Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PERADABAN ISLAM PRA KEMERDEKAAN DI INDONESIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah

Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu :

Moh. Abdul Wahab Tsalatsa, M.Pd.I

Disusun Oleh Kelompok 10 :

Siti Febiyanti Khoiriyah (12308183013)

Wit Tutur (12308183024)

Rodlotul Janah Amalia Rachma A (12308183048)

Erny Indah Aryati Aryaningrum (12308183051)

JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM -1 A


FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) TULUNGAGUNG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan terimakasih
atas bantuan teman-teman semua yang telah membantu menyelesaikan makalah dari dosen
kami Bapak Moh. Abdul Wahab Tsalatsa, M.Pd.i selaku pengampu materi sejarah peradaban
islam.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Tulungagung, 05 Nopember 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii

BAB I PEDAHULUAN ......................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ........................................................................................................ 1
C. Tujuan ........................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................ 2

A. Teori Kedatangan Agama Islam di Indonesia ................................................................ 2


B. Sejarah Awal Masuknya Islam ke Indonesia ................................................................. 3
C. Agama dan Kekuatan Politik pada Masa Kolonialisme ................................................ 4

BAB III PENUTUP .................................................................................................................. 8

A. Kesimpulan ................................................................................................................... 8
B. Saran ............................................................................................................................. 8

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada seluruh umat
manusia. Agama Islam pertama kali diajarkan Rasulullah di Mekkah ditengah-tengah kaum jahiliyah.
Setelah kurang lebih 13 tahun berdakwah di Mekkah, kemuadian beliaupun hijrah ke Madinah dan
menyebarkan agama Islam disana. Setelah Rasulullah SAW wafat, maka penyebaran agama Islam
diteruskan oleh para sahabat, tabi’in, para wali, para ulama, dan para tokoh perjuangan Islam dari satu
tempat ke tempat lain. Akhirnya agama Islam pun tersebar dari jazirah Arab sampai Eropa, Afrika,
India, China, dan Indonesia. Proses penyebaran Islam tersebut berlangsung secara bertahap dan
berkesinambungan dengan berbagai cara. Yang lebih mengagumkan lagi, masuk dan diterimanya
agama Islam di Indonesia bukan melalui jalan kekerasan, namun melalui hubungan dagang maupun
kontak social kemasyarakatan yang terjalin secara baik. Dalam lembar sejarah di tanah air, hampir
tidak ada ditemukan besar dalam penyebaran agama Islam, baik yang dilakukan oleh para saudagar
dari mancanegara maupun oleh para wali dan ulama di tanah air. Para pendakwah dalam menyebarkan
agama Islam selalu mampu menunjukkan kepada para penduduk di negeri yang ereka datangi dengan
berdakwah secara persuasive. Dakwah secara persuasive adalah dakwah melalui pendekatan baik itu
pendekatan tradisi, adat, maupun budaya. Bahkan para wali songo mampu mengemas dakwah mereka
melalui pendekatan tradisi, adat, dan budaya lokal. Sehingga penerimaan agama Islam lebih merasuk
kedalam hati masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Teori Kedatangan islam di Indonesia?


2. Bagaimana Sejarah awal masuknya islam Indonesia?
3. Bagaimana Agama dan kekuatan politik pada masa Kolonialisme?

C. Tujuan
1. Mengetahui teori kedatangan islam di Indonesia.
2. Mengetahui sejarah awal masuknya islam di Indonesia.
3. Mengetahui agama dan kekuatan politik pada masa kolonialisme.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Kedatangan Agama Islam di Indonesia


Banyak teori yang mengatakan bahwa Indonesia telah memiliki peradaban yang tinggi sejak
zaman pra-sejarah. Bahkan ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa, sebuah wilayah yang
dimaksud Plato (seorang filsuf Yunani yang hidup sekitar abad ke-4 SM), yang dimaksud sebagai
kota atau Negara dengan peradaban yang tinggi kemudian musnah dalam semalam oleh sebuah
bencana alam yang maha dahsyat itu adalah Indonesia. Sebuah teori juga mengatakan bahwa
bencana alam yang maha dahsyat yang dimaksud adalah letusan gunung Toba yang membuat
Indonesia berubah menjadi bentuk gugusan kepualauan yang terdiri dari beberapa pulau-pulau
besar dan sepuluh ribu lebih pulau-pulu kecil. Hingga saat ini, dampak dari letusan gunung Toba
dapat pula kita lihat berupa danau Toba yang ditengahmya terdapat pulau Samosir. Menurut para
ahli, sebenarnya pulau Samosir tersebut adalah ana gunung toba yang sewaktu-waktu bias meletus
kembali.
Kembali kepada teori kedatangan agama Islam di Indonesia, menurut para sejarawan, proses
masuknya agama Islam ke Indonesia tidak berlangsung secara revolusioner, cepat, dan tunggal,
melainkan ber-evolusi, lambat laun, dan sangat beragam. Ada 4 teori mengenai kedatangan
Agama Islam di Indonesia, yaitu :

a. Teori Mekkah
Teori Mekkah diperkenalkan oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang kita kenal
dengan nama Buya Hamka. Seorang ulama dan sastrawan terkemuka di Indonesia. Beliau
menolak seluruh anggapan para sejarawan barat yang mengatakan bahwa Islam dating ke
Indonesia tidak lagsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan rujukan oleh Buya Hamka
adalah sumber local Indonesia dan sumber arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan Islam ke
Indonesia tidak dilandasi oleh factor ekonomi, melainkan didorong oleh motovasi spirit
penyebaran agama Islam (dakwah). Dalam oandangan Buya Hamka, jalur perdagangan antara
Aran dan Indonesia telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.

b. Teori Gujarat
Teori Gujarat menyatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat
pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat sendiri terletak di India bagian barat, berdekatan
dengan laut Arab. Teori ini kebanyakan dipakai olh sejarawan dari Barat dan kaum Orientalis.
c. Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatagan Islam ke Indonesia berasal dari Persia atau
Iran. Pencetus teori ini adalah Hoesein Djadjadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam
memberikan analisisnya, Hoesein lebih menitikberatkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang
berkembang antara masyarakat Persia dan Inopnesia.tradisi tersebut antara lain tradisi merayakan
10 Muharram atau Assyuro, sebagai hari suci kaum Syi’ah atas kematian Husein bin Ali, cucu
nabi Muhammad SAW, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman, Sumatera
Barat. Istilah “tabut” yang berarti keranda, diambil dari bahasa arab yang ditransmisikan melalui
bahasa Persi.

d. Teori China
Teori China mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa)
berasal dari para perantau China. Orang China telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia
jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindhu-Budha, etnis China telah berbaur
dengan penduduk Indonesia terutama melalui kontak dagang. Bahkan ajaran Islam telah sampai di
China pada abad ke-7 M, yang menurut satu riwayat, agama Islam dibawa ke China oleh salah
seorang sahabat nabi yang bernama Saad bin Abi Waqqas. Konon, pada masa dinasti Tang (618-
960) di daerah kanton, Guang Zhou, dan pesisir selatan China telah banyak berdiri pemukiman
muslim. Bukti-bukti yang menguatkan teori China ini adalah terdapat banyak masjid-masjid yang
berarsitektur Tiongkok di kota-kota pelabuhan di pesisir utara pulau Jawa. Pelabuhan penting
sepanjang abad 13-15 M seperti Gresik. Misalnya menurut catatan-catatan China, banyak terdapat
para pedagang China yang mengelola usaha mereka disana.

Semua teori-teori diatas masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Tidak
ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut. Yang pasti,
kedatangan agama Islam ke Indonesia tidak berasal dari satu tempat, satu kelompok, dan tidak
dalam waktu yang bersamaan pula.

B. Sejarah Awal Masuknya Islam ke Indonesia


Ada dua teori yang banyak dipakai dalam penulisan sejarah awal masuknya Islam ke
Indonesia, yaitu:
1. Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat
pada abad ke-7 H atau abad ke 13 M. Gujarat ini terletak di India bagian barat, berdekatan
dengan laut Arab. Tokoh yang mensosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari
Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari universitas
Leiden pada abad ke19.
2. Teori China
Teori China mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia melalui 2 jalur. Jalur
pertama, para pendakwah dari China tiba terlebih dahulu di kerajaan Champa. Setelah
beberapa saat bermukim disana, mereka melanjutkan dakwah ke Indonesia yang pada masa
itu dibawah kekuasaan imperium Kerajaan Majapahit. Para pendakwah mendarat di kota
pelabuhan terbesar saat itu, Gresik. Sedangkan jalur kedua, para pendakwah berlayar menuju
Philipina, Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku Utara.

Dari kedua teori diatas, keduanya bermuara pada sekelompok pendakwah yang berdakwah
di tanah Jawa yang pada masa itu masyarakatnya masih menganut agama Hindu Syiwa dan
Budha. Kedua agama tersebuat adalah agama resmi kerajaan Majapahit, yang pada masa itu
menguasai seluruh wilayah Indonesia hingga Singapura (Temasek) dan Malaysia (Malaka).
Para pendakwah yang dating ke tanah Jawa itulah yang kita kenal sekarang sebagai Wali
Songo.

Para wali tersebut datang ke tanah jawa sekitar awal abad ke-14 M, dimulai dengan
kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang mendarat di kota pelabuhan Gresik. Syekh
Maulana Malik Ibrahim yang dikenal dengan Sunan Gresik adalah orang Arab yang telah
lama menetap di Gujarat India. Di Gujarat, beliau disamping seorang pendakwah juga
seorang pedagang ( mengikuti cara hidup Nabi Muhammad SAW). Setelah dakwah beliau
berhasil dan mayoritas penduduk Gujarat beragama Islam, barulah beliau melanjutkan
ndakwahnya ke Indonesia. Kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim, tidak hanya
“membenarkan” teori Gujarat yang banyak digunakan sejarawan Belanda, tetapi juga
membenarkan teori Mekkah yang ditulis oleh Buya Hamka.

Adapun teori China, dipakai untuk kedatangan Sunan Bonang ke tanah Jawa. ,eski tidak ada
catatan yang menyebutkan dimana Sunan Bonang pertama kali mendarat, walaupun beliau
dating tidak lama setelah Sunan Gresik, namun yang dicatat sejarah adalah bahwa beliau
adalah seorang keturunan China yang bermukim di Champa, kemudian datang ke Indonesia
untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Dari Sunan Bonang inilah yang
keturunannya banyak memiliki kekerabatan dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia.

C. Agama dan Kekuatan Politik pada Masa Kolonialisme


Agama Islam berkembang di Indonesia berlangsung selama berabad-abad. Pemeluk agama
Islam di Indonesia yang pertama meliputi para pedagang yang segera disusul oleh orang-orang
kota, baik dari lapisan atas maupun lapisan bawah. Menganut agama Islam merupakan senjata
bagi mereka untuk melawan musuh dari luar dan dalam. Bahaya dari dalam adalah masuknya
agresor-agresor perdagangan dan agama barat di kawasan Asia Tenggara yaitu orang-orang
Portugis yang muncul sebagai unsure kekuasaan di Asia Tenggara pada permualaan abad ke-16.
Denga keyakinan bahwa membaptiskan orang-orang disana kedalam agama Kristen, maka
mereka akan menghapuskan monopoli Islam dalam perdagangan rempah-rempah, kemudian
muncul pengancam baratlainnya yaitu VOC. Berdeda dengan orang-orang Portugis yang
dilawannya mati-matian dan akhirnya diusir dari Malaka dan dari benteng-benteng pertahanan
lainnya di Indonesia, orang Belanda tidak memperdulikan penaklukan yang bersifat agama
dibandingkan dengan keuntungan-keuntungan dibidang perdagangan.
Persaingan dan perang-perang perebutan tahta antara penguasa yang telah menjadi Islam
tidak jarang memberikan kesempatan kepada orang Portugis dan Belanda untuk mencari alasan
mencampuri urusan politik Indonesia. Namun, kebanyakan perlawanannya yang dijumpai
Portugis dan Belanda menggumpal disekitar agama Islam. Silam tetap melanjtkan peranannhya
selama berabad-abad sebagai pusat perlawanan terhadap campur tangan barat dan kelak terhadap
pemerintahan colonial Belanda.

Pentingnya politik Islam Indonesia termasuk Islam Jawa, sebagian besar berakar pada
kenyataan bahwa didalam Islam batas antara agama dan politik sangatlah tipis. Islam adalah suatu
way of life dan agama. Sebagaimana didalam masyarakat islam lainnya, guru-guru agama dan
para kyai serta ulama, sejak awal merupakan unsure social yang penting dalam masyarakat
Indonesia. Ancaman Islam yang dilakukan para priyayi meskipun telah memeluk agama islam
tetapi mereka tetap melangsungkan kebudayaan aristokrasinya sendiri yang pada umumnya
bertentangan dengan kebudayaan santri dan para ulama yang sedang tumbuh. Kemerosotan ini
merupakan akibat yang tidak dapat dihindarkan dari kekuasaan Belanda di Indonesia yang
kenyataannya membuat raja-raja Indonesia menjadi alat kekuasaan Kristen. Sejak pertengahan
abad ke-19 dan seterusnya, agama Islam di Inonesia secara bertahap mulai menanggalkan sifat-
sifatnya yang sinkretik.

Memasuki awal abad ke-20, masyarakat Indonesia mulai mengalami transformasi social,
politik, ekonomi, dan budaya yang cepat serta pengaruh dari dunia luar. Dalam konteks perubahan
atau pembaharuan inilah masyarakat Islam di Indonesia merasa perlu untuk memiliki organisasi
yang dapat mengayomi umat dalam bidang agama maupun politik. Berikut ini empat organisasi
Islam yang berkembang di Indonesia yang mengurus bidang keagamaan dan juga politik umat
Islam di Indonesia:

1. Muhammadiyah
Ketika Muhammadiyah didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan pada tahin 1912, umat islam
sedang dalam kondisi terpuruk. Bersama seluruh bangsa Indonesia, mereka terbelakang dalam
tingkat pendidikan yang sangat rendah. Selain itu kemakmuran ekonomi yang sangat parah
serta kemampuan politik yang sangat lemah. Lebih memprihatinkan lagi identitas keislaman
merupakan salah satu poin negative kehidupan umat. Islam pada waktu itu identik dengan
profil kaum santri yang selalu mengurusi kehidupan akhirat sementara seolah tidak mau tahu
dengan perkembangan dan persoalan zaman. Sementara lembaga organisasi keagamaan juga
masiih bergelut dengan urussn yang tidak banyak bersentuhan dengan dinamika realita social,
apalagi berusaha untuk meajukannya.

2. Persis (Persatuan Islam)


Persis sebagai organisasi berlabel modernis telsh memberikan warna baru bagi dinamika
peradaban Islam di Indonesia pada waktu itu. Persis yang lahir pada abad ke-20 merupakan
respons terhadap karakter keberagaman masyarakat Islam di Indonesia yang cenderung
sinkretik, akibat dari pengaruh prilaku keberagaman masyarakat Indonesia. Indonesia
sebelum memiliki organisasi Islam memang merupakan lahan subur bagi praktik
sinkretisme, akibat sikap akomodatif para penyebar Islam di Indonesia terhadap adat istiadat
yang sebelumnya telah mapan. Meskipun tidak dapat dipungkiri, bahwa keberhasilan
penyebaran agama Islam juga tidak lepas dari sikap akomodatif. Bagi Persis, praktik
sinkretisme merupakan kesatuan yang tidak boleh dibiarkan berkembang dan harus segera
dihapus karena bias merusak sendi-sendi fundamental agama Islam.

3. Nahdatul Ulama (NU)


NU lahir pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Organisasi ini diprakarsai oleh
sejumlah ulama terkemuka. Lahirnya NU bisa dikatakan sebagai kebangkitan para ulama.
NU didirikan untuk menampung gagasan keagamaan para ulama tradisional atau sebagai
reaksi atas prestasi ideology gerakan modernisasi Islam yang mengusung gagasan purifikan
puritanisme. Pembentukan NU merupakan upaya pengorganisasian dan peran para ulama,
pesantren, yang sudah ada sebelumnya. Agar wilayah kerja keulamaan lebih ditingkatkan,
dikembangkan, dan diluaskan jangkauannya. Dengan kata lain, didirikannya NU adalah
untuk menjadi wadah bagi usaha mempersatukan dan menyatukan langkah-langkah para
ulama dan kiai pesantren.

4. Masyumi
Masyumi didirikan pada 24 Oktober 1943 sebagai pengganti MIAI karena pada waktu itu
Jepang memerlukan satu badan untuk menggalang dukungan masyarakat Indonesia melalui
lembaga agama Islam. Meskipun demikian, Jepang tidak terlalu tertarik dengan partai-partai
Islam yang telah ada di zaman Belanda, yang kebanyakan berlokasi di perkotaan dan berpola
fikir modern, sehingga pada minggu-minggu pertama Jepang telah melarang Partai Sarikat
Islam Indonesia (PSII) dan Partai Islam Indonesia (PII).
Pada tanggal 7-8 Oktober, diadakan muktamar Islam di Yogyakarta dan dihadiri oleh hampir
semua tokoh organisasi Islam dari masa sebelum perang serta masa pendudukan Jepang.

Kongres memutuskan untuk mendirikan syuro pusat bagi umat Islam Indonesia. Masyumi
yang dianggap sebagai satu-satunya partai politik bagi umat Islam, pada awal berdirinya
Masyumi hanya empat organisasi yang masuk Masyumi, yaitu Muhammadiyah, NU,
Perserikatan Ulama Islam, dan Persatuan Umat Islam.

Beberapa tokoh Masyumi yang terkenal adalah:

 K.H Hasyim Asy’ari


 K.H Walid Hasyim
 H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka)
 Muhammad Natsir
 Syafrudin Prawiranegara

Dari empat organisasi tersebutdapat dipahami pembaharuan Islam yang berkenaan dalam
bidang politik, social, dan budaya yang bertujuan untuk memperbaiki Islam yang murni.oleh
karena itu ajaran islam bersifat universal, tidak saja dalam dimensi sejarah, akan tetapi
universal dalam dimensi sosiologis dan antropologis. Dengan demikian, Islam adalah agama
bagi semua zaman, dan bagi semua orang dalam berbagai posisi social, ekonomi, budaya, dan
politik. Sesuai dengan tujuannya bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa;

1. Islam yang datang ke Indonesia berasal dari berbagai tempat/teori, diantaranya


Mekkah, Gujarat, dan China, dimana satu sama lain memiliki pembenaran dan
bukti yang memperkuatnya.
2. Pada masa pra-kemerdekaan Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan,
namun menurut Buya Hamka, Islam datang ke Indonesia tidak atas dasar
perdagangan, melainkan memang para pembawa agama Islam berniat untuk
menyebarkannya ke wilayah Indonesia(waktu itu Nusantara).
3. Dalam upaya penyebarannya, Wali Songo melakukan dakwah dengan cara
akulturasi budaya. Yaitu dengan memasukkan ajaran-ajaran islam kedalam
kebudayaan-kebudayaan Nusantara yang pada waktu itu berkembang (Hindu-
Budha).
4. Pada masa pra kemerdekaan, Islam juga berkembang dalam bidang politik. Hal itu
dilakukan atas dasar perlunya menghimpun kekuatan untuk mempertahankan
Islam dan juga dalam upaya meraih kemerdekaan.
5. Islam sangat berperan besar dalam proses mengusir penjajah, partai-partai besar
Islam yang ada pada masa itu diantaranya NU, Muhammadiyah, Persis, dan
Masyumi.
B. Saran
Alhamdulillah akhirnya makalah ini berhasil kami susun. Kami sadar dalam
proses penyusunan hingga tersusunnya makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh
karena itu, kami akan sangat menghargai kritik dan saran dari rekan-rekan semua,
agar dalam penyusunan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Semoga dengan
adanya makalah ini dapat memberikan ,anfaat bagi kita semua. Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA

Ghaisan, Malik. 2018. Peradaban Islam pra kemerdekaan.


(https://maalikghaisan.blogspot.com/2018/02/peradaban-islam-pra-
kemerdekaan.html?m=1, diakses pada 05 Nopember 2018)

Huda Nor. 2007. Islam Nusantara : Sejarah sosial intelekktual islam di Indonesia.
Yogyakarta : Ar Ruzz Media.