Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Komunikasi senantiasa berperan penting dalam proses kehidupan.
Komunikasi merupakan inti dari kehidupan sosial manusia dan merupakan
komponen dasar dari hubungan antar manusia. Banyak permasalahan yang
menyangkut manusia dapat diidentifikasikan dan dipecahkan melalui
komunikasi, tetapi banyak pula hal hal kecil dalam kehidupan manusia
menjadi permasalahan besar karena komunikasi (Suryani, 2006). Oleh
sebab itu komunikasi merupakan kunci utama dalam melakukan proses
interaksi antar manusia. Di dalam dunia kesehatan, khususnya dalam
profesi keperawatan sendiri, komunikasi juga mendapatkan peran utama
dalam melaksanakan proses keperawatan. Dalam asuhan keperawatan,
komunikasi ditujukan untuk mengubah perilaku klien dalam mencapai
tingkat kesehatan yang optimal.
Halusinasi merupakan salah satu gejala yag sering ditemukan pada
klien dengan gangguan jiwa. Halusinasi sering diidentikkan dengan
skizofrenia. Dari seluruh klien skizofrenia 70% diantaranya mengalami
halusinasi. Gangguan jiwa lain juga disertai dengan gejala halusinasi
adalah gangguan manic depresif dan delirium. Halusinasi merupakan
gangguan persepsi dimana klien mempresepsipkan sesuatu yang
sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indera tanpa ada
rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi
melalui panca indera tanpa stimulus eksteren persepsi palsu. Salah
persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang
terjadi. Stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu yang nyata ada
oleh klien (Stuart, 2007).
Jika seorang individu tidak mempunyai cirri sehat jiwa maka
individu tersebut mengalami sakit jiwanya dan membutuhkan keperawatan
jiwa untuk merawat dan menyehatkan jiwa kembali. Keperawatan jiwa
adalah area khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan ilmu
tingkah laku manusia sebagai dasar, dan menggunakan diri sendiri secara
terapeutik dalam meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan
mental klien, dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada
(Yosep, 2007).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian komunikasi terapeutik?
2. Bagaimana proses komunikasi terapeutik?
3. Apa saja teknik komunikasi terapeutik?
4. Bagaimana sikap dalam komunikasi terapeutik?
5. Apa saja faktor dan hambatan yang mempengaruhi komunikasi
terapeutik?
6. Bagaimana tahapan dalam komunikasi terapeutik?
7. Apa pengertian halusinasi?
8. Bagaimana rentang respon neurologis, proses perjalanan penyakit,
tahapan, fase, dan klasifikasi pada pasien halusinasi?
9. Bagaimana pengkajian yang dilakukan pada pasien halusinasi?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian, proses, teknik, sikap, dan hambatan dalam
komunikasi terapeutik
2. Mengetahui pengertian, rentang respon, proses perjalanan penyakit,
tahapan, fase, klasifikasi, serta pengkajian pasien halusinasi
3. Mengetahui aplikasi komunikasi terapeutik pada pasien dengan
halusinasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Komunikasi Terapeutik
1. Definisi
Komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan sistem
simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal (kata-kata), verbal dan
nonverbal yang dapat disosialisasikan secara langsung/ tatap muka atau
melalui media lain (tulisan, oral dan visual) (Liliweri, 2007).
Menurut Purwanto yang dikutip oleh (Mundakir, 2006), komunikasi
terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan
kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi
terapeutik merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan
yaitu penyembuhan pasien (Siti Fatmawati, 2010).
Dalam semua interaksi, klien harus dapat mempercayai perawat dan merasa
aman serta dihargai ketika pikiran yang ada didalam diri, emosi dan masalah
pribadinya diungkap dan dipaparkan. Hubungan saling percaya dengan klien
dibangun dalam suatu lingkungan yang dipenuhi oleh sikap penerimaan,
konsisten, empati dan penghargaan positif dari perawat. Klien harus merasa
bahwa perawat peka, perhatian dan peduli terhadap klien sebagai individu.
Perawat harus menunjukkan perilaku yang dapat diduga setiap setiap kali
bertemu dengan klien. Hubungan terapeutiklah yang menjadi dasar bagi klien
untuk merasa dimengerti, nyaman dalam mendiskusikan masalah,
mengeksplorasi cara yang tepat dalam memenuhi kebutuhan emosional dan
mengembangkan hubungan yang memuaskan (Copel, 2007).
Oleh karena itu komunikasi terapeutik memegang peranan penting
memecahkan masalah yang dihadapi pada dasarnya komunikasi terapeutik
merupakan komunikasi proposional yang mengarah pada tujuan yaitu
penyembuhan pasien pada komunikasi terapeutik terdapat dua komonen
penting yaitu proses komunikasinya dan efek komunikasinya.

2. Proses Komunikasi Terapeutik


Proses komunikasi terdiri atas unsur komunikasi, prinsip komunitas dan
tahap komunitas komunikasi di mana unsur komukasi terdiri atas:
a. Komunikator (pengirim pesan) yaitu pengirim pesan atau
komunikator yaitu yang menyampaikan pesan, dalam hal ini adalah
perawat. Dimana harus mempunyai syarat-syarat berikut ini.
1) Mengembangkan ide atau pikiran yang disampaikan.
2) Mengode ide / pikiran dalam bentuk lambang verbal atau non
verbal
3) Menyampaikan pesan melalui saluran komunikasi dan metode
tertentu
4) Menunggu umpan balik dari komunikan untuk mengetahui
keberhasilan komunikasi.
b. Komunikan (penerima pesan)
Orang yang menerima pesan dari sender atau pendeengar, yang harus
mendengarkan, mengobservasi dan memperhatikan. Dimana proses
mendngar, kesempurnaan dan kesehatan organ tubuh/ pancaindra
manusia, maupun otak sehingga mampu menerima stimulus secara
sempurna.
c. Pesan
Gagasan atau pendapat, fakta, informasi atau stimulus yang
disampaikan. Pesan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Pesan harus direncanakan.
2) Pesan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti kedua belah
pihak.
3) Pesan itu harus menarik minat dan keutuhan pribadi penerima.
4) Pesan itu harus disampaikan tidak samar-samar.
d. Media atau Saluran.
Merupakan sarana yang dilalui pesan saat disampaikan. Saluran
komunikasi berbentuk pancaindra manusia maupun alat teknologi
yang dibuat manusia. Saluran komunikasi yang berbentuk pancaindra
dapat dibagi menjadi : visual channel, auditory channel, dan
kinesthetic channel.
e. Umpan balik
Adalah memberikan kepada komunikator informasi tentang persepsi
komunikan. Karakteristik umpan balik yang lebih efektif adalah
sebagai berikut:
1) Harus spesifik jangan terlalu luas pengertian
2) Dikatan secara deskriptif
3) Suportif, tidak mengancam.
4) Diberikan pada waktu yang tepat.
5) Jelas dan tidak bermakna ganda.
6) Langsung dan sopan.
(Kusumawati, Farida; Hartono, Yudi;, 2010).
3. Teknik komunikasi terapeutik
Teknik komunikasi terapeutik dengan menggunakan referensi dari Stuart
dan Sundeen, dalam Ernawati (2009) yaitu:
a. Mendengarkan (listening)
Mendengar ( listening ) merupakan dasar utama dalam komunikasi
terapeutik ( Keliat, 1992). Mendengarkan adalah proses aktif dan
penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap
pesan yang diterima Hubson, S dalam Suryani (2005). Untuk member
kesempatan lebih banyak pada klien untuk berbicara, maka perawat
harus menjadi pendengar yang aktif. Selama mendengarkan, perawat
harus mengikuti apa yang dibicarakan klien dengan penuh perhatian.
Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong
pembicaraan klien. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai
waktu untuk mendengarkan.
Ketrampilan mendengarkan penuh perhatian adalah dengan:
1) Pandang klien ketika sedang bicara
2) Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk
mendengarkan.
3) Sikap tubuh yang menunjukan perhatian dengan tidak
menyilangkan kaki atau tangan
4) Hindarkan gerakan yang tidak perlu
5) Angkat kepala jika klien membicarakan hal penting atau
memerlukan umpan balik
6) Condongkan tubuh kearah lawan bicara (pasien).
b. Bertanya
Bertanya (question) merupakan teknik yang dapat mendorong klien
untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
Teknik berikut sering digunakan pada tahap orientasi:
1) Pertanyaan fasilitatif (fasilitatif question)
Pertanyaan fasilitatif (facilitative question) terjadi jika pada saat
bertanya perawat sensitive terhadap pikiran dan perasaan serta
secara langsung berhubungan dengan masalah klien, sedangkan
pertanyaan non fasilitatif (non facilitative question) adalah
pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan pertanyaan yang
tidak fokus pada masalah atau pembicaraan, bersifat mengancam,
dan tampak kurang pengertian terhadap klien Gerald, D dalam
Suryani (2005).
2) Pertanyaan terbuka atau tertutup
Pertanyaan terbuka (open question) digunakan apabila perawat
membutuhkanjawaban yang banyak dari klien. Dengan pertanyaan
terbuka, perawat mampumendorong klien mengekspresikan
dirinya dalam Suryani (2005). Pertanyaan tertutup (closed
question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang
singkat.
c. Penerimaan
Yaitu mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang
menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan bukan
berarti persetujuan. Penerimaan berarti bersedia untuk mendengarkan
orang lain tanpa menunjukan keraguan atau tidak setuju. Perawat
sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang
menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau
menggelengkan kepala seakan tidak percaya.
d. Mengulangi
Mengulangi (restating) yaitu mengulang pokok pikiran yang
diungkapkan klien maksudnya adalah mengulangi pokok pikiran yang
diungkapkan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Gunanya
untuk menguatkan ungkapan klien dan Memberi indikasi perawat
mengikuti pembicaraan atau memperhatikan klien dan mengharapkan
komunikasi berlanjut klien (Keliat, Budi Anna, 1992 ).
e. Klarifikasi
Klasifikasi (clarification) adalah penjelasan kembali ke ide atau
pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan
arti dari ungkapannya Gerald dan Suryani (2005). Dilakukan bila
perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar atau klien malu
mengemukakan informasi, informasi yang diperoleh tidak lengkap
atau mengemukakannya berpindah-pindah. Pada saat klarifikasi
perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien,
juga tidak boleh menambahkan informas. Fokus utama klarifikasi
adalah pada perasaan, karena pengertian terhadap perasaan klien
sangat penting dalam memahami klien ( Suryani, 2005).
f. Refleksi
Refleksi (reflection) adalah mengarahkan kembali ide, perasaan,
pertanyaan, dan isi pembicaraan kepada klien. Hal ini digunakan
untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan
klien dan menekankan empati, minat, dan penghargaan terhadap klien
(Suryani, 2005).
Refleksi menganjurkan klien untuk mengungkapkan dan menerima
ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Apabila klien
bertanya apa yang harus ia pikirkan dan kerjakan atau rasakan maka
perawat dapat menjawab; bagaimana menurutmu? Dengan demikian
perawat mengindikasikan bahwa pendapat klien adalah berharga dan
klien mempunyai hak untuk mampu melakukan hal tersebut, maka ia
pun akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang mempunyai
kapasitas dan kemampuan sebagai individu yang terintegrasi dan
bukan sebagai bagian dari orang lain.
g. Memfokuskan
Memfokuskan (focusing) adalah bertujuan memberikan kesempatan
kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan
komunikasi klien pada pencapaian tujuan Stuart, G.W dalam Suryani
(2005). Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan
pembicaraan sehingga pembahasan masalah lebih spesifik dan
dimengerti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian
tujuan.
h. Diam
Teknik diam digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien
sebelum menjawab pertanyaan perawat. Diam akan memberikan
kesempatan kepada perawat dan klien untuk Mengorganisasi pikiran
masing-masing Stuart dan Sundeen, dalam Suryani (2005).
i. Memberikan informasi
Memberikan informasi tambahan merupakan tindakan penyuluhan
kesehatan untuk klien. Teknik ini sangat membantu dalam
mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-
aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien.
Informasi tambahan yang diberikan pada klien harus dapat
memberikan pengertian dan pemahaman yang lebih baik tentang
masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan
alternative pemecahan masalah (Suryani, 2005).
j. Menyimpulkan
Menyimpulkan adalah teknik komunikasi yang membantu klien
mengeksporasi point penting dari interaksi perawat-klien. Teknik ini
membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang
sama saat mengakhiri pertemuan.
k. Mengubah cara pandang
Teknik ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga
klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja
Gerald, D dalam Suryani (2005) sehingga memungkinkan klien untuk
membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang
dihadapinya.
l. Eksplorasi
Teknik ini bertujuan untuk mencari atau menggali lebih dalam
masalah yang dialami klien, supaya masalah tersebut bias diatasi.
Teknik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran
yang detail tentang masalah yang dialami klien ( Suryani, 2005).
m. Membagi persepsi
Stuart G.W. dalam Suryani (2005) menyatakan membagi persepsi
(sharing perception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang
perawat rasakan atau pikirkan. Teknik ini digunakan ketika perawat
merasakan atau melihat ada perbedaan antara respons verbal atau
respons nonverbal dari klien.
n. Identifikasi tema
Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan
harus mampu menangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut.
Gunanya untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah
penting (Stuart dan Sundeen, dalam Suryani, 2005). teknik ini sangat
bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan
pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien.
o. Menganjurkan untuk melanjutkan pembicaraan
Teknik ini menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh
pembicaraan yang mengidentifikasikan bahwa klien sedang mengikuti
apa yang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang dibicarakan
selanjutnya. Perawat lebih berusaha untuk menaksirkan dari pada
mengarahkan diskusi/pembicaraan.
p. Humor
Sullivan dan Deane dalam Suryani ( 2005), melaporkan bahwa humor
merangsang produksi catecholamine dan hormone yang menimbulkan
perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit,
mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernafasan dan
menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau
menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.
q. Memberikan pujian
Memberikan pujian (reinforcement) merupakan keuntungan psikologis
yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat.
Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan
menguatkan perilaku klien Gerald, D dalam Suryani (2005).
Reinforcement biasa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui
inyarat nonverbal.
r. Menawarkan diri
Bukan tidak mungkin bahwa klien belum siap untuk berkomunikasi
secara verbal dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk
membuat dirinya dimengerti. Perawat menyediakan diri tanpa renpons
bersyarat atau respons yang diharapkan.
s. Memberikan penghargaan
Memberi salam pada klien dan keluarga dengan menyebut namanya,
menunjukan kesadaran tentang perubahan yang terjadi, untuk
menghargai klien dan keluarga sebagai manusia seutuhnya yang
mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai
individu.
t. Asertif
Asertif adalah kemampuan dengan cara meyakinkan dan nyaman
untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap
menghargai orang lain
4. Sikap komunikasi terapeutik
Seorang perawat perlu memperhatikan sikap tertentu untuk melakukan
komunikasi terapeutik antara lain (Keliat, 2002) :
a. Berhadapan
Berhadapan langsung dengan orang yang diajak komunikasi
mempunyai arti bahwa komunikator siap untuk komunikasi.
b. Mempertahankan kontak mata
Kontak mata merupakan kegiatan menghargai klien dan mengatakan
keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk ke arah klien
Sikap ini merupakan posisi yang menunjukkan keinginan untuk
mendengar sesuatu.
d. Mempertahankan sikap terbuka
Sikap ini ditunjukkan dengan posisi kaki dan tangan tidak melipat
menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
e. Tetap rileks
Merupakan sikap yang menunjukkan adanyan keseimbangan antara
ketegangan dengan relaksasi dalam memberi respon pada klien.
Menurut Tamsuri (2005) sikap rileks menciptakan iklim yang
kondusif bagi klien untuk tetap melakukan komunikasi dan
memungkinkan pengembangan komunikasi.
Menurut Nurjannah (2005), sikap atau kinesics merupakan
komunikasi non verbal yang dilakukan melalui pergerakan tubuh,
kinesics terdiri dari ;
1) Ekspresi muka
Perawat sangat perlu melakukan validasi persepsi dari ekspresi
muka yang ada pada pasien sehingga perawat tidak salah
mempersepsikan apa yang diobservasi dari klien.
2) Gesture ( Gerak, Isyarat, Sikap )
Cara untuk menghadirkan diri secara fisik sehingga dapat
memfasilitasi komunikasi yang terapeutik
3) Gerak tubuh
Membungkuk kearah pasien merupakan posisi yang menunjukkan
keinginan untuk mengatakan tetap berkomunikasi.
4) Gerak mata
Gerak atau kontak mata diartikan sebagai melihat langsung ke
mata orang lain. Kontak mata merupakan kegiatan yang
menghargai pasien dan mengatakan keinginan untuk tetap
berkomunikasi.

5. Faktor-FaktorYang Mempengaruhi Komunikasi Terapeutik


Dalam melakukan sebuah komunikasi salah satunya komunikasi yang
terapeutik dapat dipengaruhi beberapa hal antara lain ( Tamsuri 2005) :
a. Perkembangan
Perkembangan manusia mempengaruhi bentuk komunikasi dalam dua
aspek, yaitu tingkat perkembangan tubuh mempengaruhi kemampuan
untuk menggunakan teknik komunikasi tertentu dan untuk
mempersepsikan pesan yang disampaikan. Agar dapat berkomunikasi
efektif seorang perawat harus mengerti pengaruh perkembangan usia
baik dari sisi bahasa, maupun proses berpikir orang tersebut.
b. Persepsi
Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian
atau peristiwa. Persepsi dibentuk oleh harapan atau pengalaman.
Perbedaan persepsi dapat mengakibatkan terhambatnya komunikasi.
c. Gender
Laki-laki dan perempuan menunjukkan gaya komunikasi yang
berbeda dan memiliki interpretasi yang berbeda terhadap suatu
percakapan. Kaum perempuan menggunakan teknik komunikasi untuk
mencari informasi, meminimalkan perbedaan dan meningkatkan
keintiman, sementara kaum laki-laki lebih menunjukkan indepedensi
dan status dalam kelompoknya.
d. Nilai
Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting
bagi perawat untuk menyadari nilai seseorang. Perawat perlu berusaha
mengklarifikasi nilai sehingga dapat membuat keputusan dan interaksi
yang tepat dengan klien. Dalam hubungan profesionalnya diharapkan
perawat tidak terpengaruh oleh nilai
pribadinya. Sikap empati sangat diperlukan dalam melakukan asuhan
keperawatan karena sikap ini perawat akan mampu merasakan dan
memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan
klien. Dengan bersikap empati perawat dapat memberikan alternatif
pemecahan masalah karena perawat tidak hanya merasakan perasaan
klien tetapi juga tidak berlarut-larut dalam perasaan tersebut dan turut
berupaya mencari penyelesaian masalah secara objektif tanpa
dipengerahi oleh nilai-nilai pribadi dari seorang perawat.
e. Latar belakang budaya
Bahasa dan gaya komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh faktor
budaya. Budaya juga akan membatasi cara bertindak dan komunikasi.
f. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan akan mempengaruhi komunikasi yang dilakukan.
Seseorang dengan tingkat pengetahuan rendah akan sulit merespon
pertanyaan yang mengandung bahasa verbal dengan tingkat
pengetahuan yang lebih tinggi.

6. Hambatan Komunikasi
a. Faktor yang bersifat perilaku
Yaitu kurangnya penguasaan teknik komunikasi yang mengcakup
unsur-unsur yang ada dalam komunikator dalam mengungkapkan
pesan, menyandi, lambang- lambang kejelian dalam mmilih media dan
metode penyampaian pesan.
b. Faktor yang bersifat perilaku
Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan yang
bersifaat sebagai berikut.
1) Pandangan bersifat apriori
2) Prasangka yang didasarkan atas emosi
3) Suasana otoriter
4) Ketidakmauan berubah walaupun salah
5) Sifat yang egosentris.
c. Faktor yang brsifat situasional yaitu kondisi dan situasi ekonomi,
sosial, politik, dan keamanan. Sedangkan menurut Stuart dan Sudeen,
(1998 dalam Kusumawati 2010) hambatan kemajuan hubungan
terapeutik perawat- pasien terdiri atas hal- hal berikut.
1) Resisten
2) Transferen
3) Kontertransferen.
7. Tahapan Komunikasi Terapeutik
Stuart G.W, 1998 menjelaskan bahwa dalam prosesnya komunikasi
terapeutik terbagi menjadi empat tahapan yaitu tahap persiapan atau tahap
pra-interaksi, tahap perkenalan atau orientasi, tahap kerja dan tahap
terminasi.
a. Tahap Persiapan/Pra-interaksi
Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya
dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada
tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai lawan
bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi untuk
pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat
dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin
dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik
dengan klien. Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat
mempengaruhi interaksinya dengan orang lain (Ellis, Gates dan
Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh
adanya kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh
lawan bicara. Pada saat perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu
mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik (Brammer,
1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active
listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).
Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:
1) Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan
mengidentifikasi kecemasan.
2) Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.
3) Mengumpulkan data tentang klien.
4) Merencanakan pertemuan pertama dengan klien.
b. Tahap Perkenalan/Orientasi
Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien
dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan
data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat
ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart.G.W,
1998).
Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:
1) Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan dan
komunikasi terbuka.
2) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik
pembicaraan) bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau
mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama.
3) Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah
klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik
komunikasi pertanyaan terbuka.
4) Merumuskan tujuan interaksi dengan klien.
Sangat penting bagi perawat untuk melaksanakan tahapan ini
dengan baik karena tahapan ini merupakan dasar bagi hubungan
terapeutik antara perawat dan klien.
c. Tahap Kerja
Tahap kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi
terapeutik (Stuart,G.W,1998). Tahap kerja merupakan tahap yang
terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat
dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan
perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun
pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien.
Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan
penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk
mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi oleh klien, mencari
penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.
Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu
menyimpulkan percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan
ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal
penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki
pikiran dan ide yang sama (Murray,B. & Judith,P,1997 dalam
Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh
perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau
perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-
benar dipahami oleh perawat.
d. Tahap Terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien.
Tahap terminasi dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi
akhir (Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir dari tiap
pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan
klien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai
dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan
terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh
proses keperawatan.
Tugas perawat dalam tahap ini adalah:
1) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah
dilaksanakan (evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996)
menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang
apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat
berguna pada tahap ini.
2) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan
klien setelah berinteraksi dengan perawat.
3) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan.
Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang
baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan
selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada
pertemuan berikutnya.

B. HALUSINASI
1. Pengertian
Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori dari suatu obyek
tanpa adanya rangsangan dari luar, gangguan persepsi sensori ini meliputi
seluruh pancaindra. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan
jiwa yang pasien mengalami perubahan sensori persepsi, serta merasakan
sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan, atau
penciuman. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Pasien
gangguan jiwa mengalami perubahan dalam hal orientasi realitas. Salah
satu manifestasi yang muncul adalah halusinasi yang membuat pasien
tidak dapat menjalankan pemenuhan dalam kehidupan sehari-hari. (Yusuf
dkk, 2015).
2. Rentang Respon Neurobiologi
Halusinasi merupakan gangguan dari persepsi sensori, waham
merupakan gangguan pada isi pikiran. Keduanya merupakan gangguan
dari respons neorobiologi. Oleh karenanya secara keseluruhan, rentang
respons halusinasi mengikuti kaidah rentang respons neorobiologi.
Rentang respons neorobiologi yang paling adaptif adalah adanya pikiran
logis dan terciptanya hubungan sosial yang harmonis. Rentang respons
yang paling maladaptif adalah adanya waham, halusinasi, termasuk isolasi
sosial menarik diri. Berikut adalah gambaran rentang respons
neorobiologi.

Adaptif Maladaptif

a. Pikiran logis. a. Kadang proses pikir a. Gangguan proses


b. Persepsi akurat. tidak terganggu. berpikir/ waham.
c. Emosi konsisten b. Ilusi. b. Halusinasi.
dengan pengalaman. c. Emosi tidak stabil. c. Kesukaran proses
d. Perilaku cocok. d. Perilaku tidak biasa. emosi.
e. Hubungan sosial e. Menarik diri. d. Perilaku tidak
harmonis. terorganisasi.
e. Isolasi sosial.

Gambar 1 .Rentang Respons Neurologi


Sumber: Yusuf dkk (2015)

3. Proses Perjalanan Penyakit


Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai
dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain:
a. Fase Prodomal
1) Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
2) Gangguan dapat berupa self care, gangguan dalam akademik,
gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan
pikiran dan persepsi.
b. Fase Aktif
1) Berlangsung kurang lebih 1 bulan
2) Gangguan dapat berupa gejala psikotik; halusinasi, delusi,
disorganisasi proses pikir, gangguan bicara, gangguan perilaku,
disertai kelainan neurokimiawi.
c. Fase Residual
1) Klien mengalami minimal 2 gejala; gangguan afek dan
gangguan peran, serangan biasanya berulang.
Tahapan Halusinasi dan Delusi yang Biasa Menyertai Gangguan Jiwa
Menurut Janice Clack (1962) klien yang mengalami gangguan jiwa
sebagian besar disertai Halusinasi dan Delusi yang meliputi beberapa
tahapan antara lain:
a. Tahap Comforting
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepin, perasaan berdosa,
klien biasanya mengkompensasikan stressornya dengan coping
imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman
b. Tahap Conderning
Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi
selanjutnya klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut
apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan
sehingga timbul perilaku menarik diri (with drawl)
c. Tahap Controling
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul
tetapi suara tersebut terus menerus mengikuti, sehingga menyebabkan
klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila suara tersebut
hilang klien merasa sangat kesepian/ sedih.
d. Tahap Conquering
Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila
tidak diikuti, perilaku klien dapat bersifat merusak atau dapat timbul
perilaku suicide.
(Yosep, 2007)

4. Intensitas Level Halusinasi atau Fase Halusinasi


Tabel .1 Karakteristik dan Perilaku Pasien Halusinasi
Level Karaktersitik Halusinasi Perilaku Pasien
TAHAP I • Mengalami ansietas • Tersenyum/tertawa sendiri.
Memberi rasa nyaman. kesepian, rasa bersalah, dan • Menggerakkan bibir tanpa
Tingkat ansietas sedang. ketakutan. suara.
Secara umum halusinasi • Mencoba berfokus pada • Penggerakan mata yang
merupakan suatu kesenangan. pikiran yang dapat cepat.
menghilangkan ansietas. • Respons verbal yang lambat.
• Pikiran dan pengalaman • Diam dan berkonsentrasi.
sensori masih ada dalam
kontrol kesadaran (jika
kecemasan dikontrol)
TAHAP II • Pengalaman sensori • Peningkatan sistem saraf
Menyalahkan. Tingkat menakutkan. otak, tanda-tanda ansietas,
kecemasan berat secara umum • Mulai merasa kehilangan seperti peningkatan denyut
halusinasi menyebabkan rasa kontrol. jantung, pernapasan, dan
antipat • Merasa dilecehkan oleh tekanan darah.
pengalaman sensori tersebut. • Rentang perhatian
• Menarik diri dari orang lain. menyempit.
• Konsentrasi dengan
NON PSIKOTIK pengalaman sensori.
• Kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dari
realita
TAHAP III • Pasien menyerah dan • Perintah halusinasi ditaati.
Mengontrol tingkat kecemasan menerima pengalaman • Sulit berhubungan dengan
berat pengalaman sensori tidak sensorinya. orang lain.
dapat ditolak lagi • Isi halusinasi menjadi • Rentang perhatian hanya
atraktif. beberapa detik atau menit.
• Kesepian bila pengalaman • Gejala fisika ansietas berat
sensori berakhir. berkeringat, tremor, dan tidak
mampu mengikuti perintah.
PSIKOTIK
TAHAP IV • Pengalaman sensori menjadi • Perilaku panik.
Menguasai tingkat kecemasan ancaman. • Halusinasi dapat • Potensial tinggi untuk bunuh
panik secara umum diatur dan berlangsung selama beberapa diri atau membunuh. •
dipengaruhi oleh waham. jam atau hari (jika tidak Tindakan kekerasan agitasi,
diinvensi). menarik diri, atau katatonia.
• Tidak mampu berespons
PSIKOTIK terhadap perintah yang
kompleks.
• Tidak mampu berespons
terhadap lebih dari satu orang.
Sumber: Yusuf dkk, 2015

5. Klasifikasi Halusinasi
Tabel 2 Klasifikasi Halusinasi
Jenis Halusinasi Data Objektif Data Subjektif
Halusinasi dengar/ suara • Bicara atau tertawa sendiri. • Mendengar suara-suara atau
• Marah-marah tanpa sebab. kegaduhan.
• Mengarahkan telinga ke arah • Mendengar suara yang
tertentu. mengajak bercakap-cakap.
• Menutup telinga. • Mendengar suara menyuruh
melakukan sesuatu yang
berbahaya
Halusinasi penglihatan • Menunjuk-nunjuk ke arah • Melihat bayangan, sinar,
tertentu. bentuk geometris, bentuk
• Ketakutan pada sesuatu yang kartun, melihat hantu, atau
tidak jelas monster.
Halusinasi penciuman • Mencium seperti sedang • Membaui bau-bauan seperti
membaui bau-bauan tertentu. bau darah, urine, feses, dan
• Menutup hidung. kadangkadang bau itu
menyenangkan
Halusinasi pengecapan • Sering meludah • Merasakan rasa seperti darah,
• Muntah urine, atau feses.
Halusinasi perabaan • Menggaruk-garuk • Mengatakan ada serangga di
permukaan kulit. permukaan kulit.
• Merasa seperti tersengat
listrik.
Sumber: Yusuf dkk, 2015

6. Pengkajian Keperawatan
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor perkembangan Hambatan perkembangan akan mengganggu
hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stres dan
ansietas yang dapat berakhir dengan gangguan persepsi. Pasien
mungkin menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi
intelektual dan emosi tidak efektif.
2) Faktor sosial budaya Berbagai faktor di masyarakat yang membuat
seseorang merasa disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak
dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan
halusinasi.
3) Faktor psikologis Hubungan interpersonal yang tidak harmonis,
serta peran ganda atau peran yang bertentangan dapat
menimbulkan ansietas berat terakhir dengan pengingkaran
terhadap kenyataan, sehingga terjadi halusinasi.
4) Faktor biologis Struktur otak yang abnormal ditemukan pada
pasien gangguan orientasi realitas, serta dapat ditemukan atropik
otak, pembesaran ventikal, perubahan besar, serta bentuk sel
kortikal dan limbik.
5) Faktor genetik Gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi
umumnya ditemukan pada pasien skizofrenia. Skizofrenia
ditemukan cukup tinggi pada keluarga yang salah satu anggota
keluarganya mengalami skizofrenia, serta akan lebih tinggi jika
kedua orang tua skizofrenia.
b. Faktor Presipitasi
1) Stresor sosial budaya Stres dan kecemasan akan meningkat bila
terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang
yang penting, atau diasingkan dari kelompok dapat menimbulkan
halusinasi.
2) Faktor biokimia Berbagai penelitian tentang dopamin,
norepinetrin, indolamin, serta zat halusigenik diduga berkaitan
dengan gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi.
3) Faktor psikologis Intensitas kecemasan yang ekstrem dan
memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah
memungkinkan berkembangnya gangguan orientasi realitas.
Pasien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan
yang tidak menyenangkan.
4) Perilaku Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan
orientasi realitas berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif
persepsi, motorik, dan sosial.
(Yusuf dkk, 2015)

DAFTAR PUSTAKA
Afdinisa. (2010). Terapeutik,Komunikasi Terapeutik. Komunikasi Terapeutik
Perawat Dalam Pemulihan Pasien Gangguan Jiwa.

Arwani. (2003). Komunikasi Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.

Damaiyanti. (2008). Komunikasi Terapeutik Dalam Praktik Keperawatan. Jakarta:


Salemba Medika.

Darmawan, I. (2009). Komunikasi Terapeutik, Kepuasan Klien, Hubungan


Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Dengan Kepuasan Klien Dalam
Mendapatkan Pelayanan Keperawatan .
Devi, C. (2012). Komunikasi Terapeutik, Perilaku, Perawat. Pengetahuan Perawat
Tentang Komunkasi Terapeutik Dengan Perilaku Perawat .
Enjang, D. (2012). Komunikasi Terapeutik. Komunikasi Terapeutik Perawat Di
Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondohutomo Semarang .
Fidya, S. T. (2014). Therapeutic, Communication. Komunikasi Terapeutik Perawat
Dengan Pasien Gangguan Jiwa .

Keliat, B. (2002). Hubungan Perawat Dengan Klien. Jakarta: EGC.

Keliat, B.A., Akemat, Helena, N.C.D., dan Nurhaeni, H. 2007. Keperawatan


Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN (Basic Courese). Jakarta: EGC.

Lab/UPF Kedokteran Jiwa. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. RSUD Dr.
Soetomo Surabaya.

Liliweri, A. (2007). Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Machmud, M. (2009). Komunikasi Keperawatan. Yogyakarta: Ganbika.

Maramis, W.F. 2010. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press:
Surabaya.

Sandra, R. (2013). Therapeutic Communication, Patient Satisfaction. Hubungan


Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Kepuasan Pasien , 68-73.

Stuart, G. W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta. EGC.

Stuart dan Laraia. 2005. Principles and Pratice of Psychiatric Nursing. 8th
Edition. St.Louis: Mosby.

Stuart, G. W. dan Sundeen, S. J. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3.


Jakarta: EGC.

Suliswati, dkk. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Suryani. (2006). Komunikasi Terapeutik : Teori Dan Praktik . Jakarta: EGC.

Varcarolis. 2006. Fundamentalis of Psychiatric Nursing Edisi 5. St.Louis:


Elsevier.

Yosep, Iyus. Keperawatan Jiwa. 2007. Bandung: Refika Aditama.

Yusuf Ah, Rizki FPK dan Nihayati, Hanik Endang. 2015. Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.