Anda di halaman 1dari 20

Nilai-Nilai Yang Terkandung

Dalam Pancasila

DISUSUN OLEH :
NAMA : PAULUS MARDIN ZEBUA
NIM : 189901042
PRODI : EKONOMI
SEMESTER : 1 (satu)
KELAS :A
MATA KULIAH : PENDIDIKAN PANCASILA

DOSEN PENGAMPU :
AMSTRONG HAREFA, S.H, M.H

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN (IKIP) GUNUNGSITOLI


FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (FPIPS)
PROGRAM STUDI EKONOMI
T.A 2018/2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang telah memberikan

lindungan, bimbingan, dan kekuatan kepada penulis untuk meyelesaikan tugas Makalah

Materi Pancasila. Hanya karena rahmat dan kasih-Nya makalah ini dapat terselesaikan.

Penulisan Makalah Materi Pancasila yang berjudul “Nilai-Nilai Yang

Terkandung Dalam Pancasila ”, dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada

dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila dalam mengikuti proses perkuliahan

Pendidikan Pancasila merupakan salah satu indikator penilaian.

Dalam penulisan makalah ini penulis masih banyak kekurangan dan kelemahan dari

segi penyajian materi, hal ini disebabkan karena kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki

penulis masih terbatas. Walaupun demikian, penulis telah berusaha semaksimal mungkin

untuk menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.

Demikian makalah ini disampaikan sebagai tugas untuk indicator penilaian. Mudah-

mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk berbagai pihak yang memerlukannya, Amin.

Gunungsitoli, September 2018

Penulis,

Paulus Mardin Zebua

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................................... i

DAFTAR ISI........................................................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................................................... 1

A....Latar Belakang Masalah...................................................................................................................... 1

B.... Identifikasi Masalah..............................................................................................................................1

C....Permasalahan........................................................................................................................................ 2

D....Tujuan Penulis.......................................................................................................................................2

BAB II PEMBAAHASAN...................................................................................................................................3

A....Pengertian Tentang Nilai-Nilai Dan Pancasila...................................................................................3

B.... Makna Nilai-Nilai Yang Terkandung

Dalam 5 Butir Sila Pancasila................................................................................................................5

C....Nilai-Nilai Pancasila Berakar Dari Kebudayaan............................................................................... 9

D....Sifat Nilai-Nilai Pancasila.....................................................................................................................9

E. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila

Dalam Kehidupan Sehari-Hari............................................................................................................ 10

F.... Fungsi Pancasila Sebagai Dasar Negara............................................................................................. 12

G. Pengaruh Globalisasi Terhadap Pergeseran

Penghayatan Nilai-Nilai Pancasila.......................................................................................................12

BAB III PENUTUP............................................................................................................................................. 15

A....Kesimpulan............................................................................................................................................ 15

B.... Saran.......................................................................................................................................................16

DAFTAR RUJUKAN.......................................................................................................................................... 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai bangsa Indonesia, kita tentu mengetahui dasar negara kita yang terkenal akan

kesakralannya, yang terkenal dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Ika”. Di mana

simbolnya merupakan lambang keagungan bangsa Indonesia yang terpancar dalam bentuk

Burung Garuda. Simbol di dadanya merupakan pengamalan hidup yang menjadikan

Indonesia benar-benar khas ideologi dari bangsa Indonesia. Itulah lambang negara kita,

pengamalan sekaligus ideologi kita, Pancasila.

Di dalam Pancasila terkandung banyak nilai di mana dari keseluruhan nilai tersebut

terkandung di dalam lima garis besar dalam kehidupan berbangsa negara. Perjuangan dalam

memperebutkan kemerdekaan tak jua lepas dari nilai Pancasila. Sejak zaman penjajahan

hingga sekarang, kita selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila tersebut.

Indonesia hidup di dalam berbagai macam keberagaman, baik itu suku, bangsa,

budaya dan agama. Dari ke semuanya itu, Indonesia berdiri dalam suatu keutuhan. Menjadi

kesatuan dan bersatu di dalam persatuan yang kokoh di bawah naungan Pancasila dan

semboyannya, Bhinneka Tunggal Ika. Berdasarkan uraian di atas maka kami tertarik untuk

membuat makalah tentang nialai-nilai Pancasila.

B. Identifikasi Masalah

Berbicara tentang pancasila, tentu berkaitan dengan nilai-nilai pancasila, butir-butir

pancasila serta pengamalan-pengamalannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-

nilai pancasila memiliki makna yang mendalam baik dari segi sejarah pembentukan dan

1
pengamalan. Pancasila adalah dasar negara yang juga Landasan untuk menuju cita-cita

bangsa dan untuk memotivasi bangsa dalam mencapai cita-cita tersebut.

Dewasa ini, dengan perkembangan teknologi, modernisasi, westernisasi yang tak lain

adalah Globalisasi telah mengikis nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat. Sehingga

mengakibatkan ketidak tahuan masyarakat Indonesia terhadap nilai-nilai dan butir-butir

Dasar negara mereka sendiri. Dan menanamkan pemikiran bahwa nilai-nilai, butir-butir dan

pengamalan-pengamala Pancasila hanya untuk para pelajar dan Mahasiswa saja.

C. Permasalahan

1. Apa pengertian Pancasila

2. Bagaimana bentuk implementasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari hari ?

3. Bagaimana nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima sila Pancasila ?

4. Seberapa besar globalisasi berpengaruh terhadap pergeseran penghayatan nilai-nilai

pancasila?

5. Mengapa Pancasila berakar dari Kebudayaan?

D. Tujuan Penulis

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk memnuhi tugas mata kuliah pendididikan pancasila

2. Sebagai bentuk pengalaman saya dalam penyusunan sebuah makalah

3. Untuk lebih memahami tentang nilai-nilai Pancasila.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian tentang Nilai-nilai dan Pancasila

Nilai atau “value” (Inggris) termasuk bidang kajian filsafat. Filsafat sering juga
diartikan dengan ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk
menunjuk kata benda abstrak yang artinya “keberhargaan” (worth) atau “kebaikan”
(goodness), dan kata kerja yang artinya “suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai
atau melakukan penilaian” (Dr. Kaelan, M.S, 2003). Sesuatu itu dikatakan bernilai apabila
sesuatu itu berharga, berguna, benar, indah, baik dan sebagainya. Di dalam nilai itu sendiri
terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-dambaan dan keharusan. Suatu nilai-nilai
yang bermakna normatif berupa ideal (cita-cita) harus menjadi bermakna kognotif berupa real
(kenyataan), dalam hal ini perbuatan sehari-hari yang merupakan fakta (Kodhi, 1989).
1. Pengertian Pancasila Secara etimologis
Secara etimologis istilah “Pancasila” berasal dari Sansekerta dari India (bahasa
kasta Brahmana) adapun bahasa rakyat biasa adalah bahasa Prakerta. Menurut
Muhammad Yamin, dalam bahasa sansekerta perkataan “Pancasila” memilki dua macam
arti secara leksikal yaitu “panca” artinya “lima”. “syila” vokal I pendek artinya “batu
sendi”, “alas”, atau “dasar”. “syiila” vokal i pendek artinya “peraturan tingkah laku yang
baik, yang penting atau yang senonoh”.
Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa Indonesia terutama bahasa Jawa
diartikan “susila “ yang memilki hubungan dengan moralitas.
2. Pengertian Pancasila Secara Historis
Proses perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr.
Radjiman Widyodiningrat, mengajukan suatu masalah, khususnya akan dibahas pada
sidang tersebut. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara
Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampilah pada sidang tersebut tiga orang
pembicara yaitu Mohammad Yamin, Soepomo dan Soekarno.
Pada tanggal 1 Juni 1945 di dalam siding tersebut Ir. Soekarno berpidato secara
lisan (tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia. Kemudian untuk
memberikan nama “Pancasila” yang artinya lima dasar, hal ini menurut Soekarno atas

3
saran dari salah seorang temannya yaitu seorang ahli bahasa yang tidak disebutkan
namanya.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya,
kemudian keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945 disahkannya Undang-Undang
Dasar 1945 termasuk Pembukaan UUD 1945 di mana didalamnya termuat isi rumusan
lima prinsip atau lima prinsip sebagai satu dasar negara yang diberi nama Pancasila.
Sejak saat itulah perkataan Pancasila menjadi bahasa Indonesia dan merupakan
istilah umum. Walaupun dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 tidak termuat istilah
“Pancasila”, namun yang dimaksudkan Dasar Negara Republik Indonesia adalah disebut
dengan istilah “Pancasila”. Hal ini didasarkan atas interpretasi historis terutama dalam
rangka pembentukan calon rumusan dasar negara, yang secara spontan diterima oleh
peserta sidang secara bulat.

3. Pengertian Pancasila Secara Terminologis


Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 itu telah melahirkan negara
Republik Indonesia. Untuk melengkapi alat-alat perlengkapan negara sebagaimana
lazimnya negara-negara yang merdeka, maka panitia Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) segera mengadakan sidang. Dalam sidangnya tanggal 18 Agustus 1945
telah berhasil mengesahkan UUD negara Republik Indonesia yang dikenal dengan UUD
1945. Adapun UUD 1945 terdiri atas dua bagian yaitu Pembukaan UUD 1945, dan
pasal-pasal UUD 1945 yang berisi 37 pasal, 1 aturan Aturan Peralihan yang terdiri atas 4
pasal dan 1 Aturan Tambahan terdiri atas 2 ayat.
Dalam bagian pembukaan UUD 1945 yang terdiri atas empat alinea tersebut
tercantum rumusan Pancasila sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia
Rumusan Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 inilah
yang secara konstisional sah dan benar sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang
disahkan oleh PPKI yang mewakili seluruh rakyat Indonesia.

4
4. Pengertian Pancasila menurut para tokoh
1. Notonegoro
Menurut notonegoro pancasila adalah dasar falsafah negara indonesia, sehingga dapat
diambil kesimpulan bahwa pancasila merupakan dasar falsafah dan ideologi negara
yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa indonesia sebagai dasar pemersatu,
lambang persatuan dan kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan negara
indonesia
2. Muhammad Yamin
Pancasila berasal dari kata panca yang berarti lima dan sila yang berarti sendi, asas,
dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. dengan demikian pancasila
merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang
penting dan baik.
3. I.R Soekarno
Pancasila adalah isi jiwa bangsa indonesia yang turun temurun yang sekian abad
lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan barat. dengan demikian, pancasila tidak
saja falsafah negara. tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.
.

B. Makna Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam 5 Butir Sila Pancasila

1. Makna Nilai dan Butir-Butir Sila Ketuhanan Yang Maha Esa


Prinsip Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah agar bangsa Indonesia ber-
Tuhan dalam arti masing-masing individu ber-Tuhan pada Tuhannya sendiri. Orang
Islam ber-Tuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Kristen ber-Tuhan
menurut petunjuk Nabi Isa Al Masih, orang Hindu beribadah menurut kitab suci yang
dipeluknya dan seterusnya.
(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk
agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.

5
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.Tidak memaksakan suatu
agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. Makna Nilai dan Butir-Butir Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Prinsip Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab adalah setiap manusia diakui dan
diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang
Maha Esa, yang sama derajatnya, sama hak dan kewajiban azasinya tanpa membeda-
bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna
kulit dan lain-lain. Dengan sila kedua ini dapat dikembangkan sikap saling menyayangi,
tenggang rasa (tepo seliro) dan tidak menzalimi sesama manusia.
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia,
tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Makna Nilai dan Butir-Butir Sila Persatuan Indonesia


Prinsip Persatuan Indonesia adalah kesadaran akan adanya perbedaan-perbedaan
di dalam masyarakat dan bangsa, menghidup-hidupkan perbedaan sebagai daya penarik
ke arah kerjasama (gotong royong) dan kesatuan, dan mengusahakan peniadaan atau
pengurangan perbedaan yang mungkin mengakibatkan suasana dan kekuatan tolak

6
menolak ke arah perselisihan, pertikaian (tawuran) dan perpecahan. Prinsip persatuan
Indonesia ini tercermin dalam slogan “Bhineka Tunggal Ika” yang bermakna:
“Walaupun berbeda suku, agama dan ras tetapi tetap bersatu dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia”.
(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan
bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Makna Nilai dan Butir-Butir Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Prinsip kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, bermakna bahwa Negara Indonesia bukan milik
seseorang, bukan negara untuk satu golongan/partai/organisasi tertentu. Negara
Indonesia didirikan “dari semua untuk semua”, “satu buat semua” atau “semua buat
satu”. Oleh karena itu sumber kekuatan negara Indonesia adalah
permusyawaratan/perwakilan, yang bermakna bahwa kebebasan dan kekuasaan rakyat
adalah mutlak dalam menentukan masa depan negara. Jadi “dari rakyat”,”untuk rakyat”
dan “oleh rakyat”.
(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia
Indonesiamempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.

7
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan
pribadi dan golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang
luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral
kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,
nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi
kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan pemusyawaratan.

5. Makna Nilai dan Butir-Butir Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Prinsip Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mengandung nilai
keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama (kehidupan sosial), yang
didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan yaitu keadilan dalam hubungan
manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan
masyarakat, bangsa dan negaranya dan manusia dengan Tuhannya. Negara
berkewajiban mengentaskan kemiskinan dan memperkecil jurang antara yang kaya dan
yang miskin dengan memperluas lapangan kerja dan mempercepat pertumbuhan
ekonomi.
(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan
terhadap orang lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya
hidup mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan
kepentingan umum.

8
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.

C. Nilai-Nilai Pancasila Berakar dari Kebudayaan


Prinsip yang mengatur substansi Demokrasi Kebudayaan yang berdasar Pancasila
ialah teosentrisme (tauhid, serba-Tuhan dalam etika, ilmu, dan estetika). Orang Protestan
akan lebih suka theonomy (theos, Tuhan; nomos, hukum). Istilah teonomi berasal dari Paul
Tillich (1886-1965),hubungan dinamis antara yang absolut dengan yang relatif, antara agama
dengan kebudayaan. Menurut konsep ini Pancasila adalah sebuah teonomi, karena bedasar
kepada Ketuhanan Yang Maha Esa –yang absolut. Keempat sila yang lain adalah kebudayaan,
yang relatif. Keperluan manusia diakui sepenuhnya, asal keperluan itu tidak bertentangan
dengan pertimbangan keagamaan.
Demokrasi Kebudayaan dalam Pancasila dapat dimengerti dari sila “Persatuan
Indonesia” yang berarti sebuah (1) pluralisme, dan (2) teosentrisme dari semangat sila yang
pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Demokrasi Kebudayaan itu harus mampu
memberikan masa depan yang lebih baik.
Jadi untuk menjawab “Mengapa Pancasila berakar dari Kebudayaan?” karena di
dalam Pancasila terkandung nilai kebudayaan, di mana nilai tersebut adalah nilai tertinggi
dalam hal Persatuan bangsa yang tercantum di dalam sila ketiga. Dan dengan menjunjung
nilai teosentris pada sila pertama, kepentingan lain berdasarkan setiap sila tidak bertentangan
dengan pertimbangan keagamaan. Misalkan: Pembunuhan genosida demi mempertahankan
keutuhan suatu budaya etnis tidak etis dengan ketentuan agama. Jadi sekiranya, dari tindak
perkembangan budaya itu sendiri harus sesuai dengan nilai Pancasila. Karena Pancasila
mencerminkan kebudayaan kita, bangsaIndonesia.

D. Sifat Nilai-nilai Pancasila

Nilai-nilai pancasila bersifat universal (umum) yang memperlihatkan napas


humanisme, karenanya Pancasila dapat dengan mudah diterima oleh siapa saja. Sekalipun
Pancasila memiliki sifat universal, tetapi tidak begitu saja dapat dengan mudah diterima oleh
semua bangsa. Perbedaannya terletak pada fakta sejarah bahwa nilai-nilai secara dasar
dirangkai dan disahkan menjadi satu kesatuan yang berfungsi sebagai basis perilaku politik

9
dan moral sikap bangsa. Dalam arti bahwa Pancasila adalah milik khas bangsa Indonesia dan
sekaligus menjadi identitas bangsa berkat legitimasi(pernyataan yang sah, kesahan) moral
dan budaya bangsa Indonesia. Nilai-nilai khusus yang termuat dalam Pancasila dapat
ditemukan dalam sila-silanya sebagai berikut :
1. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa, memuat pengakuan eksplisit akan eksistensi
Tuhan sebagai sumber dan pencipta universum. Hal ini menunjukkan relasi esensial
antara yang mencipta dan dicipta serta menunjukkan ketergantungan yang diciptakan
terhadap yang mencipta.
2. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradab, merupakan refleksi lebih lanjut dari
sila pertama. Sila ini memperlihatkan secara mendasar dari negara atas martabat manusia
dan sekaligus komitmen untuk melindunginya.
3. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia, secara khusus meminta perhatian setiap warga negara
akan hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya pada negara, khususnya dalam
menjaga eksistensi negara dan bangsa.
4. Sila Keempat : Demokrasi yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan
dan perwakilan, memperlihatkan pengakuan negara serta perlindungannya terhadap
kedaulatan rakyat yang dilaksanakan dalam iklim musyawarah dan mufakat.
5. Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, secara istimewa
menekankan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Keadilan sosial terutama
menuntut informasi struktur-struktur sosial, yaitu struktur ekonomi, politik, budaya, dan
ideologi ke arah yang lebih akomodatif terhadap kepentingan masyarakat.

E. Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-Hari


Pada zaman reformasi saat ini pengimplementasian pancasila sangat dibutuhkan oleh
masyarakat, karena di dalam pancasila terkandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang
sesuai dengan kepribadian bangsa. Selain itu, kini zaman globalisasi begitu cepat menjangkiti
negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Gelombang demokratisasi, hak asasi
manusia, neo-liberalisme, serta neo-konservatisme dan globalisme bahkan telah memasuki
cara pandang dan cara berfikir masyarakat Indonesia. Hal demikian bisa meminggirkan
pancasila dan dapat menghadirkan sistem nilai dan idealisme baru yang bertentangan dengan
kepribadian bangsa.
Implementasi pancasila dalam kehidupam bermasyarakat pada hakikatmya
merupakan suatu realisasi praksis untuk mencapai tujuan bangsa. Adapun
pengimplementasian tersebut di rinci dalam berbagai macam bidang antara lain
POLEKSOSBUDHANKAM.

1. Implementasi Pancasila dalam bidang Politik


Pembangunan dan pengembangan bidang politik harus mendasarkan pada dasar
ontologis manusia. Hal ini di dasarkan pada kenyataan objektif bahwa manusia adalah

10
sebagai subjek Negara, oleh karena itu kehidupan politik harus benar-benar
merealisasikan tujuan demi harkat dan martabat manusia. Pengembangan politik Negara
terutama dalam proses reformasi dewasa ini harus mendasarkan pada moralitas
sebagaimana tertuang dalam sila-sila pancasila dam esensinya, sehingga praktek-praktek
politik yang menghalalkan segala cara harus segera diakhiri.
2. Implementasi Pancasila dalam bidang Ekonomi
Di dalam dunia ilmu ekonomi terdapat istilah yang kuat yang menang, sehingga
lazimnya pengembangan ekonomi mengarah pada persaingan bebas dan jarang
mementingkan moralitas kemanusiaan. Hal ini tidak sesuai dengan Pancasila yang lebih
tertuju kepada ekonomi kerakyatan, yaitu ekonomi yang humanistic yang mendasarkan
pada tujuan demi kesejahteraan rakyat secara luas. Pengembangan ekonomi bukan hanya
mengejar pertumbuhan saja melainkan demi kemanusiaan, demi kesejahteraan seluruh
masyarakat. Maka sistem ekonomi Indonesia mendasarkan atas kekeluargaan seluruh
bangsa.
3. Implementasi Pancasila dalam bidang Sosial dan Budaya
Dalam pembangunan dan pengembangan aspek sosial budaya hendaknya didasarkan
atas sistem nilai yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat
tersebut. Terutama dalam rangka bangsa Indonesia melakukan reformasi di segala bidang
dewasa ini. Sebagai anti-klimaks proses reformasi dewasa ini sering kita saksikan adanya
stagnasi nilai social budaya dalam masyarakat sehingga tidak mengherankan jikalau di
berbagai wilayah Indonesia saat ini terjadi berbagai gejolak yang sangat memprihatinkan
antara lain amuk massa yang cenderung anarkis, bentrok antara kelompok masyarakat
satu dengan yang lainnya yang muaranya adalah masalah politik.
Oleh karena itu dalam pengembangan social budaya pada masa reformasi dewasa ini kita
harus mengangkat nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai dasar nilai yaitu
nilai-nilai pancasila itu sendiri. Dalam prinsip etika pancasila pada hakikatnya bersifat
humanistik, artinya nilai-nilai pancasila mendasarkan pada nilai yang bersumber pada
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya.
4. Implementasi Pancasila dalam bidang Pertahanan dan Keamanan
Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu masyarakat hukum. Demi tegaknya
hak-hak warga negara maka diperlukan peraturan perundang-undangan negara, baik
dalam rangka mengatur ketertiban warga maupun dalam rangka melindungi hak-hak
warganya.

11
F. Fungsi Pancasila Sebagai Dasar Negara
1. Pancasila Sebagai Pedoman Hidup
Disini Pancasila berperan sebagai dasar dari setiap pandangan di Indonesia Pancasila
haruslah menjadi sebuah pedoman dalam mengambil keputusan
2. Pancasila Sebagai Jiwa Bangsa
Pancasila haruslah menjadi jiwa dari bangsa Indonesia. Pancasila yang merupakan
jiwa bangsa harus terwujud dalam setiap lembaga maupun organisasi dan insan yang
ada di Indonesia
3. Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa
Kepribadian bangsa Indonesia sangatlah penting dan juga menjadi identitas bangsa
Indonesia. Oleh karena itu Pancasila harus diam dalam diri tiap pribadi bangsa
Indonesia agar bisa membuat Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa.
4. Pancasila Sebagai Sumber Hukum
Pancasila menjadi sumber hukum dari segala hukum yang berlaku di Indonesia. Atau
dengan kata lain Pancasila sebagai dasar negara tidak boleh ada satu pun peraturan
yang bertentangan dengan Pancasila
5. Pancasila Sebagai Cita Cita Bangsa
Pancasila yang dibuat sebagai dasar negara juga dibuat untuk menjadi tujuan Negara
dan cita cita bangsa. Kita sebagai bangsa Indonesia haruslah mengidamkan sebuah
negara yang punya Tuhan yang Esa punya rasa kemanusiaan yang tinggi, bersatu serta
solid, selalu bermusyawarah dan juga munculnya keadilan social.

G. Pengaruh Globalisasi Terhadap Pergeseran Penghayatan Nilai-Nilai Pancasila

Dari masa ke masa pengamalan terhadap nilai pancasila terus terkikis dan bergeser
dari apa yang di amanatkan oleh pancasila. Dalam realitas yang ada, jangankan untuk
mengamalkan nilai-nilai pancasila, untuk mengetahui isi dari 5 butir pancasila yang menjadi
ideologi bangsanya pun mereka tidak tahu bahkan sampai salah dalam sistematika
penyampaian 5 butir sila-sila yamg ada. Mereka hanya sibuk dengan gudgetnya, hedonisme
nya, apatisnya masing masing. Fenomena yang terjadi sudah sangat jelas, genersai muda
yang diharapkan menjadi generasi penerus dan pelurus justru sudah bergeser dari ideologi
bangsanya sendiri sehingga timbul pertanyaan besar “ mau di bawa kemana bangsa ini jika

12
pergeseran terhadap penghayatan nilai-nilai pancasila di kalangan generasi muda terus di
biarkan?:
Soeharto menyatakan Pancasila sebagai “tuntunan hidup”, menjadi “sumber tertib
sosial” dan “sumber tertib seluruh perikehidupan”, serta merupakan “sumber tertib negara”
dan “sumber tertib hukum”. Kepada pemuda Indonesia dalam Kongres Pemuda tanggal 28
Oktober 1974, Soeharto juga dengan lantang menyatakan, “Pancasila janganlah hendaknya
hanya dimiliki, akan tetapi harus dipahami dan dihayati!”
Presiden soekano dalam pidatonya menyampaikan “ berikan saya 10 pemuda maka
akan saya guncangkan dunia” dan “perjuang ku lebih mudah karna mengusir penjajah,
perjuangan kalian akan sangat berat karena melawan bangsanya sendiri”. Kemudian tragedi
30 september tahun 1965. Dua kalimat yang terperggal dari pidato bung karno dan sejarah
yang terukir menjadi harapan bagaiman generasi mempertahankan bangsanya di mulai dari
penghayatan terhadap nilai-nilai pancasila
Mengingat arus globalisasi dalam bidang tekniologi ,koneksi internet dan budaya
yang masuk pada akhirnya membuat kita terbawa arus dan terjebak dalam romantisme
globalisasi yang menyebabkan pergeseran itu semakin kuat. Berbagai macam faktornya,
antara lain:
1. kemajuan teknologi yang kita sebut sebagai handphone yang sekarang seolah menjadi
nyawa setiap manusia.
2. pengaruh budaya asing.
3. pengaruh pergaulan di sekolah
4. tidak adanya sebuah sistem yang mengikat tentang penghayatan pancasila seperti
beberapa dekade yang lalu.
Dalam hal ini bangsa indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan walaupun
sudah satu dasawarsa reformasi berjalan, tantangan tersebut kalau diidentifikasi sesuai
dengan ketetapan MPR Nomor V/MPR/2000 tentang penetapan persatuan dan kesatuan
Nasional dan kondisi bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai berikut:
a) nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya bangsa tidak dijadikan sumber etika dalam
berbangsa dan bernegara oleh sebagian masyarakat. Hal itu kemudian melahirkan
krisis akhlak dan moral yang berupa ketidakadilan, pelanggaran hukum, dan
pelanggaran hak asasi manusia.
b) konflik sosial budaya telah terjadi karena kemajemukan suku, kebudayaan, dan agma
yang tidak dikelola dengan baik dan adil oleh pemerintah maupun masyarakat.

13
c) penegakan hukum tidak berjalan dengan baik dan pelaksanaannya telah
diselewengkan sedemikian rupa, sehingga bertentangan dengtan prinsip keadilan,
yaitu persamaan hak warga negra di hadapan hukum.
d) perilaku ekonomi yanga berlangsung dengan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme,
serta kurangnya keberpihakan kepada kelompok usaha kecil dan menengah, sehingga
telah menyebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan, hutang besar yang harus
dipikul oleh negara, pengangguran dan kemiskinan yang semakin meningkat, serta
kesenjangan sosial ekonomi yang semakin melebar.
e) sistem politik tidak berjalan dengan baik, sehingga belum dapat melahirkan
pemimpin-pemimpin yang amanah, mampu memberikan teladan dan
memperjuangkan kepentingan masyarakat.
f) peralihan kekuasaan yang sedang menimbulkan konflik, pertumpahan darah, dan
dendam antara kelompok masyarakat terjadi sebagai akibat proses demokrasi yang
tidak berjalan dengan baik.
g) globalisasi dalam kehoidupan politik, ekonomi, sosial, dan budya dapat memberikan
keuntungan bagi bangsa indonesia, tetapi jika tidak diwaspadai, dapat memberi
dampak negatif terhadap kehidupan berbangsa.
h) kurangnya pemahaman, penghayatan, dan kepercayaan akan keutamaan nilai-nilai
yang terkandung pada setiap sila pancasila dan keterkaitanya satu sama lain, untuk
kemudian diamalkan secara konsisten di segala lapis dan bidang kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Jika penghayatan nilai-nilai dari sila pancasila itu sendiri tidak di implementasikan
kedalam kehidupan bermasyarakat atau pemerintahan yang menyebabkan akan terjadinya
pergeseran dalam memaknai kehidupan bermasyrakat dan bernegara dalam usaha membawa
bangsa ini ke titik tertinggi keemasan. Jika situasi ini terus di biarkan dalam kurun waktu 5-
10 tahun kedepan pancasila hanya akan menjadi sebuah historys, pancasila hanya akan
menjadi pajangan dindin di depan ruang kelas dan pada akhirnya kesaktian pancasila akan
hilang sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkannya.
Oleh karena itu dalam uapaya untuk membangkitkan kembali semangat pancasila
hendaknya kita harus mulai dari diri kita masing-masing sebagai generai muda dengan terus
mendalami begitu pentingnya pancasila bagi negara dan bangsa serta kehidupan
bermsyarakat dengan dimulai dari hal-hal paling mendasar dan nmemanfaatkan globalisasi
dan kemajuan teknologi untuk terus menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai
pancasila itu sendiri.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan sudah sepatutnya menjadi dasar
kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh masyarakat indonesia.
Nilai-nilai luhur dari sila-sila Pancasila dari dulu hingga sekarang tidak pernah
berubah, yang mewakili kepribadian bangsa Indonesia. Akan tetapi dewasa ini penerapan
atau implementasi nilai-nilai Pancasila sudah mulai luntur, yang diakibatkan semakin
pesatnya arus globalisasi, dekadensi moral, dan sebagainya. Sebenarnya akan dapa tercipta
kehidupan masyarakat Indonesia yang baik apabila nilai-nilai Pancasila tersebut diamalkan
sebgan baik pula. Apabila salah satu sila Pancasila diterapkan, maka nilai dari sila yang lain
akan terlaksana juga karena antar sila yang satu dengan sila yang lain dalam Pancasila
memiliki keterkaitan yang kuat. Pancasila dapat berfungsi sebagai filter untuk menyaring
pengaruh buruk dari luar agar tidak masuk kedalam masyaraka Indonesia. Salah satu hal yang
dapat dilakukan adalah penanaman nilai-nilai Pancasila sejak dini, bisa melalui keluarga dan
masyarakat, ataupun melalui pelajaran PKn dan kuliah Pendidikan Pancasila.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara
sesungguhnya berisi:
1. Ketuhanan yang Maha Esa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-
Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang maha esa, yang ber-
Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
3. Persatuan Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang maha esa, yang ber-Kemanusiaan
yang adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan, yang ber-Ketuhanan yang maha esa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan

15
beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang maha esa,
yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan.
Berbagai macam factor yang menyebabkan pergeseran penghayatan nila-nilai
pancasila, antara lain:
5. kemajuan teknologi yang kita sebut sebagai handphone yang sekarang seolah menjadi
nyawa setiap manusia.
6. pengaruh budaya asing.
7. pengaruh pergaulan di sekolah
8. tidak adanya sebuah sistem yang mengikat tentang penghayatan pancasila seperti
beberapa dekade yang lalu.

B. Saran

Sebaiknya kita sebagai warga negara Indonesia kembali mempelajari bahwa pancasila
sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila merupakan dasar negara
kita karena berasal dari jiwa kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Selain mempelajari
Pancasila kita sebagai warga Negara yang baik, harus mengimplementasikan pancasila
sebagai dasar Negara, pedoman hidup, pandangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat
berbangsa dan bernegara. Hendaknya kemauan untuk mengimplementasikan nilai-nilai
Pancasila secara baik ditumbuhkan dalam diri pribadi manusia Indonesia, ditanamkan dalam
jiwa pemuda Indonesia, lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi insan
yang pancasilais.

Tentu dalam penulisan makalah ini banyak kekurangannya, oleh karena itu kritik dan
saran yang membangun sangat kami harapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Setelah kita mengetahui tentang nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila
pancasila di atas, kita semakin bertambah pengetahuan. Maka dari itu agar pengetahuan kita
bermanfaat, mari kita sama-sama mengamalkan pengetahuan yang kita peroleh agar
bermanfaat bagi orang lain dan khususnya untuk diri kita sendiri.

16
DAFTAR RUJUKAN
SITUS WEB :
Ekamisdi, PANCASILA SEBAGAI DASAR
NEGARA, http://www.scribd.com/doc/35219304/Pancasila-Sebagai-Dasar-Negara-Dan-
Ideologi-Nasional / ,2012.

Agustin, MAKALAH IMPLEMENTASI NILAI-NILAI


PANCASILA, https://agustindiankartikasari.wordpress.com/2014/12/14/makalah-
implementasi-nilai-nilai-pancasila-dalam-kehidupan-sehari-hari-di-masyarakat/ ,2015

Alfikri, “pengertian Pancasila sebagai dasar negara” Artikel pendidikan, di akses


darihttp://multiajaib.blogspot.co.id/2014/09/pengertian-pancasila-sebagai-dasar.html

Arifaskhaf, “Pancasila sebagai dasar Negara” Tugas kuliah, di akses


darihttps://arifashkaf.wordpress.com/2014/10/07/pancasila-sebagai-dasar-negara-republik-
indonesia/

http://journal.uny.ac.id/index.php/jppm
http://jeffany-jefanny.blogspot.com/2012/04/pancasila-implementasinya.html

https://www.google.com/search?newwindow=1&site=&source=hp&q=implementasi+pancasi
la&oq=implementasi+pancasila&gs_l=hp.3…2387.10390.0.10774.22.18.0.0.0.0.0.0..0.0….0
…1c.1.32.hp..22.0.0.NvCsEIN4i08

https://sababjalal.wordpress.com/2011/11/03/

http://setya-wa2n.blogspot.com/2011/02/pengamalan-nilai-nilai-pancasila-dalam.html

http://chandrapebriana.blogspot.com/2014/09/laporan-ppkn-tentang-pengamalan-nilai.html

http://faizseiko.blogspot.com/2016/05/makalah-implementasi-nilai-nilai.html

17