Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendisitis merupakan penyakit yang biasa dikenal oleh
masyarakat awam sebagai penyakit usus buntu. Apendisitis akut
merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering ditemukan pada
anak-anak dan remaja (Anonim, 2011). Apendisitis akut merupakan
masalah pembedahan yang paling sering dan apendektomi merupakan
salah satu operasi darurat yang sering dilakukan diseluruh dunia (Paudel et
al., 2010). Faktor potensialnya adalah diet rendah serat dan konsumsi gula
yang tinggi, riwayat keluarga serta infeksi (Mazziotti et al., 2008).
Kejadian apendisitis 1,4 kali lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan
wanita (Craig, 2010). Insidensi apendisitis lebih tinggi pada anak kecil dan
lansia (Smeltzeret al, 2002).
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2004, diketahui
bahwa apendisitis diderita oleh 418 juta jiwa di seluruh dunia, 259 juta
jiwa darinya adalah laki-laki dan selebihnya adalah perempuan, dan
mencapai total 118 juta jiwa di kawasan Asia Tenggara. Apendisitis
merupakan peradangan pada usus buntu sehingga penyakit ini dapat
menyebabkan nyeri dan beberapa keluhan lain seperti mual, muntah,
konstipasi atau diare, demam yang berkelanjutan dan sakit perut sehingga
mengganggu aktivitas sehari-hari. Di Amerika Syarikat, sekitar 80.000
anak pernah menderita apendisitis setiap tahun, dimana terjadi 4 per 1000
anak di bawah usia 14 tahun (Hartman et al., 2000). Apendisitis bisa
terjadi pada semua golongan usia, namun sering terjadi di bawah usia 40
tahun, terutama antara 10 dan 20 tahun. Kejadian apendisitis meningkat
dengan bertambahnya umur dan memuncak pada remaja. Apendisitis
jarang terjadi pada anak dengan umur kurang dari 10 tahun dan sangat
jarang pada anak kurang dari 2 tahun (Philip, 2007). Menurut Departmen
Kesehatan RI pada tahun 2006, apendisitis merupakan penyakit urutan
keempat terbanyak di Indonesia pada tahun 2006. Jumlah pasien rawat
inap penyakit apendiks pada tahun tersebut mencapai 28.949 pasien,

1
berada di urutan keempat setelah dispepsia, duodenitis, dan penyakit cerna
lainnya. Pada rawat jalan, kasus penyakit apendiks menduduki urutan
kelima (34.386 pasien rawat jalan), setelah penyakit sistem pencernaan
lain, dispepsia, gastritis dan duodenitis. Sedangkan, menurut Departemen
Kesehatan RI pada tahun 2009, apendisitis masuk dalam daftar 10
penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di berbagai
wilayah Indonesia dengan total kejadian 30,703 kasus dan 234 jiwa yang
meninggal akibat penyakit ini.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah anatomi dan fisiologi sistem pencernaan ?
1.2.2 Bagaimanakah anatomi dan fisiologis apendic ?
1.2.3 Apakah pengertian dari apendisitis ?
1.2.4 Bagaimanakah etiologic apendisitis ?
1.2.5 Bagaimanakah patofisiologi dari apendisitis ?
1.2.6 Bagaimanakah tanda dan gejala dari apendisitis ?
1.2.7 Bagaimanakah pengkajian dari contoh kasus apendisitis ?
1.2.8 Bagaimanakah perumusan diagnosa keperawatan dari contoh kasus
apendisitis ?
1.2.9 Bagaimanakah intervensi dari contoh kasus apendisitis ?
1.2.10 Bagaimakah implementasi dari contoh kasus apendisitis ?
1.2.11 Bagaimanakah evaluasi dari contoh kasus apendisitis ?
1.2.12 Apakah trend dan issu yang beredar dalam masyarakat yang
berhubungan dengan apendisitis ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi sistem pencernaan.
1.3.2 Untuk mengetahui anatomi dan fisiologis apendic.
1.3.3 Untuk mengetahui pengertian dari apendisitis.
1.3.4 Untuk mengetahui etiologic apendisitis.
1.3.5 Untuk mengetahui patofisiologi dari apendisitis.
1.3.6 Untuk mengetahui tanda dan gejala dari apendisitis.
1.3.7 Untuk mengetahui pengkajian dari contoh kasus apendisitis.
1.3.8 Untuk mengetahui perumusan diagnosa keperawatan dari contoh
kasus apendisitis.
1.3.9 Untuk mengetahui intervensi dari contoh kasus apendisitis.
1.3.10 Untuk mengetahui implementasi dari contoh kasus apendisitis.
1.3.11 Untuk mengetahui evaluasi dari contoh kasus apendisitis.
1.3.12 Untuk mengetahui trend dan issu yang beredar dalam masyarakat
yang berhubungan dengan apendisitis.
1.4 Manfaat Penulisan

2
Agar dapat mengetahui dan memahami sistem pencernaan yang
mengkhusus ke apendiks dan infeksi atau peradangan yang sering terjadi
di organ tersebut yaitu apendisitis, karena hal tersebut merupakan yang
sering dialami oleh masyarakat luas dan tidak terjadi lagi kesalah pahaman
tentang hal tersebut.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai


anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima
makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke
dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau
merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut,
tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan
anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
2.1.1 Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada
hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal
dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Di dalam mulut terdapat

4
enzim yaitu Enzim ptialin, mengubah amilum menjadi maltose.

Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam


dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa
yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari
manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung
dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh
gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah
dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari
makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya.
Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah
protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara
sadar dan berlanjut secara otomatis.
2.1.2 Tenggorokan (Faring)
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal
dari bahasa yunani yaitu Pharynk. Skema melintang mulut, hidung, faring, dan
laring Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe

5
yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap
infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan,
letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang
belakang

Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan


perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga
mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium.
Tekak terdiri dari:
1. Bagian superior
Bagian yang sangat tinggi dengan hidung. Bagian superior disebut
nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan
ruang gendang telinga
2. Bagian media
Bagian yang sama tinggi dengan mulut. Bagian media disebut
orofaring,bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah
3. Bagian inferior
Bagian yang sama tinggi dengan laring. bagian inferior disebut laring
gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.
2.1.3 Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui
sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan
berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Sering
juga disebut esofagus.

6
Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut
histologi. Esofagus dibagi menjadi tiga bagian:
1. Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
2. Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
3. Serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).
2.1.4 Lambung

Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang
keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu
1. Kardia.
2. Fundus.
3. Antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot
berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan
normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam
kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi
secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang
melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :
1. Lendir

7
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung.
Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang
mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.
2. Asam klorida (HCl)
Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan
oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan
sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
3. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)
2.1.5 Pankreas

Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi
utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting
seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat
dengan duodenum (usus dua belas jari).
Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu :
1. Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
2. Pulau pankreas, menghasilkan hormon
Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan
hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna
protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam
bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif.
Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga
melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi
duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.
2.1.6 Hati

8
Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan
memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan.
Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa
fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan
penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan.
Istilah medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat- atau
hepatik dari kata Yunani untuk hati, hepar.

Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan
pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke
dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya
masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-
pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah. Hati melakukan
proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat
gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.
2.1.7 Kandung Empedu
Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk
buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh
untuk proses pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar
7-10 cm dan berwarna hijau gelap – bukan karena warna jaringannya, melainkan

9
karena warna cairan empedu yang dikandungnya. Organ ini terhubungkan dengan
hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu.
Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu:
1. Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
2. Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama
haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan
kolesterol.
2.1.8 Usus halus (usus kecil)

Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh
darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding
usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu
melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga
melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Lapisan usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar ( M
sirkuler ), lapisan otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa ( Sebelah
Luar ). Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum),
usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
1. Usus dua belas jari (Duodenum)

10
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang
terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).
Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai
dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.
Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak
terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang
normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua
muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal
dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari.
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum),
yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam
duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus
halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk
berhenti mengalirkan makanan.
2. Usus Kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah
bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus
penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8
meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan
digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot
usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat
dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner.
Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya
sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus
penyerapan secara makroskopis. Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang
berarti “lapar” dalam bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa
Laton, jejunus, yang berarti “kosong”.
3. Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada
sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak

11
setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki
pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12
dan garam-garam empedu.

2.1.9 Usus Besar (Kolon)

Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu
dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
Usus besar terdiri dari :
1. Kolon asendens (kanan)
2. Kolon transversum
3. Kolon desendens (kiri)
4. Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna
beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus
besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini
penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa
menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya
terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah
diare.
2.1.10 Usus Buntu (Sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, “buta”) dalam istilah
anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian
kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan

12
beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar,
sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau
seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.

2.1.11 Umbai Cacing (Appendix)


Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu.
Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis
yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam
rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen).
Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris,
vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang
menyambung dengan caecum. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap
embrio. Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa
bervariasi dari 2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi
ujung umbai cacing bisa berbeda – bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis)
yang jelas tetap terletak di peritoneum.
Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial
(sisihan), sebagian yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam
sistem limfatik. Operasi membuang umbai cacing dikenal sebagai appendektomi.
2.1.12 Rektum dan Anus
Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah
ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir
di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.
Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi,
yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke
dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum
akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan
defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke

13
usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak
terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi
bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran
pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari
permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan
penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui
proses defekasi (buang air besar – BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Apendiks


2.2.1 Anatomi Apendiks

Appendix adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada
secum (bagian awal dari colon). Bentuknya seperti cacing putih. Secara anatomi
appendix sering disebut juga dengan appendix vermiformis atau umbai cacing.
Appendix terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Tepatnya di ileosecum
dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli. Muara appendix berada di sebelah
postero-medial secum.
Penentuan letak pangkal dan ujung appendix yang normal adalah sebagai berikut :

14
– Menurut garis Monroe Pichter
Garis yang menghubungkan SIAS dan umbilicus. Pangkal appendix terletak pada
1/3 lateral dari garis ini (titik Mc Burney).
– Menurut garis Lanz
Diukur dari SIAS dextra sampai SIAS sinistra. Ujung appendix adalah pada titik
1/6 lateral dextra.
Seperti halnya pada bagian usus yang lain, appendix juga mempunyai
mesenterium. Mesenterium ini berupa selapis membran yang melekatkan
appendix pada struktur lain pada abdomen. Kedudukan ini memungkinkan
appendix dapat bergerak. Selanjutnya ukuran appendix dapat lebih panjang
daripada normal. Gabungan dari luasnya mesenterium dengan appendix yang
panjang menyebabkan appendix bergerak masuk ke pelvis (antara organ-organ
pelvis pada wanita). Hal ini juga dapat menyebabkan appendix bergerak ke
belakang colon yang disebut appendix retrocolic. Appendix dipersarafi oleh saraf
parasimpatis dan simpatis. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. vagus
yang mengikuti a. mesenterica superior dan a. appendicularis. Sedangkan
persarafan simpatis berasal dari n. thoracalis X. Karena itu nyeri viseral pada
appendicitis bermula disekitar umbilicus.Vaskularisasinya berasal dari
a.appendicularis cabang dari a.ileocolica, cabang dari a. mesenterica superior
2.2.2 Fisiologi Apendiks
Apendiks menghasilkan lendir 1-2ml per hari. Lendir itu normalnya
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran
lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis (Wim
De Jong,2004).
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated
lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks,
ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.
Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem
imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini sangat kecil jika dibandingkan
dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh. Istilah usus buntu yang
dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus yang buntu

15
sebenarnya adalah sekum. Apendiks diperkirakan ikut serta dalam sistem imun
sekretorik di saluran pencernaan, namun pengangkatan apendiks tidak
menimbulkan defek fungsi sistem imun yang jelas (Schwartz, 2000).

2.3 Pengertian
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada
kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah
abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam
kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan
laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat,
angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai
cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007).
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi
bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus
yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum
(cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut
kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak
mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis,
2007). Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks ( Anonim,
Apendisitis, 2007)
2.4 Etiology
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri.
Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini.
Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks yang biasanya
disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan
limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, tumor primer pada
dinding apendiks dan striktur. Penelitian terakhir menemukan bahwa ulserasi
mukosa akibat parasit seperti E Hystolitica, merupakan langkah awal terjadinya
apendisitis pada lebih dari separuh kasus, bahkan lebih sering dari sumbatan

16
lumen. Beberapa penelitian juga menunjukkan peran kebiasaan makan
(Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya apendisitis akut ditinjau dari
teori Blum dibedakan menjadi empat faktor, yaitu faktor biologi, faktor
lingkungan, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku. Faktor biologi antara
lain usia, jenis kelamin, ras sedangkan untuk faktor lingkungan terjadi akibat
obstruksi lumen akibat infeksi bakteri, virus, parasit, cacing dan benda asing dan
sanitasi lingkungan yang kurang baik. Faktor pelayanan kesehatan juga menjadi
resiko apendisitis baik dilihat dari pelayan keshatan yang diberikan oleh 13
layanan kesehatan baik dari fasilitas maupun non-fasilitas, selain itu faktor resiko
lain adalah faktor perilaku seperti asupan rendah serat yang dapat mempengaruhi
defekasi dan fekalit yang menyebabkan obstruksi lumen sehingga memiliki risiko
apendisitis yang lebih tinggi (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
2.5 Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus
yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut
makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis
bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendistis akut fokal yang
ditandai oleh nyeri epigastrium (Price, 2005). Bila sekresi mukus terus berlanjut,
tekanan akan terus meningkat, hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena,
edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul
meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah, keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila
kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding 12 apendiks yang
diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila
dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi (Mansjoer,
2010).

17
2.6 Tanda dan Gejala
Gejala usus buntu bervariasi tergantung stadiumnya:
1. Apendisitis akut (mendadak)
Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi, mual-
muntah, dan nyeri perut kanan bawah. Namun tidak semua orang akan
menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang atau mual-
muntah saja.
2. Apendisitis kronik
Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag di
mana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang
demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan
kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah
dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut.
Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada letak usus buntu itu sendiri
terhadap usus besar. Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter,
nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih dan mungkin ada
gangguan berkemih.
Sementara bila posisi usus buntunya ke belakang, rasa nyeri muncul pada
pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa
nyeri mungkin tidak begitu spesifik.
Kasus :
Pasien datang ke UGD RSUD Kabupaten Buelelng tanggal 22 Agustus
2018 dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 1 minggu lalu, nyeri
dirasakan hilang timbul bertambah saat membungkuk ataupun duduk dan
berkurang jika berbaring, dan dirasakan menjalar ke seluruh bagian perut lain.
Pasien juga sering merasa panas dingin sejak 1 minggu yang lau bersaam dengan
munculnya nyeri perut, demam dirasakan tidak terlalu tinggi, berkeringat tetapi
tanpa disertai kejang dan menggigil. Bab tidak lancar sejak 5 hari yang lalu, terasa
ingin bab namun tidak keluar. Keluhan perut melilit dan mencret dan sebelumnya
disangkal. Awalnya sebelum nyeri perut kanan bawah muncul pasien mengeluh
nyeri di bagian uluh hatinya disertai keluhan mual dan muntah setiap masuk

18
makanan dan minuman. BAK tidak ada keluhan. Haid teratur dan tidak pernah
merasakan nyeri saat haid. Pasien mengakuy memiliki kebiasaan makan makanan
yang pedas dan asam. Sebelum datang ke RSUD Kabupaten Buleleng pasien
berobat ke puslesmas dan di beri 3 macam obat, tapi pasien lupa warna dan nama
obatnya. Setelah minuman obat tersebut keluhan nyeri perut sedikit berkurang
tetapi kemudian muncul kembali.
2.7 Pengkajian
2.7.1 Identitas Pasen
Nama : Ny. E
Umur : 23 Th
Jenis kelamin : Perempuan
Status : Belum Menikah
Alamat : Singaraja
Agama : Kristen
Masuk RS : 22 Agustus 2018
2.7.2 Annamnesis (Autoanamnesa)
Tanggal 22 Agustus 2018 pukul 16.00 WITA
1. Keluhan pertama : nyeri hilang timbul pada perut kanan bawah
sejak 1 minggu yang lalu.
2. Keluhan tambahan : demam, mual, muntah, nafsu makan
berkurang, sulit bab.
3. Riwayat perjalanan penyakit :
Pasien datang ke UGD RSUD Kabupaten Buelelng tanggal
22 Agustus 2018 dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 1
minggu lalu, nyeri dirasakan hilang timbul bertambah saat
membungkuk ataupun duduk dan berkurang jika berbaring, dan
dirasakan menjalar ke seluruh bagian perut lain. Pasien juga sering
merasa panas dingin sejak 1 minggu yang lau bersaam dengan
munculnya nyeri perut, demam dirasakan tidak terlalu tinggi,
berkeringat tetapi tanpa disertai kejang dan menggigil. Bab tidak
lancar sejak 5 hari yang lalu, terasa ingin bab namun tidak keluar.
Keluhan perut melilit dan mencret dan sebelumnya disangkal.
Awalnya sebelum nyeri perut kanan bawah muncul pasien
mengeluh nyeri di bagian uluh hatinya disertai keluhan mual dan
muntah setiap masuk makanan dan minuman. BAK tidak ada

19
keluhan. Haid teratur dan tidak pernah merasakan nyeri saat haid.
Pasien mengakuy memiliki kebiasaan makan makanan yang pedas
dan asam. Sebelum datang ke RSUD Kabupaten Buleleng pasien
berobat ke puslesmas dan di beri 3 macam obat, tapi pasien lupa
warna dan nama obatnya. Setelah minuman obat tersebut keluhan
nyeri perut sedikit berkurang tetapi kemudian muncul kembali.
4. Riwayat terdahulu : pasien belum pernah merasakan sakit seperti
ini sebelumnya. Pasien memiliki riwayat penyakit maag, dan alergi
disangkal.
2.7.3 Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum : Lemas dan pucat
 Kesadaran : Komposmentis
 Tekanan darah : 120/70 mmhg
 Nadi : 80 kali permenit
 RR : 22 kali permenit
 Suhu : 37,8’C
 Keadaan gizi : cukup
Status Generalis
1. Kepala
 Rambut : hitam, lurus, tidak mudah dicabut
 Mata : tak cekung, kunjungtiva sedikit anemis, sklera
anikterik, pupil isokor, diameter 2 mm, reflex cahaya +/+
 Hidung : bentuk normal, deviasi septum (-), secret (-)
 Mulut : bibir kering, lidah kotor, sianosis (-).
 Telinga : simetris, liang lapang, serumen (-).
 Tenggorokan : uvula ditengah, T1-T1 tenang, hiperemis (-).
2. Leher
 Inspeksi : bentuk simetris, tidak terdapat benjolan
 Palpasi : tidak teraba adanya pembesaran KGB, JVP tidak
meningkat
3. Paru-paru
 Inspeksi : pernapasan simetris kanan dan kiri
 Palpasi : premitus taktil kanan = kiri
 Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru kanan dan kiri
 Auskultasi : suara napas vesikuler kanan = kiri, ronkhi -/-,
wheezing -/-
4. Jantung
 Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : iktus kordis tidak teraba

20
 Perkusi : batas jantung kanan : para strernal dekstra ICS IV,
batas jantung kiri : midclavikula sinistra ICS III,
 Batas atas : para strernal ICS
 Auskultasi : bunyi jantung I-2 normal, murmur (-), gallop
(-)
5. Abdomen
 Inspeksi : perut datar, simetris, tegang
 Palpasi : NT (+), epigastrium, nyeri tekan tetek Mc.Burney
(+), nyeri lepas (+), teraba massa pada abdomen kanan
bawah ukuran kurang lebih 5x7 cm, permukaan rata,
konsistensi kenyal, immobile, obturator sign (+), lasseque
sigh (+), rovsing sigh (+), hepar dan lien tidak teraba.
 Perkusi : pekak – timpani
 Auskultasi : bising usus (+) menurun
6. Sistem urogenital
 Inspeksi : datar dan tidak tampak penonjolan masa
 Palpasi : ballottement (-)
 Perkusi : redup, nyeri ketok (-)
7. Genetalia
 Perempuan, tidak ada kelainan
8. Ekstremitas
 Superior : oedema (-/-), sianosis (-/-)
 Inferior : oedema (-/-), sianosis (-/-)
2.8 Perumusan Diagnosa Keperawata
 Diagnosa kerja : Apendisitis Infiltrat
 Diagnosa banding :
1. Kolik abdomen
2. Kolik ureter
3. Tumor caecum
4. Adnexitis
5. Kista ovarium terpuntir
6. Salpingitis akut
2.9 Intervensi
1. Lakukan pengecekan tanda-tanda vital
2. Berikan perawatan luka
3. Berikan edukasi pada pasien tentang penyebab nyeri, upaya untuk
mengatasi nyeri, mencegah kekurangan cairan.
4. Anjurkan pasien untuk minum air secara teratur dan memakan bubur
secara teratur
2.10 Implementasi
Tanggal / Jam Tindakan Keperawatan

21
22-08-2018
09.30 - 09.45 Mengobservasi : Tensi 100/80 mmHg, Nadi 88/mnt, RR 18x/mnt,
Suhu 36º C, Luka bersih.

10.30 Mengobati luka dengan Larutan Savlon, BWC dan Betadin oles.
Luka tampak bersih tidak ada oedema.

11.00 Memberikan injeksi pada pasien : Kedacilin 1 gram dan Antrain 1


amp Iv. Tidak ada reaksi alergi.

12.00 Memasukkan Flagyl Suposutoria

13.00 Memberikan penjelasan pada pasien tentang


- Penyebab nyeri dan sulit tidur nyenyak
- Upaya untuk mengatasi nyeri dan gangguan tidur
- Upaya mencegah kekurangan cairan

Mengajari klien cara mengatasi nyeri dan kesulitan tidur dengan cara
mobilisasi dan menarik nafas panjang saat bergerak

23-0/8-18 Mengobservasi : Tensi 100/80 mmHg, Nadi 92x/mnt, Suhu 36 2ºC,


09.00 RR 16x/mnt. Bising usus + 2x/mnt, klien belum flatus.

10.00 Mengatasi cairan infuse D5 35 tetes/mnt, menetes lancer

11.00 Observasi bising usus 5x/mnt, Klien flatus, Abdomen soepel

12.00 Memesan pada klien agak minum secara bertahap dan makan cair

Membantu klien makan bubur halus, habis 1 porsi, minum air putih
250 cc.

Membersihkan lingkungan klien

24 – 08 – 2018 Mengobservasi : Tensi 110/80 mmHg, Nadi 88/mnt, RR 18x/mnt,


09.00 – 09.15 Suhu 36ºC, Luka bersih. Klien mengatakan BAK Lancar.

11.00 Mengobati luka dengan Larutan Savlon, BWC dan Betadin oles.
Luka tampak bersih tidak ada oedema.

12.00 Membersihkan injeksi pada pasien: Kedacillin 1 gram dan Antrain 1


amp IV. Tidak ada reaksi alergi
13.00
Mengganti cairan infuse RL 35 tetes/mnt, menetes lancer, tidak ada
tanda ekstravasase.
25 – 08 – 2018
09.00 – 09.15 Observasi Tensi 110/80 mmHg, Nadi 84x/mnt, RR 16x/mnt, Suhu
36ºC
11.00

22
Melepas infus dan memesan pada klien agar banyak minum
12.00
Memberi penjelasan pada klien cara minum obat peroral
13.00
Membantu klien makan bubur halus habis 1 porsi, minum air putih
250 cc.
26 – 08 -2018
09.00 – 09.15 Mengobservasi : Tensi 110/80 mmHg. RR 16x/mnt, Nadi 80x/mnt,
Suhu 36ºC, Luka jahitan mulai kering.
11.00
Memesan pada klien agar tetap minum obat secara teratur,
mempertahankan daerah luka tetap steril, banyak minum terutama air
putih.
11.30
Pasien pulang

2.11 Evaluasi
Tanggal Diagnosa Catatan perkembangan :
27 agustus 2018 Nyeri Pola tidur 1. S : klien mengatakan nyeri perut sudah
cairan nyeri berkurang
2. O : memegang perut saat bergerak, tensi
110/80 mmhg, nadi 84x/ menit,Respirasi 18x/
menit, Luka mulai kering, tanda infeksi
A. Masalah teratasi bagian
1. Lanjutan rencana terapi ganti peroral
mrtafera acid 3x500 mg.
1. Klien mengatakan susah dapat tidur
seperti biasa, tidak mual dan pusing
2. Tensi 110/80mmHg
A. Masalah teratasi
1. Rencana dihentikan, lanjutatkan observasi
1. Klien mengatakan sudah minum air
putih kurang lebih 1500cc/hari, makan
bubur halus habis, BAK lancar warna
kuning jernih.
2. Membrane mukosa bibir dan lidah

23
lembab, tensi 110/80 mmHg, nadi
84x/menit
A. Masalah tidak menjadi actual
1. Pertahankan masukan peroral .
1. Klien mengatakan nyeri banyak
berkurang dan bila nyeri menarik
nafas panjang
2. Klien nampak rileks saat bergerak,
luka bersih dan mulai mongering
A. Masalah teratasi
1. Pesan pada klien agar
tetapmempertahankan kesterilan luka bila
sudah pulang.
2.12 Trend dan Issue
Trend dan Issu Keperawatan adalah sesuatu yang sedang dibicarakan banyak
orang tentang praktek/mengenai keperawatan baik itu berdasarkan fakta ataupun
tidak, trend dan issu keperawatan tentunya menyangkut tentang aspek legal dan
etis keperawatan.
Trend dan Issu apendisitis dalam lingkungan masyarakat awam, usus buntu
dikenal dengan sebuah penyakit yang menyerang usus yang disebabkan karena
memakan makanan pedas dan biji-bijian. Selain itu, usus buntu dikenal sebagai
penyakit, padahal usus buntu itu merupakan bagian dari organ sistem pencernaan
yang bukanlah suatu penyakit yang dialami manusia.
Baru-baru ini, ada sebuat pengobatan terapi yaitu terapi medikamentosa. Tujuan
terapi adalah untuk membasmi infeksi dan untuk mencegah komplikasi. Dengan
demikian, antibiotik memiliki peran penting dalam pengobatan radang usus buntu,
dan semua itu. Agen di bawah pertimbangan harus menawarkan aerobik penuh
dan cakupan anaerobik. Durasi administrasi berkaitan erat dengan tahap usus
buntu pada saat diagnosis.
Agen antibiotik yang efektif dalam mengurangi tingkat infeksi luka pasca
operasi dan dalam meningkatkan hasil pada pasien dengan abses apendiks atau
septicemia. Infeksi Masyarakat Bedah merekomendasikan memulai antibiotik
profilaksis sebelum operasi, menggunakan agen spektrum yang sesuai untuk
kurang dari 24 jam untuk usus buntu nonperforated dan kurang dari 5 hari untuk
perforasi usus buntu. Rejimen adalah keberhasilan kira-kira sama, sehingga

24
pertimbangan harus diberikan untuk fitur seperti alergi obat, kategori kehamilan
(jika ada), toksisitas, dan biaya.

25
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai
anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima
makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke
dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau
merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut,
tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan
anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu. Usus besar menjadi salah
satu tempat banyaknya bakteri. Baik bakteri baik dan jahat. Dan di usus besar
paling sering terserang penyakit atau radang. Salah satunya penyakit Apendicsitis.
Penyakit ini terjadi karna bakteri atau juga bisa terjadi karena penimbunan tinja.
Bakteri itu menyebabkan radang pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks).
Gejala dari apendicsitis untuk semua orang hampir sama. Mulai dari merasakan
sakit di bagian perut bawah bagian kanan, dsb. Untuk itu harus diketahui sejak
dini apakah yg dialami merupakan gejala apendicsitis atau yg lain.
3.2 Saran
Pada makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, namum kami harap
makalah ini dapat bermanfaat dan para pembaca dapat memahami dan lebih
mengenal tentang apendisitis.

26