Anda di halaman 1dari 62

MAKALAH PRINSIP LEGAL ETIS DAN ABORSI

DISUSUN OLEH:

IRA ANDRIANI
CKR0150060

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN


TAHUN AJARAN 2015 - 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini tepat pada
waktunya. Banyak rintangan dan hambatan yang kami hadapi dalam menyusun makalah ini,
namun berkat bantuan dan dukungan serta bimbingan, kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “PRINSIP LEGAL ETIS DAN ABORSI”.
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu dalam proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan pembaca. Kami selaku penulis mohon maaf
kepada semua pihak apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini.
.

Kuningan, 18 Oktober 2015

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan pendidikan saat ini meningkat dengan pesat sebagai konsekuensi dari
logis globalisasi. Perkembangan pendidikan keperawatan hendaknya tidak hanya berupa
peningkatan kuantitas semata, namun harus diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Dengan demikian akan di hasilkan perawat yang professional dan siap berkompetisi dengan
tenaga kesehatan lain, baik di tingkat nasional atau internasional.
Peningkatan pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dalam segala bidang
serta meningkatnya pengetahuan masyarakat berpengaruh pula terhadap meningkatnya
pengetahuan tuntunan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan
keperawatan. Hal ini merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan
profesionalisme selama member pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayanan yang tinggi
memerlukan landasan komitmen yang kuat dengan basis pada etika dan moral yang tinggi.
Perawat dituntut untuk melaksanakan asuhan keperawatan untuk pasien baik secara
individu, keluarga, dan masyarakat dengan memandang manusia secara biopsikososial
spiritual yang komprehensi. Sebagai tenaga yang professional dalam melaksanakan tugasnya
diperlukan suatu sikap yang menjamin terlaksananya tugas tersebut dengan baik dan dengan
bertanggung jawab secara moral.
Etika merupakan sesuatu yang dikenal, diketahui, di ulangi, serta menjadi suatu
kebiasaan di dalam suatu masyarakat, baik berupa kata-kata atau suatu bentuk perbuatan yang
nyata. Etika lebih menitik beratkan pada aturan-aturan, prinsip-prinsip yang melandasi
perilaku yang mendasar dan mendekati aturan-aturan, hukum, dan undang-undang yang
membedakan benar atau salah secara moralitas.Dalam memberikan pelayanan keperawatan
kepada individu, komunitas, perawat sangat memerlukan etika keperawatan. Karena itu,
fokus dari etika keperawatan di tujukan terhadap sifat manusia yang unik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan prinsip-prinsip etik dalam keperawatan ?
2. Apakah yang dimaksud dnegan prinsip-prinsip legal dalam keperawatan ?
3. Apakah yang dimaksud Nursing Advokasi ?
4. Apakah yang dimaksud dengan Konsep Aborsi ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Penulisan ini dilakukan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip Legal dan etis, nursing
advokasi, dan konsep aborsi.
1.3.2. Tujuan Khusus
2. Untuk mengetahui etika dalam keperawatan.
3. Untuk mengetahui penerapan prinsip-prinsip legal dan etis.
4. Untuk mengetahui Nursing Advokasi.
5. Untuk mengetahui Konsep Aborsi.
1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah Metode Pustaka. Metode
pustaka adalah metode yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data
dari pustaka yang berhubungan dengan alat seperti buku.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Legal Etik Dalam Keperawatan
2.1.1 Definisi
Kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip yang telah diterima oleh suatu
profesi (Potter & Perry, 2005).
Etika adalah kode perilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi kelompok
tertentu. Etika juga merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatannya yang benar.
Legalitas adalah suatu jaminan dasar bagi kebebasan individu dengan member batas
aktivitas apa yang dilarang secara tepat dan jelas.
2.1.2 Prinsip-Prinsip Etik keperawatan
Terdapat beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan yaitu :
1. Autonomy (Otonomi)
Perawat yang mengikuti prinsip autonomi menghargai hak klien untuk mengambil
keputusan sendiri. Dengan menghargai hak autonomi berarti perawat menyadari keunikan
induvidu secara holistik.
2. Non Maleficence (Tidak Merugikan)
Non Maleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak menyebabkan bahaya bagi
kliennya. Prinsip ini adalah prinsip dasar sebagaian besar kode etik keperawatan. Bahaya
dapat berarti dengan sengaja membahayakan, resiko membahayakan, dan bahaya yang tidak
disengaja.
3. Beneficence (Berbuat Baik)
Beneficence berarti melakukan yang baik. Perawat memiliki kewajiban untuk
melakukan dengan baik yaitu mengimplementasikan tindakan yang mengutungkan klien dan
keluarga.
4. Justice (perlakuan adil)
Perawat sering mengambil keputusan dengan menggunakan rasa keadilan.

5. Fidelity (Setia)
Fidelity berarti setia terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang dimikili oleh
seseorang.
6. Veracity (Kebenaran)
Veracity mengacu pada mengatakan kebenaran.
7. Respect (Hak untuk Dihormati)
Perawat harus menghargai hak-hak pasien/klien
8. Confidentiality (Hak Kerahasiaan)
Menghargai kerahasiaan terhadap semua informasi tentang pasien/klien yang
dipercayakan pasien kepada perawat.
2.1.3 Prinsip Legal Keperawatan
1. Malpraktek
Secara harfiah malpraktek berasal dari kata mal yang berarti salah dan praktek yang
berarti tindakan.
Sedangkan definisi malpraktek dalam istilah kesehatan adalah suatu kelalaian yang
dilakukan oleh seorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan
ilmu pengetahuan dalam proses perawata pasien.
Menurut WMA (Word Medical Association), malpraktek adalah kegagalan dokter atau
perawat dalam menerapkan standart pelayanan terapi terhadap pasien atau kurangnya
keahlian atau mengabaikan perawatan pasien.
2. Kelalaian
Kelalaian adalah melakukan sesuatu dibawah standar yang ditetapkan oleh aturan atau
hukum guna melindungi orang lain yang bertentangan dengan tidakan-tindakan yang tidak
beralasan dan beresiko melakukan kesalahan. (Keeton, 1984).
Sedangkan menurut Hanafiah dan Amir (1999) kelalaian adalah sikap yang kurang hati-
hati yaitu tidak melakukan sesuatu yang seharusnya seseorang lakukan dengan sikap hati-hati
dan wajar, atau sebaliknya melakukan sesuatu dengan sikap hati-hati tetapi tidak
melakukannya dalam situasi tertentu.

3. Pertanggung Gugatan
suatu konsekuensi yang harus diterima seseorang atas perbuatannya.
a. Cara Langsung
Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolak ukur dengan rumusan 4 D, yaitu :
1) Duty (Kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga perawat dengan pasien, peraweat haruslah bertindak
berdasarkan beberapa hal, yaitu :
a. Adanya indikasi medis
b. Bertindak secara hati-hati dan telliti
c. Bekerja sesuai standar profesi
d. Sudah ada informed consent
2) Dereliction of Duty (Penyimpangan dari Kewajiban)
Jika seorang perawat melakukan tindakan menyimpang dari apa yang seharusnya atau
tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut styandard profesinya, maka dokter
dapat dipersalahkan.
3) Damage (Kerugian)
Perawat untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung) antara
penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya dan tidak ada
peristiwa atau tindakan sela diantaranya, dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas.
b. Cara Tidak Langsung
Didalam transaksi terapeutik ada beberapa macam tanggung gugat, antara lain
1) Contractual Liability
Tanggung gugat ini tinbul sebagai akibat tidak dipenuhi kewajiban dari hubungan
kontraktual yang sudah disepakati.
2) Vicarious Liability atau Respondeat Superior
Yaitu tanggung gugat yang timbul atas kesalahan yang dibut oleh tenaga kesehatan yang
ada dalam tanggung jawabnya, misalnya RS akan bertangung gugat atas kerugian pasien
yang diakibatkan kelalaian perawat sebagai karyawannya.
3) Liability in Tort
Yaitu tanggung gugat atas perbuatan melawan hukum, termasuk juga yang berlawanan
dengan kesusilaan.
4. Tanggung Jawab
Tanggung jawab perawat berarti keadaan yang dapat dipercaya dan terpercaya. Sebutan
ini menunjukkan bahwa perawat professional menampilkan kinerja secara hati-hati, teliti dan
kegiatan perawat dilaporkan secara jujur atau suatu konsekuensi yang harus diterima
seseorang atas perbuatannya.
2.2 Nursing Advokasi
2.2.1 Definisi
Kata advokat berasal dari bahasa latin advocates, berarti “seseorang yang diprerintahkan
untuk memberikan bukti”. Jadi, advokat adalah seseorang yang membela perkara orang lain.
Maka, fokus dari peran advokasi klien adalah menghargai keputusan klien dan meningkatkan
otonomi klien.
Tujuan utama dari advokat klien adalah melindungi hak-hak klien. Menurut nelson, 1988,
hlm. 124 ada tiga komponen utama peran advokat klien, yaitu :
1. Pelindung, perawat membantu klien membuat keputusan berdasarkan informasi.
2. Mediator, perawat bertindak sebagai perantara antara klien dan orang lain di lingkungan.
3. Pelaku, perawat secara langsung mengintervensi atas nama klien
2.2.2 Syarat-syarat Menjadi Advokat Klien
Syarat-syarat untuk menjadi advokat klien :
1. Keterampilan yang didasarkan pada pengetahuan yang teoritis
2. Penyelidikan latihan dan pendidikan
3. Pengujian kemampuan anggota
4. Organisaasi
5. Kepatuhan kepada suatu aturan main professional
6. Jasa/pelayanan yang sifatnya altuistik
Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh seorang perawat yang ingin bertindak
sebagai seorang advokat klien, antara lain :
1. Mengetahui bahwa hak dan nilai klien dan keluarga harus didahulukan saat hak tersebut
menimbulkan konflik dengan hak dan nilai pemberi perawat kesehatan
2. Memastikan bahwa klien dan keluarga mendapatkan informasi yang cukup untuk
mengambil keputusan mengenai kesehatan dan perawatan kesehatan mereka
3. Menyadari bahwa potensi konflik dapat timbul pada isu yang membutuhkan konsultasi,
konfrontasi, atau negosiasi antar perawat dan pengelola atau antara perawat dan dokter
4. Bekerja dengan lembaga komunitas yang tidak familier atau praktisi awam
2.3 Konsep Aborsi
2.3.1 Definisi
Aborsi dalam bahasa Arab disebut “ijhadh”, yang memiliki beberapa sinonim yakni;
isqath (menjatuhkan), ilqa’ (membuang), tharah (melempar) dan imlash (menyingkirkan))
.Aborsi secara terminology adalah keluarnya hasil konsepsi (janin, mudgah) sebelum bisa
hidup sendiri (viable).
Pengertian aborsi menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) adalah terpencarnya embrio
yang tak mungkin lagi hidup (sebelum habis bulan keempat dari kehamilan).
Pengertian aborsi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Indonesia adalah : 1)
Pengeluaran hasil konsepsi pada stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang
lengkap tercapai (38-40 minggu); 2) Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).
Pada UU kesehatan, pengertian aborsi dibahas secara tersirat pada pasal 15 (1) UU
Kesehatan Nomor 23/1992 disebutkan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk
menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis
tertentu. Maksud dari ‘tindakan medis tertentu, yaitu aborsi.
Sementara aborsi atau abortus menurut dunia kedokteran adalah kehamilan berhenti
sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir
selamat sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, disebut kelahiran prematur.
Wanita dan pasangannya yang menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan biasanya
mempertimbangkan aborsi. Alasan untuk memilih aborsi berbeda-beda, termasuk mengakhiri
kehamilan yang tidak diinginkan atau ketika mengetahui janin memiliki kelainan
(Perry&Potter,2010).
2.3.2 Jenis Aborsi
Klasifikasi abortus atau aborsi berdasarkan dunia kedokteran, yaitu:
1. Abortus spontanea / spontan / alamiah.
Abortus spontanea merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan/pengeluaran janin
secara spontan sebelum janin dianggap mampu bertahan hidup. Kebanyakan disebabkan
karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma Aborsi ini dibedakan menjadi 3 yaitu
:
a. Abortus imminens, pada kehamilan kurang dari 20 minggu terjadi perdarahan dari uterus
atau rahim, dimana janin masih didalam rahim, serta leher rahim belum melebar (tanpa
dilatasi serviks).
b. Abortus insipiens, berarti bahwa kehamilan mustahil untuk dilanjutkan. Seringkali terdapat
pendarahan per vagina hebat karena area plasenta yang luas terlepas dari dinding uterus.
kebalikan dari abortus imminens, yakni pada kehamilan kurang dari 20 minggu,terjadi
pendarahan,dimana janin masih didalam rahim, dan ikuti dengan melebarnya leher
rahim(dengan dilatasi serviks)
c. Abortus inkompletus/incompletes, keluarnya sebagian organ janin yang berusia sebelum 20
minggu, namun organ janin masih tertinggal didalam rahim. apabila sebagian dari buah
kehamilan sudah keluar dan sisanya masih berada dalam Rahim. Pendarahan yang terjadi
biasanya cukup banyak namun tidak berakibat fatal, untuk pengobatan perlu dilakukannya
pengosongan rahim secepatnya.
d. Abortus kompletus/completes, semua hasil konsepsi(pembuahan) sudah di keluarkan. Hal
ini cenderung terjadi pada usia delapan minggu pertama kehamilan. pengeluaran keseluruhan
buah kehamilan dari Rahim. Keadaan ini biasanya tidak memerlukan pengobatan.
e. Abortus habitualis, Abortus habitualis termasuk abortus spontan namun habit ( kebiasaan)
yang terjadi berturut-turut tiga kali atau lebih.
2. Aborsi buatan atau sengaja
Aborsi buatan adalah suatu upaya untuk menghentikan proses kehamilan dengan sengaja
dengan bantuan orang lain atau obat-obatan sebelum kandungan berumur 28 minggu, dimana
janin yang dikeluarkan tidak bisa hidup di dunia luar.
a. Abortus provokatus spontanea
jenis abortus yang sengaja dibuat atau dilakukan, yakni dengan cara menghentikan
kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar tubuh ibu atau kira-kira sebelum berat janin
mencapai setengah kilogram.
Abortus provokatus medisinalis/artificialis/therapeuticus. Abortus yang dilakukan dengan
disertai indikasi medis. Di indinesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi
menyelamatkan nyawa ibu. Indikasi medis yang dimaksud misalnya: calon ibu yang sedang
hamil tapi punya penyakit yang berbahaya seperti penyakit jantung, bila kehamilan
diteruskan akan membahayakan nyawa ibu serta janin, sekali lagi keputusan menggugurkan
akan sangat dipikirkan secara matang.
Aborsi terapeutik / Abortus Provocatus therapeuticum adalah pengguguran kandungan
buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil
tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang
dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas
pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.
Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi
menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu
maupun janin yang dikandungnya.
Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa
b. Abortus provokatus kriminalis
istilah ini adalah kebalikan dari abortus provokatus medisinalis, aborsi yang sengaja
dilakukan tanpa adanya indikasi medik (ilegal). Dalam proses menggugurkan janin pun
kurang mempertimbangkan srgala kemungkinan apa yang akan terjadi kepada wanita / calon
ibu yang melakukan tindakan aborsi ilegal. Biasanya pengguguran dilakukan dengan
menggunakan alat-alat atau obat-obat tertentu.
Aborsi buatan/ sengaja/ Abortus Provocatus Criminalis adalah pengakhiran kehamilan
sebelum usia kandungan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram sebagai suatu
akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi
(dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).
c. Abortus septic
Tindakan menghentikan kehamilan karena tindakan abortus yang disengaja (dilakukan
dukun atau bukan ahli ) lalu menimbulkan infeksi. Perlu diwaspadai adalah tindakan abortus
yang semacam bisa membahayakan hidup dan kehidupan
2.3.3 Penyebab Aborsi
1. Umur
Umur menjadi pertimbangan seseorang wanita memilih abortus. Apalagi untuk calon ibu
yang merasa masih terlalu muda secara emosional,fisik belum matang, tingkat pendidikan
rendah dan masih terlalu tergantung pada orang lain masalah umur yang terlalu tua untuk
mengandungpun menjadi penyebab abortus
2. Incest (hubungan seks sedarah) seperti tindak pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah
kepada anaknya.
3. Kehamilan tak diinginkan (KTD) seperti hamil diluar nikah
4. Paritas ibu
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup (anak) yang dimiliki wanita. Resiko paritas
tinggi , banyak wanita melakukan abortus.
5. Adanya penyakit kronis atau indikasi medis
6. Aktivitas seksual di usia muda
7. Kurangnya pengetahuan tentang dampak aborsi
8. Perspektif sosiokultural dan agama
9. Tingkat pendidikan tentang seksual dan kesehatan reproduksi rendah
10. Kurangnya kesadaran masyarakat akan dampak dari aborsi yang tidak aman
11. Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat
Jarak kehamilan yang terlalu rapat menjadi alasan abortus, karena jika tidak dilakukan
abortus akan menyebabkan pertumbuhan janin kurang baik, bahkan menimbulkan
pendarahan hal itu disebabkan karena keadaan rahim yang belum pulih benar
12. Riwayat kehamilan yang lalu
Wanita yang sebelumnya pernah abortus, kemungkinan besar akan dilakukan abortus lagi
. penyebabnya yang lainnya masih banyak, seperti calon ibu yang memiliki penyakit berat
hingga takut bila ia melahirkan anaknya, anaknya akan tertular penyak it pula, ada juga
masalah ekonomi banyak anak banyak pengeluaran dan lain sebagainya.
2.3.4 Dampak atau Resiko Aborsi
Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang
wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia “tidak
merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang”. Ini adalah informasi yang sangat
menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak
menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.
Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:
1. Resiko kesehatan dan keselamatan fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan
dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh
Brian Clowes, Phd yaitu:
- Kematian mendadak karena pendarahan hebat
- Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
- Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
- Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
- Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya.
- Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
- indung telur (Ovarian Cancer)
- Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
- Kanker hati (Liver Cancer)
- Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
- Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
- Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
- Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
a. Efek Jangka Pendek
- Rasa sakit yang intens/hebat terus menerus
- Terjadi kebocoran uterus
- Pendarahan yang banyak
- Infeksi serius disekitar kandungan, rongga panggul dan pada lapisan rahim.
- Bagian bayi yang tertinggal di dalam
- Shock/Koma
- Merusak organ tubuh lain ( rusaknya rahim dan leher rahim).
- Kematian
- Bagian bayi yang tertinggal didalam Rahim.
- Kematian mendadak karena pendarahan hebat dan pembiusan yang gagal.
b. Efek Jangka Panjang
- Tidak dapat hamil kembali
- Keguguran Kandungan
- Kehamilan Tubal
- Kelahiran Prematur
- Gejala peradangan di bagian pelvis

2. Resiko kesehatan mental atau PSIKOLOGIS


Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan
keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat
terhadap keadaan mental seorang wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom
Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam “Psychological Reactions Reported
After Abortion” di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti
berikut ini:
a. Kehilangan harga diri (82%)
b. Berteriak-teriak histeris (51%)
c. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
d. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
e. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
f. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

2.3.5 Legalitas Aborsi dalam Kondisi Khusus menurut Undang-Undang


Abortus buatan, jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam dua
golongan yakni :
1. Abortus buatan legal (Abortus provocatus therapcutius)
Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang
dibenarkan oleh undang-undang, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya,
seperti menyelamatkan nyawa/menyembuhkan si ibu.
2. Abortus buatan illegal
Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan/
menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi
syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.
Melakukan aborsi pasti merupakan keputusan yang sangat berat dirasakan oleh
perempuan yang bersangkutan.Tapi bila itu memang menjadi jalan yang terakhir, yang harus
diperhatikan adalah persiapan secara fisik dan mental dan informasi yang cukup mengenai
bagaimana agar aborsi bisa berlangsung aman.
2.3.6 Hukum Aborsi
1. UU Kesehatan
Undang – undang yang mengatur Mengenai aborsi, dalam KUHP Bab XIX Pasal 346 s/d
350 dinyatakan sebagai berikut :
a. Pasal 346 : “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya
atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun”.
b. Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas
tahun.(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima belas tahun.
c. Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
d. Pasal 349 : “Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347
dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan
dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan”.
Namun dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan pada pasal 15
ayat (1) dinyatakan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa
ibu hamil atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. Kemudian pada ayat (2)
menyebutkan tindakan medis tertentu dapat dilakukan :
- Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut
- Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kemampuan untuk itu dan
dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta pertimbangan tim ahli
- Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan serta suami dan keluarga.

BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan teori-teori di atas kami dapat menyimpulkan bahwa di dalam prinsip legal
etik keperawatan terdapat prinsip etika keperawatan, prinsip legalitas keperawatan, nursing
advokasi, dan isu-isu legal etik dalam dunia keperawatan. Prinsip-prinsip tersebut membantu
dan mendidik perawat dalam menjalankan profesi perawat sesuai dengan etika keperawatan
dan melindungi pasien. Aborsi atau abortus menurut dunia kedokteran adalah kehamilan
berhenti sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila
janin lahir selamat sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, disebut kelahiran
prematur. Aborsi sendiri terbagi menjadi beberapa jenis salah satunya yaitu Abortus
provokatus kriminalis yaitu aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi medik
(illegal). Hukum aborsi diatur dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana(KUHP) pasal
346,347,348,349.
4.2 Saran
1. Tenaga kesehatan
Sebaiknya perawat atau tenaga kesehatan lainnya tidak membantu dalam proses aborsi.
Karena tugas dari perawat dan tenaga kesehatan lainnya adalah untuk merawat dan
membantu proses penyembuhan pasien, bukan unutk menghilangkan nyawa seseorang.
2. Pasien
Bagi pasien hendaknya jangan melakukan aborsi, karena berdasarkan agama aborsi
merupakan tindakan pembunuhan. Hanya Allah yang mempunyai hak untuk mengambil
nyawa atau hidup seseorang.
3. Keluarga
Keluarga sebaiknya tidak mendukung apalagi menyarankan untuk melakukan aborsi.
Karena janin tersebut memiliki hak untuk hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Huston, M. (2010). Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Teori dan


Aplikasi. Jakarta: EGC.
Potter, P. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC.
Unpad, F. (2005). Obstretri Patologi. Jakarta: EGC.
etik keperawatan aborsi dan aborsi
BAB I
PENDAHULAN
A. Latar Belakang

Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap pada kesejahtraan
manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu yang sehat maupun yang sakit
untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-hariya. Salah satu yang mengatur hubungan
antara perawat pasien adalah etika. Istilah etika dan moral sering digunakan secara
bergantian.

Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standar dan prinsip-prinsip yang
menjadi penuntun dalam berprilaku serta membuat keputusan untuk melindungi hak-hak
manusia. Etika diperlukan oleh semua profesi termasuk juga keperawatan yang mendasari
prinsip-prinsip suatu profesi dan tercermin dalam standar praktek profesional. (Doheny et all,
1982).

Profesi keperawatan mempunyai kontrak sosial dengan masyarakat, yang berarti masyarakat
memberi kepercayaan kepada profesi keperawatan untuk memberikan pelayanan yang
dibutuhkan. Konsekwensi dari hal tersebut tentunya setiap keputusan dari tindakan
keperawatan harus mampu dipertanggungjawabkan dan dipertanggunggugatkan dan setiap
penganbilan keputusan tentunya tidak hanya berdasarkan pada pertimbangan ilmiah semata
tetapi juga dengan mempertimbangkan etika.

Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perlaku
seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan seseorang
dan merupakan suatu kewajiban dan tanggungjawanb moral.(Nila Ismani, 2001)

Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak & Gallo, 1997).
Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada bioetik sebagaimana tercantum
dalam sumpah janji profesi keperawatan dan kode etik profesi keperawatan.

B.Tujuan
Makalah ini memberikan gambaran tentang dilema etik dan cara penganannya menurut
konsep llmu.
1EUTHANASIA
2.ABORSI

A. C. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB III TINJAUAN KASUS
BAB IV PEMBAHASAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kemajuan ilmu dan teknologi terutama dibidang biologi dan kedokteran telah menimbulkan
berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian besar belum teratasi (
catalano, 1991).

Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perlaku
seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan seseorang
dan merupakan suatu kewajiban dan tanggungjawanb moral.(Nila Ismani, 2001)

Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar atau salah,
kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku.
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi nyata
dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir dan
bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Banyak pihak
yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya
dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI atau IBI.

Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan terhadap suatu
standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang. Sistem nilai dalam
suatu organisasi adalah rentang nilai-nilai yang dianggap penting dan sering diartikan sebagai
perilaku personal

Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar personal tentang benar atau
salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan
praktek profesional.

Perawat atau bidan memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang
berkualitas berdasarkan standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan profesional.
Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat atau bidan, dan berlanjut
pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau teman. Perilaku yang etis
mencapai puncaknya bila perawat atau bidan mencoba dan mencontoh perilaku pengambilan
keputusan yang etis untuk membantu memecahkan masalah etika. Dalam hal ini, perawat
atau bidan seringkali menggunakan dua pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip
dan pendekatan berdasarkan asuhan keperawatan /kebidanan

Pendekatan berdasarkan prinsip

Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika untuk menawarkan
bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994) menyatakan empat
pendekatan prinsip dalam etika biomedik antara lain;
(1) Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap kapasitas
otonomi setiap orang:
(2) Menghindarkan berbuat suatu kesalahan;
(3) Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala
konsekuensinya;
(4) Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi

Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab konflik dalam
bertindak. Contoh; seorang ibu yang memerlukan biaya untuk pengobatan progresif bagi
bayinya yang lahir tanpa otak dan secara medis dinyatakan tidak akan pernah menikmati
kehidupan bahagia yang paling sederhana sekalipun. Di sini terlihat adanya kebutuhan untuk
tetap menghargai otonomi si ibu akan pilihan pengobatan bayinya, tetapi dilain pihak
masyarakat berpendapat akan lebih adil bila pengobatan diberikan kepada bayi yang masih
memungkinkan mempunyai harapan hidup yang besar. Hal ini tentu sangat mengecewakan
karena tidak ada satu metoda pun yang mudah dan aman untuk menetapkan prinsip-prinsip
mana yang lebih penting, bila terjadi konflik diantara kedua prinsip yang berlawanan.
Umumnya, pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik, hasilnya terkadang lebih
membingungkan. Hal ini dapat mengurangi perhatian perawat atau bidan terhadap sesuatu
yang penting dalam etika.

Terutama kemajuan di bidang biologi dan kedokteran, telah menimbulkan berbagai


permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian besar belum teratasi (cakalano,
1991). Kemajuan teknologi kesehatan saat ini telah meningkatkan kemampuan bidang
kesehatan dalam mengatasi kesehatan dan memperpanjang usia. Jumlah golongan usia lanjut
yang semakin banyak, keterbatasan tenaga perawat, biaya perawatan yang semakin mahal,
dan keterbatasan sarana kesehatan, telah menimbulkan etika keperawatan bagi individu
perawat atau persatuan perawat ( Mc. Croskey, 1990 )

A. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan dilema etik


1. Etik
Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku manusia, baik secara
sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke arah tujuannya ( Pastur scalia, 1971
)

2. Etik Keperawatan
Etik keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam bertingkah laku
dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan
keperawatan yang bersifat professional. Prilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari
pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan.

3. Kode Etik Keperawatan


Kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip imum yang telah diterima oleh suatu
profesi. Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari profesi yang
memberikan tuntutan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek keperawatan, baik yang
berhubungan dengan pasien, keluarga masyarakat, teman sejawat, diri sendiri dan tim
kesehatan lain, yang berfungsi untuk
• Memberikan dasar dalam mengatur hubungan antara perawat, pasien, tenaga kesehatan lain,
masyarakat dan profesi keperawatan.
• Memberikan dasar dalam menilai tindakan keperawatan
• Membantu masyarakat untuk mengetahui pedoman dalam melaksanakan praktek
keperawatan.
• Menjadi dasar dalam membuat kurikulum pendidikan keperawatan ( Kozier & Erb, 1989 )

4. Dilema Etik
Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih ) landasan moral suatu
tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana setiap
alternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan
yang benara atau salah dan dapat menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang
harus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul
akibat nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul
pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson & Thompson (1985 ) dilema
etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau
situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema
etik tidak ada yang benar atau yang salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang
perawat tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional.

B. Prinsip-Prinsip Moral Dalam Praktek Keperawatan


Prinsip moral merupakan masalah umum dalam melakukan sesuatu sehingga membentuk
suatu sistem etik. Prinsip moral berfungsi untuk membuat secara spesifik apakah suatu
tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi tertentu. ( John Stone, 1989 )

1. Autonomi
Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri, berarti
menghargai manusia sehingga memperlakukan mereka sebagai seseorang yang mempunyai
harga diri dan martabat serta mampu menentukan sesuatu bagi dirinya.

2. Benefesience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan pasien atau tidak
menimbulkan bahaya bagi pasien.

3. Justice
Merupakan prinsip moral untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap individu mendapat
pperlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang sama tidak selalu identik tetapi dalam hal
ini persamaan berarti mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan hidup
seseorang

4. Veracity
Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk mengatakan yang
sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien. Kebenaran merupakan hal yang
fundamental dalam membangun suatu hubungan denganorang lain. Kewajiban untuk
mengatakan yang sebenarnya didasarkan atau penghargaan terhadap otonomi seseorang dan
mereka berhak untuk diberi tahu tentang hal yang sebenarnya.

5. Avoiding Killing
Merupakan prinsip yang menekankan kewajiban perawat untuk menghargai kehidupan. Bila
perawat berkewajiban melakukan hal-hal yang menguntungkan (Benefisience ) haruskah
perawat membantu pasien mengatasi penderitaannya ( misalnya akibat kanker ) dengan
mempercepat kematian ? Kewajiban perawat untuk menghargai eksistensi kemanusiaan yang
mempunyai konsekuensi untuk melindungi dan mempertahankan kehidupan dengan berbagai
cara.

6. Fedelity
Merupakan prinsip moral yang menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap setia pada
komitmennya, yaitu kewajiban mempertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan
pasien. Kewajiban ini meliputi meenepati janji, menyimpan rahasia dan “caring “

C. Kerangka Proses Pemecahan Masalah Dilema Etik


Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya
menggunakan kerangka proses keperawatan / Pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain :
1. Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
a. Mengkaji situasi
b. Mendiagnosa masalah etik moral
c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d. Melaksanakan rencana
e. Mengevaluasi hasil

2. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 1989 )


a. Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak mungkin
meliputi :
• Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
• Apa tindakan yang diusulkan
• Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
• Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang diusulkan.
b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil keputusan
yang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban perawat
f. Membuat keputusan

3. Model Murphy dan Murphy


a. Mengidentifikasi masalah kesehatan
b. Mengidentifikasi masalah etik
c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Mengidentifikasi peran perawat
e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan
g. Memberi keputusan
h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan falsafah umum
untuk perawatan klien
i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan informasi
tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya.

4. Model Curtin
a. Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang menyebabkan masalah
b. Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan.
c. Identifikasi orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
d. Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari pilihan itu.
e. Aplikasi teori, prinsip dan peran etik yang relevan.
f. Memecahkan dilema
g. Melaksanakan keputusan

5. Model Levine – Ariff dan Gron


a. Mendefinisikan dilema
b. Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan.
c. Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayana
• Pasien dan keluarga
• Faktor-faktor eksternal
d. Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu
e. Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi
f. Identifikasi pengambil keputusan
g. Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
h. Tentukan alternatif-alternatif
i. Menindaklanjuti

6. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)


Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan

7. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981) mengusulkan 10 langkah


model keputusan bioetis
a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang diperlukan,
komponen etis dan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

D. Strategi Penyelesaian Masalah Etik


Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan dokter tidak
menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat. Bila ini berlanjut dapat menyebabkan
masalah komunikasi dan kerjasama, sehingga menghambat perawatan pada pasien dan
kenyamanan kerja. (Mac Phail, 1988)
Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan rounde ( Bioetics
Rounds ) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak difokuskan untuk
menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi secara terbuka tentang
kemungkinan terdapat permasalahan etis.

BAB III
EUTHANASIA DAN ABORSI

A.EUTHANASIA
Eutanasia.

Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu "eu" (= baik) and "thanatos" (maut,
kematian) yang apabila digabungkan berarti "kematian yang baik". Hippokrates pertama kali
menggunakan istilah "eutanasia" ini pada "sumpah Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-
300 SM.
Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat yang
mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu".
Dalam sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak tahun 1300 hingga saat "bunuh diri"
ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak diperbolehkan
Ditinjau dari sudut maknanya maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu eutanasia
pasif, eutanasia agresif dan eutanasia non agresif

Eutanasia agresif :

atau suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh
dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si pasien.
Misalnya dengan memberikan obat-obatan yang mematikan seperti misalnya pemberian
tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.
Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia (eutanasia otomatis)yang
termasuk kategori eutanasia negatif yaitu dimana seorang pasien menolak secara tegas dan
dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan sipasien mengetahui bahwa
penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan
tersebut ia membuat sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan). Autoeutanasia pada
dasarnya adalah suatu praktek eutanasia pasif atas permintaan
Eutanasia pasif :

juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif dimana tidak dipergunakan alat-
alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. Tindakan pada eutanasia
pasif ini adalah dengan secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat
memperpanjang hidup pasien. Misalnya tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang
mengalami kesulitan dalam pernapasan atau tidak memberikan antibiotika kepada penderita
pneumonia berat ataupun meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna
memperpanjang hidup pasien, ataupun dengan cara pemberian obat penghilang rasa sakit
seperti morfin walaupun disadari bahwa pemberian morfin ini juga dapat berakibat ganda
yaitu mengakibatkan kematian. Eutanasia pasif ini seringkali secara terselubung dilakukan
oleh kebanyakan rumah sakit.
Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan oleh tenaga medis, maupun pihak keluarga
yang menghendaki kematian seseorang atau keputusasaan keluargan karena ketidak
sanggupan menanggung beban biaya pengobatan. Ini biasanya terjadi pada keluarga pasien
yang tidak mungkin untuk membayar biaya pengobatannya, dan pihak rumah sakit akan
meminta untuk dibuat "pernyataan pulang paksa". Bila meninggal pun pasien diharapkan
mati secara alamiah. Ini sebagai upaya defensif medis.
Ditinjau dari sudut pemberian izin maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

• Eutanasia diluar kemauan pasien:

yaitu suatu tindakan eutanasia yang bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap
hidup. Tindakan eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan.

• Eutanasia secara tidak sukarela:

Eutanasia semacam ini adalah yang seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap
sebagai suatu tindakan yang keliru oleh siapapun juga.Hal ini terjadi apabila seseorang yang
tidak berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya statusnya
hanyalah seorang wali dari si pasien (seperti pada kasus Terri Schiavo). Kasus ini menjadi
sangat kontroversial sebab beberapa orang wali mengaku memiliki hak untuk mengambil
keputusan bagi si pasien.

• Eutanasia secara sukarela :

dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri, namun hal ini juga masih merupakan hal
kontroversial.
Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu :
• Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing)
• Eutanasia hewan
• Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif
secara sukarela

Eutanasia di berbagai Negara

1. Amerika

Eutanasia agresif dinyatakan ilegal dibanyak negara bagian di Amerika. Saat ini satu-satunya
negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinkan pasien terminal (
pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya adalah negara bagian
Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan dilakukannya eutanasia dengan
memberlakukan UU tentang kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity Act)[8].
Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan euthanasia.
Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas
boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam
bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua kali secara lisan
(dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi
dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter
kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta memastikan bahwa
pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan gangguan mental.Hukum
juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut
tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa
maupun kecelakaan ataupun juga simpanan hari tuanya.
Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa depan, sebab
dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian ini. Mungkin saja nanti
nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia. Bulan Februari lalu sebuah studi
terbit tentang pelaksanaan UU Oregon selama tahun 1999.
Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu Poling Gallup (Gallup Poll) menunjukkan
bahwa 60% orang Amerika mendukung dilakukannya eutanasi

2. Belanda

Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan


eutanasia, undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002 , yang
menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia.
Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk
mengakhiri penderitaannya.
Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal
euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan kriminal.
Sebuah karangan berjudul "The Slippery Slope of Dutch Euthanasia" dalam majalah Human
Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa
sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan eutanasia dan tidak akan
dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur
tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis)
dan membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter untuk
melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu akan
menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi yang berusia 20 tahun
telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda, dimana seorang dokter yang melakukan
eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum

3. Belgia

Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir September 2002. Para
pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan eutanasia setiap tahunnya telah
dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan eutanasia dinegara ini, namun mereka juga
mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya
upaya untuk menciptakan "birokrasi kematian".
Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi eutanasia ( setelah Belanda dan negara
bagian Oregon di Amerika ).
Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu penyusun rancangan
undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien yang menderita secara jasmani
dan psikologis adalah merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk memutuskan
kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya

4. Inggris

Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania Raya (Britain's
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan sebuah proposal kepada
Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar dipertimbangkannya izin untuk
melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat (disabled newborns). Proposal
tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi eutanasia di Inggris melainkan semata guna
memohon dipertimbangkannya secara saksama dari sisi faktor "kemungkinan hidup si bayi"
sebagai suatu legitimasi praktek kedokteran.
Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan hukum di
kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda).
Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris (British Medical
Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun juga

5. Indonesia

Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang melawan
hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal
344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ”Barang siapa
menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya
dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”. Juga
demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang
juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan
demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan
tindakan eutanasia oleh siapa pun.
Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam
suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober 2004 menyatakan
bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima
dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga
saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang
masih berlaku yakni KUHP

Eutanasia menuruit pandangan agama

1. Agama Islam

Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen), Islam mengakui hak
seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada
manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS
22: 66; 2: 243). Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak
ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri. Kendati
demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di
jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS
2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri," (QS
4: 29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan
demikian, seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien)
disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.[25]
Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu
suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit,
karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara
positif maupun negatif.
Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa
tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan
berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga
Ketua Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa yang haram tindakan Euthanasia (tindakan
mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). "Euthanasia itu kan
pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan MUI
telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia
(tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). "Euthanasia, menurut
fatwa kita tidak diperkenankan, karena itu kan melakukan pembunuhan," kata KH Ma`ruf
Amin di Jakarta, Jumat (22/10).
Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif, menurut fatwa MUI, tidak
diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain.
Lebih lanjut, KH Ma'ruf Amin mengatakan, euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif
yang sangat khusus.

Kondisi pasif tersebut, dimana seseorang yang tergantung oleh alat penunjang kehidupan
tetapi ternyata alat tersebut lebih dibutuhkan oleh orang lain atau pasien lain yang memiliki
tingkat peluang hidupnya lebih besar, dan pasien tersebut keberadaannya sangat dibutuhkan
oleh masyarakat. Sedangkan, kondisi aktif adalah kondisi orang yang tidak akan mati bila
hanya dicabut alat medis perawatan, tetapi memang harus dimatikan.

Mengenai dalil atau dasar fatwa MUI tentang pelarangan "euthanasia", dia menjelaskan
dalilnya secara umum yaitu tindakan membunuh orang dan karena faktor keputusasaan yang
tidak diperbolehkan dalam Islam. Dia mengungkapkan, dasar pelarangan euthanasia memang
tidak terdapat secara spesifik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi. "Hak untuk mematikan
seseorang ada pada Allah SWT," ujarnya menambahkan.

Ketua komisi fatwa MUI itu mengatakan, MUI akan menjelaskan dan mengeluarkan fatwa
pelarangan euthanasia tersebut, apabila Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atau institusi lainnya
menanyakan kepada MUI. Dia menjelaskan, kasus permohonan euthanasia memang belum
pernah terjadi di Indonesia, tetapi MUI telah menetapkan fatwa pelarangan tersebut setelah
melakukan diskusi dan pembahasan tentang permasalahan euthanasia yang terjadi di luar
negeri.

2. Kristen

Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana memiliki pendekatan yang
berbeda-beda dalam pandangannya terhadap eutanasia dan orang yang membantu
pelaksanaan eutanasia.
Beberapa pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya :

• Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya menyatakan bahwa : "
penggunaan teknologi kedokteran untuk memperpanjang kehidupan pasien terminal
membutuhkan suatu keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan tentang hingga kapankah
peralatan penyokong kehidupan tersebut benar-benar dapat mendukung kesempatan hidup
pasien, dan kapankah batas akhir kesempatan hidup tersebut".

• Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi sebagai suatu
perawatan medis yang bukan merupakan suatu perawatan fundamental. Dalam kasus dimana
perawatan medis tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara tanggung jawab
moral dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan kematian terjadi.

Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu posisi yang unik untuk
melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena mereka percaya bahwa kematian tubuh
adalah merupakan suatu awal perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik.
Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui bahwa apabila tindakan
mengakhiri kehidupan ini dilegalisasi maka berarti suatu pemaaf untuk perbuatan dosa, juga
dimasa depan merupakan suatu racun bagi dunia perawatan kesehatan, memusnahkan
harapan mereka atas pengobatan.
Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum kristiani dalam menanggapi masalah
"bunuh diri" dan "pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) adalah dari sudut
"kekudusan kehidupan" sebagai suatu pemberian Tuhan. Mengakhiri hidup dengan alasan
apapun juga adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian tersebut
Illustrasi kasus
Seorang wanita berusia 40 tahun menderita tumor dia menolak untuk di obati di karenakan
biaya yang kurang mencukupi, namun dia pernah mendatangi puskesmas terdekat untuk
berobat dan konsultasi untuk menyelamatkan hidup nya, maka di perlukan suatu operasi
dengan segera. Tetapi dia tetap saja menolak untuk dioperasi dengan alas an tidak adanya
biaya, tidak inggin orang lain (anak-anak nya) susah akan keberadaannya seperti itu dan
membiarkan tumor itu menjadi besar hingga ia meninggal.
Anak-anak nya pun tidak bisa berbuat apa-apa, dan mereka menghargai keputusan ibunya
walaupun dengan berat hati. Begitu pula suaminya dia bekerja hanya sebagai kuli yang hanya
cukup untuk keperluan sehari-hari saja.
PEMBAHASAN KASUS
A. Penyelesaian Dilema Etik
Kerangka pemecahan dilema etik, menurut kozier and Erb (1989)
1. Mengembangkan Data Dasar
a. Orang-orang yang terlibat dalam dilema etik tersebut : klien, suami, anak, perawat,
rohaniawan
b. Tindakan yang diusulkan
Sebagai klien dia mempunyai otonomi untuk membiarkan penyakitnya menggerogoti
tubuhnya walaupun sebenarnya bukan hal itu yang di inginkannya. Dalam hal ini, perawat
mempunyai peran dalam pemberi asuhan keperawatan, peran advocad (pendidik) serta
sebagai konselor yaitu membela dan melindungi ibu tersebut untuk hidup dan
menyelamatkan jiwanya dari ancaman kematian.
c. Maksud dari tindakan
Dengan memberikan pendidikan, konselor, advokasi di harapkan klien mau menjalani operasi
serta dapat membuat keputusan yang tepat terhadap masalah yang saat ini dihadapi.
d. Konsekuensi tindakan yang diusulkan
1) Operasi dilaksanakan
• Biaya
Biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk dilaksanakannya operasi
• Psikososial
Pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang (bila operasi itu lancar dan baik) namun
klien juga dihadapkan pada kecemasan akan kelanjutan hidupnya bila ternyata operasi itu
gagal serta biaya-biaya yang akan di keluarkan.
• Fisik
Klien mempunyai bentuk tubuh yang normal tidak terdapat pembesaran dalam tubuhnya
(perut) dan bila dibiarkan begitu saja cepat atau lambat akan terjadilah kematian
2) Bila operasi tidak dilaksanakan
• Biaya
Tidak mengeluarkan biaya apa-apa
• Psikososial
Klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian terjadi kecemasan dan rasa sedih dalam
hatinya
• Fisik
Timbulnya pembesaran di daerah abdomen
2. Identifikasi Komplik Akibat Situasi Tersebut
a. Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut, perawat dihadapkan
pada konflik tidak menghormati otonomi klien
b. Apabila tindakan operasi tidak di lakukan perawat dihadapkan pada konflik :
1. tidak melaksanakan sumpah profesi
2. tidak melaksanakan kode etik profesi dan prinsip-prinsip moral : advokasi,benefesience,
justice, avoiding, killing.
3. tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan
4. perasaan bersalah (quilty) akibat tidak melaksanakan tindakan operasi yang
memungkinkan timbulnya kematian.

3. Tindakan Alternatif Terhadap Tindakan Yang Diusulkan


a. mengusulkan dalam tim yang terlibat dalam masalah klien untuk dilakukannya operasi,
konsekuensi :
1. usul diterima atau ditolak aleh tim dan pihak yang terlibat dalam penanganan klien
2. mungkin klien secara psikologis akan menjadi lebih siap untuk menghadapi tantangan akan
kehidupan ini
3. resiko pengeluaran biaya yang tak terduga/ tidak dapat diprediksi
b. mengangkat dilema etik ini kepada komisi etik keperawatan yang lebih tinggi untuk
mempertimbangkan apakah operasi ini dilakukan atau tidak konsekuensi :
1. mungkin memperoleh tanggapan yang memuaskan
2. mungkin memperoleh tanggapan yang kurang memuaskan
3. tidak tertutup kemungkinan untuk tidak di tanggapi sama sekali
c. meminta izin kepada pimpinan lembaga pelayanan kesehatan (klinik kesehatan) untuk
menyampaikan informasi mengenai kondisi klien yang sebenarnya.

Konsekuensi :
1. koordinator lembaga pelayanan menyetujui atau menolak
2. klien meperoleh informasi dan dapat memahami kondisinya, serta dapat mengambil sikap
untuk memutuskan tindakan yang terbaik untuk dirinya.
3. kondisi psikologis klien lebih baik atau bertambah buruk karena responnya terhadap
informasi yang diperoleh
4. Menetapkan Siapa Pembuat Keputusan

Pada kasus wanita tersebut merupakan masalah yang komplek dan rumit, membuat keputusan
dilakukan operasi atau tidak dapat diputuskan oleh pihak tertentu saja tetapi harus diputuskan
secara bersama-sama.
a. pengambilan keputusan harus melibatkan tim yang terkait dan klien
b. keputusan dibuat untuk :
1. pihak yang terkait dengan wanita tersebut untuk melakukan operasi atau tidak
2. klien, keputusan yang dibuat dapat memperoleh kepastian apakah dilakukan operasi atau
tidak.
c. kriteria penetapan siapa pembuat keputusan
1. Tim
Kumpulan dari beberapa pihak yang berkepentingan dan yang paling memahami kondisi fisik
dan psikologis klien. Masalah yang dihadapi Sangay komplek dan rumit yang tidak hanya
memerlukan pertimbangan ilmiah, tetapi juga pertimbangan etik sehingga pembuat keputusan
akan lebih bijaksana dilakukan oleh tim.
2. klien
klien ádalah orang yang paling berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang dibuat
oleh klien bisa berubah secara tiba-tiba yang akan mempengaruhi keputusan tim
3. keluarga
keterlibatan keluarga dalam upaya penyelesaian masalah cukup menentukan mengingat
secara ekonomis klien masih Belem mendapatkan biaya diperoleh darimana sehingga
keluarga mempunyai peranan yang cukup menemtukan masalah

d. prinsip moral yang ditekankan berdasarkan prioritas dalam kasus ini :


1. otonomi
2. benefesiensi
3. justice
4. avoiding killing
5. Mengidentifikasi Kewajiban Perawat
a. menghindari klien dari ancaman kematian
b. menghargai otonomi klien dan berusaha menyeimbangkan dengan tanggung jawab
pemberi pelayanan kesehatan
c. menghindarkan klien dari tindakan yang tidak menguntungkan bagi dirinya
d. melaksanakan prinsip-prinsip kode etik keperawatan
e. membantu sistem pendukung yang terlibat
6. Membuat keputusan
Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi klien dan dari pertimbangan tim
kesehatan, sebagai seorang perawat, keputusan yang terbaik adalah dilakukan operasi berhasil
atau tidak itu adalah kehendak yang maha kuasa

B.ABORSI

Dunia tidak hanya telah diporak - porandakan oleh peperangan politis, keberingasan kriminal
ataupun ketergantungan akan obat bius, tetapi juga datang dari jutaan ibu yang mengakhiri
hidup janinnya. Aborsi telah menjadi penghancur kehidupan umat manusia terbesar
sepanjang sejarah dunia.

Hasil riset Allan Guttmacher Institute ( 1989 ) melaporkan bahwa setiap tahun sekitar 55 juta
bayi digugurkan. Angka ini memberikan bukti bahwa setiap hari 150.658 bayi dibunuh, atau
setiap menit 105 nyawa bayi direnggut sewaktu masih dalam kandungan.
Janin : ( Manusia dalam Rahim ) Pengguguran kandungan alias aborsi ( abortus, bahasa Latin
) secara umum dapat dipilah dalam dua kategori, yakni aborsi alami ( abortus natural ) dan
aborsi buatan ( abortus provocatus ), yang termasuk didalamnya abortus provocatus
criminalis, yang merupakan tindak kejahatan dan dilarang di Indonesia ( diatur dalam pasal
15 ayat 2 Undang - undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 ).A.Aborsi tidak
hanya dilakukan oleh para wanita berstatus istri yang bermaksud menghentikan kelangsungan
kandungannya, tetapi juga banyak penyandang hamil pra-nikah melakukannya.
Kecenderungan melakukan aborsi ini tak lepas dari pandangan terhadap hakikat kapan
kehidupan anak manusia dimulai.
Aborsi merupakan masalah yang kompleks, mencakup nilai-nilai religius, etika, moral dan
ilmiah serta secara spesifik sebagai masalah biologi.
1.DEFINISI ABORSI

Secara sederhana kata aborsi adalah mati ( gugurnya ) hasil konsepsi. Artinya aborsi itu dapat
dimulai dari sejak benih wanita (ovum ) dengan benih pria ( sperma ) mengadakan konsepsi.
Kehidupan yang utuh dimulai dari dua benih menjadi satu ( TWO IS ONE ).

Aborsi adalah : Berakhirnya suatu kehamilan ( oleh akibat – akibat tertentu ) sebelum buah
kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan / kehamilan yang tidak
dikehendaki atau diinginkan. Aborsi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu aborsi spontan dan
aborsi buatan. Aborsi spontan adalah aborsi yang terjadi secara alami tanpa adanya upaya -
upaya dari luar ( buatan ) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Sedangkan aborsi buatan
adalah aborsi yang terjadi akibat adanya upaya - upaya tertentu untuk mengakhiri proses
kehamilan.
Aborsi tetap saja menjadi masalah kontroversial, tidak saja dari sudut pandang kesehatan,
tetapi juga dari sudut pandang hukum dan agama. Aborsi biasanya dilakukan atas indikasi
medis yang berkaitan dengan ancaman keselamatan jiwa atau adanya gangguan kesehatan
yang berat pada diri si ibu, misalnya tuberkulosis paru berat, asma, diabetes, gagal ginjal,
hipertensi, bahkan biasanya terdapat dikalangan pecandu ( ibu yang terinfeksi virus ).
Aborsi dikalangan remaja masih merupakan hal yang tabu, jangankan untuk dibicarakan
apalagi untuk dilakukan
2.PEMBAGIAN ABORSI
1.Pembagian Aborsi
a.Aborsi spontan
b.Aborsi Provocatus
2.Kejadain aborsi
a.Aborsi dalam pernikahan
b.Aborsi dalam pra nikah

Ada 3 hal yang terjadi sebelum aborsi :


1.Adanya hubungan seks pria dan wanita
2.Hubungan seks dengan komitmen ( seks dalam pernikahan )
3.Hubungan seks tanpa komitmen ( seks di luar pernikahan )

Aborsi adalah dampak dari hubungan seks, artinya aborsi baru terjadi apabila ada hubungan
seks ( termasuk perkosaan / kekerasan seks ) dan konsepsi kedua benih. Konsepsi dapat
terjadi pada wanita yang sudah menstruasi dengan laki - laki yang spermanya telah dewasa :
dimulai dari kelompok remaja sampai tua, kecuali pada wanita sampai menopause.

. Aborsi itu sendiri ada 3 macam :

1.ME ( Menstrual Extraction ) : Dilakukan 6 minggu dari menstruasi terakhir dengan


penyedotan. Tindakan aborsi ini sangat sederhana dan secara psikologis juga tidak terlalu "
berat " karena masih dalam bentuk gumpalan darah, belum berbentuk janin.
2.Diatas 12 minggu, masih dianggap normal dan termasuk tindakan aborsi
yang sederhana.

3.Aborsi diatas 18 minggu, tidak dilakukan di klinik tetapi di rumah sakit besar.
Tetapi bagi kalangan pecandu atau pekerja seks aborsi seringkali terjadi saat usia kehamilan
sudah diatas 18 minggu. Biasanya mereka akan mendatangi klinik - klinik yang mereka
ketahui dan mereka seringkali tidak memikirkan efek samping bagi tubuh mereka sendiri.
Mereka melakukan aborsi ini karena mereka tidak menginginkan kehamilan tersebut dan
terkadang mereka melakukan ini karena tidak ingin menularkan virus pada bayi mereka,
dikarenakan sebagian dari mereka mengetahui bahwa mereka telah terinfeksi virus, tetapi
bagaimana jika mereka tidak mengetahui jika mereka terinfeksi virus dan menginginkan bayi
tersebut lahir ? Ada juga dari mereka yang memilih cara - cara alternatif, seperti
melakukannya sendiri dengan meminum jamu peluntur, loncat - loncat, mengurut perut,
sampai memasukan benda - benda tertentu kedalam rahim dan ada juga meminta bantuan
orang yang mampu mengatasi hal tersebut seperti mendatangi dukun dan sebagainya.
Di Indonesia sendiri pengguguran kandungan tidak asing lagi. Semakin banyaknya pecandu
yang ada dan banyaknya juga pekerja seks maka tingkat pengguguran kandungan pun
semakin meningkat. Dan ini yang harus kita waspadai dan perhatikan. Sebaiknya jika ingin
melakukan aborsi diperhatikan dahulu apa memang perlu adanya tindakan aborsi tersebut.
Remaja hamil, baik yang menempuh a borsi maupun yang meneruskan kehamilannya,
membutuhkan banyak biaya untuk pelaksaan aborsi atau untuk perawatan kehamilan dan
melahirkan. Biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan aborsi bekisar antara Rp 300.000
sampai Rp 1.100.000, dengan rata - rata biaya aborsi Rp. 415.000. Jumlah biaya terkecil
dipakai oleh responden dari bidan di Puskesmas atau Dokter.
Remaja yang meneruskan kehamilan membutuhkan biaya perawatan kehamilan dan kelahiran
anaknya. Berbeda dengan remaja yang melakukan aborsi, remaja yang melahirkan anak
umumnya mendapatkan bantuan dari orang tua . Dari responden yang melahirkan, sekitar
15% biaya ditanggung bersama dengan pasangan dan 11% ditanggung oleh pasangan.
Sebagian besar mereka tidak memeriksa kandungannya secara rutin karena merasa malu
keluar rumah dengan perut besar tidak lama setelah menikah atau tanpa menikah. Mereka rata
- rata baru memeriksa kandungannya setelah berusia lebih dari 4 bulan. Empat bulan pertama
kehamilan adalah periode yang berusaha disembunyikan dan bahkan digugurkan.

3.KASUS - KASUS ABORSI


Seorang pecandu yang sudah clean memiliki pengalaman pernah melakukan aborsi karena ia
dulu memakai narkoba. Karena untuk mendapatkan drugs ia memerlukan uang banyak untuk
memenuhi kebutuhannya itu dan ia pun rela sampai menjual dirinya agar mendapatkan drugs.
Karena pekerjaan yang menurutnya sangat menyiksa dirinya itu ia pun tidak menggunakan
kondom dan ia sampai ke tahap hamil, tanpa mengetahui siapa ayah dari bayinya tersebut. Ia
terus berusaha mencari uang lebih untuk kebutuhan drugsnya dan juga untuk membiayai
pengguguran kandungan yang tidak ia kehendaki tersebut. Sampai pada usia kandungannya
mencapai 3 bulan ia harus penggugurkan kandungannya dan itu memerlukan uang yang
sangat banyak, karena usia kandungannya sudah cukup besar. Dan ini pun bukan pertama
kalinya ia melakukan aborsi tersebut.

4.ABORSI DALAM PANDANGAN ISLAM

Bagaimana Islam memandang Aborsi ?


Soal :
Bagaimana hukum dalam pandangan Islam ?
Jawab :
Sebelum membahas hukum aborsi, ada dua fakta yang dibedakan oleh para fuqaha dalam
masalah ini. Pertama : apa yang disebut imlash ( aborsi, pengguguran kandungan ). Kedua,
isqâth ( penghentian kehamilan ). Imlash adalah menggugurkan janin dalam rahim wanita
hamil yang dilakukan dengan sengaja untuk menyerang atau membunuhnya.
Dalam hal ini, tindakan imlash ( aborsi ) tersebut jelas termasuk kategori dosa besar;
merupakan tindak kriminal. Pelakunya dikenai diyat ghurrah budak pria atau wanita, yang
nilainya sama dengan 10 diyat manusia sempurna. Dalam kitab Ash - Shahîhayn, telah
diriwayatkan bahwa Umar telah meminta masukan para sahabat tentang aktivitas imlâsh yang
dilakukan oleh seorang wanita, dengan cara memukuli perutnya, lalu janinnya pun gugur. Al-
Mughirah bin Syu’bah berkata: '' Rasulullah saw. telah memutuskan dalam kasus seperti itu
dengan diyat ghurrah 1 budak pria atau wanita ''.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Muhammad bin Maslamah, yang pernah menjadi wakil
Nabi saw. di Madinah. Karena itu, pada dasarnya hukum aborsi tersebut haram.
Ini berbeda dengan isqâth al - haml ( penghentian kehamilan ), atau upaya menghentikan
kehamilan yang dilakukan secara sadar, bukan karena keterpaksaan, baik dengan cara
mengkonsumsi obat, melalui gerakan, atau aktivitas medis tertentu. Penghentian kehamilan
dalam pengertian ini tidak identik dengan penyerangan atau pembunuhan, tetapi bisa juga
diartikan dengan mengeluarkan kandungan baik setelah berbentuk janin ataupun belum
dengan paksa.
Dalam hal ini, penghentian kehamilan ( al - ijhâdh ) tersebut kadang dilakukan sebelum
ditiupkannya ruh di dalam janin, atau setelahnya. Tentang status hukum penghentian
kehamilan terhadap janin, setelah ruh ditiupkan kepadanya, maka para ulama sepakat bahwa
hukumnya haram, baik dilakukan oleh si ibu, bapak, atau dokter. Sebab, tindakan tersebut
merupakan bentuk penyerangan terhadap jiwa manusia, yang darahnya wajib dipertahankan.
Tindakan ini juga merupakan dosa besar.
5.HUKUM ABORSI MENURUT UUD
Menurut hukum - hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk
kejahatan, yang dikenal dengan istilah “ Abortus Provocatus Criminalis ”
Yang menerima hukuman adalah:
1.Ibu yang melakukan aborsi
2.Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3.Orang - orang yang mendukung terlaksananya aborsi
Beberapa pasal yang terkait adalah:
Pasal 229
1.Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati,
dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karenapengobatan itu hamilnya dapat
digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling
banyak tiga ribu rupiah.
2.Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau
juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3.Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka dapat
dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 314
Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena
membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 342
Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan
bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas
nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana,
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang turut
serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh
orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347
1.Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita
tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2.Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling
lama lima belas tahun.
Pasal 348
1.Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita
dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
2.Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling
lama tujuh tahun.
Pasal 349
Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal
346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan
dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah
dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan
dilakukan.

BAB IV
PENUTUP

Mengenai penghentian kehamilan sebelum ditiupkannya ruh dan euthanasia, para fuqaha
telah berbeda pendapat. Ada yang membolehkan dan ada juga yang mengharamkan. Menurut
kami, jika penghentian kehamilan itu dilakukan setelah empat puluh hari usia kehamilan, saat
telah terbentuknya janin ( ada bentuknya sebagai manusia ), maka hukumnya haram.
Karenanya, berlaku hukum penghentian kehamilan setelah ruhnya ditiupkan, dan padanya
berlaku diyat ghurrah tersebut dan juga ethanasia atau penganmbilan nafa itu tidak boleh.

A.KESIMPULAN
1.Jika seorang wanita yang tengah mengandung mengalami kesulitan saat melahirkan, ketika
janinnya telah berusia enam bulan lebih, lalu wanita tersebut melakukan operasi sesar.
Penghentian kehamilan seperti ini hukumnya boleh, karena operasi tersebut merupakan
proses kelahiran secara tidak alami. Tujuannya untuk menyelamatkan nyawa ibu dan
janinnya sekaligus. Hanya saja, minimal usia kandungannya enam bulan. Aktivitas medis
seperti ini tidak masuk dalam kategori aborsi; lebih tepat disebut proses pengeluaran janin (
melahirkan ) yang tidak alami.

2.Jika janinnya belum berusia enam bulan, tetapi kalau janin tersebut tetap dipertahankan
dalam rahim ibunya, maka kesehatan ibunya bisa terganggu. Dalam kondisi seperti ini,
kehamilannya tidak boleh dihentikan, dengan cara menggugurkan kandungannya. Sebab,
sama dengan membunuh jiwa. Alasannya, karena hadis - hadis yang ada telah melarang
dilakukannya pengguguran, serta ditetapkannya diyat untuk tindakan seperti ini.
3.Jika janin tersebut meninggal didalam kandungan. Dalam kondisi seperti ini, boleh
dilakukan penghentian kehamilan. Sebab, dengan dilakukannya tindakan tersebut akan bisa
menyelamatkan nyawa ibu, dan memberikan solusi bagi masalah yang dihadapinya;
sementara janin tersebut berstatus mayit, yang karenanya harus dikeluarkan.
Janin yang di bunuh dan wajib atasnya ghurrah adalah bayi yang suadh berbentuk ciptaan (
janin ), misalnya mempunyai jantung, tangan, kaki, kuku, mata, atau lainnya.
Mengenai peghentian kehamilan sebelum ditiupkannya ruh, para fuqojia telah berbeda
pendapat. Ada yang membolehkan dan ada juga yang mengharamkan. Menurut kami, jika
penghentian kehamilan itij dilakukan setelah empat puluh hari usia kehamilan, saat telah
terbentuknya janin ( ada bentuknya sebagai manusia ), maka hukumnya haram. Karenanya,
berlaku hukum penghentian kehamilan setelah ruhnya ditiupkan, dan padanya berlaku diyat
ghurrah tertentu.
4.Jika janin tersebut belum berusia enam bulan, tetapi kalau janin tersebut tetap
dipertahankan dalam rahim ibunya, maka nyawa ibunya akan terancam. Dokter pun sepakat,
kalau janin tersebut tetap dipertahankan menurut dugaan kuat atau hampir bisa dipastikan
nyawa ibunya tidak akan selamat, atau mati. Dalam kondisi seperti ini, kehamilannya boleh
dihentikan, dengan cara menggugurkan kandungannya, yang dilakukan untuk
menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa ibunya. Alasannya, karena Rasulullah saw.
memerintahkan berobat dan mencari kesembuhan. Di samping itu, jika janin tersebut tidak
digugurkan, ibunya akan meninggal, janinnya pun sama, padahal dengan janin tersebut
digugurkan, nyawa ibunya akan tertolong, sementara menyelamatkan nyawa ( kehidupan )
tersebut diperintahkan oleh Islam.
B.SARAN
Dengan demikian, dalil - dalil tentang kebolehan menghentikan kehamilan, khususnya untuk
menyelamatkan nyawa ibu, juga dalil - dalil berobat dan mencari kesembuhan, pada dasarnya
merupakan dalil mukhashshish bagi hadis - hadis yang mengharamkan tindakan pengguguran
janin. Secara umum dalil haramnya pengguguran kandungan tersebut dinyatakan dalam
konteks pembunuhan, atau penyerangan terhadap janin. Karena itu, penghentian kehamilan
dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa ibu tidak termasuk dalam kategori penyerangan,
dan karenanya diperbolehkan. Wallâhu a‘lam bi ash - shawâb

DAFTAR PUSTAKA

http://azmikoe.multiplay.co
id. Answer.yahoo.com/questioan/indeks
http://forum.kotasantri.com/viewtopic.php?t=1267
http://118.98.213.22/aridata_web/how/k/kesehatan/18_ABORSI.pdf
PRINSIP LEGAL ETIK DAN NURSING ADVOCACY
Juli 19, 2016

BAB I

PRINSIP LEGAL ETIK DAN NURSING ADVOCACY

A. Konsep Dasar Etika Keperawatan

1. Definisi etik

Etik berasal dari kata Yunani yaitu ethos yang berarti akhlak, adat kebiasaan, watak,

perasaan, sikap yang baik. Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang

perilaku benar atau salah (Cecep Triwibowo,(2010))

2. Etik Keperawatan

Etik keperawatan adalah prinsip etik dalam melaksanakan kegiatan profesi

keperawatan sehingga mutu dan kualitas profesi tetap terjaga (Ferry Effendi, (2009)).

3. Nilai

Nilai merupakan kepercayaan individu tentang kegunaan dari suatu ide, tingkah

laku, adat istiadat atau objek yang menentukan standar yang mempengaruhi perilaku.

(Potter,Perry(2009).

4. Norma
Norma adalah petunjuk hidup yang berisi perintah maupun larangan yang

ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama dan bermaksud untuk mengatur setiap perilaku

manusia guna mencapai ketertiban dan kedamaian (Potter,Perry(2009).

B. Kode Etik Keperawatan

Kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip yang telah diterima oleh

suatu profesi (Potter,Perry(2009))

1. Kode Etik Keperawatan Menurut ANA

Kode etik keperawatan menurut American Nurses Association (ANA) adalah

sebagai berikut:

a. Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan

keunikan klien yang tidak di batasi oleh pertimbangan-pertimbangan status sosial atau

ekonomi, atribut personal, atau corak masalah kesehatannya.

b. Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang bersifat

rahasia.

c. Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh

praktik seseorang yang tidak kompeten, tidak etis atau ilegal.

d. Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang

dijalankan masing-masing individu.

e. Perawat memelihara kompetensi keperawatan.


f. Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi dan

kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung

jawab, dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.

g. Perawat turut serta beraktifitas dalam membantu pengembangan pengetahuan profesi.

h. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan

standar keperawatan.

i. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi

kerja yang mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas.

j. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap informasi

dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.

k. Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat lainnya

dalam meningkatkan upaya-upaya masyarkat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan

kesehatan publik.

2. Kode Etik Keperawatan yang dikeluarkan oleh DPP PPNI (PPNI, 2000)

a. Perawat dan Klien

1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat

manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan,

warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan

sosial.
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana

lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup

beragama dari klien.

3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan

keperawatan.

4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang

dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan ketentuan

hukum yang berlaku.

b. Perawat dan Praktik

1) Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang keperawatan melalui belajar

terus menerus.

2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran

professional yang menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan

kebutuhan klien.

3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan

mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi,

menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain.

4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu

menunjukkan perilaku professional.


c. Perawat dan Masyarakat

Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan

mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.

d. Perawat dan Teman Sejawat

1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan

tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja

maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh

2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan

kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal.

e. Perawat dan Profesi

1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan

keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan.

2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan.

3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi

kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.

C. Prinsip Etik dalam Praktik keperawatan


Prinsip bahwa dasar kode etik adalah menghargai hak dan martabat manusia,

tidak akan berubah. Prinsip ini diterapkan dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan dan

juga dalam hak-hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. (Suhaemi Mimin Emi,

(2004).Etika Keperawatan . Jakarta: EGC).

Prinsip-prinsip tersebut antara lain : (B. Bastable, (2002). Perawat Sebagai

Pendidik. Jakarta: EGC)

1. Otonomi

Otonomi berasal dari bahasa latin, yaitu autos artinya sendiri dan nomos, artinya

aturan. Otonomi merupakan kemampuan dalam mengatur diri sendiri. Prinsip otonomi sangat

penting dalam bidang kesehatan termasuk dalam bidang keperawatan. Karena seorang

perawat harus menghargai martabat klien sebagai individu yang dapat memutuskan apa hal

yang baik untuk dirinya. (Suhaemi, (2004).

2. Non-Malefisien

Non-maleficience berarti kontinum rentang dari bahaya tidak berarti maksudnya

adalah tidak melukai yang akan menimbulkan bahaya kepada orang lain (klien). Contohnya :

perawat mengimunisasi anak terhadap difteria, batuk rejan, dan tetanus member suatu derajat

bahaya atau nyeri. Nah, tindakan ini mencegah bahaya serius dari penyakit anak-anak.

(Potter, perry, edisi 4 (2005).


3. Beneficient (Kemaslahatan)

Prinsip kemaslahatan menuntut seorang perawat memberikan keseimbangan

maslahat terhadap resiko dalam suatu situasi, dimana suatu pilihan harus dibuat dan

menentukan suatu cara untuk membantu klien. Misal, klien kanker harus mempertimbangkan

resiko dari suatu obat kanker eksperiment sebelum menerima obat tersebut. (Potter dan

perry. Edisi 4 (2005).

4. Keadilan (Justice)

Prinsip keadilan menuntut perlakuan terhadap orang lain secara adil dan

memberikan apa yang menjadi kebutuhan dan manfaat bagi mereka. Ketika ada hal yang

diberikan untuk klien, perawat dapat mengalokasi dalam konteks pembagian yang adil

terhadap masing-masing klien yang mereka butuhkan.(Potter dan perry edisi 4 (2005).

5. Kejujuran (Veracity)

Kejujuran menuntut kewajiban untuk mengungkapkan kebenaran yang

sesungguhnya. Sikap kejujuran tidak hanya harus berkata jujur tetapi juga membutuhkan

adanya sikap positif dalam memberikan informasi dan juga pengajaran dan perlindungan

klien. Misal, seorang wanita menanyakan obat yang dibutuhkannya setelah trnsplantasi

sumsum tulang belakang, kemudian perawat harus memberikan informasi yang jujur. Akan

tetapi mungkin wanita tersebut tidak jadi untuk transplantasi. Tetapi dalam hal ini perawat

harus menekankan hal positif setelah transplantasi tersebut. (Potter dan perry. edisi 4(2005).

6. Kerahasiaan (Kridensialitas)
Rahasia adalah Semua informasi menjadi hak isimewa seseorang atau pribadinya

seseorang yang telah ada kesepakatan yang bersifat resmi. Hubungan perawat dengan klien

sudah dianggap hak istimewa dimana perawat tidak boleh membocorkan informasi

kepribadian klien kepada orang lain. Kecuali, korban merupakan tindak kejahatan. Maka

perbuatan tersebut harus dilakukan saat menjadi seorang saksi di pengadilan.( B. Bastable,

(2002).

7. Kesetiaan (Fidelity)

Keyakinan atau kesetiaan menyatakan bahwa seorang perawat harus memagang

suatu janji yang dibuatnya untuk klien. Ketika dibuatnya suatu janji, ada timbulnya rasa

saling percaya diantara perawat-klien. (Potter dan perry. Edisi 4 (2005))

8. Respek pada seseorang

Prinsip respek terhadap sesorang menetapkan bahwa semua etik perawatan

kesehatan harus menghargai kehidupannya sendiri dan kehidupan orang lain bisa dikatakan

bahwa menghormati dan menghargai pasien beserta hak-hak pasien. contoh : perawat harus

melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan manusia

dimana terdapat harapan sembuh atau memperoleh keuntungan dari tindakan memperpanjang

hidup. (Potter dan perry. Edisi 4 (2005)).

D. Issue Supporting Device

Issue etik merupakan perubahan cakupan praktik keperawatan telah

menyebabkan peningkatan insidensi konflik antara kebutuhan dan harapan klien serta nilai

professional perawat (Blais, (2007).


1. Klarifikasi Supporting Devices

a. Alat Bantu

Teknologi medis yang canggih merupakan alat untuk para medis.

b. Peralatan Sinar X

Menggerakkan unit Transmiter.

c. Peralatan Analisis Otomatis Hematologikal

Menekankan getaran diujung injektor saat dihentikan.

d. Pemindai CT Sinar X medis

Perangkat yang memindai seluruh tubuh pasien.

e. Kursi roda elektrik spinal bola

Fasilitas untuk mandi dengan perangkat bertenaga listrik.

f. Robot Pendukung pembedahan selama pengobatan tulang

g. Handheld

Suatu alat yang diganakan perawat untuk pengumpulan data.

h. Handhell device

Mempermudah perawat untuk mengakses sumber-sumber klinik pasien.


E. Prinsip Legal Keperawatan

1. Pertanggungjawaban

Tanggung jawab mengacu pada pelaksanaan tugas yang dikaitkan dengan peran

tertentu perawat (American Nurses Association [ANA]), (1985). Ketika memberikan

medikasi, perawat bertanggungjawab dalam mengkaji kebutuhan klien terhadap obat-obatan,

memberikannya dengan benar dalam dosis yang aman serta mengevaluasi responsnya.

a. Tanggung jawab dasar bagi seorang perawat terbagi menjadi empat : meningkatkan

kesehatan, mencegah penyakit, memperbaiki kesehatan dan mengurangi penderitaan.

b. Tanggung jawab utama perawat adalah pada mereka yang membutuhkan asuhan

keperawatan.

c. Perawat memiliki tanggung jawab pribadi pada praktik keperawatan serta mempertahankan

kompetensi dengan terus belajar.

2. Pertanggunggugatan

Tanggung gugat artinya dapat memberikan alasan atas tindakannya. Seorang

perawat bertanggung gugat atas dirinya sendiri, klien, profesi, atasan, dan masyarakat. Jika

dosis medikasi salah diberikan, perawat bertanggung gugat pada klien yang menerima

medikasi tersebut, dokter yang memprogramkan tindakan, perawat yang menetapkan standar

perilaku yang diharapkan, serta masyarakat, yang semuanya menghendaki perilaku

profesional.
Tanggung gugat etik adalah tanggung jawab personal dimana perawat dan semua

anggota profesional kesehatan lain harus menerimanya.

Tanggung gugat profesional memiliki tujuan sebagai berikut :

a. Untuk mengevaluasi praktisi profesional baru dan mengkaji ulang yang telah ada.

b. Untuk mempertahankan standar perawatan kesehatan.

c. Untuk memudahkan refleksi pribadi, permikiran etis, dan pertumbuhan pribadi pada pihak

profesional perawatan kesehatan.

d. Untuk memberikan dasar pengambilan keputusan etis.

Untuk dapat bertanggung gugat, perawat melakukan praktik dalam kode profesi.

Tanggung gugat membutuhkan evaluasi kinerja perawat dalam

memberikan perawatan kesehatan.

F. Prinsip Ilegal Keperawatan (Kelalaian dan Malpraktik)

1. Malpraktik

Malpraktik berarti menjalankan pekerjaan dalam teori atau menjalankan pekerjaan

atau profesi yang kualitasnya buruk, tidak lege etis,tidak tepat.

Untuk malpraktik hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai

bidang hukum yang dilanggar, yakni :


a. Criminal Malpractice

Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala

perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana,yaitu :

1) Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela.

2) Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan (intensional)

misalnya melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332

KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263 KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi

medis pasal 299 KUHP). Kecerobohan (reklessness) misalnya melakukan tindakan medis

tanpa persetujuan pasien informed consent. Atau kealpaan (negligence) misalnya kurang hati-

hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien, ketinggalan klem dalam perut

pasien saat melakukan operasi.

Pertanggungjawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat

individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada

badan yang memberikan sarana pelayanan jasa tempatnya bernaung.

b. Civil Malpractice

Seorang tenaga jasa akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak

melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah


disepakati (ingkar janji). Tindakan tenaga jasa yang dapat dikategorikan civil malpractice

antara lain :

1) Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.

2) Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat

melakukannya.

3) Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.

4) Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.

Pertanggungjawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan

dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle ofvicarius liability. Dengan prinsip ini

maka badan yang menyediakan sarana jasa dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang

dilakukan karyawannya selama orang tersebut dalam rangka melaksanakan tugas

kewajibannya.

c. Administrative Malpractice

Tenaga jasa dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala orang

tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police

power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang

kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan

profesinya (Surat Ijin Kena, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga

perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan

dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.


2. Neglected (Kelalaian)

Kelalaian adalah perilaku yang tidak sesuai standar perawatan. Malpraktik terjadi

ketika asuhan keperawatan tidak sesuai yang menuntut praktik keperawatan yang aman.

Kelalaian perawat disebut sebagai malpraktik.

a. Jenis-jenis Kelalaian

1) Malfeasance : Melakukan tindakan yang melanggar hukum

atau tidak tepat/layak.

2) Misfeasance : Melakukan pilihan tindakan keperawatan yang

tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat.

3) Nonfeasance : Tidak melakukan tindakan keperawatan

yang merupakan kewajibannya.

G. Dilema Etik

Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua atau lebih landasan moral

suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanyaa (Deni Purnama,(2009).

1. Langkah Penyelesaian Dilema etik (Tappen,(2005).

a. Pengkajian

Target tahap ini adalah terkumpulnya data dari seluruh pengambil keputusan.
b. Perencanaan

Membuat Tujuan dari Treatment, Identifikasi pembuat keputusan, dan daftarkan serta

beri bobot/pilihan.

c. Implementasi

Mencari kesepakatan dengan tim medis lain.

d. Evaluasi

Terselesaikan dilemma etik.

H. Nursing Advocacy

Advokasi adalah proses pembelaan yang dilakukan untuk mendukung

argumentasi bagi kebutuhan orang lain dengan bertindak sebagai pembela pasien dalam

praktik keperawatan. (Broker, 2002).

Peran dan tujuan nursing advokasi adalah sebagai berikut

A. Peran nursing advokasi :

1. Memberi informasi dan bantuan atas apa pun yang sudah diputuskan pasien;

2. Memberi informasi yang artinya menyediakan penjelasan atau informasi sesuai dengan

yang klien butuhkan;


3. Memberi bantuan yang mengandung dua peran, yaitu peran aksi dan peran nonaksi. (Emi,

M. S. 2004)

4. Bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap

upaya-upaya kesehatan yang harus dijalani oleh pasien;

5. Melindungi dan memberikan fasilitas keluarga/masyarakat dalam memberikan pelayanan

keperawatan. (Haryono, R. 2013)

6. Mampu bertanggung jawab dalam membantu pasien dan keluarga menginterpretasikan

informasi dari berbagai pemberi pelayanan yang diperlukan untuk mengambil persetujuan

atas tindakan keerawatan yang diberikan kepada pasien dan mempertahankan serta

melindungi hak-hak pasien. (Nurul, E. dan Sulisno, M. 2013)

7. Sebagai pelindung penentuan diri klien, mediator, dan pelaku. (Blais, K, dkk. 2007)

Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus menghargai klien sebagai individu

yang memiliki berbagai karakteristik, pada saat ini perawat memberikan perlindungan

martabat dan nilai manusiawi klien selama klien sedang sakit. (Emi, M. S. 2004)

B. Tujuan nursing advokasi :


1. Meningkatkan keyakinan para penentu kebijakan dalam melaksanakan perubahan kebijakan

dalam pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan;

2. Meningkatkan keyakinan bahwa masalah dalam pelayanan keperawatan harus diselesaikan

bersama dan memerlukan kesepakatan dalam bentuk kemitraan yang didukung olehh

pemerintah pusat maupun daerah;

3. Adanya komitmen dari penentu kebijakan di pusat propinsi dan kabupaten/kota tentang hak

masyarakat memperoleh pelayanan keperawatan yang bermutu. (Rita, K. 2007)

4. Melindungi hak-hak yang dimiliki oleh klien;

5. Untuk mencapai perawatan kesehatan yang lebih baik. (Blais, K, dkk . 2007)

I. Hak Pasien (Hidayat, 2002)

Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya

sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas.

Hak menurut C. Fagin (1975) merupakan tuntutan terhadap sesuatu, dimana seseorang

mempunyai haknya, seperti kekuasaan dan hak-hak istimewa yang berupa tuntutan yang

berdasarkan keadilan, moralitas, atau legalitas.

Setiap manusia mempunyai hak asasi untuk berbuat, menyatakan pendapat, memberikan

sesuatu kepada orang lain, dan menerima sesuatu dari orang lain atau lembaga tertentu. Hak

tersebut dapat dimiliki oleh setiap orang. Dalam menuntut suatu hak, tanggung jawab moral

sangat diperlukan agar dapat terjalin suatu ikatan yang merupakan kontrak sosial, baik

tersurat maupun tersirat, sehingga segala sesuatunya dapat memberi dampak yang positif.
Semakin baik kehidupan seseorang atau masyarakat, semakin perlu pula pemahaman

tentang hak-hak tersebut agar terbentuk sikap saling menghargai hak-hak orang lain dan

tercipta kehidupan yang damai dan tenteram.

Hak dapat dipandang dari dua sudut:

1. Hak dari sudut pandang hukum adalah hak mempunyai atau memberi kekuasaan tertentu

untuk mengendalikan situasi, misalnya seseorang mempunyai hak untuk masuk restoran dan

membeli makanan yang diinginkannya. Dalam hal ini, jika ditinjau dari sudut hukum, orang

yang bersangkutan mempunyai kewajiban tertentu yaitu orang tersebut diwajibkan untuk

berperilaku sopan dan membayar makanan tersebut (Fromer, 1981).

2. Hak dari sudut pandang pribadi adalah hak yang mengacu pada konsep pribadi dari hak

mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan sesuai dengan perkembangan etis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep pribadi dari hak-hak seseorang:

1. Hubungan sosial dengan keluarga, antar keluarga, maupun dengan lingkungan.

2. Pendidikan dari orang tua

3. Kebudayaan

4. Informasi yang diperoleh

Peranan Hak

1. Hak dapat digunakan untuk mengekspresikan kekuatan dalam konflik antara seseorang dan

kelompok.
contoh : seorang dokter mengatakan pada perawat bahwa ia mempunyai hak untuk

menginstrusikan pengobatan yang ia inginkan untuk pasien/kliennya. Disini terlihat bahwa

dokter tersebut mengekspresikan kekuasaannya untuk meginstruksikan pengobatan kepada

pasien/klien. Hal ini merupakan haknya selaku penanggung jawab medis.

2. Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan.

Contoh : seorang perawat, dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, mendapat kritikan karena

terlalu lama menghabiskan waktunya bersama klien. Perawat tersebut dapat

mengatakan bahwa ia mempunyai hak un tuk memberikan asuhan keperawatan yang terbaik

untuk pasien/klien sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki nya. Dalam hal ini, perawat

tersebut mempunyai hak melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan kondisi dan

kebutuhan pasien/klien.

3. Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan. Seseorang sering kali dapat

menyelesaikan suatu perselisihan dengan menuntut hak yang juga dapat diakui oleh orang

lain.

Contoh : Seorang perawat menyarankan kepada pasien agar tidak keluar ruangan selama

dihospitalisasi. Pada situasi tersebut, pasien/klien marah karena tidak setuju dengan saran

perawat dan pasien/klien tersebut mengatakan pada perawat bahwa ia juga punya hak untuk

keluar dari ruangan bilamana ia mau. Dalam hal ini, perawat dapat menerima tindakan

pasien/klien sepanjang tidak merugikan kesehatan pasien/klien. Bila tidak tercapai

kesepakatan karena membatasi pasien/klien , berarti ia mengingkari kebebasan pasien.

Jenis-Jenis Hak
1. Hak kebebasan adalah hak mengenai kebebasan dan di pilih dan di ekspresikan sebagai hak

orang-orang untuk hidup sesuai dengan pilihannya dalam batas-batas yang ditentukan

(Fromer, 1981). Misalnya, seorang perawat wanita yang bekerja di suatu rumah sakit, dapat

memakai seragam yang dia inginkan (haknya) asalkan berwarna putih bersih dan sopan.

2. Hak kesejahteraan adalah hak yang diberikan secara hukum untuk hal-hal yang merupakan

standar keselamatan spesifik dalam suatu bangunan atau sejumlah tahun pendidikan (Fromer,

1981). Contoh : hak pasien/klien untuk memperoleh asuhan keperawatan.

3. Hak legislatif adalah hak yang ditetapkan oleh hukum, didasarkan pada konsep keadilan.

Hak legislatif mempunyai empat peranan dalam masyarakat, yaitu membuat peraturan,

megubah peraturan, pembatas moral terhadap peraturan yang tidak adil, memberikan

keputusan pengadilan atau menyelesaikan perselisihan (Badman and Bandman,

1986).

Menurut Badman and Badman (1986), ada lima persyaratan yang mempengaruhi

penentuan hak-hak seseorang, yaitu:

1. Kebebasan untuk menggunakan hak yang dipilih seseorang. Individu ridak disalahkan atau

dihukum untuk menggunakan atau tidak menggunakan hak tersebut. Contoh : pasien/klien

mempunyai hak atas pengobatan yang ditetapkan dokter, tetapi ia mempunyai hak untuk

menolakatau menerima pengobatan tersebut.

2. Seseorang mempunyai tugas untuk memberikan kemudahan bagi orang lan untuk

menggunakan hak-haknya. Contoh : pasien/klien mempunyai hak atas pengobatannya dan

perawat mempunyai tugas untuk menyakinkan pasien/klien bahwa hak-haknya terlindungi.


3. Hak harus sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, yaitu persamaan, tidak memihak,

kejujuran. Contoh: semua pasien/klien mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan

pengobatan dan perawatan.

4. Hak untuk dapat dilaksanakan. Contoh : di beberapa rumah sakit, para penentu kebijakan

mempunyai tugas untuk memastikan bahwa pemberian hak-hak asasi manusia dilaksanakan

untuk semua pasien/klien.

5. Apabila hak seseorang bersifat membahayakan, maka hak tersebut dapat dikesampingkan

atau ditolak dan orang yang bersangkutan akan diberi kompensasi atau pengganti. Contoh :

apabila nama pasien tertunda dari jadwal pembedahan dengan tidak sengaja, pasien

dikompensasikan untuk ditempatkan pada bagian teratas dari daftar pembedahan berikutnya

(bila terjadi kekeliruan).

Hak-Hak Pasien/Klien

Pentingnya mengetahui hak-hak pasien dalam pelaksaan asuhan kesehatan baru ada pada

akhir tahun 1960. Tujuan dari hal tersebut adalah untuk meningkatkan mutu asuhan

kesehatan dan membuat sistem asuhan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan

pasien/klien.

Saat ini, pasien/klien dapat meminta untuk membuat keputusan sendiri dan

mengendalikan diri sendiri bila ia sakit. Persetujuan, kerahasiaan hak pasien/klien untuk

menolak pengobatan, merupakan aspek dari pengambilan keputusan untuk diri pasien/klien

sendiri.

Kebutuhan atas hak klien merupakan perluasan dari dua keadaan berikut ini:
1. Kerentanan pasien/klien terhadap penyakit

Ini dapat terjadi karena:

v Ketika seseorang sakit, ia sering tidak mampu untuk menyatakan hak-haknya seperti pada

waktu sehat

v Untuk dapat menyatakan haknya, seseorang memerlukan energi dan kesadaran akan hak

tersebut.

v Seseorang yang lemah dan terikat dengan penyakit yang dideritanya mungkin tidak mampu

untuk menyatakan haknya.

v Setiap orang/pasien/klien tidak selalu menyadari hak-hak mereka karena lingkungan asuhan

kesehatan yang tidak mereka kenal atau mereka ketahui.

v Kebutuhan untuk merahasiakan informasi tentang kesehatan pasien/klien mungkin tidak ada

dan mungkin tidak pernah terpikirkan.

2. Kompleksitas hubungan dalam tatanan asuhan keperawatan

Kompleksitas dan macam-macam hubungan asuhan kesehatan dapat meningkatkan

kebutuhan akan hak-hak pasien/klien. Dengan adanya bermacam-macam spesialisasi, dimana

pasien/klien sering dibantu oleh bermacam-macam profesi kesehatan, akan sering terjadi

hilang nya kebutuhan atau prioritas untuk klien, dalam hubungannya dengan komunikasi

antar profesi kesehatan tersebut.

Pada pola tradisional dari asuhan keperawatan, pasien/klien kehilangan rasa kemandirian

dan pengendalian dirinya karena dalam hubungan antara pasien dan pemberi asuhan yang
masih bersifat tradisional tersebut, terdapt perbedaan yang menyolok, dimana pemberi asuhan

terikat sebagai superordinate yang berwenang dan terhormat, sedangkan pasien atau klien

seolah-olah tidak diberi kesempatan untuk menentukan pilihan.

Hal ini dapat mendorong klien menjadi menjadi ketergantungan dalam memperoleh

kesembuhan, sedangkan pemberi asuhan kesehatan walaupun mengakui hak-hak klien, tapi

hak-hak yang diakui tersebut sangatlah terbatas.

Pola baru tentang hubungan asuhan kesehatan muncul akibat beberapa kekuatan

masyarakat, antara lain:

v Konsumen yang lebih berpengetahuan (berpendidikan tinggi)

v Keadaan perilaku orang sakit yang menuntut agar haknya selaku pasien/klien dapat diakui.

v Saat ini, tujuan asuhan kesehatan dan keperawatan adalah mengembalikan otonomi dan

kemandirian klien.

v Menerima asuhan kesehatan atau keperawatan secara optimal sebagai tanggung jawab bersama

antara pemberi asuhan, pasien/klien, dan masyarakat.

Empat hak yang dinyatakan dalam fasilitas asuhan kesehatan (Annas dan Healey, 1974):

1. Hak untuk kebenaran secara menyeluruh.

2. Hak untuk privasi dan martabat pribadi (kerahasiaan dan keamanannya).

3. Hak untuk memelihara penentuan diri dengan berpartisipasi dalam keputusan sehubungan

dengan kesehatan seseorang.


4. Hak untuk memperoleh catatan medis, baik selama maupun sesudah dirawat di rumah sakit.

Pernyataan Hak-Hak Pasien/Klien (The American Hospital Association, 1973)

1. Pasien/klien berhak untuk mendapatkan pelayanan yang baik dan menghargai asuhan

kesehatan dengan penuh hormat.

2. Pasien/klien berhak untuk memperoleh informasi terbaru dan lengkap dari dokter.

3. Pasien/klien berhak untuk membuat keputusan menerima informasi penting.

4. Pasien/klien berhak untukmenolak pengobatan.

5. Pasien/klien berhak untuk mengetahui setiap pertimbangan dari privasinya.

6. Pasien/klien berhak untuk mengharapkan bahwa semua komunikasi dan catatan mengenai

asuhannya harus dirahasiakan oleh rumah sakit.

7. Pasien/klien berkak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain.

8. Pasien/klien berhak untuk memperoleh informasi tentang hubungan rumah sakit dengan

instansi lain.

9. Pasien/klien berhak untuk memberi pendapat atau menolak bila diikutsertakan sebagai

suatu eksperimen yang berhubungan dengan asuhan atau pengobatannya.

10. Pasien/klien berhak untuk mengharapkan asuhan berkelanjutan yang dapat diterima.

11. Pasien/klien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan tentang biaya.
12. Pasien/klien berhak untuk mendapatkan informasi tentang peraturan, kebijakan dan praktik

di rumah sakit yang berhubungan dengan perawatan pasien.

National League For Nursing (1997) menyakini bahwa hak-hak pasien/klien sebagai berikut.

1. Hak memperoleh asuhan kesehatan sesuai standar profesional tanpa memandang tatanan

kesehatan yang ada.

2. Hak untuk diperlakukan secara sopan dan santun, serta keramahan dari perawat yang

bertugas tanpa membedakan ras, warna kulit, derajat di masyarakat, jenis kelamin,

kebangsaan, politis.

3. Hak memperoleh informasi tentang diagnosis penyakitnya, prognosis, pengobatan,

termasuk alternati asuahan yang diberikan, risiko yang mungkin terjadi agar pasien dan

keluarganya memahami dan dapat memberikan persetujuan atas tindakan medis yang akan

dilakukan terhadapnya.

4. Hak legal untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tentang asuhan keperawatan

yang diberikan kepadanya.

5. Hak menolak observasi dari tim kesehatan yang tidak langsung terlibat dalam asuhan

kesehatannya.

6. Hak mendapatkan privasi selama wawancara, pemekrisaan kesehatan, dan pengobatan.

7. Hak mendapatkan privasi untuk berkomunikasi dan menerima kunjungan dari orang lain

yang benar-benar disetujuinya.


8. Hak menolak pengobatan atau partisipasi dalam pelaksanaan penelitian dan eksperimen

yang dilakukan tanpa jaminan hukum bila terjadi dampak yang merugikan.

9. Hak terhadap koordinasi dan asuhan kesehatan yang berkelanjutan.

10. Hak menerima pendidikan/instruksi yang tepat dari petugas kesehatan untuk meningkatkan

pengetahuan tentang kebutuhan kesehatan dasar secara optimal.

11. Hak kerahasiaan terhadap dokumen serta hasil komunikasi, baik secara lisan maupun

tulisan, yang diberikannya kepada petugas kesehatan, kecuali untuk kepentingan hukum.

Pernyataan yang berkenaan dengan hak pasien/klien dipengaruhi oleh beberapa faktor:

v Meningkatkan kesadaran para konsumen mengenai hak asuhan kesehatan dan partisipasi

dalam merencanakan asuhan tersebut.

v Meningkatnya jumlah malpraktik yang dipublikasikan sehingga menggugah kesadaran

masyarakat.

v Adanya legislasi yang diterapkan untuk melindungi hak-hak asasi pasien/klien

v Konsumen menyadari tentang peningkatan jumlah pendidikan dalam bidang kesehatan dan

penggunaan pasien/klien sebagai objek atau tujuan pendidikan.

Kewajiban Pasien
Kewajiban adalah seperangkat tanggung jawab seseorang untuk melakukan sesuatu yang

memang harus dilakukan, agar dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan haknya. Agar

pelaksanaan asuhan kesehatan dan keperawatan dapat dilakukan semaksimal mungkin,

diperlukan suatu kewajiban sebagai berikut:

1. Pasien atau keluarganya wajib menaati segala peraturan dan tata tertib yang ada di institusi

kesehatan dan keperawatan yang memberikan pelayanan kepadanya.

2. Pasien/klien diwajibkan untuk mematuhi segala kebijakan yang ada, baik dari dokter

maupun perawat yang memberikan asuhan.

3. Pasien atau keluarganya berkewajiban untuk memberikan informasi yang lengkap dan jujur

tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter atau perawat yang merawatnya.

4. Pasien atau keluarga yang bertanggung jawab kepada nya, berkewajiban untuk memenuhi

segala sesuatu yang diperlukan sesuai dengan perjanjian atau kesepakatan yang telah

disetujui sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Blais, K. K, dkk. (2007). Praktik Keperawatan Profesional (konsep & perspektif).

edisi 4. Hal. 96, 102. Jakarta : EGC

Emi, M. S. (2004). Etika Keperawatan (aplikasi pada praktek). Hal. 91-92.

Jakarta : EGC

Haryono, R. (2013). Etika Keperawatan (dengan pendekatan praktis).

Hal. 14-15. Jatirejo : Goysen Publishing

Nurul, E. A, Sulisno, M. (2013). Gambaran Pelaksanaan Peran Advokat

Perawat di Rumah Sakit Negeri Semarang. Hal 127-128. dikutip pada tanggal 30-09-2014

pukul 23:27 WIB, dari


(https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&ei=b-

AqVMvMIZSfuQS9hoGoDQ&url=http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JPK/article/download/6

09/437&cd=5&ved=0CCsQFjAE&usg=AFQjCNH3VyBkX9Huk5smtaqV5Ut2A39k2w&sig

2=r-FH0bRsJ-ZZVEsrrBlVZA)

Rita, K. (2007). Advokasi Dalam Pelayanan Keperawatan. dikutip pada tanggal

1-10-2014 pukul 00:15 WIB, dari

(https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&ei=3_lqVMXtOYigugTQ64HwBw

&url=http://www.scribd.com/mobile/doc/125094590&cd=12&ved=0CBsQFjABOAo&usg=

AFQjCNEV08_9CP_KKKXvggiE0KlefACkOg&sig2=-czyxATeHXjWKecqNlKzPA)

(ferry efendi s.kep dan mahfuddli , s.kep ,ns 2009 )

Potter, Perry. (2005). Fundamental Keperawatan (konsep, proses, dan

praktik). J Hal 48. Jakarta : EGC

Ismani, N. (2001). Etika Keperawatan. Hal 20. Jakarta :Widya Medika

Suhaemi, E. M. (2004). Etika keperawatan (aplikasi pada praktik). Hal

24.

Jakarta : EGC