Anda di halaman 1dari 8

RESUME BUKU FILSAFAT ILMU KARANGAN JUJUN S

SURIASUMANTRI
FILSAFAT HUKUM
(Dosen Pengampu : DR.ROHIDIN M,Ag)

Disusun oleh :

R Fery Nugroho Listio Rahayu


(13410684)

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


FAKULTAS HUKUM
2015
EPISTIMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR1

1. Jarum Sejarah Pengetahuan


Jarum Sejarah Pengetahuan pada paktu dulu kriteria kesamaan yang menjadi
konsep dasar. Semua meyatu dalam kesatuan yang batas-batasnya kabur dan mengambang.
Tidk terdapat jarak antara objek yang satu dengan objek yang lain, antara ujud yang satu dengan
ujud yang lain. Konsep dasar ini baru mengalami perubahan fundamental dengan
berkembangnya abad
Penalaran pada pertengahan abad ke 17. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling
tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahuinya dan untuk apa
pengetahuan itu dipergunakan. Berdasarkan objek yang ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu
alam dan ilmu-ilmu social. Dari cabang ilmu yang satu sekarang ini diperkirakan berkembang
lebih dari 650 cabang disiplin ilmu.
2. Pengetahuan
Pengetahuan pada hakekatmya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu
obyek tertentu, termasuk kedalamnya adalah ilmu. Jadi ilmu merupakan bagian dari
pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping berbagai jenis pengetahuan lainya seperti
seni dan agama. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau
tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.
Setiap jenis pengetahuan mempunyai cirri-ciri spesifik
mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa(aksiologi) pengetahuan
tersebut disusun. Jika ilmu mencoba mengembangkan sebuah model yang sederhana mengenai
dunia empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variable yang terikat dalam
sebuah hubungan yang bersifat rasional, maka seni (paling tidak seni sastra), mencoba
mengungkapkan obyek penelaahan itu sehingga menjadi bermakna bagi pencipta dan mereka
yang meresapinya, lewat berbagai kemampuan manusia untuk menangkapnya, seperti pikiran
emosi dan pancaindra.
Seni menurut Moctar Lubis, merupakan produk dari daya inspirasi dan daya cipta manusia
yang bebas dari cengkraman dan belenggu berbagai ikatan. Karya seni bersifat penuh dan rumit
namun tidak bersifat sistematik.
Sebuah karaya seni yang baik biasanya mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada
manusia yang bias mempengaruhi sikap dan prilaku mereka. Itulah sebabnya seni memegang
peran penting dalam pendidikan moral dan budi pekerti suatu bangsa.
Satu jembatan yang menghubungkan antara seni terapan dengan ilmu dan teknologi adalah
pengembangan konsep teoritis yang besifat mendasar yang selanjutnya dijadikan tumpuan
untuk mengembangkan pengetahun ilmiah yang bersifat integral. Ilmu dan filsafat dimulai
dengan akal sehat sebab tak mempunyai landasan permulaan lain untuk berpijak.
3. Metode Ilmiah

1
Jujun S.Suriasumantri ,1999, “Filsafat Ilmu – Sebuah Pengantar”,Pustaka Sinar Harapan ,Jakarta.hlm101-141
Metode Ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.
Jadi ilmu didapat dari metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmu sebab ilmu
merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu.
Syarat yang harus dipenuhi agar pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang
dinamakan dengan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara
bekerjanya pikiran, sehingga pengetahuan yang dihasilkan mempunyai karakteristik tertentu
yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan
tubuh pengetahuan yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
Dalam hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif
dalam membangun tubuh pengetahuannya. Proses kegiatan ilmiah menurut Ritchie Calder
dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Sehingga, karena masalah ini berasal dari dunia
empiris, maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan objek yang bersangkutan
yang bereksistensi dalam dunia empiris pula.
Karena masalah yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawaban pada dunia
yang nyata pula. Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta pula, apapun juga teori
yang menjembataninya (Einstein).
Teori merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara secara rasional
digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya teori ilmu merupakan suatu penjelasan
rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Adapun tahapan dalam kegiatan
ilmiah, yaitu:
a. Perumusan Masalah
b. Penyusunan kerangka berpikir
c. Perumusan hipotesis
d. Pengujian hipotesis
e. Penarikan kesimpulan.

4. Struktur Pengetahuan Ilmiah


Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang
memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau
ilmu. Ada pun struktur pengetahuan ilmiah sebagai berikut :
a. Teori yang merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu
faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.
b. Hukum yang merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel
atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat.
c. Prinsip yang dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi
sekelompok gejala-gejala tertentu yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi.
d. Postulat yang merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut
pembuktiannya.
Etika (Filsafat moral)
ILMU DAN MORAL2

Penalaran otak orang itu luar biasa, demikian kesimpulan ilmuwan kerbau dalam
makalahnya, namun mereka itu curang dan serakah. Sedang Perkan sebodoh bodoh umat
kerbau, kita tidak curang dan serakah nyataan yang lugu ini, namun benar dan kena, sungguh
menggelitik nurani kita. Benarkah bahwa makin cerdas, maka makin pandai kita menemukan
kebenaran, makin benar maka makin baik pula perbuatan kita? Apakah manusia yang
mempunyai penalaran tinggi, lalu makin berbudi, sebab moral mereka dilandasi analisis yang
hakiki, ataukah malah sebaliknya: makin cerdas maka makin pandai pula kita berdusta?
Menyimak masalah ini, ada baiknya kita memperhatikan imbauan Profesor Ace Partadiredja
dalam pidato pengukuhannya selaku guru besar ilmu ekonomi di Universitas Gajah Mada, yang
mengharapkan munculnya ilmu ekonomi yang tidak mengajarkan keserakahan.
Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat
berhutang kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan
kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah di samping penciptaan
berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan. pengangkutan, pemukiman,
pendidikan dan komunikasi. Namun dalam kenyataannya apakah ilmu selalu merupakan
berkah, terbebas dari kutuk. yang membawa malapetaka dan kesengsaraan?
Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan
perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi
sesama manusia dan menguasai mereka. Bukan saja bermacam-macam senjata pembunuh
berhasil dikembangkan namun juga berbagai teknik penyiksaan dan cara memper budak massa.
Di pihak lain, perkembangan ilmu sering melupakan faktor manusia, di mana bukan lagi
teknologi yang berkembang seiring manusialah akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan
tek- teknologi. Teknologi tidak berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan
manusia melainkan untuk tujuan eksistensinya sendiri. Sesuatu yang kadang-kadang harus
dibayar mahal kehilangan sebagian arti dari kemanusiaannya.
Manusia sering dihadapkan dengan situasi yang tidak bersifat manusiawi terpenjara
dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusiaan dan kebahagiaannya

Estetika (Filsafat Seni)


ILMU DAN KEBUDAYAAN
Ilmu Sebagai Asas Moral
Artinya dalam menetapkan suatu pernyataan apakah itu benar atau tidak maka seorang
ilmuwan akan menarik kesimpulannya kepada argumentasi yang terkandung dalam pernyataan
itu dan bukan kepada pengaruh yang berbentuk kekuasaan dari kelembagaan yang
mengeluarkan pernyataan itu.

2
Ibid hlm 229
Hal ini sering menempatkan ilmuwan pada tempat yang bertentangan dengan pihak
yang berkuasa yang mungkin mempunyai kriteria kebenaran yang lain.Kriteria ilmuwan dan
politikus dalam membuat pernyataan adalah berbeda menurut Szilard : jika seorang ilmuwan
mengatakan sesuatu, rekan rekannya pertamakali akan bertanya apakah yang dinyatakan itu
mengandung kebenaran.
Sebaliknya jika seorang politikus mengatakan sesuatu maka rekan reknnya pertama kali
akan bertanya, " mengapa ia menyatakan hal itu " baru kemudian atau mungkin juga tidak,
mereka mempertanyakan apakah pernyataan itu mengandung kebenaran.
Disamping itu kebenaran bagi ilmuwan mempunyai kegunaan yang universal bagi umat
manusia dalam meningkatkan martabat ke manusiaanya. Secara nasional kaum ilmuwan tidak
mengabdi kepada golongan, klik politik atau kelompok lain, secara internasional kaum ilmu
wan tidak mengabdi kepada ras,ideology, dan factor – factor pembatasolainnya. Dua
karakteristik ini merupkan asas moral bagi ilmuwan yakni me ninggikan kebenaran dan
pengabdian secara universal. Dalam kenyataannya pelaksanaan asas moral ini tidak mudah
sebab tahap perkembangan ilmu yang sangat awal kegiatan ilmiah ini
dipengaruhioolehostrukturokekuasaanodarioluar.MenurutBachtiarodalamoJujun.oS.
Suriasumantri ( 1998,275) lebih menonjol lagi pada Negara yang sedang berkembang , karena
sebagian besar kegiatan keilmuan merupakanokegiatanoaparaturoNegara.

Metafisika (Filsafat Hakekat)3

Fariduddin Atuar bangunlah pada malam hari ,Dan dia memikirkan tentang dunia
ini,Ternyata dunia ini Adalah sebuah peti Sebuah peti yang besar dan tertutup di atasnya.Dan
kita manusia berputar putar di dalamnya .Dunia sebuah peti yang besar.Dan tertutup di
ataanya.Dan kita terkurung di dalamnya.Dan kita berjalan-jalan di dalamnya.Dan kita
bermenung di dalamnya Dan kita beranak di dalamnya Dan kita membuat peti di dalamnya
Dan kita membuat peti Di dalam peti ini..
Demikianlah manusia, terutama para pemikirnya veperti Fanduddin Attar dalam sajak
Taufiq Ismail ini tak hent-bronnya terpesona menatap dunia menjangkau jauh-jauh ke
dalamnya apakah Aetikar ke-ini benarnya Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini
merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran fibatau termasuk pemikiran ilmiah
Diibaratkan pikiran adalah tokes yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan
awan gemawan, maka Metafisika adalah landasan peluncurannya. Dunia yang sepintas lalu
kelihatan sangat nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai spekulasi filsafati tentang
hakikatnya.
Beberapa Tafsiran Metafisika Tafsiran yang paling pertama yang diberikan oleh
manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib dan wujud-
wujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.
Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme ini: di mana
manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda-benda

3
Ibid hlm 63
seperti batu, pohon dan air terjun. Animisme ini merupakan kepercayaan yang paling tua
umurnya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia dan masih dipeluk oleh beberapa
masyarakat di muka bumi.
Sebagai lawan dari supernaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak
pendapat bahwa terdapat ujud ujud yang bersifat supernatural ini. Materialisme, yang
merupakan paham berdasar-kan naturalisme ini, berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak
disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat
dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui,Prinsip-
prinsip materialisme ini dikembangkan oleh Democritos (460-S.M.). Dia mengembangkan
teori tentang atom yang dipelajarinya dari gurunya Leucippus. Democritos, unsur dasar dari
alam ini adalah atom: Hanya berdasarkan kebiasaan saja maka manis itu manis, panas itu panas,
dingin itu dingin, warna itu warna. Dalam kenyataannya hanya terdapat atom dan kahampaan.
Artinya, obyek dari peng- inderaan sering kita anggap nyata, padahal tidak demikian. Hanya
atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata. Atau dengan perkataan lain: manis, panas,
dingin atau warna, adalahterminologi yang kita berikan kepada gejala yang kita tangkap lewat
pancaindera. Rangsangan pancaindera ini disalurkan ke otak kita dan menghadirkan gejala
tersebut.
Dengan demikian maka gejala alam dapat didekati dari segi hal ini tidak terlalu selama
terapkan kepada zat-zat yang mati seperti batuan atau karat besi. Namun bagaimana dengan
makhluk hidup termasuk manusia sendiri? Disini kaum yang menganut paham mekanistik
ditentang oleh kaum vitalistik.(termasuk makhluk hidup) Kaum mekanistik melihat gejala alam
hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah
sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif
dengan proses tersebut di atas.Lalu apa dengan pikiran dan kesadaran itu sendiri? 15
biliun neuron. Secara fisiologis otak manusia terdiri dari 10 sampai Neuron adalah sel saraf
yang merupakan dasar dari keseluruhan Cara bekerja otak ini merupakan obyek telahan dari
berbagai disiplin keilmuan seperti fisiologi, psikologi, kimia, matematika, fisika teknik dan
neuro-fisiologi. Sudah merupakan kenyataan yang tidak usah lagi diperdebatkan bahwa proses
berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (obyek) yang ditelaahnya. Namun,
apakah kebenarannya hakikat pikiran tersebut. apakah dia berbeda dengan zat yang ditelaah
nya, ataukah hanya bentuk lain dari zat tersebut
Dalam hal ini maka aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan
antara pikiran dan zat: mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan
namun mempunyai substansi yang sama. Ibarat zat dan energi, dalam teori relativitas Einstein,
energi hanya merupakan bentuk lain dari zat. Dalam hal ini maka proses berpikir dianggap
sebagai aktivitas elektrokimia dari otak. Jadi yang membedakan robot dan manusia bagi kaum
yang menganut paham mo- nistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang
membangunnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya
berbeda secara nyata. Kalau komponen dan struktur robot sudah dapat menyamai manusia,
maka robot itu pun bisa menjadi manusia, pekik Radius (sebuah/seorang robot yang jangkung
dan bersemangat dalam sandiwara yang terkenal karangan Karel Capek yang berjudul R.U.R.
Rossum's Universal Robots): Robot-robot dari seluruh dunia, kekuasaan manusia telah jatuh.
Kekuasaan baru telah tumbuh, pemerintahan robot-robot, Pendapat ini ditolak oleh kaum yang
menganut paham dualistik Ter ologi dualisme ini mula-mula dipakai oleh (1700)maka
penafsiran dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang berbeda sui generis
secara substantif. Filsuf bagi mereka Rene Descartes yang menganut paham dualistik ini di
antaranya adalah Ketiga ahli filsafat ini berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran,
termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia, adalah bersifat mental. Bagi
Descartes maka yang bersifat nyata adalah pikiran sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu
lantas ada:
Cogito ergo sum! (saya berpikir maka saya ada!). Descartes mulai menyusun filsafatnya
secara deduktif berdasarkan pernyataan yang baginya merupakan kebenaran yang tidak
diragukan lagi. Sebuah anekdot menceritakan bahwa setelah mengikuti filsafat Descartes,
seorang mahasiswa datang kepada profesor yang mengajarkan filsafat itu, "Saya masih merasa
ragu terhadap pernyataan Descartes itu. prof. Bahwa pikiran adalah satu-satunya kenyataan
yang tidak dapat diraguka Profesor itu tersenyum dan menatap dalam-dalam, "Siapa yang
masih merasa ragu tersebut, kawan yang terpelajar?" otak udangmu itu Locke sendiri
menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng lilin
yang licin (tabula rasa) di mana pengalaman indera kemudian melekat pada lempeng tersebut.
Makin lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kombinasi dari
pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian lama kian rumit.
Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menyimpan
pengalaman Berkeley terkenal dengan pernyataannya, "To be is to be perceived ada adalah
disebabkan persepsi tertawa, menangis dan jatuh cinta: semua itu kimia fisika juga Apakah
pengetahuan yang saya dapatkan ini bersumber pada kesadaran mental ataukah rangsang
penginderaan belaka? Semua permasalahan ini telah menjadi bahan kajian dari ahli-ahli filsafat
sejak dahulu kala. Tersedia segudang filsafat dalam menjawabnya. Kita bisa setuju dengan
mereka dan kita pun bisa tidak setuju dengan mereka. Bahkan, kita pun boleh mengajukan
jawaban filsafati kita ilmuwan boleh mempunyai filsafat individual Jadi pada dasarnya tiap
yang berbeda-beda: dia bisa menganut paham mekanistik;
Dia bisa menganut paham vitalistik; dia boleh setuju dengan Thomas Hobbes yang
materialistik atau George Berkeley yang idealistik. sifat pragmatis Titik pertemuan kaum
ilmuwan dari semua ini adalah dari ilmu. Sekiranya terdapat dua orang dokter yang sedang
mengukur tekanan darah seseorang dan mengaitkannya dengan kadar cholesterol di dalamnya,
maka bahwa yang seorang termasuk kubu mekanistik serta yang seorang lagi termasuk kubu
vitalistik, dalam proses pemeriksaan medis ini komitmen filsafati mereka adalah tidak lagi.
Baru setelah kedua orang dokter itu selesai bekerja dan menggantungkan jubah putihnya,
mereka berpisah dengan memilih koridor spiritualnya masing-masing yang berbeda, dalam
berkontemplasi dan memberikan makna.
"Betapa luhurnya manusia," bisik dokter yang satu. (Pasiennya yang tadi adalah
seorang tua yang sudah uzur: menderita tekanan darah tinggi dan sudah renta, namun terpaksa
membanting tulang untuk menghidupi keluarganya) Ah, nunc scio guid sit Amor Akhirnya
kutahu juga wajah cinta.Betapa keroposnya manusia bisik dokter yang lainnya (dalam buka
kecilnya tercatat: cholesterol 350, tekanan darah 90x180, kencing manis asma, eacetera.)
Untuk siapa lonceng berklenengan, Hemingway, yang mengelus duka. yang menggurat
makna?