Anda di halaman 1dari 13

BAB III

UTILITAS

Unit utilitas merupakan sistem yang menunjang keberlangsungan proses


produksi pengolahan crude oil pada PT. Pertamina (Persero) RU III. Dalam
proses pengolahan bahan baku menjadi produk, mulai dari tahap penyiapan
umpan sampai dengan tahap pengemasan, serta tahap pengolahan limbah selama
proses produksi berlangsung, dibutuhkan unit-unit dan bahan-bahan pendukung
seperti air, nitrogen, generator listrik. Unit-unit dan bahan-bahan pendukung yang
dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan proses tersebut terintregasi dalam
sebuah sistem, yaitu sistem utilitas.
Unit-unit proses utilitas PT. Pertamina (Persero) RU III (Tabel 3.1) terdiri
dari Water Treating Unit, Demineralization Plant, Cooling Tower, Drinking
Water Plant, Air Plant, N2 Plant, Boiler, Gas Turbin dan Rumah Pompa Air,
sistem utilitas disini juga tidak hanya memenuhi kebutuhan produksi di kilang
tetapi juga memenuhi kebutuhan perkantoran, pemukiman komplek pertamina,
kebutuhan bahan penunjang tersebut dipenuhi oleh unit utilitas PT Pertamina
(Persero) RU III yang dibagi kedalam tiga Power Station (PS) berdasarkan
lokasinya.

Tabel 3.1 Power Station dan Unit Utilitas di Pertamina RU III


Power Station 1 Power Station 2 Power Station 3

Air plant Air plant Air plant


Boiler Boiler Cooling tower
RPA 1-3 DPW Demineralization plant
WTP (Bagus Kuning) Cooling tower DWP 2
Demineralization plant RPA 5-6
Nitrogen plant WTU
Pembangkit listrik
RPA 4
WTU
Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU III, 2018

Power Station 2 didirikan tahun 1985 untuk mengontrol operasinya telah


memakai distributed control system (DCS). Orientasi pada unit utilitas dibagi
menjadi dua seksi yaitu :
54
55

1. Seksi Auxiliary, terdiri dari :


1) Water Treating Unit/WTU (rumah pompa air,clarifier);
2) Drinking water Plant / DWP;
3) Cooling Tower;
4) Demin Plant;
5) Compressor;
6) Nitrogen Plant;
7) Air Plant.
2. Seksi Pusat Pembangkit Tenaga Listrik dan Uap (PPTL&U)terdiri dari :
1) Package Boiler;
2) WHRU (Waste Heat Recovery Unit);
3) Gas Turbin;
4) Secure Power;

3.1 Penyediaan Air


3.1.1 Water Treating Unit (WTU)
Water Treating Unit adalah sebuah unit untuk merawat atau meresirkulasi
air bekas pakai yang telah digunakan oleh industri. Dimulai dari raw water yang
berasal dari sungai Komering yang dihisap dengan pompa untuk dialirkan ke
clarifier, yang sebelumnya diinjeksikan Al2(SO4)3 sebagai koagulan dan chlor
sebagai pembunuh bakteri sehingga akan membentuk flokulasi dengan kondisi
operasi masing-masing (Tabel 18). Clarifier adalah alat / tempat untuk
menjernihkan air baku yang keruh dengan cara dilakukan pengendapan, untuk
mempercepat pengendapan lazimnya ditambahkan chemical koagulan berupa
Koagulan Aids Polyelectolyte dengan dosis tertentu. Setelah gumpalan
mengendap, laju air jernihnya dialirkan ke saringan pasir untuk disaring. Pada
saringan pasir terjadi pemisahan gumpalan kecil dan kotoran yang masih terbawa
di dalam air. Setelah itu diinjeksikan dengan larutan NaOH untuk mengatur pH
(potensial of Hydrogen). Air yang telah diproses ditampung di clear well dengan
pH 5,6-6,2 dan siap untuk didistribusikan seperti untuk feed pada demin plant,
make up cooling water, air minum dan service water.

Tabel 3.2 Kondisi Operasi WTU


Kondisi Operasi Besaran
Kapasitas unit Clarifier 1067 m3/jam
Kapasitas masing – masing Filter 266,5 m3/jam
Kapasitas clear well tank 5000 m3/jam
56

Kondisi Operasi Besaran


Dosis Al2(SO4)3 20-80 ppm
Dosis poly-electrolyte 2 ppm
Dosis gas klorin 0-10 kg/jam
Dosis 10-30 ppm
Sumber : PT. Pertamina(Persero) RU III, 2018

Gambar 3.1 Diagram Blok Water Treating Unit


Sumber: PT. Pertamina RU III Plaju, 2018

PE, NaOH, Cl2

agitator
talang
air jernih

mixing zone

sling

endapan floc
pengaduk scrapper

sludge

raw water intake

alum

10 - 20 m

Gambar 3.2 Clarifier


Sumber: PT. Pertamina(Persero) RU III, 2018
57

3.1.2 Cooling Water System (CWS)


Unit ini merupakan unit yang berfungsi untuk mengolah air yang
digunakan sebagai fluida pendingin. Air yang yang diproses pada unit ini disebut
air pendingin sirkulasi. Air pendingin digunakan sebagai fluida pendingin HE. Air
keluaran HE mempunyai temperatur 45–48 oC. Air ini akan didinginkan sampai
temperatur 29 oC. Pendinginan air menggunakan media udara yang dihisap oleh
fan. RU III mempunyai dua unit cooling tower, di Plaju (kapasitas 12000
ton/hour) dan di Sungai Gerong (4000 ton/hour). Jenis cooling tower yang
digunakan adalah forced draft.
Air diumpankan pada bagian atas cooling tower. Air tersebut mengalir ke
bawah melalui dinding bersirip. Hal ini menyebabkan air turun dan terjadi kontak
antara air dengan udara yang diisap ke bagian atas cooling tower. Kontak udara
dengan air akan meningkatkan termperatur udara. Hal ini akan menyebabkan air
menguap sehingga kelembapan udara di sekitar cooling tower meningkat. Pada
proses ini terjadi penyerapan panas air oleh udara. Peristiwa ini menyebabkan
temperatur air akan turun. Kemudian air ditampung di bagian bawah tower yang
disebut basin. Air pada basin temperaturnya sekitar 29 oC dan siap disistribusikan
kembali ke penukar panas. Jumlah Blow Down Cooling Water dikontrol secara
otomatis menurut kandungan suspended solid dari pemeriksaan conductivity
analyzer.
Oleh karena ada air yang menguap ke udara maka sejumlah air (make up)
harus ditambahkan ke dalam cooling tower agar jumlah air pendingin HE tidak
berkurang. Pengolahan air pada cooling tower dilakukan dengan menambahkan
zat kimia, seperti:
a) Corrosion inhibitor, agar air yang akan digunakan tidak menimbulkan korosi,
contoh : polyphosphate.
b) Scale inhibitor, mencegah pembentukan kerak pada peralatan proses.
c) Biocide, berupa Cl2 untuk mencegah pertumbuhan organisme yang merugikan,
seperti lumut, ganggang, dll.
d) pH control system, penambahan H2SO4 98 %.
Pemakaian utama adalah untuk pendinginan proses di TA/PTA Plant,
medium pada Proses Exchanger, Lube/Seal Oil Cooler, Instrument Air
58

Compressor, Sample Cooler, Surface Condenser dan Export ke Unit


Polypropylene.

3.1.3 Demineralization Plant


Unit ini berfungsi untuk menghilangkan kandungan garam mineral yang
terkandung dalam air hasil olahan dari unit WTU. Unit Demin Plant mengolah air
yang berasal dari RWC I dan WTU Sungai Gerong. Produk unit ini disebut air
demin yaitu air yang bebas mineral, yang biasanya digunakan sebagai BFW. PT.
Pertamina (Persero) RU III memiliki dua buah Demin Plant, yaitu Demin Plant
Plaju berkapasitas 320 m3/jam dan Demin Plant Sungai Gerong berkapasitas 45
m3/jam. Selain untuk kebutuhan produksi steam, Demineralization Plant juga
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pasokan air untuk BFW (Boiler Feed
Water), air minum, serta Hydrogen Plant.
Unit Demineralization Plant terdiri dari empat unit, yaitu :
- Activated carbon filter, berfungsi untuk mengadsorpsi zat organik, filtrasi, dan
dekomposisi Cl2 menjadi ion Cl-, serta menghilangkan warna, rasa, dan bau.
- Cation exchanger, berfungsi untuk demineralisasi ion positif (kation).
- Anion exchanger, berfungsi untuk demineralisasi ion negatif (anion).
- Mixed bed, berfungsi untuk mempolis sisa kation dan anion yang tidak tertukar
di cation dan anion exchanger untuk memperoleh air demin yang mendekati
murni.
Berikut merupakan diagram alir sederhana dari unit Demineralization
Plant ditunjukkan pada Gambar 3.3 di bawah ini :

H+

Treated
ACF Cation Anion Mixed
Water Exchanger Exchanger Bed

Na+ Mg2+ Ca2 OH-

Gambar 3.3 Unit Penukar Ion Demineralization Plant


Sumber : PT. Pertamina RU III Plaju, 2018
59

Demin plant menggunakan resin penukar ion berupa polimer stirena dan
divinil benzena (DVB). Treated water dari clear well dilewatkan pada activated
carbon filter, air dapat digunakan sebagai air minum. Selanjutnya, air dilewatkan
pada cation exchanger, di mana terjadi pertukaran ion Na+, Ca2+, Mg2+ dengan H
dari resin sehingga menghasilkan air yang bersifat asam. Selanjutnya, air
dilewatkan pada anion exchanger, di mana terjadi pertukaran antara ion negatif
dengan ion OH dari resin. Sebagai tahap terakhir, air dilewatkan melalui mixed
bed. Reaksi yang terjadi pada ketiga penukar ion adalah :
Kation : RH + NaCl RNa + HCl
Anion : ROH + HCl RCl + H2O
Setelah digunakan berulang kali, penukar ion akan menjadi jenuh sehingga
perlu diregenerasi. Tujuan regenerasi adalah untuk menghilangkan ion garam
yang ada pada resin. Regenerasi penukar kation menggunakan larutan asam sulfat,
sedangkan regenerasi penukar anion menggunakan larutan NaOH. Regenerasi
resin membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam.

3.2 Kebutuhan Listrik


Kebutuhan listrik disuplai dari pembangkit listrik yang terdapat di PT.
Pertamina (Persero) RU III antara lain:
1. Gas Turbine A, B dan C dengan kapasitas masing–masing 31,1 MW.
2. Steam Turbine berkapasitas 3,2 MW
3. Diesel Generator berkapasitas 0,75 MW.
PT. Pertamina (Persero) RU III memiliki tiga buah turbine gas, yaitu GT
2015 UA, GT 2015 UB, dan GT 2015 UC. Turbine gas, steam turbine dan diesel
generator ini berfungsi untuk memproduksi listrik dengan frekuensi 50 Hz untuk
dimanfaatkan di kilang dan perumahan.
Bahan bakar yang digunakan untuk mengoperasikan gas turbine adalah
fuel gas yang diperoleh dari Prabumulih dikirim melalui pipa dan diolah di Light
End Unit. Hanya pada start-up saja, bahan bakar yang digunakan berupa diesel
o
oil. Gas keluaran turbin memiliki temperature 507 C. Jika gas turbine
dioperasikan dengan boi ler akan dihasilkan efisiensi sebesar 25%.
60

Steam turbine digunakan untuk memproduksi listrik dengan


memanfaatkan steam bertekanan 8,5 kg/cm2. Steam tur bine baru akan
dioperasikan jika terjadi kegagalan pada gas turbine. Sedangkan diesel generator
dioperasikan jika terjadi kegagalan pada kedua pembangkit gas turbine dan steam
turbine.

3.3 Bahan Bakar


Selain penyediaan steam, listrik dan energi lain, unit utilitas PS II juga
bertugas menyediakan berbagai bahan bakar, antara lain :
a. Fuel Gas System
Fuel Gas System terbagi menjadi high pressure dan low pressure, dimana
sumber fuel gas didapat dari lapangan eksplorasi Prabumulih dengan tekanan 10
kg/cm2. Setelah melalui knock out drum, dibagi menjadi dua sistem. Sistem yang
pertama tekanannya dinaikkan menjadi 19 kg/cm2 dengan menggunakan
centrifugal compressor. Sistem yang kedua setelah melalui step down control,
tekanannya menurun menjadi 3 kg/cm2 dan digunakan untuk bahan bakar di GT
unit (2015 UA, UB, dan UC), Package Boiler 2011 UA dan UB.
b. Heavy Fuel Oil
Heavy Fuel Oil diperoleh dari kilang dan ditampung pada tangki
bertemperatur 2075 oF. Dari tangki ini dipompakan ke unit yang membutuhkan
setelah melalui stainler dan heater. Sistem ini dilengkapi dengan akumulator
untuk menjaga agar fuel oil tetap mengalir jika pompa berhenti. Akumulator ini
hanya mampu mengalirkan fuel oil selama lima menit.
c. Diesel Fuel Oil
Diesel Fuel Oil sama dengan Heavy Fuel Oil, diperoleh dari kilang dan
ditampung pada tangki dengan temperature 2074 oF. Diesel fuel ini digunakan
untuk start-up turbine gas generator dan sebagai back up atau pengganti gas
lapangan bila terjadi gangguan pada supply gas dari lapangan.
Selain untuk keperluan turbin gas generator, diesel fuel juga digunakan
untuk bahan bakar pompa air bakaran yang digerakkan oleh mesin diesel dan
emergency generator. Diesel fuel ini dilengkapi dengan akumulator yang
61

berfungsi untuk menjaga agar diesel fuel tetap mengalir bila pompa distribusi fuel
berhenti

3.4 Boiler
Unit pembangkit tenaga uap utilitas PS II Plaju dan unit Package Boiler,
masing-masing berkapasitas 50 ton/jam dengan tekanan 42,2 kg/cm2 dengan
temperatur 390 °C serta tiga unit WHRU (Waste Heat Recovery Unit) dengan
masing-masing berkapasitas 60 ton/jam, dengan tekanan 42,2 kg/cm2 dengan
temperatur 390 °C.
Kegunaan dari steam antara lain, yaitu :
- Sebagai pembangkit untuk menggerakkan pompa.
- Pemanasan generator dan compressor.
- Untuk produksi Polypropylene.
Umpan dari boiler dan pembangkit steam lainnya, misalkan WHRU,
merupakan air yang sebelumnya telah diolah melalui proses demineralization
deaerator dan chemical treatment. Demineralization Plant seperti telah
disebutkan sebelumnya berfungsi untuk menghilangkan kandungan mineral. Hal
ini disebabkan kandungan mineral terutama silica dengan mengakibatkan
timbulnya deposit silica pada superheater. Hal ini dapat menyebabkan hotspot
yang akan menyebabkan tube failure. Selain itu silica yang terbawa pada aliran
dapat menyebabkan deposit pada turbin yang akan menurunkan efisiensi dan
menyebabkan imbalance.
Deaerator bertujuan menurunkan kandungan O2 dan CO2 terlarut dalam
air yang dapat menyebabkan masalah korosi pada peralatan boiler dan turbin.
Pada proses ini air dipanaskan sampai temperatur 110 oC yang akan menyebabkan
kelarutan O2 dan CO2 dalam air akan turun, sehingga gas-gas tersebut terpisahkan.
Chemical treatment dilakukan dengan penginjeksian hydrazine, fosfat, dan
morpholine. Penginjeksian hydrazine bertujuan untuk softening yaitu mengurangi
kadar ion-ion, terutama Ca2+ dan Mg2+ yang dapat menyebabkan kesadahan.
Terdapat tiga jenis pembangkit steam yang digunakan pada unit ini, yaitu :
62

a. Package Boiler
Ada tiga buah package boiler yang digunakan, yaitu PB 2011 UA, PB
2011 UB dan PB 2011 UC. Package Boiler diperoleh dari PS II Plaju dan
kemudian digunakan untuk menghasilkan High Pressure Steam 40 kg/cm2,
efisiensinya sebesar 81%.
b. Kettle
Ada sembilan buah kettle yang terletak di PS I Plaju. Kettle yang
digunakan adalah boiler nomor 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, dan 11. Bahan bakar
digunakan berupa mixed gas. Umpan untuk kettle diperoleh dari PS I Plaju dengan
kapasitas 110 ton/jam. Produk yang dihasilkan adalah middle pressure steam 15
kg/cm2 dan memiliki efisiensi sebesar 60%.
c. Waste Heat Recovery Unit (WHRU)
Ada tiga buah WHRU yang digunakan untuk memanfaatkan gas turbin
flue gas yang masih memiliki temperatur sekitar 400 oC. WHRU yang digunakan
adalah WHRU 2010 UA, WHRU 2010 UB, dan WHRU 2010 UC. Umpan
WHRU diperoleh dari PS II dan menghasilkan High Pressure Steam 40 kg/cm2.

3.5 Pengelolahan Lingkungan


Proses pengelolaan limbah sangat diperlukan oleh suatu industri karena,
bila tidak diolah dengan benar, limbah yang berbentuk padat, cair dan gas tersebut
dapat mencemari lingkungan dan memberikan dampak yang buruk pada
lingkungan tersebut (Caca, 2015). Berikut ini adalah berbagai macam jenis limbah
yang terdapat di Pertamina RU III:
1. Limbah cair
a. Air buangan CDU dan Catalytic Cracking
b. Air buangan Caustic Treater
c. Air kondensat dari HVU yang menggunakan Steam Ejector
d. Drain Pompa-Pompa Akumulator air pendingin
e. Boiler Water
f. Cooling Water
g. Water Treating Plant
h. Backwash Demint Water Plant
63

2. Limbah Gas
a. Fuel Gas dari pembakaran di Furnace I, Boiler
b. Buangan gas dari gas turbin
c. Flare
d. LPG Markapan Injection
e. Tangki Asam Asetat
3. Limbah Padat
a. Coke
b. Oil Sludge ex Tankage
c. Dissolved Air Flotation Sludge
d. Catalyst Spent
e. Separator Sludge

3.5.1 Pengolahan Limbah Cair


Limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir dilakukan
treatment supaya tidak memberikan dampak yang merugikan lingkungan.
Penanganan limbah dan sistem pembuangan suatu industri yang akan dibangun
harus direncanakan sejak awal dan sedini mungkin. Pengelolaan limbah cair
terbagi dalam 5 pengolahan yaitu;
- Physical Treatment, antara lain: Separator, Filtration, Adsorption, Settling,
Cyclone.
- Chemical Treatment, antara lain: Aerasi, Dissolved Air Flotation.

Tabel 3.3 Sistem Pengelolaan Limbah


Oil Content in System/Proses
Waste Water (ppm)
1000-5000 API Separator
30-1000 CPI Separator
5-30 Air Flotation
1-10 Activated Sludge
0-5 Activated Carbon
Sumber: Proses Unit Produksi Utilitas, Pertamina 2018

Pemisahan minyak dan air atas dasar perbedaan kerapatan atau gravitasi
(Physical Teatment) untuk oil trap, API Separator dan CPI Separator. Dikilang
64

Plaju-Sungai Gerong dikenal dengan nama Oil Caycher/ Oil Separator. Sebelum
air buangan tersebut mengalir sewer existing dan selanjutnya dibuang kesungai
melalui Oil Cather, air buangan yang mengandung minyak dialirkan ke CPI
(Corrugated Plate Interceptor) yang sudah terpasang di CDU. Pada CPI minyak
yang terkandung di Oil Water tersebut dipisahkan oleh Skimmer, kemudian
dialirkan ke Oil Sump. Minyak yang telah terpisah dipompakan ke tangki Slop Oil
untuk diolah kembali. Sedangkan air yang berada di bawah akan dibuang ke
Sungai Komering atau Sungai Musi. Kilang Plaju memiliki delapan OC dan
kilang Sungai Gerong memiliki dua Oil Separator (OS). Air yang telah diolah
sebelum dibuang ke Sungai harus memenuhi standar baku mutu limbah cair.

Tabel 3.4 Standar Bahan Baku Mutu Limbah Cair


Parameter Kadar Max Beban Pencemaran Max
BOD 1000 mg/L 120 g/cm
COD 200 mg/L 240 g/cm
Minyak dan Lemak 25 mg/L 30 g/cm
Sulfida 1 mg/L 1,2 g/cm
Phenol Total 1 mg/L 1,2 g/cm
Cr6 0,5 mg/L 0,6 g/cm
NH3.N 10 mg/L 1,2 g/cm
Ph 6-9
Sumber: Proses Unit Produksi utilitas, Pertamina 2018

3.5.2 Pengolahan Limbah Gas


Kadar CO dapat dikurangi dengan jalan memperbaiki system pembakaran,
dilakukan menggunakan udara yang melebihi kebutuhan (excess air), sehingga
pembakaran berlangsung sempurna.
Reaksi: CO + O → CO
Particular dapat diambil dengan bantuan peralatan, antara lain: Dust
Collector, Cyclone, Scrubber, Filter atau pun Electrostatic Prescipitator. Sebagai
salah satu contoh di FCCU telah terpasang Cyclone di unit Regenerator dan
Reactor yang berfungsi untuk mengurangi emisi particular.
65

3.5.3 Pengolahan Limbah Padat


Penanganan sludge dan slop mengacu SK Pertamina No.Kpts70/
C0000/91-B1 tanggal 1 Maret 1991 bahwa:
1. Sludge yang mengandung minyak perlu diadakan proses pemisahan minyaknya
terlebih dahulu dengan pemanasan dan filtrasi bertekanan, minyak yang
terpisah dari sludge tersebut dapat diproses kembali atau dicampur dengan
minyak mentah atau minyak slop. Slop secara fisik berbentuk cair, tetapi tidak
mempunyai spesifikasi dan sifat fisis yang tetap sehingga dapat dinilai sebagai
minyak kotor, sehingga pada batas-batas tertentu dapat diproses ulang. Sumber
dan Upaya dalam pengelolaan limbah yang ada di PT Pertamina RU III dapat
dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Sumber dan upaya pengelolaan limbah


PT. Pertamina (Persero) RU III
Sumber
Faktor Lingkungan Bobot dan Tolak Ukur Upaya Pengelolaan
Dampak
yang Terkena Dampak Lingkungan
Dampak
Emisi gas Kualitas udara ambien Emisi gas masih Pengendalian kadar S
NOx, CO, di Komperta S. terkendali di bawah dan N dalam crude oil
SOx, dan Gerong, Plaju & baku mutu
partikulat pemukiman Sei Rebo.
dari stack
RFCCU
Air Limbah : - Bahan cemaran BOD, - PKM II memperkecil - Pemasangan CPI
debit dan COD minyak dan beban cemaran dan untuk mengurangi
kualitas air fenol kilang Musi dispersi minyak, tetapi beban cemaran BOD,
limbah outlet melampui baku mutu total kilang Musi COD, dan minyak
PKM II, yaitu - Dispersi minyak masih melebihi baku pada OS-I/II, OS-IV,
OS-IV Sungai Sungai Komering dan mutunya. OC-2/3, OC-6, OC-8.
Gerong dan berlanjut ke Sungai - Dispersi termal di - Rencana
OC-8 Plaju Musi menaikkan Sungai Komering tidak pembangunan cooling
kadar minyak 0.6-1.4 melebihi 50 m dari tower berkapasitas
mg/L keluaran 2x5000 m3/jam
- Suhu cooling tower
terkendali tidak
melebihi 3oC diatas
suhu ambien.
66

Sumber
Faktor Lingkungan Bobot dan Tolak Ukur Upaya Pengelolaan
Dampak
yang Terkena Dampak Lingkungan
Dampak
Limbah padat Kehawatiran terjadinya Rembesan diperkirakan Dijual ke pabrik semen
berupa sisa rembesan Ni dan V tidak melebihi 225 m Baturaja sebagai aditif
katalis dalam air limbah di semen atau
RFCCU dumping area. dimanfaatkan untuk
bahan konstruksi
bangunan.
Sludge minyak Kekhawatiran Minyak dalam tanah Membangun sludge oil
terjadinya rembesan mengalami biodegredasi recovery yang
minyak ke dalam air disesuaikan dengan
tanah. PKM II
Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU III, 2018

2. General Waste
Limbah-limbah umum yang ada di PT. Pertamina ditangani oleh pihak
ketiga yaitu PT. Wastec Internasional.