Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Bahan Galian dan Mineral


Bahan galian adalah semua produk dari pertambanganang diperoleh
dengan cara pelepasan dari batuan induknyadi dalam kerak bumi, terdiri dari
mineral-mineral. Mineral adalah suatu benda berbentuk padat,cair, atau gas
yang homogeny dan terdapat dialam, terbentuk secara alamiah dari bahan-
bahan an-organis, mempunyai komposisi kimia tertentu dengan struktur atom
dan sifat fisik yang sama (Robinson, 1977).
Mineral sendiri merupakan bahan kandungan yang ada di dalam kerak
Bumi yang bisa berupa benda padat, cair maupun gas. Mineral ini terbentuk
dari material- material yang homogen, yang terbentuk di dalam kerak Bumi
secara alami dari bahan- bahan yang anorganis namun memiliki komposisi
kimia tertentu dengan struktur atom dan sifat fisik yang sama (Potter, 1977).
II.1.1 Klasifikasi Bahan Galian
A. Berdasarkan Undang-undang pokok pertambangan, bahan galian
dibagi dalam 3 golongan (UU Negara RI No. 11 Tahun 1967) :
1. Bahan galian Strategis atau golongan A, yaitu bahan galian yang
penting untuk pertahanan, keamanan negara atau untuk
menjamin perekonomian Negara. Contoh:
a. Minyak Bumi,bitumen cair, lilin bumi, gas alam.
b. Bitumen padat,aspal.
c. Antrasit, batubara, batubara muda.
d. Uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian
radioaktif lainnya.
2. Bahab galian Vital atau golongan B, yaitu golongan bahan galian
yang untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, Contoh:
a. Besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan.
b. Bauksit, tembaga, timbal, seng.
c. Emas, platina, perak, air raksa, intan.
d. Arsin, antimon, bismut.

4
5

e. Yttrium, rthutenium, cerium dan logam-logam langka


lainnya.
f. Berillum, krudium, zirkon, Kristal kwarsa.
g. Kriolit, fluorspar, barit.
h. Yodium, brom, khior, belerang.
3. Bahan galian bukan strategis dan vital atau golongan C, bahan
galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital
berarti karean sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang
bersifat internasional. contotnya :
a. Nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite).
b. Asbes, talk, mika, grafit, magnesit.
c. Yarosit, leusit,twas 9alum), oker.
d. Batu permata, batu setengah permata.
e. Pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit.
f. Batu apung, tras, obsidian, perilit, tanah datome, tanah serap
(fullers earth).
g. Marmer, batu tulis.
h. Batu kapur, dolomit, kalsit.
i. Grant, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang
tidak mengandung unsus-unsur mineral golongan A maupun
B dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi
pertambangan.
B. Berdasarkan kandungan mineralnya bahan galian dapat dibedakan
dalam 2 jenis yaitu :
1. Bijih (ore), bahan galian sebagai sumber bahan logam,
contohnya: kasiterit(Sn), Hematit(Fe), Bauksit(Al) dll.
2. Bukab bijih, sebagian bahan bukan logam,contohnya beleran
fosfat, kaolin,kapur,dll.
C. Berdasarkan Meineral ekonomi :
1. Metalic Mineral :
a. Precious metal : tembaga,seng dan timah.
6

b. Steel Industry : besi, nikel, chromium, mangan, tungsten,


dan vanadium.
c. Electronic Industry : cadmium, bismuth, dan germanium.
d. Radio Active : uranium dan radium.
2. Non-Metalic Mineral :
a. Isolator : Mika dan Asbes.
b. Refractory material : silica,alumina,zircon dan grafit.
c. Abresive Mineral : corundum,garnet,intan dan topaz.
d. General Industry Mineral : fosfat, belerang, batu
gamping,garam, barit, boraks, feldspar, magnesit, gypsum,
clay(lempung),dll.
3. Fuel Mineral :
a. Solid (zat padat) : coal,lignite dan oil shale.
b. Liquid (Zat Cair) : minyak bumi.
D. Berdasarkan cara terbentuknya, bahan galian dapat dibedakan
menjadi :
1. Bahan Galian Magmatik, yaitu bahan galian yang terjjadi dari
magma dan bertempat didalam / berhubungan dan dekat dengan
magma.
2. Bahan Galian Pematit, yaitu bahan galian yang terbentuk
didalam diatrema dan dalam pembentukan instrusi (gang dan
apofisa).
3. Bahan Galian hasil pengendapan didasar sungai / genangan air
melalui proses pelarutan pada batuan hasil pelapukan.
4. Bahan Galian hasil pengayaan skunder, yaitu bahan galian yang
terkonsentrasi karena proses pelarutan pada batuan hasil
pelapukan.
5. Bahan galian hasil metamorfosis kontak, yaitu batuan sekitar
magma berubah menjadi mineral ekonomik.
6. Bahan Galian Hidrotermal, yaitu resapan magma cair yang
membeku dicelah-celah struktur lapisan bumi atau pada lapisan
yang bersuhu relative rendah dibawah 500°C.
7

II.2 Litostratigrafi
Litostratigrafi merupakan ilmu geologi yang berhubungan dengan
penelitian mengenai strata lapisan batuan. Fokus utama dari penelitian ini
mencakup geokronologi, geologi perbandingan, dan petrologi. Secara umum
suatu strata dapat berupa batuan beku atau batuan sedimen bergantung
bagaimana pembentukan batuan (Bates dan Jackson, 1980).
Lapisan batuan sedimen terbentuk oleh pengendapan sedimen yang
berhubungan dengan proses pelapukan, peluruhan zat organik (biogenik) atau
melalui presipitasi kimiawi. Lapisan ini dapat dibedakan karena memiliki
banyak fosil dan juga penting untuk penelitian biostratigrafi. Lapisan batuan
beku dapat memiliki karekter plutonik atau vulkanik bergantung pada
kecepatan pembekuan dari batuan tersebut. Lapisan ini umumnya sama sekali
tidak memiliki fosil dan merepresentasikan aktivitas intrusi dan ekstrusi yang
terjadi sepanjang sejarah geologi daerah tersebut (Bates dan Jackson, 1980).
Terdapat beberapa prinsip yang digunakan untuk menjelaskan kehadiran
strata. Ketika suatu batuan beku memotong suatu formasi batuan sedimen, kita
dapat mengatakan bahwa intusi batuan beku tersebut berumur lebih muda dari
batuan sedimen tersebut. Hukum superposisi mengatakan bahwa suatu lapisan
batuan sedimen pada suatu strata yang ridak terganggu secara tektonik lebih
muda dari yang dibawahnya dan lebih tua dari yang berada diatasnya. Prinsip
kemendataran awal menyatakan bahwa pengendapan sedimen pada dasarnya
terjadi sebagai lapisan mendatar (Bates dan Jackson, 1980).

II.3 Sistem Informasi Geografis


Sistem informasi geografis (SIG) adalah sistem berbasis kompoter yang
digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengelola, menganalisis dan
mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi ruang untuk berbagai
tujuan yang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan (Burrough, 1986,
dalam Sunaryo, 2015).
SIG merupakan himpunan terpadu dari hardware, software, data dan
lineweare (orang-orang yang bertanggung jawab dalam mendesain,
mengimplementasikan dan menggunakan SIG) yang mempunyai kemampuan
untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi,
8

menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data


yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang
berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat
tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga, aplikasi SIG dapat menjawab
beberpa pertanyaan seperti: Lokasi, Kondisi, trend, pola dan permodelan.
Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya
(Subaryono, 2005).
II.3.1 Sub Sistem pada Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis dapat diuraikan beberapa sub-sistem
sebagai berikut (Prahasta, 2009) :
A. Data Input
Sub-sistem ini bertugas untuk mengumpulkan dan mempersiapkan
data spasial dan atribut dari berbagai sumber, serta bertanggung
jawab dalam mengkonvensi atau mentransfortasikan format-format
data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
B. Data Output
Sub-sistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran selurub
atau sebgaian basis data, baik diam dalam bentuk softcopy maupun
bentuk hardcopy seperti: tabel, grafik, peta, dan lain-lain.
C. Data Management
Sub-sistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut
ke dalam sebuah basis data sedimikian rupa sehingga mudah
dipanggil, membarui, dan Analysis.
D. Data Manipulation dan Analysis
Sub-sistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat
dihasilkan oleh Sistem Informasi Geografis. Selain itu, sub-sistem
ini juga melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk
menghasilkan informasi yang diharapkan.
9

Subsistem uraian jenis masukan, proses, dan jenis keluarannya (output) dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Uraian Subsistem-Subsistem SIG (Prahasta, 2009)

II.3.2 Komponen Sistem Informasi Geografis


Sistem Informasi Geografis merupkan sistem yang kompleks,
biasanya terintegrasi dengan linkungan sistem-sistem komputer yang
lain di tingkat fungsional dan jaringan. Komponen utama Sistem
Informasi Geografis terdiri dari sistem komputer, data geospatial dan
pengguna sebagaimana gambar berikut (Sunaryo, 2012):

Gambar 2.2 Komponen SIG (Sunaryo, 2012)


10

A. Sistem Komputer
Sistem komputer untuk SIG terdiri dari perangkat keras
(Hardware) dan perangkat lunak (Software) untuk penyususnan,
pemasukan data, pengolahan, analisis permodelan (Modeling), dan
penampilan data geospatial (Sunaryo, 2015).
1. Perangkat Keras (Hardware)
Perangkat keras dalam sistem komputer mulai dari PC
dekstop, Laptop, Workstation hingga Multiuser host yang dapat
digunakan banyak orang secara bersamaan dalam jaringan
komputer yang luas, berkamampuan tinggi, memiliki ruang
penyimpanan (Harddisk) yang besar dan mempunyai kapsistas
memori (RAM) yang besar. Adapun perangkat keras yang sering
digunakan untuk SIG adalah : Komputer (PC), Mouse, Digitizer,
Printer, Plotter dan Scanner.
2. Perangkat Lunak (Software)
SIG merupakan sistem perangkat lunak yang tersusun
secara modular yang basis datanya memegang peranan kunci.
Setiap sub-sistem (data input, data output, data management,
data manipulation analysis), Diimplementasikan dengan
mengguakan perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul,
hingga tidak mengherankan jika ada perangkat SIG yang terdiri
dari ratusan modul program (*.exe) yang masing-masing dapat
dieksekusi sendiri. Perangkat lunak yang mempunyai fungsi:
pemasukan data, manipulasi data, penyimpanan data, analisis
data, dan penayangan informasi geografis.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dari Software SIG :
a. Merupakan Data Base Management System (DBMS).
b. Memiliki fasilitas Pemasukan dan Manipulasi Data
Geografi.
c. Memiliki fasilitas untuk Query, Analisis, dan Visualisasi.
d. Memiliki kemampuan Graphical User Interface (GUI).
yang dapat menyajikan hasil (Penayangan dan Printout)
11

informasi berbasis geografi dan memudahkan untuk akses


terhadap seluruh fasilitas yang ada.
B. Data Geospasial
SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi
yang diperlukan, baik secara tidak langsung dengan cara
mengimpornya dari perangkat lunak SIG yang lain maupun secara
langsung dengan cara mendigitasi data spasialnya dari peta dan
memasukkan data atributnya dari tabel-tabel dan laporan. Sumber-
sumber data geospasial adalah peta digital, foto udara, citra satelit,
tabel statistik dan dokumen lain yang berhubungan.
Data geo-spatial dibedakan menjadi data grafis (data
geometris) dan data atribut (data tematik). Data grafis mempunyai
tiga elemen yaitu : titik (point), grafis (line) dan luasan (poligon)
dalam bentuk vector ataupun raster yang mewakili geometri
topologi, ukuran, bentuk, posisi dan arah (Dalam Buku Dedy Kurnia
Sunaryo, tentang Sistem Informasi Geografis & Aplikasinya, 2015).
C. Sumber Daya Manusia (Manajemen)
Suatu proyek SIG akan berhasil jika diatur dengan baik dan
dikejakan oleh orang-orang yang memiliki keahlian yang tepat pada
semua tingkatan. Fungsi dari manajemen adalah memilih informasi
yang diperlukan, membuat standar, membuat jedwal updating yang
efesien, menganalisa hasil yang dikeluarkan untuk kegunaan yang
diinginkan dan merencanakan aplikasi (Dalam Buku Dedy Kurnia
Sunaryo, tentang Sistem Informasi Geografis & Aplikasinya, 2015).

II.4 WebGIS
WebGIS adalah aplikasi GIS atau pemetaan dijital yang memanfaatkan
jaringan internet sebagai media komunikasi yang berfungsi mendistribusikan,
mempublikasikan, mengintegrasikan, mengkomunikasikan dan menyediakan
informasi dalam bentuk teks, peta dijital serta menjalankan fungsi-fungsi
analisis dan query yang terkait dengan GIS melalui jaringan internet (Prahasta,
2007).
12

Gambar 2.3 Proses-proses WebGIS (Prahasta, 2007)

A. Kemampuan WebGIS
Ada beberapa kemampuan WebGIS yakni:
1. Aplikasi GIS (pemetaan) untuk pengguna di seluruh dunia.
2. Tidak tergantung pada platform ataupun sistem operasi.
3. Aplikasi berbasis internet.
4. Tidak memerlukan software GIS.
B. Kelebihan WebGIS
WebGIS memiliki kelebihan yakni:
1. Data yang terpusat.
2. Biaya lebih murah untuk hardware dan software.
3. Penggunaan lebih mudah.
4. Aplikasi berbasis web minimal kebutuhan training.
5. Pengaksesan yang lebih luas terhadap data GIS.
6. Dapat dihubungkan dengan data dari departemen atau organisasi
lain.
7. Kemungkinan untuk mempublikasikan beberapa data GIS ke
masyarakat umum.
13

II.4.1 Arsitektur WebGIS


Arsitektur WebGIS berguna untuk dapat melakukan komunikasi
dengan komponen yang berbeda-beda di lingkungan web maka
dibutuhkan sebuah web server. Karena standart dari geo data berbeda
beda dan sangat spesifik maka pengembangan arsitektur system
mengikuti arsitektur “Client Server” (Rahman, 2008).

Gambar 2.4 Arsitektur WebGIS/ Client Server WebGIS (Rahman,


2008)

Pada Gambar diatas menunjukan arsitektur minimum sebuah system


Web GIS. Applikasi berada disisi client yang berkomunikasi dengan
Server sebagai penyedia data melalui web Protokol seperti HTTP (Hyper
Text Transfer Protocol). Aplikasi seperti ini bisa dikembangkan dengan
web browser (Mozzila Firefox, Opera, Internet Explorer, dll) (Rahman,
2008).
Untuk menampilkan dan berinteraksi dengan data GIS, sebuah
browser membutuhkan Pug-In atau Java Applet atau bahkan keduanya.
Web Server bertanggung jawab terhadap proses permintaan dari client
dan mengirimkan tanggapan terhadap respon tersebut. Dalam arsitektur
web, sebuah web server juga mengatur komunikasi dengan server side
GIS Komponen (Rahman, 2008).
Server side GIS Komponen bertanggung jawab terhadap koneksi
kepada database spasial seperti menterjemahkan query kedalam SQL
dan membuat representasi yang diteruskan ke server. Dalam
kenyataannya Side Server GIS Komponen berupa software libraries
yang menawarkan layanan khusus untuk analisis spasial pada data. Selain
14

komponen hal lain yang juga sangat penting adalah aspek fungsional
yang terletak di sisi client atau di server (Rahman, 2008).
II.4.2 Manajement Data WebGIS
Untuk melakukan menajeman data geografis paling tidak
dibutuhkan sebuah DBMS (Databese Management System). Pemodelan
berorientasi objek menjadi sangat dibutuhkan karena pemodelan
basisdata relational tidak mampu melakukan penyimpanan data spasial.
Pada analisis spasial system manajemen database memberikan beberapa
keragaman. Ada beberapa keragaman applikasi yang dapat digunakan
sebagai database seperti Oracle Spatial, PostgreSQL, Informix, DB2,
Ingres dan yang paling popular saat ini adalah MySQL. Untuk
mendapatkan pengembangan fungsional analisis pada level database
beberapa DBMS telah mendukung procedural bahasa pemrograman.
Oracle DBMS menawarkan dua kemungkinan untuk menghasilkan
individual operation dilevel database. Yang pertama adalah PL/SQL
sebuah procedural bahasa pemrograman. Yang kedua adalah Java
Virtual Machine (JVM) untuk proses Java classes di level database
(Darmawan, 2006).
II.4.3 Mendesain Graphical User Interface
Untuk berinteraksi, berkomunikasi dan mendapatkan informasi
perlu dirancang sebuah Graphical User Interface (GUI). GUI
berinteraksi langsung dengan user. Karena informasi geografis biasanya
sangat kompleks maka akan ditemui banyak kesulitan dalam
pengarsipannya. Menciptakan aspek Dunia Virtual menjadi hal penting
dalam mendesain GUI. Karakteristik untuk menciptakan dunia virtual
adalah Level of Detail (LOD) (Charter, 2004).
Algoritma khusus dibutuhkan untuk mampu menampilkan se-
invisible mungkin tampilan. Penggunaan PHP dan VRML (Virtual
Reality Modeling Language) adalah sebuah ideal perancangan GUI untuk
applikasi Web GIS. PHP menjadi bahasa yang paling popular untuk
menciptakan web dinamis pada saat ini. VRML dikenalkan oleh
Konsorsium Web3D untuk menghasilkan tampilan peta interaktif dalam
15

web. PHP dapat menghasilkan banyak text informasi. Dalam PHP, salah
satunya menjadi pengendali dari banyak informasi tersebut. Permintaan
dikirimkan oleh VRML MIME (‘model/vrml’) dan kemudian menuliskan
VRML nodenya. Server mengkomunikasikan semua kode PHP saat
mengirimkan respon. Jadi pada line dimana kode JSP ditampilkan server
mengirimkan kembali blank line kepada browser. Sangat perlu untuk
memasukan header PHP dan VRML dan content type nya harus berubah
sebelum VRML header ditentukan.hasil akhirnya bisa menjadi seperti
dibawah ini (Charter, 2004):
<?php
Header (“Tipe-kontent : model/vrml”);
Echo “#VRML V2.0 utf8\n”;
?>
Contoh tersebut menggambarkan integrasi antara PHP dan VRML
untuk membangun sebuah objek.
II.4.4 Detail Proses WebGIS
Objek Geo Spasial terdiri dari informasi data spasial dan data non
spasial. Informasi Spasial dapat divisualisasikan dengan
mengkonversinya VRML dan data non Spasial ditampilkan secara
dinamis di halaman HTML. Gambar berikut menunjukkan proses
request data standart. Request memanggil desain dari PHP yang
berinteraksi dengan database. Setelah menerima respon system
mengikuti alur seperti pada gambar (Rahman, 2008).

Gambar 2.5 Detail Proses WebGIS (Rahman, 2008)


16

Database mengirimkan request data ke PHP, hasil respon dari


request berupa format data dikirimkan kembali melalui browser. Disaat
client melakukan request koneksi dilakukan ke DBMS, kemudian
informasi spasial yang dipilih dari DBMS di convert kedalam bentuk
VRML. Browser Plug In di sisi client menampilkan keluaran VRML
sebagai keluaran menjadi peta. VRML juga menyediakan script yang
memungkinkan sebuah proses disaat user mengklik objek. Melalui
VRML ini request dikirimkan ke applikasi di server. Server menerima
dan menterjemahkan menjadi informasi dan mengirimkanya ke HTML
untuk di tampilkan ke Browser (Rahman, 2008).
Untuk menerima data spasial dan non spasial dari DBMS dibutuhkan
sebuah teknik yang mampu mengkomunikasikan antara client dan
database pada server. Teknik seperti ini sudah tersedia di PHP, ASP,
ASP.net, atau JSP. Pemilihan tekniknya disesuaikan dengan web Server
yang digunakan (Rahman, 2008).

II.5 Database
Basis data (database) adalah kumpulan data yang disimpan secara
sistematis di dalam komputer yang dapat diolah atau dimanipulasi
menggunakan perangkat lunak (program aplikasi) untuk menghasilkan
informasi. Pendefinisian basis data meliputi spesifikasi berupa tipe data,
struktur data dan juga batasan-batasan pada data yang akan disimpan (Alex,
2007).
Basis data merupakan aspek yang sangat penting dalam sistem informasi
karena berfungsi sebagai gudang penyimpanan data yang akan diolah lebih
lanjut. Basis data menjadi penting karena dapat mengorganisasi data,
menghidari duplikasi data, menghindari hubungan antar data yang tidak jelas
dan juga update yang rumit (Kadir, 2003).
Proses memasukkan dan mengambil data ke dan dari media penyimpanan
data memerlukan perangkat lunak yang disebut dengan sistem manajemen
basis data (database management system). DBMS merupakan sistem perangkat
lunak yang memungkinkan pengguna basis data (database user) untuk
17

memelihara, mengontrol dan mengakses data secara praktis dan efisien


(Connolly, 2002).
II.5.1 Jenis-Jenis Database
Pada dasarnya basis data memiliki beberapa jenis yang masing-
masing memiliki fungsi yang berbeda. Jenis-jenis basis data dibagi
menjadi 2 berikut (Connolly, 2002):
A. Basis data flat-file.
Basis data flat-file ideal untuk data berukuran kecil dan dapat
dirubah dengan mudah. Pada dasarnya, mereka tersusun dari
sekumpulan string dalam satu atau lebih file yang dapat diurai untuk
mendapatkan informasi yang disimpan. Basis data flat-file baik
digunakan untuk menyimpan daftar atau data yang sederhana dan
dalam jumlah kecil. Basis data flat-file akan menjadi sangat rumit
apabila digunakan untuk menyimpan data dengan struktur kompleks
walaupun dimungkinkan pula untuk menyimpan data semacam itu.
Beberapa kendala dalam menggunakan basis data jenis ini adalah
rentan pada korupsi data karena tidak adanya penguncian yang
melekat ketika data digunakan atau dimodifikasi dan juga adanya
duplikasi data yang mungkin sulit dihindari. Salah satu tipe basis
data flat-file adalah file CSV yang menggunakan pemisah koma
untuk setiap nilainya.
B. Basis data relasional.
Basis data ini mempunyai struktur yang lebih logis terkait cara
penyimpanan. Kata "relasional" berasal dari kenyataan bahwa tabel-
tabel yang berada di basis data dapat dihubungkan satu dengan
lainnya. Basis data relasional menggunakan sekumpulan tabel dua
dimensi yang masing-masing tabel tersusun atas baris (tupel) dan
kolom (atribut). Untuk membuat hubungan antara dua atau lebih
tabel, digunakan key (atribut kunci) yaitu primary key di salah satu
tabel dan foreign key di tabel yang lain. Saat ini, basis data relasional
menjadi pilihan karena keunggulannya. Beberapa kelemahan yang
mungkin dirasakan untuk basis data jenis ini adalah implementasi
18

yang lebih sulit untuk data dalam jumlah besar dengan tingkat
kompleksitasnya yang tinggi dan proses pencarian informasi yang
lebih lambat karena perlu menghubungkan tabel-tabel terlebih
dahulu apabila datanya tersebar di beberapa tabel. Beberapa contoh
basis data relasional adalah Microsoft Access, MySQL, Oracle,
Microsoft SQL Server dan PostgreSQL.

II.6 PostgreSQL

PostgreSQL merupakan sebuah program yang didesain sebagai server


basis data SQL yang digunakan di berbagai jaringan situs internet. PostgreSQL
bersifat open source sehingga peminatnya cukup banyak. Di samping itu,
PostgreSQL juga cukup stabil, handal, dan memiliki akurasi tinggi untuk
penyimpanan basis data. Untuk mengelola PostgreSQL, dibutuhkan software
administrasinya yaitu PGAdmin III (Ramsey, 2000).
PGAdmin III merupakan software yang berperan sebagai administrator
untuk mengelola server basis data menggunakan PostgreSQL. PGAdmin III
memiliki kompatibilitas di berbagai platform sistem operasi. Selain itu,
PGAdmin III juga memiliki beragam fitur dan tentunya, software ini bersifat
freeware. PGAdmin III didesain agar pengguna dapat mengelola server
database menggunakan SQL sederhana untuk pengembangan server yang lebih
kompleks. PGAdmin III juga mendukung berbagai tipe koneksi ke server basis
data misalnya TCP atau IP, Unix Domain Sockets, hingga SSL dengan enkripsi
data. PGAdmin III tidak membutuhkan perangkat tambahan untuk terkoneksi
pada server basis data. PGAdmin III dapat mengelola PostgreSQL dengan versi
7.3 ke atas dan PostgreSQL Plus Advanced Database serta Greenplum
Database. PGAdmin III sudah termasuk SQL code editor, syntax highlighting,
dan job schedulling agent (Ramsey, 2000).
19

II.7 QuantumGIS
QuantumGIS atau QGIS adalah aplikasi sistem informasi geografis (GIS)
desktop sumber terbuka dan bebas lintas platform yang menyediakan tampilan,
penyuntingan, dan analisis data. Fungsi dari QGIS Mirip dengan sistem
perangkat lunak GIS lainnya, QGIS memungkinkan pengguna untuk membuat
peta dengan banyak lapisan menggunakan berbagai proyeksi peta. Peta dapat
dihimpun dalam format yang berbeda dan untuk kegunaan yang berbeda. QGIS
memungkinkan peta yang akan terdiri dari lapisan raster atau vektor. Tipikal
untuk jenis perangkat lunak, data vektor disimpan baik sebagai titik, garis, atau
ciri-poligon. Berbagai jenis citra raster yang didukung, dan perangkat lunak ini
dapat menampilkan citra georeferensi (Prahasta, 2009).
QuantumGIS terintegrasi dengan paket sumber terbuka GIS lainnya,
termasuk PostGIS, GRASS GIS, dan MapServer untuk memberikan pengguna
fungsi yang luas. Plugins ditulis di Python atau C++ memperluas kemampuan
QGIS. Plugin dapat membuat geocode menggunakan Google Geocoding API,
melakukan geoprocessing menggunakan fTools, yang mirip dengan alat-alat
standar yang ditemukan di ArcGIS, dan antarmuka dengan basis data
PostgreSQL/PostGIS, SpatiaLite dan MySQL (Prahasta, 2009).