Anda di halaman 1dari 17

25

BAB II
KLASIFIKASI TANAH

2.1 Klasifikasi Tanah

Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan


beberapa jenis tanah yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang
serupa kedalam kelompok-kelompok dan sub kelompok-kelompok
berdasarkan pemakaian-pemakaiannya. Sebagian besar sistem
klasifikasi tanah yang telah dikembangkan untuk tujuan rekayasa
didasarkan pada sifat-sifat indeks tanah yang sederhana seperti
distribusi ukuran dan plastisitas.

Dalam pandangan teknik sipil, tanah adalah himpunan mineral,


bahan organik, dan endapan-endapan yang relatif lepas (loose), yang
terletak di atas batuan dasar (bedrock). Ikatan antara butiran yang
relatif lemah dapat disebabkan oleh karbonat, zat organik, atau oksida-
oksida yang mengendap di antara partikel-partikel. Ruang di antara
partikel-partikel dapat berisi air, udara ataupun keduanya. Proses
pelapukan batuan atau proses geologi lainnya yang terjadi di dekat
permukaan bumi membentuk tanah. Pembentukan tanah dan batuan
induknya, dapat berupa proses fisik maupun kimia.

Proses pembentukan tanah secara fisik yang mengubah


batuan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil, terjadi akibat
pengaruh erosi, angin, air, es, manusia, atau hancurnya partikel tanah
akibat penibahan suhu atau cuaca. Partikel-partikel mungkin berbentlik
bulat, bergerigi inaupun bentuk-bentuk diantaranya. Umumnya,
pelapukan akibat proses kimia dapat terjadi oleh pengaruh oksigen,
karbondioksida, air (terutama yang mengandung asam atau alkali) dan
proses-proses kimia yang lain. Jika hasil pelapukan masih berada di
tempat asalnya, maka tanah ini disebut tanah residual (residual soil)
dan apabila tanah berpindah tempatnya, disebut tanah terangkut
(transported soil).

Istilah pasir, lempung, lanau atau lumpur digunakan untuk


menggambarkan ukuran partikel pada batas ukuran butiran yang telah
26

ditentukan. Akan tetapi, istilah yang sama juga digunakan untuk


menggambarkan sifat tanah yang khusus. Sebagai contoh, lempung
adalah jenis tanah yang bersifat kohesif dan plastis, sedang pasir
digambarkan sebagai tanah yang tidak kohesif dan tidak plastis.

Kebanyakan jenis tanah terdiri dan banyak campuran atau


lebih dari satu macam ukuran partikel. Tanah lempung belum tentu
terdiri dari partikel lempung saja, akan tetapi dapat bercampur dengan
butir-butiran ukuran lanau maupun pasir dan mungkm juga terdapat
campuran bahan organik. Ukuran partikel tanah dapat bervariasi dari
lebih besar 100 mm sampai dengan lebih kecil dari 0,001 mm.

2.1.1 Klasifikasi Berdasarkan Tekstur

Dalam arti umum, yang dimaksud dengan tekstur tanah adalah


keadaan permukaan tanah yang bersangkutan. Tekstur tanah
dipengaruhi oleh ukuran tiap-tiap butir yang ada didalam tanah. Pada
umumnya tanah asli merupakan campuran dari butir-butir yang
mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Dalam sistem klasifikasi tanah
berdasarkan tekstur, tanah diberi nama atas dasar komponen utama
yang dikandungnya, misalnya lempung berpasir, lempung berlanau
dan seterusnya.

2.1.2 Klasifikasi Berdasarkan Pemakaian

Klasifikasi berdasarkan tekstur adalah relatif sederhana karena


ia hanya didasarkan distribusi ukuran tanah saja. Dalam kenyataannya
jumlah dan jenis dari mineral lempung yang terkandung oleh tanah
sangat mempengaruhi sifat fisis tanah yang bersangkutan. Oleh
karena itu, kiranya perlu untuk memperhitungkan sifat plastisitas tanah
yang disebabkan adanya kandungan mineral lempung, agar dapat
menafsirkan ciri-ciri suatu tanah. Karena sistem klasifikasi
berdasarkan tekstur tidak memperhitungkan plastisitas tanah dan
secara keseluruhan tidak menunjukkan sifat-sifat tanah yang penting ,
maka sistem tersebut dianggap tidak memadai untuk sebagian besar
dari keperluan teknik. Pada saat sekarang ada dua sistem klasifikasi
tanah yang selalu dipakai oleh para ahli teknik sipil. Sistem-sistem
tersebut adalah: Sistem klasifikasi AASHTO dan Sistem klasifikasi
Unified.
27

Pada Sistem Klasifikasi AASHTO dikembangkan dalam tahun


1929 sebagai Plublic Road Adminis tration Classification Sistem.
Sistem ini sudah mengalami beberapa perbaiakan. Klasifikasi ini
didasarkan pada kriteria dibawah ini:

Ukuran butir :

Kerikil: bagian tanah yang lolos ayakan dengan diameter 75 mm dan


yang tertahan di ayakan No.20 (2mm).

Pasir: bagian tanah yang lolos ayakan No 10 (2mm) dan yang tertahan
pada ayakan No. 200 (0,075mm).

Lanau dan lempung: bagian tanah yang lolos ayakan No. 200.

Plastisitas:

Nama berlanau dipakai apabila bagian-bagian yang halus dari tanah


mempumyai indeks plastisitas sebesar 10atau kurang. Nama
berlempung dipakai bila mana bagian-bagian yang halus dari tanah
mempunyai indeks plastik sebesar 11 atau lebih.

Apabila batuan ( ukurannya lebih besar dari 75mm) ditemukan didalam


contoh tanah yang akan ditentukan klasifikasi tanahnya, maka batuan-
batuan tersebut harus dikeluarkan terlebih dahulu. Tetapi persentase
dari batuan yang dikeluarkan tersebut harus dicatat.

Sistem Klasifikasi Unified diperkenalkan oleh Casagrande


dalam tahun 1942 untuk digunakan pasa pekerjakaan pemnuatan
lapanagn terbang yang dilaksakan oleh The Army Corps of
Engineering selama perang dunia II. Dalam rangka kerja sama dengan
United States Bureauof Reclamation tahun 1952, sistem ini
disempurnakan.Sistem ini mengelompokkan tanah kedalam dua
kelompok besar yaitu:

1) Tanah berbutir kasr (coarse-grained-soil), yaitu: tanah kerikil dan


pasir dimana kurang dari 50% berat total contoh tanah lolos ayakan
No.200. Simbol dari kelompok ini dimulai dengan huruf awal G atau
S. G adalah untuk kerikil (gravel)atau tanah berkerikil dan S adalah
untuk pasir (sand) atau tanah berpasir.
28

2) Tanah berbutir halus (fine-granied-soil), yaitu tanah dimana lebih


dari 50% berat total contoh tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari
kelompok ini dimulai dengan huruf awal M untuk lanau (silt)
anorganik, C untuk lempung (clay) anorganik, dan O untuk lanau-
organikdan lempung-organik.

Simbol-simbol lain yang digunakan untuk klasifikasi USCS:

W : Well Graded ( tanah dengan gradasi baik )

P : Poorly Graded ( tanah dengan gradasi buruk )

L : Low Plasticity ( plasticitas rendah ) (LL<50)

H : High Plasticity ( plasticitas tinggi ) (LL>50)

2.1.3 Perbandingan antara Sistem AASHTO dengan Sistem


Unified

Kedua sistem klasifikasi, AASHTO dan Unified, adalah


didasarkan pada tekstur dan plastisitas tanah. Juga kedua sistem
tersebut membagi tanah dalam dua kategori pokok, yaitu: berbutir
kasar (coarse-grained) dan berbutir halus ( fine-grained), yang
dipisahkan oleh ayakan No. 200. Menurut sistem AASHTO, suatu
tanah dianggap sebagai tanah berbutir halus bilamana lebih dari 35%
lolos ayakan No. 200. Menurut sistem Unified, suatu tanah dianggap
sebagai tanh berbutir halus apabila lebih dari 50% lolos ayakan No.
200. Suatu tanah berbutir kasar yang megandung kira-kira 35%
butiran halus akan bersifat seperti material berbutir halus.

2.2 Berat Volume Tanah dan Hubungan-Hubungannya

Dalam tanah yang jenuh juga terdapat dua bagian yaitu bagian
padat atau butiran dan air pori. Dalam keadaan tidak jenuh, tanah
terdiri dari tiga bagian yaitu bagian dalam (butiran), pori-pori udara dan
air pori.
29

Gambar 2.1 Diagram Fase Tanah.

Dari memperhatikan gambar tersebut dapat dibentuk


persamaan :

1. W = Ws + Ww

2. V = Vs + Vw + Va

3. Vv = Vw + Va

Dengan:
Ws = Berat butiran padat
Ww = Berat air
Vs = Volume butiran padat
Vw = Volume air
Va = Volume udara
Vv = Volume rongga
V = Volume total

Hubungan–hubungan volume yang serimg digunakan


dalam mekanika tanah adalah kadar air (w),angka pori (e),
porositas (n) dan derajat kejenuhan (s).

Kadar air (w),adalah perbandingan anatara berat air (Ww),


dengan berat butiran padat (Ws)dalam tanah tersebut, nyatakan
dalam persen
30

Ww
w (%) =  100
Ws

Porositas (n), adalah perbandingan antara volume rongga


(Vv) dengan volume total (V).Nilai n dapat dinyatakan dalam
persen atau decimal

Vv
n=
V

Angka pori (e), didefinisikan sebagai perbandingan antara


volume rongga (Vv)dengan volume butiran (Vs), Biasanya juga
dinyatakan denan desimal

Vv
e=
Vs

Berat vuolume lembab atau basah, adalah perbandingan


antara berat butiran tanah termasuk air dan udara (W), dengan
volume total tanah (V).

W
b 
V

Dengan W = Ww + Ws + Wa (Wa = 0).bila ruang udara


terisi oleh air seluruhnya (Va = 0 ),maka tanah menjadi jenuh

Ws
d 
V

Berat volume butiran padat , adalah perbandingan anatara


berat butiran padat (Ws) dengan volume butiran padat (Vs).

Ws
s 
Vs
31

Berat spesifik atau berat jenis (specific grafity)tanah (Gs),


adalah perbandingan anatara berat volume butiran padat ,
dengan berat volume air , pada temperature 4 C

 s
Gs = w

Gs tidak berdimensi. Berat jenis dari berbagai jenis tanah


berkisara antara 2,65 sampai 2,75. Nilai berat jenis Gs = 2,67
biasanya digunakan untuk tanah –tanah tidak berkohesif .
sedang untuk tanah kohesif tak organic berkisar antara 2,68
sampai 2,72.

Hubungan antara angka pori dengan porositas

n e
e= atau n=
1 n 1 e

2.3 Mineral Lempung

2.3.1 Susunan Tanah Lempung

Pelapukan tanah akibat reaksi kimia menghasilkan


susunan kelompok partikel berukuran koloid dengan diameter
butiran lebih kecil dari 0,002 mm.yang disebut mineral lempung.

Kebanyakan tanah lempung terdiri dari silica tetrahydra


dan almunium oktahidra. Silika dan alumunium secara parsial
dapat digantikan oleh elemen yang lain dalam kesatuannya,
keadaan ini dikenal sebagai substitusi isomorf.

Kaolinite merupakan mineral dari kelompok kaolin, terdiri


dari susnan satu lembar silica tetrahedra dengan satu lembar
alumunium oktahedra dengan satuan susunan setebal 7,2 A.
Halloysite hampir sama dengan kaolinite, tetapi kesatuan yang
berurutan lebih acak ikatannya dan dapat dipisahkan oleh
lapisan tunggal molekul air.

Montmorillonite , disebut juga smectite, adalah mineral


yanag dibentuk oleh dua lembar silica dan satu lembar
32

alumunium (gibbsite). Tanah-tanah yang mengandung


montmorillonite sangat mudah mengembang oleh tambahan
kadar air. Tekanan pengembangannya yang dihasilkan dapat
merusak struktur ringan dan perkerasan jalan raya.

Illite adalah bentuk mineral lempung yang teriri dari


mineral-mineral kelompok illite. Bentuk susunan dasarnya terdiri
dari sebuah lembaran alumunium oktahedra yang terikat diantara
dua lembaran silica tetrahdra.

2.3.2 Pengaruh Air pada Tanah Lempung

Air biasanya tidak banyak mempengaruhi kelakuan tanah


non kohesif (granular), Sebagai contoh: kuat geser tanah pasir
mendekati sama pada kondisi kering maupun jenuh air. Tetapi,
jika air berada pada lapisan pasir yang tidak padat, beban
dinamis seperti gempa bumi dan getaran lainya sangat
mempengaruhi kuat gesernya.

Terdapat 3 mekanisme yang menyababkan molekul air


dipolar dapat ditarik oleh permukaan partikel lempung secara
elektrik :

1. Tarikan antara permukaan bermuatan negative dari partikel


lempung dengan ujung positif dari polar.

2. Tarikan antara kation-kation dalam lapisan ganda dengan


muatan negative dari ujung polar. Kation-kation ini tertarik
oleh permukaan partikel lempung yang bermuatan negative.

3. Andil atom-atom hydrogen dalam molekul air, yaitu dengan


ikatan hydrogen antara oksigen dalam partikel lempung dan
atom oksigen dalam molekul-molekul air.

Air yang tertarik secara elektris, yang berada disekitar


partikel lempung, disebut air lapisan ganda (Double-layer
water). Sifat plastis tanah lempung adalah akibat ekstensi dari
lapisan ganda. Air lapisan ganda pada bagian paling dalam yang
sangat kuat melekat pada partikel lempung , disebut air serapan
(absorbed water).Partikel tanah yang disusun oleh mineral
lempung akan sangat dipengaruhi oleh besarnya jaringan
33

muatan negative pada mineral, tipe, konsentrasi, dan distribusi


kation-kation yang berfungsi untuk mengimbangkan muatannya.

2.4 Susunan Tanah Granuler

Butiran tanah ang dapat mengendap pada suatu larutan


suspensi secara individu, tak bergantung pada pada butiran yang
lain akan berupa susunan tunggal. Sebagai contoh tanah pasir,
kerkil, atau beberapa campuran pasir dan lanau. Kerafatan
relative sangat berpengaruh pada sifat-sifat teknis tanah
granuler.

2.5 Analisis Ukuran Butiran

Sifat-sifat tanah sangat bergantung pada ukuran butiannya.


Besarnya butiran dijadikan dasar untuk pemberian nama dan
klasifikasi tanah. Oleh karma itu, analisis butiran ini merupakan
pengujian yang sangat sering dilakukan.

Analisis ukuran butiran tanah adalah adalah penentuan


persentase berat butiran pada suatu unit saringan, dengan
ukuran diameter lubang tertentu.

a. Tanah Berbutir Kasar

b. Tanah berbutir Halus

Distribusi ukuran butiran tanah berbutir halus atau


bagian berbutir kasar dari tanah,dapat ditentukan denagan cara
sedimentasi. Metode ini didasarkan pada hokum Stokes,yang
berkenaan dengan kecepatan mengendap butiran pada larutan
suspensi.

Menurut Stokes, kecepatan mengendap butiran dapat


ditentukan dari persamaan :
34

 s  w
v=  D2
1 s

Dengan :
v = Kecepatan, sama dengan jarak/waktu ( I/t)
w = Berat volume Air (g/cm 3 )
 sDengan
= : Berat volume butiran padat (g/cm 3 )
 = Kekentalan air absolute (g.det/cm 2 )
D = Diameter butiran tanah (mm)

2.6 Batas Cair (Liquid Limit)

Batas cair (LL),didefiisikan sebagai kadar air tanah pada


batas antara keadan cair dan keadan plastis, yaitu baas atas dari
daerah plastis , Batas cair biasanya ditentukan dari uji
Casagrand test (1948).

2.6.1 Batas Plastis (Plastic Limit)

Batas plastis (PL), didefinisikan sebagai kadar air pada


kedudukan antara daerah plastis dan semi padat, yaitu
persentase kadar air dimana tanah dengan diameter selinder 3,2
mm mulai retak-retak ketika digulung.

2.6.2 Batas Susut (Shringkage Limit)

Batas susut (SL), didefinisikan sebagai kadar air pada


kedudukan antara daerah semi padat dan padat, yaitu
persentase kadar airdimana pengurangan kadar air selanjutnya
tidak mengakibatkan perubahan volume tanah. Percobaan batas
susut dilaksanakan dalam laboratorium dengan cawan porselin
diameter 44,4 mm dengan tinggi 12,7 mm. Bagian dalam cawan
dilapisi dengan pelumas dan diisi dengan tanah jenuh
sempurna . Kemudian dikeringkan dalam oven, volume
ditentukan dengan mencelupkannya dengan air raksa .
35

Batas susut dinyatakan dalam persamaan :

( M 1  M 2) (V 1  V 2).  W
SL = {  }  100%
M2 M2

Dengan :
m1 = Berat tanah basah dalam cawan percobaan (g)
m2 = Bert tanah kering dalam oven (g)
v1 = Volume tanah basah dalam cawan (cm 3 )
v2 = Volume tanah kering dalmam oven (cm 3 )
w = Berat volume air (g/cm 3 )

Hubungan variasi kadar dan volume total tanah pada


kedudukan batas cair, batas plastis dan batas susut. Batas-batas
atterberg sanagat berguna untuk identifikasi dan klasifikasi
tanah. Batas-batas ini sering digunakan secara langsung dalam
spesifikasi, guna mengontrol tanah yang akan digunakan untuk
membangun stuktur urugan tanah.

2.6.3 Indeks Plastisitas (Plasticity Indeks)

Indeks plastisitas (PI),adalah selisih batas cair dan batas


plastis.

PI = LL – PL

Indeks plastisitas (PI) merupakan interval kadar air


dimana tanah masih bersifat plastis. Karena itu, indeks plastisitas
menunjukkan sifat keplastisan tanah. Jika tanah mempunyai (PI)
tinggi, maka tanah mengandung banyak butiran lempung dan
jika tanah mepunyai (PI), rendah ,seperti lanau , sedikit
penurangan kadar air berakibat tanah menjadi kering.

2.6.4 Indeks Cair (Liquidity Indeks)

Kadar air tanah asli relative pada kedudukan plastis dan


cair dapat didefinisikan oleh indeks cair (liquidity indeks),LI, dan
dinyatakan menurut persamaan :
36

wN  PL wN  PL
LI = LL  PL  PI

Dengan :

Wn = Kadar air dilapangan

Jika Wn = LL, maka LI = 1,sedangkam jika Wn = PL


,maka LI = 0. Jadi untuk lapisan tanah asli yang didalam
kedudukan plastis . nilai LL >Wn > PL.Jika kadar air bertambah
dari PL menuju LL ,maka LI bertambah dari 0 sampai 1. lapisan
tanah asli dengan wN > LI ,akan mempunyai LL > 1. Tapi jika wN
kurang dari PL ,LI akan negative.

2.7 Aktivitas

Ketebalan air mengelilingi butiran tanah lempung


tergantung dari macam mineralnya. Jadi, dapat diharapkan
plastisitas tanah lempung tergantung dari :
1. Sifat mineral lempung yang ada paeda butiran
2. Jumlah mineralnya

Bila ukuran butiran semakin kecil, maka luas permukaan


butiran semakin besar. Pada konsep Atterberg,jumlah air yang
tertarik oleh permukaan partikel tanah akan bergantung pada
jumlah partikel lempung yang ada didalam tanah. Berdasarkan
alasan ini , Skempton (1953)mendeifinisikan aktivitas sebagai
perbandingan antara indeks plastisitas dengan persen fraksi
ukuran lempung (yaitu persen dari berat butiran yang lebih kecil
dari 0,002 mm atau 2  m).

2.8 Klasifikasi Tanah

Hasil penyelidikan sifat-sifat ini kemudian dapat


digunakan untuk mengevaluasi masalah-masalh tertentu seperti :
1. Penentuan penurunan bangunan, yaitu dengan menentukan
kompresibilitas tanah. Drai sini , selanjutnya digunakan dalam
persamaan penurunan berdasarkan pada teori konsolidasi,
misalnya teori terzaqhi
37

2. Penentuan kecepatan air yang mengalir lewat benda uji guna


menghitung koefisien permeabilitas, dari sini kemudian
dihubungkan dengan hokum Darcy dan jarring arus (flow
net), untuk menentukan debit aliran yang lewat pada struktur
tanah.
3. Untuk mengevaluasi stabiitas tanah yang miring, yaitu
dengan menentukan kuat gaser tanah, dari sini kemudian
disubtitusikan dalam rumus statiska (Stabilitas lereng).

Klasifikasi tanah sangat membantu perancang dalam


memberikan pengarahan melalui cara empiris yang tersedia dari
hasil pengalaman yang telah lalu. Tetapi, perancang harus
berhati-hati dalam penerapannya, karena penyesuaian stabilitas ,
kompresi (penurunan), aliran air yang didasarkan pada klasifikasi
tanah sering menimbulkan kesalahan.

Umumnya klasifikasi tanah didasarkan atas ukuran


partikel yang diperoleh dari analisis saringan dan uji sedimentasi
kemudian juga plastisitas. Terdapat dua system klasifikasi yang
sering digunakan, yaitu Unifield Soil Clasification Sistem dan
AASHTO (American Assoction Of State Highway And
Transfortation Officials). Sistem-sistem ini mnggunakan sifat-sifat
indeks tanah yang sederhana seperti distribusi ukuran butiran ,
batas air cair dan indeks plastisitas.

2.8.1 Sistem Klasifikasi Unifield

Pada system unifield, tanah diklasifikasikan kedalam


tanah berbutir kasar (kerikil dan pasir), jika kurang dari 50 %
lolos saringan nomor 200, dan sebagai tanah berbutir halus
(lanau/lempung), jika lebih dari 50% lolos saringan nomor 200.

Selanjutnya, tanah diklasifikasikan dalam sejumlah


kelompok atau sub kelompok. Simbol-simbol yang dapat
digunakan :
G = Kerikil (gravel)
S = Pasir (Sand)
C = Lempung (Clay)
M = Lanau (Silt)
O = Lanau atau lempung organik (Organik Silt Or Clay)
38

Pt = Tanah gambut dan tanah organic tinggi (Peat And


Highly Organiks Soil)
W = Gradasi baik (Well-Graded)
P = Gradasi buruk (Poorly-Graded)
H = Plastisitas tinggi (High-Plasticity)
L = Plastisitas rendah (Low-Plastisitas)

2.8.2 Sistem Klasifikasi AASHTO

Sistem klasifkasi AASHTO (American Association Of


State Highway And Transportation) Berguna untuk menentukan
kwalitas tanah untuk perencanaan timbunan jalan, Subbase dan
Subgrade.

Sistem klasifikasi AASTHO membagi tanah kedalam 8


kelompok, A-1 sampai A-8 termasuk sub-sub kelompok. Tanah-
tanah dalam tiap kelompoknya dievaluasi terhadap indeks
kelompoknya yang dihitung dengan rumus-rumus empiris.
Pengujian yang digunakan adalah analisis saringan batas-batas
Atterberg.

Indeks kelompok (Group indeks)(GI) Digunakan untuk


mengevaluasi lebih lanjut tanah-tanah dalam kelompoknya.
Indeks kelompok dihitung dengan persamaan :

GI = (F-35)[0,2 + 0,005)(LL-40)]+0,01 (F-15)(PI-10)

Dengan:
GI = Indeks kelompok (group indeks)
F = Persen butiran lolos saringan no.200(0,75 mm)
LL = Batas cair
Pi = Indeks plastisitas

Istilah tanah dalam Ilmu Mekanika Tanah mencakup bahan dari


tanah lempung (clay) sampai dengan batuan (gravel), dimana ada
beberapa jenis tanah sebagai berikut:

1. Pasir Lepas (loess sand), adalah deposit pasir dengan kepadatan


rendah. Jika pondasi mesin berada di atas pasir lepas, maka
getaran mesin akan memadatkan, sehingga menyebabkan
39

penurunan yang besar. Jika pasir tersebut jenuh akan


menyebabkan penurunan yang besar pula.

2. Tanah (loess), adalah suatu deposit yang relative uniform, tanah


lanau bawaan angin. Tanah ini mempunyai permeabilitas vertical
yang tinggi tetapi permeabilitas horisontalnya rendah. Tanah (loess)
menjadi sangat kompresibel apabila jenuh Jadi apabila suatu
bangunan berada diatas tanah (loess) maka untuk mencegah
jangan sampai terjadi penurunan yang besar setelah bangunan
selesai, sebelum pembangunan dimulai lapisan tanah ini dibasahi
terlebih dahulu agar terjadi penurunan sebelum pembangunan
dimulai.

3. Lempung yang terkonsolidasi normal (normally consolidated clay),


adalah tanah lempung yang pernah mengalami tekanan yang lebih
besar daripada tekanan yang ada pada saat sekarang. Tanah ini
umumnya sangat kompresibel, mempunyai daya dukung yang
rendah dan permebilitas rendah pula. Karena kompresibilitasnya
tinggi tanah ini tidak mampu mendukung bangunan dengan pondasi
dangkal. Jadi diperlakukan untuk pondasi tiang untuk meneruskan
beban bangunan ke lapisan tanah yang lebih dalam yang
mempunyai daya dukung yang lebih tinggi atau menggunakan
pondasi pelat dimana berat tanah yang digali untuk basement sama
dengan berat bangunan.

4. Tanah lempung yang terkonsolidasi lebih (Over consolidation clay),


adalah lempung yang pada masa lalu mengalami tekanan yang
lebih besar daripada tekanan yang diderita sekarang. Jenis lempng
ini mempunyai daya dukung yang agak tinggi dan tidak
kompresibel.

5. Bentonit, adalah lempung yang mempunyai plastisitas yang tinggi


yang dihasilkan dari dekomposisi abu vulkanis. Tanah ini ekspansif
yang mengembang cukup besar, jika kondisinya jenuh. Hal ini
menimbulkan masalah pada pondasi, trotoar dan lainnya. Pada
lapisan tanah ini jika terjadi perubahan musim maka kadar airnya
berubah.

6. Gambut, adalah bahan organis setengah lapuk berserat. Gambut


mempunyai angka pori yang sangat tinggi dan sangat kompresibel.
40

Jika bangunan berada diatas tanah gambut, maka penurunan yang


terjadi sangat besar.

2.9 Penggunaan Ilmu Mekanika Tanah

Ilmu Mekanika Tanah berkembang berkembang cepat,


dimana pengetahuannya sangat berguna untuk masalah-masalah
dalam pekerjaan Teknik Sipil atau Bangunan sebagai berikut :

1. Perencanaan Pondasi dan Konstruksi

Pondasi merupakan elemen penting pada segala struktur


seperti : terowongan, bangunan, jembatan, bendung, dan lainnya.
Sehingga kita perlu mengetahui daya dukung tanah, pola distribusi
tegangan didalam tanah yang berada dibawah lokasi pembebanan,
kemungkinan penurunan pondasi, efek air tanah, efek getaran, dan
lainnya. Jenis pondasi seperti : pondasi tapak, tiang, sumuran, dan
lainnya yang sangat bergantung pada jenis lapisan tanah, besarnya
beban, dan kondisi air tanah. Disamping itu penyusutan dan pemuaian
tanah dibawah pondasi juga merupakan hal yang sangat penting
dalam kestabilan struktur pondasi.

2. Perencanaan Permukaan Jalan (Pavement Design)

Permukaan jalan dapat berupa perkerasan flexsibel seperti:


lapisan bitumen aspal atau perkerasan kaku (flexible and rigid)
seperti : lapisan beton dan ini tergantung dari lapisan tanah yang
berada dibawahnya. Tebal perkerasan tergantung juga dari
karakteristik lapisan tanah yang berada dibawahnya yang harus
ditentukan sebelum perencanaan. Pada permukaan jalan yang sering
menerima beban kendaraan, maka efek dari beban hidup yang
berulang dan factor kelelahan harus diperhitungkan

3. Perencanaan Struktur Dibawah Tanah dan Dinding Penahan


Tanah

Perencanan konstruksi bawah tanah seperti: terowongan,


basement, jaringan pipa, drainase dan dinding penahan tanah seperti :
turap, cofferdam ini sangat memerlukan mekanika tanah sebagai
dasar.
41

4. Perencanaan Embankment (Berm) dan Penggalian serta


Timbunan

Jika permukaan tanah tidak horisontal, maka berat tanah yang


berada dilapisan atas akan bergerak kebawah dan akan mengganggu
stabilitas lapisan tanah tersebut. Pada mekanika tanah pengetahuan
tentang gaya geser dan sifat-sifat tanah sangat penting untuk
perencanaan kemiringan dari embankment atau kedalaman dari
galian. Biasanya untuk menjaga jangan sampai suatu tebing
mengalami kelongsoran, maka air tanah pada lapisan tebing tersebut
dialirkan melalui pipa-pipa drainase. Dan untuk menjaga dinding tanah
setelah penggalian maka dipasang sheet piles sepanjang dinding
tanah.

5. Perencanaan Bendung Tanah

Tanah merupakan material utama untuk pengurugan dari suatu


bendung tanah, maka sifat-sifat tanah yang perlu diketahui adalah :
density, plastisitas, specific grafity, distribusi butir dan gradasi tanah,
permeability, konsolidasi, kompaksi, kekuatan geser tanah, serta
penentuan kadar air optimum pada density maksimum merupakan
aspek utama dalam perencanaan bendung tanah. Tanah selalu
mempunyai peranan yang penting pada suatu lokasi pekerjaan
konstruksi. Tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan, atau
bahan konstruksi dari bangunan itu sendiri. Mengingat hampir semua
bangunan itu dibuat di atas atau dibawah permukaan tanah, maka
harus dibuatkan pondasi yang dapat memikul beban bangunan itu
atau gaya yang bekerja melalui bangunan itu. Permasalahan
perencanaan teknik sipil yang sering dijumpai oleh ahli-ahli teknik sipil,
harus dipertimbangkan sedalam-dalamnya, yakni meramal dan
menentukan kemampuan daya dukung tanah beserta kemungkinan
dalamnya penurunan yang terjadi yang disebabkan oleh gaya yang
bekerja.