Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara tropis di dunia. Iklim tropis

menjadi penyebab berbagai penyakit tropis yang disebabkan oleh nyamuk, seperti

malaria, filaria, demam berdarah, dan kaki gajah, bahkan menimbulkan epidemi

yang berlangsung dalam spektrum yang luas dalam masyarakat.

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit rnenular menahun yang

disebabkan oleh cacing filaria dan dituiarkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles,

Culex, Armigeres. Cacing tersebut hidup di saluran dan kelenjar getah bening

dengan manifestasi klinik akut berupa demam berulang, peradangan saluran dan

saluran kelenjar getah bening. Pada stadium lanjut dapat menimbulkan cacat

menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara dan alat kelamin (Chin,

2006).

Filariasis (penyakit kaki gajah) merupakan penyakit menular menahun

yang disebabkan oleh infeksi cacing. Dengan hospes perantara adalah nyamuk

Culex fatigans. Filaria hidup di kalenjar getah bening dan darah, bersifat menahun

dan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat

kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Sampai saat ini di Indonesia telah

ditemukan tiga spesies cacing filaria yang menginfeksi manusia, yaitu Wuchereria

bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi (Kaihena, 2011).

Nyamuk Culex fatigans dikenal sebagai vektor penular arbovirus, demam

kaki gajah, dan malaria pada unggas. Kepadatan populasi nyamuk Culex sangat

1
dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku penduduk. Keberadaan genangan air

kotor seperti saluran air limbah yang menggenang dan tidak tertutup, keberadaan

semak, serta perilaku pengendalian lingkungan oleh warga telah terbukti berkaitan

dengan kejadian filariasis pada beberapa penelitian (Wulandhari dan Pawenang,

2017).

Larvasida merupakan suatu bahan insektisida yang mampu menghambat

siklus hidup atau membunuh stadium larva pada habitat aslinya atau pada

potensial habitatnya. Suatu larvasida nyamuk yang efektif harus memiliki kerja

yang cepat persisten pada berbagai tempat nyamuk, baik pada air yang bersih

maupun pada air yang tercemar (Haeni, 2008).

Selama ini pengendalian larva nyamuk masih menggunakan larvasida

kimia. Penggunaan larvasida kimia yang berlebihan dapat berdampak negatif

karena larvasida kimia tidak ramah lingkungan dan berisiko terhadap resistensi

nyamuk (Tiwaryet et al., 2007).

Menurut Mahyuni (2015), penggunaan pestisida sintetik perlu diperhatikan

secara serius. Bahaya pestisida dapat menyebabkan keracunan, penyakit, kanker

bahkan kematian akibat keracunan ataupun terpapar pestisida. Tingkat

penggunaan terhadap pestisida sintetik tidak dirasakan langsung saat ini, karena

bersifat kumulatif dan berpengaruh terhadap lama kerja saat penyemprot pestisida

diaplikasikan, sehingga pajanan pestisida dapat menyebabkan kematian.

Tanaman herbal telah banyak digunakan sebagai pestisida alami, dan sebagai

pengganti pestisida sintetik. Salah satu bahan alami adalah tanaman Attarasa

(Litsea cubeba (Lour.) Pers). Pada setiap bagian tanaman attarasa (Litsea cubeba

(Lour.) Pers) memiliki kandungan senyawa alkaloid.

2
Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya tanaman

rempah-rempah. Salah satu jenis tumbuhan rempah-rempah yang potensial untuk

dikembangkan adalah Attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers) yang banyak terdapat

di daerah Tapanuli Utara. Tumbuhan ini mengandung minyak atsiri yang terdapat

dalam buah, batang, akar, dan daun. Hal ini membuat seluruh bagian tumbuhan ini

berbau harum (Budiman, 2009).

Attarasa (Litsea cubeba Lour.) merupakan tumbuhan dari keluarga

Lauraceae yang kaya akan senyawa minyak atsiri. Secara tradisional, minyak

atsiri dari attarasa digunakan untuk antidepresan, antiinflamasi, antioksidan,

pestisida, antimikroba, antikanker dan neuro farmakologi (Piyapat, 2014).

Buah attarasa mengandung senyawa asam laurat, asam kaprik, asam oleat,

minyak atsiri, glikosida, resin dan alkaloid. Alkaloid merupakan senyawa

metabolit sekunder yang paling banyak jumlah strukturnya. Senyawa ini banyak

terdapat di dalam tumbuhan dan tersebar di seluruh bagiannya, terutama di bagian

daun dan batang (Hesse, 2002).

Secara tradisional cukup dikenal di daerah-daerah tertentu di Indonesia

sebagai tumbuhan berkhasiat obat, pencampur masakan dan memiliki nilai-nilai

kultural. Pohon ini juga dikenal secara ilmiah terutama bidang biofarmaka dengan

hasil utama berupa minyak atsiri yang dikenal dengan nama minyak ki

lemo/minyak kranggean (Indonesia) dan may chang oil/cubeba oil (Internasional)

(Sylviani dan Elvida, 2010).

Penelitian-penelitian pada tingkat internasional yang mengkaji Litsea

cubeba (Lour.) Pers sudah sangat pesat bila dibandingkan dengan di Indonesia,

3
khususnya terkait aspek biofarmaka, yaitu studi-studi mengenai kandungan

senyawa kimia dan kegunaannya.

Hasil penelitian di pegunungan Assam India menunjukkan semua bagian

dari tumbuhan ini mengandung minyak atsiri dengan komposisi senyawa yang

bervariasi (Hamzah et al., 2003), didukung pula oleh penelitian di Cina, Taiwan

dan Korea diketahui kandungan senyawa masing-masing bagian cenderung

berbeda (Wang dan Liu, 2010), minyak atsiri yang dihasilkan mengandung

senyawa antikanker (Ho et al., 2010), sebagai insektisida dan anti rayap (Seo et

al., 2009), antimikrobia isoquinoline alkaloid aktif sebagai bahan obat tradisional

(Feng et al., 2009), antibakteri (Wang dan Liu, 2010) dan antioksidan (Hwang et

al., 2005).

Pada penelitian ini, peneliti tertarik melakukan penelitian pada aktivitas

larvasida buah attarasa. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk

menambah informasi tentang potensi yang tersimpan dalam tumbuhan attarasa

(Litsea cubeba (Lour.) Pers) khususnya sebagai larvasida terhadap larva nyamuk

Culex fatigans. Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan,

dalam pengembangan penelitian bahan alam yang mengandung alkaloid di

Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas diambil perumusan masalah yaitu :

apakah ekstrak etanol buah attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers) menunjukkan

aktivitas larvasida terhadap larva nyamuk Culex fatigans?

4
1.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah diatas maka dibuat hipotesis yaitu :

ekstrak etanol buah attarasa memiliki aktivitas larvasida terhadap larva nyamuk

Culex fatigans.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui aktivitas larvasida

ekstrak etanol buah Attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers) terhadap larva nyamuk

Culex fatigans. dengan menghitung nilai LC50 dari ekstrak tersebut.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah informasi

tentang potensi yang tersimpan dalam tumbuhan attarasa (Litsea cubeba (Lour.)

Pers) khususnya sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Culex fatigans.

Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, dalam

pengembangan penelitian bahan alam yang mengandung senyawa alkaloid di

Indonesia.

1.6 Kerangka Pikir Penelitian

Penelitian ini melakukan pengujian aktivitas larvasida dari ekstrak etanol

buah attarasa. Terdapat satu variabel bebas ekstrak etanol buah attarasa dengan

berbagai konsentrasi. Sementara pada variabel terikat ekstrak etanol buah attarasa

ditentukan nilai LC50. Kerangka pikir penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.1.

5
Variabel bebas Variabel terikat Parameter

EEBA

Konsentrasi
- 400 ppm Jumlah
- 200 ppm LC50
- 100 ppm Kematian Larva
- 50 ppm
- 25 ppm
- 12,5 ppm
- Kontrol

Gambar 1.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Filariasis

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit rnenular menahun yang

disebabkan oleh cacing filaria dan dituiarkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles,

Culex, Armigeres. Cacing tersebut hidup di saluran dan kelenjar getah bening

dengan manifestasi klinik akut berupa demam berulang, peradangan saluran dan

saluran kelenjar getah bening. Pada stadium lanjut dapat menimbulkan cacat

menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara dan alat kelamin (Chin,

2006).

Penyakit filariasis terutama ditemukan di daerah khatulistiwa dan merupakan

masalah di daerah dataran rendah. Tetapi kadang-kadang juga ditemukan di

daerah bukit yang tidak terlalu tinggi. Di Indonesia filariasis tersebar luas pada

banyak pulau, seperti di Sumatera dan sekitarnya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,

NTT, Maluku, dan Irian Jaya (Itokindo,2012).

Manusia yang mengandung parasit selalu dapat menjadi sumber infeksi bagi

orang lain yang rentan. Biasanya pendatang baru ke daerah endemis lebih rentan

terhadap infeksi filariasis dan lebih menderita daripada penduduk asli. Pada

umumnya laki-laki lebih banyak yang terkena infeksi, karena lebih banyak

kesempatan untuk mendapat infeksi (exposure). Juga gejala penyakit lebih nyata

pada laki-laki, karena pekerjaan fisik yang lebih berat (FK UI, 2009).

7
Filariasis disebabkan oleh cacing filarial pada manusia, yaitu

(1) Wuchereria bancrofti,

(2) Brugia malayi,

(3) Brugia timori,

(4) Loa loa,

(5) Onchocerca volvulus,

(6) Acanthocheilonema perstants;

(7) Mansonella azzardi.

Yang terpenting ada tiga spesies, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi,

dan Brugia timori (Restila, 2011). Cacing ini habitatnya dalam sistern peredaran

darah, limpha, otot, jaringan ikat atau rongga serosa. Cacing dewasa mempakan

cacing yang langsing seperti benang berwarna putih kekuningan, panjangnya 2 -

70 cm, cacing betina panjangnya lebih kurang dua kali cacing jantan. Biasanya

tidak mempunyai bibir yang jelas, mulutnya sederhana, rongga mulut tidak nyata.

Esofagus berbentuk seperti tabung, tanpa bulbus esofagus, biasanya bagian

anterior berotot sedangkan bagian posterior berkelenjar (Natadisastra, 2009).

Filaria membutuhkan insekta sebagai vektor. Nyarnuk culex adalah vektor

dari penyakit filariasis Wuchereria bancrofti dan Brugia malayi. Jumlah spesies

Anopheles, Aedes, Culex, dan Mansonia cukup banyak, tetapi kebanyakan dari

spesies tersebut tidak penting sebagai vektor alami ( Chandra, 2007)

Penularan dapat terjadi apabiia ada 5 unsur yaitu sumber penular (manusia

dan hewan), parasit, vektor, manusia yang rentan, lingkungan (fisik, biologik dan

sosial-ekonomi-budaya). Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki

gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang

8
mengandung larva stadium III (instar III). Kemudian memasuki periode laten atau

prepaten. Periode laten adalah waktu yang diperlukan antara seseorang

mendapatkan infeksi sampai dtemukannya rnikrofilaria di dalam darahnya. Waktu

ini sesuai dengan pertumbuhan cacing hingga dewasa sampai melahirkan

rnikrofilaria kedalam darah dan jaringan (Kemenkes RI, 2010).

Skema rantai penularan filariasis adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Skema Rantai Penularan Filariasis

Perkembangan klinis filariasis dipengaruhi oleh faktor kerentanan individu

terhadap parasit, seringnya mendapat gigitan nyamuk, banyaknya larva infektif

yang masuk ke dalam tubuh adanya infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur.

Secara urnum perkembangan klinis filariasis dapat dibagi menjadi fase dini dan

fase lanjut. Pada fase dini timbul gejala klinis akut karena infeksi cacing dewasa

bersama-sama dengan infeksi oleh bakteri dan jamur. Pada fase lanjut terjadi

kerusakan saluran dan kerusakan kelenjar, kerusakan katup saluran limfe,

termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang terdapat di kulit (Depkes RI, 2005).

9
Pada dasarnya perkembangan klinis filariasis tersebut disebabkan karena

cacing filaria dewasa yang tinggal dalam saluran limfe bukan penyumbatan

(obstruksi), sehingga terjadi gangguan fungsi sistem limfatik :

1. Penimbunan cairan limfe.

2. Terganggunya pengangkutan bakteri dari kulit atau jaringan melalui

saluran limfe ke kelenjer limfe.

3. Kelenjer limfe tidak dapat menyerang bakteri yang masuk dalam kulit.

4. Infeksi bakteri berulang akan menyebabkan serangan akut berulang

(recurrent acute attack).

5. Kerusakan sistem limfatik, termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang

ada di kulit, menyebabkan menurunnya kemampuan untuk mengalirkan

cairan limfe dari kulit dan jaringan ke kelenjar limfe sehingga dapat

terjadi limfedema.

6. Pada penderita limfedema, serangan akut berulang oleh bakteri atau jamur

akan menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit, hiperpigmentasi,

hiperkeratosis dan peningkatan pembentukkan jaringan ikat (fibrose

tissue formation) sehingga terjadi penigkatan stadium limfedema, dimana

pembengkakkan yang semula terjadi hilang timbul akan menjadi

pembengkakkan menetap (Depkes RI, 2005).

2.2 Culex fatigans

Nama lain nyamuk Culex fatigans adalah Culex quinquefasciatus. Kepala

Culex umumnya bulat atau sferik dan memiliki sepasang mata, sepasang antena,

sepasang palpi yang terdiri atas 5 segmen dan 1 probosis antena yang terdiri atas

15 segmen. Berbeda dengan Aedes, pada genus Culex tidak terdapat rambut pada

10
spiracular maupun pada post spiracular. Panjang palpus maxillaries nyamuk

jantan sama dengan proboscis (Setiawati, 2000).

Klasifikasi dari nyamuk Culex sp adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Diptera

Sub Ordo : Nematocera

Famili : Culicidae

Subfamily : Culicinae

Genus : Culex sp.

Spesies : Culex fatigans

Culex sendiri memiliki beberapa jenis, dimana banyak tersebar di area

tropis dan subtropik daerah Asia Tenggara seperti, Thailand, Singapura, Malaysia,

dan juga Indonesia. Nyamuk ini hidup dan berkembangbiak di air yang keruh atau

kotor seperti di got, selokan, comberan, sungai yang dipenuhi sampah dan tempat-

tempat lainnya yang tinggi pencemarannya (Prianto, 2000). Begitu pula dengan

larva, lebih menyukai tempat-tempat yang tertutupi rumput maupun tanaman air.

Hal ini bertujuan agar larva terlindungi dari ikan dan predator air lainnya

(Stephanie dan Roxanne, 2013).

Daur hidup nyamuk Culex terdiri atas stadium telur, larva, pupa, dan

nyamuk dewasa Nyamuk Culex termasuk ke dalam binatang yang mengalami

metamorfosis sempurna, yaitu melewati tahapan telur → larva → pupa→ dewasa.

Dimana larva akan menjadi pupa yang berkembang di dalam air, kemudian dalam

11
waktu 2-3 hari telur tersebut akan menetas menjadi larva yang disebut larva instar

I. Selanjutnya larva akan berkembang menjadi larva instar II, III, dan IV. Dimana

pada setiap pergantian instar akan ditandai dengan pengelupasan kulit yang

disebut dengan ekdisis. Selanjutnya, larva instar IV akan berkembang menjadi

pupa dan kemudian menjadi nyamuk. Siklus hidup nyamuk Culex dapat dilihat

pada gambar 2.1 dan untuk ciri nyamuk Culex dapat dilihat pada gambar 2.2

(Prianto,2000).

Gambar 2.2 Siklus Hidup Nyamuk Culex


Sumber: American Mosquito Control Association. 2014.

Gambar 2.3 Ciri khas nyamuk Culex


Sumber: Kent S Littig, 2012.

12
Nyamuk Culex bertelur di air tawar yang relatif kotor, seperti pada

genangan air, got saluran air, dan di tempat pembuangan air limbah rumah tangga.

Nyamuk Culex dapat bertelur 100 – 400 buah yang akan menetas dalam 24-30

jam setelah diletakkan di dalam air. Telur tersebut akan berkelompok dan bila

diperhatikan akan terlihat seperti gambaran rakit di atas permukaan air. Pada saat

pertama kali nyamuk menetaskan telurnya, telur itu berwarna putih dan setelah

beberapa menit telur tersebut berubah warna menjadi warna abu-abu, dan kurang

dari 20 menit setelahnya, telur tersebut akan berubah menjadi wana hitam.

(Prianto,2000). Gambaran telur nyamuk Culex dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.4 Telur Nyamuk Culex

Dalam waktu 2 – 3 hari telur akan menetas menjadi larva, yang disebut

dengan larva instar I, selanjutnya akan berkembang menjadi larva instar II, III,

dan IV dengan waktu sekitar 6-8 hari, sesuai dengan temperatur dan ketersediaan

makanan. Setiap akhir instar, larva akan melakukan pergantian kulit yang disebut

dengan “moulting” (Natadisastra, 2005). Ciri khas pada larva Culex adalah siphon

yang panjangnya 4 kali lebih panjang daripada larva nyamuk lainnya. Sifon

(corong nafas) digantungkan di atas permukaan air, sehingga dengan demikian

larva dapat mengambil makanannya (FK UI, 2009). Beberapa faktor yang

13
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk antara lain suplai

nutrisi dan temperatur tempat larva hidup (Manimegalai dan Sukanya, 2014).

Sesuai dengan perkembangannya, larva nyamuk dibagi menjadi 4 tahap

yaitu instar I, II, III dan IV (FK UI, 2009). Instar I yaitu pada hari ke 1-2 setelah

telur menetas dengan ukuran 1-2 mm. Instar II yaitu pada hari ke 2-3 setelah telur

menetas dengan ukuran 2,5 - 3,5 mm. Instar III yaitu pada hari ke 3-4 setelah

telur menetas dengan ukuran 4-5 mm. Instar IV yaitu pada hari ke 4-6 setelah telur

menetas dengan ukuran 5-6 mm (Manimegalai dan Sukanya, 2014). Gambaran

perbedaan morfologi larva Culex dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.5 Perbedaan Morfologi Larva Culex

Waktu yang dibutuhkan dari seekor larva menjadi pupa adalah selama 5-8

hari. Fase pupa untuk menjadi nyamuk berlangsung selama 1-3 hari. Pada saat

menjadi pupa, bagian kepala dan dada bergabung menjadi cephalothoraks dengan

perut melengkung sehingga terlihat seperti bentuk koma dan pupa bergerak secara

aktif (Prianto, 2000). Pupa sering naik ke permukaan air untuk bernapas melalui

sepasang terompet pernafasan di bagian toraksnya (FK UI, 2009). Pada fase ini,

pupa tidak memerlukan makanan dan terjadi perkembangan organ tubuhnya

seperti sayap untuk persiapannya menjadi nyamuk dewasa (Stephanie dan

Roaxanne, 2013).

14
Gambar 2.6 Pupa dan Larva Nyamuk Culex sp

Setelah 2 – 3 hari, dari pupa akan muncul nyamuk dewasa melalui proses

robeknya kulit pada bagian toraks. Tubuh nyamuk Culex dewasa berwarna hitam

kecoklatan yang terdiri atas bagian kepala, toraks, dan abdomen. Pada bagian

kepala terdapat sepasang mata, antenna yang terdiri atas 15 ruas, dimana antenna

pada nyamuk jantan lebih lebat bila dibandingkan dengan nyamuk betina karena

berfungsi untuk mencari nyamuk betina dengan cara mendeteksi bau nyamuk

betina, palpus yang terdiri atas 5 ruas berfungsi sebagai pendeteksi tingkat

kelembapan lingkungan, dan proboscis yang digunakan untuk menghisap

makanan. Selain itu, ada hal lain yang membedakan jantan dan betina yaitu

panjang palpus dan proboscis (Prianto, 2000).

Pada nyamuk jantan, palpus lebih panjang atau sama dengan proboscis .

Sayap pada nyamuk berbentuk sempit panjang dengan ujung runcing dan kaki

yang berwarna lebih gelap dibandingkan tubuhnya. Nyamuk jantan hidup lebih

sebentar daripada nyamuk betina, yaitu kurang dari 10 hari, sedangkan nyamuk

betina dapat hidup hingga 2 bulan (Prianto, 2000). Gambaran nyamuk Culex

dapat dilihat pada gambar 2.7.

15
Gambar 2.7 Nyamuk Culex Dewasa

Nyamuk Culex biasa hidup pada air yang kotor dan keruh seperti di got

rumah ataupun di genangan air yang kotor (Prianto, 2000). Nyamuk jantan dan

betina dewasa biasanya memakan nektar dari tumbuh-tumbuhan. Nektar menjadi

sumber energi pada saat nyamuk terbang, selain nektar nyamuk betina juga

menghisap darah pada malam hari untuk pematangan telur (Manimegalai dan

Sukanya, 2014)

Nyamuk Culex dikenal sebagai nocturnal mosquito yang sering masuk ke

dalam rumah-rumah terutama tengah malam dan pada siang hari nyamuk ini akan

istirahat. Nyamuk ini bersifat endofagik (hidup berada di dalam rumah) juga

eksofagik (hidup berada di luar rumah) (Prianto, 2000).

2.3 Tumbuhan Attarasa

Sistematika tumbuhan Attarasa adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Rhamnales

Famili : Lauraceae

Genus : Litsea

16
Spesies : Litsea cubeba (Lour.) Pers.

Sinonim : Litsea citrate, Theterantera citrate Ness, dan Theterentera

Pollyantha Wall. (Prapti, 2008)

Tumbuhan ini memiliki nama lain di beberapa daerah dan negara seperti di

May Chang (China) (Syamsul dan Rodame, 2015), sedangkan di Indonesia Litsea

cubeba dikenal dengan nama Krangean (Jawa tengah), Kilemo (Jawa barat),

Attarasa (Sumatera utara), Balangla (Kalimantan) pada suka Dayak (Marina,

2015), Apokayan (Malinau, Kalimantan Timur) (Depkes, 1980).

Pohon ini memiliki tinggi total antara 15 -20 m (Ngernyuang, et al., 2007).

Pohon Attarasa yang berada di dataran tinggi Kabupaten Toba Samosir dan

Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara memiliki kisaran tinggi total dan

diameter batang antara 5 -25 m dan 3,82-29,5 cm. Daun tunggal berwarna hijau,

berbentuk lonjong dengan tepi rata dan ujung runcing, pangkal meruncing,

pertulangan menyirip, panjang 10-14 cm lebar 7-9 cm. Tanaman ini memiliki

bunga majemuk berbentuk malai, berkelamin dua (Ali, 2008). Buah bulat

berukuran kecil menyerupai biji merica dengan ciri masak fisiologis buah

berwama hitam (Budiman, 2008).

Di wilayah Sumatera antara lain terdapat di beberapa tempat di dataran

tinggi yang berada di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Toba Samosir.

Sedangkan di Jawa Barat, tegakan alam kilemo ditemukan di kawasan Kawah

Putih Ciwidey, Gunung Papandayan, Gunung Gede Pangrango dan Gunung

Tangkuban Perahu. Pohon kilemo umumnya hidup di tempat-tempat terbuka

(Gardner, et al., 2000). Hasil survey di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan

17
bahwa jenis ini dijumpai di hutan sekunder di tempat terbuka atau di ladang-

ladang masyarakat di pinggir hutan (Ali, 2008).

Kegunaan Litsea cubeba (Lour.) Pers. kayu, kulit, buah, daun, cabang dan

akarnya sangat bermanfaat. Menurut Heryati, dkk., (2009), kegunaannya adalah:

a. Kulit sebagai bahan minyak atsiri, pembuat parem, obat penurun panas, obat

sakit perut, tonikum, dan obat penawar racun.

b. Daun sebagai obat demam, sakit perut, dan penawar racun.

c. Buah sebagai bahan minyak atsiri, buah muda sebagai bahan sambal, bumbu

bandrek, bahan jamu untuk vertigo, dan lemas otot.

Buah Litsea mengandung minyak esensial yang biasa disebut may chang

oil. buah Litsea menghasilkan 3,9 cc minyak atsiri dengan kandungan citral 64 %

(Lina, 2003).

Alkaloid merupakan senyawa metabolit sekunder yang paling banyak

jumlah strukturnya. Senyawa ini banyak terdapat di dalam tumbuhan dan tersebar

di seluruh bagiannya, terutama di bagian daun dan batang (Hesse, 2002).

Klasifikasi alkaloid berdasarkan pembentuknya (Sastrohamidjojo, 1996)

yaitu :

1. Alkaloid sesungguhnya

Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan

aktivitas psikologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim

mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklis; diturunkan dari asam amino;

biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik. Beberapa

pengecualian terhadap aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat

yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklis dan alkaloid

18
kuartener, yang bersifat agak asam dari pada basa. Contohnya vinkristin dan

reserpin.

2. Protoalkaloid

Alkaloid ini dibentuk dari asam amino yang unsur nitrogennya tidak

terikat pada cincin heterosiklik dan kebanyakan bersifat basa. Contohnya

meskalin dan efedrin.

3. Pseudoalkaloid

Pseudoalkaloid tidak dibentuk dari asam amino dan pada umumnya unsur

nitrogen yang terikat pada cincin heterosiklik dan biasanya bersifat basa. Alkaloid

yang penting dalam golongan ini adalah alkaloid steroid, Contohnya solanidin dan

alkaloida purin, contohnya kafein.

2.4 Larvasida

Larvasida merupakan golongan dari pestisida yang dapat membunuh

serangga yang belum dewasa dan sebagai pembunuh larva. Larvasida berasal dari

bahasa yunani yang terdiri dari dua suku kata yaitu lar berarti serangga belum

dewasa dan sida berarti pembunuh. Jadi larvasida dapat diartikan sebagai

pembunuh serangga yang belum dewasa atau pembunuh ulat (larva) (Rumengan,

2010).

Berbagai larvasida dan insektisida telah digunakan untuk membunuh larva

dan nyamuk dewasa. Penggunaan senyawa kimia sintetik sebagai insektisida ini

dapat menyebabkan sifat resisten pada nyamuk. Biopeptisida yang berupa agen

hayati dan bahan nabati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah

lingkungan, mudah diaplikasikan dan tidak berbahaya bagi musuh alami dan

serangga menguntungkan lainnya (Astuti, 2011).

19
2.5 Metode Ekstraksi

Ekstraksi (dalam istilah farmasi) yaitu proses pemisahan bagian senyawa

aktif yang berkhasiat sebagai obat dari jaringan tumbuhan atau hewan dengan

menggunakan pelarut tertentu, sesuai prosedur standart yang akan menghasilkan

ekstrak (Depkes RI, 1979). Senyawa aktif yang terdapat dalam simplisia dapat

digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid dan lain- lain

(Ditjen POM, 2000).

Metode ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara (Ditjen POM,

2000), yaitu:

a. Cara dingin
1. Maserasi

Maserasi adalah proses ekstraksi dengan cara merendam simplisia dalam

pelarut yang sesuai pada temperatur ruangan dan terlindung dari cahaya yang

disertai pengocokan atau pengadukan..

2. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai

sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur

ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara,

tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus-menerus

sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan.

b. Cara panas

1. Refluks

Refluks adalah proses penyarian simplisia dengan menggunakan pelarut

pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas

relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

20
2. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang

umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan

jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

3. Digesti

Digesti merupakan maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada

temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar, umumnyadilakukan pada

suhu 40- 50o C

4. Infundansi

Infundasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air

(bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98oC

selama waktu tertentu (15-20 menit).

5. Dekoktasi

Dekoktasi adalah infundasi pada waktu yang lebih lama (≥ 30 menit) dan

temperatur sampai titik didih air.

2.6 Analisis Probit

Salah satu metode statistika yang digunakan untuk menentukan LC50

adalah dengan menggunakan analisis probit menggunakan MINITAB. LC50

didesain untuk menggambarkan respon yang mematikan komponen dalam

populasi dari suatu organisme terhadap senyawa kimia dalam suatu konsentrasi

yang bervariasi. Hubungan yang ditunjukkan berbentuk sigmoid menjadi linear

(Kanwar, 2007).

21
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Penelitian meliputi

pengumpulan bahan tumbuhan, dan pengolahan bahan, pembuatan ekstrak etanol

buah attarasa, dan pengujian aktivitas larvasida terhadap nyamuk Culex fatigans.

3.2 Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari neraca analitis

(Vibra), cawan penguap, penangas air, lemari pengering, blender, gelas beker

(Pyrex), mat pipet 1 mL, pipet tetes, corong (Pyrex), bola hisap, wadah plastik,

spatula, wrap, pentul.

3.3 Bahan

Bahan-bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak etanol

buah attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers), larva nyamuk Culex fatigans, .Bahan

kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain adalah berkualitas pro analisis,

yaitu: air suling, dimetil sulfoksida (DMSO), etanol (Merck), pelarut dimetil

sulfoksida DMSO, dan larvasida kimia (abate).

3.4 Pengumpulan Bahan Tumbuhan

Penyiapan bahan tumbuhan meliputi pengumpulan bahan tumbuhan,

identifikasi tumbuhan dan pembuatan simplisia buah attarasa (Litsea cubeba

(Lour.) Pers).

22
3.4.1 Pengambilan Bahan Tumbuhan

Pengumpulan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif yaitu tanpa

membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Sampel yang

digunakan adalah buah attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers.) yang diperoleh dari

Parsoburan, Kecamatan Balige, Provinsi Sumatera Utara.

3.4.2 Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA)

Universitas Sumatera Utara. Bagian tumbuhan yang diidentifikasi adalah bagian

buah dari tumbuhan attarasa.

3.4.3 Pengolahan Bahan Tumbuhan

Buah attarasa diambil dari pohon attarasa, buah dibersihkan dengan air

hingga bersih, lalu buah dikeringkan hingga kering kemudian ditimbang.

3.4.4 Pembuatan Simplisia

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah buah attarasa yang telah

dikumpulkan dan dicuci bersih dengan air mengalir, kemudian ditiriskan lalu

disebarkan diatas kertas merang hingga airnya terserap, setelah itu bahan

ditimbang. Kemudian bahan dikeringkan dengan cara di dalam lemari pengering.

Berat dari bahan yang kering ditimbang. Selanjutnya disimpan dalam kantung

plastik kedap udara ditempat yang terlindung dari sinar matahari.

3.4.5 Identifikasi Larva Culex fatigans

Pengumpulan larva nyamuk A. aegypti dilakukan dengan menggunakan

ovitrap, sedangkan larva Culex fatigans diperoleh dengan melakukan pencidukan

di parit dengan menggunakan alat penciduk. Ovitrap berupa kaleng kecil berwarna

hitam yang diberi papan sebagai tempat meletakkan telur. Kaleng diisi air

23
sebanyak 10 ml. Setelah lima hari air yang terdapat di dalam ovitrap dimasukkan

ke dalam wadah pemeliharaan larva. Larva kemudian dipelihara sampai menjadi

pupa. Selama pemeliharaan, larva diberi pakan berupa ragi sebanyak 1 g yang

dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan larva. Setiap dua hari air diganti

dengan yang baru. Setelah memasuki masa pupa, wadah pemeliharaan larva

dimasukkan ke dalam kurungan pemeliharaan imago. Setelah menjadi imago

maka imago jantan diberi pakan berupa larutan gula 10%, sedangkan imago betina

diberikan darah mencit. Pemberian darah mencit dilakukan dengan memasukkan

mencit yang telah dicukur bulunya dan diletakkan dalam perangkap mencit ke

dalam kurungan pemeliharaan nyamuk selama 1 jam (Yasmin & Fitri 2010).

Setelah imago berumur 7 hari, dimasukkan kertas saring yang telah

dibasahi dan dibentuk, seperti kerucut ke dalam kurungan pemeliharaan. Kertas

saring diletakkan pada wadah yang berisi air. Kertas saring ini digunakan sebagai

tempat peletakan telur oleh nyamuk betina. Telur yang telah diletakkan oleh

nyamuk betina, dimasukkan kembali ke dalam wadah pemeliharaan larva. Telur

dibiarkan hingga menetas. Setelah menetas, larva dipelihara hingga mencapai

instar II. Sebagian instar II di ambil untuk perlakuan dan sebagian lagi digunakan

untuk pemeliharaan selanjutnya (Yasmin & Fitri 2010).

3.5 Pembuatan Larutan Uji

3.5.1 Larutan Uji

Sebanyak 50 mg ekstrak etanol buah attarasa dilarutkan ke dalam 1 ml

Dimetil Sulfoksida (DMSO). Kemudian di ad kan sampai 10ml dengan aquades

(WHO, 2005).

24
3.6 Karakteristik Simplisia Buah Attarasa

Karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik.

3.6.1 Pemeriksaan Makroskopik Simplisia

Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk luar dari

buah kering attarasa. Buah Attarasa berbentuk bulat, kecil, buah segar berwarna

hijau dan buah kering berwarna kehitaman.

3.6. 2 Penetapan kadar air

Penetapan kadar dilakukan dengan metode Azetropi (destilasi toluen).

Alat terdiri dari labu alas bulat 500 ml, alat penampung, pendingin, tabung

penyambung dan tabung penerima 10 ml.

a. Penjenuhan Toluen

Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan kedalam labu alas

bulat, dipasang alat penampung dan pendingin, didestilasi selama 2 jam. Destilasi

dihentikan dan dibiarkan dingin selama 30 menit, kemudian volume air dalam

tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml.

b. Penetapan Kadar Air Simplisia

Dimasukkan 5 gram simplisisa yang telah ditimbang ke dalam labu

tersebut, labu dipanaskan selama 15 menit. Toluen mulai mendidih, kecepatan

tetesan diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi,

kemudian kecepatan tetesan dinaikkan sampai 4 tetes untuk tiap detik. Semua air

terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen. Destilasi dilanjutkan

selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar.

Air dan toluen memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml.

Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat

25
didalam sampel. Kadar air dihitung dalam persen terhadap berat sampel yang

telah dikeringkan (WHO,1992).

3.6.3 Penetapan Kadar Abu Total

Sebanyak 2 gram serbuk simplisia yang telah digerus, ditimbang,

dimasukkan ke dalam kurs porselen yang terlebih dahulu telah dipijar dan ditara,

kemudian diratakan. Kurs dipijarkan sampai bobot tetap. Kadar abu dihitung

terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).

3.7 Pembuatan Ekstrak Etanol Buah Attarasa

Ekstrak dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 96 %.

Masukkan serbuk simplisia ke dalam wadah kaca, ditambahkan 75 bagian pelarut,

tutup biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil diaduk sekali-kali.

Maserat dipisahkan, diperas, ampas maserasi dicuci dengan etanol 96 % hingga

diperoleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam bejana tertutup, biarkan ditempat

sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. Tuangkan atau saring dengan

menggunakan alat rotary evaporator pada suhu ± 40oC (Depkes RI,1979).

3.8 Uji Larvasida

Ekstrak etanol buah attarasa diuji toksisitasnya terhadap larva nyamuk

Culex sp. Sampel diuji pada konsentrasi 0 ppm, 12,5 ppm, 25 ppm, 50 ppm, 100

ppm, 200 ppm, dan 400 ppm. Selanjutnya ditentukan LC50 (konsentrasi yang

menyebabkan kematian 50% larva nyamuk).

Tahapan uji toksisitas (LC50) yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Telur nyamuk Culex sp. dibiarkan dalam media yang berisi air. Dari

nyamuk Culex sp. terus disimpan pada tempat yang lembab sampai telur menetas

26
menjadi larva dan siap digunakan dalam pengujian. Disiapkan untuk proses

pengujian, dimana untuk masing-masing konsentrasi dibutuhkan wadah. Ekstrak

etanol buah attarasa diambil 50 mg dan dilarutkan dalam 1 ml pelarut dimetil

sulfoksida (DMSO) larutan sampel tersebut ditambahkan aquades hingga

volumenya 10 ml. Kemudian diencerkan menjadi 12,5 ppm, 25 ppm, 50 ppm, 100

ppm, 200 ppm, 400 ppm dan kontrol. Pengamatan terhadap kematian larva

nyamuk dilakukan selama 24 jam. Analisis data dilakukan untuk mencari

konsentrasi kematian (WHO, 2005).

3.9 Perhitungan Nilai LC50

Data persentase kematian larva Culex fatigans yang diperoleh ditentukan

dengan menggunakan rumus Abbot:

Persentase kematian yang diperoleh kemudian dianalisis nilai probitnya

menggunakan tabel Finney (Hamidi, dkk., 2014). LC50 dihitung dengan

menggunakan Microsoft excel 2007 dengan memplot probit dengan log

konsentrasi, setelah diperoleh persamaan regresi, dicari harga anti log x, dimana y

= 5 (Sarker, 2013).

27
Tabel Finney dapat dilihat pada Tabel 3.1 sebagai berikut:

Tabel 3.1 Tabel Finney (Hamidi, et al.,2014)

28
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA)

Universitas Sumatera Utara. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sampel

termasuk suku Lauraceae, spesies Litsea cubeba (Lour.) Pers. Hasil dapat dilihat

pada Lampiran 1 halaman 44.

4.2 Hasil Identifikasi Hewan Uji

Identifikasi hewan uji dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan

dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Medan. Hasil identifikasi

menunjukkan bahwa sampel termasuk Culex sp., spesies Cx. fatigans. Hasil dapat

dilihat pada Lampiran 2 halaman 45.

4.3 Hasil Karakteristik Simplisia

Hasil pemeriksaan makroskopik terhadap simplisia buah attarasa bentuk

bulat, permukaan berkerut, berwarna coklat hingga hitam. Memiliki aroma yang

khas, rasa agak pedas dan agak pahit. Gambar simplisia buah dapat dilihat pada

lampiran 3 halaman 47. Berdasarkan hasil pemeriksaan, buah attarasa mempunyai

kadar air sebesar 5,33%, kadar air simplisia buah attarasa telah memenuhi

persyaratan Materia Medika Indonesia (MMI), dengan kadar air tidak lebih dari

10 %. Dengan kadar air yang cukup aman maka simplisia tidak mudah rusak jika

disimpan dalam jangka waktu yang lama. Apabila simplisia yang dihasilkan tidak

cukup kering maka akan terjadi pertumbuhan jamur dan jasad renik lainnya.

29
Simplisia dinilai cukup aman apabila mempunyai kadar air kurang dari 10 %

(Depkes RI, 1989).

Kadar abu total juga menunjukkan bahwa kulit batang attarasa memenuhi

persyaratan dengan jumlah simplisia yaitu 2,62% syarat (MMI) adalah ≤3,00%.

Penetapan kadar abu dimaksudkan untuk mengetahui kandungan mineral internal

yang terdapat di dalam simplisia yang diteliti serta senyawa anorganik yang

tersisa selama pembakaran. Abu total terbagi dua yang pertama abu fisiologis

adalah abu yang berasal dari jaringan tumbuhan itu sendiri dan abu non fisiologis

adalah sisa setelah pembakaran yang berasal dari bahan-bahan dari luar yang

terdapat pada permukaan simplisia. Kadar abu tidak larut asam untuk menentukan

jumlah silika, khususnya pasir yang ada pada simplisia dengan cara melarutkan

abu total dalam asam klorida (WHO, 1998).

4.4 Hasil Ekstraksi

Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol 96% dengan

metode maserasi. Hasil yang diperoleh yakni ekstrak kasar sebanyak 69,255 g.

Pelarut etanol digunakan sebagai pengekstraksi karena etanol merupakan senyawa

organik yang memiliki struktur molekul kecil dan dua gugus yang berbeda yaitu

gugus alkil yang bersifat non polar dan gugus hidroksil yang bersifat polar.

Karakteristik demikian menyebabkan etanol mampu menembus semua jaringan

dan menarik semua komponen, baik yang bersifat polar maupun non polar

(Masriani, 2014).

4.4 Hasil Uji Larvasida

Hasil uji larvasida dapat diketahui dari jumlah kematian larva Culex sp.

disebabkan adanya pengaruh dari pemberian ekstrak etanol dari buah attarasa

30
pada konsentrasi 0, 12,5, 25, 50, 100, 200 dan 400 ppm. Selain itu, dibuat kontrol

berupa larva tanpa penambahan ekstrak etanol dari buah attarasa. Hasil

pengamatan kematian Culex sp. dilakukan selama 24 jam pada ekstrak etanol dari

buah attarasa dapat dilihat dalam tabel 3.1 berikut :

Tabel 4.1 Hasil mortalitas larva nyamuk Culex fatigans yang diperoleh pada kulit
batang attarasa selama 24 jam.
Jumlah Jumlah Nyamuk Mati (menit)
Konsentrasi (ppm) Nyamuk 15 30 60 360 720 1440 Rata-rata
12,5 25 0 0 0 0 0 2 0,33
25 25 0 0 1 1 1 3 1,00
50 25 0 0 1 1 2 4 1,33
100 25 0 1 1 3 3 6 2,33
200 25 0 2 2 4 4 8 3,33
400 25 0 4 5 16 16 17 9,67
Control 25 0 0 0 0 0 0 0,00

Berdasarkan tabel pada kelompok kontrol, larva yang telah didiamkan

selama 24 jam mendapatkan hasil bahwa larva tidak mengalami kematian dari

jumlah awal yaitu 25 ekor. Sehingga dapat dipastikan bahwa kematian larva pada

kelompok uji disebabkan oleh pengaruh ekstrak etanol dari buah attarasa.

Sehingga dapat dicari % kematian dengan rumus: Tes/ kontrol x 100% dan dicari

nilai probitnya. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa adanya hubungan antara

konsentrasi penambahan ekstrak etanol dari buah attarasa dengan total kematian

larva. Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan akan meningkatkan kematian

larva.

Hasil pengujian yang telah dilakukan terhadap uji mortalitas larva

nyamuk Culex fatigans setelah pemberian ekstak kulit batang attarasa dengan 6

perlakuan pada tingkat konsentrasi yang berbeda (12,5 ppm, 25 ppm, 50 ppm, 100

ppm, 200 ppm, dan 400 ppm) dan kontrol negatif (aquadest) diperoleh jumlah

31
larva nyamuk Culex fatigans mati yang ditandai dengan tidak bergerak bila

disentuh menggunakan spatula, semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin

besar kematian larva nyamuk Culex fatigans tersebut. Hal ini disebabkan karna

adanya senyawa yang terkandung didalam kulit batang attarasa yaitu saponin,

tanin dan flavanoid. (Gambar 4.1)


Mortalitas

9.67

3.33
2.33
1.00 1.33
0.33
12.25 25 50 100 200 400

Konsentrasi
Gambar 4.1 Persentasi kematian nyamuk Culex fatigans

Analisis probit dilakukan untuk mendapatkan kurva yang membentuk

garis lurus sehingga penentuan nilai LC50 lebih tepat. Jika hanya memplotkan

persentase kematian larva (nilai y) dengan logaritma konsentrasi (nilai x) maka

akan didapatkan kurva berbentuk sigmoid sehingga dalam penentuan nilai LC50

dapat menjadi kurang tepat. Analisis probit akan didapatkan kurva yang berbentuk

garis lurus karena konsentrasi sampel ditransformasikan menjadi logaritma

konsentrasi sebagai variable tetap (nilai x) dan persentase kematian larva

ditransformasikan menjadi nilai probit sebagai variable terikat (nilai y)

(Kurniansyah, 2015).

32
Tabel 4.2 Hasil mortalitas probit larva nyamuk Culex fatigans untuk menghitung
LC50
Concentration (ppm) Log10 (Concentration) % Mortalitas Probit
12,5 1,096910013 3,3 3,12
25 1,397940009 10 3,72
50 1,698970004 13,3 3,87
100 2 23,3 4,26
200 2,301029996 33,3 4,56
400 2,602059991 96,7 6,75

Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh persamaan regresi untuk ekstrak etanol

buah attarasa Y = 1,99x + (-0,68) dengan nilai LC50 adalah 707,9458 μg/ml.

Gambar 4.2 Persentasi Nilai Probit dengan Log konsentrasi

LC50 dihitung dengan menggunakan Microsoft excel 2010 dengan

memplot probit dengan log konsentrasi, setelah diperoleh persamaan regresi,

dicari harga anti log x, dimana y = 5 (Sarker, 2013). Dari data tersebut dapat

dilihat bahwa tingkat toksisitas dari ekstrak etanol dari buah attarasa terdapat pada

tingkat sedang karena LC50 yang diperoleh sampel uji adalah berada pada rentang

500-750 μg/ml dimana nilai LC50 bernilai 707.9458 μg/ml yang berarti memiliki

tingkat toksisitas sedang karena apabila rentang nilai 500-750 dinyatakan tingkat

toksik sedang, dan dinyatakan tidak toksik apabila rentang nilai 750-1000.

33
Hasil mortalitas yang menjukkan dari konsentrasi dan jumlah kematian

yang baik adalah pada konsentari 400 ppm dari pada konsentrasi 12,5, 25, 50, 100

dan 200 ppm karena jumlah kematiannya lebih dari setengah pada jumlah yang

hidup, sehingga konsentrasi sangat berpengaruh pada kematian nyamuk tersebut.

Mekanisme kerja larvasida dalam membunuh larva yaitu larvasida masuk

melalui kontak dengan kulit. Kemudian diaplikasikan langsung menembus

integumen serangga (kultikula), trakea atau kelenjar sensorik dan organ lain yang

berhubungan dengan kultikula. Bahan kimia yang terkandung di dalam insektisida

melarutkan lemak atau lapisan lilin yang terdapat pada kultikula sehingga

menyebabkan bahan aktif yang terkandung dalam insektisida tersebut dapat

menembus tubuh serangga (Ahdiyah, 2015).

Larvasida masuk kedalam tubuh larva melalui mulut larva (makanan yang

dimakan). Larva mati dikarenakan racun yang masuk melalui makanan yang

kemudian dalam tubuh nyamuk akan menghambat metabolisme sel yang

menghambat transport elektron dalam mitokondria sehingga pembentukkan energi

dari makanan sebagai sumber energi dalam sel tidak terjadi, hal ini yang

menyebabkan larva mati. (Sa’adah, 2009)

Tanin adalah senyawa polifenol yang dapat membentuk senyawa

kompleks dengan protein. Tanin tidak dapat dicerna lambung dan mempunyai

daya ikat dengan protein, karbohidrat, vitamin dan mineral (Ridwan, 2010).

Tanin yang terdapat dalam buah attarasa dapat mengganggu serangga dalam

mencerna makanan karena tanin akan mengikat protein dalam sistem pencernaan

yang diperlukan oleh serangga (Yunita, 2009).

34
Selain tanin, terdapat senyawa lain seperti saponin dan flavonoid yang

bersifat racun didalam tubuh larva. Saponin dapat mengakibatkan penurunan

aktivitas enzim pencernaan dan penyerapan makanan pada serangga

(Pradani,2009). Penyerapan senyawa kimia yang memiliki efek racun berlansung

dalam saluran pencernaan bagian tengah (midgut). Saluran cerna bagian tengah

merupakan organ pencernaan utama serangga karena organ ini merupakan organ

penyerap nutrisi dan sekresi enzim-enzim pencernaan (Sastodiharjo, 1979).

Sedangkan senyawa flavonoid yang terkandung dalam ekstrak etanol buah

attarasa bersifat insektisida karena merupakan racun pernafasan sehingga

menyebabkan larva tidak dapat bernafas dan akan menyebabkan kematian

(Wardani, 2010)

Aktivitas larvasida pada buah attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers)

kemungkinan besar disebabkan adanya berbagai senyawa aktif atau kandungan

kimia didalamnya. Beberapa senyawa aktif tersebut diantaranya adalah minyak

atsiri, saponin, tannin, flavonoid, steroid, alkaloid, dan fenol. Kandungan alkaloid

yang dimiliki oleh daun sirih hijau memiliki manfaat yang dapat mengganggu

sistem saraf nyamuk dan dapat menyebabkan kematian pada larva (Haditomo,

2010).

Kandungan lainnya adalah minyak atsiri yang mampu menghambat

perkembangan serangga. Selain itu, saponin memiliki sifat sebagai inhibitorik dari

enzim asetilkolinesterase yang dapat menyebabkan kejang otot dan paralisis

(Fahmi dan Gondo, 2006). Aktivitas enzim pencernaan dan proses absorbsi pada

larva juga mengalami penurunan sehingga larva mengalami anoreksia

(Shivakumar dkk, 2013). Kutikula pada tubuh larva-pun dapat rusak akibat efek

35
dari saponin yang menyebabkan hilangnya cairan tubuh larva. Perubahan-

perubahan ini dapat menyebabkan kematian pada larva (Turk, 2006).

Senyawa lain yang dapat mengakibatkan kematian pada larva adalah

steroid dan tannin. Steroid dapat menghambat proses pergantian kulit pada larva.

Tannin dapat mempengaruhi penurunan aktivitas pengikatan protein dan

penyerapan makanan di saluran cerna. Berdasarkan mekanisme ini perkembangan

larva instar III menjadi instar IV atau menjadi pupa akan terhambat (Haditomo,

2010).

Mekanisme penghambatan pada minyak atsiri diduga yaitu mengganggu

proses terbentuknya membran atau dinding sel, sehingga membran atau dinding

sel tersebut tidak terbentuk atau terbentuk tidak sempurna. Minyak atsiri juga

merusak permeabilitas barier dalam mikroorganisme. Mekanisme penghambatan

pada triterpenoid, diduga senyawa triterpenoid termasuk senyawa yang

merupakan komponen aktif dalam obat. Senyawa triterpenoid akan bereaksi

dengan porin (protein transmembran) pada membran luar dinding sel membentuk

ikatan polimer yang kuat sehingga mengakibatkan rusaknya porin. Rusaknya

porin yang merupakan pintu keluar masuknya substansi, akan mengurangi

permaebilitas dinding sel yang akan mengakibatkan sel akan kekurangan nutrisi

sehingga pertumbuhan terhambat atau mati. Senyawa ini banyak digunakan untuk

menyembuhkan penyakit gangguan kulit. Triterpenoid memiliki sifat antijamur,

insektisida, larvasida, antibakteri dan antivirus (Reapina 2007). Senyawa

terpenoid yang bersifat lipofilik dapat menyebabkan gangguan pada membran

sel fungi dan dapat melarutkan lipid yang terdapat dalam membran sel

(Cowan 1999; Panda et all 2010)

36
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Maka kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etanol buah attarasa

(Litsea cubeba (Lour.) Pers) memiliki efek larvasida dengan tingkat toksik sedang

terhadap Culex fatigans.

5.2 Saran

Sesuai dengan data penelitian ini, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

untuk menentukan kandungan zat kimia di dalam buah attarasa yang paling

berperan besar dalam proses larvasida, dilakukan uji pra klinik (uji toksikologi)

untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol dari buah attarasa terhadap manusia,

mencari pengobatan lain dari estrak etanol buah attarasa ini.

37
Daftar Pustaka

Ali, C. (2008). Teknik silvi kultur jenis kilemo dan peningkatan produktivitas
jenis kemenyan. Laporan Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan
Aek Nauli. Hal. 4.

Ahdiyah, I., & Purwani, K.I. (2015). Pengaruh Ekstrak Daun Mangkokan (Notho
panax scutellarium) Sebagai Larvasida Nyamuk Culex sp. Jurnal Sains
dan Seni ITS, 4(2): 2337-3520.

American Mosquito Control Association. (2014). http:// www.mosquito.org/life-


cycle

Astuti, M.A.W. (2011). Daya Bunuh Ekstrak Bunga Kecombrang (Nicolia


speciosa (Blume) Horan) Terhadap Larva Nyamuk Culex
quenquefasciatus. Skripsi Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya,
Yogyakarta. Halaman: 17

Chang YT dan Chu FH.(2011). Molecular cloning and characterization of


monoterpene synthases from Litsea cubeba (Lour.) Persoon. Tree Genetics
& Genomes. 7(4):835-844.

Chin, James. [Editor] I Nyoman Kandun. (2006). Manual Pemberantasan


Penyakit Menular . Jakarta : CV. Infomedika.

Depkes RI. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. Halaman 297-307, 321-325, 333-337

Depkes RI. (2005). Penatalaksanaan Kasus Klinis Filaris. Jakarta : Ditjen PP

Depkes RI.(1979). Farmakope Indonesia .Edisi III. Jakarta : Departemen


Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 7. 33. 744. 748.

Ditjen POM. (2000). ParameterStandar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta


Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 30.

Fahmi, M, dan Gondo, F.(2006). Perbandingan Efektivitas Abate dengan Ekstrak


Daun sirih (Piper betle L.) dalam menghambat Pertumbuhan Larva Aedes
aegyptii. Semarang: Universitas Diponogoro

Gardner, S., Sidisunthorn, P., dan Anusarnsunthorn, V. (2000). A field guide to


Forest Trees of Northern Thailand, kobfai Publishing Project,
Bangkok.Thailand. Hal. 4.

Haditomo, I. (2010). Efek Larvasida Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium


aromaticum L.) Terhadap Aedes aegypti L .Skripsi dari Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret

38
Haeni, I. N. (2008). Uji Laboratorium Pemberian Insect Growth Regulator
Pyriproxyfen terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Aedes
aegypti dan Aedes albopictus Asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tesis. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Halaman 26.

Hamidi, M.R., Jovanova, B., dan Panovska., T.K. (2014). Toxicological


Evaluation of the Plant Products Using Brine Shrimp (Artemia salina
L.)Model.Macedonian Pharmaceutical Bulletin. Macedonia. Halaman 9-18

Hamzah F, Sofyan K, Achmadi S, Sumadiwangsa S.(2003). Chemicophysical


properties of Litsea cubeba Pers oil. J Stigma. 11(1):82-85.

Heryati, Y., Mindawati, N., dan Kosasih, A.S., (2009). Prospek pengembangan
Lemo (Litsea cubeba L. Persoon) di Indonesia, Tekno. Hutan Tanaman,
2 (1): 9-17.

Hesse M.(2002). Alkaloids Nature’s Curse or Blessing. Zurich (CH): J Wiley. Hal
2-3.

Ho, CL., Qu, JP. Liu, YC. Hung, CP. Tsai, MC. Liao, P.C. Wang, EIC. Chen, YL.
Su, YC.(2010). Compositions and anticancer activi in vitro ties of the leaf
and fruits oils of Litsea cubeba from Taiwan. Natural Product
Communications, 617-620.

Hwang JK, Choi EM, dan Lee JH.(2005). Antioxidant activity of Litsea cubeba.
Fitoterapia. 76(7-8):684-6.

Kaihena, M., Lalihatu, V., & Nindatu, M.(2011). Efektifitas Ekstrak Etanol Daun
Sirih (Piper betle L.) terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Anopheles sp dan
Culex. Molucca Medica, 4(2): 88-105.

Kurniansyah, W. (2015). Uji Toksisitas Ekstrak Tinta Cumi-cumi (Photololigo


duvaucelii) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Skripsi.
Farmasi Fakultas Farmasi USU. Medan. Halaman 27

Lailatul L, Kadarohman, Asep. , Eko R.(2010). Efektivitas biolarvasida ekstrak


etanol limbah penyulingan minyak akar wangi (Vetiveria zizanoides)
terhadap larva nyamuk Aedes aegypti, Culex sp, dan Anopheles sundaicus.
J Sains dan Teknol Kim.;1(1):59-65.

Lina. (2003). Litse cubeba. Litsea cubeba oil. Chapter 7. Hal. 7.

Littig KS, Stojanovich CJ. Mosquitoes: Characterictics of Anophelines and


Culicines : Halaman 134-166

39
Mahyuni, E. H. (2015). Faktor dalam Penggunaan Pestisida terhadap Keluhan
Kesehatan Pada Petani di Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo 2014.
KESMAS, 9(1): Halaman 79-89.

Manimegalai K, Sukanya S. (2014). Biology of the filarial vector, Culex


quinquefasciatus (Diptera:Culicidae). Int.J.Curr.Microbiol.App.Sci. 3(4):
Halaman 718-724.
Mosquitoes of Actual and Potential Medical and Military Significance:
http://www.phsource.us (diakses pada 9/9/2018).

Nasrin. (2008) . Faktor Lingkungan dan Perilaku yang Berkaitan dengan Kejadian
Filariasis di Kabupaten Bangka Barat. [Thesis], Sernarang. Universitas
Diponegoro.

Natadisastra, D. dan Ridad Agoes. Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ


Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC ; 2005.

Natadisastra, Djaenudin dan Ridad Agoes. Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari


Organ Tubuh yang Diserang. Jakart a: Penerbit Buku Kedokteran EGC ;
2009.

NSW Arbovirus Surveillance and Vector Monitoring Program : http : // medent.


usyd.edu.au

Noosidum A, Prabaripai A, Chareonviriyaphap T, Chandrapatya.(2008). Excito-


repellency properties of essential oils from Melaleuca leucadendron L.,
Litsea cubeba (Lour.) Persoon, and Litsea salicifolia (Nees) on Aedes
aegypti (L.) mosquitoes. J Vector Ecol. 33(2):305-12.

Panda, K., S.S. Brahma and K. Dutta, S., (2010), Selective Antifungal
Action of Crude Extracts of Cassia fistula L.: A Preltminary Study on
Candida and Aspergillus spesies, Malaysian Journal of Microbiology,
6(1):6268

Piyapat, A. Sato, H. Nishiwaki, H. Tamura. (2014). Molecules. Halaman 6838-


6850.

Prianto J. (2000). Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta: PT. Gramedia.


Halaman43-57.

Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kemenkes RI. (2010). Filariasis di


Indonesia. Buletin Jendela Epidemiologi, Volume 1.

Reapina, Elsadora M.(2007). Kajian aktiv itas antimikroba ekstrak kulit mesoyi
(cryptocaria massoia) terhadap bakteri pathogen dan pembusukan pangan
[skripsi]. http://www.repository.uinsuska.ac.id/1925/7/EM.pdf.

Restila, Ridha. (2011). Perbedaan Faktor Risiko Kejadian Filariasis di Wilayah

40
Kerja Puskesmas Andalas dan Puskesmas Padang Pasir Kota Padang
Tahun 2011. [Skripsi]. Padang : PSIKM FK Unand 2007.

Ridwan, Y. Satrija, F., Darusman, L., dan Handharyani E. (2010). Efektivitas


Anticestoda Ekstrak Daun Miana (Coleus blumei Benth) terhadap Cacing
Hymenolepis microstoma pada Mencit. Media Peternakan. 33: Halaman 6-
11.

Sa’adah, A. (2009) Uji Daya Bunuh Granula Ekstrak Umbi Gadung (Dioscorea
hispidaDennts) Terhadap Kematian Larva Aedes aegypti. Skripsi
Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah.
Halaman 18.

Sarker, A.A., Shakhawat, H.B., Farjana K., Mahmuda S.L., Maima, M., dan Faruq
Md. H.(2013). Assement of Cytotoxic Activity of Two Medicinal Plants
Using Brine Shrimp (Artemia Salina) as an Experimental Tool.
International Journal of Pharmaceutical Science and Research. Halaman
1125-1130.

Sastrodiharjo, S. (1979). Pengantar Entomologi Terapan. Bandung: Penerbit ITB:


Halaman 1, 2, 33.

Sastrohamidjojo, H. (1996). Sintesis Bahan Alam. Gajahmada University Press.


Jogjakarta. Salisbury.

Sastrohamidjojo, H. (2002). Kromatografi, Edisi Kedua. Yogyakarta: Penerbit


Liberty Yogyakarta. Hal. 26-32.

Seo SM, Kim J, Lee SG, Shin CH, Shin SC, Park IK.(2009). Fumigant
antitermitic activity of plant essential oils and components from Ajowan
(Trachyspermum ammi), Allspice (Pimenta dioica ), caraway (Carum
carvi), dill (Anethum graveolens), Geranium (Pelargonium graveolens),
and Litsea (Litsea cubeba) oils against Japanese termite (Reticulitermes
speratus Kolbe). J Agric Food Chem. 57(15):6596-602.

Shivakumar, M.S., Srinivasan, R., dan Natarajan, D.(2013). Larvacidal Potential


of Some Indian Medical Plant Extracts Against Aedes aegypti. Asian
Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. Vol. 6: 77-80

Sri-Ngernyuang K., M. Kanzaki danA. Itoh. (2007). Seed production and


dispersal of four Lauraceae species in a tropical lowermontane forest,
Northern Thailand. Mj. Int. J. Sci. Tech Nomor Ol: 73-87.

Staf Pengajar Departemen Parasitologi FK UI. (2009). Parasitologi kedokteran 4th


ed. Jakarta: Balai Penerbit FK UI: Halaman 23-36.

41
Stephanie H dan Roxanne C. (2013). Southern House Mosquito Culex
quinquefasciatus Say. US: Institute of Food and Agricultural Sciences,
University of Florida: Halaman 5.

Sukendra, D. M., Shidqon, M. A.(2016). Gambaran Perilaku Menggigit Nyamuk


Culex sp. Sebagai Vektor Penyakit Filariasis Wuchereria bancrofti. Pena
Medika Jurnal Kesehatan, 6(1).

Sylviani dan Elvida YS.(2010). Kajian potensi, tata-niaga dan kelayakan usaha
budidaya tumbuhan Litsea. J Penel Sos Eko Kehut. 7(1):73–91.

Tim Editor Fakultas Kedokteran UI. Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat


Jalarta: Balai Penerbit FK UI ; 2009.

Tiwaryet, M., Naika, T.N., Dhananjay, K., Mittalc, P.K., & Yadavc, S.(2007).
Chemical Composition and Larvicidal Activities of The Essential Oil of
Anthoxylum armatum DC (Rutaceae) Againts Three Mosquito Vectors, J
Vect Borne Dis, 44(9), 198–204.

Turk, F.M. (2006). Saponins versus plant fungal pathogens. J Cell Mol Biol.
5:1317. Francis G, Kerem Z, Makkar HPS, Becker K. 2002. The biological
action of saponins in animal systems: a review. British J Nutrition. 88:587-
805.

Wang, H., Liu, Y.(2010). Chemical Composition and Antibacterial Activity of


Essential Oils from Different Parts of Litsea cubeba. Chem Biodiver, 7:
229-235.

Wang, Y.T., Lu,J.J., Bao, J.L., Chen, X.P., Huang, M.(2012). Alkaloid Isolate
From Natural Herbs As The Anticancer Agent. Review Article: 1-12.

Wardani RS, Mifbakhuddin, Yokorinanti K. (2010) Pengaruh Konsentrasi Ekstrak


Daun Tembelekan (Lantana Camara) Terhadap Kematian Larva Aedes
aegypti. J Kesehat Masy Indones ; 6(2): Halaman 30-38.

Wink, M. (2008). Ecological Roles of Alkaloids.Wink, M.(Eds.) Modern


Alkaloids, Structure, Isolation Synthesis and Biology, Wiley, Jerman:
Wiley-VCH Verlag GmbH & Co. KgaA. Hal. 232.

World Health Organization. (2005). Quality Control Methods for Medical Plant
Materi LS. Switzerland: Geneva. Halaman 25-28.

Wulandhari, S. A., Pawenang, E. T.(2017). Analisis Spasial Aspek Kesehatan


Lingkungan Dengan Kejadian Filariasis Di Kota Pekalongan. Unnes
Journal of Public Health, 6(1): 59-67.

42
Yunita, E., Suprapti, N., dan Hidayat, J.. (2009). Pengaruh Ekstrak Daun Teklan
(Eupatorium riparium) terhadap Mortalitas dan Perkembangan Larva
Aedes aegypti. Bioma 11: Halaman. 11-17 ISSN: 1410-8801

University of Michigan Museum of Zoology. Culex quinquefasciatus. Available


from:http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Culex_quinquefasci
atus/classification/.

43
Lampiran 1. Surat Hasil Identifikasi Tumbuhan

44
Lampiran 2. Hasil Uji Identifikasi Nyamuk Culex sp. di Laboratorium

45
Lampiran 2. (Lanjutan)

46
Lampiran 3. Gambar Tumbuhan Attarasa

Buah Segar Attarasa

47
Lampiran 3. (Lanjutan)

Gambar Buah Segar Attarasa

Lampiran 4. Gambar Simplisia Attarasa

48
Lampiran 5. Alat dan Bahan

Aquades / Air Suling

Spatula

49
Pipet Tetes

50
Lampiran 6. Nyamuk Culex fatigans.

Nyamuk Culex fatigans. dalam Mikroskop

51
Lampiran 7. Keseluruhan Sampel

Sampel (Lanjutan)

52
Lampiran 8. Bagan Kerja Penelitian

Buah Attarasa

Dicuci sampai bersih, ditiriskan, dan


ditimbang sebagai berat basah
Dikeringkan dalam lemari
pengering

Simplisia

Ditimbang berat kering

Dihaluskan

Serbuk Simplisia

Karakterisasi meliputi : Pembuatan Ekstrak


Dimaserasi dengan
 Makroskopik
etanol 96%

Maserat

Dengan rotary
evaporator
Ekstrak Kental

53
Lampiran 8.(Lanjutan)

Serbuk Buah Attarasa


- Maserasi dengan etanol 96%

Ekstrak Etanol Cair


andaliman
- Dievaporasi dengan rotary vaccum evaporator

Ekstrak Etanol Pekat

- Dikeringkan

Ekstrak Etanol Kental

- Dilarutkan 50mg Ekstrak Etanol kedalam 1 ml


DMSO lalu di ad kan sampai 10 ml dengan
Aquades

Larutan Larvasida
Alami

54
Lampiran 9. Perhitungan Pemeriksaan Karakteristik Serbuk Simplisia Buah
Attarasa

1. Penetapan kadar air

No. Berat Volume Volume


sampel (g) awal (mL) akhir (mL)
1. 5,00 1,9 2,2
2. 5,00 2,2 2,5
3. 5,00 2,5 2,7

1. Kadar air = 2,2 – 1,95,00 × 100% = 6%


2. Kadar air = 2,5 – 2,25,00× 100% = 6%
3. Kadar air = 2,7 – 2,55,00× 100% = 4%

% Rata-rata kadar air = 6% + 6% + 4%3 = 5,33%

2. Penetapan Kadar Abu Total

No. Berat sampel (g) Berat abu (g)


1. 2,02 0,05
2. 2,05 0,05
3. 2,02 0,06

1. Kadar abu total = 0,052,02 × 100% = 2,47%


2. Kadar abu total =0,052,05 × 100% = 2,43%
3. Kadar abu total = 0,062,02 × 100% = 2,62%

% Rata-rata kadar abu total = 2,47% + 2,43% + 2,97%3 = 2,62%

55
Lampiran 10. Perhitungan Larutan Uji

50 mg Sampel Buah Attarasa / 1 ml DMSO = 50.000 / 10ml


= 5000 ppm

- Konsenterasi 12,5 ppm


V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 5000 ppm = 50 x 12,5
V1 = 625 / 5000
= 0,125 ml
- Konsenterasi 25 ppm
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 5000 ppm = 50 x 25
V1 = 1250 / 5000
= 0,25 ml
- Konsenterasi 50 ppm
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 5000 ppm = 50 x 50
V1 = 2500 / 5000
= 0,5 ml
- Konsenterasi 100 ppm
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 5000 ppm = 50 x 100
V1 = 5000 / 5000
= 1 ml
- Konsenterasi 200 ppm
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 5000 ppm = 50 x 200
V1 = 10.000/ 5000
= 2 ml
- Konsenterasi 400 ppm
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 5000 ppm = 50 x 400
V1 = 20.000 / 5000
= 4 ml

56
Lampiran 11. Perhitungan LC50 Ekstrak Etanol Buah Attarasa

Hasil mortalitas probit larva nyamuk Culex fatigans

Concentration (ppm) Log10 (Concentration) % Mortalitas Probit


12,5 1,096910013 3,3 3,12
25 1,397940009 10 3,72
50 1,698970004 13,3 3,87
100 2 23,3 4,26
200 2,301029996 33,3 4,56
400 2,602059991 96,7 6,75

SUMMARY OUTPUT
Standard Lower Upper Lower Upper
Coefficients Error t Stat P-value 95% 95% 95.0% 95.0%

Intercept 0.683154 0.967375 0.706193 0.519029 -2.00271 3.369018 -2.00271 3.369018


X
Variable
1 1.998852 0.503944 3.966418 0.016588 0.599679 3.398024 0.599679 3.398024

ANOVA
Significance
df SS MS F F
Regression 1 6.336051 6.336051 15.73247 0.016588
Residual 4 1.610949 0.402737
Total 5 7.947

Regression Statistics
0.8929
Multiple R 1
0.7972
R Square 88
0.7466
Adjusted R Square 11
0.6346
Standard Error 16
Observations 6

Intercept 0.683154
X Variable 1 1.998852

57
Y = ax+b
Y = 1.99x + (-0.68)
5 = 1.99x - 0.68
5 + 0.68 = 1.99x
X = (5+0.68) / 1.99
X = 2.85
LC50 = antilog x
LC50 = antilog 2.85
LC50 = 707.9458

58