Anda di halaman 1dari 2

TUGAS 3

NAMA : YONDRICHS
NIM : C 302 18 003
MATA KULIAH : AKUNTANSI PEMERINTAHAN

REFLEKSI MATERI
TEMA : “ AKUNTANSI PENDAPATAN ”

Pendapatan dan Belanja merupakan bagian yang sangat sentral dalam


lingkungan pemerintah pusat maupun daerah. Demikian juga dengan perlakuan
akuntansi untuk kedua jenis transaksi “induk” tersebut. Dalam refleksi materi kali
ini, saya akan memfokuskan pada uraian tentang Akuntansi Pendapatan.
Jika sebelumnya standar akuntansi untuk pendapatan diatur dalam PP. No
24 Tahun 2005, sekarang kita sudah mengacu pada PP No 71 Tahun 2010 dengan
basis full akrual. Perbedaan mendasar dari aturan baru tersebut adalah terletak
pada LO (Laporan Operasional). Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun
2010, dikenal 2 istilah pendapatan, yakni Pendapatan-LO dan Pendapatan-LRA.
Pendapatan-LO adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah ekuitas
dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.
Sedangkan Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Daerah
yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh
pemerintah. Pendapatan diklasifikasi berdasarkan sumbernya, secara garis besar
ada tiga kelompok pendapatan daerah yaitu: Pendapatan Asli Daerah (PAD),
Pendapatan Transfer dan Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut
atau ada aliran masuk sumber daya ekonomi. Pendapatan-LRA diakui pada saat
kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan.
Nah…Untuk lebih memahami bagaimana pengakuan pendapatan LO dan LRA
serta cara pencatatannya berdasarkan SAP mari simak contoh berikut ini :

Tanggal 5 Mei 2015, Dinas Pendapatan menerima pembayaran pajak hotel bulan
April dari hotel Mekar sebesar Rp7.500.000,00. Berdasarkan hal tersebut dicatat
pengakuan pendapatan LO dan pendapatan LRA dengan Jurnal:
* Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri Nomor 64 Tahun 2013)
Jurnal-LO (Laporan Operasional)

Tanggal Nomor Bukti Kode Rekening Uraian Debit Kredit


05/05/2015 TBP 1.1.1.02.01 Kas di Bendahara Penerimaan Rp 7.500.000
8.1.1.06.01 Pajak Hotel-LO Rp 7.500.000

Jurnal-LRA (Laporan Realisasi Anggaran)


Tanggal Nomor Bukti Kode Rekening Uraian Debit Kredit
05/05/2015 TBP 0.0.0.00.00 Perubahaan SAL Rp 7.500.000
4.1.1.06.01 Pajak Hotel-LRA Rp 7.500.000
Pendapatan pajak tersebut diakui pada pendapatan LO dan Pendapatan
LRA ketika ketika wajib pajak melakukan pembayaran pajak. Dan apabila pada
saat pemeriksaan ditemukan kurang bayar maka akan diterbitkan surat ketetapan
kurang/lebih bayar yang akan dijadikan dasar pengakuan pendapatan LO.

Refleksi Materi-Akuntansi Pemerintahan


Universitas Tadulako-Prodi Magister Akuntansi 2019
Setelah kita mengetahui definisi, pengklasifikasian, pengakuan serta
contoh pencatatan transaksi atas akuntansi pendapatan yang telah diatur dalam
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Maka kita pelu melihat “keluar”
bagaimana “aksi” pemerintah dalam mengoptimalkan pendapatannya tersebut.
Terlebih khusus Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berkaitan dengan Pajak dan
Retribusi. Karena kedua komponen tersebut merupakan sumber pemasukan utama
oleh pemerintah Daerah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak OPD yang tidak dapat
mengoptimalkan pungutan pajak dan retribusinya, sehingga target pendapatan
yang telah ditetapkan sebelumnya berada jauh dibawa jumlah yang dapat
direalisasi. Salah satu contoh dari kondisi tersebut terjadi dikota Medan. Dimana
Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), menyampaikan
keprihatinannya atas terjaring operasi tangkap tangan dua petugas UPT wilayah
Medan V Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Pemko Medan
pada minggu 19 Agustus 2018 yang lalu. Dimana kedua petugas tersebut
tertangkap tangan sedang melakukan penggelapan pajak. Sehingga direktur
FITRA (Rurita Ningrum) menegaskan kepada Wali Kota Medan, untuk segera
melakukan kinerja dan genjot semua SKPD yang selalu membuat masalah, ia
menuturkan bahwa lebih parahnya bagaimana pengelolan pajak kita, jika kita gak
tau kemana uang itu diberikan,".
Terlepas dari peristiwa penggelapan pajak di Kota Medan, disisi lain
Pemerintah Kabupaten Malang melakukan terobosan baru dalam mengoptimalkan
Pendapatan Retribusi Parkir.
Dinas Perhubungan Kabupaten
Malang berusaha mengatasi
kebocoran retribusi parkir sebagai
respons terhadap oknum juru parkir
yang nakal. Langkah solutif tersebut
ditempuh dengan cara penerapan
system Elektronik Parkir (E-Parkir).
Dimana para jukir wajib menyetor
langsung ke Bank Jatim.

Dari uraian diatas maka kami sebagai masyarakat sangat mengharapkan


agar pemerintah selain memahami dengan baik tentang regulasi dan peraturan
yang tertuang dalam SAP secara khusus untuk Akuntansi Pendapatan, juga
melakukan “aksi” nyata dilapangan sebagai bentuk pengabdian kepada Negara.
Tidak melakukan penggelapan dan pemungutan pajak secara liar merupakan
harapan semua masyarakat. Apalagi jika pemerintah mampu melakukan terobosan
baru dalam upaya meningkatkan pendapatan melalaui retribusi parkir seperti
penerapan E-Parkir, tentunya masyarakat akan sangat mengapresiasi. Apalagi jika
E-parkir tersebut dapat diterapkan di Kota Palu. Mengingat banyaknya parkir liar
yang di Kota Kelor ini . Semoga kedepannya masalah ini dapat teratasi.

Refleksi Materi-Akuntansi Pemerintahan


Universitas Tadulako-Prodi Magister Akuntansi 2019