Anda di halaman 1dari 117

PANDANGAN EMPAT IMAM MAZHAB DAN ULAMA KONTEMPORER

TENTANG HUKUM PRAKTEK JUAL BELI EMAS

SECARA TIDAK TUNAI

(Studi Analisis Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 77/DSN-MUI/V/2010)

Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Syariah (S.Sy) Oleh: RYCO
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana
Syariah (S.Sy)
Oleh:
RYCO PUTRA IRAWAN
107043203700

KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1434 H / 2014 M

PANDANGAN EMPAT IMAM MAZHAB DAN ULAMA KONTEMPORER

TENTANG HUKUM PRAKTEK JUAL BELI EMAS

SECARA TIDAK TUNAI

(Studi Analisis Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 77/DSN-MUI/V/2010) Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
(Studi Analisis Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 77/DSN-MUI/V/2010)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Syariah (Ssy)
Oleh:
Ryco Putra Irawan
NIM : 107043203700
Pembimbing
Prof. Dr. Hj. Huzaimah Tahido Yanggo, MA
NIP : 194512301967122001

KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1434 H/2013 M

ii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya sendiri diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya sendiri diajukan untuk memenuhi salah
satu
syarat
memperoleh
gelar sarjana (SI) di
Universitas
Islam
Negeri
Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil
jiplak karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 28 Desember 2013

iii

Ryco Putra Irawan

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul Pandangan Empat Imam Mazhab dan Ulama Kontemporer Tentang Hukum Praktek Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai (Studi Analisis Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 77/DSN-MUI/V/2010). Telah diujikan dalam siding munaqasah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 23 Januari 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Syariah (S.Sy) pada Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum (Perbandingan Hukum).

Jakarta, Mengesahkan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA,
Jakarta,
Mengesahkan
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM
NIP. 1955 0505 1982 0310 12
PANITIA UJIAN
Ketua
: Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag
NIP. 196511191994031004
(…
……………)
Sekretaris
: Fahmi Muhammad Ahmadi, S.Ag, MSi
NIP. 1974121310031211002
(
……………)
Pembimbing
: Prof. Dr. Hj. Huzaimah Tahido Yanggo, MA (
NIP. 194512301967122001
….………… )

Penguji I

Penguji II

: Dr. H. A. Mukri Aji, MA NIP. 195703121985031003

: Afwan Faizin, MA NIP. 197210262003121001

(

(

……………)

……………)

……

……)

iv

ABSTRAK

DSN-MUI mengeluarkan fatwa tentang jual beli emas secara tidak tunai ini untuk menjawab pertanyaan tentang hukum apa yang melekat pada emas saat bertransaksin jual beli . dalil yang menjadi dasar adalah hadis Nabi Saw. dalam ijma’ para ulama bahwasannya emas adalah termasuk kedalam barang ribawi akan tetapi fatwa no: 77/DSN-MUI/V/2010 menghukumi mubah jual beli tersebut. Maka secara otomatis fatwa tersebut bertentangan dengan dengan hadis Nabi Saw dan ijma’ para ulama mazhab empat yang mengatakan bahwa jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, serta emas dengan perak atau sebaliknya, mensyaratkan, antara lain, agar pertukaran itu dilakukan secara tunai; dan jika dilakukan secara tidak tunai, maka ulama sepakat bahwa pertukaran tersebut dinyatakan sebagai transaksi riba; sehingga emas dan perak dalam pandangan ulama dikenal sebagai amwal ribawiyah (barang ribawi).

Dari latar belakang di atas, penulis akan menganalisa fatwa DSN-MUI tersebut dengan dua pokok permasalahan,
Dari latar belakang di atas, penulis akan menganalisa fatwa DSN-MUI tersebut
dengan dua pokok permasalahan, yaitu apa alasan diperbolehkannya jual beli emas secara
tidak tunai menurut fatwa DSN-MUI Nomor:77/DSNMUI/ V/2010 dan bagaimana
relevansi fatwa tersebut dengan pendapat para ulama mazhab
Untuk menjawab permasalahan di atas penulis menggunakan Jenis penelitian
kepustakaan (library research) yaitu membaca atau meneliti buku-buku yang
menurut uraian berkenaan dengan kepustakaan. Sumber data, baik data primer
maupun data sekunder diperoleh dengan metode dokumentasi. Kemudian data yang
sudah ada dianalisa dengan metode komparatif, metode komparatif ini digunakan
untuk membandingkan fatwa DSN/MUI No.77/DSN-MUI/V/2010 tentang jual-beli
emas secara tidak tunai dengan pendapat ulama madzhab dan melihat relevansi fatwa
tersebut dengan pendapat ulama madzhab.

Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa: Pertama, alasan DSN-MUI melalui fatwa No.77/DSN-MUI/V/2010 membolehkan jual beli emas secara tangguh DSN-MUI menafsirkan hadis Nabi saw tata cara penjualan / tukar menukarnya adalah secara kontekstual ini menjadikan hasil dari istinbath mereka dalam jual beli emas secara tidak tunai dihukumi mubah . Kedua, relevansi fatwa DSN-MUI relevan dengan ulama mazhab yang membolehkan jual beli emas secara tidak tunai, yaitu pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dengan ketentuan emas sudah tidak lagi menjadi alat tukar atau dapat dengan tangguh pada pembayaran jasa pembuatannya .

v

ميحرلا نمحرلا للها مسب

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji serta rasa syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang
Alhamdulillah, segala puji serta rasa syukur yang tak terhingga penulis
panjatkan kehadirat Allah swt yang senantiasa memberikan limpahan rahmat dan
kasih saying-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktunya.
Shalawat teriring salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad
SAW yang telah menebarkan cahaya Islam keseluruh penjuru dunia sehingga penulis
dapat menikmati indahnya hidup dalam naungan cahaya Islam.
Skripsi ini sebagai bentuk nyata dari perjuangan penulis selama menuntut
ilmu di bangku kuliah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Berbagai hambatan dan kesulitan selama proses penulisan skripsi ini dapat penulis
lalui. Semua ini karena doa dan dukungan orang-orang yang ada di sekitar penulis.
Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan rasa terima kasih kepada para
pihak yang telah mendukung penulis dalam penulisan skripsi ini, diantaranya adalah :
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA., MM., selaku Dekan
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. H. Muhammad Taufiqi, M.Ag dan Bapak Fahmi Muhammad Ahmadi,
S.Ag, M.Si. Selaku Ketua Prodi dan Sekretaris Prodi program studi Perbandingan
Mazhab dan Hukum yang dengan penuh kesabaran membimbing penulis selama
menempuh pendidikan S1 di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan meluangkan waktu dengan penuh keiklasan dan sabar, serta bimbingan kepada penulis.

4. Bapak/Ibu dosen pengajar Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberi ilmu, pengalaman dan nasehat kepada penulis. Semoga ilmu yang penulis dapatkan dari

vi

Bapak/Ibu dapat bermanfaat dunia dan akhirat serta menjadi amal kebaikan bagi Bapak/Ibu dosen.

Pimpinan dan segenap staff Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu dalam kelancaran penulisan skripsi ini.

5.

6. Ayahanda dan Ibunda tercinta serta adik-adik dan saudara-saudaraku tersayang yang tak pernah kenal lelah
6. Ayahanda dan Ibunda tercinta serta adik-adik dan saudara-saudaraku tersayang
yang tak pernah kenal lelah untuk terus berkorban bagi penulis.
7. Untuk Nesia Suci Aristawati yang selalu sabar menemani penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini, dan kepada teman-temanku, Andri Agus Salim,
Arwani, Rizki DP, M. Hanafi “terima kasih atas masukannya kepada penulis”.
8. Terima kasih kepada Guru-Guruku yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang
insya Allah yang tidak mengurangi rasa ta’zim dan hormat penulis.
9. Teman- teman seperjuangan PMH 2007. Selama 4 tahun kenal dan kuliah
bersama kalian merupakan hal terindah dalam hidup penulis.
Semoga semua pengorbanan dan kebaikan yang diberikan mendapatkan
nilai kebaikan di sisi Allah SWT dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb
23 Januari 2014 M
Jakarta,
21 Robiul Awal 1435 H

Penulis

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………………… ii LEMBAR PERNYATAAN
PERSETUJUAN PEMBIMBING ……………………………………
ii
LEMBAR PERNYATAAN …………………………………………
iii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN……………………………………………
…iv
ABSTRAK …………………………………………………………………………
v
KATA PENGANTAR ………………………………………………
vi
DAFTAR ISI …………………………………………………………
viii
BAB I
PENDAHULUAN……………………………………………………1
A. Latar Belakang Masalah ………………………………………….1
B. Pembatasan Masalah …………………………………………… 5
C. Perumusan Masalah ………………………………………………5
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………………………
6
E. Metode Penelitian ………………………………………………
7
F. Review Studi Terdahulu ………………………………………….9
G. Sistematika Penulisan ……………………………………… ….10
BAB II
JUAL BELI DALAM HUKUM ISLAM………………………….12

A.

Pengertian Jual Beli …………

…………………………………12

B. Sumber Hukum ………………………………………………….14

C. Rukun dan Syarat Jual Beli ……………

…………………… 19

D. Macam-macam Jual Beli ……………………………………… 26

viii

E. Jual Beli Yang Dilarang dalam Islam …….…………………… 32

BAB III

BIOGRAFI

ULAMA

EMPAT

MAZHAB

DAN

ULAMA

KONTEMPORER……………………………………………… 38 A. Riwayat Hidup Ulama Empat Imam Mazhab
KONTEMPORER………………………………………………
38
A. Riwayat Hidup Ulama Empat Imam Mazhab ….……………
38
1. Imam Abu Hanifah ………………………………………
38
2. Imam Malik ……………………………………………… 42
3. Imam Syafi’I ……………………………………………….47
4. Imam Hanbali ………………………………………………52
B. Ulama Kontemporer…………………………………………….56
1. DSN-MUI ………………………………………………….56
2. Yusuf Al-Qardawi …………………………………………59
3. Wahbah al-Zuhaily
……………………………………… 65
4. Syaikh Ali Jumu’ah………………………………………
70
BAB IV
JUAL BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI MENURUT IMAM
MAZHAB EMPAT DAN ULAMA KONTEMPORER…………74
A.
Hukum Praktek Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai Menurut Para
Imam Mazhab Empat dan Ulama Kontemporer…………………74
B.
Analisis Pandangan Ulama Empat Imam Mazhab Tentang Hukum

Praktek Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai……………………

84

C. Analisis Terhadap Relevansi Fatwa DSN-MUI Nomor: 77 / DSN-

MUI/ V/ 2010, Yusuf al-Qardhawi, Ibnu Qayyim, dan Ibnuu

Taimiyyah……………………………………………………… 93

ix

BAB V

PENUTUP…………………………………………………………100

A. Kesimpulan …………………………………………………….100 B. Saran-saran
A. Kesimpulan …………………………………………………….100
B. Saran-saran ………………………………………………….…102
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………103
LAMPIRAN……………………………………………………………………….107

x

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Umat Islam dalam mensosialisasikan ajaran agama Islam dengan menggunakan berbagai macam
A. Latar Belakang Masalah
Umat Islam dalam mensosialisasikan ajaran agama Islam dengan
menggunakan berbagai macam cara, agar agama Islam dan ajarannya tetap
tegak di dunia sampai akhir zaman. Kewajiban menegakkan dan melestarikan
ajaran agama Islam tersebut, tentunya menyangkut segala aspek kehidupan
manusia secara luas, baik merupakan amal duniawi maupun pencarian bekal
untuk kehidupan akhirat yang dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat
sampai kapanpun.
Hukum Islam mengatur peri kehidupan manusia secara menyeluruh,
mencakup segala aspeknya. Hubungan manusia dengan Allah di atur dalam
bidang ibadah sedangkan hubungan manusia dengan manusia di atur dalam
bidang muamalat 1 dalam arti luas, baik dalam jual-beli, pewarisan, perjanjian-
perjanjian,
hukum
ketatanegaraan,
hubungan
antar
negara,
kepidanaan,
peradilan
dan
lain
sebagainya.
Keseluruhan
dari
aturan-aturan
ini
telah
tertuang dalam hukum muammalat, karena sebagaimana diketahui bahwa

sekecil

apapun

amal

perbuatan

manusia

di

dunia

pasti

akan

dimintai

pertanggung jawaban kelak di kehidupan setelah mati.

1 Ahmad Azhar Basyir, Asas-Asas Hukum Muammalat (Hukum Perdata Islam) (Yogyakarta:

UII Press, 2000), h. 11

Hubungan

antara

sesame

manusia

berkaitan

dengan

harta

ini

dibicarakan dan diatur dalam kitab-kitab fiqh karena kecendrungan manusia

kepada harta itu begitu besar dan sering menimbulkan persengketaan sesamanya, kalau tidak diatur, dapat
kepada
harta
itu
begitu
besar
dan
sering
menimbulkan
persengketaan
sesamanya, kalau tidak diatur, dapat menimbulkan ketidak stabilan dalam
pergaulan hidup antara sesame manusia. Disamping itu penggunaan harta
dapat bernilai ibadah bila digunakan sesuai dengan kehendak Allah yang
berkaitan dengan harta itu.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai makhluk sosial, yaitu
makhluk yang memiliki kodrat hidup bermasyarakat maka sudah semestinya
jika mereka akan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya dalam
bentuk hubungan guna mencukupi segala kebutuhannya. 2
Sejarah dunia telah membuktikan, bahwa manusia tidak akan pernah
bisa lepas dari pergaulan yang mengatur hubungan antara sesamanya di dalam
segala
keperluannya 3
karena
sejak
dilahirkan
sampai
meninggal
dunia
manusia selalu mengadakan hubungan dengan manusia lain. Hubungan itu
timbul berkenaan dengan pemenuhan kebuttuhan jasmani dan rohaninya.
Untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani manusia selalu mewujudkan

dalam suatu kegiatan yang lazim disebut sebagai “tingkah laku”. Tingkah laku

yang kelihatan sehari-hari terjadi sebagai hasil proses dari adanya minat yang

2 H. Faturahman Djamil, Filsafat Hukum Islam, bag. I, cet I, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997) hlm. 40

3 Abdullah Siddiq al-Haji, Inti Dasar Hukum Dagam Islam, Cet I, (Jakarta: Balai Pustaka,

1993) hlm. 55

diniatkan dalam suatu gerak untuk pemenuhan kebutuhan saat tertentu. Di

dalam kegiatan itulah pada umumnya manusia melakukan kontak dengan

manusia lainnya. Islam tidak membatasi kehendak seseorang dalam mencari memperoleh harta selama yang demikian
manusia lainnya.
Islam
tidak
membatasi
kehendak
seseorang
dalam
mencari
memperoleh harta selama yang demikian tetap dilakukan dalam prinsip umum
yang berlaku yaitu halal dan baik.
Dalam jual beli, Islam juga telah menentukan aturan-aturan sehingga
timbullah suatu perbuatan hukum yang mempunyai konsekuensi terhadap
peralihan hak atas suatu benda (barang) dari pihak penjual kepada pihak
pembeli baik itu secara langsung maupun secara tidak (tanpa perantara). Maka
dalam jual beli tidak lepas dari rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Oleh karena
itu, dalam praktek jual beli harus dikerjakan berdasarkan ketentuan-ketentuan
yang sudah digariskan oleh Islam.
Sehubungan dengan hal itu, Islam sangat menekankan agar dalam
bertransaksi harus didasari i’tikad yang baik, karena hal ini memberikan
pedoman kepada umatnya untuk selalu berupaya semaksimal mungkin dalam
usahanya, sehingga di antara kedua pihak tidak ada yang merasa dirugikan.
Manusia
sebagai
makhluk
individual
yang
memiliki
berbagai
keperluan

hidup,

manusia

telah

disediakan

Allah

swt

berbagai

benda

yang

dapat

memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan yang

beragam tersebut tidak mungkin hanya akan diproduksi sendiri oleh individu

yang bersangkutan, dengan kata lain ia harus bekerja sama dengan orang lain.

Syari’at juga mengatur larangan memperoleh harta dengan jalan batil

seperti perjudian, riba, penipuan dalam jual beli, dan mengharamkan riba.

Oleh karena itu, bunga transaksi tersebut bukanlah cara yang dibenarkan untuk memperoleh dan mengembangkan harta.
Oleh karena itu, bunga transaksi tersebut bukanlah cara yang dibenarkan
untuk memperoleh dan mengembangkan harta. Batasan antara perkara yang
halal dan haram sangatlah jelas. Hal ini telah dinyatakan dalam firman Allah
swt dalam surat al-Baqarah ayat 275 :
      
Artimya: Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Dari ayat tersebut,
Allah melarang mencampurkan yang hak dengan
yang batil dalam semua perkara, terdapat batas yang jelas terhadap keduanya.
Sesungguhnya segala yang halal dan yang haram telah dijelaskan-Nya, serta
sesuatu yang ada di antara keduanya (syubhat) yang mana kebanyakan
manusia
tidak
mengetahuinya.
Prinsip
pokok
dalam
Islam
adalah
mengerjakan kedua hal yang ada (didunia dan diakhirat), kecuali segala seuatu
yang telah diharamkan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Larangan tersebut
sangatlah terbatas jumlahnya, baik berupa barang maupun perbuatan.

Dalam

praktek

jual

beli

di

masyarakat,

kadangkala

tidak

mengindahkan

hal-hal

yang

sekiranya

dapat

merugikan

satu

sama

lain.

Kerugian tersebut ada kalanya berkaitan dengan obyek ataupun terhadap

harga. Kerugian ini disebabkan karena ketidaktahuan ataupun kesamaran dari

jual beli tersebut. Paktek jual beli emas yang terjadi pada masa sekarang, yaitu

jual beli yang mengandung unsur ketidaktahuan atau kesamaran terhadap

obyek yang telah diperjualbelikan, baik penjual maupun pembeli tidak dapat memastikan wujud dari obyek yang
obyek yang telah diperjualbelikan, baik penjual maupun pembeli tidak dapat
memastikan wujud dari obyek yang diperjualbelikan berdasarkan tujuan akad,
yakni jual beli emas dengan sistem “investasi”. Kegiatan jual beli tersebut
sudah
terbiasa
dilakukan
dan
sudah
menjadi
adat
atau
kebiasaan
oleh
masyarakat, sehingga hal tersebut suatu hal yang wajar dan dapat diterima
secara umum. Untuk itu penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang
“Pandangan Empat Imam Mazhab Dan Ulama Kontemporer Tentang
Hukum Praktek Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai”.
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka perlu
adanya pembatasan yang menjadi fokus dalam pembahasan skripsi ini. Untuk
mengefektifkan
dan
memudahkan
pengelolahan
data,
maka
penulis
membatasi
permasalahan
dalam
penulisan
skripsi
ini
pada
seputar
pembahasan
tentang pandangan
ulama empat
imam
mazhab
dan
ulama

kontemporer tentang hukum praktek jual beli emas secara tidak tunai.

2. Rumusan Masalah

Dari pembatasan masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Bagaimanakah pandangan Empat Imam mazhab tentang hukum praktek jual

beli emas secara tidak tunai?

b. Bagaimana relevansi fatwa DSN-MUI nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 dan

pandangan Ulama kontemporer tentang hukum praktek jual beli emas secara

tidak tunai dengan pendapat para ulama empat mazhab? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan
tidak tunai dengan pendapat para ulama empat mazhab?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana pandangan para empat Imam mazhab
tentang hukum praktek jual beli emas secara tidak tunai
b. Untuk
mengetahui
bagaimana
relevansi
fatwa
DSN-MUI
nomor:
77/DSN-MUI/V/2010 dan pandangan Ulama kontemporer tentang
hukum praktek jual beli emas secara tidak tunai dengan pendapat para
ulama empat mazhab
2. Manfaat Penelitian
a.
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi masyarakat
dalam hukum praktek jual beli emas secara tidak tunai, dilihat dari
segi manfaat dan mudharat dalam jual beli tersebut.
b.
Dapat
mendorong
masyarakat
untuk
bermuamalat
sesuai
dengan
syariat Islam.
c.
Dapat menjadi bahan pertimbangan dan acuan dalam melaksanakan

penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan sumber daya alam yang

dimonopoli oleh seorang, atau pihak tertentu.

D. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research) yaitu membaca atau meneliti buku-buku yang menurut
Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research)
yaitu membaca atau meneliti buku-buku yang menurut uraian berkenaan
dengan kepustakaan. 4 Penelitian deskripsi dari obyek-obyek yang diamati
yaitu
jenis
penelitian
studi
yang
relevan
dengan
pokok-pokok
permasalahan dan diupayakan jalan penyelesaiannya
2. Sumber Data
Sumber-sumber penelitian ini dapat dibedakan kepada dua jenis
sumber data: data primer dan data sekunder.
a. Sumber Data Primer
Data primer dalam penelitian ini adalah buku-buku fikih para
imam
empat
mazhab,
fatwa
DSN/MUI
No.77/DSN-MUI/V/2010
tentang Kebolehan Jual-Beli Emas Secara Tidak Tunai, dan buku-
buku karya ulama kontemporer.
b. Sumber Data Sekunder
Data sekunder merupakan jenis data yang dapat dijadikan sebagai

pendukung data pokok atau merupakan sumber data yang mendukung

dan

melengkapi

kekurangan-kekurangan

yang

ada

pada

data

primer. 5 Dalam penelitian ini, sumber data sekundernya berupa buku-

4 Kartini Kartono, MetodologiSosial, Bandung : MandarMaju, 1991, hlm 32

5 Saifudin Anwar, Metode Penelitian, Yogyakarta: PustakaPelajar, 1998, hlm.91

buku,

dokumen-dokumen,

karya-karya,

atau

tulisan-tulisan

yang

berhubungan atau relevan dengan kajian ini.

3. Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumen dan literatur
3. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumen dan
literatur yang berupa buku-buku, tulisan dan fatwa DSN-MUI tentang jual
beli emas.Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode dokumentasi, yaitu menelaah dokumen-dokumen yang
tertulis, baik data primer maupun sekunder. Kemudian hasil telaahan itu
dicatat dalam komputer sebagai alat bantu pengumpulan data. 6
4. Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah melakukan
analisis data. Dalam hal ini, penulis menggunakan metode Komparatif.
Metode komparatif ini digunakan untuk membandingkan fatwa DSN-MUI
dan ulama kontemporer tentang kebolehan jual-beli emas secara tidak
tunai dengan pendapat ulama empat madzhab.
5. Teknik Penulisan
Adapun teknik penulisan skripsi ini, penulis menggunakan buku

Pedoman Penulisan Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas

Syariah dan Hukum 2007 yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan

Hukum.

6 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993, hal. 131

E. Review Terdahulu

1. Siti Mubarokah (2103109) yang berjudul “Analisis Fatwa Dewan Syariah

Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (al-Sharf)”. Penelitian ini
Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual
Beli Mata Uang (al-Sharf)”. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jual beli
mata uang harus dilakukan secara tunai dan nilainya harus sama. Artinya
masing-masing pihak harus menerima atau menyerahkan mata uang pada saat
yang bersamaan. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai
tukar pada saat transaksi dan secara tunai. Transaksi ini akan berubah menjadi
haram apabila transaksi pembelian dan penjualan valuta asing yang nilainya
ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan
datang, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan dan
penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga waktu penyerahan
tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati. Fatwa relevan dengan
pendapat ulama mazhab, transaksi jual beli mata uang disyari’atkan nilainya
sama dan transaksi dilakukan secara tunai sesuai dengan akad yang dilakukan.
2. Mudrikah (2102185) yang berjudul “Persepsi Ulama Karanggede Tentang
Praktek Penukaran Emas Di Toko Emas Pasar Karanggede Kecamatan

Karanggede Kabupaten Boyolali”. Membahas tentang Pertukaran (al-sharf)

antara emas dengan emas hukumnya tidak boleh, kecuali memenuhi syarat-

syarat dalam pertukaran barang sejenis yaitu: sepadan (sama timbangannya,

dan takarannya, dan sama nilainya), spontan (seketika itu juga), saling bisa

diserahkan terimakan. Adapun praktek penukaran emas tersebut dilakukan

oleh

pedagang

emas

dengan

pembeli.

Faktor

yang

menjadi

motivasi

masyarakat untuk melakukan praktek penukaran emas dengan emas tersebut

karena: Masyarakat merasa bosan dengan modelnya Masyarakat ingin menukarkan emas yang lebih besar ukuran
karena:
Masyarakat
merasa
bosan
dengan
modelnya
Masyarakat
ingin
menukarkan
emas
yang
lebih
besar
ukuran
gramnya
(timbangannya)
,
Biasanya
oleh
masyarakat,
emas
dijadikan
barang
simpanan
(untuk
di
tabung). Pendapat sebagian ulama di Kecamatan Karanggede Kabupaten
Boyolali, bahwa praktek penukaran emas dengan emas tidak sah. Namun
praktek penukaran emas tersebut sudah menjadi adat atau kebiasaan dari
masyarakat sejak dulu, sehingga sulit untuk dihilangkan. Praktek penukaran
emas dengan emas di Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali tidak
sesuai dengan hukum Islam, karena syarat-syarat yang ada dalam penukaran
barang sejenis banyak yang belum dipenuhi oleh kedua belah pihak.
F. Sistematika Penulisan
Untuk
memudahkan
penulisan
skripsi
ini,
penulis
merasa
perlu
menetapkan
suatu
kerangka
dasar
penulisan.
Secara
garis
besar
dapat
memberikan gambaran sebagai berikut:
Bab
Pertama,
penulis
memaparkan
tentang
pendahuluan
yang

berisikan latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah,

tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, review studi terdahulu,

sistematika penulisan skripsi.

Bab

kedua,

membahas

tentang pengertian jual

beli

dalam

Islam

meliputi pengertian jual beli, sumber hukum jual beli, rukun dan syarat jual

beli, macam-macam jual beli, dan jual beli yang dilarang dalam Islam Bab ketiga, membahas tentang
beli, macam-macam jual beli, dan jual beli yang dilarang dalam Islam
Bab ketiga, membahas tentang profil ulama empat imam mazhab dan
ulama kontemporer serta istinbat hukum masing-masing
Bab keempat, menjelaskan analisis penelitian tentang hukum praktek
jual beli emas secara tidak tunai menurut para imam mazhab empat dan ulama
kontemporer, analisis pandangan ulama empat imam mazhab tentang hukum
praktek jual beli emas secara tidak tunai, dan analisis terhadap relevansi fatwa
DSN-MUI Nomor: 77/ DSN-MUI/V/ 2010, Yusuf al-Qardhawy, Ibnu Qayyim
dan Ibnu Timiyah dengan pendapat para ulama mazhab.
Bab kelima, mengemukakan kesimpulan yang diperoleh pada bab-bab
sebelumnya
disertai
dengan
pemberian
saran-saran
yang
konstruktif
sehubungan dengan masalah yang ditemui sebagai bahan pertimbangan bagi
perusahaan penulis laiannya untuk perbaikan lebih lanjut.

BAB II

JUAL BELI DALAM HUKUM ISLAM

A. Pengertian Jual Beli

Perdagangan atau jual beli menurut bahasa berarti al-bai‟, al-tijarah, al-

adalah: Artinya:“Tukar menukar sesuatu dengan sesuatu yang lainnya” 2 Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Q.S.
adalah:
Artinya:“Tukar menukar sesuatu dengan sesuatu yang lainnya” 2
Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Q.S. Fathir (35) ayat 29
kedua belah pihak. 3

mubadalah (menukar/mengganti sesuatu dengan sesuatu). 1 Menurut etimologi

ئشنبب ئشنا تهب بقم

 

)۹۲:ۺ۳/رطاف(   

Artinya:“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al- Qur‟an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagai rezeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang- terangan. Mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi”.

Menurut kitab fikih Mazhab Syafi’i, yang dimaksud dengan jual beli adalah

menukarkan barang dengan barang atau barang dengan uang, dengan jalan

melepaskan hak milik dari seseorang terhadap orang lainnya atas dasar kerelaan

1 Imam Ahmad bin Husain, Fathu al-Qorib al-Mujib, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 30

2 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002), hal. 67

3 Ibnu Mas’ud dan Zaenal Abidin, Fiqih Mazhab Syafi‟I, (Bandung : Pustaka Setia, 2001),

hal. 22

Menurut mazhab Hanafiah, jual beli adalah pertukaran harta (maal) dengan

harta dengan menggunakan cara tertentu. Pertukaran harta dengan harta di sini,

diartikan harta yang memiliki manfaat serta terdapat kecendrungan manusia untuk

menggunakannya, cara tertentu dimaksud adalah sighat atau ungkapan ijab dan

qabul. maksud untuk memiliki dan dimiliki. 4 Jual beli menurut burgerlijk wetboek (BW) adalah suatu
qabul.
maksud untuk memiliki dan dimiliki. 4
Jual
beli
menurut
burgerlijk
wetboek
(BW)
adalah
suatu
dari perolehan hak milik tersebut. 5
dan
disepakati.
Sesuai
dengan
ketetapan
hukum
syara‟
maksudnya

Menurut Imam Nawawi dalam kitab majmu’, jual beli adalah pertukaran

harta dengan harta dengan maksud untuk memiliki.Sedangkan menurut Ibnu

Qudamah menyatakan jual beli adalah pertukaran harta dengan harta dengan

perjanjian

bertimbal balik dalam mana pihak-pihak yang satu (si penjual) berjanji untuk

menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedang pihak yang lainnya (si pembeli)

berjanji untuk membayar harga yang terdiri atas sejumlah uang sebagai imbalan

Dari beberapa definisi di atas dapat di pahami bahwa inti jual beli ialah

suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara

sukarela antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak

lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang dibenarkan syara‟

ialah

memenuhi

persyaratan-persyaratan,

rukun-rukun

dan

hal-hal

lain

yang

ada

4 Dimyauddin Djuwaini,Pengantar Fiqih Muamalah, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), hal. 69

5 Subekti, Aneka Perjanjian, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1989), hal. 1

kaitannya

dengan

jual

beli

sehingga

bila

syarat-syarat

dan

rukunnya

tidak

terpenuhi berarti tidak sesuai dengan kehendak syara‟. 6

B. Sumber Hukum Jual Beli

Tidak sedikit kaum muslim yang lalai mempelajari hukum jual beli, bahkan

mampu membedakan mana yang dibolehkan dan mana yang tidak. transaksi jual beli, berkewajiban mengetahui hal-hal
mampu membedakan mana yang dibolehkan dan mana yang tidak.
transaksi
jual
beli,
berkewajiban
mengetahui
hal-hal
apa
saja
yang
dilakukan sah secara hukum terhindar dari hal-hal yang tidak dibenarkan.
1. Al-Qur’an diantaranya:
a. Surah al-Baqarah (2) ayat 275

melupakannya, sehingga tidak memperdulikan apakah yang dilakukan dalam jual

beli itu haram atau tidak. Keadaan seperti itu merupakan kesalahan besar yang

harus dicegah, agar semua kalangan yang bergerak pada bidang perdagangan

Bagi mereka yang terjun dalam dunia usaha, khususnya perdagangan atau

dapat

mengakibatkan jual beli tersebut sah atau tidak. Ini bertujuan supaya usaha

Jual beli disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunah, Ijma’, dan Qiyas yaitu:

   

        



)۹۷۳:۹/ةرقبلا) )   

Artinya :Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan

6 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, , (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002), hal. 69

lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang- orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Islam dan tidak melakukan apa yang dilarang dalam Islam. b. Surah al-Baqarah (2) ayat 188
Islam dan tidak melakukan apa yang dilarang dalam Islam.
b. Surah al-Baqarah (2) ayat 188
)۸۱۱:۹/ةرقبلا)      
c. Surah an-Nisa’(4) ayat 29

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan

mengharamkan riba. 7 Ayat di atas juga dipahami untuk melakukan jual

beli dengan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dalam

    



Artinya :“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.

 

)۹۲:۴/ءاسنلا(     

Artinya:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan

7 Dimyauddin Djuwaini,Pengantar Fiqih Muamalah, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), hal. 71

perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Berdasarkan surat al-Baqarah ayat 188 dan an-Nisa ayat 29 bahwa

keharusan mengindahkan peraturan-peraturan yang ditetapkan dan tidak

Penggunaan kata makan dalam kedua ayat diatas untuk dengan batil menyangkut kebutuhan sekunder maupun tersier.
Penggunaan
kata
makan
dalam
kedua
ayat
diatas
untuk
dengan batil menyangkut kebutuhan sekunder maupun tersier.
yang digunakan hukum untuk menunjukkan kerelaan. 8
2. As-Sunah

melakukan apa yang diistilahkan oleh ayat di atas dengan batil, yakni

pelanggaran terhadap ketentuan agama atau persyaratan yang disepakati.

melarang

memperoleh harta secara batil dikarenakan kebutuhan pokok manusia

adalah makan.Kalau makan yang merupakan kebutuhan pokok itu terlarang

memperolehnya dengan batil, maka tentu lebih terlarang lagi bila perolehan

Selanjutnya dalam surat an-Nisa’ ayat 29 menekankan juga keharusan

adanya keelaan kedua belah pihak, atau yang diistilahkan ( ضارت هع(

مكىم.Walaupun kerelaan adalah sesuatu tersembunyi dilubuk hati, tetapi

indikator dan tanda-tandanya dapat terlihat. Ijab dan qabul atau apa saja

yang dikenal adat kebiasaan sebagai serah terima adalah bentuk-bentuk

: لبق ؟ بَطا بسكنا ًا مئسنا مهسو ًَهع للها يهص ٌبىنا نا ,ًىع للها ٌضر عفار هب تعبفر هع

9 )مكبحنا ًححصو رازبنا ياور( .روربم عَب مك و ,يدَب مجرنا ممع

8 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hal. 413

9 Al Hafiz Ibn Hajar Asqalani, Bulughul Maram min Adillatul Ahkam, (Surabaya : Hidayat, tt), hal. 165

“Rifa‟ah bin Rafi‟ mengatakan bahwasannya Nabi saw. Ketika ditanya usaha apa yang terbaik. Jawab Nabi saw: Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan tiap jual beli yang halal. (H.R. Al-Bazzar dan disyahkan oleh Al-Hakim)

Berdasarkan hadis di atas, Nabi saw telah menghalalkan pekerjaan

seseorang dengan tangannya sendiri. Maksud dari pekerjaan oleh Nabi saw. 3. Ijma’ yang sesuai. 10
seseorang
dengan
tangannya
sendiri.
Maksud
dari
pekerjaan
oleh Nabi saw.
3. Ijma’
yang sesuai. 10
usaha yang halal pula.

dengan

tangannya sendiri disini adalah sendiri untuk melakukan perniagaan atau

jual beli. Jadi jual beli merupakan pekerjaan yang disukai dan dianjurkan

Jumhur ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan

alasan manusia tidak mampu mencukupi kebutuhan dirinya tanpa bantuan

orang lain yang dibutuhkannya itu harus diganti dengan barang lainnya

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap orang

harus mengetahui apa saja yang dapat mengakibatkan suatu perdagangan

atau jual beli itu sah secara hukum. Seperti yang telah dijelaskan di atas

bahwa Allah swt mengharamkan adanya riba dan usaha yang paling baik

adalah usaha yang dihasilkan dari tangannya sendiri, tentunya dari hasil

Dari beberapa ayat-ayat Al-Qur’an, sabda Rasul dan ijma’ di atas,

dapat diambil kesimpulan bahwa hukum jual beli itu mubah (boleh).Akan

tetapi hukum jual beli bisa berubah dalam situasi tertentu.

10 Nasroen Haroen, Fiqih Mu'amalah, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2000), hal. 114

Menurut Imam Al-Syathibi (ahli fikih Mazhab Maliki) dalam buku

Nasroen Haroen, hukum jual beli bisa menjadi wajib ketika situasi tertentu,

beliau mencontohkan dengan situasi ketika terjadi praktek penimbunan

barang sehingga stok hilang dari pasar dan harga melonjak naik, ketika hal

pedagang wajib menjual barangnya sesuai dengan ketentuan pemerintah. 11 Qur’an, Al-Sunnah, ijma’ dan qiyas. Jika
pedagang wajib menjual barangnya sesuai dengan ketentuan pemerintah. 11
Qur’an,
Al-Sunnah,
ijma’
dan
qiyas.
Jika
berdasarkan

ini terjadi maka pemerintah boleh memaksa para pedagang untuk menjual

barang-barang dengan harga pasar sebelum terjadi kenaikan harga, dan

Dari uraian yang telah diungkapkan di atas, penulis dapat mengambil

kesimpulan bahwa hukum jual beli dibentuk guna untuk mengetahui hal-

hal apa saja yang dapat mengakibatkan jual beli tersebut menjadi sah atau

tidak. Adapun yang disyariatkan untuk hukum jual beli berdasarkan Al-

Al-Qur’an

disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 275 yang menjelaskan bahwa

Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, surah al-Baqarah

ayat, 188 dan surah an-Nisa’ ayat 29. Jika menurut Al-Sunnah, Nabi saw

menghalalkan perdagangan atau jual beli sebagai pekerjaan sendiri, dimana

seseorang bekerja dengan usahanya sendiri yaitu perniagaan dan jual beli.

Ijma di dapat dari jumhur ulama yang menyatakan jual beli diperbolehkan

dengan alasan manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri

tanpa bantuan orang lain, namun tidak boleh lepas dari yang disyaratkan

11 Nasroen Haroen, Fiqih Mu'amalah, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2000), hal. 114

Al-Qur’an dan hadis sehingga jual beli atau perniagaan tersebut dapat

berjalan sesuai dengan syriat Islam.

C. Rukun dan Syarat Jual Beli

1.

Rukun-rukun jual beli

seperti dibawah ini: a. izin untuk menjualnya, dan sehat akalnya. b. membeli. c. Barang yang
seperti dibawah ini:
a.
izin untuk menjualnya, dan sehat akalnya.
b.
membeli.
c.
Barang
yang dijual:
barang
yang dijual
merupakan
barang
ciri-cirinya.
d.
(qabul)
dilakukan
dengan
perkataan
atau
ijab
qabul
perbuatan. 12

Dalam pelaksanaan jual beli ada lima rukun yang harus dipenuhi

Penjual: ia harus memiliki barang yang dijualnya atau mendapatkan

Pembeli: ia disyratkan diperbolehkan dalam arti ia bukan yang kurang

waras, atau bukan anak kecil yang tidak mempunyai izin untuk

yang

diperbolehkan dijual, bersih, bisa diserahkan kepada pembeli, dan

barangnya jelas atau bisa diketahui pembeli meskipun hanya dengan

Ikrar atau akad (ijab qabul) ijab adalah perkataan penjual, sedangkan

qabul adalah ucapan si pembeli. Penyerahan (ijab) dan penerimaan

dengan

Abdul Cipta,2003), hal. 135

12

Fatah

Idris

dan

Abu

Ahmadi,

Fiqih

Islam

Lengkap,

(Jakarta:

PT.

Rineka

e. Kerelaan kedua belah pihak, penjual dan pembeli. Jadi, jual beli tidak

sah dengan ketidakrelaan salah satu dari dua pihak. 13 Adanya kerelaan

tidak dilihat sebab kerelaan berhubungan dengan hati, kerelaan dapat

diketahui melalui tanda-tanda lahirnya, tanda yang jelas menunjukkan

kerelaan adalah ijab dan qabul. 14 2. Syarat-syarat jual beli Syarat-syarat jual beli sesuai dengan
kerelaan adalah ijab dan qabul. 14
2.
Syarat-syarat jual beli
Syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan
jumhur ulama’ adalah sebagai berikut:
a.
Penjual dan pembeli, syaratnya yaitu:
1)
Berakal, agar tidak terkecoh. Orang gila atau bodoh tidak sah jual
belinya.
2)
Dengan kehendak sendiri (bukan paksaan).
3)
Tidak mubazir (pemboros), sebab harta orang yang mubazir itu
ditangan walinya.
4)
Baligh (berumur 15 tahun keatas atau dewasa). Anak kecil tidak
sah jual belinya. Adapun anak-anak yang sudah mengerti tetapi
belum
sampai
umurnya,
menurut
pendapat
sebagian
ulama’
mereka diperbolehkan berjual beli barang yang kecil-kecil, karena
kalau
tidak
diperbolehkan
sudah
tentu
menjadi
kesulitan
dan

kesukaran,

sedangkan

agama

Islam

sekali-kali

tidak

akan

13 Ismail Nawawi,Fiqih Muamalah, (Surabaya: Vira Jaya Multi Press, 2009), hal. 46

14 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002), hal. 70

menetapkan

peraturan

pemeluknya. 15

yang

mendatangkan

kesulitan

kepada

b. Uang dan benda yang dibeli, syaratnya yaitu:

1)

Suci barangnya

barang yang dikategorikan barang najis atau barang diharamkan oleh syara’ 2) Dapat dimanfaatkan
barang
yang
dikategorikan
barang
najis
atau
barang
diharamkan oleh syara’
2)
Dapat dimanfaatkan

Suci barangnya adalah barang yang diperjualbelikan bukanlah

yang

Barang yang dapat dimanfaatkan adalah setiap benda yang akan

diperjualbelikan sifatnya dibutuhkan untuk kehidupan manusia

pada umumnya. Bagi benda yang tidak mempunyai kegunaan

dilarang untuk diperjualbelikan atau ditukarkan dengan benda yang

lain, karena termasuk dalam arti perbuatan yang dilarang yaitu

menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, pengertian barang yang dapat

dimanfaatkan ini sangat relatif.Sebab, pada hakekatnya seluruh

barang yang dijadikan objek jual beli adalah barang yang dapat

dimanfaatkan, baik untuk dikonsumsi secara langsung ataupun

tidak.Sejalan dengan perkembangan zaman yang makin canggih,

banyak orang yang semula dikatakan tiodak bermanfaat kemudian

di nilai bermanfaat.

3)

Milik orang yang melakukan akad

15 Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, (tt: Sinar Baru al-Gensindo, 1986). 279

Barang harus milik orang yang melakukan akad ialah orang yang

melakukan transaksi jual beli atas suatu barang adalah pemilik sah

dari barang tersebut atau orang yang telah mendapat izin dari

pemilik

sah

barang.Dengan

demikian,

jual

beli

barang

oleh

seseorang yang bukan pemilik sah atau tidak berhak berdasarkan kuasa si pemilik sah, dipandang sebagai
seseorang yang bukan pemilik sah atau tidak berhak berdasarkan
kuasa si pemilik sah, dipandang sebagai jual beli yang batal.
4)
Barang dapat diserahkan
Barang dapat diserahkan adalah barang yang ditransaksikan dapat
diserahkan pada waktu akad terjadi, tetapi hal ini tidak berarti
harus diserahkan seketika.Maksudnya adalah pada saat yang telah
ditentukan objek akad dapat diserahkan karena memang benar-
benar ada dibawah kekuasaan pihak yang bersangkutan.
5)
Dapat diketahui barangnya (barang jelas)
Barang
dapat
diketahui
maksudnya
ialah
keberadaan
barang
diketahui
oleh
penjual
dan
pembeli,
yaitu
mengenai
bentuk,
takaran, sifat dan kualitas barang.Apabila dalam suatu transaksi
keadaan barang dan jumlah harganya tidak di ketahui, maka
perjanjian
jual
beli
tersebut
mengandung
unsure
penipuan
(gharar).
Hal
ini
sangat
perlu
untuk
menghindari
timbulnya

peristiwa hukum lain setelah terjadi perikatan. Misalnya dari akad

yang terjadi kemungkinan timbul kerugian dipihak pembeli atau

adanya cacat yang tersembunyi dari barang yang dibelinya.

6)

Barang yang ditransaksikan ada ditangan

Barang yang ditransaksikan ada ditangan maksudnya ialah objek

akad harus telah wujud pada waktu akad diadakan penjualan atas

barang yang tidak berada dalam penguasaan penjual tidak dapat diserahkan sebagaimana perjanjian. 16 c. Lafaz
barang
yang
tidak
berada
dalam
penguasaan
penjual
tidak dapat diserahkan sebagaimana perjanjian. 16
c. Lafaz ijab dan qabul
telah berpindah tangan. 17
adalah:
1)
Akad dengan tulisan
qabul
secara
lisan,
namun
sah
pula
hukumnya

adalah

dilarang, karena ada kemungkinan kualitas barang sudah rusak atau

Ulama fikih sepakat menyatakan, bahwa urusan utama dalam

jual beli adalah kerelaan kedua belah pihak.Kerelaan ini dapat

terlihat pada saat akad berlangsung.Apabila ijab dan qabul telah

diucapkan dalam akad jual beli, maka pemilikan barang dan uang

Adapun macam-macam akad dalam ijab qabul, diantaranya

Sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya,

akad jual beli dinyatakan sah apabila disertai dengan ijab dan

apabila

dilakukan dengan tulisan, dengan syarat kedua belah pihak

(pelaku akad) tempatnya berjauhan tempat atau pelaku akad

16 Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996), hal.

37-40

17 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2003), hal. 406

bisu. Jika pelaku akad dalam suatu tempat dan tidak ada

halangan untuk mengucapkan ijab qabul, maka akad jual beli

tidak dapat dilakukan dengan tulisan, karena tidak ada sebab

atau alasan penghalang untuk tidak berbicara. 18

2) Akad dengan perantara utusan kedua belah pihak, maka akad sudah menjadi sah. 19 3)
2)
Akad dengan perantara utusan
kedua belah pihak, maka akad sudah menjadi sah. 19
3)
Akad orang bisu
isyarat, ini jika si bisu memahami baca tulis.

Selain dapat menggunakan lisan dan tulisan, akad juga

dapat dilakukan dengan perantara utusan kedua belah pihak

yang berakad, dengan syarat utusan dari salah satu pihak

menghadap ke pihak lainnya.Jika tercapai kesepakatan antara

Sebuah akad juga sah apabila dilakukan dengan bahasa

isyarat yang dipahami oleh orang bisu. Isyarat bagi orang

merupakan ungkapan dari apa yang ada didalam jiwanya tak

ubahnya ucapan bagi orang yang dapat berbicara. Bagi orang

bisu boleh berakad dengan tulisan, sebagai ganti dari bahasa

Disamping syarat-syarat yang berkaitan dengan rukun

jual beli di atas, para ulama’ fikih mengemukakan beberapa

syarat lain yaitu:

18 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah jilid 4, hal. 122 19 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah jilid 4, hal 50-51

(1)

Syarat sah jual beli

Para ulama’ fikih menyatakan bahwa suatu jual beli baru

dianggap sah apabila tersebut terhindar dari cacat dan apabila

barang yang dijualbelikan itu benda bergerak, maka barang itu

boleh langsung dikuasai pembeli dan harga barang dikuasai penjual. Sedangkan barang tidak bergerak, boleh dikuasai
boleh langsung dikuasai pembeli dan harga barang dikuasai
penjual.
Sedangkan
barang
tidak
bergerak,
boleh
dikuasai
pembeli setelah surat menyuratnya diselesaikan.
(2)
Syarat yang terkait dengan pelaksanaan jual beli
Jual beli baru boleh dilaksanakan apabila yang berakad
mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual beli. Misalnya,
barang itu milik sendiri (barang yang dijual itu bukan milik
orang lain atau hak orang lain terkait dengan barang itu). Akad
jual
beli
tidak
boleh
dilaksanakan
apabila
orang
yang
melakukan akad tidak memiliki kekuasaan untuk melaksanakan
akad.
(3)
Syarat yang terkait dengan kekuatan hukum akad jual beli
Para ulama’ fikih sepakat menyatakan akad jual beli baru
bersifat mengikat apabila jual beli itu terbebas dari segala
macam khiyar. Apabila jual beli itu masih punya hak khiyar,

maka

jual

beli

dibatalkan. 20

itu

belum

mengikat

dan

masih

boleh

20 Nasrun Haroen,Fiqih Muamalah , hal. 115-120

Dari uraian yang telah diungkapkan di atas, seperti yang sudah

kita

ketahui

untuk

melakukan

jual

beli

tentunya

harus

adanya

pedagang dan pembeli. Oleh karena itu, agar suatu perniagaan berjalan

sesuai syariat Islam maka haruslah ada hukum dan syaratnya, adapun

kekuatan hukum akad jual beli tersebut. D. Macam-Macam Jual Beli Adapun macam-macam jual beli yang
kekuatan hukum akad jual beli tersebut.
D. Macam-Macam Jual Beli
Adapun macam-macam jual beli yang perlu kita ketahui, antara lain yaitu:
1. Jual beli yang sah
beli
tersebut
disyari’atkan
memenuhi
rukun
dan
syarat

yang menjadi rukun jual beli meliputi penjual, pembeli, barang yang

dijual, ikrar atau akad (ijab qabul), kerelaan kedua belah pihak. Untuk

syaratnya meliputi 3 hal dari segi penjual dan pembeli, uang dan yang

dibeli, dan lafaz ijab dan qabul, selain yang diwajibkan tersebut para

ulama fikih mengemukakan beberapa pendapat mengenai syarat yang

berkaitan dengan rukun jual beli, yaitu syarat sah jual beli, syarat yang

terkait dengan pelaksanaan jual beli, dan syarat yang terkait dengan

Suatu jual beli dikatakan sebagai jual beli yang sahih apabila jual

yang

ditentukan, bukan milik orang lain, tidak bergantung pula pada hak

khiyar lagi, jual beli seperti ini dikatakan sebagai jual beli yang

sahih.Misalnya, seseorang membeli sebuah kendaraan roda empat.

Seluruh rukun dan syarat jual beli telah terpenuhi, kendaraan roda

empat itu telah diperiksa oleh pembeli dan tidak ada cacat, tidak ada

yang rusak, tidak ada manipulasi harga dan harga buku (kwitansi)

itupun telah diserahkan, serta tidak ada lagi hak khiyar dalam jual beli

itu. Jual beli yang demikian ini hukumnya sahih dan telah mengikat

kedua belah pihak. 21

jual belinya adalah berikut ini: a. Jual beli orang gila sejenisnya, seperti orang mabuk dan
jual belinya adalah berikut ini:
a. Jual beli orang gila
sejenisnya, seperti orang mabuk dan lain-lain. 22
b. Jual beli anak kecil
Ulama
fikih
sepakat
bahwa
jual
beli
anak
kecil
ringan
atau
kecil.Menurut
ulama’
Syafi’iyah,
jual
beli
Malikiyah,
Hanafiyah,
dan
Hanabilah,
jual
beli
anak

Ulama’ sepakat bahwa jual beli dikategorikan sahih apabila

dilakukan oleh orang yang balig, berakal, dapat memilih, dan mampu

ber-tasarruf secara bebas dan baik. Mereka yang dipandang tidak sah

Ulama’ fikih sepakat jual beli orang gila tidak sah.Begitu pula

(belum

mumayiz) dipandang tidak sah, kecuali dalam perkara-perkara yang

anak

mumayiz yang belum balig tidak sah. Adapun menurut ulama’

kecil

dipandang sah jika ada izin walinya. Mereka antara lain beralasan,

salah satu cara untuk melatih kedewasaan adalah dengan memberi

keleluasaan untuk jual beli dan juga pengamalan, sesuai atas

firman Allah swt dalam Al-Qur’an surah an-Nisa’ (4) ayat 6:

21 Nasrun Haroen,Fiqih Muamalah, hal. 121 22 Rachmat Syafe'i, Fiqih Mua'malah, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), hal.93

     

Artinya:“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.

c. Jual beli orang buta baik. 23 d. Jual beli terpaksa ditangguhkan (mauqữf). Oleh karena
c. Jual beli orang buta
baik. 23
d. Jual beli terpaksa
ditangguhkan
(mauqữf).
Oleh
karena
itu,
ada kerida’an ketika akad. 24
e. Jual beli fusul

Jual beli orang buta di kategorikan sah menurut jumhur ulama

jika barang yang dibelinya diberi sifat (diterangkan sifat-sifatnya).

Adapun menurut ulama Syafi’iyah, jual beli orang buta itu tidak

sah sebab ia tidak dapat membedakan barang yang jelek dan yang

Menurut ulama’ Hanafiyah, hukum jual beli orang terpaksa

seperti jual beli fudul (jual beli tanpa seizin pemiliknya), yakni

keabsahannya

ditangguhkan sampai rela (hilangnya rasa terpaksa).Menurut ulama

Malikiyah tidak lazim baginya ada khiyar.Adapun menurut ulama

Syafi’iyah dan Hanabilah jual beli tersebut tidak sah, karena tidak

Jual

beli

fusul

adalah

jual

beli

milik

orang

tanpa

seizin

pemiliknya.Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah jual beli ini

23 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada,2003), h. 136

24 Al-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, jilid 12 ,( Bandung: al- Ma’arif, 1996), h. 71

ditangguhkan sampai ada izin pemilik.Adapun menurut ulama

Hanabilah dan Syafi’iyah jual beli fusul tidak sah.

f. Jual beli orang yang terhutang

Jual beli orang yang terhutang merupakan jual beli

terhalang.Maksud terhalang disini adalah terhalang mengharamkan hartanya, menurut pendapat ulama tidak sah
terhalang.Maksud
terhalang
disini
adalah
terhalang
mengharamkan
hartanya,
menurut
pendapat
ulama
tidak
sah
karena
tidak
ahli
dan
ucapannya
tidak
dan
Hanafiyah,
sedangkan
menurut
ulama
Syafi’iyah
Hanabilah, jual beli tersebut tidak sah.
yang
sudah
mendekati
mati
hanya
dibolehkan
sepertiga

karena

kebodohan, bangkrut, atau sakit.Jual beli orang bodoh yang suka

Malikiyah,

Hanafiyah, dan pendapat paling sahih dikalangan Hanabilah, harus

ditangguhkan.Adapun menurut ulama Syafi’iyah, jual beli tersebut

dapat

dipegang. 25 Begitu pula di tangguhkan jual beli orang yang sedang

bangkrut berdasarkan ketetapan hukum, menurut ulama Malikiyah,

dan

Menurut jumhur selain Malikiyah, jual beli orang sakit parah

dari

hartanya (tirkah), dan bila ingin lebih dari sepertiga, jual beli

tersebut ditangguhkan kepada izin ahli warisnya.Menurut ulama

Malikiyah, sepertiga dari hartanya hanya dibolehkan pada harta

yang

yang tidak bergerak, seperti rumah, tanah, dan lain-lain.

25 Rachmat Syafe'i, Fiqih Muamalah, hal.94

g. Jual beli malja‟

Jual beli malja’ adalah jual beli orang yang sedang dalam

bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan zalim.Jual beli

tersebut fasid, menurut ulama hanafiyah dan batal menurut ulama

Hanabilah. 2. Jual beli yang batil diharamkan syara’, seperti bangkai, darah, babi, dan khamar. 3.
Hanabilah.
2. Jual beli yang batil
diharamkan syara’, seperti bangkai, darah, babi, dan khamar.
3. Jual beli yang fasid
memperjualbelikan
barang-barang
haram
(khamar,
dan boleh diperbaiki, maka jual beli tersebut dinamakan fasid.

Jual beli yang batil yaitu jual beli yang apabila salah satu atau

seluruh rukunnya tidak terpenuhi, atau jual beli tersebut pada dasar dan

sifatnya tidak disyari’atkan, seperti jual beli yang dilakukan anak-

anak, orang gila, atau barang yang dijual itu barang-barang yang

Ulama Hanafiyah yang membedakan jual beli yang fasid dengan

jual beli yang batil.Apabila kerusakan dalam jual beli itu terkait

dengan barang yang dijualbelikan, maka hukumnya batal, seperti

babi,

darah).Apabila kerusakan pada jual beli itu menyangkut harga barang

Akan tetapi jumhur ulama tidak membedakan jual beli yang fasid

dengan jual beli yang batil.Menurut mereka jual beli itu terbagi

menjadi dua, yaitu jual beli yang sahih dan jual beli yang batil.Apabila

syarat dan rukun jual beli terpenuhi, maka jual beli itu sah.Sebaliknya,

apabila salah satu rukun atau syarat jual beli itu tidak terpenuhi, maka

jual beli itu batal. 26

4. Transaksi jual beli yang barangnya tidak ada di tempat akad

Transaksi jual beli yang barangnya tidak ada di tempat akad,

5. Transaksi atas barang yang sulit dan berbahaya untuk melihatnya menurut kebiasaan, misalnya makanan kaleng,
5. Transaksi atas barang yang sulit dan berbahaya untuk melihatnya
menurut kebiasaan, misalnya makanan kaleng,
saat
penggunaannya,
sebab
sulit
melihat
barang
tersebut
membahayakan. 27
Dari
uraian
yang
telah
diungkapkan
di
atas,
penulis

hukumnya boleh dengan syarat barang tersebut diketahui dengan jelas

klasifikasinya. Namun apabila barang tersebut tidak sesuai dengan apa

yang diinformasikan, akad jual beli akan menjadi tidak sah, maka

pihak yang melakukan akad dibolehkan untuk memilih menerima atau

menolak, sesuai dengan kesepakatan antara pihak pembeli dan penjual.

Diperbolehkan juga melakukan akad transaksi atas barang yang

tidak ada di tempat akad, bila kriteria barang tersebut diketahui

obat-obatan dalam

tablet, tabung-tabung oksigen, bensin dan minyak tanah melalui kran

pompa dan lainnya yang tidak dibenarkan untuk dibuka kecuali pada

dan

dapat

mengambil kesimpulan bahwa macam-macam jual beli dibagi dalam

lima kategori yang pertama yaitu jual beli yang sah, untuk jual beli

yang sah dikategorikan menjadi beberapa pilahan diantaranya yaitu,

26 Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, hal. 125-126 27 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah jilid 4, (Jakarta, Pena Pundi Aksara, 2006). hal. 131-132

jual beli orang gila, jual beli anak kecil, jual beli orang buta, jual beli

terpaksa, jual beli fusul, jual beli orang yang terhutang, dan jual beli

malja’. Yang kedua, yaitu jual beli yang bathil, ketiga jual beli yang

fasid, keempat jual beli yang barangnya tidak ada ditempat akad, dan

melihatnya. E. Jual Beli yang Dilarang dalam Islam 1. Bai‟ al-gharar pihak yang bertransaksi. 28
melihatnya.
E. Jual Beli yang Dilarang dalam Islam
1. Bai‟ al-gharar
pihak yang bertransaksi. 28
yang tidak bisa diserahterimakan. 29
Menurut
Imam Nawawi,
gharar merupakan unsur akad

yang terakhir jual beli yang barangnya sulit dan bernahaya untuk

Secara bahasa gharar bermakna ketidakpastian, ketidakpastian

bagi dua belah pihak yang melakukan transaksi jual beli.Secara istilah

gharar berarti suatu transaksi yang akibat atau risikonya terlipat bagi dua

Bai‟ Al-Gharar adalah jual beli yang mengandung unsur risiko dan

akan menjadi beban bagi salah satu pihak dan mendatangkan kerugian

financial. Gharar bermakna suatu yang wujudnya belum bisa dipastikan,

diantara ada dan tiada, tidak diketahui kualitas dan kuantitas atau sesuatu

yang

dilarang dalam syariat Islam. Menurut Imam al-Qarafi mengemukakan

gharar adalah suatu akad yang tidak diketahui dengan tegas, apakah efek

28 Al-Mu‟jam Al-Wasith, hal. 648

29 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah,

akad terlaksana atau tidak seperti melakukan jual beli ikan yang masih

dalam air (tambak).

كمسنا اورتشت لا : مهس و ًَهع للها يهص للها ل وسر لبق : لبق ًىع للها ٌضر دوعسم هبا هع

30

)دمحأ ياور( ررغ ًوإف ءبمنا ٌف

Artinya:“Jangan membeli ikan yang masih dalam air, maka sesungguhnya itu tipuan.”(H.R Ahmad dari Ibnu Mas’ud).
Artinya:“Jangan membeli ikan yang masih dalam air, maka sesungguhnya
itu tipuan.”(H.R Ahmad dari Ibnu Mas’ud).
Pendapat Imam al-Qarafi diatas sejalan dengan pendapat Imam as-
Sarakhsi dan Ibnu Taimiyah yang memanfang gharar dari ketidakpastian
akibat yang timbul dari suatu akad.Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan,
bahwa gharar adalah suatu obyek akad yang tidak mampu diserahkan,
baik obyek itu ada maupun tidak, seperti penjual sapi yang sedang lepas. 31
Sedangkan menurut Ibn Jazi Al-Maliki, gharar yang dilarang ada
10 (sepuluh) macam:
a.
Tidak dapat diserahkan, seperti menjual anak hewan yang masih dalam
kandungan induknya.
b.
Tidak diketahui harga dan barangnya.
c.
Tidak diketahu sifat barang atau harga.
d.
Tidak diketahui ukuran barang dan harga.
e.
Tidak diketahui masa yang akan dating, seperti: “saya jual kepadamu,

jika Jaed datang”.

30 Al Hafidh Ibn Hajar Asqolani, Buluqhul Maram min Adillatul ahkam, hal. 174 31 M.Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, hal.148

f. Menghargakan dua kali pada satu barang, seperti: kujual buku ini

seharga Rp. 10.000 dengan tunai atau seharga Rp. 15.000 dengan cara

utang.

g. Menjual barang yang diharapkan selamat. h. Jual beli husda‟, misalnya pembeli memegang tongkat jatuh
g.
Menjual barang yang diharapkan selamat.
h.
Jual beli husda‟, misalnya pembeli memegang tongkat jatuh wajib
membeli.
i.
Jual beli munabadzah, yaitu jual beli dengan cara lempar-melempar,
seperti seorang melempar bajunya kemudian yang lainpun melempar
bajunya, maka jadilah jual beli.
j.
Jual beli mulasamah apabila mengusap baju atau kain, maka wajib
membelinya. 32
2.
Jual Beli Barang yang tidak ada penjualnya (bai‟ al-ma‟dlum)
Bentuk jual beli atas objek transaksi yang tidak ada ketika kontrak jual
beli dilakukan. Ulama mazhab sepakat atas ketidaksahan akad ini.Seperti
menjual
mutiara
yang
masih
ada
didasar
lautan,
wol
yang
masih
dipunggung domba, menjual buku yang belum dicetak dan lainnya.
Mayoritas ulama sepakat tidak diperbolehkan akad ini, karena objek
tidak bisa ditentukan secara sempurna.Kadar dan sifatnya tidak bisa
teridentifikasi secara jelas serta objek tersebut tidak bisa diserahterimakan.

32 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, h. 98

Ibnu Qayyim dan Ibnu Taimyah memperbolehkan bai‟ al-ma‟dum

dengan

catatan

objek

transaksi

dapat

dipastikan

adanya

diwaktu

mendatang karena adanya unsur kebiasaan. 33

3.

Jual beli suatu barang yang belum diterima.

penuh. Sabda Rasul saw: 34 4. Jual beli barang najis perniagaan atas anjing, macan, srigala,
penuh. Sabda Rasul saw:
34
4. Jual beli barang najis
perniagaan
atas
anjing,
macan,
srigala,
kucing
sehingga digolongkan sebagai harta.

Dilarang menjual belikan barang yang baru dibeli sebelum diterimakan

kepada pembelinya, kecuali jika barang itu diamanatkan oleh si pembeli

kepada penjualnya, maka menjualnya itu sah, karena telah dimiliki dengan

لاف بمبعط ىرتشا هم : لبق مهس و ًَهع للها يهص للها لوسر نا : ًىع للها ٌضر ةرٍرٌ ٌبا هَع

)مهسم ياور( ًنبتكٍ يتح ًعبٍ

Artinya:“Abu Hurairah r.a mengatakan, sesungguhnya telah bersabda Rasulullah SAW: barang siapa yang membeli makanan janganlah ia menjualnya sehingga ia menerima takaran itu “. (HR. Muslim).

Menurut Hanafiyah, jual beli minuman keras, babi, bangkai dan darah

tidak sah, karena hal ini tidak bisa dikategorikan harta secara asal. Tapi

diperbolehkan.Karena

secara hakiki terdapat manfaat, seperti untuk keamanan dan berburu

Menjual barang najis dan manfaatnya diperbolehkan, asalkan tidak

untuk dikonsumsi. Seperti kulit hewan, minyak dan lainnya.Intinya, setiap

33 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008),

hal. 83

34 Al Hafidh Ibn Hajar Asqolani, Buluqhul Maram min Adillatul ahkam, 169

barang yang memiliki nilai manfaat yang dibenarkan syara’, maka boleh

 

ditransaksikan. 35

5.

Bai‟ al-inah

Bai‟ al-inah adalah pinjaman ribawi yang direkayasa dengan praktik

jual beli. Misalnya, Salwa menjual mobilnya seharga Rp.125.000.000 kepada Najwa secara tempo dengan jangka waktu
jual beli. Misalnya, Salwa menjual mobilnya seharga Rp.125.000.000
kepada Najwa secara tempo dengan jangka waktu pembayaran 3 bulan
mendatang. Sebelum waktu pembayaran tiba, Salwa membelinya dari
Najwa dengan harga Rp.100.000.000 secara kontan.
Najwa menerima uang cash tersebut, tapi ia tetap harus membayar
Rp.125.000.000 kepada Salwa untuk jangka waktu 3 bulan mendatang.
Selisih
Rp.25.000.000
dengan
adanya
perbedaan
waktu
merupakan
tambahan ribawi yang diharamkan.
6.
Bai‟atan fi bai‟ah
Imam Syafi’i menjelaskan 2 penafsiran, yaitu:
a.
Seorang penjual berkata, saya menjual barang ini Rp.2.000.000 secara
tempo dan Rp.1.000.000 secara kontan, terserah mau pilih yang mana
dan kontrak jual beli berlangsung tanpa adanya satu pilihan pasti dan
jual beli mengikat salah satu pihak.
b.
Saya akan menjual rumahku, tapi kamu juga harus menjual mobil

kamu kepadaku.

35 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah,h.83-84

Alasan dilarangnya bentuk transaksi pertama adalah adanya unsur

gharar karena ketidak jelasan harga, pembeli tidak tahu secara pasti harga

dalam akad yang disepakati penjual. Bentuk transaksi kedua dilarang

Penjual

karena mengandung unsur eksploitasi kepada orang lain. memanfaatkan kebutuhan pembeli dan mendapatkan sesuatu
karena
mengandung
unsur
eksploitasi
kepada
orang
lain.
memanfaatkan
kebutuhan
pembeli
dan
mendapatkan
sesuatu
diinginkan dan kemungkinan akan mengurangi kerida’an pembeli.
7. Barang yang tidak bisa diserah terimakan.
transaksi tidak bisa di serahterimakan dan mengandung unsur gharar. 36

yang

Mayoritas ulama Hanafiyah melarang jual beli ini walaupun objek

tersebut merupakan milik penjual.Seperti menjual burung merpati yang

keluar dari sangkarnya, mobil yang dibawa pencuri dan lainnya.Ulama

empat mazhab sepakat atas batalnya kontrak jual beli ini, karena objek

Dari uraian yang telah diungkapkan di atas, penulis dapat mengambil

kesimpulan bahwasanya dalam Islam adapula jual beli yang dilarang,

untuk jual beli yang termasuk didalamnya yaitu Ba’i al-Gharar dimana

jual beli tersebut mengandung unsur risiko dan akan menjadi beban bagi

salah satu pihak dan mendatangkan kerugian finansial, kemudian jual beli

yang tidak ada penjualnya (ba‟i al-ma‟dlum) jual beli suatu barang yang

belum diterima, jual beli barang najis, ba‟i al-inah yaitu pinjaman atau

jual beli yang direkayasa, bai‟atan fi bai‟ah dan yang terakhir barang yang

tidak bisa diserah terimakan.

36 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, h. 93

BAB III

BIOGRAFI EMPAT IMAM MAZHAB DAN ULAMA KONTEMPORER

A. Riwayat Hidup Empat Imam Mazhab 1. Riwayat Hidup Imam Abu Hanifah Pendiri mazhab ini
A. Riwayat Hidup Empat Imam Mazhab
1. Riwayat Hidup Imam Abu Hanifah
Pendiri mazhab ini adalah Abu Hanifah (80-150 H) dikenal sebagai
ulama
Ahl
al-Ra‟yi. 1 Sehingga
dapat
diketahui
bahwa
dalam
menetapkan
hukum Islam, baik yang diistinbathkan dari al-Qura‟an ataupun Hadis, beliau
banyak menggunakan nalar. Beliau lebih menggunakan ra‟yi dari khabar ahad.
Apabila terdapat hadis yang bertentangan, beliau menetapkan hukum dengan
jalan qiyas dan istihsan. Jika dipandang bahwa menggunakan qiyas kurang
tepat, dipergunakan istihsan. Jika tidak dapat dipergunakan istihsan, diambillah
„urf. Hal ini menjadikan Imam Hanafi banyak sekali mengemukakan masalah-
masalah baru, bahkan beliau banyak menetapakan hukum-hukum yang belum
terjadi.
Adapun metode istidlal Imam Abu Hanifah dapat dipahami dari ucapan
beliau sendiri yakni:
زبثلاأ ىهسٔ ّيهػ للها ٗهص للها لٕسز ةُسث ترخأ ّيف ِدجأ ىن ٌإف ّجدجٔ اذإ للها ةبحكث ترخأ يَإ

ّيهػ للها ٗهص للها لٕسز ةُسلأ للها ةبحك يف دجأ ىن ٌإف .تبقثنا ٖديأ يف ثشف يحنا ُّػ حبحصنا

اذإف .ىْسيغ لٕق ٗنإ ىٓنٕق ٍي جسخأ لا ىث ثئش ٍي لٕق عدأٔ ثئش ٍي ّثبحصأ لٕقث ترخأ ىهسٔ

1 Huzaemah Tahido Yanggo, pengantar Perbandingan Mazhab (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 2003), h.98

يهف أدٓحجا دق لابجز دػٔ تيسًنا ٍث ديؼسٔ ٍيسيس ٍثأ ٍسحنأ يجؼشنأ ىيْسثإ ٗنإ سيلاا ٗٓحَا

2 .أدٓحجا بًك دٓحجأ ٌأ

Artinya:”Sesunggguhnya saya berpegang kepada Kitab Allah (al-Qura‟an) apabila menemukannyya. Jika saya tidak
Artinya:”Sesunggguhnya saya berpegang kepada Kitab Allah (al-Qura‟an)
apabila menemukannyya. Jika saya tidak menemukannya, saya
berpegang kepada Sunnah Rasulullah saw dan atsar-atsar yang
memiliki tingkat keshahihan yang tersebar luas dikalangan perawi
terpercaya. Jika tidak saya temukan dalam kitab dan sunnah, saya
berpegang kepada pendapat para sahabat dan mengambil mana yang
saya sukai dan meninggalkan yang lainnya, saya tidak keluar (pindah)
dari pendapat mereka yang lainnya. Maka jika persoalan sampai
kepada Ibrahim, al-Sya‟bi, al-Hasan, Ibn Sirrin, Said ibn al-Musayyab
dan Abu Hanifah menyebut beberapa orang lagi, maka mereka itu
orang-orang yang telah berijtihad, karena itu saya pun berijtihad
sebagaimana mereka telah berijtihad.
ّيهػ ّهصٔ ّيهػ إيبقحسابئ سبُنا تلايبؼي يف سظُنأ حجقنا ٍي زاسفٔ ةقثنبث رخأ ةفيُح يثأ ولاك
ىن اذإف .ّن ٗضًي واد بي ٌبسححسا ٗهػ بٓيضًي سبيقنا حجق اذإف سبيقنا ٗهػ سيلأا ٗضًي ىْزٕيأ
وادبي ّيهػ سيقي ىث فٔسؼًنا ثيدحنا مصٕي ٌبك ٔ .ّث ًٌٕهسًنا ميبؼحي بي ٗنإ غجز ّن ٗضًي
3 .ّينإ غجز قفٔأ ٌبك بًٓيأ ٌبسححسلإا ٗنإ غجسي ىث بغئبس سبيقنا
Artinya: “pendirian Abu Hanifah ialah mengambil hal yang diyakini dan
dipercayai dan lari dari keburukan serta memperhatikan muamalah-
muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi
manusia, ia menjalankan urusan atas qiyas. Apabila qiyas tidak baik
dilakukan, ia melakukannya atas istihsan selama dapat dilakukannya.
Apabila tidak dapat dilakukan, ia kembali kepada „urf manusia. Dan
ia mengamalkan hadis yang sudah terkenal dan kemudian ia
mengqiyaskan sesuatu kepada hadis itu selama qiyas dapat dilakukan.
Kemudian ia kembali kepada istihsan. Di antara keduanya yang mana
lebih tepat, kembalilah ia kepadanya”.

Kutipan

di

atas

menunjukkan

bahwa

Imam

Abu

Hanifah

dalam

melakukan istinbath hukum berpegang kepada sumber dalil yang sistematika

2 Muhammad Ali al-Sayis, Tarikh al-Fiqh al-Islami (Kairo: Maktabah wa Matba‟ah Ali Sabih wa auladuh, t.th),h.91-92 3 Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah (al-Qahirah: Daar al-Fikr al-Arabiy, 1987), Juz

II, h. 161

atau tertib aturannya seperti apa yang ia ucapkan tersebut. Dari sistematika

atau tertib urutan sumber dalil di atas nampak bahwa Imam Abu Hanifah

menempatkan Al-Qura‟an pada urutan pertama, kemudian al-Sunnah pada urutan kedua dan seterusnya secara berurutan
menempatkan Al-Qura‟an pada urutan pertama, kemudian al-Sunnah pada
urutan kedua dan seterusnya secara berurutan pendapat sahabat, qiyas, istihsan,
dan terakhir „urf. Tidak disebutkannya ijma‟ dalam rumusan ini bukan berarti
Imam Abu Hanifah menolak ijma‟ tetapi menggunakan ijma‟ sahabat yang
tergambar dalam ucapannya di atas. 4 Jika terjadi pertentangan qiyas dengan
istihsan, sementara qiyas tidak dapat dilakukan, maka Imam Abu Hanifah
meninggalkan qiyas dan berpegang kepada istihsan karena ada pertimbangan
maslahat. Dengan kata lain pengguna qiyas dapat digunakan sepanjang ia dapat
memenuhi persyaratan. Jika qiyas tidak mungkin dilakukan terhadap kasus-
kasus yang dihadapi, maka pilihan alternatifnya adalah menggunakan istihsan
dengan alasan maslahat. 5
Secara terperinci dasar Imam Abu Hanifah dalam menetapkan suatu
dasar hukum adalah:
a. Al-Qur‟an sebagai sumber dari segala sumber hukum
b. Al-Sunnah

Al-Sunnah berfungsi sebagai penjelasan al-Qur‟an, merinci yang

masih bersifat umum (global). Jika dalam al-Qur‟an tidak dijumpai nash

mengenai suatu hukum, maka harus kembali ke al-Sunnah. Apabila

4 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h.106 5 Romli SA, Muqaranah Mazahib fil Ushul, (Jakarta: Gaya Media Pratam, 1999), h. 48

didalam al-Sunnah didapati hukum yang pasti, maka al-Sunnah tersebut

harus diikuti.

Abu Hanifah mensyaratkan bahwa hadis yang diriwayatkan harus masyhur di kalangan perawi hadis terpercaya. 6
Abu Hanifah mensyaratkan bahwa hadis yang diriwayatkan harus
masyhur di kalangan perawi hadis terpercaya. 6 Perawi hadis harus beramal
berdasarkan hadis yang diriwayatkan dan tidak boleh menyimpang dari
periwayatnya. Perawi hadis tidak boleh merupakan seseorang yang aibnya
tersebar dikalangan umum. 7
c. Aqwalu al-Shahabah (pendapat sahabat)
Fatwa
sahabat
(Aqwalu
al--Shahabah)
karena
mereka
semua
menyaksikan
turunnya
ayat
dan
mengetahui asbabun
nuzul-nya
serta asbabul wurud hadis dan para perawinya. Sedangkan fatwa para
tabiin tidak memiliki kedudukan sebagaimana fatwa sahabat. Perkataan
sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. 8
d. Al-Qiyas (Analogi) yang digunakan apabila tidak ada nash yang sharih
dalam Al Quran, Hadis maupun Aqwal Asshabah
e. Al-Istihsan
Abu Hanifah banyak menetapkan hukum dengan istihsan. Tetapi ia

tidak pernah menjelaskan pengertian dan rumusan dari istihsan yang

dilakukannya itu. Istihsan menurut bahasa, sebagaimana telah dijelaskan,

6 Muhammad Ali al-Sayis, Tarikh al-Fiqh al-Islami, h. 94 7 Muhammad Ali al-Sayis, Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Fiqh: Hasil Refleksi Ijtihad. Penerjemah M. Ali Hasan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 100 8 Muhammad Ali Hasan, Perbandingan Mazhab (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h.

189.

berarti menganggap atau memandang baik terhadap sesuatu. 9 Karena Abu

Hanifah tidak menjelaskan pengertian dan rumusan dari istihsan itu, maka

orang mengatakan bahwa Abu Hanifah dalam menetapkan hukum menurut keinginannya saja tanpa menggunakan metode. f.
orang
mengatakan
bahwa
Abu
Hanifah
dalam
menetapkan
hukum
menurut keinginannya saja tanpa menggunakan metode.
f.
„Urf
Abu Hanifah berpegang kepada‟urf
dalam menetapkan hukum. 10
Pendirian Abu Hanifah ialah mengambil hal yang sudah diyakini dan
dipercayai dan lari dari keburukan serta memperhatikan mauamalah-
muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi manusia.
2. Riwayat Hidup Imam Malik
Pendiri mazhab ini adalah Imam Malik (93-179 H). Imam Malik adalah
seorang tokoh yang dikenal para ulama sebagai alim besar dalam ilmu hadis. 11
Al-Muwaththa‟ adalah kitab hadis yang merupakan karya Imam Malik. Kitab
ini banyak mengandung hadis-hadis yang berasal dari Rasulullah saw atau
dari sahabat dan tabi‟in. Oleh karena itu, Imam Malik juga lebih dikenal
termasuk beraliran al-Hadis.
Adapun
metode
yang
digunakan
dalam
menetapkan
hukum

(istinbath) adalah :

9 Iskandar Usman, Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam (jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), h. 43 10 Muhammad Hasbi ash shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, h. 177 11 Huzaemah Tahido Yanggo, pengantar Perbandingan Mazhab (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 2003), h. 105

a. Al-Qur‟an

Imam Malik bersandarkan nash Al-Qur‟an sebagai pegangan pokok

dalam pengambilan hukum Islam. Pengambilan hukum itu berdasarkan zahir nash Al-Qur‟an atau keumumannya. 12 b.
dalam pengambilan hukum Islam. Pengambilan hukum itu berdasarkan
zahir nash Al-Qur‟an atau keumumannya. 12
b. Al-Sunnah
Imam Malik tidak mensyaratkan kepopuleran hadis seperti yang
disyaratkan Imam Hanafi dalam penerimaan hadis. Imam Malik tidak
menolak khobar wahid hanya karena bertentangan dengan qiyas atau
karena perawinya bertindak tidak sesuai dengan hadis periwayatannya.
Imam malik tidak mendahulukan qiyas dari khabar wahid. Selain itu,
Imam Malik juga menggunakan hadis mursal dalam mengistinbathkan
hukum. Beliau mensyaratkan dalam penerimaan khabar ahad yakni khabar
ahad tersebut tidak bertentangan dengan amal ahl Madinah dan tolak ukur
dalam hadis adalah hadis yang diriwayatkan oleh ulama Hijaz. 13
c. Amal Ahl al-Madinah
Amal Ahl al-Madinah ada dua macam yakni Amal Ahl al-Madinah yang
asalnya dari al-Naql, hasil dari mencontoh Rasulullah saw, bukan dari

hasil ijtihad Ahl al-Madinah seperti tentang penentuan suatu tempat,

seperti tempat mimbar Nabi saw atau tempat dilakukannya amalan-amalan

rutin seperti azan ditempat yang tinggi dan lain-lain. Ijma‟ semacam ini

12 Muhammad Ali al-Sayis, Tarikh al-Fiqh al-Islami, h. 99 13 Muhammad Ali al-Sayis, Tarikh al-Fiqh al-Islami, h. 101

dijadikan hujjah oleh Imam Malik. 14 Akan tetapi terkadang beliau menolak

hadis apabila ternyata berlawanan atau tidak diamalkan oleh para ulama

madinah. d. Khabar Ahad dan al-Qiyas Dalam penggunaan khabar ahad, Imam Malik tidak selalu konsisten.
madinah.
d. Khabar Ahad dan al-Qiyas
Dalam penggunaan khabar ahad, Imam Malik tidak selalu konsisten.
Kadang-kadang ia mendahulukan qiyas daripada khabar ahad. Kadang-
kadang ia mendahulukan khabar ahad daripada qiyas. 15 Jika khabar ahad
tidak dikenal dikalangan masyarakat Madinah, maka khabar ahad itu tidak
dianggap sebagai petunjuk dan tidak dianggap benar sebagai sesuatu yang
berasal
dari
Rasulullah
saw.
Dengan
demikian,
khabar
ahad
tidak
digunakan sebagai dasar hukum, akan tetapi ia menggunakan qiyaas dan
maslahah. Hal ini menunjukkan bahwa Imam Malik tidak mengakui
khabar ahad sebagai sesuatu yang dating dari Rasulullah jika khabar ahad
itu bertentangan dengan sesuatu yang sudah dikenal oleh masyarakat
Madinah. Kecuali khabar ahad itu dilakukan dengan dalil-dalil qat‟i.
e. Al-Maslahah al-Mursalah
Al-maslahah
al-mursalah
adalah
maslahah
yang
tidak
ada

ketentuannya secara tersurat atau sama sekali tidak disinggung dalam nash

dengan

tujuan

untuk

memelihara

tujuan-tujuan

syara‟

dengan

jalan

menolak segala sesuatu yang merusak makhluk. Jadi, maslahah mursalah

14 Huzaemah Tahido Yanggo, pengantar Perbandingan Mazhab (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 2003), h. 106 15 Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyyah,h. 215

itu kembali kepada memelihara syariat yang diturunkan. Tujuan syariat

dapat diketahui melalui al-Qur‟an, sunnah, dan ijma‟ ulama.

Imam Malik terlalu bebas dalam penggunaan prinsip istishlah, sehingga prinsip metodologi ini dinisbatkan pada
Imam
Malik
terlalu
bebas
dalam
penggunaan
prinsip
istishlah,
sehingga
prinsip
metodologi
ini
dinisbatkan
pada
dirinya.
Memang,
kadangkala para imam mujtahid menggunakan prinsip ini, tetapi dalam
bentuk lain, misalnya istihsan. 16
Adapun syarat-syarat penggunaan maslahah mursalah sebagai dasar
hukum yakni sebagai berikut. 17
1. Maslahah harus benar-benar merupakan maslahah menurut penelitian
seksama, bukan sekedar diperkirakan secara sepintas saja.
2. Maslahah harus bersifat umum bukan maslahah yang hanya berlaku
untuk orang-orang tertentu.
3. Maslahah tersebut merupakan maslahah yang bersifat umum yang
tidak bertentangan dengan nash atau ijma‟.
f. Fatwa Sahabat
Imam Malik berpegang kepada fatwa sahabat besar karena mereka
dianggap memiliki pengetahuan terhadap suatu masalah yang didasarkan

pada al-naql. Menurut Imam Malik, 18 para sahabat besar tersebut tidak

akan memberi fatwa kecuali atas dasar apa yang difahami dari Rasulullah

16 Muhammad Ali al-Sayis, Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Fiqh: Hasil Refleksi Ijtihad. Penerjemah M. Ali Hasan, h. 102-103 17 Muhammad Ali al-Sayis, Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Fiqh: Hasil Refleksi Ijtihad. Penerjemah M. Ali Hasan, h. 110 18 Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, h. 206

saw. Pada perkembangannya di kalangan muta‟akhirin mazhab Maliki,

mereka menjadikan fatwa sahabat yang semata-mata hasil ijtihad mereka

sebagai hujjah. g. Al-Istihsan Pendapat Imam malik dengan penggunaan prinsip istihsan terdapat pada banyak kasus
sebagai hujjah.
g. Al-Istihsan
Pendapat Imam malik dengan penggunaan prinsip istihsan terdapat
pada banyak kasus (persoalan) seperti persoalan saksi
yang melihat
langsung dan bersumpah, pemaksaan majikan dan para pemimpin untuk
penyamarataan pemberian upah kerja bagi para pekerja. Hanya saja, Imam
Malik tidak seberani mazhab Hanafiyah dalam menggunakan prinsip ini. 19
h. Sadd al-Zara‟i
Imam Malik menggunakan sad al-zara‟I sebagai landasan dalam
menetapkan hukum. 20 Menurutnya, semua jalan atau sebab yang menuju
kepada yang haram atau terlarang, maka hukumnya juga haram. Dan
semua jalan atau sebab yang menuju kepada yang halal, maka halalnya
juga hukumnya.
i. Istishab
Imam
Malik
menjadikan
istishab
sebagai
landasan
dalam

menetapkan hukum. Istishab adalah menetapkan sesuatu berdasar keadaan

19 Muhammad Ali al-Sayis, Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Fiqh: Hasil Refleksi Ijtihad. Penerjemah M. Ali Hasan, h. 103 20 Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyyah, h. 219

yang berlaku sebelumnya hingga ada dalil yang menunjukkan adanya

perubahan keadaan itu. 21

3. Riwayat Hidup Imam Syafi‟i Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi‟i (150 H-
3. Riwayat Hidup Imam Syafi‟i
Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi‟i (150 H-
204 H) dalam menetapkan hukum adalah sebagai berikut:
ٍُف داىسلإا حصَ للها لُسر هم ثيذحنا مصجا ارإَ .امٍيهع سايقف هكي من نإف ةىس َ نأرق مصلأا
اٍىم ًبشأ امف يواعمنا ممححا ارإ َ رٌاظ ىهع ثيذحنا َ درفمنا ربخنا هم ربكأ عامجلإاَ .ىٍحىمنا
هبا عطقىم اذع ام ءيسب عطقىمنا سين َ ,اٌلاَأ اداىسإ اٍحصأف ثيداحلاا تأفاكج ارإ َ ًب اٌلاَأ يرٌاظ
ىهع ًسايق حص ارإف ؟من عرفهن لاقي اموإ َ ؟ فيك ,من مصلأ لاقي لاَ مصأ ىهع مصأ سايق لاَ بيسمنا
22 .ةجح ًب ثماق َ حص مصلاا
Artinya:”Dasar utama dalam menetapkan hukum adalah Al-Qur‟an dan As-
Sunnah. Jika tidak ada, maka dengan mengqiyaskan kepada Al-
Qur‟an dan As-Sunnah. Apabila sanad hadis bersambung sampai
kepada Rasulullah saw, dan shahih sanadnya, maka itulah yang
dikehendaki. Ijma‟ sebagai dalil adalah lebih kuat khabar ahad dan
hadis menurut zahirnya. Apabila suatu hadis mengandung arti lebih
dari satu pengertian, maka arti yang zahirlah yang utama. Kalau
hadis itu sama tingkatannya, maka yang lebih shahihlah yang lebih
utama. Hadis munqathi‟ tidak dapat dijadikan dalil kecuali jika
diriwayatkan oleh Ibnu al-Musayyab. Suatu pokok tidak dapat
diqiyaskan kepada pokok yang lain dan terhadap pokok tidak dapat
dikatakan mengapa dan bagaimana, tetapi kepada cabang dapat
dikatakan mengapa. Apabila sah mengqiyaskan cabang kepada
pokok, maka qiyas itu sah dan dapat dijadikan hujjah”.

Dari

perkataan

imam

Syafi‟i

tersebut,

dapat

diambil

kesimpulan

bahwa pokok-pokok pemikiran beliau dalam mengistinbathkan hukum adalah:

21 Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Kairo: Dar al-Hadits,t.th), h. 102 22 Muhammad Ali al-Sayis, Tarikh al-Fiqh al-Islami, (Kairo: Maktabah wa Matba‟ah Ali Sabih wa Awladuh, t.th), h. 105

a. Al-Qur‟an dan Al-Sunnah

Imam

Syafi‟i

berpendapat

bahwa

Al-Qur‟an

dan

Al-Sunnah

mempunyai kedudukan yang sama yakni dalam satu martabat. Hal ini dikarenakan bahwa kedua-duanya berasal dari
mempunyai kedudukan yang sama yakni dalam satu martabat. Hal ini
dikarenakan
bahwa
kedua-duanya
berasal
dari
Allah
dan
keduanya
merupakan dua sumber yang membentuk syariat Islam. 23 Al-Sunnah
menurut beliau adalah menjelaskan Al-Qur‟an oleh karenanya Al-Sunnah
sejajar dengan Al-Qur‟an. Akan tetapi beliau tidak menyamakan hadis
ahad dengan Al-Qur‟an dan hadis mutawatir karena tidak sama nilainya.
Al-Qur‟an dan Al-Sunnah mempunyai derajat yang sama. Untuk
menghindari kekeliruan terhadap pandangan yang mempersamakan Al-
Qur‟an dan Al-Sunnah, maka perlu digaris bawahi: 24
1. Al-Sunnah yang seperingkat dengan Al-Qur‟an adalah Al-Sunnah al-
Mutawatirah(Sabitah), sama-sama qath‟I al-wurud. Sedangkan hadis
ahad tidak seperingkat dengan Al-Qur‟an karena zanni al-wurud.
Akan tetapi, hadis ahad dibolehkan mentakhsiskan ayat-ayat Al-qur‟an
yang zanni al-dalalah.
2. Al-Qur‟an dan Al-sunnah seperingkat dalam mengistinbathkan hukum

furu‟ bukan dalam menetapkan akidah.

3. Kesamaan

peringkat

tersebut

tidak

boleh

diartikan

sebagai

menurunkan Al-Qur‟an dari posisinya sebagai pokok dan sendi agama

23 Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, h. 239 24 Sulaiman Abdullah, Dinamika Qiyas dalam Pembaharuan Hukum Islam: Kajian Konsep Qiyas Imam Syafi‟i (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 57

Islam. Demikian juga tidak boleh diartikan sebagai menaikkan posisi

Al-Sunnah dari posisinya sebagai cabang dan penjelasan Al-qur‟an.

Persamaannya hanya dalam hal sama-sama menjadi landasan istinbath hukum furu‟. Imam Syafi‟i mengambil Al-Qur‟an
Persamaannya hanya dalam hal sama-sama menjadi landasan istinbath
hukum furu‟.
Imam Syafi‟i mengambil Al-Qur‟an dengan makna (arti) yang
lahir kecuali didapati alasan yang menunjukkan bukan arti yang lahir
itu yang harus dipakai atau dituruti. Dalam hal sunnah, beliau tidak
hanya mewajibkan mengambil hadis yang mutawatir saja, tetapi beliau
juga mengambil dan menggunakan hadis ahad sebagai dalil selam
perawi
hadis
tersebut
terpercaya,
kuat
ingatan
dan
bersambung
sanadnya langsung sampai kepada Nabi saw. 25
b.
Ijma‟
Imam syafi‟i menyatakan bahwa ijma‟ menjadi hujjah setelah Al-
Qur‟an
dan
Al-Sunnah
sebelum
qiyas
dalam
menetapkan
hukum. 26
Pengertian ijma‟ dalam pandangannya ialah bahwa para ulama suatu masa
bersatu
pendapat
tentang
sesuatu
persoalan,
sehingga
ijma‟
mereka
menjadi hujjah terhadap persoalan yang mereka ijma‟kan, seperti yang

dikemukakannya bahwa (“saya dan tidak seorangpun dari kalangan

ulama pernah mengatakan: “ini adalah persoalan yang telah disepakati”,

kecuali

menyangkut

persoalan

yang

tidak

seorang

ahli

pun

pernah

25 M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, h. 211 26 Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, h. 253

mempersoalkannya lagi kepada anda dan meriwayatkannya dari orang-

orang yang mendahuluinya, seperti shalat zuhur empat rakaat, bahwa

khamar itu diharamkan dan sebagainya”). 27

Statemennya tersebut mengandung pengertian bahwa mereka berijma‟ adalah para ulama karena merekalah yang bisa
Statemennya
tersebut
mengandung
pengertian
bahwa
mereka
berijma‟ adalah para ulama karena merekalah yang bisa menemukan apa
yang halal dan apa yang haram atas sesuatu yang tidak disebutkan dalam
Al-Qur‟an dan Al-Sunnah. Mereka terdiri dari ulama semasa dari seluruh
negeri Islam. Ijma‟ yang bisa dijadikan hujjah adalah ijma‟ yang berasal
dari ulam seluruh penjuru Islam bukan ijma‟ ulama ahl Madinah. Artinya,
ijma‟ ahl Madinah tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum.
Dengan
demikian,
Imam
Syafi‟i
menolak
ijma‟
ulama
yang
diakui
gurunya, Imam Malik. Hal ini sesuai dengan pernyataan beliau bahwa
ijma‟ adalah ijma‟ ulama pada suatu masa di seluruh dunia Islam, bukan
ijma‟ suatu negeri saja dan juga bukan ijma‟ kaum tertentu saja. 28
c.
Qiyas
Imam Syafi‟i menjadikan qiyas sebagai hujjah dan dalil dalam
menetapkan hukum setelah Al-Qur‟an, Al-Sunnah, dan ijma‟. Beliau

adalah mujtahid yang mula-mula menguraikan dasar-dasar qiyas. Beliau

adalah

mujtahid

pertama

yang

membicarakan

qiyas

dengan

patokan

kaidahnya

dan

menjelaskan

alasan-alasannya.

Maka

pantaslah

beliau

27 Muhammad Idris al-Syafi‟I, Al-Risalah, (Kairo: Dar al-Turas, 1979), Juz III, h. 534 28 Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyyah, (al-Qahirrah: Dar al-Fikr al-Arabiy, 1987),

h. 259

diakui sebagai peletak pertama metodologi qiyas sebagai satu disiplin

ilmu dalam menetapkan hukum Islam sehingga dapat dipelajari dan

diajarkan. 29 Sedangkan mujtahid sebelumnya sekalipun telah menggunakan qiyas dalam berijtihad, namun mereka belum
diajarkan. 29
Sedangkan
mujtahid
sebelumnya
sekalipun
telah
menggunakan qiyas dalam berijtihad, namun mereka belum membuat
rumusan patokan kaidah dan asas-asasnya, bahkan dalam praktek ijtihad
secara
umum
belum
mempunyai
patokan
yang
jelas
sehingga
sulit
diketahui mana hasil ijtihad yang benar dan mana yang keliru. Disini
Imam Syafi‟i tampil ke depan memilih metode qiyas serta memberikan
kerangka teoritis dan metodologinya dalam bentuk kaidah rasional namun
tetap praktis. Bahkan Imam Syafi‟i mengatakan bahwa ijtihad itu adalah
qiyas. 30
Beliau menggunakan qiyas berdasarkan firman Allah dalam Q.S. Al-
Nisa ayat 59:
                 
                   


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

29 Sulaiman Abdullah, Dinamika Qiyas dalam Pembaharuan Hukum Islam: Kajian Konsep Qiyas Imam Syafi‟i, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 96 30 Muhammad Idris al-Syafi‟i, Al-Risalah, (Kairo: Dar al-Turas, 1979), Juz III, h. 477

Imam Syafi‟I berpendapat bahwa maksud “kembalikan kepada Allah

dan Rasul-Nya” maksudnya adalah kembalikanlah kepada salah satu dari

keduanya yakni Al-Qur‟an atau Al-Sunnah. 31

Selain berdasarkan kepada Al-Qur‟an, imam Syafi‟i juga berdasarkan kepada Al-Sunnah dalam menetapkan qiyas
Selain
berdasarkan
kepada
Al-Qur‟an,
imam
Syafi‟i
juga
berdasarkan kepada Al-Sunnah dalam menetapkan qiyas sebagai hujjah,
yaitu berdasarkan hadis tentang dialog Nabi dengan sahabat yang bernama
Mu‟adz Ibn Jabal, ketika ia akan diutus ke Yaman sebagai gubernur
disana. Mu‟adz Ibn Jabal memutuskan masalah berdasarkan Al-Qur‟an,
jika
beliau
tidak
menemukan
dalam
Al-Qur‟an
maka
diputuskan
berdasarkan Al-Sunnah. Jika tidak ditemukan dalam Al-Sunnah, maka
beliau berijtihad berdasarkan pendapatnya.
4. Riwayat Hidup Imam Hambali
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241H) merupaka ahli hadis sebagaimana
yang telah disepakati oleh para ulama. Akan tetapi terjadi perselisihan di antara
ulama tentang kemampuan beliau sebagai ahli fikih. Ibn Jarir al-Thabary
berpendapat bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal termasuk ahlu al-Hadis. Oleh
karena itu, beliau tidak memperhitungkan pendapat-pendapat imam Ahmad

dalam menghadapi khilaf dalam persoalan fikih. Ibnu Qutaibah memasukkan

Ahmad ibn Hanbal dalam bilangan muhadditsin, bukan fuqaha. 32

31 Muhammad Idris al-Syafi‟I, Al-Risalah, Juz I, h. 81 32 Abu Zahrah, Tarikh al-Islamiyyah, h. 323

Adapun metode istidlal Imam Ahmad ibn Hanbal dalam menetapkan

hukum adalah:

a. Nash dari Al-Qur‟an dan Al-Sunnah yang shahih Apabila beliau telah menghadapi suatu nash dari
a. Nash dari Al-Qur‟an dan Al-Sunnah yang shahih
Apabila beliau telah menghadapi suatu nash dari Al-Qur‟an dari
Al-Sunnah Rasul yang shahih, maka beliau dalam menetapkan hukum
adalah dengan mengambil dari kedua sumber hukum tersebut
b. Fatwa para Sahabat Nabi saw
Imam Ahmad ibn Hanbal akan menetapkan
hukum dengan
mengambil dasar dari fatwa para sahabat Nabi saw yang tidak ada
perselisihan diantara mereka jika beliau tidak menemukan suatu nash
yang jelas dari Al-Qur‟an dan Rasul yang shahih.
c. Fatwa Sahabat yang diperselisihkan
Imam Ahmad ibn Hanbal akan menetapkan hukum dari fatwa
sahabat yang diperselisihkan dengan memilih fatwa sahabat yang lebih
mendekati Al-Qur‟an dan Al-Sunnah. Hal ini beliau lakukan jika
beliau tidak menemukan nash yang jelas dari Al-Qur‟an, Al-Sunnah
dan fatwa sahabat yang tidak ada perselisihan di antara mereka.
d. Hadis Mursal dan Hadis Dha‟if

Imam Ahmad ibn Hanbal membagi hadis menjadi dua yakni

hadis mursal dan hadis dha‟if tidak seperti ulama yang membagi hadis

menjadi shahih, hasan dan dha‟if. Apabila dalam suatu perkara tidak

terdapat

penyelesaian,

maka

hadis

mursal

dan

dha‟if

digunakan

sebagai hujjah. Akan tetapi hadis dha‟if yang digunakan bukan berarti

hadis dha‟if yang batil, mungkar dan hadis yang dalam periwayatnya

terdapat perawi yang diragukan kejujurannya. Apabila hadis dha‟if tersebut tidak terdapat atsar yang membantah
terdapat perawi yang diragukan kejujurannya. Apabila hadis dha‟if
tersebut tidak terdapat atsar yang membantah keabsahannya, atau
pendapat sahabat, tidak pula ijma‟, maka lebih mengamalkan hadis
dha‟if lebih utama daripada melakukan qiyas. 33
e.
Qiyas
Apabila Imam Ahmad tidak mendapatkan nash, baik Al-Qur‟an
san Sunnah yang shahih seta fatwa-fatwa sahabat, maupun hadis dha‟if
dan
mursal,
maka
Imam
Ahmad
dalam
menetapkan
hukum
menggunakan qiyas. Kadang-kadang Imam Ahmad pun menggunakan
al-Mashaliha al-Mursalah terutama dalam bidang siyasah. Sebagai
contoh, Imam Ahmad pernah menetapkan hukum ta‟zir terhadap orang
yang selalu buat berbuat kerusakan dan menetapkan hukum had yang
lebih berat terhadap orang yang minum khamar pada siang hari di
bulan
Ramadhan.
Cara
tersebut
banyak
diikuti
oleh
pengikut-
pengikutnya. Begitu pula dengan istihsan, istishab dan dadd al-Zara‟I,
sekalipun
Imam
Ahmad
sangat
jarang
menggunakannya
dalam

menetapkan hukum. 34

33 Muhammad Ali al-Sayis, Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Fiqh: Hasil Refleksi Ijtihad. Penerjemah M. Ali Hasan, h. 107-108 34 Huzaemah Tahido Yanggo, pengantar Perbandingan Mazhab (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 2003), h. 143

Kesimpulan dari uraian di atas Imam Abu Hanifah dikenal sebagai Ahl al-

Ra‟yi. Beliau mengistinbathkan hukum Islam dari Al-Qur‟an ataupun Hadis

banyak menggunakan nalar, beliau lebih menggunakan ra‟yi dari khabar ahad. Apabila terdapat hadis yang bertentangan,
banyak menggunakan nalar, beliau lebih menggunakan ra‟yi dari khabar ahad.
Apabila terdapat hadis yang bertentangan, beliau menetapkan dengan jalan qiyas
dan ihtisan. Menurut imam Abu Hanafiah dalam menetapkan sumber hukum
yaitu Al-Qur‟an, Al-Sunnah, Aqwalu al- Shahabah, al-Qiyas, al-Ihtisan, „Urf. Jika
menurut Imam Malik metode yang digunakan dalam menentapkan
(Istinbath)
didasarkan pada Al-Qur‟an, Al-Sunnah, Amal Ahl al-Madinah, Khabar Ahad dan
al-Qiyas, Al-Maslahah al-Mursalah, Fatwa Sahabat, Al-Istihsan, Saad al-Zara‟I,
Istishab. Jika menurut Imam Syafi‟i metode yang digunakan dalam menetapakan
hukum (istinbath) yaitu berdasarkan Al-Qur‟an dan Al-Sunnah, Ijma‟ terhadap
sesuatu yang tidak terdapat dalam Al-Qur‟an dan Al-Sunnah lebih diutamakan
atas
khabar
mufrad,
qaul
sebagian
sahabat
tanpa
ada
yang
menyalahinya,
pendapat sahabat Nabi yang ikhtilaf, qiyas terhadap Al-Qur‟an dan Al-Sunnah,
hadis muttasil dan sanadnya shahih, makna dzahir hadits diutamakan, al-Ashl
tidak boleh diqiyaskan kepada pokok, qiyas dapat menjadi hujjah, dan terakhir
Imam bin Hanbal ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan

hukum dan fatwa dalam mazhab beliau, yaitu Al-Qur‟an dan Al-Sunnah, fatwa

sahabat yang terkenal dan tak ada yang menentangnya, jika para sahabat berbeda

pendapat

maka

beliau

akan

memilih

pendapat

yang

dinilainya

sesuai

dan

mendekati Al-Qur‟an dan Al-Sunnah, mengambil hadis mursal dan yang terakhir

qiyas.

B. Ulama Kontemporer

1. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

a. Sejarah Lahirnya Sejalan dengan berkembangnya Lembaga Keuangan Syari‟ah di tanah air, berkembang pulalah jumlah
a. Sejarah Lahirnya
Sejalan dengan berkembangnya Lembaga Keuangan Syari‟ah di tanah
air, berkembang pulalah jumlah Dewan Pengawas Syari‟ah yang berada dan
mengawasi masing-masing lembaga tersebut. Banyaknya dan beragamnya
Dewan Pengawas Syari‟ah di masing-masing Lembaga Keuangan Syari‟ah
adalah suatu hal yang harus disyukuri. Tetapi juga diwaspadai. Kewaspadaan
ini berkaitan dengan adanya kemungkinan timbulnya fatwa yang berbeda-
beda dari masing-masing Dewan Pengawas Syari‟ah dan hal itu tidak mustahil
akan membingungkan umat dan nasabah. Oleh karena itu, Majelis Ulama
Indonesia (MUI) sebagai payung dari lembaga dan organisasi keislaman di
Indonesia, menganggap perlu dibentuknya satu dewan syari'ah yang bersifat
nasional dan memahami seluruh lembaga keuangan, termasuk di dalamnya
bank-bank syari'ah. Lembaga ini kemudian dikenal dengan Dewan Syari‟ah
Nasional. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
adalah salah satu lembaga yang dibentuk merupakan perangkat kerja MUI.

Kehadirannya merupakan implementasi dari orientasi, fungsi, dan tugas MUI,

antara lain memberikan fatwa, pengayoman, dan bimbingan kepada umat

dalam melaksanakan ajaran Islam, serta merupakan langkah proaktif MUI

dalam

merespon

kebutuhan

umat

Islam

untuk

dapat

memiliki

sistem

perekonomian Islami dan lembaga keuangan non ribawi.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dibentuk

pada tahun 1997 dan merupakan hasil rekomendasi lokakarya reksadana syariah

pada bulan Juli tahun 1997. Lembaga ini merupakan lembaga otonomi di bawah

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dipimpin oleh ketua umum Majelis Ulama Indonesia dan sekretaris (ex-oficio). 35
Majelis Ulama Indonesia (MUI), dipimpin oleh ketua umum Majelis Ulama
Indonesia dan sekretaris (ex-oficio). 35
Selanjutnya, pada tanggal 14 Oktober 1997, MUI mengadakan rapat
tim pembentukan Dewan Syariah Nasional (DSN). Dua tahun setelah tim
pembentukan DSN bekerja, dewan pimpinan MUI menerbitkan SK No. Kep-
754/MUI/II/1999 tertanggal 10 Februari 1999 tentang pembentukan Dewan
Syariah Nasional MUI. Kemudian dewan pimpinan MUI mengadakan acara
ta‟aruf
dengan
pengurus
DSN-MUI tanggal
15
Februari
1999
di
hotel
Indonesia, jakarta dalam acara ta‟aruf ini Menteri Agama, saat itu, Prof. H. A.
Malik Fadjar, M. Ed., melantik pengurus DSN-MUI.
Pembentukan
Dewan
Syariah
Nasional
MUI
ini
pun
merupakan
langkah efisien dan koordinatif para ulama dalam menanggapi isu-isu yang
berhubungan
dengan
masalah
ekonomi/keungan.
Berbagai
masalah/kasus
yang memerlukan fatwa akan ditampung dan dibahas bersama agar diperoleh
kesamaan
pandangan
dalam
penanganannya
oleh
masing-masing Dewan

Pengawas Syariah (DPS) yang ada di lembaga keuangan syariah. Penguru

DSN-MUI untuk pertama kalinya mengadakan rapat pleno I DSN-MUI

35 Mohammad Syafi'i Antonio, Bank Syari'ah dan Teori dan Praktek, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003) , hlm. 32

tanggal 1 April 2000 di Jakarta dengan mengesahkan pedoman dasar dan

pedoman rumah tangga DSN-MUI.

b. Tugas DSN-MUI Tugas dan fungsi DSN-MUI adalah mengeluarkan fatwa tentang ekonomi syariah untuk dijadikan
b. Tugas DSN-MUI
Tugas dan fungsi DSN-MUI adalah mengeluarkan fatwa tentang
ekonomi syariah untuk dijadikan pedoman bagi praktisi dan regulator. Saat
ini, DSN MUI telah mengeluarkan fatwa sebanyak 81 fatwa. Fatwa-fatwa
tersebut mengikat Dewan Pengawas Syariah
di masing-masing lembaga
keuangan syariah dan menjadi dasar tindakan hukum pihak terkait. Selain itu,
fatwa-fatwa tersebut menjadi landasan bagi ketentuan/peraturan syariah, dan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah
Negara (SBSN).
c. Wewenang DSN-MUI
1)
Mengeluarkan fatwa yang mengikat Dewan Pengawas Syariah di
masing-masing lembaga keuangan syariah dan menjadi dasar tindakan
hukum pihak terkait.
2)
Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan bagi ketentuan/peraturan
yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenan