Anda di halaman 1dari 13

Disusun oleh :

Nama : Dikah Altifa Udampo


Kelas : XI ips 2
Guru : Christianto Parera, S.pd

SMA NEGERI 1 TAHUNA 2019/2020


KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur patut di panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karna atas rahmat
dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah ini.tanpa pertolongan-Nya mungkin
kami tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini disususn agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Kebudayaan Adat
Betawi”, yang saya sajikan dalam pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini disusun
oleh saya dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang pada dirisaya maupun dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini
dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Kebudayaan Adat Betawi” yang sangat dekat sekali dalam
kehidupan masyarakat sekitar. Untuk itu saya berharap dengan adanya makalah ini dapat
menambah pengetahuan tentang salah satu kebudayaan di indonesia yang hampir sebagian
orang melupakannya.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menjadikan masyarakat yang lebih baik lagi.

Tahuna , 28 Maret 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Penghantar..................................................................................................... I

Daftar Isi .............................................................................................................. II

Bab I Pendahuluan ............................................................................................... 1

a. Latar belakang .......................................................................................... 1

b. Rumusan Masalah .................................................................................... 2

c. Tujuan Penulisan ............................................................................ ..........2

Bab II Pembahasan ....................................................................................... 2

a. Sejarah Asal Usul Betawi ....................................................................2

b. Upacara Pernikahan .............................................................................4

c. Rumah adat ........................................................................................6

d. Makanan Khas Betawi .........................................................................7

e. Perilaku dan Sifat Suku Betawi .............................................................8

f. Kepercayaan Suku Betawi ...................................................................8

g. Seni dan Kebudayaan Suku Betawi .......................................................9

h. Bahasa Suku Betawi ..............................................................................9

i. Mata Pencarian ...................................................................................10

Bab III Penutup ................................................................................................. 11

a. Kesimpulan ............................................................................................ 11
b. Saran ...................................................................................................... 11

Bab IV Lampiran ................................................................................................ 12

a. Poin Wawancara ..................................................................................... 12


b. Daftar Pustaka.........................................................................................12
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh tuhan sebagai makhluk sosial dan
berbudaya, hal ini dapat kita lihat dari perkembanganmanusia yang ditandai dengan adanya
peradaban -peradaban yang ada serta budaya yang sudah terbentu.manusia mendiami suatu
wilayah yang berbeda. Hal ini membuat adat istiadat, kebudayaan, dan keperibadian setiap
manusia suatu wilayah berbeda satu dengan yang lainnya. Namun dapat dibedakan secara
garis besar terdapat pembagian tiga wilayah, yaitu: barat, timur tengah, dan timur.

Indonesia adalah termaksuk ke dalam bangsa timur, yang dikenal sebagai bangsa yang
berkepribadian baik. Bangsa timur telah dikenal oleh dunia sebagai bangsa yang ramah dan
bersahabat. Orang-orang dari wilayah lain sangan menyukai orang timur dikarenakan
keperibadian orang timur yang tidak individualitas dan saling tolong menolong satu dengan
yang lainnya.

Menurut Solo Soemarjan menjelaskan bahwa yang dimaksud masyarakat adalah manusia
yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.dengan demikian tidak ada masyarakat
yang tidak mempunyai kebudayaan. Sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat
sebagai wadah pendahulunya. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat
adalah orang-orang yang hidup bersama untuk melakukan berbagai kegiatan bagi
kepentingan bersama atau sebagian besar hidupnya berada dalam kehidupan budaya.

Suku Betawi berasal dari hasil kawin antar etnis dan bangsa di masa lalu secara biologis.
Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni di Jakarta dan Bahasa
Melayu Kreol adalah bahasa yang digunakannya, dan juga kebudayaan melayunya adalah
kebudayaannya. Kata Betawi sebenarnya dari kata “Batavia”, yaitu nama kuno Jakarta yang
pernah diberikan oleh Belanda. Jadi, sangatlah menarik bila diteliti secara struktur, proses
dan pertumbuhan sosial suku Betawi mulai dari sejarah, bahasa, kepercayaan, profesi prilaku,
wilayah, seni dan budaya

B. RUMUSAN MASALAH

Dari untaian kata diatas, kami ingin menjelaskan kepada masyarakat mengenai batasan dan
rumusan masalah dalam beberapa point penting:

1. Bagaimana sejarah asal usul suku Betawi

2. Bagaimana upacara pernikahan dari Suku Betawi

3. Apakah rumah adat betawi

4. Apa saja makanan khas betawi


5. Bagaimana perilaku dan sifat dari Suku Betawi

6. Apa saja kepercayaan Suku Betawi

7. Apa saja seni dan kebudayaan Suku Betawi

8. Apa bahasa yang dipaka Suku Betawi

9. Bagaimana mata pencarian Suku Betawi

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan dari makalah kami ini adalah untuk mengetahui secara mendalami dan
mengetahui sejarah dari Suku Betawi dari segala aspeknya. Adapun manfaat dari penulisan
kami ini yaitu agar dapat menambah pengetahuan tentang proses dan pertumbuhan sosial
Suku betawi

BAB II

PEMBAHASAN

A. SEJARAH ASAL USUL SUKU BETAWI

Ada tiga pendapat yang menjelaskan tentang sejarah suku Betawi, yaitu :

1. Pendapat pertama

Pendapat pertama mengatakan bahwa Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis
dan bangsa di masa lalu yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Sehingga etnis betawi
disebut sebagai pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai
kelompok seperti orang Sunda, Melayu, Jawa, Arab, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan
Tionghoa.

2. Pendapat kedua

Pendapat kedua menurut sejarawan Sagiman MD etnis Betawi telah mendiami Jakarta dan
sekitarnya sejak zaman batu baru atau pada zaman Neoliticum. Ia berpendapat bahwa
penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa sebagaimana orang Sunda, Jawa, dan
Madura.

Pendapat tersebut juga dipertegas dengan Uka Tjandarasasmita yang mengeluarkan


monografinya "Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan
Pajajaran (1977)". Dalam monografinya mengungkapkan bahwa Penduduk Asli Jakarta telah
ada pada sekitar tahun 3500 – 3000 SM.

3. Pendapat ketiga

Lance Castles yang pernah melakukan penelitian tentang Penduduk Jakarta dimana Jurnal
Penelitiannya diterbitkan tahun 1967 oleh Cornell University yang mengatakan bahwa secara
biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah
campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Kelompok etnis
ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis yang ada di Indonesia (Sunda, Melayu, Jawa,
Bali, Bugis, Makassar,dan Ambon) maupun dari luar seperti Arab, India, Tionghoa dan Eropa.

Penelitian yang dilakukan Lance Castles tersebut menitik beratkan pada empat sketsa sejarah
yaitu:

1. Daghregister, yaitu catatan harian tahun 1673 yang dibuat Belanda yang
berdiam di dalam kota benteng Batavia.

2. Catatan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java pada tahun 1815.

3. Catatan penduduk pada Encyclopaedia van Nederlandsch Indie tahun 1893

4. Sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.

Etimologi Betawi

Menurut para ahli dan sejarahwan asal mula kata Betawi mengacu pada pendapat berikut:

1. Pitawi (bahasa Melayu Polynesia Purba) yang artinya larangan. Perkataan ini mengacu
pada komplek bangunan yang dihormati di Batu Jaya. Sejarahwan Ridwan Saidi mengaitkan
bahwa Kompleks Bangunan di Batu Jaya, Karawang merupakan sebuah Kota Suci yang
tertutup, sementara Karawang, merupakan Kota yang terbuka.

2. Betawi (Bahasa Melayu Brunei) di mana kata "Betawi" digunakan untuk menyebut giwang.
Nama ini mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten Bekasi, yang banyak ditemukan
giwang dari abad ke-11 M.

3. Flora guling Betawi (cassia glauca), famili papilionaceae yang merupakan jenis tanaman
perdu yang kayunya bulat seperti guling dan mudah diraut serta kokoh. Dahulu kala jenis
batang pohon Betawi banyak digunakan untuk pembuatan gagang senjata keris atau gagang
pisau.

Kemungkinan nama Betawi yang berasal dari jenis tanaman pepohonan ada kemungkinan
benar. Menurut Sejarahwan Ridwan Saidi Pasalnya, beberapa nama jenis flora selama ini
memang digunakan pada pemberian nama tempat atau daerah yang ada di Jakarta, seperti
Gambir, Krekot, Bintaro, Grogol dan banyak lagi. "Seperti Kecamatan Makasar, nama ini tak
ada hubungannya dengan orang Makassar, melainkan diambil dari jenis rerumputan"

Sehinga Kata "Betawi" bukanlah berasal dari kata "Batavia" (nama lama kota Jakarta pada
masa Hindia Belanda), dikarenakan nama Batavia lebih merujuk kepada wilayah asal nenek
moyang orang Belanda.

B. UPACARA PERNIKAHAN SUKU BETAWI

Sebelum diadakan akad nikah secara adat, terlebih dahulu harus dilakukan rangkaian pra-
akad nikah yang terdiri dari:
1. Masa dipiare

2. Acara mandiin calon pengantin wanita yang dilakukan sehari sebelum akad nikah.

3. Acara tangas atau acara kum

4. Acara ngerik atau malem pacar.

Setelah rangkaian tersebut dilaksanakan, tibalah pada pelaksanaan akad nikah. Calon tuan
mantu berangkat menuju rumah calon none mantu dengan membawa rombongan yang biasa
disebut rudat. Mempelai pria dan keluarganya mendatangi kediaman mempelai wanita
dengan menggunakan andong atau delman hias. Kedatangan mempelai pria dan keluarga
tersebut ditandai dengan petasan sebagai sambutan atas kedatangan mereka. Sedangkan
barang yang dibawa pada akad nikah tersebut antara lain:

1. sirih nanas lamaran

2. sirih nanas hiasan

3. mas kawin

4. miniatur masjid yang berisi uang belanja

5. sepasang roti buaya

6. sie atau kotak berornamen Cina untuk tempat sayur dan telor asin

7. jung atau perahu cina yang menggambarkan arungan bahtera rumah tangga

8. hadiah pelengkap

9. kue penganten

10. kekudang artinya suatu barang atau makanan atau apa saja yang sangat disenangi oleh
none calon mantu sejak kecil sampai dewasa

Pada prosesi ini mempelai pria betawi tidak boleh sembarangan memasuki kediaman
mempelai wanita. Maka, kedua belah pihak memiliki jagoan-jagoan untuk bertanding, yang
dalam upacara adat dinamakan “Buka Palang Pintu”. Pada prosesi tersebut, terjadi dialog
antara jagoan pria dan jagoan wanita, kemudian ditandai pertandingan silat serta dilantunkan
tembang Zike atau lantunan ayat-ayat Al Quran. Semua itu merupakan syarat di mana
akhirnya mempelai pria diperbolehkan masuk untuk menemui orang tua mempelai wanita.

Pada saat akad nikah, mempelai wanita Betawi memakai baju kurung dengan teratai dan
selendang sarung songket. Kepala mempelai wanita dihias sanggul sawi asing serta kembang
goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepasang burung Hong. Kemudian pada dahi mempelai
wanita diberi tanda merah berupa bulan sabit yang menandakan bahwa ia masih gadis saat
menikah.
Sementara itu, mempelai pria memakai jas Rebet, kain sarung plakat, hem, jas, serta kopiah,
ditambah baju gamis berupa jubah Arab yang dipakai saat resepsi dimulai. Jubah, baju gamis,
dan selendang yang memanjang dari kiri ke kanan serta topi model Alpie berari harapan agar
rumah tangga selalu rukun dan damai.

Setelah upacara pemberian seserahan dan akad nikah, mempelai pria membuka cadar yang
menutupi wajah pengantin wanita untuk memastikan apakah benar pengantin tersebut adalah
dambaan hatinya atau wanita pilihannya. Kemudian mempelai wanita mencium tangan
mempelai pria. Selanjutnya, kedua mempelai diperbolehkan duduk bersanding di pelaminan
(puade). Pada saat inilah dimulai rangkaian acara yang dikenal dengan acara kebesaran.
Adapun upacara tersebut ditandai dengan tarian kembang Jakarta untuk menghibur kedua
mempelai, lalu disusul dengan pembacaan doa yang berisi wejangan untuk kedua mempelai
dan keluarga kedua belah pihak yang tengah berbahagia.

Menariknya dalam adat betawi, setelah pasangan memepelai resmi berstatus suami dan istri,
mereka tidak langsung bisa melakukan hubungan badan. Aturannya ialah sang istri harus jual
mahal terhadap ajakan suami untuk melakukan hubungan intim, sehingga sang suami harus
melwati ‘malem negor’, yakni merayu sampai sang istri luluh hatinya dan mau diajak masuk
kamar. Tak hanya dengan sekadar kata-kata, ‘uang tegor’ pun menjadi bagian dari bujuk rayu
sang suami.

C. RUMAH ADAT BETAWI

Rumah adat Betawi adalah Rumah Kebaya


Rumah Bapang atau sering disebut rumah kebaya. Ciri khas rumah ini adalah teras
rumahnya yang luas disanalah ruang tamu dan bale tempat santai pemilik rumah berada, semi
terbuka hanya di batasi pagar setinggi 80 cm dan biasanya lantainya lebih tinggi dari
permukaan tanah dan terdapat tangga terbuat dari batubata di semen paling banyak 3 anak
tangga. Depan dan sekeliling rumah adalah halaman rumah yang luas baru pagar paling luar
dari rumah tersebut. Bentuknya sederhana dan terbuat dari kayu dengan ukiran khas betawi
dengan bentuk rumah kotak ( dibangun diatas tanah berbetuk kotak). Rumah Bapang terdiri
dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur dan teras extra luas.

D. MAKANAN KHAS SUKU BETAWI

1. kerak telor

2. Nasi uduk

3. Nasi ulam

4. Ketupat sayur/lontong sayur

5. Gado-gado

6. Ketoprak
7. Semur jengkol

8. Laksa betawi

9. Pindang bandeng

10. Soto betawi

11. Sototangkar

E. PERILAKU SUKU BETAWI

Nilai-nilai kebetawian yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Betawi melahirkan


karakter yang tegas dan sabar pada diri orang Betawi. Walaupun hidup dalam kesusahan,
orang Betawi tidak akan menjual keyakinan mereka. Sesuatu yang telah mereka anut sejak
kecil tidak akan mudah pudar begitu saja hanya karena kesusahan atau iming-iming harta-
benda. Kehidupan bagi orang Betawi adalah sebuah perjuangan dan kerja keras yang terus
berlanjut hingga kematian tiba. Oleh karena itu, karakter pantang menyerah dan selalu
mencari jalan keluar adalah ciri dari orang betawi asli. Dalam mengatasi masalah hidup
menjadi kekuatan tersendiri masyarakat Betawi. Karakter ini juga melahirkan sifat berani
menghadapi tantangan apa pun pada diri orang Betawi selama mereka meyakini apa yang
mereka pilih itu benar. Gambaran lain orang Betawi adalah sebuah penggambaran watak
seorang manusia yang menghargai kejujuran dan keterbukaan. Kejujuran dan keterbukaan
dalam masyarakat Betawi merupakan hal yang sangat esensial dan tampak dalam keseharian
mereka, seperti terlihat dalam komunikasi mereka sehari-hari. Kejujuran masyarakat Betawi
ini terlihat menonjol pada pola komunikasi mereka yang apa adanya, hampir jarang ditemui
kata-kata untuk memperhalus maksud pembicaraan. Jika mereka mengatakan Hitam, maka
akan dikatakan hitam, putih dikatakan putih, tidak dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi.
Keterbukaan masyarakat Betawi menghadirkan rasa toleransi yang tinggi mereka terhadap
kaum pendatang. Hal ini sudah terjadi sejak beratus-ratus tahun yang lalu hingga kini.
Keterbukaan ini pun membuat kebudayaan Betawi menjadi semakin semarak dengan
masuknya unsur-unsur budaya kaum pendatang yang berasimilasi dengan kebudayaan Betawi
sendiri. Keterbukaan ini membuat masyarakat Betawi tidak menutup diri terhadap kemajuan
dan perkembangan kebudayaan dunia. Akan tetapi, tentunya hal ini bukan berarti mereka
menerima begitu saja kebudayaan yang dibawa para pendatang itu. Mereka juga mengkritisi
kebudayaan itu sebelum mereka terima dalam keseharian mereka. Keterbukaan dan kejujuran
masyarakat Betawi dalam keseharian ini pun melahirkan sikap orang Betawi humoris. Hal ini
mungkin terjadi untuk menghindari pertengkaran karena sikap terbuka dan jujur mereka yang
mungkin akan melukai hati orang lain. Dengan humor setidaknya sikap jujur mereka terhadap
perbuatan seseorang yang buruk hanya akan ditanggapi main-main atau hanya bercanda oleh
orang itu, walaupun maksudnya menyindir perbuatan orang itu. Kelucuan masyarakat Betawi
umumnya juga terjadi karena keluguan dan kepolosan sikap mereka terhadap situasi yang
mereka hadapi. Bahkan jika kita memperhatikan dunia hiburan saat ini, kita bisa mendapati
jika model lawakan masyarakat Betawi banyak dimanfaatkan para komedian Indonesia,
misalnya bentuk lawakan yang mengajak penontot terlibat seperti pada lenong yang
dibawakan oleh Bolot, Malih dan teman-teman yang lainnya. Hal ini bukan hanya karena
masyarakat Betawi memiliki sense of humor yang tinggi, tetapi juga karena model humor
masyarakat Betawi hadir karena kejujuran mereka, bukan dibuat-buat. Selain itu, model
humor Betawi juga mengajak penonton untuk aktif dan terlibat langsung dalam pertunjukkan
mereka, seperti terlihat pada pertunjukkan lenong. Hal lain yang juga menunjukkan gambaran
orang Betawi adalah rasa cinta mereka terhadap bangsa dan negara.

F. KEPERCAYAAN SUKU BETAWI

Di samping kepercayaan terhadap agama yang begitu kuat, kelompok-kelompok kecil dalam
masyarakat Betawi masih mempercayai segala hal yang bersikap gaib atau supranatural.
Adapun beberapa hal yang masih diyakini oleh kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat
Betawi tersebut diantaranya adalah ; Kepercayaan akan dewa-dewa jahat, kepercayaan akan
makhluk halus baik maupun jahat dan kekuatan-kekuatan lain yang diluar logika. Oleh sebab
itu ada beberapa ritual seringkali dilakukan kelompok-kelompok kecil masyarakat Betawi ini
guna menjaga hubungan antara manusia dengan makhluk –makhluk gaib diantaranya adalah
dengan menggelar berbagai upacara atau persembahan.[2]

Kepercayaan akan kekuatan gaib juga bisa ditemui oleh masyarakat Betawi yang menempati
beberapa wilayah seperti di Kampung Baru Kelapa Dua Wetan, Pondok Ranggon, Pasar
Rebo, yang mempercayai bahwa setiap bayi yang dilahirkan selalu didampingi dengan empat
saudara kandungnya yang tidak bisa dilihat dengan mata. Empat saudara kandung masing-
masing dinamai ; Mbok Tutuban, Nyai Gumelar, Urihi dan tali ari-ari sebagai saudara yang
keempat yang disebut Gebleghi. Tali ari-ari ini kemudian dikubur dan rohnya menjadi
penjaga dan pelindung saudaranya yang hidup.

Demi menghormati keempat saudara ini maka dalam berbagai kesempatan, kelompok-
kelompok tertentu dalam komunitas Betawi kerap member sesajen untuk menghormati
keempat saudaranya. Sesajen tersebut dinamakan ancak dan dipasang di empat penjuru
pekarangan rumah ketika sedang menggelar hajatan seperti pesta perkawinan dan khitanan.

Dalam upacara tradisional juga sering dibacakan mantra-mantra yang dikenal sebagai
‘ Empat Papat Kelima Pancer ’ Empat papat berarti empat hal atau manusia hidup harus
memperhatikan empat hal yang ada di sekelilingnya maksudnya empat hal yang ada di
penjuru angin termasuk utara, selatan, barat dan timur. Kelima pancer maksudnya adalah
kelima pusat, dari atas kebawah atau sebaliknya. Kelima Pancer merupakan pencerminan
hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai penciptanya. Empat papat kelima Pancer
berarti pola hubungan manusia dengan sesame secara horizontal dan pola hubungan manusia
dengan Tuhan secara vertikal.

G. SENI DAN KEBDAYAAN BETAWI

Suku Betawi memiliki kesenian dan kebudayaan yang beragam. Dan berikut kesenian dan
kebudayaan dari masyarakat betawi

1. Rumah adat = rumah kebaya

2. Pakaian adat = untuk laki laki adalah baju koko, celana batik,kain pelekat

Atau pun sarung yang diikat di leher serta peci yang

Yang digunakan sedangkan wanita menggunakan baju


Kurung lengan pendek atau kebaya

Untuk pakaian pernikahan laki-laki memakai jubah dan

Penutup kepala sedangkan wanita memakai blus berwrna

Cerah dan bawahnya menggunakan rok atau yang disebut

Kun yang berwarna gelap dengan model duyung

3. seni tari = tari topeng.dan Tari cokek betawi

4. musik = gambang keromong dan tanjidor

5. bela diri = pencak silat, bela diri ini dimainkan oleh dua orang laki-laki

Dengan menggunakan baju koko, ikat pnggang khas betawi

Serta peci

6.kesenian = ondel-ondel dan lenong

G. BAHASA SUKU BETAWI

Bahasa Betawi atau Melayu Dialek Jakarta atau Melayu Batavia (bew) adalah
sebuah bahasa yang merupakan anak bahasa dari Melayu. Mereka yang menggunakan bahasa
ini dinamakan orang Betawi. Bahasa ini hampir seusia dengan nama daerah tempat bahasa ini
dikembangkan, yaitu Jakarta.
Bahasa Betawi adalah bahasa kreol (Siregar, 2005) yang didasarkan pada bahasa Melayu
Pasar ditambah dengan unsur-unsur bahasa Sunda, bahasa Bali, bahasa dari Cina Selatan
(terutama bahasa Hokkian), bahasa Arab, serta bahasa dari Eropa, terutama bahasa
Belanda dan bahasa Portugis. Bahasa ini pada awalnya dipakai oleh kalangan masyarakat
menengah ke bawah pada masa-masa awal perkembangan Jakarta. Komunitas budak serta
pedagang yang paling sering menggunakannya. Karena berkembang secara alami, tidak ada
struktur baku yang jelas dari bahasa ini yang membedakannya dari bahasa Melayu, meskipun
ada beberapa unsur linguistik penciri yang dapat dipakai, misalnya dari peluruhan awalan me-,
penggunaan akhiran -in (pengaruh bahasa Bali), serta peralihan bunyi /a/ terbuka di akhir kata
menjadi /e/ atau /ɛ/ pada beberapa dialek lokal.

F. MATA PENCARIAN MASYRAKAT BATAWI

masyarakat Betawi asli kebanyakan mencari nafkah dari hasil bertani dan berkebun. Hasil
tani atau hasil kebun kemudian mereka jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sementara untuk masyarakat Betawi yang menekuni perkerjaan sebagai petani, mereka akan
menanam beberapa jenis tanaman seperti buah-buahan dan bunga. Buah-buahan yang mereka
tanam bisa berupa; salak, duku, durian, nangka dan melinjo. Sedangkan untuk jenis tanaman
bunga, mereka akan menanam bunga anggrek dan tanaman hias lainnya.

Selain bertani, masyarakat Betawi, juga sebagian ada yang terjun di dunia dagang diantaranya
adalah dengan membuka warung atau berkeliling menjajakan makanan-makanan khas betawi
seperti asinan, tape uli, kerak telor, nasi uduk, laksa, dodol, gado-gado, sayur asam dan lain
sebagainya. Pada umumnya masyarakat Betawi sekarang hidup mapan dan kecukupan.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dari kami di atas, maka kami telah menyimpulkan bahwa kesenian
dan kebudayaan Suku Betawi merupakan kebudayaan asli kota Jakarta dan memiliki jenis
musik seperti Gambang Keromong, Tanjidor. Menggukan bahasa dengan 2 dialek. Dari
bidang seni teater terdapat lenong. Kemudian terdapat cerita rakyat serta Ondel-ondel sebagai
pertunjukan khasnya. Ini membuktikan bahwa tiap daerah yang ada di Indonesia memiliki
budaya daerah masing-masing.

B. SARAN

Kita sebagai masyarakat indonesia yang memiliki banyak seni budaya dari berbagai wilayah
harus bisa menjaga kelestariannya. Upaya dalam menjaga kelestariannya bukan hanya dari
pemerintah saja tapi peran masyarakat dalam menjaga seni budaya sangat di butuhkan agar
seni budaya dapat terjaga kelestariannya. Dan kami sangat mengharapkan apapapun yang
dilakukan oleh Pemerintah demi upaya modernisasi Jakarta tetap memperhatikan aspek
kelangsungan dan kearifan Budaya Betawi.

BAB IV

Lampiran

a. Poin Poin Wawancara

1. menurut Anda, apa yang anda ketahui tentang suku Betawi?

2. Apa yang menjadi ciri khas suku Betawi?

3. Pada umumnya masyarakat betawi berprofesi sebagai apa?

4. Perilaku dan sifat orang Betawi?

5. Tanggapan Anda mengenai terpinggirnya masyarakat Betawi oleh moderernisasi


Jakarta?

b. DAFTAR PUSTAKA

http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2015/04/sejarah-asal-usul-suku-betawi-dan.ttml
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1283/upacara-adat-pernikahan-suku-
betawi

http://digiku.com/makanan-khas-betawi-terpopuler/

http://www.kompasiana.com/derry.ardian/kelakuan-orang-
betawi_550d4e68813311bf36blee24e

http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Agama