Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN

APLIKASI KEPERAWATAN TRANSKULTURAL


PADA KELOMPOK BAYI/BALITA

Dosen Pembimbing :
Sylvia Dwi Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kep

Kelas A1 2016
Disusun oleh Kelompok 2 :
Regyana Mutiara Guti (131611133013)
Dita Fajrianti (131611133014)
Nafidatun Naafi'a (131611133015)
Indah Latifa (131611133016)
Listya Ernissa Mardha (131611133017)
Rufaidah Fikriya (131611133018)
Dwi Utari Wahyuning Putri (131611133019)
Ayu Saadatul Karimah (131611133020)
Desi Choiriyani (131611133021)
Nurul Hidayati (131611133022)
Marceline Putri Chrisdianti (131611133023)
Arinda Naimatuz Zahriya (131611133024)
Sekar Ayu Pitaloka (131611133025)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
berkat rahmat serta hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan salah satu tugas
mata kuliah Psikososial dan Budaya dalam Keperawatan ini pada Program S1
Pendidikan Ners Universitas Airlangga dengan baik. Penyusun juga mengucap
terimakasih kepada dosen mata kuliah Psikososial dan Budaya dalam
Keperawatan, Sylvia Dwi Wahyu, S.Kep., Ns., M.Kep, atas bimbingan yang telah
diberikan selama perkuliahan.
Harapan penyusun semoga makalah ini dapat memberikan ilmu dan
pengetahuan yang lebih kepada pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
dalam bidang keperawatan khususnya bagi proses pembelajaran Psikososial dan
Budaya dalam Keperawatan. Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan untuk
perbaikan baik dari segi materi maupun teknik penulisan.

Surabaya, 09 November 2017

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................ 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 4
2.1 Pengertian Keperawatan Transkultural............................................. 4
2.2 Konsep Keperawatan Transkultural.................................................. 5
2.3 Paradigma Keperawatan Transkultural............................................. 6
2.4 Proses Keperawatan Transkultural.................................................... 8
2.5 Aplikasi Keperawatan Transkultural pada Kelompok Bayi/Balita... 14
2.5.1 Contoh Kasus Transkultural pada Kelompok Bayi/Balita...... 14
2.5.2 Aplikasi Proses Keperawatan Transkultural pada Kelompok
Bayi/Balita.............................................................................. 28
BAB 3 PENUTUP............................................................................................. 34
3.1 Kesimpulan....................................................................................... 34
3.2 Saran.................................................................................................. 34
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 36

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pola kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh aspek sosial dan budaya
sehingga budaya menjadi suatu pola hidup yang menyeluruh. Budaya memiliki
sifat kompleks, abstrak, dan luas. Budaya menghubungkan antara manusia dengan
manusia yang sering banyak dipengaruhi oleh mitos, norma, nilai, kepercayaan,
kebiasaan. Pola budaya menjadi dikaitkan dengan hal tersebut sehingga menjadi
efek dari berbagai macam akses, yang dapat berupa akses pangan, informasi, dan
pelayanan sehingga budaya menjadi kerangka yang koheren dalam menentukan
organisasi aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang
lain. Begitupun dengan budaya pada saat bayi atau balita yang tidak terlepas pada
pandangan budaya yang telah diwariskan turun temurun dalam budaya yang
bersangkutan.
Hasil SKRT 2001, kematian neonatal (bayi baru lahir) adalah 180 kasus.
Kasus lahir mati berjumlah 115 kasus. Jumlah seluruh kematian bayi adalah 466
kasus. Distribusi kematian neonatal sebagian besar di wilayah Jawa Bali (66,7%)
dan di daerah pedesaan (58,6%). Mengutip data Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran
hidup pada tahun 2012. Ini berarti di Indonesia, ditemukan kurang lebih 440 bayi
yang meninggal setiap harinya. ( Depkes RI, 2014). Hal tersebut dapat terjadi
karena masalah medis, selain itu salah satu penyebabnya adalah faktor budaya.
Kurangnya pengetahuan masyarakat yang belum bisa berfikir kritis dan
rasional terhadap suatu peristiwa atau kenyataan menjadi salah satu penyebab
kesalahan dalam merawat bayi. Hal ini tentu budaya menjadi faktor dari
perkembangan motorik pada bayi yaitu pemberian bedong bayi tersebut. Selama
ini bedong sudah menjadi tradisi di masyarakat kita pada bayi yang baru lahir,
namun sampai saat ini manfaat bedong belum terbukti secara ilmiah. Selain
bedong bayi juga terdapat tradisi seperti memotong tali pusat, pemberian makan
bayi yang berbeda beda. Mitos mitos yang dijadikan budaya di dalam kehidupan
sehari hari dapat menimbulkan dampak negative dan berbahaya bagi

1
kelangsungan kondisi kesehatan bayi. Seperti halnya dampak bedong dapat
menyebabkan peredaran darah terganggu karena kerja jantung dalam memompa
darah menjadi lebih berat, sehingga bayi sering merasa sakit disekitar paru atau
jalan nafas. Akibat penekanan pada tubuh, bedong juga dapat menghambat
perkembangan motorik karena tangan dan kaki bayi tidak mendapat kesempatan
untuk bergerak bebas (Fahima, 2004). bedong Dampak tersebut membuktikan
bahwa adanya ketidakmampuan membedakan fakta dengan fiksi dalam bidang
lain pada kehidupan masyarakat.
Menghadapi kebudayaan pada masa bayi tersebut maka kita dapat
berusaha untuk menghilangkan mitos mitos dengan melakukan perencanaan
kesehatan yang salah satunya dengan penyuluhan agar dapat berfikir lagi dan
memperbaiki keadaan yang dapat erugikan kesehatan bayi atau balita tersebut.
Selain itu perlu mengetahui keadaan budaya di masyarakat, sehingga diharapkan
sebagai tenaga medis dapat menerapkan ilmu dengan baik dan mampu
mengkomunikasikan segala tindakan yang sesuai dengan kebudayaan mereka.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa pengertian dari Keperawatan Transkultural?
b. Apa saja paradigma dalam Keperawatan Transkultural?
c. Bagaimana tradisi bedong pada bayi?
d. Bagaimana tradisi memotong tali pusat pada bayi?
e. Bagaimana tradisi dalam pemberian makan bayi?
f. Bagaimana proses Keperawatan Transkultural?
g. Bagaimana aplikasi Keperawatan Transkultural?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui pengertian dari Keperawatan Transkultural
b. Mengetahui apa saja paradigma dalam Keperawatan Transkultural
c. Memahami proses Keperawatan Transkultural
d. Mengetahui tradisi bedong pada bayi
e. Mengetahui tradisi memotong tali pusat pada bayi
f. Mengetahui tradisi dalam pemberian makan bayi.

2
g. Memahami aplikasi Keperawatan Transkultural

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Keperawatan Transkultural


Keperawatan transkultural merupakan suatu area kajian ilmiah yang
berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya (nilai
budaya yang berbeda, ras yang mempengaruhi pada seorang perawat saat
melakukan asuhan keperawatan kepada klien / pasien (Leininger, 1991).
Keperawatan transkultural adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya
pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang
perbedaan dan kesamaan di antara budaya dengan menghargai asuhan, sehat
dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan,
dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya
budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002).
Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang
berfokus pada analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya
(Leininger, 1978). Keperawatan transkultural merupakan ilmu dan kiat yang
humanis, yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta proses
untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau perilaku sakit
secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya (Leininger, 1984).
Pelayanan keperawatan transkultural diberikan kepada klien sesuai dengan
latar belakang budayanya.
Leininger dalam Basford (2006) mendefinisikan transkultural di
keperawatan sebagai bidang kemanusiaan dan pengetahuan pada studi formal
dan praktik dalam keperawatan yang difokuskan pada perbedaan studi budaya
yang melihat adanya perbedaan yang dan kesamaan dalam perawatan,
kesehatan dan pola penyakit didasari atas nilai-nilai budaya, kepercayaan dan
praktik budaya yang berbeda di dunia, dan menggunakan pengetahuan untuk
memberikan pengaruh budaya yang spesifik dan/atau perawatan yang
universal pada masyarakat.

4
Leininger (2001) menjelaskan asumsi dan model keperawatan
transkultural bahwa kebudayaan atau kultural merupakan suatu hal yang
dipelajari dibagi dan dipindahkan. Aspek budaya meliputi nilai, norma dan
cara hidup yang membimbing mereka berpikir, memutuskan dan bertindak
sesuai dengan pola/cara yang dipilih (Leininger, 2001; Andrew & Boyle,
2003).
Tujuan keperawatan transkultural adalah mengubah nama-nama
professional dan praktik yang bersifat tradisional monokultural ke arah
multibudaya dan macam-macam bentuk yang holistic dan kemanusiaan dalam
perawatan kesehatan, sehingga perawatan diterima pasien sebagai hal yang
sama dengan nilai-nilai budaya pasien sendiri.

2.2 Konsep Keperawatan Transkultural


a. Kultur/Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok
yang dipelajari dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berpikir,
bertindak dan mengambil keputusan.
b. Nilai Budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih
diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu
tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
c. Perbedaan budaya Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan
merupakan bentuk yang optimal daei pemberian asuhan keperawatan,
mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang
dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai
budaya individu, kepercayaan dan tindakantermasuk kepekaan terhadap
lingkungan dari individu yang datang danindividu yang mungkin kembali
lagi (Leininger, 1985).
d. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap
bahwa budayanya adalah yang terbaik di antara budaya-budaya yang
dimiliki oleh orang lain.
e. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya
yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
f. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasal manusia

5
g. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi
pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan
kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan
dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan
saling memberikan timbal balik di antara keduanya.
h. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya
kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk
meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
i. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada
keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi
kehidupan manusia
j. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui
nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing,
mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok
untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup,
hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
k. Cultural imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan
untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain
karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada
kelompok lain.

2.3 Paradigma Keperawatan Transkultural


Paradigma keperawatan transkultural Leininger (1985) diartikan sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya
asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap
empat konsepsentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan
keperawatan (Andrewand Boyle, 1995).

a. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-
nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan

6
pilihan danmelakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia
memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap
saat di manapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).
b. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam
mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan
merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya
yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat
yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat
mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat
dalam rentang sehat sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995).
c. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang
mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien.
Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien
dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan
yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam
atau diciptakan oleh manusia seperti yang bermanfaat untuk
mempertahankan kehidupan. Misalnya: pemakaian obat-obatan untuk
kesehatan, membuat rumah sesuai iklim dan geografis lingkungan.
Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan
dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat
yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti
struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.

d. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada
praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar

7
belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan atau
memberdayakan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang
digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan atau
mempertahankan budaya, mengakomodasi atau negoasiasi budaya dan
mengubah atau mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
Cara I : Mempertahankan budaya. Mempertahankan budaya dilakukan
bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan
implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan
yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau
mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya menggunakan
obat-obat tradisionil berupa herbal.
Cara II : Negosiasi budaya. Intervensi dan implementasi keperawatan
pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap
budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu
klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil
mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti
dengan sumber protein hewani yang lain.
Cara III : Restrukturisasi budaya. Restrukturisasi budaya klien
dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan. Perawat
berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok
menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang
lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.

2.4 Proses Keperawatan Transkultural


Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam
menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam
bentuk matahari terbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1.

8
(Gambar 1. Sunrise Model oleh Leininger)

Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan


oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap
masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan
dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger
and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen
yang ada pada "Sunrise Model" yaitu :

a. Faktor teknologi (tecnological factors)


Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan.

9
Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau
mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan
klien memilih pengobatan alternative misalnya penggunaan herbal dan
persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk
mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat
realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat
kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas
kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat
adalah: agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap
penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap,
nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe
keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien
dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh
penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya
adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada
penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah : posisi
dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan,
kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi
sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan
diri.

e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan

10
lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini
adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung,
jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk
klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan
klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti
ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu
dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan
serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang
pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang
budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi
keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa
keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural
yaitu: gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.
3. Tahap Perencanaan dan Pelaksanaan.
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan transkultural adalah
suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah

11
suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah
melaksanakan tindakan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien
(Giger and Davidhizar, 1995).
Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural
(Andrew and Boyle, 1995) yaitu: mempertahankan budaya yang dimiliki
klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi
budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan
merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan
kesehatan.
a. Cultural care preservation/maintenance:
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak
bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi
keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah
dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan
status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang
proses melahirkan dan perawatan bayi;
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan
klien; dan
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat.
b. Cultural care accomodation/negotiation:
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan
untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentuyang lebih
menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih
dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan
kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang
berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani
yang lain.
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien;
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan; dan

12
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik.
c. Cultual care repartening/reconstruction:
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana
hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai
dengan keyakinan yang dianut.
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya;
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok;
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu;
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua; dan
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masingmasing
melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan
perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak
percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan
terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan
menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
4. Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap
keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau
beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan
budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
2.5 Aplikasi Keperawatan Transkultural pada Kelompok Bayi/Balita

13
2.5.1 Contoh Kasus Keperawatan Transkultural pada Kelompok
Bayi/Balita
a. Tradisi Bedong Bayi pada Masyarakat Indonesia
Budaya di masyarakat Indonesia yang masih berkembang sampai
saat ini adalah pemberian bedong pada bayi. Selama ini bedong sudah
menjadi tradisi di masyarakat kita, khususnya di Jawa. Bedong biasa
diberikan oleh masyarakat kita sejak bayi baru lahir, namun sampai saat
ini manfaat bedong belum terbukti secara ilmiah. Faktor adat istiadat ini
dianggap bahwa bayi yang dibedong kakinya tidak pengkor, padahal
hal ini adalah salah dan itu hayalah mitos yang terlanjur dipercaya oleh
banyak orangtua.
Sunarsih (2012) mendefinisikan bedong adalah pembungkus kain
yang diberikan pada bayi, sedangkan membedong (Swaddling) adalah
praktek membungkus bayi dengan kain. Membedong dapat membuat
bayi lebih tenang, hangat dan sedikit gerak. Biasanya bayi dibedong
dengan lama 6 minggu, setelah itu bedong tidak perlu supaya bayi dapat
bebas memainkan tangannya. Sampai saat ini manfaat bedong belum
terbukti bermanfaat secara ilmiah, justru dengan pemberian bedong
akan membatasi gerakan bayi, tangan dan kakinya tidak mendapatkan
banyak kesempatan untuk bergerak bebas sehingga akan dapat
menghambat perkembangan motoriknya (Novita, 2007).
Sejak usia 2 bulan otot-otot bayi mulai kuat untuk melakukan
aktivitas gerakan tubuh seperti kaki terekstensi, lengan fleksi,
menggenggam dan semakin lama akan mulai untuk menendang, meraih
dan mengangkat leher, dengan semakin lama bayi dibedong maka bayi
tidak akan bisa melakukan tugas-tugas perkembangan, hal ini akan
mengakibatkan perkembangan motorik tidak dicapai pada waktunya
atau bayi akan mengalami keterlambatan perkembangan motorik
(Kholifah, 2014).
Menurut Sunarsih (2014), faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan motorik diantaranya adalah faktor psikososial seperti
stimulasi dan adat istiadat seperti norma atau tabutabu (dibedong agar

14
kaki tidak pengkor). Ditinjau dari faktor psikososial, dengan adanya
bedong yang membungkus tubuh bayi maka orang tua tidak dapat
menstimulasi bayi untuk bergerak, hal ini akan dapat menghambat
perkembangan motoriknya.
Untuk mendapatkan tumbuh kembang bayi yang optimal bukanlah
hal yang mudah. Gangguan tumbuh kembang dapat terjadi akibat dari
kelainan pada satu atau lebih faktor diatas. Dampaknya bayi akan
mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya.
Penyimpangan ini dapat terjadi dari ringan sampai berat yang
diakibatkan salah satunya karena keterbatasan aktivitas atau mobilitas
(Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010).
Bayi harus selalu memberikan stimulasi gerak pada bayi agar bayi
dapat tumbuh dan berkembang optimal. Motorik bayi dapat dirangsang
dengan memberikan permainan, gambar-gambar yang berwarna agar
bayi dapat meraih dan memegangnya. Faktor adat istiadat seperti
anggapan bahwa bayi dibedong agar kaki tidak pengkor adalah salah
dan itu hayalah mitos yang terlanjur dipercaya oleh banyak orangtua.
Menurut Novita (2007), bedong bukan perangkat meluruskan kaki
tetapi hanyalah salah cara untuk menghindari bayi dari kedinginan.
Tanpa dibedong kaki bayi akan lurus jika sudah waktunya. Bayi baru
lahir memang tidak lurus, terlihat seperti bentuk O. Kondisi ini sangat
normal dan akan bertahan sampai usia 3 tahun. Selanjutnya antara 3
tahun sampai 6 tahun justru berbentuk X. Setelah 6–7 tahun kaki akan
menjadi lurus.
Hal ini diperkuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (2010) yang
menyatakan bahwa kaki bayi saat dalam kandungan tertekuk tetapi
setelah lahir akan menyesuaikan menjadi lurus seiring dengan
perkembangan pertumbuhannya, namun memang banyak juga terjadi
penyimpangan atau deviasi bentuk kaki tidak bisa lurus tetapi ada yang
agak X atau O tetapi itu bukan karena bayi tidak dibedong.

1) Tradisi Bedong Bayi di Boyolali

15
Desa Jemowo termasuk salah satu desa yang padat
penduduk di Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Desa ini
terdiri dari 5000 penduduk dengan 995 kepala keluarga. Sepuluh
persen dari jumlah pendududuk adalah usia bayi dan balita yaitu
sejumlah 500 jiwa. Hasil observasi peneliti hampir semua bayi di
desa ini dibedong. Hasil wawancara peneliti dilapangan dengan
beberapa ibu–ibu kader di Desa Jemowo menyatakan bahwa ada
beberapa alasan ibu memberikan bedong pada bayinya. Alasan
tersebut diantaranya adalah 1) Untuk memberikan kehangatan
sehingga bayi tidak mengalami hipotermi. 2) Agar bayi sedikit
gerak dan tidak rewel sehingga akan tertidur pulas. 3) Menurut
tradisi dan kepercayaan yang sudah ada sejak dulu bahwa dengan
dibedong dapat meluruskan tangan dan kaki sehingga kaki bayi
tidak menjadi pengkor atau berbentuk huruf O atau X.
Hasil wawancara dengan ibu–ibu kader juga menyatakan
bahwa bayi mulai dibedong sejak lahir hingga usia tertentu, setiap
bayi tidak sama tetapi kebanyakan ibu–ibu membedong bayi
dengan lama kurang lebih 3 bulan, yaitu hingga bayi usia 3 atau 4
bulan. Tiap hari bayi dibedong dengan pola, frekuensi dan durasi
yang berbeda–beda pada setiap bayi, namun biasanya bayi
dibedong menggunakan kain panjang dengan frekuensi 2-3x sehari
dan lama masing–masing 1 jam atau lebih perhari. Hal ini
disesuaikan dengan kebutuhan bayi dan keinginan ibu. Banyak para
ibu yang berusaha untuk meyakinkan ibu ibu lain membedong
bayinya karena dinilai banyak manfaatnya terutama terkait dengan
kehangatan dan kenyamanan pada bayi, sehingga jika tidak
dilaksanakan maka para ibu akan mencibir ibu yang tidak
membedong bayinya. Padahal jika dilihat dari sudut kesehatannya
terutama bedong di desa desa pemberiaan bedong sering dikaitkan
dengan pembentukan tangan dan kaki bayi. Menurut dokter
spesialis tulang menyatakan bahwa secara ilmiah pemberian
bedong tidak ada hubungannya dengan pembentukan kaki. Sejak

16
didalam kandungan, tidak ada ruangan cukup untuk bayi
meluruskan kaki. Bentuk kaki bayi pada saat dikandungan dalam
posisi tertekuk dan padasaat lahir, namun seiring dengan waktu
petumbuhan dan perkembangannya akan menyesuaikan menjadi
lurus (Mulyono, 2003).
Cara membedong bayi di daerah Boyolali seperti pada
umumnya, yaitu bayi akan dibungkus dengan kain panjang sampai
menutupi semua tubuhnya kecuali wajah bayi. Agar kain bedong
bayi tidak lepas, kain akan diikatkan pada bagian kaki bayi, hal
tersebut juga berfungsi untuk mengencangkan kaki bayi, yang
kepercayaan didaerah sana hal tersebut bertujuan agar kaki bayi
tidak mengalami pengkor.

Pemakaian bedong juga bisa menyebabkan peredaran darah


terganggu karena kerja jantung dalam memompa darah menjadi
lebih berat, sehingga bayi sering merasa sakit disekitar paru atau
jalan nafas. Akibat penekanan pada tubuh, bedong juga dapat
menghambat perkembangan motorik karena tangan dan kaki bayi
tidak mendapat kesempatan untuk bergerak bebas (Fahima, 2004).
Bedong bayi sudah menjadi tradisi yang turun-temurun di
daerah Boyolali, entah didalam suatu keluarga ataupun di tatanan
masyarakat. Mayoritas bagi ibu yang telah melahirkan, mereka
membedong bayi mereka atas saran keluarga. Apabila si ibu tidak

17
membedong bayinya maka besar kemungkinan akan terjadi konflik
didalam keluarga tersebut.

2) Tradisi Bedong Bayi pada Masyarakat Dayak


Seperti kebanyakan masyarakaat Indonesia pada umumnya.
Seusai bayi lahir biasanya bayi di ‘bedong’ atau dibungkus kain
dengan sedikit erat sehingga membuat bayi nyaman dan hangat.
Masyarakat Dayak memiliki kebiasaan menidurkan bayi dengan
“Bapukung”. Bapukung sendiri adalah menidurkan bayi di ayunan
kain seperti dibedong yang kemudian bayi ditidurkan didalamnya
kemudian di ikat dengan kain lain di luarnya. Sambil di ayun dan di
nyanyikan atau di bacakan shalawat atau syair-syair tentang
perjuangan berbahasa Dayak, atau cerita-cerita tentang fable,
dongeng atau dan sekedar dendang pengantar tidur.

Gambar 2.1 Cara bedong bayi pada masyarakat suku Dayak

18
Gambar 2.2 Cara bedong bayi untuk bayi yang usianya lebih besar

Bapukung adalah tradisi menidurkan bayi yang mana hampir


sama dengan bedong. Bapukung dilakukan oleh sebagian ibu-ibu
pada masyarakat Dayak yang tidak terlalu pandai dalam
membedong bayi. Bapukung ini dilakukan dengan cara hampir
sama dengan bedong, yaitu bayi dibungkus dengan kain panjang,
namun kain tersebut dikaitkan ke tiang penyangga sehingga seperti
ayunan. Pada bagian luar bayi dibungkus lagi dengan sehelai kain
pada bagian leher bayi untuk menambah kehangatan pada bayi.
3) Tradisi Bedong Bayi pada Masyarakat Betawi
Zaman dulu para orangtua selalu membedong atau
membedung anak-anak mereka menggunakan kain putih, selimut
bahkan kain panjang batik. Bedong pada bayi biasanya dilakukan
secara ketat. Proses ini merupakan tindakan tradisional yang sudah
dilakukan secara turun temurun dengan tujuan menjaga bayi agar
tetap dalam keadaan hangat dan nyaman. Sehingga bayi bisa tidur
dalam jangka waktu yang lama.

19
Gambar 2.3 Cara bedong bayi pada masyarakat Betawi

Masyarakat Betawi membedong anak-anak mereka


menggunakan kain batik. Bedong atau bedung merupakan proses
‘membuntal’ tubuh bayi di dalam kain batik yang melingkupi
kedua lengan sampai dengan kedua kaki. Masyarakat Betawi
percaya bahwa membedong akan membuat kaki anak mereka lurus
dan tidak bengkok. Sedangkan faktanya dalam dunia kesehatan
bedong bisa membuat peredaran darah bayi terganggu lantaran
kerja jantung memompa darah menjadi sangat berat. Akibatnya,
bayi sering sakit di sekitar paru-paru atau jalan napas. Bedong juga
bisa menghambat perkembangan motorik si bayi, karena tangan
dan kakinya tak mendapatkan banyak kesempatan untuk bergerak.

1. Fakta tentang bedong itu sendiri adalah adanya mitos bedong


dapat meluruskan kaki bayi. Ini adalah salah satu mitos yang
keliru. Pakar kesehatan telah melakukan penelitian
bahwa membedong tidak dapat meluruskan kaki bayi.
2. Bedong bayi dapat menyebabkan Displasia panggul.
3. Bedong bayi dapat menyebabkan infeksi pernapasan
4. Bedong bayi dapat mengganggu perkembangan saraf motorik

20
5. Bedong bayi dapat menyebabkan sindrom kematian mendadak
pada bayi (Sudden Death Infant Syndrome - SIDS).

Pada zaman dahulu di daerah Betawi, jika seseorang tidak


mengikuti budaya bedong bayi. Maka keluarganya tersebut akan
diasingkan oleh masyarakat sekitar. Hal itu terjadi karena budaya
bedong yang sudah melekat di masyarakat Betawi. Dan jika anak
yang tidak dibedong tersebut sudah dewasa maka akan diejek oleh
teman-temannya karena tidak mengikuti budaya yang berlaku.

b. Tradisi Memotong Tali Pusar Bayi pada Masyarakat Indoensia


1) Tradisi Memotong Tali Pusar dengan Sisik Bambu pada Masyarakat
Batak Toba
Menurut budaya Batak Toba mamoholi disebut manomu-nomu
yang maksudnya adalah menyambut kedatangan (kelahiran) bayi yang
dinanti-nantikan, di samping itu juga dikenal istilah lain utuk tradisi ini
yaitu mamboan aek ni unte (upacara adat membawa seorang bayi ke
sumber air sebagai pendahuluan untuk pemberian nama) yang secara
khusus digunakan bagi kunjungan dari keluarga hula-hula/tulang.
Kunjungan pihak hulahula/tulang untuk menyatakan sukacita dan rasa
syukur mereka atas kelahiran adalah sesuatu yang khusus. Untuk
menyambut dan menghormati kunjungan hulahula itu maka tuan rumah
pun mengundang seluruh keluarga sekampungnya untuk bersama-sama
menikmati makanan yang dibawa oleh rombongan hulahula itu. Setelah
makan bersama, anggota rombongan hulahula akan menyampaikan
kata-kata doa restu semoga si bayi yang baru lahir itu sehat-sehat, cepat
besar dan dikemudian hari juga diikuti oleh adik-adik lakilaki maupun
perempuan (Panjaitan, 2010).
Dukun beranak mengambil buah ubi rambat dan sisik bambu, lalu
mematok tali pusat bayi dengan sisik bambu yang tajam dengan
beralaskan buah ubi rambat dengan ukuran 3 jari dari bayi. Setelah bayi
lahir si dukun memecahkan kemiri dan mengunyahnya kemudian
memberikan kepada bayi dengan tujuan untuk membersihkan kotoran

21
yang dibawa bayi dari kandungan sekaligus membersihkan dalam
perjalanan pencernaan makanan yang pertama yang disebut tilan
(kotoran pertama). Dukun juga memberikan kalung yang berwarna
merah, putih, hitam bersama dengan soit (sebuah anyaman kalung).
Kalung ini mempunyai kegunaanagar jauh dari marabahaya. Apabila
bayi tersebut terus menerus menangis, maka dia dimandikan dengan
bahan yang memotong pusar tadi, yaitu kulit bambu, jeruk purut dan
ubi rambat.
Tradisi memotong tali pusar yang dilakukan dengan
menggunakan sisik bambu yang ada pada masyarakat Batak Toba
sangat bertentangan dengan dunia kesehatan. Hal tersebut sangat
berbahaya dan banyak risiko yang akan terjadi pada bayi apabila tradisi
tersebut tetap dilakukan. Fakta dalam dunia kesehatan, memotong tali
pusar yang tidak sesuai dengan prosedur terlebih lagi dengan
menggunakan sisik bambu yang tidak diketahui apakah sisik bambu
yang digunakan telah steril atau tidak dapat mengakibatkan bayi terkena
infeksi akibat dari pemotongan tali pusar yang tidak sesuai dengan
prosedur. Selain itu, bayi juga dapat berisiko terkena tetanus,
tetanus adalah kondisi kejang bersifat spasme (kaku otot) yang dimulai
pada rahang dan leher. Kondisi ini disebabkan oleh racun berbahaya
bakteri Clostridium tetani, yang masuk menyerang saraf tubuh melalui
luka kotor. Bakteri Clostridium ini dapat menyerang bayi melalui sisik
bambu yang kotor tersebut.
Sudah menjadi peran perawat sebagai tenaga kesehatan untuk
mengajak masyarakat mulai meninggalkan budaya atau tradisi yang
tidak baik bagi kesehatan. Namun, hal tersebut juga tidak mudah. Disini
tantangan terbesarnya adalah adanya rasa percaya yang sudah dianut
lama oleh masyarakatnya terkait dengan budaya tersebut dan adanya
perasaan takut oleh sebagian masyarakat bila ia tidak melakukan tradisi
atau budaya tersebut. Bagi masyarakat batak Toba bila ada masyarakat
yang tidak melakukan tradisi tersebut mereka akan menjadi
perbincangan negatif bagi masyarakat lainnya dan mereka juga akan

22
mengalami konflik dengan sesepuh atau orang tua mereka. Tidak hanya
itu, bila mereka tidak melakukan budaya pemotongan tali pusar dengan
sisik bambu tersebut, mereka takut akan terjadi sesuatu hal yang buruk
pada bayinya nanti.

Gambar 2.4 Tradisi potong tali pusar di Batak

2) Tradisi Ngobur Tamoni Tali Pusar Bayi pada Masyarakat Madura


Pada masyarakat Sumenep di Madura, khususnya di wilayah
Kelurahan Pajagalan dalam memberikan perlakuan khusus kepada tali
pusar dari bayi yang baru saja terlahir yang dinamakan ritual Ngobur
Tamoni. Tradisi ritual Ngobur Tamoni ini dilakukan oleh suami atau
ayah dari bayi yang dilahirkan dengan tujuan akhir yaitu mengubur tali
pusar. Bentuk prosesi ritual tradisional ini diawali dengan sang suami
memakai baju yang dianggapnya paling bagus. Saat prosesi ritual ini
sang suami, memilih memakai busana muslim dengan sarung dan
kopiah.
Menurutnya pemilihan busana demikian memiliki makna khusus.
Selanjutnya sang suami dirias sedemikian rupa dengan cukup banyak
menggunakan bahan riasan seperti bedak, pemerah bibir, dan celak.
Penggunaan daripada peralatan, perlengkapan, dan tahapan-tahapan
dalam prosesinya yang sarat akan makna simbolik tersebut merupakan
suatu cara dalam mengungkapkan emosi keagamaan; berusaha untuk

23
mencari hubungan dengan Tuhan dalam upaya untuk menyampaikan
pesan-pesan, mencari keselamatan, dan ketentraman.
Prosesi dari ritual Ngobur Tamoni ini juga diikuti oleh proses
memotong ari-ari atau tali pusar dari bayi tersebut. Pemotongannya pun
tidak sembarangan, jika dalam budaya masyarakat sumenep, maka
memotong tali pusar bayi yang baru lahir memiliki dua cara. Cara yang
pertama yaitu dengan menggunakan bellet. Bellet adalah kulit bambu
keles atau bambu pettung, bambu yang tidak memiliki duri. Pinggiran
dari bellet ini harus benar-benar tajam. Tetapi selain tajam juga harus
bersih. Maka dari itu sebelum digunakan atau setelah dibuat bellet
tersebut, maka harus dicuci hingga bersih terlebih dahulu.
Pemotongannya harus diawali dengan bacaan basmalah, yaitu
“bismillahhirrohman nirrohim” dengan suara yang dibuat sedikit
nyaring. Maksudnya adalah bahwa pemotongan tali pusar ini
merupakan awal dari prosesi selanjutnya, untuk mendapat keselamatan
dari Tuhan Yang Maha Esa maka doa harus diucapkan. Seluruh prosesi
awal ini dinamakan dengan ngetthok tontonan, memotong penghubung
antara bayi dengan tali pusar atau ari-ari.
Setelah selesai dengan pemotongan tali pusar bayi, maka masuk
ke prosesi selanjutnya yang dinamakan dengan katurtalangge sajere.
Prosesi kedua ini dimulai dengan pencucian dari tali pusar atau ari-ari
yang tadi telah dipotong. Pencucian tali pusar ini dengan menggunakan
air yang berasal dari mata air, dan kemudian menyiapkan polo’. Polo’
dalam bahasa Indonesia adalah kuali yang terbuat dari tanah liat.
Setelah polo’ disiapkan maka tali pusar tadi pun dimasukkan ke
dalamnya dengan terlebih dahulu tali pusar dibungkus dengan kain
berwarna putih. Setelah tali pusar dimasukkan dengan sebelumnya
dibungkus dengan kain berwarna putih maka setelah prosesi ini akan
masuk pada prosesi penguburan tali pusar bayi tersebut. Penguburan
tali pusar ini dalam adat Sumenep lebih diutamakan dilakukan oleh
ayahanda dari bayi yang baru saja terlahir. Sebelumnya, ayahanda dari
bayi tersebut diharuskan untuk mandi bersih dan berwudhu. Hal ini

24
dimaksudkan bahwa seseorang yang akan melakukan sesuatu yang
berhubungan dengan jasadnya, apalagi ini berhubungan langsung
dengan bayinya, maka ia harus bersih dan suci, karena akan berdoa dan
mengharap ridho dari Tuhan Yang Maha Esa.
Pemotongan tali pusar pada ritual Ngobur Tamoni menggunkan
bellet untuk memotong ari-ari atau tali pusar dari bayi tersebut.
Pinggiran dari bellet ini harus benar-benar tajam, tetapi selain tajam
juga harus bersi dengan dicuci hingga bersih terlebih dahulu. Faktanya
meskipun pinggiran bellet telah dibuat tajam, namun hal tersebut
terbilang tidak aman digunakan karena ketajamannya hingga berapa
tidak dapat diukur, serta bellet bukanlah benda yang steril meskipun
telah dicuci bersih, sehingga dapat memperbesar resiko terjadinya
infeksi tali pusar.

Dampak dari tidak dilakukannya tradisi Ngobur Tamoni tali


pusar bayi pada masyarakat Madura yaitu dapat menimbulkan konflik
dalam keluarga terutama menimbulkan konflik kepada orangtua atau
saudara yang lebih tua. Karena masyarakat ini tidak manganggap tali
pusar sebagai barang sampah, yang fungsinya kemudian tidak ada lagi
bersamaan dengan kelahiran bayi ke dunia. Namun ada anggapan
seperti tali pusar adalah saudara kembar bayi, penjaga bayi, dan lain
sebagainya. Hal ini yang kemudian memunculkan kebiasaan pada
masyarakat yang diwujudkan dalam sebuah perlakuan khusus untuk tali
pusar yang terbawa oleh bayinya ketika lahir.

3) Tradisi Pemotongan Tali Pusar Bayi pada Masyarakat Sunda


Suku Baduy Dalam yang menasbihkan sebagai asal muasal lahirnya
Suku Sunda merupakan salah satu pelaku tradisi yang kuat memegang
teguh tradisi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam persalinan.
Sebagai pelaku tradisi, masyarakat Baduy Dalam menerima dan
menjalaninya saja, karena dalam tradisi hanya ada kepatuhan terhadap
terhadap aturan yang mutlak atau pikukuh. Selama proses melahirkan,
suami atau laik-laki tabu untuk mendampingi. Peran sang calon ayah

25
berlaku sesaat setelah bayi lahir yaitu bertugas menjemput dukun paraji
untuk memotong tali ari-ari, memandikan ibu dan bayi. Selama ambu
paraji belum datang, ibu yang baru melahirkan hanya bisa menunggu
dengan kondisi duduk dan bayi masih dengan ari-ari yang belum
terputus seperti yang terdapat pada gambar 1.1. Segera setelah paraji
datang, ayah menyiapkan hinis yaitu bambu untuk memotong tali ari-ari
bayi, bambu yang dipergunakan diambil dari bambu yang berada dekat
pintu seperti yang terdapat pada gambar 1.2. Makna yang mereka
percayai bahwa bambu dekat pintu adalah bambu terbaik yang ada.

Gambar 1.1 Aktivitas Ibu Pasca Bersalin Menunggu Paraji


Sumber Gambar : Balutan Pikukuh Persalinan Baduy. Lembaga
Penerbitan Balitbangkes. 2014:165.

26
Gambar 1.2 Ayah Menyiapkan Hinis untuk Memotong Tali Ari-
ari. Sumber Gambar : Balutan Pikukuh Persalinan Baduy.
Lembaga Penerbitan Balitbangkes. 2014:165.

Selagi sang ayah menyiapkan hinis, ambu paraji menyiapkan tali


tereup, untuk mengikat tali ari-ari bayi ketika hendak dipotong seperti
yang terdapat pada gambar 1.3. Prosesi pemotongan tali ari-ari bayi
diawali dengan dukun paraji mengunyah panglai yang kemudian
disemburkan kekiri-kekanan-keatas dan ke arah baskom yang berisi air
yang nantinya digunakan untuk memandikan bayi. Mulut komat-kamit
membaca jampe-jampe atau mantra selama lebih kurang lima menit
dengan beberapa kali menyemburkan panglai yang dikunyah ke dalam air
untuk memandikan bayi. Selanjutnya ambu paraji menempatkan posisi
bayi di atas kakinya, kemudian tali ari-ari diikat menggunakan tali teureup
di bagian atas dan bawahnya. Pada bagian tali ari-ari yang hendak
dipotong, dipijit menggunakan lebu haneut yaitu abu dalam kondisi hangat
hasil proses pembakaran kayu bakar yang digunakan untuk memasak.
Sesaat sebelum tali ari-ari dipotong, ambu paraji kembali membancakan
jampe dan setelah itu barulah tali ari-ari dipotong menggunakan hinis
dengan koneng santen sebagai alas.

27
Gambar 1.3 Paraji Menyiapkan Tali Teureup
Sumber Gambar : Balutan Pikukuh Persalinan Baduy. Lembaga
Penerbitan Balitbangkes. 2014:166.

Pemotongan ari-ari bayi masih sangat sederhana dengan


menggunakan hinis atau sembilu yang berasal dari bambu yang berada di
atas pintu rumah. Hal tersebut merupakan bagian dari ritual adat, tentunya
secara medis penggunaan sembilu tanpa sterilisasi dapat menimbulkan
infeksi pada bayi yang yang baru dilahirkan.
Pikukuh (kepatuhan) atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy Dalam memiliki konsep “tanpa
perubahan apapun atau perubahan sesedikit mungkin”. Apabila ada
masyarakat Baduy Dalam yang melanggar salah satu pantangan maka akan
dikenai hukuman berupa diasingkan ke hulu atau dipenjara oleh pihak
polisi yang berwajib. Hukuman disesuaikan dengan kategori pelanggaran,
yang terdiri atas pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Hukuman
ringan biasanya dalam bentuk pemanggilan Si Pelanggar Aturan oleh
Pu’un untuk diberikan peringatan. Hukuman berat diperuntukkan bagi
mereka yang melakukan pelanggaran berat. Pelaku pelanggaran yang

28
mendapatkan hukuman ini dipanggil oleh Jaro setempat dan diberi
peringatan. Selain mendapat peringatan berat, Si Pelanggar Aturan juga
akan dimasukan ke dalam lembaga pemasyarakatan (LP) atau rumah
tahanan adat selama empat puluh hari. Selain itu, jika hampir bebas akan
ditanya kembali apakah dirinya masih mau berada di Baduy Dalam atau
akan keluar dan menjadi warga Baduy Luar di hadapan para Pu’un dan
Jaro.

4) Tradisi Pemotongan Tali Pusar pada Masyarakat Papua


Proses persalinan di daerah Papua masih sangat tradisional, proses
persalinan pun masih dibantu oleh dukun beranak yang telah
berpengalaman dalam melakukan persalinan, bahkan ada juga keluarga
yang lebih memilih persalinan dibantu oleh ibu kandung mertua maupun
tetangga sekitar, ada pula yang melahirkan seorang diri didalam kamar
mandi tanpa bantuan orang lain. Masyarakat Papua masih engan untuk
melakukan persalinan yang dibantu oleh bidan maupun tenaga kesehatan
yang ahli dalam persalinan. Alasan mereka lebih memilih melahirkan
dibantu oleh dukun beranak maupun keluarga karena mereka merasa takut
dimarahi oleh tenaga kesehatan ataupun para tenaga kesehatan tidak
memperlakukan bayi mereka dengan baik.
Pada Suku Kamoro proses persalinan dibantu oleh dukun setempat
yang telah dikenal dengan baik, pada saat setelah proses persalinan, setelah
ari – ari keluar, tali pusar dipotong dengansebuah silet baru yang sudah
disiapkan sebelumnya. Ada yang membiarkan tali pusar begitu saja tanpa
diikat, dan ada juga menutup ujung tali pusar dengan ubi yang baru
dibakar, abu panas, bedak talk dan daun – daunan yang dipanaskan.
Sedangkan untuk persalinan yang tidak terduga setelah ari – ari keluar tali
pusar dipotong dengan pisau yang mereka bawa atau dengan tangkai daun
sagu yang diikat degan tali akar – akar kayu. Cara ini tidak jauh berbeda
dengan ibu – ibu Suku Bgu di pantai Utara Papua, mereka memotong tali
pusar dengan pisau yang terbuat dari gaba – gaba (tangkai daun sagu).
Pada proses kelahiran biasanya tenaga medis yang menangani akan
sesegera mungkin memotong tali pusar bayi, namun hal ini dipercaya oleh

29
para profesional akan menyebabkan bayi kekurangan zat besi, padahal
bayi yang bru lahir sampi usia enam bulan sangat memerlukan zat besi
untuk perkembangan otak.

Di Daerah Papua masih banyak ibu melahirkan bayi yang dibantu


oleh dukun beranak yang mungkin tidak mengetahui hal demikian,
sehingga mereka hanya melakukan persalinan dengan peralatan yang
seadanya. Salah satunya yitu alat potong tali pusar dengan silet dan batang
pohon yang dirtajamkan, dengan hanya mengandalkan modal keterampilan
yang turun temurun diajarkan, para dukun memotong tali pusar bayi yang
baru lahir hanya dengan dikira – kira harus memotong seberapa panjang
tali pusar bayi. Hal ini dapat menyebabkan tali pusar bayi terpotong terlalu
pendek dan akaan mengakibatkan sulit untuk ditutup. Selain itu para
dukun juga tidak menggunnakan alkohol untuk mensterilkan silet yang
dipakai sehingga akan mengakibatkan infeksi jika tidak dijaga
kesterilannya, bahkan bisa membuat tali pusar bayi membusuk dan terkena
tetanus.

Pada Daerah Papua maih banyak ibu yang melahirkan dibantu oleh
dukun, hal ini dikarenakan pelayan kesehatan di Papua masih sangat
minim sehingga pemotongan tali pusar masih dilakukan dengan
menggunakan silet baru. Kepercayaan yang dianut oleh penduduk Papua
bahwa pemotongan tali pusar dengan silet lebih efektif dibandingkan
menggunakan benda tajam lainnya, jika pemotongan tali pusar tidak
dilakukan dengan silet yang baru maka akan berdampak buruk pada bayi
dan keluarga dimasa mendatang.

5) Pemotongan Tali Pusar Bayi pada Masyarakat Suku Banjar


Proses kelahiran pada suku Banjar dibantu oleh dukun beranak.
Setelah bayi lahir, tali pusatnya dipotong dengan sembilu (bilah bambu
yang dibuat sedemikian rupa sehingga tajam). Potongan tali pusat itu
kemudian ditaruh (dimasukkan) ke dalam kapit dan diberi sedikit garam.
Kemudian, ditutup dengan daun pisang yang telah diasap (dilembutkan).
Selanjutnya diikat dengan bamban, lalu ditanam di bawah pohon besar

30
atau di bawah bunga-bungaan atau dihanyutkan di sungai yang deras
airnya. Ini ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Banjar yang
menganggap bahwa jika tali pusat ditanam di bawah pohon yang besar,
kelak bayi yang bersangkutan (diharapkan) akan menjadi "orang besar".
Kemudian, jika di bawah bunga-bungaan maka kelak namanya akan
menjadi harum. Dan, jika dihanyutkan ke sungai, maka akan menjadi
pelaut. Selain itu, ada pula yang mengikatkan tembuni pada sebatang
pohon. Maksudnya adalah agar kelak (setelah dewasa) tidak merantau
(keluar kampung). Jadi, penanaman tembuni bergantung pada apa yang
diinginkan oleh orang tua terhadap bayinya dikemudian hari. Sebagai
catatan, tidak seluruh tali pusat yang diputus akan ditanam, dihanyutkan
atau diikat pada sebatang pohon besar, melainkan (sisanya) ada yang
disimpan baik-baik untuk dihimpun menjadi satu bersama tali pusat
saudara-saudaranya yang lain. Maksudnya adalah agar kelak (setelah
dewasa) tidak saling bertengkar. Dengan perkataan lain, agar sebagai
saudara selalu hidup rukun dan damai.
Pemotongan tali pusat pada bayi mempunyai resiko infeksi yang
sangat tinggi karena dapat menjadi pintu masuknya bakteri lostridium
tetani yang merupakan bakteri yang menyebabkan terjadinya penyakit
tetanus neonatorum yang ditularkan melalui tali pusat, karena pemotongan
dengan alat tidak suci hama, infeksi juga dapat terjadi melalui pemakaian
obat, bubuk, atau daun-daunan yang digunakan masyarakat dalam
merawat tali pusat, yang dimana tetanus ini merupakan salah satu faktor
terbanyak pada kematian bayi baru lahir di Indonesia.

Apabila seseorang melanggar sebuah adat tersebut di suku Banjar,


maka akan dikucilkan oleh masyarakat, yang berarti orang yang
melanggar adat akan diberikan sanksi pengucilan secara psikis misalnya
medapatkan celaan dan hinaan dari masyarakat lalu dijauhi oleh
masyarakat hingga membuatnya stres.

31
c. Tradisi Pupus Bayi pada Masyarakat Batak Toba
Masyarakat Batak Toba memiliki tradisi terkait dengan bayi yang baru
lahir. Salah satunya yaitu terkait dengan tradisi Pupus. Ritual pupus ini
dilaksanakan pada hari ke tujuh setelah bayi lahir, bayi tersebut dibawa ke
pancur (sungai) dimandikan dan dalam acara inilah sekaligus pembuatan
nama yang disebut dengan pesta martutu-aek yang dipimpin oleh pimpinan
agama yaitu ulu punguan. Setelah bayi dimandikan biasanya dipupus.
Pupus adalah mengunyah selembar daun sirih, sebuah kemiri, sebiji lada
putih, dan seiris jarango. Setelah dikunyah, ditempelkan ke ubun-ubun
bayi dan sebagian diolesi keseluruh tubuh bayi dengan tujuan untuk
memelihara tubuh bayi agar kuat dan tetap sehat, menjauhkan bayi dari
penyakit-penyakit demam dan angin-angin.

d. Pemakaian Gurita pada Bayi agar Tidak Kembung


Salah satu kebudayaan yang masih beredar di masyarakat yaitu,
pemakaian gurita pada bayi agar tidak kembung. Pemakaian gurita
dipercaya bahwa akan membuat perut bayi tidak kembung dan membuat
otot perut bayi akan kuat. Tetapi berdasarkan para ahli kesehatan,
pemakaian gurita pada bayi akan menghambat perkembangan organ-organ
perut, menekan perut bayi, dan membuat pernapasan terganggu. Menurut
penelitian, tidak ada bayi yang perutnya kembung walau tidak memakai
gurita. Secara alami, otot perut bayi akan menguat jika aktivitasnya sudah
mulai bertambah. Misalnya saja ketika si bayi mulai belajar merangkak
dan berjalan.

e. Pemberian Makanan pada Bayi


1) Pemberian Makanan Bayi pada Masyarakat Lombok
Pada suku Sasak di Lombok, ibu yang baru bersalin memberikan
nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya lebih dahulu) kepada
bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat. Mereka percaya bahwa
apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi.
Sementara pada masyarakat Kerinci di Sumatera Barat, pada usia
sebulan bayi sudah diberi bubur tepung, bubur nasi nasi, pisang dan

32
lain-lain. Ada pula kebiasaan memberi roti, pisang, nasi yang sudah
dilumatkan ataupun madu, teh manis kepada bayi baru lahir sebelum
ASI keluar.
Kebiasaan melumatkan makanan yang akan diberikan pada bayi
dengan cara mengunyahkan makanan dengan mulut ibu ternyata bisa
berakibat pada penularan penyakit. Para ibu atau pengasuh yang sedang
menderita masalah gusi berdarah dan sariawan juga menyebabkan
adanya darah yang terbawa pada makanan yang dikunyahkan terlebih
dahulu sehingga menjadi jalan penularan, apalagi jika si anak sedang
dalam fase tumbuh gigi atau ada luka di mulutnya. Sedangkan memberi
makan bayi sebelum 6 bulan merupakan hal yang riskan karena organ-
organ tubuhnya belum berkembang secara sempurna. Selain itu,
pemberian makan selain ASI sebelum 6 bulan ini memungkinkan tubuh
kontak langsung dengan faktor-faktor allergen secara dini. Hal ini
kurang baik karena dapat menimbulkan risiko peningkatan
pengembangan alergi terhadap tubuh anak.
Demikian pula halnya dengan pembuangan kolostrum (ASI yang
pertama kali keluar). Di beberapa masyarakat tradisional, kolostrum ini
dianggap sebagai susu yang sudah rusak dan tak baik diberikan pada
bayi karena warnanya yang kekuning-kuningan. Selain itu, ada yang
menganggap bahwa kolostrum dapat menyebabkan diare, muntah dan
masuk angin pada bayi. Padahal, kolostrum sangat berperan dalam
menambah daya kekebalan tubuh bayi (Kalangi, Nico S 1994: 17). Pada
masa selanjutnya yaitu anak usia 2-5 tahun, kebutuhan gizi anak tidak
lagi dipenuhi oleh ASI tapi mutlak diperoleh dari asupan makanan.
Oleh karena itu, anak usia di bawah lima tahun (balita) merupakan
kelompok yang rentan terhadap kesehatan dan gizi. Kurang Energi
Protein (KEP) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak
dijumpai pada balita di Indonesia.

2) Pemberian Makanan Bayi pada Masyarakat Arab Sunda di Purwakarta

33
Pemberian makan pada masyarakat Arab Sunda disesuaikan
dengan usia bayi. Bayi hingga berusia 6 bulan diberi air susu dari ibunya
saja. Pada usia di atas 6 bulan, bayi sudah diberi makanan tambahan
berupa buah-buahan, yang biasa diberikan adalah buah pisang. Pemberian
pisang kepada bayi terlebih dahulu dikerok menggunakan sendok kecil
kemudian didorong air bening yang diberikan setelah pisang ditelan oleh
bayi. Kelompok masyarakat di Jawa masih mempunyai kebiasaan
memberi makanan pisang yang dilumat dengan nasi untuk diberikan
kepada bayi usia dini (kurang 4 bulan). Menurut masyarakat jawa, bayi
yang tidak diberikan makanan akan rewel karena kelaparan. Selain buah-
buahan, diberikan pula kue biscuit agar bayi merasa kenyang karena ber-
tambah umur, ASI saja tidak cukup mengenyangkan. Ketika diberi makan,
sang bayi dibaringkan di atas kursi sofa atau digendong oleh ibunya
menggunakan kain jarik. Padahal sebenarnya bayi yang diberikan makan
sebelum usia 6 bulan mudah terkena penyakit saluran pencernaan.

3) Pemberian Makanan Bayi pada Masyarakat Madura


Bayi kelompok masyarakat madurayang masih belum berusia satu
hari, dalam kondisi dibedong, biasanya segera disuapi madu atau degan
(kelapa muda) agar tenggorokannya licin sehingga siap menerima
makanan apa pun serta untuk meningkatkan kecerdasan bayi. Walaupun
ketika proses kelahiran sudah diusahakan untuk melakukan Inisisasi
Menyusui Dini (IMD) dan bidan berpesan agar bayi mendapat ASI
Eksklusif, sesampainya di rumah tetap saja diberikan makanan selain
ASI.Hari-hari selanjutnya, bayi tidak hanya minum ASI, tetapi setiap pagi
dan sore disuapi pisang yang dicampur dengan nasi tim. Menurut
keterangan seorang ibu yang memiliki bayi, jika tidak diberi makanan
pendamping ASI, bayinya akan rewel, suka menangis karena lapar
sehingga mengganggu si ibu ketika bekerja di sawah maupun di dapur.
Ada dua cara untuk menyuapkan makanan, yaitu dengan menggunakan
sendok dan menggunakan cara tradisional. Cara tradisional, yaitu bayi
diikat di atas kaki penyuap yang berselonjor, kemudian disuapi dengan

34
tangan tanpamemedulikan bayi menangis meronta. Masyarakat
beranggapan bahwa cara ini dilakukan untuk membuat bayi kenyang,
bukan bermaksud untuk menyakiti bayi. Bayi dengan usia kurang dari satu
tahun, organ pencernaannyai masih belum matang, termasuk kadar asam
dalam usus yang masih begitu lemah sehingga belum cukup kuat dalam
menangkal efek dari racun botulinum yang ada pada madu.

2.5.2 Aplikasi Proses Keperawatan Transkultural pada Kelompok


Bayi/Balita
Dari beberapa kasus-kasus perbedaan budaya mengenai transkultural
pada kelompok bayi/balita yang paling melekat pada lingkungan
masyarakat dan bertahan hingga sekarang adalah kasus budaya bedong
bayi. Bedong bayi adalah cara membungkus bayi dengan selimut yang
bertujuan untuk memberikan kehangatan dan ketenangan kepada bayi.
Banyak sekali perdebatan mengenai bahaya dan manfaat bedong bayi.
Membedong bayi merupakan tradisi yang terjadi secara turun
temurun pada masyarakat di Asia. Bayi-bayi di Asia sejak lahir sudah
harus di bedong dengan menggunakan selimut, sewek dan semacamnya.
Bedong bayi berawal dari kebiasaan orang tua (generasi kakek nenek)
kemudian menurunlah kebiasaan tersebut kepada orang tua baru hingga
saat ini.
Alasan masyarakat menggunakan bedong bayi ini karena dipercayai
dapat menenangkan dan menghangatkan bayi, dapat membentuk tangan
dan kaki bayi, memberikan posisi yang nyaman saat menyusi, memberikan
manfaat untuk mengurangi resiko terjadinya SIDS atau kematian mendaak
pada bayi saat tidur. Tetapi dari manfaat-manfaat tersebut banyak sekali
yang berpendapat bahawa membedong bayi menyebabkan beberapa
bahaya seperti memperlambat perkembangan dan pertumbuhan bayi,
menyebabkan bayi sesak nafas, memnghambat perkembangan motoric
bayi, dislokasi tulang punggung dan menyebabkan demam pada bayi.
Banyak sekali pro-kontra mengenai membedong bayi antara tenaga
kesehatan dan juga masyarakat. Sulit mengubah tradisi masyarakat

35
mengenai bedong bayi diakibatkan bedong bayi memiliki nilai budaya
sendiri dari sejak jaman dahulu. Bedong bayi juga tidak hanya menjadi
kebiasaan masyarakt tetapi di puskesmas dan rumah sakit- rumah sakit
tertentu juga melakukan bedong bayi untuk bayi yang baru lahir. Hal
tersebut terjadi karena factor budaya dan tradisi yang sangat
mempengaruhi mindset masyarakat termasuk tenaga kerja rumah sakit.
Sehingga tradisi bedong bayi sudah melekat pada masyarakat di Indonesia
bahkan juga di semua golongan dan profesi. Jawa tengah merupakan salah
satu daerah di Indonesia yang masyarakatnya sangat mempercayai dan
menjadikan bedong bayi sebagai tradisi mereka disaat melahirkan. Berikut
merupakan asuhan keperawatan transcultural menurut Leininger untuk
mengubah, memodifikasi atau menghilang budaya pada masyarakat,
termasuk pada kasus bedong bayi di jawa tengah.

Proses asuhak keperawatan transkultural pada budaya bedong bayi di


Indonesia :
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mengidentifikasi masalah tradisi
yang salah mengenai bedong bayi sesuai dengan latar belakang
budaya masyarakat Indonesia. Pengkajian dirancang berdasarkan 7
komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu:
a. Faktor Teknologi (Tecnological Factors)
Persepsi masyarakat Jawa Tengah mengenai bedong bayi hanya
sebatas untuk meluruskan kaki, menghangatkan tubuh bayi dan
membuat bayi lebih tenang. Justru dengan pemberian bedong akan
membatasi gerakan bayi, tangan dan kakinya. Sehingga, bayi tidak
dapat bergerak bebas dan menghambat perkembangan motoriknya.
b. Faktor Agama dan Falsafah Hidup (Religious and Philosophical
Factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan
yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan
motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas
segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Pada kasus bedong

36
bayi di masyarakat Jawa Tengah tidak dipengaruhi oleh faktor
agama dan falsafah hidup.
c. Faktor Sosial dan Keterikatan Keluarga (Kinship and Social
Factors)
Faktor sosial dan keterikatan keluarga dalam kasus ini sangat
mempengaruhi karena tradisi bedong bayi ini dilakukan secara turun
temurun. Sehingga masyarakat di Jawa Tengah akan saling
mempengaruhi satu sama lain dengan pemakaian bedong tersebut
dan persepsi mereka mengenai manfaat bedong tanpa memikirkan
dampak dari bedong. Factor sosial dan keterikatan keluarga juga
akan mempengaruhi hubungan antar masyarakat dan keluarga
tersebut, dan akan berdampak pada hubungan sosialnya seperti
terjadinya konflik antar keluarga seperti antar anak dengan ibu,
mertua, dan budenya. Selain itu, akan berisiko dikucilkan oleh
masyarakat sekitar sehingga ibunya akan mengalami stress dan
dampak lainnya masih banyak lagi terhadap hubungan antar sosial
d. Nilai-Nilai Budaya dan Gaya Hidup (Cultural Value and Life
Ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan
ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk.
Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat
penerapan terbatas pada penganut budaya terkait.
Kasus bedong bayi merupakan salah satu mitos yang ada di
Jawa Tengah sejak jaman nenek moyang sehingga hal tersebut
menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat sendiri dan masyarakat
menganggap kebiasaan bedong tersebut memiliki nilai budaya
tersendiri yang harus di lakukan ketika bayi lahir. Padahal bedong
bukan perangkat untuk meluruskan kaki tetapi hanyalah salah satu
cara untuk menghindari bayi dari kedinginan. Tanpa, di bedong kaki
bayi akan lurus jika sudah waktunya.
e. Faktor Kebijakan dan Peraturan yang Berlaku (Political and Legal
Factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit ataupun puskesmas yang
berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu
dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995).

37
Pada kasus bedong di Jawa Tengah ini tidak ada peringatan atau
penyuluhan mengenai cara dan dampak membedong bayi dengan
baik dan benar. Sehingga masyarakat tidak mempunyai pengetahuan
mengenai cara membedong bayi dengan benar sehingga kebiasaan
tersebut berlanjut sampai sekarang.
f. Faktor Ekonomi (Economical Factors)
Faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi tradisi bedong bayi
terkait dengan bahan yang digunakan untuk membedong. Biasanya
masyarakat menggunakan sewek dalam membedong bayi sedangkan
bahan sewek memiliki tekstur yang tidak lembut dan tidak ramah
pada kulit bayi. Jika dilihat dari segi ekonomi masyarakat yang
menengah keatas dapat membeli
g. Faktor Pendidikan (Educational Factors)
Latar belakang pendidikan masyarakat sangat mempengaruhi
pengetahuan masyarakat mengenai bedong bayi. Karena semakin
rendah tingkat pendidikan masyarakat pengetahuannya juga akan
semakin kurang sehingga masyarakat kurang mengetahui bahaya dan
dampak bedong bayi dan melakukan bedong bayi tanpa rasional,
sehingga membuat masyarakat terus mempertahankan persepsinya
yang salah.

2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur.
1. Tahap Perencanaan dan Pelaksanaan
Dalam kebudayaan “Bedong Bayi” ini, pedoman keperawatan
transkultural yang tepat digunakan adalah mengakomodasi budaya klien
karena budaya klien kurang menguntungkan kesehatan. Pedoman ini
disebut juga dengan Cultural Care Accomodation atau Culture
Negotiation. Hal ini dilakukan karena kebudayaan ini merupakan suatu
kebiasaan yang dapat menghambat tumbuh kembang bayi, namun
kebiasaan ini juga merupakan salah satu kebudayaan turun-temurun
yang sulit dihapuskan dari tatanan masyarakat. Selain itu, negosiasi
dilakukan karena dampak atas budaya atau kebiasaan yang dilakukan
oleh masyarakat tidak terlalu membahayakan kesehatan bayi.

38
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan sesuai dengan teori
keperawatan transkultural Culture Negotiation adalah sebagai berikut :
a. Memahami dan mengidentifikasi polakebiasaan dan kebudayaan
masyarakat dalam melakukan “Bedong Bayi”.
b. Mengidentifikasi sejauh mana pengetahuan masyarakat mengenai
kebiasaan “Bedong Bayi” berdasarkan pandangan medis.
c. Membangun hubungan saling percaya antara klien atau masyarakat
dengan perawat.
d. Memberikan edukasi berorientasi kesehatan secara perlahan kepada
klien atau masyarakat mengenai bahaya melakukan kebiasaan
bedong kepada bayi, seperti melakukan konseling kepada ibu yang
baru melahirkan serta keluarganya, melakukan penyuluhan kepada
ibu-ibu hamil atau ibu yang baru melahirkan, dan lain sebagainya.
Bahasa yang digunakan pada saat konseling maupun penyuluhan
haruslah bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh
masyarakat. Edukasi juga dapat berisi kapan saja waktu yang baik
untuk membedong bayi dan berapa lama bedong bayi harus
dilakukan, normalnya bedong bayi dilakukan 2 jam setelah itu ibu
harus memeriksa apakah bayinya kepanasan atau tidak setiap 2 jam
bayi di bedong.
e. Melibatkan keluarga dalam pemberian edukasi kepada klien atau
masyarakat.
f. Melakukan negosiasi atau kesepakatan dengan masyarakat dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik.

g. Melakukan evaluasi dan monitor untuk memantau perubahan pola


kebiasaan atau kebudayaan pasien.

3. Evaluasi
a. Masyarakat menunjukkan kepatuhan kepada edukasi dan saran yang
diberikan oleh masyarakat.
b. Masyarakat mengurangi waktu pembedongan bayi.
c. Masyarakat dapat beradaptasi dengan budaya baru.

39
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Keperawatan transkultural adalah suatu area/wilayah keilmuwan
budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang
perbedaan dan kesamaan di antara budaya dengan menghargai asuhan, sehat
dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan,
dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya
budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Model
konseptua yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan
keperawatan pada konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit
(Sunrise Model).
Berpikir kritis dalam transkultural keperawatan merupakan suatu
kegiatan penyelidikan, pemecahan masalah, proses berpikir, yang mana
terdapat tujuan yang jelas, abstrak, sesuai dengan teori, realistis, dapat
diyakini, dan semuanya ini berhubungan langsung dengan kebudayaan-
kebudayaan masyarakat seperti menghargai kebudayaan mereka, melakukan
tindakan keperawatan yang tepat sesuai dengan teori dan kepercayaan serta
nilai budaya dan tentunya tidak melenceng dari dunia keperawatan,
bagaimana perawat profesional dapat memecahkan suatu masalah dalam
persoalan keperawatan terhadap klien-klien yang berbeda budaya, kemudian
bagaimana perawat dapat beradaptasi dengan baik terhadap klien agar dalam
pelayanan keperawatan maupun kesehatan tidak terjadi ketidaknyamanan dari
diri klien maupun perawat.

3.2 Saran
Perawat diharapkan memahami betapa pentingnya peran budaya
dalam keperawatan, karena perawat dituntut untuk bisa melayani kebutuhan
klien sesuai dengan ajaran ajaran budaya yang ada pada klien. Kami sebagai
penulis makalah ini menyatakan siapapun yang membaca makalah ini dapat

40
memahami pengertian dan memahami model dan konsep dari Teori
Transkultural Nursing Leininger dalam elakukan asuhan keperawatan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menciptakan pemilihan
kepemimpinan yang baik, dan semoga makalah ini memberikan dorongan,
semangat, bahkan pemikiran para pembaca, serta makalah ini dapat menjadi
pedoman kaidah yang baik.

41
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, A. Z. (2013). Makna Simbolik Ritual Ngobur Tamoni (Studi Etnografi


Ritual Ngobur Tamoni Di Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep,
Kabupaten Sumenep). Skripsi Thesi, Universitas Ailangga.
http://repository.unair.ac.id/16330/
Angkasawati, Trijuni dkk. 2013. Simpang Jalan Pelayanan Kesehatan Ibu dan
Anak. Yogyakarta : Kanisus.
Andrew. M & Boyle. J.S, (1995), Transcultural Concepts in Nursing Care, 2nd
Ed,Philadelphia, JB Lippincot Company
Atik Hodikoh, Setyowati. (2015). Kemampuan Merawat Pada Ibu Pascaseksio
Sesarea Dan Hubungannya Dengan Nilai Budaya . Jurnal Ners, Vol. 10, No.
2, hal. 348–354.
Ferry Efendi, Makhfudli. (2009). Keperawatn Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Giger. J.J & Davidhizar. R.E, (1995), Transcultural Nursing : Assessment
andIntervention, 2nd Ed, Missouri , Mosby Year Book Inc
Khasanah, I. (2008). Pengaruh Lama Pemberian Bedong Terhadap Perkembangan
Motorik Pada Bayi Usia 4 Buan Di Desa Jemowo Kecamatan Musuk
Kabupaten Boyolali (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surakarta). http://eprints.ums.ac.id/896/1/J210040051.pdf
Khasanah, Nur. 2011. Dampak Persepsi Budaya terhadap Kesehatan Reproduksi
Ibu dan Anak di Indonesia. Banyumas : Muwazah. Vo.3,No.2 : 487-492. e-
journal.iainpekalongan.ac.idLarasati, K. (2017). Cara Asyik Mengurus Bayi.
Genesis Learning. Di akses pada 6 November 2017 pukul 20.05 WIB
melalui https://books.google.co.id/books?
hl=id&lr=&id=wLpbDgAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA7&dq=pemakaian+gerita
+agar+bayi+tidak+kembung&ots=r3NuQGuYjV&sig=zzg0_S10IxVwsg3e
8hVck9ZJ-hk&redir_esc=y#v=onepage&q=pemakaian%20gurita&f=false
Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,
Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw HillCompanies

42
Nisfiyanti,Yanti. 2009. Pola Pengasuhan Anak pada Masyarakat Arab Sunda di
Kabupaten Purwakarta. Jurnal Patanjala.Vol 1, No 3.
Ns. Alfi Ari Fakhrur Rizal, M. (2017). Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang
Transcultural Nursing Dengan Sikap Perawat Dalam Memberikan Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Yang Berbeda Budaya Di RSUD I.A Moeis
Samarinda. Jurnal Ilmiah Sehat Bebaya , Vol. 1, No. 2, Hal. 102-109.
Sari, R. N. (2012). Pengalaman Keluarga Dalam Pengambilan Keputusan
Kesehatan Yang Berhubungan Dengan Perspektif Keperawatan
Transkultural Pada Pasien Yang Dirawat Di Rs Pku Muhammadiyah
Surakarta . Naskah Publikasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta .
Solikhah, Siti and Suminar, Saka. Pengaruh Pemberian Bedong Terhadap
Perkembangan Motorik Bayi Usia 3 Bulan. Unnes Journal of Public Health,
6(3), 203-208. Sumartiningsih, Maria Susila. Cristian Worldview dalam
Perspektif Pendekatan Transkultural.
Taylor, Carol, Carol Lillis & Priscilla LeMone. 1997. Fundamentals of Nursing.
Philadelphia: Lippincott.

Khasanah, I. (2008). Pengaruh Lama Pemberian Bedong Terhadap


Perkembangan Motorik Pada Bayi Usia 4 Buan Di Desa Jemowo
Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Surakarta).
http://eprints.ums.ac.id/896/1/J210040051.pdf
Ipa, M., Prasetyo, D. A., & Kasnodihardjo, K. (2016). Praktik Budaya Perawatan
dalam Kehamilan Persalinan dan Nifas pada Etnik Baduy Dalam. Jurnal
Kesehatan Reproduksi, 7(1), 25-36

Ipa, Mara. (2014). Balutan Pikukuh Persalinan Baduy. Surabaya : Lembaga


Penerbitan Balitbangkes.

43