Anda di halaman 1dari 21

Suku Sasak

A. Asal Usul

Sasak adalah kelompok etnik mayoritas di Lombok. Populasi mereka kurang-lebih


90% dari keseluruhan penduduk Lombok. Kelompok-kelompok lain, seperti Bali, Sumbawa,
Jawa, Arab, dan Cina, merupakan kelompok pendatang.

Selain beragamnya jumlah etnik, Pulau Lombok juga memiliki beragam budaya, bahasa, dan
agama. Masing-masing kelompok berbicara berdasarkan bahasanya sendiri-sendiri. Orang
Sasak, Bugis, dan Arab mayoritas beragama Islam; orang Bali beragama Hindu; dan orang-
orang Cina beragama Kristen.

Berdasarkan kebiasaan keagamaan mereka, Sasak bisa dibagi ke dalam Waktu Lima dan Watu
Telu. Waktu Limaditandai dengan ketaatan yang tinggi terhadap ajaran agama Islam.

Sedangkan Watu Telu adalah waktu bagi mereka yang tetap memuja roh para leluhur,
berbagai dewa, dan lain-lain dalam lokalitas mereka. Walau pun bagi orang Sasak yang
mengaku sebagai Muslim. Dalam kehidupan sehari-hari mereka, adat cenderung memerankan
peran dominan di kalangan komunitas Wetu Telu; dan dalam beberapa hal terdapat praktik
yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Walau mereka sangat menyadari bahwa aturan adat tertentu memang bertentangan dengan
ajaran Islam, seperti memberi penghormatan pada leluhur dan roh nenek moyang,
komunitasv Watu Telu memandang bahwa itu semua merupakan bagian dari tradisi
keagamaan mereka. Watu Telu tidak menggariskan suatu batas yang jelas antara adat dan
agama. Karenanya, adat sangat bercampur dengan agama.

Sejarah Lombok tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan yang terjadi di
dalamnya, baik konflik internal, yaitu peperangan antar kerajaan di Lombok, maupun
eksternal, yaitu penguasaan dari kerajaan dari luar Pulau Lombok. Perkembangan era Hindu
dan Buddha memunculkan beberapa kerajaan seperti Selaparang dan Bayan. Kerajaan-
kerajaan tersebut ditundukkan oleh penguasaan Kerajaan Majapahit dari ekspedisi Gajah
Mada pada abad XIII – XIV dan penguasaan Kerajaan Gel-Gel dari Bali pada abad VI.

Tugas Geografi 1
Antara Jawa, Bali, dan Lombok memunyai beberapa kesamaan budaya, seperti dalam hal
bahasa dan tulisan, yang jika ditelusuri asal-usulnya banyak berakar dari Hindu Jawa. Hal ini
tidak lepas dari pengaruh penguasaan Majapahit yang kemungkinan mengirimkan anggota
keluarganya untuk memerintah atau membangun kerajaan bawahan di Lombok.

Sebelum kedatangan pengaruh asing ke Lombok, Boda merupakan kepercayaan asli orang
Sasak. Orang Sasak pada waktu itu, yang menganut kepercayaan ini, menyebutnya Sasak
Boda. Kendati ada kesamaan bunyi dengan Buddha, agama Boda tidak sama dengan
Buddhisme. Orang Sasak tidak mengakui Sidharta Gautama atau Sang Buddha sebagai figur
utama pemujaannya maupun terhadap ajaran pencerahannya. Agama Bodaorang Sasak
terutama ditandai oleh animisme dan panteisme. Pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur
dan berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktik keagamaan Sasak-Boda.

Konversi orang Sasak ke dalam Islam sangat berkaitan erat dengan kenyataan adanya
penaklukan dari kekuatan luar. Beberapa kekuatan asing yang menaklukan Lombok selama
berabad-abad, sangat menentukan cara orang Sasak menyerap pengaruh-pengaruh luar
tersebut.

Kerajaan Majapahit masuk ke Lombok dan memperkenalkan Hindu-Budhisme ke kalangan


Sasak. Setelah Majapahit runtuh, pengaruh Islam mulai muncul dan pada saat itu juga mulai
masuk ke daerah Lombok. Ketika itu Islam telah menyatu dengan ajaran sufisme Jawa yang
penuh mistik. Orang-orang Makassar tiba di Lombok Timur pada abad ke-16 dan berhasil
menguasa Selaparang, kerajaan kuno orang Sasak. Orang-orang dari Makassar bisa dikatakan
berhasil menyebarkan Islam di Lombok, meski masih tetap tercampurkannya dengan
kebudayaan lokal.

Kerajaan Bali dari Karangasem menduduki Lombok Barat sekitar abad ke-I7, dan kemudian
mengonsolidasikan kekuasaannya terhadap seluruh Lombok setelah mengalahkan Kerajaan
Makassar pada 1740. Pemerintahan Bali memperlihatkan kearifan dan toleransi yang besar
terhadap orang Sasak dengan membiarkan mereka mengikuti agama mereka sendiri. Kendati
demikian, di bawah pemerintahan Kerajaan Bali, kalangan bangsawan Sasak yang telah
terislamisasi dan para pemimpin lainnya, seperti Tuan Guru, merasa tertekan dan bergabung

Tugas Geografi 2
bersama-sama untuk memimpin banyak pemberontakan kecil melawan Bali, kendati tidak
berhasil.

Kekalahan ini mendorong beberapa bangsawan Sasak meminta campur tangan militer
Belanda untuk mengusir Kerajaan Bali. Permintaan mereka itu memberikan peluang Belanda
untuk masuk ke Lombok untuk memerangi dinasti Bali. Ketika akhirnya Belanda berhasil
menaklukkan dan mengusir Bali dari Lombok. Alih-alih mengembalikan kekuasaan
bangsawan Sasak terhadap Lombok, mereka menjadi penjajah baru terhadap Sasak. Belanda
banyak mengambil tanah yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Bali, dan memberlakukan
pajak tanah yang tinggi terhadap penduduk (Kraan, 1976).

B. Sistem Kekerabatan

Di daerah lombok secara umum terdapat 3 Macam lapisan sosial masyarakat :

 Golongan Ningrat ; Golongan ini dapat diketahui dari sebutan+ kebangsawanannya.


Sebutan keningratan ini merupakan nama depan dari seseorang dari golongan ini.
Nama depan keningratan ini adalah ” lalu ” untuk orang-orang ningrat pria yang belum
menikah. Sedangkan apabila merka telah menikah maka nama keningratannya adalah
” mamiq “. Untuk wanita ningrat nama depannya adalah ” lale”, bagi mereka yang
belum menikah, sedangkan yang telah menikah disebut ” mamiq lale”.

 Golongan Pruangse ; kriteria khusus yang dimiliki oleh golongan ini adalah sebutan “
bape “, untuk kaum laki-laki pruangse yang telah menikah. Sedangkan untuk kaum
pruangse yang belum menikah tak memiliki sebutan lain kecuali nama kecil mereka,
Misalnya seorang dari golongan ini lahir dengan nama si ” A ” maka ayah dari
golongan pruangse ini disebut/dipanggil ” Bape A “, sedangkan ibunya dipanggil ”
Inaq A “. Disinilah perbedaan golongan ningrat dan pruangse.

 Golongan Bulu Ketujur ; Golongan ini adalah masyarakat biasa yang konon dahulu
adalah hulubalang sang raja yang pernah berkuasa di Lombok. Kriteria khusus
golongan ini adalah sebutan ” amaq ” bagi kaum laki-laki yang telah menikah,
sedangkan perempuan adalah ” inaq “.

Tugas Geografi 3
Di Lombok, nama kecil akan hilang atau tidak dipakai sebagai nama panggilan kalau mereka
telah berketurunan. Nama mereka selanjutnya adalah tergantung pada anak sulungnya
mereka. Seperti contoh di atas untuk lebih jelasnya contoh lainnya adalah bila si B lahir
sebagai cucu, maka mamiq A dan Inaq A akan dipanggil Papuk B. panggilan ini berlaku
untuk golongan Pruangse dan Bulu Ketujur. Meraka dari golongan Ningrat Mamiq A dan
Mamiq lale A akan dipanggil Niniq A. Sistem Kekerabatan.

Sistem kekerabatan di Tolot-tolot khususnya dan Lombok Selatan pada umumnya adalah
berdasarkan prinsip Bilateral yaitu menghitung hubungan kekerabatan melalui pria dan
wanita. Kelompok terkecil adalah keluarga batih yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak. Pada
masyarakat lombok selatan ada beberapa istilah antara lain :

 Inaq adalah panggilan ego kepada ibu.


 Amaq adalah panggilan ego kepada bapak.
 Ari adalah panggilan ego kepada adik perempuan atau adik laki-laki.
 Kakak adalah panggilan ego kepada saudara sulung laki-laki ataupun perempuan.
 Oaq adalah panggilan ego kepada kakak perempuan atau laki-laki dari ibu dan ayah.
 Saiq adalah panggilan ego kepada adik perempuan atau laki-laki dari ayah atau ibu
 Tuaq adalah panggilan ego kepada adik laki-laki dari ayah atau ibi.
 Pisak adalah panggilan ego kepada anak dari adik/kakak dari ibu.
 Pusak adalah panggilan ego kepada anak dari adik/kakak dari ayah.

Untuk masyarakat kaum kerabat di tolot-tolot pada khususnya dan lombok selatan pada
umumnya mencakup 10 generasi ke bawah dan 10 generasi ke atas tersebut sebagai berikut :

Generasi ke atas :

1. Inaq/amaq
2. Papuk
3. Balok
4. Tate

Tugas Geografi 4
5. Toker
6. Keletuk
7. Keletak
8. Embik
9. Mbak
10. Gantung Siwur

Generasi ke bawah :

1. Anak
2. Bai
3. Balok
4. Tate
5. Toker
6. Keletuk
7. Keletak
8. Embik
9. Ebak
10. Gantung Siwur

C. Upacara Adat

Dalam siklus kehidupan manusia, peristiwa kematian merupakan akhir kehidupan


seseorang di dunia. Masyarakat meyakini kehidupan lain setelah kematian. Di beberapa
kelompok masyarakat dilakukan persiapan bagi si mati. Salah satu peristiwa yang harus
dilakukan adalah penguburan. Penguburan meliputi perawatan mayat termasuk
membersihkan, merapikan, atau mengawetkan mayat :

Upacara adat kematian yang dilaksanakan sebelum acara penguburan meliputi beberapa
tahapan yaitu :

Tugas Geografi 5
1. Belangar
Masyarakat Sasak Lombok pada umumnya menganut agama Islam sehingga setiap ada yang
meninggal ada beberapa proses yang dilalui. Pertama kali yang dilakukan adalah
memukul beduk dengan irama pukulan yang panjang. Hal ini sebagai pemberitahuan kepada
masyarakat bahwa ada salah seorang warga yang meninggal. Setelah itu maka masyarakat
berdatangan baik dari desa tersebut atau desa-desa yang lain yang masih dinyatakan ada
hubungan famili, kerabat persahabatan dan handai taulan. Kedatangan masyarakat ke tempat
acara kematian tersebut disebut langar (Melayat).
Tradisi belangar bertujuan untuk menghibur teman, sahabat yang di tinggalkan mati oleh
keluarganya, Mereka biasanya membawa beras seadanya guna membantu meringankan beban
yang terkena musibah.

2. Memandikan

Dalam pelaksanaannya, apabila yang meninggal laki-laki maka yang memandikannya adalah
laki-laki, demikian sebaliknya apabila yang meninggal perempuan maka yang
memandikannya adalah perempuan. Perlakuan pada orang yang meninggal tidak dibedakan
meskipun dari segi usia yang meninggal itu baru berumur sehari. Adapun yang memandikan
itu biasanya tokoh agama setempat. Adapun macam air yang digunakan adalah air sumur.

Tugas Geografi 6
Setelah di mandikan, mayat dibungkuskan pada acara ini, biasanya si mayit di taburi keratan
kayu cendana atau cecame.

3. Betukaq (Penguburan)
Adapun upacara-upacara yang dilaksanakan sebelum penguburan meliputi beberapa persiapan
yaitu :

1. Setelah seseorang dinyatakan meniggal maka orang tersebut dihadapkan ke kiblat. Di


ruang tempat orang yang meninggal dibakar kemenyan dan dipasangi langit-
langit (bebaoq) dengan menggunakan kain putih (selempuri) dan kain tersebut baru
boleh dibuka setelah hari kesembilan meninggalnya orang tersebut. Selesai dibungkus
si mayat disalatkan di rumah oleh keluarganya sebagai salat pelepasan, lalu dibawa ke
masjid atau musala.
2. Pada hari tersebut (jelo mate) diadakan unjuran sebagai penyusuran bumi
(penghormatan bagi yang meninggal dan akan dimasukkan ke dalam kubur), untuk itu
perlu penyembelihan hewan sebagai tumbal.
3. Nelung dan Mituq

Upacara ini dilakukan keluarga untuk doa keselamatan arwah yang meninggal dengan
harapan dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa selain itu keluarga yang ditinggalkan
tabah menerima kenyataan dan cobaan. Selanjutnya diikuti dengan
upacara nyiwaq dan begawe dengan persiapan sebagai berikut :

1. Mengumpulkan kayu bakar. Kayu biasanya dipersiapkan pada hari nelung (hari
ketiga) dan mitu (hari ketujuh) dengan cara perebaq kayu (menebang pohon).
2. pembuatan tetaring. Pembuatan tetaring terbuat dari daun kelapa yang dianyam dan
digunakan sebagai tempat para tamu undangan (temue) duduk bersila.
3. Penyerahan bahan-bahan begawe. Peyerahan dari epen gawe (yang punya gawe)
kepada inaq gawe. Penyerahannya ini dilakukan pada hari mituq. Kemudian inaq
gawe menyerahkan alat-alat upacara.
4. Dulang Inggas Dingari, disajikan kepada Penghulu atau Kyai yang menyatakan orang
tersebut meninggal dunia. Dulang inggas dingari ini harus disajikan tengah malam

Tugas Geografi 7
kesembilan hari meninggal dengan maksud bahwa pemberitahuan bahwa besok hari
diadakan upacara sembilan hari.
5. Dulang penamat, adapun maksudnya simbol hak milik dari orang yang meninggal
semasa hidupnya harus diserahkan secara sukarela kepada orang yang berhak
mendapatkannya. kemudian semua keluarga dan undangan dipimpin oleh Kyai
melakukan do’a selamatan untuk arwah yang meninggal agar diterima Tuhan Yang
Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan mengikhlaskan kepergiannya.
6. Dulang talet Mesan (Penempatan Batu Nisan) dimaksudkan sebagai dulang yang diisi
dengan nasi putih, lauk berupa burung merpati dan beberapa jenis jajan untuk
dipergunakan sebelum nisan dipasang oleh Kyai yang memimpin do’a yang kemudian
dulang ini dibagikan kepada orang yang ikut serta pada saat itu. Setelah berakhirnya
upacara ini selesailah upacara nyiwak.

Rangkaian upacara kematian pada masyarakat Sasak yaitu hari pertamadisebut nepong tanaq
atau nuyusur tanaq. Pemberian informasi kepada warga desa bahwa ada yang meninggal.
Hari kedua tidak ada yang bersifat ritual. Hariketiga disebut nelung yaitu penyiapan aiq wangi
dan dimasukkan kepeng bolong untuk didoakan. Hari keempat menyiram aiq wangi ke
kuburan. Harikelima melaksanakan bukang daiq artinya mulai membaca AQur’an. Hari
keenam melanjutkan membaca Al-Qur’an. Hari ketujuh disebut Mituqdirangkai dengan
pembacaan Al-Qur’an. Hari kedelapan tidak ada acara ritual yang dilaksanakan, dan
hari kesembilan yang sebut Nyiwaq atau Nyengedengan acara akhir perebahan jangkih.

D. Mata Pencaharian

Secara tradisional mata pencaharian terpenting dari sebagian besar orang Sasak adalah
dalam lapangan pertanian. Dalam lapangan pertanian mereka bertanam padi sawah, padi
ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedele, sorgum. Selain itu, mereka
mengusahakan kebun kelapa, tembakau, kopi, tebu. Perternakan merupakan mata pencaharian
sambilan. Mereka beternak sapi, kerbau dan unggas. Mata pencaharian lain adalah usaha
kerajinan tangan berupa anyaman, barang-barang dari rotan, ukir-ukiran, tenunan, barang dari
tanah liat, barang logam, dan lain-lain. Di daerah pantai mereka juga menjadi nelayan. Dalam

Tugas Geografi 8
rangka mata pencaharian tadi mereka menggunakan teknologi berupa pacul (tambah), bajak
(tenggale), parang, alat untk meratakan tanah (rejak), kodong, ancok, dan lain-lain.

Menurut data dari pemerintah Lombok Timur, mata pencaharian penduduk di


Kabupaten Lombok Timur sebagian besar dari sektor pertanian (59,55 %), selebihnya dari
sektor perdagangan, hotel , restauran 11,95 %; jasa-jasa 9,14 %; industri 8,83 % dan lain-lain
10,53 %. Keadaan ini juga diperlihatkan dari pola penggunaan lahan yang ada, yaitu
permukiman 5,01 %; pertanian (sawah, lahan kering, kebun, perkebunan) 48 %; hutan 34 %;
tanah kosong (tanduns, kritis) 1 %; padang (alang, rumput dan semak) 9 %; perairan 0,6 %;
pertambangan 0,2 % dan lain-lain penggunaan 5 %.

Salah satu yang menjadi ciri khas dari suku sasak di Lombok – Nusa Tenggara Barat
adalah para wanita suku Sasak yang pandai menenun. Hasil tenun yang terkenal yaitu Tenun
Ikat yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampir wanita suku sasak. Bagi masyarakat suku
sasak, kedewasaan wanita yang siap untuk berkeluarga dapat dilihat dari seberapa pandai
wanita tersebut membuat kain tenun ikat. Ini bisa dijadikan acuan bahwa wanita suku sasak
yang sudah pandai menenun, dia sudah dianggap menjadi wanita dewasa dan layak
berkeluarga. Keahlian menenun juga akan berdampak baik bagi kehidupan keluarga nantinya.
Dengan pandai menenun, wanita suku sasak dapat membantu perekonomian keluarga yang
biasanya para lelaki suku sasak hanya mendapatkan uang dari hasil berkebun atau berladang.

Para wanita suku sasak sudah sejak dari kecil diajarkan bagaimana cara menenun yang baik
dan benar, wajar bila kita berkunjung ke Lombok dan menemui banyak wanita-wanita tua
yang masih terampil menenun, karena dia sudah belajar menenun sejak kecil.

Kain tenun yang dihasilkan oleh suku sasak , Lombok – Nusa Tenggara Barat dibuat dengan
cara-cara yang masih sangat tradisional. Alat-alat tradisional yang mereka pakai masih tetap
sama seperti apa yang digunakan oleh nenek moyang mereka. Bahan-bahan yang digunakam
juga berasal dari alam.

Mereka menggunakan benang-benang yang berasal dari serat-serat tumbuhan seperti serat
nanas, serat pisang, kapas dan dari kulit kayu. Warna-warni dari kain berasal dari warna alami
tanpa ada campuran bahan kimia, namun dengan itu membuat kualitas kain tenun ikat yang
dihasilkan masyarakat suku sasak memiliki kualitas yang buruk, justru karena keunikan dan

Tugas Geografi 9
kekhasannya yang berasal dari alam, kain tenun hasil masyarakat suku sasak bernilai kualitas
dan harga tinggi. Pada awalnya, kerajinan tenun ikat digunakan untuk busana pesta, busana
pemimpin adat, maupun busana kaum bangsawan. Namun seiring perkembangan jaman,
kedudukan tenun ikat ini meluas menjadi salah satu komoditi dari suku Sasak. Dan selain
sebagai mata pencaharian sehari-hari, kegiatan menenun ini juga mereka jadikan sebagai daya
tarik bagi wisatawan yang berkunjung, baik wisatawan local maupun wisatawan mancanegara
sangat meminati kain tenun ikat buatan.

E. Bahasa

Bahasa Sasak, terutama aksaranya, sangat dekat dengan aksara Jawa dan Bali, sama-
sama menggunakan sistem aksara Ha Na Ca Ra Ka. Tetapi secara pelafalan, bahasa Sasak
lebih dekat dengan Bali. Menurut etnolog yang mengumpulkan semua bahasa di dunia,
bahasa Sasak merupakan keluarga dari Austronesian Malayu-Polinesian, campuran Sunda-
Sulawesi, dan Bali-Sasak.

Bila diperhatikan secara langsung, bahasa Sasak yang berkembang di Lombok ternyata sangat
beragam, baik dialek maupun kosakatanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya
pengaruh dalam perkembangannya. Secara umum, bahasa Sasak bisa diklasifikasikan ke
dalam: Kuto-Kute (Lombok Utara),Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara), Meno-Mene (Lombok
Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Tengah), dan Mriak-Mriku(Lombok Selatan)

F. Kesenian

•Senjata Tradisonal

-Tulup

Tulup adalah senjata tradisional Suku Sasak yang biasa digunakan untuk berburu.
Senjata ini terbuat dari kayu meranti yang dilubangi, berpeluru potongan-potongan seperti
lidi dari pelepah pohon enau yang berbentuk seperti mata panah yang disebut ancar. Mata
ancar biasanya diolesi racun dari getah pohon tatar agar bisa melumpuhkan hewan buruan.

Tugas Geografi 10
-Keris

Masyarakat NTB juga memiliki keris untuk senjata tradisional mereka. Keris ini juga sering
digunakan untuk pelengkap pakaian adat.

•Tarian

-Tari Gandrung

Tari Gandrung sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti acara adat maupun
acara formal lainnya. Pakainnya yang meriah menarik hati para penonton. Tari Gandrung
tidak hanya ada di Lombok tapi juga ada di Banyuwangi, dan Bali. Asal mula tari Gandrung
Lombok diperkirakan berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Mengenai penyebarannya belum
diketahui secara pasti. Tapi Tari Gandrung ini sudah menjadi kesenian khas Lombok.. Salah
satu yang menjadi ciri khas dari pakaian tari Gandrung adalah "gegelung" yaitu hiasan
penutup kepala yang permukaan luar bagian belakangnya dipenuhi bunga kamboja.

-Tarian Oncer/Gendang Beleq

Kebudayaan ini berasal dari daerah Lombok, diberi nama gendang beleq karena
memang saat menarikannya memakai gendang yang sangat besar. Dulu tarian ini biasa
digunakan untuk mengiringi dan menyambut tentara yang akan pergi dan pulang dari medan
perang sebagai pemberi semangat. berasal dari Lombok, dinamakan demikian karena
memakai gendang yang sangat besar. Sudah sejak dulu tarian Gendang Beleq ini
dipertunjukan untuk mengiringi atau menyambut tentara yang pergi atau pulang dari medan
perang. Tari Gendang Beleq sudah menjadi warisan budaya NTB maka tarian ini sering
dipakai untuk menyambut tamu undangan penting sebagai penghormatan.

• Tradisi

-Peresean

Peresean adalah salah satutradisi yang berkembang di Pulau Lombok. Dalam tradisi
ini dipertontonkan pertarungan antar para pepadu (petarung) yang saling menyerang dengan
senjata berupa penjalin (tongkat rotan) dan bertahan menggunakan ende (perisai tubuh dari
kulit binatang)

Tugas Geografi 11
Dalam peresean, penilaian pemenang dilihat dari menetesnya darah lawan. Jika lawan telah
meneteskan darah dari anggota tubuhnya, maka dianggap kalah. Selama pertarungan diiringi
dengan suara music gamelan yang dimainkan dari awal hingga akhir ronde pertarungan.

-Perang Topat

Perang topat merupakan tradisi saling lempar dengan menggunakan ketupat. Dengan
menggunakan pakaian adat ribuan warga Sasak dan umat Hindu bersama-sama dengan damai
merayakan upacara keagamaan yang dirayakan tiap tahun di Pura Lingsar, Kecamatan
Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, tepatnya setiap purnama ke-7 menurut
kalender Sasak.

Tradisi Perang Topat yang diadakan di Pura terbesar di Lombok peninggalan kerajaan
Karangasem itu merupakan pencerminan dari kerukunan umat beragama di Lombok. Prosesi
Perang Topat dimulai dengan mengelilingkan sesaji berupa makanan, buah, dan sejumlah
hasil bumi sebagai sarana persembahyangan dan prosesi ini didominasi masyarakat Sasak dan
beberapa tokoh umat Hindu yang ada di Lombok. Sarana persembahyangan seperti kebon
odek, sesaji ditempatkan didalam Pura Kemalik.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan perang topat, bertepatan dengan gugur bunga waru atau
dalam bahasa Sasaknya “rorok kembang waru” yakni menjelang tenggelamnya sinar matahari
sekitar pukul 17.30. Perang topat merupakan rangkaian pelaksanaan upacara pujawali yaitu
upacara sebagai ungkapan rasa syukur umat manusia yang telah diberikan keselamatan,
sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta.

G. Sistem Kepercayaan/Religi

Sebagian besar masyarakat suku sasak beragama islam. Uniknya disebagian kecil
masyarkat sasak, terdapat penganut islam yang berbeda dengan islam lainnya yakni penganut
Islam Wetu Telu. Dan ada juga yang memiliki kepercayaan pra-islam yang disebut dengan
sasak Boda.

Tugas Geografi 12
Kerukunan hidup antar umat beragama di Kabupaten Lombok Timur (tempat tinggal
suku Sasak) beralan harmonis, sehingga aktifitas keagamaan dalam masyarakat terlaksana
dengan baik. Hali ini didukung oleh berkembangnya Majlis Ta'lim atau Lembaga Dakwa
yang diperkirakan berjumlah hapir 800 buah. Disisi lain, tempat-tempaat peribadatan juga
memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama dikalangan
masyarakat suku sasak, menurut data, pada tahun 2005 tercatat 1.111 buah masjid, 401
langgar, 2.125 musholla, 2 buah gereja dan 1 pura. Sementara itu dari jumlah penduduk
1.046.510 jiwa, terdapat 1.045.235. penganut agama Islam, 976 Hindu, 12 Budha, 145 Kristen
Katolik dan 142 Kristen Protestan.

Masuknya Agama Islam

Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut


menganut kepercayaan anemisme, dinamisme kemudian Hindu. Islam pertama kali masuk
melalui para wali dari pulau Jawa, yakni Sunan Prapen pada sekitar abad XVI, setelah
runtuhnya kerajaan Majapahit. Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut
adalah bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta
merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan
lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena
para penyebar tersebut memanfaatkan adat istiadat setempat untuk mempermudah
penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa
Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam
bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para
pemangku adat atau kyai saja.

Terdapat dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan
Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat
waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki
keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang
lengkap. Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut Wetu Telu di
masa modern.

Tugas Geografi 13
Dalam masyarakat Lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan "Waktu
Telu" sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni
animisme,dinamisme, dan kerpercayaan Hindu. Selain itu karena penganut kepercayaan ini
tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan
"Waktu Lima" karena menjalankan kewajiban sholat Lima Waktu). Yang wajib menjalankan
ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kyai atau pemangku adat
(sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan
dengan daur hidup (kematian, kelahiran, penyembelihan hewan, selamatan dan sebagainya)
harus diketahui oleh kyai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari
upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.

Kyai ini merupakan orang yang diagungkan dikalangan masyarakat suku sasak. Kyai juga
orang yang selalu menjadi bagian dalam setiap upacara adat dan merupakan pewaris adat
istiadat dari nenek moyang.

Ritual-ritual suku sasak

· Peresean

adalah kesenian bela yang sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan di Lombok,
awalnya adalah semacam latihan pedang dan perisai sebelum berangkat ke medan
pertempuran. Pada perkembangannya hingga kini senjata yang dipakai berupa sebilah rotan
dengan lapisan aspal dan pecahan kaca yang dihaluskan, sedangkan perisai (Ende) terbuat dari
kulit lembu atau kerbau. Setiap pemainnya atau biasa disebut ‘’pepadu’’ dilengkapi dengan
ikat kepala dan kain panjang. Kesenian ini tak lepas dari upacara ritual dan musik yang
membangkitkan semangat untuk berperang. Pertandingan akan dihentikan jika salah satu
pepadu mengeluarkan darah atau dihentikan oleh juri. Walaupun perkelahian cukup seru
bahkan tak jarang terjadi cidera hingga mengucurkan darah didalam arena. Tetapi diluar arena
sebagai pepadu yang menjunjung tinggi sportifitas tidak ada dendam diantara mereka.

· Sabuk Belo

Sabuk Belo adalah sabuk yang panjangnya 25 meter dan merupakan warisan turun
temurun masyarakat Lombok khususnya yang berada di Lenek Daya. Sabuk Belo biasanya

Tugas Geografi 14
dikeluarkan pada saat peringatan Maulid Bleq bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal
tahun Hijriah. Upacara pengeluaran Sabuk Bleq ini diawali dengan mengusung keliling
kampung secara bersama-sama yang diiringi dengan tetabuhan Gendang Beleq yang
dilanjutkan dengan praja mulud dan diakhiri dengan memberi makan kepada berbagai jenis
makhluk. Menurut kepercayaan masyarakat setempat upacara ini dilakukan sebagai simbol
ikatan persaudaraan, persahabatan, persatuan dan gotong royong serta rasa kasih sayang
diantara makhluk yang merupakan ciptaan Allah.

· Bau Nyale

Bau Nyale adalah sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai
nilai sakral tinggi bagi suku Sasak. Tradisi ini diawali oleh kisah seorang Putri Raja Tonjang
Baru yang sangat cantik yang dipanggil dengan Putri Mandalika. Karena kecantikannya itu
para Putra Raja, memperebutkan untuk meminangnya. Jika salah satu Putra raja ditolak
pinangannya maka akan menimbulkan peperangan. Sang Putri mengambil keputusan pada
tanggal 20 bulan kesepuluh untuk menceburkan diri ke laut lepas. Dipercaya oleh masyarakat
hingga kini bahwa Nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika. Nyale adalah sejenis binatang
laut berkembang biak dengan bertelur, perkelaminan antara jantan dan betina. Upacara ini
diadakan setahun sekali pada setiap akhir Februari atau Maret. Bagi masyarakat Sasak, Nyale
dipergunakan untuk bermacam-macam keperluan seperti santapan (Emping Nyale),
ditaburkan ke sawah untuk kesuburan padi, lauk pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat
magis sesuai dengan keyakinan masing-masing. Upacara Rebo dimaksudkan untuk menolak
balaâ (bencana/penyakit), dilaksanakan setiap tahun sekali tepat pada hari Rabu minggu
terakhir bulan Safar. Menurut kepercayaan masyarakat Sasak bahwa pada hari Rebo Bontong
adalah merupakan puncak terjadi Bala (bencana/penyakit), sehingga sampai sekarang masih
dipercaya untuk memulai suatu pekerjaan tidak diawali pada hari Rebo Bontong. Rebo
Bontong ini mengandung arti Rebo dan Bontong yang berarti putus sehingga bila diberi
awalan pe menjadi pemutus. Upacara Rebo Bontong ini sampai sekarang masih tetap
dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Pringgabaya. Fungsi dan peranan Bau Nyale
bagi masyarakat suku sasak antara lain sebagai sarana rekreasi, perangsang solidaritas, sarana
enkulturasi, pelestarian budaya tradisional, pembinaan ketakwaan kepada Tuhan Yang
Mahaesa, sarana pembinaan semangaat patriotisme.

Tugas Geografi 15
· Perang Ketupat (Perang Topat)

Dalam rangka pertanian, masyarakat Sasak melaksanakan Perang Topat. Inti upacara ini
adalah saling melempar ketupat antara dua pihak dalam satu arena, yang dilaksanakan dalam
sebuah kemalig. Hal ini dilakukan misalnya di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada,
Kabupaten Lombok Barat.

Perang ketupat ini mempunyai suatu rangkaian upacara yang berlangsung berhari-hari.
Tiga hari sebelum upacara saling melempar ketupat itu dilakukan upacara yang sifatnya
sebagai persiapan. Pada tahap persiapan itu, kemalig, arena dan alat-alat upacara dibersihkan.

Sehari sebelum upacara mereka membuat janur (kebun odeg), artinya kebun kecil agung
yang nantinya akan dibawa kemalig. Sebelum perang dimulai, ada acara penyembelihan
kerbau dan acara-acara lainnya.

Upacara ini berlatar belakang suatu kepercayaan untuk mendapatkan berkah, keselamatan,
dan kemakmuran, terutama di kalangan petani. Upacara ini juga merupakan perwujudan rasa
syukur kepada Tuhan atas nikmat karunia yang telah dilimpahkannya kepada masyarakat.
Melalui upacara ini mereka berharap akan mendapat curah hujan yang cukup, tanaman
menjadi subur, tanaman terhindar dari hama, ternah pun selamat, dan sebagainya. Dengan
melaksanakan perang ketupat mereka merasa telah memenuhi wasiat alam gaib.

Kalangan pemeluk agama Hindu di Lombok sendiri menamakan upacara ini


‘’pujawali’’.

Upacara adat Menjelang Dewasa

Menjelang dewasa, anak laki-laki harus menjalani suatu upacara untuk mengantarkan
kedewasaannya. Upacara tersebut adalah bersunat atau berkhitan (nyunatang) yang
merupakan hal yang wajib di lakukan oleh pemeluk Islam. Pada upacara ini dilakukan naglu'
ai', pada kemali mata air denagn diiringi gamelan serta menggunakan pakaian adat. Air yang
diambil dari kemali kemudian dikelilingi sembilan kali di tempat paosenli atau berupa
pajangan. Air tersebut digendong oleh seorang wanita yang dipayungi. Setelah itu air
diserahkan kepada inen beru.

Tugas Geografi 16
Anak yang dikhitan biasanya harus berendam terlebih dahulu. Waktu pergi serta pulang
berendam diirngi dengan gamelan serta diusung di atas juli yang disebut peraja. Khitan
dilaksanakan oleh dukun sunat yang disebut tukang sunat.

Selain upacara di atas, bagi seorang yang menjelang dewasa, juga dilakukan
upacara potong gigi yang pelaksanaannya biasa bersamaan dengan upacara lain, seperti
bersunat dan perkawinan. Upacara potong gigi disebut juga rosoh oleh suku Sasak. Hanya
saja upacara ini sudah jarang dilakukan.

H. Teknologi dan Peralatan

§ Rumah Adat

Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana
tertulis dalam kitab Nagara Kartha Garna karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam kitab
tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq Mirah Sak-Sak Adhi.” Jika saat kitab tersebut dikarang
suku Sasak telah mempunyai sistem budaya yang mapan, maka kemampuannya untuk tetap
eksis sampai saat ini merupakan salah satu bukti bahwa suku ini mampu menjaga dan
melestarikan tradisinya. Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan suku Sasak adalah bentuk
bangunan rumah adatnya.

Rumah adat dibangun berdasarkan nilai estetika dan local wisdom masyarakat, seperti
halnya rumah tradisional suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Suku Sasak mengenal
beberapa jenis bangunan sebagai tempat tinggal dan juga tempat penyelanggaraan ritual adat
dan ritual keagamaan.

Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek).
Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami.
Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat tersebut
didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu
tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya
memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela.

Orang Sasak juga selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka
meyakini bahwa lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang

Tugas Geografi 17
menempatinya. Misalnya, mereka tidak akan membangun rumah di atas bekas perapian, bekas
tempat pembuangan sempah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug.
Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya
berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, hal tersebut merupakan
perbuatan melawan tabu (maliq-lenget).

Rumah adat suku Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke
bawah dengan jarak 1,5 sampai 2 meter dari permukaan tanah (fondasi). Atap dan
bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu (bedek),
hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya dibagi menjadi
ruang induk meliputi bale luar ruang tidur dan bale dalemberupa tempat menyimpan harta
benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum
dimakamkan. Ruangan bale dalem juga dilengkapiamben, dapur, dan sempare (tempat
menyimpan makanan dan peralatan rumah tanggan lainnya) tersebut dari bambu ukuran 2x2
meter persegi. Kemudian adasesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan
sistem sorong (geser). Di antarabale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak
tangga) dan lantainya berupa campuran tanah kotoran kerbau/kuda, getah, dan abu jerami.

Bangunan rumah dalam komplek perumahan Sasak terdiri dari beberapa macam,
diantaranya adalah Bale Tani, Bale Jajar, Berugag/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale
Beleq Bencingah, dan Bele Tajuk. Dan nama bangunan tersebut disesuaikan dengan fungsi
dari masing-masing tempat.

Ø Bale Tani

adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai
petani.

Ø Bale Jajar

Merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengan ke atas.
Bentuk Bale Jajar hampir sama dengan Bale Tani, yang membedakan adalah jumlah dalem
balenya.

Tugas Geografi 18
Ø Sekepat

Berfungsi sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak
semua orang boleh masuk rumah. Berugaq / sekupat juga digunakan pemilik rumah yang
memiliki gadis untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar).

Ø Sekenam

Digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, penanaman nilai-nilai
budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

Ø Bale Bonter

Dipergunakan sebagai ternopat pesangkepan / persidangan adat, seperti: tempat penyelesaian


masalah pelanggaran hukum adat, dan sebagainya. Umumnya bangunan ini dimiliki oleh
para perkanggo /Pejabat Desa, Dusun/kampung.

Ø Bale Beleq Becingah

adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan. Bale Beleqdiperuntukkan sebagai
tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut “Becingah”.

Ø Bale Tajuk

Merupakan salah satu sarana pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki
keluarga besar. Tempat ini dipergunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan
pelatihan macapat takepan, untuk menambah wawasan dan tata krama.

Ø Bale Gunung Rate

Bale gunung rate biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal di lereng pegunungan,
sedangkan bale balaq dibangun dengan tujuan untuk menghindari banjir, oleh karena itu
biasanya berbentuk rumah panggung.

Tugas Geografi 19
§ Benda-Benda

Ø Sabuk Belo

Sabuk belo adalah sabuk yang panjangnya 25 meter dan merupakan warisan turun temurun
masyarakat Lombok khususnya yang berada di Lenek Daya.

Ø Gendang Beleq

salah satu alat musik berupa gendang berbentuk bulat dengan ukuran yang besar. Gendang
beleq ini tediri dari 2 jenis yang disebut gendang mama (yang dimainkan oleh laki-laki) dan
gendang nina (yang dimainkan oleh perempuan). Konon, pada jaman dahulu, musik Gendang
Beleq digunakan untuk mengantar prajurit yang hendak berangkat berperang. Sekarang alat
musik ini sering digunakan untuk mengiringi rombongan pengantin atau menyambut tamu-
tamu kehormatan. Gendang ini digunakan sebagai pembawa dinamika dalam kesenian
Gendang Beleq.

Ø Ende

Sebuah perisai yang terbuat dari kulit lembu atau kerbau. Ende (perisai) ini dipergunakan
dalam kesenian bela diri yang disebutPeriseian. Periseian adalah kesenian bela diir yang
sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan di Lombok, awalnya dalah semacam latihan pedang
dan perisai sebelum berangkat ke medan pertempuran.

Ø Peralatan Untuk Bekerja

Masyarakat sasak memiliki alat-alat penunjang untuk mereka bekerja, antara lain pacul
(tambah), bajak (tenggalae), alat untuk meratakan tanah (rejak), parang, kodong, ancok dan
lain sebagainya. Alat-alat tersebut digunakan masyarakat sasak untuk bekerja, baik sebagai
petani, berkebun atau berladang.

Tugas Geografi 20
Ø Peralatan Untuk Membangun Rumah

Peralatan-peralatan yang digunakan masyarakat suku sasak untuk membangun rumah adat
mereka antara lain jerami dan alang-alang yang digunakan untuk membuat atap rumah
mereka, bedek (anyaman dari bamboo yang digunakan untuk membuat dinding), kayu-kayu
penyangga, getah pohon kayu bantem dan bajur, kotoran kerbau atau kuda sebagai bahan
campuran untuk mengeraskan lantai, abu jerami yang digunakan sebagai campuran
mengeraskan lantai.

Tugas Geografi 21