Anda di halaman 1dari 8

Kejeniusan Rasulullah SAW Menata Politik Negara

Tulisan ini bukan jawaban dari pertanyaan sebagian kalangan yang mengatakan: “Apakah Rasulullah Saw
seorang politik ulung? Apakah kota Madinah terhitung negara Islam pertama yang memiliki kedaulatan
dilihat dari keberhasilan manuver-manuver politik Rasulullah Saw dalam menata pemerintahan?” Ia hadir
bukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yang demikian itu karena kejeniusan Rasulullah Saw dalam
memerankan politik Negara Islam telah terbukti dan diamini kebenarannya oleh para ahli tahkik dan
pemerhati politik dunia Islam. Di samping itu, kepemimpinannya tidak dapat diukur atau dibandingkan
dengan kepemimpinan siapa pun dari mereka yang ditakdirkan jadi pemimpin, corak dan naskah
kepemimpinan tunggal yang hanya sekali terjadi dan tidak akan pernah terulang. Yang demikian itu
karena kepemimpinannya selalu terkait dengan masalah keimanan. Rasulullah Saw tidak melakukan
manuver-manuver politik, jihad, perjanjian damai, kecuali dengan dasar iman yang menjadi penggerak
utama perbuatannya, iman yang menjadi tema sentral dari ajaran yang diembannya. Olehnya itu, ia
senantiasa dimonitoring oleh wahyu samawi dalam menjalankan kepemimpinannya.

Abbas Aqqad berkata:

“Hakikat yang dilihat oleh mereka yang jernih menghukumi setiap masalah, muslim atau non-muslim,
sesungguhnya invasi Muhammad invasi keimanan dan kekuatan Muhammad kekuatan iman. Tidak ada
tanda yang paling mendasar dari setiap usahanya kecuali tanda ini, dan tidak ada alasan lain dari semua
itu selain alasan ini. Dia tidak goyah dalam menanamkan nilai-nilai keimanan yang mengesakan Allah
meski godaan-godaan duniawi datang menghampirinya, fitnah duniawi yang tidak akan pernah ditemukan
di mana pun dan kepada siapa pun kecuali Rasulullah Saw.

Beliau didatangi Atabah bin Rabiah, pemuka kaum Quraisy, di hari-hari pertama dakwah Islam menyinari
sudut-sudut kota Mekah. Atabah dengan lembut dan penuh kesopanan menggoda Rasulullah Saw dengan
godaan-godaan duniawi supaya ia meninggalkan tugas sucinya setelah mereka putus asa
mengintimidasinya: “Wahai putra saudaraku, Anda itu dari kami, Anda yang paling terbaik dari kami
dilihat dari nasab dan strata sosial. Tetapi, Anda mendatangi kaum Anda sendiri dengan perkara besar
yang telah memecah jamaah mereka, bukan hanya itu, Anda pun memudarkan mimpi-mimpi mereka,
memandang hina tuhan-tuhan dan agama mereka, mengkafirkan nenek moyang mereka. Wahai putra
saudaraku, dengarkanlah aku! Saya memberikan Anda beberapa pilihan, semoga Anda menerima salah
satunya.” Rasulullah Saw menjawab: “Katakanlah wahai Abu al-Walid!” Jawabnya: Wahai putra
saudaraku! Jika engkau menginginkan harta dari perkara (Islam) yang engkau datangkan, kami siap
mengumpulkan untukmu dari harta-harta kami sehingga Anda yang terkaya, dan jika Anda ingin
kemuliaan, kami pun siap menobatkan Anda tuan terhadap kami sehingga kami tidak memutuskan sebuah
perkara kecuali denganmu, dan jika Anda ingin kekuasaan, kami juga siap mengukuhkanmu sebagai raja
kami, dan jika yang mendatangimu itu pengaruh jin yang sulit ditepis, kami akan mencari obatnya dan
menafkahkan harta kami demi kesembuhanmu.” Rasulullah Saw menjawab: “Apakah ucapan Anda
selesai wahai Abu al-Walid? Jawabnya: “Ya.” Rasulullah Saw pun membacakan kepadanya Q.S Fussilat
[41]: 2-4, jawaban kuat tidak terbantah bahwa mustahil baginya meninggalkan misi kenabian suci ini
hanya dengan fitnah duniawi yang murah.”([1])

Selanjutnya, Anda diajak melihat hakikat lain, arti kedaulatan negara. Baik Allah SWT atau pun hamba-
Nya punya hak dari negara yang berdaulat. Umat ingin jiwa, agama, harta, kehormatan, dan kreasi-kreasi
daya pikir mereka terlindungi. Tentunya, hak-hak tersebut mustahil tercapai tanpa berdirinya negara yang
punya kedaulatan. Di lain sisi, umat yang negaranya tidak memiliki kedaulatan senantiasa dirongrong
ketakutan dan dihantui kemusnahan. Jika mereka takut dan musnah, wajah dunia murung ditinggal pergi
syiar-syiar agama dengan perginya hamba-hamba abid yang musnah tidak terlindungi oleh kekuatan
negara yang berdaulat. Kebutuhan mereka terhadapnya di atas segala kebutuhan fisik, kebutuhan yang
telah menjadi hak umum setiap orang. Olehnya itu, tegaknya kedaulatan negara kewajiban bersama demi
tercapainya hak-hak Allah SWT dan umat.

Prof. Dr. Muhammad Imarah berkata:

“Bukanlah hal berlebihan jika kita melihat negara khilafah yang kedaulatannya dijaga oleh para sahabat
dari ancaman orang-orang murtad dan memposisikannya sebagai perangkat utama dari tegaknya syiar-
syiar Islam, tujuannya jauh lebih tinggi dari sekadar menegakkan kewajiban zakat yang diingkari mereka
yang murtad. Olehnya itu, negara -dilihat dari sisi ini- telah berperan aktif menyebarkan Islam di luar
semenanjung Arab dengan kembali mengobarkan panji Islam memerangi kemurtadan orang-orang Arab.

Seandainya saja negara khilafah ini tidak ada, Islam senantiasa terancam bahaya yang setiap saat siap
menerkam. Tanpanya, Islam mungkin sebatas nama saja yang dikenang sejarah, seperti agama-agama
lain, atau sekadar agama yang dianut sebagian kecil umat manusia. Sesungguhnya negara ini telah
menjadi alat bantu utama dalam mewujudkan janji Allah menjaga Al-Quran dari tangan-tangan kotor
yang ingin mencoreng kesuciannya sebagai kitab suci umat Islam seperti yang difirmankan Q.S. Al-Hijr
[15]: 9:

)‫(لَ َحافِظونَُ لَهُ َو ِإنَّا ال ِ ِّذ ْك َُر ن ََّز ْلنَا نَحْ نُ ِإنَّا‬.”([2])

Hakikat lain yang sepatutnya Anda ketahui juga sebelum Anda diajak mengenal sebagian dari
keberhasilan politik Rasulullah Saw, hakikat Sunnah yang telah menjadi pegangan utama politik Islam.
Hakikat yang mengajak Anda untuk peka mengkategorikan segala perilaku Rasulullah Saw dan
menempatkannya di icon yang tepat dan benar. Apakah Nabi saw berperilaku sebagai seorang rasul yang
bertugas menyampaikan wahyu, atau selaku mufti (pemberi fatwa), atau sebagai hakim yang
menyelesaikan apa yang dipersengketakan manusia, atau ia diposisikan sebagai pemimpin negara yang
sedang menangani urusan-urusan politik?

Salah melihat denah Sunnah hijab tersendiri terhadap makna-makna yang mungkin saja dapat teraba dan
terbaca jika seandainya ia terlihat dengan kaca mata pendekatan yang benar. Namun, tidak berarti bahwa
jika Anda mengabaikan ini Anda tidak punya kesempatan memahami dan menuai petunjuk hidup Sunnah.
Yang demikian itu karena dari sudut mana pun Anda melihatnya, Anda akan mendapatkan percikan
cahaya kesuciannya, seperti Al-Quran yang makna-maknanya senantiasa mengalir tidak henti-hentinya
mengisi kekosongan jiwa dan menyejukkan kalbu para pemerhati dan perindunya sesuai tingkat kesiapan
masing-masing. Dari sudut pandang apa pun Anda mendekatinya, Anda tidak akan dibiarkan pulang
dengan tangan kosong, jika bukan mutiara makna-maknanya, maka keagungan dan kebersahajaan ayat-
ayatnya sebagai kalam ilahi yang terjaga sepanjang zaman dari kejahilan mereka yang tidak bertanggung
jawab. Seperti Al-Quran punya kunci-kunci ma’nawi dalam memeras sari pati maknanya, Sunnah pun
seperti itu, dan apa yang dikenalkan kepada Anda di atas terhitung salah satu kunci utama dalam
memberikan pendekatan makna. Inilah yang diyakini penulis kebenarannya.

Olehnya itu, kadang kita menjumpai sahabat menanyakan Rasulullah Saw dari sebagian perilakunya:
“Apakah ini wahyu samawi yang tidak mengenal tawar-menawar, ataukah ini ijtihad Anda wahai
Rasulullah Saw?” Seperti yang dilontarkan Hubab bin al-Mundzir yang menyarankan Rasulullah Saw
menyusun strategi perang di bawah sumur yang ada di bukit Badr. ([3])

Pendekatan seperti ini dapat dijumpai di tulisan para ulama, di antaranya Imam Qarafi (w 684 H/1285 M).
Di sini beliau melihat bahwa kelompok pertama dan kedua –perilaku Nabi Saw dalam keadaan ia
diposisikan selaku rasul (penyampai wahyu) dan mufti (pemberi fatwa)-, keduanya bagian dari agama
yang disyariatkan. Sementara itu, kelompok ketiga dan keempat –perilakunya dalam keadaan ia
ditempatkan sebagai hakim dan imam (pemimpin negara), keduanya bukanlah bagian mendasar agama
yang absolut pelaksanaannya, seperti shalat dan puasa. Tetapi, keduanya merupakan ijtihad yang
memperhatikan objek ijtihad yang kondisional, yang tidak lepas dari pengaruh waktu dan situasi yang
senantiasa berubah. Di sini, Rasulullah Saw sebagai Imam (pemimpin negara) punya peran yang cukup
luas, berperan sebagai hakim dan mufti. Olehnya itu, ia berhak melakukan sesuatu dengan
mengatasnamakan dirinya hakim dan imam, seperti: menata strategi perang dan menyiapkan bala tentara,
membagi hasil perang (ganimah), menyepakati dan menandatangani perjanjian damai, mengatur
keuangan negara, menata perangkat-perangkat negara dengan memberi jabatan tertentu kepada yang
layak menyandangnya dari sebagian sahabat, seperti: panglima perang, wali (gubernur di bahasa penulis),
hakim, dan buruh kerja.([4])

Setelah imam Qarafi, Anda dapat menjumpai Waliyullah ad-Dahlawi yang pernyataannya tidak jauh beda
dengan di atas. Dia menulis bagan Sunnah dan memecahkannya ke dalam dua anak panah:

Anak panah pertama: Apa yang datang dari wahyu yang wajib disampaikan Rasulullah Saw. Di bagian ini
termasuk ilmu-ilmu akhirat, keajaiban-keajaiban alam gaib, tata cara pelaksanaan ibadah dan hukum-
hukumnya. Sebagian ilmu-ilmu ini datang dari wahyu dan sebagian lainnya datang dari pemahaman
Rasulullah Saw terhadap tujuan-tujuan penetapan syariat (Maqashid Syariah) yang diposisikan juga
bagian dari wahyu.

Ini telah digarisbawahi Q.S. Al-Hasyr [59]: 7

ُ‫تَعَالَى قَا َل‬: )‫الرسولُ آت َاكمُ َو َما‬ َ ‫َللا َواتَّقوا فَا ْنت َهوا‬
َّ ُ‫ع ْنهُ نَ َهاك ُْم َو َما فَخذوه‬ َُّ ِ‫َللا إ‬
ََُّ ‫ن‬ ََُّ ُ‫شدِيد‬ ْ
ُِ ‫(ال ِعقَا‬.
َ ‫ب‬

Anak panah kedua: Apa yang di luar dari kategori wahyu yang wajib disampaikan, seperti pendapat dan
ijtihad Rasulullah Saw di masalah tertentu yang telah digarisbawahi sabdanya berikut ini:

َ ‫سلَ َم ُةَ أ ُِِّم‬


ُ‫ع ْن‬ َ ِ‫ج‬
ُ ‫ى زَ ْو‬ َُّ َ ‫ل أ‬
ُِِّ ‫ النَّ ِب‬e ‫ن‬ َ َ‫صمُ َجلَ َب ُة‬
َُِّ e ‫سمِ َُع‬
َُ ‫َللا َرسو‬ ْ ‫ب َخ‬ ُِ ‫ج حجْ َر ِت ُِه ِب َبا‬ َُ ‫فَقَا‬: (‫ َبشَرُ أَنَا ِإنَّ َما‬، ُ‫صمُ َيأْتِينِى َو ِإنَّه‬
َُ ‫ل ِإلَ ْي ِه ُْم فَخ ََر‬ ْ ‫ال َخ‬، ْ ‫ل‬ َُّ ‫ضه ُْم فَلَ َع‬
َ ‫َب ْع‬
َ‫ن‬ َ
ُْ ‫ن أ ْبل َُغ يَكونَُ أ‬َ َ َ
ُْ ِ‫صادِقُ أنَّهُ فَأحْ سِبُ بَ ْعضُ م‬ َ ‫ضى‬ ْ َ َ
ِ ‫لهُ فَأق‬، ‫ن‬ُْ ‫ضيْتُ فَ َم‬ َ
َ َ‫ق لهُ ق‬ُِ ِّ ‫ِى فَإِنَّ َما م ْسلِمُ بِ َح‬ ْ
َُ ‫ار مِ نَُ قِطعَةُ ه‬ ْ ْ َ َ
ُِ َّ‫)يَذ ْرهَا أ ُْو فَليَحْ مِ ل َها الن‬. ([5])

Dan sabdanya di kisah pohon kurma yang pengawinan dan pembuahannya sepenuhnya dikembalikan
kepada alam dan hukumnya tanpa ada campur tangan manusia:

‫ل َخدِيجُ بْنُ َرافِعُ َح َّدثَنِى‬ َُ ‫قَا‬: ‫َللا نَ ِبىُ قَد َُِم‬ ْ ‫ل يَأْبرونَُ َوه ُْم‬
َُِّ e َ‫ال َمدِينَ ُة‬، َُ ‫النَّ ْخ‬، َُ‫ل يلَ ِِّقحونَُ يَقولون‬ َُ ‫النَّ ْخ‬، ‫ل‬ َُ ‫فَقَا‬: «‫صنَعونَُ َما‬ ْ َ ‫»ت‬. ‫قَالوا‬: ‫صنَعهُ كنَّا‬ ْ َ‫ن‬،
‫ل‬ َ َّ َ َ َ ْ َ
َُ ‫قا‬: «ُ‫» َخي ًْرا كَانَُ تفعَلوا ل ُْم ل ُْو لعَلك ْم‬. ُ‫ضتُْ فت ََركوه‬ َ َ َ َ
َ ‫صتُْ أ ُْو فنَف‬ َ َ
َ ‫فنَق‬،([6]) ‫ل‬ َ َ َ َ
َُ ‫قا‬: ‫لهُ ذلِكَُ فذكَروا‬، ‫ل‬ َ َ َ َّ َ َ َ
َُ ‫فقا‬:«‫بَشَرُ أنَا إِن َما‬، ‫ش ْىءُ أ َم ْرتك ُْم إِذا‬ ُْ ِ‫م‬
َ ِ‫ن ب‬
َ
‫بِ ُِه فَخذوا دِينِك ُْم‬، ‫ش ْىءُ أ َم ْرتك ُْم َوإِذَُا‬َ ِ‫ن ب‬ ْ َ
ُْ ِ‫»بَشَرُ أنَا فَإِنَّ َما َرأىُ م‬.([7])

Yang termasuk juga dalam kategori bidikan anak panah kedua ini ilmu-ilmu dunia, seperti:
kedokteran, pertanian, kerajinan tangan, dan semua yang bertumpu pada keahlian dan percobaan, serta
segala hal yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan politik pemimpin negara di peperangan dan
pembagian hasil perang (ganimah), demikian pula dengan masalah-masalah pengadilan. ([8])

Di samping itu, ada hakikat lain yang tidak kalah pentingnya dengan apa yang telah mengorek
perhatian Anda, sekularisme yang menguliti agama dari perannya, mengenyampingkan ajaran-ajaran
agama dalam menahkodai kehidupan duniawi, sekularisme yang memetakan peran agama dan membatasi
gerak langkah dan jangkauannya. Agama yang diinginkan mereka agama yang hanya mementingkan
kehidupan ukhrawi semata, agama yang hanya diperdengarkan di tempat-tempat ibadah saja, yang mereka
inginkan apa yang digemakan dengan begitu kuatnya oleh para pengikut sejati mereka: “Bagi kaisar
urusan duniawi, dan bagi gereja urusan ukhrawi, jangan pernah mencampuradukkan kedua tatanan
kehidupan ini!”

Mereka terpukul oleh apa yang menghantui mereka dari penindasan gereja yang
mengatasnamakan agama di zaman kegelapan. Mereka seperti baru saja tersadar dari mimpi buruk
pengadilan-pengadilan gereja yang tidak mengenal belas kasih bagi mereka yang menyalahi keyakinan
dan kehendak gereja yang memberikan dirinya hak mutlak menilai, menentukan, dan menjatuhkan hukum
kepada siapa saja yang dianggapnya menentang ajaran gereja. Zaman pengekangan yang membelenggu
daya kreasi pikir yang tidak berdaya melahirkan teori-teori ilmiah dan filsafat yang dapat mendongkrak
kemajuan peradaban Eropa.

Yang terimbas dari aliran pemikiran yang sakit dan menyakitkan seperti di atas, matanya seperti
dimasuki debu yang menghalanginya melihat dengan begitu jelas keberhasilan Rasulullah Saw sebagai
kepala negara dalam menahkodai tata negara Islam di Madinah.

Yang menjadi pertanyaan: “Apa yang menyebabkan peradaban Barat maju di era sekularisme
yang begitu kuatnya menancapkan gigi-gigi taringnya di seluruh sendi kehidupan mereka? Apakah umat
Islam sepatutnya menanggalkan pakaian agama mereka dalam kehidupan dunia seperti umat Eropa dan
Amerika yang meraih kemajuan duniawi yang jauh dari campur tangan agama?

Tentu tidak, yang diyakini bersama, kejayaan umat Islam dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan
Hadits. Semakin jauh kita melangkahkan kaki dari kedua sumber hidup ini, semakin jauh kita tertinggal di
gerbong paling belakang kereta peradaban. Sementara itu, kemajuan umat-umat Barat dengan mengamini
apa yang diejakan sekularisme mereka. Semakin kuat pegangan mereka terhadapnya, semakin dekat bagi
mereka keberhasilan dan kejayaan duniawi. Tetapi, mereka lupa bahwa pohon kejayaan mereka itu rapuh,
tidak kuat menghadapi badai, buahnya yang indah tidak mampu memenuhi kekosongan jiwa mereka yang
rindu kepada ketenangan jiwa, ketenangan yang hanya ditemukan bagi mereka yang mempercayai
kehidupan ukhrawi yang dituturkan agama. Di samping itu, kitab suci mereka yang telah disentuh
perubahan dan pemalsuan tangan-tangan jahil mereka sendiri tidak layak lagi menjadi pegangan hidup
dalam tingkatan dunia-akhirat, sehingga dengan sendirinya mereka mencari penopang dan sandaran
kehidupan duniawi lain, dan mereka pun menemukannya di jabaran-jabaran sekularisme.

Olehnya itu, sekularisme bagi mereka obat penawar ampuh dari pahitnya zaman kegelapan Eropa yang
menayangkan kegelapan dan kemunduran dari pelbagai aspek kehidupan. Sementara itu, sekularisme bagi
kita, umat Islam, racun mematikan yang ingin melucuti pribadi Islam kita dari ajaran-ajaran agama,
sehingga kita dengan mudahnya menafikan agama dari sendi-sendi kehidupan.

Jadi, apa lagi yang menyebabkan kita mengimpor produk asing ini, mengadopsi, dan menelannya mentah-
mentah, kecuali taklid bodoh yang membabi buta meniru produk-produk mereka yang jauh dari nilai-nilai
agama. Apa yang menyebabkan kita alergi dari segala yang islami dan lebih tamak kepada apa yang
kebarat-baratan, kecuali gengsi dan angkuh atas nama modernitas yang diberkahi sekularisme dan
westernisasi.

Bukankah sekularisme dengan segala corak, filsafat, dan kerusakannya yang berusaha keras menjauhkan
agama dari negara dan mendesain kehidupan dengan desain hawa nafsu, undang-undang buatan manusia,
dan kesalahan-kesalahan mereka, bukankah paham seperti ini menyalahi syariat?

Jika mereka ingin melihat Islam hanya sebatas agama tanpa penghayatan dan penerapan hidup, bukankah
keinginan seperti ini menyalahi tujuan kedatangan Islam, kedatangannya yang ingin mengibarkan panji
syariat di muka bumi?
Yah, Islam itu bukanlah seperti teori arsitek atau cara kerja mesin yang tidak menuntut apa-apa dari
seseorang kecuali meyakini dan menyebutkan dalil-dalil kebenarannya, ia pun bukan seperti filsafat akal
yang dengan membacanya seseorang akan terhibur, atau ia hanya dipegang dan dibaca oleh para
pemerhatinya jika timbul dalam diri mereka keinginan yang mendorong mereka untuk membaca dan
mengamati. Islam bukan seperti ini dan itu, tetapi Islam metode hidup yang meliputi seluruh bentuk
pembelajaran, baik rohani, praktek, atau yang bersifat ilmiah, ia pun menyuguhkan kaidah-kaidah yang
jelas dalam mencapai kemaslahatan umum yang erat kaitannya dengan masalah-masalah pribadi,
lingkungan, negara, dan umat.

Itulah Islam yang ingin dipudarkan bahkan ditutup cahayanya oleh mereka, tetapi, bagaimana mungkin
mereka melakukannya, Islam metode kehidupan sempurna dunia-akhirat yang diridhai Allah, pemilik
matahari kehidupan. ([9])

Kini, penulis yakin bahwa Anda dengan penuh percaya diri mengamini apa yang telah dikatakan oleh
kebanyakan para ahli tahkik dan pemerhati sejarah politik Islam bahwa Rasulullah Saw pemimpin negara
Islam pertama di Madinah yang menjalankan kebijakan-kebijakan politiknya demi menjaga kedaulatan
Islam dari rongrongan kafir Mekah dan Yahudi di Madinah.

Sekarang, Anda diajak berikutnya melihat beberapa bentuk keberhasilan manuver-manuver politik
Rasulullah Saw yang di antaranya:

Pertama: Kemampuannya menyatukan kaum Aus dan Khasraj

Yang diketahui bersama, Rasulullah Saw tidak hijrah ke Madinah sebelum kota ini layak menerima
kedatangannya.

Yang diketahui juga, kota Madinah, sebelum Rasulullah Saw hijrah ke sana, kota yang penuh hiruk-pikuk
perselisihan kaum Aus dan Khazraj yang dipicu oleh fitnah-fitnah busuk orang-orang Yahudi. ([10]) Api
kebencian di antara mereka senantiasa berkobar dan mustahil dipadamkan meski menghabiskan yang
kecil dan besar, yang hina dan mulia dari perbendaharaan alam. Kebencian ini mewariskan dendam
membara di hati mereka yang memicu terjadinya perang Buats yang kekal dikenang sejarah. Kenyataan
ini telah diukir abadi Q.S. Al-Anfal [8]: 63, namun, dengan kehendak Allah SWT Rasulullah Saw
berhasil memadamkan kobaran api kebencian itu dengan persaudaraan Islam yang menyejukkan hati
mereka.

Apa yang Rasulullah Saw lakukan sehingga ia berhasil mendamaikan mereka?

Seperti adat kaum Arab di musim ibadah, mereka berbondong-bondong menuju kota Mekah untuk
beribadah di Ka’bah. Kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja Rasulullah Saw, tetapi ia
memanfaatkannya dengan mendatangi mereka memaparkan dirinya dan agama yang ia emban. Di tahun
itu, secercah harapan terbit dari kejauhan sana. Rasulullah Saw mendatangi kaum Khazraj pada bulan
Rajab –seperti yang disepakati kebanyakan ahli sejarah- mengajak mereka masuk Islam setelah
memaparkan kebenaran dan keindahannya.

Mereka pun dengan antusias mendengarkan dakwah Rasulullah Saw tersebut, mengingat masalah besar
yang mereka tinggalkan di Madinah, perpecahan yang disebabkan oleh orang-orang Yahudi di antara
mereka, Aus dan Khasraj. Di lain sisi, mereka pun menakuti ancaman orang-orang Yahudi yang selalu
mengintimidasi mereka dengan kedatangan seorang Rasul yang akan memimpin orang-orang Yahudi
membasmi mereka.
Kedua faktor ini sebab utama yang menarik perhatian mereka mendengarkan apa yang disampaikan
Rasulullah Saw.

Mereka pun sejenak termenung merenungkan perihal buruk mereka di kota Madinah dan sifat-sifat
kenabian Rasulullah Saw seperti yang diberitakan oleh ahli kitab orang-orang Yahudi, dan tidak lama
kemudian setelah mereka bermusyawarah, mereka dengan tekad bulat yang didasari mufakat
mengumumkan keislaman mereka. ([11])

Rasulullah Saw melakukan hal serupa terhadap kaum Aus. Namun, sejarah mencatat bahwa kaum
Khazraj lebih cepat menerima dan mempercayai kebenaran kenabian dan kerasulannya dari kaum Aus.
Mereka inilah yang menyebarkan Islam secara diam-diam di rumah-rumah mereka, jauh dari pengetahuan
orang-orang Yahudi, sehingga kota Madinah sudah layak menjadi kota hijrah Rasulullah Saw.([12])

Setibanya di Madinah, yang pertama kali dilakukan Rasulullah Saw sebagai kepala negara membangun
masjid, rumah Allah yang tidak mengenal kata perbedaan di antara manusia, tempat ibadah yang kondusif
menangani masalah-masalah kenegaraan yang membutuhkan keteduhan dan kejernihan berpikir. Di sini
masjid Rasulullah Saw memainkan peranan tersebut dengan baiknya.

Kemudian, Rasulullah Saw sebagai pemimpin negara mengajak orang-orang Yahudi menyepakati sebuah
perjanjian suci, perjanjian yang mewajibkan mereka untuk hidup damai berdampingan dengan orang-
orang mukmin, Muhajirin dan Anshar, dan mempertahankan kedaulatan negara Madinah dari rongrongan
orang-orang kafir yang sewaktu-waktu dapat mengancam stabilitas negara. Tetapi, Yahudi Madinah
melanggar perjanjian tersebut dan tidak menepatinya, bahkan bersekutu dengan kafir Mekah mengepung
bala tentara Islam yang dipimpin langsung Rasulullah Saw di perang Khandaq. Olehnya itu, wajar jika
mereka diusir Rasulullah Saw dari kota Madinah karena telah melanggar piagam suci perdamaian
tersebut.

Keberhasilan yang cemerlang ini bukti nyata kepiawaian Rasulullah Saw dan ketajaman analisa
politiknya dalam menangani masalah-masalah kenegaraan yang menuntut ketepatan dan ketangkasan
khusus.

Kedua: Perjanjian Hudaibiyyah

Di perjanjian Hudaibiyyah, Rasulullah Saw beserta 1.300 muslim keluar menuju kota Mekah dengan
maksud ziarah, dan bukan menginginkan perang. Setelah berita ini didengar orang-orang musyrik, mereka
pun menghalang orang-orang mukmin di Hudaibiyyah sebelum memasuki kota Mekah. Situasi ini
menyebabkan ketegangan urat saraf di antara kedua belah pihak yang berujung perjanjian damai yang
bersyarat. Mereka mensyaratkan orang-orang Islam mengurungkan niat menziarahi kota Mekah tahun ini,
dan dibolehkan mengunjunginya tahun depan. Di samping itu, mereka pun menambahkan syarat yang
tidak kalah kerasnya dengan di atas, mereka meminta pihak Islam mengembalikan siapa pun dari mereka
yang ditemukan mendatangi Madinah dalam keadaan beriman atau tidak, dan mereka tidak diwajibkan
memulangkan seseorang dari pihak muslim jika ditemukan mendatangi kota Mekah.

Syarat yang secara lahiriah telah mencoreng kehormatan mereka dan kedaulatan negara Islam, syarat
yang sulit diterima oleh sebagian sahabat. Yang demikian itu karena yang mereka yakini kemampuan
mereka meraih kemenangan jika terjadi peperangan dengan kafir Mekah. Mereka tidak peka melihat apa
yang mendasari Rasulullah Saw menerima perjanjian tersebut, pandangan singkat mereka tidak mampu
melihat sudut pandang Rasulullah Saw yang jauh meneropong kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi di masa mendatang.
Dengan perjanjian ini kota Mekah dan Madinah diselimuti sejuknya kedamaian dan perasaan aman,
terbentang benang pertemuan dan perjumpaan antara kedua belah pihak, sehingga orang-orang Islam
dengan leluasa memperdengarkan mereka Al-Quran dan melakukan debat tentang kebenaran ajaran
Islam. Kejadian-kejadian seperti ini tidak pernah dijumpai sebelum terjadinya perjanjian damai di
Hudaibiyyah. Olehnya itu, banyak dari mereka yang memeluk Islam. ([13])

Kenyataan ini seperti arus deras yang terpancar kuat menerpa dan mengangkat keraguan sebagian dari
mereka yang enggan menerima kecemerlangan Rasulullah Saw dalam menjalankan politik negara.

Di penghujung tulisan ini saya mengajak pemerhati Sunnah Rasulullah Saw dan tatanan politik Islam
menyuarakan kesimpulan berikut ini:

“Peka terhadap pemetaan Sunnah Rasulullah Saw langkah pertama dan yang terpenting dalam memeras
kekayaan khazanah makna-makna kenabian dan kerasulan, buta terhadap pemetaan ini boleh jadi menjadi
hijab tersendiri terhadap khazanah tersebut. Keberhasilan manuver-manuver politik Rasulullah Saw
dalam menjaga stabilitas negara Islam pertama di Madinah tidak dapat dipungkiri lagi. Yang
mengingkarinya seperti menutup cahaya matahari dari muka bumi dengan kedua telapak tangannya. Islam
tidak dapat dipisahkan dari tatanan hukum negara. Yang menanggalkannya dari organ-organ tubuh negara
seperti menggali kuburan sendiri, mereka yang menginginkan kebebasan yang didasari nafsu hewani dan
dekadensi moral yang meruntuhkan. Kenakakan gaun Islam Anda dan lambaikan tangan perpisahan
meninggalkan corak-corak sekularisme yang mengaburkan dan membutakan pandangan hidup Anda!
Sekarang, negara Islam yang berdaulat perangkat utama dalam menegakkan ajaran dan hikmah syariat.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

([1]) Abbas al-Aqqad, al-Abqariyyât al-Islâmiah: Abqariyyah Muhammad, Darul Kitab al-Lubnani, Beirut, cet. 1984, vol. 1, hlm.
160-161

([2]) Prof. Dr. Muhammad Imarah, Muhammad Saw ar-Rasul as-Siyâsi, Dar as-Salam, Cairo, cet. 1, 1433 H/2012 M, hlm. 35

([3]) Seperti yang telah dijelaskan di tulisan kami “Keistimewaan Ijtihad Rasulullah Saw” yang dimuat di:
https://www.dakwatuna.com/2013/01/26389/keistimewaan-ijtihad-rasulullah-saw-1/

([4]) Lihat: Al-Qarafi, Abu al-Abbas Ahmad bin Idris, al-Ihkâm fi Tamyiz al-Fatâwa anil Ahkâm wa Tasharrufât al-Qâdi wal Imâm,
manuskrip perpustakaan Azhar, no. registrasi khusus: 801, no. registrasi umum: 12601, hlm. 4

([5]) Hadits riwayat Ummu Salamah R.A di Shahih Imam Muslim, kitab al-Aqdiyyah, bab al-Hukmi bi ad-Dzhahir wa al-Lahni bil
Hujjah, hadits. no: 4570, hlm. 909

([6]) Di sini Rasulullah Saw lebih cenderung membiarkan pengawinan dan pembuahan pohon kurma kepada hukum alam
tanpa campur tangan manusia seperti biasanya. Namun, karena ijtihad ini menyalahi kenyataan yang ada, buah kurma yang
dihasilkan buruk, dan tidak mendatangkan kemaslahatan umum, Rasulullah Saw pun menarik perkataannya dan mensyariatkan
mereka hukum umum, yaitu: “Jika Aku memerintahkan kalian dari agama ini untuk dikerjakan maka patuhilah! Dan jika Aku
menyerukan suatu perkara dari pendapatku sendiri maka saya manusia seperti kalian, tidak luput dari kekeliruan pendapat.”

([7]) Hadits riwayat Râfi’ bin Khadij R.A di Shahih Imam Muslim, kitab al-Fadhail, bab Wujub Imtitsal Ma Qalahu Syar’an duna
Ma Dsakarahu min Maâyish ad-Dunya, hadits. no: 6275, hlm. 1234

([8]) Lihat: Waliyullah bin Abdurrahîm ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Bâligah, ditahkik oleh Sayyid Sâbiq, Darul Jail, Beirut, cet. 1,
1426 H/2005 M, vol. 1, hlm. 223-224

([9]) Lihat: Dr. Muhammad Rasyâd Abdul Azîz Dahmash, Atsar al-Fikri al-Almâni fi al-Mujtama’ al-Islâmi, (nama penerbit dan
tahun cetak tidak disebutkan), hlm. 119

([10]) di antara Kabilah-kabilah Yahudi yang masyhur di Madinah:


Banu Qaenaqâ’, mereka sekutu kaum Khazraj, mereka bertempat tinggal di dalam kota Madinah.
Banu an-Nadhîr, mereka sekutu kaum Khazraj, tempat tinggal mereka di sudut-sudut kota Madinah.
Banu Quraedsah, mereka sekutu kaum Aus, rumah-rumah mereka di sudut-sudut kota Madinah.
Mereka inilah yang menciptakan peperangan antara Aus dan Khasraj dalam kurun waktu yang cukup lama, seperti perang
Buats. Lihat: Ar-Rahîq al-Makhtûm, hlm. 140

([11]) Jumlah mereka 6 orang:

As’ad bin Zurârah Abu Umâmah dari Bani an-Najjâr, Awf bin al-Hârits bin Rifâa, Râfi’ bin Mâlik bin al-Ajalân dari Bani Zuraeq,
Qutbah bin Âmir dari Bani Salamah, Uqbah bin Âmir dari bani Harâm, dan Jâbir bin Abdillah dari Bani Ubaed.

([12]) Lihat: Prof. Dr. Thaha Habisyi, Qissah an-Nabi maal Yahud fi Jazirah al-Arab, hlm. 35.

([13]) Lihat: Syekh Muhammad al-Khidr Husain, Muhammad Rasulullah wa Khatam an-Nabiyyin, Maktabah al-Iman,
Cairo, cet. 1, 1432 H/2011 M, hlm. 65

Penulis
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia
(USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt