yang tepat ditentukan. Psikogenik dikaitkan ketika obat antiepilepsi tidak
memberikan efek untuk mengurangi frekuensi kejang. Faktor pemicu seperti stres atau prasaan
kecewa umunnya mengarah kearah KPNE. Faktor pemicu lainnya yang mengarah ke KPNE seperti
nyeri, gerakan tertentu, suara dan tipe cahaya tertentu khususnya jika hal-hal tersebut lebih
konsisten memicu terjadinya kejang.

2.6.2 Nyeri Psikogenik


Nyeri psikogenik adalah nyeri yang dirasakan secara fisik yang timbulnya,
derajat beratnya, dan lama berlangsungnya dipengaruhi oleh faktor mental,
emosi, dan perilaku. Beberapa penelitian klinis menunjukan bahwa induksi nyeri
secara sengaja pada seseorang akan memberikan hasil rasa nyeri yang tidak
terlalu signifikan jika orang tersebut sedang berada dalam kondisi psikologis
yang baik, tenang, damai, bahagia.

Nyeri umumnya dirasakan lebih berat ketika seseorang mengalami


gangguan psikogenik tertentu terutama depresi ataupun cemas. Nyeri psikogenik
yang murni psikologis umumnya ditandai dengan rasa nyeri yang menyebar, tidak
terbatas pada suatu letak anatomis tertentu, dan tersebar pada banyak lokasi.
Nyeri timbul tanpa adanya riwayat trauma fisik yang jelas sebelumnya atau
timbul tanpa sebab.Pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen, hingga CT Scan,

8
dan penunjang lainnya tidak dapat menunjukan adanya suatu masalah organ atau
gangguan fisik tertentu. Nyeri tidak dapat hilang sepenuhnya atau seluruhnya
walaupun sudah mendapatkan obat penghilang nyeri bahkan yang diberikan
langsung ke dalam pembuluh darah (intra vena).Emosi dan motivasi merupakan
isu pokok yang mendasari timbulnya nyeri.
2.6.3 Tremor psikogenik

Tremor yang timbul karena kondisi psikologis ditandai oleh adanya serangan yang muncul
atau menghilang secara tiba-tiba dan berubah-ubah lokasinya. Penderita biasanya juga
mempunyai gangguan mental, misalnya gangguan konversi, yang mana pasien mengalami
gangguan fisik namun tidak ditemukan kelainan medis yang mendasari.

9
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh menurut Carpenito, (2009) yaitu
keadaan ketika individu yang tidak NPO mengalami penurunan berat badan atau beresiko
mengalami penurunan berat badan karena tidak adekuatnya asupan atau metabolisme zat nutrisi
untuk kebutuhan metabolik.
Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan dimana
ketika seorang individu mengalami atau berisiko mengalami penambahan berat badan yang
berhubungan dengan asupan nutrisi yang melebihi kebutuhan metabolik.(Carpenito, Lynda Juall,
2007).
Faktor penyebab ketidakseimbangan nutrisi :
Faktor Kelebihan Nutrisi
1. Pola makan tidak sehat
2. Pola hidup yang tidak sehat
Faktor Kekurangan Nutrisi
1. Nafsu makan menurun
2, Penurunan absorbsi nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa
3. Menigkatnya kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori akibat penyakit
infeksi atau kanker
Masalah yang Sehubungan dengan Nutrisi
1. Obesitas
2. Malnutrisi
3. Marasmus
4. Kwashiorkor
5. Amiloidosis

Tindakan Untuk Mengatasi Masalah Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


a. Menstimulasi nafsu makan
b. Terapi diet
c. Pemberian Nutrisi melalui Oral
d.Pemberian Nutrisi melalui Enteral
e.Pemberian Nutrisi melalui Parenteral
Psikogenik adalah segala yang berasal dalam pikiran atau dalam konflik mental atau
emosional.
Penyakit psikogenik adalah nama yang diberikan untuk penyakit fisik yang diyakini berasal
dari stres emosional atau mental atau gangguan psikologis ataupun kejiwaan.
Penyakit-Penyakit yang Tergolong Penyakit Psikogenik

10
1 Kejang psikogenik non epilepsi (KPNE)
2 Nyeri Psikogenik
3 Tremor psikogenik
3.2. Saran
Untuk menjaga keseimbangan nutrisi tetap terjaga konsumsilah makanan yang cukup sesuai
kebutuhan tubuh. Dan agar terhindar dari gangguan psikogenik jagalah kondisi pikiran menjadi
tetap tenang dan tidak memikirkan hal-hal yang menyebabkan stress maupun kecemasan.

11