Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Menurut Un-Population Division, Department of Economic and Sosial

Affairs (1999) jumlah lanjut usia (lansia) ≥ 60 tahun memperkirakan hampir

mencapai 600 juta orang dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun

2050. Saat ini lansia akan melebihi jumlah populasi anak (0-14 tahun),

pertama kali dalam sejarah umat manusia (Darmojo dan Martono, 2009)

Berdasarkan data World Healt Organization (WHO) dalam Depkes RI

(2013) di kawasan Asia Tenggara populasi lansia sebesar (8%) atau sekitar

14,2 juta jiwa. pada tahun 2000 jumlah lansia sekitar 15,3, sedangkan pada

tahun 2005-2010 jumlah lansia akan sama dengan jumlah anak balita, yaitu

sekitar 19,3 (±9%) juta jiwa dari total populasi. Dan pada tahun 2020

diperkirakan jumlah lansia mencapai 28,8 juta jiwa (11,34%) dari total

populasi. Di Indonesia akan menduduki peringkat Negara dengan struktur dan

jumlah penduduk lanjut usia setelah RRC, India dan Amerika serikat dengan

harapan hidup di atas 70 tahun (Nugroho, 2008, bab 1 pdf, diperoleh 18 Juni

2016)

Dari sensus penduduk dunia, Indonesia mengalami peningkatan jumlah

lansia (60 tahun ke atas) dari 3,7% pada tahun 1960 hingga 9,7% pada tahun

2011. Diperkirakan akan meningkat menjadi 11,34% pada tahun 2020 dan

25% pada tahun 2050. Jumlah orang tua di Indonesia berada di peringkat

i
keempat terbesar di dunia setelah China, India, dan Amerika. Propinsi Jawa

tengah adalah salah satu propinsi yang mempunyai penduduk usia lanjut diatas

jumlah lansia nasional yang hanya 7,6% pada tahun 2000 dan dengan usia

harapan hidup mencapai 64,9 tahun. Secara kuantitatif kedua parameter

tersebut lebih tinggi dari ukuran nasional (Kadar, Francis, dan Sellick, 2012;

Departemen Kesehatan, 2013)

Pertambahan jumlah lansia dibeberapa Negara, salah satunya Indonesia

telah mengubah profil kependudukan baik nasional maupun dunia. Hasil

sensus penduduk tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk lansia di

Indonesia berjumlah 18,57 juta jiwa, meningkat sekitar 7,93% dari tahun 2000

yang sebanyak 14,44 juta jiwa. Diperkirakan jumlah penduduk lansia di

Indonesia akan terus bertambah sekitar 450.000 jiwa pertahun. Dengan

demikian, pada tahun 2025 jumlah penduduk lansia di Indonesia akan sekitar

34,22 juta jiwa. (Badan Pusat Statistik 2010)

Jumlah lansia di seluruh dunia mencapai 901 juta jiwa (Depertemen

Sosial, 2015). Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2010 sebanyak

8,48% menjadi 9,77%. Pada tahun 2015 (Muhith & Siyoto 2016).

Memperkirakan jumlah lansia akan mencapai 11,34% dari seluruh penduduk

Indonesia di tahun 2020.Peningkatan lansia di Sulawesi Selatan mencapai dua

kali lipat dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 9,9 juta jiwa.

Pertambahan jumlah lanjut usia (lansia) di Indonesia dalam kurun waktu

1990 sampai 2025diperkirakan sebagai pertumbuhan lansia yang tercepat di

dunia. Jumlah lansia di Indonesia mencapai16 juta jiwa pada tahun 2002. Data
sensus badan pusat statistik pada tahun 2000 menunjukkan bahwajumlah

penduduk lansia sebanyak 15.054.877 jiwa dengan jumlah lansia wanita 52,42%

dan pria47,58%. Tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah lansia di Indonesia

mencapai 18,96 juta jiwa(Statistik Indonesia, 2010).

Di Sulawesi Selatan jumlah penduduk lanjut usia terus menerus meningkat.

Pada tahun 2009 jumlah penduduk yang mencapai umur 60 tahun ke atas (lansia)

berjumlah sekitar 5,31 juta orang atau 4,48% dari total penduduk. Pada tahun

2010 jumlah tersebut meningkat hampir dua kali lipat yaitu menjadi 9,9 juta jiwa.

Pada tahun 2011 jumlah lansia meningkat sekitar tiga kali lipat dari jumlah lansia

pada tahun sebelumnya(Statistik Indonesia, 2010).

Sementara itu, diKabupaten BARRU pada tahun 2011 penduduk lanjut usia

sebanyak 27 ribu jiwadan yang mengalami depresi sekitar 42%dan pada tahun

2011 mencapai 48 ribu jiwadan yang mengalami depresi sekitar 30% (Depsos,

2010).

Menurut studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Desa Lompo

Tengah Kecamatan Tanete Riaja terdapat 216 jumlah lansia di desa Lompo

Tengah Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru pada tahun 2016. Jumlah

penduduk usia lanjut semakin meningkat seiring dengan meningkatnya angka

harapan hidup. Pada tahun 2015 angka haraapan hidup di Makassar mencapai

74,38 jiwa sedangkan di Kabuapten Barru angka harapan hidup mencapai

66,73 jiwa Badan Pusat Statistik (BPS, 2015). Peningkatan usia harapan hidup

terjadi karena beberapa aspek seperti perbaikan pelayanan kesehatan dan


pengaruh kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di

bidang kedokteran.

Lansia merupakan proses yang terjadi secara alami pada setiap individu

dimana dalam setiap proses ini terjadi perubahan fisik maupun mental yang

akan berpengaruh pada berbagai fungsi dan kemampuan tubuh yang pernah

dimilikinya. Kecepatan proses menua setiap individu pada organ tubuhnya

berbeda-beda, hal itu benar diketahui, tetapi ada yang menyatakan itu

disebabkan oleh hormone setiap individu.

Orang beranggapan lansia sebagai semacam penyakit hal itu tidak benar

karena menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya

daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari luar maupun dari dalam

tubuh. Pada proses menua lansia mengalami perubahan-perubahan baik

perubahan fisik pada sistem-sistem tubuh dan juga pada mental maupun

psikologis (Nugroho, 2010).

Lansia merupakan tahap akhir siklus perkembangan manusia, dan semua

orang berharap akan menjalani hidup masa tuanya dengan tenang, damai, serta

menikmati masa pensiun bersama keluarga dengan penuh kasih

sayang(Syamsudin, 2006). Masalah yang terjadi pada lansia diantara lain sakit

gigi 2,48%, diare 3,05%, asma 11,09%, panas 17,83%, sakit kepala 19,52%,

pilek 21,52%, batuk 33,89% dan lainnya 63,68% (Infodatin, 2013).

Sedangkan menurut (Kemenkes, 2013) keluhan kesehatan lansia yang paling

tinggi adalah keluhan yang merupakan efek dari penyakit kronis seperti

Rematik, darah tinggi, rematik, darah rendah dan diabetes.


Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan

makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan

hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian

itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada

kaitannya dengan kemungkinana timbulnya beberapa Reumatik. Salah satu

golongan penyakit Reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang

menimbulkan gangguan musculoskeletal terutama adalah osteoarthritis.

Kejadian penyakit tersebut akan semakin meningkat sejalan dengan

meningkatnya uisa manusia. Reumatik dapat mengakibatkan perubahan

perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang

menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya

usia menjadi tua (menua) fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia

lanjut tidak selalu mengalami atau menderita Reumatik. Bagaimana timbulnya

kejadian Reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti (

Darmojo dan Martono, 2009, h. 432)

Sedangkan menurut hasil wawancara dari petugas kesehatan di desa

Lompo Tengah Kecamatan Tanete Riaja keluhan kesehatan yang sering terjadi

pada lansia diantaranyadiare, kulit dan gatal-gatal, thypoid, kebiasaan

merokok, batuk dan pilek, asma, DM, hipertensi, nyeri sendi, pusing, letih dan

lesu. Fenomena yang didapatkan oleh peneliti dari hasil wawancara dengan

petugas kesehatan di Desa Lompo Tengah, bahwa pengetahuan, sikap,

perilaku lansia 3 terhadap kesehatan masih rendah dikerenakan lansia yang


terdapat pada desa tersebut jarang mendapatkan informasi tentang masalah

kesehatan.

Banyak penyakit yang terjadi pada lansia dipengaruhi oleh proses

penuaan, usia, status pekerjaan, makanan dan aktivitas fisik adalah penyakit

hifertensi, diabetes mellitus, kardivaskuler dan penyakit Rematik. Salah satu

golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang

menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis.

Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan

meningkatnya usia manusia. Salah satu penyakit yang berhubungan dengan

nyeri pada persendian dan tulang yang biasa dikeluhkan lansia akibat nyeri

yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas adalah Rematik.

Berdasarkan Latar Belakang diatas penulis bertujuan membuat penelitian

yang berjudul “Deskripsi Pengetahuan Masyarakat Desa Lompo Tengah

Tentang Penyakit Rematik Pada Usia Lanjut Di Kecamatan Tanete Riaja

Kabupaten Barru”

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana Deskripsi Pengetahuan Masyarakat Desa Lompo Tengah

Tentang Penyakit Rematik Pada Usia Lanjut Di kecamatan Tanete Riaja

Kabupaten Barru ?

C. TUJUAN PEELITIAN

Tujuan Umum penelitian ini adalah untuk mengetahui Deskripsi Pengetahuan

Lansia Terhadap Penyakit Rematik Di Desa Lompo Tengah Kecamatan

Tanete Riaja Kabupaten Barru.


D. DEFINISI OPRASIONAL VARIABEL

1. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk

dibentuknya suatu tindakan seseorang.

2. Lanjut Usia

Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60-74 tahun.

3. Rematik

Rematik atau Arthritis Rheumatoid adalah peradangan sendi kronis yang

disebabkan oleh gangguan autoimun. Gangguan autoimun terjadi ketika

sistem kekebalan tubuh yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyusup

seperti, bakteri , virus dan jamur, keliru menyerang sel dan jaringan tubuh

sendiri.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 POKOK POKOK PENGERTIAN

1. TEORI PENGETAHUAN

a. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge ) merupakan hasil dari tahu, dan ini

terjadisetelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu, yakni

indera penglihatan,pendengaran, penciuman, rasa dan raba, dimana sebagian

besarpengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,

dikutip Wawan 2010).

Pengetahuan seseorana biasanya diperoleh dari pengalaman dan

informasi yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya media massa,

media elektronik, buku petunjuk petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat

dan sebagainya.

Menurut toeri WHO (World Health Organization) yang di kutip

oleh Notoatmodjo (2007), salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan

oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri.

Berdasarkan pengertian diatas, peneliti menyimpulkan pengetahuan adalah hasil

dari informasi yang kita terima dari berbagai macam sumber yang ada disekitar

lingkungan kita.
b. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang sangat

pentinguntuk dibentuknya suatu tindakan seseorang. Menurut Notoatmodjo,

dikutip (Wawan 2010), dimana tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif,

meliputi :

a. Tahu (know)

Pengetahuan (tahu) yaitu mengingat kembali materi yang dipelajari

sebelumnya. Termasuk didalam pengetahuan yang paling rendah dengan cara

menyebutkan, mendefinisikan dan menyatukan sesuatu.

b. Memahami (comprehension )

Memahami yaitu sesuatu untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang

diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang

yang telah paham terhadap objek untuk materi, harus dapat menjelaskan,

contohnya keluaga dapat memahami dan mengetahui tentang penyakit

Demam Berdarah Dengue.

c. Aplikasi (application )

Aplikasi yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari

pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan

penggunan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam

kondisi yang lain.

d. Analisis (analysis )

Analisis yaitu kemampuan untuk materi atau suatu objek ke dalam komponen-

komponen, tetapi di dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada


kaitanya dengan yang lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

penggunaan dari kata-kata kerja yang dapat menggambarkan, membedakan,

memisahkan, serta mengelompokkan pengetahuan keluarga tentang Demam

Berdarah Dengue pada anak.

e. Sintesis (synthesis )

Sintesis yaitu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam suatu

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat

menyusun, merencanakan, menyesuaikan.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan melakukan justifikasi atau penilaian terhadap

suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang

telah ada. Pengaruh pengetahuan terhadap seseorang sangat penting sebab

mempunyai cukup pengetahuan dan pendidikan yang tinggi akan lebih

memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan serta kesehatan setiap

anggota keluarganya (Notoatmodjo, dikutip Wawan 2010).

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurutNotoatmodjo dikutip

oleh (Wawan 2010), yaitu :

a.Tingkat Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan lebih mudah menerima dan

menyesuaikan hal-hal yang baru.


b.Informasi

Seseorang yang mempunyai sumber informasi banyak akan memberikan

pengetahuan yang lebih jelas.

c.Kultur Budaya

Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena

informasi yang baru akan disaring sesuai dengan budaya dan agama yang

dianut.

d.Pengalaman

Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan, dimana pada

remaja dengan umur yang bertambah dan pendidikan yang lebih baik akan

memudahkan dalam menyerap informasi yang diberikan serta bersikap lebih

bijak.

d. Pengukuran Tingkat Pengetahuan

Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

kuesioner, untuk menyatakan tentang isi materi yang akandiukur dari

responden yang dapat disesuaikan dengan tingkat respondenyang ada

(Notoatmodjo, dikutip Wawan 2010).


2. TEORI LANSIA

a. DEFINISI LANSIA

Definisi Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun

1998 tentang kesejahteraan lanjut usia bab I pasal I ayat 2, lanjut usia adalah

seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Azizah, 2011). Penuaan

merupakan proses fisologis dalam kehidupan, dengan Deskripsi sebagai

kondisi yang mengalami penurunan daya tahan tubuh sehingga beresiko

terserang penyakit dan infeksi. Secara individu, pengaruh proses menua dapat

menimbulkan berbagai masalah baik secara fisikbiologik, mental maupun

sosial ekonomis (Stanley & Beare, 2006).

Menurut WHO dan Undang-Undang No.13 Tahun 1998 tentang

kesejahteraan lanjut usia pada pasal 1 ayat 2 yang menyebutkan bahwa umur

60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, akan

tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan

yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam

menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuhyang berakhir dengan

kematian (Padila, 2013).

b. Batasan Lansia

Menurut World Health Organization (WHO, 2013). a) Usia pertengahan

(middle age) usia 45-59 tahun b) Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun c)

Lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun d) Usia sangat tua (very old) usia > 90

tahun .
Tanda-Tanda Adanya Proses Penuaan Pada dasarnya proses menua ditandai

dengan berbagai perubahan(Nugroho W. , 2009):

a. Perubahan perilaku dan masalah psikologis karena kehilangan pasangan

hidup, ditinggal anak yang telah menikah, penurunan fungsi penglihatan dan

pendengaran, adanya penyakit kronis atau degeneratif, mobilitas terbatas,

kesepian, dan penghasilan berkuran.

b. Perubahan pada organ tubuh. Dimana pada sistem organ pada lansia rawan

terkena penyakit diantaranya Diabetes Mellitus, stroke, gagal ginjal, kanker,

hipertensi, dan jantung.

Masalah-masalah kesehatan yang terjadi pada lansia

Masalah-masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia akibat perubahan

sistem, antara lain (Azizah, 2011):

a. Lansia dengan masalah kesehatan pada system pernafasan, antara lain

penyakit paru obstruksi kronik, tuberkulosis, influenza dan pneumonia.

b. Lansia dengan masalah kesehatan pada system kardiovaskuler, antara lain

Hipertensi. Penyakit jantung koroner.

c. Lansia dengan masalah kesehatan pada system neurologi, seperti cerebro

vaskuler accident.

d. Lansia dengan masalah kesehatan pada system musculoskeletal, antara lain:

faktur, osteoarthritis, rheumatoid arthritis, gout artritis, osteporosis.

e. Lansia dengan masalah kesehatan pada system endokrin, seperti DM.

f. Lansia dengan masalah kesehatan pada system sensori, antara lain: katarak,

glaukoma, presbikusis.
g. Lansia dengan masalah kesehatan pada system pencernaan, antara lain:

ginggivitis/ periodontis, gastritis, hemoroid, konstipasi.

h. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem reproduksi dan perkemihan,

antara lain: menoupause, inkontinensia.

i. Lansia dengan masalah kesehatan pada system integument, antara lain:

dermatitis seborik, pruitis, candidiasis, herpes zoster, ulkus ekstremitas bawah,

pressure ulcers.

c. Pengetahuan terhadap kesehatan

a. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan

sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga

menghasilkan pengetaahuan tersebut sangat di pengaruhi oleh intensitas

perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoatmodjo , 2014).

Notoatmodjo (2014), mengemukakan terdapat 6 tingkat pengetahuan,

diantantaranya: 1) Tahu (Know) Tahu diartikan hanya sebagai recall

(memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

Misalnya tahu bahwa buat tomat banyak mengandung vitamin C, jamban

adalah tempat membuang air besar, penyakit deman berdarah ditularkan oleh

gigitan nyamuk Aedes Agepti, dan sebagainya. 2) Memahami

(comprehension) Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat

mengintrepretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.


Misalnya orang memahami cara pemberantasan penyakit deman berdarah,

bukan hanya sekedar menyebutkan 3M (mengubur, menutup,dan menguras),

tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus 11 menutup, menguras, dan

sebagainya, tempat-tempat penampungan air tersebut. 3) Aplikasi

(application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek

yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang

diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah

paham tentang proses perencanaan program kesehatan di tempat ia bekerja

atau dimana saja. 4) Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang

untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara

komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang

diketahui. Misalnya dapat membedakan anatar nyamuk Aedes Agepty dengan

nyamuk biasa. 5) Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk suatu kemampuan

seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang

logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.

Misalnya dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat

sendiri tentang hal-hal yang telah dibaca atau didengar dan dapat membuat

kesimpulan tentang artikel yang telah dibaca. 6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang

berlaku dimasyarakat. Misalnya seorang ibu dapat menilai atau menentukan

seorang anak menderita malnutrisi atau tidak.


Berdasarkan pengertian diatas penulis menyimpulkan pengetahuan adalah

hasil tahu seseorang terhadap objek yang diamati kemudia diolah menjadi

sumber informasi.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Wawan & Dewi (2010) ada beberapa faktor yang mempengaruhi

pengetahuan dalam diri seseorang antara lain:

1) Faktor Internal

a) Pendidikan Pendidikan berarti bimbangan yang diberikan seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang

menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai

keselamatan dan kebahagiaan.

b) Pekerjaan Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama

untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. c) Umur 13 Usia

adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang

tahun. Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. 2)

Faktor Eksternal a) Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan seluruh

kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat

mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. b) Sosial

Budaya Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi

dari sikap dalam menerima informasi. c. Pengatahuan lansia tentang kesehatan

Pengetahuan kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh seseorang lansia

terhadap cara-cara memelihara kesehatan, pada dasarnya pengetahuan lansia


tentang kesehatan lebih mengutamakan pelayanan kesehatan seperti dukun

dibandingkan pelayanan di puskesmas atau rumah sakit.

Pengukuran pengetahuan lansia adalah hal apa yang diketahui lansia atau

responden terkait dengan sehat dan sakit atau kesehatan. Misalnya latihan/

olaraga, diet, sleep/rest, jadwal kunjungan medical check up, perilaku beresiko

tinggi, spiritual dan psikososial.

Hasil penelitian (Trihandini, 2007) Lansia yang medical check-up yang

teratur dapat mempertahankan lansia untuk dapat aktif berdasarkan

pengukuran aktifitas fisik dasar dan dibandingkan lansia yang tidak

melakukan medical check-up. Dan setelah dikontrol dengan tingkat

pendidikan formal, menderita penyakit kronis, merokok dan depresi. g.

Perilaku berisiko tinggi lansia terhadap kesehatan Hasil penelitian (Dewi,

2013) bahwa pengetahuan dan sikap yang baik belum cukup untuk dapat

merubah perilaku pasien DM, sehingga diperlukan intervensi lain seperti

pemberian motivasi dengan membentuk tim motivator yang rutin memberikan

motivasi kepada pasien.

Sedangkan penelitian lain tentang risiko pada lansia (Rawasiah,

Wahiduddin, & Rismayanti, 2014) faktor risiko yang tidak dapat dikontrol

seperti genetik, usia jenis kelamin, dan ras. Sedangkan faktor risiko yang

dapat dikontrol berhubungan dengan faktor lingkungan berupa perilaku atau

gaya hidup seperti obisitas, kurang aktivitas, stress dan komsumsi makanan

asin, 23 komsumsi makanan manis, komsumsi makanan berlemak dan

komsumsi minuman berkafein yaitu kopi atau teh. h. Spiritual lansia.


Hasil penelitian (Gultom, Bidjuni, & Kallo, 2016) bahwa lansia

dengan tingkat depresi berat dikerenakan aktivitas spiritual dan sosial dari

lansia yaitu rendah. Dan berharap agar para lansia dapat beraktivitas secara

aktif agar memperoleh masa tua yang lebih baik, dengan bertambahnya

aktivitas spiritual. Sedangakan hasil penelitian (Ramdani, 2015) bahwa

kecerdasan spiritual Lansia berada dalam kategori tinggi. Secara umum

lansia sudah memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi. Kecerdasan

spiritual yang dimiliki oleh lansia mengarah lansia dapat menghayati dan

memaknai secara penuh kesadaran dan mendalam mengenai setiap

pengalaman dalam hidupnya. i. Psikososial lansia.

Hasil penelitian (Rusilanti, Kusharto, & Wahyuni, 2006) tidak ada

perbedaan yang bermakna pada kondisi psikososial (mencakup kepuasan

dan depresi). Namun ditemukan perbedaan yang bermakna pda aktivitas

fisik dan perilaku kesehatan antar lansia. perbedaanlokasi pemukiman

lansia berdasarkan kondisi social ekonomi dapat menyebabkan adanya

perbedaan aktifitas fisik dan perilaku kesehatan pada lansia yang ada di

masyarakat. Namun adanya dukungan keluarga, masyarakat, dan 24

pemerintah dapat menciptakan kondisi lanjut usia yang tidak terganggu

aspek psikososialnya (hidup puas dan tidak depresi).


3. TEORI REMATIK

a. DEFINISI REMATIK

Rematik atau Arthritis Rheumatoid adalah peradangan sendi kronis yang

disebabkan oleh gangguan autoimun. Gangguan autoimun terjadi ketika

sistem kekebalan tubuh yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap

penyusup seperti, bakteri , virus dan jamur, keliru menyerang sel dan

jaringan tubuh sendiri. Pada penyakit Rematik, sistem imun gagal

membedakan jaringan sendiri dengan benda asing, sehingga menyerang

jaringan tubuh sendiri, khususnya jaringan sinovium yaitu selaput tipis yang

melapisi sendi. Hasilnya dapat mengakibatkan sendi bengkak, rusak, nyeri,

meradang, kehilangan fungsi bahkan cacat (Haryono, Setiyaningsih, 2013, h

. 7-8)

Rematik atau Arthritis Rheumatoid adalah suatu penyakit inflamasi kronis

yang menyebabkan degenerasi jaringan penyambung. Jaringan penyambung

yang biasanya mengalami kerusakan pertama kali adalah membrane

synovial, yang melapisi sendi. Pada arthritis rheumatoid, inflamasi tidak

berkurang dan menyebar ke struktur sendi di sekitarnya, kartilago artikular

dan kapsul sendi fibrosa. Akhirnya, ligament dan tendon mengalami

inflamasi. Inflamasi ditandai dengan akumulasi sel darah putih, aktivitas

komplemen, fagositosis ekstensif dan pembentukan jaringan parut.

Pada inflamasi kronis, mebran sinovil mengalami hipertrofi dan menebal

sehinnga menyumbat aliran darah dan lebih lanjut menstimulasi nekrosis sel

dan respon inflamasi. Sinovium yang menebal ditutup oleh jaringan granula
inflamasiyang disebut panus. Panus dapat menyebar ke seluruh sendi

sehinnga menyebabkan inflamasi dan pembentukan jaringan parut lebih

lanjut. Proses ini secara lambat merusak tulang dan menimbulkan nyeri hebat

serta deformitas (Elizabeth J. Corwin , 2009, h. 347)

Berdasarkan pengertian diatas penulis menyimpulkan penyakit Rematik

adalah penyakit auto imun dengan peradangan yang tersebar diseluruh tubuh,

mencakup keterlibatan sendi dan berbagai berbagai organ di luar persendian.

Peradangan kronis di persendian mengakibatkan kerusakan struktur sendi

yang terkena. Peradangan sendi biasanya mengenai beberapa persendian

sekaligus. Peradangan sendi terjadi akibat sinovitis (radang selaput sendi)

serta pembentukan panus yang mengakibatkan kerusakan pada sendi dan

tulang disekitarnya.

b. Etiologi Rematik

Menurut Khalid Mujahidullah (2012) Rematik merupakan sindrom yang

hingga saat ini terdapat lebih dari 100 macam penyakit yangdi klasifiikasikan

dalam golongan Rematik. Sebagian besar belum dapat dijelaskan

penyebabnya.

c. Patofisiologi

Inflamasi mula-mula terjadi pada sendi-sendi synovial seperti edema,

kongesti vaskuler, eksudat fibrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang

berkelanjutan, synovial menjadi menbal, terutama pada sendi artiluar

kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk panus atau

penut yang menutupi kartilago. Panus masuk ke tulang subchondria.


Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada

nutrisi kartilago artikuler. Kartilago menjadi nekrosis, tingkat erosi dari

kartilago menetukan tingkat ketidak mampuan sendi. Bila kerusakan

kartilago sangat luas maka menjadi adhesi di antara permukaan sendi,

karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago

dan tulang menyebabkan tendon dan ligament menjadi lemah dan bisa

menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendiaan. Invasi dari tulang

subchondrial bisa menyebabkan osteoporosis setempat.

Lamanya athrtitis rheumatoid berbeda dari tiap orang. Di tandai

dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada

orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang

lagi. Dan ada juga klien terutama yang mempunyai faktor rheumatoid

(seropositif gangguan rheumatoid) gangguan akan menjadi kronis yang

progresif (Mujahidullah, 2012, h. 81-82)

d. Tanda gejala

Pada setiap orang gejala Rematik yang dirasakan berbeda-beda, berikut

adalah beberpa tanda dan gejala umum yang dirasakan dari penyakit

Rematik:

a. Kekauan pada dan seputar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit

di pagi hari.

b. Bengkak pada beberapa sendi pada saat yang bersamaan.

c. Bengkak dari nyeri pada umunya terjadi pada sendi-sendi tangan.


d. Bengkak dan nyeri umunya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri

pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumya menyerang

sendi pergelangan tangan.

e. Sakit atau radang dan terkadang bengkak dibagian persendiaan

pergelangan jari, tangan, kaki, bahu, lutut, pinggang, punggung dan

sekitar leher.

f. Sakit Rematik dapat berpindah-pindah tempat dan bergantian bahkan

sekaligus diberbagai persendian.

g. Sakit Rematik kambuh biasanya pada saat cuaca mendung saat mau

hujan setelah mengkonsumsi makanan pantangan seperti; sayur

bayam, kangkung, kelapa, santan, dan lain-lain (Haryono dan

Setianingsih, 2013, h. 10)

e. Pemeriksaan penunjang

a. Tes seroligi

1.) BSE positif

2.) Darah, bisa terjadi anemia dan leukositis

3.) Rheumatoid faktor terjadi 50-90% penderita

b. Pemeriksaan radiologi

1.) Periarticular osteoporosis, permulaan sendi-sendi erosis

2.) Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, subluksasi dan

ankilosis

c. Aspirasi sendi
1.) Cairan synovial menunjukan adanya proses radang aseptic,

cairan dari sendi di kultur dan bisa diperiksa secara makrosop

(Mujahidullah ,2012, h. 83)

f. Penatalaksanaa Medik

a. Medikamentosa

Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat

simtomatik. Obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya

sebagai analgentik dan mengurangi peradangtan, tidak mampu

menghentikan proses patologis.

1) Analgetik yang daapt dipakai adalah asetaminofen dosis2,6-4 g/hr atau

propeksifen HCL. Asam salisilat juga cukup efektif namun perhatikan

efek samping pada saluran cerna dan ginjal.

2) Jika tidak berpengaruh atau jika terdapat tanda peradangan, maka

OAINS seprti fenoprofin, piroksikam, ibuprofen, dan sebagianya dapt

digunakan. Dosis untuk osteoarthritis biasanya ½-1/3 dosis penuh untuk

arthritis rheumatoid. Oleh karena itu pemakaian biasanya untuk jangka

panjang, efek samping utama adalah ganguan mukosa lambung dan

gangguan faal ginjal

b. Perlindungan sendi dengan koreksi postur tubuh yang buruk,

penyangga utuk lordosis lumbal, menghindari aktivitas yang

berlebihan pada sendi yang sakit, dan pemakaian alat-alat untuk

meringankan kerja sendi.


c. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya

keluhan.

d. Dukungan psikososial.

e. Persoalan seksual, terutama pada pasien dengan osteartritis di tulang

belakang.

f. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program

latihan yang tepat.

g. Operasi dipertimbangkan pada pasien dengan kerusakan sendi yang

nyata, dengan nyeri yang menetap, dan kelemahan fungsi

(Mujahidullah, 2012, h. 83-84)

B. KERANGKA PIKIR

Pengetahuan Penyakit Rematik pada


Masyarakat Usia Lanjut

Keterangan:

: Variabel Dependen

: Variabel Independen
BAB III

METODE PENELITIAN

Tipe penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif untuk mendapatkan Deskripsi

Pengetahuan Masyarakat Desa Lompo Tengah Tentang Penyakit Rematik Pada

Usia Lanjut Di kecamatan Tanete Riaja kabupaten Barru.

Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lompo Tengah pada bulan September Minggu

kedua smpai minggu terakhir

Populasi Dan Sampel

Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti (Natoatmodjo,

2010). Populasi dalam penelitian ini adalah 50 orang pada usia lanjut di desa

Lompo Tengah.

Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah “purposive sampling”.

Pada sampling ini setiap responden yang memenuhi kritria inklusi dimasukkan

dalam penelitian. Untuk menentukan layak tidaknya sampel yang mewakili

populasi untuk diteliti, ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:


1. Keluarga yang mempunyai keluarga usia lanjut di Desa Lompo Tengah

usia 60-74 tahun sebanyak 10 orang .

2. Bisa baca tulis

3. Bersedia menjadi responden

a. Kriteria esklusi

1. Keluarga yang mempunyai keluarga lanjut usia 60-74 tahun sebanyak 10

orang.

2. Tidak bisa baca tulis

3. Tidak bersedia menjadi responden

Teknik Pengumpulan Data

Data yang di peroleh dengan cara kunjungan ke lokasi dan membagikan

kuisioner kepada sampel. Kuisioner berupa pertanyaan tentang hubungan pola

makan dengan penyakit gastritis. Sebelum dilakuakn analisa data, maka data yang

telah di kumpulkan melewati proses sebagai berikut:

1. Editing

Editing merupakan upaya untuk memastikan bahwa data yang telah

dikumpulkan lengkap. Dilakukan dengan cara memeberikan kelengkaapn

pengisian dari format pengkajian.

2. Coding

Merupakan metode pemberian kode dari setiap data yang didapatkan

oleh peneliti. Tahap ini memudahkan penelitian dalam memilah-milah data yang

didaaptkan. Kode tersebut meliputi kode kelompok dan kode subjek penelitian.
3. .Tabulating

Data yang telah masuk dikategorikan menjadi data yang sesuai dengan

kategori penelitian.

4. Entry data

Pada tahap ini di lakukan kegiatan pemasuakan data ke dalam program

computer untuk selanjutnya di lakukan data/

5. Cleaning

Merupakan kegiatan untuk memastikan data yang dimasukkan pada saat

entry data telah seluruhnya dan tidak ada kesalahan.

Teknik Analisa Data

Analisis univariat

Analisis univariat yaitu analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan

masing-masing variabel, baik variable bebas maupun variable terikat (Arikunto

2006).

Analisis bivariat

Analisa bivariat yaitu analisis yang digunakan terhadap 2 variabel yang

diduga berhubungan atau berkolerasi yaitu variabel dependen dan variabel

independen dengan menggunakan uji chi-square (x2) pada tingkat kemaknaan

95% (α ≤ 0,05). Analisa data dilakukan dengan bantuan program pengolahan data

SPSS.
Data diolah selanjutnya dianalisis dengan menggunakan rumus distribusi

frekuensi :

P = F/n x 100

Keterangan :

P = presentasi yang dicari

F = jumlah frekuensi untuk setiap kategori jawaban

n = jumlah sampel

Kemudian data dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang di

harapkan dan dipresentasikan dan di masukkan kedalam standar kriteria sesuai

dengan defenisi operasional.


DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Edisi 3. Jakarta: EGC

Depkes RI. 2010. Penderita Artritis reumatoid. http://www.global.com. Akses 2


Maret 2015

Gultom, P., Bidjuni, H., & Kallo, V. (20016). Hubungan Aktivitas Spiritual
Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia Di Balai Penyantunan Lanjut

Gultom, P., Bidjuni, H., & Kallo, V. (20016). Hubungan Aktivitas Spiritual
Dengan Tingkat

Hamidi. 2007. Metodelogi Penelitian dan Teori Komunikasi. Malang: UMM


Notoadmojo

Haryono,Rudi & Sulis Setianingsih, 2013, Musuh-musuh Anda Setelah 40 Tahun.


Yogyakarta : Gosyen Publishing.

Junaidi. 2006. Pencegahan Reumatik. http://www.google.com Akses 9 April 2015

Mirnawati. 2010. Deskripsi Pengetahuan Penderita Reumatik terhadap Perawatan

Mujahidullah, Khalid. 2012. Keperawatan Gerontik. Jogjakarta : Pustaka Pelajar

Notoatmojo, Soekidjo. 2002. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta ; Rineka


Cipta

Nugroho (2008). Keperawatan Gerontik. Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

Potter, P.A., & Perry,A.G. (2005). Fundamental of Nursing Concept, Process and
Practice. 4th Edition. St Louis: Mosby Company

Price, A.dkk. 2006. Patofisiologi. Jakarta : EGC

Sahar, 2006. Gambaran pengetahuan Penderita Reumatik Terhadap


Penatalaksanaan Kompres Hangat. http://www.google.com. Akses 9
April 2015

Smelzer & Bare. (2004). Buku ajar Keperawatan medikal bedah, Edisi 8. Jakarta,
EGC.

Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta


Depresi Pada Lansia Di Balai Penyantunan Lanjut
Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Perilaku. Jakarta : Rineka CiptaRatu
Notoatmodjo.

Stanley, M., & Beare, P. G. (2006). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta:
EGC.

Sudoyo.S, 2007. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI

Wahyuni. 2006. Pengetahuan dalam Pangan dan Gizi. Mulia Medika. Yogyakarta.

Zeng et al. 2011. Angka Kejadian Nyeri Artritis Reumatoid,


http://www.google.com. Akses 7 April 2015