Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAH PROVINSI MALUKU UTARA

DINAS PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN


Jl. Raya Kilometer 40 Bal-Bar Sofifi Provinsi Maluku Utara

RENCANA KERJA
DAN SYARAT-SYARAT TEKNIS
(RKS TEKNIS)

PEKERJAAN PEMBANGUNAN BANGUNAN PENGAMAN


KAWASAN PEMUKIMAN TOGOME OBA SELATAN

TAHUN ANGGARAN
2019

Spesifikasi Teknis
Page 1
SYARAT – SYARAT TEKNIS

Pasal VI.01. URAIAN PEKERJAAN

1. Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor adalah Pembangunan
Bangunan Pengaman Kawasan Pemukiman Togome sesuai dengan
Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Gambar Kerja, dengan rincian secara garis
besar sebagai berikut :

a. PEKERJAAN PERSIAPAN
b. PEKERJAAN TANAH
c. PEKERJAAN PASANGAN

2. Sarana Pekerjaan :

Untuk kelancaran pekerjaan pelaksanaan di lapangan, Kontraktor menyediakan :


a. Tenaga Pelaksana yang selalu ada di lapangan, tenaga kerja yang terampil
dan cukup jumlahnya dengan kapasitas yang memadai dengan pengalaman
untuk prasarana gedung.
b. Bahan-bahan bangunan harus tersedia di lapangan dengan jumlah yang cukup
dan kualitas sesuai dengan spesifikasi teknis.
c. Melaksanakan tepat sesuai dengan time schedule.

3. Cara Pelaksanaan :
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, dan sesuai dengan syarat-
syarat (RKS), gambar rencana, Berita Acara Penjelasan serta mengikuti petunjuk
dan keputusan Pengawas lapangan dan Direksi Teknis.

Pasal VI.02. JENIS DAN MUTU BAHAN

Jenis dan mutu bahan yang dipakai diutamakan produksi dalam negeri sesuai dengan
Keputusan bersama Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan
Menpen. No.: 472/Kop/XII/80, No.: 813/Menpen/1980, No.: 64/Menpen/1980,
Tanggal 23 Desember 1980

Pasal VI.03. GAMBAR – GAMBAR

RKS ini dilampiri :


1. Gambar kerja arsitektur/Sipil
2. Gambar Pelengkap dan Detail Khusus

Pasal VI.04. PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN

1. Dalam melaksanakan Pekerjaan, kecuali bila ada ketentuan lain dalam Rencana
Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan di
bawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya :

Spesifikasi Teknis
Page 2
a. Peraturan Presiden RI Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah dan perubahannya;
b. Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia 1982;
c. Peraturan umum tentang SMK3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja No :
Per.05/MEN/1996;
d. Spesifikasi bahan bangunan bagian A : SK SNI S-04-1989-F;

2. Untuk melaksanakan pekerjaan dalam pasal 1 ayat 1 tersebut di atas berlaku dan
mengikat pula.
a. Gambar Kerja yang dibuat Perencana, termasuk juga gambar-gambar detail
yang diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah disahkan / disetujui Direksi.
b. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
d. Berita Acara Penetapan Pemenang Penyedia Barang/Jasa.
e. Surat Keputusan Penetapan Penyedia Barang/Jasa.
f. Surat Penawaran dan lampiran-lampirannya.
g. Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang telah disetujui Direksi.

Pasal VI.05. PENJELASAN RKS DAN GAMBAR

1. Kontraktor wajib meneliti semua gambar dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat
(RKS) termasuk tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita
Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
2. Bila gambar tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), maka
yang mengikat/berlaku adalah RKS. Bila suatu gambar tidak sesuai dengan
gambar yang lain, maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang
berlaku, begitu pula apabila dalam RKS tidak dicantumkan sedangkan gambar
ada, maka gambarlah yang mengikat.
3. Bila perbedaan-perbedaan ini menimbulkan keraguan-keraguan sehingga dalam
pelaksanaan menimbulkan kesalahan, Kontraktor wajib menanyakan kepada
Direksi/Pengawas Lapangan dan Kontraktor mengikuti keputusan dalam rapat.

Pasal VI.06. JADWAL PELAKSANAAN

1. Sebelum mulai pekerjaan nyata di lapangan Kontraktor wajib membuat Rencana


Kerja Pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar-chart dan curve
bahan/tenaga.
2. Rencana kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Direksi/Pengawas Lapangan, paling lambat dalam waktu 15 (lima belas) hari
kalender setelah SPPBJ diterima Kontraktor. Rencana Kerja yang telah disetujui
oleh Direksi/Pengawas Lapangan, akan disahkan oleh Pemberi Tugas.
3. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja rangkap 4 (empat) kepada
Direksi/Pengawas Lapangan, satu salinan Rencana Kerja harus ditempel pada
dinding di bangsal Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik
kemajuan (prestasi kerja).
4. Direksi/Pengawas Lapangan akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor
berdasarkan Rencana Kerja tersebut.

Pasal VI.07. KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN

1. Di lapangan pekerjaan, Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa Kontraktor


atau biasa disebut Pelaksana yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan

Spesifikasi Teknis
Page 3
di lapangan dan mendapat kuasa penuh dari Kontraktor, berpendidikan minimal
STM atau sederajat dengan pengalaman minimum 3 (tiga) tahun.
2. Dengan adanya Pelaksana, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung jawab
sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya.
3. Kontraktor wajib memberi tahu secara tertulis kepada Direksi/Pengawas
Lapangan, nama dan jabatan Pelaksana untuk mendapatkan persetujuan.
4. Bila kemudian hari menurut pendapat Direksi/Pengawas Lapangan, Pelaksana
kurang mampu atau tidak cakap memimpin pekerjaan, maka akan diberitahu
kepada Kontraktor secara tertulis untuk menggantinya dengan personil yang
memenuhi syarat.
5. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkan Surat Pemberitahuan, Kontraktor
harus sudah menunjuk Pelaksana baru atau Kontraktor sendiri (penanggung
jawab/Direktur Perusahaan) yang akan memimpin pelaksanaan.

Pasal VI.08. TEMPAT TINGGAL (DOMISILI) KONTRAKTOR DAN


PELAKSANA

1. Untuk menjaga kemungkinan diperlukannya jam kerja apabila terjadi hal-hal


mendesak, kontraktor dan pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis,
alamat dan nomor telepon di lokasi kepada Direksi/Pengawas Lapangan.
2. Alamat Kontraktor dan pelaksana diharapkan tidak berubah-ubah selama
pekerjaan. Bila terjadi perubahan alamat, Kontraktor dan pelaksana wajib
memberitahukan secar tertulis.

Pasal VI.09. PENJAGAAN KEAMANAN DI LAPANGAN PEKERJAAN

1. Kontraktor wajib menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang milik


Proyek, Direksi/Pengawas Lapangan dan milik pihak ketiga yang ada di lapangan.
2. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui
Direksi/Pengawas Lapangan, baik yang telah dipasang maupun yang belum,
menjadi tanggung jawab kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya
pekerjaan tambah.
3. Apabila terjadi kebakaran, kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya baik
yang berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu kontraktor
diwajibkan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap dipakai yang
ditempatkan di tempat-tempat yang akan ditetapkan oleh Direksi/Pengawas
Lapangan.

Pasal VI.10. JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA

1. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat


Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap
pakai di lapangan, untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua
petugas dan pekerja lapangan.
2. Kontraktor wajib menyediakan air minum yang bersih dan memenuhi syarat-
syarat bagi semua petugas dan pekerja yang ada di bawah kekuasaan kontraktor.
3. Kontraktor wajib menyediakan air bersih, kamar mandi dan WC yang layak dan
bersih bagi semua petugas dan pekerja. Membuat tempat penginapan di dalam
lapangan pekerjaan untuk para pekerja tidak diperkenankan, kecuali untuk
penjaga keamanan.

Spesifikasi Teknis
Page 4
4. Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan sesuai dengan
peraturan perundang undangan yang berlaku.

Pasal VI.11. ALAT-ALAT PELAKSANAAN

Semua alat-alat untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan olek Kontraktor,


sebelum pekerjaan secara fisik dimulai dalam keadaan baik dan siap dipakai, antara
lain :
1. Perlengkapan penerangan untuk pekerjaan lembur.
2. Alat-alat lainnya yang sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan.

Pasal VI.12. SITUASI DAN UKURAN

1. Pekerjaan tersebut dalam pasal VI.01 adalah pekerjaan lanjutan, sesuai


dengan gambar.
2. Ukuran – ukuran dalam gambar ataupun dalam RKS merupakan garis besar
pelaksanaan.
3. Kontraktor wajib meneliti situasi tapak, terutama keadaan bangunan, sifat dan
luas pekerjaan, dan hal – hal yang dapat mempengaruhi harga penawaran.
4. Kelalaian atau kekurang telitian kontraktor dalam hal ini tidak dijadikan alasan
untuk menggagalkan tuntutan.

Pasal VI.13. SYARAT – SYARAT CARA PEMERIKSAAN BAHAN BANGUNAN

1. Semua bahan bangunan yang didatangkan harus memenuhi syarat – syarat yang
ditentukan pasal VI.02.
2. Semua bahan bangunan yang akan dipergunakan harus diperiksakan dahulu
kepada Direksi/Pengawas Lapangan untuk mendapatkan persetujuan.
3. Bahan bangunan yang telah didatangkan oleh Kontraktor di lapangan pekerjaan,
tetapi ditolak pemakaiannya oleh Direksi/Pengawas Lapangan, harus segera
dikeluarkan dari lapangan pekerjaan selambat - lambatnya dalam waktu 2 x 24
jam terhitung dari jam penolakan.
4. Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilakukan kontraktor tetapi ternyata
ditolak Direksi/Pengawas Lapangan, harus segera dihentikan dan selanjutnya
dibongkar atas biaya kontraktor dalam waktu yang ditetapkan oleh
Direksi/Pengawas Lapangan.

Pasal VI.14. PEMERIKSAAN PEKERJAAN

1. Sebelum memulai pekerjaan lanjutan yang apabila bagian pekerjaan ini telah
selesai, akan tetapi belum diperiksa oleh Direksi/Pengawas Lapangan, Kontraktor
diwajibkan meminta kepada Direksi/Pengawas Lapangan.
2. Kemudian jika Direksi/Pengawas Lapangan telah menyetujui bagian pekerjaan
tersebut, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya.
3. Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam (dihitung dari jam
diterimanya permohonan pemeriksaan , tidak terhitung hari libur/hari raya), tidak
dipenuhi oleh Direksi/Pengawas Lapangan, Kontraktor dapat meneruskan
pekerjaannya dan bagian yang sebenarnya diperiksakan dianggap telah disetujui
Direksi/Pengawas Lapangan. Hal ini dikecualikan bila Direksi/Pengawas Lapangan
meminta perpanjangan waktu.
4. Bila Kontraktor melanggar ayat 1 pasal ini, Direksi/Pengawas Lapangan berhak
memerintahkan membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk

Spesifikasi Teknis
Page 5
memperbaiki, biaya pembongkaran dan pemasangan menjadi tanggungan
Kontraktor.

Pasal VI.15. KENAIKAN HARGA/FORCE MAJEURE

1. Kenaikan harga yang bersifat biasa tidak dapat mengajukan klaim.


2. Kenaikan harga yang diakibatkan kebijaksanaan moneter oleh Pemerintah dan
bersifat nasional dapat mengajukan klaim sesuai petunjuk yang dikeluarkan oleh
Pemerintah RI.
3. Semua kerugian akibat Force Majeure yang dikarenakan gempa bumi, angin
puyuh, badai topan, kerusuhan, peperangan dan semua kejadian karena faktor
alam serta kejadian tersebut dibenarkan oleh Pemerintah bukan menjadi
tanggungan Kontraktor.

Pasal VI.16. PEKERJAAN TAMBAH/KURANG

1. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah/kurang diberitahukan dengan tertulis


dalam buku harian oleh Direksi/Pengawas Lapangan serta persetujuan Pemberi
Tugas.
2. Pekerjaan tambah / kurang hanya berlaku bila memang nyata-nyata ada perintah
tertulis dari Direksi/Pengawas Lapangan atas persetujuan Pemberi Tugas.
3. Biaya pekerjaan tambah / kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga
satuan pekerjaan, yang dimaksudkan oleh Kontraktor yang pembayarannya
diperhitungkan bersama-sama angsuran terakhir.
4. Untuk pekerjaan tambah yang harga satuannya tidak tercantum dalam harga
satuan yang dimasukkan dalam penawaran, harga satuannya akan ditentukan
lebih lanjut oleh Direksi/Pengawas Lapangan bersama-sama Kontraktor dengan
persetujuan Pemberi Tugas.
5. Adanya Pekerjaan Tambah tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab
kelambatan penyerahan pekerjaan, tetapi Direksi/Pengawas Lapangan dapat
mempertimbangkan perpanjangan waktu karena adanya pekerjaan tambah
tersebut.

Pasal VI.17. PEKERJAAN PERSIAPAN

a. Uitzet/Bouwplank
a. Semua papan bouwplank menggunakan kayu kuat kelas II dengan ketebalan
2 cm dipasang terentang pada patok kayu ukuran 5/7 dan diserut rata pada
permukaan atas dan terpasang water pass dengan peil + 0.00.
b. Bouwplank dipasang memanjang keliling bangunan, pada as kolom dan
dinding penyekat supaya diberi tanda dengan cat warna merah / meni.
c. Bouwplank dipasang di luar garis bangunan dengan jarak minimal 2 m untuk
mencegah kelongsoran terhadap galian tanah pondasi.
d. Setelah pemasangan bouwplank selesai, Kontraktor wajib melapor kepada
Direksi/Pengawas Lapangan untuk mendapatkan persetujuan pekerjaan
selanjutnya.
e.
b. Pembersihan dan Perapihan
Setelah pekerjaan selesai semua, permukaan harus bersih dari segala macam
kotoran dan dalam keadaan baik sempurna, serta sisa dari bahan-bahan yang
sudah digunakan yang berupa apapun harus dibersihkan atau dibuang.

Spesifikasi Teknis
Page 6
Pasal VI.18. PEKERJAAN TANAH

1. Pekerjaan Galian
a. Pekerjaan galian untuk semua lubang, baru boleh dilaksanakan setelah papan
patok (bouwplank) dengan penandaan sumbu ke sumbu selesai diperiksa dan
disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan.
b. Dalamnya galian untuk lubang pondasi harus sesuai dengan gambar kerja.
Untuk hal tersebut diadakan pemeriksaan setempat oleh Direksi/Pengawas
Lapangan.
c. Dasar galian harus dikerjakan dengan teliti sesuai dengan ukuran gambar
kerja dan dibersihkan dari segala kotoran.
d. Semua galian harus dilaksanakan sesuai dengan gambar dan syarat - syarat
yang ditentukan dalam Spesifikasi Teknis dan atau petunjuk Direksi Pengawas.
e. Dasar dari semua galian harus waterpas. Bilamana pada dasar setiap galian
masih terdapat akar-akar tanaman atau bagian-bagian gembur, maka ini
harus digali keluar sedang lubang-lubang tadi diisi kembali dengan pasir,
disiram dan dipadatkan sehingga mendapatkan kembali dasar yang waterpas.
f. Terhadap kemungkinan adanya air di dasar galian, baik pada waktu
penggalian maupun pada waktu pekerjaan pondasi harus disediakan pompa
air atau pompa lumpur yang jika diperlukan dapat bekerja terus menerus
untuk menghindari tergenangnya air pada dasar galian.
g. Kontraktor harus memperhatikan pengamanan terhadap dinding tepi galian
agar tidak
longsor dengan memberikan suatu dinding penahan atau penunjang
sementara atau lereng yang cukup.
h. Juga kepada Kontraktor diwajibkan mengambil langkah-langkah pengamanan
terhadap bangunan lain yang berada dekat sekali dengan lubang galian yaitu
dengan memberikan penunjang sementara pada bangunan tersebut sehingga
dapat dijamin bangunan tersebut tidak akan mengalami kerusakan.
i. Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah mencapai
jumlah tertentu harus segera disingkirkan dari halaman pekerjaan pada setiap
saat yang dianggap perlu dan atas petunjuk Direksi Pengawas.
j. Bagian-bagian yang akan diurug kembali harus diurug dengan tanah yang
bersih, bebas dari segala kotoran dan memenuhi syarat-syarat sebagai tanah
urug.
k. Pelaksanaannya secara berlapis-lapis dengan. penimbrisan lubang-lubang
galian yang terletak di dalam garis bangunan harus diisi kembali dengan pasir
urug yang diratakan dan diairi serta dipadatkan sampai mencapai 100 %
kepadatan kering maksimum yang dibuktikan dengan test laboratorium.
l. Perlindungan terhadap benda-benda berfaedah. Kecuali ditunjukkan untuk
dipindahkan, seluruh barang-barang berharga yang mungkin ditemui di
lapangan harus dilindungi dari kerusakan, dan apabila sampai menderita
kerusakan harusdireparasi/diganti oleh Kontraktor atas tanggungannya
sendiri.

2. Pekerjaan Urugan
a. Pekerjaan untuk urugan mencapai titik peil yang dikehendaki digunakan tanah
urug pilihan lapis demi lapis.
b. Urugan kembali lubang pondasi dilakukan setelah dilakukan pemeriksanaan
pondasi.

Spesifikasi Teknis
Page 7
Pasal VI.19. PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN

1. Pekerjaan Pondasi Batu Kali .


a. Lingkup Pekerjaan
Ini meliputi penyediaan bahan dan perekatnya, menyiapkan tempat yang akan
dipasang batu kali, serta pelaksanaan pekerjaan pasang batu kali itu sendiri,
sesuai gambar dan spesifikasi ini.
b. Bahan
Batu yang digunakan harus berkualitas terbaik dan merupakan bahan setempat,
padat, bersih, tanpa retak-retak dan kekurangan - kekurangan lain yang
mempengaruhi kualitas. Baik batu gunung maupun batu kali dapat digunakan.

c. Adukan
Semua pasangan batu kali untuk dinding penahan tanah, pondasi dan
pekerjaan batu kali lainya dilaksanakan dengan adukan1 Pc : 4 Ps
d. Pelaksanaan
 Pasangan batu kali harus diukur dilapangan dan dilaksanakan sesuai dengan
ukuran dan ketinggian seperti tercantum pada gambar - gambar.
 Batu kali digunakan untuk pondasi harus batu pecah, sudut runcing,
berwarna abu-abu hitam, keras, tidak berpori (porous).
 Permukaan dasar galian harus ditimbun dengan pasir urug setebal minimal
10cm atau sesuai gambar kerja, disiram dan diratakan dan di atasnya diberi
batu kali pecah yang dipasang sesuai dengan gambar.
 Pondasi batu kali menggunakan adukan dengan campuran 1Pc : 4Ps. Adukan
harus membungkus batu kali pada bagian tengah pondasi sedemikian rupa
sehingga tidak ada bagian pondasi yang berongga atau tidak padat.
e. Perlindungan
Pada tahap pelaksanaan pekerjaan batu kali yang tidak terlindung, bila hujan
maka bagian atas harus dilindungi.

2. Pekerjaan Plesteran

a. Pada dasarnya spesi untuk plesteran sama dengan campuran spesi untuk
pekerjaan pasangannya.
b. Sebelum pekerjaan plesteran dilakukan, bidang-bidang yang akan diplester
harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dibasahi dengan air agar
plesteran tidak cepat kering dan tidak retak-retak.
c. Semua permukaan beton yang diplester permukaanya harus dikasarkan
terlebih dahulu.
d. Adukan untuk plesteran harus benar-benar halus sehingga plesteran tidak
terlihat pecah-pecah.
e. Tebal plesteran 1,5 cm.
f. Plesteran supaya digosok berulang-ulang sampai mantap dengan acian PC
sehingga tidak terjadi retak-retak dan pecah dengan hasil halus dan rata.
g. Pekerjaan plesteran terakhir harus lurus, rata, vertikal dan tegak lurus dengan
bidang lainnya.
h. Semua pekerjaan plesteran harus menghasilkan bidang yang tegak lurus,
halus, tidak bergelombang. Sedang sponeng/tali air harus lurus dan baik.

Spesifikasi Teknis
Page 8
i. Susunan adukan untuk plesteran harus terdiri dari campuran 1 pc : 4 ps dalam
volume dan airnya cukup untuk menghasilkan kekentalan untuk keperluan
yang diinginkan.
j. Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, celah-celah diantara batu harus dikorek
sebelum adukan dipasang (atau dicungkil untuk pasangan batu yang sudah
lama) dan permukaannya harus dibersihkan dengan sikat kawat dan dibasahi.

Pasal VI.21. PEKERJAAN LAIN – LAIN

1. Segala sesuatu yang belum tercantum dalam RKS ini yang mana masih
termasuk lingkup dalam pelaksanaan ini kontraktor harus menyelesaikan,
sesuai dengan petunjuk, Perintah Pengawas dan Pemberi Tugas, baik
sesudah atau selama berjalannya pekerjaan, serta perubahan-perubahan
di dalam Berita Acara Aanwijzing.
2. Hal-hal yang timbul dalam pelaksanaan dan diperlukan penyelesaian di
lapangan akan dibicarakan dan diatur oleh Pengawas, dengan dibuat Berita
Acara yang disyahkan oleh Pemberi Tugas.

Spesifikasi Teknis
Page 9