Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Perkembangan Mekanika Tanah

Cabang ilmu mekanika tanah termasuk masih baru, tetapi


penggunaan mekanika tanah sudah silakukan sejak dahulu. Pada
pembuatan jalan dan rumah tinggal dimanan dibutuhkan pondasi,
maka ilmu ini dugunakan. Penggunaan kayu dan batu untuk pondasi
sudahdigunakan pada tahun 2000 sebelum masehi. Menurut Terzahi
(1948), Mekanika Tanah atau disebut geoteknik adalah penggunaan
hukum-hukum mekanika dan hodrolika pada masalah teknis yang
berhubungan dengan sedimentasi dan penggunaan partikel-partikel
padat yang dihasilkan dari desintergrasi mekanis dan kimia batuan.
Istilah Pondasi adalah cabang teknik sipil yang berhubungan dengan
perencanaan, konstruksi, pemeliharaan dan perbaikan dari pondasi
setempat, pondasi tiang, Caisson,dan lain-lain. Banyak bangunan
yang dibangun pada tahun antara 400 s/d 1400, menghadapi
permasalahan yaitu penurusnan bangunan (settlement) yang besar.
Sebagai contoh menara Pisa yang dibangun antara tahun 1174 s/d
1350 dan Taj Mahal yang dibangun antara tahun 1632 s/d1650.

Pada tahun 1661, Negara Perancis membuat program intensif


untuk peningkatan jalan dan membangun kanal. Pada Tahun 1776
Coulombse orang Perancis mengemukakan teori “WEDGE THEORY
OF EARTH PRESSURE” (teori keruntuhan tanah yang berada
dibelakang retaining wall). Coulomb adalah orang pertama yang
memperkenalkan konsep bahwa kekuatan geser tanah terdiri dua
komponen yaitu: GESEKAN DAN KOHESI (friction ang cohesion).
Kemudian Poncelet (1788 s/d 1867) mengembangkan teori Cuolomb
yaitu memberikan metode grafis untuk menentukant ekanan tanah
pada dinding penahan tanah baik dinding vertikal atau dinding miring.

Cullman (1866) menurunkanru mus geometris untuk teori


coulomb. Analisa secara grafis yang dikemukakan oleh Renhann
(1871) dan Weyrauch (1878). Pada tahun 1856 muncul teori baru yang
penting yaitu Hukum Darcy (“Darcy Law”) tentang aliran air di dalam
tanah dan hukum Stokes (Stokes Law) tentang pengendapan partikel
2

padat didalam cairan. Pada tahun 1857 Rankine mengemukakan


rumus untuk menghitung tekanan tanah dan daya dukung Pondasi .
Kontribusi penting lainnya adalah berasal dari Bussinesq (1885) yang
mengemukakan analisa distribusi tegangan pada lapisan elastis yang
berada di bawah permukaan dimana beban terpusat bekerja. Muller
dan Breslau (1906) melaukan percobaan tekanan tanah pada model
dinding penahan tanah skala besar.

Pada Tahun 1871 Mohr mengemukakan gambar diagram


tegangan yang dikenal dengan nama lingkaran Mohr. Di dalam
Mekanika Tanah, lingkaran Mohr digunakan untuk menganalisa
kekuatan geser tanah. Pada awal abad ke 20, sifat-sifat fisik tanah
barulah dimengerti. Atteberg (1911) mengemukakan beberapa
tingkatan konsistensi tanah liat yang tergantung pada kadar air. Pada
tahun 1916 Patterson dan Hultin mengemukakan teori “Circular sliding
theory” yangdik enal dengan nama “Friction Circle in stability
calculation” yang dikembangkan lebih lanjut oleh Fellenius pada tahun
1926 sehingga dikenal dengan nama Swedish Method Of Slope
Analysis.

Tahun 1920, L. Prandth mengemukakan teori keseimbangan


plastis yang merupakan dasar untuk perhitungan daya dukung tanahb
eberapa waktu kemudian. Dr Terzaghi mengemukakan teori
konsolidasi pada tahun 1923 dan istilah MEKANIKA TANAH diberikan
oleh Dr. Terzaghi padatahun 1925 sehingga dia diberi gelar Bapak
Mekanika Tanah. Pada tahun 1922 s/d 1923, Pavloxsky dari Rusia
memberikan penyelesaian untuk masalah “seepage” (pengaliran air)
dibawah konstruksi hidrolik.

1.2 Pengertian Mekanika Tanah

Mekanika tanah adalah cabang dari ilmu tekhnik dimana


mekanika tanah khusus mempelajari tentang perilaku tanah serta sifat
yang diakibatkan oleh tegangan dan regangan yang disebabkan oleh
gaya - gaya yang bekerja pada tanah itu sendiri. Ini berkaitan dengan
struktur tanah serta bahan yang terdapat pada tanah tersebut. Karena
pada dasarnya tanah berasal dari bebatuan yang lapuk. Padahal yang
kita ketahui, zat pembentuk batu juga berbeda-beda.

Ilmu mekanika tanah ini sangat berhubungan erat dengan


3

pekerjaan tekhnik, seperti halnya pekerjaan perkerasan jalan raya,


perencanaan pembuatan fondasi kedung, perencanaan pembangunan
bawah tanah (seperti: gorong - gorong, terowongan, dll), perencanaan
pekerjaan penggalian tanah, perencanaan pembuatan bendungan,
sampai pada perencanaan pembangunan penahan longsor. Apalagi
bila pekerjaan tersebut merupkan proyek besar yang melibatkan serta
berpengaruh pada kehidupan masyarakat, maka perlu dikaukan
pemahaman serta penelitian yang cermat dalam menerapkan ilmu
mekanika tanah tersebut.

Mekanika tanah sangat berhubungan dengan tekhnik pondasi. Karena


pada dasarnya teknik pondasi merupakan penerapan dari prinsip -
prinsip yang terdapat pada ilmu mekanika tanah. Sehingga bila suatu
saat terjadi kesalahan dalam pembangunan, maka hal yang perlu
dikaji pertama kali adalah mekanika tanah pada saat melakukan
perencanaan pondasi. Disitu akan terlihat apakah terjadi
penyimpangan di lapangan dalam pelaksanaan pembangunan atau
bahkan terjadi penyimpangan pada tahap perencanaan awal.

Hal-hal yang menjadi pokok perhatian dalam ilmu mekanika


tanah adalah kadar air, angka pori, porositas, serta derajat kejenuhan.
Karakteristik tanah juga merupakan poin terpenting dalam mekanika
tanah. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa tanah sebenarnya
terbentuk dari proses pelapukan batu. Jenis-jenis tanah yang terdapat
di muka ini juga sebenarnya dipengaruhi oleh jenis bebatuan serta zat
pembentuk dari batu tersebut. Demikian pentingnya ilmu mekanika
tanah ini dalam proses pembangunan membuat ilmu mekanika tanah
menjadi satu ilmu penting yang harus dikuasai oleh mahasiswa teknik.

Ilmu Mekanika Tanah adalah ilmu yang dalam perkembangan


selanjutnya akan mendasari dalam analisis dan desain perencanaan
suatu pondasi. Sehingga para mahasiswa disini dituntut untuk dapat
membedakan antara mekanika tanah dengan teknik pondasi.
Mekanika tanah adalah suatu cabang dari ilmu teknik yang mempelajari
perilaku tanah dan sifatnya yang diakibatkan oleh tegangan dan
regangan yang disebabkan oleh gaya-gaya yang bekerja. Sedangkan
Teknik Pondasi merupakan aplikasi prinsip-prinsip Mekanika Tanah
dan Geologi. , yang digunakan dalam perencanaan dan pembangunan
pondasi seperti gedung, jembatan, jalan, bendung dan lain-lain. Oleh
karena itu perkiraan dan pendugaan terhadap kemungkinan adanya
4

penyimpangan dilapangan dari kondisi ideal pada mekanika tanah


sangat penting dalam perencanaan pondasi yang benar. Agar suatu
bangunan dapat berfungsi secara sempurna, maka seorang insinyur
harus bisa membuat perkiraan dan pendugaan yang tepat tentang
kondisi tanah dilapangan.

Sejarah terjadinya tanah, pada mulanya bumi berupa bola


magma cair yang sangat panas. Karena pendinginan, permukaannya
membeku maka terjadi batuan beku. Karena proses fisika (panas,
dingin, membeku dan mencair) batuan tersebut hancur menjadi butiran-
butiran tanah (sifat-sifatnya tetap seperti batu aslinya : pasir, kerikil, dan
lanau.) Oleh proses kimia (hidrasi, oksidasi) batuan menjadi lapuk
sehingga menjadi tanah dengan sifat berubah dari batu aslinya. Disini
dikenal Transported Soil: adalah tanah yang lokasinya pindah dari
tempat terjadinya yang disebabkan oleh aliran air, angin, dan es dan
Residual Soil adalah tanah yang tidak pindah dari tempat terjadinya.
Oleh proses alam, proses perubahan dapat bermacam-macam dan
berulang. Batu menjadi tanah karena pelapukan dan penghancuran,
dan tanah bisa menjadi batu karena proses pemadatan, sementasi.
Bate bisa menjadi batu jenis lain karena panas, tekanan, dan larutan.

Mekanika Tanah adalah bagian dari geoteknik yang merupakan


salah satu cabang dari ilmu teknik sipil, dalam bahasa Inggris
mekanika tanah berarti soil mechanics atau soil engineering dan
Bodenmechanik dalam bahasa Jerman. Istilah mekanika tanah
diberikan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui bukunya
"Erdbaumechanik auf bodenphysikalicher Grundlage" (Mekanika
Tanah berdasar pada Sifat-Sifat Dasar Fisik Tanah), yang membahas
prinsip-prinsip dasar dari ilmu mekanika tanah modern, dan menjadi
dasar studi-studi lanjutan ilmu ini, sehingga Terzaghi disebut sebagai
"Bapak Mekanika Tanah".

Dalam pandangan teknik sipil, tanah adalah himpunan mineral ,


bahan organic, dan endapan-endapan yang relative lepas (loose),
yang terletak di atas batuan dasar (bedrock) butiran yang relative
lemah disebut karbonat, zat organic, atau oksida yang mengendap
diantara partikel-partikel. Proses pelapukan batuan atau proses
geologi ataupun yang lainnya yang terjadi didekat permukaan bumi
membentuk tanah dapat juga bersifat fisik maupun kimia. Umumnya
pelaukan terjadi akibat proses kimia yang dapat dipengarungi oleh
5

oksigen, karbondioksida, dan air (terutama yang mengandung asam


dan alkali). Jika hasil pelapukan masih berada di tempat asalnya
maka tanah ini disebut tanah residual (residual soil) dan apabila tanah
berpindah tempat nya disebut tanah terangkut (transported soil).

Istilah pasir, lempung, lanau atau lumpur digunakan untuk


menggambarkan sifat tanah yang khusus, sebagai contoh lempung
adalah jenis tanah yang bersifat kohesif dan plastis,sedangkan pasir
digambarkan sebagai tanah yang tidak kohesif(granular).Ukuran
partikel dapat bervariasi dari lebih besar 100 mm sampai dengan lebih
kecil dari 0,001mm.

1.3 Kegunaan Mekanika Tanah dalam Bidang Teknik Sipil

Mekanika tanah ialah ilmu yang mempelajari tentang:

a. Sifat-sifat tanah
b. Pengaruh sifat-sifat tanah pada konstruksi
c. Penggunaan sifat-sifat tanah untuk perencanaan konstruksi

Baik sifat maupun penggunaan tanah ini semuanya dipandang


dari segi teknik sipil. Dalam mekanika tanah nanti akan dipelajari
mekanisme gayanya, apabila tanah menerima/ menderita sesuatu
perlakuan. Oleh sebab itu mekanika tanah disebut juga “Ilmu Gaya
Tanah”. Mengenai kegunaannya dalam bidang teknik sipil, boleh
dikatakan selalu menyertakan mekanika tanah ini karena semua
bangunan teknik sipil selalu berpijak di atas tanah. Sebagai contoh:

a. Konstruksi Bangunan Gedung, dalam hal ini mekanika tanah


berperan dalam menentukan type fondasi yang digunakan.
b. Konstruksi Jalan Raya, dalam hal ini mekanika tanah berperan
dalam hal penentuan konstruksi badan jalan.
c. Konstruksi Jembatan, dalam hal ini mekanika tanah mempunyai
peranan penting dalam penentuan kedalaman serta type fondasi
yang akan digunakan
a. Konstruksi Bangunan Air, dalam hal ini mekanika tanah berperan
dalam pembuatan bendungan atau tanggul, dalam penentuan
bahan yang digunakan serta pelaksanaan pembuatan nantinya.
6

1.4 Tanah Dan Batuan

1.4.1 Siklus Batuan dan Asal Usul Tanah

Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan


organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses
pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik
ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-
lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Berdasarkan asal-usulnya,
batuan dapat dibagi menjadi tiga tipe dasar yaitu: batuan beku, batuan
sedimen, dan batuan metamorf. Batuan beku Batuan ini terbentuk dari
magma mendingin. Magma batu mencair jauh di dalam bumi. Magma
di kerak bumi disebut lava. Batuan sedimen dibentuk sebagai didorong
bersama-sama atau disemen oleh berat air dan lapisan-lapisan
sedimen di atasnya. Proses penyelesaian ke lapisan bawah terjadi
selama ribuan tahun. Batuan metamorf adalah batuan yang berasal
dari batuan yang sudah ada, seperti batuan beku atau batuan
sedimen, kemudian mengalami perubahan fisik dan kimia sehingga
berbeda sifat dengan sifat batuan induk (asal)nya. Perubahan fisik
meliputi penghancuran butir-butir batuan, bertambah besarnya butir-
butir mineral penyusun batuan, pemipihan butir-butir mineral penyusun
batuan, dan sebagainya. Perubahan kimia berkaitan dengan
munculnya mineral baru sebagai akibat rekristalisasi atau karena
adanya tambahan/pengurangan senyawa kimia tertentu. Faktor
penyebab dari proses malihan (proses metamorfosis) adalah adanya
perubahan kondisi tekanan yang tinggi, suhu yang tinggi atau karena
sirkulasi cairan. Tekanan dapat berasal dari gaya beban atau berat
batuan yang menindis atau dari gerak-gerak tektonik lempeng kerak
bumi di saat terjadi pembentukan pegunungan. Kenaikan suhu dapat
terjadi karena adanya intrusi magma, cairan atau gas magma yang
menyusup ke kerak bumi lewat retakan-retakan pemanasan lokal
akibat gesekan kerak bumi atau kenaikan suhu yang berkaitan dengan
Gradien geothermis (kenaikan temperature sebagai akibat letaknya
yang makin ke dalam). Dalam proses ini terjadi kristalisasi kembali
(rekristalisasi) dengan dibarengi kenaikan intensitas dan juga
perubahan unsur kimia.
7

1.4.2 Partikel Tanah

Ukuran dari pertikel tanah adalah sangat beragam dengan


variasi yang cukup besar. Tanah umumnya dapat disebut sebagai
kerikil, pasir, lanau, lempung, tergantung pada ukuran partikel yang
paling dominan pada tanah tersebut. Untuk menerangkan tentang
tanah berdasarkan ukurang-ukuran partikelnya, beberapa organisasi
telah mengembangkan batasan-batasan ukuran jenis tanah yang telah
dikembangkan MIT (Massachussetts Instute of Tecnology), USDA
(U.S. Departement of agriculture), AASHTO (America Association of
State Highway and Transportation Officials) dan oleh U.S Army Corps
of Engineers dan U.S. Bureau of Reclamation yang kemudian
menghasilkan apa yang disebut sebagai USCS (Unified Soil
Classification System)

 Kerikil adalah kepingan-kepingan dari batuan yang kadang-kadang


juga mengandung partikel-partikel mineral quartz, feldspar, dan
mineral-mineral lain.
 Pasir adalah besar terdiri dari mineral quartz dan feldspar. Butiran
dari mineral yang lain mungkin juga masih ada pada golongan ini.
 Lanau sebagian besar merupakan fraksi mikroskopis dari tanah
yang terdiri dari butiran-butiran quartz yang sangat halus, dan
sejumlah partikel berbentuk lempengan-lempengan pipih yang
merupakan pecahan dari mineral-mineral mika.
 Lempung sebagian besar terdiri dari partikel mikroskopis dan
submikroskopis yang berbentuk lempengan-lempengan pipih dan
merupakan partikel-partikel dari mika, mineral-mineral lempung,
dan mineral-mineral yang sangat halus lain.

1.4.3 Berat Spesifik

Harga berat spesifik dari butiran tanah (bagian padat) sering


dibutuhakan dalam bermacam-macam keperluan perhitungan dalam
mekanika tanah. Harga-harga itu dapat ditentukan secara akurat di
laboratorium. Sebagian besar dari mineral-mineral tersebut
mempunyai berat spesifik berkisar antara 2,6 sampai denagn 2,9.
Berat spesifik dari bagian padat tanah pasir yang berwarna terang,
umumnya sebagian besar terdiri dari quartz, dapat diperkirakan
sebesar 2,65, untuk tanah berlempung atau berlanau, harga tersebut
berkisar antara 2,6 sampai 2,9.
8

1.4.4 Analisis Mekanis dari Tanah

Analisis mekanis dari tanah adalah penentuan variasi ukuran-


ukuran partikel-partikel yang ada pada tanah. Variasi tersebut
dinyatakan dalam persentase dari berat kering total. Ada dua cara
yang umum digunakan untuk mendapat distribusi ukuran partikel-
partikel tanah, yaitu: analisisi ayakan (untuk ukuran partikel-partikel
berdiameter lebih besar dari 0,075mm), dan analisis hidrometer (untuk
ukuran pertikel-pertikel berdiameter lebih kecil 0,075mm. Hasil dari
analisis mekanik (analisis ayakan dan hidrometer) umumnya
digambarkan dalam kertas semilogaritmik yang dikenal sebagai kurva
distribusi ukuran butiran. Diameter partikel digambarkan dalam skala
logaritmik, dan persentase dari butiran yang lolos ayakan digambarkan
dalam skala hitung biasa.

1.4.5 Konsistensi Tanah

Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung,


maka tanah tersebut dapat diremas-remas tanpa menimbulkan
retakan. Sifat kohesi ini disebabkan karena adanya air yang terserap
di sekeliling permukaan dari pertikel lempung. Bilamana kadar airnya
sangat tinggi, campuran tanah dan air akan menjadi sangat lembek
seperti cairan. Oleh karena itu, atas dasar air yang dikandung tanah,
tanah dapat dipisahkan dalam empat keadaan dasar, yaitu: padat,
semi padat, plastis dan cair.

Kadar air dinyatakan dalam persen, dimana terjadi transisi dari


keadaan padat ke dalam keadaan semi padat didefinisikan sebagai
batas susut. Kadar air dimana transisi dari keadaan semi padat ke
dalam keadaan plastis terjadi dinamakan batas plastis, dan dari
keadaan plastis ke keadaan cair dinamakan batas cair. Batas-batas ini
dikenal juga sebgai batas-batas atterberg.

1.4.6 Aktivitas Tanah

Karena sifat plastik dari suatu tanah adalah disebabkan oleh air
yang terserap disekililing permukaan partikel lempung, maka dapat
diharapkan bahwa tipe dan jumlah mineral lempung yang dikandung di
dalam suatu tanah akan mempengaruhi suatu batas plastis dan batas
cair tanah yang bersangkutan. Hubunagan antara PI dengan fraksi
9

berukuran lempung untuk tiap-tiap tanah mempunyai garis yang


berbeda-berbeda. Keadaan ini disebabkan karena tipe dari mineral
lempung yang dikandung oleh tiap-tiap tanah berbeda. Atas dasar
hasil studi tersebut, skempton mendefinisikan suatu besaran yang
dinamakan aktifitas yang merupakan kemiringan dari garis yang
menyatakan hubungan antara PI dan persen butiran yang lolos ayakan
2µ.

Aktivitas digunakan sebagi indeks untuk mengidentifikasikan


kemampuan mengembang dari suatu tanah lempung. Harga dari
aktivitas untuk berbagai mineral lempung diberikan dalam tabel
dibawah ini.

Tabel 1.1 Aktivitas Mineral

Mineral aktivitas
Smeetites 1-7
Illite 0,5-1
kaolinite 0,5
Halloysite
0,5
(2H20)
Halloysite
0,1
(4H20)
Attapulgite 0,5-1,2
Allophane 0,5-1,2

1.5 Struktur Tanah

Struktur tanah didefinisikan sebagai susunan geometrik butiran


tanah. Diantara fakto-faktor yang mempengaruhi struktur tanah adalah
bentuk, ukuran, dan komposisi mineral dari butiran tanah serta sifat
dan komposisi dari air tanah. Secara umum, tanah dapat dimasukkan
ke dalam dua kelompok yaitu: tanah tak berkohesi dan tanah kohesif.
Struktur tanah untuk tiap-tiap kelompok akan diterangkan dibawah ini.
10

Struktur tanah tak berkohesi pada umumnya dapat dibagi


dalam dua katagori pokok: struktur butir tunggal dan struktur sarang
lebah. Pada struktur butir tunggal, butiran tanah berada dalam posisi
stabil dan tiap-tiap butir bersentuahan satu terhadap yang lain. Bentuk
dan pembagian ukuran butiran tanah serta kedudukannya
mempengaruhi sifat kepadatan tanah. Untuk suatu susunan dalam
keadaan yang sangat lepas, angka pori adalah 0,91. Tetapi, angka
pori berkurang menjadi 0,35 bilamana butiran bulat dengan ukuran
sama tersebut diatur sedemikian rupa hinga susunan menjadi sangat
padat. Keadaan tanah asli berbeda dengan model diatas karena
butiran tanh asli tidak mempunyai bentuk dan ukuran yang sama.
Pada tanah asli, butiran dengan ukuran terkecil menempati rongga di
antara butiran besar. Keadaan ini menunjukan kecenderungan
terhadap pengurangan angka pori tanah. Tetapi, ketidakrataan bentuk
butiran pada umumnya menyebabkan adanya kecenderungan
terhadap penambahan angka pori dari tanah. Sebagai akibat dari dua
faktor tersebut di atas, maka angka pori tanah asli kira-kira masuk
dalam rentang yang sama seperti angka pori yang didapat dari model
tanah dimana bentuk dan ukuran butiran adalah sama.

Pada struktur sarang lebah, pasir halus dan lanau membantu


lengkung-lengkungan kecil hingga merupakan rantai butiran. Tanah
yang mempunyai struktur sarang lebah mempunyai angka pori besar
dan biasanya dapat mamikul beban statis yang tak begitu besar.
Tetapi, apabila stuktur tersebut dikenai beban berat atau apabila
dikenai beban getar, struktur tanah akan rusak dan menyebabkan
penurunan yang besar.

Tanah dalam pandangan Teknik Sipil adalah himpunan


mineral, bahan organik dan endapan-endapan yang relative lepas
(loose) yang terletak di atas batu dasar (bedrock) (Hardiyatmo, H.C.,
1992, hal 1). Didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat
(butiran) padat yang tersementasi (terikat secara kimia) satu sama
lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang
berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi
ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. (Braja
M Das, 1988).

Tanah juga didefiniskan sebagai akumulasi pertikel mineral


yang tidak mempunyai atau lemah ikatan partikelnya, yang terbentuk
11

karena pelapukan dari batuan. Diantara partikel-partikel tanah


terdapat tanah ruang kosong yang disebut pori-pori yang berisi air
dan udara. Ikatan yang lemah antara partikel-partikel tanah
disebabkan oleh pengaruh karbonat atau oksida yang tesenyawa
diantara partikel-partiekl tersebut, atau dapat juga disebabkan oleh
adanya material organik bila hasil dari pelapukan tersebut diatas
tetap berada pada tempat semula maka bagian ini disebut tanah sisa
(residu soil). Hasil pelapukan terangkut ketempat lain dan mengendap
di beberapa tempat yang berlainan disebut tanah bawaan
(transpotrtatioan soil). Media pengankutan tanah berupa gravitasi,
angin, air dan gletsyer. Pada saat akan berpindah tempat, ukuran
dan bentuk partikel-partikel dapat berubah dan terbagi dalam
beberapa rentang ukuran.

Proses penghancuran dalam pembentukan tanah dari batuan


terjadi secara fisis atau kimiawi. Proses fisis antara lain berupa erosi
akibat tiupan angin, pengikisan oleh air dan gletsyer, atau
perpecahan akibat pembekuan dan pencairan es dalam batuan
sedangkan proses kimiawi menghasilkan perubahan pada susunan
mineral batuan asalnya. Salah satu penyebabnya adalah air yang
mengandung asam alkali, oksigen dan karbondioksida. Pelapukan
kimiawi menghasilkan pembentukankelompok-kelompok partikel
yang berukuran koloid (<0,002 mm) yang dikenal sebagi mineral
lempung.

Lempung didefinisikan sebagai golongan partikel yang


berukuran kurang dari 0.002 mm (Braja M Das, 1988). Ditinjau dari
segi mineral (bukan ukurannya), yang disebut tanah lempung dan
mineral lempung adalah tanah yang mempunyai partikel-partikel
mineral tertentu yang menghasilkan sifat-sifat plastis pada tanah bila
dicampur dengan air (Grim, 1953). Partikel lempung dapat berbentuk
seperti lembaran yang mempunyai permukaan khusus. Karena itu,
tanah lempung mempunyai sifat sangat dipengaruhi oleh gaya-gaya
permukaan. Umumnya, terdapat kira-kira 15 macam mineral yang
diklasifikasikan sebagai mineral lempung (Kerr, 1959). Beberapa
mineral yang diklasifikasikan sebagia mineral lempung yakni :
montmorrillonite, illite, kaolinite, dan polygorskite (Hardiyatmo, H.C.,
1992, hal 14).

Keruntuhan geser (shear failure) dalam tanah adalah akibat


12

gerak relatif antara butirnya bukan karena butirannya yang hancur,


sehingga kekuatan tanah tergantung kepada gaya-gaya yang bekerja
antara butirnya. Kekuatan geser tanah terdiri dari dua bagian :

1. Bagian yang bersifat kohesi yang tergantung kepada macam


tanah dan kepadatan butirnya.
2. Bagian yang mempunyai sifat gesekan (friksional) yang
sebanding dengan tegangan efektif yang bekerja pada bidang
geser.

Semua macam tanah secara umum terdiri dari tiga bahan,


yaitu butiran tanahnya sendiri, serta air dan udara yang terdapat
dalam ruangan antara butirbutir tersebut. Ruangan ini disebut pori
(voids). Apabila tanah sudah benarbenar kering maka tidak akan ada
air sama sekali dalam porinya, keadaan semacam ini jarang
ditemukan pada tanah yang masih dalam keadaan asli dilapangan.
Air hanya dapat dihilangkan sama sekali dari tanah apabila kita ambil
tindakan khusus untuk maksud itu, misalnya dengan memanaskan di
dalam oven (Wesley, L.D. 1977, Hal 1).Dalam pengertian teknik
secara umum, Das B .M ( 1988 ) mendefinisikan tanah sebagai
bahan yang terdiri dari agregat mineral – mineral padat yang dapat
terikat secara kimia, antara satu sama lain dari bahan – bahan
organik yang telah melapuk yang berpartikel padat yang disertai
dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang – ruang kosong diantara
partikel – partikel padat tersebut.

Peranan tanah ini sangat penting dalam perencanaan atau


pelaksanaan bangunan karena tanah tersebut berfungsi untuk
mendukung beban yang ada diatasnya, oleh karena itu tanah yang
akan dipergunakan untuk mendukung konstruksi harus dipersiapkan
terlebih dahulu sebelum dipergunakan sebagai tanah dasar (
Subgrade ).

Menurut Dunn, 1980 berdasarkan asalnya, tanah


diklasifikasikan secara luas menjadi :

1. Tanah organik adalah campuran yang mengandung bagian-


bagian yang cukup berarti berasal dari lapukan dan sisa
tanaman dan kadang-kadang dari kumpulan kerangka dan kulit
organisme.
13

2. Tanah anorganik adalah tanah yang berasal dari pelapukan


batuan secara kimia ataupun fisis.

Pada umumnya kulit bumi terdiri atas lapisan batu (rock) dan
tanah (soil). Mulamula bumi terjadi karena pembekuan magma cair
dan menjadi batu beku yang masif dan bersifat sebagai batuan
primair. Oleh pengaruh alam, sebagian dari batu akan lapuk atau
hancur dan menjadi butir-butir yang dapat dipisah-pisahkan satu sama
lain dan disebut tanah. Butir-butir ini dapat tinggal ditempat aslinya,
atau dapat pindah ke tempat lainnya oleh pengaruh gaya berat, aliran
es, aliran air, atau oleh angin. Ada kemungkinan oleh sebab tertentu,
misalnya oleh panas dan tekanan yang tinggi atau oleh adanya bahan
perekat yang dibawa air diantara butir-butirnya, maka butir-butir
tersebut akan bersatu dan masif sehingga terbentuklah batuan
sekundair. Sebagai contoh batu marmer, batu breksi dan sebagainya.
Apabila tidak terlalu keras disebut batu cadas.

Butir-butir tanah pada tempat tertentu, tergantung pada cara


terjadi dan berpindahnya, maka ukuran, bentuk dan gradasinya dapat
bervariasi. Ukuran dapat besar-kecil, bentuknya dapat bulat atau
tajam, gradasinya dapat seragam atau campuran butir-butir yang
besar dan kecil. Adakalanya butir-butir tanah tercampur dengan
lapukan atau sisa-sisa tanaman atau hewan. Keadaan yang demikian
ini dinamakan tanah organik atau tanah humus. Mengenai
penghancuran yang dimaksud di atas dapat secara fisik maupun
secara kimiawi. Penghancuran secara fisik dapat disebabkan oleh
pengaruh temperatur, angin, hujan dan lain-lain, yang lambat laun batu
dapat pecah serta hancur menjadi tanah. Dengan demikian akan
diperoleh butir-butir yang kasar atau halus, yang sifatnya tetap seperti
induknya. Penghancuran secara kimiawi yaitu oleh ai, oksigen dan
karbon dioksida akan dihasilkan butir-butir yang sangat halus, yang
umumnya berdiameter < 0,001 mm dan disebut butir-butir colloid.
Butir-butir ini bersifat kohesi, artinya butir-butir ini saling melekat satu
sama lain. Butir-butir colloid ini merupakan mineral pembentuk tanah
lempung (clay).

1.6 Macam Tanah yang Ditemui dalam Praktek

Dalam alam sering dijumpai tanah dalam keadaan tercampur


antara yang berbutir halus dan berbutir kasar. Tanah berbutir halus
14

dimaksudkan tanah yang ukuran butiran tidak nampak dilihat dengan


mata biasa tanpa mikroskop, sedangkan apabila butirannya nampak
jelas termasuk tanah berbutir kasar. Lumpur dan lempung termasuk
tanah berbutir halus, sedangkan pasir dan kerikil termasuk tanah
berbutir kasar. Dalam keadaan murni, ke-4 macam tanah (lumpur,
lempung, pasir dan kerikil) tersebut masing-masing mempunyai sifat
sebagai berikut:

a. Lumpur murni, mempunyai sifat antara lain:

- Berbutir halus dan tak mempunyai lekatan


- Apabila kena air mudah larut dan dalam keadaan air yang
berlebihan akan menjadi bubur.
- Sukar dipadatkan, baik dalam keadaan kering maupun dalam
keadaan basah.
- Dalam keadaan kering akan menjadi debu.

b. Lempung murni, bersifat antara lain:

- Butir-butirnya saling melekat, bersifat kohesif.


- Rapat air, artinya sukar dilalui air.
- Dapat kembang susut oleh pengaruh basah kering.
- Dalam keadaan kering akan retak/ pecah dan akan mengembang
atau bertambah volumenya apabila kemasukan air.

c. Pasir murni, mempunyai sifat antara lain:

- Berbutir kasar dan berada dalam keadaan lepas


- Mudah dilalui air dan mudah longsor
- Mudah dipadatkan dan cepat memadat kalau kena air.

Kerikil mempunyai ukuran butiran lebih besar daripada pasir,


bersifat keras dan mempunyai permukaan yang kasar. Dalam keadaan
tercampur, tanah akan mempunyai sifat yang lebih baik, Misalnya:
lempung-pasir akan mempunyai sifat tidak kembang susut oleh
pengaruh basah-kering, agak mudah dipadatkan, dan lain-lain.
Lempung-lumpur akan mempunyai sifat kembang susut yang agak
berkurang jika dibandingkan dengan lempung murni, agak mudah
dipadatkan, dan lain-lain. Pemberian nama tanah yang dalam keadaan
tercampur akan ditentukan oleh banyaknya/ persentase tanah yang
15

bersangkutan, misalnya:

a. pasir 30%, lempung 70% ® lempung pasir


b. pasir 70%, lempung 30% ® pasir lempung
c. pasir 10%, lempung 90% ® lempung berpasir d. kerikil 5%, lumpur
20%, lempung 75% ® lempung lumpur berpasir, dan lain
sebagainya.

Dari beberapa contoh di atas tampak bahwa nama tanah akan


ditentukan oleh adanya sifat tanah yang paling dominan (sifat tanah
yang paling berpengaruh). Ini berarti apabila nama/ jenis tanahnya
sudah diketahui, maka sifat-sifat tanah yang dimaksud akan mudah
didapat. Selain itu masih ada beberapa nama tanah lagi yang
mempunyai sifat jelek/ buruk kalau digunakan untuk bangunan teknik
sipil. Tanah yang dimaksud adalah:

a) Tanah Organik, yaitu tanah permukaan yang sering tercampur


dengan bahan-bahan organik, sisa-sisa lapukan tanaman atau
hewan. Umumnya tanah akan berwarna tua, bersifat lunak dan
compressible (mudah berubah bentuk oleh pengaruh tekanan).
Proses pelapukan masih berlangsung terus sehingga volumenya
masih dapat berkurang.
b) Tanah Loam, menurut istilah pertanian, merupakan tanah yang
baik untuk tanaman Tanah ini merupakan campuran dari pasir,
lumpur dan atau lempung dengan beberapa bahan organik dalam
batas-batas tertentu. Tanah yang demikian ini sering disebut top
soil. (tanah permukaan).
c) Tanah Napal, yaitu tanah yang mengandung bahan kapur. Selain
dikenal tanah lempung, lumpur, dan pasir, maka masih ada satu
jenis tanah lagi yang dinamakan tanah cadas. Tanah cadas ini
peralihan antara tanah dan batu, atau disebut juga batu lunak.
Butir-butir penyusun cadas ini mempunyai perekat sehingga
merupakan tanah yang kompak dan bersifat relatif keras.

Batuan dibedakan :

 Batuan beku (granit, basalt).


 Bataan sedimen (gamping, batu pasir).
 Batuan metamorf (marmer).
16

Tanah terdiri atas butir-butir diantaranya berupa ruang pori.


Ruang pori dapat terisi udara dan atau air. Tanah juga dapat
mengandung bahan-bahan organik sisa atau pelapukan tumbuhan
atau hewan. Tanah semacam ini disebut tanah organik.

a. Perbedaan Batu dan Tanah

Batu merupakan kumpulan butir butirmineral alam yang s i n g terikat


erat dan kuat. Sehingga sukaruntuk dilepaskan. Sedangkan tanah
merupakan kumpulan butir butir min al alam yang tidak melekat atau
melekat tidak erat, sehingga sangat mudah untuk dipisahln.
Sedangkan Cadas adalah merupakan peralihan antara bate dan
tanah.

b. Jenis-Jenis Tanah Fraksi-fraksi tanah (Jenis tanah berdasarkan


ukuran butir)

(1). kerikil (gravel) > 2.00 mm


(2). pasir (sand) 2.0 - 0.06 mm
(3). lanau (silt) 0 - 0.002
0.0
(4). lempung (clay) 6 < mm0.002
mm

Pengelompokan jenis tanah dalam praktek berdasarkan campuran


butir:

a) Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir-


butir tanahnya berupa pasir
b) dan kerikil.
c) Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian besar butir-
butir tanahnya berupa lempung dan lanau.
d) Tanah organik adalah tanah yang cukup banyak mengandung
bahan-bahan organik .

Pengelompokan tanah berdasarkan sifat lekatanny:

1) Tanah Kohesif : adalah tanah yang mempunyai sifat lekatan


antara butir-butirnya. (tanah lempungan = mengandung
lempung cukup banyak).
17

2) Tanah Non Kohesif : adalah tanah yang tidak mempunyai atau


sedikit sekali lekatan antara butir-butirnya. (hampir tidak
mengandung lempung misal pasir).
3) Tanah Organik : adalah tanah yang sifatnya sangat
dipengaruhi oleh bahan-bahan organik. (sifat tidak baik).

1.7 Jenis-Jenis Tanah di Indonesia

Indonesia berada pada iklim tropis dengan temperatur dan


kelembaban yang tinggi serta curah hujan yang tinggi merupakan
faktor yang mempercepat proses pelapukan bahan induk, pencucian,
pelindian, erosi serta deposisi. Selain itu topografi, aktivitas gunungapi,
serta aktivitas manusia juga merupakan faktor yang menyebabkan
pedogenesis tanah dapat terhambat. Adapun jenis dan karakteristik
tanah yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut.

a. Tanah Organik

Tanah organik merupakan tanah yang telah terendam air


dalam waktu yang lama atau setidaknya selama 1 bulan dan
mengandung bahan karbon organik > 12% jika berlempung atau
mengandung bahan karbon organik > 18% jika berlempung 60% dan
lempung tersebut berimbang dan proposional. Tanah organik dapat
digolongkan kedalam Histosol jika lebih dari 50% lapisan atas tanah
dalam memiliki ketebalan 40 – 80 cm. Bahan penyusun tanah organik
dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu;

1. Fibrik yang dekomposisinya paling sedikit, sehingga masih


banyak mengandung serabut, BJ rendah (< 0,1), kadar air
tinggi dan berwarna coklat;
2. Hemik merupakan peralihan dengan dekomposisi separuhnya,
masih banyak mengandung serabut dengan BJ 0,07 – 0,18,
dengan kadar air tinggi serta berwarna lebih kelam;
3. Saprik merupakan dekomposisinya paling lanjut, kurang
mengandung serabut, BJ > 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu
tinggi dengan warna hitam dan coklat kelam;
18

b. Tanah Mineral

 Litosol

Litosol merupakan tanah yang sangat muda, sehingga bahan


induknya sering terlihat dangkal atau < 20 cm, profilnya belum
memperlihatkan horison penciri dengan sifat-sifat dan ciri morfologi
yang masih menyerupai batuan induknya. Tanah litosol tidak
berkembang karena pengaruh iklim yang lemah atau terlalu agresif,
letusan gunungapi, atau topografi dengan kemiringan yang tinggi.
Proses pembentukan tanah lebih lambat dari proses penghilangan
tanah akibat dari erosi, sehingga solum tanah cenderung semakin
dangkal. Proses peremajaan tanah dapat terjadi akibat dari
tertutupnya permukaan tanah karena banjir lahar dingin atau tuf
vulkanis. Tanah litosol yang berada pada topografi yang tidak rata
maka lingkungan alkalis dapat menyebabkan lempung 2/1 yang
terbentuk sangat peka terhadap erosi. Tanah litosol ini banyak
terdapat pada daerah pegunungan kapur dan karst di wilayah Jawa
Tengah, Jawa Timur, Nusa tenggara, serta Maluku bagian selatan.

 Aluvial

Tanah Aluvial merupakan tanah endapan yang terjadi karena


proses luapan banjir, sehingga dapat dianggap masih muda dan
belum ada diferensiasi horison. Endapan aluvial yang sudah tua dan
menampakkan akibat pengaruh iklim serta vegetasi tidak termasuk
kedalam jenis tanah aluvial. Ciri khas pembentukkan tanah aluvial
adalah bagian terbesar bahan kasar akan diendapkan tidak jauh dari
sumbernya. Tekstur tanah yang diendapkan pada waktu dan tempat
yang sama akan lebih seragam, dan semakin jauh dari sumbernya
maka makin halus butir yang diangkut. Karena itu jika pembentukan
terjadi pada musim hujan maka sifat bahan-bahannya juga tergantung
pada kekuatan banjir serta asal dan macam bahan yang diangkut, oleh
karena itu menampakkan ciri morfologi berlapis yang bukan
merupakan hasil perkembangan tanah. Sifat tanah aluvial dipengaruhi
langsung oleh sumber bahan asal, sehingga kesuburannya juga
ditentukan oleh sifat bahan asalnya. Jika dilihat berdasarkan genese
tananhnya, maka tanah aluvial kurang dipengaruhi oleh iklim dan
vegetasi, tetapi yang paling nampak pengaruhnya pada ciri dan sifat
tanahnya ialah bahan induk dan topografi sebagai akibat dari waktu
19

terbentuknya yang masih muda. Menurut bahan induknya terdapat


tanah aluvial pasir, lempung, dan kapur. Dengan memperhatikan cara
terbentuknya maka fisiografi untuk terentuknya tanah ini terbatas pada
lembah sungai, datarn pantai, dan bekas danau, yang memiliki relief
datar dan cekung. Tanah aluvial di Indonesia pada umumnya baik
untuk komoditas pertanian dan perkebunan berupa padi, palawija, dan
tebu. Tanah aluvial di indonesia ada pula yang dimanfaatkan untuk
tambak bandeng dan gurameh.

 Pasiran

Tanah pasiran pada umumnya belum jelas membentuk


diferensiasi horison, meskipun pada tanah pasiran tua horison sudah
mulai terbentuk horison A1 lemah berwarna kelabu, mengandung
bahan yang belum mengalami pelapukan. Tekstur tanah pada
umumnya kasar, struktur kersai atau remah, konsistensi lepas sampai
gembur, dan pH 6 – 7. Semakin tua umur tanah struktur dan
konsistensinya makin padat, bahkan dapat membentuk padas dengan
drainase dan porositas yang terhambat. Pada umumnya jenis tanah ini
belum membentuk agregat, sehingga peka terhadap erosi. Tanah
pasiran pada umumnya mengandung unsur P dan K yang masih segar
dan belum siap untuk diserap tanaman, tetapi unsur N terdapat dalam
jumlah yang sangat sedikit. Berdasarkan bahan induknya tanah
pasiran dapat dibedakan menjadi 3 yaitu; (1). Abu vulkanik pada
daerah-daerah vulcanic fan (lahar vulkanik yang ke bawah melebar
seperti kipas), (2). Bukit pasir sand dune biasanya terdapat pada
daerah pantai, (3). Batuan sedimen dengan topografi bukit lipatan.

 Tanah Merah

Tanah merah merupakan tanah yang mendominasi sebagian


besar wilayah Indonesia muali dari tepi pantai yang landai hingga
pegunungan tinggi yang berbukit atau bergelombang, dengan kondisi
iklim agak kering hingga basah, terbentuk dari batuan beku, sedimen
atau malihan. Variasi tanah merah yang baru dijumpai digolongkan ke
dalam Podzolik Merah Kuning, sehingga jenis tanah tersebut
mampunyai ciri dan sifat yang terluas.
20

 Latosol

Tanah latosol merupakan tanah yang meliputi semua tanah


zonal di daerah tropika dan katulistiwa mempunyai sifat-sifat dominan
yaitu; (1). Nilai SiO2 fraksi lempung rendah, (2). Kapasitas pertukaran
kation rendah, (3). Lempungnya kurang aktif, (4). Kadar mineral
rendah, (5). Kadar ahan larut rendah, (6). Stabilitas agregat tinggi, (7).
Berwarna merah. Latosol meliputi tanah-tanah yang telah mengalami
pelapukan intensif dan perkembangan tanah lanjut, sehingga terjadi
pelindian unsur basa, bahan organik dan silika, dengan meninggalkan
sesquioksid sebagai sisa berwarna merah. Ciri morfologi yang umum
adalah tekstur lempung sampai geluh, struktur remah sampai gumpal
lemah dan konsistensi gembur. Warna tanah sekitar merah tergantung
susunan mineralogi, bahan induk, drainase, umur tanah dan keadaan
iklim. Latosol terbentuk di daerah-daerah beriklim humid tropika tanpa
bulan kering sampai subhumid yang bermusim kemarau agak lama,
bervegetasi hutan basah sampai savana, bertopografi bergelombang
sampai berbukit dengan bahan induk hampir semua macam batuan.
Tanah latosol terdapat pada daerah tropis hingga subtropis. Di
Indonesia tanah latosol pada umumnya berasal dari batuan induk
vulkanik, baik tuff maupun batuan beku, terdapat mulai dari tepi pantai
sampai ketinggian 900m dpal dengan topografi miring, bergelombang,
vulcanic fan hingga pegunungan denga iklim basah tropis curah hujan
2500 – 7000 mm.

 Mediteran Merah Kuning

Jenis tanah ini memiliki hubungan dengan iklim laut tengah


(miditerania) yang dicirikan dengan musim dingin banyak hujan dan
musim panas kering. Tanah ini pertama kali ditemukan dan diselidiki
sekitar laut tengah disepanjang pantai Eropa, sepanjang pantai asia
barat yang mengitari laut tengah. Selain itu tanah inipun terdapat di
Amerika Selatan dan Asia Tenggara (Indonesia, Laos, Filipina). Jenis
tanah ini terutama yang merah juga terkenal dengan nama Terra
Rossa. Dibandingkan dengan batu kapur sebagai bahan induk tanah
Mediteran Merah Kuning memperlihatkan akumulasi sesquioksida dan
silika, sedangkan jika dibandingkan dengan jenis-jenis tanah dari
daerah humid seperti latosol, jenis tanah ini mempunyai lebih kadar
alkali dan alkali tanah. Tingginya kadar Fe dan rendahnya kadar
bahan organik menyebabkan tanah Mediteran Merah Kuning berwarna
21

merah mengkilat, bertekstur geluh dan mengandung konkresi Ca dan


Fe. Di Indonesia tanah jenis ini lanjut mengalami pembentukan tanah
dengan cara lixiviasi dan kalsifikasi lemah, tekstur berat, konsistensi
lekat, kadar bahan organik rendah, reaksi alkalis, derajad kejenuhan
bsa tinggi, horison B tekstur berwarna kuning merah, mengandung
konkresi-konkresi kapur dan besi, horison eluvial umumnya tererosi,
dengan topografi berbukit sampai pegunungan. Jenis tanah ini berasal
dari dari batuan basaltik terdapat di daerah Baluran Jawa Timur yang
berasal dari batu kapur di Gunung Kidul, Jawa Tengah, dan Nusa
Tenggara.

c. Tanah Lateritik

Tanah Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid


dari tropis hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik
adalah sebagai berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100
cm, (2) susunan horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik
berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling
halus adalah lempung, (3) mengandung konkresi Fe/Mn lapisan
kwarsa yang menyebabkan adanya air. Tanah jenis ini tersebar pada
dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpal, serta memiliki relief
datar hingga sedikit bergelombang dengan bahan induk andesit
dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara 2500-3500
mm/thn tanpa bulan kering.

d. Tanah Podzolik Merah Kuning

Tanah Podzolik Merah Kuning di Indonesia mempunyai lapisan


permukaan yang sangat terlindi berwarna kelabu cerah sampai
kekuningan di atas horison akumulasi yang bertekstur relatif berat
berwarna merah atau kuning dengan struktur gumpal, agregat kurang
stabil dan permeabilitas rendah. Kandungan bahan organik
penjenuhan basa dan pH rendah (4,2 – 4,8). Perkembangan lapisan
permukaan yang terlindi kadang-kadang kurang nyata. Jenis tanah ini
di Indonesia terbentuk dalam daerah beriklim seperti Latosol,
perbedaannya hanya karena bahan induk Latosol berasal dari batuan
vulkanik basa dan intermediate, sedangkan tanah podzolik berasal
dari batuan beku dan tuff. Sebaran tanah podzolok merah kuning di
Indonesia tersebar di beberapa wilayah diantaranya di Sumatera,
22

Kalimantan, Jawa Tengah, dan Jawa Timu, yang dimanfaatkan untuk


daerah perladangan dan perkebunan karet.

e. Andosol

Tanah andosol adalah tanah yang berwarna hitam kelam,


sangat sarang, mengandul bahan organik dan lempung tipe amorf,
terutama alofan serta sedikit silika, alumina atau hidroksi besi. Sifat
umum tanah andosol antara lain adalah; horison A1 yang tebal
berwarna kelam, coklat sampai hitam, sangat porous, sangat gembur,
tak liat, tak lekat, struktur remah atau granuler, terasa berminyak
karena mengandung bahan organik antara 8% sampai 30% dengan
pH 4,5 – 6, beralih tegas ke horison B2 . Horison B2 berwarna kuning
sampai coklat, tekstur sedang, struktur gumpal dengan granulasi yang
tak pulih, mengandung bahan organik antara 2% hingga 8% dengan
kapasitas pengikatan air tinggi, serasa seperti berbentuk batang gibsit
dari oksida Al atau Fe dengan bahan amorf terdiri atas plasma poreus
isotropik. Sifat fisik tanah andosol antara lain; (1) daya pengikat air
sangat tinggi, (2) angka-angka konsistensi Atterberg sangat tinggi, (3)
selalu jenuh air jika tertutup vegetasi, (4) sangat gembur tetapi
mempunyai katahanan struktur yang tinggi sehingga mudah diolah, (5)
permeabilitas sangat tinggi karena mengandung banyak makropori.

f. Tanah Lempung 2/1 (Vertisol atau Grumusol)

Ciri-ciri tanah lempung ini antara lain sebagai berikut; (1)


tekstur lempung dalam bentuk yang mencirikan, (2) tanpa horison
eluvial dan iluvial, (3) struktur lapisan atas granular, sering berbentuk
seperti bunga kubis, dan lapisan bawah gumpal atau pejal, (4)
mengandung kapur, (5) koefisien pemuaian dan pengerutan tinggi jika
diubah kadar airnya, (6) seringkali mikroreliefnya gilgai, (7) konsistensi
luar biasa liat, (8) bahan induk berkapur dan berlempung sehingga
kedap air, (9) dalam solum rata-rata 75 cm, (10) warna kelam atau
chroma kecil. Tanah ini di Indonesia tersebar pada daerah-daerah
pada ketinggian < 300 m dpal, dengan topografi agak bergelombang
hingga berbukit, temperatur tahunan rata-rata 25 C dengan curah
hujan < 2500 mm dengan pergatian musim hujan dan musim kemarau
nyata. Bahan induknya terbatas pada tanah bertekstur halus atau
terdiri atas bahan-bahan yang sudah mengalami pelapukan seperti
batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial dan abu vulkanik.
23

Kandungan bahan organik pada umumnya antara 1,5 – 4,0 %,


warna tanah dipengaruhi oleh jumlah humus dan kadar kapur. Tanah
yang kaya kandungan kapur pada umumnya berwarna hitam,
sedangkan yang bersifat asam berwarna kelabu. Jenis tanah ini
mengandung unsur-unsur Ca dan Mg tinggi, bahkan dalam beberapa
keadaan dapat terbentuk konkresi kapur dan akumulasi kapur lunak.
Jenis lempung yang terbanyak montmorilonit, sehingga tanah
mempunyai daya adsorpsi tinggi (50-100 me / 100g lempung). Jika
tanah mengering setelah hujan pertama permukaan gumpal tanah
grumusol yang kaya akan kapur memperlihatkan struktur bunga kol.
Sifat-sifat tanah vertisol yang sangat berat menyebabkan jenis tanah
ini sangat peka terhadap bahaya erosi dan bahaya longsoran. Hal ini
mengakibatkan relief tanah yang lebih tinggi menjadi bergelombang
dan didataran membentuk bukit-bukit kecil yang cembung yang pernah
ditemukan di pulau Sumbawa yang sangat kering yang dinamakan
gilgai. Dengan mengatur drainase irigasi dan pengolahan tanah
disertai pemupukan bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah,
jenis tanah ini dapat memberi hasil kapas, padi, dan tebu.

g. Tanah Hidromorfik

Pada umumnya tanah hidromorfik atau hidrosol memiliki sifat


porositas dan drainase yang buruk, sehingga mengurangi manfaatnya
sebagai tanah pertanian. Topografi tanah ini pada umumnya datar
yang memungkinkan tergenang air dan terbentuk glei pada lapisan
tanah tertentu. Yang tergolong dalam tanah hidrosol antara lain tanah
planosol, glei humik, glei humik rendah, hidromorfik kelabu, podzolik
air tanah, dan laterit air tanah.

h. Tanah Sawah (Paddy Soil)

Tanah sawah merupakan salah satu jenis tanah hidrosol yang


penting di indonesia. Beberapa ahli masih kontroversi tentang
penggolongan tanah ini ke dalam tanah hidrosol, karena sifatnya yang
berbeda-beda dan hanya merupakan perkembangan daripada jenis-
jenis tanah; aluvial, vertisol, latosol dan psamment, podzolik merah
kuning, hidromorfik kelabu, planasol dan tanah podzolik. Jenis tanah
ini dalah akibat persawahan dengan menggenangi tanah sawah untuk
waktu yang agak lama selama pertumbuhan padi, sehingga terjadi
proses sebagai berikut; (1) perpindahan senyawa besi dan mangan
24

dari endapan atas dan diendapkan di lapisan bawah, (2) pendataran


(terracering), (3) permukaan tanah yang miring, (4) akumulasi debu
(silt) oleh air irigasi pada permukaan tanah. Beberapa faktor penting
yang mempengaruhi tanah sawah anatara lain; (1) cuaca reduksi yang
menyebabkan drainase buruk, (2) adanya sejumlah senyawa besi dan
mangan, (3) kemampuan perkolasi ke bawah. Hal tersebut dapat
menyebabkan terbentuknya tanah permukaan yang banyak
mengandung lapisan debu dan berwarna cerah/muda yang tebalnya
sejajar dengan permukaan tanah sawah setelah di teras. Di bawahnya
terdapat akumulasi besi dan mangan berupa coretan-coretan, becak-
becak, selaput-selaput, agregat, konkresi atau bahan lapaisan padas
tergantung lamanya digunakan sebagai sawah. Sifat kimia tanah ini
dicirikan dengan terbentuknya H2S yang menghambat penyerapan
hara tanaman dan memperbesar perkembangan akar, meningkatnya
pH dan pelarutan silika. Sifat fisik tanah akibat pembentukan padas
akan menghambat drainase dan dalamnya akar tanaman, tetapi tak
menghambat perkembangan akar kesamping.