Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gaya hidup dengan pola makan yang kurang tepat seperti tingginya

kandungan lemak dan kolesterol, dapat menyebabkan kadar lemak dan kolesterol

di dalam darah meningkat. Hiperkolesterolamia merupakan suatu kondisi

meningkatnya konsentrasi kolesterol dalam darah yang melebihi nilai normal

darah sehingga mengakibatkan gangguan fungsi endotel. Hiperkolesterolamia

dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis pada pembuluh darah, semakin

tinggi kadar kolesterol dalam darah maka lebih besar resiko terjadinya

aterosklerosis dalam pembuluh darah menjadi semakin tinggi (Oktadoni dan

Triola, 2016).

Kolesterol merupakan unsur penting dalam tubuh yang diperlukan untuk

mengatur proses kimiawi dalam tubuh. Kolesterol berfungsi membantu

pembentukan dinding sel, garam empedu, hormon, dan vitamin D serta sebagai

penghasil energi. Kolesterol di dalam tubuh terutama diperoleh dari hasil sintesis

di dalam hati. Jumlah yang disintesis tergantung pada kebutuhan tubuh dan

jumlah yang diperoleh dari makanan. Kolesterol dalam kadar normal akan

berdampak positif bagi tubuh. Sedangkan, kolesterol diatas kadar normal maka

akan timbul dampak negatif bagi kesehatan, terutama dalam jangka panjang (Fitri

dan Ramadhian, 2016).


2

Beberapa jenis kolesterol yaitu High Density Lipoprotein (HDL) dan

Low Density Lipoprotein (LDL). Hiperkolesterolamia berkaitan dengan kadar

High Density Lipopotein (HDL) dalam darah. Menurut Fitri dan Ramadhian

(2016), kadar HDL kolesterol yang tinggi dalam darah (sekitar 40 mg/dl atau

lebih) baik untuk kesehatan, sebaliknya kadar LDL kolesterol yang tinggi (100

mg/dl atau lebih) merupakan pertanda buruk. Dalam penelitian sebelumnya

menyebutkan sekitar 60% pasien masih mempunyai resiko tinggi PJK apabila

kadar HDL kolesterolnya masih sangat rendah, karena peningkatan kadar HDL

kolesterol lebih penting dari penurunan kadar LDL kolesterol pada keadaan

Hiperkolesterolamia (Suhardjono dan Vincentius, 2014).

Kolesterol yang berlebihan dalam darah dapat diturunkan dengan

melakukan perubahan pada pola hidup. Pola hidup yang sehat merupakan salah

satu cara yang umum dilakukan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah

dan menurunkan resiko penyakit. Banyak jenis tanaman yang mempunyai efek

dapat menurunkan kadar kolesterol dan salah satunya adalah rambut jagung. Pada

jagung, bagian rambut jagung memiliki manfaat dalam pengobatan. Rambut

jagung berasal dari bunga betina dari tanaman jagung. Rambut jagung berfungsi

untuk menjebak serbuk sari guna penyerbukan dan pemanfaatan rambut jagung

yang merupakan limbah dari budidaya jagung masih terbatas pada penggunaannya

sebagai obat tradisional seperti dapat digunakan untuk peluruh air seni dan

penurun tekanan dalam darah (Ismizana et al., 2016).

Menurut Fitri dan Ramadhian (2016), rambut jagung memiliki

kandungan senyawa kimia yang berguna bagi kesehatan dan salah satu zat yang
3

terkandung dalam rambut jagung adalah beta-sitosterol yang berpengaruh

terhadap penurunan kadar kolesterol darah. Mekanisme aksi dari beta-sitosterol

dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah yaitu pertama, mengurangi

absorpsi kolesterol termasuk trigliserida dan lemak makanan yang lain dalam

sistem pencernaan. Pengurangan absorpsi kolesterol tersebut dilakukan dengan

cara mengikat molekul lemak dari makanan dan menghalangi molekul lemak

tersebut agar tidak terserap oleh sel mukosa usus. Kedua, mengurangi jumlah

produksi kolesterol dalam hati. Beta-sitosterol yang ikut terserap dan diangkut

melalui lipoprotein dapat menurunkan biosintesis kolesterol di dalam hati.

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang " Pengaruh Ekstrak Etanol Rambut Jagung

Terhadap Kadar HDL Pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) Yang Dibuat

Hiperkolesterolamia ".

B. Rumusan Masalah

Adakah pengaruh pemberian ekstrak Etanol Rambut Jagung terhadap kadar HDL

pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) yang dibuat Hiperkolesterolamia?

C. Tujuan Penelitian

Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Etanol Rambut Jagung terhadap kadar

HDL pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) yang dibuat Hiperkolesterolamia.


4

D. Manfaat Penelitian

1. Diharapkan dapat mengetahui pengaruh ekstrak Etanol Rambut Jagung

terhadap kadar HDL.

2. Diharapkan dapat membagikan informasi guna pembuatan produk dari

ekstrak Etanol Rambut Jagung.

3. Diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan penderita

hiperkolesterolamia tentang efek pemberian ekstrak Etanol Rambut Jagung

sebagai antihiperkolesterolamia yang dapat menurunkan kadar kolesterol.

4. Diharapkan dapat membantu untuk penelitian selanjutnya.


5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Jagung (Zea mays L.)

1. Taksonomi jagung (Zea mays L.)

Jagung merupakan jenis tanaman serealia dan merupakan tanaman

semusi. Dalam taksonomi tumbuhan, kedudukan tanaman jagung

diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Sub Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup)

Class : Monocotyledoneae (berkeping satu)

Ordo : Poales

Famili : Poaceae (Graminae)

Genus : Zea

Spesies : Zea mays L.

(Elda dan Effan, 2014)

2. Morfologi jagung (Zea mays L.)

Susunan tubuh (morfologi) tanaman jagung terdiri atas akar,

batang, daun, bunga, dan buah. Sistem perakaran tanaman jagung terdiri

atas tiga tipe akar. Batang beruas-ruas (berbuku-buku) dengan jumlah ruas

bervariasi antara 10-40 ruas. Daun jagung tumbuh melekat pada buku-
6

buku batang. Biji jagung tersusun dalam barisan yang melekat secara lurus

atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8-20 barisan biji. Buah jagung

terdiri dari tongkol, biji, dan daun pembungkus. Tanaman jagung memiliki

bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan berada dibagian atas tanaman

dan menghasilkan serbuk sari. Sedangkan, bunga betina menghasilkan

rambut jagung dan terletak di tangkai daun (Riestya dan Dwi, 2017).

Sumber: Elda dan Effan, 2014

Gambar II.1: Jagung (Zea mays L.)

Rambut jagung merupakan kumpulan stigma yang halus dan lembut yang

terlihat seperti benang atau rambut yang berwarna kekuningan. Rambut

jagung berasal dari bunga betina dari tanaman jagung. Panjang rambut

jagung mencapai 30cm atau lebih. Pada awalnya warna rambut jagung

biasanya hijau muda, lalu akan berubah menjadi merah, kuning, maupun
7

coklat muda tergantung varietas. Fungsi rambut jagung yaitu untuk

menjebak serbuk sari guna penyerbukan (Ismizana et al., 2016).

3. Kandungan nutrisi rambut jagung (Zea mays L.)

Rambut jagung memiliki manfaat dalam pengobatan. Hal ini

dikarenakan rambut jagung memiliki kandungan senyawa kimia yang

berguna bagi kesehatan. Salah satu zat yang terkandung dalam rambut

jagung adalah beta sitosterol. Zat beta sitosterol tersebut dapat

berpengaruh pada penurunan kadar kolesterol darah (Fitri dan Ramadhian,

2016).

Menurut Riestya dan Dwi (2017), terdapat penelitian pada

rambut jagung yang dilakukan dengan cara mengekstrak senyawa

fitokimia dari rambut jagung menggunakan berbagai pelarut seperti

benzena, kloroform, etanol, etil asetat, methanol, dan petroleum eter. Hasil

yang diperoleh menunjukkan hasil positif adanya flavonoid, alkaloid,

fenol, steroid, glikosida, karbohidrat, terpenoid, dan tanin. Pada rambut

jagung terdapat kandungan kimia antara lain adalah karohidrat, serat,

protein, beberapa vitamin seperti vitamin B, vitamin C, vitamin K, minyak

atsiri, garam-garam mineral seperti Na, Si, Fe, K, Zn, Ca, Mg dan P.

Flavonoid memiliki sifat antioksidan dan juga berpotensi sebagai tabir

surya.

Tabel berikut menunjukkan beberapa kandungan dan komposisi berbagai

zat penting dalam rambut jagung.


8

Tabel II.1: Kandungan dan komposisi senyawa kimia rambut jagung

No Senyawa Kimia Lo (ppm) Hi (ppm)

1 Alkaloid 500
2 Aluminium 213
3 Ascorbic acid 11
4 Ash 33000
5 Beta-sitosterol 1300
6 Calcium 2520
7 Carbohidrat 825000
8 Carvacrol 144 216
9 Chlorogenic acid _ _
10 Chromium 13
11 Cobalt 64
12 Daucosterol 440
13 EOSitosterol
Beta 800 1200
14 Ethanol _ _
15 Fat 25000 43000
16 Fiber 81000
17 Water 620000
18 Iron 504
19 Magnesium 1790
20 Manganese 34
21 Niacin 25
22 Phosphorus 287
23 Potassium 12200
24 Protein 99000
25 Riboflavin 1,5
26 Saponin 23000 32000
27 Selenium 5,7
28 Sodium 130
29 Stearic acid _ _
30 Thiamin 2,1
Keterangan: ppm (part per million)

Sumber: Fitri dan Ramadhian, 2016


9

B. Beta Sitosterol (β-Sitosterol)

β-Sitosterol merupakan salah satu jenis fitosterol yang terdapat pada

tanaman. Sterol atau stanol tanaman (fitosterol) adalah senyawa sterol

tanaman yang analog dengan kolesterol hewani dan penting untuk kehidupan

tanaman. Sumber utama fitosterol adalah kacang-kacangan, biji-bijian, minyak

nabati, sereal, dan kedelai (Triliana et al., 2012).

β-Sitosterol terbentuk dari asam asetat melalui jalur asam mevalonat

kemudian mengalami berbagai macam reaksi kondensasi, siklisasi, dan

sebagainya sampai terbentuknya senyawa-antara (Sapar et al., 2004). β-

Sitosterol tersusun dari atom C, O, dan H. Dimana gugus OH terikat pada

atom C3 cincin A. Sedangkan atom C saling terikat membentuk rantai siklik

mamupun non siklik (Jannah et al., 2013).

Sumber: Mulyono et al., 2012

Gambar II.2: β-sitosterol

Mekanisme aksi dari β-sitosterol dalam menurunkan kolesterol dalam

darah adalah pertama, mengurangi absorpsi kolesterol termasuk trigliserida

dan lemak makanan yang lain dalam sistem pencernaan. Pengurangan absorpsi

kolesterol tersebut dilakukan dengan cara mengunci atau mengikat molekul


10

lemak dari makanan dan menghalangi molekul lemak tersebut agar tidak

terserap oleh sel mukosa usus. Kedua, mengurangi jumlah produksi kolesterol

dalam hati. Bila konsumsi kolesterol makanan meningkat maka biosintesis

kolesterol dari asetil KoA di dalam hati akan menurun. Sehingga dengan

adanya β-sitosterol yang ikut terserap dan diangkut melalui lipoprotein juga

dapat menurunkan biosintesis kolesterol di dalam hati. Hal tersebut

mengakibatkan turunnya kadar kolesterol total, trigliserida, dan kolesterol

LDL serta meningkatkan kolesterol HDL (Wijayanti dan Ramadhian, 2016).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mustofa et al., (2013), selama

tiga dekade terakhir β-sitosterol telah diketahui dapat mengurangi kadar

kolesterol. Struktur β-sitosterol mempunyai kemiripan dengan kolesterol,

sehingga dapat memblokir penyerapan kolesterol dengan cara penghambatan

kompetitif. Meskipun β-sitosterol tidak diserap dengan baik oleh tubuh (5-

10%), bila dikonsumsi dengan kolesterol secara efektif memblokir penyerapan

kolesterol, yang mengakibatkan menurunnya kadar kolesterol serum. β-

Sitosterol juga dapat meningkatkan profil lipoprotein.

β-sitosterol yang terkandung dalam tanaman berpotensi sebagai agen

diabetik pada pasien diabetes melitus tipe 2 (Rachmawani dan Oktarlina,

2017). Pada suatu penelitian lain, didapatkan β-sitosterol bersifat esterogenik

yaitu mampu menjaga kelembaban seperti pada area luka sehingga

memungkinkan pertumbuhan sel. β-Sitosterol dapat membatasi jumlah

prostasiklin agar mempercepat fase inflamasi. β-Sitosterol dapat menghambat

pertumbuhan pada beberapa jenis sel tumor spesifik dilakukan dengan cara in
11

vitro, kemudian dapat juga menurunkan ukuran dan tingkat metastasis tumor

dilakukan secara in vivo (Awad et al., 2007 dalam Ranti dan Yedi, 2014).

C. Kolesterol

Kolesterol merupakan senyawa lemak kompleks yang berada pada tiap sel

di dalam tubuh (Rini et al., 2014). Kolesterol dalam tubuh berada dalam

keseimbangan dinamis antara yang disintesis dan yang dikatabolisme

(Mailangkay et al., 2015). Senyawa ini disintesis dibanyak jaringan dari asetil-

KoA dan merupakan prekursor semua steroid lain di tubuh, termasuk

kortikosteroid, hormon seks, asam empedu, dan vitamin D. Sebagai produk

tipikal metabolisme hewan, kolesterol terdapat dalam makanan yang berasal

dari hewan misalnya kuning telur, daging, hati, dan otak (Murray et al., 2014).

Dalam darah, kolesterol membentuk rangkaian lipoprotein. Lipoprotein

sendiri dibedakan menjadi rangkaian High Density Lipoprotein (HDL), Very

Density Lipoprotein (VLDL), dan Low Density Lipoprotein (LDL). Sebagian

besar kolesterol dihasilkan oleh tubuh bahkan sebanyak 80% dibuat oleh

tubuh dan hanya 20% masuk bersama bahan makanan. Dalam kondisi normal

kadar kolesterol total yang dibutuhkan tubuh yaitu sebanyak < 200mg/dl

(Rini, 2014). Dalam jumlah yang sesuai atau normal, kolesterol adalah lemak

yang berperan penting dalam tubuh. Namun jika terlalu banyak, kolesterol

dalam aliran darah dapat berbahaya bagi tubuh. Salah satu penyakit yang

disebabkan karena kadar kolesterol berlebihan yaitu hiperkolesterolemia.


12

Hiperkolesterolemia adalah kadar lemak dalam darah yang tinggi (lebih tinggi

daripada normal kadar lemak yang seharusnya (Shaleha dan Destiani, 2015).

Semakin tinggi kadar kolesterol maka akan semakin tinggi pula proses

aterosklerosis berlangsung. Konsentrasi LDL kolesterol yang tinggi dalam

darah akan menyebabkan terbentuknya aterosklerosis. Apabila sel-sel otot

arteri tertimbun lemak maka elastisitasnya akan menghilang dan berkurang

dalam mengatur tekanan darah. Akibatnya akan terjadi berbagai penyakit

seperti hipertensi, aritmia, serangan jantung, stroke dan lainnya (Alimansur

dan Irawan, 2016).

Organ penting yang memproduksi kolesterol adalah hepar dan diangkut di

plasma sebagai LDL. Kolesterol yang dilepaskan dari jaringan tepi di

esterifikasi didalam plasma dengan asam lemak yang berasal dari lesitin oleh

lesitin kolesterol diangkut ke hepar sebagai HDL. Ester kolesterol ini biasa

diangkut ke lipoprotein lain oleh penukaran dengan trigliserida. Kadar

kolesterol meningkat dengan bertambahnya usia, dan sampai usia 50 lebih

tinggi pada laki-laki. Lebih dari separuh jumlah kolesterol tubuh berasal dari

sintesis (sekitar 700 mg/hari), dan sisanya berasal dari makanan sehari-hari

(Ujiani, 2015). Selain usia, pola hidup, dan jenis makanan yang dikonsumsi

seperti makanan yang mengandung kolesterol tinggi (goreng-gorengan, jeroan,

daging, otak) dapat memicu meningkatnya kadar kolesterol di dalam tubuh

(Alimansur dan Irawan, 2016).

Salah satu faktor untuk mengontrol kolesterol total darah yaitu dengan

menjaga pola makan. Langkah pertama dalam pendekatan untuk menurunkan


13

kolesterol adalah mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol. Serat

mempunyai peranan penting terhadap penurunan kadar kolesterol darah.

Mengkonsumsi serat minimal 28 g per hari dapat menurunkan kadar kolesterol

sampai 15-19%. Serat dapat larut menurunkan kadar LDL tanpa menurunkan

kadar kolesterol HDL (Yuliantini et al., 2015). Serat mampu mengikat lemak

dalam usus dan mencegah penyerapan lemak oleh tubuh yang dengan

demikian membantu mengurangi kadar kolesterol dalam darah. Vegetarian

tipe vegan memiliki kolesterol total yang lebih rendah dibandingkan

vegetarian tipe lacto-ovo. Vegetarian lacto-ovo mengandung lemak jenuh,

kolesterol, dan masih mengonsumsi produk hewani yang meliputi terlur, susu

dan produk olahannya (Wahjoeni et al., 2016).

D. HDL (High Density Lipoprotein)

HDL (High Density Lipoprotein) merupakan senyawa lipoprotein yang

berat jenisnya tinggi. Membawa lemak total rendah, tinggi protein, dan dibuat

dari lemak endogenous di hati. HDL digunakan untuk mengangkut kolesterol

berlebihan dari seluruh jaringan tubuh untuk dibawa ke hati (Putri et al.,

2013). Densitas lipoprotein akan meningkat apabila kadar proteinnya naik dan

kadar lemaknya berkurang. HDL disintesis dan disekresi terutama oleh hati

dan sedikit di epitel usus. Kolesterol HDL mengandung konsentrasi protein

yang tinggi, kira-kira 50% protein, tetapi konsentrasi kolesterol dan fosfolipid

lebih kecil (Guyton & Hall, 1997 dalam Priskila 2008).


14

Fungsi utama HDL adalah sebagai tempat penyimpanan apo C dan apo E

yang dibutuhkan dalam metabolisme kilomikron dan VLDL. Kadar HDL

bervariasi secara timbal-balik dengan kadar triasilgliserol plasma dan secara

langsung dengan aktivitas lipoprotein lipase. Kadar HDL berbanding terbalik

dengan insidens aterosklerosis. Karena HDL mencerminkan efisiensi transpor

kolesterol baik. HDL ditemukan dalam darah hewan dengan keadaan

hiperkolesterolemik akibat makanan. HDL kaya akan kolesterol, dan

apolipoprotein satu-satunya adalah apo E (Murray et al., 2014).

Klasifikasi HDL antara lain HDL1, HDL2, HDL3 dan berdasarkan

kandungan Apo A-I dan Apo A-II. Metabolisme HDL kompleks dan terdapat

petunjuk bahwa Apo A-I plasma yang merupakan apoprotein utama HDL

meupakan inverse predictor untuk resiko penyakit jantung koroner yang lebih

baik daripada HDL (Putri et al., 2013). Rasio kadar kolesterol total terhadap

kadar HDL juga penting untuk diperhatikan karena nilainya lebih bermakna

terhadap kemungkinan resiko terjadinya penyakit jantung. Rasio kadar

kolesterol total/HDL adalah perbadingan dari kolesterol total dibagi dengan

kolesterol HDL.

Menurut Framingham Heart Study dalam Yuliantini et al., (2015), rasio

yang ideal antara kolesterol total dengan HDL yaitu 2,5-3,4. Nilai rasio 3,5-

4,5 masih ditoleransi namun harus tetap waspada. Nilai rasio diatas 4,5

mempunyai resiko mendapatkan serangan jantung dua kali lebih besar

daripada nilai rasio 3,5-4,5. Semakin besar rasio kolesterol total dengan HDL

maka semakin meningkat resiko penyakit jantung. Hasil penelitian


15

menunjukkan bahwa semakin tinggi asupan lemak jenuh dan kolesterol maka

rasio kadar kolesterol total/HDL akan menurun. Sedangkan untuk asupan

lemak tak jenuh menunjukkan bahwa semakin rendah asupan lemak tak jenuh

maka rasio kadar kolesterol total/HDL akan semakin tinggi.

Kadar kolesterol HDL yang rendah menjadi prediktor dalam terjadinya

penyakit jantung koroner. Dislipidemia merupakan suatu kelainan kadar lemak

di dalam darah yang salah satu penyebabnya yaitu penurunan kadar HDL.

Faktor gaya hidup dapat menyebabkan 80% kondisi dislipidemia dan 20%

lainnya disebabkan oleh kondisi genetik. Konsumsi makanan yang

mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi dapat menyebabkan gangguan

kadar lipid dalam darah. Kelainan yang terjadi salah satunya ialah penurunan

kolesterol HDL yang bermanfaat baik karena dapat berinteraksi dengan

reseptor seluler dan dapat membuang kelebihan kolesterol dari sirkulasi darah

menuju ke hati untuk di metabolisme (Adipratama, 2014).


16

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep Penelitian

TIKUS PUTIH

EKSTRAK
RAMBUT JAGUNG Diet Tinggi Lemak ↑↓

β-Sitosterol Kolesterol ↑↓

↑ Ekskresi Kolesterol
Hiperkolesterolemia ↑↓
↓ Absorbsi Kolesterol

Kadar HDL ↑↓

Keterangan:

Variabel diteliti

Variabel tidak diteliti


17

Keterangan Kerangka Konsep

Peningkatan kadar kolesterol dapat menyebabkan terjadinya

hiperkolesterolemia. Hiperkolesterolemia merupakan kondisi saat konsentrasi

kolesterol di dalam darah melebihi batas normal (Cybthia dan Probo sari,

2013). Kadar kolesterol total normal yaitu <200 mg/dL, ambang batas tinggi

200-239 mg/dL, dan tinggi >240 mg/dL (Wahjoeni et al., 2016). Faktor

penyebab hiperkolesterolemia diantaranya yaitu faktor keturunan, konsumsi

makanan tingi lemak, kurang olahraga dan kebiasaan merokok (Yani, 2015).

Kolesterol yang berlebihan diangkut dari seluruh jaringan tubuh untuk

dibawa ke hati oleh HDL. HDL merupakan senyawa lipoprotein yang berat

jenisnya tinggi. Membawa lemak total rendah, tinggi protein, dan dibuat dari

lemak endogenous di hati. (Putri et al., 2013). HDL mencerminkan efisiensi

transpor kolesterol baik. HDL ditemukan dalam darah hewan dengan keadaan

hiperkolesterolemik akibat makanan. HDL kaya akan kolesterol, dan

apolipoprotein satu-satunya adalah apo E (Murray et al., 2014). Semakin

tinggi asupan lemak jenuh dan kolesterol maka rasio kadar kolesterol

total/HDL akan menurun. Sedangkan semakin rendah asupan lemak tak jenuh

maka rasio kadar kolesterol total/HDL akan semakin tinggi (Yuliantini et al.,

2015). Kadar kolesterol HDL yang rendah menjadi prediktor dalam terjadinya

penyakit jantung koroner (Adipratama, 2014).

Rambut jagung memiliki kandungan senyawa kimia yang berguna bagi

kesehatan. Salah satu zat yang terkandung dalam rambut jagung adalah beta

sitosterol. Zat beta sitosterol tersebut dapat berpengaruh pada penurunan kadar
18

kolesterol darah (Fitri dan Ramadhian, 2016). Sehingga kadar kolesterol

dalam tubuh dapat turun. Jika kadar kolesterol turun maka hal tersebut

mengakibatkan meningkatknya kolesterol HDL (High Density Lipoprotein).

B. Kerangka Konsep Penelitian

Pemberian ekstrak rambut jagung (Zea mays L.) dapat mempengaruhi

kadar kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) pada tikus putih (Rattus

Nevergicus) yang dibuat hiperkolesterolemia.

Ho :tidak ada pengaruh ekstrak rambut jagung (Zea mays L.) terhadap

kadar kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) pada tikus putih

(Rattus Nevergicus) yang dibuat hiperkolesterolemia.

H1 :ada pengaruh ekstrak rambut jagung (Zea mays L.) terhadap kadar

kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) pada tikus putih

(Rattus Nevergicus) yang dibuat hiperkolesterolemia.


19

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Pada penelitian ini, desain penelitian yang dipakai adalah eksperimental

murni, yaitu Only Post Test Control Group Design. Desain ini mencakup 2

langkah, yaitu:

1. Melakukan perlakuan eksperimental

2. Melakukan Post Test untuk mengukur variabel terikat

7 hari

k- + air H RJ k-

k+ Hiperkolesterolemia + air
H RJ k+

RJ p1 RJ + 0,25g/200gBB Ekstrak RJ H RJ p1

p2 RJ + 0,5 g/200gBB Ekstrak RJ H RJ p2

p3 RJ + 1g/200gBB Ekstrak RJ H RJ p3
20

Keterangan :

RJ : kelompok Rambut Jagung

k- : kelompok Rambut Jagung Kontrol Negative

k+ : kelompok Rambut Jagung Kontrol Positif

p1 : kelompok Rambut Jagung Perlakuan 1

p2 : kelompok Rambut Jagung Perlakuan 2

p3 : kelompok Rambut Jagung Perlakuan 3

H RJ k- : Pengamatan Hasil dari kelompok RJ k-

H RJ k+ : Pengamatan Hasil dari kelompok RJ k+

H RJ p1 : Pengamatan Hasil dari kelompok RJ p1

H RJ p2 : Pengamatan Hasil dari kelompok RJ p2

H RJ p3 : Pengamatan Hasil dari kelompok RJ p3

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorim Biokimia Fakultas Kedokteran

Wijaya Kusuma Surabaya dan waktunya diperkirakan 4-5 minggu.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah tikus putih jantan (Rattus

norvegicus) hewan coba dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas

Brawijaya Malang.

a. Kriteria inklusi

1) Tikus putih jantan (Rattus norvegicus)


21

2) Umur 2-3 bulan

3) Berat badan 120-150 gram

4) Kondisi sehat (aktif dan tidak cacat)

b. Kriteria ekslusi

1) Tikus mengalami sakit

2) Bobot tikus mengalami penurunan berat badan

3) Tikus mati dalam masa penelitian

2. Sampel

Banyaknya subjek penelitian: 25 ekor tikus putih kemudian dibagi

menjadi lima kelompok yang masing-masing kelompok terdiri atas 5

ekor tikus putih. Hewan uji dibagi ke dalam sepuluh kelompok,

dimana pengelompokan hewan uji dilakukan secara acak lengkap

dengan jumlah minimal per kelompok mengikuti rumus Fraenkle dan

Walken:

(n.p-1)-(p-1) ≥9

(n.p-1)-(p-1) ≥9

(n.5-1)-(5-1) ≥9

(5n-1)-4) ≥9

5n≥14

n≥2,8

N=3
22

dimana: p = jumlah kelompok hewan coba

n = jumlah hewan coba tiap kelompok

Jadi, jumlah minimum tikus yang digunakan dalam tiap kelompok

adalah 3 ekor. Tikus yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 5

ekor tiap kelompok.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Terikat : Kadar HDL

2. Variabel Bebas : Pemberian diet tinggi lemak

Pemberian ekstrak rambut jagung

E. Bahan/Alat/Instrumen yang digunakan

1. Alat-alat

a. Seperangkat tempat pemeliharaan tikus

b. Timbangan

c. Sonde oral

d. Spektrofometer dengan panjang gelombang 532 nm

e. Sentrifugasi

f. Seperangkat tabung reaksi

g. Vortex

h. Water bath

i. Pipet
23

j. Seperangkat alat destilasi vakum

k. Blender

l. Rotary evaporator

m. Botol vial

2. Bahan-bahan

a. Makanan standar untuk tikus

b. Minyak jelantah

c. Rambut jagung

d. NaCl 80%

e. Buffer formalin 10%

f. Etanol 96%

g. Sampel serum

h. Kloroform

F. Definisi Operasional

1. Hiperkolesterolemia adalah kondisi dimana tikus di induksi dengan

diet tinggi lemak sebanyak 2,5g/200g BB + air minum secara ad

libithum selama 7 hari dengan menggunakan sonde oral. Campurannya

terdiri dari minyak jelantah

2. Tikus yang digunakan sebagai penelitian adalah tikus putih (Rattus

novergicus) atau biasa dikenal dengan nama lain Norway rat berjenis

kelamin jantan
24

3. Pada tikus putih (Rattus novergicus) kadar kolesterol darah total

normal adalah 10-54 mg/dl (Hariani, 2009 dalam Riesanti et al., 2011),

HDL plasma darah normal adalah ≥35 mg/dL, LDL plasma darah

normal yaitu 7-27,2 mg/dL (Herwiyarirasanta, 2010 dalam Riesanti et

al., 2011)

4. Pemberian ekstrak rambut jagung selama 7 hari diberikan pada

kelompok perlakuan I dengan dosis 0,25g/200g BB, perlakuan II

dengan dosis 0,5g/200g BB, perlakuan III dengan dosis 1g/200g BB

5. Pengukuran HDL dilakukan dengan pereaksi Thiobarbiturat acid

(TBA)

G. Definisi Operasional

1. Pembuatan Tikus Hiperkolesterolemia

a. Tikus ditaruh pada kandang tikus yang sudah dipersiapkan

dengan aturan yaitu (RAR, 2003):

1) Laboratorium tikus percobaan harus berada di tempat

yang bebas dari suara ribut dan terhindar dari asap

industri atau polutan lainnya

2) Lantai ruangan harus mudah dibersihkan dan disanitasi

3) Suhu optimum ruangan tikus percobaan 22-24ºC

deangan kelembapan udara 50-60% serta ventilasi yang

cukup tetapi tidak boleh ada jendela yang terbuka


25

4) Cahaya harus diusahakan agar terdapat 12 jam terang

dan 12 jam gelap

5) Sebaiknya di dalam ruangan hewan percobaan

diletakkan alat-alat pengukur suhu dan kelembapan

udara, serta dilakukan pencatatan kondisi lingkungan

selama percobaan berlangsung

6) Ukuran standar tikus percobaan 7x9.5x7 inci (sekitar

17.5 x 23.75 x 17.5 cm) untuk tiap ekor tikus, dengan

alas yang berlubang-lubang untuk pengeluaran urin dan

feses (kandang metabolik)

7) Kandang harus dibuat dari bahan yang tidak mudah

berkarat (galvanized steel atau stainless steel)

8) Makanan standar tikus adalah chow pelet atau ransum

dan tempat ransum harus dibuat cukup besar untuk ad

libitum feeding

9) Air minum yang digunakan adalah air keran dan tempat

air minum harus diletakkan sedemikian rupa sehingga

terhindar dari kontaminasi udara dan feses

10) Transient environmental disturbance (TED) yang

merupakan penghambat bagi pertumbuhan hewan

percobaan adalah suara ribut, keluar masuknya orang ke

dalam ruang hewan, dan penanganan hewan yang


26

kurang baik. Untuk itu, kegiatan-kegiatan tersebut harus

dikurangi

b. Tikus diaklimatisasi selama 7 hari dengan tujuan

mengadaptasikan hewan uji dengan lingkungan baru dan

meminimalisir efek stres pada tikus yang berpengaruh pada

metabolisme dan mengganggu proses penelitian dengan diberi

pakan standar dan air

c. Setelah itu tikus diberi diet tinggi lemak menggunakan sonde

oral selama 7 hari

d. Kadar kolesterol total tikus putih mengalami peningkatan

e. Tikus menjadi hiperkolesterolemia

2. Cara pembuatan pakan tinggi kolesterolemia

Komposis diit tinggi kolesterol dan lemak:

a. Minyak jelantah 80%

b. Sukrosa 15%

c. Lemak hewan 5% (Lemak hewan yang digunakan adalah

lemak ayam broiler yang diambil dari kulitnya)

Diet tinggi kolesterol dan lemak dibuat dalam bentuk

suspensi, semua bahan dicampur, kemudian dikocok dengan

kecepatan tinggi hingga homogen. Makanan dibuat baru setiap

harinya dan diberi secara per oral ke tikus sebanyak 2,5g/200g

BB

3. Pembuatan ekstrak rambut jagung


27

a. Rambut jagung (Zea mays L.) dicuci dengan air yang mengalir

b. Kemudian dikeringkan pada suhu ruangan selama 24 jam

c. Setelah kering selanjutnya dihaluskan dengan menggunakan

blender

d. Setelah halus serbuk rambut jagung ditimbang dengan

timbangan analitik (gram) dilarutkan ke dalam etanol 96%

e. Kemudian diaduk dan didiamkan selama 24 jam

f. Filtrat yang diperoleh dengan penyaringan melalui 4 lapis kain

kasa atau kertas saring (Kasolo et al., 2011 dalam Nugraha,

2013)

g. Selanjutnya diuapkan dengan vaccum rotary evaporator pada

suhu 60ºC, 100rpm sehingga diperoleh ekstrak kasar

h. Filtrat hasil evaporasi dimasukkan ke dalam waterbath shaker

selama 24 jam dengan suhu 40ºC

i. Ekstrak kental yang didapat kemudian ditampung dalam botol

steril dan disimpan di kulkas

4. Pemberian pakan tinggi lemak, pemberian ekstrak rambut jagung, dan

pengambilan serum

a. 25 ekor sampel tikus putih jantan dibagi 5 kelompok yaitu

kelompok 1, kelompok kontrol negatif (5 ekor), kelompok 2,

kelompok kontrol positif (5 ekor), kelompok 3, perlakuan 1 (5

ekor), kelompo 4, perlakuan 2 (5 ekor), kelompok 5, perlakuan

3 (5 ekor).
28

b. Tikus diaklimatisasi selama 7 hari dengan tujuan

mengadaptasikan hewan uji dengan lingkungan baru dan

meminimalisasi efek stres pada tikus yang dapat berpengaruh

pada metabolismenya yang dapat mengganggu penelitian

dengan diberi pakan standar dan air secara ad libithum

c. Melakukan post-test pertama untuk tikus dari kelompok

negatif, terminasi tikus menggunakan anestesi kloroform

kemudian dilakukan pembedahan untuk mengambil sampel

darah dari jantung tikus sebanyak 2 ml menggunakan spuit

berukuran 5 ml dan kemudian ukur kadar HDL

d. Induksi kelompok kontrol positif perlakuan 1, perlakuan 2,

perlakuan 3 dengan diet tinggi lemak sebanyak 2,5g/200g BB

dan air secara ad libithum selama 7 hari

e. Melakukan post-test kedua untuk tikus dari kelompok kontrol

positif, terminasi tikus menggunakan anestesi kloroform

kemudian dilakukan pembedahan untuk mengambil sampel

serum darah tikus

f. Kelompok perlakuan 1, perlakuan 2, perlakuan 3 yang sudah

menjadi hiperkolesterolemia diberikan ekstrak rambut jagung

menggunakan sonde oral dengan metode srynge feeding

technique dan tetap diberikan pakan satndar dan air minum

secara ad libithum selama 7 hari


29

g. Melakukan post-test ketiga untuk tikus dari kelompok

perlakuan 1, perlakuan 2, perlakuan 3, terminasi tikus

menggunakan anestesi kloroform kemudian dilakukan

pembedahan untuk mengambil sampel darah tikus

h. Analisis secara statistik

5. Prosedur pemeriksaan HDL

a. Memipet 0,5 ml sampel

b. Selanjutnya ditambah 9 ml larutan PBS dingin

c. Setelah itu diambil 4 ml supernatan

d. Kemudian supernatan tersebut ditambah 1 ml larutan TCA 15%

e. Selanjutnya ditambah 1 ml larutan TBA

f. Setelah itu dipanaskan dalam waterbath 80ºC selama 15 menit

g. Kemudian dinginkan pada suhu ruang selama 60 menit

h. Kemudian di sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15

menit

i. Kemudian mengukur absorbansi supernatan HDL sampel pada

spektrofometer

j. Dihitung kadar HDL dengan menggunakan persamaan garis

regresi dari kurva standart (baku) larutan HDL

6. Perlakuan tikus setelah dilakukan penelitian

a. Persiapkan toples, kapas, dan kloroform

b. Basahi kapas dengan menggunakan kloroform dan masukkan

dalam toples
30

c. Tikus masukkan dalam toples dan tunggu beberapa menit

dengan tujuan untuk menganestesi tikus

H. Alur Penelitian

1. Pembuatan Tikus Hiperkolesterolemia

Tikus ditempatkan pada Tikus diaklimatisasi selama


tempat yang telah 7 hari dengan diberi pakan
disediakan standart dan air minum

Kemudian diberi diet tinggi


Kadar kolesterol total
lemak selama 7 hari secara
mengalami peningkatan
ad libithum

Tikus Hiperkolesterolemia

Gambar IV.1: Diagram Pembuatan Tikus Hiperkolesterolemia

2. Pembuatan Ekstrak Rambut Jagung

Rambut jagung Dikeringkan dan


(Zea mays L.) dibuat serbuk

Ekstraksi rambut jagung Direndam dengan Etanol


dimasukkan ke dalam 96% selama 24 jam
evaporator

Kemudian ditampung Ekstrak kental rambut


dalam waterbath shaker jagung (Zea mays L.)

Ditampung dalam botol steril


dan disimpan dalam kulkas
Gambar IV.2: Diagram Pembuatan Ekstrak Rambut Jagung
31

3. Pemberian Pakan Tinggi Lemak, Pemberian Ekstrak Rambut Jagung,

dan Pengambilan Serum


25 ekor sampel tikus putih jantan

Kontrol negatif Kontrol positif Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III


5 ekor 5 ekor 5 ekor 5 ekor 5 ekor

Aklimatisasi selama 7 hari diberikan pakan standart + air minum secara ad libithum

Induksi tikus dengan diet tinggi lemak sebanyak 2,5g/200g BB + air


minum secara ad libithum selama 7 hari

Tikus menjadi hiperkolesteerolemia

Ukur kadar kolesterol

Pemberian Pemberian Pemberian


ekstrak ekstrak ekstrak
rambut rambut rambut
jagung jagung jagung
0,25g/200g 0,5g/200g BB 1g/200g BB
BB (7 hari) + (7 hari) + (7 hari) +
pakan pakan pakan
standart dan standart dan standart dan
air minum air minum air minum

Terminasi tikus untuk mengambil darah dan mengukur kadar HDL (setelah puasa selama 6
jam) dari jantung tikus sebanyak 2 ml

Analisa statistik

Gambar IV.3: Diagram Alur Induksi Pakan Tinggi Lemak, Pemberian Ekstrak
Rambut Jagung, dan Pengambilan Serum
32

I. Alur Penelitian

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil darah tikus yang

sudah diberikan makanan tinggi lemak jenuh dan dengan mengambil

darah tikus yang sudah diberikan ekstrak rambut jagung, kemudian

mengambil serum darah tikus untuk mengukur kadar HDL

menggunakan spektrofotometer

2. Penggolongan dan Pengolahan Data

Data yang digunakan pada statistik yaitu data rasio karena data yang

digunakan bersifat angka dan data tersebut diolah secara deskriptif

dengan menggunakan uji statistik yang sesuai pada percobaan ini

3. Analisa Data

Data yang telah dikumpulkan akan diproses dengan SPSS 16.0 for

windows dan analis dengan langkah-langkah:

a. Uji Normalitas dengan Saphiro-wilk untuk mengetahui

normalitas distribusi data. Dari hasil uji didapatkan data

berdistribusi normal (p ≥ 0,05)

b. Uji Homogenitas dengan uji Levene Test, dari hasil uji

didapatkan data yang homogen (p ≥ 0,05). Jika λ = 0,05 maka

H1 diterima jika p< λ dan H0 ditolak jika p>λ

c. Karena data berjenis rasio, berdistribusi normal dan homogen,

perbedaan rerata antar kelompok dilakukan dengan uji One Way

Anova untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan antar kelompok,


33

bila terdapat perbedaan yang bermakna maka dilanjutkan dengan

uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perbedaan antar

masing-masing kelompok