Anda di halaman 1dari 6

PELAYANAN KUSTA

No.Dokumen :
No. Revisi :-
Tanggal Terbit : 01 Oktober 2018 Ditetapkan Oleh
Kepala PPK BLUD
SOP Halaman : 1/6
UPT Puskesmas CIpadu
Dinas Kesehatan
Kota Tangerang dr. Hj. ANY ERNAWATI
NIP. 196802212002122004

1. Pengertian Kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium Leprae yang terutama menyerang saraf tepi, kulit dan
organ tubuh lain kecuali susunan syaraf pusat.
2. Tujuan Memberikan penanganan yang cepat dan tepat pada pasien
penyakit Kusta di UPT Puskesmas Cipadu.
3. Kebijakan Keputusan Kepala PPK BLUD UPT Puskesmas Cipadu No. tentang
Pelayanan Klinis.
4. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015.
5. Langkah-langkah 1. Petugas menekan tombol antrian untuk memanggil pasien sesuai
nomor urut, Apabila tidak ada respon dari pasien maka petugas
mencoba memanggil secara lisan sebanyak 3 kali, bila tetap tidak
ada respon petugasmelanjutkan memanggil nomor antrian
selanjutnya dan mengembalikan rekam medis pasien ke Unit
pendaftaran.
2. Petugas menanyakan kepada pasien, apakah ada bercak pada
kulit yang mati rasa, rasa kesemutan atau nyeri pada anggota
badan, adanya cacat (Deformitas), luka yang tidak sakit.
Kemudian dicatat pada kartu rekam medis
3. Petugas melakukan pemeriksaan fisik :
 Periksa rasa raba pada kelainan kulit untuk mengetahui
hilangnya rasa (dengan menggunakan kapas yang
diruncingkan ujungnya)
 Pemeriksaan saraf tepi
 Pemeriksaan dilakukan pada saraf Ulnaris pada siku,
Peroneus Lateralis di belakang lutut dan Tibialis Posterior di
bawah mata kaki bagian dalam.
 Perabaan (Palpasi) Saraf, perhatikan:
A. Apakah ada penebalan/pembesaran
B. Apakah saraf kiri dan kanan sama besarnya
C. Apakah ada nyeri pada saraf yang diraba
 Pemeriksaan Fungsi Saraf
 Fungsi Motorik Saraf Facialis
 pasien diminta memejamkan mata
 Dilihat dari depan/samping apakah mata
tertutup dengan sempurna atau ada celah
 Bagi mata yang menutup tidak rapat,
diukur lebar celahnya lalu dicatat.
 Fungsi Sensorik Saraf Ulnaris dan Medianus
 Posisi pasien: tangan yang akan diperiksa
bertumpu pada tangan kiri pemeriksa,
sehingga semua ujung jari tersangga
 pasien diminta menutup mata atau
menoleh kearah berlawanan dari tangan
yang diperiksa
 Pemeriksa menyentuhkan ujung bolpen
pada telapak tangan pasien
 pasien diminta menunjuk tempat yang
dirasa disentuh
 Fungsi Sensorik Saraf Tibialis Posterior
 Kaki kanan pasien diletakkan pada paha
kiri, usahakan telapak kaki menghadap ke
atas
 Tangan kiri pemeriksa menyangga ujung
jari kaki pasien
 Cara pemeriksaan sama seperti pada
pemeriksaan fungsi sensorik saraf Ulnaris
dan Medianus
 Fungsi Kekuatan Otot (Saraf Ulnaris,
Medianus dan Radialis)
 Jari Kelingking (Saraf Ulnaris)
 Tangan kiri pemeriksa memegang
ujung jari 2,3 dan 4 tangan kanan
pasien dengan telapak tangan pasien
menghadap ke atas dan posisi
ekstensi
 Minta pasien mendekatkan dan
menjauhkan kelingking dari jari-jari
lainnya. Bila pasien dapat
melakukannya,
 minta ia menahan kelingkingnya pada
posisi jauh dari jari lainnya, dan

2/2
kemudian ibu jari pemeriksa
mendorong pada bagian pangkal
kelingking
 Penilaian:
 Bila jari kelingking pasien tidak
dapat mendekat atau menjauh dari
jari lainnya berarti sudah lumpuh
 Bila jari kelingking pasien tidak
dapat menahan dorongan
pemeriksa berarti lemah
 Bila jari kelingking pasien dapat
menahan dorongan pemeriksa
berarti masih kuat
 Minta pasien menjepit sehelai kertas
yang diletakkan diantara jari manis
dan kelingking,lalu pemeriksa menarik
kertas tersebut sambil menilai ada
tidaknya tahanan/jepitan terhadap
kertas tersebut
 Penilaian:
 Bila kertas terlepas dengan mudah
berarti kekuatan otot lemah
 Bila ada tahanan terhadap kertas
berarti otot masih kuat
 Ibu Jari (Saraf Medialis)
 Tangan kanan pemeriksa memegang
jari telunjuk sampai kelingking tangan
kanan pasien agar telapak tangan
pasien menghadap ke atas, dan
dalam posisi ekstensi
 Ibu jari pasien ditegakkan ke atas
sehingga tegak lurus terhadap
telapak tangan pasien, dan pasien
diminta untuk mempertahankan
posisi tersebut
 Jari telunjuk pemeriksa menekan
pangkal ibu jari pasien yaitu dari
bagian batas antara punggung dan
telapak tangan mendekati telapak
tangan
 Penilaian

3/2
 Bila ada gerakan dan tahanan kuat
berarti masih kuat
 Bila ada gerakan dan tahanan
lemah berarti sudah lemah
 Bila tidak ada gerakan berarti
lumpuh
 Pergelangan Tangan (Saraf Radialis)
 Tangan kiri pemeriksa memegang
punggung lengan bawah tangan
kanan pasien
 pasien diminta menggerakkan
pergelangn tangan kanan yang
terkepal ke atas (ekstensi)
 pasien diminta bertahan pada posisi
ekstensi (ke atas) lalu dengan
tangan kanan pemeriksa menekan
tangan pasien ke bawah kea rah
fleksi
 Penilaian:
 Bila ada gerakan dan tahanan
kuat berarti masih kuat
 Bila ada gerakan dan tahanan
lemah berarti lemah
 Bila tidak ada gerakan berarti
lumpuh
 Fungsi Motorik Saraf Peroneus
 Dalam keadaan duduk penderia
diminta mengangkat ujung kaki
dengan tumit tetap terletak di
lantai/ekstensi maksimal
 pasien diminta bertahan pada posisi
ekstensi tersebut lalu pemeriksa
dengan kedua tangan menekan
punggung kaki pasien ke
bawah/lantai
 Penilaiaan:
 Bila ada gerakan dan tahanan
kuat berarti kuat
 Bila ada gerakan dan tahanan
lemah berarti lemah

4/2
 Bila tidak ada gerakan berarti
lumpuh (ujung kaki tidak bisa
ditegakkan ke atas)

Tipe PB < 10 10.14 tah >15 Keterangan


tahun un tahun
Berdasar 450 600 Minum di
kan berat mg/bulan mg/bulan depan petugas
badan 50 mg 100 mg Minum di
50 mg/hari 100 depan petugas
DDS
mg/hari Minum di
rumah
4. Petugas mencatat semua hasil pemeriksaan fisik pada kartu
pasien
5. Petugas membuat Diagnosa Kusta dan Klasifikasinya
Klasifikasi Penyakit Kusta menurut WHO :
Tanda Utama PB MB
Bercak kusta Jumlah 1 s/d 5 Jumlah > 5
Penebalan saraf tepi yang Hanya satu saraf Lebih dari satu
disertai dengan gangguan BTA negatif saraf
fungsi BTA positif
Sediaan apusan

6. Petugas mencatat diagnosa dan klasifikasi pada kartu pasien


7. Petugas memberikan terapi Kusta dengan Regimen MD

Tipe < 10 10.14 ah >15 tahun Keterangan


MB tahun un
Rifampi Berdasar 450 600 Minum di
cin kan berat mg/bulan mg/bulan depan petugas
badan 50 100 Minum di
mg/bulan mg/bulan depan petugas
DDS
50 mg/hari 100 Minum di
mg/hari rumah
100 300 Minum di
Clofazi 150 mg
mg/bulan mg/bulan depan petugas
min
50 mg, 50 mg, 50 mg Minum di
(Lampre
2xseming Setiap 2 tiap hari rumah
n)
gu hari

Dosis MDT bagi anak < 10 tahun:


Rifampicin : 10-15 mg/kgBB

5/2
DDS : 1-2 mg/kgBB
Clofazimin : 1 mg/kgBB
8. Petugas mencatat terapi yang diberikan di rekam medis
9. Petugas mengucapkan terima kasih dan semoga lekas sembuh

6. Diagram Alir -
7. Unit terkait 1. Unit Pendaftaran
2. Unit Obat
3. Unit Laboratorium
8. DokumenTerkait 1. Rekam Medis
2. Form Resep
3. Buku Register
4. Form Kusta

6/2