Anda di halaman 1dari 6
See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/311768825

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/311768825

Article · December 2016

CITATIONS

0

1 author:

KRISIS Article · December 2016 CITATIONS 0 1 author: Rizki Basith Universitas Pembangunan Jaya 2 PUBLICATIONS
2 PUBLICATIONS 0 CITATIONS SEE PROFILE
2 PUBLICATIONS
0 CITATIONS
SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Rizki Basith on 21 December 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

READS

1,737

ANALISA KEBANGKITAN PT ASTRA INTERNASIONAL TBK. SETELAH DILANDA KRISIS Oleh Rizki Basith Program Studi Manajemen UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA rizki.basith@student.upj.ac.id

I. PENDAHULUAN

Krisis moneter melanda Indonesia pada awal juli 1997, krisis yang berlangsung selama hampir dua tahun berubah menjadi krisis ekonomi, yakni krisis yang membuat kegiatan perekonomian menjadi lumpuh dan banyak perusahaan perusahaan yang menutup usahanya serta meningkatnya jumlah pekerja yang menanggur akibat hal tersebut.

Krisis tersebut juga berdampak pada PT. Astra Internasional Tbk, yang mengharuskan mereka melakukan Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) sekitar 20.000 karyawannya. Dalam menanggapi krisis, setiap perusahaan menghadapi permasalahannya menggunakan cara yang tentu saja berbeda beda.

Sebelum melakukan perubahan, ada beberapa faktor pendorong yang berbeda beda dalam melakukan perubahan, sehingga akan membuat mereka mengambil langkah yang efektif dalam menyelesaikan permasalahannya.

Menurut Lewin (1991) dalam Teori Force Field Proses perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap organisasi, individu, atau kelompok. Dapat disimpulkan kekuatan tekanan akan berhadapan dengan keengganan untuk berubah. Perubahan itu sendiri dapat terjadi dengan memperkuat “driving forces” itu, atau melemahkan “resistence to change”. Dari situ dirumuskan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengelola perubahan, yaitu : (1) Proses penyadaran tentang perlunya atau adanya kebutuhan untuk berubah. (2) langkah berupa tindakan, baik memperkuat “driving forces” itu, atau melemahkan “resistence to change”. (3) Membawa kembali organisasi kepada keseimbangan yang baru. (Rhenald Kasali, 2005).

Selain tiga tahap tersebut untuk menciptakan perubahan, diperlukan motivasi yang dapat meningkatkan keinginan setiap individu untuk melakukan perubahan. menurut Beckhard & Harris (1987), untuk melakukan perubahan kita harus memberikan semangat dan membuang perasaan-perasaan pesimis. Lalu mendorong orang-orang menentukan perannya dalam perubahan, dan menciptakan kepatuhan serta mengurangi ketidakpuasan dan perasaan-perasaan tidak nyaman. Hal terakhir yang dilakukan yakni memberikan fokus perhatian sehingga setiap perubahan akan terus ter-kontrol.

PT. Astra Internasional Tbk, harus melakukan perubahan untuk bangkit dari krisis yang dilanda agar dapat kembali berjaya hingga saat ini.

II. HASIL DAN PEMBAHASAN

Astra mengawali bisnis di Jakarta pada tahun 1957 sebagai perusahaan perdagangan dengan nama PT Astra International Inc. Dan pada tahun 1990 mengalami perubahan nama menjadi PT Astra International Tbk. Seiring berjalannya waktu Astra terus mengembangkan usahanya untuk dapat mencapai tujuannya yaitu “Sejahtera Bersama Bangsa”. Kegiatan usaha Astra saat ini meliputi berbagai bidang perdagangan antara lain perindustrian, pertanian, pembangunan, jasa dan konsultan, serta pertambangan. Saat ini Astra telah memiliki karyawan lebih dari 222.000 karyawan dari 200 anak perusahaan yang tergabung dalam Grup Astra. Secara global, bidang usaha yang dijalankan Grup Astra dikelompokan dalam tujuh segmentasi usaha, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, Alat Berat, Pertambangan, Agribisnis, Infrastruktur, dan Logistik, Teknologi Informsi, dan Properti (International, 2016).

Sebagai perusahaan yang telah berdiri lama di Indonesia tentunya PT. Astra Internasional Tbk, telah mengalami banyak perubahan. Ditahun 1998-1999 PT Astra Internasional Tbk, mengalami krisis keuangan yang memaksa mereka untuk membayar tagihan-tagihan hutang terhadap perusahaan lain. Dampak yang terjadi akibat krisis yang dilanda PT. Astra Internasional Tbk, yaitu mereka harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap kurang lebih 20.000 karyawannya. Dan karyawan yang masih tersisa memiliki permasalahan lainnya

akibat tekanan kerja yang lebih besar dari sebelumnya karena mereka harus mengisi posisi yang kosong akibat banyaknya karyawan yang diberhentikan. Akibat hal tersebut produksi barang pun menjadi menurun karena aktifitas keluar masuknya karyawan yang kian meningkat. Kondisi tersebut membuat PT. Astra Internasional untuk memikirkan suatu hal guna mengurangi masalah yang terus menerus berdatangan kepada PT. Astra Internasional Tbk. Salah satu jalan keluar yang dipilih oleh Astra yaitu melakukan restruktur organisasi dengan menempatkan orang-orang yang berkompeten dibidangnya. Setelah melakukan restruktur organisasi tersebut Astra rutin memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk melakukan training secara rutin guna meningkatkan kemampuan pada setiap karyawan yang dimiliki Astra. Mereka percaya bahwa setiap orang memiliki potensi yang hebat dan dapat dikembangkan untuk berperan penting dalam memajukan perusahaan. Salah satu program pelatihan yang diberikan Astra melalui Astra Management Development Institute (AMDI) melalui AMDI, Astra mempunyai tujuan yaitu untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin Astra.

Untuk menuju perubahan yang terjadi di PT. Astra Internasional Tbk, dari kondisi yang sebelumnya menjadi seperti saat ini tentu tidaklah mudah. Perubahan yang terjadi bisa merubah beberapa bidang seperti struktur organisasi maupun sumber daya manusianya. Perubahan perubahan yang dilakukan PT. Astra Internasional Tbk, membuat mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya bahkan sampai saat ini mereka bisa menjadi perusahaan besar yang memiliki sistem manajemen terbaik di Indonesia.

Hasil yang mereka peroleh setelah melakukan perubahan yaitu mereka berhasil membuat nilai hutang menurun secara drastis bahkan mereka mampu membayar lunas hutang mereka pada tanggal 31 Maret 2005. Selain itu mereka mampu mencatat rekor laba bersih sebesar Rp. 5,4 Triliun ditahun 2004.

Dalam hal ini faktor pendorong dari Astra untuk melakukan perubahan karena tekanan yang terus menerus menimpa Astra sehingga mereka memutuskan untuk melakukan perubahan untuk menyelesaikan permasalahan yang tak berhenti berdatangan. Mereka mempercayakan posisi posisi yang tepat

untuk orang yang berkompeten di bidangnya untuk meningkatkan kerja sama tim yang baik karena mendapatkan kepercayaan dari orang orang yang mereka pimpin. Lalu untuk mempertahankan kejayaan setelah melewati masa krisis Astra memberikan motivasi kepada karyawannya dengan memberikan reward bagi karyawan terbaiknya.

III. KESIMPULAN

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan tepat PT Astra Internasional untuk melakukan perubahan memberikan hal yang positif sehingga mereka dapat melewati masa masa krisis dan kembali berjaya hingga saat ini. Selain itu dalam setiap perusahaan sebaiknya memperkerjakan orang orang yang tepat, yang memliki kemampuan dalam hal yang mereka kerjakan sehingga akan mendapatkan hasil yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

International, A., 2016. Tentang Astra. [Online] Available at: www.astra.co.id [Diakses 15 12 2016].

International, A., 2016. Why Work With Us. [Online] Available at: https://www.astra.co.id/Career/Why-Work-With-Us/Reward-Benefit [Diakses 7 12 2016].

Investments, I., 2015. Astra International Tbk

Available at: http://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/profil-perusahaan/astra-

international/item192?

[Diakses 7 12 2016].

[Online]

O'Toole, J., 1999. Leadership A to Z : a guide for the appropriattely ambitious. Dalam: N. Mahanani, penyunt. s.l.:Erlangga, p. 317.

Rhenald Kasali, P., 2005. CHANGE!. Dalam: Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, p. 461.