Anda di halaman 1dari 10

Rangkuman Materi PTP

Nama: Naufal Vidi Erlangga

NPM: 200110170109

Kelas: E

BAB I Pendahuluan

1. Bangsa dan karakteristik sapi perah

Sapi termasuk golongan hewan kedua dalam urutan domestikasi setelah anjing, dan
kemungkinan domestikasi terjadi di Eropa atau Asia pada jaman Batu. Berdasarkan tempat
hidup dan perkembangannya ada dua macam sapi yang termasuk jenis Bos Taurus (berada di
daerah beriklim sedang di Eropa) dan Bos Indicus (berada di daerah beriklim Tropis). Sejak
jaman purba orang-orang primitif telah menggunakan sapi sebagai sumber makanan dengan
cara diburu, domestikasi mungkin dimulai sejak hewan ini dipakai sebagai tenaga penarik
dan mungkin pula sejak permulaan jaman pengolahan tanah. Pada keadaan liar
kecenderungan hewan ini hanya sedikit menimbun lemak tubuhnya, karena akan
menghambat kehidupan liarnya dan produksi susu hanya cukup untuk menghidupi anaknya.
Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia maka makanan yang berasal dari ternak
menjadi harus lebih baik, maka dilakukan segala upaya melalui seleksi yang memungkinkan
untuk mempercepat perbesaran hewan, penimbunan lemak tubuh, meningkatkan produksi
susu.

TAXONOMI SAPI

Sapi perah termasuk famili Bovidae dan ruminansia yang mempunyai tanduk berongga.
Famili Bovidae dan sub famili bovinae yaitu termasuk kerbau, bison, musk-ox, banteng, dan
zebu.

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Mammalia

SubClass : Eutheria

Ordo : Ungulata (mammalia berkuku)

SubOrdo : Pecora (ruminan asli/artiodactyles)

Family : Bovidae (tanduk berongga)

Genus : Bos
SubGenus : Taurine Bos taurus, Bos indicus

Bibovine Bos gaurus, Bos frontalis, Bos sondaicus

Species : Bos taurus Bos taurus primigenus

Bos taurus longifrons

Bos taurus frontasus

Bos taurus brachycephallus

Bos indicus

Sapi tipe perah :

• Fries Holland

• Brown Swiss

• Ayrshire

• Guernsey

• Red Danish

• Jersey

Bos taurus termasuk nenek moyang dari sapi Eropa dan banyak ditemukan di

Amerika.

a) Bos Taurus Premigenius disebut juga Ox atau Ox aurochs adalah hewan

berbadan besar yang merupakan nenek moyang sapi di hutan cadangan di

Inggris

b) Bos Taurus Longiforms sapi ini berbadan kecil, mukanya agak datar (rata)

yang dinamakan Celtic Shorthorn didomestikasikan di daerah sekitar utara

pegunungan Alpen atau sekitar timur laut Asia.

c) Bos Taurus Frontasus terdapat didaerah Swiss

d) Bos Taurus Brachycephallus, sapi-sapi yang berleher pendek

Sapi-sapi di Amerika dan Eropa dewasa ini masih diragukan apakah berasal dari

salah satu nenek moyang tersebut atau keturunan persilangan satu sama lain.
Bos Indicus dan Sondaicus, berasal dari India (tropis) dan mempunyai ciri-ciri

yang khas yaitu mempunyai gumba pada pundaknya (hump), gelambir dibawahnya

(dewlap) yang memanjang terus sampai di bawah lambung, contohnya Zebu

dari India, Afrika dan keturunan Brahman di Amerika.

Sapi-sapi yang telah didomestikasi sekitar tahun 2.000 sebelum Masehi masih

dijumpai sapi-sapi keturunan langsung dari :

a) Bos gaurus (gaur)

b) Bos frontalis (Gayal)

c) Bos sondaicus (Banteng)

Species lainnya yang sekarang masih ada adalah:

a) Bos grunniens (Yak)

b) Bos bonasus (Bison Eropa)

Golongan bubalin terdapat species-species antara lain :

a) Bos caffer (Kerbau Afrika)

b) Bos bubalis (Kerbau Mindora)

c) Bos depressicornis (Kerbau Sulawesi/Anoa)

BAB II Reproduksi Pada Sapi Perah

PUBERTAS DAN ESTRUS

Pubertas (dewasa kelamin)

Pubertas merupakan periode kehidupan dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi,


proses reproduksi mulai terjadi dan pertamakali memproduksi sel benih (ovum atau sperma).
Pada sapi FH pubertas ini terjadi berumur 8–12 bulan. Hal ini bergantung kepada tatalaksana
pemeliharaan, genetik, dan iklim. Pada sapi jantan pubertas lebih cepat daripada sapi betina.
Pubertas terjadi sebelum dewasa. Oleh karena itu perkawinan terutama pada betina sebaiknya
ditangguhkan beberapa bulan sampai tubuhnya dianggap cukup dewasa untuk terjadi
kebuntingan. Pada sapi perah kawin pertama pada sapi dara berkisar umur 15-18 bulan atau
dengan berat badan berkisar 275-325 kg (lingkar dada berkisar 150-160 cm).

Estrus (birahi)
Bila ternak telah dewasa kelamin (terjadi estrus-I), maka apabila dikawinkan tidak terjadi
kebuntingan, maka akan disusul dengan estrus kedua dan seterusnya, tetapi apabila terjadi
kebuntingan, maka ternak tidak mengalami estrus lagi. Jarak antara kedua berahi tersebut
disebut siklus berahi/estrus. Siklus estrus pada sapi berkisar 17-24 hari atau rata-rata 21 hari.
Lama estrus pada sapi FH yang dewasa rata-rata 18-19 jam dan yang muda 15 ± 3 jam. Satu
siklus berahi apabila berdasarkan dari perubahan gejala dari luar dapat dibagi dalam 4 fase
yaitu proestrus, estrus, metestrus dan diestrus.

Waktu Kawin

Untuk menghasilkan kebuntingan, maka harus adanya perkawinan antara jantan dan betina
serta pada waktu yang tepat. Dari bahasan sebelumnya, maka kita dapat menentukan kapan
sebaiknya dilakukan perkawinan dan menghasilkan angka kebuntingan yang tinggi.
Pertemuan antara sperma dan ovun (fertilisasi) sebaiknya terjadi di oviduct tepatnya di
Ampula Isthmus Junction.

HORMON KEBUNTINGAN DAN KELAHIRAN

Peranan Hormon dalam Proses Kebuntingan Kebuntingan (gestation period) yaitu sejak
terjadi fertilisasi antara ovum dan sperma sampai terjadinya kelahiran pedet yang hidup, sehat
dan normal. Fertilisasi ini terjadi berkisar antara 11–15 jam setelah kawin (IB). Dalam
pelaksanaannya dipeternak lama kebuntingan ini dihitung sejak tanggal kawin terakhir
sampai tanggal kelahiran pedet. Lama bunting pada sapi rata-rata 283 ± 5 hari. Kelenjar
hormon yang berfungsi selama kebuntingan yaitu antara lain korpus luteum, plasenta dan
folikel merupakan kelenjar utama, sedangkan kelenjar hipotalamus dan hipofisa sebagai
kelenjar pengatur. Corpus luteum sebagai penghasil progesteron, plasenta penghasil
progesteron dan estrogen, sedangkan folikel penghasil estrogen. Progesteron berperan dalam
merawat/memelihara kebuntingan terutama pada saat implantasi sampai dengan pertengahan
umur kebuntingan.

Kelahiran

Telah dikemukakan bahwa lama bunting pada sapi rata-rata 283 ± 5 hari. Kelahiran
merupakan akhir daripada kebuntingan. Kelahiran merupakan proses fisiologis dimana uterus
mengeluarkan anak dan plasenta. Tanda-tanda kelahiran umumnya gelisah vulva
membengkak, relaksasi pada bagian pelvis dan urat daging sekitar pangkal ekor, serviks
terbuka (dan lendirnya mencair) dan kolostrum mudah keluar dan kadang-kadang menetes.
Ada beberapa tahap kelahiran yaitu tahap persiapan dan tahap perejanan. Tahap persiapan
lebih lama daripada tahap perejanan. Tahap perejanan dibagi tiga tahap yaitu persiapan
perejanan, tahgap perejanan kuat untuk mengeluarkan fetus dan tahap perejanan untuk
mengeluarkan plasenta. Pada tahap perejanan ada beberapa faktor yang menunjang yaitu
yaitu yang pertama secara mekanik dimana ada desakan yang berasal dari pertambah
besarnya volume fetus, oleh karena itu proses ini berjalan lambat. Kedua pengaruh hormonal
yaitu hormon oxytocin yang berasal dari hipofisa posterior. Hormon ini merangsang uterus
untuk berkontraksi dengan kuat. Ada beberpa pendapat bahwa pengaruh hormone oxytocin
hanya sesaat. Demikian juga peranan hormon estrogen, dimana pada saat menjelang
kelahiran konsentrasi dalam darah tinggi, sehingga mengakibatkan kontraksi uterus yang
kuat. Antara hormon oxytocin dan estrogen ini bekerja secara bersamaan dan dapat juga
masing-masing. Ada juga faktor internal fetus, dimana fetus berusaha untuk keluar.

FERTILITAS

Fertilitas adalah daya atau kemampuan untuk memproduksi keturunan dari seekor
hewan/ternak. Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas antara lain faktor abatomis dan
fisiologis serta nutrisi.

Faktor Anatomis dan Fisiologis

a. Kelainan alat reproduksi

Kelainan alat reproduksi dapat disebabkan oleh faktor keturunan (genetik), pakan yang
kurang baik, penyakit dan akibat kecelakaan. Akibat penyakit antara lain brucellosis yang
disebabkan bakteri Bruccela abortus yang mengakibatkan abortus. Kecelakaan terutama pada
sapi perah dapat mengakibatkan torsio uteri atau uteri terbalik.

b. Hormonal

Pada jantan organ testis merupakan penghasil spermatozoa dan hormone testotseron. Suhu
testis lebih rendah dari 4-5 oC suhu tubuh. Oleh karena itu apabila suhu tubuh tinggi, akan
mengakibatkan kelainan atau kematian spermatozoa. Produksi spermatozoa sapi jantan
dewasa 70 juta sel per minggu. Semen yaitu campuran 20% sperma dan 80% seminal plasma.

c. Kesehatan

Kesehatan ternak harus selalu diperhatikan, baik jantan maupun betina. Oleh karena itu
kontrol penyakit dan program vaksinasi harus dilaksanakan secara cepat dan tepat. Ternak
yang sduah terserang penyakit untuk menyembuhkannya memerlukan biaya yang besar,
selain itu produktivitas ternak menurun.

d. Genetik

Faktor genetik pada jantan dapat mengakibatkan kelainan pada testis, sedangkan pada betina
kelainan pada ovari. Akibat gen lethal pada umumnya dapat mengakibatkan kematian pada
keturunannya. Pada sublethal mengakibatkan fertilitas sperma rendah.

Faktor Nutrisi

Faktor pengelolaan terutama pengelolaan ransum yang diberikan, harus mengandung nutrisi
yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan baik untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi
dan fetus (untuk yang bunting). Pada umumnya cara menyusun hanya berdasarkan pada
protein dan energi saja, sedangkan kebutuhan nutrisi lainnya kurang mendapat perhatian.
Padahal keseimbangan kandungan mineral dan vitamin sangat menentukan tingkat fertilitas.
Bab III Standarisasi Produk Susu

Standarisasi produk susu adalah menyetandarkan produksi susu seekor sapi perah
berdasarkan standar yg telah ditetapkan baik secara genetik maupun lingkungan yang banyak
mempengaruhinya.

Faktor-Faktor yg Diperhitungkan

-Lama Laktasi

-Frekuensi Pemerahan

-Umur Sapi

- Kadar Lemak Susu yg Dihasilkan

Produksi susu distandarkan berdasarkan:

A. 305 hari, 2 x , Setara Dewasa

B. 4% Fat Corrected Milk (FCM)

Standarisasi pada 305 hari lama laktasi, bertujuan untuk:

-Memperkecil faktor-faktor yang bervariasi terhadap lamanya masa laktasi

-Memperkecil variasi produksi akibat pengaruh lama kebuntingan

Rumus 4% FCM = 0,4 x Σ Prod.Susu + 15 x Σ Prod.Lemak

Bab IV Pemuliaan Pada Ternak Perah

Secara umum yang dimaksud dengan pemuliaan ternak adalah aktivitas perbaikan mutu
genetik ternak dalam suatu usaha peternakan melalui seleksi dan atau sistem perkawinan
yang kemudian diikuti dengan pengafkiran (culling), sedangkan tujuannya adalah untuk
mendapatkan ternak yang baik dan unggul mutu genetiknya yang akan dijadikan sebagai bibit
atau tetua bagi generasi selanjutnya.

Pedigree adalah garis keturunan dari suatu hubungan keluarga antara satu individu sapi perah
dengan individu lainnya yang menjadi tetua-tetuanya atau yang menurunkannya.

Koefisien Inbreeding adalah suatu nilai yang mencerminkan besarnya derajat hubungan darah
antara satu individu ternak dengan individu lain dalam suatu perkawinan yang mempunyai
pertalian keluarga dekat maka homozigositasmakan meningkat sedangkan hetero-zigositas
menurun yang ditandai dengan meningkatnya nilai koefisien inbreeding. Untuk menghitung
nilai koefisien inbreeding diturunkan rumus sebagai berikut:

Fx = 1/2 X (1/2)M (1 + Fa)

Fx = Koefisien Inbreeding
M = Banyaknya Generasi

Fa = Koefisien inbreeeding tetua (ancestor)

Sifat kualitatif

- Sifat yang dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok dan

pengelompokkan itu berbeda jelas satu sama lainnya.

- Diatur oleh satu atau beberapa pasang gena

- Tampak dari luar dan tidak dapat diukur

- Dikontrol sepenuhnya oleh gen

- Cacat genetik lebih bersifat kualitatif

- Tidak mempunyai nilai ekonomis

- Seleksi bibit hanya sedikit bersifat kualitatif

Contoh sifat kualitatif adalah warna bulu/rambut, sapi bertanduk dan tidak bertanduk.

Sifat kuantitatif

- Tidak dapat dikelompokkan dengan jelas

- Diatur oleh banyak pasang gena

- Dapat diukur dan kontinyu

- Lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan

- Cacat genetik bukan sifat kuantitatif

- Mempunyai nilai ekonomis tinggi

- Seleksi bibit banyak ditujukan pada sifat-sifat kuantitatif.

Contoh sifat kuantitatif adalah produksi susu, pertambahan bobot badan, kadar lemak.

Lethal

Sifat lethal adalah sifat genetis yang menyebabkan kematian dari individu saat dilahirkan atau
sesudah individu dilahirkan di dalam keadaan pemeliharaan (manajemen) yang baik dan
normal. Sifat-sifat lethal ini timbul karena telah terjadi perubahan keadaan dari prenatal ke
postnatal mengenai: berat jantung, berat paru-paru, mekanisme tractus digestivus atau
mekanisme pengaturan temperatur.

Sub Lethal
Pada keadaan sub lethal telah terjadi perubahan fisiologis dan anatomis sewaktu hewan
dilahirkan. Hewan kemudian mati karena tidak mendapatkan makanan yang cukup misalnya
karena pergelangan kaki yang bengkak pada FH.

Semi Lethal

Semi lethal misalnya terjadi hernia yang dalam beberapa keadaan tertentu dapat
menyebabkan kematian. Usus dari hewan masuk ke dalam kantong hernia dan tergencet.

Nilai Pemuliaan (NP) adalah merupakan suatu ungkapan dari gena-gena yang dimiliki tetua
dan diturunkan kepada anak-anaknya. Kita tidak dapat melihat genagena yang dimiliki
individu tersebut tetapi hanya menduga nilainya saja. Nilai pemuliaan dari seekor ternak
adalah ½ dari nilai pemuliaan induknya dan ½ lagi dari nilai pemuliaan bapaknya. Dengan
demikian nilai pemuliaan hanya mengekspresikan gena-gena yang bersifat aditif saja.

Nilai pemuliaan dapat diduga berdasarkan informasi (catatan performans) dari :

1. Ternak itu sendiri

2. Performans saudara-saudaranya

3. Tetuanya

Seleksi adalah suatu tindakan untuk memilih ternak yang dianggap mempunyai mutu genetik
baik untuk dikembangbiakkan lebih lanjut serta memilih ternak yang dianggap kurang baik
untuk diafkir (culling)

SELEKSI SAPI PERAH BETINA

Adapun maksud dari seleksi sapi perah betina adalah :

1. Melakukan seleksi sapi-sapi yang akan tetap dipertahankan atau dipelihara dipelihara di
perusahaan

2. Melakukan seleksi sapi-sapi yang akan dikawinkan dan anak-anaknya dipakai untuk
replacement stock

3. Melakukan seleksi sapi-sapi yang anak-anak jantannya dapat dipakan untuk pejantan baik
di perusahaan maupun untuk program Inseminasi Buatan (semen beku)

Tujuan seleksi pada sapi betina antara lain :

1. Meningkatkan produksi susu

2. Mempertahankan kadar lemak susu

3. Meningkatkan daya tahan terhadap mastitis.

Dalam meningkatkan produksi susu dan lemak, seleksi calon pejantan jauh lebih penting
artinya daripada seleksi sapi calon induk pengganti. Hal ini disebabkan seekor pejantan akan
mempunyai anak jauh lebih banyak daripada seekor induk, terutama dengan teknik
Inseminasi Buatan.

Pejantan

dipilih berdasarkan performans turunan-turunannya (Uji Zuriat atau Progeny Testing). Hasil
uji zuriat yang diperoleh dapat membantu kita dalam hal :

1. Memutuskan apakah seekor pejantan akan tetap dipakai

2. Menentukan pejantan muda yang akan dipakai atau disingkirkan

3. Mengevaluasi mutu genetik nak-anaknya yang jantan

4. Memilih betina induk, berdasarkan nilai anak-anak betina dari bapaknya

Beberapa metode dalam Uji Zuriat (Progeny Testing) :

1. Daughter Average (Rata-Rata Produksi Anak Betina)

2. Daughter Dam Comparison (Membandingkan Produksi Anak-Induk)

3. Herdmate Comparison (Membandingkan Produksi Herdmatenya)

4. Contemporary Comparison

5. Modified Contemporary Comparison

6. Cummulative Difference

7. Breeding Index (Indeks Pemuliaan)

8. Best Linier Unbiased Prediction

9. Predicted Difference (Ramalan Beda Produksi)

10. Animal Model

Untuk melaksanakan program pemuliaan sapi perah yang efektif dibutuhkan berbagai sarana
yang didasarkan atas partisipasi pemerintah yang dalam hal ini yang diutamakan adalah
bimbingan dan penyediaan modal. Sehubungan dengan itu perlu adanya Program Perbaikan
Mutu Genetik Sapi Perah yang dibentuk secara Nasional dengan cabang-cabang di daerah
propinsi, dimana daerah tersebut mempunyai populasi dan potensi produksi susu yang tinggi
serta organisasi yang baik. Adapun tugas-tugas dari organisasi tersebut adalah :

1. Mengorganisir program pencatatan silsilah, produksi susu, reproduksi dan bila

mungkin mencatat jumlah dan harga pakan yang diberikan.

2. Menyusun serta melaksanakan program pemuliaan sapi perah (seleksi dan

culling)
3. Melaksanakan program Inseminasi Buatan yang berlandaskan program pemuliaan yang
dianut.

Dalam menyusun program pemuliaan, perlu dibedakan antara program untuk menghasilkan
replacement stock dengan program yang ditujukan untuk menghasilkan sapi perah bibit baik
sapi betina maupun pejantan untuk disebarluaskan. Adapun pelaksanaan dalam program
pemuliaannya dapat ditempuh dengan 2 sistem, yaitu secara tertutup (Close Nucleus
Breeding System) dan secara terbuka (Open Nucleus Breeding System). Pada sistem tertutup,
ternak pengganti diambil dari seleksi yang terdapat pada lapisan inti sedangkan system
terbuka, ternak pengganti induk diambil dari luar (sapi-sapi yang sudah diseleksi di
peternakan rakyat masuk ke dalam inti) sehingga ada aliran perbaikan mutu genetic dari inti
ke luar dan sebaliknya.