Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Medis


1. Pengertian
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah
bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan
dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus
pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & suddarth 2002)
Hernia nucleus pulposus (HNP) merupakan penyebab utama nyeri punggung
bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh). Herniasi dapat parsial atau
komplet, dari massa nukleus pada daerah vertebra L4-L5, L5- S1 atau C5-C6,
C6-C7 adalah yang paling banyak terjadi dan mungkin sebagai dampak trauma
atau perubahan degeneratif yang berhubungan dengan proses penuaan. (Doenges, dkk
2000)
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hernia nukleus pulposus
(HNP) adalah rupturnya nukleus pulposus yang disebabkan oleh trauma atau
perubahan degeneratif terkait dengan proses penuaan yang mengakibatkan
nyeri hebat pada punggung bawah dan dapat bersifat kronik ataupun dapat kambuh.

2. Klasifikasi
Menurut tempat terjadinya, HNP dibagi menjadi (Nurarif dkk 2013):
a. Hernia Lumbosacralis
Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya oleh kejadian luka posisi
fleksi, tapi perbandingan yang sesungguhnya pada pasien non trauma adalah
kejadian yang berulang. Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat menyebabkan
nucleus pulposus prolaps, mendorong ujungnya/jumbainya dan melemahkan anulus
posterior. Pada kasus berat penyakit sendi, nucleus menonjol keluar sampai
anulus dan melintang sebagai potongan bebas pada canalis vertebralis. Lebih
sering, fragmen dari nucleus pulposus menonjol
sampai pada celah anulus, biasanya pada satu sisi atau lainnya (kadang-kadang
ditengah), dimana mereka mengenai menimpa sebuah serabut atau beberapa serabut
syaraf.
b. Hernia Servikalis
Keluhan utama nyeri radikuler pleksus servikobrakhialis. Penggerakan
kolumma vertebralis servikal menjadi terbatas, sedang kurvatural yang normal
menghilang. Otot-otot leher spastik, kaku kuduk, refleks biseps yang menurun atau
menghilang Hernia ini melibatkan sendi antara tulang belakang dari C5 dan C6 dan
diikuti C4 dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini menonjol keluar posterolateral
mengakibatkan tekanan pada pangkal syaraf. Hal ini menghasilkan nyeri
radikal yang mana selalu diawali gejala-gejala dan mengacu pada kerusakan
kulit.
c. Hernia Thorakalis
Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada digaris tengah hernia. Gejala- gejalannya
terdiri dari nyeri radikal pada tingkat lesi yang parastesis. Hernia dapat
menyebabkan melemahnya anggota tubuh bagian bawah, membuat kejang
paraparese kadang-kadang serangannya mendadak dengan paraparese. Penonjolan
pada sendi intervertebral thorakal masih jarang terjadi (menurut love dan schorm 0,5
% dari semua operasi menunjukkan penonjolan sendi). Pada empat thorakal paling
bawah atau tempat yang paling sering mengalami trauma jatuh dengan posisi tumit
atau bokong adalah faktor penyebab yang paling utama.

3. Etiologi
HNP terjadi akibat keluarnya nukleus pulposus dari dalam bantalan tulang
belakang. HNP sering terjadi pada usia 30-50 tahun, meskipun juga banyak dialami
oleh para orang tua. Ada tiga faktor yang membuat seseorang dapat mengalami
HNP, yaitu (1) gaya hidup, seperti merokok, jarang atau tidak pernah berolah raga
dan berat badan yang berlebihan, (2) pertambahan usia, dan (3) memiliki
kebiasaan duduk atau berdiri yang salah, yaitu membungkuk dan tidak tegak.
Ketiga faktor tersebut, apabila ditambah dengan cara mengangkat benda yang
keliru, yaitu cara mengangkat benda di mana punggung membungkuk ke depan
meningkatkan resiko seseorang mengalami HNP, karena tekanan yang diterima oleh
bantalan tulang belakang akan meningkat beberapa kali tekanan normal. Cara
mengangkat yang benar adalah dengan jalan menekuk lutut ke arah depan,
sementara punggung tetap dipertahankan dalam posisi tegak, tidak
membungkuk. Para pekerja kasar atau yang banyak menggunakan otot-otot
punggung untuk bekerja memiliki resiko yang lebih besar mengalami HNP. (Nurarif
dkk 2013)

4. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala HNP secara umum yaitu (Mansjoer Arif 2001):
 Nyeri punggung yang menyebar ke ekstremitas bawah.
 Spasme otot
 Peningkatan rasa nyeri bila batuk, mengedan, bersin, membungkuk, mengangkat
beban berat, berdiri secara tiba-tiba.
 Kesemutan, kekakuan, kelemahan pada ekstermitas.
 Deformitas.
 Penurunan fungsi sensori, motorik.
 Konstipasi, kesulitan saat defekasi dan berkemih.
 Tidak mampu melakukan aktifitas yang biasanya dilakukan.
 Ischialgia yaitu nyeri bersifat tajam, seperti terbakar, dan berdenyut
sampai ke bawah lutut. Ischialgia merupakan nyeri yang terasa sepanjang perjalanan
nervus ischiadicus sampai ke tungkai.
 Dapat timbul gejala kesemutan
 Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan defekasi, miksi dan
fungsi seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan neurologis yang memerlukan
tindakan pembedahan untuk mencegah kerusakan fungsi permanen.
 Nyeri bertambah dengan batuk, bersin, mengangkat benda berat,
membungkuk akibat bertambahnya tekanan intratekal.
 Kebiasaan penderita perlu diamati, bila duduk maka lebih nyaman duduk pada sisi
yang sehat.
Gejala masing-masing tipe HNP berbeda-beda yaitu: (Mansjoer Arif 2001)
1) Henia Lumbosakralis
Gejala pertama biasanya low back pain yang mula-mula berlangsung dan periodik
kemudian menjadi konstan. Rasa nyeri di provokasi oleh posisi badan tertentu,
ketegangan, suhu dingin dan lembab, pinggang terfikasi sehingga kadang-kadang
terdapat skoliosis. Gejala patognomonik adalah nyeri lokal pada tekanan
atau ketokan yang terbatas antara 2 prosesus spinosus dan disertai nyeri menjalar
ke dalam bokong dan tungkai. “Low back pain” ini disertai rasa nyeri
yang menjalar ke daerah iskhias sebelah tungkai (nyeri radikuler) dan secara refleks
mengambil sikap tertentu untuk mengatasi nyeri tersebut, sering dalam bentuk
skilosis lumbal. Syndrom sendi intervertebral lumbalis yang prolaps terdiri :

 Kekakuan/ketegangan, kelainan bentuk tulang belakang.


 Nyeri radiasi pada paha, betis dan kaki
 Kombinasi paresthesiasi, lemah, dan kelemahan reflex
HNP pada punggung bawah di daerah yang disebut L1-L2 dan L2- L3
menyebabkan nyeri dan rasa tebal pada sisi depan-samping luar paha. Juga dapat
terjadi kelemahan otot- otot untuk menggerakkan sendi paha ke arah perut.
HNP di daerah ini jarang terjadi dibanding daerah punggung bawah yang lain.
HNP di daerah L3-L4 menimbulkan nyeri di daerah pantat, sisi samping luar
paha dan sisi depan betis. Rasa tebal atau kesemutan dapat dirasakan pada sisi depan
betis. HNP Di daerah L4-L5 menyebabkan nyeri di daerah pantat, sisi belakang
paha, sisi depan-samping luar betis dan punggung kaki. Rasa kesemuatan terasa
di daerah depan- samping luar betis sampai ke daerah punggung kaki.
Sementara HNP L5-S1 mengakibatkan nyeri di daeran pantat, sisi belakang paha
dan betis sampai ke tumit serta telapak kaki. Rasa tebal dan kesemutan terasa
di daerah betis sampai telapak kaki.
HNP di kedua daerah ini (yaitu, L4-L5 dan L5-S1) paling sering terjadi. Pada
kasus yang ektrem, HNP di daerah punggung bawah dapat menyebabkan
penekanan sekelompok serabut saraf yang disebut “kauda equina” (bahasa latin
yang berarti “ekor kuda”). HNP ini disebut sebagai “sindrom kauda equina”
dengan gejala-gejala nyeri, kesemuatan, rasa tebal, serta kelemahan atau
kelumpuhan kedua tungkai. Gejala-gejala tersebut juga disertai ketidak-
mampuan menahan kencing (mengompol) dan buang air besar. Sindrom ini
merupakan suatu keadaan yang serius dan gawat, serta membutuhkan tindakan
pembedahan secepatnya.
2) Hernia servicalis
Pasien dengan HNP cervical akan menunjukkan gejala-gejala radiculopathy,
mielopathy atau bahkan menunjukkan gejala keduanya. Gejala radiculopathy terjadi
apabila nucleus pulposus keluar dan menekan radiks medulla spinalis,
sedangkan gejala mielopathy terjadi bila nucleus pulposus langsung
menekan medulla spinalis. HNP cervical lebih sering terjadi pada usia 30-40 tahun,
dan lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita.
a) Cervical Radiculopathy
Gejala yang terjadi bila terdapat ruptur discus cervical yaitu rasa nyeri yang
menjalar mulai dari leher, bahu, lalu ke lengan. Nyeri dapat terasa tajam, namun
lebih sering dirasakan nyeri tumpul yang menetap. Gejala lain yang dapat timbul
yaitu parestesia atau rasa seperti kesemutan, kaku, atau juga dapat terasa gatal
pada daerah yang dipersarafi oleh radiks yang tertekan. Nyeri di sekitar tulang
belikat juga sering dikeluhkan, hal ini timbul oleh karena adanya rasa nyeri yang
menjalar. Pasien juga dapat menunjukkan gejala berupa sakit kepala, kelemahan
ekstremitas atas atau frank atrofi dengan adanya pengurangan massa otot. Nyeri
biasanya dipicu oleh gerakan pada leher, terutama saat leher ekstensi
dan pergerakan leher ke sisi yang sakit disebut dengan tanda Spurling. Rasa nyeri
diperparah dengan adanya batuk, mengedan atau tertawa. Rasa nyeri berkurang
dengan pergerakan leher menjauhi sisi yang sakit dan dengan mengangkat lengan
di sisi yang sakit sampai ke atas kepala.
b) Cervical Myelopathy
Bila nucleus pulposus langsung menekan medulla spinalis gejala yang timbul
berupa nyeri di leher, sekitar tulang belikat dan bahu. Tedapat sensasi nyeri
mendadak di kaki saat pergerakan cepat dari leher. Rasa kesemutan menjalar ke
atas saat leher di dongakan ke belakang (ekstensi). Pada anggota badan atas
terdapat rasa kaku pada tangan dan lengan, kehilangan ketangkasan juga
kelemahan ekstremitas atas yang menyeluruh. Kelainan pada anggota badan
bawah berupa ketidakstabilan dalam berjalan serta adanya gangguan miksi dan
buang air besar.
3) Hernia thorakalis
a) Nyeri radikal.
b) Melemahnya anggota tubuh bagian bawah dapat menyebabkan kejang
paraparesis.
c) Serangannya kadang-kadang mendadak dengan paraplegia.

5. Patofisiologi
Pada tahap pertama sobeknya annulus fibrosus itu bersifat sirkumferensial. Karena
adanya gaya traumatic yang berulang, sobekan itu menjadi lebih besar dan
timbul sobekan radial. Apabila hal ini telah terjadi, resiko HNP hanya menunggu
waktu dan trauma berikutnya saja. Gaya presipitasi itu dapat diasumsikan
seperti gaya traumatic ketika hendak menegakan badan waktu terpleset,
mengangkat benda berat, dan sebagainya. (Price & Wilson 2006)
Herniasi nucleus puposus dapat mencapai ke korpus tulang belakang di atas atau di
bawahnya. Bisa juga menembus langsung ke kanalis vertebralis. Kebocoran sebagian
nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat dilihat pada foto rontgen polos dan
dikenal sebagai nodus schmorl. Sobekan sirkum ferensial dan radial pada annulus
fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan terbentuknya nodus schmorl
merupakan kelainan yang mendasari low back pain subkronis atau kronis yang
kemudian disusul oleh nyeri sepanjang tungkai yang dikenal sebagai
iskhialgia atau siatika. Menembusnya nucleus pulposus ke kanalis vertebralis
berarti bahwa nucleus pulposus menekan radiks yang bersama-sama arteria
radipularis yang berada dalam lapisan dura. Hal itu terjadi jika kebocoran berada
di sisi lateral tidak akan ada radiks yang terkena jika tempat herniasinya berada
di tengah. Pada tingkat L2 dan terus ke bawah tidak terdapat medulla spinalis
lagi, maka herniasi yang berada di garis tengah tidak akan menimbulkan
kompresi pada kolumna anterior. Setelah terjadi HNP, sisa diskus
intervertebralis mengalami lisis, sehingga dua corpora vertebra bertumpang tindih
tanpa ganjalan. (Price & Wilson 2006)
Manifestasi klinis utama yang muncul adalah rasa nyeri di punggung
bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan. HNP terbagi atas HNP
sentral dan HNP lateral. HNP sentral akan menunjukan paraparesis flasid,
parestesia , dan retansi urine. sedangkan HNP lateral bermanifestasi pada rasa nyeri
dan nyeri tekan yang terletak pada punggung bawah, ditengah-tengah area bokong
dan betis , belakang tumit, dan telapak kaki. Kekuatan ekstensi jari kelima kaki
berkurang dan reflex achiler negatife. Pada HNP lateral L4 –L5 rasa nyeri dan nyeri
tekan didapatkan di punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian
lateral dan di dorsum perdis. Kekuatan ekstensi ibu jari kaki berkurang dan
reflek patella negatif. Sensibilitas dermatom yang sesuai dengan radiks yang
terkena menurun.
Pada percobaan tes laseque atau tes mengangkat tungkai yang lurus (straight leg
raising),yaitu mengangkat tungkai secara lurus dengan fleksi pada sendi panggul, akan
dirasakan nyeri di sepanjang bagian belakang (tanda laseque positif). (Price & Wilson
2006)

6. Komplikasi
Komplikasi HNP yaitu (Muttaqin Arif 2008):
a. Kelemahan dan atropi otot.
b. Trauma serabut syaraf dan jaringan lain.
c. Kehilangan kontrol otot sphinter.
d. Paralis / ketidakmampuan pergerakan.
e. Perdarahan.
f. Infeksi dan inflamasi pada tingkat pembedahan diskus spinal.

7. Pemeriksaan Penunjang
Selain berdasarkan gejala-gejala yang dialami oleh penderita, cara terbaik untuk
mengetahui ada tidaknya HNP adalah dengan melakukan pemeriksaan MRI.
Selain itu, untuk memastikan bahwa HNP yang ditemukan pada MRI memang
menjadi penyebab keluhan penderita, perlu dilakukan pemeriksaan EMG
(pemeriksaan fungsi hantaran saraf). (Tailor dkk 2011)
Perlu diketahui bahwa HNP tidak terlihat pada foto rontgen biasa. Pada pasien HNP,
foto rontgen dilakukan bukan untuk menentukan ada tidaknya HNP,
tetapi untuk mengesampingkan kelainan-kelainan lain (selain HNP) yang dapat
mengakibatkan nyeri punggung. (Tailor dkk 2011)
a. Darah rutin : Pada pemeriksaan laboratorium rutin penting untuk melihat; laju endap
darah (LED), kadar Hb, jumlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.
b. Urine rutin : tidak spesifik.
c. Lumbal Pungsi (LP)
LP akan normal pada fase permulaan prolaps diskus, namun belakangan akan terjadi
transudasi dari low molecular weight albumin sehingga terlihat albumin yang
sedikit meninggi sampai dua kali level normal. Pada pasien ini tak dilakukan
tindakan LP karena pemeriksaan ini tidak memberikan gambaran yang spesifik
terhadap HNP, juga perannya telah dapat digantikan oleh adanya gambaran
radiologis yang lebih objektif dan tidak invasif.
d. Liquor cerebrospinalis: biasanya normal. Jika terjadi blok akan didapatkan
peningkatan kadar protein ringan dengan adanya penyakit diskus. Kecil manfaatnya
untuk diagnosis.
e. Myelogram mungkin disarankan untuk menjelaskan ukuran dan lokasi dari hernia.
Bila operasi dipertimbangkan maka myelogram dilakukan untuk menentukan tingkat
protrusi diskus.
f. Mielografi
Mielografi berguna untuk melihat kelainan radiks spinal, terutama pada pasien
yang sebelumnya dilakukan operasi vertebra atau dengan alat fiksasi metal. CT
mielografi dilakukan dengan suatu zat kontras berguna untuk melihat dengan
lebih jelas ada atau tidaknya kompresi nervus atau araknoiditis pada pasien
yang menjalani operasi vertebra multipel dan bila akan direncanakan tindakan
operasi terhadap stenosis foraminal dan kanal
vertebralis.
g. MRI tulang belakang bermanfaat untuk diagnosis kompresi medula spinalis atau
kauda ekuina. Alat ini sedikit kurang teliti daripada CT scan dalam hal mengevaluasi
gangguan radiks saraf. Akurasi 73-80% dan biasanya sangat sensitif pada
HNP dan akan menunjukkan berbagai prolaps. Namun para ahli bedah saraf dan
ahli bedah ortopedi tetap memerlukan suatu EMG untuk menentukan diskus mana
yang paling terkena.
h. CT Scan
Sarana diagnostik yang efektif bila vertebra dan level neurologis telah jelas
dan kemungkinan karena kelainan tulang.
i. Elektromiografi (EMG)
Untuk membedakan kompresi radiks dari neuropati perifer. Dalam bidang
neurologi, maka pemeriksaan elektrofisiologis/neurofisiologis sangat berguna
pada diagnosis sindroma radiks. Pemeriksaan EMG dilakukan untuk :
 Menentukan level dari iritasi atau kompresi radiks.
 Membedakan antara lesi radiks dengan lesi saraf perifer.
 Membedakan adanya iritasi atau kompresi radiks.
Pemeriksaan EMG adalah suatu pemeriksaan yang non-invasif, Motor
Unit Action Potentials (MUAP) pada iritasi radiks terlihat sebagai:
 Potensial yang polifasik.
 Amplitudo yang lebih besar
 Durasi potensial yang lebih panjang, pada otot-otot dari segmen yang terkena.
Pada kompresi radiks, selain kelainan-kelainan yang telah disebut diatas, juga
ditemukan aktivitas spontan pada pemeriksaan EMG berupa fibrilasi di otot-otot
segmen terkena atau di otot paraspinal atau interspinal dari miotoma
yang terkena. Sensifitas pemeriksaan EMG untuk mendeteksi penderita
radikulopati lumbal sebesar 92,47%. EMG lebih sensitif dilakukan pada waktu
minimal 10-14 hari setelah onset defisit neurologis, dan dapat menunjukkan
tentang kelainan berupa radikulopati, fleksopati ataupun neuropati.
j. Foto rontgen tulang belakang.
a. Foto rontgen biasa (plain photos) sering terlihat normal atau kadang-kadang
dijumpai penyempitan ruangan intervertebral, pembentukan osteofit
spondilolistesis, perubahan degeneratif,dan tumor spinal. Penyempitan ruangan
intervertebral kadang-kadang terlihat bersamaan dengan suatu posisi yang tegang
dan melurus dan suatu skoliosis akibat spasme otot paravertebral. (Tailor dkk 2011)

8. Pemeriksaan
b. Keadaan umum
Adanya nyeri di pinggang bagian bawah yang menjalar ke bawah (mulai dari
bokong, paha bagian belakang, tungkai bawah bagian atas). Hal ini dikarenakan
mengikuti jalannya N. Ischiadicus yang mempersarafi tungkai bagian
belakang. Karakteristik nyeri yang dirasakan yaitu: (Tailor dkk 2011)
1) Nyeri mulai dari pantat, menjalar kebagian belakang lutut, kemudian ke
tungkai bawah (sifat nyeri radikuler).
2) Nyeri semakin hebat bila penderita mengejan, batuk, mengangkat barang berat.
3) Nyeri bertambah bila ditekan antara daerah disebelah L5 – S1 (garis antara
dua krista iliaka).
4) Nyeri Spontan
Sifat nyeri adalah khas, yaitu dari posisi berbaring ke duduk nyeri
bertambah hebat, sedangkan bila berbaring nyeri berkurang atau hilang.
5) Keluhan utama yang sering atau alasan klien untuk meminta pertolongan
kesehatan adalah nyeri pada punggung bawah.
 P : Adanya riwayat trauma ( mengangkat atau mendorong benda berat).
 Q: Sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti di sayat, mendenyut, seperti
kena api, nyeri tumpul yang terus-menerus. Kaji penyebaran nyeri. Apakah
bersifat nyeri radikular atau nyeri acuan (refered pain). Nyeri
bersifat menetap, atau hilang timbul,semakin lama semakin nyeri. Nyeri
bertambah hebat karena adanya faktor pencetus seperti gerakan-gerakan
pinggang, batuk atau mengedan, berdiri atau duduk untuk jangka waktu
yang lama dan nyeri berkurang bila diibuat istirahat berbaring. Sifat nyeri
khas posisi berbaring ke duduk, nyeri mulai dari pantat dan terus menjalar ke
bagian belakang lutut, kemudian ke tungkai bawah. Nyeri bertambah bila
ditekan L5-S1 (pada garis antara dua Kristal iliaka).
 R: letak atau lokasi nyeri, minta klien menunjukkan nyeri dengan
setepat- tepatnya sehingga letak nyeri dapat diketahui dengan cermat.
 S: pengaruh posisi tubuh atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas tubuh,
posisi yang bagaimana yang dapat meradakan rasa nyeri dan
memperberat nyeri. Aktivitas yang menimbulkan rasa nyeri seperti
berjalan, menuruni tangga, menyapu, dan gerakan yang mendesak.
Obat-obatan yang sedang diminum seperti analgesik, berapa lama klien
menggunakan obat tersebut.
 T: sifatnya akut, sub-akut, perlahan-lahan atau bertahap, bersifat
menetap, hilang timbul, semakin lama semakin nyeri. Nyeri pinggang
bawah intermiten ( dalam beberapa minggu sampai beberapa tahun).
c. Pemeriksaan Motoris
1) Gaya jalan yang khas, membungkuk dan miring ke sisi tungkai yang nyeri dengan
fleksi di sendi panggul dan lutut, serta kaki yang berjingkat.
2) Motilitas tulang belakang lumbal yang terbatas.
3) Kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas , tungkai bawah, kaki, ibu jari, dan jari
lainnya dengan menyuruh klien untuk melakukan gerak fleksi dan ekstensi
dengan menahan gerakan.
d. Pemeriksaan Sensoris
1) Lipatan bokong sisi yang sakit lebih rendah dari sisi yang sehat.
2) Skoliosis dengan konkavitas ke sisi tungkai yang nyeri, sifat sementara.
3) Pemeriksaan sensasi raba, nyeri, suhu, profunda, dan sensasi getar
(vibrasi) untuk menentukan dermatom yang terganggu.
4) Palpasi dimulai dari area nyeri yang ringan ke arah yang paling terasa nyeri.
5) Palpasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau cermat
sehingga tidak membingungkan klien.
e. Tes-tes Khusus
1) Tes Laseque (Straight Leg Raising Test = SLRT)
Tanda Laseque adalah tanda pre-operatif yang terbaik untuk suatu HNP, yang
terlihat pada 96,8% dari 2157 pasien yang secara operatif terbukti menderita
HNP dan pada hernia yang besar dan lengkap tanda ini malahan positif
pada 96,8% pasien. Adanya tanda Laseque lebih menandakan adanya lesi
pada L4-5 atau L5-S1 daripada herniasi lain yang lebih tinggi (L1-4),
dimana tes ini hanya positif pada 73,3% penderita.
2) Cara yang dilakukan: Tungkai penderita diangkat perlahan tanpa
fleksi di lutut sampai sudut 90°.
3) Gangguan sensibilitas, pada bagian lateral jari ke 5 (S1), atau bagian medial
dari ibu jari kaki (L5).
4) Gangguan motoris, penderita tidak dapat dorsofleksi, terutama ibu jari kaki
(L5), atau plantarfleksi (S1).
5) Tes dorsofleksi : penderita jalan diatas tumit.
6) Tes plantarfleksi : penderita jalan diatas jari kaki.
7) Kadang-kadang terdapat gangguan autonom, yaitu retensi urine,
merupakan indikasi untuk segera operasi.
8) Kadang-kadang terdapat anestesia di perineum, juga merupakan indikasi untuk
operasi.
9) Tes valsava (pasien diminta mengejan/batuk dan dikatakan tes positif bila
timbul nyeri) dan naffziger untuk menaikkan tekanan intratekal.
10) Tes Refleks
Refleks tendon achilles menurun atau menghilang jika radiks antara L5-S1
terkena.
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan meliputi Aspek
Bio,psiko,sosial dan spiritual secara kompherensip. Maksud dari pengkajian adalah
untuk mendapatkan informasi atau data tentang pasien. Data tersebut berasal dari
pasien, keluarga pasien dan dari catatan yang ada. Pengumpulan melalui wawancara,
observasi langsung dan melihat secara medis. Data yang diperlukan mungkin dari klien
HNP adalah sebagai berikut (Nurarif dkk 2013):
a. Data dasar, meliputi :
Identitas klien yang meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama,
alamat, pekerjaan, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnosa
medis, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga. HNP terjadi pada usia pertengahan, kebanyakan pada jenis
kelamin pria dan pekerjaan atau aktivitas berat (mengangkat barang berat atau
mendorong benda berat).
b. Pemeriksaan fisik umum
Pemeriksaan fisik umum yang dilakukan, pada keadaan HNP umumnya tidak
mengalami penurunan kesadaran. Adanya perubahan pada tanda-tanda vital,
contohnya bradikardi yang menyebabkan hipotensi yang berhubungan dengan
penurunan aktivitas karena adanya paraparese.
B1 (Breathing), jika tidak mengganggu system pernafasan biasanya didapatkan pada
inspeksi, ditemukan tidak ada batuk, tidak ada sesak nafas, dan frekuensi pernafasan
normal. Palpasi, taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada frekuensi, terdapat
suara resonan pada seluruh lapang paru. Auskultasi tidak terdengar bunyi nafas
tambahan. B2 (Blood), jika tidak ada gangguan pada system kardiovaskular,
biasanya nadi kualitas dan frekuensi nadi normal, tekanan darah normal, dan nada
auskultasi tidak ditemukan bunyi jantung tambahan. B3 (Brain) pengkajian B3
(Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian
pada system lainnya. Keadaan umum, kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus
lumbal, adanya asimetris, pelvis yang miring/asimetris, muskulatur paravertebral
atau pantat yang asimetris, postur tungkai yang abnormal. Hambatan pada
pergerakan punggung, pelvis dan tungkai selama bergerak. Tingkat kesadaraan
biasanya compos metis. Status mental : observasi penampilan, tingkah laku, nilai
gaya bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Pada klien yang telah lama
menderita HNP biasanya status mental klien mengalami perubahan.
Pemeriksaan saraf kranial : saraf I, biasanya pada klien HNP tidak ada kelainan dan
fungsi penciuman tidak ada kelainan. Saraf II, hasil tes ketajaman penglihatan
biasanya normal. Saraf III, IV, dan VI klien biasanya tidak mengalami gangguan
mengangkat kelopak mata, pupil isokor. Saraf V, pada klien HNP umumnya tidak
ditemukan paralisis pada otot wajah dan reflex kornea biasanya tidak ada kelainan.
Saraf VII, persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris. Saraf VIII, tidak
ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi. Saraf IX dan X, kemampuan
menelan baik. Saraf XI, tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII, lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi.
Indra pengecapan normal.
Sistem motorik : kaji kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki,
ibu jari, dan jari lainnya dengan meminta klien melakukan gerak fleksi dan ekstensi
lalu menahan gerakan tersebut. Ditemukan atropi otot pada maleolus atau kaput
fibula dengan membandingkan kanan dan kiri. Fakulasi (kontraksi involunter yang
bersifat halus) pada otot-otot tertentu.
Sistem sensorik : lakukan pemeriksaan rasa raba, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam,
dan rasa getar (vibrasi) untuk menentukan dermatom yang tergantung sehingga
dapat ditentukan pula radiks yang terganggu. Palpasi dan perkusi harus dikerjakan
dengan hati-hati atau halus sehingga tidak membingungkan klien. Palpasi dilakukan
pada daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah yang paling terasa nyeri.
B4 (Bladder), kaji keadaan urine meliputi warna, jumlah, dan karakteristik, termasuk
berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat
terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal. B5 (Bowel) pemenuhan nutrisi
berkurang karena adanya mual dan asupan nutris yang kurang. Lakukan
pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi pada mulut
atau perubahan pada lidah. Hal ini dapat menunjukkan adanya dehidrasi. B6 (Bone),
adanya kesulitan dalam beraktivitas dan menggerakan badan karena adanya nyeri,
kelemahan, kehilangan sensorik, dan mudah lelah menyebabkan masalah pada pola
aktivitas dan istirahat. Inspeksi, kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal,
adanya angulus, pelvis yang miring/asimetris, muskulatural paravertebral atau
bokong yang asimetris, postur tungkai yang abnormal. Adanya kesulitan atau
hambatan dalam melakukan pergerakan punggung, pelvis, dan tungkai selama
bergerak. Palpasi, ketika meraba kelumna vertebralis, cari kemungkinan adanya
deviasi ke lateral atau anteroposterior. Palpasi pada daerah yang ringan rasa nyerinya
kearah yang paling terasa nyeri.

2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cedera
2) Hipertemia berhubungan dengan proses peradangan
3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
4) Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan
persarafan pada usus dan rektum.
5) Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan kelumpuhan saraf perkemihan
6) Risiko gangguan intergritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas,
tidak adekuatnya sirkulasi perifer, tirah baring lama. (Nanda internasional 2012)
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, et al. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media Aescuapius
FK UI.

Doenges, M.E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Alih Bahasa: Monica Ester. Jakarta:
ECG.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA, NIC NOC. Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Price & Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.

NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasiikasi 2012-2014.


Jakarta : EGC.

Tailor, Cynthia M & Sheila Sparks Ralph. 2011. Diagnosa Keperawatan dengan
Rencana Asuhan. Jakarta: EGC.